Anda di halaman 1dari 16

SIKAP BAHASA (LANGUAGE ATTITUDE)

Oleh pusatbahasaalazhar
7
I. Pendahuluan
Bahasa adalah salah satu ciri khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk-
makhluk yang lain. Selain itu, bahasa mempunyai fungsi sosial, baik sebagai alat
komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. Pandangan
de Saussure (!"# yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga
kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan,
pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya
perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. $amun, kesadaran tentang hubungan yang erat
antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (%udson !!"#.
Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengka&ian bahasa tanpa mengaitkannya dengan
masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik, bahkan
mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Sosiolinguistik
merupakan ilmu yang mempela&ari bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. 'pabila kita
mempela&ari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan
menyingkirkan kemungkinan ditemukannya pen&elasan sosial bagi struktur yang
digunakan. (ari perspektif sosiolinguistik fenomena sikap bahasa (language attitude#
dalam masyarakat multibahasa merupakan ge&ala yang menarik untuk dika&i, karena
melalui sikap bahasa dapat menentukan keberlangsungan hidup suatu bahasa.
II. S!ap Bahasa (Lan"ua"e Atttude)
Sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa
orang lain ()ridalaksana, *++,!7#. (alam bahasa -ndonesia kata sikap dapat mengacu
pada bentuk tubuh, posisi berdiri yang tegak, perilaku atau gerak-gerik, dan perbuatan
atau tindakan yang dilakukan berdasarkan pandangan (pendirian, keyakinan, atau
pendapat# sebagai reaksi atas adanya suatu hal atau ke&adian.
Sikap merupakan fenomena ke&iwaan, yang biasanya termanifestasi dalam bentuk
tindakan atau perilaku. Sikap tidak dapat diamati secara langsung. .ntuk mengamati
sikap dapat dilihat melalui perilaku, tetapi berbagai hasil penelitian menun&ukkan bahwa
apa yang nampak dalam perilaku tidak selalu menun&ukkan sikap. Begitu &uga
sebaliknya, sikap seseorang tidak selamanya tercermin dalam perilakunya.
)eadaan dan proses terbentuknya sikap bahasa tidak &auh dari keadaan dan proses
terbentuknya sikap pada umumnya. Sebagaimana halnya dengan sikap, maka sikap
bahasa &uga merupakan peristiwa ke&iwaan sehingga tidak dapat diamati secara langsung.
Sikap bahasa dapat diamati melalui perilaku berbahasa atau perilaku tutur. $amun dalam
hal ini &uga berlaku ketentuan bahwa tidak setiap perilaku tutur mencerminkan sikap
bahasa. (emikian pula sebaliknya, sikap bahasa tidak selamanya tercermin dalam
perilaku tutur. (ibedakannya antara bahasa (langue# dan tutur (parole# (de Saussure,
!7"#, maka ketidaklangsungan hubungan antara sikap bahasa dan perilaku tutur makin
men&adi lebih &elas lagi. Sikap bahasa cenderung mengacu kepada bahasa sebagai sistem
(langue#, sedangkan perilaku tutur lebih cenderung meru&uk kepada pemakaian bahasa
secara konkret (parole#.
/riandis (!7# berpendapat bahwa sikap adalah kesiapan bereaksi terhadap suatu
keadaan atau ke&adian yang dihadapi. )esiapan ini dapat mengacu kepada 0sikap
perilaku1. 2enurut 'llport (!34#, sikap adalah kesiapan mental dan saraf, yang
terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah atau pengaruh yang dinamis
kepada reaksi seseorang terhadap semua ob&ek dan keadaan yang menyangkut sikap itu.
Sedangkan 5ambert (!"7# menyatakan bahwa sikap itu terdiri dari tiga komponen, yaitu
komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif. Pen&elasan ketiga
komponen tersebut sebagai berikut.
)omponen kognitif berhubungan dengan pengetahuan mengenai alam sekitar dan
gagasan yang biasanya merupakan kategori yang dipergunakan dalam proses
berpikir.
)omponen afektif menyangkut masalah penilaian baik, suka atau tidak suka,
terhadap sesuatu atau suatu keadaan, maka orang itu dikatakan memiliki sikap
positif. 6ika sebaliknya, disebut memiliki sikap negatif.
)omponen konatif menyangkut perilaku atau perbuatan sebagai 0putusan akhir1
kesiapan reaktif terhadap suatu keadaan.
2elalui ketiga komponen inilah, orang biasanya mencoba menduga bagaimana sikap
seseorang terhadap suatu keadaan yang sedang dihadapinya. )etiga komponen sikap ini
(kognitif, afektif, dan konatif# pada umumnya berhubungan dengan erat. $amun,
seringkali pengalaman 0menyenangkan7 atau 0tidak menyenangkan1 yang didapat
seseorang di dalam masyarakat menyebabkan hubungan ketiga komponen itu tidak
se&alan. 'pabila ketiga komponen itu se&alan, maka bisa diramalkan perilaku itu
menun&ukkan sikap. /etapi kalau tidak se&alan, maka dalam hal itu perilaku tidak dapat
digunakan untuk mengetahui sikap. Banyak pakar yang memang mengatakan bahwa
perilaku belum tentu menun&ukkan sikap.
8dward (!47# mengatakan bahwa sikap hanyalah salah satu faktor, yang &uga tidak
dominan, dalam menentukan perilaku. Oppenheim (!7"# dapat menentukan perilaku
atas dasar sikap. Sedangkan Sugar (!"7# berdasarkan penelitiannya memberi
kesimpulan bahwa perilaku itu ditentukan oleh empat buah faktor utama, yaitu sikap,
norma sosial, kebiasaan, dan akibat yang mungkin ter&adi. (ari keempat faktor itu
dikatakan bahwa kebiasaan adalah faktor yang paling kuat, sedangkan sikap merupakan
faktor yang paling lemah. 6adi, dengan demikian &elas bahwa sikap bukan satu-satunya
faktor yang menentukan perilaku, tetapi yang paling menentukan perilaku adalah
kebiasaan.
'nderson (!79# membagi sikap atas dua macam, yaitu (# sikap kebahasaan dan (*#
sikap nonkebahasaan, seperti sikap politis, sikap keagamaan, dan lain-lain. 2enurut
'nderson, sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif ber&angka
pan&ang, sebagian mengenai bahasa, mengenai ob&ek bahasa, yang memberikan
kecenderungan seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya. $amun
sikap tersebut dapat berupa sikap positif dan negatif, maka sikap terhadap bahasa pun
demikian. :ar;in dan 2athiot (!"<# merumuskan tiga ciri sikap bahasa yaitu,
)esetiaan Bahasa (5anguage 5oyalty# yang mendorong masyarakat suatu bahasa
mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa
lain.
)ebanggaan Bahasa (5anguage Pride# yang mendorong orang mengembangkan
bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan
masyarakat.
)esadaran adanya norma bahasa ('wareness Of /he $orm# yang mendorong
orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun merupakan faktor yang
sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa
(language use#.
)etiga ciri yang dikemukakan :ar;in dan 2athiot tersebut merupakan ciri-ciri sikap
positif terhadap bahasa. Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan
bahasanya (bahasa yang digunakan oleh kelompoknya=masyarakat tutur dimana dia
berada#. Sebaliknya &ika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang
atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif
terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. )etiadaan gairah atau
dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya merupakan salah satu penanda
sikap negatif, bahwa kesetiaan bahasanya mulai melemah, yang bisa berlan&ut men&adi
hilang sama sekali.
Sikap negatif terhadap bahasa dapat &uga ter&adi bila orang atau sekelompok orang tidak
mempunyai lagi rasa bangga terhadap bahasanya, dan mengalihkannya kepada bahasa
lain yang bukan miliknya. %al tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
antara lain, faktor politis, faktor etnis, ras, gengsi, menganggap bahasa tersebut terlalu
rumit atau susah dan sebagainya. Sebagai contoh yaitu penggunaan bahasa 6awa di
lingkungan masyarakat 6awa. (ewasa ini penggunaan bahasa 6awa dikalangan
masyarakat 6awa sendiri dirasa kurang begitu antusias. %al ini merupakan tanda-tanda
mulai munculnya sikap yang kurang positif terhadap bahasa tersebut. Bahasa-bahasa
daerah terkadang dianggap sebagai bahasa yang kurang fleksibel dan kurang mengikuti
perkembangan &aman. (emikian pula bahasa 6awa. 'nak-anak muda pada &aman
sekarang kurang begitu mengerti dan antusias menggunakan bahasa tersebut, karena ada
yang merasa bahwa bahasa 6awa terlalu rumit bagi mereka, banyak leksikon dari bahasa
6awa yang tidak dimengerti, ditambah dengan penggunaan tingkat tutur bahasa 6awa dan
sebagainya. %al tersebut merupakan indikasi bahwa mereka sudah tidak berminat lagi
untuk mempela&ari bahasa 6awa, atau hal itu &uga dipengaruhi oleh perkembangan
keadaan yang menghendaki segala sesuatu yang serba praktis dan simpel. /idak hanya
bahasa daerah, tetapi bahasa -ndonesia sebagai bahasa nasional pun dirasa telah mulai
pudar ciri sikap bahasa positifnya.
Sikap negatif &uga akan lebih terasa akibat-akibatnya apabila seseorang atau sekelompok
orang tidak mempunyai kesadaran akan adanya norma bahasa. Sikap tersebut nampak
dalam tindak tuturnya. 2ereka tidak merasa perlu untuk menggunakan bahasa secara
cermat dan tertib, mengikuti kaidah yang berlaku.
Berkenaan dengan sikap bahasa negatif ada pendapat yang menyatakan bahwa &alan yang
harus ditempuh adalah dengan pendidikan bahasa yang dilaksanakan atas dasar
pembinaan kaidah dan norma-norma sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat
bahasa yang bersangkutan. $amun menurut 5ambert (!7"# moti;asi bela&ar tersebut
&uga berorientasi pada dua hal yaitu,
. Perbaikan nasib (orientasi instrumental#. Orientasi instrumental mengacu=banyak
ter&adi pada bahasa-bahasa yang &angkauan pemakaiannya luas, banyak
dibutuhkan dan men&an&ikan nilai ekonomi yang tinggi, seperti bahasa -nggris,
bahasa Prancis, dan bahasa 6epang.
*. )eingintahuan terhadap kebudayaan masyarakat yang bahasanya dipela&ari
(orientasi integratif#. Orientasi integratif banyak ter&adi pada bahasa-bahasa dari
suatu masyarakat yang mempunyai kebudayaan tinggi, tetapi bahasanya hanya
digunakan sebagai alat komunikasi terbatas pada kelompok etnik tertentu.
)edua orientasi tersebut &uga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap bahasa
seseorang. Selain itu sikap bahasa &uga bisa mempengaruhi seseorang untuk
menggunakan suatu bahasa, dan bukan bahasa yang lain, dalam masyarakat yang
bilingual atau multilingual.
2engacu pada sikap bahasa pada masyarakat yang bilingual atau multilingual, terdapat
dampak positif dan negatif bagi pembinaan bahasa -ndonesia dan bahasa daerah.
2emang semakin meluasnya pemakaian bahasa -ndonesia sebagai bahasa nasional,
adalah suatu hal yang positif. /etapi dampak negatifnya seseorang sering mendapat
hambatan psikologis dalam menggunakan bahasa daerahnya yang mengenal tingkatan
bahasa, seringkali memaksa mereka terbalik-balik dalam bertutur antara bahasa daerah
dan bahasa -ndonesia. 'khirnya sering ter&adi kalimat-kalimat = kata-kata (karena
banyaknya ter&adi interferensi = campur kode yang tidak terkendali# muncul kata-kata
sebagai suatu ragam bahasa baru. 2isalnya, bahasa -ndonesia yang ke&awa-&awaan atau
bahasa -ndonesia yang keinggris-inggrisan, dan lain-lain. %al itu pun mulai sering
ditemui di masyarakat pengguna bahasa sekarang.
>ontoh,
. Bahasa -ndonesia yang ke&awa-&awaan.
a. 'danya pemakaian akhiran ?o7
lihato @ lihat A B?lihatlah7, yang baku sebenarnya adalah lihatlah.5ihat C o
6adi kata bahasa -ndonesia mendapat tambahan akhiran -o, atau seperti akhiran a @ A B
dalam bahasa 6awa.
b. 'danya pemakaian akhiran ?-en7
ambilen @ amb-lDn B, yang baku adalah ambilah.'mbil C en
)ata ambil dalam bahasa -ndonesia mendapat tambahan akhiran -en yang merupakan
akhiran dalam bahasa 6awa.
menembaki @mDnEmbaFiB, seharusnya menembakki @mDnEmbaFkiB.c. 2enembak C i
d. 'danya pemakaian akhiran ?-ke7
biarke @biarkeB, yang baku adalah biarkan.biar C ke
dudukke @dud.FkeB, yang baku adalah dudukkanduduk C ke
ambilke @amb-lkeB, yang baku adalah ambilkanambil C ke
'khiran -ke tidak terdapat dalam bahasa -ndonesia, akhiran -ke disini digunakan seperti
dalam penggunaan akhiran Gake dalam bahasa 6awa.
*. Bahasa -ndonesia yang keinggris-inggrisan
%al ini biasanya terdapat dalam pengucapan=pelafalan bahasa -ndonesia yang menyerupai
pelafalan=pengucapan bahasa -nggris.
>ontoh,
diucapkan BecheH @bEchEFBBecek @bEcEkB
fonem t @tB diucapkan c @cB
gicu @gicuB:itu @gituB
anchri @anchriB'ntri @antriB
3. Bahasa 6awa yang keindonesia-indonesiaan.
Penggunaan akhiran -lah.
>ontoh,
wis ta ?sudahlah7wislah @w-slahB
III. Penutup
Sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa
orang lain ()ridalaksana, *++,!7#. )eadaan dan proses terbentuknya sikap bahasa
tidak &auh dari keadaan dan proses terbentuknya sikap pada umumnya. 5ambert (!"7#
menyatakan bahwa sikap itu terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognitif,
komponen afektif, dan komponen konatif.
'nderson (!79# membagi sikap atas dua macam, yaitu (# sikap kebahasaan dan (*#
sikap nonkebahasaan. Sikap kebahasan dapat dikategorikan men&adi dua sikap yaitu sikap
positif dan sikap negatif. Sikap positif yaitu sikap antusiasme terhadap penggunaan
bahasanya (bahasa yang digunakan oleh kelompoknya=masyarakat tutur dimana dia
berada#. Sebaliknya &ika ciri-ciri itu sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang
atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, maka berarti sikap negatif
terhadap suatu bahasa telah melanda diri atau kelompok orang itu. :ar;in dan 2athiot
(!"<# merumuskan tiga ciri sikap bahasa yaitu kesetiaan bahasa (language loyalty#,
kebanggaan bahasa (language pride#, kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the
norm#.
DA#TA$ PUSTAKA
'bdul >haer, 5eonie 'gustina. *++9. Sosiolinguistik Perkenalan 'wal. 6akarta, P/
Iineka >ipta.
%arimurti )ridalaksana. *++. )amus 5inguistik. 6akarta, P/. :ramedia Pustaka .tama.
2ansoer, Pateda. !!+. Sosiolinguistik. Bandung, 'ngkasa.
$ababan, P.J.6. !<". Sosiolinguistik Suatu Pengantar. 6akarta, P/. :ramedia.
Suwito. !<3. Pengantar 'wal Sosiolinguistik /eori dan Problema. Surakarta, %enari
Offset Solo.
http,==www.google.com-sosiolinguistik-sikap bahasa.
LANGUAGE ATTITUDE OF THE ORIYA MIGRANT POPULATION IN
KOLKATA
Satarupa Dattamajumdar, Ph.D.
%. INT$&DU'TI&N ( ATTITUDES
'ttitude is an important notion in the study of bilingualism and multilingualism. 'ttitude
may be defined as the sum total of a personKs psychological construct towards certain
ob&ects, institution, persons, ideas, etc. 'ttitude owes its origin to the collecti;e beha;ior
of the members of a social group. -t plays a crucial role in the social beha;ior of an
indi;idual as it defines and promotes certain beha;ior.
'ccording to Baker (!<<#, attitudes are learned predispositions, and are not inherited.
/hey are relati;ely stable and are affected by eLperiences. 'ttitudes are compleL
constructs. >houdhry (!!3,**# emphasiMes the factors like moti;ation, prestige, identity,
language loyalty and the importance of their relationship to attitude.
). LANGUAGE ATTITUDE
5inguistic attitudes may be positi;e or negati;e, as well as neutral feeling attached to a
particular language situation.
Nasold (!<9, 9<# suggests that the attitude towards a language is often the reflection of
the attitudes towards the members of that speech community. PeopleKs reaction towards a
language ;ariety re;eals their perception regarding the speakers of that ;ariety -- their
social, political and economic backdrop. 8dward (!<*, *+# discusses the ma&or
dimensions along which the ;iews about language can ;ary. /hey are social status and
group solidarity.
/he social pressures to maintain a language or language ;arieties that do not carry any
social prestige reflect the in-group solidarity or language loyalty.
>houdhry and Oerma (!!",3!# rightly pointed out,
Nactors like numerical strength of the minority group, their time and pattern of settlement
and length of stay, their social and political power, their socio-economic status and
linguistic factors such as the patterns of language use in ;arious domains, attitudes and
moti;ation towards the mother tongue and the dominant language of the host community,
and political factors influencing language planning in education play a ;ital role in
determining the retention or loss of the mother tongue among minority groups.
*. +&TI,ATI&N
/hus, the concept of language attitude automatically brings into consideration the concept
of moti;ation -- the instrumental moti;e and the integrati;e moti;e. Jhen the knowledge
of a language is considered to be a prestige marker, the acHuisition of that language is
said to be instrumental. On the other hand, if a learner wishes to learn a language in order
to identify himself with members of the speech community, the moti;e is called an
integrati;e one. %owe;er, moti;ation may also arise from a sense of academic success or
from a sense of communicati;e success. 'll these moti;ate oneKs attitude to learn and
speak a foreign language or a second language.
-. &B.E'TI,E &# THE STUD/
/he present study in;estigates and analyMes the moti;ation behind language choice and
use, and the language attitude as a whole of the Oriya migrant population in )olkata.
/his is supposed to throw some light regarding whether the speech community is
undergoing a process of acculturation, or is it inclined to maintain the identity on its own.
/his attitudinal sur;ey will eLamine the role of socio-economics and the power
relationships, which will ultimately be found to contribute to the rationale of the KattitudeK
itself.
0. THE 'ASE #&$ &$I/A
Oriya is the official language of the State of Orissa. Oriya is also spoken by a substantial
number of speakers in the neighboring states of 2adhya Pradesh, Bihar, 'ndhra Pradesh,
Jest Bengal, 'ssam, 2aharashtra, /ripura and .ttar Pradesh. 'mong the eighteen
scheduled languages, Oriya occupies the tenth position in terms of the number of
speakers according to the !! >ensus. /he number of persons who returned Oriya as
their mother tongue in the !! >ensus is *<,+",33.
'mong the different migrant populations in the city of )olkata, the capital city of the
State of Jest Bengal, Oriya population constitutes an important community, the
population being 33,"37 persons according to !! >ensus. /hrough out -ndia, the
number of persons among the Oriya speakers who speak the Bangla (Bengali# language is
reported to be 79,3"! persons (!! >ensus#. Of this number, a greater bulk of Bengali
knowing and Bengali speaking Oriya population is reported from )olkata. /his indirectly
shows that Bangla (Bengali#, as a second language, has a good deal of impact on the
Oriya speech community in )olkata, due to the contact situation.
/he migration of the Oriya people to the city of )olkata started approLimately before
"!+ '.(. Bhuiya (!!+# opines that the commercial and cultural interaction between the
people of >uttack and )olkata was already in eListence, which is e;ident from the
translation of Bhaga;at Purana from Sanskrit into Oriya by a Bengali scholar and poet,
Sanatan :hosal in "7!-"<+. -t is interesting to note that Sanatan :hosal chose to
translate a Sanskrit work into Oriya. %e would not ha;e done it unless he had a good
appreciation of the socio-cultural necessity to get the famous literary piece translated not
only into Bangla but into Oriya (the language of the neighboring state# as well.
/he :reat Namine of <"" ga;e an impetus to the migration of the Oriya people to
)olkata basically in search of li;elihood. /he natural calamities that took place in the
coastal belt of Orissa from time to time led the Oriya people to migrate to )olkata for the
same purpose. -nitially the working class constituted the ma&ority of such a migrant
population. 5ater on the migration of the class of Oriya intelligentsia also contributed to
the formation of modern )olkata, according to Bhuiya (!!+#. /hese migrants naturally
must ha;e faced the problems of language use, language choice, language proficiency,
etc. regarding their own language as well as the dominant local language (Bengali#,
keeping in ;iew the symbolic function of the languages.
1. SA+PLE DESIGN AND +ETH&D&L&G/
(ata collection for the present study was done by selecting the sub&ects based on the
method of snowball sampling with respondents constituting men , women and children.
(Only those who fulfilled the condition of Kstaying fi;e years or moreK at )olkata were
considered.# ' Huestionnaire was prepared based on the 5ikert method and was
administered to the respondents. /aking a cue from >houdhry (!!3#, the Huestionnaire
was framed in such a way as to elicit the indi;idual opinions regarding their claimed
status of language proficiency, language use or choice, their reading habits and the
language they prefer, language teaching or learning for future prospects, language
identity and attitude as a whole regarding language maintenance and shift.
/he present study is an initial study looking on a small siMe of sample. Based on this
study, a detailed study will be carried out with a larger representati;e sample in the
future.
2. PA$A+ETE$S &# THE STUD/
's the focal point of the present paper is to study and analyMe the language attitude of the
Oriya immigrants in )olkata, the paper takes into consideration the following
sociolinguistic aspects obser;ed in the Oriya community in )olkata.
. 5anguage use or choice in different social domains.
*. 5anguage Proficiency.
3. 5anguage 'ttitude, Pedagogical Perspecti;e
9. Print media, 5anguage choice
4. -nstrumental function of preferred language in the speech community
- ha;e collected my data from Oriya scientists (my neLt door neighbor#, PS. 2anagers,
Professors, Iesearch Scholars, Pilots, >ooks, Plumbers, Jater carriers, Shopkeepers, etc.
/he earlier patterns of migration in which only the skilled, semi-skilled and the unskilled
workers used to mo;e to urban areas ha;e now changed. $ow most of the mo;ements are
from across different classes and this poses difficulty in gi;ing an omnibus label to the
Oriya population in )olkata as in the past, say about 9+-4+ years ago, and to make
generaliMation as if there are no internal differences. One may e;en ;enture to suggest
that the earlier pattern of migration is rather changed in recent times with the emergence
of multinational corporations, BPOs, etc. 's a sign of changes taking place in the
migration pattern, one may cite eLamples of the presence of a large number of students
from Oriya in many prestigious uni;ersities in the country and also the well set trend of
the Orissa students topping ;arious 'll -ndia entrance eLams and the -'S, -PS, -NS, ci;il
ser;ices eLaminations. /his changing pattern actually eLplains the results obtained in this
study, which is presented below.
/he study has taken into consideration different classes of people belonging to different
income le;els (not only middle or upper middle class, but other classes as well# which is
specifically reflected in the comments made at the end.
3. LANGUAGE USE &$ 'H&I'E IN DI##E$ENT S&'IAL D&+AINS
/he sur;ey brings into light the use of mainly four languages - Oriya (the mother tongue
of the migrant population#, Bangla (Bengali, the dominant local language#, 8nglish (the
language of higher professional education# and %indi (a language of wider
communication in many parts of -ndia as well as the dominant language of the
audio;isual media#.
/he use and choice of language in close interaction in different social domains seems to
be rele;ant from the point of ;iew of language identity which is reflected in the data
regarding the maintenance of their mother tongue and shift to other tongues.
/his also accounts for the moti;ation working behind the use and choice of such
language patterns,
Table %4 Table (n 5) representn" the 678st 9re:uent6 use and ;h8;e 89 lan"ua"e 8r
lan"ua"es n <ar8us s8;al d87ans s presented n the 98ll8=n" table
S8;al D87ans &r>a Ban"la En"lsh
:rand Parents <"P $il $il
Parents !+P $il *P
Spouse !3.<P *P *P
>hildren 7*.<P *P <P
Nriend <P 9P 4*P
$eighbor "P 9P 3<P
Place of Jork $il *P 44P
Social Nunctions *P 9P "<P
(omestic %elp *P <*P $il
/able highlights the fact that Oriya dominates the language use in the home domain in
the interaction with grandparents, parents, spouse and children. /his dominance
decreases sharply in the domain of interaction with friends, neighbors, social functions
and in the place of work. Iather it is found that 8nglish dominates in the sphere of social
functions, workplace, interaction with neighbors and friends. -t is in the domestic sphere
where the use of 8nglish language decreases. Bangla, in spite of being the local dominant
language, is found to ha;e lesser impact in the use and choice of language by the Oriya
migrant population. Only 9P of the respondents interact with neighbors and in social
functions in Bangla. -n the case of communication with the domestic help it is as high as
<*P, possibly because the Kdomestic helpK is from the local Bangla speaking community
in most of the cases. -t is pertinent to mention here that %indi was ne;er used Kmost
freHuently,K in any of the domains tested. /hus, Oriya and 8nglish are used by a
significant number of Oriya respondents at different social domains. /his is illustrated in
the graph presented below.
Graph 4% $esp8ndents =h8 use &r>a and En"lsh at d99erent s8;al d87ans
?. LANGUAGE P$&#I'IEN'/
/he linguistic proficiency that is claimed by this migrant population brings into light the
four languages - Oriya, Bangla, 8nglish and %indi at different proficiency le;els. /he
languages in which the respondents claim that their proficiency is at the K;ery wellK status,
has been considered for the analysis of the present study. /his claimed proficiency in
terms of four skills - .nderstanding, Speaking, Ieading and Jriting is shown in the
graph gi;en below.
Graph4 )
$esp8ndents =h8 ;la7 t8 be 678st pr89;ent6 a;r8ss the 98ur lan"ua"e s!lls n
&r>a@ Ban"la@ En"lsh@ and Hnd
'part from Oriya, the mother tongue of the Oriya migrants, the claimed proficiency in
the 8nglish language across all the four skills seems to be Huite high. /hough the claimed
proficiency of Bangla and %indi is almost same, Bangla eLceeds %indi in respect of the
understanding skill which may be due to its position as the dominant language and also
because Oriya is much closer to Bangla as a cognate language. -n this connection it is
worthy to mention that the responses regarding the formal learning of the four skills of
their mother tongue re;ealed from the section --- of the Huestionnaire shows the attitude
of the respondents towards learning their mother tongue.
%A. LANGUAGE ATTITUDE ( PEDAG&GI'AL PE$SPE'TI,ES
/his section of the paper deals with the preference of language for learning purpose and
with the appropriate pedagogical strategy of the Oriya migrant population in the
multilingual setting that pre;ails in )olkata.
)eeping in ;iew the de;elopment of the future generation and the roles a particular
language may play in higher education and professional education, and keeping in ;iew
the &ob opportunities that the use or non-use of a language may open up, the Oriya
community is found to prefer the 8nglish language as the medium of instruction and as
well as a sub&ect of importance. /his language attitude in the pedagogical perspecti;e of
the Oriya migrants brings into light some personal obser;ations which seem to be
pertinent in this conteLt.
People belonging to the working class prefer to ha;e Bangla as their medium of
instruction especially at the primary le;el. /hough there are secondary schools (where the
medium of instruction is Oriya# in different parts of :reater 2etropolitan )olkata like
/itagarh, )hiderpore, Bhowanipore, most people (especially those who belong to higher
income group# e;en do not know about the eListence of these schools. /he working class
Oriya migrants residing in the industrial belts of :reater 2etropolitan )olkata like
Sibpur, Salkia, ShobhabaMar, /itagarh, Belghoria, Sreerampore, etc. send their children to
these schools. ' limited number of people are found to prefer Bangla as a medium of
instruction for their children.
%%. P$INT +EDIA ( LANGUAGE 'H&I'E
/he data on the preference for print media, that is, newspapers=magaMines (dailies,
weeklies, and monthlies# re;eals that 8nglish language print media is preferred by a high
percentage of the respondents. /he respondents who prefer Oriya print media are 9"P,
Bangla *P, %indi 3*P and 8nglish !*P. -t is necessary to mention here that most of
the respondents ha;e reported to prefer and subscribe to dailies, weeklies, monthlies in
more than one language. /he section of people who do not prefer to subscribe to Oriya
dailies, weeklies or monthlies reported that they either did not know the Oriya script
(especially the younger generation# or are not interested in Oriya print media.
Preferences for Print 2edia ($ewspapers, magaMines, etc.# in Oriya, Bangla, 8nglish and
%indi by the respondents are represented in the following graph.
Graph4 * (n 5) Pre9eren;es 89 Prnt +eda (Ne=spapers@ 7a"aznes@ et;.) n &r>a@
Ban"la@ En"lsh and Hnd
%). INST$U+ENTAL #UN'TI&N &# P$E#E$$ED LANGUAGE IN THE
SPEE'H '&++UNIT/
/he significance of language as a symbol of identity, social status, i.e., the instrumental
function of language, is e;ident from the actual use or choice and preference of language
or languages in ;arious conteLts by the Oriya migrant population in )olkata. /he abo;e
table, graphs and their analyses re;eal that 8nglish has a significantly dominant position
in different social domains (eLcept the home domain#, pedagogical conteLt, as media
language and also in the case of the claimed language proficiency.
/he maintenance of mother tongue only in the home domain, and the attitude of not
preferring Oriya in the print media or in education, stands as an e;idence of definite shift.
/he use or choice of language and the claimed proficiency of Bangla and %indi as
re;ealed from the already discussed table and graphs speaks only of the natural impact of
the dominant local language (Bangla# and the impact of the audio;isual media or the
lingua franca of the country (%indi#.
-nterestingly enough, when the total use or choice of languages at different social
domains is considered as a whole, (either Kmost freHuentlyK, KfreHuentlyK, or KrarelyK#, the
picture that emerges shows a balanced multilingual setting -- Oriya constituting *3.7P,
Bangla constituting *".<+P, 8nglish constituting *3.7P and %indi constituting *4.7<P.
/he graph considering the use or choice of the four languages as a whole is presented
below.
Graph4 -
The pr8p8rt8nate use 89 the 98ur lan"ua"es as a =h8le a;r8ss d99erent s8;al
d87ans
%*. '&+PA$IS&N &# DATA &N G$ADED $ESP&NSE
' comparison of the data a;ailable from the graded responses of the Section --- of the
Huestionnaire has been dealt with in this section. Statements which are in fa;or Oriya are
selected for the estimation of difference between the two data . /he 2ean, Standard
(e;iation (S(#, and Standard 8rror (S8# of the two data are calculated and then
statistical analysis is done by the method of StudentKs KtK test. -n order to compute the KtK
;alue, the following calculation was done,
In 9a<8r 89 &r>a (n 5)
A"ree Dsa"ree
N 0 0
+ean )%.- 3%.-3
,aran;e 02.*A 20.-2
S.D. 2.01 3.13
S.E. *.*? *.3?
's KtK .4" is greater than KtK Q 4.+9 at PQ +.++ against <, i.e., (4C4-*# degrees of
freedom, the probability of no significance in the present data is PR +.++. /herefore, the
difference between the two responses ('gree and (isagree# is highly significant.
%-. '&N'LUSI&N
/hus to sum up, it can be said that the Oriya migrant population is not ;ery much
maintenance-prone regarding their mother tongue. Bangla, being the dominant local
language and with a close history of genetic (cognate# relationship and contact situation
(geographical as well as socio-cultural and commercial# that contributes to ease in
learning and use, eLerts some pressure to use and learn the language. /he influence of
%indi (a language of wider communication# can be traced to the immense impact of the
audio-;isual media throughout the country, including Jest Bengal. /he attitude towards
maintaining 8nglish language eLhibits the instrumental moti;e of the people. /he ;ery
attitude of the migrant Oriya respondents towards 8nglish reflects the importance of the
language for better education and &ob opportunity that this language is assumed to
pro;ide, as well as a marker of Kglobal status.K
'&L&PH&N
- am grateful to (r. 'mita; >houdhry for guiding me constantly to carry out this present
study and to (r. Iabiran&an >hatter&ee for his guidance in statistical analysis of the study.
$E#E$EN'ES
Baker, >olin. !<<. Key Issues in Bilingualism and Bilingual Education. >le;edon,
2ultilingual 2atters.
Bayer, 6ennifer 2arie.!<". A Sociolinguistic Investigation of the English spoken by the
Anglo-Indians in Mysore ity! 2ysore, >--5.
>houdhry, 'mita;. !!3. "anguage Interference and Mother tongue Maintenance# A case
study of Bengali Speaking hildren in the $elugu speaking Areas of %yderabad and
Secunderabad! Ph.(. (issertation. %yderabad, Osmania .ni;ersity.
>houdhry, '. and Oerma, 2.).!!". 5anguage 'ttitudes of the :u&aratis in Britain.
As7ta. 3!-9++. 5ondon, :u&arati 5iterary 'cademy.
(ua, %ans.I. !<". "anguage &se' Attitude and Identity Among "inguistic Minorities - A
ase Study of (akkhini &rdu Speakers in Mysore . 2ysore , >--5.
Nasold, Ialph. !<9. $he Sociolinguistics of Society! OLford, Basil Blackwell.
Nishman, 6.'. !"". "anguage "oyalty in the &nited States! /he %ague, 2outon.
6ena5abo;, Jilliam. !"4. /he Social 2oti;ation of Sound >hange. )ord! 19:*73-3+!.
2ohanlal, Sam. !<". onvergence and "anguage Shift in a "inguistic Minority # A
Sociolinguistic Study of $amils in Bangalore ity! 2ysore, >--5.
Pandit, P.B. !7*. -ndia as a Sociolinguistic 'rea.. Pune, (eccan >ollege.(
st
published in !""#.
Iao, :. Sambasi;a and Sharma, Iekha. !<!. A Sociolinguistic Survey of Mauritius! 2ysore,
>--5.
Oerma, S.).!!. /he %indi Speech >ommunity. -n Safder 'lladina and Oi; 8dwards. (eds.#
Multilingualism in the British Isles Africa' the Middle East and Asia! Pp. +3-9.5ondon and
$ew Sork, 5ongman.