Anda di halaman 1dari 13

Medula Spinalis

Filed under: Medical Journal Leave a comment


Pendahuluan
Trauma medula spinalis adalah cedera pada tulang belakang baik langsung maupun
tidak langsung, yang menyebabkan lesi di medula spinalis sehingga menimbulkan
gangguan neurologis, dapat menyebabkan kecacatan menetap atau kematian.1
Trauma medula spinalis terjadi pada 30.000 pasien setiap tahun di Amerika serikat.
Insidensi pada negera berkembang berkisar antara 11,5 hingga 53,4 kasus dalam
1.000.000 populasi. Umumnya terjadi pada remaja dan dewasa muda.2 Penyebab
tersering adalah kecelakaan lalu lintas (50%), jatuh (25%) dan cedera yang berhubungan
dengan olahraga (10%). Sisanya akibat kekerasan dan kecelakaan kerja. Hampir 40%-
50% trauma medulla spinalis mengakibatkan defisit neurologis, sering menimbulkan
gejala yang berat, dan terkadang menimbulkan kematian. Walaupun insidens pertahun
relatif rendah, tapi biaya perawatan dan rehabilitasi untuk cedera medulla spinalis
sangat besar, yaitu sekitar US$ 1.000.000 / pasien. Angka mortalitas diperkirakan 48%
dalam 24 jam pertama, dan lebih kurang 80% meninggal di tempat kejadian.2
Tiap lesi di medula spinalis yang merusak daerah jaras kortikospinal lateral dapat
menimbulkan kelumpuhan upper motor neuron (UMN) pada otot-otot bagian tubuh
yang terletak dibawah tingkat lesi. Bila lesi bilateral atau transversal medula spinalis di
bawah tingkat servical maka dapat muncul suatu paraplegi spastik, bila lesinya di tingkat
servical maka akan muncul suatu tetraplegi spastik.3
Paraplegi dan tetraplegi spastik dapat terjadi secara tiba-tiba atau akut yang disebabkan
oleh dislokasi atau fraktur tulang belakang akibat trauma atau lesi vaskuler seperti:
trombosis arteri spinalis, hematomielia, aneurisma aorta disektans. Yang berkembang
agak lambat tetapi masih dapat digolongkan dalam subakut ialah akibat suatu proses
imunologik seperti mielitis postvaksinalis atau mielitis postinfeksiosa dan miolopati
nekrotikans. Sedang paraplegi dan tetraplegi spastik yang berkembang lebih lama atau
kronis dapat disebabkan oleh spondilitis tuberkulasa, tumor spinal, dan abses epidural.3
Paraplegia atau tetraplegi spastik pada anak-anak pada umumnya merupakan
gejala cerebral palsyatau manifestasi penyakit herediter yang menyertai
keterbelakangan mental. Paraplegia atau tetraplegi spastik yang berkembang secara
sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang bertahun-tahun biasanya disebabkan
oleh amyotrophic lateral sclerosis (ALS), biasanya disertai defisit sensorik pada
permukaan tubuh yang terletak dibawah lesi, bahkan sebagian besar dapat terjadi
gangguan miksi dan defekasi.4
Lesi transversal yang dapat juga merusak segenap lintasan asendens dan desendens lain
dan juga motoneuron yang berada di dalam masing segmen. Kondisi ini berarti pada
tingkat lesi kelumpuhan dapat bersifat lower motor neuron (LMN). Begitu juga akibat
terputusnya lintasan somatosensorik dan lintasan autonom neurovegetatif asendens
dan desendens, maka dari tingkat lesi kebawah penderita tidak dapat merasakan
perasaan apapun, terganggunya miksi dan defakasi, dan tidak memperlihatkan reaksi
neurovegetatif. Di dalam praktek, lesi transversal yang merusak seluruh segmen medulla
spinalis jarang dijumpai, kecuali jika faktor penyebabnya berupa trauma berat karena
luka tembak peluru dan fraktur tulang belakang yang total.4


Anatomi Medula Spinalis
Panjang normal medula spinalis orang dewasa adalah 42-45 cm, pada bagian superior
dilanjutkan oleh batang otak, dan bagian inferior dilanjutkan oleh konus medularis.
Selama perkembangannya, kanalis sentralis mengalami perluasan kearah lateral pada
dua bagian yaitu pembesaran servical (intumensensia servikalis) dan pembesaran
lumbal (intumensia lumbalis) yang masing-masing membentuk pleksus brakhialis dan
pleksus lumbosakral.5
Medula spinalis dibagi menjadi kira-kira 8 segmen servikal, 12 segmen torakal, 5 segmen
lumbal, 5 segmen sacral, dan beberapa segmen koksigeal yang kecil. Masing-masing
segmen bervariasi dalam panjangnya, namun di dalam sumsum tulang belakang sendiri
tidak ditemukan adanya batas-batas yang tegas di antara segmen-segmen tersebut.5
Potongan melintang dari medulla spinalis tulang belakang memperlihatkan sulkus
mediana dorsalais, kolumna dorsalais, kolumna lateralis, komissura putih ventralis,
kolumna ventralis, fisura ventralis, fisura mediana ventralis, kolumna kelabu ventralis,
komisura kelabu ventralis, kanalis sentralis, septum mediana dorsalis.5
Masing-masing segmen medula spinalis mempunyai 4 akar serabut saraf yang terletak di
daerah ventral dan dorsal medulla spinalis, masing-masing akar dibentuk oleh 1-8
serabut saraf. Pada akar dorsalis didapatkan ganglion spinal yang berdekatan dengan
akar ventralis, yaitu yang berisi badan-badan sel saraf. Akibat ada perbedaan dari
kecepatan pertumbuhan antara sumsum tulang belakang dan tulang belakang, maka
segmen tulang belakang mengalami pergeseran kearah atas dari vertebra yang
bersesuaian, dengan ketidaksesuaian ini pada segmen paling bawah dibagian
lumbosakral, akar-akar saraf berjalan turun ke bagian bawah sumsum tulang belakan
untuk membentuk kauda equina.6
Akar saraf spinal
Akar ventral mempunyai akson neuron motorik alfa berdiameter besar keserabut otot
lurik ekstrafusal, akson neuron motorik gama yang lebih kecil yang mempersarafi otot
intrafusal dari gelendong otot (fusus neuromuskularis). Beberapa serabut otonom
preganglion pada segmen torakal, lumbal atas, dan sakral tengah dan beberapa akson
berdiameter kecil yang berasal dari sel-sel di dalam ganglion akar dorsalis akan
menghantarkan informasi sensorik dari organ-organ visceral torakal dan abdomen.6
Akar dorsalis, masing-masing akar dorsalis kecuali C1 berisi serabut aferen dari sel-sel
saraf dalam ganglionnya, akar dorsalis mengandung berbagai macam serabut mulai dari
struktur kulit dan struktur bagian dalam. Serabut yang terbesar (Ia) berasal dari
gelendong otot(fusus neuromuskulus) dan mengambil bagian dalam reflek-reflek
medulla spinalis, serabut yang berukuran sedang (A-beta) menghantarkan impuls dari
mekanoseptor di kulit dan sendi, serabut C, serabut yang tak bermielin, A-delta, serabut
bermielin membawa informasi rangsang noksius misalnya nyeri dan suhu.6
Cabang-cabang saraf spinal
Cabang dorsalis utama: biasanya terdiri dari cabang medial yang mengurus sebagian
besar sistem sensorik, cabang lateral lebih kearah motorik.6
Cabang ventral utama: biasanya lebih besar membentuk pleksus servikal, brachial dan
lumbosakral. Dibagian torakal, cabang ini tetap terdiri dari bebrapa segmen yaitu
sebagai saraf-saraf interkostal.6


Rami kominikantes: cabang ini bergabung dengan saraf spinal menuju ke trunkus
simpatikus. Hanya saraf torakal dan bagian atas lumbal saja yang mengandung ramus
komonikan alba, tetapi untuk ramus komonikan kelabu didapatkan pada semua saraf
spinal.6
Jenis-jenis serabut saraf
Serabut eferen somatik: serabut motorik ini mempersarafi otot-otot rangka dan berasal
di dalam kolumna kelabu anterior dari medulla spinalis dan membentuk akar ventralis
dari saraf spinal.7
Serabut saraf aferen somatic: serabut ini menghgantarkan informasi sensorik dari kulit,
sendi, dan otot ke susunan saraf pusat. Serabut ini berasal dari sel-sel unipolar di dalam
ganglion saraf spinal yang terletak pada jalan akar dorsalis. Cabang perifer dari sel-sel
ganglionik ini didistribusikan ke struktur somatik, cabang sentral menghantar impuls
sensorik melalui akar dorsalis ke kolumna kelabu dorsalis dan jaras asenden dari
sumsum tulang belakang.7
Serabut eferen visceral : Serasebut otonom ini adalah serabut motorik yang menuju ke
visceral dan juga serabut simpatetik dari segmen torakal L1,L2 didistribusikan di seluruh
tubuh ke visceral, kelenjar, dan otot polos. Serabut parasimpatik yang berada dalam
ketiga saraf sakral bagian tengah menuju ke visseral panggul bagian bawah abdomen.7
Serabut aferen visceral: serabut ini menghantarkan informasi sensorik dari veseral.
Badan selnya terdapat di dalam ganglion akar dorsalis. Hasil percobaan terbaru
menunjukkan bahwa serabut aferen visceral ada yang memasuki medulla spinalis
melalui akar ventralis.7
Zat kelabu (Gray matter)
Kolumna:
Bagian ini mengandung kanalis sentralis, kolumna kelabu ventralis,kornu anterior,
kolumna kelabu intermediolateral hanya ditemukan bagian lateral torakal lumbal atas,
tidak pada sacral tengah, bagian ini mengandung sel-sel preganglion untuk susunan
saraf otonom. Kolumna kelabu dorsalis, kornu posterior, fasikulus dorsolateral atau
traktus lissauer adalah bagian dari jaras nyeri yang terletak di perifer medula spinalis.8
Lamina:
Lamina I, lapisan marginal yang tipis mengandung banyak neuron yang memberikan
reaksi terhadap rangsangan noksius.
Lamina II, Dikenak dengan subtansia gelatinosa yang terdiri dari neuron-neuron kecil
dan beberapa diantaranya memberikan reaksi terhadap rangsangan noksius.
Lamina III-IV, secara bersama-sama sebagai nucleus proprius, masukan utamanya adalah
dari serabut-serabut yang menghantarkan perasaan posisi.
Lamina V, lapisan ini mengandung Sel-sel yang memberikan reaksi terhadap rangsangan
noksius maupun aferen visceral.
Lamina VI, lapisan terdalam dari kornu dorsalis yang mengandung neuro-neuron yang
member reaksi terhadap sinyal mekanis dari sendi dan kulit.
Lamina VII, Bagian ini besar dan mengandung sel-sel nucleus dorsalis (columna
clark) disisi medial, dan juga bagian besar dari kolumna kelabu ventralis.


Lamina VIII-IX, Lapisan ini mewakli kelompok neuron motorik dibagian medial dan
lateral dari kolumnba kelabu ventralis. Kolumna ini memberikan persarafan otot
ekstensor dan fleksor.
Lamina X, Lamina ini mewakili neuron-neuron kecil yang mengelilingi kanalis sentralis
atau sisa-sisanya.8
Zat putih (White matter)
Kolumna:
Kolumna dorsalis terletak diantara sulkus medianus posterior dan sulkus posteriolateral.
Pada segmen servikal dan torakal atas, kolumna dorsalis terbagi menjadi bagian medial
(fasikulus grasilis) dan bagian lateral (fasikulus kuneatus). Kolumna lateralis terletak di
antara sulkus posteriolateral dan sulkus anteriolateralis. Kolumna ventralis terletak di
antara sulkus anteriolateral dan fisura mediana anterior. 8
Traktus:
Zat putih dalam medula spinalis terdiri dari serabut-serabut saraf yang bermielin dan
yang tidak bermielin. Serabut bermelin berkonduksi lebih cepat (fasikuli). Sel glia
kebanyakan oligodendrosit terletak diantara serabut-serabut tersebut. Berkas serabut
dengan fungsi yang sama disebut traktus. Kolumna putih lateralis dan ventralis
mengandung traktus yang batasnya tidak jelas dan mengalami tumpang tindih, traktus
kolumna dorsalis dibatasi dengan jelas oleh septa glia. Serabut tanpa mielin yang
berkonduksi lambat membentuk berkas-berkas kabur pada tepi zat putih. Fungsi dari
serabut ini masih belum dapat dipahami sepenuhnya.8
Jaras dalam zat putih (white matter)
Sistem serabut desenden
Traktus kortikospinalis:
Barawal dari kortek serebri turun melalui batang otak kemudian menyilang kesisi yang
berlawanan dalam medulla spinalis turun ke kolumna putih lateral. Serabut-serabut ini
semuanya berakhir diseluruh kolumna kelabu ventralis. Neuron motorik yang
mempersarafi otot-otot ekstremitas bagian distal mempunyai masukan monosinaps
langsung dari traktus kortikospinal, neuron motorik yang lain dipersarafi oleh
interneuron secara polisinaps.8
Traktus vestibulospinalis:
Traktus ini berasal dari nucleus vestibularis lateralis dalam batang otak dan berjalan
kebawah tanpa menyilang garis tengah pada kolumna putih ventralis medula spinalis.
Serabut-serabut ini dari traktus berproyeksi secara langsung ke neuron motorik otot
ekstensor. Sistem ini mempermudah gerakan-gerakan cepat sebagai reaksi terhadap
perubahan mendadak dalam posisi tubuh missalnya jatuh. Searabut-serabut ini juga
mempengaruhi lepas muatan (discharge) dari neuron motorik gama.8
Traktus rubrospinalis:
Searabut ini berasal dari nucleus ruber kontralateral dalam batang otak dan berjalan
didalam kolumna putih lateralis. Traktus ini berproyeksi ke interneuron di dalam
kolumna kelabu dan berperan sebagai fungsi motorik.8
Sistem retikulospinalis:
Traktus ini muncul dari formasi retikuler batang otak dan turun ke dalam kolumna putih
ventralis maupun lateralis. Serabut-serabut yang berakhir pada kolumna putih dorsalis


sebagai modikfikasi trasmisi perasaan dari tubuh terutama rasa nyeri dan beberapa dari
serabut ini merupakan serotonergik.8
Sistem otonom desenden:
Muncul dari hipotalamus dan batang otak, proyeksi sisten serabut ini ke neuron
simpatetik preganglion di bagian torakolumbal medula spinalis dan ke neuron
parasimpatetik preganglion di segmen sakral.8
Traktus tektospinalis:
Traktus ini muncul dari atap tektum dari otak tengah, kemudian berjalan di dalam
kolumna putih ventralis kontralateral untuk berakhir pada interneuron kelabu ventralis.
Traktus ini menyebabkan kepala berputar sebagai reaksi terhadap rangsangan
penglihatan dan pendengaran yang mendadak.8
Fasikulus longitudinalis medialis:
Traktus ini muncul dari nucleus vestibularis di dalam batang otak, beberapa dari
serabutnya turun ke dalam segmen servikal untuk berakhir pada interneuron kelabu
ventralis. Serabut ini mengkoordinasi gerakan kepala dan mata. Fasikulus longitunalis
medialis dan traktus tektospinalis hanya ditemukan pada masing-masing sisi segmen
servikal medula spinalis.8
Sistem serabut desenden pada sumsum tulang belakang 8
Sistem Fungsi Asal Akhir
Lokasi dalam
Sumsum Tulang
Belakang
Piramidal
kortikospinal
Awal dari fungsi
motorikModulasi dari
fungsi sensorik
Korteks
Sel kornu anterior,
interneuron
Kolumna
lateralisKolumna
ventralis
Vestibulospinal Refleks postural
Nukleus
vestibularis
lateral
Neuron motorik
kornu anterior
(untuk eksterior)
Kolumna ventralis
Rubrospinal Fungsi motorik Nukleus ruber
Interneuron kornu
anterior
Kolumna lateralis
Retikulospinal
Modulasi dari transmisi
sensorik (khususnya
nyeri)Refleks spinal
(serabut)
Formasio
retikular batang
otak
Kornu posterior
dan anterior
Traktus proprius
Otonom
desenden
Modulasi dari fungsi
otonom
Hipotalamus,
nukleus batang
otak
Neuron otonom
pra-ganglion
Traktus proprius
Teksospinal Refleks putar kepala Otak tengah
Interneuron kornu
anterior
Kolumna ventralis


Fasikulus
longitudinalis
medialis
Koordinasi dari gerak
kepala dan mata
Nukleus
vestibularis
Zat kelabu servikal Traktus proprius

Sistem serabut asenden
Traktus kolumna dorsalis8:
Sistem lemnikus medialis: menghantarkan rasa raba halus, vibrasi, diskriminasi dua titik,
dan proprioseptik (rasa posisi) dari kulit dan persendian. Traktus ini naik tanpa
menyilang dalam kolumna putih dorsalis ke bagian bawah batang otak.
Fasikulus grasilis: berjalan di samping septum posteromedia dan membawa masukan
dari bagian bawah tubuh.
Fasikulus kuneatus: terletak diantara fasikulus grasilis dan kolumna kelabu dorsalis dan
membawa masukan dari bagian atas tubuh dengan serabut-serabut dari bagian segmen
torakal lebih bawah yang lebih ke medial daripada serabut dari segmen servikal yang
lebih tinggi. Dengan demikian satu kolumna dorsalis mengandung serabut-serabut dari
seluruh segmen ipsilateral tubuh yang ditata secara teratur dari medial ke lateral,
tatanan ini dinamakan tatanan somatotopik.
Traktus spinotalamikus8:
Serabut berdiameter kecil yang menghantarkan rasa nyeri tajam (noksius), suhu dan
raba dengan lokalisasi kasar.
Jaras spinoretikularis8:
Berjalan di dalam bagian ventrolateral medula spinalis, muncul dari neuron-neuron
medula spinalis dan berakhir pada formasio retikularis dari batang otak. Traktus ini
mempunyai peranan penting dalam rasa nyeri, terutama nyeri kronik yang dalam.
Traktus spinoserebelaris8:
Sistem Fungsi Asal Akhir
Lokasi dalam
Sumsum Tulang
Belakang
Sistem kolumna
dorsalis
Raba halus, propriosepsi,
diskriminasi 2 titik
Kulit, sendi,
tendo
Nukleus kolumna
dorsalis, batang
otak
Kolumna dorsalis
Traktus
spinotalamikus
Nyeri tajam, suhu, raba
kasar
Kulit
Komu dorsalis
kemudian ke
talamus
kontralateral
Kolumna
ventrolateraris
Traktus
spinoserebelaris
dorsalis
Mekanisme gerakan dan
posisi
Tendo dalam,
sendi
Paleokorteks
sereblum
Kolumna lateraris


Traktus spinoserebelaris dorsalis: merupakan serabut aferen dari otot dan kulit
membawa informasi mengenai posisi sendi dan informasi sensorik lainnya.
Traktus spinoserebelaris ventralis: Sistem ini terlibat dalam pengontrolan gerakan.
Sistem serabut asenden pada sumsum tulang belakang 8
Refleks
Refleks adalah mekanisme reaksi terhadap rangsangan di bawah sadar. Perilaku naluriah
dari hewan yang lebih rendah dikuasai sebagian besar oleh refleks; pada manusia,
perilaku lebih banyak merupakan suatu masalah dari persyaratan (conditioning) dan
refleks bekerja sebagai mekanisme pertahanan dasar. Namun, refleks-refleks ini sangat
penting artinya di dalam mendiagnosis dan melokalisasi lesi neurologi.3
Lengkung Refleks Sederhana:
Melibatkan sejumlah struktur reseptor yaitu: organ indera yang khusus, bagian akhir
kulit, atau fusus neuromuskularis (gelendong neuromuskular), yang perangsangannya
memprakarsai suatu impuls neuron aferen, yang mentransmisi impuls melalui suatu
saraf perifer ke susunan saraf pusat, tempat dimana saraf bersinaps dengan suatu
neuron interkalasi satu atau lebih neuron interkalasi(interneuron) menyampaikan
impuls ke saraf eferen, neuron eferen berjalan keluar dalam saraf dan menyampaikan
impuls ke suatu efektor dan efektor, yaitu otot (otot polos, lurik, atau otot jantung) atau
kelenjar yang memberikan respon. Bila terjadi interupsi dari lengkung refleks sederhana
pada setiap tempat akan menyebabkan tidak adanya respons.3
Jenis-Jenis Refleks:
Refleks-refleks yang penting bagi neurologi klinis dapat dibagi menjadi 4 kelompok:
refleks superfisial (kulit dan selaput lendir), refleks tendo dalam (miotatik), refleks
viseral (organik), dan refleks patologik (abnormal).3
Refleks dapat juga diklasifikasi menurut tingkat dari representasi sentralnya, yaitu
sebagai refleks spinal, bulbar (refleks postural dan penegakan), otak tengah, atau
serebelum.3
Lesi pada Medula Spinalis
Lesi medula spinalis dapat disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung
yang dapat mengenai jaras motorik baik di tingkat neuron motorik atas, neuron
motorik bawah dan jaringan otot atau ujung neuromuskuler, gangguan sensorik,
gangguan otonom, biasanya akan memberikan suatu tanda klinis yang khas.1 Namun
pada penulisan ini hanya dibahas khusus mengenai kelainan neuron motorik atas
(UMN). Kerusakan pada kolumna putih lateralis medula spinalis dapat menimbulkan
tanda-tanda lesi neuron motorik atas (UMN). Tanda ini meliputi paralisis atau paresis
yang sifatnya spastik, kadang disertai oleh otot-otot yang atrofi, reflek tendon
Traktus
spinoserebelaris
ventralis
Mekanisme gerakan dan
posisi
Tendo dalam,
sendi
Paleokorteks
sereblum
Kolumna lateraris
Traktus
spinoretikularis
Nyeri yang dalam dan
kronik
Struktur
somatik dalam
Formasio
retikularis dari
batang otak
Tersebar dalam
traktus proprius


heperaktif, reflek superfisial berkurang atau menghilang, dan reflek patologik sebagai
reaksi terhadap penarikan diri(withdrawal) terutama reflek plantar ekstensor (babinski)
dapat ditemukan.1,6
Penegakan diagnosis pada lesi medula spinalis meliputi anamnesis riwayat trauma,
serta keluhan-keluhan yang dirasakan penderita, lamanya berlangsung keluhan
tersebut, pola keluhan yang dirasakan apakah semakin sehari semakin berat. Kelainan
berdasarkan gejala dan tanda klinis untuk kasus-kasus trauma medulla spinalis sering
digunakan ASIA scale, berdasarkan tipe dan lokasi lesi atau trauma.1
Skala kerusakan berdasarkan American spinal injury association/International medical
society of Paraplegia (IMSOP)1

Grade Tipe Gangguan medula spinalis ASIA/IMSOP
A Komplit Tidak ada fungsi motorik dan sensorik sampai S4-S5
B Inkomplit
Fungsi sensorik masih baik tapi motorik terganggu sampai
segmen sakral S4-S5
C Inkomplit
Fungsi motorik terganggu dibawah level, tapi otot-otot
motorik utama masih punya kekuatan < 3
D Inkomplit
Fungsi motorik terganggu dibawah level, otot-otot motorik
utama punya kekuatan > 3
E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal
Berdasarkan tipe dan lokasi trauma1 :
i) Complete spinal cord injury (Grade A)
(a) Unilevel
(b) Multilevel
ii) Incomplete spinal cord irjury (Grade B, C, D)
(a) Cervico medullary syndrome
(b) Central cord syndrome
(c) Anterior cord syndrome
(d) Posterior cord syndrome
(e) Brown Sequard syndrome
(f) Gonus Medullary Syndrome
iii) Complete Cauda Equina Injury (Grade A)
iv) Incomplete Cauda Equina Injury (Grade B, C daa D)
Jenis lesi medula spinalis2
Lesi sentral yang kecil, hampir selalu mengenai traktus spinotalamikus di kedua sisi pada
daerah dekusasi.
Lesi sentral yang besar, dapat mengenai jaras nyeri dan bagian-bagian dari traktus yang
berdekatan, zat kelabu yang berdekatan atau kedua-duanya.


Lesi perifer yang tidak beraturan, misalnya luka tusuk, kompresi dari medula
spinalis,dapat mengenai jaras panjang dan jaras dari kolumna kelabu (gray mater),
biasanya semua fungsi dibawah tingkat lesi menghilang.
Hemiseksi sempurna, menyebabkan sindroma Brown-Sequard.
Tumor dari akar dorsalis misalya neurofibroma atau schanoma, dapat mengenai neuron
sensorik golongan pertama dari suatu segmen
Tumor dari mening atau tulang dapat menekan medula spinalis, seningga dapat
menyebabkan gangguan fungsi serabut asenden dan desenden.
Diagnosa banding dari disfungsi medula spinalis7:
Differential Diagnosisof Spinal Cord Dysfunction
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Trauma or mechanicalContusionCompression
Disc herniation
Degenerative disorders of verterbral bones
Disc embolus
Vascular
Anterior spinal artery infarct
Spinaldural AVM (arteriovenus malformation)
Epidural hematoma
Nutritional deficiency
Vitamin B12
Vitamin E
Epidural ebscess
Infections myelitis
Viral, including HIV
Lyne disease
Tertiary syphilis
Tropical spastic paraparesis
Schistosomiasis
Inflammatory myelitis
Multiple sclerosis
Lupus
Postinefectious myelitis
Neoplasms
Epidural metastasis
Meningomia
Schawannoma
Carcinomatous meningitis
Astrocytoma
Ependymoma
Hemangioblastoma
Degenarative / developmental
Spina bifida


Chiari malformation
Syringomyelia

Sindroma trauma spinal1
Sindroma Kauasa Utama Gejala & tanda klinis
Hemicord (Brown
Sequad
Syndrome)
Trauma tembus,
Dekompresi ekstinsik
-Paresis UMN ipsilateral dibawah lesi
dan LMN setinggi lesi.-Gangguan
eksteroseptik (nyeri & suhu) kontra
lateral.-Gangguan proprioseptik (raba
& tekan) ipsilateral
Sindroma Spinalis
Anterior
Cedera yang
menyebabkan HNP pada
T4-T6
-Paresis LMN seringgi lesi & UMN
dibawah lesi.-Dapat disertai disosiasi
sensibilitas.-Gangguan eksteroseptik.
-proprioseptik normal.
-Disfungsi spinkter
Sindroma spinalis
sentral servikal
HematomieliaTrauma
spinal (fleksi-ekstensi)
-Paresis lengan lebih berat dari
tungkai.-Gangguan sensorik
bervariasi(disestesia/hiperestesia).-
Disosiasi sensibilitas.
-Disfungsi miksi, defekasi & seksual.
Sindroma spinalis
posterior
Trauma, Infark a,spinalis
posterior
-Paresis ringan-Gangguan
eksteroseptik(nyeri/parastesia)pada
punggung
Leher dan bokong
-Gangguan proprioseptik bilateral
Sindroma konus
medularis
Trauma lower sacral
cord
-Gangguan motorik ringan,
simetris,tidak ada atrofi-Gangguan
sensorik saddle anestesi, muncul
lebih awal, bilateral,disosiasi
sensibilitas-Nyeri jarang relatif
ringan,simetris, bilateral pd daerah
perineum & paha
-Refleks achilles (-)
-Refleks patella (+)
-Disfungsi sphincter terjadi lebih dini
& berat
-Refleks bulbocavernosus & anal (-)
-Gangguan ereksi & ejakulasi.


Sindroma Cauda
Equina
Cedera akar saraf
lumbosakral
-Gangguan motorik sedang s/d
berat,asimetris,atrofi(+)-Saddle
anestesi, asimetris, timbul lebih
lambat, disosiasi sensibilitas (-)-Nyeri
menonjol,hebat,lebih dini,radikuler,
asimetris
-Gangguan refleks bervariasi
Gangguan spinkter lebih lambat,
jarang berat, refleks jarang
terganggu, disfungsi seksual jarang.
Tujuan pengobatan pada lesi medulla spinalis1:
Menjaga sel yang masih hidup agar terhindar dari kerusakan lanjut.
Eliminasi kenmakan akibat proses patogenesis sekunder
Mengganti sel saraf yang rusak.
Menstimulasi perrumbuhan akson dan koneksitasnya.
Memaksimalkan penyembuhan defisit neurologis.
Stabilisasi vertebrata
Neurorestorasi dan neurorehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tubuh.
Prognosis tergantung pada1 :
Lokasi lesi (lesi servikal atas prognosis lebih buruk).
Luas lesi (komplit / inkomplit).
Tindakan dini (prehospital dan hospital).
Trauma multipel.
Faktor penyulit (komorbiditas).
Nucleus and nerve roots for bladder, bowel and sexual function8:
Pathways Nuclei, For Motor Pathways Nerve & Roots
Bledder
Function1.Detrusor and
urethral
afferents.2.Somatic
innervation of urethral
spincter.
3.Somatic innervation of
pelvic floor muscles
4.Parasympathetic
innervation of detrusor
5.Sympathetic( and )
innervation of bledder
neck, urethra, and
bladder dome.
Bowel function
_

Onufs nucleus
Anterior horn
Sacral parasymphatetic
nucleus
Intermediolateral cell column
-
Onufs nucleus
Anterior horn
Sacral parasymphatetic
nucleus
Dorsal motor nucleus of
vagus
-
S2,S3,S4

S3,S4

S2,S3,S4
S2,S3,S4

T11, T12, L1


S2,S3,S4

S3,S4
S2,S3,S4



1.Rectal and pelvic floor
afferents
2.Somatic innervation of
external anal sphincter
3.Somatic innervation of
floor muscles.
4.Parasympathetic
innervation of internal
anal sphincter,
descending colon, rectum
5.Parasymphatetic
innervation of gut above
the splenic flexure

Sexual Function
1.Genital afferents
2.Parasymphatetic
innervation of bartholins
glands.
3.Sympathetic
innervation of vaginal
wall.
4.Parasymphatetic
erectile pathways
5.Sympathetic erectile
and ant-erectile pathways
6.Sympathetic ejaculatory
pathways
7.Somatic
motor pathways for
ejection of semen
Sacral parasymphatetic
nucleus
Intermediolateral cell column

Sacral parasymphatetic
nucleus
Intermediolateral cell column

Intermediolateral cell column
Anterior horn and Onufs
nucleus
S2,S3,S4


CN X



S2,S3,S4
S2,S3,S4

T11,T12,L1
S2,S3,S4

T11,T12,L1

T11,T12,L1
S2,S3,S4
Penatalaksanaan
Manajemen awal di IGD, dimulai dengan penilaian terhadap airway, breathing, dan
circulation. Pada lesi servikal bagian atas, ventilasi spontan akan hilang, sehingga
diperlukan intubasi. Atasi syok bila ada. Lakukan pemeriksaan yang teliti, terhadap
cedera medulla spinalis. Bila dicurigai ada cedera servikal dilakukan
imobilisasi.7 Imobilisasi dapat dilakukan dengan backboard, cervical ortosis, bantal
pasir, dan tape on forehead. Ada 2 jenis collar neck, yaitu soft collars dan reinforced
(Philadelphia type) collar. Soft collar minimal membatasi pergerakan leher. Biasanya
hanya digunakan pada spinal yang stabil, seperti pada spasme otot servikal. Hard collar
memiliki bentuk menyerupai soft collar, terbuat dari polietilen, untuk memberikan
tambahan sokongan, Collar ini juga hanya membatasi pergerakan leher secara minimal.
Philadelphia collar biasanya digunakan untuk fraktur servikal tanpa pergeseran atau


dengan pergeseran yang minimal. Collar ini membatasi gerakan leher lebih baik
dibanding soft collar. Terutama membatasi pergerakan servikal bagian atas.9
Pemeriksaan radiologi diawali dengan foto polos servikal, kemudian dapat dilakukan CT
Scan atau MRI. Di samping itu kemungkinan multi trauma harus dipikirkan. Bila diagnosa
tegak, segera berikan terapi. Kemudian diputuskan apakah perlu dilakukan tindakan
operatif. Bila tidak ada indikasi, dianjurkan perawatan pada neuro intensive care, karena
dapat terjadi beraneka ragam komplikasi.2,9Pemberian steroid harus sesegera mungkin
(NASCIS II). Bila cedera terjadi sebelum 8 jam, diberikan metil prednisolon dosis tinggi 30
mg/kgBB intravena perlahan selama 15 menit. Disusul 45 menit kemudian infus 5,4
mg/kgBB/jam selama 23 jam. Tetapi jika terapinya diberikan 3-8 jam setelah cedera,
infus dianjurkan berakhir sampai 48 jam.1,2,9 Trial klinik menunjukkan kemaknaan
statistik terhadap perbaikan neurologis jangka panjang. Metilprednisolon bekerja
menghambat peroksidase dan sekunder akan meningkatkan asam arakidonat. Untuk
mengobati edema medulla spinalis dapt diberikan manitol 0,25-1,0 gr/kgBB.2,9
Rehabilitasi
Rehabilitasi cedera spinal merupakan suatu kegiatan rehabilitasi dari hanya berbaring di
tempat tidur menuju kehidupan berkomunitas (rehabilitation from bedside to
community). Rehabilitasi adalah suatu proses progresif, dinamis, dalam waktu yang
terbatas bertujuan untuk meningkatkan kualitas individu yang mengalami gangguan
secara optimal dalam bidang mental, fisik, kognitif, dan sosial.1
Rehabilitasi untuk fraktur servikal memerlukan waktu yang lama, beberapa bulan
sampai tahunan, tergantung kepada beratnya cedera. Terapi fisik dapat dilakukan
seperti latihan untuk menguatkan kembali daerah leher dan memberikan tindakan
pencegahan untuk melindungi cedera ulang. Selain itu dianjurkan untuk mengubah gaya
hidup yang dapat menyebabkan fraktur servikal.9
Pada cedera medulla spinalis, rehabilitasi ditujukan untuk mengurangi spastisitas,
kelemahan otot dan kegagalan koordinasi motorik. Terapi fisik dan strategi rehabilitasi
yang lain juga penting untuk mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot dan untuk
reorganisasi fungsi saraf. Penting juga memaksimalkan penggunaan serat saraf yang
tidak rusak.9