Anda di halaman 1dari 12

1

SEPUTAR MEDICAL CHECK UP


SEPUTAR MEDICAL CHECK UP
Kata medical check up sudah sering kita dengar baik dari kerabat atau teman kita.
Sehingga kata ini bukan kata yang asing buat kita. Bahkan ada yang rela sampai ke
luar negri atau membayar mahal untuk melakukannya.
APA MEDICAL CHECK UP ITU?
Medical check up sama dengan pemeriksaan fisik. Tetapi masyarakat lebih familier
dengan istilah check up, bahkan orang yang mau kontrol penyakit ke dokter saja
mengatakan mau check up. Jadi masyarakat masih belum bisa membedakan istilah
medical check up yang sebenarnya dengan kontrol ke dokter karena suatu
penyakit.
Sebenarnya medical check up sendiri atau sering disingkat dengan MCU
merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seorang dokter dalam melakukan
pemeriksaan pada tubuh pasien untuk mencari adanya kejanggalan atau gejala dari
suatu penyakit. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan secara rutin satu tahun sekali,
untuk melihat adanya kejanggalan pada tubuh orang yang tidak memiliki keluhan
yang berarti. Tidak ada keluhan bukan berarti tidak ada penyakit dalam tubuh
seseorang karena ada juga beberapa penyakit yang tidak mempunyai gejala. Jadi
sifatnya seperti air tenang yang menghanyutkan. Tidak terlihat gejala apapun dari
luar tetapi tahu-tahu penyakitnya sudah menimbulkan segala macam komplikasi.
Seperti hepatitis B yang tidak mempunyai gejala sebelum menimbulkan sirosis
hepatis atau kanker hati atau kanker leher rahim yang tidak ada gejala pada tahap
awal. Demikian juga orang yang mempunyai kadar gula tinggi pun sering tidak
menyadari kalau kadar gulanya tinggi di dalam darah.
Nah disinilah peranan medical check up untuk menemukannya! Pemeriksaan
medical check up dilakukan secara lengkap dari kepala sampai dengan kaki, mulai
dari anamnesa sampai pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan ini bertujuan :
1. Mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit dalam tubuh seseorang.
Jadi jangan tunggu sudah ada penyakit atau sudah lanjut usia baru
melakukan medical check up seperti pengertian beberapa orang
karena akan terlambat untuk mengetahui adanya penyakit di dalam
tubuh.
2. Mengatasi secepat mungkin gangguan kesehatan yang telah
ditemukan.
3. Mencegah penyakit yang telah dideteksi secara dini tidak belanjut.
2

Intinya, medical check up adalah pencegahan yang dilakukan secara dini untuk
menemukan adanya suatu penyakit untuk menghindari komplikasi atau kerugian
yang lebih besar yang disebabkan oleh gangguan penyakit.
BAGAIMANA PERSYARATAN SEBELUM MELAKUKAN MEDICAL
CHECK UP?
Persyaratan yang harus dilakukan oleh seseorang yang akan melakukan medical
check up adalah :
1. Berpuasa selama 10-12 jam. Selama berpuasa hanya boleh
minum air putih, tidak boleh minum susu, makan permen atau
merokok.
2. Tidur yang cukup selama 6-8 jam.
3. Untuk wanita yang akan melakukan medical check up ada
persyaratan tambahan yaitu tidak sedang dalam keadaan haid
(minimal 7 hari sesudah haid bersih) karena akan mengganggu
hasil pemeriksaan urine dan bila mau melakukan pemeriksaan
pap smear tidak boleh berhubungan suami istri dan tidak boleh
membilas daerah kewanitaan dengan sabun pembersih selama
224 jam.
BAGAIMANA PROSEDUR DALAM MELAKUKAN MEDICAL CHECK
UP?
Prosedur yang dilakukan oleh seorang dokter dalam melakukan pemeriksaan
medical check up mulai dengan tanya jawab atau lazim dikenal dengan istilah
anamnesa, pemeriksaan tubuh oleh dokter. Ada juga pemeriksaa dilakukan oleh
dokter gigi, dokter spesialis mata,THT, dan saraf. Kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan tambahan berupa laboratorium (baik pemeriksaan darah, urine dan
feces), rontgen dada, EKG/Treatmill test, USG abdomen, dan bagi wanita
pemeriksaan ditambah dengan mamografi, USG payudara dan pap smear. Dalam
MCU pemeriksaan yang dilakukan menyeluruh dan pemeriksaan tambahan
dilakukan tanpa melihat kondisi pasien.
ANAMNESA

3

Di sini pentingnya kepercayaan pasien kepada dokter
Pada bagian ini dokter akan menanyakan :
1. Keluhan saat ini yang mengganggu
2. Riwayat penyakit sekarang. Di bagian ini dokter akan menanyakan
mulai kapan gejala penyakit diderita, bagaimana intensitasnya, kapan
timbul gejala itu, adakah penjalaran, adakah gejala tambahan, adakah
susah tidur, bagaimana dengan buang air kecil dan buang air
besarnya, riwayat alergi yang diderita (alergi obat atau makanan).
3. Riwayat penyakit dahulu. Di sini dokter menanyakan :
o riwayat penyakit yang pernah diderita waktu masih anak-anak
seperti asma, bronkitis, TBC paru, sakit kuning, dsb.
o penyakit lain yang diderita seperti hipertensi, kencing manis,
cholesterol atau asam urat tinggi, dsb.
o riwayat kecelakaan yang pernah dialami, apakah menimbulkan
patah tulang, pingsan atau muntah.
o riwayat operasi yang pernah dialami seperti amandel, usus
buntu, hernia, dsb.
o pengobatan yang telah dijalani.
4. Riwayat penyakit keluarga yang dialami oleh orang tuanya, kakek
dan neneknya, paman atau bibinya seperti hipertensi, kencing manis,
jantung, ginjal, kanker, asma, liver atau penyakit kejiwaan.
5. Riwayat pekerjaan apakah bekerja di kantor atau di lapangan. Karena
ada juga penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan,
misalnya karena lingkungan bising, berdebu dsb.
6. Riwayat merokok, berapa banyak dan sejak kapan. Minum alkohol
atau tidak dan olah raga dalam seminggu berapa kali.
7. Adakah perubahan berat badan dalam 1 tahun.
Dalam hal ini pasien harus menjawab jujur karena dokter akan memeriksa lebih
seksama pada bagian tubuh yang pernah mengalami kerusakan akibat suatu
penyakit. Tujuannya untuk mengetahui apakah kerusakan itu masih ada atau sudah
sembuh. Misalnya orang yang pernah mengalami stroke, dokter akan memeriksa
gejala sisa yang masih ada, kekuatan motorik alat gerak, reflek patologis,
kemampuan mengingat, berhitung, dsb sehingga bisa disimpulkan apakah kondisi
orang tersebut sudah membaik atau belum, latihan-latihan apa yang diperlukan
untuk mengurangi gejala sisa.Riwayat penyakit juga berguna untuk mengarahkan
dokter akan suatu gejala dari penyakit tertentu. Misalnya pasien yang menderita
batuk hilang timbul. Dari sini dokter akan menemukan lebih lanjut untuk mencari
tahu mengapa terjadi batuk, apakah karena infeksi, alergi atau adanya tumor di
paru. Setelah itu dokter akan menindaklanjuti dengan memeriksa bagian tubuh
yang diduga berkaitan dengan batuk tersebut, mulai dari tenggorokan sampai paru.
PEMERIKSAAN FISIK
4


Pemeriksaan tekanan darah salah satu pemeriksaan tanda vital
Setelah anamnesa, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari
kepala sampai kaki. Dicari adakah kelainan pada bagian tubuh pasien. Yang
pertama diperiksa adalah tanda vital pasien, mulai dari pemeriksaan tekanan darah,
nadi, frekuensi napas dan suhu. Dari keempat komponen ini dapat diketahui
apakah ada tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, denyut jantung yang
cepat atau lambat, frekuensi napas yang cepat, gangguan paru, adanya infeksi.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada pasien, mulai dari
bentuk tubuh, keadaan kulit, adanya benjolan pada leher (baik adanya pembesaran
kelenjar getah bening atau tiroid/gondok), bagaimana reflek cahaya pada mata,
apakah pupil di tengah atau tidak, adakah kelainan pada sclera/conjunctiva mata
untuk melihat adanya penebalan selaput mata atau anemia, pemeriksaan liang
telinga dan gendang telinga dilanjutkan dengan pemeriksaan dada, perut, pinggang,
adakah pembengkakan atau varises di kaki sampai reflek saraf pasien tersebut.
Pemeriksaan dilakukan melalui :
1. Melihat keadaan pasien (Inspeksi). Bukan tanpa alasan dokter
meminta pasien untuk membuka pakaiannya (tentunya untuk pasien
wanita diperiksa oleh dokter wanita). Jika ada pakaian yang menutupi
tubuh tidak akan terlihat jika ada organ tubuh pada dada atau perut
yang tidak normal. Dari inspeksi dapat diketahui pasien menderita
suatu penyakit tertentu, seperti penyakit kuning, penyakit paru
kronik, bahkan penyakit jantung.
2. Meraba bagian tubuh pasien (Palpasi). Tentu raba yang dimaksud
tidak pada semua bagian tubuh pasien dan tetap membuat pasien
merasa nyaman. Dengan perabaan dapat diketahui apakah ada
pembesaran hati atau limpa, adanya nyeri pada bagian perut atau
tumor pada jaringan payudara wanita. Tetapi untuk wanita dapat
menolak jika memang tidak ingin diperiksa payudaranya hanya saja
menandatangani surat penolakan
3. Mengetuk tubuh pasien (Perkusi). Berdasarkan suatu prinsip adanya
perbedaan bunyi pada organ-organ tubuh. Bunyi paru berbeda dengan
bunyi jantung ketika diketuk. Begitu juga dengan bunyi usus dan
bunyi hati. Karena itu, jika bunyi yang dihasilkan berbeda, bisa saja
ada sesuatu yang tidak normal pada organ tersebut. Selain itu,
pengetukan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya pembesaran
5

jantung atau adanya cairan di paru atau perut (yang merupakan hal
yang tidak normal).Dalam praktek sehari-hari, tiga pemeriksaan di
atas tidak terlalu familier untuk dilakukan karena memakan banyak
waktu dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. Pemeriksaan
yang paling sering dilakukan adalah menggunakan stetoskop atau
disebut juga dengan auskultasi. Stetoskop, alat untuk
melakukan auskultasi
4. Mendengar suara di dalam tubuh pasien (Auskultasi) dengan
menggunakan stetoskop. Tujuannya untuk mendengar suara nafas
pada paru, denyut jantung, ataupun bunyi usus yang sedang
berkontraksi. Perbedaan bunyi pada organ tersebut pun dapat
menandakan adanya gangguan pada organ, seperti adanya bising
jantung, adanya suara nafas yang berlebih atau suara ngik-ngik pada
paru, bahkan bunyi usus yang menghilang dapat menandakan adanya
sumbatan pada usus.Terkadang keempat jenis pemeriksaan di atas
dapat dilakukan bersama bila pada salah satu jenis pemeriksaan di
atas ditemukan adanya kelainan supaya hasilnya lebih akurat.
5. Menggunakan alat bantu. Pada waktu dilakukan inspeksi ataupun
perkusi dengan bantuan alat. Untuk pemeriksaan saraf dilakukan
dengan menggunakan palu reflek. Dapat diketahui jika ada gerakan
yang tidak normal setelah dirangsang dengan palu reflek yang
menandakan adanya gangguan pada otak. Selain itu pemeriksaan
saraf juga menggunakan kapas, air dingin, jarum untuk mendeteksi
adanya gangguan pada saraf otak.Pada pemeriksaan telinga,
digunakan alat otoskop untuk melihat keadaan liang telinga, keutuhan
selaput gendang telinga, adanya iritasi pada telinga, adanya kotoran
dalam telinga. Untuk memeriksa tenggorokan dengan menggunakan
lampu kepala dan tongue spatel. Untuk pemeriksaan hidung dengan
speculum hidung. Pemeriksaan mata pun mempunyai alat bantu
sendiri. Ada alat berupa slit lamp dan funduskopi yang dapat
digunakan untuk melihat keadaan retina mata.

6

Pemeriksaan mata menggunakan slit lamp
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Setelah pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap,
rontgen thorax, rekam jantung (EKG)/Treatmill test. Kadang juga dilakukan
pemeriksaan USG. Untuk pemeriksaan USG terbagi menjadi USG abdomen untuk
melihat keadaan organ di dalam perut dan USG payudara atau mamografi untuk
melihat jaringan payudara wanita.


Pemeriksaan darah dan urine lengkap memiliki banyak kegunaan, mulai
mengetahui adanya infeksi (bakteri, virus, jamur), adanya dugaan kencing manis,
gagal ginjal sampai pada kelainan darah.
Rontgen thorax dapat digunakan untuk mengetahui gangguan pada paru secara
spesifik dan pembengkakan jantung.
EKG dapat digunakan untuk mengetahui adanya kemungkinan ke arah gagal
jantung, pembesaran jantung sampai penyakit jantung coroner.
MCU yang diselenggarakan di rumah sakit atau laboratorium terkadang
menawarkan paket yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. Dari paket standar
sampai paket yang paling lengkap. Untuk anamnesa dan pemeriksaan fisik pada
dasarnya sama, yang berbeda pada pemeriksaan laboratorium. Untuk dugaan
kencing manis, selain pemeriksaan dasar (darah lengkap, urine lengkap, rontgen
thorax dan EKG), tentunya diperlukan pemeriksaan gula darah sewaktu, puasa, 2
jam setelah puasa, bahkan HBA1C. Pemeriksaan HBA1C menggambarkan
keadaan gula darah untuk rentang waktu yang lebih panjang yaitu 1-3 bulan, juga
untuk memberikan gambaran keberhasilan terapi glukosa yang sedang dilakukan
dengan memperhitungkan dosis obat yang lebih tepat. Pemeriksaan ini tidak
dipengaruhi oleh asupan makanan sehingga pasien tidak perlu melakukan puasa
sebelumnya. Kadar normal yang harus dicapai adalah <6,5%. Terkadang gula
darah puasa pasien kencing manis bisa normal, tetapi gejala kencing di malam hari,
kesemutan, dll tidak berkurang malah semakin parah. Nah, karena itu kita perlu
mengetahui apakah pasien meminum obat secara teratur. HBA1C lah jawabannya.
7

Sedangkan untuk pasien yang hasil pemeriksaan gula darah puasa 100-125 mg/dl
atau gula darah sewaktu 140-199 mg/dl maka dilanjutkan dengan pemeriksaan
glukosa toleransi tes yang akan diambil darah puasa dan 2 jam setelah pemberian
glukosa 75 mg. Hasil yang didapatkan pasien tersebut bisa normal, prediabetes
(toleransi glukosa terganggu) dan sudah menderita diabetes mellitus.
Untuk pemeriksaan keadaan hati dilakukan pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT,
SGPT, HBsAg, anti HBs dan USG abdomen. Untuk pemeriksaan asam urat, maka
diperiksa kadar asam urat dalam darah. Dan untuk pemeriksaan fungsi ginjal
diperiksa kadar ureum dan kreatinin dalam darah. Sedangkan pemeriksaan profil
lemak meliputi pemeriksaan cholesterol total, LDL cholesterol, HDL cholesterol
dan trigliserida.
Setelah selesai, semua hasil pemeriksaan dirangkum dalam kesimpulan dan dibuat
buku laporan hasil medical check up yang akan diserahkan kepada pasien dan
salinan hasil MCU disimpan di bagian rekam medis.
APA GUNANYA MEDICAL CHECK UP?
Dengan melakukan medical check up secara rutin minimal 1 tahun sekali,
kesehatan kita termonitor dengan baik. Jika sudah mengetahui tubuh kita sehat,
kita tidak perlu kuatir dengan berbagai penyakit sehingga kesibukan atau acara
penting yang sudah kita persiapkan jauh-jauh hari tidak akan terganggu oleh
penyakit.
Jika hasil medical check up ditemukan adanya gangguan, tentunya dapat segera
dilakukan pengobatan untuk mencegah penyakit bertambah parah.
Dengan demikian, medical check up termasuk pencegahan sekunder, yaitu deteksi
dini.
SIAPA SAJA YANG BOLEH MELAKUKAN MEDICAL CHECK UP?
Medical check up bisa diikuti oleh siapa saja yaitu :
1. masyarakat umum
2. calon nasabah dari sebuah perusahaan asuransi
3. calon karyawan suatu perusahaan
4. pemeriksaan berkala karyawan perusahaan
MEDICAL CHECK UP SEBAGAI INVESTASI BUKAN COST.
8

Medical check up dapat dikatakan sebagai investasi, karena di Indonesia
pengobatan sangat mahal. Karena medical check up sebagai pencegahan sekunder
yaitu deteksi dini, jika sudah terlihat ada yang tidak normal dapat diobati sesegera
mungkin untuk menghindari komplikasi lebih lanjut yang membutuhkan waktu,
tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Sudahkan anda melakukan medical check up tahun ini?
Pemeriksaan darah


Puasa, Tata Cara Puasa
1. Puasa dilakukan selama 12 14 jam sebelum pemeriksaan
laboratorium. ( Cara yang mudah dan sering saya sarankan ke pasien adalah sehari
sebelum dilakukan medical check up, jam 20.00-an setelah makan malam kita tidak
makan/minum manis . Yang kita lakukan hanya konsumsi air putih "sebanyak-banyaknya"
~ cukup ; Pagi tidak usah sarapan ke laboratorium dan jam 9-10 sudah diambil sampel
darah dan kencing )
2. Selama puasa, Anda tidak diperkenankan makan dan minum
kecuali air putih tanpa gula.
3. Anda diperkenankan atau bahkan dianjurkan minum air putih
tanpa gula seperti biasa terutama bila Anda akan melakukan
pemeriksaan urine ( air kencing ) dengan catatan minuman lain seperti
teh dan kopi, meskipun tanpa gula, tetap tidak diperkenankan.
4. Hindari merokok dan makan permen karet karena akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan.
5. Jangan berpuasa lebih dari 14 jam.
6. Jangan berolah raga atau melakukan aktivitas fisik yang berat
sejak 12 jam sebelum pengambilan darah.
7. Bagi penderita Diabetes Melitus, minum obat atau suntik insulin
sesuai dengan petunjuk dokter. Informasikan hal ini kepada petugas
laboratorium.
8. Persiapan Pemeriksaan Laboratorium
9

9. Datanglah ke laboratorium pada waktu yang telah ditentukan
dalam keadaan puasa seperti puasa ketentuan diatas.
10. Petugas laboratorium akan mengambil darah dari vena lengan
Anda dan meminta Anda menampung urinedalam wadah yang
disediakan.
Pemeriksaan Urin


Untuk penampungan urin sebaiknya dilakukan pada saat menjelang
pemeriksaan. Untuk menampung urin gunakan wadah yang telah disediakan,
tampunglah urine minimal setengah dari wadah.
Cara Penampungan Urin
1. Cucilah tangan dan alat kelamin sebelum berkemih/kencing.
2. Buanglah (sedikit) urine (= air kencing) yang keluar pada waktu
pertama kali urine keluar/mengalir, setelah itu barulah ditampung
dalam wadah yang telah disediakan.
3. Hentikan penampungan urine sesaat sebelum aliran urine
behenti atau dengan kata lain (sedikit) urine yang keluar sesaat
sebelum selesai kencing tidak usah ditampung/ dibuang saja.

Pemeriksaan Rontgen
10



1. Peserta harus menanggalkan perhiasan terutama yang terbuat
dari logam di seputar bagian leher dan dada (yang akan dirontgen).
2. Peserta mengenakan pakaian khusus yang telah disediakan.
3. Untuk peserta wanita yang hamil tidak dilakukan pemeriksaan
rontgen.

Persiapan Pemeriksaan EKG

1. Sehari sebelum pemeriksaan tidak boleh melakukan olahraga
atau kerja berat
2. Sehari sebelum pemeriksaan tidak minum obat-obatan, kecuali
ada perintah khusus dari Dokter.
3. Tidur cukup semalam sebelum pemeriksaan dilakukan.
4. Pada hari pemeriksaan sebaiknya tidak merokok, tidak minum
kopi.
5. Peserta tidak dalam keadaan terlalu kenyang atau lapar.
6. Badan tidak kotor atau penuh minyak.
7. Peserta tidak mengenakan cincin, gelang, kalung, sabuk
berkepala logam, atau bahan logam lainnya di tubuh.
11

8. Peserta tidak menyimpan HP atau jam tangan di saku.
9. Untuk peserta wanita harus melepaskan kaitan bra dan tidak
memakai bahan nilon.
10. Saat dilakukan pemeriksaan peserta harus dalam keadaan diam
dan sesantai mungkin.
Persiapan Pemeriksaan Audiometri


1. Sebaiknya tidak berada di tempat bising selama 12 jam sebelum
dilakukan tes (pemeriksaan)
2. Peserta harus menanggalkan anting.
3. Peserta menghentikan konsumsi obat-obatan seperti golongan
analgesik/antiinflamasi non steroid, aminoglikosida, bumetanid, asam
etrasinat, furosemid, kuinin, eritromisin,, kapreomisin, 4-
aminoquinolin, dan minosiklin, serta vankomisin dan salisilat dengan
dosis tinggi.
4. Tes (pemeriksaan) sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum
bekerja.
Pemeriksaan Spirometri

Pemeriksaan bermaksud untuk mengetahui fungsi paru dalam mengirup dan
menghembuskan paru , sehingga terggambar kondisi paru apakah ada
gangguan dalam proses bernapas . Kunci dalam pemeriksaan ini adalah :
12

1. Penjelasan pemeriksa kepada pasien harus jelas dan dipahami
oleh pasien sehingga pasien benar-benar melakukan permintaan seperti
yang di minta oleh pemeriksa.
2. Gunakan pakaian termasuk BH yang longgar sehingga tidak
menggangu dalam bernapas.Bernapas dengan menggunakan dada
bukan dengan pipi
3. Dan penghembusan dengan sekuat upaya seperti yang diminta
pemeriksa.

Anda mungkin juga menyukai