Anda di halaman 1dari 16

1

Ketuban Pecah Dini



Nur Faiqah binti Abdul Rahman
NIM: 102009285

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email: azzahra62@yahoo.com.my

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup ke
dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. Ukuran keberhasilan
suatu pelayanan kesehatan tercermin dari penurunan angka kematian ibu sampai pada
batas angka terendah yang dapat dicapai sesuai dengan kondisi dan situasi setempat serta
waktu.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan
dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan. Ketuban pecah dini
merupakan masalah penting dalam bidang kesehatan yang berkaitan dengan penyulit
2

kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis, serta
menyebabkan infeksi pada ibu yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan
mortalitas ibu dan bayi. Ketuban pecah dini kemungkinan besar menimbulkan risiko
tinggi infeksi dan bahaya kompresi tali pusat, maka dalam penatalaksanaan perawatannya
dianjurkan untuk pemantauan ibu maupun janin dengan ketat.
KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan
mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi.
Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat
kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama,
dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada
pengelolaan konservatif .

1.2. Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan suatu gambaran, penjelasan yang
lebih mendalam mengenai kelaianan ketuban pecah dini (KPD). Diharapkan masyarakat
dapat melakukan pencegahan dan pengobatan dini dengan cara yang tepat.
1.3. Skenario
Ny. BCL G2P1 umur 27 tahun dengan kehamilan 8 bulan, datang ke UGD dengan
keluhan keluar cairan banyak dari vagina sejak 8 jam yang lalu disertai nyeri perut dan
pinggang bawah. Pada pemeriksaan didapat: Keadaan umum baik, Tekanan darah 130/85
mmHg, Nadi 76x/menit, Pernapasan 20x/menit, fundus uteri 3 jari diatas pusat,
konsistensi unterus lunak kenyal, letak anak memanjang, kepala dibawah, belum masuk
panggul, kontraksi uterus negatif.



3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Anamnesis
1
Anamnesis pada pasien dengan ketuban pecah dini boleh dilakukan secara auto anamnesis.
Anamnesis dimulakan dengan bertanyaan beberapa pertanyaan secara umum yaitu:
- Keluhan Utama
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat penyakit dahulu yang berhubungnan dengan penyakit sekarang
- Riwayat pemakaian obat-obatan
- Riwayat penyakit keluarga
Kemudian, beberapa pertanyaan khusus yang dapat ditanyakan pada pasien dengan kondisi
Ketuban Pecah Dini:
- Adakah pasien merasa basah pada vagina atau mengeluarkan cairan yang banyak secara
tiba-tiba dari jalan lahir.
- Adakan cairan berbau khas
- Apakah warna keluarnya cairan tersebut
- Adakah his pasien belum teratur atau belum ada
- Apakah belum ada pengeluaran lendir darah.
2.2. Pemeriksaan
2.2.1 Fisik
1,2
Inspeksi
Inspeksi dilakukan dengan pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya
cairan dari vagina. Sekiranya ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih
banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
4

Pemeriksaan dengan spekulum.
Dengan menggunakan spekulum, pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium
uteri eksternum. Kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita
diminta batuk, mengejan atau mengadakan manuver valsava, atau bagian terendah
digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik
anterior.
Pemeriksaan dalam
Pada pemeriksaan dalam, didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah
tidak ada lagi. Perlu dipertimbangkan mengenai pemeriksaan dalam vagina
dengan tocher , pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan
(tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam). Karena pada waktu pemeriksaan dalam,
jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang
normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan
dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD sudah dalam persalinan atau yang
dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sesedikit mungkin.
2.2.2 Pemeriksaan Penunjang
3,4
Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya.
Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret
vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna,
tetap kuning.
Uji Tes Lakmus (tes Nitrazin)
Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban
(alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes
yang positif palsu.
5

Uji Mikroskopik (tes pakis)
Dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan
mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum
uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering
terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion.
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada
umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.
2.3. Diagnosa
Working Diagnosis: Ketuban Pecah Dini
1,3,4
Apa yang didefinisikan dengan Ketuban Pecah Dini(KPD) adalah ketuban yang pecah
sebelum persalinan dimulai. Apabila terjadi sebelum kehamilan aterm maka lebih banyak
masalah daripada bila terjadi pada kehamilan saat aterm.
Prinsip Dasar:
- 60-70% ketuban pecah dini (KPD) berhubungan dengan infeksi.
- Air ketuban berfungsi untuk memberi ruang kepada janin untuk bergerak sehingga
tidak terjadi flaksiditas otot ekstrimitas dan berkembangnya paru.
- Air ketuban penting untuk menghilangkan friksi kinetik yang terjadi pada persalinan
akibat tidak bullet shape nya janin.
- Pada kehamilan preterm pecahnya ketuban akan merangsang persalinan dan kelahiran
(50% persalinan preterm dengan KPD akan berakhir dengan kehamilan)



6

Klasifikasi KPD
5
:
1. Ketuban pecah prematur yaitu pecahnya membran khorio-amniotik sebelum onset
persalinan atau disebut juga Premature Rupture Of Membrane = Prelabour Rupture Of
Membrane = PROM. Insiden PROM adalah 6-19% kehamilan.
2. Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya membran Chorio-amniotik
sebelum onset persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau disebut juga
Preterm Premature Rupture Of Membrane = Preterm Prelabour Rupture Of Membrane =
PPROM. Insiden PPROM adalah 2% kehamilan.
Differential Diagnosis : Inkontinensia Urin
Pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup banyak
sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial
2.4. Manifestasi Klinik
4,5
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma
air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih
merembes atau menetes. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus
diproduksi sampai kelahiran. Demam, takikardia pada ibu dan janin, bercak vagina yang
banyak, nyeri perut merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
2.5. Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui
dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor
yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit
diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predisposisi adalah
6
:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun ascenden dari
vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
Penelitian menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama ketuban pecah dini.
7

2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, kuretase).
3. Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus)
misalnya tumor, hidramnion, gemelli.
4. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab
terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan
dalam, maupun amnosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya
disertai infeksi
5. Kelainan letak misalnya lintang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
6. Keadaan sosial ekonomi yang berhubungan dengan rendahnya kualitas perawatan
antenatal, penyakit menular seksual misalnya disebabkan oleh Chlamydia
trachomatis dan Neischeria gonorhoe.
7. Penyebab dari KPD tidak atau masih belum diketahui secara jelas maka usaha
preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi.
8. Faktor lain yaitu: Faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun
faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang
menjadi faktor predesposisi adalah faktor yang berhubungan dengan
meningkatnya insidensi KPD antara lain :
a. Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal
b. Inkompetensi serviks
c. Infeksi vagina/serviks
d. Kehamilan ganda
e. Polihidramnion
f. Trauma
g. Distensi uteri
h. Stress maternal
i. Stress fetal
j. Infeksi
k. Serviks yang pendek
8

l. Prosedur medis


2.6. Epidemiologi

Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang
bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 10 % dari semua kehamilan. Hal yang
menguntungkan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak terjadi
pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 %,
sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi
sekitar 34 % semua kelahiran prematur.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan, dan
mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang kurang
bulan. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat kompleks,
bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan RDS.
7
Faktor risiko untuk terjadinya Ketuban Pecah Dini adalah berkurangnya asam askorbik
sebagai komponen kolagen, kekurangan tembaga dan asam askorbik yang mengakibatkan
pertumbuhan struktur abnormal, antara lainnya merokok.

2.7. Patofisiologi
Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang
sangat erat ikatannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti sel epitel, sel mesenkim
dan sel trofoblas yang terikat erat dalam matriks kolagen. Selaput ketuban berfungsi
menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi. Dalam keadaan normal,
selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Pecahnya selaput ketuban berkaitan
dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam kolagen matriks ekstraselular
amnion, korion dan apoptosis membrane janin. Membran janin dan desidua bereaksi
9

terhadap stimuli seperti infeksi dan peregangan selaput ketuban dengan memproduksi
mediator seperti prostaglandin, sitokinin dan protein hormone yang merangsang aktivitas
matrix degrading enzyme.
8,9
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan
peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi
perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena
seluruh selaput ketuban rapuh. Terdapat keseimbangan antara sintesis dan degradasi
ekstraselular matriks. Perubahan struktur, jumlah sel dan katabolisme kolagen
menyebabkan aktivitas kolagen berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah.
Faktor risiko untuk terjadinya Ketuban Pecah Dini adalah berkurangnya asam askorbik
sebagai komponen kolagen, kekurangan tembaga dan asam askorbik yang mengakibatkan
pertumbuhan struktur abnormal, antara lainnya merokok.
Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metalloproteinase (MMP) yang dihambat oleh
inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease. Bila mendekati waktu persalinan,
keseimbangan antara MMP dengan tissue inhibitor of metalloproteinase-1 (TIMP-1)
mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks ekstraselular dan membran janin.
Aktivitas degradasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Selaput kehamilan
sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester ketiga selaput ketuban mudah pecah.
Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan pembesaran uterus,
kontraksi rahim dan gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia
pada selaput ketuban memudahkan terjadinya Ketuban Pecah Dini.
5
2.8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kehamilan dengan komplikasi ketuban pecah dini perlu
mempertimbangkan morbiditas dan mortalitas immaturitas neonatal yang berhubungan
dengan persalinan dan risiko infeksi terhadap ibu dan janin.

1. Medika Mentosa
9

Kortikosteroid
10

Pemberian kortikosteroid dapat menekan morbiditas dan mortalitas perinatal pasca
ketuban pecah dini preterm. Kortikosteroid juga menekan risiko terjadinya sindrom
distress pernafasan ( 20 35,4% ), hemoragi intraventrikular ( 7,5 15,9% ),
enterokolitis nekrotikans ( 0,8 4,6% ). Rekomendasi sebagian besar menggunakan
betamethason ( celestone ) intramuscular 12 mg setiap 24 jam selama 2 hari. National
Institute of Health merekomendasikan pemberian kortikosteroid sebelum masa gestasi 30
23 minggu, dengan asumsi viabilitas fetus dan tidak ada infeksi intra amniotik.
Pemberian kortikosteroid setelah masa gestasi 34 minggu masih controversial dan tidak
direkomendasikan kecuali ada bukti immaturitas paru melalui pemeriksaan
amniosentesis.

Antibiotik
Pemberian antibiotic pada pasien ketuban pecah dini dapat menekan infeksi neonatal dan
memperpanjang periode latensi. Sejumlah antibiotik yang digunakan meliputi ampisilin 2
gram dengan kombinasi eritromisin 250 mg setiap 6 jam selama 48 jam, diikuti
pemberian amoksisilin 250 mg dan eritromisin 333 mg setiap 8 jam untuk lima hari.
Pasien yang mendapat kombinasi ini dimungkinkan dapat mempertahankna kandungan
selama 3 minggu setelah penghentian pemberian antibiotik setelah 7 hari.

Agen Tokolitik
Pemberian agent tokolitik diharapkan dapat memperpanjang periode latensi namun tidak
memperbaiki luaran neonatal. Tidak banyak data yang tersedia mengenai pemakaian agen
tokolitik untuk ketuban pecah dini. Pemberian agen tokolitik jangka panjang tidak
diperkenankan dan hingga kini masih menunggu hasil penelitian lebih jauh.

2. Penatalaksanaan berdasarkan masa gestasi
2,5,6

Masa gestasi dibawah 24 minggu.
Sebagian besar pasien akan mengalami persalinan dalam 1 minggu bila terjadi ketuban
pecah dini dengan periode latensi sekitar 6 hari , dan sebagian besar yang lahir biasanya
mengalami banyak masalah seperti penyakit paru kronik, gangguan neurology dan
11

perkembangan, hidrosefalus dan cerebral palsy. Sekitar 50% janin dengan ketuban pecah
dini pada minggu ke 19 akan mengalami sindrom Potter, 25% pada mereka yang lahir di
minggu ke 22 dan 10% pada mereka yang lahir setelah maa gestasi 26 mingu. Pasien
harus mendapat konseling mengenai manfaat dan risiko penatalaksanaan akan
kemungkinan bayi tidak dapat bertahan secara normal.

Masa gestasi 24 31 minggu
Persalinan sebelum masa gestasi 32 memicu morbiditas dan mortalitas neonatal berat.
Bila tidak dijumpai infeksi intraamniotik maka kehamilan diupayakan dipertahankan
hingga 34 minggu. Bila ada infeksi intraamniotik maka pasien akan melahirkan dalam
waktu 1 minggu. Klinisi harus memberikan kortikosteroid dan antibiotik serta melakukan
penilaian menyeluruh mengenai keadaan janin melalui monitoring fetal dan
ultrasonografi. Pemberian kortikosteroid pada masa gestasi 24 -28 minggu tidak banyak
bermanfaat.

Masa gestasi 32 33 minggu
Biasanya Mengalami masalah dengan maturitas paru-paru, induksi persalinan dan
penanganan bayi premature harus segera direncanakan. Upaya mempertahankan
kehamilan lebih lama setelah maturitas paru akan meningkatkan risiko amnionitis
maternal, kompresi umbilical cord, rawat inap yang makin lama dan infeksi neonatal.

Masa gestasi 34 36 minggu
Biasanya klinisi menghindari upaya memperlama kehamilan. Sebuah studi menunjukan
bahwa penatalaksanaan konservatif antara masa gestasi 34 hingga 36 minggu akan
meningkatkan risiko korioamnititis. Walaupun kortikosteroid tidak diindikasikan untuk
kehamilan lewat 34 minggu, pemberian antibiotik tetap dilakukan sebagai profilaksis
infeksi streptococcus group B dan fasilitasi penanganan neonatus perematur harus
disiapkan segera. Ketuban pecah dini preterm atau perterm PROM bukan merupakan
kontraindikasi persalinan pervaginam.


12

2.9. Komplikasi
Bergantung kepada usia kehamilan. Dapat terjadi infeksi maternal maupun janin, persalinan
prematur, hipoksia karena kompressi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya risiko
insiden sectio caessserian, atau gagal persalinan normal
7
1. Infeksi intrauterin
Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Petuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi
koriomnitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, penumonia, omfalitis. Umumnya, terjadi
korioamnionitis sebelum terinfeks. Pada KPD prematur infeksi lebih sering daripada
aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan
lamanya periode laten
2. Prematuritas
Setelah ketuban pecah, biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung
umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah.
Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan
kurang 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
3. Deformitas janin
Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat,
kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonar.
4. Hipoksia dan Asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi
asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan
oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
5. Tali pusat menumbung
6. Distosia (partus kering)
13


2.10. Preventif
10
1. Pencegahan primer
Untuk mengurangi terjadinya pecah ketuban dini, dianjurkan bagi ibu hamil untuk
mengurangi aktivitas pada akhir trimester kedua dan awal trimester ke tiga, serta
tidak melakukan kegiatan yang membahayakan kandungan selama kehamilan.
2. Pencegahan sekunder
- Mencegah infeksi intrapartum
- Antibiotika spektrum luas : gentamicin iv 2 x 80 mg, ampicillin iv 4 x 1 mg,
amoxicillin iv 3 x 1 mg, penicillin iv 3 x 1.2 juta IU, metronidazol drip.
- Pemberian kortikosteroid : kontroversi. Di satu pihak dapat memperburuk
keadaan ibu karena menurunkan imunitas, di lain pihak dapat menstimulasi
pematangan paru janin (surfaktan). Di RSCM diberikan, bersama dengan
antibiotika spektrum luas. Hasil cukup baik.
2.11. Prognosis
1. Prognosis Ibu
11

a. Infeksi intrapartal/dalam persalinan
Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang
selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas

b. Infeksi puerperalis/ masa nifas

c. Dry labour/Partus lama

d. Perdarahan post partum

e. Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC)

14

f. Morbiditas dan mortalitas maternal

2. Prognosis Janin
a. Prematuritas
Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah
respiratory distress sindrome, hypothermia, neonatal feeding problem, retinopathy
of premturity, intraventricular hemorrhage, necrotizing enterocolitis, brain
disorder (and risk of cerebral palsy), hyperbilirubinemia, anemia, sepsis.

b. Prolaps funiculli/ penurunan tali pusat

c. Hipoksia dan Asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi)
Mengakibatkan kompresi tali pusat, prolaps uteri, dry labour/pertus lama, apgar
score rendah, ensefalopaty, cerebral palsy, perdarahan intrakranial, renal failure,
respiratory distress.

d. Sindrom deformitas janin
Terjadi akibat oligohidramnion. Diantaranya terjadi hipoplasia paru, deformitas
ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT).

e. Morbiditas dan mortalitas perinatal










15

BAB III
PENUTUP
Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara dunia luar dan ruagan dalam
rahim sehingga memudahnya terjadi infeksi asenden. Salah satu fungsi selaput ketuban adalah
melindungi atau menjadi pembatas dunia luar dan ruagan dalam rahim sehingga mengurangi
kemungkinan infeksi. Makin lama periode laten, makin besar kemungkinan infeksi dalam rahim,
persalinan prematuritas dan selanjutnya meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu dan
atau janin dalam rahim.
Protokol pengelolaan yang optimal harus memprtimbangkan 2 hal tersebut di atas dan
faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan.
Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua kasus KPD, tetapi harus
ada panduan pengelolaan yang strategis, yang dapat mengurangi mortalitas perinatal dan dapat
menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maupun pada ibu.










16

DAFTAR PUSTAKA
1. Ketuban Pecah Dini. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan edisi keempat 2008.
Halaman 675- 82
2. Cunningham, F.G., Et all. 2005. William Obstetrics, 22nd edition. Chapter 21 Disorders
of Aminic Fluid Volume. Pages 525-533. USA : McGRAW-HILL
3. Preterm Rupture Membrane. Kenneth J, F.Gary et all. William Manual of Obstetrics 22
nd

edition. Page 209-10
4. Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG. Ilmu kebidanan, Penyakit kandungan &
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta ECG; h 230
5. Kenneth J. Leveno,F. Gary Cunningham, Norman F. Gant, James M. Alexander, Steven
L. Bloom, Brian M. Casey, Jodi S. Dashe, Jeanne S. Sheffield, Nicole P. Yost. Obstetri
Williams Panduan Ringkas. Edisi 21. Jakarta ECG, 2009 ;h 469
6. Prof . dr. I.B.G. Manuaba, Sp.OG, dr, I.A. Chandranita Manuaba, Sp.OG, dr. I.B.G Fajar
Manuaba, Sp.OG Penghantar Kuliah Obstetri. Jakarta ECG, 2007; h 457-8
7. Manuaba I.B.G, Chandranita Manuaba I.A, Fajar Manuaba I.B.G.(eds) Pengantar Kuliah
Obstertri. Bab 5: Penyulit Yang Menyertai Kehamilan ,Bab 6: Komplikasi Umum Pada
Kehamilan. Ketuban Pecah Dini. Cetakan Pertama. Jakarta. Penerbit EGC. 2007; p 229-
32,456-60.
8. I.B.G. Manuaba, I.A. Chandranita Manuaba, I.B.G. Fajar Manuaba. Pengantar Kuliah
Obstetri. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007; h. 456-60.
9. Benzion Taber. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2001; h. 368-73.
10. Ketuban pecah dini. Diunduh dari: http://www.bayisehat.com/pregnancy-mainmenu-
39/182-ketuban-pecah-dini-kpd.html 25 Mei 2012
11. Ketuban Pecah Dini. DIunduh dari: http://3rr0rists.net/medical/ketuban-pecah-dini.html
25 Mei 2012