Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sudah menjadi informasi umum bahwa salah satu sumber pemasukan negara yang
cukup menjanjikan adalah dari sektor pajak. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki
banyak potensi untuk menjadi negara maju. Namun, kenyataannya Indonesia justru ditimpa
banyak permasalahan khususnya di bidang ekonomi. Bahkan hampir setiap hari pemberitaan
di media menyangkut permasalahan ekonomi, seperti halnya harga barang-barang kebutuhan
pokok yang melambung tinggi, inflasi, infrastruktur yang buruk, serta negara yang belum
mampu mengoptimalkan sumber daya alam sehingga bahan makanan pokok harus impor ke
negara tetangga dengan harga yang lebih tinggi, belum lagi masalah migas dan non migas
yang sering terjadi. Dengan semakin banyaknya permasalahan dari segi ekonomi, pajak
diharapkan dapat menjadi salah satu solusi yang efektif untuk memperbaiki kondisi ekonomi
yang ada pada saat ini.
Saat ini pemerintah mulai melirik sektor swasta yang dipastikan memiliki potensi
yang besar untuk pemasukan pajak, yaitu dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Omzet dan labanya memang jauh lebih kecil
dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar, tetapi keberadaan usaha ini yang hampir
dapat dijumpai di sepanjang jalan nyatanya mampu memberikan sumbangsih yang berarti
bagi pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, jika dilihat dari sisi kepatuhan Wajib Pajak UMKM
ternyata masih banyak kekurangan di sana sini. Banyak Wajib Pajak UMKM yang dengan
sengaja tidak melaporkan dan membayar pajak dikarenakan oleh beberapa hal, seperti
peraturan yang sulit untuk dimengerti. Bagi Wajib Pajak UMKM yang masih menggunakan
perhitungan akuntans sederhana belum mampu menyusun pembukuan secara rinci, hal ini
juga menjadi faktor melemahnya tingkat kepatuhan Wajib Pajak khususnya UMKM.
1.2 Landasan Teori
Sebagai seorang warga negara, sudah sepantasnya untuk turut ikut berperan serta
dalam pembangunan negara. Pajak sebagai sebuah iuran wajib yang dibebankan kepada
warga negara sifatnya memaksa, dalam artian pajak merupakan kewajiban bagi setiap waga
negara. Berdasarkan UU KUP No.28 Tahun 2007, pajak merupakan kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan pengertian tersebut,
jelaslah bahwa fungsi pajak itu sangat penting untuk menjalankan roda pemerintahan, tanpa
pajak maka roda pemerintahan akan terganggu atau malah berhenti.
Sistem Perpajakan di Indonesia
Sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem yang disebut self-assesment. Self-
assessment mempunyai arti Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk mendaftar, menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang seharusnya
2

terutang. Untuk bisa membayar pajak, Wajib Pajak (WP) harus mendaftarkan diri untuk
menjadi Wajib Pajak. WP harus punya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Setelah itu WP
baru bisa menghitung dan memperhitungkan pajak yang seharusnya WP bayar sesuai dengan
ketentuan perpajakan. Selanjutnya adalah melaporkan pajak yang telah WP bayar melalui
media Surat Pemberitahuan (SPT) masa (SPT Masa) maupun SPT Tahunan. Secara
keseluruhan, sistem ini menekankan kepatuhan sukarela (voluntary compliance) Wajib pajak
dalam membayar pajak.
Definisi dan Karakteristik UMKM
Warga negara yang memiliki penghasilan atau usaha diwajibkan untuk membayarkan
pajak penghasilan. Salah satu usaha yang dilakukan masyarakat adalah usaha dalam sektor
UMKM. Kriteria atau definisi UMKM di Indonesia beragam antar lembaga atau instansi. Di
antaranya adalah definisi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Keputusan Menteri Keuangan No
316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008.
Kriteria UMKM berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, UMKM dibataskan
pada besarnya kekayaan bersih dan omzet per tahun. Sementara itu, kriteria UMKM berdasar
BPS didasarkan pada jumlah tenaga kerja pada usaha tersebut, yaitu usaha mikro dengan
tenaga kerja 1 s.d. 4 orang, usaha kecil dengan jumlah tenaga kerja 5 s.d. 19 orang, dan usaha
menengah dengan tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.

Tabel 1 Kriteria UMKM (UU Nomor 20 Tahun 2008)
Karakteristik UMKM di Indonesia tidak jauh berbeda dengan karakteristik UMKM di
negara lainnya. Secara umum, dalam menjalankan usahanya UMKM mempunyai
karakteristik bisnis sebagai berikut:
1. Umumnya sektor usaha kecil dan menengah memulai usahanya dengan modal sedikit
dan keterampilan yang kurang dari pendiri atau pemiliknya.
2. Terbatasnya sumber-sumber dana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu
kelancaran usahanya, seperti dari kredit pemasok (supplier) dan pinjaman bank
ataupun dari bank yang ingin melayani pengusaha kecil dan menengah.
3. Kemampuan memperoleh pinjaman kredit perbankan relatif rendah. Penyebabnya
antara lain karena kekurangmampuan untuk menyediakan jaminan, pembukuan, dan
lain sebagainya.
3

4. Banyak dari pelaku ekonomi UMKM belum mengerti pencatatan/akuntansi. Bagi
mereka yang telah menggunakan pencatatan keuangan, masih mengalami masalah
dalam penyusunan laporan keuangan.
5. Umumnya sektor ekonomi UMKM kurang mampu membina hubungan dengan
perbankan.

Pajak dan UMKM
Sektor UMKM termasuk salah satu sektor terbesar penyumbang PDB di Indonesia.
Berdasarkan data dari Kementrian Koperasi dan UKM, 60% dari total PDB Indonesia
dihasilkan dari sektor UMKM. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan dengan
sumbangsihnya terhadap penerimaan pajak yang hanya sekitar 5% saja. Dari data yang
tersebut, tercermin bahwa kepatuhan para pelaku UMKM terhadap pajak masih sangat rendah.
Kepatuhan pajak sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Termasuk di dalamnya adalah
faktor pemahaman berdasarkan penelitian terdahulu Rajif (2011) yang menjelaskan bahwa
variabel pemahaman, kualitas pelayanan, dan ketegasan sanksi perpajakan berpengaruh
signifikan terhadap kepatuhan pajak.
Faktor pemahaman para pelaku UMKM adalah sebuah faktor yang berdiri sendiri.
Pemahaman pelaku UMKM bisa saja berpengaruh positif ataupun negatif , atau malah tidak
berpengaruh sama sekali terhadap kepatuhan pajak. Pemahaman diukur melalui indikator
berdasarkan penelitian terdahulu. Pemahaman akan pajak sangat dipengaruhi oleh beberapa
indikator, Menurut Widayati dan Nurlis (2010) dalam penelitian Fikriningrum (2012)
indikator-indikator tersebut adalah :
1. Kepemilikan NPWP.
2. Pengetahuan dan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai wajib pajak.
3. Pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi perpajakan.
4. Pengetahuan dan pemahaman mengenai Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP),
Penghasilan Kena Pajak (PKP), dan tarif pajak.
5. Adalah wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui
sosialisasi yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
6. Wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan pajak melalui training perpajakan
yang mereka ikuti.
Kemudian, kepatuhan diukur melalui kategori yang telah ditetapkan pemerintah melalui
Peraturan Menteri Keuangan Nomor.74/PMK.03/2012. Kriteria wajib pajak patuh menurut
Peraturan Menteri Keuangan Nomor.74/PMK.03/2012 adalah :
1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan
2. Tidak mempunyai tunggakan untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang
telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
3. Laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik atau lembaga pengawasan keuangan
pemerintah dengan pendapat wajar tanpa pengecualian selama 3(tiga) kali berturut-
turut; dan
4

4. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam
jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.
Kewajiban dan Hak Wajib Pajak UMKM
Kewajiban perpajakan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak
dalam hal perpajakannya, baik Wajib Pajak orang pribadi maupun badan. Setiap Wajib Pajak
mempunyai kewajiban perpajakan yang berbeda karena terdapat kriteria-kriteria tertentu
untuk tiap golongan Wajib Pajak termasuk untuk Wajib Pajak UMKM. Kewajiban
perpajakan untuk Wajib Pajak UMKM adalah sebagai berikut:
a. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
b. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar
c. Mengisi dengan benar SPT dan melaporkannya dalam batas waktu yang telah
ditentukan.
d. Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan
e. Melakukan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai
Sedangkan, hak-hak Wajib Pajak menurut Mardiasmo (2008:54) meliputi:
a. Mengajukan surat keberatan dan surat banding.
b. Menerima tanda bukti pemasukan SPT
c. Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan.
d. Mengajukan permohonan penundaan pemasukan SPT.
e. Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak.
f. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan
pajak.
g. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
h. Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi, serta pembetulan
surat ketetapan pajak yang salah.
i. Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya.
j. Apabila Wajib Pajak dipotong oleh pemberi kerja, Wajib Pajak berhak meminta bukti
pemotongan PPh Pasal 21 kepada pemotong pajak, mengajukan surat keberatan dan
permohonan pajak.
k. Hak mendapatkan pelayanan perpajakan gratis.
l. Hak kerahasiaan bagi wajib pajak.
m. Hak mendapatkan insentif perpajakan.
UMKM dan Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013
Dalam upanya untuk mendorong pemenuhan kewajiban perpajakan secara sukarela
(voluntary tax compliance) serta mendorong kontribusi penerimaan negara dari UMKM,
pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Dalam hal ini atas penghasilan dari usaha yang diterima
5

atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dikenai Pajak Penghasilan
yang bersifat final. Berikut adalah Wajib Pajak yang dimaksud, antara lain :
a. wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap;
dan
b. menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan
dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00
(empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya:
a. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang menetap
maupun tidak menetap; dan
b. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak
diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan.
Dalam PP No. 46 Tahun 2013 menjelaskan tidak semua Wajib Pajak Badan yang memiliki
usaha dan memperoleh penghasilan bruto tertentu terkena tarif 1% ini. Berikut adalah Wajib
Pajak Badan yang tidak termasuk dalam kriteria, antara lain:
a. Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial; atau
b. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara
komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp 4.800.000.000,00 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah). Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp 4,8 miliar
ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya, termasuk dari usaha
cabang, tidak termasuk peredaran bruto dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri; usaha yang atas
penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan
peraturan perundangan-undangan perpajakan tersendiri; dan penghasilan yang
dikecualikan sebagai obyek pajak.
PP No. 46 Tahun 2013 ini adalah peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah
untuk memberikan kemudahan bagi wajib pajak orang pribadi dan wajib pajak badan yang
memiliki penghasilan bruto tertentu. PP No. 46 Tahun 2013 ditetapkan pada 1 Juli 2013.
Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final (tarif 1%) tersebut ditetapkan berdasarkan
pada pertimbangan perlunya kesederhanaan dalam pemungutan pajak, berkurangnya beban
administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak, serta memperhatikan
perkembangan ekonomi dan moneter. Kemudian, untuk lebih mengoptimalkan penerapan PP.
No 46 Tahun 2013 Direktorat Jendral Pajak menjelaskan bahwa pembayaran pajak juga akan
dipermudah dengan bantuan Mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bekerja sama dengan
bank-bank yang ada seperti BRI, Bank Mandiri, ataupun BTN. Dalam hal ini pemerintah
telah melakukan usaha terbaiknya untuk meningkatkan jumlah penerimaan kas negara. Biaya
yang rendah dan proses yang mudah diharapkan akan mampu mendorong Wajib Pajak
UMKM yang sudah ber-NPWP maupun yang belum ber-NPWP untuk segera melaksanakan
kewajiban perpajakannya.
6

BAB II
ISI
2.1 Profil UMKM
Perusahaan yang kami kunjungi adalah perusahaan dalam bidang jasa penyewaan
yang bernama Idris Sukses. Perusahaan ini dimiliki oleh Bapak Idris Said, alumnus FIB
UI angkatan 2003. Perusahaan ini bergerak pada spesialisasi penyewaan alat pesta dan
kebutuhan event seperti partisi, sound system, panggung, dan lain sebagainya. Selain alat-alat
tersebut, perusahaan ini juga menyediakan jasa katering dan penyewaan alat-alat untuk acara
pernikahan.
Perusahaan yang terletak di Jalan Palakali Raya No. 60, Kukusan, Beji, Depok ini
berdiri pada tahun 2004 dengan omzet per tahun mencapai kurang lebih sekitar Rp
3.000.000.000 dengan jumlah transaksi sekitar 100-200 transaksi setiap harinya dan memiliki
total aset sekitar Rp 2.000.000.000 Rp 3.000.000.000. Beberapa aset tersebut, yaitu 2 mobil,
1 truk, 1 pick up, 3 motor, banyak kursi, serta beberapa alat sewa lainnya yang disimpan di
gudang. Idris Sukses memiliki total jumlah pegawai sebanyak 20 orang.
Idris Sukses memiliki sistem bisnis mitra, yaitu sistem kerja sama kepada beberapa
pihak untuk saling melengkapi kebutuhan pelanggan. Misalnya, terdapat semacam toko mitra
yang terdapat di Pondok Pinang untuk membantu memudahkan pelayanan dan sebagai
tempat penyimpanan berukuran besar. Bentuk kerja sama lainnya adalah kerja sama dengan
para perantara untuk menyewakan peralatan pesta atau acara syukuran sejenisnya dan yang
terakhir adalah kerja sama dengan para event organizer (EO). Ke depannya, Bapak Idris
berkeinginan membuka sistem transaksi baru, yaitu sistem transaksi secara online untuk
memudahkan proses transaksi.
Perusahaan ini memiliki NPWP sejak tahun 2010 dan telah memiliki NPPKP pada
tahun 2013. Sejak memiliki NPWP, Idris Sukses sudah berbadan hukum sebagai Perusahaan
Terbuka (PT). Kewajiban pajak untuk perusahaan ini adalah antara lain PPh 23 terkait
penyewaan barang, PPN, PPh 21, dan yang terbaru pajak atas UMKM berdasar pada PP No.
46 Tahun 2013. Pelaporan pajak disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama
Depok yang terdapat di Jalan Pemuda No. 40.
2.2 Pembahasan Hasil Wawancara
Pembahasan hasil wawancara sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada
pemilik Idris Sukses, Bapak Idris Said:
1. Apa saja kewajiban pajak yang telah dilaksanakan?
Kewajiban perpajakan perusahaan ini seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, yaitu Pajak Penghasilan, PPh Pasal 23, dan PPh Pasal 21. Setiap tahun,
Idris Sukses selalu melaporkan SPT. SPT diisi sendiri oleh staff akuntansinya, tetapi
7

pernah juga menggunakan jasa konsultan untuk memudahkan pengisian SPT dan agar
lebih sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Untuk penyewaan atau transaksi yang berhubungan dengan PPh Pasal 23,
klien (pengguna jasa) yang langsung memotong PPh tersebut dan dikirimkan ke Idris
Sukses atas bukti potong PPh Pasal 23. Sedangkan terkait PPN, Idris Sukses tidak
memungut PPN atas jasa penyewaan yang diberikan. Idris Sukses hanya memberikan
harga bersih (net price) kepada para pelanggannya dikarenakan tidak mau repot dalam
mengurus pajak sehingga perusahaan lebih memilih untuk melimpahkan urusan
administrasi pajak kepada pelanggannya.
Untuk gaji pegawai sendiri tidak masuk ke dalam kewajiban pajak perusahaan
karena kebijakan perusahaan untuk memberikan gaji tetap di bawah upah minimum
regional (UMR) sehingga atas gaji pegawai dalam setahun masih di bawah batasan
PTKP. Kompensasi dengan kecilnya gaji tetap pegawai, perusahaan memiliki sistem
komisi untuk setiap ada pekerjaan yang dikerjakan pegawainya agar pegawai Idris
Sukses tidak malas dan lebih giat dalam menjalankan pekerjaannya.
2. Adakah proses pembukuan?
Frekuensi transaksi yang cukup banyak terjadi dalam satu hari yang bisa
mencapai 100-200 transaksi dan nilai transaksi yang cukup besar. Terkait hal ini, Idris
Sukses sudah melakukan pembukuan untuk mengumpulkan informasi keuangan
terkait penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang
atau jasa. Sayangnya proses pembukuan tidak didukung dengan staf akuntansi yang
mencukupi, hanya satu orang staf akuntansi saja dalam perusahaan ini. Idris Sukses
juga sudah membuat laporan keuangan setiap tahun.
3. Bagaimanakah kepatuhan terhadap aturan perpajakan?
Perusahaan ini termasuk perusahaan yang patuh terhadap aturan-aturan
perpajakan, tetapi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pajak terkait dengan PPh
Pasal 23 biasanya langsung dipotong oleh klien yang memanfaatkan jasa dari
perusahaan ini dan perusahaan biasanya mendapatkan surat bukti potong dari
pelanggannya. Selain itu, perusahaan juga rutin membayar pajak bumi dan bangunan
dan pajak kendaraan bermotor karena perusahaan juga memiliki aset berupa
kendaraan, tempat tinggal, dan gudang penyimpanan.
Terkait sanksi dalam perpajakan, sampai saat ini, Idris Sukses masih belum
pernah mengalami permasalahan perpajakan dan mendapatkan sanksi. Menurut
8

keterangan dari Bapak Idris Said, beliau mengatakan mungkin karena perusahaan ini
masih baru dan hanya sekali didatangi oleh pegawai pajak.

4. Tahukah bapak tentang tarif final pajak sebesar 1% yang berdasarkan PP No. 46
Tahun 2013?
Bapak Idris masih belum mengetahui pajak terbaru atas UMKM ini secara
detil. Beliau mengakui baru mengetahui adanya peraturan baru ini dari internet, dan
sejauh ini hanya pernah membaca artikel-artikelnya saja dari website semacam
kompas.com, detik.com, dan beberapa sumber berita online lainnya.
5. Pernahkah ada sosialisasi mengenai hal tersebut?
Sampai sejauh ini, masih belum pernah ada sosialisasi dari pihak manapun
ataupun pihak yang terkait dari aturan pajak yang baru tersebut. Bahkan, Bapak Idris
menjadi lebih tahu tentang peraturan ini dikarenakan adanya wawancara bersama
kami.
6. Menurut bapak, bagaimanakah sistem perpajakan di Indonesia? Apa harapan bapak
kedepannya?
Langsung saja kami mengutip seluruh ucapan dari Bapak Idris:
Persepsi saya bagus, pengelolaan infrastruktur juga sudah bagus, dan selalu
ada pajak. Sebagai perbandingannya, saya dulu pernah ke Arab Saudi dan di
sana tidak ada pajak, beli mobil di sana cuma Rp 200.000.000, sedangkan di
Indonesia bisa Rp 400.000.000. Bayangkan saja kalo semua kena pajak,
misalkan kalau kita makan di restoran kan bayar pajak. Itu baru yang dari
Jakarta, bagaimana dari daerah yang lain? Coba dihitung ada berapa? Nah
dari jumlah itu saja sudah ke mana? Harusnya pendapatan pajak kurang
lebih bisa ribuan triliun.
Menurut saya, kendala di sini ada di pengelolaan pajak, dan pengaruh media
juga berperan, seperti contohnya kasus sogokan pajak hanya yang ada di
beberapa media dan hanya ada sebagian kecil orang yang ada di media. Hal
ini membuat banyak orang malas bayar pajak.
Saya setuju dengan adanya pajak. Pajak bisa membangun negara ini,
misalnya dari pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu, yang lebih penting
bagaimana negara ini dapat mengelola pajak untuk membangun negara ini.

9

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan hasil wawancara di atas, dapat diambil kesimpulan yang
pertama, pelaku usaha UMKM belum memahami sepenuhnya perpajakan secara umum serta
tata cara perhitungan pajak. seperti tidak mau repot dalam aspek potong-pungut pajak. Kedua,
manfaat pajak diragukan oleh partisipan karena mereka tidak tahu pajak yang mereka
bayarkan apakah benar-benar dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat ataukah justru
dikorupsi oleh pegawai pajak atau oleh pemerintah. Ketiga, terkait PP No. 46 Tahun 2013,
masih ada pelaku UMKM yang belum mengetahui tentang peraturan tersebut. Hal ini
dikarenakan sosialisasi yang dilakukan oleh DJP kurang maksimal.
3.2 Saran
Adapun saran bagi Direktorat Jendral Pajak dan pihak-pihak yang terlibat dalam
pengelolaan pajak, yaitu:
1. Meningkatkan transparansi di bidang perpajakan sehingga menjadi jelas aliran
perpajakan digunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Misalnya, membuat
publikasi yang berisi pemberitaan tentang realisasi dari penggunaan dana pajak
kepada publik melalui website ataupun media masa minimal satu bulan sekali.
Dengan demikian masyarakat dapat mengetahui hasil dari pembayaran pajak yang
mereka bayarkan setiap bulannya.
2. Mengikutsertakan para pelaku UMKM dalam perumusan peraturan. Misalnya, dengan
mengadakan pertemuan dengan perwakilan-perwakilan pengusaha UMKM dari kota
maupun pelosok untuk bersama-sama membahas poin-poin penting yang seharusnya
ada dalam peraturan seperti besarnya tarif, dasar pengenaan, cara pembayaran, dan
hal-hal penting lainnya. DJP juga dapat menugaskan perwakilan petugas pajak untuk
terjun langsung dalam perkumpulan atau kelompok-kelompok UMKM agar dapat
menampung saran dari para pelaku UMKM peraturan seperti apa yang mereka
inginkan. Sehingga DJP dapat mengetahui secara langsung keinginan, kemampuan,
dan keadaan UMKM yang sebenarnya dan menghasilkan kebijakan yang tepat.
3. Dalam melakukan sosialisasi sebaiknya DJP melakukan pendekatan personal, agar
sosialisasi tersebut lebih mengena kepada Wajib Pajak.





10

Daftar Pustaka
http://www.pajak.go.id/content/article/kompleksitas-kepatuhan-pajak
http://www.ortax.org/ortax/
Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013