Anda di halaman 1dari 1

Pada usia 40 tahun, Muhammad telah menerima wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi

sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira’ dan sentiasa merenung dalam kesunyian,
memikirkan nasib umat manusia pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan
menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-’Alaq, 96: 1)
Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar lalu diselimuti oleh Khadijah yang cuba
menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah tentang
kejadian yang telah berlaku.
Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya
untuk mengelakkan kecaman yang hebat daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala.
Khadijah isterinya adalah wanita pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin
Abi Talib adalah lelaki pertama yang beriman dengan ajaran baginda.Dakwah yang sedemikian
berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.
Wahyu menurut etimologi (bahasa) adalah memberitahukan secara sama, atau dapat
diartikan juga dengan tulisan, tertulis, utusan, ilham, perintah dan isyarat. Sedangkan menurut
terminology (syariat) adalah memberitahukan hukum – hukum syariat, namun terkadang yang
dimaksud dengan wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan, yaitu kalam Allah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw. Adapun pengertian “permulaan turunnya wahyu” adalah segala
sesuatu yang berkenaan dengan permulaan turunnya wahyu.

([Sesungguhnya Kami menurunkan wahyu kepadamu [Muhammad) ‫حْيَنا‬


َ ‫ِإّنا َأْو‬
Ada pendapat yang mengatakan, disebutkannya nama nabi Nuh dalam ayat tersebut,
menunjukkan bahwa nabi Nuh adalah nabi yang pertama diutus oleh Allah atau nabi pertama yang
kaumnya mendapat siksaan, sehingga dengan demikian tidak menyalahi nabi Adam sebagai nabi
pertama. Masalah ini akan dibahas secara panjang lebar dalam masalah syafa’at. Sedangkan
korelasi ayat ini dengan pembahasan tentang wahyu, adalah menjelaskan bahwa turunnya wahyu
kepada nabi Muhammad tidak berbeda dengan cara turunnya wahyu kepada nabi – nabi
sebelumnya. Seperti cara turunnya wahyu pertama kali kepada para nabi adalah dengan mimpi,
sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Dalail dengan sanad hasan dari Alqamah
bin Qais, teman Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Sesungguhnya wahyu yang pertama turun kepada para
nabi adalah dengan cara mimpi sehingga hati mereka menjadi tenang, setelah itu Allah
menurunkan wahyu kepada mereka dalam keadaan sadar.”