Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS

FRAKTUR HUMERUS








Disusun Oleh:
Subur Widiyanto
Pembimbing:
dr. Rudiansyah, Sp.B





BAGIAN ILMU BEDAH
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2012
ii

BAB I
PENDAHULUAN

Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di
pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini
(2000-2010) menjadi dekade Tulang dan Persendian. Penyebab fraktur terbanyak adalah
karenan kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas ini, selain menyebabkan fraktur,
menurut WHO, juga menyebabkan kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana
sebagian besar korbannya adalah remaja atau dewasa muda.
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,
baik yang bersifat total maupun parsial. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma berat;
kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena
penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan fraktur. Fraktur
patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya telah mengalami proses
paotologik, misalnya tumor tulang primer atau sekunder, mieloma multipel, kista tulang,
osteomielitis, dan sebagainya. Trauma ringan saja sudah dapat menimbulakan fraktur. Fraktur
stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus, misalnya fraktur fibula pada pelari
jarak jauh, frkatur tibia pada penari balet, dan sebagainya.










iii

BAB II
PEMBAHASAN
1. FRAKTUR
A. Anatomi
Ujung atas humerus mempunyai caput yang membentuk sekitar duapertiga kepala
sendi dan bersendi dengan cavitas glenoidalis scapula. Tepat dibawah caput humeri
terdapat collum anatomicum. Dibawah collum terdapat sulcus bicipitalis. Pada
pertemuan ujung atas humerus dan corpus humeri terdapat penyempitan collum
chirurgicum. Sekitar pertengahan permukaan lateral corpus humeri terdapat peninggian
kasar yang dinamakan tuberositas deltoidea. Dibelakang dan bawah tuberositas terdapat
sulcus spiralis yang ditempati n.radialis.
Ujung bawah humerus mempunyai epicondylus medialis dan lateralis untuk
perlekatan otot dan ligamentum: capitulum humeri yang bulat bersendi dengan caput
radii: dan trochlear yang berbentuk katrol bersendi dengan incisura trochlearis ulnae.
Diatas capitulum terdapat fossa radii yang menerima caput radii waktu siku fleksio.
Diatas trochlear, dianterior terdapat fossa coronoidea yang selama pergerakan yang sama
menerima processus coronoideus ulna. Diatas trochlear, diposterior terdapat fossa
olecranii, yang menerima olecranon tulang ulna sewaktu art.cubiti dalam keadaan
ekstensio.
Pada lengan bawah terdapat dua tulang yaitu radius dan ulna. Kedua tulang
lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamentum
anulare yang melingkari kapitulum radius di proksimal, dan di distal oleh sendi
radioulnar yang mengandung fibrokartilago triangularis (triangular fibro cartilage
complex = TFCC).Membrana interossea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan
ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. Oleh karena itu patahan yang hanya mengenai
satu tulang agak jarang terjadi atau jika patahnya hanya mengenai satu tulang hampir
selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patahan tersebut.

B. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan
atau tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal, tekanan
yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).

iv

C. Etiologi
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita
harus mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan
tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan
tekanan memuntir (shearing).
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan
membengkok, memutar dan tarikan. Trauma dapat bersifat :
1) Trauma langsung : Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang
dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat
komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
2) Trauma tidak langsung : Disebut trauma tidak langsung apabila trauma
dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan
tangan extensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini
biasanya jaringan lunak tetap utuh.
3) Tekanan pada tulang dapat berupa :
a) Tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik
b) Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
c) Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi
d) Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah
misalnya pada bahan vertebra.
e) Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan
menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z
f) Fraktur oleh karena remuk
g) Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang.

D. Patofisiologi
Fraktur traumatik yaitu yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba. Fraktur
patologis dapat terjadi hanya tekanan yang relatif kecil apabila tulang telah melemah
akibat osteoporosis atau penyakit lainnya. Fraktur stres yang terjadi karena adanya
trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.



v

E. Klasifikasi Fraktur
1) Klasifikasi etiologis
a) Fraktur traumatik
Yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba
b) Fraktur patologis
Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam
tulang
c) Fraktur stres
Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.
2) Klasifikasi klinis
a) Fraktur tertutup (simple fracture)
Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.
b) Fraktur terbuka (compound fracture)
Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui lika pada
kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from
without (dari luar)
c) Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)
Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya malunion, delayed
union, nonunion, infeksi tulang.
3) Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas :
a) Lokalisasi (gambar 2.1)
- Diafisial
- Metafisial
- Intra-artikuler
- Fraktur dengan dislokasi
vi


Gambar 2.1. klasifikasi fraktur menurut lokalisasi
a. Fraktur diafisis c. Dislokasi dan fraktur
b. Fraktur metafisis d. Fraktur intra-artikule

b) Konfigurasi (gambar 2.2)
o Fraktur fisura
o Faktur oblik
o Fraktur transversal
o Fraktur komunitif
o Fraktur segmental
o Fraktur green stick
o Fraktur kompresi
o Fraktur impaksi
o Fraktur impresi
o Fraktur patologis

Gambar 2.2. klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi.
vii


c) Menurut ekstensi (gambar 2.3)
o Fraktur total
o Fraktur tidak total (fraktur crack)
o Fraktur buckle atau torus
o Fraktur garis rambut
o Fraktur green stick
d) Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya (gambar 2.4)
1) Tidak bergeser (undisplaced)
2) Bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :
a) Bersampingan
b) Angulasi
c) Rotasi
d) Distraksi
e) Over-riding
f) Impaksi

Gambar 2.4 Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
e) Terbuka-tertutup
1) Fraktur tertutup : bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur
dengan udara luar atau permukaan kulit.
2) Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur
dengan udara luar atau permukaan kulit.
viii

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya
luka dan berat ringannya patah tulang.
Grade I : luka biasanya kecil, luka tusuk yang bersih pada tempat
tulang menonjol keluar. Terdapat sedikit kerusakan pada jaringan lunak,
tanpa penghancuran dan fraktur tidak kominutif.
Grade II : luka > 1 cm, tetapi tidak ada penutup kulit. Tidak banyak
terdapat kerusakan jaringan lunak, dan tidak lebih dari kehancuran atau
kominusi fraktur tingkat sedang.
Grade III : terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan lunak
dan struktur neurovaskuler, disertai banyak kontaminasi luka.
III A : tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat ditutupi
secara memadai oleh jaringan lunak.
III B : terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif yang
berat.
III C : terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki, tidak peduli
berapa banyak kerusakan jaringan lunak yang lain.




ix

F. Fraktur Humerus
Fraktur humerus dapat terjadi pada:
1. Fraktur Epifisis Humerus
Fraktur epifisis humerus merupakan fraktur lempeng epifisis tipe II (Salter-
Harris).Biasanya terjadi pada anak-anak yang jath dalam posisi hiperekstensi,
misalnya jatuh pada saat mengendarai sepeda/kuda.
Klasifikasi: (Menurut Neer-Horowitz)
Grade I : pergeseran fraktur kurangdari 5 mm
Grade II : pergeseran epifisis 1/3 terhadapfragmen distal
Grade III : pergeseran 2/3
GradeIV : pergeseran melebihi 2/3
Tujuh puluh persen fraktur epifisis adalah grade I dan II.
2. Fraktur Metafisis Humerus
Biasanya tidak mengalami pergeseran,terapi konservatif merupakan pilihan
pengobatan. Fraktur metafisis dengan pergeseran yang jauh biasanya bagian distal
menembus ke arah muskulus deltoid sampai subkutan. Pada keadaan ini biasanya
memerlukan operasi untuk melepaskan fragmen.
3. Fraktur Diafisis Humerus
Fraktur diafisis humerus terjadi karena trauma langsung atau trauma putar
pada daerah humerus. Gambaran klinis fraktur ini adalah terdapat pembengkakan
dan nyeri pada daerah humerus. Harus diperhatikan apakah fraktur humerus ini
disertai kelumpuhan saraf nervus radialis yang jarang ditemukan pada anak-anak.
4. Fraktur Supracondyler Humerus
Fraktur ini biasanya ditemukan pada anak-anak. Paling sering ditemukan
setelah fraktur antebraki. Fragmen distal dapat tertarik ke posterior atau anterior.
Pergeseran posterior (tipe ekstensi) menunjukkan cedera yang luas, biasanya
jatuh pada tangan yang terentang. Humerus patah tepat di atas kondilus. Fragmen
distal terdesak ke belakang. Ujung fragmen proksimal yang bergerigi menyodok
jaringan lunak ke bagian anterior, kadang-kadang mencederai arteri brachialis atau
nervus medianus.
Pergeseran anterior (tipe fleksi) jarang terjadi, diperkirakan akibat benturan
langsung saat siku dalam keadaan fleksi.
x

Fraktur terlihat paling jelas dalam foto lateral.pada fraktur yang bergeser ke
posterior, garis fraktur berjalan secara oblik ke bawah dan ke depan dan fragmen
distal bergeser ke belakang dan miring ke belakang.
Klasifikasi
o Tipe 1 : Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya retak berupa garis.
o Tipe 2 : Tidak ada pergeseran fragmen, hanya terjadi perubahan sudut antara
humerus dan kondilus lateralis.
o Tipe 3 : Terdapat pergeseran fragmen tetapi segmen posterior masih utiuh serta
masih kontak antara dua fragmen.
Tipe 4 : Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali.
G. Pathways


H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologis
Dilakukan foto rontgen sinar X pada posisi AP, ataupun lateral. Untuk melihat
adanya fraktur naviculare dilakukan foto oblik khusus 45 dan 135 atau foto ulang 1
minggu setelah kejadian karena mungkin retak tidak terlihat pada cedera baru.
xi

Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-tanda klasik, diagnosis dapat dibuat secara
klinis sedangkan pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk melengkapi deskripsi
fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya.
Untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan tanda-tanda klasik memang
diagnosanya harus dibantu pemeriksaan radiologis baik rontgen biasa ataupun
pemeriksaan canggih seperti MRI, misalnya untuk fraktur tulang belakang dengan
komplikasi neurologis. Foto rontgen minimal harus 2 proyeksi yaitu AP dan lateral. AP
dan lateral harus benar-benar AP dan lateral. Posisi yang salah akan memberikan
interpretasi yang salah. Untuk pergelangan tangan atau sendi panggul diperlukan posisi
axial pengganti lateral. Untuk acetabulum diperlukan proyeksi khusus alar dan
obturator.
Pada investigasi fraktur humerus distal dengan foto rontgen x-ray dilihat adakah
soft tissue swelling, kemudian dicari adakah fraktur pada os humerus dimanakah
tempatnya, apakah di diafisis, metafisis, atau epifisis, apakah komplit atau inkomplit,
bagaimana konfigurasinya, apakah transversal, oblik, spiral, atau kominutif, apakah
hubungan antar fragmennya displaced atau undisplaced, lalu adakah dislokasi pada
pertautan tulang-tulang tersebut
Pada pemeriksaaan sendi siku dapat dilakukan dengan foto polos dan foto lateral.
a) Foto polos
Sudut Baumann
Pada tulang immatur, kondilus humerus lateral mengalami angulasi ke arah
metafisis. Sudut antara garis epifiseal dan garis yang tegak lurus terhadap aksis
longitudinal humerus disebut sudut baumann, yang normalnya 8-20 derajat. Biasanya
sudut ini dibandingkan antara siku kiri dan siku kanan apabila ada kecurigaan fraktur
di daerah itu.
Sudut angkat
Merupakan sudut yang dibentuk antara aksis longitudinal humerus dan lengan
bawah pada proyeksi AP. Normalnya 15 derajat pada anak-anak dibawah atau sama
dengan 4 tahun dan pada orang dewasa 17,8 derajat.
b) Foto lateral
Sudut kondilohumeral lateral
Digunakan pada tulang immatur, dibentuk antara aksis longitudinal humerus
dan aksis kondilus lateralis. Normalnya 40 derajat dan simetris kanan dan kiri.

xii

Garis anterior humeral
Adalah garis lurus yang dibuat dari bagian depan korteks diafisis humerus ke
kondilus lateralis.
Pada foto rontgen fraktur epifisis humerus, ditemukan adanya pemisahan
epifisis dan metafisis, dimana epifisis bersama-sama dengan sebagian metafisis yang
tetap terletak dalam ruang sendi, sedang bagian distal tertarik ke proksimal.
I. Diagnosis
Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap
dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting untuk
dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk
membantu mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan yang sebenarnya.
1. Anamnesa : ada trauma
Bilamana tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma harus
diperinci jenisnya, besar-ringannya trauma, arah trauma dan posisi penderita atau
ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).
Dari anamnesa saja dapat diduga :
o Kemungkinan politrauma
o Kemungkinan fraktur multipel
o Kemungkinan fraktur-fraktur tertentu, misalnya : fraktur colles,
fraktur supracondylair humerus, fraktur collum femur.
o Pada anamnesa ada nyeri tetapi tidak jelas pada fraktur inkomplit
o Ada gangguan fungsi, misalnya : fraktur femur, penderita tidak dapat
berjalan. Kadang-kadang fungsi masih dapat bertahan pada fraktur
inkomplit dan fraktur impacted ( impaksi tulang kortikal ke dalam tulang
spongiosa).
2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan kompikasi umum, misalnya : shock pada fraktur
multipel, fraktur pelvis atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka
terinfeksi.
3. Pemeriksaan status lokalis
Tanda-tanda fraktur yang klasik adalah untuk tulang panjang. Fraktur tulang-
tulang kecil misalnya: naviculare manus, fraktur avulsi, fraktur intraartikuler, fraktur
epifisis. Fraktur tulang-tulang yang dalam misalnya odontoid-cervical, cervical, dan
acetabulum mempunyai tanda-tanda tersendiri.
xiii

J. Penatalaksanaan
Secara umum prinsip pengobatan fraktur ada 4:
1. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan:
Lokalisasi fraktur
Bentuk fraktur
Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
2. Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan,
deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah :
alignment yang sempurna
aposisi yang sempurna
3. Retention; imobilisasi fraktur
4. Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Pilihan Terapi
Ada 2 terapi, pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur, usia penderita,
level aktivitas, dan pilihan dokter sendiri.
1. Pilihan terapi pada fraktur tertutup adalah terapi konservatif atau operatif.
a) Terapi konservatif
1. Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragen yang minimal
atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan cacat di kemudian
hari.
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan
fraktur dengan kedudukan yang baik.
xiv

3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang
berarti. Fragen distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap
fragen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam
gips.
4. Traksi
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di
dalam gips. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi
dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau
dipasang gips estela tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai kulit (traksi
Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan
beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi
untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan
dengan immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi
skeletal berupa balanced traction.
b) Terapi operatif
1) Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan
radiologis.
1. Reposisi tertutup fiksasi externa
Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif
maka dipasang fiksasi externa. Untuk fiksasi fragmen patahan tulang,
digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian
pin baja tadi disatukan secara kokoh dengan batangan logam di luar
kulit.
2. Reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi interna.
Fragmen direposisi secara non operatif dengan meja traksi.
Setelah tereposisi dilakukan pemasangan pen secara operatif.
2) Terapi operatif dengan membuka frakturnya
1. Reposisi terbuka dan fikasasi interna /ORIF (Open Reduction and
Internal Fixation)
Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum
tulang panjang, bisa juga berupa plat dengan skrup di permukaan
tulang. Keuntungan ORIF adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan
bila dipasang fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak perlu
xv

lagi dipasang gips dan segera bisa dilakukan immobilisasi.
Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini mengundang resiko
infeksi tulang.
Indikasi ORIF:
a. Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis
tinggi.
b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.
d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih
baik dengan operasi, misalnya fraktur femur.
2. Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis dilakukan pada
fraktur kolum femur.
2. Terapi pada fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan
segera. Tindakan harus sudah dimulai dari fase pra rumah sakit:
- pembidaian
- menghentikan perdarahan dengan perban tekan
- menghentikan perdarahan dengan perban klem.
Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena
40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan life-saving harus selalu
di dahulukan dalam kerangka kerja terpadu.
Tindakan terhadap fraktur terbuka:
1. Nilai derajat luka, kemudian tutup luka dengan kassa steril serta pembidaian
anggota gerak, kemudian anggota gerak ditinggikan.
2. Kirim ke radiologi untuk menilai jenis dan kedudukan fraktur serta tindakan
reposisi terbuka, usahakan agar dapat dikerjakan dalam waktu kurang dari 6
jam (golden period 4 jam)
3. Penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin.
Tindakan reposisi terbuka:
1. Pemasangan torniquet di kamar operasi dalam pembiusan yang baik.
2. Ambil swab untuk pemeriksaan mikroorganisme dan kultur/ sensitifity test.
xvi

3. Dalam keadaan narkose, seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dan
dicukur.
4. Luka diirigasi dengan cairan Naci steril atau air matang 5-10 liter. Luka
derajat 3 harus disemprot hingga bebas dari kontaminasi.
5. Tutup luka dengan doek steril
6. Ahli bedah cuci tangan dan seterusnya
7. Desinfeksi anggota gerak
8. Drapping
9. Debridement luka (semua kotoran dan jaringan nekrosis kecuali neirovascular
vital termasuk fragmen tulang lepas dan kecil) dan diikuti reposisi terbuka,
kalau perlu perpanjang luka dan membuat incisi baru untuk reposisi tebuka
dengan baik.
10. Fiksasi:
a. Fiksasi interna untuk fraktur yang sudah dipertahankan reposisinya
(unstable fracture) minimal dengan Kischner wire
b. Intra medular nailing atau plate screw sesuai dengan indikasinya seperti
pada operasi elektif, terutama yang dapat dilakukan dalam masa golden
period untuk fraktur terbuka grade 1-2
c. Tes stabilitas pada tiap tindakan. Apabila fiksasi interna tidak memadai
(karena sifatnya hanya adaptasi) buat fiksasi luar (dengan gips spalk atau
sirkular)
d. Setiap luka yang tidak bisa dijahit, karena akan menimbulkan ketegangan,
biarkan terbuka dan luka ditutup dengan dressing biasa atau dibuat
sayatan kontra lateral.
Untuk grade 3 kalau perlu:
Pasang fikasasi externa dengan fixator externa (pin/screw dengan K
nail/wire dan acrylic cement). Usahakan agar alignment dan panjang
anggota gerak sebaik-baiknya. Apabila hanya dipasang gips, pasanglah
gips sirkuler dan kemudian gips dibelah langsung (split) setelah selesai
operasi.
e. Buat x-ray setelah tindakan



xvii

K. Prognosis
Prognosis dari fraktur humerus, radius dan ulna untuk kehidupan adalah bonam.
Pada sisi fungsi dari lengan yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke performa
semula, namun hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya, macam terapi yang
dipilih, dan bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan. Hampir semua penderita akan
merasakan kaku dan nyeri di pergelangan tangan pada satu atau dua bulan setelah gips
dilepas atau pembedahan, hal ini dapat berlanjut sampai dua tahun bahkan lebih terutama
pada trauma kecepatan tinggi, pasien di atas 50 tahun, atau pasien yang memiliki
osteoartritis. Namun kekakuan yang terjadi hanya ringan dan tidak mempengaruhi
keseluruhan fungsi lengan.
Bahaya besar pada fraktur suprakondilus adalah cedera pada arteri brachialis,
iskemia perifer dapat terjadi dengan segera dan hebat. Sering disertai edema lengan
bawah dan kompartemen sindrom yang makin menghebat yang mengakibatkan nekrosis
otot dan saraf tanpamenyebabkan gangren perifer. Nyeri hebat ditambah satu tanda
positif (nyari saat ekstensi jarisecar pasif, lengan bawah yang nyeri tekan dan tegang, tak
ada nadi dan tumpulnya sensasi) membutuhkan tindakan yang cepat. Jika tidak tertangani
dengan cepat dan baik maka prognosisnya dapat menjadi jelek.
Lesi saraf jarang terjadi pada fraktur tertutup. Apabila terjadi, bisa mengenai
saraf radialis, ulnaris, maupun medianus atau cabangnya. Cedera saraf radialis ditemukan
pada fraktur Monteggia, sedangkan cedera saraf medianus sering terjadi pada fraktur
radius distal.
Malunion sering terjadi, humerus tumbuh lurus miring ke belakang atau ke
samping.Kemiringan ke arah depan atau belakang akan membatasi fleksi dan ekstensi.
Kemiringan ke arah samping atau rotasi tidak dikoreksi akan mengarah terjadinya
deformitas varus, yang tampak buruk dan kadang membutuhkan osterotomi. Jika
mengarah ke deformitas valgus dapat menyebabkan kelumpuhan nervus ulnaris.
Komplikasi infeksi yang menyebabkan osteomielitis biasanya merupakan akibat
dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah reposisi terbuka.






xviii

BAB III
KESIMPULAN

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan atau
tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal, tekanan yang
berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).
Pada investigasi fraktur humerus distal dengan foto rontgen x-ray dilihat adakah soft
tissue swelling, kemudian dicari adakah fraktur pada os humerus dimanakah tempatnya,
apakah di diafisis, metafisis, atau epifisis, apakah komplit atau inkomplit, bagaimana
konfigurasinya, apakah transversal, oblik, spiral, atau kominutif, apakah hubungan antar
fragmennya displaced atau undisplaced, lalu adakah dislokasi pada pertautan tulang-tulang
tersebut.
Prognosis dari fraktur humerus, radius dan ulna untuk kehidupan adalah bonam. Pada
sisi fungsi dari lengan yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke performa semula, namun
hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya, macam terapi yang dipilih, dan
bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan. Hampir semua penderita akan merasakan kaku
dan nyeri di pergelangan tangan pada satu atau dua bulan setelah gips dilepas atau
pembedahan, hal ini dapat berlanjut sampai dua tahun bahkan lebih terutama pada trauma
kecepatan tinggi, pasien di atas 50 tahun, atau pasien yang memiliki osteoartritis. Namun
kekakuan yang terjadi hanya ringan dan tidak mempengaruhi keseluruhan fungsi lengan.














xix

DAFTAR PUSTAKA

1. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Fakultas Kedoktran
Universitas Indonesia. Jakarta: Binarupa Aksara. 1995
2. Apley AG, Solomon L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta:
Widya Medika. 1995.
3. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang
Lamumpatue. 2003.
4. Bergman, Ronald, Ph.D. Anatomy of First Aid: A Case Study Approach. Available
from:http://www.anatomyatlases.org/firstaid/ThighInjury.shtml
5. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC. 2004.
6. John L. Triplane fracture. Available from: http://www.emedicine.com/sports-
/TOPIC38.HTM
7. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ketiga. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.
8. Snell, Anatomi Klinik. Bagian 2. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. 1998