Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kulit merupakan organ terluar manusia yang berfungsi sebagai organ
ekskresi. Dengan demikian, kulit selalu bersinggungan dengan lingkungan
luar yang selalu berubah-ubah sehingga rentan terhadap serangan penyakit,
salah satunya kanker kulit. Kanker kulit ialah suatu penyakit yang ditandai
dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak
jaringan disekitarnya dan mampu menyebar kebagian tubuh yang lain, karena
kulit terdiri atas beberapa jenis sel, maka kanker kulit juga bermacam-macam
sesuai dengan jenis sel yang terkena, akan tetapi yang sering terdapat adalah
karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS), dan melanoma
maligna (MM). Penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan
kecacatan permanen yang bisa merusak penampilan.
Kanker kulit relatif sering ditemukan di Amerika Serikat dengan lebih
dari jutaan kasus tiap tahunnya. Insiden kanker kulit bervariasi secara
geografis dan mencapai angka tertinggi di daerah-daerah tinggi dan terik.
Kanker kulit sering timbul pada orang berkulit terang dibandingkan dengan
yang berkulit gelap, meskipun penyakit ini tidak mengenal ras. Insiden semua
kanker kulit mengalami peningkatan dan dapat dialami oleh orang yang
berusia muda. Peningkatan ini cenderung terjadi karena adanya
penyalahgunaan pajanan terhadapa sinar matahari beberapa dekade terakhir.
(Elizabeth, 2007).
Meskipun insidennya rendah, melanoma merupakan faktor penyebab
75% kematian akibat kanker kulit. Angka kematian keseluruhan untuk non
melanoma relatif rendah, dengan 95 % tingkat kelangsungan hidup 5 tahun.
Non melanomaagresif secara lokal, menyebabkan morbiditas yang signifikan,
cacat, kehilangan fungsi, dan membutuhkan perawatan kesehatan yang tinggi.

2

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem integumen?
2. Apa yang dimaksud dengan kanker?
3. Apa yang dimaksud dengan kanker kulit?
4. Apa saja klasifikasi dari kanker kulit?
5. Apa penyebab/ etiologi dari kanker kulit?
6. Berapa besar insiden kejadian kanker kulit?
7. Bagaiamana patofisiologi dari kanker kulit?
8. Apa saja manifestasi klinis dari kanker kulit?
9. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk diagnosa kanker kulit?
10. Apa saja komplikasi yang di timbulkan dari kanker kulit?
11. Bagaimana penatalaksanaan medis kanker kulit?
12. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien dengan kanker kulit?


C. Tujuan Penulisan
1. Memahami anatomi & fisiologi sistem integumen
2. Memahami konsep dasar kanker.
3. Memahami definisi kanker kulit
4. Memahami klasifikasi dari kanker kulit.
5. Mengetahui penyebab/ etiologi dari kanker kulit.
6. Mengetahui seberapa besar insiden kejadian kanker kulit.
7. Mengetahui patofisiologi dari kanker kulit.
8. Mengetahui manifestasi klinis dari kanker kulit.
9. Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk diagnosa kanker kulit.
10. Mengetahui komplikasi yang di timbulkan dari kanker kulit.
11. Mengetahui penatalaksanaan medis kanker kulit.
12. Memahami konsep asuhan keperawatan pada klien dengan kanker kulit

D. Manfaat Penulisan
Harapan penulis setelah disusunnya makalah ini ialah mahasiswa lebih
memahami tentang asuhan keperawatan pada klien dengan kanker kulit serta
3

memberikan gambaran tentang aplikasi konsep dan teori keperawatan dalam
asuhan keperawatan pada klien dengan kanker kulit serta memberikan
gambaran peran peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan.





























4

BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi Fisiologi Sistem Integumen

Gambar 1. Anatomi Kulit
Sistem Integumen pada manusia terdiri dari kulit, kuku, rambut, kelenjar
keringat, kelenjar minyak dan kelenjar susu. Sistem integumen mampu
memperbaiki sendiri apabila terjadi kerusakan yang tidak terlalu parah (self-
repairing) & mekanisme pertahanan tubuh pertama (pembatas antara
lingkungan luar tubuh dengan dalam tubuh).
1. Anatomi Sistem Integumen
Kulit terbagi menjadi 3 lapisan yaitu :
a. Epidermis
Epidermis merupakan bagian kulit paling luar. Ketebalan
epidermis berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal
berukuran 1 milimeter misalnya pada telapak tangan dan telapak kaki,
dan yang paling tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak
5

mata,pipi, dahi dan perut.Sel-selepidermis
disebut keratinosit. Epidermis melekat erat pada dermis karena secara
fungsional epidermis memperoleh zat-zat makanan dan cairan antar sel
dari plasma yang merembes melalui dinding-dinding kapiler dermis ke
dalam epidermis.
Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu :
1). Lapisan tanduk (stratum corneum)
Merupakan lapisan epidermis yang paling atas, dan menutupi
semua lapisan epidermis lebih ke dalam. Lapisan tanduk terdiri
atas beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak mengalami
proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit
mengandung air. Pada telapak tangan dan telapak kaki jumlah
baris keratinosit jauh lebih banyak, karena di bagian ini lapisan
tanduk jauh lebih tebal.
Lapisan tanduk ini sebagian besar terdiri atas keratin yaitu
sejenis protein yang tidak larut dalam air dan sangat resisten
terhadap bahan-bahan kimia. Lapisan ini dikenal dengan
lapisan horny, terdiri dari milyaran sel pipih yang mudah terlepas
dan digantikan oleh sel yang baru setiap 4 minggu, karena usia
setiap sel biasanya hanya 28 hari. Pada saat terlepas, kondisi kulit
akan terasa sedikit kasar sampai muncul lapisan baru.
Proses pembaruan lapisan tanduk, terus berlangsung
sepanjang hidup, menjadikan kulit ari memiliki self repairing
capacity atau kemampuan memperbaiki diri. Bertambahnya usia
dapat menyebabkan proses keratinisasi berjalan lebih lambat.
Ketika usia mencapai sekitar 60 tahunan, proses keratinisasi,
membutuhkan waktu sekitar 45 - 50 hari, akibatnya lapisan tanduk
yang sudah menjadi lebih kasar, lebih kering, lebih tebal, timbul
bercak-bercak putih karena melanosit lambat bekerja dan
penyebaran melanin tidak lagi merata serta tidak lagi cepat
digantikan oleh lapisan tanduk baru. Daya elastisitas kulit pada
lapisan ini sangat kecil, dan lapisan ini sangat efektif untuk
6

mencegah terjadinya penguapan air dari lapis lapis kulit lebih
dalam sehingga mampu memelihara tonus dan turgor kulit, tetapi
lapisan tanduk memiliki daya serap air yang cukup besar.
2). Lapisan bening (stratum lucidum)
Disebut juga lapisan barrier, terletak tepat di bawah
lapisan tanduk, dan dianggap sebagai penyambung lapisan tanduk
dengan lapisan berbutir. Lapisan bening terdiri dari protoplasma
sel-sel jernih yang kecil-kecil, tipis dan bersifat translusen
sehingga dapat dilewati sinar (tembus cahaya). Lapisan ini sangat
tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki. Proses
keratinisasi bermula dari lapisan bening.
3). Lapisan berbutir (stratum granulosum)
Tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang
mengandung butir-butir di dalam protoplasmanya, berbutir kasar
dan berinti mengkerut. Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit
telapak tangan dan telapak kaki.
4). Lapisan bertaju (stratum spinosum)
Disebut juga lapisan malphigi, terdiri atas sel-sel yang
saling berhubungan dengan perantaraan jembatan-jembatan
protoplasma berbentuk kubus. Jika sel-sel lapisan saling
berlepasan, maka seakan-akan selnya bertaju. Setiap sel berisi
filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabut protein. Sel-sel pada
lapisan taju normal, tersusun menjadi beberapa baris.
Bentuk sel berkisar antara bulat ke bersudut banyak
(polygonal), dan makin ke arah permukaan kulit makin besar
ukurannya. Diantara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang
berguna untuk peredaran cairan jaringan ekstraseluler dan
pengantaran butir-butir melanin. Sel-sel di bagian lapis taju yang
lebih dalam, banyak yang berada dalam salah satu tahap mitosis.
Kesatuan-kesatuan lapisan taju mempunyai susunan kimiawi yang
khas; inti-inti sel dalam bagian basal lapis taju mengandung
kolesterol dan asam amino.
7

5). Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu
baris sel torak (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap
permukaan dermis. Alas sel-sel torak ini bergerigi dan bersatu
dengan lamina basalis di bawahnya. Lamina basalis yaitu struktur
halus yang membatasi epidermis dengan dermis. Pengaruh lamina
basalis cukup besar terhadap pengaturan metabolisme demo-
epidermal dan fungsi-fungsi vital kulit. Di dalam lapisan ini sel-sel
epidermisbertambah banyak melalui mitosis dan sel-sel tadi
bergeser ke lapisan-lapisan lebih atas, akhirnya menjadi sel tanduk.
Di dalam lapisan benih terdapat pula sel-sel bening (clear cells,
melanoblas atau melanosit) pembuat pigmen melanin kulit.
Tipe-Tipe Sel Epidermis, yaitu :
1). Keratinocytes
Subtansi terbanyak dari sel-sel epidermis, karena keratinocytes
selalu mengelupas pada permukaaan epidermis, maka harus selalu
digunakan. Pergantian dilakukan oleh aktivitas mitosis dari lapisan
basal (di malam hari). Selama perjalanannya ke luar (menuju
permukaan. Keratinocyes berdeferensiasi menjadi keratin filamen
dalam sitoplasma. Proses dari basal sampai korneum selama 20-30
hari. Karena proses cytomorhose dari keratinocytes yang bergerak
dari basal ke korneum, lima lapisan dapat diidentifikasi. Yaitu
basal, spimosum, granulosum, losidum dan kornium.
2). Melanocytes
Didapat dari ujung saraf, memproduksi pigmen melanin yang
memberikan warna coklat pada kulit. Bentuknya silindris, bulat dan
panjang. Mengandung tirosinase yang dihasilkan oleh REG,
kemudian tirosinase tersebut diolah oleh Aparatus Golgi menjadi
oval granules (melanosomes). Ketika asam amino tirosin berpindah
ke dalam melanosomes, melanosomes berubah menjadi melanin.
Enzim tirosinase yang diaktifkan oleh sinar ultra violet.. Kemudian
melanin meninggalkan badan melanicytes dan menuju ke
8

sitoplasma dari sel-sel dalam lapisan stratum spinosum. Dan pada
akhirnya pigmen melanin didegradasi oleh keratinocytes.
3). Merkel Cells
Banyak terdapat pada daerah kulit yang sedikit rambut
(fingertips, oral mucosa, daerah dasar folikel rambut). Menyebar di
lapisan stratum basal yang banyak mengandung keratinocytes.
4). Langerhans Cell
Disebut juga dendritic cells karena sering bekerja di daerah
lapisan stratum spinosum. Merupakan sel yang mengandung
antibodi. Banyaknya 2% 4 % dari keseluruhan sel epidermis.
Selain itu, juga banyak terdapat di bagian dermis pada lubang
mulut, esophagus, dan vagina. Fungsi dari langerhans cells adalah
untuk responisasi terhadap imun karena mempunyai antibodi.
b. Dermis (Korium)
Kulit jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat
keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit
(Sebacea) atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah
bening, dan otot penegak rambut (muskulus arektor pili).
Sel-sel umbi rambut yang berada di dasar kandung rambut, terus-
menerus membelah dalam membentuk batang rambut. Kelenjar palit
yang menempel di saluran kandung rambut, menghasilkan minyak yang
mencapai permukaan kulit melalui muara kandung rambut. Kulit jangat
sering disebut kulit sebenarnya dan 95 % kulit jangat membentuk
ketebalan kulit. Ketebalan rata-rata kulit jangat diperkirakan antara 1 - 2
mm dan yang paling tipis terdapat di kelopak mata serta yang paling
tebal terdapat di telapak tangan dan telapak kaki. Susunan dasar kulit
jangat dibentuk oleh serat-serat, matriks interfibrilar yang menyerupai
selai dan sel-sel.
Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam kulit jangat,
memungkinkan membedakan berbagai rangsangan dari luar. Masing-
masing saraf perasa memiliki fungsi tertentu, seperti saraf dengan
fungsi mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas, dan dingin.
9

Saraf perasa juga memungkinkan segera bereaksi terhadap hal-hal yang
dapat merugikan diri kita. Jika kita mendadak menjadi sangat takut atau
sangat tegang, otot penegak rambut yang menempel di kandung rambut,
akan mengerut dan menjadikan bulu roma atau bulu kuduk berdiri.
Kelenjar palit yan menempel di kandung rambut memproduksi minyak
untuk melumasi permukaan kulit dan batang rambut. Sekresi
minyaknya dikeluarkan melalui muara kandung rambut. Kelenjar
keringat menghasilkan cairan keringat yang dikeluarkan ke permukaan
kulit melalui pori-pori kulit.
Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastis
yang dapat membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan
serat protein ini yang disebut kolagen. Serat-serat kolagen ini disebut
juga jaringan penunjang, karena fungsinya dalam membentuk jaringan-
jaringan kulit yang menjaga kekeringan dan kelenturan kulit.
Berkurangnya protein akan menyebabkan kulit menjadi kurang
elastis dan mudah mengendur hingga timbul kerutan. Faktor lain yang
menyebabkan kulit berkerut yaitu faktor usia atau kekurangan gizi.
Perlu diperhatikan bahwa luka yang terjadi di kulit jangat dapat
menimbulkan cacat permanen, hal ini disebabkan kulit jangat tidak
memiliki kemampuan memperbaiki diri sendiri seperti yang dimiliki
kulit ari.
Di dalam lapisan kulit jangat terdapat dua macam kelenjar yaitu :
1). Kelenjar keringat (Sudorifera)
Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar)
dan duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada
permukaan kulit membentuk pori-pori keringat. Semua bagian
tubuh dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak
terdapat dipermukaan telapak tangan, telapak kaki, kening dan di
bawah ketiak. Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan
membantu membuang sisa-sisa pencernaan dari tubuh.
Kegiatannya terutama dirangsang oleh panas, latihan jasmani,
emosi dan obat-obat tertentu.
10

Ada dua jenis kelenjar keringat yaitu :
a) Kelenjar keringat ekrin
Kelenjar keringat ini mensekresi cairan jernih, yaitu
keringat yang mengandung 95-97 persen air dan mengandung
beberapa mineral, seperti garam, sodium klorida, granula
minyak, glusida dan sampingan dari metabolism seluler.
Kelenjar keringat ini terdapat di seluruh kulit, mulai dari telapak
tangan dan telapak kaki sampai ke kulit kepala. Jumlahnya di
seluruh badan sekitar dua juta dan menghasilkan 14 liter
keringat dalam waktu 24 jam pada orang dewasa. Bentuk
kelenjar keringat ekrin langsing, bergulung-gulung dan
salurannya bermuara langsung pada permukaan kulit yang tidak
ada rambutnya.
b) Kelenjar keringat apokrin
Hanya terdapat di daerah ketiak, puting susu, pusar, daerah
kelamin dan daerah sekitar dubur (anogenital) menghasilkan
cairan yang agak kental, berwarna keputih-putihan serta berbau
khas pada setiap orang. Sel kelenjar ini mudah rusak dan
sifatnya alkali sehingga dapat menimbulkan bau. Muaranya
berdekatan dengan muara kelenjar sebasea pada
saluran folikel rambut. Kelenjar keringat apokrin jumlahnya
tidak terlalu banyak dan hanya sedikit cairan yang disekresikan
dari kelenjar ini. Kelenjar apokrin mulai aktif setelah usia akil
baligh dan aktivitas kelenjar ini dipengaruhi oleh hormon.
2). Kelenjar palit (Sebacea)
Kelenjar palit terletak pada bagian atas kulit jangat
berdekatan dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-
gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut
(folikel). Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki
kulit dan menjaga kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk
sebum atau urap kulit. Terkecuali pada telapak tangan dan telapak
11

kaki, kelenjar palit terdapat di semua bagian tubuh terutama pada
bagian muka.
Pada umumnya, satu batang rambut hanya mempunyai satu
kelenjar palit atau kelenjar sebasea yang bermuara pada
saluran folikel rambut. Pada kulit kepala, kelenjarpalit atau
kelenjar sebasea menghasilkan minyak untuk melumasi rambut dan
kulit kepala.
Pada kebotakan orang dewasa, ditemukan bahwa
kelenjar palit ataukelenjar sebaseamembesar,
sedangkan folikel rambut mengecil. Pada kulit badan termasuk
pada bagian wajah, jika produksi minyak dari kelenjar palit atau
kelenjar sebasea berlebihan, maka kulit akan lebih berminyak
sehingga memudahkan timbulnya jerawat.
c. Hipodermis/ Subkutan.
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah
dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit.
Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju
lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai
bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian
dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan.
Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang
kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di
kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat
bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi
banyak lemak, lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur
serta makin kehilangan kontur.

2. Fisiologi Sistem Integumen
Adapun fungsi kulit yaitu :
a. Menutupi dan melindungi organ organ dibawahnya
b. Melindungi tubuh dari masuknya mikroorganisme dan benda asing
c. Pengaturan suhu
12

d. Ekskresi : melalui perspirasi atau berkeringat, membuang sejumlah
kecil urea.
e. Sintesis : konversi 7-dehydrocholesterol menjadi vit D3
(Cholecalciferol) dengan bantuan sinar UV.
f. Tempat penimbun lemak.
g. Sebagai sensori persepsi, mengandung reseptor terhadap panas, dingin,
nyeri, sentuhan atau raba, tekananFisika dasar hilangnya panas dari
kulit
h. Warna pada kulit dan fungsi melanin
Kulit mendapatkan warna dari 3 faktor :
1). Adanya melanin (pigmen gelap yang diproduksi melanosit) :
Melanin berfungsi untuk melindungi kulit dari sinar ultraviolet
yang berlebih
2). Pigmen berwarna kuning (karoten) : Dalam sel lemak dermis dan
hypodermis
3). Warna darah : Dalam pembuluh dermal dibawah lapisan epidermis

B. Konsep Dasar Kanker
Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-
sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang
dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya
menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui
jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang
belakang.
Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada
penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan
membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi
penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut
mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang
ditempatinya.
Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap
tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian
13

permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi
didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang-kadang tidak
memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut
sehingga sulit diobati.

C. Definisi Kanker Kulit
Kanker kulit ialah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-
sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan
mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Karena kulit terdiri atas
beberapa jenis sel, maka kanker kulit juga bermacam-macam sesuai dengan
jenis sel yang terkena. Akan tetapi yang paling sering terdapat adalah
karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma
maligna (MM). (Ajoemedi soemardi, 2006)
Kanker kulit adalah penyakit dimana kulit kehilangan kemampuannya
untuk generasi dan tumbuh secara normal.Sel-sel kulit yang sehat secara
normal dapat membelah diri secara teratur untuk menggantikan sel-sel kulit
mati dan tumbuh kembali. (Tiro, 2010)
Kanker kulit adalah jenis kanker yang terletak dipermukaan
kulit,sehingga mudah dikenali. Namun karena gejala awal yang ditimbul
dirasakan tidak begitu menganggu,sehingga penderita terlambat melakukan
pengobatan. (Mangan, 2005).
Fitzpatrick mengklasifikasikanenam kelompok atau tipe kulit yang
berbeda). Setiap kelompok dikategorikan berdasarkan hasil dari 30 menit
paparan sinar matahari langsung ke kulit ditengah hari di belahan bumi utara.
Kelompok-kelompok didasarkan pada jumlah melanin individi, pigmentasi
yang melekat, dan kepekaan terhadap sinar UV. Misalnya, orang tipe 1
diklasifikasikann berwajah berbintik bermata merah yang membakar dan
tidak pernah kecoklatan, tipe Celtik. Orang-orang di tipe 1 sangat rentan
terhadap kanker kulit, tetapi penyembuhkan luka setelah rekonstruksi dengan
bekas luka paling mencolok. Tipe 2 ditandai oleh orang yang berambut pirang
dan bermata biru, tipe Skandinavia. Tipe 3 memiliki kulit olive dan bermata
gelap dan kadang-kadang memiliki luka bakar tetapi tan mudah, tipe
14

Mediterania. Tipe 4 adalah Hispanik, tipe 5 adalah Arab/ India, dan tipe 6
adalah Afrika. perogresnya, resistensi kanker kulit meningkat, ketakutan
menjadi lebih jelas, sering pigmenting atau membentuk keloid.
Tabel1. Tipe Kulit menurut Fitzpatrick*
Tipe Karakteristik
1 Selalu mudah terbakar, tidak menunjukkan gelap pigmen segera,
dan tidak pernah berwarna coklat
2 Selalu mudah terbakar, menunjukkan jejak langsung gelap pigmen,
warna coklat minimal dan sulit
3 Luka bakar minimal, + langsung gelap pigmen, kecoklatan secara
bertahap dan merata (light brown)
4 Luka bakar minimal, + + gelap pigmen langsung, kecoklatan segera
(coklat moderat)
5 Jarang terbakar, + + + gelap pigmen langsung, kecoklatan sangat
mudah (coklat gelap)
6 Jarang terbakar, + + + langsung gelap pigmen, kecoklatan sangat
cepat (hitam)


D. KlasifikasiKanker Kulit
1. Karsinoma Sel Basal (Basal Cell Carcinoma)
Tumor sel basal berasal dari sel di epidermis dan folikel rambut. Sel
tersebut tumbuh lambat dan mungkin memakan waktu bertahun-tahun
untuk memperbesar secara signifikan. Biasanya, pasien dengan BCC
dikategorikan sebagai jenis Fitzpatrick 1 sampai 3 dengan riwayat
paparan sinar matahari. Delapan puluh sampai 93% dari kanker terjadi
karena paparan sinar matahari pada daerah kepala dan leher, dan 26-30%
terjadi pada hidung. BCCs dapat dibagi menjadi beberapa subtipe:
superfisial, nodulo-ulseratif (atau nodular), berpigmen, infiltratif,
micronodular, morfea-like, dan basosquamous.
Superfisial BCC mewakili sekitar 10% dari semua BCC. Sel
tersebuttampak seperti plak yang sedikit lebih tinggi atau makula diskrit
15

yang mungkin bersisik. Mereka dapat menyerupai eksim atau infeksi
jamur.
Nodulo-ulserativa BCC adalah jenis yang paling umum, terhitung
sekitar 75% dari semua BCC. Secara klinistampak seperti mutiara nodul
baik bulat atau oval dengan batas menggulung dan sesekali ulserasi.
Telangiektasias umumnya terlihat pada lesi.
Pigmentasi BCC berkisar dari cokelat sampai biru kehitaman,
biasanya ditemukan pada orang Hispanic dan Asia. Morfea-likeBCCs
tampak seperti plak yang kuning atau putih dengan batas tidak jelas. Sel
tersebut bisa sangat besar dan tidak menunjukkan lebih dari 1 sampai 2
mm elevasi. Tumor ini memiliki margin yang jelas setelah eksisi.
Karsinoma basosquamous terdiri darisel basal dan sel skuamosa
yang keduanya berdiferensiasi. Mereka memiliki tingkat pertumbuhan
serta potensi metastasis yang lebih tinggi daripada jenis BCC lainnya.
Micronodular, infiltratif, dan morfe-like BCC adalah varian lebih
agresif dengan presentasi sebanyak 10% dari kasus BCC.
Kematian dari BCC jarang, dengan tingkat metastasis dari 0,0028-
0,1%. Ukuran, kedalaman invasi, dan jenis histologis penting untuk
menentukan seberapa jauh metastasisnya. Metastasis biasanyamencapai
kelenjar getah bening, hati, paru-paru, tulang, dan kulit. Metastasis
langka ini terjadi dua kali lebih umum baik pada laki-laki maupun
wanita.


Gambar 1. Superfisial BCC

16


Nodular-Ulseratif BCC


Pigmented BCC

Morpheaform (sclerosing) BCC

2. Karsinoma Sel Skuamosa (Squamous Cell Carcinoma)
SCC adalah kanker kulit kedua yang paling umum dan menyumbang
20% dari semua kasus NMSC. SCC adalah proliferasi ganas dari
epidermal keratinosit. Histologis SCC terdiri dari sarang dan cabang dari
atipikal skuamosa sel yang berasal dariinfiltrasi epidermis ke dalam
17

dermis, sering mengandung mutiara keratin. Risiko seumur hidup
terserang SCC adalah 4 sampai 14%, dan kejadian telah meningkat
sebesar 20% pada dekade lalu.
Pria yang berusia> 50 tahun dan telah memiliki paparan sinar
matahari yang berat dalam beberapa tahun terakhir biasanya terserang
actinic keratosis dan SCC. SCC hadiah sebagai eritematosa buruk dan
menyakitkan dengan perbatasan jelas(Gambar 2).Tanduk kutaneous atau
hiperkeratotik dengan ulserasi mungkin ada. Kulit di sekitarnya terdapat
tanda-tanda kerusakan akibat sinar matahari kronis.
Tidak seperti BCC, SCC bisa tumbuh pesat dan bermetastasis.
Metastasis yang paling umum terjadi pada lesi dengan kedalaman > 4
mm. Akumulasi tingkat metastasis adalah antara 2 dan 6%, dan 5 tahun
tingkat kelangsungan hidup untuk metastasis SCC hanya 34% .
Metastasis dapat menyebar baik melalui limfatik atau hematogen. Daerah
yang umum terjadi penyebaran adalah kelenjar getah bening regional,
paru-paru, dan hati. Lokasi primer lesi mempengaruhi tingkat
kekambuhan dan metastasis. SCCs biasanya terjadi di bibir,telinga,
lipatan melolabial, dan daerah periorbital dan preaurikular memiliki
insidensikekambuhan dan metastasis yang lebih tinggi(10-14%).
Prekursor yang paling umum untuk SCC adalah AK. Tingkat
transformasi AK untuk SCC adalah 1 dalam 1.000 per year. Sekitar 40%
dari orang yang berusia > 40 tahun memiliki setidaknya satu AK.
Keratoacanthoma kadangkala sulit dibedakan dengan SCC, baik secara
klinis dan histologis. Keratoacanthoma adalah sebuah lesi dengan daerah
sentral penuh keratin dan bersifat selfhealing. Sel tersebut tumbuh
dengan cepat tetapi sering berinvolusi spontan setelah 2 sampai 6
bulan,kemudian hanya menyisakan bekas luka putih. Penyakit Bowen
adalah salah satu bentuk SCC in situ sebagaiplak eritematosa yang
tumbuh lambat tapi outlinetajam. Lesi ini jarang berubah menjadi SCC
invasif.
SCC dapat berkembang dari fase kronisyang tak sembuh atauluka
tidak stabil, bekas luka bakar, atau ulser. Lesi ini, kadang-kadang disebut
18

Marjolins ulser, memiliki tingkat 20% lebih tinggi dari metastasis
kelenjar getah bening daripada SCC yang terinduksi UV.
Histologis fitur, seperti derajat diferensiasi, kedalaman invasi, dan
keterlibatanperineural, serta ukuran tumor adalah indikator prognostik
sebagai penentu lebar eksisi marginal. Lesi yang lebih berdiferensiasi
memiliki kecenderungan invasif lebih rendah sehingga memiliki
prognosis yang lebih baik. Tumor yang lebih besar dan berinvasi
mendalam di sepanjang jaringan memiliki risikokekambuhan dan
metastasis lebih besar. Tumor> 2 cm memiliki dua kali lipat tingkat
kekambuhan dan tiga kali lebih mungkin untuk bermetastasis. Tumor
yang timbul di bekas luka atau luka biasanya lebih agresif dan memiliki
tingkat metastasis antara 18 dan 38% .7 Rekurensi dari pengobatan SSC
pertama kali memiliki tingkat metastasis dari 24 sampai 45%, jika
bermetastasis tingkat kelangsungan hidup 5 tahun adalah sekitar 50%.


Gambar 3. Karsinoma Sel Skuamosa
19


3. Melanoma Maligna


Melanoma adalah neoplasma yang berpotensi mematikan dan agresif
dihasilkan dari transformasi malignan melanosit. Insiden melanoma
meningkat lebih cepat daripada kanker lain. Diperkirakan bahwa
frekuensi melanoma akan berlipat ganda setiap 10 sampai 15 tahun, dan
bahwa> 40.000 kasus baru melanoma akan didiagnosis tahun ini di
Amerika Serikat. Terjadinya melanoma meningkatpada seseorang
yangtinggal di daerah khatulistiwa, dengan penduduk dari Queensland
dan Australia, memilikitingkat tertinggi melanoma, mendekati 1 dari 14.
Diperkirakan 75 orang menderita melanoma dalam hidup mereka,
meningkat dari 1 pada 150 orang di tahun 1985. Melanoma tiga kali lebih
banyak menyebabkan kematian daripada jenis malignansi lain.
Orang-orang dalam kelompok Fitzpatrick 1 dan 2 adalah yang paling
rentan terhadap melanoma. Peran UV dalam insidensi melanoma tidak
diketahui secara tepat, tetapi banyak bintik-bintik pada muka
karenaterbakar terik matahari, penggunaan tempat tidur penyamakan, dan
ditambah UVA meiliki terapi yang telah terimplikasi.
Beberapa faktor risiko tambahan untuk melanoma telah
diidentifikasi. 10% dari pasien dengan melanoma memiliki kaitan dengan
penyakit. Tahi lalat juga dikenal sebagai melanositik nevi dapatan, dan
Gambar 4. Melanoma Maligna

20

dapat menjadi faktor risiko. Lebih dari 100 individu yang memilik tahi
lalat memiliki sepuluh kali lipat risiko mengembangkan melanoma.
Kondisi tersebut diperparah jika terdapat riwayat penyakit keluarga
menderita melanoma. Black hairy nevimemiliki risiko 4% berkembang
menjadi melanoma. Lentigomaligna, atau bintik melanotik dari
Hutchinson,adalah prekursor lesi in situ yangmenjadi ganas pada sekitar
5%kasus. Tiga puluh persen darimelanoma muncul dari lesi yang sudah
ada sebelumnya,sedangkan 70% kemunculanbaru..

C. Etiologi Kanker Kulit
1. Paparan Sinar Ultraviolet (UV)
Penyebab yang paling sering adalah paparan sinar UV baik dari matahari
maupun dari sumber yang lain. Lama paparan, intensitas sinar UV, serta
ada tidaknya pelindung kulit baik dengan pakaian atau krim anti matahari,
semuanya berpengaruh terhadap terjadinya kanker kulit.
Radiasi UV merupakan peran utama sebagai penyebab dari faktor
lingkungan. Ada tiga jenis radiasi UV: UVA (320-400 nm), UVB (290-
320 nm), dan UVC (200-280nm). Sinar UVB adalah yang paling
karsinogenik, memicu kanker kulit melalui kerusakan fotokimia pada
DNA, cedera pada mekanisme perbaikan DNA, dan menghancurkan
sebagian sel perantara imun. UVA, awalnya dianggap tidak berbahaya,
yang sekarang dikenal untuk meningkatkan efek UVB sebagai karsinogen.
Kebanyakan UVC disaring oleh lapisan ozon. Penipisan lapisan ozon,
dimulai dari Antartika dan bagian Australia, UVC meningkatkan
perkembangan kanker kulit. Laporan yang paling umum untuk NMSC
serta melanoma adalah pada 2-3 anak atau 3 tahun terkena paparan sinar
matahari secara intens. Bahan kimia seperti arsenik, hidrokarbon aromatik
polisiklik, dan psoralen digunakan dalam kombinasi dengan UVA
(pengobatan pengobatan untuk psoriasis) semuanya telah terlibat sebagai
pencetus timbulnya NMSC. Pasien yang mengalami inflamasi kulit kronis,
seperti keratosis radiasi kronis, bekas luka bakar, dan borok, memiliki
peningkatan risiko kanker kulit.
21


2. Kulit Putih
Orang yang memiliki kulit putih lebih rentan terkena kanker kulit daripada
orang yang memiliki kulit lebih gelap.Hal ini dikarenakan jumlah pigmen
melanin pada orang kulit putih lebih sedikit. Kadar melanin yang tinggi
bisa melindungi kulit dari paparan berbahaya sinar matahari, sehingga
mengurangi risiko terkena kanker kulit. Namun, orang-orang yang
memiliki kulit gelap juga bisa terkena kanker kulit meskipun jumlahnya
cenderung lebih kecil.
3. Paparan Karsinogen
Bahan kimia tertentu seperti arsenik, nikotin, tar, dan minyak diyakini
dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.Namun, dalam banyak
kasus paparan dalam jangka panjanglah yang biasanya menyebabkan
kanker kulit.Gen pembawa kanker atau tumor sudah dimiliki hampir
seluruh orang sejak lahir. Namun dengan bantuan zat atau bahan
karsinogen terjadi mutasi sel dan menimbulkan kanker atau tumor. Akhir-
akhir ini, para peneliti di University of Pittsburg Cancer Institute di
Amerika telah memukan virus-virus yang dapat menyebabkan kanker kulit
diantaranya adalah human papilloma virus/ HPV (Isselbacher, et al, 2002).
4. Genetika/Faktor Keturunan
Susunan genetik dalam keluarga bisa berpengaruh juga terhadap
munculnya kanker kulit. Jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena
kanker kulit, maka risiko terkena kanker kulit pada anggota keluarga yang
lain juga akan meningkat.
Beberapa sindrom yang mempengaruhi seseorang untuk terkena kanker
kulit.:
a. Basal cell nervus syndrom (sindrom Gorlin) adalah gangguan
autosomal dominan ditandai dengan beberapa BCC, keratocysts
odontogenik, rusuk bifid, skoliosis, brachymetacarpalism, palmar
danplantar pits, calcificationof yang cerebri falx, pegunungan
supraorbital menonjol, dan hipertelorisme. BCCs yang dihasilkan
terlihat sepertiNevi keciltetapi umumny seperti BCC nodular .
22

Kontrol dengan laser CO2 atau kuretase dan electrodesiccation (C dan
E) sangat penting sebelum pembesaran menghancurkan struktur
anatomi.
b. Xerodermapigmentosa adalah gangguanautosomal resesif yang
mengakibatkan cacat pada perbaikan asam deoksiribonukleat (DNA).
Radiasi UV menghancurkan DNA kulit, sehingga xeroderma
pigmentosa ditandai dengan hipersensitivitas terhadap paparan sinar
matahar. Anak-anak dengan gangguan ini harus pigmentosa gaya
hidup mereka menjadi fungsi sebagai orang malam. Ada kampung
musim panas bagi mereka, di mana kegiatan dimulai saat mereka
bangun hingga matahai terbenam.
c. Albinismeadalah gangguan autosomal resesif yang mengakibatkan
tidak adanya melanin yang meningkatan kanker kulit, terutama SCC
d. Epidermodysplasiaverruciformis adalah gangguan autosomal resesif
yang merupakan hasil dari perkembangan BCC dari kutil yang terkena
sinar matahari pada individu homozigot dan terinfeksi human
papillomavirus (HPV) 3 atau 5.

Gambar 4.Wanita 30tahunpertama kali
terlihat10tahunsebelumnyabeberapakeratocystsodontogenik.

D. Insiden Kejadian Kanker Kulit
Menurut Tren Kejadian Kanker di Singapura 2004-2008 (Pencatatan
Kanker Singapura), terdapat 1065 kasus kanker kulit dan 941 di Singapura
pada pria dan wanita setiap tahunnya. Kanker kulit berada pada peringkat ke
8 baik pada pria dan wanita di Singapura.
23


E. PatofisiologiKanker Kulit
Kanker kulit atau skin cancer berawal dari tumor jinak (tahi lalat atau
kista) dan tumor ganas (kanker). Diantaranya ada keadaan yang disebut
prakanker, yaitu penyakit kulit yang dapat berubah menjadi ganas atau kanker
kulit. Misalnya kemerahan karena terkena arsen atau sinar matahari, jaringan
parut menahun, beberapa jenis benjolan yang membesar perlahan, penyakit
kulit karena penyinaran, beberapa jenis tahi lalat, bercak keputihan dirongga
mulut atau lidah dan kemaluan, tahi lalat besar yang sudah ada sejak lahir dan
lain-lain. Disamping itu terdapat juga keadaan yang disebut genodermatosis,
yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh karena kelainan gen yang
dihubungkan dengan keganasan. Contohnya penyakit xeroderma
pigmentosum. Sel baru lazimnya menolak sel lama ke permukaan luar kulit di
mana sel lama ini akan mati. Proses ini dikawal oleh DNA.
Tumor kulit dapat terbentuk dari berbagai jenis sel dalam kulit seperti
sel-sel epidermis dan melanosit. Tumor-tumor ini dapat merupakan tumor
jinak atau ganas dan dapat terlokalisis dalam epidermis atau menembus
kedalam dermis dan jaringan subkutan.
Insiden karsinoma sel basal berdasar dengan jumlah pigmen melanin
pada epidermis dan lama total pajanan langsung terhadap matahari, pada
pelaut dan petani contohnya, dan sering terpajan matahari seperti wajah,
kepala dan leher.
Spektum sinar matahari yang bersifat karsinogenik adalah sinar yang
panjang gelombangnya berkisar antara 280 320 nm dan penyebab lain
radiasi dengan sinar-x atau faktor genetik tetapi jarang ditemui seperti albino
dan xeroderma pigmentosum. Spektum matahari inilah yang membakar dan
membuat kulit menjadi rusak (perubahan warna kulit menjadi cokelat).


24

F. Manifestasi KlinisKanker Kulit
Tanda yang dapat dilihat adalah berdasarkan empat ciri berikut yang biasa
disebut dengan Panduan ABCDyaitu :
1. Asymmetry : Ketumbuhan mempunyai bentuk yang tidak seragam ,
misalnya tidak simetri.
2. Border : Lingkungan adalah tidak jelas, terutamanya untuk melanoma.
3. Colour : Berbagai warna terlihat dan distribusi warna tidak seragam.
4. Diameter : Diameter lebih besar daripada 5-6 milimeter.

1. Karsinoma Sel Basal (KSB) biasanya timbul di daerah terpajan, termasuk
wajah, lengan, dan dada. lesi tampak sebagai papul atau nodus berbentuk
kubah, berbatas tegas, dengan warna putih seperti mutiara. Nodus
berwarna seperti daging atau pink, biasanya cekung di tengah-tengahnya
dan dapat terus membesar.Warnanya mengkilat/seperti lilin, paling sering
terlihat pada area yang terpajan sinar matahari di telinga, wajah, atau
tangan.
2. Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) biasanya timbul di daerah terpajan atau
di jaringan parut. Lesi tampak sebagai plak merah bersisik atau nodus
yang menjadi gembung disertai nekrosis di bagian tengahnya. Batas lesi
tidak beraturan dan mengeras pada tahap lanjut.Paling sering mengenai
area yang terpajan sinar matahari, biasanya di wajah atau area jaringan
parut.
3. Melanoma maligna dapat timbul sebagai nodus-nodus berwarna-warni
yang tumbuh secara vertikal atau sebagai pigmentasi yang menyebar
25

secara sirkular yang berukuran lebih dari 1 cm. Batas lesi tidak teratur
dan sering tidak simetris, dan dapat terjadi perdarahan. Lesi yang tumbuh
dengan cepat dan membentuk de novo atau tumbuh dari mole yang
sebelumnya diderita. Biasanya menonjol, berwarna hitam atau cokelat,
atau terkadang muncul dalam bermacam-macam warna. Batas tidak
beraturan, tidak simetris, dan dapat mengeluarkan darah. Paling sering
ditemukan pada area terpajan sinar matahari, namun dapat tumbuh di
area kulit lain. Berhubungan dengan lesi akibat terbakar sinar
matahari.(Elizabeth, 2007)

G. Pemeriksaan PenunjangKanker Kulit
Biopsi kulit digunakan untuk mendiagnosis kanker kulit. Ini adalah
prosedur sederhana yang dilakukan di bawah bius lokal. Bagian dari
pertumbuhan yang dicurigai atau pertumbuhan keseluruhan jika kecil akan
diangkat dan dikirim ke ahli patologi. Ahli patologi akan memeriksa
spesimen di bawah mikroskop dan mengkonfirmasikan diagnosis.
Ahli patologi juga akan menentukan jenis histologik (sel jenis sel-sel
kanker), ketebalan kanker (kedalaman invasi) dan karakteristik lainnya dari
kanker kulit. Pemeriksaan lainnya seperti biopsi kelenjar getah bening, tes
darah dan pemindaian mungkin diperlukan untuk stadium, pengobatan dan
prognosis.
Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan dengan bantuan komputer
seperti Dermatoscopic adalah teknik pencitraan non-invasive dengan
menggunakan minyak immersion, yang akan membuat permukaan kulit lebih
transparan, sehingga memberikan visualisasi yang lebih baik bagi struktur-
struktur permukaan kulit yang melalui proses Akuisisi Citra (image
acquisition), Pra Proses (preprocessing), Ekstraksi Fitur (feature extraction),
Segmentasi (segmentation) dan Pasca Proses (postprocessing) dan
pemeriksaan Macroscopik.


H. KomplikasiKanker Kulit
26

1. Invasi lokal dan kerusakan jaringan dapat terjadi pada semua jenis kanker
kulit.
2. Dapat terjadi metastasis ke kelenjar limfe regional dan keseluruh tubuh,
terutama pada melanoma maligna. Kersinoma sel basal sangat kecil
kemungkinan bermetastasis sedang karsinoma sel skuamosa berpotensi
sedang. (Elizabeth, 2007)

I. PenatalaksanaanKanker Kulit
1. Penatalaksanaan Medis
a. Biopsi
Biopsi dilakukan untuk keperluan konfirmasi histologi.
Karakteristik histologi mempengaruhi perilaku klinis, rekurensi,
dan potensi metastasis. Penentuan margin tumor untuk
pembersihan berdasarkan pada gabungan dari beberapa informasi.
Teknik biopsi merupakan pilihan personal. Teknik manapun
yang memberikan hasil histologi yang adekuat dapat dilakukan.
Shave biopsi sederhana dapat dilakukan memakai skapel atau
curved razor blade. Shave biopsi meninggalkan 5-6 mm defek
saucer-shape dan menghilangkan epidermis dan sebagian dermis.
Satu-satunya kekurangan shave biopsi adalah bahwa ciri histologis
dan prognostik terdapat lebih dalam dari pemotongan biopsi yang
dilakukan. Oleh karena itu, shave biopsi berpotensi sangat
superfisial sehingga tidak dapat digunakan untuk menentukan lesi
in situ dan lesi invasif. Shave biopsi merupakan kontra indikasi
untuk melanoma. Pseudoshave biopsi dapat dilakukan dengan
menguretan spesimen sebelum elektrodesiccation.
Punch biopsi dilakukan untuk mengambil spesimen yang tebal.
Punch memiliki akhiran potongan berbentuk sirkular. Defek dari
potongan tersebut dapat dijahit atau sembuh sekunder. Walaupun
punch biopsi dapat dilakukan untuk melanoma dengan
kedalamannya yang kritis, punch biospi terlalu agresif untuk lesi
27

yang superfisial karena dikhawatirkan punch akan menekan tumor
ke jaringan yang lebih dalam.
Insisi dan eksisi banyak dilakukan pada proses pembedahan.
Pemilihan tindakan didasarkan pada pertimbangan besarnya tumor
dan apakah biopsi kecil memerlukan eksisi pembersihan margin.
Saat indikasi dilakukan, pada eksisi biopsi diperlukan penjahitan
atau pewarnaan untuk pembersihan margin tumor.
Fine-needle aspirasi (FNA) juga dapat dilakukan untuk
pengambilan spesimen histologi yang dalam. FNA dapat dilakukan
untuk membedakan kista dermal dan tumor parotid pada regio
periauricular. Dengan FNA, patologis dapat megaspirasi jaringan
dengan menggunakan jarum 23 atau 25 gauge dan mewarnainya
dan memfiksasi pada glass slide.
Saat patologis sudah mengkonfirmasi diagnosa dari kanker
kulit, pembedah merencanakan penghancuran tumor dengan
mempertimbangkan karakteristik tumor dengan usia pasien,
riwayat kulit, riwayat medis, riwayat sosial, dan pertimbangan
estetik. Pilihan terapi dapat menggunakan cyoterapi menggunakan
nitrogen cair, eksisi standar, Mohs Micrographic Surgery (MMS),
radiasi, kuretasi dan elektrodesikasi, topikal kemoterapi, ablasi
laser, terapi fotodinamik, interferon, dan retinoid.


28

Tabel 1. Kontrol Margin untuk Kanker Sel Squamos

Tabel 2. Kontrol Margin untuk Kanker Sel Basal

b. Eksisi Standar
Pada umumnya kanker kulit dieksisi dan dilakukan
pembersihan marginal, terkecuali pada beberapa AK dan beberapa
superfisial SCC atau BCC yang mungkin memerlukan beberapa
terapi tambahan, Eksisi dapat dilakukan dibawah pengaruh lokal
anestesi. Lesi dan area pembersihan margin ditandai dengan
marking pen. Lokal anestesi dengan epineprin tidak
mempengaruhi penentuan margin patologi, tetapi mengurangi
kemapuan pembedah untuk memonitor vaskularisasi flap yang
berbatasan. Pada kasus melanoma, perluasan subkutaneous harus
dilihat menggunakan Wood light. Pada kasus BCC dan AK
gambaran kuretase yang lebih akurat. Beberapa SCC tidak dapat
dikuretase tetapiBCC yang dapat dikuretase dapat memiliki 25%
dibersihkan pada eksisi pertama dibandingkan dieksisi tanpa
menggunakan kuretase. Idealnya spesimen diperiksa histologinya
baik dari lateral dan kedalamannya. Hasil eksisi yang dilakukan
disetiap margin eksisi diperiksakan pada patologis. Pada tindakan
eksisi, pasien dapat diberikan informasi bagaimana luka eksisi
terbentuk dan pasien dapat membayangkan rekontruksi yang dapat
29

dilakukan. Pembedah juga dapat menentukan metode untuk
rekontruksi.
Rekontruksi yang ditunda memungkinkan pasien menerima
graft kulit dan mengurangi terjadi hematom dan memungkinkan
terbentuknya granulasi. MMS memungkinkan terjadinya
penundaan tersebut. Pasien yang tumornya diangkat seluruhnya
diutamakan untuk dilakukan rekontruksi, hal ini dapat dilakukan
dengan basis elektif seminggu kemudian. Perbedaan operasi pada
rekontruksi segera (24 jam) dan rekontruksi yang ditunda (>48
jam) adalah defek yang direkontruksi dieksisi disekelilingnya
sebanyak 0,5-1 mm untuk menghasilkan perbedaan margin yang
baru. Debris juga perlu dikuretase dari dasar. Langkah dari proses
penundaan tidak terasa sakit dan tidak terjadi infeksi sehingga
antibiotik tidak diperlukan.

c. Mohs Micrographic Surgery
MMS didasarkan pada 2 prinsip: (1) tumor yang menyebar dan
tumbuh berdekatan (2) semua sel tumor harus dieksisi untuk
penyembuhan. MSS teknik dapat menunjukan lokasi ektensi tumor.
Teknik ini diprediksi dapat menimbulkan penyembuhan total.
Selama hampir tahunan terdapat limitasi dari teknik MMS seperti
terapi yang terlalu sederhana untuk tumor yang agresif. Tumor
yang diangkat dengan teknik MMS ini diduga dapat terjadi
rekurensi, karena tidak semua perluasan mikroskopis tumor dapat
dilihat dengan mata telanjang manusia. Contohnya SCC yang luar
pada kulit kepala sebaiknya dilakukan dengan eksisi agresif non
Mohs. Kontroversi terjadi dalam pilihan terapi melanoma dan
protuberan dermatosa dengan menggunakan teknik Mohs.
Untuk mengangkatan ulseratif nodul SCC dengan
menggunakan teknik Mohs sebagai berikut: Lesi dikumpulkan
dengan kuret dan dieksisi sebanyak 2-3 mm pada marginnya
dengan sudut 45
0
dari pusat tumor. Spesimen diorientasi secara
30

anatomis, dibagi kedalam beberapa buah lalu diberi kode warna
dan dipetakan. Tingkat kesembuhan dengan menggunakan MMS
pada BBM < 2cm sebanyak 99%. Pada SCC, tingkat
penyembuhan dengan MMS sebanyak 94-99% . Oleh karena itu
MMS diindikasikan untuk BCC rekuren, BCC dengan kesulitan
histopatologi ( mikronodular, infiltratif, dan morphea-like) dan
BCC pada jaringan kritis (seperti hidung, bibir dan telinga). Untuk
SCC, MMS dapat diindikasikan untuk kanker bibir bawah, SCC
dengan diferensiasi yang buruk dan daerah yang memerlukan
preservasi area maksimum.


Gambar 5. Proses MMS pada Pasien Kanker Sel Basal

31


Gambar 6. Gambaran Proses Biopsi Kanker Sel Basal di
Bawah Pengaruh Lokal Anestesi

d. Terapi Radiasi
Terapi radiasi sering digunakan untuk mengobati malignansi
kulit hampir selama se abad tetapi saat ini terapi radiasi hanya
dijadikan sebagai terapi tambahan. Keuntungan pengobatan radiasi
adalah terjaganya jaringan normal yang berdekatan dengan lokasi
penyinaran TR dapat di gunakan untuk terapi kelopak mata, bibir,
hidung, dan telinga. Sayangnya TR memiliki beberapa efek
samping yang tidak diinginkan: eritema, kutaneus, nekrosis,
hipopigmentasi, telangiektasia,atropi, fibrosis, kerontokan rambut,
penyembuhan luka yang lama, dan resiko terjadinya perkembangan
NMSC pada pasien muda .
TR pada tumor < 2mm dapat disembuhkan 90% dan 85-95%
untuk BBC dan SCC. Tetapi pada lesi yang lebih besar kesuksesan
terapi lebih rendah untuk melanoma rekurensi lokal terdapat 50%
32

dari kasus yang dilaporkan TR untuk melanoma adalah opsi yang
sering dilakukan untuk pasien medically compromised yang tidak
dapat dilakukan pembedahan atau untuk pasien yang menolak
dioperasi.

e. Cyrosurgery
Cryrosurgery menghancurkan kanker kulit dan beberapa
jaringan sekitarnya dengan membekukan jaringan tersebut.
Keberhasilan penyembuhan cryosurgery untuk AK, BCC, SCC dan
maligna lentigo berkisar antara 94-99%. Nitrogen liquid
disemprotkan langsung pada lesi atau melalui cryoprobe.
Pembekuan cepat pada kulit tersebut terjadi bersamaan dengan
transfer panas dari kulit ke probe. Kristal es intraselular terbentuk
dan sel membran rusak ketika suhu turun dari -50
0
C ke -60
0
C. Saat
pencairan terjadi rekristalisasi elektrolit menghasilkan stasis
vaskular dan perubahan lokal pada mikrosirkulasi hingga terjadi
kerusakan jaringan yang lebih jauh.
Sebagian besar dokter membekukan 4-6 mm lebih pada
perluasaan margin tumor. Pembekuan dan pecairan terjadi
berulangkali untuk menghasilkan efek yang maksimal.
Penyembuhan terjadi pada tujuan sekunder dengan luka flat
hypopigmentasi.
Efek samping dari cryosurgery diantaranya: rasa sakit,
eritema, melepuh, eksudasi, dan pembentukan luka. Teknik ini
tidak mahal dan tidak membutuhkan biasa patologi. Karena itu, lesi
yang dipilih untuk cryoterapi harus relatif kecil dan berbatas jelas.

f. Kuretase dan Elektrodesikasi
K dan E merupakan tindakan terapi NMSC yang tidak mahal
tetapi prosesnya sangat bergantung pada teknik yang dilakukan.
Area lesi dibersihkan dengan alkohol, dibuat outline sementara
menggunakan spidol kulit lalu dianestesi. Lesi dikuretasi secara
33

luas setelah dilakukan elektrodedikasi untuk hemostasis dan
terjadinya kematian jaringan sekitarnya. Pola ini berulang 3-5 kali.
Keuntungan utama K dan E adalah dapat dilakukan untuk
pengobatan beberapa lesi dalam sekali kunjungan. Kerugiannya
adalah proses penyembuhan yang lama, sering kali mingguan,
tergantung pada besarnya ukuran dan jenis tindakan yang
dilakukan, hipopigmentasi dan kemungkinan luka hipertrofi.
Material hasil kuretasi dapat dikirim ke patologis untuk
diperiksakan.
Kemahiran operator serta ukuran dan lokasi anatomis tumor
menentukan keberhasilan tindakan. BCC <5 mm memiliki 8.5%
rekurensi setelah dilakukannya K dan E oleh operator yang sudah
berpengalaman. Lesi pada telinga, hidung, perioral dan periokular
dapat berkurensi 16%. Pada lesi >20mm terjadi rekurensi 26%.
Terapi K dan E kontraindikasi untuk lesi yang besar, SCC yang
berdiferensiasi buruk dan melanoma.

g. Topikal Kemoterapi
Topikal 5-FU atau 5% imiquimod dapat digunakan untuk
penyembuhan lesi superfisial. Retinoid sering kali digunakan. 5 FU
adalah analog timin yang mengganggu sintesis DNA sehingga
menyebabkan kematian sel degan menghambat sintesis
thymidylate. Imiquimod menginduksi produksi interferon alfa dan
sitokin asam ribonukleid. Aplikasi 5-FU direkomendasikan setiap
hari selama 2-3 minggu untuk AK siperfisial dan 306 minggu
untuk lesi difuse yang mengkhawatirkan. Imiquimod diaplikasikan
3 kali seminggu, pemakaian imiquimod lebih mahal dibandingkan
dengan 5-FU. Tingkat penyembuhan dengan menggunakan 5-FU
dan imoquimod 92% untuk SCC in situ dan 95% untuk superfisial
BCC dan AK.
Pasien harus diperingatkan bahwa akan terjadi keropeng
inflamasi yang cukup parah selama terapi topikal, tetapi hasil
34

estetik biasanya cukup baik bila penyesuaian pemakaian terus
dijaga.

h. Laser
Laser CO
2
memfokuskan sinar dengan gelombang 10,600
nm. Cahay laser diserap oleh air dan secara nonseletif menguap
pada kulit. Laser CO
2
dapat digunakan sebagai instrumen
pemotong untuk eksisi atau lesi ablasi seperti multipel AK,
superfisial BCC dan SCC. Persiapan kulit sebelum operasi
menggunakan retinoid mempercepat penyembuhan. Tidak
diperlukan pemberian obat antibiotik anafilaksi atau antivirus untuk
area lokal yang kecil, tetapi bila area operasi besar maka diperlukan
antibiotik dan antiviral.

i. Terapi Photodynamic
Photodynamic terapi tidak banyak digunakan untuk terapi
kanker kulit tetapi banyak digunakan untuk terapi kanker paru-
paru, payudara, usus, dan kelenjar kemih. Asam aminolevulinic
diaplikasikan pada lesi, asam ini memetabolisme sel kanker untuk
memproduksi porphyrin yang bersifat photosensitif. Empat sampai
6 jam setelahnya, area tersebut disinari dengan visible light dari
laser atau sumber cahaya non koheren. Spesies yang reaktif
terhadap O
2
akan dihasilkan oleh sel, menyebabkan terjadinya
kematian sel. Tingkat kesembuhan terapi photodynamik untuk AK,
superfisial SCC dan BCC dilaporkan >90% dari hasil studi, tetapi
tumor yang lebih tebal dari 2 mm bersifat photoresisten.

j. Interferon
Interferon adalah sitokin yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan sel, diferensiasi dan respon imun dan aktifitas
antiviral. Injeksi intralesi interferon alfa dapat memberikan tingkat
35

kesembuhan sebanyak >80% untuk superfisial dan ulseratif nodul
BCC.

k. Retinoids
Retinoid adalah turunan vitamin A yang sangat berperan pada
kontrol pertumbuhan sel, diferensiasi dan apoptosis. Topikal
retinoid cukup efektif untuk menyembuhkan AK tetapi kurang
memberikan efek pada superfisial BCC dan SCC. Retinoid sering
beraksi sinergis dengan 5-FU dan dapat diaplikasikan pada
regimen. Keluhan yang sering terjadi pada pemakaian retinoid
dibanding 5-FU adalah terjadinya pengeringan dan pengelupasan
kulit.

2. Penatalaksanaan Keperawatan
Karena banyak kanker kulit yang diangkat dengan tindakan eksisi, peran
perawat adalah:
a. Meredakan nyeri dan ketidaknyamanan.
b. Pemberian analgetik yang tepat.
c. Meredakan ansietas
d. Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah.


J. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1) Data Dasar
a. Identitas
Kajian ini meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama,
suku, pendidikan, pekerjaan yang terpapar sinar matahari
misalnya: petani,buruh bangunan dan lain-lain dan tempat
tinggal klien. Selain itu perlu juga dikaji nama dan alamat
penanggung jawab serta hubungannya dengan klien.
b. Riwayat penyakit dahulu
36

Berupa penyakit dahulu yang pernah diderita yang
berhubungan dengan keluhan sekarang.
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi alasan masuk rumah sakit, kaji keluhan klien, kapan
mulai tanda dan gejala. Faktor yang mempengaruhi, apakah ada
upaya-upaya yang dilakukan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit basalioma
atau kanker.
e. Riwayat pemakaian obat-obatan dan kosmetik
Kajian ini meliputi pemakaian obat-obatan yang terjual bebas
dan pemakaian kosmetik yang salah.
f. Data biologis
a) Pola nutrisi : klien mengalami anoreksia, dan
ketidakmampuan untuk makan.
b) Pola minum : Masukan cairan klien adekuat, pasca operasi,
klien puasa total 24 jam (Doenges, 2002).
c) Pola eliminasi : Terjadi konstipasi dan berkemih tergantung
masukan cairan (Brunner & Suddarth, 2002).
d) Pola istirahat dan tidur : Tidak dapat tidur dalam posisi
baring rata pasca operasi (Doenges, 1999).
e) Pola kebersihan : Penurunan kemampuan melakukan
aktivitas sehari-hari disebabkan pasca operasi.
f) Pola aktivitas : Keletihan melakukan aktivitas sehari-hari
(Brunner and Suddarth, 2000).

g. Data Psikologis
a) Status emosi
b) Klien dapat merasa terganggu dan malu dengan kondisi
yang dialaminya atau tidak (Brunner and Suddarth, 2002).
37

c) Gaya komunikasi : kesulitan berbicara dalam kalimat
panjang/perkataan yang lebih dari 4 atau 5 sekaligus
(Doenges, 1999).
d) Pola interaksi : tidak ada sistem pendukung, pasangan,
keluarga, orang terdekat. Keterbatasn hubunan dengan
orang lain, keluarga atau tidak (Doenges, 1999)
e) Pola koping : Klien marah, cemas, menarik diri atau
menyangkal

h. Data sosial
a) Pendidikan dan pekerjaan : tingkat pengetahuan tentang
operasi minim.
b) Hubungan social : kurang harmonisnya hubunan sosial
merupakan stressor emosional pernafasan tidak teratur
(Brunner & Suddarth, 2002)
c) Gaya hidup : kebiasan merokok, minum minuman
berakohol, sering bergadang (Brunner & Suddarth, 2002).

i. Data spiritual
Keterbatasan melakukan kegiatan spiritual (Brunner &
Suddarth, 2002).

2) Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum lemah.
b. Kesadaran composmentis sampai koma, tergantung tingkat
efek pembedahan dan anestesi.
c. Tanda-tanda vital meningkat disebabkan adanya infeksi.
d. Kepala, leher, axilla : ekspresi wajah meringis, takut.
e. Hidung : pernafasan cuping hidung
f. Dada : berpengaruh apabila tingkatan infeksi tinggi akan
mempengaruhi pernafasan cepat sampai retraksi.
38

g. Ekstremitas : ekstremitas berkeringat. (Brunner & Suddarth,
2002)

2. Diagnosa Keperawatan
1) Diagnosa keperawatan pre-operatif
a. Nyeri akut berhubungan berhubungan dengan proses penyakit
(kompresi/destruksi jaringan saraf,infiltrasi saraf atau suplai
vaskularnya,obstruksi jaringan saraf,inflamasi). ( doenges : hal
1005)
b. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
kerusakan jaringan kulit sekunder karena kanker
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status
kesehatan, kematian, nyeri.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena
penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi
pembedahan, agen kemoterapi topical, dan atau terapi radiasi
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker
kulit seperti pembedahan dan kemoterapi topical.
2) Diagnosa keperawatan post-operatif
a. Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan
b. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan eksisi.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.

3. Intervensi Keperawatan
1) Diagnosa keperawatan pre operatif
a. Nyeri akut berhubungan berhubungan dengan proses
penyakit(kompresi/destruksi jaringan saraf,infiltrasi saraf atau
suplai vaskularnya,obstruksi jaringan saraf,inflamasi.
Tujuan: nyeri berkurang/hilang atau teratasi
Kriteria hasil:
a) Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diatasi dengan skala nyeri 0-4.
39

b) Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri.
c) Pasien tidak gelisah
Intervensi:
1. kaji nyeri dengan pendekatan PQRST.
Rasional: Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh
manarencana intervensi yang diperlukan dan sebagai
evaluasi keberhasilan dari intervensi menajemen nyeri
keperawatan.
2. Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam.
Rasional : Meningkatkan asupan O2 sehingga akan
menurukan nyeri.
3. Menajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi
pengunjung.
Rasional: Istirahat diperlukan selama fase akut. Disini akan
meningkatkan suplai darah pada jaringan yang mengalami
peradangan.
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri
eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu
meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang
apabila banyak pengunjung yang berada diruangan.
4. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik
Rasional: Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri
akan berkurang
b. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
kerusakan jaringan kulit sekunder karena kanker.
Tujuan: Agar tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria Hasil: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Intervensi:
1. Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping terapi
kanker; perhatikan kerusakan/ pelambatan penyembuhan
40

luka. Tekan kan pentingnya melaporkan area terbuka pada
pemberi perawatan.
Rasional : Efek kemerahan dan kulit samak ( reaksi radiasi)
dapat terjadi dalam area radiasi. Deskuaminasi kering (
kekeringan dan pruritus), deskuamasi lembab ( lepuh)
ulserasi, kehilangan rambut, kehilangan dermis, dan
kelenjar keringat juga dapat terlihat. Selain itu reaksi kulit
dapat terjadi pada bebebrapa agen kemoterapi.
2. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.
Rasional: Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi
kulit.
3. Dorong pasien untuk menghinddari menggaruk dan
menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk.
Rasional : Membantu mencegah friksi/ trauma kulit.
4. Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun,
salep, dan bedak kecuali di izinkan dokter.
Rasional : Dapat meningkatkan iritasi/ reaksi secara nyata.
5. Tinjau protokol perawatan kulit untuk pasien yang
mendapat terapi radiasi.
Rasional ; Dilakukan untuk meinimalkan trauma pada area
terapi radiasi.
6. Hindari menggaruk atau menggunakan sabun, losion, atau
deodoran pada area; hindari memberikan panas atau
mengusahakan mencuci tanda/ tato yang ada di kulit
sebagai identifikasi area iradiasi.
Rasional : Dapat menimbulkan atau bahkan mempengaruhi
pemberian radiasi.
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status
kesehatan, kematian, nyeri
Tujuan : klien dan keluarga tidak cemas lagi.
Kriteria evaluasi :rasa takut dan cemas berkurang sampai
hilang.
41

Intervensi:
1. Kaji status mental termasuk ketakutan pada kejadian isi
pikir.
Rasional :pada awal pasien dapat menyangkal dan represi
untuk menurunkan dan menyaring informasi
keseluruhan.(Doenges, 2000).
2. Jelaskan informasi tentang prosedur perawatan.
Rasional : pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan
3. Bantu kelurga untuk mengekspresikan rasa cemas dan
takut.
Rasional :keluarga mungkin bermasalah dengan kondisi
pasien atau merasa bersalah.(Doenges, 2000).
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena
penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi
pembedahan, agen kemoterapi topical, dan atau terapi radiasi.
Tujuan: klien bisa menerima keadaannya.
Kriteria evaluasi: mendiskusikan strategi untuk mengatasi
perubahan pada citra tubuh.
Intervensi:
1. Kaji pengetahuan pasien trehadap adanya potensi kecacatan
yang berhubungan dengan pembedahan dan atau perubahan
kulit.
Rasional : memberikan informasi untuk menformulasikan
perencanaan.
2. Pantau kemampuan pasien untuk melihat perubahan bentuk
dirinya.
Rasional : ketidakmampuan untuk melihat bagian tubunhya
yang terkena mungkin mengindikasikan kesulitan dalam
kopping.
3. Dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan mengenai
perubahan penampilan dari pembedahan.
42

Rasional : memberikan jalan untuk mengekspesikan
emosinya.
4. Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat.
Rasional: meningkatkan perasaan dan memungkinkan
respons yang lebih membantu pasien.
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker
kulit seperti pembedahan dan kemoterapi topical.
Tujuan : klien bisa mengetahui penanganannya.
Kriteria hasil : menyatakan tindakan perawatan diri untuk
menurunkan insiden dan bertambah beratnya gejala yang
berhubungan dengan pengobatan.
Intervensi :
1. Beritahu kapan pembedahan/terapi radiasi akan dilakukan.
Rasional: memberikan informasi yang diperlukan.
2. Jelaskan tujuan dari penanganan
Rasional: meningkatkan pemahaman terhadap pengobatan.
3. Ajarkan untuk menggunakan kemoterapi topical.
Rasional: meningkatkan perawatan diri sendiri
4. Beritahu kemungkinan efek samping dari pemberian obat
topical seperti iritasi kulit dan pemakaian yang tidak tepat
mungkin dapat menyebabkan kulit terkelupas atau
melepuh.
Rasional:Meningkatkan keamanan dari pemberian obat
topical tanpa adnya komplikasi.
5. Beritahu adanya efek samping dari terapi radiasi dan
tindakan keperawatan diri untuk mengatasinya.
Rasional : meningkatkan perawatan diri.

2) Diagnosa keperawatan post-operatif.
a. Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan.
Tujuan : nyeri berkurang sampai hilang.
43

Kriteria evaluasi :Klien akan melaporkan penurunan rasa nyeri
dan peningkatan aktivitas setiap hari. Luka eksisi bedah
sembuh setelah post operasi tanpa komplikasi.
Intervensi :
1. Observasi skala nyeri, lama intensitas nyeri.
Rasional :Membantu dalam mengidentifikasi derajat nyeri
kebutuhan untuk analgesik (Doenges, 1999).
2. Berikan posisi yang nyaman tidak memperberat nyeri.
Rasional:Mengurangi tekanan pada insisi, meningkatkan
relaksasi dalam istirahat (Doenges, 1999).
3. Beri obat analgesik (diazepam, paracetamol) sesuai terapi
medik.
Rasional:Membantu mengurangi nyeri untuk meningkatkan
kerjasama dengan aturan terapeutik (Brunner and Suddarth,
2001).
b. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan eksisi
pembedahan.
Tujuan : meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan
bebas tanda infeksi.
Kriteria evaluasi : luka bersih tidak tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
1. Observasi luka, catat karakteristik drainase.
Rasional:Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi
selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan
saja. Tergantung pada tipe penutupan luka (misal
penyembuhan pertama atau kedua), penyembuhan
sempurna memerlukan waktu 6-8 bulan (Doenges, 1999).
2. Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan tehnik steril.
Rasional:Sejumlah besar cairan pada balutan luka operasi ,
menuntut pergantian dengan sering menurunkan iritasi kulit
dan potensial infeksi (Doenges, 1999).
44

3. Bersihkan luka sesuai indikasi, gunakan cairan isotonic
Normal Saline 0,9 % atau larutan antibiotik.
Rasional:Diberikan untuk mengobati inflamasi atau infeksi
post operasi atau kontaminasi interpersonal (Doenges,
1999).
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.
Tujuan : meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat,
bebas dari infeksi serta tidak ada tanda demam.
Kriteria evaluasi : pertahankan lingkungan aseptic
Intervensi :
1. Perhatikan kemerahan disekitar luka operasi.
Rasional:Kemerahan paling umum disebabkan masuknya
infeksi ke dalam tubuh di area insisi (Doenges, 1999).
2. Ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional:Balutan basah bertindak sebagai sumbu untuk
media untuk pertumbuhan bakterial.
3. Awasi tanda-tanda vital.
Rasional:Peningkatan suhu menunjukkan komplikasi insisi
(Doenges, 1999).

4. Evaluasi
1) Pasien tidak cemas lagi.
2) Pengetahuan klien bertambah.
3) Nyeri akut berkurang.
4) Kerusakan integritas kulit dapat sembuh.
5) Resiko tinggi infeksi tidak terjadi



BAB III
KESIMPULAN

45

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 3.Corwin, Elizabeth J.
2007. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3 Revisi. Jakarta : EGC
Doenges , Marilynn E dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta :
EGC

Anda mungkin juga menyukai