Anda di halaman 1dari 20

Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Hifofisis

Kelenjar Hipofisa

DEFINISI

Hipofisa merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, yang terletak di


dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Sela tursika melindungi hipofisa
tetapi memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang.

Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong ke atas, seringkali menekan


daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan mungkin akan menyebabkan sakit
kepala atau gangguan penglihatan.

Hipofisa mengendalikan fungsi dari sebagian besar kelenjar endokrin lainnya.


Hipofisa dikendalikan oleh hipotalamus, yaitu bagian otak yang terletak tepat diatas
hipofisa. Hipofisa memiliki 2 bagian yang berbeda, yaitu lobus anterior (depan) dan
lobus posterior (belakang).

Hipotalamus mengendalikan lobus anterior (adenohipofisa) dengan cara


melepaskan faktor atau zat yang menyerupai hormon, melalui pembuluh darah yang
secara langsung menghubungkan keduanya. Pengendalian lobus posterior
(neurohipofisa) dilakukan melalui impuls saraf.

Lobus anterior menghasilkan hormon yang pada akhirnya mengendalikan


fungsi:

1
• Kelenjar tiroid, kelenjar adrenal dan organ reproduksi (indung telur dan
buah zakar)
• Laktasi (pembentukan susu oleh payudara)
• Pertumbuhan seluruh tubuh.

Adenohipofisa juga menghasilkan hormon yang menyebabkan kulit berwarna


lebih gelap dan hormon yang menghambat sensasi nyeri.

• Hipofisa posterior menghasilkan hormon yang berfungsi:


• Mengatur keseimbangan air
• Merangsang pengeluaran air susu dari payudara wanita yang menyusui
• Merangsang kontraksi rahim.

Dengan mengetahui kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang berada
dibawah kendali hipofisa (kelenjar target), maka hipotalamus atau hipofisa bisa
menentukan berapa banyak perangsangan atau penekanan yang diperlukan oleh hipofisa
sesuai dengan aktivitas kelenjar target.

Hormon yang dihasilkan oleh hipofisa (dan hipotalamus) tidak semuanya


dilepaskan terus menerus. Sebagian besar dilepaskan setiap 1-3 jam dengan pergantian
periode aktif dan tidak aktif.

Beberapa hormon (misalnya kortikotropin yang berfungsi mengendalikan


kelenjar adrenal, hormon pertumbuhan yang mengendalikan pertumbuhan dan prolaktin
yang mengendalikan pembuatan air susu) mengikuti suatu irama yang teratur, yaitu

2
kadarnya meningkat dan menurun sepanjang hari, biasanya mencapai puncaknya sesaat
sebelum bangun dan turun sampai kadar terendah sesaat sebelum tidur.

Kadar hormon lainnya bervariasi, tergantung kepada beberapa faktor. Pada


wanita, kadar LH (luteinizing hormone) dan FSH (follicle-stimulating hormone) yang
mengendalikan fungsi reproduksi, bervariasi selama siklus menstruasi.

Terlalu banyak atau terlalu sedikitnya satu atau lebih hormon hipofisa
menyebabkan sejumlah gejala yang bervariasi.

A. Fungsi Lobus Anterior

Lobus anterior merupakan 80% dari berat kelenjar hipofisa. Bagian ini
melepaskan hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan fisik yang normal
atau merangsang aktivitas kelenjar adrenal, kelenjar tiroid serta indung telur atau buah
zakar.

Jika hormon yang dilepaskan terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka kelenjar
endokrin lainnya juga akanmelepaskan hormon yang terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Salah satu hormon yang dilepaskan oleh lobus anterior adalah kortikotropin
(ACTH, adenocorticotropic hormone), yang merangsang kelenjar adrenal untuk
melepaskan kortisol dan beberapa steroid yang menyerupai testosteron (androgenik).

Tanpa kortikotropin, kelenjar adrenal akan mengkisut (atrofi) dan berhenti


menghasilkan kortisol, sehingga terjadi kegagalan kelenjar adrenal.

Beberapa hormon lainnya dihasilkan secara bersamaan dengan kortikotropin,


yaitu beta-melanocyte stimulating hormone, yang mengendalikan pigmentasi kulit serta
enkefalin dan endorfin, yang mengendalikan persepsi nyeri, suasana hati dan kesiagaan.

TSH (thyroid-stimulating hormone) juga dihasilkan oleh lobus anterior dan


berfungsi merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid.

Terlalu banyak TSH menyebabkan pembentukan tiroid yang berlebihan


(hipertiroidisme), terlalu sedikit TSH menyebakbn berkurangnya pembentukan hormon
tiroid (hipotiroidisme).

3
2 hormon lainnya yang dihasilkan oleh lobus anterior adalah LH (luteinizing
hormone) dan FSH (follicle-stimulating hormone). Keduanya merupakan gonadotropin,
berfungsi merangsang indung telur dan buah zakar.

• Pada wanita, kedua hormon ini merangsang pembentukan estrogen dan


progesteron serta merangsang pelepasan sel telur setiap bulannya dari
indung telur.
• Pada pria, LH merangsang buah zakar untuk menghasilkan testosteron
dan FSH merangsang pembentukan sperma.

Salah satu hormon terpenting yang dihasilkan oleh lobus anterior adalah hormon
pertumbuhan, yang merangsang pertumbuhan otot dan tulang serta membantu mengatur
metabolisme. Hormon pertumbuhan dapat meningkatkan aliran gula ke otot dan lemak,
merangsang pembentukan protein di hati dan otot serta memperlambat pembentukan
jaringan lemak. Efek jangka panjang dari hormon pertumbuhan adalah menghambat
pengambilan dan pemakaian gula sehingga kadar gula darah meningkat dan
meningkatkan pembentukan lemak dan kadar lemak dalam darah. Kedua efek tersebut
sangat penting karena tubuh harus menyesuaikan diri dengan kekurangan makanan
ketika berpuasa.

Bersamaan dengan kortisol, hormon pertumbuhan membantu mempertahankan


kadar gula darah untuk otak dan memindahkan lemak, sehingga sel-sel tubuha lainnya
dapat menggunakannya sebagai cadangan sumber energi.

Pada berbagai kasus, hormon pertumbuhan tampaknya bekerja dengan cara


mengaktifkan sejumlah faktor pertumbuhan, yang paling penting adalah faktor
pertumbuhan yang menyerupai insulin (IGF-1, insulin-klike growth factor).

B. Fungsi Lobus Posterior

Lobus posterior hanya menghasilkan 2 macam hormon, yaitu hormon


antidiuretik dan oksitosin.

Sesungguhnya kedua hormon ini dihasilkan oleh sel-sel saraf di dalam


hipotalamus; sel-sel saraf ini memiliki tonjolan-tonjolan (akson) yang mengarah ke
hipofisa posterior, dimana hormon ini dilepaskan.

4
• Hormon antidiuretik dan oksitosin tidak merangsang kelenjar endokrin
lainnya, tetapi langsung mempengaruhi organ target.
• Hormon antidiuretik (disebut juga vasopresin) meningkatkan
penahanan air oleh ginjal. Hormon ini membantu tubuh menahan
jumlah air yang memadai.

Jika terjadi dehidrasi, maka reseptor khusus di jantung, paru-paru. Otak dan
aorta, mengirimkan sinyal kepada kelenjar hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak
hormon antidiuretik. Kadar elektrolit (misalnya natrium, klorida dan kalium) dalam
darah harus dipertahankan dalam angka tertentu agar sel-sel berfungsi secara normal.
Kadar elektrolit yang tinggi (yang dirasakan oleh otak) akan merangsang pelepasan
hormon antidiuretik.

Pelepasan hormon antidiuretik juga dirangsang oleh nyeri, stress, olah raga,
kadar gula darah yang rendah, angiotensin, prostaglandin dan obat-obat tertentu
(misalnya klorpropamid, obat-obat kolinergik dan beberapa obat yang digunakan untuk
mengobati asma dan emfisema).

Alkohol, steroid tertentu dan beberapa zat lainnya menekan pembentukan


hormon antidiuretik. Kekurangan hormon ini menyebabkan diabetes insipidus, yaitu
suatu keadaan dimana ginjal terlalu banyak membuang air.

Oksitosin menyebabkan kontraksi rahim selama proses persalinan dan segera


setelah persalinan untuk mencegah perdarahan.

Oksitosin juga merangsang kontraksi sel-sel tertentu di payudara yang


mengelilingi kelenjar susu. Pengisapan puting susu merangsang pelepasan oksitosin
oleh hipofisa. Sel-sel di dalam payudara berkontraksi, sehingga air susu mengalir dari
dalam payudara ke puting susu.

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa

No Hormon Location Function


1. Hormon pertumbuhan Otot & tulang meningkatkan pertumbuhan binatang
(growth hormone) GH/ dengan mempengaruhi beberapa
somatotropin fungsi metabolisme seluruh tubuh,
khususnya pembentukan protein

5
2. Prolaktin hormon Kelenjar mengatur sekresi beberapa hormon
adenokortikotropik adrenal korteks adrenal, yang selanjutnya
(ACTH) mempengaruhi metabolisme glukosa,
protein, dan lemak.

3. Hormon stimulasi Tiroid mengatur kecepatan sekresi tiroksin


tiroid (TSH) oleh kelenjer tiroid, dan tiroksin
selanjutnya mengatur kecepatan
sebagian besar reaksi – reaksi kimia
seluruh tubuh

4. Prolaktin Kelenjar susu meningkatkan perkembangan


kekelenjar mammae dan pembentukan
susu
5 hormon luteinisasi Indung telur mengatur pertumbuhan gonad serta
(LH) (buah zakar) aktivitas reproduksinya.

6. hormon stimulasi Indung telur mengatur pertumbuhan gonad serta


folikel (FSH) (buah zakar) aktivitas reproduksinya.

7 Oksitosin Rahim & Berperan dalm proses persalinan bayi


kelenjar susu dan laktasi
8. Hormon antidiuretik Ginjal Mengatur kecepatan ekskresi air ke
(vasopresin) dalam urin dan dengan cara ini
membantu mengatur konsentrasi air
dalam cairan tubuh.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PENDERITA


HYPERPITUITARI

6
Konsep Dasar

Hyperpituitarism is the result of excess secretion of adenohypophyseal trophic


hormones most commonly by a functional pituitary adenoma. Other causes are
hyperplasias and carcinomas of the adenohypophysis, secretion by non-pituitary
tumours and certain hypothalamic disorders.

Hiperpituitarisme yaitu suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi
hipofisis sehingga menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormon hipofisis atau
lebih. Jenis – jenis penyakit hyper pituitary:

Hyperpituitary

Tauma kepala dan Tumor otak

Hypersecretion gland ↑

GH ↑ ACTH↑ TSH↑ Prolaktin↑ Gonadotropin↑

hipertiroidisme
pada ank.
prekoks
gan seksual
Perkemban

Sindrom
impoten
infertilitas,
re, ↓ libido,
Amenore,galakto

cushing
tisme
Gigan
i
megal
Akro

SIADH
ADH↑

1. SIADH (Syndrome of inappropriate Antidiuretic Hormone)

a. Definisi

7
kumpulan gejala akibat gangguan hormon antidiuretik, Gangguan
produksi hormon antidiuretik ini menyebabkan retensi garam atau hiponatremia.
Ahli Patologi klinik juga akan mencari data labor lain yang berhubungan dengan
osmolaritas serum, peningkatan gravitas urin, edema atau dehidrasi,
hiponatremia dan peningkatan hormon plasma vasopresin. Biasanya fungsi
adrenal, tyroid dan ginjal dalam batas normal. Hal lain kadang gejala SIADH
berhubungan dengan trauma kepala atau tumor, dimana patologi akan
mengambil biopsi untuk memastikannya

b. Etiologi

SIADH sering terjadi pada pasien gagal jantung atau dengan gangguan
hipotalamus (bagian dari otak yang berkoordinasi langsung dengan kelenjar
hipofise dalam memproduksi hormone). Pada kasus lainnya, missal: beberapa
keganasan (ditempat lain dari tubuh) bisa merangsang produksi hormon anti
diuretik, terutama keganasan di paru dan kasus lainnya seperti dibawah ini:

• Meningitis – peradangan pada meningens, selaput pelindung otak dan


saraf spinalis.
• Encephalitis – peradangan dijaringan otak.
• Tumor otak
• Psikosis
• Penyakit paru
• Trauma kepala
• Guillain-Barré syndrome (GBS) – keadaan reversible yang menyerang
jaringan syaraf, menyebabkan lemah otot, nyeri dan paralisa temporer di
wajah dan otot kaki dan paralisa di bagian dada bisa menganggu proses
bernafas.
• Penggunaan obat tertentu
• Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofise saat pembedahan

c. Manifestasi klinis :

Pada kasus SIADH berat, gejalanya meliputi::

• Nausea
8
• Muntah
• Irritability
• Perubahan prilaku seperti meracau, bingung dan halusinasi,
• Seizures
• Stupor
• Koma

d. Patofisiologi

Salah satu rangsangan yang menyebabkan sekresi ( vasopresin) menjadi kuat


adalah penurunan valume darah. Keadaan ini terjadi secara hebat terutama saat
volume darah turun 15 – 25 persen, dengan kecepatan sekresi meningkat sering
sampai 50 kali dari normal. Penyebab peningkatan ini adalah atrium, terutama
atrium kanan, mempunyai reseptor regang yang di bangkitkan, reseptor akan
mengirimkan sinyal ke otak untuk menghambat sekresi ADH. Sebaliknya, bila tidak
dibangkitkan akibat tidak penuhnya pengisian, terjadi proses yang berlawanan,
dengan peningkatan sekresi ADH yang sangat besar. Lebih lanjut, di samping
reseptor regangan atrium, penurunan regangan baroreseptor pada daerah karotid,
aortik dan pulmonari dalam peningkatan sekresi ADH.

Sekresi darah yang terlalu banyak ke dalam atrium dapat terjadi pada jantung
yang kardiomegali. Atrium yang mebesar tanpa di ikutioleh katup – katupnya
membuat darah menumpuk pada atrium – atrium dan akhirnya terjadilah gagal
jantung.

2. Galaktore

a. Definisi

Galaktore adalah pembentukan air susu pada pria atau wanita yang tidak sedang
dalam masa menyusui.

b. Etiologi

Penyebabnya adalah prolaktinoma (tumor yang menghasilkan prolaktin) pada


kelenjar hipofisa. Pada saat terdiagnosis biasanya prolaktinoma ini ukurannya kecil,
tetapi pada pria tumor ini cenderung membesar.Pembentukan prolaktin yang
berlebihan dan terjadinya galaktore juga bisa dirangsang oleh obat-obatan seperti
fenotiazin, obat tertentu untuk tekanan darah tinggi (terutama metildopa) dan

9
narkotik. Penyebab lainnya yang mungkin adalah hipotiroidisme.gagl ginjal dan
efek samping obat bisa menjadi faktor penyebab

c. Manifestasi klinis

• Gangguan siklus menstruasi atau siklusnya berhenti.


• Wajah tampak merah
• vagina kering sehingga terjadi gangguan dalam melakukan hubungan
seksual.
• Penderita pria mengalami sakit kepala atau kehilangan lapang pandang
perifernya
• Sekitar 2/3 penderita pria kehilangan gairah seksualnya dan menjadi
impoten.

d. Patofisiologi

Kelebihan prolaktin hampir selalu di sebabkan oleh adenoma hipofise,


biasanya berupa mikrokardenoma (diameter tumor kurang dari 1 cm).
Atau disfungsi hipotalamus. Dopamin merupakan inhibitor hipotalamik
primer untuk pelepasan prolaktin terputusnya trasnmisi dopamin
kehipofise dapat menyebabkan prolaktin berlebihan.

3. Gigantisme
a. Definisi :

Gigantisme adalah pertumbuhan abnormal dari seluruh tubuh karena


kelenjar hypophysis memproduksi hormon berlebihan. Hipofisis adalah
kelenjar seukuran biji kacang tanah dan menggantung dari otak, terbaring di
sebelah dalam tulang pelipis dekat bola mata. Penyakit ini ditandai oleh
pembesaran dan penebalan tulang dahi, rahang, kaki, dan tangan secara
berangsur. Penyakit ini berlangsung lambat dan baru diketahui setelah
penderita memasuki usia menengah kelainan yang disebabkan oleh karena
sekresi Growth Hormone (GH) yang berlebihan dan terjadi sebelum dewasa
atau sebelum proses penutupan epifisis

10
b. Etiologi
• Gigantisme Primer atau Hipofisis, di mana penyebabnya adalah
adenoma hipofisis
• Gigantisme Sekunder atau hipothalamik, disebabkan oleh karena
hipersekresi GHRH dari Hipothalamus.
• Gigantisme yang disebabkan oleh tumor ektopik (paru, pankreas,
dll) yang mensekresi GH atau GHRH

Gigantisme disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. Keadaan ini dapat


diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan
hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan.
Gigantisme dapat terjadi bila keadaan kelebihan hormone pertumbuhan
terjadi sebelum lempeng epifisis tulang menutup atau masih dalam masa
pertumbuhan. Penyebab kelebihan produksi hormone pertumbuhan terutama
adalah tumor pada sel-sel somatrotop yang menghasilkan hormone
pertumbuhan.

c. Patofisiologi

Sel asidofilik, sel pembentuk hormone pertumbuhan di kelenjar hipofisis


anterior menjadi sangat aktif atau bahkan timbul tumor pada kelenjar
hipofisis tersebut. Hal ini mengakibatkan sekresi hormone pertumbuhan
menjadi sangat tinggi. Akibatnya, seluruh jaringan tubuh tumbuh dengan
cepat sekali, termasuk tulang. Pada Gigantisme, hal ini terjadi sebelum masa
remaja, yaitu sebelum epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang
sehingga tinggi badan akan terus meningkat (seperti raksasa).

Biasanya penderta Gigantisme juga mengalami hiperglikemi. Hiperglikemi


terjadi karena produksi hormone pertumbuhan yang sangat banyak
menyebabkan hormone pertumbuhan tersebut menurunkan pemakaian
glukosa di seluruh tubuh sehingga banyak glukosa yang beredar di pembuluh
darah. Dan sel-sel beta pulau Langerhans pancreas menjadi terlalu aktif
akibat hiperglikemi dan akhirnya sel-sel tersebut berdegenerasi. Akibatnya,
kira-kira 10 persen pasien Gigantisme menderita Diabetes Melitus.

Pada sebagian besar penderita Gigantisme, akhirnya akan menderita

11
panhipopitutarisme bila Gigantisme tetap tidak diobati sebab Gigantisme
biasanya disebabkan oleh adanya tumor pada kelenjar hipofisis yang tumbuh
terus sampai merusak kelenjar itu sendiri.

d. Manifestasi klinis :
• Pertumbuhan linier yang cepat
• Tanda – tanda wajah kasar
• pembesaran kaki dan tangan
• Pada anak muda, pertumbuhan cepat kepala dapat mendahului
pertumbuhan linier
• Beberapa penderita memiliki masalah penglihatan dan perilaku
• Pertumbuhan abnormal menjadi nyata pada masa pubertas
• Jangkung dapat tumbuh sampai ketinggian 8 kaki atau lebih.

4. Akromegali
a. Definisi

Akromegali adalah pertumbuhan berlebihan akibat pelepasan hormon


pertumbuhan yang berlebihan dan terjadi pada usia 30-50 tahun.

b. Etiologi

Pelepasan hormon pertumbuhan berlebihan hampir selalu disebabkan oleh


tumor hipofisa jinak (adenoma).

c. Manifestasi klinis
• Tulang mengalami kelainan bentuk, bukan memanjang. Gambaran
tulang wajah menjadi kasar, tangan dan kakinya membengkak.
• Penderita memerlukan cincin, sarung tangan, sepatu dan topi yang
lebih besar.
• Rambut badan semakin kasar sejalan dengan menebal dan
bertambah gelapnya kulit.
• Kelenjar sebasea dan kelenjar keringat di dalam kulit membesar,
menyebabkan keringat berlebihan dan bau badan yang menyengat.
• Pertumbuhan berlebih pada tulang rahang (mandibula) bisa
menyebabkan rahang menonjol (prognatisme).

12
• Tulang rawan pada pita suara bisa menebal sehingga suara menjadi
dalam dan serak. Lidah membesar dan lebih berkerut-kerut. Tulang
rusuk menebal menyebabkan dada berbentuk seperti tong. Sering
ditemukan nyeri sendi; setelah beberapa tahun bisa terjadi artritis
degeneratif yang melumpuhkan. Jantung biasanya membesar dan
fungsinya sangat terganggu sehingga terjadi gagal jantung.
• Kadang penderita merasakan gangguan dan kelemahan di tungkai
dn lengannya karena jaringan yang membesar menekan persarafan.
Saraf yang membawa sinyal dari mata ke otak juga bisa tertekan,
sehingga terjadi gangguan penglihatan, terutama pada lapang
pandang sebelah luar.
• sakit kepala hebat.
d. Patofisiologi

Bila tumor asidofilik timbul sesudah masa dewasa muda-yakni, sesudah


epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang maka orang itu tidak
dapat tumbuh lebih tinggi lagi, namun jaringan ikat longgarnya masih terus
tumbuh dan tebal tulangnya msih terus tumbuh. Perbesaran tadi terutama
dapat di lihat pada tulang – tulang kecil tangan dan kaki serta pada tulang
membranosa, termasuk tulang tengkorak, hidung, penonjolan tulang dahi ,
tepi supraorbital, bagian bawah rahang, dan bagian tulang vertebra, sebab
pada masa dewasa muda pertumbuhan tulang – tulang ini tidak berhenti.
Akibatnya, tulang rahang tampak menonjol ke depan, kadang kala sampai
setengah inci ke depan, dahi menyempit ke depan sebab pertumbuhan tepi
supraorbitalnya sangat besar, hidung membesar sampai dua kali ukuran
normal, kakinya membutuhkan sepatu berukuran 14 atau lebih besar, dan jari
– jarinya menjadi sangat tebal .

Pengkajian
A. Pengkajian perawatan secara umum
1. Pemantauan akan potensial komlikasi kelainan endokrin dan pengelolaannya
2. Pemantauan akan tanda – tanda dan gejala klinik yang menunjukkan adanya
ketidakseimbangan hormonal
3. Mengetahui persepsi pasien dan keluarga pasien mengenai masalah kesehatan,
pengelolaan dan bantuan yang diperlukan.

13
4. Menentukan barasumber yang diperlukan pasien dan keluarganyauntuk dapat
mengatasi penyakitnya dan untuk pengelolaannya di rumah sakit dan setelah
ulang dari rumah sakit.
5. pengkajian psikologis dan sosial
B. Pengkajian keperawatan secara khusus
1. Riwayat penyakit.
2. Kaji usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.
3. Keluhan utama, melipuse :
• Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ-organ tubuh seperti jari-
jari, tangan, dll.
• Dispaneuria dan pada pria disertai dengan impotensia.
• Nyeri kepala.
• Gangguan penglihatan.
• Libido seksual menurun, dll.
4. Pemeriksaan fisik dan masalah klinik yang sering di jumpai, meliputi :
• Amati bentuk wajah.
• Kepala, tangan/ lengan dan kaki bertambah besar, dagu menjorok ke
depan.
• Adanya kesulitan mengunyah.
• Adanya perubahan pada persendian dimana klien mengeluh nyeri dan
sulit bergerak.
• Peningkatan respirasi kulit.
• Suara membesar karena hipertropi laring
• Pada palpasi abdomen, ditemukan hepatomegali.
• Disfagia akibat lidah membesar.
• Kelemahan
• Perubahan nutisi
• Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
• Perubahan kardiovaskular
• Perubahan karakteristik tubuh
• Intoleransi terhadap stress
• Ketidakstabilan emosional
• Perubahan produksi
C. Data Subjektif
1. Kelemahan dan pola tidur

14
2. Pola makan ( fekuensi dan asupan makanan)
3. Higiene khusus dan kebutuhan untuk bercukur
4. Riwayat kardiovaskular
5. Polaintake dan out[ut cairan
6. Rasa tidak nyaman
7. Penggunaan obat – obatan
8. Riwayat reproduksi
9. Penggunaan medikasi
10. Kelainan endokrin dan pengelolaannya.

D. Data Objektif
1. Tinggi dan berat badan
2. Proporsi tubuh
3. Jumlah dan distribusi masa obat
4. Distribusi lemak
5. Pigmentasi kulit
6. Distribusi rambut
E. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan fungsi target organ
2. Pemeriksaan ACTH, TSH, FSH dan LH serta hormone nontropik
3. Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau supresan hormone dan
dengan melakukan efeknya terhadap kadar hormone sarum.
4. Foto rongen kepala dan tulang kerang tubuh dengan CT scan
F. Diagnosa keperawatan pokok yang dijumpai pada klien dengan
hiperpituitarisme adalah:
1. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik.
2. Disfungsi seksual yang berhubungan dengan penurunan libido ; infertilitas
G. Terapi

Dikenal 2 macam terapi, yaitu:


1. Terapi pembedahan
Tindakan pembedahan adalah cara pengobatan utama. Dikenal dua macam
pembedahan tergantung dari besarnya tumor yaitu : bedah makro dengan melakukan
pembedahan pada batok kepala (TC atau trans kranial) dan bedah mikro (TESH atau
trans ethmoid sphenoid hypophysectomy). Cara terakhir ini (TESH) dilakukan

15
dengan cara pembedahan melalui sudut antara celah infra orbita dan jembatan
hidung antara kedua mata, untuk mencapai tumor hipofisis. Hasil yang didapat
cukup memuaskan dengan keberhasilan mencapai kadar HP yang diinginkan
tercapai pada 70 – 90% kasus. Keberhasilan tersebut juga sangat ditentukan oleh
besarnya tumor.

Efek samping operasi dapat terjadi pada 6 – 20% kasus, namun pada umumnya
dapat diatasi. Komplikasi pasca operasi dapat berupa kebocoran cairan serebro
spinal (CSF leak), fistula oro nasal, epistaksis, sinusitis dan infeksi pada luka
operasi.

Keberhasilan terapi ditandai dengan menurunnya kadar GH di bawah 5 µg/l.


Dengan kriteria ini keberhasilan terapi dicapai pada 50 – 60% kasus, yang terdiri
dari 80% kasus mikroadenoma, dan 20 % makroadenoma.

2. Terapi radiasi
Indikasi radiasi adalah sebagai terapi pilihan secara tunggal, kalau tindakan operasi
tidak memungkinkan, dan menyertai tindakan pembedahan kalau masih terdapat
gejala akut setelah terapi pembedahan dilaksanakan.
Radiasi memberikan manfaat pengecilan tumor, menurunkan kadar GH , tetapi
dapat pula mempengaruhi fungsi hipofisis. Penurunan kadar GH umumnya
mempunyai korelasi dengan lamanya radiasi dilaksanakan. Eastment dkk
menyebutkan bahwa, terjadi penurunan GH 50% dari kadar sebelum disinar (base
line level), setelah penyinaran dalam kurun waktu 2 tahun, dan 75% setelah 5 tahun
penyinaran.
Peneliti lainnya menyebutkan bahwa, kadar HP mampu diturunkan dibawah 5 µg/l
setelah pengobatan berjalan 5 tahun, pada 50% kasus. Kalau pengobatan dilanjutkan
s/d 10 tahun maka, 70% kasus mampu mencapai kadar tersebut.

F. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan :
• Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan penampilan fisik

16
Intervensi Keperawatan :
A. Nonpembedahan
Klien dengan kelebihan GH :
• Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap
perubahan penampilan tubuhnya.
• Bantu klien mengidentifikasi kekeuatannya serta segi-segi positif yang dapat
dikembangkan oleh klien.
• Klien dengan kelebihan prolaktin :
• Yakinkan klien bahwa sebagian gejala dapat berkurang dengan pengobatan.
• Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.

B. Perawatan Preoperasi
• Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan yang dilakukan.
• Menjelaskan penggunaan tampon hidung selama 2-3 hari pasca operasi.
Anjurkan klien bernafas melalui mulut selama pemasangan tampon.
• Menjelaskan penggunaan balut tekan yang ditempatkan dari bawah hidung,
menggosok gigi, batuk, bersin, karena hal ini dapat menghambat penyembuhan
luka.
• Menjelaskan berbagai prosedur diagnostik yang diperlukan sebagai persiapan
operasi seperti pemeriksaan neurologik, hormonal, lapang pandang, swab
tenggorok untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas.
• Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan pembedahan dilaksanakan.
Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi, perawat menjelaskan agar klien
menghindari aktifitas yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan,
batuk, dll. Juga jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat
mencegah obstipasi seperti makan makanan tinggi serat, minum air yang cukup,
pelunak feses bila diperlukan.
Perawatan Pascaoperasi
• Amati respon neurologik klien dan catat perubahan penglihatan, disorientasi dan
perubahan kesadaran serta penurunan kekuatan motorik ekstrimitas.
• Amati pula komplikasi pascaoperasi yang lazim terjadi seperti transient
insipidus (diabetes insipidus sesaat).
• Anjurkan klien untuk melaporkan pada perawat bila terjadi pengeluaran sekret
dari hidung.
• Tinggikan posisi kepala 30-45 derajat.

17
• Kaji drainase nasal baik kualitas maupun kuantitas.
• Hindari batuk, ajarkan klien bernafas dalam, lakukan hygiene oral secara teratur.
• Kaji tanda-tanda infeksi.
• Kolaborasi pemberian gonadotropin, kortisol ; sebagai dampak hipofisektomi.
Pembedahan
a. Pembedahan transphenoidal
Pendekatan transphenoidal sering digunakan dalam melakukan reseksi
suatu adenoma. Sela tursika dicapai melalui sinus sphenoid, dan tumor diangkat
dengan bantuan suatu mikroskop bedah. Insisi dibuat antara gusi dan bibir atas.
Pendekatan ini pun digunakan untuk memasang implant. Suatu lubang dibuat
pada durameter pada jalan masuk sela tursika. Biasanya dirurup dengan lapisan
fascia yang diambil dari tungkai, sehingga pasien harus disiapkan untuk insisi
tungkai. Penampilan ini dilakukan untuk mencegah bocornya cairan
serebrospinal (CSF). Kebocoran CSF dapat terjadi beberapa hari postoperatif
tapi harus ditutup. Hidung mungkin mempet dan suatu sling perban ditempatkan
dibawahnya untuk mengabsorpsi drainage.
Monitoring terhadap adanya kebocoran CSF perlu dilakukan.
Data-data berikut harus diperhatikan :
1. Keluhan postnasal drip
2. Menelan yang konstan
3. Adanya halo ring pada nasal sling atau balutan (tanda berupa cairan CSF
yang jernih disekeliling cairan serosa yang lebih gelap ditengahnya)
4. Memeriksa ada tidaknya glukosa pada drainase nasal.
Cairan serebrospinal mengandung glukosa, sedangkan cairan nasal tidak.
Jika tes glukosa positif, bahan pemeriksaan harus dikirim ke laboratorium
untuk konfirmasi lebih lanjut.
Jika terdapat kebocoran yang menetap, pasien dianjurkan untuk tirah
baring dengan kepala terangkat untuk menggantikan tekanan pada tambalan
yang sudah ditentukan. Seringkali kebocoran CSF sembuh dengan sendirinya,
tetapi kadang-kadang diperlukan perbaikan dengan tindakan operasi.
Aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial harus dihindari.
Nyeri kepala dapat timbul dan dapat diobati dengan analgetik
nonnarkotik tau cordein. Nyeri kepala persisten atau rigiditas nuchal (kaku
kuduk) dapat memberikan petunjuk akan adanya meningitis dan hal ini harus

18
segera dilaporkan. Karena kemungkinan terjadinya risiko infeksi, maka
antibiotik profilaktif dapat diberikan saat preoperatif atau postoperatif.
Intervensi keperawatan lainnya bagi pasien dengan operasi
transphenoidal meliputi hal berikut :
1. Memberikan cairan peroral dan diet cairan jernih segera setelah
pasien sadar dan tak lagi merasa mual setelah tinadakan anastesia.
2. Meningkatkan diet yang sesuai (anorexia dapat timbul karena
menurutnya sensasi penciuman).
3. Meyakinkan pasien bahwa kehilangan sensasi penciuman hanya
sementara dan akan membaik segera setelah penutup hidung nasal sling
diangkat.

4. Memberikan O2 dengan kelembaban tertentu untuk menjaga


kelembaban mukosa nasal dan oral.
5. Melakukan perawatan mulut
a.Jangan menggosok gigi (untuk mencegah distrupsi
benangjahitan).
b. Menggunakan kapas halus dan lembab pada saat
membersihkan gigi.
c.Sering melakukan bilas mulut.
b. Pembedahan transfontal
Jika tumor hipofise dibawah tulang-tulang dari sella tursika (ekstra
sellar), kraniotoomi dilakukan untuk mendapatkan suatu lapang operasi yang
cukup. Tumor-tumor intraserebral lain, penyakit-penyakit atau trauma terhadap
struktur-struktur yang berdekatan dengan hipofise atau dapat menyebabkan
disfungsi hipofise sementara maupun permanen.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

19
Long C. Barbara, Essential of Medical Surgical Nursing, CV. Mosby Company, St.
Louis, 1985
http://endocrine-system.emedtv.com/acromegaly/acromegaly-treatment.html
http://drlizakedokteran.blogspot.com/2007/12/gangguan-hipotalamus.html
http://theblackorangez.blogspot.com/2008_07_31_archive.html?zx=9aa5621b3e10faf9
http://medicastore.com/penyakit/316/hiperpituitari.html
http://www.thedoctorsdoctor.com/diseases/siadh.htm
http://www.wickipedia
http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=99&lang=id

20