Anda di halaman 1dari 20

PERLINDUNGAN KONSUMEN

(KUH Perdata, UU No.8/1999 Tentang Perlindungan Konsumen)


disusun untuk mememenuhi Tugas mata kuliah
Hukum Komersial
disusun oleh :
Anggi Octavia Irawan (2013023840)
Evanti Andriani (2013023841)

PENDIDIKAN PROFESI AKUNANSI
FAKU!AS EKONO"I DAN #ISNIS
UNI$ERSIAS #RA%I&A'A
"A!AN(
2014
PENDAHULUAN
Perkembangan perekonomian, perdagangan, dan perindustrian yang kian hari kian
meningkat telah memberikan efek yang luar biasa terhadap reaksi konsumen karena ada beragam
variasi produk barang dan jasa yang bisa dikonsumsi. Perkembangan globalisasi dan
perdagangan besar didukung oleh teknologi informasi dan telekomunikasi yang memberikan
ruang gerak yang sangat bebas dalam setiap transaksi perdagangan, sehingga barang/jasa yang
dipasarkan bisa dengan mudah diakses. Secara positif, peluang usaha dari setiap transaksi
perdagangan ini diharapkan dapat mendorong sektor ekonomi makro menjadi semakin maju
sehingga mampu meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat Indonesia seperti halnya yang
diharapkan dalam tujuan negara yang tertuang pada pembukaan UUD !"#, yakni meningkatkan
kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Dengan adanya peningkatan peluang usaha didunia modern ini, maka barang dan jasa
sebagai komoditi utama tentu akan semakin berkembang pula. $amun demikian, barang dan jasa
sebagai hal unsur dalam transaksi ekonomi tersebut membuka peluang kepada munculnya
kemungkinan kerugian yang dialami oleh konsumen sebagai bagian dari kecurangan, kelalaian,
ataupun kesengajaan pihak pelaku usaha. %ondisi ini memunculkan pemahaman pada perlunya
perlindungan terhadap konsumen sebagai pihak yang sering kali dirugikan oleh ulah pelaku
usaha yang &nakal' tersebut.
(asalah perlindungan konsumen semakin gencar dibicarakan. Permasalahan ini tidak
akan pernah habis dan akan selalu menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Selama masih
banyak konsumen yang dirugikan, masalahnya tidak akan pernah tuntas. )leh karena itu,
masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan. *ak konsumen yang diabaikan oleh pelaku
usaha perlu dicermati secara seksama. +ika tidak berhati,hati dalam memilih produk barang/jasa
yang diinginkan, konsumen hanya akan menjadi objek eksploitas dari pelaku usaha yang tidak
bertanggung ja-ab. .anpa disadari, konsumen menerima begitu saja barang/jasa yang
dikonsumsinya.
(asalah perlindungan konsumen nampaknya memang belum menjadi perhatian khusus
baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat luas sebagai konsumen. Sebelum perlindungan
konsumen secara tegas dikenal dan berkembang pengertian konsumen lebih cenderung identik
dengan pengertian masyarakat dalam perkembangan hal,hal yang menyangkut masalah industri,
perdagangan, kesehatan dan keamanan. *al,hal tersebut diatas pada akhirnya melahirkan sebuah
peraturan tentang Perlindungan %onsumen /UU $o.0 .ahun !!!1 2.$. .ahun !!! $o. "34.
5una memenuhi butir,butir falsafah tersebut, UU $o.0 .ahun !!! menegaskan, bah-a
perlindungan konsumen Indonesia berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan
keselamatan, serta kepastian hukum /pasal 3 dan penjelasan pasal4. Sehingga tergambar bah-a
ratio dari adanya UU Perlindungan %onsumen adalah 6 /a4 (enyeimbangkan daya ta-ar
konsumen terhadap pelaku usaha1 dan /b4 (endorong pelaku usaha untuk bersikap jujur dan
bertanggung ja-ab dalam menjalankan kegiatannya.
UU Perlindungan konsumen lahir sebagai ja-aban atas pembangunan dan perkembangan
perekonomian de-asa ini. %onsumen sebagai motor penggerak dalam perekonomian kerap kali
berada dalam posisi lemah atau tidak seimbang bila dibandingkan dengan pelaku usaha dan
hanya menjadi alat dalam aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang sebesar,besarnya oleh
pelaku usaha. 7erdasarkan Penjelasan umum atas Undang,undang 8epublik Indonesia $omor 0
.ahun !!! disebutkan bah-a faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen dalam
perdagangan adalah tingkat kesadaran konsumen masih amat rendah yang selanjutnya diketahui
terutama disebabkan oleh rendahnya pendidikan konsumen. (engacu pada hal tersebut, UU
Perlindungan %onsumen diharapkan menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan
lembaga perlindungan konsumen s-adaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan
konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen. Sehingga diharapkan segala
kepentingan konsumen secara integratif dan komprehensif dapat dilindungi yang pada akhirnya
dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat Indonesia.
PEMBAHASAN
Perangkat Hukum di Indonesia
UU Perlindungan %onsumen $omor 0 .ahun !!! .entang Perlindungan
%onsumen 8epublik Indonesia menjelaskan bah-a hak konsumen diantaranya adalah hak atas
kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa1 hak untuk
memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan
nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan1 hak untuk diperlakukan atau dilayani
secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif1 hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi
dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian
atau tidak sebagaimana mestinya dan sebagainya. Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan
seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah /menurut 9ikipedia4 6
, Undang Undang Dasar !"# Pasal # ayat /4, pasal 3 ayat /4, Pasal 3 ayat /4, Pasal 3: ,
dan Pasal ;;.
, Undang Undang $o. 0 .ahun !!! .entang Perlindungan %onsumen /2embaran $egara
8epublik Indonesia tahun !!! $o. "3 .ambahan lembaran $egara 8epublik Indonesia $o.
;03
, Undang Undang $o. # tahun !!! .entang 2arangan Praktek (onopoli dan Persaingan
Usaha Usaha .idak Sehat.
, Undang Undang $o. ;< .ahun !!! .entang =rbritase dan =lternatif Penyelesian Sengketa
, Peraturan Pemerintah $o. #0 .ahun 3<< tentang Pembinaan Penga-asan dan
Penyelenggaraan Perlindungan %onsumen
, Surat >daran Dirjen Perdagangan Dalam $egeri $o. 3;#/D+PD$/?II/3<< .entang
Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/%ab/%ota
, Surat >daran Direktur +enderal Perdagangan Dalam $egeri $o. :!# /D+PD$/S>/3/3<<#
tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan %onsumen.
A. PENGERTIAN
(enurut Pasal Undang,undang $o. 0 tahun !!! tentang Perlindungan %onsumen,
pengertian dari 6
Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
onsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun
makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Pelaku usa!a adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam -ilayah hukum negara 8epublik
Indonesia, baik sendiri maupun bersama,sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
HUUM PERLINDUNGAN "NSUMEN
Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur dan melindungi
konsumen dalam hubungan dan masalahnya dengan para penyedia barang dan/ atau
jasa konsumen.
1
A#as Dan Tu$uan
Perlindungan konsumen berdasarkan manaat! keadilan! keseimbangan! keamanan dan
keselamatan konsumen! serta kepastian hukum.
"
Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan # /lima4
asas yang relevan dalam pembangunan nasional yaitu6
. =@as (anfaat
(engamanatkan bah-a segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen harus memberikan manfaat sebesar,besarnya bagi kepentingan
konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
1
Undang,undang no. 0 tahun !!! tentang Perlindungan %onsumen
2
Undang,undang no. 0 tahun !!! tentang Perlindungan %onsumen Pasal 3
3. =@as %eadilan
Partisipasi seluruh rakyat dapat di-ujudkan secara maksimal dan memberikan
kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan
melaksanakan ke-ajibannya secara adil.
;. =@as %eseimbangan
(emberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan
pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.
". =@as %eamanan dan %eselamatan %onsumen
(emberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi
atau digunakan.
#. =@as %epastian *ukum
7aik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan
dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian
hukum.
Perlindungan konsumen bertujuan untuk
;
6
a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri
b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa
c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan
menuntut hak,haknya sebagai konsumen
d. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi
e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung ja-ab dalam
berusaha
f. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan konsumen.
B. HA DAN E%A&IBAN "NSUMEN DAN PELAU USAHA
3
UU $o.0 .ahun !!! tentang Perlindungan %onsumen Pasal ;
7erdasarkan UU no. 0 tahun !!! Pasal " dan #, hak dan ke-ajiban konsumen, antara
lain dijelaskan sebagai berikut.
*ak konsumen meliputi6
a4 *ak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa.
7agi konsumen hak ini harus mencakup perspektif keyakinan aspek kesehatan
secara fisik, dan dari perspektif keyakinan/ ajaran agama tertentu.
b4 *ak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
(erupakan kebebasan konsumen dalam memilih barang dan jasa yang
dibutuhkan. )leh karena itu, barang yang beredar di pasar haruslah terdiri dari
beberapa merek untuk suatu barang, agar konsumen dapat memilih.
c4 *ak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
7isa dipenuhi dengan cara antara lain, melalui diskripsi barang menyangkut harga
dan kualitas atau kandungan barang dan tidak hanya terbatas informasi pada satu
jenis produk, tetapi juga informasi beberapa merek untuk produk sejenis, dengan
demikian konsumen bisa membandingkan antara satu merek dengan merek lain
untuk produk sejenis.
d4 *ak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan.
=da dua instrumen dalam mengakomodir hak untuk didengar6 Pertama,
Pemerintah melalui aturan hukum tertentu dalam bentuk hearing secara terbuka
dengan konsumen1 %edua, melalui pembentukan organisasi konsumen s-asta
dengan atau tanpa dukungan pemerintah. *ak untuk didengar menuntut adanya
organisasi konsumen yang me-akili konsumen.
e4 *ak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Dengan hak ini, konsumen mendapat perlindungan hukum yang efektif dalam
rangka mengamankan implementasi ketentuan perlindungan konsumen dan
menjamin keadilan sosial, daoat dipenuhi dengan cara 6
4 %onsultasi hukum, diberikan pada konsumen menengah ke ba-ah. 7entuk
kegiatan ini dapat dilakukan oleh organisasi konsumen dan atau instansi
pemerintah yang mengurusi perlindungan
34 (enggunakan mekanisme tuntutan hukum secara kolektif /class action4
;4 =danya keragaman akses bagi konsumen individu berupa tersedianya lembaga
penyelesaian sengketa konsumen, baik yang didirikan oleh pemerintah berupa
7adan Penyelesaian Sengketa %onsumen /7PS%4 di setiap pemerintah kota.
f4 *ak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
Definisi dasar hak ini adalah konsumen harus berpendidikan secukupnya, dapat
dilakukan baik melalui kurikulum dalam pendidikan formal maupun melalui
pendidikan informal yang dilakukan oleh lembaga s-adaya masyarakat yang
bergerak di bidang perlindungan konsumen. Pemenuhan hak untuk mendapat
pendidikan juga menjadi kontribsi dan tanggung ja-ab pelaku usaha.
g4 *ak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
7erdasar suku, agama, budaya, daerah, pendidikan, kaya, miskin dan status sosial
lainnya, hak untuk mendapatkan konpensasi, ganti rugi dan/atau penggantian
apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau
tidak sebagaimana mestinya, dan hak,hak yang diatur dalam ketentuan pertauran
perundangan lainnya.
h4 *ak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya.
(endapatkan ganti rugi harus dipenuhi oleh pelaku usaha atas kerusakan,
pencemaran dan atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan jasa
yang dihasilkan atau diperdagangkan si pelaku usaha tersebut.
7entuk ganti rugi dapat berupa6
4 pengembalian uang
34 penggantian barang dan atau jasa yang sejenis atau setara nilainya
;4 pera-atan kesehatan dan atau pemberian santunan /pasal ! =yat /34
UUP%4
i4 *ak,hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang,undangan lainnya.
selain hak,hak yang ada dala UU P%, dalam UU lain juga diatur hak,hak
konsumen, seperti UU %esehatan. )leh karen itu dimungkinkan adanya hak
konsumen tambahan sesuai dengan tipikal sektor masing,masing
%e-ajiban konsumen antara lain 6
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara
patut.
HA PELAU USAHA DALAM PASAL ' UUP
Seperti halnya konsumen, pelaku usaha juga memiliki hak dan ke-ajiban. *ak pelaku
usaha sebagaimana diatur dalam Pasal A UU $o. 0 .ahun !!! Undang,Undang
Perlindungan %onsumen adalah6
a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan
b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad
tidak baik
c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen
d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bah-a kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan
e. hak,hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang,undangan lainnya.
E%A&IBAN PELAU USAHA DALAM PASAL ( UUP
Sedangkan ke-ajiban pelaku usaha menurut ketentuan Pasal : UU $o. 0 .ahun !!!
Undang,Undang Perlindungan %onsumen adalah6
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya
b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan
c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif
d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang
dibuat dan/atau yang diperdagangkan
f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan
g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau
jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
PERBUATAN )ANG DILARANG BAGI PELAU USAHA
Pada UU $o. 0 .ahun !!! Pasal 0 sampai dengan Pasal : dijelaskan mengenai
perbuatan hukum yang diarang bagi pelaku usaha, antara lain 6
. Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau
jasa yang /pasal 04 6
a4 tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang,undangan
b4 tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam
hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut
c4 tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya
d4 tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistime-aan atau kemanjuran
sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau
jasa tersebut
e4 tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya,
mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut
f4 tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan
atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut
g4 tidak mencantumkan tanggal kadalu-arsa atau jangka -aktu penggunaan/
pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu
h4 tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan
BhalalB yang dicantumkan dalam label
i4 tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal
pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan
lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/ dibuat
j4 tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang,undangan yang berlaku.
3. Pelaku usaha dilarang mena-arkan, memproduksikan, mengiklankan suatu barang
dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah,olah /pasal !46
a4 barang tersebut telah memenuhi dan/atau memiliki potongan harga, harga
khusus, standar mutu tertentu, gaya atau mode tertentu, karakteristik tertentu,
sejarah atau guna tertentu
b4 barang tersebut dalam keadaan baik dan/atau baru
c4 barang dan/atau jasa tersebut telah mendapatkan dan/atau memiliki
sponsor,persetujuan, perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri,ciri kerja
atau aksesori tertentu
d4 barang dan/atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan yang mempunyai
sponsor,persetujuan atau afiliasi
e4 barang dan/atau jasa tersebut tersedia
f4 barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi
g4 barang tersebut merupakan kelengkapan dari barang tertentu
h4 barang tersebut berasal dari daerah tertentu
i4 secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain1
j4 menggunakan kata,kata yang berlebihan, seperti aman, tidak berbahaya, tidak
mengandung risiko atau efek sampingan tampak keterangan yang lengkap
k4 mena-arkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.
;. Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang,
dilarang mengelabui/ menyesatkan konsumen dengan /pasal 46
a. (enyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah,olah telah memenuhi standar
mutu tertentu
b. (enyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah,olah tidak mengandung cacat
tersembunyi
c. .idak berniat untuk menjual barang yang dita-arkan melainkan dengan
maksud untuk menjual barang lain
d. .idak menyediakan barang dalam jumlah tertentu dan/atau jumlah yang cukup
dengan maksud menjual barang yang lain
e. .idak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup
dengan maksud menjual jasa yang lain
f. (enaikkan harga atau tarif barang dan/atau jasa sebelum melakukan obral.
". Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan, misalnya /pasal :4 6
a. (engelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan, dan
harga mengenai atau tarif jasa, serta ketepatan -aktu penerimaan barang jasa.
b. (engelabui jaminan / garansi terhadap barang atau jasa.
c. (emuat informasi yang keliru, salah atau tidak tepat mengenai barang atau
jasa.
d. .idak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang atau jasa.
e. (engeksploitasi kejadian atau seseorang tanpa sei@ing yang ber-enang atau
persetujuan yang bersangkutan.
f. (elanggar etika atau ketentuan peraturan perundang,undangan mengenai
periklanan.
LAUSULA BAU DALAM PER&AN&IAN
Sehubungan dengan perlindungan terhadap konsumen, yang perlu mendapat perhatian
utama dalam perjanjian baku adalah mengenai klausula eksonerasi /e#oneratie klausule
e#emption $lausule4 yaitu klausula yang berisi pembebasan atau pembatasan
pertanggungja-aban dari pihak pelaku usaha yang la@imnya terdapat dalam jenis perjanjian
tersebut.
(enurut Pasal 0 =yat /4 menyebutkan mengenai klausula,klausula yang dilarang
dicantumkan dalam suatu perjanjian baku yaitu6
menyatakan pengalihan tanggung ja-ab pelaku usaha
menyatakan bah-a pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang
dibeli konsumen
menyatakan bah-a pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang
dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen
menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang
berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran
mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan
jasa yang dibeli oleh konsumen
memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi
harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa
menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,
tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku
usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya
menyatakan bah-a konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk
pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang
dibeli oleh konsumen secara angsuran.
Dalam penjelasan Pasal 0 ayat /4 Undang,Undang Perlindungan %onsumen
menyebutkan tujuan dari larangan pencantuman klausula baku yaitu C2arangan ini dimaksudkan
untuk menempatkan kedudukan konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan prinsip
kebebasan berkontrakD sehingga diharapkan dengan adanya Pasal 0 ayat /4 Undang,Undang
Perlindungan %onsumen akan memberdayakan konsumen dari kedudukan sebagai pihak yang
lemah di dalam di dalam kontrak dengan pelaku usaha sehingga menyetarakan kedudukan pelaku
usaha dengan konsumen.
Sesuai dengan Pasal 0 ayat /34 disebutkan bah-a pelaku usaha dilarang mencantumkan
klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau
yang pengungkapannya sulit dimengerti. Pencantuman klausula baku tersebut dapat berupa
tulisan kecil,kecil yang diletakkan secara samar atau letaknya ditempat yang telah diperkirakan
akan terle-atkan oleh pembaca dokumen perjanjian tersebut, sehingga saat kesepakatan tersebut
terjadi konsumen hanya memahami sebagian kecil dari perjanjian tersebut. =rtinya perjanjian
tersebut hanya dibaca sekilas, tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya, yang
membuat konsumen sering tidak tahu apa yang menjadi haknya.
TANGGUNG &A%AB PELAU USAHA
(enurut UU $o. 0 .ahun !!! Pasal !, dijelaskan mengenai tanggungja-ab pelaku usaha
6
. Pelaku Usaha bertanggung ja-ab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran,
dan/ atau kerugian konsumen akibat mengkomsumsi barang dan atau jasa yang
dihasilkan atau diperdagangkan.
3. 5anti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat /4 dapat berupa pengembalian uang atau
penggantian barang dan/ atau jasa yang sejenis atau secara nilainya, atau pera-atan
kesehatan dan/ atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang,undangan yang berlaku.
;. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang -aktu : /tujuh4 hari setelah tanggal
transaksi.
". Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat /4 dan ayat /34 tidak
menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih
lanjut mengenai adanya unsur kesalahan. %etentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
/4 dan ayat /34 tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bah-a
kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.D
SANSI BAGI PELAU USAHA TERHADAP PERLINDUNGAN "NSUMEN
Dalam UU $o. 0 tahun !!!, sanksi yang dikenakan pada pelaku usaha secara garis besar
dapat dibagi menjadi 3, yaitu administratif dan pidana.
Sanksi Administrasi *+asal ',- .
maksimal 8p. 3<<.<<<.<<< /dua ratus juta rupiah4, melalui 7PS% jika melanggar Pasal
! ayat /34 dan /;4, 3<, 3#
Sanksi Pidana *+asal '/-.
%urungan 6
. Penjara, # tahun, atau denda 8p. 3.<<<.<<<.<<< /dua milyar rupiah4 /Pasal 0,
!, <, ; ayat /34, #, : ayat /4 huruf a, b, c, dan e dan Pasal 0
3. Penjara, 3 tahun, atau denda 8p.#<<.<<<.<<< /lima ratus juta rupiah4 /Pasal
, 3, ; ayat /4, ", A dan : ayat /4 huruf d dan f
%etentuan pidana lain /di luar Undang,undang $o. 0 .ahun. !!! tentang
Perlindungan %onsumen4 jika konsumen luka berat, sakit berat, cacat tetap atau
kematian
*ukuman tambahan , antara lain /pasal A;46
. Perampasan barang tertentu
3. Pengumuman keputusan *akim
;. Dilarang memperdagangkan barang dan jasa
". *asil Penga-asan disebarluaskan kepada masyarakat .
#. 9ajib menarik dari peredaran barang dan jasa
A. Pencabuttan i@in usaha.
Perlindungan onsumen menurut UH Perdata .
Pada prinsipnya ketentuan yang mengatur perlindungan hukum konsumen dalam aspek
hukum perdata, diatur di dalam Pasal ;3< %U* Perdata dan Pasal ;A# %U* Perdata. Pasal
;3< %U* Perdata mengatur bah-a untuk sahnya perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu
"
6
. %ata sepakat dari mereka yang mengikatkan dirinya /toestemming van dengenen die
@ich verbiden 4
3. %ecakapan untuk membuat suatu perikatan /de bek-aamheid om een verbintenis aan te
gaan4
;. Suatu hal tertentu /een bepaald onder-erp41
". Suatu sebab yang halal /een geloofde oor@aak4.
Sedangkan Pasal ;A# %U* Perdata
#
mengatur syarat,syarat untuk menuntut ganti
kerugian akibat perbuatan melanggar hukum yang menyatakan bah-a tiap perbuatan melanggar
hukum, yang memba-a kerugian kepada orang lain, me-ajibkan orang yang karena salahnya
menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut.
4
*ardiyanto, Sophia. Kitab %ndang-%ndang Hukum Perdata./P..Sofmedia,(edan4 3<;. *al
3A
)
*ardiyanto, Sophia. Kitab %ndang-%ndang Hukum Perdata./P..Sofmedia,(edan43<;. *al
3AA
Di samping itu, undang,undang mengenal pula pertanggungja-aban oleh bukan si pelaku
perbuatan yang mela-an hukum sebagaimana diatur di dalam Pasal ;A: %U* Perdata
A
. Pasal
ini menegaskan bah-a setiap orang tidak saja bertanggung ja-ab atas kerugian yang disebabkan
oleh perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan oleh perbuatan orang,
orang yang menjadi tanggungannya, disebabkan oleh barang,barang atau produkyang berada di
ba-ah penga-asa. Dari pasal ini nampak adanya pertanggung ja-aban seseorang dalam kualitas
tertentu atas pengendalian suatu produk.
Dari sisi kepentingan perlindungan konsumen, terutama untuk syarat &kesepakatan' perlu
mendapat perhatian, sebab banyak transaksi antara pelaku usaha dengan konsumen yang
cenderung tidak balan$e . 7anyak konsumen ketika melakukan transaksi berada pada posisi yang
lemah. Suatu kesepakatan menjadi tidak ada sah apabila diberikan karena kekhilafan, paksaan,
atau penipuan. Selanjutnya untuk mengikatkan diri secara sah menurut hukum ia harus cakap
untuk berbuat menurut hukum, dan oleh karenanya maka ia bertanggung ja-ab atas apa yang
dilakukan.
ASUS Prita Mul0asari1 Hak onsumen Di Perlakukan Tidak Adil
Dalam kasus prita, dari sekian banyaknya korban yang memperjuangkan haknya sebagai
konsumen yang menuntut pertanggungja-abannya dari penyedia jasa. Sebagai konsumen yang
merasakan ketidakpuasan atas pelayanan 8umah Sakit )mni Internasional. Seharusnya Prita
-ajar untuk mengajukan keluhan. Prita Cbukan tanpa hakD untuk menyampaikan keluhannya.
*
*ardiyanto, Sophia. Kitab %ndang-%ndang Hukum Perdata./P..Sofmedia,(edan43<;. *al
3AA
Prita menyampaikan keluh kesahnya pada jejaring sosial di internet, justru malah mendapatkan
tuntutan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.
%asus tersebut bermula saat Prita (ulyasari memeriksakan kesehatannya di 8S Internasional
)mni atas keluhan demam, sakit kepala, mual disertai muntah, kesulitan 7=7, sakit
tenggorokan, hingga hilangnya nafsu makan. )leh dokter rumah sakit, dr.*engky 5osal SpPD
dan dr.5race *er@a Earlen $ela, Prita didiagnosis menderita demam berdarah, atautifus. Setelah
dira-at selama empat hari disertai serangkaian pemeriksaan serta pera-atan, gejala a-al yang
dikeluhkan berkurang namun ditemukan sejenis virus yang menyebabkan pembengkakan pada
leher.Selama masa pera-atan Prita mengeluhkan minimnya penjelasan yang diberikan oleh
dokter atas jenis,jenis terapi medis yang diberikan, disamping kondisi kesehatan yang semakin
memburuk yang diduga akibat kesalahan dalam pemeriksaan hasil laboratorium a-al
menyebabkan kekeliruan diagnosis oleh dokter pemeriksa. Disebabkan karena pengaduan serta
permintaan tertulis untuk mendapatkan rekam medis serta hasil laboratorium a-al yang tidak
dapat dipenuhi oleh pihak rumah sakit Prita kemudian menulis email tentang tanggapan serta
keluhan atas perlakuan yang diterimanya ke sebuah milis.>mail tersebut kemudian menyebar
luas sehingga membuat pihak rumah sakit merasa harus membuat bantahan atas tuduhan yang
dilontarkan oleh Prita ke media cetak serta mengajukan gugatan hukum baik
secara perdata maupun pidana dengan tuduhan pencemaran nama baik.
=sal mulanya adalah tulisan Prita dalam e,mail pribadi kepada rekan,rekannya yang berisi
keluhan terhadap pelayanan 8S yang berlokasi di Serpong, .angerang tersebut. Prita a-alnya
memeriksakan diri pada : =gustus 3<<0 dengan keluhan panas tinggi dan sakit kepala. Ia
ditangani dr. *engky dan dr. Indah, diagnosanya adalah Demam 7erdarah /D74 dan disarankan
ra-at,inap. Semasa ra-at inap, Prita merasakan berbagai kejanggalan seperti terus diberikan
berbagai suntikan tanpa penjelasan apa pun. 7ahkan, tangan, leher dan daerah sekitar mata
mengalami pembengkakan. %etika Prita memutuskan untuk pindah rumah sakit, ia kesulitan
mendapatkan data medis dirinya. Eang dipermasalahkannya adalah mengapa diagnosa a-al
3:.<<< trombosit bisa berubah mendadak menjadi 0.<<< trombosit. Prita mempertanyakan
perbedaan yang signifikan itu.
Analisis dalam kasus di atas .
7erdasarkan kasus yang terjadi pada prita1 (enurut pasal butir Undang,undang
$omor 0 .ahun !!! .entang Perlindungan %onsumen menegaskan bah-a perlindungan hukum
bagi konsumen adalah Csegala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberikan perlindungan kepada konsumenD. %epastian hukum untuk memberikan
perlindungan kepada konsumen antara lain adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat
konsumen serta membuka akses informasi tentang barang dan/atau jasa baginya, dan
menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung ja-ab. .etapi dalam
kenyataannya masih banyak pelanggaran hak,hak konsumen yang di lakukan oleh pelaku usaha.
Selain itu, dalam UU $o. 0 .ahun !!! tentang Perlindungan %onsumen, khususnya Pasal "
huruf d. Pasal itu berbunyi6 Hak konsumen adalah hak untuk didengar pendapat dan
keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. )leh karena itu, menanggapi UU pasal
3: ayat ; UU I.> unsur Ftanpa hakF sebagaimana dimaksud di dalamnya menjadi tidak
terpenuhi, sehingga Pasal 3: ayat /;4 tersebut tidak bisa diterapkan untuk kasus ini. 2ebih lanjut
lagi, bah-a pasal tersebut memuat unsur Cdengan sengajaD dan Ctanpa hakD, yang mana unsur
tersebut menentukan dapat tidaknya seseorang dipidana berdasarkan pasal ini.
Seharusnya pihak 8S memberikan penjelasan terhadap prita mengenai penyakit
dideritanya. 8umah Sakit harus berperan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan
merupakan ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia. Dalam penyelenggaraan
pelayanan rumah sakit, maka rumah sakit harus melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan
umum dan pelayanan medik baik melalui akreditasi, sertifikasi, ataupun proses peningkatan
mutu lainnya. Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan keseluruhan upaya
dan kegiatan secara komprehensif dan integratif yang menyangkut struktur, proses, out$ome
secara objektif, sistematik dan berlanjut memantau dan menilai mutu dan ke-ajaran pelayanan
terhadap pasien, menggunakan peluang untuk meningkatkan pelayanan pasien, dan memecahkan
masalah,masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di rumah sakit berdaya
guna dan berhasil guna. (utu pelayanan kesehatan di rumah sakit perlu didukung oleh sumber
daya yang dimiliki meliputi sumber daya manusia, sarana, prasarana, peralatan medis, dan
anggaran rumah sakit yang memadai. Peranan 8umah Sakit sangat penting dalam menunjang
kesehatan dari masyarakat. (aju mundurnya rumah sakit akan sangat ditentukan oleh
keberhasilan dari pihak,pihak yang bekerja di rumah sakit, dalam hal ini dokter, pera-at dan
orang,orang yang berada di tempat tersebut.
Dalam kasus di atas prita dalam menyampaikan keluhan pelayanan 8S yang berlokasi di
Serpong, .angerang tersebut melalui email pribadinya, dengan tindakan itu prita malah
mendapatkan tuntutan penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pasal 3: ayat ; Undang,
Undang nomor tahun 3<<0 tentang Informasi dan .ransaksi >lektronik /UU I.>4, yang
berbunyi6 C&etiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya 'normasi (lektronik dan/atau )okumen
(lektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pen$emaran nama baik.D %arena
ancaman hukuman maksimalnya disebutkan dalam pasal "# ayat UU yang sama lebih dari #
tahun penjara atau tepatnya A tahun penjara, maka tersangka bisa ditahan.
Padahal prita hanya menyampaikan keluhan yang dikemukakan Prita pada internet atas
layanan rumah sakit )mni Internasional yang tidak memuaskan konsumen dan itupun dijamin
oleh undang,undang. 7erdasarkan UU $o. 0 .ahun !!! tentang Perlindungan %onsumen, yang
berlaku sejak 3< =pril 3<<<.
Sumber 6
http6//lud-igtheresa<!.-ordpress.com/3<"/<#/<"/tugas,!,perlindungan,konsumen/
http6//saralingkan.blogspot.com/3<3/<;/makalah,kasus,prita,mulyasari.html
PENUTUP
Dengan adanya UU $o.0 .ahun !!! tentang Perlindungan %onsumen, dirasa sudah
cukup representatif apabila telah dipahami oleh semua pihak, karena di dalam UU tersebut juga
memuat jaminan adanya kepastian hukum bagi konsumen, meningkatkan kualitas barang dan
atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen, meningkatkan
kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri, mengangkat harkat
dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang
dan atau jasa, meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan
menuntut hak,haknya sebagai konsumen.
%esadaran konsumen bah-a mereka memiliki hak,ke-ajiban serta perlindungan hukum
harus diberdayakan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang layak mengingat faktor
utama perlakuan yang semena,mena oleh produsen kepada konsumen adalah kurangnya
kesadaran serta pengetahuan konsumen akan hak,hak serta ke-ajiban mereka.
Pemerintah sebagai perancang,pelaksana serta penga-as atas jalannya hukum dan UU
tentang perlindungan konsumen harus benar,benar memperhatikan fenomena,fenomena yang
terjadi pada kegiatan produksi dan konsumsi de-asa ini agar tujuan para produsen untuk mencari
laba berjalan dengan lancar tanpa ada pihak yang dirugikan, demikian juga dengan konsumen
yang memiliki tujuan untuk memaksimalkan kepuasan jangan sampai mereka dirugikan karena
kesalahan yang diaibatkan dari proses produksi yang tidak sesuai dengan setandar berproduksi
yang sudah tertera dalam hukum dan UU yang telah dibuat oleh pemerintah.
%esadaran produsen akan hak,hak konsumen juga sangat dibutuhkan agar tercipta
harmonisasi tujuan antara produsen yang ingin memperoleh laba tanpa membahayakan
konsumen yang ingin memiliki kepuasan maksimum.