Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah termasuk salah satu dari gangguan
muskuloskeletal, gangguan psikologis dan akibat dari mobilisasi yang salah. LBP menyebabkan
timbulnya rasa pegal, linu, ngilu, atau tidak enak pada daerah lumbal berikut sakrum. LBP diklasifikasikan
kedalam 2 kelompok, yaitu kronik dan akut. LBP akut akan terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu.
Sedangkan LBP kronik terjadi dalam waktu 3 bulan. Yang termasuk dalam faktor resiko LBP adalah
umur, jenis kelamin, faktor indeks massa tubuh yang meliputi berat badan, tinggi badan, pekerjaan, dan
aktivitas / olahraga. (Idyan, Zamna., 2007).
Diperkirakan 60% sampai 80% populasi dewasa pernah mengalami LBP, kira-kira 2%
sampai 5% terkena setiap tahunnya. Orang yang waktu bekerja melakukan gerakan
membungkuk yang berulang-ulang atau berjongkok dan duduk lama mempunyai
frekuensi LBP lebih tinggi, masalah psikososial juga penting sebagai faktor pencetus
terjadinya nyeri punggung bawah.
Kebanyakan nyeri punggung bawah disebabkan oleh salah satu dari berbagai masalah
muskuloskeletal (misal regangan lumbosakral akut, ketidakstabilan ligamen lumbo sakral
dan kelemahan otot, osteoartritis tulang belakang, stenosis tulang belakang, masalah
diskus intervertebralis, ketidaksamaan panjang tungkai). Penyebab lainnya meliputi
obesitas, gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor retroperitoneal, aneurisma abdominal
dan masalah psikosomatik. Kebanyakan nyeri punggung akibat gangguan muskuloskeletal
akan diperberat oleh aktifitas, sedangkan nyeri akibat keadaan lainnya tidak dipengaruhi
oleh aktifitas.
Dalam hal perawatan secara umum pada penyakit LBP dengan penyakit syaraf lainnya
mempunyai kesamaan dalam pemberian asuhan keperawatan menitik beratkan pada
pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Adapun kekhususan dari perawataan klien dengan
LBP adalah karena masalah yang muncul biasanya bersifat komplek dan mempengaruhi
sistem tubuh sehingga asuhan keperawatan yang diberikan mencegah terjadinya defisit
neurologis, memberikan dan mengembalikan fungsi dengan cara meningkatkan aktivitas
secara bertahap dengan melakukan range of mation (ROM) aktif maupun pasif.




2

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar teori LBP ?
2. Bagaimana penatalaksanaan untuk klien yang menderita LBP ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan pada penderita LBP.
2. Tujuan Khusus
Mengidentifikasikan anatomi dari LBP
Mengidentifikasikan definisi dari LBP
Mengidentifikasikan etiologi, patofisiologi, dan manifestasi LBP serta segala hal
yang berkaitan dengan penyakit tersebut.
Mengidentifikasikan asuhan keperawatan yang tepat bagi klien penderita LBP.
D. Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
1. Bagi Mahasiswa
Agar mampu memahami tentang bagaimana asuhan keperawatan pada pasien
dengan low back pain sehingga dapat meningkatkan kesehatan pekerja yang ada di
masyarakat.
2. Bagi Institusi
Agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang asuhan
keperawatan pada pasien dengan low back pain dan dapat lebih banyak menyediakan
referensi-referensi buku tentang asuhan keperawatan pasien dengan masalah low back
pain.
3. Bagi Masyarakat
Agar lebih mengerti dan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien
dengan low back pain untuk meningkatkan mutu kesehatan pekerja yang ada di
masyarakat.





3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi
Kegunaan kerangka :
1. Menahan seluruh bagian-bagian badan (Menopang tubuh).
2. Melindungi alat tubuh yang halus seperti otak,jantung dan paru-paru.
3. Tempat melekatnya otot-otot dan pergerakan tubuh dengan perantaraan otot.
4. Tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah.
5. Memberi bentuk pada bangunan tubuh.
Ruas-ruas tulang belakang :
Bentuk dari tiap-tiap ruas tulang belakang pada umumnya sama,hanya ada bedanya
sedikit tergantung pada kerja yang ditanganinya.
Ruas-ruas ini terdiri atas beberapa bagian :
1. Badan ruas merupakan bagian yang terbesar, bentuknya tebal dan kuat,terletak
disebelah depan.
2. Lengkung luas.
Bagian yang melingkari dan melindungi lubang luas tulang belakang terletak di
sebelah belang dan pada bagian ini terdapat tonjolan yaitu :
1. Prosesus spinosus / taju duri : Terdapat ditengah-tengah lengkung luas,menonjol
kebelakang.
2. Prosesus tranversum / taju sayap : Terdapat disamping kiri dan kanan lengkung luas.
3. Prosesus artikulasi / taju penyendi : Membentuk persendian dengan ruas tulang
belakang (vertebralis).
Fungsi ruas tulang belakang :
1. Menahan kepela dan alat-alat tubuh yang lain.
2. Melindungi alat halus yang ada didalamnya (sum-sum belakang).
3. Tempat melekatnya tulang iga dan tulang pinggul.
4. Menentukan sikap tubuh.
Ruas-ruas tulang belakang ini tersusun dari atas kebawah dan diantara masing-masing
ruas dihubungkan oleh tulang rawan yang disebut cakram antara ruas sehingga tulang
4

belakang bias tegak dan membungkuk. Disamping itu disebelah depan dan belakangnya
terdapat kumpulan serabut-serabut kenyal yang memperkuat kedudukan ruas tulang
belakang.
Ditengah-tengah bagian ruas-ruas tulang belakang terdapat pula suatu saluran yang
disebut saluran sum-sum belakang (kanalis medulla spinalis) yang didalamnya terdapat
sum-sum tulang belakang.
Bagian-bagian dari ruas tulang belakang :
1. Vertebra sedrvikalis (tulang leher) 7 ruas mempunyai badan ruas kecil dan lubang
ruasnya besar. Pada tagu sayapnya terdapat lubang tempat lalunya syarap yang disebut
For Amentuam Versalis (Foramentuan Versorium). Ruas pertama vertebra servikalis
disebut Atlas yang memungkinkan kepala berputar kekiri dan kekanan. Ruas kedua
disebut prosesus ke 7 mempunyai taju yang disebut Prosesus Prominan,taju ruiasnya
agak panjang.
2. Vertebra Torakalis (tulang punggung) terdiri dari 12 ruas,badan ruasnya besar dan
kuat. Taju durinya panjang dan melengkung,pada daerah bagian dataran sendi sebelah
atas,bawah,kiri dan kanan ini membentuk persendian dengan tulang iga.
3. Vertebra lumbalis (tulang pinggul0 terdiri dari 5 ruas,badan ruasnya besar,tebal dan
kuat. Taju durinya agak picak bagi ruas dari ruas ke 5 agak menonjol disebut
Promontorium.
4. Vertebra Koksigius (tulang ekor) terdiri dari 4 ruas. Ruas-ruasnya kecil dan menjadi
sebuah tulang yang disebut Os Koksigialis dapat bergerak sedikit karena membentuk
persendian dengan sacrum.
Lengkung kolumna vertebralis dilihat dari samping kolumna Vertebralis
memperlihatkan 4 kurva atau lengkung. Lengkung vertikel daerah leher melengkung
kedepan daerah torakal melengkung kebelakang. Daerah lumbal melengkung kedepan dan
derah pelvis melengkung kebelakang. Lengkung servikal berkembang ketika masih
kanak-kanak. Sebagai contoh ketika ia merangkak,berdiri dan berjalan mempertahankan
tegak.
Sendi kolumna vertebralis dibentuk oleh bantalan tulang rawan yang dilekatkan
diantara tiap-tiap vertebra dikuatkan oleh luigamentum yang berjalan didepan dan
dibelakang vertebra sepanjang kolumna vertebralis.
5

Cakram antar adalah bantalan tebal dari tulang rawan fibrosa yang terdapat diantara
badan vertyebra yang dapat menggerak-gerakan sendi dibentuk antara cakram dan
vertebra dengan gerakan yang terbatas dan gerakan dapat fleksi,ekstensi dan lateral
samping kiri dan samping kanan.
Fungsi vertebralis sebagai penopang badan yang kokoh sekaligus bekerja sebagai
penyangga dengan perantara tulang rawan cakram. Intervertebralis yang lengkungnya
memberi flesibilitas memungkinkan membengkok tanpa patah.
Cakram juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakan
badan seperti waktu berlari dan melompat. Dengan demikian otak dan sum-sum belakang
terlindung oleh guncangan. Kolumna vertebralis juga menopang berat badan permukaan
berkaitan dengan otot mem,bentuk tapal batas posterior yang kokoh untuk rongga-rongga
badan dan kaitan pada iga.
B. Definisi
Low back Pain dipersepsikan ketidak nyamanan berhubungan dengan lumbal atau area
sacral pada tulang belakang ataui sekitar jaringan ( Randy Mariam,1987 ).
Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis
walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah
kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh
terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis
dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low Back Pain terjadi dilumbal bagian bawah,lumbal sacral atau daerah
sacroiliaca,biasanya dihubungkan dengan proses degenerasi dan ketegangan musulo
(Prisilia Lemone,1996).
Low back pain dapat terjadi pada siapa saja yang mempunyai masalah pada
muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut, ketidakmampuan ligamen
lumbosacral, kelemahan otot, osteoartritis, spinal stenosis serta masalah pada sendi inter
vertebra dan kaki yang tidak sama panjang (Lucman and Sorensens 1993).
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah
nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya
otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus, kelemahan
otot, osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.

6

C. Etiologi
Etiologi low back pain dapat dihubungkan dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Proses degeneratif, meliputi: spondilosis, HNP, stenosis spinalis,osteoartritis.
Perubahan degeneratif pada vertebrata lumbosakralis dapat terjadi pada
korpusvertebrae berikut arkus dan prosessus artikularis serta ligamenta yang
menghubungkan bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain.
Duluproses ini dikenal sebagai osteoartrosis deforman, tapi kini dinamakan
spondilosis. Perubahan degeneratif ini juga dapat menyerang anulus fibrosis diskus
intervertebralis yang bila tersobek dapat disusul dengan protusio diskus
intervertebralis yang akhirnya menimbulkan hernia nukleus pulposus (HNP). Unsur
tulang belakang lain yang sering dilanda proses degeneratif ini adalah kartilago
artikularis yang dikenal sebagai osteoartritis.
b. Penyakit Inflamasi
LBP akibat inflamasi terbagi 2 yaitu artritis rematoid yang sering timbul sebagai
penyakit akut dengan ciri persendian keempat anggota gerak terkena secara serentak
atau selisih beberapa hari/minggu, dan yang kedua adalah pada
spondilitisangkilopoetika, dengan keluhan sakit punggung dan sakit pinggang yang
sifatnya pegal-kaku dan pada waktu dingin dan sembab linu dan ngilu dirasakan.
c. Osteoporotik
Sakit pinggang pada orang tua dan jompo, terutama kaum wanita, sering kali
disebabkan oleh osteoporosis. Sakit bersifat pegal, tajam atau radikular.
d. Kelainan Kongenital
Anomali kongenital yang diperlihatkan oleh foto rontgen polos dari
vertebraelumbosakralis sering dianggap sebagai penyebab LBP meskipun tidak
selamanya benar.Contohnya adalah lumbalisasi atau adanya 6 bukan 5 korpus
vertebrae lumbalis merupakan variasi anatomik yang tidak mengandung arti patologik.
Demikian pulapada sakralisasi, yaitu adanya 4 bukan 5 korpus vertebrae lumbalis.
e. Gangguan Sirkulatorik
Aneurisma aorta abdominalis dapat membangkitkan LBP yang hebat dan dapat
menyerupai sprung back atau HNP. Gangguan sirkulatorik yang lain adalah
trombosisaorta terminalis yang perlu mendapat perhatian karena mudah didiagnosa
sebagai HNP. Gejalanya disebut sindrom Lerichie. Nyeri dapat menjalar sampai
bokong,belakang paha dan tungkai kedua sisi.(Adelia, Rizma., 2007).


7

f. Tumor
Dapat disebabkan oleh tumor jinak seperti osteoma, penyakit Paget,
osteoblastoma, hemangioma, neurinoma, meningioma. Atau tumor ganas yang primer
seperti mielomamultipel maupun sekunder seperti macam-macam metastasis.
g. Toksik. Keracunan logam berat, misalnya radium.
h. Infeksi Akut disebabkan oleh kuman piogenik (stafilokokus, streptokokus) dan
kronikcontohnya pada spondilitis tuberkulosis (penyakit Pott), jamur,
osteomielitiskronik.
i. Problem Psikoneurotik
Histeria atau depresi, malingering, LBP kompensatorik. LBP yang tidak
mempunyai dasar organik dan tidak sesuai dengan kerusakan jaringan atau batas-batas
anatomis.(Nuarta, Bagus., 1989)
D. Klasifikasi
Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi dua yaitu :
A. Acute low back pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya sebentar,
antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau
sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatic seperti
kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian
tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon.
Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat
masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri pinggang acute
terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
B. Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang berulang-ulang
atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh
pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena osteoarthritis,
rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan tumor.
Disamping hal tersebut diatas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik yang
juga dapat dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
1. Trauma
a. Trauma primer seperti : Trauma secara spontan, contohnya kecelakaan.
b. Trauma sekunder seperti : Adanya penyakit HNP, osteoporosis, spondilitis,
stenosis spinal, spondilitis, osteoartritis.

8

2. Infeksi
Nyeri pinggang akibat inflamasi terbagi menjadi 2 macam, yang pertama
adalah pada artritis rematoid, yang sering timbul sebagai penyakit akut. Persendian
keempat anggota gerak dapat terkena secara serentak atau dengan selisih beberapa
hari/minggu. Yang kedua adalah pada spondilitis angkilopoetika. Keluhan yang
paling dini dihadapi oleh penderita ialah sakit punggung dan sakit pinggang.
Sifatnya ialah pegal-kaku dan pada waktu dingin dan sembab linu dan ngilu
dirasakan.
3. Neoplasma
Dapat disebabkan oleh tumor jinak seperti osteoma, penyakit Paget,
osteoblastoma, hemangioma, neurinoma,meningioma. Atau tumor ganas yang
primer seperti mieloma multipel maupun sekunder seperti macam-macam
metastasis.
4. Degenerasi
Perubahan degeneratif pada vertebrata lumbosakralis dapat terjadi pada korpus
vertebrae berikut arkus dan prosessus artikularis serta ligamenta yang
menghubungkan bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain. Dulu
proses degneratif ini dikenal sebagai osteoartrosis deformans, tapi kini dinamakan
spondilosis. Perubahan degeneratif dapat juga mengenai anulus fibrosis diskus
intervertebralis yang bila pada suatu saat terobek dapat disusul dengan protusio
diskus intervertebralis yang akhirnya menimbulkan hernia nukleus pulposus
(HNP). Unsur tulang belakang lain yang sering dilanda proses degeneratif ialah
kartilago artikularisnya, yang dikenal sebagai osteoartritis.
5. Kongenital
Anomali kongenital yang diperlihatkan foto rontgen polos dari vertebrae
lumbosakralis terlampau sering dianggap sebagai kelainan yang mendasari sakit
pinggang. Spina bifida okultra sering ditemukan pada foto rontgen polos para
penderita yang berkunjung ke dokter bukan karena sakit pinggang, melainkan,
misalnya, keluhan urogenital atau gastrointestinal. Lumbalisasi atau adanya 6
bukan 5 korpus vertebrae lumbalis merupakan variasi anatomik yang tidak
mengandung arti patologik. Demikian juga sakralisasi, yaitu adanya 4 bukan 5
korpus vertebrae lumbalis.



9

E. Patofisiologi
Struktur spesifik dalam system saraf terlibat dalam mengubah stimulus menjadi
sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi nyeri disebut sebagai
system nosiseptif. Sensitifitas dari komponen system nosiseptif dapat dipengaruhi oleh
sejumlah factor dan berbeda diantara individu.
Tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang sama mengalami intensitas
nyeri yang sama. Sensasi sangat nyeri bagi seseorang mungkin hampir tidak terasa bagi
orang lain.
Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berespons
hanya pada stimulus yang kuat, yang secara potensial merusak, dimana stimuli tersebut
sifatnya bisa kimia, mekanik, termal. Reseptor nyeri merupakan jaras multi arah yang
kompleks.
Serabut saraf ini bercabang sangat dekat dengan asalnya pada kulit dan mengirimkan
cabangnya ke pembuluh darah local. Sel-sel mast, folikel rambut dan kelenjar keringat.
Stimuli serabut ini mengakibatkan pelepasan histamin dari sel-sel mast dan
mengakibatkan vasodilatasi.
Serabut kutaneus terletak lebih kearah sentral dari cabang yang lebih jauh dan
berhubungan dengan rantai simpatis paravertebra system saraf dan dengan organ internal
yang lebih besar. Sejumlah substansi yang dapat meningkatkan transmisi atau persepsi
nyeri meliputi histamin, bradikinin, asetilkolin dan substansi P. Prostaglandin dimana zat
tersebut yang dapat meningkatkan efek yang menimbulkan nyeri dari bradikinin.
Substansi lain dalam tubuh yang berfungsi sebagai inhibitor terhadap transmisi nyeri
adalah endorfin dan enkefalin yang ditemukan dalam konsentrasi yang kuat dalam system
saraf pusat.
Kornu dorsalis dari medulla spinalis merupakan tempat memproses sensori, dimana
agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada system assenden harus diaktifkan.
Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor nyeri yang terletak dalam kulit dan
organ internal.
Proses nyeri terjadi karena adanya interaksi antara stimulus nyeri dan sensasi nyeri.
Patofisiologi Pada sensasi nyeri punggung bawah dalam hal ini kolumna vertebralis
dapat dianggap sebagai sebuah batang yang elastik yang tersusun atas banyak unit
vertebrae dan unit diskus intervertebrae yang diikat satu sama lain oleh kompleks sendi
faset, berbagai ligamen dan otot paravertebralis.
Konstruksi punggung yang unik tersebut memungkinkan fleksibilitas sementara disisi
lain tetap dapat memberikanperlindungan yang maksimal terhadap sum-sum tulang
10

belakang. Lengkungan tulang belakang akan menyerap goncangan vertical pada saat
berlari atau melompat.
Batang tubuh membantu menstabilkan tulang belakang. Otot-otot abdominal dan
toraks sangat penting ada aktifitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan
melemahkan struktur pendukung ini. Obesitas, masalah postur, masalah struktur dan
peregangan berlebihan pendukung tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung.
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua.
Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas fibrokartilago dengan matriks gelatinus.
Pada lansia akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tak teratur. Degenerasi diskus
intervertebra merupakan penyebab nyeri punggung biasa.
Diskus lumbal bawah, L4-L5 dan L5-S6, menderita stress paling berat dan perubahan
degenerasi terberat. Penonjolan diskus atau kerusakan sendi dapat mengakibatkan
penekanan pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis, yang mengakibatkan nyeri
yang menyebar sepanjang saraf tersebut.





















11




































12

F. Factor Resiko
Factor resiko Low back Pain :
a. Faktor resiko secara fisiologi.
Umur ( 20 50 tahun ).
Kurangnya latihan fisik.
Postur yang kurang anatomis.
Kegemukan.
Scoliosis parah.
HNP.
Spondilitis.
Spinal stenosis ( penyempitan tulang belakang ).
Osteoporosis.
Merokok.
b. Faktor resiko dari lingkungan.
Duduk terlalu lama.
Terlalu lama pada getaran.
Keseleo atau terpelintir.
Olah raga ( golp,tennis,gymnastik,dan sepak bola ).
Vibrasi yang lama.

c. Faktor resiko dari psikososial.
Ketidak nyamanan kerja.
Depresi.
Stress.
G. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis LBP berbeda-beda sesuai dengan etiologinya masing-masingseperti
beberapa contoh dibawah ini :
a. LBP akibat sikap yang salah
Sering dikeluhkan sebagai rasa pegal yang panas pada pinggang, kaku dantidak
enak namun lokasi tidak jelas.
Pemeriksaan fisik menunjukkan otot-otot paraspinal agak spastik di daerahlumbal,
namun motalitas tulang belakang bagian lumbal masih sempurna,
walaupunhiperfleksi dan hiperekstensi dapat menimbulkan perasaan tidak enak.
Lordosis yang menonjol.
13

Tidak ditemukan gangguan sensibilitas, motorik, dan refleks pada tendon.
Foto rontgen lumbosakral tidak memperlihatkan kelainan yang relevan.(Sidharta,
Priguna., 2004).
b. Pada Herniasi Diskus Lumbal
Nyeri punggung yang onsetnya perlahan-lahan, bersifat tumpul atau terasatidak
enak, sering intermiten, wala kadang onsetnya mendadak dan berat.
Diperhebat oleh aktivitas atau pengerahan tenaga serta mengedan, batuk atau
bersin.
Menghilang bila berbaring pada sisi yang tidak terkena dengan tungkai yangsakit
difleksikan.
Sering terdapat spasme refleks otot-otot paravertebrata yang menyebabkannyeri
sehingga membuat pasien tidak dapat berdiri tegak secara penuh.
Setelah periode tertentu timbul skiatika atau iskialgia.
c. LBP pada Spondilosis
Kompresi radiks sulit dibedakan dengan yang disebabkan oleh protrusi
diskus,walaupun nyeri biasanya kurang menonjol pada spondilisis.
Dapat muncul distesia tanpa nyeri pada daerah distribusi radiks yang terkena.
Dapat disertai kelumpuhan otot dan gangguan reflex.
Terjadi pembentukan osteofit pada bagian sentral dari korpus vertebra
yangmenekan medula spinalis.
Kauda ekuina dapat terkena kompresi pada daerah lumbal bila terdapatstenosis
kanal lumbal.
d. LBP pada Spondilitis Tuberkulosis
Terdapat gejala klasik tuberkulosis seperti penurunan berat badan, keringatmalam,
demam subfebris, kakeksia. Gejala ini sering tidak menonjol.
Pada lokasi infeksi sering ditemukan nyeri vertebra/lokal dan menghilangbila
istirahat.
Gejala dan tanda kompresi radiks atau medula spinalis terjadi pada 20%
kasus(akibat abses dingin).
Onset penyakit dapat gradual atau mendadak (akibat kolaps vertebra dankifosis).
Diawali nyeri radikular yang mengelilingi dada atau perut, diikutiparaparesis yang
lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiperrefleksiadan reflex
Babinsky bilateral. Dapat ditemukan deformitas dan nyeri ketok tulang vertebra.
14

Penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang munculterutama
gangguan motorik
e. LPB pada Spondilitis Ankilopoetika
Biasanya dirasakan pada usia 20 tahun.
Tidak hilang dengan istirahat dan tidak diperberat oleh gerakan.
Pemeriksaan fisik menunjukkan pembatasan gerakan di sendi sakrolumbaldan
seluruh tulang belakang lumbal.
Laju endap darah meninggi.
Terjadi osifikasi ligamenta interspinosa.(Mansjoer, Arif, et all., 2007)

H. Pemeriksaan klinis
Pasien diperiksa dalam keadaan tidak berpakaian. Dilakukan pemeriksaan pada tulang
belakang saat pasien berdiri untuk melihat lordosis lumbal,kiposis torakal, kiposis dantilt
dari skoliosis skiatik, seleksi ekstremitas bawah untuk mengurangi nyeri akibat tekanan
pada radiks saraf, spasme muscular dan skin nevi pada daerah tulang belakang. Cara
berjalan danpergerakan diperiksa termasuk toe and heel gait, untuk menentukan adanya
kelemahan muscular.
Kemampuan membungkuk dapat diukur secara kasar dengan perkiraan fleksi atau
jarak ujung jari ke lantai. Lateral banding yang asimetrik menunjukkan kemungkinan
adanya jepitan pada radiks saraf. Hiper ekstensi untuk menyingkirkan nyeri akibat
inflamasi facet joins. Tulang belakang dipalpasi untuk menentukan adanya nyeri tekan,
step off dari spendilolistesis, detekspina bivida. Perkusi dilakukan untuk menimbulkan
nyeri local atau nyeri skiatik dan pada daerah kostovertebra untuk menyingkirkan nyeri
yang berasal dari ginjal.
Dalam posisi terlentang dilakukan pemeriksaan panjang tungkai, melihat adanya atrofi
otot. Ketidaksamaan panjang tungkai dapat merupakan salah satu sebab timbulnya nyeri
pinggang dan keadaan ini dapat di atasi dengan meninggikan alas sepatu. Apabila nyeri
terjadi pada daerah pinggang dan bersifat radikular, hal ini menunjukkan adanya herniasi
diskus.
Evaluasi psikologis diperlukan bialamana di jumpai kelainan pada factor kepribadian
dan menyangkut kesulitan dalam upaya pengobatan.



15

I. Pemeriksaan diagnostic
a. Pemeriksaan laboratorium.
Tidak dijumpai satu pemerikasan laboratorium yang digunakan sebagai penyaring
penyebab keluhan nyeri pinggang bawah. Tes ini hanya dipakai sebagai data tambahan
terhadap berbagai penyakit kausal yang memang memiliki karakteristik nilai
laboratorik tertentu.
b. Pemeriksaan radiologic
Poto polos. Standar pemeriksaan untuk nyeri pinggang bawah adalah poto posisi
anterior, lateral dan coned down lateral view.
Mielografi. Tindakan ini ditujukan apabila terdapat kemungkinan tindak lanjut
operatif saja karena banyak efek samping akibat pemberian kontras seperti sakit
kepala, demam, mual, meningismus, nyeri punggung, gangguan miksi, parestesia,
ileus dan araknoiditis akut maupun kronik. Keuntungan teknik ini adalah mudah
mengetahui lokasi sumbatan serta jepitan pada radiks.
Sidik tulang (bone csan). Pemeriksaan dengan cara ini dapat dipakai untuk
mendeteksi adanya proses infeksi, keganasan, dan ankilosing, spondilitis awal.
Computed tomography. Teknik ini banyak digunakan sebagai alternative
tindakan mielography, namun tidak sebagai tindakan penapisan (screnning).
MRI. Dengan teknik ini dapat memperlihatkan kelainan pada jaringan lunak.
Korpus vertebra, diskus serta kanalis spinalis dengan mudah dapat dilihat tanpa
menggunakan kontras.
J. Penatalaksanaan
a. Penanggulangan nyeri akut.
Nyeri dapat diatasi dengan pemberian obat-obtan istirahat dan modalitas
pemberian obat anti radang (OAIN) diperlukan untuk jangka waktu pendek. Istirahat
secra umum atau okal banyak memberikn manfaat. Tirah baring pada alas yang keras
dimaksudkan untuk mencecah melengkungnya tulang punggung. Pada episode akut ini
diperlukan 3-5 hari tirah baring, kecuali pada keadaan skoliosis disertai nyeri radikular
hebat atau herniasi diskus akut yang memerlukan istirahat lebih lama lagi sampai 5
minggu.
Latihan mulai diberikan pada hari ketiga keempat dengan memberikan fleksi
ringan. Dilanjutkan dengan pemberian modalitas lainnya. Modalitas yang diberikan
sangat beragam. Bila disertai suatu protective spasm pemberiam kompres es atau
semprotan etil klorida, fluorimetan dapat memantu mengatasi nyeri. Latihan dengan
16

memberikan trikan (straching) dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain
dengan latihan posisi knee chest dan fleksi lateral.
b. Pencegahan kekambuhan
Pelatihan peregangan (low back starching exercise).
Korset/bracing. Penggunaan korset diberikan pada fase akut nyeri atau kerap
kambuh tinggi.



















17

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Aktivitas dan istirahat
Gejala : riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemudi
dalam waktu lama, membutuhkan papan/matras waktu tidur, penurunan rentang
gerak dari ekstrimiter pada salah satu bagian tubuh, tidak mampu melakukan
aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda : Atropi otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam berjalan.
b. Eliminasi
Gejala : Konstribusi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya
inkontenensia/retensi urine.
c. Integritas Ego
Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial
keluarga.
Tanda : Tampak cemas, defresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
d. Neurosensori
Gejala : Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotania, nyeri
tekan/spasme pavavertebralis, penurunan persesi nyeri (sensori)
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya
batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat defekasi, mengangkat kaki, atau
fleksi pada leher, nyeri yang tidak ada hentinya atau adanya episode nyeri yang
lebih berat secara interminten; nyeri menjalar ke kaki, bokong (lumbal) atau
bahu/lengan; kaku pada leher (servikal). Terdengar adanya suara krek saat
nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa punggung patah, keterbatasan untuk
mobilisasi/membungkuk kedepan
Tanda : Sikap: dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena, perubahan
cara berjalan: berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian
tubuh yang terkena, nyeri pada palpasi.
f. Keamanan
Gejala : Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi.
18

g. Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala : Gaya hidup ; monoton atau hiperaktif
Pertimbangan : DRG menunjukan rata-rata perawatan:10,8 hari
Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan batuan transportasi, perawatan diri
dan penyelesaian tugas-tugas.
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :
Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi dan bila pasien tetap berdiri dan menolak
untuk duduk, maka sudah harus dicurigai adanya suatu herniasi diskus.
Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat nyeri
dan juga bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis serta adanya skoliosis.
Berkurang sampai hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot
paravertebral.
Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:
1. Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.
2. Ekstensi ke belakang (back extension) seringkali menyebabkan nyeri pada tungkai bila
ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan artritis lumbal, karena gerakan ini
akan menyebabkan penyempitan foramen sehingga menyebabkan suatu kompresi pada
saraf spinal.
3. Fleksi ke depan (forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri pada tungkai
bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang terinflamasi diatas suatu
diskus protusio sehingga meninggikan tekanan pada saraf spinal tersebut dengan jalan
meningkatkan tekanan pada fragmen yang tertekan di sebelahnya (jackhammer effect).
4. Lokasi dari HNP biasanya dapat ditentukan bila pasien disuruh membungkuk ke
depan ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke depan, ke suatu sisi atau ke lateral yang
meyebabkan nyeri pada tungkai yang ipsilateral menandakan adanya HNP pada sisi
yang sama.
5. Nyeri LBP pada ekstensi ke belakang pada seorang dewasa muda menunjukkan
kemungkinan adanya suatu spondilolisis atau spondilolistesis, namun ini tidak
patognomonik.


19

Palpasi :
Adanya nyeri (tenderness) pada kulit bisa menunjukkan adanya kemungkinan suatu
keadaan psikologis di bawahnya (psychological overlay).
Kadang-kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkan nyeri dengan
menekan pada ruangan intervertebralis atau dengan jalan menggerakkan ke kanan ke kiri
prosesus spinosus sambil melihat respons pasien.
Pada spondilolistesis yang berat dapat diraba adanya ketidak-rataan (step-off) pada
palpasi di tempat/level yang terkena.
Penekanan dengan jari jempol pada prosesus spinalis dilakukan untuk mencari adanya
fraktur pada vertebra.
Pemeriksaan fisik yang lain memfokuskan pada kelainan neurologis.
Refleks yang menurun atau menghilang secara simetris tidak begitu berguna pada
diagnosis LBP dan juga tidak dapat dipakai untuk melokalisasi level kelainan, kecuali
pada sindroma kauda ekuina atau adanya neuropati yang bersamaan.
Refleks patella terutama menunjukkan adanya gangguan dari radiks L4 dan kurang
dari L2 dan L3. Refleks tumit predominan dari S1.
Harus dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada hiperefleksia
yang menunjukkan adanya suatu gangguan upper motor neuron (UMN).
Dari pemeriksaan refleks ini dapat membedakan akan kelainan yang berupa UMN atau
LMN.
Pemeriksaan motoris :
Harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua sisi untuk
menemukan abnormalitas motoris yang seringan mungkin dengan memperhatikan miotom
yang mempersarafinya.
Pemeriksaan sensorik :
Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan perhatian dari
penderita dan tak jarang keliru, tapi tetap penting arti diagnostiknya dalam membantu
menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai dermatom yang terkena. Gangguan sensorik lebih
bermakna dalam menunjukkan informasi lokalisasi dibanding motoris.
B. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b.d masalah musculoskeletal
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, dan berkurangnya kelenturan
3. Risiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek-efek iritan mekanika
atau tekanan sekunder terhadap tirah baring.
4. Gangguan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh b. d obesitas.
20

C. Intervensi
Dx Intervensi Rasional
1. Nyeri b.d
masalah
musculoskeletal
1. 1.Kaji jenis dan tingkat nyeri pasien




2. 2.Minta pasien untuk menggunakan
skala nyeri 1-10


3. 3.Berikan obat untuk mengurangi
nyeri

R : membabntu meyakinkan
bahwa penanganan dapat
memenuhi kebutuhan pasien
dalam mengurangi nyeri.

R : memfasilitasi pengkajian
yang akurat tentang tingkat
nyeri pasien.

R : mengurangi nyeri.

2. Gangguan
mobilitas fisik
b.d nyeri,
spasme otot,dan
berkurangnya
kelenturan

1. 1.Posisikn pasien untuk
mempertahankan sikaptubuh yang
tepat

2. 2.Balik dan atur posisi pasien minimal
setiap 2 jam



3. 3.Bantu pasien dalam melakukan
aktivitas perawatan diri sesuai
toleransi

4. 4.Jelaskan alasan mempertahankan
atau meningkatkan aktivitas

R : mempertahankan fungsi
sendi dan mencegah deformitas
muskuloskletal

R : pembalikan posisi dapat
membantu mencegah
kerusakan kulit dengan
mengurangi penekanan

R : menumbuhkan kemandirian
dan meningkatkan mobilitas


R : pendidikan dapat
membantu pasien dalam
menghindari intoleransi
aktivitas

3. Risiko
kerusakan
1. 1.Dorong kepatuhan pasien untuk
melakukan latihan rentan pergerakan
R : meningkatkan sirkulasi rteri
dan aliran blik vena melalui
21

integritas
jaringan
berhubungan
dengan efek-
efek iritan
mekanika atau
tekanan
sekunder
terhadap tirah
baring

sendi atau regimen latihan fisik yang
dapat ditoleransinya
2.
2. 2.Ajarkan kepada pasien tentang
factor resiko dan pencegahan cedera




3. 3.Pertahankan hidrasi yang adekuat,
pantau dan asupan dan haluaran



4. 4.Ajarkan latihan relaksasi dan teknik
penrunan stress

peningkatan kontraksi relaksasi
otot

R : pendidikan kesehatan
tentang fktor yang
mempengaruhi penyakit
vascular perifer dan
pencegahan kerusakan jaringan
dapat mencegah komplikasi
R : hidrasi yang adekuat
menurunkan fiskositas darah
dan menurunkan resiko
pembentukan bantuan

R : membantu mencegah
terjadinya episode

4. Gangguan
nutrisi : lebih
dari kebutuhan
tubuh b.d
obesitas.

1. 1.Timbang berat badan setiap minggu
atau sesuai anjuran
2.
3. 2.Lakukan kerjasama dengan pasien
untuk menentukan suatu target berat
badan yang realistis
4.
3. 3.Pantau asupan dan haluan cairan
dan kaji adanya edema
4.
5. 4.Anjurkan mengkonsumsi makanan
mengandung lemah kalori dan lemak
dan tinggi kompleks karbohidrat dan
serat
6.
5. 5.Tentukan mkanan kesukaan psien

R : memantau keefektifan diet


R : keterlibatan dalam
perencanaan asuhan
keperawatan

R : retensi cairan dapat
meningkatkan berat badan

R : membantu pasien
merencanakan makanan yang
bergizi dan seimbang


R : mengevaluasi kebiasaan
makannya dan memasukkan
22

makanan kesukaannya ke
dalam diet

D. Evaluasi
S : Pasien mengatakan nyeri berkurang.
O : KU lemah
Skala nyeri 7
A : Maslah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
-mengkaji keluhan pasien
-pemberian obat
-kolaborasi dengan tim medis lain













23

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Low Back Pain adalah nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya
disebabkan trauma atau terdesaknya otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan
degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang
belakang.
Struktur spesifik dalam system saraf terlibat dalam mengubah stimulus menjadi
sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi nyeri disebut sebagai
system nosiseptif. Sensitifitas dari komponen system nosiseptif dapat dipengaruhi oleh
sejumlah factor dan berbeda diantara individu.
Tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang sama mengalami intensitas
nyeri yang sama. Sensasi sangat nyeri bagi seseorang mungkin hampir tidak terasa bagi
orang lain.
B. SARAN
Mahasiswa keperawatan dan seseorang yang profesinya sebagai perawat diharapkan
mampu memahami dan menguasai berbagai hal tentang LBP seperti etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, dan lainnya, serta asuhan keperawatan yang tepat bagi
pasien yang menderita LBP, agar gangguan pada daerah punggung bawah ini dapat
teratasi dengan baik.









24

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Edisi 8, Volume 1, EGC, Jakarta, 2002
Suryati, A, Nuraini, S. 2006. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. Vol.2. Jakarta
http://www.neurology.multiply.com/journal/item/24 diakses pada tanggal 25 Januari 2014 jam
15:00
http://www.emedicine.com/neuro/topic516.htm diakses pada tanggal 25 Januari 2014 jam
15:10