Anda di halaman 1dari 19

PENENTUAN PANJANG GELOMBANG MAKSIMUM DAN

KONSENTRASI CAMPURAN MENGGUNAKAN


SPEKTROFOTOMETER UV-VIS SHIMADZU 1700 PC DAN
SPEKTRONIK 20D
+
1
Ratih Tresnasih,
2
Raodatul Jannah
Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
ABSTRAK
Metode analisis kuantitatif yang banyak digunakan dalam analisis kimia salah satunya
yaitu metode spektofotometri dengan prinsip berdasarkan absorbsi radiasi oleh suatu sampel.
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan dalam metode spektrofotometri. Salah satu
contohnya yaitu spektrofotometer !"!is. Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu
spektrofotometer !"!is Shimad#u $%&& P' dan spektronik (&D
)
untuk menentukan pan*ang
gelombang maksimum larutan KMn+, &-&&$M dan K('r(+% &-&&$M pada kisaran pan*ang
gelombang ,&&"%&& nm. Pan*ang gelombang maksimum yang diperoleh melalui pengukuran
menggunakan spektrofotometer !"!is Shimad#u $%&& P' yaitu sebesar .(..,& nm untuk
KMn+, &-&&$M dan ,(/.0& untuk K('r(+% &-&&$M. Sementara menggunakan spektronik (&D
)
-
pan*ang gelombang maksimum diperoleh sebesar .1. nm untuk KMn+, &-&&$M dan ,(& nm
untuk K('r(+% &-&&$M. Konsentrasi campuran sampel *uga ditentukan pada percobaan ini
dengan menentukan terlebih dahulu deret standar dari masing"masing larutan KMn+, dan
K('r(+%.
Kata kunci2 spektrofotometer !"!is- spektrofotometri
PENDAHULUAN
Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis yang didasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik
dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube.
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai
fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda
yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap
sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi
energi. bsorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan
dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen
yang berbeda !Triastuti 2"1#$.
Spektrofotometer %&'&is merupakan alat yang umum digunakan di laboratorium kimia,
biasanya digunakan untuk analisis kuantitatif. (rinsip kerjanya didasarkan pada penyerapan sinar
oleh spesi kimia tertentu di daerah ultra lembayung !ultra violet$ dan sinar tampak !visibel$.
)nteraksi radiasi dengan suatu spesi dapat berupa penyerapan !absorbsi$, pemendaran, pan*aran
!emisi$, ataupun penghamburan, tergantung pada sifat materi. (ada spektrofotometer %&'&)S,
interaksi yang diamati adalah adanya absorbsi pada panjang gelombang tertentu di daerah %&'
&is oleh spesi yang dianalisis !+uda 2""1$. ,etode analisisnya didasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik
!Setiono dan -ewi 2"1#$.
(er*obaan ini bertujuan mengetahui dan membandingkan panjang gelombang maksimum
untuk larutan .,n/0 ".""1 , dan .21r2/0 ".""1 , dengan menggunakan spektrofotometer
%&'&is Shimad2u 13"" (1 dan spektronik 2"-
4
, membuat kurva kalibrasi dari masing'masing
deret standar larutan uji, dan menentukan konsentrasi *ampuran sampel berdasarkan kurva yang
diperoleh.
METODE PERCOBAAN
Ala !a" Ba#a"
5ahan yang digunakan yaitu larutan .,n/0 ".""1 ,, .,n/0 "."1 ,, .21r2/0 ".""1
,, .21r2/0 "."1 ,, dan +2S/0 ".6,. lat yang digunakan yaitu spektronik 2"-4 dan
spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1, dan alat'alat gelas.
P$%&'!($ )'$*%+aa"
S)',$(- A+&%$)&. KM"O/ !a" K2C$2O7 0S)',$%"., 20D+1
.uvet diisi dengan larutan .,n/0 ".""1 , atau .21r2/3 ".""1 ,. .uvet blanko diisi
+2S/0 ".6,. bsorbans larutan diba*a pada kisaran panjang gelombang 0""'3"" nm, dengan
interval 6 nm, pada setiap pergantian panjang gelombang serapan dinolkan menggunakan larutan
blanko. .urva hubungan antara panjang gelombang dengan absorbans dibuat untuk menentukan
panjang gelombang pada masing'masing 2at.
Spektrum bsorpsi .,n/0 dan .21r2/3 !Spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1$
.uvet diisi dengan larutan .,n/0 ".""1 , atau .21r2/3 ".""1 ,. .uvet blanko diisi
+2S/0 ".6,. spektrum absorpsi dibuat pada daerah &is !0""'3"" nm$ dengan menggunakan
beberapa parameter yang ada dalam alat yang digunakan.
P'"'"(a" K($2a Kal.+$a&.
,asing'masing larutan standar .,n/0 dan .21r2/3 dibuat se*ara terpisah. 7arutan
standar .,n/0 dibuat dengan mengen*erkan 1."", #."", 6."", 3."", dan 8."" m7 larutan baku
tersebut dengan larutan +2S/0 ".6, dalam labu takar 26 m7. 7arutan standar .21r2/3 dibuat
dengan mengen*erkan #."", 6."", 3."", 8."", dan 11."" m7 larutan baku tersebut dengan larutan
+2S/0 ".6, dalam labu takar 26 m7. bsorbans kedua set larutan tersebut diba*a pada panjang
gelombang yang tepat untuk .,n/0 dan .21r2/3 dengan +2S/0 sebagai blanko. kurva standar
masing'masing larutan dibuat pada dua panjang gelombang !006 dan 6#" nm$ menggunakan
spektronik 2"-4 serta pada panjang gelombang 626,0 dan 0##," nm menggunakan
spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1.
P'"'"(a" K%"&'"$a&. *a-)($a"
7arutan analat dipindahkan se*ara kuantitatif ke dalam labu takar 26 m7, kemudian
dien*erkan dengan +2S/0 ".6 ,, pengerjaan dilakukan sebanyak 9 kali ulangan. bsorbans
diba*a pada dua panjang gelombang !006 dan 6#" nm$ menggunakan spektronik 2"-4 serta
pada panjang gelombang 626,0 dan 0##," nm menggunakan spektrofotometer %&'&is Shimad2u
13"" (1. konsentrasi masing'masing 2at dihitung dengan harga k dari kurva kalibrasi beserta
standar deviasi dan selang keper*ayaan 86:3
PEMBAHASAN
(anjang gelombang dimana suatu larutan 2at uji memiliki serapan maksimum !panjang
gelombang maksimum$ merupakan *iri khas dari 2at yang akan dianalisi dalam metode
spektrofotometri. (anjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang
gelombang yang mempunyai absorbans tertinggi. nalisis suatu sampel harus dilakukan pada
panjang gelombang maksimal karena pada panjang gelombang maksimum kepekaannya juga
maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbans untuk setiap
satuan konsentrasi larutan adalah yang paling besar. Selain itu disekitar panjang gelombang
maksimal, bentuk kurva absorbansi linier, sehingga memenuhi hukum 7ambert'5eer dan akan
menghasilkan hasil yang *ukup konstan jika dilakukan pengukuran se*ara berulang.
+asil per*obaan menunjukkan nilai panjang gelombang maksimum untuk larutan .,n/0
",""1 , dan .21r2/3 tidak berbeda jauh ketika pengukuran dilakukan menggunakan
spektrofotometer %&'&)S Shimad2u dan spektronik 2"-
4
seperti pada Tabel 1 dan 2 untuk
pengukuran menggunakan spektrofotometer %&'&)S Shimad2u dan Tabel # dan 0 untuk
pengukuran menggunakan spektronik 2"-
4
. +asil uji ; dan uji t !tabel 12 dan 1#$ juga
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang siginifikan pada hasil pengukuran panjang
gelombang maksimum. (erbedaan terletak pada efisiensi dan waktu analisis. (engukuran
menggunakan spektrofotometer %&'&)S Shimad2u lebih efisien karena instrumentasi alat
memanfaatkan mode double beam sehingga hanya membutuhkan satu kali penggantian blanko
untuk setiap larutan uji. Selain itu analisis jauh lebih *epat karena pengukuran panjang
gelombang maksimum dilakukan se*ara scanning pada kisaran panjang gelombang yang
diinginkan, dalam hal ini berkisar antara 0""'3"" nm. (anjang gelombang maksimum
menggunakan spektrofotometer %&'&)S Shimad2u diperoleh sebesar 626.0" nm untuk .,n/0
",""1, dan 028.<" untuk .21r2/3 ",""1,. Sementara menggunakan spektronik 2"-
4
, panjang
gelombang maksimum diperoleh sebesar 6#6 nm untuk .,n/0 ",""1, dan 02" nm untuk
.21r2/3 ",""1,
Setelah diperoleh panjang gelombang serapan maksimum, pembuatan kurva standar dan
pengukuran larutan sampel *ampuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum setiap
larutan pada masing'masing alat. 7arutan standar dibuat dari 2at yang akan dianalisis !.,n/0 dan
.21r2/3$ dengan berbagai konsentrasi. ,asing'masing absorbans larutan standar diukur,
kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbans dengan konsentrasi.
-iperoleh persamaan regresi linier untuk .,n/0 pada spektrofotometer %&'&)S Shimad2u
yaitu y = 638,6> ? ","229 untuk .,n/0 dan y = 8#,126> ? ","9#3 untuk .21r2/3 !@ambar 9 dan
3$. Sementara pada spektronik 2"-
4
diperoleh persamaan regresi linier senilai y = 128,8#> ?
","1123 untuk .,n/0 dan y = <08,06> 4 ","093 untuk .21r2/3 !@ambar < dan 8$. 5erdasarkan
hasil tersebut, hukum 7ambert'5eer terpenuhi karena kurva standar berupa garis lurus.
.eenam sampel yang dianalisis merupakan larutan *ampuran antara .,n/0 dan .21r2/3
yang konsenrasinya tidak diketahui. .onsentrasi masing'masing sampel dihitung melalui
persamaan regresi tersebut dengan menyubstitusi nilai y sebagai absorbans sampel sehingga
diperoleh nilai > sebagai konsentrasi setiap 2at !.,n/0 dan .21r2/3$ yang berada dalam sampel.
5erdasrkan hasil per*obaan, nilai konsentrasi setiap 2at yang diperoleh tidak berbeda jauh ketika
pengukuran dilakukan menggunakan spektrofotometer %&'&)S Shimad2u dan spektronik 2"-
4
,
seperti pada Tabel 8 dan 12 untuk perbandingan konsentrasi .,n/0 dan Tabel 11 dan 1# untuk
perbandingan konsentrasi .21r2/3. +al ini membuktikan bahwa kedua alat dapat menunjukkan
hasil yang relatif sama untuk pengukuran kuantitatif suatu sampel.
SIMPULAN
(anjang gelombang maksimum yang diperoleh melalui pengukuran menggunakan
spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1 dan spektronik 2"-
4
untuk .,n/0 ",""1, dan
.21r2/3 ",""1, menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata sesuai uji ; dan uji t.
(erbandingan nilai konsentrasi setiap senyawa !.,n/0 dan .21r2/3$ dalam larutan sampel
*ampuran juga menunjukkan hasil yang relatif sama ketika pengukuran dilakukan menggunakan
spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1 dan spektronik 2"-
4
.
DAFTAR PUSTAKA
+uda A. 2""1. (emeriksaan kinerja spektrofotometer %&'&)S @51 811 menggunakan
pewarna tartra2ine 17 1810". Sigma epsilon 2"'21.
Setiono , dan -ewi avriliana. 2"1#. (enentuan jenis solven dan p+ optimum pada analisis
senyawa delphinidin dalam kelopak bunga rosela dengan metode spektrofotometri %&'
&)S. 3urnal 4eknologi Kimia dan Industri 2!2$B81'89.
Triastuti C, ;atimawali, Runtuwene ,RJ. 2"1#. nalisis boraks se*ara spektrofotometri pada
tahu yang diproduksi di kota manado. 3urnal Ilmiah Farmasi 2!1$B98'3#.
LAMPIRAN
Tabel 1 -ata penentuan D maksimum pada larutan .,n/0 ",""1 , dengan
menggunakan spektrofotometer %&'&is Shimad2u
Ao. (anjang gelombang !nm$ bsorbans
1 606.2" ".<98
2 626.0" ".816
# 6"3."" ".318
Rerata ".<#0
S- ".1"26
1ontoh (erhitunganB
Rerata =
= !".<984".8164".318$E#
= ".<#0
S- = F$
2
E!n'1$
= G!".<98'".<#0$
2
4 !".816'".<#0$
2
4 !".318'".<#0$
2
HE !# '1 $
= ".1"26
@ambar 1 Spektrum absorpsi .,n/0 ".""1 , !Spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1$
D maks
Tabel 2 -ata penentuan D maksimum pada larutan .21r2/3 ",""1 , dengan menggunakan
spektrofotometer %&'&is Shimad2u
@ambar 2 Spektrum absorpsi .21r2/3 "."1, !Spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1$
Ao.
(anjang gelombang
!nm$
bsorbans
1 028.<" ".2#"
D maks
@ambar # Spektrum gabungan absorpsi .21r2/3 "."1, dan .,n/0 ",""1 , !Spektrofotometer %&'&is
Shimad2u 13"" (1$
Tabel # -ata penentuan D maksimum pada larutan .,n/0 ".""1 , dengan spektronik 2"-
4
D maks .,n/0
D maks .
2
1r
2
/
3
(ajang gelombang !nm$ :T bsorbans
0"" 68.0 ".2292
0"6 92.< ".2"2"
01" 96.9 ".1<#1
016 93.2 ".1329
02" 93.< ".19<<
026 98." ".1912
0#" 98." ".1912
0#6 99.9 ".1396
00" 90.< ".1<<0
006 92.9 ".2"#0
06" 9".0 ".218"
066 69.2 ".26"#
09" 61." ".2820
096 06." ".#09<
03" #8.0 ".0"06
036 ##." ".0<16
0<" 29.0 ".63<0
0<6 21.9 ".9966
08" 13.9 ".3606
086 12.< ".<82<
6"" 8.<" 1.""<<
6"6 3.9" 1.1182
61" 6.<" 1.2#99
616 0.<" 1.#1<<
62" 0.2" 1.#39<
626 #.9" 1.00#3
6#" #.0" 1.09<6
6#6 #.2" 1.0808
60" #.0" 1.09<6
606 #.<" 1.02"2
66" 0.<" 1.#1<<
666 6.<" 1.2#99
69" <.9" 1."966
1ontoh (erhitungan B
bsorbans = !' log TE1""$
= !' log 68.0E1""$
= ".2292
@ambar 0 Spektrum absorpsi .,n/0 ".""1 , !Spektronik 2"-4$
Tabel 0 -ata penentuan D maksimum pada larutan .21r2/3 ".""1 , dengan spektronik 2"-4
(anjang gelombang !nm$ :T bsorbans
0"" 32.9 ".1#81
0"6 33.9 ".11"1
01" 3<." ".1"38
016 <1." "."816
02" <".< "."829
026 <1." "."816
0#" <2.2 "."<61
0#6 <1.0 "."<80
00" <1.< "."<32
006 <2.0 "."<01
06" <#.< "."39<

maks
066 <#.2 "."388
09" <6.0 "."9<6
096 <9." "."966
03" <9.< "."916
036 <<.< "."619
0<" 8".9 "."028
0<6 82.9 "."##0
08" 80.2 "."268
086 8#.9 "."2<3
6"" 86.9 "."186
6"6 83.0 "."110
61" 8#.2 "."#"9
616 8<." ".""<<
62" 8<.< ".""62
626 1"1." '".""0#
6#" 83.9 "."1"9
6#6 1"1." '".""0#
60" 88.< "."""8
606 1"".< '".""#6
66" 88." ".""00
666 1"1.2 '".""62
69" 88.< "."""8
696 88.2 ".""#6
63" 1"1.0 '".""9"
636 8<.< ".""62
6<" 1"1.2 '".""62
6<6 88.< "."""8
68" 1"".< '".""#6
686 1""." ".""""
9"" 1"".< '".""#6
9"6 1"".0 '".""13
91" 1"2.9 '"."111
916 1"2.< '"."12"
92" 88." ".""00
926 1"".0 '".""13
9#" 1"1." '".""0#
9#6 1"2.2 '".""86
90" 88.2 ".""#6
906 1"".9 '".""29
96" 88.2 ".""#6
966 1""." ".""""
99" 1"".0 '".""13
996 1"1.2 '".""62
93" 1"".9 '".""29
936 8<.9 ".""91
9<" 1"".9 '".""29
9<6 1"".2 '"."""8
98" 1"".2 '"."""8
986 1"".2 '"."""8
3"" 1"".9 '".""29
1ontoh (erhitungan B
bsorbans = !' log TE1""$
= !' log 32,2E1""$
= ",1016
@ambar 6 Spektrum absorpsi .
2
1r
2
/
3
".""1 , !Spektronik 2"-4$
Tabel 6 -ata pengukuran absorbans larutan standar .,n/0 pada panjang gelombang 626,0" nm
dengan spektrofotometer %&'&is Shimad2u
Ao. 7arutan &olume !ml$ .onsentrasi !,$ bsorbans
1 Standar 1 1."" "."""0 ".2"9
2 Standar 2 2."" "."""< ".00#
# Standar # #."" ".""12 ".939
0 Standar 0 0."" ".""19 ".8"6
6 Standar 6 6."" ".""2" 1.1#0
@ambar 9 +ubungan antara I.,n/0J dan absorbans !spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1$
Tabel 9 -ata pengukuran absorbansi larutan standar .21r2/3 pada panjang gelombang 028.<"
nm dengan spektrofotometer %&'&is
Ao. 7arutan &olume !ml$ .onsentrasi !,$ bsorbans

maks
1 Standar 1 6."" ".""2" ".1#3
2 Standar 2 3."" ".""2< ".18<
# Standar # 8."" ".""#9 ".266
0 Standar 0 11."" ".""00 ".#18
6 Standar 6 1#."" ".""62 ".008
@ambar 3 +ubungan antara I.21r2/3J dengan absorbans !spektrofotometer %&'&is Shimad2u 13"" (1$
Tabel 3 -ata pengukuran absorbans larutan standar .21r2/3 pada panjang gelombang 02" nm
dengan menggunakan spektroni* 2"-
4
Ao. 7arutan &olume !ml$ .onsentrasi !,$ bsorbans
1 Standar 1 6."" ".""2" ".1936
2 Standar 2 3."" ".""2< ".2#89
# Standar # 8."" ".""#9 ".#1#0
0 Standar 0 11."" ".""00 ".#86<
6 Standar 6 1#."" ".""62 ".9"81
@ambar < +ubungan antara I.21r2/3J dengan absorbans !spektronik 2"-
4
$
Tabel < -ata pengukuran absorbans larutan standar .,n/0 pada panjang gelombang 6#6 nm
dengan menggunakan spektroni* 2"-
4
Ao. 7arutan &olume !ml$ .onsentrasi bsorbans
1 Standar 1 1."" "."""0 ".1<6<
2 Standar 2 #."" ".""12 ".9068
# Standar # 6."" ".""2" 1.1"38
0 Standar 0 3."" ".""2< 1.00#3
6 Standar 6 8."" ".""#9 1.3003
@ambar 8 +ubungan antara I.,n/0J dan absorbans !spektronik 2"-
4
$
Tabel 8 -ata pengukuran absorbans larutan *ampuran pada panjang gelombang 626,0" nm
dengan spektrofotometer %&'&is Shimad2u
Ao. 7arutan &olume !ml$ bsorbans .onsentrasi !,$
1 Sampel 1 1.209
".299 "."""08<"2
2 Sampel 2 6.19#
1.130 ".""2"90<<
# Sampel # 6.2"0
1.1<0 ".""2"<210
0 Sampel 0 6.##"
1.21# ".""21#21<
6 Sampel 6 6.222
1.1<< ".""2"<8"0
9 Sampel 9 6.26"
1.180 ".""2"880"
Rerata
1."#96 ".""1<2391
S-
"."""96136
1ontoh (erhitunganB
Rerata =
=!"."""08<"2 4 ".""2"90<< 4 ".""2"<210 4 ".""21#21< 4 ".""2"<8"0 4 ".""2"880"$E9
= ".""1<2391
S- = F$
2
E!n'1$
=G!".""1<2391'"."""08<"2$
2
4!".""1<239'".""2"90<<$
2
4!".""1<2391'".""2"<210$
2
4
!".""1<2391'".""21#21<$
2
4!".""1<2391'".""2"<8"0$
2
4!".""1<2391'".""2"90<<$
2
HE !9'1$
= "."""96136
Tabel 1" -ata pengukuran absorbansi larutan *ampuran pada panjang gelombang 028.<" nm
dengan spektrofotometer %&'&is Shimad2u
Ao. 7arutan &olume !ml$ bsorbans .onsentrasi !,$
1 Sampel 1 11.82<
".#<1 ".""0336#"
2 Sampel 2 <.<0"
".299 ".""#60"0"
# Sampel # <.8"<
".29< ".""#691<<
0 Sampel 0 <.330
".29# ".""#6"<18
6 Sampel 6 1".""<
".#"8 ".""0""216
9 Sampel 9
<.<69
".299 ".""#60"0"
Rerata
".282193 ".""#<21#8
S-
"."""6"#1<
1ontoh perhitunganB
Rerata =
=G!".""0336#"4".""#60"0"4".""#691<<4".""#6"<184".""0""2164".""#60"0"$H E 9
= ".""#<21#8
S- = F$
2
E!n'1$
= !".""#<21#8'".""0336#"$
2
4 !".""#<21#8'".""#60"0"$
2
4 !".""#<21#8'".""#691<<$
2
4
!".""#<21#8'".""#6"<18$
2
4!".""#<21#8'".""0""216$
2
4!".""#<21#8'".""#60"0"$
2
E!9 '1 $
= "."""6"#1<
Tabel 11 -ata pengukuran absorbans larutan *ampuran pada panjang gelombang 02" nm dengan
spektrofotometer spektronik 2"-
4
Ao. 7arutan T bsorbans .onsentrasi !,$
1 Sampel 1 #1.0
".6"#"3" ".""0<192
2 Sampel 2 00.0
".#62913 ".""#96<#
# Sampel # 01.<
".#3<<20 ".""#<9""
0 Sampel 0 00.9
".#6"996 ".""#90#2
6 Sampel 6 #<.0
".016998 ".""010#6
9 Sampel 9 02.9
".#3"68" ".""#3899
Rerata
".#862#8 ".""#8<9#
S-
"."""0061
1ontoh perhitunganB
Rerata =
= !".""0<1924 ".""#96<#4 ".""#<9""4 ".""#90#24 ".""010#64".""#3899$ E 9
= ".""#8<9#
S- = F$
2
E!n'1$
= !".""#8<9#' ".""0<192$
2
4 !".""#8<9#' ".""#96<#$
2
4 !".""#8<9#' ".""#<9""$
2
4
!".""#8<9#' ".""#90#2$
2
4 !".""#8<9#' ".""010#6$
2
4 !".""#8<9#' ".""#3899$
2
E !9 '1 $
= "."""0061
Tabel 12 -ata pengukuran absorbans larutan *ampuran pada panjang gelombang 6#6 nm dengan
spektrofotometer spektronik 2"-
4
Ao. 7arutan T bsorbans .onsentrasi !,$
1 Sampel 1 61.0
".2<8"#3 "."""086
2 Sampel 2 3."
1.1608"2 ".""2290
# Sampel # 3." 1.1608"2 ".""2290
0 Sampel 0 9.9
1.1<"069 ".""2#19
6 Sampel 6 3.2
1.10299< ".""22#8
9 Sampel 9 9.<
1.193081 ".""228"
Rerata
1."108"8 ".""183<
S-
"."""323
Rerata =
= !"."""0864 ".""22904 ".""22904 ".""2#194 ".""22#84".""228"$E 9
= ".""183<
S- = F$
2
E!n'1$
= !".""183<' "."""086$
2
4 !".""183<' ".""2290$
2
4 !".""183<' ".""2290$
2
4 !".""183<'
".""2#19$
2
4 !".""183<'".""22#8$
2
4 !".""183<'".""228"$
2
E!9 '1$
= "."""323
Tabel 1# %ji statistika terhadap panjang gelombang maksimum .21r2/3
%ji t ".3800<<
%ji ; ".2<"620
t tabel 2.22<
; tabel 6."6
t hitung K t tabel Tidak berbeda signifikan
; hitungK ; tabel Tidak berbeda signifikan
7arutan .21r2/3
ttabel pada selang keper*ayaan 86:, yaitu sebesar 2.22<
thit = ".3800<<
thit Kttabel maka +i diterima, +o ditolak
; tabel pada selang keper*ayaan 86: ,yaitu sebesar 6."6
;hit = ".2<"620
;hit K;tabel maka +i diterima, +o ditolak
Tabel 10 %ji statistika terhadap panjang gelombang maksimum .,n/0
%ji t ".<19#"#962
%ji ; ".#6933<316
t tabel 2.22<
; tabel 6."6
t hitung K t tabel Tidak berbeda signifikan
; hitungK ; tabel Tidak berbeda signifikan
7arutan .,n/0
ttabel pada selang keper*ayaan 86:, yaitu 2.22<
thit = ".<19#"#962
thit Kttabel maka +i diterima, +o ditolak
;tabel pada selang keper*ayaan 86: ,yaitu sebesar 6."6
;hit = ".#6933<316
;hit K;tabel maka +i diterima, +o ditolak