Anda di halaman 1dari 20

I.

Judul Percobaan : Penentuan Kadar Glukosa dalam Darah


II. Tanggal Percobaan : 03 Desember 2013
III. Tujuan Percobaan : Menentukan kadar glukosa dalam darah
IV. Dasar Teori :
Glukosa merupakan suatu gula monosakarida dan termasuk salah satu
karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi tubuh.Bentuk
alami glukosa disebut juga dekstrosa. Glukosa memiliki rumus empiris C
6
H
12
O
6
yang
juga dapat ditulis sebagai (CH
2
O)
6
dan memiliki berat molekul 180,18. Termasuk
dalam heksosa yaitu monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa
merupakan aldehid (mengandung gugus OH), lima atom karbon dan satu oksigenya
membentuk cincin (cincin piranosa). Yaitu bentuk paling stabil untuk aldosa
berkarbon enam.Dalam cincin ini tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil
dan hydrogen, kecuali atom kelimanya, yang terikat pada enam atom karbon ke enam
di luar cincin, yaitu membentuk CH
2
OH. Berikut gambar struktur glukosa:






Glukosa (C
6
H
12
O
6
, berat molekul 180.18) adalah heksosa- monosakarida yang
mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -
CHO).Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut "cincin
piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam.Dalam cincin ini, tiap
karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya,
yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus
CH
2
OH.Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih
reaktif, yang proporsinya 0.0026% pada pH 7.
Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam
biologi. Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain
seperti fruktosa, begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida
pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif.
Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas adalah kecenderungan glukosa,
dibandingkan dengan gula heksosa lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara
nonspesifik dengan gugus amino suatu protein. Reaksi ini (glikosilasi) mereduksi atau
bahkan merusak fungsi berbagai enzim. Rendahnya laju glikosilasi ini dikarenakan
glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang reaktif. Meski
begitu, komplikasi akut seperti diabetes, kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan saraf
periferal (peripheral neuropathy), kemungkinan disebabkan oleh glikosilasi protein.
Dalam respirasi, melalui serangkaian reaksi terkatalisis enzim, glukosa
teroksidasi hingga akhirnya membentuk karbon dioksida dan air, menghasilkan
energi, terutama dalam bentuk ATP. Sebelum digunakan, glukosa dipecah dari
polisakarida. Glukosa dan fruktosa diikat secara kimiawi menjadi sukrosa. Pati,
selulosa, dan glikogen merupakan polimer glukosa umum polisakarida). Dekstrosa
terbentuk akibat larutan D-glukosa berotasi terpolarisasi cahaya ke kanan. Dalam
kasus yang sama D-fruktosa disebut "levulosa" karena larutan levulosa berotasi
terpolarisasi cahaya ke kiri.

Perubahan proyeksi Fischer ke proyeksi Haworth -D-Glukopiranosa

Gula terdapat dalam dua enantiomer (isomer cermin), D-glukosa dan L-
glukosa, tapi pada organisme, yang ditemukan hanya isomer D-isomer.Suatu
karbohidrat berbentuk D atau L berkaitan dengan konformasi isomerik pada karbon 5.
Jika berada di kanan proyeksi Fischer, maka bentuk cincinnya adalah enantiomer D,
kalau ke kiri, maka menjadi enantiomer L. Sangat mudah diingat, merujuk pada D
untuk "dextro, yang merupakan akar bahasa Latin untuk "right" (kanan), sedangkan
L untuk "levo" yang merupakan akar kata "left" (kiri). Struktur cincinnya sendiri
dapat terbentuk melalui dua cara yang berbeda, yang menghasilkan glukosa- (alfa)
dan (beta). Secara struktur, glukosa- dan - berbeda pada gugus hidroksil yang
terikat pada karbon pertama pada cincinnya.Bentuk memiliki gugus hidroksil "di
bawah" hidrogennya (sebagaimana molekul ini biasa digambarkan, seperti terlihat
pada gambar di atas), sedangkan bentuk gugus hidroksilnya berada "di atas"
hidrogennya. Dua bentuk ini terbentuk bergantian sepanjang waktu dalam larutan air,
hingga mencapai nisbah stabil : 36:64, dalam proses yang disebut mutarotasi yang
dapat dipercepat.
Glukosa merupakan hasil fotosintesis pada tumbuhan dan beberapa prokariota.
Glukosa juga terbentuk dalam hati dan otot rangka dari pemecahan simpanan
glikogen (polimer glukosa) serta disintesis dalam hati dan ginjal dari zat antara
melalui proses yang disebut glukoneogenesis.
Glukosa diserap ke dalam peredaran darah melalui saluran pencernaan.
Sebagian glukosa ini kemudian langsung menjadi bahan bakar sel otak, sedangkan
yang lainnya menuju hati dan otot, yang menyimpannya sebagai glikogen ("pati
hewan") dan sel lemak, yang menyimpannya sebagai lemak. Glikogen merupakan
sumber energi cadangan yang akan dikonversi kembali menjadi glukosa pada saat
dibutuhkan lebih banyak energi. Meskipun lemak simpanan dapat juga menjadi
sumber energi cadangan, lemak tak pernak secara langsung dikonversi menjadi
glukosa. Fruktosa dan galaktosa, gula lain yang dihasilkan dari pemecahan
karbohidrat, langsung diangkut ke hati, yang mengkonversinya menjadi glukosa.
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena
mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa
terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung
glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml
darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber
karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa darah akan kembali
pada keadaan semula. Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing
manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi,
1994).
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada
tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum,
diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah
sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada
batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini
meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi hari,
sebelum orang makan.
Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan
keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas.
Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan
energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di
lever (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini
disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga
meningkatkan level gula darah. Apabila level gula darah meningkat, entah karena
perubahan glikogen, atau karena pencernaan makanan, hormon yang lain dilepaskan
dari butir-butir sel yang terdapat di dalam pankreas. Hormon ini, yang disebut insulin,
menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini
disebut gliogenosis, yang mengurangi level gula darah. Diabetes mellitus tipe 1
disebabkan oleh tidak cukup atau tidak dihasilkannya insulin, sementara tipe 2
disebabkan oleh respon yang tidak memadai terhadap insulin yang dilepaskan
("resistensi insulin"). Kedua jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya
glukosa yang terdapat di dalam darah.
Glukosa darah akan mereduksi ion Cu
2+
dalam suasana basa, yang hasil
reduksinya akan bereaksi dengan arseno molibdat menghasilkan warna biru. Larutan
ini diukur absorbansinya yang panjang gelombang maksimumnya yaitu 660 nm.
Dengan menggunakan Hukum Lambert-Beer konsentrasi glukosa dalam darah dap;at
ditentukan . hukum Lambert-Beer menyatakan :
A= k C l
Dimana :
A = absorbansi (serapan cahaya)
k = koefisien ekstingsi molar larutan
l = tebal kuvet
C = konsentrasi sampel
Berdasarkan hukum Lambert-Beer, serapan cahaya berbanding lurus dengan
konsentrasinya.
Konsentrasi glukosa dalam darah merupakan faktor yang sangat penting untuk
kelancaran kerja tubuh. Kadar normal glukosa dalam darah adalah 70-90 mg/100 mL .
Keadaan dimana kadar glukosa berada dibawah 70-90 mg/100 mL disebut
hipeglisemia sedangkan diatas 90mg/ 100 mL disebut hiperglisemia.
Pada penambahan 1 mL reagen Cu Alkalis, ion kupri (Cu
+
) akan direduksi
oleh gula menjadi kupro (Cu
2+
) dan mengendap sebagai Cu
2
O (kuprooksida). Dengan
menambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat, kuprooksida melarut lagi dan warna
larutan akan berubah menjadi biru jernih disebabkan oleh adanya oksidasi Mo.
Penambahan 1,5 mL larutan Ba(OH)
2
0,3 N sebelumnya juga membantu terjadinya
reduksi ion Cu
2+
karena reaksi terjadi dalam suasana basa. Intensitas warna larutan
adalah ukuran banyaknya gula yang ada di dalam filtrat (Girindra 1999).

V. Alat dan Bahan :
Alat alat :
1. Sentrifuge
2. Spektrofotometer UV-Vis
3. Tabung Reksi 10 buah
4. Penangas Air 1 buah
5. Gelas Ukur 100 mL
6. Gelas Piala 1 buah
Bahan bahan :
1. Larutan Cu Alkalis
2. Larutan Ba(OH)
2
0,3 N
3. Larutan ZnSO
4
.7H
2
O 5%
4. Larutan standart glukosa 1 mg/L
5. Pereaksi Arsenomolibdat


VI. Cara Kerja :
1. Deprotenasi filtrat darah


2. Penentuan kadar glukosa darah

- diuji biuret
- dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge
- ditambahkan 1,9 mL aquades
- dicampur
- ditambahkan 1,5 mL Ba(OH)
2
0,3N
- diaduk hingga merata
- ditambahkan 1,5 mL ZnSO
4
.7H
2
O 5%
- dicampurkan dengan baik
- didiamkan selama 5 menit
- disentrifuge selama 30 menit
- didekantasi
0,1 mL darah
Filtrat
Hasil pengamatan
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL reagen Cu alkalis
- dimasukkan ke dalam air mendidih
- didinginkan dalam air dingin
- diaduk hingga merata
- ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat
- diaduk sampai merata
- diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer UV-Vis (=660 nm)
1 mL darah bebas protein
Absorbansi
3. Penentuan kurva standar


4. Larutan blanko


- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL reagen Cu alkalis
- dimasukkan ke dalam air mendidih
- didinginkan dalam air dingin
- diaduk hingga merata
- ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat
- diaduk sampai merata
- diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer UV-Vis (=660 nm)
1 mL glukosa berbagai konsentrasi
Absorbansi
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL reagen Cu alkalis
- dimasukkan ke dalam air mendidih
- didinginkan dalam air dingin
- diaduk hingga merata
- ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat
- diaduk sampai merata
- diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer UV-Vis (=660 nm)
1 mL aquades
Absorbansi
VII. Tabel Hasil Pengamatan :

No. Sebelum Sesudah Dugaan/reaksi Kesimpulan
1.
Darah : merah
Aquades : tidak
berwarna
Ba(OH)
2
0,3N :
tidak berwarna
ZnSO
4
.H
2
O 5% :
tidak berwarna
Reagen biuret : biru
Darah + aquades : merah jernih
+ Ba(OH)
2
0,3N : hijau jernih
+ ZnSO
4
.H
2
O 5% : terdapat
gumpalan putih
Setelah didiamkan 5 menit :
terbentuk endapan
Setelah disentrifuge : endapan
berwarna hijau tua, filtrat tidak
berwarna
Filtrat + 3 tetes reagen biuret :
tidak berwarna
Kadar glukosa dalam darah
normalnya berkisar antara
70-90 mg/100 mL
Didapatkan persamaan garis,
yaitu y = 0.5291x - 0.071 dengan
R = 0.7426.
Kadar glukosa darah yang
diperoleh sebesar -0.1 mg/100
mL.
2.
Darah bebas protein
: tidak berwarna
Reagen Cu alkalis :
biru
Reagen
arsenomolibdat :
tidak berwarna
Darah + reagen Cu alkalis : biru
Setelah dipanaskan : biru
Setelah didinginkan : biru
+ reagen arsenomolibdat : tidak
berwarna

3.
Glukosa standar :
tidak berwarna
Aquades : tidak
berwarna
Reagen Cu alkalis :
biru
Reagen
arsenomolibdat :
tidak berwarna
Larutan glukosa standar
diencerkan : larutan glukosa
berbagai konsentrasi (tidak
berwarna)
Larutan glukosa berbagai
konsentrasi + reagen Cu alkalis :
biru
Setelah dipanaskan : biru
Setelah didinginkan : biru
+ reagen arsenomolibdat : tidak
berwarna

4.
Aquades : tidak
berwarna
Reagen Cu alkalis :
biru
Reagen
arsenomolibdat :
tidak berwarna
Aquades + reagen Cu alkalis :
biru
Setelah dipanaskan : biru
Setelah didinginkan : biru
+ reagen arsenomolibdat : tidak
berwarna

VIII. Analisis Data dan Pembahasan :
1. Analisis Data :
Pada percobaan penentuan kadar glukosa darah yang praktikan lakukan,
bertujuan agar praktikan mampu menentukan kadar glukosa dalam darah. Darah yang
digunakan sebagai sampel, yaitu darah salah seorang anggota kelompok yang diambil
sebelum praktikum. Untuk percobaan pertama yaitu deprotonasi filtrat darah,
dilakukan pengambilan darah yang berwarna merah. Ditambahkan aquades yang
menghasilkan larutan yang merah jernih. Setelah ditambahkan 1,5 mL larutan
Ba(OH)
2
0,3 N, larutan menjadi dua fasa, yang fasa atas tetap jernih tetapi yang
bagian bawah berwarna hijau lumut. Ditambahkan larutan ZnSO
4
.7H
2
O 5%, terdapat
gumpalan putih pada larutan. Larutan didiamkan 5 menit, dalam larutan menjadi
timbul endapan (+) didasar tabung sentrifuge. Setelah larutan disentrifuge selama 30
menit, dalam dasar larutan terdapat endapan (+++) yang berwarna hijau tua,
sedangkan pada bagian atas larutannya jernih hijau lumut. Setelah filtrat diuji dengan
larutan biuret, larutan menjadi tidak berwarna.
Untuk percobaan yang kedua yaitu penentuan kadar glukosa darah, sampel
darah diambil dan diuji dengan Cu alkalis yang menghasilkan warna larutan mnenjadi
biru(+). Setelah dilakukan pemanasan, maka larutan menjadi biru (++). Saat larutan
kembali dingin, larutan ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat yang membuat
larutan menjadi berubah tidak berwarna. Lalu larutan diukur absorbansinya dengan
menggunakan spektofotometer UV-Vis yang menghasilkan absorbansi sampel darah
glukosa sebesar -0,124.
Untuk percobaan yang ketiga yaitu penentuan kurva standar. pada percobaan
ini, larutan sampel darah dimasukkan pada lima tabung reaksi yang berbeda dengan
tabung pertama berisi 1 mL glukosa dengan 0,1 mg/L; tabung kedua berisi 1 mL
glukosa dengan 0,2 mg/L; tabung ketiga berisi 1 mL glukosa dengan 0,3 mg/L ;
tabung keempat berisi 1 mL glukosa dengan 0,4mg/L; tabung kelima berisi 1 mL
glukosa dengan 0,5 mg/L. Sampel darah yang diletakkan pada kelima tabung reaksi,
diuji dengan Cu alkalis yang menghasilkan warna larutan mnenjadi biru(+). Setelah
dilakukan pemanasan, maka larutan pada tabung reaksi pertama berwarna biru (+);
larutan pada tabung reaksi kedua berwarna biru (++); larutan pada tabung reaksi
ketiga berwarna biru (+++); larutan pada tabung reaksi keempat berwarna biru
(++++);larutan pada tabung reaksi kelima berwarna biru (+++++). Saat larutan
kembali dingin, larutan ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat yang membuat
larutan menjadi berubah biru yang semakin jernih. Lalu larutan diukur absorbansinya
dengan menggunakan spektofotometer UV-Vis yang menghasilkan absorbansi larutan
standar glukosa darah sebesar -0,062; 0,012; 0,008; 0,19; dan 0,22.
Untuk percobaan keempat yaitu pembuatan larutan blanko. Pada percobaan
ini, dilakukan uji pada aquades yang ditambahkan dengan Cu alkalis yang
menghasilkan warna larutan mnenjadi biru(+). Setelah dilakukan pemanasan, maka
larutan menjadi biru (++). Saat larutan kembali dingin, larutan ditambahkan 1 mL
reagen arsenomolibdat yang membuat larutan menjadi berubah tidak berwarna. Lalu
larutan diukur absorbansinya dengan menggunakan spektofotometer UV-Vis.

2. Pembahasan :
Pada percobaan penentuan kadar glukosa dalam darah yang praktikan lakukan,
bertujuan agar praktikan mampu menentukan kadar glukosa dalam sampel darah yang
telah disiapkan. Sampel darah yang digunakan berasal dari sampel darah salah satu
anggota kelompok praktikan. Untuk percobaan pertama yaitu deprotenasi filtrat darah,
dilakukan pengambilan darah yang berwarna merah sebanyak 0,1 mL yang
dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge yang telah berisi 1,9 mL aquades. Lalu darah
yang telah masuk ke dalam tabung sentrifuge, dicampur hingga merata sampai tidak
terdapat gumpalan darah. Aquades yang ditambahakan dalam darah berfungsi agar
darah dapat encer sehingga albumin dalam darah akan dapat larut oleh aquades.
Albumin merupakan protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh
panas. Albumin sendiri terdapat dalam serum darah dan putih telur (Anna Poedjiadi,
1994). Setelah larutan tercampur merata, larutan menjadi merah jernih. Lalu ke
dalam tabung sentrifuge yang berisi larutan, ditambahkan 1,5 mL larutan Ba(OH)
2
0,3
N yang membuat larutan menjadi dua fasa dengan larutan bagian atas tetap jernih
tetapi yang bagian bawah berwarna hijau lumut. Larutan tersebut diaduk hingga
merata. Kemudian ke dalam larutan ditambahkan 1,5 mL larutan ZnSO
4
.7H
2
O 5%,
yang menghasilkan gumpalan putih pada larutan, lalu larutan dicampur sampai rata.
Larutan didiamkan 5 menit, yang kemudian di dalam larutan menjadi timbul endapan
(+) didasar tabung sentrifuge. Setelah itu larutan disentrifuge selama 30 menit agar
terjadi endapan albumin secara sempurna untuk diambil filtrat darah yang bebas dari
protein, yang menghasilkan dalam dasar larutan terdapat endapan (+++) yang
berwarna hijau tua, sedangkan pada bagian atas larutannya jernih yang berwarna hijau
lumut. Larutan dalam tabung sentrifuge tersebut didekantasi dan didapatkan filtratnya,
kemudian filtrat dari larutan tersebut diuji dengan larutan biuret sehingga
menghasilkan larutan yang tidak berwarna. Penambahan 1,5 mL larutan Ba(OH)
2
0,3
N bertujuan untuk mengendapkan albumin yang terlarut dalam air. Sedangkan 1,5 mL
larutan ZnSO
4
.7H
2
O 5% berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi
pengendapan albumin oleh 1,5 mL larutan Ba(OH)
2
0,3 N.
Selanjutnya yaitu melakukan pembuatan larutan standar untuk menentukan
kurva standar larutan glukosa darah. Pada percobaan ini, larutan sampel darah
dimasukkan pada lima tabung reaksi yang berbeda dengan tabung pertama berisi 1
mL glukosa dengan 0,1 mg/L; tabung kedua berisi 1 mL glukosa dengan 0,2 mg/L;
tabung ketiga berisi 1 mL glukosa dengan 0,3 mg/L ; tabung keempat berisi 1 mL
glukosa dengan 0,4mg/L; tabung kelima berisi 1 mL glukosa dengan 0,5 mg/L.
Sampel darah yang diletakkan pada kelima tabung reaksi, diuji dengan menambahkan
1 mL larutan reagen Cu alkalis yang menghasilkan warna larutan mnenjadi biru(+).
Lalu dilakukan pemanasan selama 20 menit, yang menghasilkan larutan pada tabung
reaksi pertama berwarna biru (+); larutan pada tabung reaksi kedua berwarna biru
(++); larutan pada tabung reaksi ketiga berwarna biru (+++); larutan pada tabung
reaksi keempat berwarna biru (++++); dan larutan tabung reaksi kelima berwarna biru
(+++++). Kemudian kelima tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam air dingin
sampai larutan terasa dingin pada suhu ruang yaitu 25
o
C. Saat larutan kembali dingin,
ke dalam larutan ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat yang membuat larutan
menjadi berwarna biru yang semakin jernih. Lalu larutan diaduk sampai merata.
Kemudian larutan diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-
Vis dengan panjang gelombang 660 nm yang menghasilkan absorbansi larutan standar
glukosa darah sebesar -0,062; 0,012; 0,008; 0,19; dan 0,22.




Untuk percobaan pembuatan larutan blanko, dilakukan uji pada aquades yang
dimasukkan dalam tabung reaksi yang kemudian ditambahkan dengan 1 mL larutan
reagen Cu alkalis yang menghasilkan warna larutan mnenjadi biru(+). Lalu dilakukan
pemanasan selama 20 menit, yang menghasilkan larutan biru (++). Kemudian tabung
reaksi tersebut dimasukkan ke dalam air dingin sampai larutan terasa dingin pada
suhu ruang yaitu 25
o
C. Saat larutan kembali dingin, ke dalam larutan ditambahkan 1
mL reagen arsenomolibdat yang membuat larutan menjadi berwarna biru yang
semakin jernih. Lalu larutan diaduk sampai merata, kemudian larutan diukur
absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang
gelombang 660 nm.
Pada penentuan kadar glukosa darah, praktikan memasukkan sampel darah
dalam tabung reaksi, sampel darah diuji dengan menambahkan 1 mL larutan reagen
Cu alkalis yang menghasilkan warna larutan mnenjadi biru(+). Lalu dilakukan
pemanasan selama 20 menit, yang menghasilkan larutan pada tabung reaksi berwarna
biru (++). Pemanasan larutan pada percobaan ini berfungsi untuk menambah laju
reaksi oleh 1mL reagen Cu Alkalis. Penambahan 1mL reagen Cu Alkalis sendiri
bertujuan untuk membentuk warna biru ketika ditambahkan 1 mL reagen
arsenomolibdat. Karena larutan ini mengandung asam laktat dan ion Cu
+
. Kemudian
tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam air dingin sampai larutan terasa dingin
pada suhu ruang yaitu 25
o
C. Saat larutan kembali dingin, ke dalam larutan
y = 0.5291x - 0.071
R = 0.7426
-0.1
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi Sampel (M)
Kurva Larutan Standar Glukosa Darah
Absorbansi
Linear (Absorbansi)
ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat yang membuat larutan menjadi berwarna
biru yang semakin jernih. Lalu larutan diaduk sampai merata. Kemudian larutan
diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan
panjang gelombang 660 nm yang menghasilkan absorbansi larutan standar glukosa
darah sebesar -0,124. Sehingga didapatkan kadar glukosa darah sebesar 33,7
mg/L(perhitungan terlampir). Sedangkan pada literatur, kadar glukosa normal dalam
darah yaitu 70-90 mg/L(Anna Poedji,2004). Maka, kadar glukosa yang praktikan
dapatkan masih sangat rendah dari kadar normal glukosa darah. Pada penambahan 1
mL reagen Cu Alkalis, ion kupri (Cu
+
) akan direduksi oleh gula menjadi kupro (Cu
2+
)
dan mengendap sebagai Cu
2
O (kuprooksida). Dengan menambahkan 1 mL reagen
arsenomolibdat, kuprooksida melarut lagi dan warna larutan akan berubah menjadi
biru jernih disebabkan oleh adanya oksidasi Mo. Penambahan 1,5 mL larutan
Ba(OH)
2
0,3 N sebelumnya juga membantu terjadinya reduksi ion Cu
2+
karena reaksi
terjadi dalam suasana basa. Intensitas warna larutan adalah ukuran banyaknya gula
yang ada di dalam filtrat (Girindra 1999).

DISKUSI
Hasil, yang berupa kadar glukosa dalam darah, yang diperoleh bernilai negatif
kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya darah yang digunakan
praktikan sangatlah sedikit, hal ini terjadi akibat saat pengambilan darah, luka
praktikan cepat menutup dan tidak menghasilkan banyak darah pada daerah luka
(bekas jarum). Di samping itu terdapat kesalahan human error, yakni praktikan
menambahkan Ba(OH)
2
berlebih, yang seharusnya hanya 1,5mL namun praktikan
menambahkan sebanyak 2mL Ba(OH)
2
. Hal tersebut diduga mempengaruhi hasil
praktikum.

IX. Kesimpulan :
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Didapatkan persamaan garis, yaitu y = 0.5291x - 0.071 dengan R = 0.7426.
2. Kadar glukosa darah yang diperoleh sebesar 33,7 mg/L.

X. Tugas dan Jawaban Pertanyaan :
1. Tentukan kadar glukosa dalam mg glukosa/100 mL darah!
Jawab :
y = 0.5291x - 0.071
-0.124 = 0.5291x - 0.071
-0.124 + 0.071 = 0.5291x


x = -0.1 mg/mL

2. Apa fungsi proses pendidihan pada percobaan diatas?
Jawab :
Fungsi proses pendidihan yaitu untuk mempercepat laju reaksi dengan adanya Cu-
Katalis.
3. Jelaskan peranan hormon insulin dalam proses pengaturan kadar glukosa!
Jawab :
Hormon insulin berfungsi untuk merangsang pengubahan glukosa ke glikogen untuk
disimpan dalam hati dan merangsang oksidasi glukosa untuk tujuan respirasi dalam
sel. Sehingga apabila kadar glukosa terlampau rendah, kurang dari jumlah normal, sel
alfa pada kelenjar Langerhans akan mensekresikan lebih banyak hormon glukagon,
kadar glukosa dalam darah akan naik, proses ini akan berlanjut sehingga kadar
glukosa dalam darah berada pada jumlah normal.

XI. Daftar Pustaka :
Dhiena. 2012. Analisis protein. http://id.scribd.com/doc/95629531/Analisis-Kadar-
Glukosa (diunduh pada tanggal 7 Desember 2013)
Girindra A. 1989. Biokimia Patologi. Bogor : IPB
Hanum, Farida. 2012. Analisis protein. http://faridahanumgm47.blogspot.
com/2012/03/analisis-glukosa.html (diunduh pada tanggal 7 Desember
2013)
Lehninger, Albert L. 1990. Dasar-dasar Biokimia Jilid I. Diterjemahkan oleh Maggy
Thenawijaya. Jakarta : Erlangga
Poedjiadji, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Penerbit UI-Press : Jakarta
Tim Dosen. 2013. Petunjuk Praktikum Biokimia I. Surabaya : Jurusan Kimia Unesa.
LAMPIRAN
1. Perhitungan
a. Penentuan Kadar Glukosa Darah
Persamaan garis yang dipeorleh dari kurva standar : y = 0.5291x - 0.071 ; dengan
besar absorbansi larutan darah -0.124.
y = 0.5291x - 0.071
-0.124 = 0.5291x - 0.071
-0.124 + 0.071 = 0.5291x


x = -0.1 mg/mL
b. Kurva standar larutan glukosa darah
Berikut data absorbansi larutan standar glukosa darah :
Konsentrasi Sampel (M) Absorbansi
0,1 -0,062
0,2 0,012
0,3 0,008
0,4 0,19
0,5 0,22
Sehingga didapatkan persamaan garis dari kurva larutan standar glukosa darah, yaitu
sebagai berikut :


y = 0.5291x - 0.071
R = 0.7426
-0.1
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi Sampel (M)
Kurva Larutan Standar Glukosa Darah
Absorbansi
Linear (Absorbansi)
2. Foto-foto




Larutan darah Sebelum disentrifuge
Proses sentrifuge larutan
glukosa darah
Sesudah
disentrifuge




Sebelum dipanaskan
(dari kiri : blanko ; 0,5 ; 0,4 ; 0,3 ; 0,2 ;
0,1)
Sesudah dipanaskan
(dari kanan : blanko ; 0,5 ; 0,4 ; 0,3 ; 0,2 ;
0,1)





Setelah penambahan reagen arsenomolibdat
(dari kanan : blanko ; 0,5 ; 0,4 ; 0,3 ; 0,2 ;
0,1)