Anda di halaman 1dari 74

1

DRAFT BUKU HUKUM BISNIS



Disusun oleh;
Galuh Kartiko, SH.,M.Hum


























2
HUKUM BISNIS
Kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat pada hakekatnya
merupakan rangkaian berbagai perbuatan hukum yang luar biasa banyak baik
jenis, ragam, kualitas dan variasinya yang dilakukan oleh antar pribadi, antar
negara dan antar kelompok dalam berbagai volume dengan frekuensi yang tinggi
setiap saat di berbagai tempat.
Bagi sebagian orang munculnya fenomena ini telah mengubah perilakunya
dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, yang terus menjalar kebahagiaan
bagian lain dari sisi kehidupan manusia, sehingga memunculkan adanya norma-
norma baru, nilai-nilai baru dan sebagainya.
Pengamatan dan penghayatan terhadap kehidupan manusia menunjukkan
bahwa di dalam diri manusia terdapat naluri self preservasi yaitu naluri untuk
mempertahankan eksistensinya atas kehadirannya di duniabaik sebagaimanusia
individual maupun sebagai makhluk hidup. Naluri self preservasi dalam
kenyataan kehidupan sehari-hari selalu berhadapan dengan atau dihadapkan pada
berbagai bahaya yang mengancam eksistensi manusia.
1

Untuk mengatasi dan mencegah hal-hal yang tidak diharapkan dalam
hubungan-hubungan tersebut maka diperlukan kehadiran hukum dalam
masyarakat diantaranya adalah mengintegrasikan dan mengkoordinasikan
kepentingan organisasi dalam masyarakat. Kepentingan-kepentingan yang bisa
bertubrukan satu sama lain oleh hukum diintegrasikan sedemikian rupa sehingga
benturan-benturan ini dapat ditekan sekecil-kecilnya. Pengintegrasian kepentingan
tersebut dilakukan dengan cara membatasi kepentingan pihak lain.
2

Dalam masyarakat hukum, fungsi perencanaan dan penanggulangan itu
dilakukan dengan memanfaatkan hukum karena:
1. Hukum merupakan hasil penjelajahan ide dan pengalaman manusia dan
mengatur hidupnya.
2. Hakekat pengadaan dan keberadaan hukum dalam suatu masyarakat terutama
untuk mengatur kehidupan masyarakat.

1
Johanes Ibrahim, Lindawaty Sewu. Hukum Bisnis dalam Persepsi Manusia Modern.
Refika Aditama Bandung. 2004. Hal.2.
2
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum Bandung, 1993. Hal.16
3
3. Fungsi mengatur telah didukung oleh potensi dasar yang terkandung dalam
hukum, yang melampaui fungsi mengatur yaitu berfungsi juga sebagai pemberi
kepastian, pengaman, pelindung dan pengembang yang sifatnya tidak sekedar
adaptif dan fleksibel tetapi juga prediktif dan antisipatif.
4. Dalam isu pembangunan global, hukum dipercaya sebagai sarana perubahan
sosial atau sarana pembangunan.
3

Potensi hukum terletak pada dua dimensi utama dari fungsi hukum yaitu
fungsi preventif dan fungsi represif. Preventif adalah fungsi pencegahan yang
dituangkan dalam bentuk pengaturan pencegahan (prevention regulation) yang
hakekatnya merupakan desain dari setiap tindakan yang hendak dilakukan
masyarakat represif adalah fungsi penanggulangan yang dituangkan dalam bentuk
penyelesaian sengketa atau pemulihan terhadap kerusakan keadaan yang
diakibatkan oleh resiko tindakan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
Menurut E.A. Goebel terdapat empat fungsi dasar dari hukum di dalam
masyarakat yaitu:
1. Menetapkan pola hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan cara
menunjukkan tingkah laku mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang.
2. Menentukan alokasi wewenang merinci siapa yang boleh melakukan paksaan,
siapa yang harus mentaati, siapa yang memilih sanksi yang tepat dan efektif.
3. Menyelesaikan sengketa
4. Memelihara kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi
yang berubah, yaitu dengan cara merumuskan kembali hubungan esensial
antara anggota-anggota masyarakat.
4








3
Lili Rasjidi, IB, Wijaja, Hukum sebagai Suatu Sistem. Bandung, 1993 hal.16
4
Ronny Hanitijo Soemitro, Permasalahan Hukum dalam Masyarakat, Eresco. Bandung.
1980, hal.2
4
Hukum Bisnis sebagai Pedoman Berperilaku pada Dunia Bisnis
Dalam pandangan akademi hukum
5
ilmu ekonomi merupakan suatu alat
yang kuat dan tepat (a powerful tool) untuk menganalisis permasalahan-
permasalahan hukum yang terjadi di sekitar kita. Namun pendekatan analisis
ekonomi ini terhadap hukum di Indonesia belum berkembang, kecuali pemikiran-
pemikiran atau dasar-dasar ilmu ekonomi dalam membentuk ketentuan-ketentuan
dalam hukum bisnis.
6

Pembangunan ekonomi dengan hukum mempunyai hubungan timbal balik
dan erat. Sunaryati Hartono menyatakan
7
:
pembaharuan dasar-dasar pemikiran di bidang ekonomi ikut mengubah
dan menentukan dasar-dasar sistem hukum yang bersangkutan, maka
penegakan asas-asas hukum yang sesuai juga kan memperlancar
terbentuknya struktur ekonomi yang dikehendaki, tetapi sebaliknya
penegakan asas-asas hukum yang tidak sesuai justru akan menghambat
terciptanya struktur ekonomi yang dicita-citakan.
Sementara itu, banyak kritik dan gugatan dari pelaku-pelaku ekonomi, baik
asing maupun nasional terhadap kelengkapan serta lembaga hukum ekonomi dan
bisnis di Indonesia, hukum ekonomi dianggap tidak mampu mengimbangi gerak
laju dunia bisnis yang semakin maju dan kompleks, sedangkan pranata hukum
selalu tertinggal oleh kepesatan langkah ekonomi.
8

Dalam hal ini hukum merupakan salah satu bidang yang perlu dibangun
untuk memperkokoh bangsa Indonesia di dalam menghadapi kemajuan serta
perkembangan ilmu teknologi dan seni yang sangat pesat masalah hukum
bukanlah masalah yang berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan erat dengan masalah-
masalah kemasyarakatan lainnya. Ismail Saleh menyatakan:
9


5
Richards A. Posner, Economic Analysis of Law, Third Edition, Little Brown and Company
1986.
6
Norman Pakpahan. Introduction to the New Company Law of Indonesia. LPHEI, 1996.
7
Sunaryati Hartono, Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia. Bina Cipta, Bandung.
1982. Hal.6.7
8
Sonaryaty Hartono, Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional. Alumni Bandung.
1991. Hal.30
9
Ismail Saleh, Hukum dan Ekonomi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1990.
Hal.xxvii.
5
Memang benar ekonomi merupakan tulang punggung kesejahteraan
masyarakat dan memang benar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi
adalah tiang-tiang penopang kemajuan suatu bangsa, namun tidak dapat
disangkal bahwa hukum merupakan pranata yang pada akhirnya
menentukan bagaimana kesejahteraan yang dicapai tersebut dapat dinikmati
secara merata, bagaimana keadilan sosial dapat diwujudkan dalam
kehidupan masyarakat dan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi dapat membawa kebahagiaan bagi rakyat banyak.
Pembangunan perekonomian yang dibina serta dikembangkan harus disertai
dengan pembentukan pranata hukum dan peraturan perundang-undangan atau
peraturan lainnya yang mengandung nilai-nilai keadilan dalam rangka mencapai
kemakmuran dan kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.
Adapun untuk menjembatani dan mengakomodasikan berbagai kepentingan,
perbenturan kepentingan yang ada sehingga dapat menyerap menjadi suatu
kepentingan bersama, dapat ditarik titik-titik simpul yaitu:
- Asas keseimbangan
- Asas pengawasan publik
- Asas campur tangan negara terhadap kegiatan ekonomi
10

1. Asas keseimbangan dapat diproyeksikan sebagai berikut:
- Keseimbangan antara kepentingan umum dengan kepentingan privat
- Keseimbangan kepentingan produsen dan konsumen
- Keseimbangan antara kepentingan pengusaha dengan kepentingan tenaga
kerja
- Keseimbangan antara kepentingan para pihak di dalam perjanjian
2. Asas pengawasan publik
Kegiatan ekonomi yang terjadi dan dilakukan oleh pelaku ekonomi di
dalam masyarakat adalah wajar apabila mendapat pengawasan dari masyarakat
itu sendiri. Disamping itu keberadaan perusahaan pada hakekatnya adalah di
dalam masyarakat sehingga wajar pula apabila masyarakat mempunyai

10
Sri Redjeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Ekonomi. Mandar Maju Bandung. 2000,
hal.13
6
kepentingan. Demi kepentinganlah, maka sudah saatnya masyarakat secara
aktif mengawasinya. Atas pengawasan publik merupakan salah satu
mekanisme campur tangan kekuatan masyarakat secara umum melakukan
kontrol/pengawasan terhadap kegiatan individu, kelompok atau badan usaha
dan kelompok badan usaha yang melakukan kegiatan ekonomi. Pengawasan
oleh publik antara lain dapat dilakukan melalui laporan keuangan yang
dipublikasikan.
Berdasarkan laporan keuangan/neraca yang sudah dianut oleh akuntan
publik dan dipublikasikan di dalam harian umum masyarakat dapat
mempelajarinya dan menilai apakah laporan tersebut wajar atau tidak. Apabila
dirasakan tidak masyarakat dapat menilainya kewajiban publikasi. Laporan
keuangan diatur oleh undangan-undangan terhadap badan-badan usaha dengan
kualifikasi tertentu, misalnya ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang
dipergunakan di bidang usaha yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak,
perusahaan-perusahaan terbuka, perusahaan dengan jumlah tertentu dan
sebagainya.
3. Asas campur tangan negara terhadap kegiatan ekonomi
Kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat sangat
membutuhkan campur tangan negara, mengingat tujuan dasar kegiatan
ekonomi itu sendiri adalah untuk mencapai keuntungan sasaran tersebut
mendorong terjadinya berbagai penyimpangan bahkan kecurangan yang dapat
merugikan pihak-pihak tertentu bahkan pada semua pihak. Oleh karena itu,
sangat dibutuhkan campur tangan negara terhadap kegiatan ekonomi. Secara
umum dalam rangka hubungan hukum yang terjadi tetap dalam batas-batas
keseimbangan kepentingan semua pihak.
Campur tangan negara dalam hal ini adalah dalam rangka:
- Menjaga keseimbangan kepentingan semua pihak di dalam masyarakat
- Melindungi kepentingan produsen dan konsumen
- Melindungi kepentingan negara dan kepentingan umum terhadap
kepentingan perusahaan atau pribadi

7
Peranan Etika Bisnis dalam Hukum Bisnis
Dunia bisnis adalah dunia yang penuh dengan kreatifitas dan inovasi yang
sangat efektif karena tujuannya yang mapan dan jelas yaitu keuntungan
ekonomi.
11
Di dalam menjalankan kegiatan bisnis terdapat beberapa argumen
yang menyatakan bahwa pada dasarnya kegiatan bisnis diperlukan etika yaitu:
12

a. Bisnis tidak hanya bertujuan untuk profit melainkan perlu mempertimbangkan
nilai-nilai manusiawi, kalau tidak akan mengorbankan hidup banyak orang,
sehingga masyarakatpun berkepentingan agar bisnis dilaksanakan secara etis.
b. Bisnis dilakukan diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya,
sehingga membutuhkan etika sebagai pedoman dan orientasi bagi keputusan,
kegiatan dan tindak-tanduk manusia dalam berhubungan (bisnis) satu dengan
lainnya.
c. Bisnis saat ini dilakukan dalam persaingan yang sangat ketat, jadi orang bisnis
yang bersaing dengan tetap memperhatikan norma-norma etis pada iklim bisnis
yang semakin profesional justru akan menang.
d. Legalitas dan moralitas berkaitan akan tetapi berbeda satu sama lain, karena
suatu kegiatan yang diterima secara legal belum tentu dapat diterima secara
etis.
e. Etika bisnis dibedakan dari ilmu empiris yang mendasarkan pada suatu gejala
atau fakta yang berulang terus-menerus dan terjadi dimana-mana akan
melahirkan suatu hukum ilmiah yang berlaku universal.
f. Situasi khusus yang menyebabkan pengecualian terhadap etika tidak dapat
dijadikan alasan untuk menilai bahwa bisnis tidak mengenal etika.
g. Aksi protes yang terjadi dimana-mana menunjukkan bahwa masih banyak
orang serta kelompok masyarakat yang menghendaki agar bisnis dijalankan
secara baik dan mengindahkan norma etika.
Pembangunan kultur bisnis yang sehat idealnya dimulai dari perumusan
kembali, etika dasar (yang disetujui oleh semua pihak). Etika dipandang sebagai

11
Sri Redjeki Hartono, Peresmian Jabatan Guru Besar di dalam Hukum Dagang pada
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro 18 Desember 1995.
12
A. Sonny Keraf, Etika Bisnis membangun Citra Bisnis sebagai Profesi Luhur. Kanisius
Yogya, 1993. Hal.33-37
8
science of conduct, ia mencakup aturan-aturan dasa yang kita anut dalam hidup
dan kehidupan. Etika yang dipandang sebagai state of the art hukum, yakni
pedoman pelaku hari ini ditafsirkan ke dalam hukum, peraturan dan pedoman di
kemudian hari.
13

Bila suatu kegiatan usaha mengikatkan diri dengan manajemen kualitas
perusahaan menyetujui tanggung jawab moral tertentu pada arus terendah,
perusahaan itu berjanji pada diri sendiri untuk tiga tanggung jawab perusahaan
berikut ini:
14

1. Perhatikan pada konsumen, dinyatakan dengan memuaskan kebutuhan akan
kemudahan penggunaan dan keselamatan produk yang diproduksi.
2. Perhatian terhadap lingkungan
3. Perhatian terhadap kondisi-kondisi minimum
Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang kompleks yang
bergantung pada situasi bisnis, aturan bisnis tidak dapat menangani hal ini, setiap
perusahaan/kegiatan usaha tanpa harus melihat ukurannya harus memutuskan
bagaimana memenuhi tanggung jawabnya. Dengan ketaatan terhadap etika bisnis
tertib sosial dapat terpelihara dan keseimbangan antara hak dan kewajiban
seseorang dapat diwujudkan. Melanggar berbagai ketentuan yang sifatnya
normatif bukan hanya merugikan orang yang bersangkutan, akan tetapi juga
merupakan jalan pintas untuk ketidakberhasilan.
15

Peranan etika bisnis didalam hukum bisnis bergantung dari titik tolak
pandangan mengenai apa saja yang termasuk ke dalam nilai-nilai, di dalam hukum
bisnis nilai-nilai tersebut berkembang menjadi hubungan antara hukum dan moral.
Hukum adalah merupakan sebuah konsep
16
dan menurut Soetandyo Wignyo
Soebroto, tidak ada yang tunggal mengenai apa yang disebut hukum itu. Menurut

13
Hardja Pamekas, Erry Riana, Etika Bisnis. Materi Kursus Manajemen Perkebunan LPP
Kampus Yogyakarta, 2000. Hal.2
14
Peter Pratey, The Essence of Business Ethics, diterjemahkan oleh Prasetyo Gunawan.
Andi Yogyakarta. 1997, hal.112.
15
Sondang P. Siagian. Etika Bisnis. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta. 1996. Hal.156.
16
Abdurachman, Tebaran Pemikiran tentang Studi Hukum dan Masyarakat. PT. Media
Sarana Jakarta, 1987.
9
pendapatnya sekurang-kurangnya tiga konsep hukum yang pernah dikemukakan
ialah:
a. Hukum sebagai asas moralitas atau asas keadilan yang bernilai universal dan
menjadi bagian intern sistem hukum alam
b. Hukum sebagai kaidah-kaidah dan positif yang berlaku pada suatu waktu dan
tempat tertentu, dan terbit sebagai eksplisit suatu sumber kekuasaan politik
yang berlegitimasi.
c. Hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional di dalam sistem
kehidupan bermasyarakat, baik di dalam proses-proses pemulihan ketertiban
dan penyelesaian sengketa maupun dalam proses pengarahan dan pembentukan
pola-pola perilaku yang baru.
17

Hukum bisnis pada implementasinya di lapangan kegiatan perekonomian
menggunakan metode sesuai dengan alur perjalanan arah perkembangan di
berbagai sektor usaha dan industri.
Dari berbagai regulasi dan penataan komponen pengaturan kebijakan politik
ekonomi baik yang terjadi di wilayah dunia maupun di wilayah regional dan
sektoral akan membawa dampak pada kebijakan dan arah tujuan mengenai
perspektif hukum bisnis tersebut. Karena ketentuan hukum bisnis sangat
dipengaruhi oleh aspek-aspek hukum lainnya juga dipengaruhi oleh aspek-aspek
pengaturan dibidang perekonomian dan regulasi di bidang perekonomian.
Akibat dari situasi dan keadaan kegiatan ekonomi di suatu wilayah maka
dengan demikian hukum bisnis akan berkembang dengan berbagai segi aspek-
aspeknya, karena setiap aspek akan berkaitan dengan berbagai asas-asas hukum
yang ada, keadaan tersebut sangatlah berpengaruh pada penentuan dan arah dari
strategi hukum bisnis. Dalam kehidupannya manusia selalu melakukan hubungan
baik hubungan antar pribadi ataupun antar kelompok, maka peranan yang terjadi
selalu memiliki obyek-obyek dari peranan tersebut dapat berupa benda-benda
konkrit ataupun yang bersifat imateriil.
18


17
Soetandyo Wignyo Soebroto, dari Hukum Kolonial dan Hukum Nasional, Rajawali,
Jakarta. 1980, hal.2.
18
Lysen, Individu dan Masyarakat. Sumur Bandung, Bandung. 1984. Hal.96.
10
Dari segi obyek yang dituju hukum bisnis dapat diartikan sebagai suatu
metode atau cara yang digunakan untuk mewujudkan suatu kepentingan sebagai
suatu tuntutan atau hasrat yang ingin dipuaskan manusia, baik secara individu
maupun kelompok atau asosiasi.
19


HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HKI)
Sebelum istilah hak kekayaan intelektual (HKI) resmi dipergunakan maka
lebih umum dikenal istilah Hak kekayaan atas intelektual (HAKI). Namun istilah
Haki sudah tidak dipakai lagi karena berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan
Perundang-undangan RI No.M.03.PR.07.10 tahun 2000, telah ditetapkan secara
resmi penggunaan istilah hak kekayaan intelektual (tanpa kata atas) atau
disingkat HKI istilah HKI telah dipergunakan secara resmi dalam undang-undang
No.14 tentang Paten, Undang-undang No.15 tentang merek dan undang-undang
No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Adapun alasan perubahan istilah tersebut
antara lain untuk lebih menyesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang tidak
menulis kata depan seperti atas atau dari terutama untuk istilah.
20

Konsepsi mengenai HKI didasarkan pada pemikiran bahwa hasil kreasi dari
pekerjaan dengan menggunakan kemampuan intelektual berupa gagasan yang
diwujudkan secara konkret, kemudian diperbanyak secara luas sehingga
mempunyai nilai secara ekonomi karena terlibat dalam aktivitas komersial.
Terciptanya invensi-invensi baru di bidang teknologi. Pada akhirnya akan
meningkatkan taraf hidup masyarakat karena invensi yang telah dihasilkan
memiliki manfaat secara ekonomi.
21

Apabila ditelusuri lebih mendalam konsep HKI meliputi:
1. Hak milik hasil pemikiran (intelektual) yang melekat pada pemiliknya bersifat
tetap dan eksklusif, dan
2. Hak yang diperoleh pihak lain atas izin dari pemilik bersifat sementara

19
Thoga Hutagalung, Hukum dan Keadilan dalam Pemahaman Filsafat Pancasila dan UU
Dasar 1945. Disertasi Universitas Pajajaran Bandung. Hal.182.
20
Zen Umar Purba, Pokok-pokok Kebijakan Pembangunan Sistem HKI Nasional. Jurnal
Hukum Bisnis, Vol.13 April 2001. Hal.8
21
Muhammad Djuhana dan R.D.Jubaedilah, Hak Milik Intelektual (Sejarah, Teori dan
Praktek di Indonesia) Citra Aditya Bakti Bandung. 1997, hal.23.
11
Hak yang diperoleh pihak lain atas izin pemiliknya, misalnya hak untuk
mengumumkan, hak untuk memperbanyak, hak untuk menggunakan suatu produk
tertentu. HKI merupakan benda tidak berwujud hasil kegiatan intelektual (daya
cipta) manusia yang diungkapkan ke dalam suatu bentuk ciptaan atau penemuan
tertentu. Kegiatan intelektual (daya cipta) terdapat dalam bidang ilmu
pengetahuan seni dan teknologi.
Hasil kemampuan berpikir (intelektual) manusia merupakan ide yang
kemudian yang dijelmakan dalam bentuk ciptaan atau penemuan. Pada ide itu
melekat predikat intelektual yang bersifat abstrak. Konsekuensinya, HKI menjadi
terpisah dengan material bentuk jelmaannya sebagai contoh:
1. Hak cipta adalah ide di bidang ilmu pengetahuan yang disebut HKI, benda
material bentuk jelmaannya adalah buku.
2. Hak cipta adalah ide di bidang seni yang disebut HKI, benda material bentuk
jelmaannya adalah lagu, tarian, lukisan.
3. Hak merek adalah ide di bidang ilmu pengetahuan yang disebut HKI benda
material bentuk jelmaannya adalah merek yang dilekatkan pada jasa atau
barang dagangan.
4. Paten adalah ide di bidang teknologi yang disebut HKI, benda material bentuk
jelmaannya antara lain televisi, proses pembuatan obat.
Apabila orang lain ingin menikmati manfaat ekonomi dari hak milik orang
lain, ia wajib memperoleh ijin dari orang yang berhak. Penggunaan/menyerupai
hak milik intelektual orang lain tanpa ijin merupakan pelanggaran hukum. Jika
terjadi pelanggaran maka pelanggar tersebut harus diproses secara hukum dan
apabila terbukti melakukan pelanggaran, maka ia akan dijatuhi hukuman sesuai
dengan ketentuan undang-undang yang telah dilanggar tersebut. Undang-undang
bidang HKI mengatur jenis pelanggaran serta ancaman hukumannya, baik secara
administratif, secara perdata maupun secara pidana.
Sejak tahun 2000, Indonesia telah menambah seperangkat perundang-
undangan di bidang HKI yaitu:
1. UU No.29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas baru tanaman
2. UU No.30 tahun 2000 tentang rahasia dagang
12
3. UU No.31 tahun 2000 tentang desain industri
4. UU No.32 tahun 2000 tentang desain tata letak sirkuit terpadu
Disamping itu sejak tahun 2001 Indonesia juga telah merevisi seperangkat
perundang-undangan di bidang HKI yang sebelumnya sudah ada yaitu antara lain:
1. UU No.14 tahun 2001 yang merevisi UU No.13 tahun 1997 jo. UU No.6 tahun
1989 tentang paten
2. UU No.15 tahun 2001 yang merevisi UU No.14 tahun 1997 jo. UU No.19
tahun 1992 jo. UU No.21 tahun 1961 tentang merek.
3. UU No.19 tahun 2002 yang merevisi UU No.12 tahun 1997 jo. UU No.7 tahun
1987 jo. UU No.6 tahun 1982 tentang hak cipta.
Penambahan dan revisi dari seperangkat perundang-undangan tak lain
karena Indonesia sebagai negara peseta yang terikat dengan persetujuan putaran
Uruguay telah melakukan ratifikasi terhadap persetujuan tersebut yang dituangkan
dalam bentuk undang0undang yaitu undang0undang No.7 tahun 1994 tentang
pengesahan The Agreement Establishing The World Trade Organization (WTO).
WTO adalah organisasi internasional yang menangani peraturan-peraturan
perdagangan antar negara. Yang menjadi intinya adalah apa yang disebut
perjanjian WTO (WTO agreement). Dalam perjanjian ini segala sesuatu yang
dirundingkan dan ditandatangani oleh pemerintah anggota WTO, ditetapkan
aturan-aturan bagi perdagangan internasional. Perjanjian WTO mencakup barang-
barang (the general agreement on tariffs and trade GATT), jasa (the General
Agreement on Trade in Service (GATS), dan milik intelektual (The Agreement on
Trade Related Aspects of Intelektual Property Rights (Trips). Akibat dari
ratifikasi tersebut Indonesia harus berusaha menegakkan prinsip-prinsip GATT-
GATS yang juga menyangkut Trips, including trade in counterfeit goods (artinya
aspek-aspek dagang yang berkenaan dengan hak kekayaan intelektual (Haki)
termasuk juga perdagangan barang palsu).

Sistem Perlindungan Hukum
Perlindungan HKI merupakan suatu sistem hukum yang terdiri dari unsur-
unsur sistem berikut ini.
13
1. Subyek perlindungan. Subyek yang dimaksud pihak pemilik atau pemegang
hak, aparat penegak hukum, pejabat, pendaftaran dan pelanggar hukum.
2. Obyek perlindungan. Obyek yang dimaksud adalah semua jenis HKI yang
diatur oleh UU, seperti hak cipta merek, paten, rahasia dagang, desain industri
dll.
3. Pendaftaran perlindungan. HKI yang dilindungi hanyalah yang sudah terdaftar
dan dibuktikan dengan sertifikat pendaftaran, kecuali apabila undang-undang
mengatur lain seperti hak cipta boleh tidak didaftarkan menurut UU No.19
tahun 2002.
4. Jangka waktu perlindungan, jangka waktu yang dimaksud adalah lamanya HKI
itu dilindungi oleh undang-undang: Hak cipta selama hidup ditambah 50 tahun
sesudah meninggal, merek 10 tahun, paten 20 tahun. Desain industri 10 tahun,
rahasia dagang tanpa batas, sirkuit terpadu 10 tahun, perlindungan varietas baru
tanaman 20-22 tahun. Dari semua jangka waktu di atas ada yang dapat
diperpanjang dan tidak dapat diperpanjang.
5. Tindakan hukum perlindungan. Apabila terbukti telah terjadi pelanggaran HKI,
maka pelanggar harus dihukum, baik secara pidana dan secara perdata.

Jenis-jenis Pelanggaran
1. Bidang Hak Cipta
a. Diperbolehkan memfotokopi bab tertentu tanpa ijin. Pencipta untuk
kepentingan pendidikan, tetapi fotokopi itu dijualbelikan (dikomersialkan).
b. mengutip ciptaan orang lain dimasukkan dalam ciptaan sendiri tanpa
menyebutkan sumbernya (plagiat).
c. Mengambil ciptaan orang lain untuk diperbanyak dan diumumkan
sebagaimana aslinya tanpa mengubah bentuk, isi, pencipta, penerbit/
perekam.
d. Melampaui jumlah eksemplar penerbitan yang disepakati dalam perjanjian.



14
Klasifikasi pelaku kejahatan pelanggaran hak cipta yaitu:
a. Pelaku utama, baik perorangan maupun badan hukum yang dengan sengaja
melanggar hak cipta, termasuk pelaku utama adalah pembajak ciptaan atau
rekaman.
b. Pelaku pembantu yaitu pihak yang menyiarkan memamerkan atau menjual
kepada umum ciptaan atau rekaman yang diketahuinya melanggar hak cipta
termasuk pelaku pembantu adalah penyiar, penyelenggara pameran, penjual,
pengedar, pihak yang menyewakan ciptaan atau rekaman hasil pembajakan.
2. Bidang Merek
Ada 3 jenis pelanggaran merek yaitu:
a. Penggunaan merek yang mempunyai persamaan pada keseluruhan dengan
merek terdaftar milik orang lain
b. Penggunaan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan
mereka terdaftar milik orang lain
c. Memperdagangkan barang dan/atau jasa yang diketahui/patut diketahui
berasal dari kejahatan pelanggaran merek, misalnya pemalsuan, peniruan.
Pelaku pelanggaran merek huruf (a) dan (b) disebut pelaku utama sedangkan
pelaku pelanggaran huruf (c) disebut pelaku pembantu
3. Bidang Paten
Ada 2 klasifikasi tindak pidana pelanggaran paten yaitu:
a. Dalam hal paten produk: membuat, menjual, mengimpor, menyewakan,
menyerahkan, memakai, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau
diserahkan hasil produksi yang diberi paten.
b. Dalam hal paten proses: menggunakan proses produksi yang diberi paten
untuk membuat barang dan tindakan lainnya seperti yang dimaksud dengan
huruf (a)

Upaya Perlindungan Hukum
a. Pendaftaran HKI
Pendaftaran adalah bentuk perlindungan hukum yang menimbulkan kepastian
hukum dalam UU, HKI. Kita mengenal 2 sistem pendaftaran yaitu sistem
15
konstitutif (first to file system) menurut sistem ini hak seseorang hanya dapat
diakui dan dilindungi oleh undang-undang apabila telah didaftarkan, jadi wajib
didaftarkan. Sistem ini dianut oleh UU merek dan UU paten. Sedangkan sistem
deklaratif (first to use system) yaitu perlindungan hukum kepada
pemegang/pemakai pertama HKI. Apabila ada pihak lain yang mengakui
sebagai pihak yang berhak atas suatu kekayaan intelektual, maka ia harus
membuktikan bahwa ialah sebagai pemegang/pemakai pertama yang berhak
atas kekayaan intelektual itu. Sistem ini tidak mengharuskan pendaftaran HKI,
sistem ini dianut oleh UU hak cipta.
b. Penentuan masa perlindungan
masa perlindungan setiap HKI telah diatur dalam tiap-tiap undang-undang di
bidang HKI dan tiap peraturan perundang-undangan tersebut jangka waktu
perlindungan tidak sama. Dengan demikian dalam masa perlindungan tersebut.
Pihak lain tidak boleh menggunakan HKI tanpa ijin pemegang/pemilik hak.
c. Penindakan dan pemulihan
setiap pelanggaran HKI akan merugikan pemilik/pemegang HKI. Pelaku
pelanggaran tersebut harus ditindak dan harus memulihkan kerugian yang
diderita oleh pemilik/pemegang hak atau negara. Penindakan dan pemulihan
tersebut diatur oleh undang-undang bidang HKI. Ada 3 kemungkinan
penindakan dan pemulihan yaitu:
a. Secara perdata berupa gugatan
1. Ganti kerugian terhadap pelanggar
2. Penghentian perbuatan pelanggar
3. Penyitaan barang hasil pelanggaran untuk dimusnahkan
b. Secara pidana berupa penuntutan
1. Hukuman pidana maksimum 7 (tujuh) tahun penjara; dan/atau
2. Hukuman denda maksimum Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah)
3. Perampasan barang yang digunakan melakukan kejahatan untuk
dimusnahkan


16
c. Secara administrative berupa tindakan:
1. Pembekuan/pencabutan SIUP
2. Pembayaran pajak/bea masuk yang tidak dilunasi
3. Re-ekspor barang hasil pelanggaran

HUKUM LEMBAGA PEMBIAYAAN
Pendahuluan
Setiap organisasi ekonomi dalam bentuk apapun atau dalam skala apapun
selalu membutuhkan dana yang cukup agar laju kegiatan serta perkembangannya
dapat diharapkan terwujud sesuai dengan perencanaannya kebutuhan dana, ada
kalanya dapat dipenuhi sendiri sesuai dengan kemampuan tetapi adakalanya tidak
dapat. Untuk itu dibutuhkan bantuan pihak lain yang bersedia membantu
menyediakan dana sesuai dengan kebutuhan.
Secara umum, kebutuhan dana dapat dipenuhi oleh bank sebagai salah satu
perusahaan yang bergerak di bidang keuangan meskipun demikian tidak selalu
bank pasti mampu memenuhi setiap permintaan kebutuhan. Kebutuhan dana yang
relatif makin bertambah sejalan dengan lajunya pertumbuhan dunia usaha, maka
perlu dicari alternatif lain sumber dana selain dari usaha perbankan.
Lembaga pembiayaan (financing institution) adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana dan atau barang
modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Kegiatan
lembaga pembiayaan dapat dilakukan oleh perusahaan pembiayaan. Perusahaan
pembiayaan adalah badan usaha di luar bank dan di luar lembaga keuangan bukan
bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam
bidang usaha lembaga pembiayaan.
Di Indonesia, walaupun sebelumnya sudah ada pranata penyaluran dana non
bank, tetapi secara institusional diberlakukan setelah pemerintah mengeluarkan
Kepres No.61 tahun 1988 tentang lembaga pembiayaan yang kemudian
ditindaklanjuti oleh keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
No.1251/KMK.013/1988 tentang ketentuan dan tata cara pelaksanaan lembaga
pembiayaan sebagaimana telah berkali-kali diubah dengan keputusan menteri
17
keuangan RI No.448/KMK.017/2000 tentang perusahaan pembiayaan. Dalam
peraturan perundang-undangan tersebut diperincikan bahwa kegiatan lembaga
pembiayaan meliputi:
a. Sewa guna usaha
b. Modal ventura
c. Perdagangan surat berharga
d. Anjak piutang
e. Usaha kartu kredit, dan
f. Pembiayaan konsumen
Akan tetapi dengan keputusan menteri keuangan RI No.448/KMK.017/2000
tentang perusahaan pembiayaan. Lembaga pembiayaan yang dapat dijalankan oleh
suatu perusahaan pembiayaan hanyalah sebagai berikut:
a. Sewa guna usaha
b. Anjak piutang
c. Usaha kartu kredit
d. Pembiayaan konsumen
Sebab, kegiatan modal ventura dan perdagangan surat berharga mempunyai
karakteristik yang sangat berbeda dengan keempat lembaga pembiayaan tersebut
di atas. Di samping itu ditentukan pula bahwa suatu perusahaan pembiayaan tidak
diperkenankan menarik dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk:
a. Giro
b. Deposito
c. Tabungan, dan
d. Surat sanggup bayar (promissory notes), kecuali jika surat sanggup bayar
tersebut hanya dipakai sebagai jaminan hutang kepada bank yang menjadi
kreditnya.
Masing-masing kegiatan perusahaan pembiayaan sungguhpun berbeda-beda
dan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri tetapi masih banyak terdapat
persamaannya karena semuanya memang bertujuan untuk memberi kemudahan
finansial bagi perusahaan lain.

18
1. Sewa guna usaha (leasing)
Pengertian
Istilah leasing sebenarnya berasal dari kata lease yang berarti sewa menyewa,
karena memang dasarnya leasing adalah sewa menyewa. Jadi leasing merupakan
suatu bentuk derivatif dari sewa menyewa tetapi kemudian dalam dunia bisnis
berkembanglah sewa menyewa dalam bentuk khusus yang disebut leasing itu atau
kadang-kadang disebut lease saja dan telah berubah fungsinya menjadi salah satu
jenis pembiayaan dan dikenal dengan nama sewa guna usaha.
Untuk mengetahui konsep leasing sebagai sewa guna usaha yaitu bentuk
khusus dari sewa menyewa, perlu dikaji ketentuan yang terdapat dalam peraturan
perizinan usaha leasing. Menurut surat keputusan bersama menteri keuangan dan
menteri perindustrian dan perdagangan No.Kep-122/MK/IV/2/1974,
No.32/M/SK/2/1974, No.30/Kpb/1/1974 tentang perizinan usaha leasing. Dalam
surat keputusan bersama tersebut ditentukan bahwa yang dimaksud denganleasing
adalah:
Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-
barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu
tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai
dengan hak pilih (opsi) dari perusahaan tersebut untuk membeli barang-
barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing
berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.
Selanjutnya menurut keputusan menteri keuangan RI
No.1169/KMK.01/1991 tentang kegiatan sewa gua usaha (leasing), yang
dimaksudkan dengan leasing adalah:
Suatu kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik
secara sewa guna dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha
tanpa hak opsi (operating lease) untuk dipergunakan oleh lessee selama
jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.


19
Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat diuraikan bahwa yang menjadi
elemen-elemen dari suatu leasing adalah sebagai berikut:
a. Pembiayaan perusahaan, pembiayaan tidak dalam bentuk dana, melainkan
dalam bentuk barang modal yang digunakan untuk kegiatan usaha.
b. Penyediaan barang modal. Biasanya disediakan oleh supplier atas biaya lessor
untuk digunakan oleh lessee bagi keperluan bisnis misalnya kapal, mesin
pabrik traktor, kendaraan bermotor, komputer.
c. Digunakan oleh suatu perusahaan. Barang modal tersebut merupakan bentuk
pembiayaan suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya.
d. Pembayaran sewa secara berkala, kewajiban, lessee membayar angsuran harga
barang modal kepada lessor yang sudah melunasinya kepada supplier.
e. Jangka waktu tertentu. Berapa tahun sewa guna usaha dilakukan setelah jangka
waktu berakhir ditentukan status kepemilikan barang modal.
f. Hak opsi untuk membeli barang modal. Pada saat kontrak berakhir lessee
diberi hak opsi untuk membeli barang modal tersebut sesuai dengan harga yang
disepakati atau mengembalikannya pada lessor.
g. Nilai sisa (residu) merupakan jumlah uang yang harus dibayar kembali kepada
lessor oleh lessee di akhir masa berlakunya leasing atau pada saat lessee
mempunyai hak opsi. Nilai sisa biasanya sudah terlebih dahulu ditentukan
bersama dalam kontrak leasing.
2. Sejarah Perkembangan Leasing
Leasing pertama kali berkembang di Amerika Serikat dan kemudian
menyebar ke Eropa bahkan ke seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.di
Amerika Serikat, leasing dalam arti modern ini pertama kali diperkenalkan yaitu
leasing berobyekkan kereta api. Bahkan dalam tahun 1850 telah tercatat adanya
perusahaan leasing yang pertama di Amerika Serikat yang biroprasi di bidang
leasing kereta api.
22

Di negara tersebut perkembangan pranata hukum leasing ini cukup pesat.
Selama dasawarsa 1980-an, volume leasing bertambah rata-rata 15% tiap
tahunnya. Dan menjelang dasawarsa 1980-an tersebut kurang lebih sepertiga dari

22
Eddy P. Soekadi. Mekanisme Leasing. Ghalia Indonesia. Jakarta, 1990 hal.19.
20
pengadaan peralatan bisnis baru disana dilakukan dalam bentuk leasing.
Demikianlah di USA, maka bank-bank dan perusahaan leasing hidup subur
sebagai lessor. Disamping itu, bahkan perusahaan pemegang trademark terkenal
juga ikut menjadi lessor. Misalnya sejak dasawarsa 80-an, perusahaan GATX
merupakan lessor terbesar untuk leasing railcars. Sementara IBM merupakan
lessor terbesar untuk leasing komputer. Dan. XEROX merupakan lessor terbesar
pula untuk leasing mesin fotocopy.
23

Perkembangan leasing dalam sejadah di Indonesia tersebut dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga fase sebagai berikut:
1. Fase Pengenalan
Fase pertama merupakan fase pengenalan dari bisnis leasing di Indonesia
terjadi antara tahun 1974 sampai tahun 1983. Pada masa itu leasing belum
begitu dikenal masyarakat dan konsekuensinya jumlah transaksinyapun masih
relatif kecil.
2. Fase pengembangan
Fase kedua terjadi kira-kira antara tahun 1984 sampai dengan 1990. Dalam fase
kedua ini, bisnis leasing cukup pesat perkembangannya bersamaan dengan
pesatnya pertumbuhan bisnis di Indonesia. Pada fase kedua ini, beberapa segi
operasionalisasi leasing telah berubah misalnya dalam hal perhitungan
penyusutan aset untuk kepentingan perpajakan. Hal ini akibat dari berlakunya
undang-undang pajak 1984. Sementara sistem pelaporan pajak dalam periode
kedua ini masih memakai operating method seperti pada fase sebelumnya
tetapi dengan beberapa distorsi.
3. Fase konsolidasi
Pada fase ketiga 1991 sampai sekarang, ijin-ijin pendirian perusahaan leasing
yang sebelumnya agak diperketat, dibuka kembali. Perusahaan multifinance
juga banyak didirikan pada periode ini dan terjadi perubahan sistem
perpajakan. Dari semula operating method berubah menjadi financial method.
Hal ini berlaku sejak 19 Januari 1991, berdasarkan ketentuan dalam SK

23
Richard A. Brealey dan Stewart C. Myers. Principles of Corporate Finance. MCGraw-
Hill. New York. 1991. Hal.653.
21
menteri Keuangan No.1169/KMK.1/1991. Meskipun usaha dalam bidang
leasing sudah mulai meluas akan tetapi perkembangannya masih jauh dari yang
diharapkan hal ini disebabkan oleh:
24

a. Karena bisnis leasing masih terbilang relatif baru
b. Kurang promosi dan lemahnya aturan hukum
c. Masyarakat masih lebih terfokus pada barang-barang primer dan belum
terhadap barang-barang lainnya
d. Ada anggapan sementara pihak bahwa beban yang dipikul oleh para pihak
lebih besar dibandingkan dengan fasilitas perbankan
e. Untuk leasing barang-barang tertentu dibutuhkan jaminan sehingga orang
cenderung memilih sistem perbankan.

Perbedaan leasing dengan perjanjian lainnya
1. Perbedaan loan (yang diberikan oleh bank) dan leasing (yang diberikan oleh
perusahaan pembiayaan).
a. Loan bertujuan menyediakan dana sementara leasing bertujuan
menyewakan barang modal karena itu, leasing dikategorikan juga sebagai
assets based finance.
b. Loan terfokus kepada uang, jadi kreditur bukan pemilik dari barang yang
didanai, sementara dalam leasing paling tidak yuridis, lessor merupakan
pemilik fasilitas/barang modal.
c. Pada loan, risikonya berupa financial risk, sementara pada leasing, risikonya
berupa financial risk dan physical risk atas barang modal.
d. Jaminan hutang pada loan adalah barang bergerak atau tidak bergerak yang
seringkali tidak ada hubungannya dengan tujuan penggunaan dana
pinjaman. Sementara pada leasing jaminannya berupa barang modal yang
dibeli dengan dana dari leasing tersebut.
e. Pada loan, jika ada wanprestasi dari pihak debitur, maka barang jaminan
dilelang dan kelebihan harganya dikembalikan kepada deibutur. Sementara
jika wanprestasi lessee pada leasing pada prinsipnya lessor tinggal

24
Majalah Usahawan No.10, Oktober 1992 hal.50.
22
mengambil kembali barang modal tersebut tanpa harus memperhitungkan/
mengembalikan kelebihan harga.
2. Perbedaan sewa menyewa dengan leasing
a. Dalam sewa menyewa masalah jangka waktu sewa atau umur pemakaian
barang tidak menjadi fokus utama tetapi tidak demikian halnya dengan
leasing.
b. Pada prinsipnya leasing dianggap sebagai salah satu metode pembiayaan
bisnis dan tidak demikian halnya dengan perjanjian sewa menyewa biasa
c. Obyek dari perjanjian sewa menyewa berupa barang berwujud dan
berbentuk apa saja, sementara obyek dari leasing umumnya adalah barang
modal, alat produksi atau beberapa bentuk barang konsumsi.
d. Jika leasing menjadi suatu kegiatan bisnis, maka lessornya haruslah
berbentuk perusahaan pembiayaan, sedangkan lessor pada sewa menyewa
biasa tidak ada pembatasan khusus.
e. Pada leasing, lessor berkedudukan sebagai penyandang dana, baik tunggal
atau bersama-sama dengan penyandang dana lainnya, sementara barang
obyek leasing disediakan oleh pihak ketiga atau oleh lessee sendiri.
Sebaliknya pada sewa menyewa biasa, barang obyek sewa adalah memang
miliknya lessor. Jadi kedudukan lessor adalah sebagai pihak yang menyediakan
barang obyek sewa.
f. Jangka waktu dalam leasing adalah terbatas, sementara jangka waktu pada
sewa menyewa bisa terbatas dan tidak bisa.
g. Dokumen-dokumen dalam perjanjian leasing jauh lebih complicated
dibandingkan dengan sewa menyewa biasa.
h. Pada leasing biasanya masih dibutuhkan jaminan-jaminan tertentu
sedangkan pada sewa menyewa umumnya tidak ada jaminan tersebut.
Jaminan tersebut umumnya berupa personal guarantee, fisudia terhadap
barang modal yang bersangkutan kuasa menjual barang modal dan
sebagainya.


23
3. Perbedaan jual beli dengan leasing
Jual beli merupakan salah satu jenis perjanjian bernama. Versi KUH perdata,
yang pengaturannya terdapat dalam buku ketiga KUH Perdata tersebut. Tetapi
karena leasing bukan jual beli, maka seperti juga tentang perjanjian pinjam
meminjam atau sewa menyewa, maka ketentuan KUH Perdata tentang jual beli
pun tidak berlaku untuk leasing.
4. Perbedaan sewa beli dengan leasing
a. Dalam sewa beli, lessee otomatis (demi hukum) jadi pemilik barang di akhir
masa sewa, sementara pada leasing, kepemilikan lessee tersebut hanya
terjadi apabila hak opsinya dilaksanakan oleh lessee.
b. Pihak lessor dalam leasing hanya bermaksud untuk membiayai perolehan
barang modal oleh lessee dan barang tersebut tidak berasal dari pihak lessor,
tetapi dari pihak ketiga atau dari pihak lessee sendiri, tetapi pada sewa beli
pihak lessor bermaksud melakukan semacam investasi dengan barang yang
disewakan itu dengan uang sewa sebagai keuntungannya. Karena itu
biasanya barang tersebut berasal dari milik pemberi sewa beli sendiri.
c. Leasing termasuk dalam salah satu metode pembiayaan yang diperkenankan
dilakukan oleh perusahaan pembiayaan, sementara sewa beli tidak termasuk
kegiatan lembaga pembiayaan.
Keuntungan menggunakan Leasing
1. Unsur fleksibilitas
Fleksibilitas dalam hal dokumentasi, colateral, struktur kontraknya, besarnya
dan jangka waktu pembayaran cicilan oleh lessee, nilai residu, hak opsi dan
lain-lain.
2. Ongkos relatif murah
Dalam prakteknya semua biaya tersebut diakumulasikan ke dalam satu paket
termasuk dalam komponen biaya ini antara lain adalah konsultan free,
pengadaan dan pemasangan barang, asuransi dan lain-lain.
3. Penghematan pajak
Sistem perhitungan pajak untuk leasing menyebabkan pembayaran pajaknya
lebih hemat.
24
4. Pengaturan tidak terlalu complicated
Pengaturan terhadap leasing tidak terlalu complicated seperti halnya
pengaturan terhadap kredit bank mengingat perusahaan pembiayaan tidak perlu
harus melaksanakan banyak hal seperti diwajibkan untuk suatu bank.
5. Kriteria bagi lessee yang longgar
Mengingat pemberian fasilitas leasing jauh lebih aman bagi lessor, karena
setiap saat barang modal dapat dijual dengan perhitungan harga tidak lebih
rendah dari sisa hutang lessee.
6. Pemutusan kontrak leasing oleh lessee
Dalam kontrak leasing diberikan hak yang begitu mudah kepada lessee untuk
memutuskan kontrak di tengah jalan dengan pertimbangan harga barang modal
tersebut dapat menutupi bahkan seringkali melebihi sisa hutang lessee.
7. Pembukuan yang lebih mudah
Dalam transaksi leasing ini dimasukkan sebagai pembiayaan secara off balance
sheet, sehingga pembukuan perusahaan lessee akan kelihatan lebih baik.
Kelemahan dan pembiayaan leasing:
1. Biaya bunga yang tinggi
2. Biaya marginal yang tinggi
3. Kurangnya perlindungan hukum
4. Proses eksekusi leasing macet yang sulit

Anjak Piutang (Factoring)
a. Pengantar
Bisnis factoring termasuk jenis bisnis canggih beresiko tinggi sebab berbeda
dengan kredit bank misalnya dalam bisnis factoring hampir tidak tersedia jaminan
sama sekali. Dalam bahasa Indonesia istilah factoring sering diterjemahkan
dengan anjak piutang menurut Kepres No.61 tahun 1988, tentang Lembaga
pembiayaan, factoring merupakan usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan
atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek dari suatu
perusahaan yang terbit dari suatu transaksi perdagangan dalam dan luar negeri.
25
Dalam penjelasan pasal 6 huruf 1 atas undang-undang perbankan undang-
undang No.7 tahun 1992, seperti yang telah diubah dengan undang-undang No.10
tahun 1998 memberi arti kepada factoring sebagai kegiatan pengurusan piutang
atau tagihan jangka pendek dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri
yang dilakukan dengan cara pengambilalihan atau pembelian piutang tersebut.
Pada dasarnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan factoring ialah:
1) Pihak perusahaan faktor yaitu pihak pemberi jasa factoring. Dalam hal ini dia
bertindak sebagai pihak pembeli piutang. Jika terhadap kegiatan factoring
internasional, maka terdapat dua perusahaan faktor yaitu pihak perusahaan
faktor domestik (export factor) dan pihak perusahaan faktor luar negeri (import
factor)
2) Pihak klien merupakan pihak yang mempunyai piutang/tagihan yang akan
dijual kepada pihak perusahaan faktor.
3) Pihak customer, yakni pihak debitur yang berhutang kepada pihak klien untuk
selanjutnya dia akan membayar hutangnya kepada perusahaan faktor.
Selanjutnya dalam keputusan Menteri Keuangan No.1251/KMK.013/1988
tentang ketentuan dan tata cara pelaksanaan lembaga pembiayaan sebagaimana
telah diubah menjadi keputusan menteri keuangan RI No.448/KMK.017/2000
tentang perusahaan pembiayaan mengelaborasi kegiatan factoring berupa kegiatan
dalam bidang.
1. Pembelian atau pengalihan piutang/tagihan jangka pendek yang terbit dari
transaksi perdagangan dalam atau luar negeri
2. Penatausahaan penjualan kredit serta penagihan piutang perusahaan klien
b. Sejarah dan Perkembangan Factoring
Di dalam suatu ketentuan yang dibuat tahun 1963 oleh Common Council
dari kota London disebutkan sebagai berikut:
25

Para pembuat pakaian sendiri dan pembantunya telah menjual dagangannya
(pakaian) kepada para pedagang atau pemakainya atas laba penuh yang
diterimanya sendiri tetapi sekarang pihak lain telah ikut melibatkan diri

25
David, Hawkins, The Business of Factoring, McGraw Hill Book Company London,
1993, hal.7
26
dalam konteks penjualan tersebut sebagai factors dan brokers diantara
pedagang, pemakai dan pembuat pakaian.
Namun demikian kenyataannya menunjukkan bahwa para brokers piutang
ini tetap diperlukan kala itu antara lain disebabkan karena:
1. Pihak produsen pakaian/pabrik tekstil memerlukan dana yang cepat yang tidak
dapat dipenuhi oleh para pemakai atau para pedagang, dan
2. Pihak produsen pakaian/tekstil tidak mampu dan tidak mau untuk bepergian
jauh ke pasar-pasar untuk memasarkan produk-produknya dan menagih
bayarannya.
Selanjutnya awal abad 17 terjadi gelombang hijrah orang-orang
Inggris/Eropa ke Amerika karena itu tidak mengherankan jika di USA pun
factoring berkembang cukup pesat dan dalam dekade 1930-an ini juga telah
terbentuk yurisprudensi di USA yang menegaskan hubungan hukum antara
perusahaan klien sebagai assignor dengan perusahaan faktor sebagai assigner.
Perkembangan factoring juga akhirnya menjalar ke Asia bahkan ke sentero
dunia, di Jepang kegiatan anjak piutang dalam arti modern pertama kali dikenal
sekitar tahun 1972 yang sebagian besarnya dilakukan oleh bank-bank komersial
umumnya oleh Citibank-citibank yang beroperasi di Jepang. Kemudian secara
internasional terdapat juga beberapa sindikasi factoring internasional yang bersifat
permanen dimana para anggotanya terdiri dari perusahaan-perusahaan faktor dari
berbagai negara. Salah satunya adalah yang diberi nama factor chain
internasional.
Perkembangannya di Indonesia sejak keluarnya peraturan yang termasuk
dalam paket kebijaksanaan Desember 1988 mulailah bermunculan perusahaan-
perusahaan faktor. Umumnya melakukan kegiatan bersama-sama dengan kegiatan
financial lainnya (multi finance).
c. Beberapa pertimbangan dalam menjual piutang
Disamping pertimbangan biaya ketika jasa perusahaan faktor hendak
digunakan, maka klien harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain:
1. Mempertahankan customer
27
Apakah hubungan antara klien dengan customer terutama customer tetap atau
customer prospektif akan rusak dengan dialihkannya tagihan kepada
perusahaan factor.
2. Perlindungan bad debt
Apakah memang diperlukan suatu perlindungan terhadap bad debt-nya
sehingga barangkali masih diperlukan asuransi kredit berapa besar biaya untuk
itu.
3. Pertimbangan cash flow
Apakah memang diperlukan penyesuaian atau sedang dalam kesulitan dalam
masalah cash flow, sehingga diperlukan jasa factoring.
4. Perbandingan dengan biaya internal
Bagaimanakah perbandingan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan jasa
factoring tersebut dan kemungkinan keberhasilan penagihannya dibandingkan
dengan seadanya tagihan tersebut dilaksanakan sendiri oleh bagian
pengontrolan kredit dalam perusahaan klien yang bersangkutan.
5. Perbandingan dengan pembiayaan biasa
Bagaimana perbandingan biaya menggunakan jasa factoring dibandingkan
dengan biaya dalam rangka perolehan dana secara biasa, seperti lewat bank
overdraft.
d. Keunggulan anjak piutang
1. Mengatasi kesulitan modal kerja
Melalui fasilitas anjak piutang penjualan kredit kepada nasabah dapat diubah
menjadi penjualan tunai karena ditutupi oleh dana penjualan piutang yang
berarti mengurangi risiko kredit.
2. Kesempatan pengembangan usaha
Karena fasilitas anjak piutang, perusahaan klien memperoleh kesempatan
untuk berkembang dengan menjual produk dan jasa lebih besar atas permintaan
nasabah yang mempunyai reputasi baik tanpa pembiayaan anjak piutang,
realisasi potensi pasar secara penuh sulit dapat diatasi.


28
3. Mengatasi beban risiko kredit
Karena alasan risiko kredit, klien hanya melayani penjualan barang kepada
nasabah lama dan menolak memperluas penjualan barang secara kredit kepada
nasabah baru.
4. Memperbaiki sistem penagihan
Perusahaan anjak piutang yang membeli piutang mengharapkan piutangnya
dibayar pada saat jatuh tempo untuk itu, perusahaan anjak piutang selalu
memantau tagihan-tagihannya dan memberitahukan kepada klien tagihan-
tagihan yang telah jatuh tempo.
5. Bantuan administrasi piutang dan penagihan
Perusahaan anjak piutang mempunyai sistem administrasi piutang dan
penagihan yang lebih baik dengan sistem komputerisasi. Jasa administrasi
tersebut sebagai bagian dari factoring agreement. Laporan yang akurat dan
tepat waktu yang disampaikan oleh perusahaan anjak piutang sangat membantu
klien untuk itu. Perusahaan anjak piutang memperoleh komisi (fee) dari
perusahaan klien.
e. Klasifikasi anjak piutang
Dilihat dari segi tanggung jawab klien anjak piutang dibedakan menjadi 2
(dua) jenis yaitu:
1. Recourse factoring adalah anjak piutang dengan risiko kredit tetap menjadi
tanggung jawab klien, setiap anjak piutang dianggap sebagai recourse
factoring, kecuali jika ditentukan lain oleh para pihak.
2. Without recourse factoring adalah anjak piutang dengan risiko kredit bukan
tanggung jawab klien melainkan seluruh beban tagihan dan risiko sepenuhnya
tanggung jawab perusahaan anjak piutang, kecuali jika ada kesalahan pihak
klien.
Dilihat dari segi notifikasi kepada nasabah, anjak piutang dibedakan
menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
1. Disclosed factoring adalah anjak piutang yang pengalihan piutangnya kepada
perusahaan anjak piutang diberitahukan kepada nasabah pengalihan tersebut
dilakukan dengan cessie menurut pasal 613 ayat (1) KUH Perdata.
29
f. Pelayanan Anjak Piutang
Dilihat dari segi pelayanan yang diberikan, anjak piutang dibedakan menjadi 2
(dua) jenis yaitu:
1. Maturity factoring, perusahaan anjak piutang hanya memberikan jasa
pembukuan, proteksi dan pengontrolan kredit serta penagihan yang disebut
service factoring, sifatnya hanya non financing.
2. financial factoring, adalah anjak piutang disamping memberikan jasa-jasa
seperti maturity factoring juga memberikan jasa pembiayaan.
g. Sarana Pengalihan
Dari segi sarana pengalihan anjak piutang dibedakan menjadi 2 (dua) jenis
yaitu:
1. Account receivable factoring adalah anjak piutang yang pengalihan piutang
kepada perusahaan anjak piutang dilakukan melalui dokumen bukti hutang
dalam bentuk buku tagihan.
2. Promissory notes factoring adalah anjak piutang dengan cara nasabah
menerbitkan surat pengakuan hutang (promissory notes) atas hutang-hutangnya
kepada klien kemudian klien mengendosemenkan surat pengakuan hutang itu
kepada perusahaan anjak piutang sebagai salah satu cara pengalihan piutang.
h. Tempat Kedudukan para Pihak
Dari segi tempat kedudukan pihak-pihak, anjak piutang dibedakan menjadi
2 (dua) jenis yaitu:
1. Domestic factoring adalah anjak piutang dimana semua pihak berdomisili
dalam satu negara.
2. International factoring adalah anjak piutang dimana pihak nasabah berdomisili
di luar negeri atau di negara lain sedangkan klien berdomisili di dalam negeri,
dalam hal ini di Indonesia. Anjak piutang ini disebut juga export factoring.
i. Aspek Hukum Internasional
Karena demikian berkembang pesatnya factoring internasional, sementara
factoring jenis ini termasuk rentan terhadap timbulnya disputes, maka semakin
hari, sengketa-sengketa pun semakin meningkat baik dari segi kualitasnya,
maupun dari segi kuantitasnya oleh karena itu dibuatlah suatu ketentuan yang
30
bersifat internasional yaitu UNIDROIT, Convention on International Factoring
dengan pusatnya di Roma Unidroit Convention menyediakan satu set ketentuan
untuk transaksi factoring yang bersifat internasional tetapi peraturan ini masih
belum begitu populer di kalangan bisnis.
Disamping itu, secara internasional dibeberapa negara telah pula diusahakan
berbagai kemudahan bagi klien untuk mencari tahu tentang perusahaan yang
memfinance mereka. Di Inggris misalnya jalur informasi untuk klien mengenai
data dari perusahaan faktor yang bergerak secara internasional dapat dilakukan
melalui cara sebagai berikut:
1. Sistem factel
Sistem factel ini disediakan oleh international factors di Inggris yang
memberikan free service kepada klien dari international factors lewat jaringan
telepon dan televisi.
2. Sistem factflow
Sistem jaringan ini tersedia bagi klien untuk mendapatkan data mengenai
perkembangan factoring dengan perusahaan faktornya. Sistem ini disediakan
oleh Lombart Natwest commercial services melalui jaringan internet dan
telepon.
3. Sistem jaringan ini disediakan oleh century limited yang merupakan bagian
factoring dari Bank Merchant close bros Plc. Sistem ini memberikan data
kepada klien secara rinci dan terbaru karena selalu diperbaharui secara
berkesinambungan seluruh biaya service. Semua sistem ini gratis kecuali biaya
komunikasi lewat network telepon.
Pada saat ini kegiatan bisnis factoring sudah semakin canggih dalam
beroperasinya mengikuti perkembangan bisnis dan teknologi yang terus
berkembang.


31
KARTU KREDIT

A. Pendahuluan
Kartu kredit adalah merupakan alat pembayaran melalui jasa.
Bank/perusahaan pembiayaan dalam transaksi jual beli barang/jasa atau alat untuk
menarik uang tunai dari bank/perusahaan pembiayaan. Alat pembayaran tersebut
diterbitkan berdasarkan perjanjian penerbitan kartu kredit. Berdasarkan perjanjian
tersebut, peminjam memperoleh pinjaman dana dari bank/perusahaan
pembiayaan. Untuk menerima atau menarik dana tersebut bank/perusahaan
pembiayaan menerbitkan dan menyerahkan kartu ukuran kecil dari bahan plastik
yang disebut kartu kredit. Peminjam dana yang menerima kartu kredit disebut
pemegang kartu (card holder) dan bank/perusahaan pembiayaan yang
menyerahkan kartu kredit disebut penerbit (issuer).

B. Sejarah Kartu Kredit
Karena uang sebagai alat pembayaran dalam perkembangannya dirasakan
tidak cukup aman bagi pemegangnya. Hal ini dikarenakan baik karena tidak
praktis, ataupun sering terjadi perampokan atau kehilangan tanpa tersedianya
upaya pengamanan yang berarti. Maka kemudian berkembanglah bentuk-bentuk
alat bayar lain misalnya penggunaan cek, tetapi bentuk alat bayar cek tersebut
juga ternyata tidak cukup comfortable bagi pemegang mapun penermanya.
Di USA, kartu kredit pertama kali dipergunakan dalam dekade 1920-an
yang diberikan oleh department-department store besar kepada para pelangannya.
Tujuannya, untuk mengidentifikasi pelanggannya yang ingin berbelanja tetapi
dengan pembayaran bulanan. Karena itu, kartu kredit seperti ini berbentuk kartu
pembayaran lunas (charge card) yang dibayar bulanan setelah ditagih dan tanpa
kewajiban membayar bunga para pihaknya hanya dua pihak saja, yaitu pihak
pertama toko sebagai penerbit, sedangkan pihak kedua adalah pelanggan sebagai
pemegang kartu kredit.
26


26
Ronald, A. Baker. Problems of Credit Card Regulations USA Perspective dalam
Newsletter No.6 Tahun 1994. Jakarta Pusat Pengkajian Hukum 1994 hal.1)
32
Selanjutnya, di akhir dasawarsa 1950-an, Bank of Amerika menjadi pionir
dengan memperkenalkan kartu kredit antar bank, yang kemudian berkembang
menjadi apa yang sekarang dikenal dengan kartu kredit VISA. Demikian juga
yang dilakukan oleh chase manhattan Bank dan dalam tahun 1951, The First
National Bank Long Island juga telah mengeluarkan kartu kreditnya. Demikian
juga disusul dengan bank-bank lainnya dan jaringan kartu kredit tersebut
dilakukan dengan sistem franchise fungsi bank tersebut dapat berupa (1) penerbit
kartu kredit (2) bank perantara bayar (collection bank) yakni yang bertugas untuk
menerima slip penjualan dari penjual barang/jasa dan membayarnya kepada
penjual tersebut dan meneruskan slip penjualan tersebut kepada bank. Penerbit
untuk mendapatkan pembayaran kembali dan (3) dapat juga suatu bank bertindak
sekaligus sebagai bank penerbit dan bank perantara bayar. Maka akhirnya
berkembanglah berbagai macam kartu kredit dan menerobos tapal batas negara
seiring dengan arus globalisasi. Perkembangan yang pesat terhadap pemakaian
kartu kredit tersebut tidak terkecuali juga di Indonesia.

C. Dasar Hukum Kartu Kredit
1. Perjanjian antara para pihak sebagai dasar hukum
Sistem hukum di Indonesia menganut asas kebebasan berkontrak (vide pasal
1338 ayat (1) KUH Perdata) pasal 1338 ayat (1) tersebut menyatakan bahwa
setiap pernjanjian yang dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang bagi
yang membuatnya. Dengan berlandaskan kepada pasal 1338 ayat (1) ini, asal
saya dibuat secara tidak bertentangan dengan hukum atau kebiasaan yang
berlaku, maka setiap perjanjian (lisan maupun tertulis) yang dibuat oleh para
pihak yang terlibat dalam kegiatan kartu kredit akan berlaku sebagai undang-
undang bagi para pihak tersebut.
2. Perundang-undangan sebagai dasar hukum
a. Keppres No.6 tahun 1988, tentang lembaga pembiayaan pasal 2 ayat (1) dari
Keppres No.61 antara lain menyebutkan bahwa salah satu kegiatan dari
lembaga pembiayaan adalah melakukan usaha kartu kredit. Sementara dalam
pasal 1 ayat 7 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan perusahaan kartu
33
kredit adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam rangka
pembelian barang/jasa dengan menggunakan kartu kredit. Selanjutnya menurut
pasal 3 dari Keppres No.61 ini yang dapat melakukan kegiatan lembaga
pembiayaan tersebut termasuk kegiatan kartu kredit adalah:
1) Bank
2) Lembaga keuangan bukan bank (sekarang sudah tidak ada lagi dalam sistem
hukum keuangan kita)
3) Perusahaan pembiayaan
b. Keputusan menteri keuangan No.1251/KMK.013/1998 tentang ketentuan dan
tata cara pelaksanaan lembaga pembiayaan sebagaimana telah berkali-kali
diubah terakhir dengan keputusan menteri keuangan RI
No.448/KMK.017/2000 tentang perusahaan pembiayaan.
Pasal 2 dari keputusan Menkeu No.1251 ini kembali menegaskan bahwa salah
satu dari kegiatan lembaga pembiayaan adalah usaha kartu kredit. Selanjutnya
dalam pasal 7 nya ditentukan bahwa pelaksanaan kegiatan kartu kredit
dilakukan dengan cara penerbitan kartu kredit yang dapat dipergunakan oleh
pemegangnya untuk pembayaran pengadaan barang/jasa.
c. Undang-undang No.7 tahun 1992 tentang perbankan seperti yang telah diubah
dengan undang-undang No.10 tahun 1998 dalam undang-undang tersebut pasal
6 huruf 1 nya adalah melakukan usaha kartu kredit.

D. Para pihak yang terlibat dalam Kartu Kredit
1. Pihak Penerbit (issuer)
Pihak penerbit kartu kredit ini terdiri dari:
a) Bank
b) Lembaga keuangan yang khusus bergerak di bidang penerbitan kartu kredit
c) Lembaga keuangan yang disamping bergerak di dalam penerbitan kartu
kredit, bergerak juga di bidang kegiatan-kegiatan lembaga keuangan
lainnya.
Kepada pihak penerbit ini oleh hukum dibebankan kewajiban sebagai berikut:
a) Memberikan kartu kredit kepada pemegangnya
34
b) Melakukan pelunasan pembayaran harga barang atau jasa atas bills yang
disodarkan oleh penjual
c) Memberitahukan kepada pemegang kartu kredit terhadap setiap tagihannya
dalam suatu periode tertentu
d) Memberitahukan kepada pemegang kartu kredit berita-berita lainnya yang
menyangkut dengan hak, kewajiban dan kemudahan bagi pemegang
tersebut.
Selanjutnya pihak penerbit kartu kredit oleh hukum diberikan hak-hak sebagai
berikut:
a) Menagih dan menerima dari pemegang kartu kredit pembayaran kembali
uang harga pembelian barang atau jasa
b) Menagih dan menerima dari pemegang kartu kredit pembayaran lainnya
seperti bunga, uang pangkal, uang tahunan, denda dan sebagainya
c) Menerima komisi dari pembayaran tagihan kepada perantara penagihan atau
kepada penjual.
2. Pihak pemegang kartu kredit (card holder)
Secara hukum, pihak pemegang kartu kredit mempunyai kewajiban sebagai
berikut:
a) Tidak melakukan pembelian dengan kartu kredit yang melebihi batas
maksimum
b) Menandatangani slip pembelian yang disodorkan oleh pihak penjual
barang/jasa
c) Melakukan pembayaran kembali harga pembelian sesuai dengan tagihan oleh
pihak penerbit kartu kredit
d) Melakukan pembayaran-pembayaran lainnya, seperti uang pangkal, uang
tahunan, denda dan sebagainya.
Selanjutnya, pihak pemegang kartu kredit mempunyai hak-hak sebagai
berikut:
a) Hak untuk membeli barang/jasa dengan memakai kartu kredit dengan atau
tanpa batas maksimum.
35
b) Kebanyakan kartu kredit juga memberi hak kepada pemegangnya untuk
mengambil uang cash baik pada mesin teller tertentu dengan memakai nomor
kode tertentu ataupun via bank-bank lain atau bank penerbit. Biasanya jumlah
pengambilan uang cash dibatasi sampai batas plafond tertentu.
c) Hak untuk mendapatkan informasi dari penerbit tentang perkembangan
kreditnya dan tentang kemudahan-kemudahan sekiranya ada yang
diperuntukkan kepadanya.
3. Pihak Penjual Barang/Jasa
Secara hukum mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai berikut:
a) Menginformasikan kepada pemegang/pembeli barang/jasa tentang charge
tambahan selain harga jika ada. Misalnya charge tambahan berapa persen dari
harga penjualan terhadap pembelian dengan memakai kartu kredit terhadap
beberapa jenis produk tertentu.
b) Memberikan slip pembelian untuk ditandatangani oleh pihak pembeli/
pemegang kartu kredit.
c) Membayar komisi ketika melakukan penagihan kepada perantara (jika dipakai
perantara) atau kepada penerbit (jika dilakukan langsung kepada penerbit).
Sedangkan yang menjadi hak dari penjual barang/jasa adalah sebagai berikut:
a) Meminta pelunasan harga barang/jasa yang dibeli oleh pembelinya dengan
memakai kartu kredit
b) Menolak untuk menjual barang/jasa jika tidak terdapat otorisasi dan penerbit
kartu kredit
4. Pihak Perantara
Perantara adalah pihak pengelola kartu kredit dalam hal penagihan antara
penjual dan penerbit dan pembayaran antara pemegang kartu dan penerbit.
Perantara penagihan antara penjual dan penerbit disebut acquirer, yaitu pihak yang
melakukan penagihan kepada penerbit berdasarkan catatan yang disampaikan
kepadanya oleh penjual. Hasil penagihan tersebut dibayarkan kepada penjual
dengan memperoleh komisi.


36
F. Klasifikasi Kartu Kredit
a) Kartu kredit berdasarkan fungsinya
ditinjau dari kriteria fungsinya, maka kartu kredit dibedakan menjadi 5
(lima) macam yaitu credit card, charge card, debit card, cash card, check
guanrantee card.
b) Kartu kredit berdasarkan wilayah berlakunya
1) Kartu kredit nasional
Ini adalah jenis kartu kredit yang hanya berlaku dan digunakan sebagai
alat pembayaran di suatu wilayah negara tertentu saja misalnya wilayah
Indonesia.
2) Kartu kredit internasional
Kartu kredit jenis ini dapat digunakan sebagai alat pembayaran
internasional atau mancanegara. Kartu kredit internasional yang paling
terkenal adalah visa card dan master card.

PEMBIAYAAN KONSUMEN
A. Pendahuluan
Pranata hukum pembiayaan konsumen dipakai sebagai terjemahan dari
istilah consumer finance. Pembiayaan konsumen ini tidak lain dari sejenis kredit
konsumsi (consumer credit). Hanya saja, pembiayaan konsumen dilakukan oleh
perusahaan pembiayaan, sementara kredit konsumsi diberikan oleh bank.
Menurut ketentuan pasal 1 angka (6) Keppres Nomor 61 tahun 1988 tentang
lembaga pembiayaan:
Pembiayaan konsumen adalah pembiayaan pengadaan barang untuk
kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala.
Keputusan menteri keuangan RI No.448/KMK.017/2000 tentang
perusahaan pembiayaan memberikan pengertian kepada pembiayaan konsumen
sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dalam bentuk penyediaan dana bagi
konsumen untuk pembelian barang yang pembayarannya dilakukan secara
angsuran atau berkala oleh konsumen.

37
B. Sejarah Pembiayaan Konsumen
Lahirnya pemberian kredit dengan sistem pembiayaan. Konsumen ini
sebenarnya sebagai jawaban atas kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
1) Bank-bank kurang tertarik/tidak cukup banyak dalam menyediakan kredit
kepada konsumen, yang umumnya merupakan kredit-kredit berukuran kecil
2) Sumber dana yang formal lainnya berupa keterbatasan atau sistemnya yang
kurang fleksibel atau tidak sesuai kebutuhan misalnya apa yang dilakukan oleh
perum pegadaian, yang disamping daya jangkauannya terbatas tetapi juga
mengharuskan penyerahan sesuai sebagai jaminan ini sangat memberatkan bagi
masyarakat.
3) Sistem pembayaran informal yang dilakukan oleh para lintah darat atau
tengkulak dirasakan sangat mencekam masyarakat dan sangat usury oriented.
Sehingga dianggap sebagai riba dan banyak negara maupun agama
melarangnya.
4) Sistem pembiayaan formal lewat koperasi, seperti koperasi unit desa ternyata
tidak berkembang seperti yang diharapkan mengingat faktor-faktor tersebut
diatas, mulailah dikembangkan sistem yang disebut pembiayaan konsumen dan
pada akhirnya pembiayaan konsumen dikenal sebagai salah satu jenis sistem di
luar perbankan dan mendapatkan pengaturannya oleh masing-masing negara,
seperti juga di Indonesia.

C. Para Pihak dalam Pembiayaan Konsumen
1) Perusahaan Pembiayaan Konsumen
Perusahaan pembiayaan konsumen adalah badan usaha berbentuk perseroan
terbatas atau koperasi yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk
pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem
pembayaran angsuran berkala oleh konsumen. Perusahaan tersebut
menyediakan jasa kepada konsumen dalam bentuk pembayaran harga
barang secara tunai kepada pemasok (supplier). Antara perusahaan dan
konsumen harus ada lebih dulu kontrak pembiayaan konsumen yang
sifatnya pemberian kredit.
38
2) Konsumen
Konsumen adalah pihak pembeli barang dari pemasok atas pembayaran oleh
pihak ketiga yaitu perusahaan pembiayaan konsumen. Konsumen tersebut
dapat berstatus perseorangan (individual) dapat pula perusahaan bukan
badan hukum. Dalam hal ini ada 2 (dua) hubungan kontraktual yaitu:
a. Perjanjian pembiayaan yang bersifat pemberian kredit antara perusahaan
dan konsumen
b. Perjanjian jual beli antara pemasok dan konsumen yang bersifat tunai
3) Pemasok adalah pihak penjual barang kepada konsumen atas pembayaran
oleh pihak ketiga, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen. Hubungan
kontraktual antara pemasok dan konsumen adalah jual beli bersyarat. Syarat
yang dimaksud adalah pembayaran dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu
perusahaan pembiayaan konsumen. Antara pemasok dan konsumen terdapat
hubungan kontraktual, dimana pemasok wajib menyerahkan barang kepada
konsumen dan konsumen wajib membayar harga barang secara angsuran
kepada perusahaan yang telah melunasi harga barang secara tunai.

D. Segi Hukum Pembiayaan Konsumen
1) Segi hukum perdata ada 2 (dua) sumber hukum perdata yang mendasari
pembiayaan konsumen yaitu asas kebebasan berkontrak dan perundang-
undangan bidang hukum perdata.
2) Perjanjian pinjam pakai habis
Diatur dalam pasal 1754-1773 KUH Perdata. Menurut ketentuan pasal 1754
KUHPdt.
Pinjam pakai habis adalah perjanjian, dengan mana pemberi pinjaman
menyerahkan sejumlah barang pakai habis kepada peminjam dengan syarat
bahwa peminjam akan mengembalikan barang tersebut kepada pemberi
pinjaman dalam jumlah dan keadaan yang sama.
Maka menurut pasal 1765 KUH Perdata pihak-pihak (perusahaan
pembiayaan konsumen dan konsumen) boleh memperjanjikan pengembalian
uang pokok ditambah bunga.
39
3) Perjanjian jual beli bersyarat
Diatur dalam pasal 1457-1518 KUH Perdata tetapi pelaksanaan pembayaran
digantungkan pada syarat yang disepakati dalam perjanjian pokok yaitu
perjanjian pembiayaan konsumen.
Dalam pasal 1513 KUH Perdata ditentukan.
Pembeli wajib membayar harga pembelian pada waktu dan ditempat yang
ditetapkan menurut perjanjian.
Syarat waktu dan tempat pembayaran ditetapkan dalam perjanjian pokok,
yaitu pembayaran secara tunai oleh perusahaan pembiayaan konsumen
ketika penjual menyerahkan nota pembelian yang ditandatangani oleh
pembeli.
4) Segi perdata di luar KUH Perdata
Selain dari ketentuan dalam buku III KUH Perdata yang relevan dengan
pembiayaan konsumen terdapat juga ketentuan yang mengatur aspek perdata
pembiayaan konsumen.
i) UU No.9 tahun 1969 tentang BUMN apabila perusahaan pembiayaan
tersebut berbentuk perseroan.
ii) UU No. tahun 1995 tentang PT apabila perusahaan pembiayaan tersebut
berbentuk PT.
iii) UU No.5 tahun 1960 tentang ketentuan pokok agraria apabila perusahaan
pembiayaan mengadakan perjanjian mengenai hak-hak atas tanah.
iv) UU No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen apabila perusahaan
pembiayaan konsumen melanggar kewajiban dan larangan undang-
undang yang secara perdata merugikan konsumen.




40
HUKUM ASURANSI

Di dalam kehidupan dan kegiatan manusia pada hakikatnya mengandung
berbagai hal yang menunjukkan sifat hakiki dari kehidupan itu sendiri. Sifat
hakiki yang dimaksud disini adalah suatu sifat tidak kekal yang selalu menyertai
kehidupan dan kegiatan manusia pada umumnya. Keadaan yang tidak kekal yang
merupakan sifat alamiah tersebut mengakibatkan adanya suatu keadaan yang tidak
dapat diramalkan lebih dahulu secara tepat.
Upaya untuk mengatasi sifat alamiah yang berwujud sebagai suatu keadaan
yang tidak pasti tadi antara lain dilakukan oleh manusia dengan cara menghindari
atau melimpahkannya kepada pihak-pihak lain di luar dirinya sendiri. Usaha dan
upaya manusia untuk menghindari dan melimpahkan risikonya kepada pihak lain
beserta proses pelimpahan sebagai suatu kegiatan itulah yang merupakan embrio
atau cikal bakal perasuransian yang dikelola sebagai suatu kegiatan ekonomi yang
rumit sampai saat ini.
Upaya untuk menanggulangi, mengelakkan, mengurangi atau memperkecil
resiko tersebut adalah dengan jalan mengalihkan pada pihak lain berdasarkan
perjanjian-perjanjian yang dimaksud disini ialah perjanjian asuransi atau
perjanjian pertanggungan. Dalam praktek hal ini secara tegas diakui bahwa
sesungguhnya hubungan antara asuransi dan risiko itu erat satu sama lain seperti
pernyataan sebagai berikut Asuransi atau pertanggungan (verzekering)
didalamnya tersirat pengertian adanya suatu risiko yang terjadi sebelum dapat
dipastikan dan adanya pelimpahan tanggung jawab memikul beban risiko dari
pihak yang mempunyai risiko tersebut kepada pihak lain yang sanggup
mengambilalih tanggung jawab sebagai kontra prestasi dari pihak lain yang
melimpahkan tanggung jawab ini yang diwajibkan membayar sejumlah uang
kepada pihak yang menerima tanggung jawab.
27

Pada hakikatnya, lembaga asuransi atau pertanggungan selain sebagai
lembaga peralihan resiko. Ia juga sebagai lembaga penyerap dana dari masyarakat

27
Dewan Asuransi Indonesia, Perjanjian Asuransi dalam Praktek dan Penyelesaian
Sengketa Hasil Simposium tentang Hukum Asuransi. Padang, BPHN, 1978, hal.107
41
melalui pembayaran premi yang diberikan oleh masyarakat tertanggung kepada
para penanggung (penanggung adalah perusahaan asuransi). Kitab Undang-
undang Hukum Dagang pada pasal 246 memberikan batasan tentang asuransi atau
pertanggungan sebagai berikut:
Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang
penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan
menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena
suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan,
yang mungkin akan diderita karenanya suatu peristiwa yang tidak tertentu
(evenemen).
28


Rumusan pasal KUHD ini lebih menekankan pada asuransi kerugian, tidak
termasuk asuransi jiwa dan asuransi sosial. Dalam pasal 1 angka (1) undang-
undang Nomor 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian, asuransi atau
pertanggungan didefinisikan sebagai berikut:
Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau
lebih dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung
dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada
tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin
akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti
atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal
atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Rumusan pasal 1 angka (1) undang-undang Nomor 2 tahun 1992 ini ternyata
lebih luas lingkupnya, yaitu meliputi:
a) Asuransi kerugian (loss insurance) yaitu perlindungan terhadap harta kekayaan
seseorang atau badan hukum, yang meliputi benda, asuransi, risiko yang
ditanggung premi asuransi ganti kerugian.
b) Asuransi jiwa (life insurance) yaitu perlindungan terhadap keselamatan
seseorang yang meliputi jiwa seseorang resiko yang ditanggung, premi asuransi
dan santunan sejumlah uang dalam hal terjadi evenemen, atau pengembalian
(refund) bila asuransi jiwa berakhir tanpa terjadi evenemen.

28
Subekti, Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan Undang-undang Kepailitan.
Pradnya Paramita Jakarta, 1982, hal.74.
42
c) Asuransi sosial (social security insurance) yaitu perlindungan terhadap
keselamatan seseorang yang meliputi jiwa dan raga seseorang, resiko yang
ditanggung, iuran asuransi dan santunan sejumlah uang dalam hal terjadi
evenemen.

1. Resiko dan Asuransi
Resiko dalam pengertian asuransi dikaitkan dengan ketidakpastian
timbulnya kerugian akibat terjadinya bahaya atau peristiwa yang mengancam
obyek asuransi. Tidak seorangpun yang mengetahui bahkan tidak diharapkan
bahaya atau peristiwa yang mengancam itu akan terjadi dan jika terjadi akan
menimbulkan kerugian. Apabila bahaya atau peristiwa yang mengancam itu dapat
diprediksi akan terjadi atau sudah diketahui akan terjadi, sehingga sifat
ketidakpastian itu tidak ada, maka hal ini tidak termasuk risiko dalam pengertian
asuransi. Jika risiko ini diasuransikan, maka asuransi tersebut akan batal dengan
sendirinya.
Pada umumnya tindakan-tindakan yang lazim dilakukan oleh manusia untuk
mengatasi segala kemungkinan yang timbul antara lain dengan cara:
a. Menghindarkan (avoidance) maksudnya, berbuat sesuatu atau tidak berbuat
sesuatu agar tidak mendapat kerugian
b. Mencegah (prevention) maksudnya mengadakan tindakan tertentu dengan
tujuan paling tidak mengurangi kerugian
c. Mengalihkan (transfer) maksudnya, kemungkinan buruk yang dapat menimpa
dirinya dialihkan pihak lain
d. Menerima (assumption or retention)
Mengapa orang selalu menghindari atau mengalihkan risiko yang ada pada
dirinya? Tentu berdasarkan atas alasan-alasan tertentu yang secara umum
disebutkan oleh Robert Riegel et.al, karena risiko itu:
1. Akan merupakan suatu kerugian yang tidak dapat diduga lebih dahulu
2. Merupakan ketidakpastian yang dihadapi seseorang mengenai masa datang
29


29
Robert Riegel, et.al., Insurance Principles Practices Property and Liability Englewood
Cliffs, New Jersey Prentice Hall, Inc. 1976, hal.2
43
Oleh karena itu pengertian risiko diberi batasan sebagai: kemungkinan
terjadinya suatu kerugian atau batalnya seluruh atau sebagian dari suatu
keuntungan yang semula diharapkan karena suatu kejadian diluar kuasa manusia,
kesalahan sendiri atau perbuatan manusia lain.
Dari batasan tersebut mengandung dua unsur yaitu:
1. Ketidakpastian
2. Bersifat negatif
Risiko itu sendiri dapat dibedakan karena sifatnya yaitu:
1. Langsung
2. Tidak langsung
3. Tanggung jawab
4. Risiko yang timbul karena tindakan orang lain
Jadi setiap resiko pada hakikatnya adalah suatu yang sama sekali tidak
dikehendaki oleh siapapun, oleh karena itu manusia mencari jalan keluar
bagaimana apabila terjadi suatu resiko ada pihak lain yang dapat membantu dan
menanganinya. Dari sisi manajemen resiko, asuransi dianggap sebagai salah satu
cara yang terbaik untuk menangani suatu resiko.
30


2. Perjanjian Asuransi sebagai Perjanjian yang bertujuan memberikan
proteksi
Secara umum dapat dikatakan bahwa perjanjian asuransi mempunyai tujuan
utama untuk memberi ganti rugi, sehingga perjanjian asuransi dapat diartikan
sebagai perjanjian ganti rugi atau perjanjian identitas. Batasan perjanjian asuransi
yang terdapat dalam pasal 246 KUH Dagang dapat memberikan indikator bahwa
perjanjian asuransi itu pada dasarnya adalah perjanjian yang mempunyai tujuan
memberi ganti kerugian ialah sesuai dengan asas identitas.
Dari pasal 246 KUH dagang dapat diuraikan unsur-unsurnya yaitu:
1. Pihak pertama ialah penanggung yang pada umumnya adalah perusahaan
asuransi

30
Cathur Williams Yr dan Richard M. Heins, Risk Management and Insurance Mc. Graw
Hill Book Company Singapore 1985 hal.5 Risk is a key tool of risk management.
44
2. Pihak kedua adalah tertanggung yang dapat menduduki posisi tersebut dalam
perorangan, kelompok orang atau lembaga, Badan Hukum termasuk
perusahaan atau siapapun yang dapat menderita kerugian. Jadi dalam hal ini,
siapapun yang mempunyai peluang atau kemungkinan menderita kerugian
dapat mengalihkannya kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung.\
Asuransi juga merupakan suatu mekanisme kerja diantara para pihak yang
mengadakan perjanjian, karena perusakan asuransi sebagai penanggung berjanji
dan menawarkan suatu pembayaran kepada pihak tertanggung/pemegang polis,
suatu jumlah tertentu. Pembayaran tersebut baru dilakukan apabila
tertanggung/pemegang polis menderita kerugian karena suatu peristiwa yang
belum pasti sebagai imbalannya karena perusahaan asuransi sebagai penanggung
harus menerima beban untuk membayar kerugian, maka penanggung mengajukan
suatu harga yang disebut sebagai premi.
Perbedaan pokok antara perjanjian asuransi dengan perjanjian yang lain,
ialah pada pemenuhan prestasi. Prestasi para pihak pada perjanjian lain pada
umumnya, dapat saling dipenuhi secara seketika dan serentak baik kreditur
maupun debitur secara bersama-sama dalam waktu yang bersamaan dapat saling
memenuhi prestasi masing-masing. Dengan demikian segera dapatdiketahui siapa
yang sudah melakukan prestasinya dan siapa yang belum, sehingga dapat pula
diketahui posisi para pihak. Misalnya pada perjanjian jual beli, sewa menyewa,
pengangkutan dan sebagainya. Lain halnya dengan perjanjian asuransi, mengingat
sifatnya yang mempunyai tujuan/sasaran utama sebagai suatu perjanjian yang
memberikan proteksi dan ganti kerugian, maka mekanisme perjanjian tidak
sesederhana perjanjian-perjanjian lain.
Syarat-syarat agar penanggung bersedia memenuhi tanggung jawabnya
dengan melaksanakan prestasinya adalah sebagai berikut:
1. Adanya peristiwa yang tidak tertentu
2. Hubungan sebab akibat
3. Apakah ada yang memberatkan risiko
4. Apakah ada cacat atau kebusukan atau sifat kodrat dari barang
5. Kesalahan tertanggung
45
6. Nilai yang diasuransikan

3. Polis sebagai Dokumen Perjanjian Asuransi
Pada dasarnya setiap perjanjian pasti membutuhkan adanya suatu dokumen.
Setiap dokumen secara umum mempunyai arti yang sangat penting karena
berfungsi sebagai alat bukti. Arti pentingnya dokumen sebagai alat bukti tidak
hanya bagi para pihak saya, tetapi juga bagi pihak ketiga yang mempunyai
hubungan langsung atau tidak langsung dengan perjanjian yang bersangkutan.
Dalam pasal 255 KUH Dagang disebutkan: suatu tanggungan harus dibuat secara
tertulis dalam suatu akta yang dinamakan polis.
Dalam pasal 256 KUH Dagang menentukan bahwa, setiap polis kecuali
yang mengenai suatu pertanggungan jiwa, harus menyatakan:
1. Hari ditutupnya pertanggungan
2. Nama orang yang menutup pertanggungan atas tanggungan sendiri atau atas
tanggungan orang ketiga
3. Suatu uraian yang cukup jelas mengenai barang yang dipertanggungkan
4. Jumlah uang untuk berapa diadakan pertanggungan
5. Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh si penanggung
6. Pada saat mana bahaya mulai berlaku untuk tanggungan si penanggung dan
saat berakhirnya itu
7. Premi pertanggungan tersebut dan
8. Pada umumnya, semua keadaan yang kiranya penting bagi si penanggung
untuk diketahuinya dan segala syarat yang diperjanjikan antara para pihak.
Polis tersebut harus ditandatangani oleh tiap-tiap penanggung.

4. Perjanjian Reasuransi
Peran utama reasuransi ialah untuk memberikan perlindungan bagi
penanggung atau perusahaan asuransi, berkenaan dengan tanggung jawabnya
kepada tertanggung nasabahnya perlindungan tersebut merupakan suatu tindak
lanjut peralihan risiko yang pertama dari tertanggung kepada penanggung atau
46
perusahaan asuransi dan selanjutnya adalah peralihan yang kedua yaitu dari
penanggung ke perusahaan reasuransi.
Karena pada hakikatnya, tujuan reasuransi atau pertanggungan ulang itu
sama dengan tujuan asuransi atau pertanggungan yaitu untuk mengalihkan resiko-
resiko sendiri kepada pihak lain dari resiko tertanggung menjadi risiko
penanggung. Pihak penanggung dengan menerima resiko dari tertanggung
bebannya menjadi lebih berat, untuk itu kemudian mengalihkannya kembali
kepada penanggung ulang sebagai pertanggungan ulang atau reasuransi. Oleh
karena itu dapat dikatakan bahwa sesungguhnya, reasuransi itu merupakan suatu
kebutuhan mutlak bagi setiap perusahaan asuransi (ceding company) apabila
menginginkan perusahaannya dapat selalu berjalan secara aman karena alasan-
alasan sebagai berikut:
a) Perusahaan asuransi itu sesungguhnya adalah menjual kepastian dalam bentuk
proteksi (perlindungan kepada tertanggung) nasabahnya
b) Setiap perusahaan asuransi itu selalu berada dalam berbagai keterbatasan
sendiri, antara lain keterbatasan (limit) dalam modal kemampuan, pasar dan
sebagainya
c) Perusahaan asuransi harus tetap dalam keadaan siap, agar selalu dalam keadaan
praktek kerja yang pasti serta kemampuan membayar yang wajar, karena pada
dasarnya perusahaan asuransi itu menjual janji dari ketidakpastian menjadi
kepastian.
Dilema yang dihadapi perusahaan asuransi adalah antara kemampuan
menerima penawaran dari tertanggung dan kemampuan untuk membayar klaim
yang timbul salah satu pilihan yang dapat dilaksanakan ialah tetap menerima
penawaran dari nasabah, tetapi mengalihkannya kembali kepada pihak lain.
Kegiatan ini tidak lain dengan cara reasuransi.
Reasuransi merupakan pilihan yang tepat, karena beberapa alasan seperti
dibawah ini:
31

a. Reasuransi memungkinkan penanggung pertama menerima pelimpahan resiko
yang besar dengan aman tanpa ancaman dan ketidakseimbangan solvensi

31
John Buther dan Robert M. Merkinllan. Reinsurance. Kluwer Publishing, 1987 hal.1
47
artinya meskipun penanggung pertama mengadakan perjanjian asuransi dengan
nilai yang relatif besar karena yang ditahan hanya sebagian, maka hal ini tidak
akan membahayakan kemampuan membayar (tertanggung pada permintaan
masyarakat)
b. Reasuransi memungkinkan penanggung pertama untuk tetap menjaga suatu
stabilitas usaha tanpa rasa khawatir terhadap adanya tuntutan klaim yang
bersamaan, klaim besar yang tidak diantisipasikan yang dapat membahayakan
perusahaan
c. Reasuransi modern yang gerak operasionalnya melampaui wilayah negara
dapat membagi dampak ekonomi yang disebabkan oleh terjadinya peristiwa
besar. Pada beberapa negara (misalnya karena bencana gempa bumi) atau
bencana alam yang lain.

5. Konstruksi Perjanjian Reasuransi
Asas-asas utama yang harus dikandung oleh setiap perjanjian reasuransi
adalah sebagai berikut:
1) Asas ganti kerugian
a. Semua perjanjian reasuransi merupakan perjanjian ganti kerugian.
Penanggung ulang mengadakan perjanjian untuk memberi ganti kerugian
kepada penanggung pertama secara langsung berdasarkan syarat-syarat yang
disepakati
b. Sesuai dengan asas ganti kerugian, penanggung pertama harus membuktikan
bahwa kerugian yang dideritanya adalah suatu kerugian yang termasuk
dalam ketentuan perjanjian reasuransi
c. Kemungkinan lain mengenai pelaksanaan ganti kerugian yang dapat timbul,
yaitu dengan menggunakan klausula khusus.
2) Asas kepentingan yang diasuransikan
a) Setiap perjanjian reasuransi harus didukung oleh kepentingan yang dapat
diasuransikan yang dengan jelas dapat dilihat dari polis yang bersangkutan,
yang dikeluarkan oleh penanggung pertama kepada pihak tertanggung.
48
Berdasarkan polis mana penanggung pertama dapat mereasuransikan resiko
yang ada padanya
b) Batas kepentingan yang dapat direasuransikan adalah terbatas sampai pada
tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh penanggung pertama sesuai
dengan polis, yaitu sampai jumlah yang diasuransikan atau sampai batas
ganti rugi dari resiko yang bersangkutan.
3) Asas itikad baik yang sempurna
a) Asas itikad baik yang setinggi-tingginya merupakan asas utama yang sama
pentingnya baik dalam perjanjian asuransi maupun perjanjian reasuransi.
Dalam perjanjian reasuransi penerapan asas ini harus dilaksanakan dengan
ketat, mengingat para pihak adalah ahli dalam bidangnya masing-masing.
Pelaksanaan asas ini sangat nyata pada reasuransi fakultatif karena masing-
masing resiko diserahkan sendiri-sendiri kepada penanggung ulang dengan
slip yang memberikan keterangan atas resiko yang bersangkutan dan retensi
dari penanggung pertama.
b) Guna menegakkan asas itikad baik yang setinggi-tingginya (terutama untuk
metode reasuransi, perjanjian/treaty) dimana penanggung ulang tidak
mempunyai peluang untuk mengetahui dengan baik atas semua risiko yang
ditanggungnya. Penanggung pertama dapat mengadakan konsultasi dengan
penanggung ulang terutama apabila terdapat tuntutan klaim yang luar biasa.
c) Apabila terdapat pelanggaran atas asas itikad baik yang setinggi-tingginya
oleh penanggung pertama, khusus untuk suatu risiko yang khusus,
penanggung ulang mempunyai hak untuk menolak melaksanakan
kewajibannya.
4) Subrogasi pada reasuransi
Pada perjanjian reasuransi berlaku juga asas subrogasi. Apabila terdapat
subrogasi pada perjanjian asuransi yang bersangkutan maka penanggung ulang
akan memperhitungkannya sedemikian rupa. Hal ini berarti, bahwa ganti rugi
yang seharusnya diterima oleh penanggung pertama, dikurangi dengan
subrogasi yang berasal dari perjanjian asuransi semula. Dengan demikian
49
penanggung pertama tidak akan menerima ganti kerugian, lebih besar dari nilai
finansial sesuai dengan tanggung jawabnya.
5) Permasalahan dalam hukum asuransi
Hal lain yang termasuk dalam ruang lingkup hukum asuransi biasanya
termasuk beberapa atau semua dari hal-hal berikut ini:
32

a) Pengecualian karena kebijaksanaan umum, peristiwa dimana kontrak
asuransi tidak dapat ditandatangani karena semalam pelanggaran hukum
atau ketidaktepatan. Misalnya di beberapa negara tidak dimungkinkan
memperoleh asuransi terhadap kerugian atas alat-alat judi atau terhadap
kerugian atas inventaris suatu badan usaha yang beroperasi tanpa ijin yang
sah.
b) Pengecualian karena tindakan kesengajaan, doktrin bahwa peliputan
asuransi tidak diberikan terhadap kerugian yang secara sengaja disebabkan
oleh orang yang terasuransi. Contoh menyangkut kebakaran, bila orang
yang diasuransikan menyulut kebakaran atas bangunannya, dia tidak dapat
menuntut ganti rugi berdasar polis asuransinya.
c) Asuransi ganti rugi, dalam hal ini asuransi melindungi terasuransi terhadap
kewajiban hukum terhadap pihak ketiga, misalnya suatu badan usaha dapat
memperoleh asuransi ganti rugi untuk menjaga kemungkinan kerugian besar
dari gugatan hukum yang diajukan oleh seorang konsumen atas luka
badan/kerugian dari tempat atau produk badan usaha tersebut.
d) Prosedur mengajukan tuntutan pembayaran, kontrak asuransi biasanya
menegaskan secara rinci kewajiban dari yang terasuransi untuk
memberitahukan kerugian kepada perusahaan asuransi itu dengan segera,
membuktikan secara rinci jenis dan bear kerugian, menyerahkan
tuntutannya dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Setelah kerugian
terjadi dan memberikan kerjasama kepada perusahaan asuransi dalam
penyelidikan dan pembelaan terhadap tindakan yang dilakukan oleh pihak
ketiga.

32
John W. Head. Pengantar Umum Hukum Ekonomi Proyek. Elips dan Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, 1997, hal.52
50
e) Pembelaan pihak asuransi, keadaan dimana perusahaan dapat secara hukum
menolak membayar ganti rugi yang dituntut oleh pihak yang diasuransikan.
Penolakan demikian ini dimungkinkan, misalnya bila pihak yang
diasuransikan menutup-nutupi atau memberi beberapa materi fakta yang
menyesatkan yang berhubungan dengan hak milik yang diasuransikan.


HUKUM PERJANJIAN (KONTRAK)

Kontrak atau perjanjian merupakan salah satu dari dua dasar hukum yang
ada selain dari undang-undang yang dapat menimbulkan perikatan. Perikatan
adalah suatu hubungan hukum yang mengingat satu atau lebih subyek hukum
dengan kewajiban-kewajiban yang berkaitan satu sama lain. Perikatan yang lahir
karena undang-undang mencakup misalnya kewajiban seorang ayah untuk
menafkahi anak yang dilahirkan istrinya.
Syarat syahnya suatu perjanjian secara umum diatur dalam pasal 1320 KUH
Perdata terdapat 4 (empat) syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya perjanjian.
Syarat-syarat tersebut adalah:
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian
c. Suatu hal tertentu
d. Suatu sebab yang halal
Syarat pertama dan kedua di atas dinamakan syarat-syarat subyektif, apabila
satu dari kedua syarat tersebut tidak dapat dipenuhi, maka perjanjian dapat
dibatalkan, sedangkan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat-syarat
obyektif yaitu jika salah satu dari kedua syarat tidak dipenuhi maka perjanjian
menjadi batal demi hukum.
Jika syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUH
Perdata telah dipenuhi, maka berdasarkan pasal 1338 KUH Perdata, perjanjian
yang telah mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan kekuatan suatu
undang-undang. Ketentuan pasal 1338 ayat (1) KUH perdata menegaskan bahwa:
51
Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya.
Berdasarkan ketentuan di atas maka ketentuan-ketentuan dalam buku III
KUH Perdata menganut sistem terbuka, artinya memberikan kebebasan kepada
para pihak (dalam menentukan isi, bentuk serta macam perjanjian) untuk
mengadakan perjanjian akan tetapi isinya selalu tidak bertentangan dengan
perundang-undangan, kesusilaan dan ketertiban umum, juga harus memenuhi
syarat sahnya perjanjian.
Ketentuan yang terdapat didalam hukum perjanjian merupakan kaidah
hukum mengatur artinya kaidah-kaidah hukum yang dalam kenyataannya dapat
dikesampingkan oleh para pihak dengan membuat ketentuan-ketentuan atau
aturan-aturan khusus di dalam perjanjian yang mereka adakan sendiri.
Michael Trebilcock, dalam bukunya The Limits of Freedom of Contract dan
The Value and Limits of Law and Economics in Richardson and Hadfield (ed),
the Second Wave of Law and Economics, mengidentifikasi empat fungsi hukum
kontrak dalam meningkatkan efisiensi ekonomi.
33

a. Kemanfaatan substansi dan bukan pertukaran bersama hukum kontrak berisi
kemanfaatan yang akan diperoleh dari masing-masing pihak. Pihak-pihak
melakukan prestasi yang disepakati bersama.
Prestasi suatu pihak dikehendaki oleh pihak lainnya, sebagai suatu
kemanfaatan substansi kontrak harus dibuat sedemikian rupa sehingga pihak-
pihak memiliki itikad untuk melaksanakannya jika satu pihak tidak
melaksanakan kewajiban, maka akan ada kompensasi bagi pihak lainnya sesuai
dengan persyaratan khusus yang tercantum dalam kontrak. Pakar hukum dan
ekonomi menekankan bahwa persyaratan ini menyediakan perlindungan bagi
keuntungan pihak yang dirugikan dengan memberikan kemanfaatan. Hal lain
yang memiliki nilai bagi penegakan kontrak berupa reputasi baik yang secara
nyata menjadikan pihak-pihak untuk tunduk dan mentaati kontrak.


33
Peter Heffey, Principles Contract Law. Thomson Legal and Regulatory Limited, Sidney,
2002 hlm.16
52
b. Mengurangi biaya-biaya transaksi
Fungsi hukum kontrak berikutnya adalah mengurangi biaya-biaya transaksi.
Hukum kontrak mengurangi biaya-biaya transaksi dengan mempersiapkan
sejumlah persyaratan untuk menghindari kesalahan dalam suatu kontrak atau
default. Persyaratan tentang kelalaian adalah persyaratan yang secara umum
diberlakukan hampir dalam seluruh kontrak. Kecuali jika pihak-pihak telah
menyusun persyaratan tertentu untuk melakukan penghentian (termination)
atas suatu kontrak.
Aturan kelalaian untuk melindungi pihak-pihak itu dirumuskan dalam sebuah
rancangan untuk menghadapi kondisi yang tidak menentu dalam sebuah
kontrak. Dari sudut pendekatan ekonomi, memenuhi unsur kelalaian terhadap
persyaratan dari hukum kontrak memudahkan untuk melakukan penegakan atas
perilaku demikian. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara, pihak-pihak
melakukan permufakatan atau jika tidak memungkinkan, persyaratan lalai
harus ditegakkan agar dapat bertindak secara efisien.
c. Kesenjangan dalam kontrak yang tidak sempurna
Fungsi ketiga dari hukum kontrak berhubungan erat dengan klausula-klausula
dalam mengisi berbagai kesenjangan di dalam kontrak yang belum sempurna.
Suatu kontrak dapat dibuktikan tidak sempurna dimana pihak-pihak gagal
untuk memprediksi hal-hal yang mempengaruhi tercapainya kontrak mereka.
Doktrin ini membebaskan pihak-pihak dari kewajibannya. Jika tujuan yang
hendak dicapai merupakan hal yang mustahil dapat dilakukan atau berbeda dari
apa yang mereka harapkan.
d. Alternatif bagi pembebasan kewajiban dalam situasi tertentu
Fungsi keempat adalah didalam menyediakan alternatif untuk suatu
pembebasan terhadap pelaksanaan kewajiban terutama bila dikaitkan dengan
kegagalan pasar. Hukum kontrak dirasakan begitu menakut-nakuti pertukaran
yang tidak efisien dikarenakan kegagalan pasar seperti banyak terjadi pihak-
pihak yang terlibat dalam suatu kontrak dalam melakukan pemenuhan
kewajiban tidak berdasarkan kehendak melainkan terdapat suatu tekanan
tertentu.
53
Asas-asas Hukum dalam Perjanjian (Kontrak)
Pada umumnya asas hukum tidak dituangkan dalam bentuk peraturan yang
konkrit atau pasal-pasal, akan tetapi tidak jarang pula asas hukum dituangkan
dalam peraturan konkrit. Untuk menemukan asas hukum dicarilah sifat-sifat
umum dalam kaidah atau peraturan yang konkrit. Ini berarti menunjuk kepada
kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam ketentuan-ketentuan yang konkrit itu.
Hukum perjanjian tidak terlepas dari paham individualisme seperti yang
dijumpai dalam BW (lama) tahun 1838 BW (baru) tahun 1992, maupun didalam
kitab undang-undang Hukum Perdata, sebagai ciri-ciri khas hukum perjanjian atau
kontrak.
34

Sejumlah prinsip atau asas hukum merupakan dasar bagi hukum kontrak.
Dari sejumlah prinsip hukum tersebut perhatian dicurahkan pada tiga prinsip
utama atau asas utama, prinsip-prinsip tersebut memberikan sebuah gambaran
mengenai latar belakang cara berpikir yang menjadi dasar hukum kontrak. Satu
dan lain karena sifat fundamental hal-hal tersebut maka prinsip-prinsip utama itu
dikatakan pula sebagai prinsip-prinsip dasar
35
sebagai prinsip-prinsip hukum
kontrak, Niewenhuis menyebutkan: asas otonomi asas kepercayaan dan asal kausa
(Drie begin seleh van het contracten vecht).
Prinsip-prinsip atau asas-asas fundamental yang menguasai hukum kontrak
adalah: prinsip atau asas konsensualitas dimana persetujuan-persetujuan dapat
terjadi karena persesuaian kehendak (konsensus) para pihak. Pada umumnya
persetujuan-persetujuan itu dapat dibuat secara bebas bentuk dan dibuat tidak
secara formal melainkan konsensual
36
(prinsip ini ditentukan dalam hukum
kanonik yaitu dekrit-dekrit Paus Gregorius IX berbunyi pacta nuda servanda
sunt (semua persetujuan betapapun ini tidak berwujud harus dipenuhi).
Prinsip atau asas kekuatan mengikat persetujuan menegaskan bahwa para
pihak harus memenuhi apa yang telah merupakan ikatan mereka satu sama lain

34
J.H.M Vanerp. Contracts als Rechts betrekking, Een Rechtvergelijkende Studie, Diss
KUB, Zwolle, 1990 hlm.2
35
Herlien Budiono, Het Evenwicht beginsel Voor Het Indonesisch Contractenrecht, Diss
Leiden, 2001, hlm.64
36
R. Freestra dan Ahsman, Contract Aspecten van Begrippen Contract en Contracturiy
heid in Historisch Perpectief, Tweededruk, Deventer 1988, hlm.40.
54
dalam persetujuan yang mereka adakan dan yang terakhir adalah prinsip
kebebasan berkontrak, dimana para pihak diperkenankan membuat suatu
persetujuan sesuai dengan pilihan bebas masing-masing dan setiap orang
mempunyai kebebasan untuk membuat kontrak dengan siapa saja yang
dikehendakinya. Selain itu para pihak dapat menentukan sendiri isi maupun
persyaratan-persyaratan suatu persetujuan dengan pembatasan bahwa persetujuan
tersebut tidak boleh bertentangan dengan sebuah ketentuan undang-undang yang
bersifat memaksa, ketertiban umum dan kesusilaan.
37

Adapun konsensualitas menyangkut terjadinya sebuah persetujuan. Prinsip
mengikat menyangkut akibat persetujuan, sedangkan prinsip kebebasan
berkontrak terutama berurusan dengan isi persetujuan. Kendatipun diantara ketiga
prinsip yang disebut di atas dapat dan harus dibedakan dengan tegas satu dengan
yang lain maka untuk memperoleh pengertian yang benar prinsip itu justru harus
dibahas secara bersama-sama satu dan lain karena ketiga-tiganya berhubungan
erat satu dengan yang lain.

HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

A. Pendahuluan
Gidelines for Consumer Protection of 1985 yang dikeluarkan oleh
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan bahwa konsumen dimanapun
mereka berada dari segala bangsa mempunyai hak-hak dasar sosialnya. Yang
dimaksud hak-hak dasar tersebut adalah hak untuk mendapatkan informasi yang
jelas, benar dan jujur, hak untuk mendapatkan ganti rugi, hak untuk mendapatkan
lingkungan yang baik dan bersih serta kewajiban untuk menjaga lingkungan dan
hak untuk mendapatkan pendidikan dasar. PBB menghimbau seluruh anggotanya
untuk memberlakukan hak-hak konsumen tersebut dinegaranya masing-masing.
Pembahasan mengenai hukum perlindungan konsumen (consumer
protection) berarti kita berbicara tentang salah satu sisi dari korelasi antara

37
J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan yang lahir dari Perjanjian II, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1995. Hlm.74
55
lapangan perekonomian dan lapangan etika. Dalam hal ini sektor yuridis akan
memainkan peranan yang penting yakni merupakan faktor penjamin agar arus
transformasi etika ke dalam batang tubuh perekonomian tetap dapat terpelihara.
Dengan lahirnya undang-undang No.8 Tahun 1999 tentang perlindungan
konsumen, maka diharapkan upaya perlindungan konsumen di Indonesia yang
selama ini dianggap kurang diperhatikan, bisa lebih diperhatikan.
Secara umum dan mendasar hubungan antara produsen dan konsumen
(perusahaan penghasil barang atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari
barang dan atau jasa untuk diri sendiri atau keluarganya) merupakan hubungan
yang terus menerus dan kesinambungan. Hubungan tersebut terjadi karena
keduanya memang saling menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan
yang cukup tinggi antara yang satu dengan yang lain.
38

Hubungan antara produsen dan konsumen yang bersifat masal tersebut
hubungan antara pihak secara individual/personal dapat menciptakan hubungan-
hubungan hukum yang spesifik. Hubungan hukum yang spesifik ini sangat
bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan antara lain:
1. Kondisi harga dari suatu jenis komoditi tertentu
2. Penawaran dan syarat perjanjian
3. Fasilitas yang ada sebelum dan purna jual
4. Kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu
Keadaan-keadaan seperti tersebut di atas dapat menimbulkan dan
mempengaruhi suatu perjanjian antara produsen dengan konsumen di dalam
prakteknya seringkali terjadi perjanjian tersebut melemahkan posisi konsumen
karena secara sepihak para produsen/distributor sudah menyiapkan suatu kondisi
dengan adanya perjanjian baku yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan
oleh produsen atau jaringan distributornya.
Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap hak-hak konsumen tidak
dapat diberikan oleh satu aspek hukum saya, melainkan oleh suatu sistem
perangkat hukum yang mampu memberikan perlindungan yang simultan dan

38
Sri Redjeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Ekonomi Mandar Maju. Bandung. 2000,
hal.80
56
komprehensif sehingga terjadi persaingan yang jujur baik secara langsung atau
tidak langsung akan menguntungkan konsumen. Apabila memperhatikan sudut
pandang konsumen ada beberapa hal yang diinginkan ole konsumen pada saat
hendak membeli suatu produk diantaranya.
1) Diperolehnya informasi yang jelas mengenai produk yang akan dibeli
2) Keyakinan bahwa produk yang dibeli tidak berbahaya baik bagi kesehatan
maupun keamanan jiwanya
3) Produk yang dibeli cocok sesuai dengan keinginannya, baik dari segi kualitas,
ukuran, harga dan sebagainya
4) Konsumen mengetahui cara penggunaannya
5) Jaminan bahwa produk yang dibelinya dapat berguna dan berfungsi dengan
baik
6) Jaminan bahwa apabila barang yang dibeli tidak sesuai atau tidak dapat
digunakan maka konsumen memperoleh penggantian baik berupa produk
maupun uang
Kenyataan yang terjadi adalah seringkali konsumen tidak memperoleh apa
yang diharapkan secara maksimal akibatnya konsumen dirugikan. Untuk itu telah
banyak ketentuan yang dibuat baik yang sifatnya nasional maupun internasional
yang dapat dipakai sebagai pedoman guna memberikan perlindungan bagi
kepentingan konsumen.
Dalam UU No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dalam pasal 4
telah mengatur hak-hak konsumen yang meliputi:
1) Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa
2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan
3) Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa
4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan
57
5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut
6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif
8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya
9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya
Ketentuan ini dipahami sebagai penegasan bahwa undang-undang
perlindungan konsumen (UUPK) merupakan ketentuan khusus (lex specialis)
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum
undang-undang perlindungan konsumen (UUPK). Sesuai asas Lexspecialis
derogate legi generali artinya ketentuan-ketentuan diluar undang-undang
perlindungan konsumen (UUPK) tetap berlaku sepanjang tidak diatur secara
khusus dalam undang-undang perlindungan konsumen (UUPK) dan/atau tidak
bertentangan dengan undang-undang perlindungan konsumen (UUPK).
Undang-undang perlindungan konsumen (UUPK) mengelompokkan norma-
norma perlindungan konsumen ke dalam 2 (dua) kelompok yaitu:
1) Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha (bab IV undang-undang
perlindungan konsumen (UUPK)
2) Ketentuan pencatuman klausula baku (bab V UUPK)
Secara umum pengelompokan ini belum menggambarkan mata rantai
hubungan antara pelaku usaha dengan konsumen, dari mulai kegiatan proses
produksi barang dan jasa sampai ke tangan konsumen, baik melalui transaksi atau
peralihan lainnya yang dibenarkan hukum. Namun bila pasal undang-undang
perlindungan konsumen (UUPK) itu ditelusuri deskripsi mata rantai itu sudah
ditampilkan. Norma-norma itu disebut sebagai kegiatan-kegiatan pelaku usaha
dan secara keseluruhan sebaiknya dikelompokkan sebagai berikut:
1) Kegiatan produksi dan/atau perdagangan barang dan/atau jasa (pasal 8 ayat (1),
ayat (2) dan ayat (3) undang-undang perlindungan konsumen (UUPK)
58
2) Kegiatan penawaran, promosi dan periklanan barang dan/atau jasa (pasal 9 ayat
(1) ayat (2) dan ayat (3), pasal 10, pasal 12, pasal 13 ayat (1) dan ayat (2), pasal
15, pasal 16 serta pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) undang-undang perlindungan
konsumen (UUPK)
3) Kegiatan transaksi penjualan barang dan/atau jasa (pasal 11, pasal 14 serta
pasal 18 ayat (1), ayat (2) dan ayat (4) undang-undang perlindungan konsumen
(UUPK)
4) Kegiatan pascatransaksi penjualan barang dan/atau jasa (pasal 25 ayat (1) dan
ayat (2) undang-undang perlindungan konsumen (UUPK)
Diperoleh pemahaman yang utuh tentang norma-norma perlindungan
konsumen melalui pengelompokan ini. Disamping itu, juga memudahkan
inventarisasi kemungkinan pertentangan diametral dengan undang-undang lainnya
yang lebih dulu lahir atau bersamaan dengan undang-undang perlindungan
konsumen.
Perumusan norma-norma yang bersifat formal pun (hukum acara)
menimbulkan birokrasi baru bagi konsumen yang gagal menuntut keadilan lewat
badan penyelesaian sengketa konsumen (BPSK). Akibat pelaku usaha tidak secara
sukarela melaksanakan putusan BPSK, padahal tenggang waktu untuk
mengajukan keberatan atas putusan BPSK kepada pengadilan negeri telah
dilampaui atau pelaku usaha tidak mengajukan keberatan (pasal 56 UUPK).
Dalam keadaan ini BPSK menyerahkan putusan tersebut kepada (pejabat penyidik
polri dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah
menurut pasal 56 ayat (5) UUPK ini, putusan itu merupakan bukti permulaan
yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan.

B. Instrumen Hukum Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen
Tugas dan wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)
(pasal 52 Undang-undang Perlindungan konsumen jo.SK Menperindag Nomor
350/MPP/Kep/12/2001tanggal 10 Desember 2001 tentang pelaksanaan tugas dan
wewenang Badan Penyelesaian sengketa konsumen yaitu:
59
1. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara
konsiliasi, mediasi dan arbitrase.
2. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen
3. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku
4. Melaporkan kepada penyidik umum jika terjadi pelanggaran undang-undang
perlindungan konsumen (UUPKI)
5. Menerima pengaduan tertulis maupun tidak dari konsumen tentang terjadinya
pelanggaran terhadap perlindungan konsumen
6. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen
7. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen
8. Memanggil dan menghadirkan saksi, ahli dan/atau setiap orang yang diduga
mengetahui pelanggaran undang-undang perlindungan konsumen (UUPK)
9. Meminta bantuan kepada penyidik untuk menghadirkan saksi, saksi ahli atau
setiap orang yang pada butir 7 dan 8 tidak bersedia memenuhi panggilan
BPSK
10. Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen atau alat bukti lain
guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan
11. Memutuskan dan menetapkan ada tidaknya kerugian di pihak konsumen
12. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen
13. Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang perlindungan konsumen (UUPK)
Penyelesaian sengketa konsumen dilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu:
1. Konsiliasi = ditempuh atas inisiatif salah satu pihak atau para pihak, sedangkan
majelis BPSK bersikap pasif majelis BPSK bertugas sebagai pemerantara
antara pihak yang bersengketa
2. Mediasi = bedanya dengan konsiliasi pada mediasi majelis BPSK bersikap
aktif sebagai pemerantara dan penasehat, pada dasarnya mediasi adalah suatu
proses dimana pihak ketiga (a third party), suatu pihak luar yang netral (a
60
neutral outsider) terhadap sengketa, mengajak pihak yang bersengketa pada
suatu penyelesaian sengketa yang disepakati.
3. Arbitrase = pada pihak menyerahkan sepenuhnya kepada majelis badan
penyelesaian sengketa konsumen (BPSK) untuk memutuskan dan
menyelesaikan sengketa konsumen yang terjadi. Arbitrase merupakan suatu
metode penyelesaian sengketa dalam masalah-masalah perdata (civil matters)
yang dapat disetujui oleh kedua elah pihak yang dapat mengikat (binding) dan
dapat dilaksanakan/ditegaskan para pihak diwajibkan untuk pergi ke arbitrase
atas suatu masalah tertentu sebagai bagian dari suatu perjanjian tentang
prosedur penyelesaian sengketa (dispute resolution procedures) yang telah
disepakati para pihak terdahulu, sebelum para pihak terlibat dalam proses, hasil
keputusan arbitrase (the status of the outcome of arbitration) harus disetujui
para pihak tersebut.

Pengertian Hukum
Hukum dalam bahasa Belanda dinamakan Recht dari bahasa latin
Rectum yang memiliki arti kebaikan, kebajikan, tidak tercela, bimbingan.
Selanjutnya kata latin lainnya tentang hukum adalah ius yang berarti hukum,
berasal dari kata lubere artinya mengatur, memerintah kata ius ini bertalian
erat dengan iustitia atau keadilan.
Beberapa pakar memberikan definisi tentang Hukum sebagai berikut:
1. Marcus Tullius Cicero (Romawi) dalam Delegibus mengatakan:
Hukum adalah akal tertinggi (the highest reason) yang ditanamkan oleh alam
dalam diri manusia untuk menetapkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh
dilakukan.
2. Rudolf Von Jhering (Jerman) dalam Der Zweck im Recht 1877 1882
mengatakan:
Hukum adalah keseluruhan peraturan yang memaksa (compulsory rules) yang
berlaku dalam suatu negara).
3. Van Apeldoorn dalam Inleiding tot de studie van het nederlandse recht
memberikan pengertian bahwa memberikan definisi hukum sebenarnya hanya
61
bersifat menyamaratakan saja, tergantung dari siapa yang memberikannya.
Menurut Van A Peldoorn, hukum terdiri dari: pertama, peraturan-peraturan,
kedua, obyek dari peraturan-peraturan adalah perhubungan hidup yang
menampakkan diri di dalam perbuatan atau kelakuan manusia, dan bukan soal-
soal pribadi atau soal batin dari obyeknya. Ketiga, peraturan hidup tersebut
tidak berlaku untuk hewan atau tumbuh-tumbuhan dengan demikian hukum
mengatur perhubungan antar manusia.
4. Paul Schotten dalam Algemeen Dell menjelaskan bahwa untuk mengerti
tentang hukum tidak dapat dipisahkan dengan paham tentang kedudukan
manusia di dalam masyarakat dengan memperhitungkan keduanya secara
bersama-sama. Selanjutnya untuk memberi batasan tentang hukum harus
mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
Unsur perintah yang dimaksud dengan perintah adalah peraturan yang
berasal dari negara kepada individu dan masyarakat. Umumnya berlaku di
bidang publik dimana setiap pelanggaran memberikan kewenangan kepada
negara untuk mengambil tindakan
Unsur ijin yang dimaksud adalah ijin yang diberikan oleh negara kepada
setiap individu, agar setiap individu dapat melaksanakan tugas dengan
semestinya
Unsur suatu janji yang dimaksud dengan janji yang diucapkan oleh suatu
pihak terhadap pihak lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan
yang berlaku atau merupakan hukum atau undang-undang bagi pihak-pihak
yang berjanji. Hal ini dikenal dengan asas pacta sunt servanda artinya
setiap janji harus ditepati.
Unsur hukum yang disediakan yang dimaksud adalah peraturan undang-
undang yang telah dibuat oleh negara untuk dipergunakan kepada setiap
warganegara. Seandainya diantara perjanjian yang dibuat oleh para pihak
belum lengkap syarat-syaratnya.
5. Mochtar Kusumaatmaja dalam hukum, masyarakat dan pembinaan hukum
nasional mengatakan:
62
Pengertian hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu
sebagai suatu perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur kehidupan
manusia dalam masyarakat tapi harus pula mencakup lembaga (institutions)
dan proses (processes) yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam
kenyataan.

Bidang-bidang Hukum
Agar dapat memperoleh suatu pengertian yang lebih baik serta lebih mudah
menemukan dan menerapkan hukum maka perlu mencari sistem klasifikasi atau
bidangnya. Hukum dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan atau kategori
berdasarkan beberapa ukuran antara lain sebagai berikut:
a. Berdasarkan sumbernya hukum dapat dibagi 5: hukum undang-undang, hukum
adat/kebiasaan, hukum traktat, hukum yurisprudensi dan hukum ilmu (sesuai
dengan sumber hukum formil)
b. Berdasarkan bentuknya ada 2 yakni hukum tertulis adalah hukum yang
dicantumkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan hukum tidak
tertulis atas hukum kebiasaan ialah hukum yang masih hidup dalam keyakinan
masyarakat, tetapi tidak tertulis namun berlakunya ditaati seperti peraturan
perundang-undangan.
c. Berdasarkan waktu berlakunya dibedakan menjadi 2 yakni yus constitutum
(hukum positif) adalah hukum yang berlaku sekarang bagi masyarakat tertentu
dan suatu daerah tertentu dan yus constituendum adalah hukum yang dicita-
citakan atau hukum yang berlaku pada masa yang akan datang.
d. Berdasarkan cara mempertahankannya ada hukum materiil yaitu hukum yang
memuat peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan dan hubungan-
hubungan yang berwujud perintah-perintah dan larangan-larangan dan ada
hukum formil (hukum acara)
e. Berdasarkan tempat berlakunya maka ada hukum nasional (berlaku dalam satu
negara saja), hukum internasional dan hukum asing yakni hukum yang berlaku
dalam negara lain
f. Berdasarkan kekuasaan sanksinya ada hukum pemaksa dan hukum pelengkap
63
g. Berdasarkan penciptaan, maka ada hukum ciptaan Tuhan (seperti hukum
agama, hukum alam) dan hukum ciptaan manusia, misalnya: kitab undang-
undang hukum Pidana (KUHP), Kitab undang-undang Hukum Perdata
(KUHPdt) dll
h. Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi dalam hukum publik dan hukum
private.
Hukum publik yaitu hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan
alat-alat atau perlengkapan negara atau hubungan antara negara dengan
warga negara
Hukum private (hukum sipil/civil law)
Yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan orang
yang lain, dengan menitikberatkan pada kepentingan perorangan atau
pribadi.

Fungsi Hukum
Kehadiran hukum dalam masyarakat diantaranya adalah mengintegrasikan
dan mengkoordinasikan kepentingan organisasi dalam masyarakat. Kepentingan-
kepentingan yang bisa bertubrukan satu sama lain oleh hukum diintegrasikan.
Sedemikian rupa sehingga benturan-benturan ini dapat ditekan sekecil-kecilnya,
pengintegrasian kepentingan tersebut dilakukan dengan cara membatasi
kepentingan pihak lain (Satjipto Rahardjo, 1993:46).
Dalam masyarakat hukum, fungsi perencanaan dan penanggulangan itu
dilakukan dengan memanfaatkan hukum karena:
1) Hukum merupakan hasil penjelajahan ide dan pengalaman manusia dalam
mengatur hidupnya
2) Hakekat pengadaan dan keberadaan hukum dalam suatu masyarakat terutama
untuk mengatur kehidupan masyarakat
3) Fungsi mengatur telah didukung oleh potensi dasar yang terkandung dalam
hukum, yang melampaui fungsi mengatur yaitu berfungsi juga sebagai pemberi
kepastian, pengamanan pelindung dan penyeimbang yang sifatnya tidak
sekedar adaptif dan fleksibel tetapi juga prediktif dan antisipatif.
64
4) Dalam isu pembangunan global, hukum dipercaya sebagai sarana perubahan
sosial atau sarana pembangunan. (Lili Rasjidi, 1993:16)
Potensi hukum terletak pada dua dimensi utama dari fungsi hukum yaitu
fungsi preventif dan fungsi represif. Preventif adalah fungsi pencegahan yang
dituangkan dalam bentuk pengaturan pencegahan (prevention regulation) yang
hakekatnya merupakan desain dari setiap tindakan yang hendak dilakukan
masyarakat. Represif adalah fungsi penanggulangan yang dituangkan dalam
bentuk penyelesaian sengketa atau pemulihan terhadap kerusakan keadaan yang
diakibatkan oleh resiko tindakan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
Menurut E.A. Goebel, terdapat empat fungsi dasar dari hukum di dalam
masyarakat yaitu:
1) Menetapkan pola hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan cara
menunjukkan jenis-jenis tingkah laku mana yang diperbolehkan dan mana
yang dilarang
2) Menentukan alokasi wewenang merinci siapa yng boleh melakukan paksaan,
siapa yang harus mentaati, siapa yang memilih sanksi yang tepat dan efektif
3) Menyelesaikan sengketa
4) Memelihara kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi
kehidupan yang berubah, yaitu dengan cara merumuskan kembali hubungan
esensial antara anggota-anggota masyarakat (Ronny Hanitiyo Soemitro,
1980:2)
Sedangkan menurut Satjipto Rahardjo, fungsi hukum adalah sebagai sarana
untuk melakukan kontrol sosial (hukum sebagai proses untuk mempengaruhi
orang-orang bertingkah laku sesuai harapan masyarakat) dan sebagai sarana
pembangunan sosial (penggunaan hukum secara sadar untuk mencapai suatu tertib
atau keadaan masyarakat sebagaimana dicita-citakan atau untuk melakukan
perubahan-perubahan yang diinginkan (Satjipto Rahardjo, 1983:19).

Penegakan Hukum
Secara konsepsional, inti dan arti penegakan hukum menurut Soerjono
Soekamto adalah terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang
65
terjabarkan dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap
tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan
memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Komariah,
1989:140).
Hukum pada prinsipnya memerlukan pengetahuan dan didukung masyarakat
yang pada gilirannya menimbulkan partisipasi masyarakat, terdapat empat
indikator kesadaran hukum yang masing-masing merupakan suatu tahapan bagi
tahapan berikutnya yaitu:
1) Pengetahuan hukum
2) Pemahaman hukum
3) Sikap hukum
4) Pola perilaku hukum (Soerjono Soekanto, 1987:228)
Ajaran kesadaran hukum lebih menitikberatkan kepada nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat. Sistem nilai akan menghasilkan patokan-patokan
untuk berproses yang bersifat psikologis antara lain pola-pola berpikir yang
menentukan sikap mental manusia, sikap yang pada hakekatnya merupakan
kecenderungan untuk bertingkah laku maupun kaidah-kaidah (Otje Salman,
1989:38).
Selanjutnya pola perilaku yang terbentuk akan mempengaruhi penegakan
hukum, karena masalah pokok dari penegakan hukum sebenarnya terletak pada
faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya yaitu:
1) Hukumnya sendiri terutama undang-undang dalam arti materiil
2) Penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun yang
menerapkan hukum
3) Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum
4) Masyarakat yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku/ditetapkan
5) Kebudayaan sebagai hasil karya, cipta da rasa yang didasarkan pada karsa
manusia di dalam pergaulan hidup.



66
PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM KEPAILITAN

A. Hukum Kepailitan: Sang Pendekar Turun Gunung
Sungguhpun peraturan kepailitan sudah ada sejak jaman penjajahan
Belanda, yaitu S. 1905-217 juncto S. 1906-348, tetapi dalam praktek peraturan
tersebut hampir-hampir tidak dipakai. Sangat sedikit kasus-kasus yang ada saat itu
yang mencoba memakai peraturan tersebut. Dan, kalaupun peraturan tersebut
diterapkan, hanya terdapat kasus-kasus kecil saja. Kasus gugatan pailit terhadap
garantor dari PT. Bentoel dan kasus PT.Arafat tentu merupakan kekecualiannya.
Namun, dengan keluarnya Perpu Nomor 1 Tahun 1998 yang kemudian
disahkan dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1998, yang memperbaharui
peraturan kepailitan yang lama, maka serta merta dunia hukum diramaikan oleh
diskusi dan kasus-kasus kepailitan di pengadilan, dalam hal ini pengadilan niaga.
Apalagi salah satu keunggulan undang-undang tahun 1998 ini adalah prosedurnya
yang serba cepat. Bandingkan dengan prosedur dalam peraturan 1905 yang cukup
lama, seperti perkara pailit PT.Arafat yang putusannya baru jatuh setelah lebih
kurang 5 (lima) bulan kali ganti hakim pengawas. Memang cukup melelahkan.
Hal seperti itu tidak akan terjadi lagi terhadap kepailitan berdasarkan Undang-
undang 1998 tersebut. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1998 tersebut diperbaiki
dan diganti dengan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
Sekarang banyak debitur (baik yang nakal ataupun yang jujur) yang mulai
was-was untuk dipailitkan. Dan sekarang sudah banyak kasus digelar di
pengadilan. Bahkan, banyak kreditur memakai kebangkrutan ini sebagai gertak
sambal terhadap debiturnya, dalam arti jika hutang tidak dibayar, debitur tersebut
segera dipailitkan. Lalu, biasanya debitur pun takut setengah mati.
Jadi, ternyata bahwa mission dari hukum kebangkrutan dari salah satu
upaya hukum yang biasa sebagai sarana penagihan hutang, ternyata telah berubah
menjadi monster yang seolah-olah siap mengisap darah debitur (yang nakal atau
yang jujur). Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa ancaman membangkrutkan
seorang debitur jauh lebih ampuh dari debt collector sekalipun.
67
Demikianlah maka hukum kepailitan yang semula sangat jarang dipakai dan
sudah seperti disimpan dalam museum, dengan berlakunya Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998 yang disempurnakan dengan Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004 kemudian menjadi sangat banyak dipakai dan merupakan
pemandangan sehari-hari di pengadilan niaga. Layaknya sang pendekar yang
sudah lama bertapa dan kemudian turun gunung untuk berjuang mengalahkan
ketidakadilan.
Akan tetapi, tentunya hukum kepailitan yang berlaku sekarang haruslah
memenuhi syarat-syarat hukum yang efektif, adil, efisien, cepat, pasti, modern dan
terekam dengan baik. Jika tidak demikian, hukum kepailitan ini benar-benar
menjadi drakula pengisap darah atau pembantai debitur di Indonesia ini.
Beberapa pertanyaan mendasar yang mesti diajukan untuk mengetes apakah
kita sudah mempunyai suatu hukum kebangkrutan (kepailitan) yang baik adalah
sebagai berikut: (Baird, Douglas G., 1985:30)
1. Seberapa jauh hukum pailit telah melindungi kepentingan debitur
2. Seberapa jauh hukum pailit telah melindungi kepentingan debitur
3. Seberapa jauh hukum pailit telah memperhatikan kepentingan masyarakat yang
lebih luas daripada hanya kepentingan debitur atau kreditur semata-mata
4. Seberapa jauh constraint dapat dieliminir dengan menerapkannya aturan-aturan
yang bersifat prosedural dan substantif
5. Seberapa jauh aturan kebangkrutan yang ada dapat mencapai tujuan-tujuannya

B. Sejarah Ringkas Hukum Kepailitan
Dewasa ini hampir tidak ada negara yang tidak mengenal kepailitan dalam
hukumnya. Di Indonesia, secara formal, hukum kepailitan sudah ada bahkan
sudah ada undang-undang khusus sejak tahun 1905 dengan diberlakukannya
S.1905-217 juncto S.1906-348. Malahan, dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata
bangkrut sudah lama dikenal.
S. 1905-127 dan S.1906-348 tersebut kemudian diubah dengan Perpu
Nomor 1 tahun 1998, yang kemudian diterima oleh Dewan Perwakilan Rakyat
sehingga menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998. Perpu Nomor 1 tahun
68
1998 tersebut adalah tentang Perubahan atas Undang-undang (Peraturan) tentang
Kepailitan, yang kemudian disempurnakan dengan Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004.
Jika kita menelusuri sejarah hukum tentang kepailitan ini, hukum tentang
kepailitan itu sendiri sudah ada sejak zaman Romawi (Baird, Douglas G.,
1985:21). Jika kita menelusuri lebih lanjut, sebenarnya kata bangkrut, dalam
bahasa Inggris disebut dengan bankrupt berasal dari undang-undang di Itali yang
disebut dengan banca rupta. Sementara itu, pada abad pertengahan di Eropa pada
praktek kebangkrutan dimana dilakukan penghancuran bangku-bangku dari pada
bankir atau pedagang yang melarikan diri secara diam-diam dengan membawa
harta para kreditur. Atau seperti keadaan di Venetia (Italy) waktu itu, dimana para
pemberi pinjaman (bankir) saat itu yang banco (bangku) mereka yang tidak
mampu lagi membayar hutang atau gagal dalam usahanya, bangku tersebut benar-
benar telah patah atau hancur (Abdurrachman, A. 1991:89).
Bagi negara-negara dengan tradisi hukum Common Law, dimana hukumnya
berasal dari Inggris Raya, maka tahun 1952 merupakan tonggak sejarah, karena
dalam tahun 1952 tersebut, hukum pailit dari tradisi hukum Romawi diadopsi ke
negeri Inggris dengan diundangkannya oleh parlemen di masa kekaisaran Raja
Henry VIII sebuah undang-undang yang disebut dengan Act Against Such Persons
As Do Make Bankrupt. Undang-undang ini menempatkan kebangkrutan sebagai
hukuman bagi debitur nakal yang ngemplang untuk membayar hutang sambil
menyembunyikan aset-asetnya. Undang-undang ini memberikan hak-hak bagi
kelompok kreditur yang tidak dimiliki oleh kreditur secara individual.
Peraturan pada masa-masa awal dikenalnya hukum pailit di Inggris banyak
yang mengatur tentang larangan pengalihan properti tidak dengan itikad baik
(fraudulent conveyance statute) atau apa yang sekarang populer dengan action
pauliana. Di samping itu, dalam undang-undang lama di Inggris tersebut juga
diatur, antara lain tentang hal-hal sebagai berikut:
1. Usaha menjangkau bagian harta debitur yang tidak diketahui (to parts
unknown)
69
2. Usaha menjangkau debitur nakal yang mengurung diri di rumah (keeping
house) karena dalam hukum Inggris lama, seseorang sulit dijangkau oleh
hukum jika dia berada dalam rumahnya berdasarkan asas mans home is his
castle
3. Usaha untuk menjangkau debitur nakal yang berusaha untuk tinggal di tempat-
tempat tertentu yang kebal hukum, tempat mana sering disebut dengan istilah
sanctuary. Mirip dengan kekebalan hukum bagi wilayah kedutaan asing dalam
hukum modern.
4. Usaha untuk menjangkau debitur nakal yang berusaha untuk menjalankan
sendiri secara sukarela terhadap putusan atau hukuman tertentu, yang diajukan
oleh temannya sendiri. Biasanya untuk maksud ini terlebih dahulu dilakukan
rekayasa tagihan dari temannya untuk mencegah para krediturnya mengambil
aset-aset tersebut.
Sementara itu, sejarah hukum pailit di Amerika Serikat dimulai dengan
perdebatan konstitusional yang menginginkan Kongres memiliki kekuasaan untuk
membentuk suatu aturan yang uniform tentang kebangkrutan. Hal ini sudah
diperdebatkan sejak diadakannya Constituional Convention di Philadelphia dalam
tahun 1787. Dalam The Federalist Papers, seorang founding father dari negara
Amerika Serikat, yaitu James Madison mendiskusikan tentang apa yang disebut
dengan Bankruptcy Clause sebagai berikut:
Kewenangan untuk menciptakan sebuah aturan yang uniform mengenai
kebangkrutan adalah sangat erat hubungannya dengan aturan mengenai
perekonomian (commerce), dan akan mampu mencegah terjadinya begitu
banyak penipuan, dimana para pihak atau harta kekayaannya dapat
dibohongi atau dipindahkan ke negara bagian yang lain secara tidak patut.
(Baird, Douglas G., 1985:24)
Kemudian, Kongres di Amerika Serikat mengundangkan Undang-undang
Pertama tentang Kebangkrutan dalam tahun 1800, yang isinya mirip-mirip dengan
Undang-undang Kebangkrutan di Inggris saat itu. Akan tetapi, selama abad ke-18,
di beberapa negara bagian di USA telah ada undang-undang negara bagian yang
70
bertujuan untuk melindungi debitur (dari hukuman penjara karena tidak bayar
hutang) yang disebut dengan Insolvensy Law.
Selanjutnya, Undang-undang Federal Amerika Serikat Tahun 1800 tersebut
diubah atau diganti, antara lain dalam Tahun 1841, 1867, 1878, 1898, 1938 (the
Chandler Act), 1867, 1898, 1978 dan 1984. Antara tahun 1841 sampai dengan
tahun 1867, tidak terdapat sama sekali undang-undang federal mengenai
kebangkrutan. Hal ini disebabkan undang-undang lama telah dicabut sementara
undang-undang pengganti baru terbentuk dalam tahun 1867 tersebut (Friedman,
Lawrence M, 1985:549).
Dalam undang-undang Kebangkrutan (Bankruptcy Code) di Amerika
Serikat yang ada sekarang, salah satu bagian yang terpenting dan sangat populer
adalah apa yang disebut dengan chapter 11, yang berjudul Reorganization,
sementara chapter 7 adalah tentang liquidation.

C. Pembaharuan Hukum Kepailitan
Pada tanggal 22 April 1998 oleh pemerintah Republik Indonesia telah
dikeluarkan sebuah peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau Perpu
Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Kepailitan. Perpu
Nomor 1 Tahun 1998 ini mulai berlaku setelah 120 (seratus dua puluh) hari sejak
tanggal 22 April 1998 tersebut. Perpu Kepailitan tersebut kemudian telah diterima
oleh Dewan Perwakilan Rakyat menjadi undang-undang dengan Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998.
Perpu Kepailitan ini tidak menggantikan peraturan kepailitan yang lama,
yaitu Failissement Verordening yang tertuang dalam S.1905-217 juncto S.1906-
348. Akan tetapi, Perpu Kepailitan tersebut hanya mengubah dan menambah
Failissement Verordening yang bersangkutan. Karena secara yuridis formal,
peraturan kepailitan yang lama tersebut masih tetap berlaku. Hanya saja, karena
pasal-pasal diubah (termasuk diganti) dan ditambah tersebut sedemikian
banyaknya, maka sungguhpun secara formal Perpu Kepailitan hanya mengubah
peraturan yang lama, tetapi secara materiil, Perpu Kepailitan tersebut telah
mengganti peraturan yang lama tersebut.
71
Setiap debitur, baik badan hukum atau perorangan dapat dipailitkan asalkan
memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Perundangan tentang kepailitan tersebut.
Sementara prosedur perkara permohonan kepailitan tersebut diatur secara khusus
dalam Undang-undang Kepailitan yang sangat berbeda dengan prosedur perkara
biasa.
Akan tetapi, pada prinsipnya prosedur hukum acara perdata biasa (HIR atau
RBG) tetap berlaku untuk perkara permohonan sepanjang tidak diatur secara
khusus dalam Undang-undang Kepailitan tersebut. Salah satu hal yang baru dalam
Undang-undang Nomor 4 tahun 1998 tentang kepailitan tersebut adalah
diperkenalkannya asas hukum yang disebut dengan Verplichte Procureur Stelling.
Yakni adanya kewajiban bahwa setiap permohonan kepailitan harus diajukan oleh
penasehat hukum, dalam hal ini penasehat hukum yang mempunyai ijin praktek
(pasal 5 undang-undang kepailitan). Sementara untuk permohonan penundaan
kewajiban pembayaran hutang harus ditandatangani oleh penasehat hukum (yang
juga mempunyai ijin praktek) bersama-sama dengan debitur (pasal 213 Undang-
undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang kepailitan). Sedangkan pasal 279
menyebutkan bahwa permohonan-permohonan tertentu dalam proses penundaan
kewajiban pembayaran hutang harus ditandatangani oleh penasehat hukum yang
mempunyai ijin praktek. Ketentuan tentang keharusan menggunakan jasa advokat
juga dipertahankan oleh undang-undang Nomor 37 tahun 2004.
Pokok-pokok penyempurnaan yang dilakukan oleh Perpu Kepailitan yang
disebutkan dalam penjelasan atas Undang-undang Kepailitan bagian umum adalah
sebagai berikut:
1. Syarat-syarat dan prosedur permintaan (permohonan) pernyataan pailit,
termasuk mengenai time frame yang lebih pasti
2. Tambahan pengaturan tentang tindakan sementara yang dapat diambil oleh
pihak kreditur atas kekayaan debitur sebelum adanya putusan kepailitan
3. Peneguhan fungsi kurator dan dibukanya kemungkinan adanya kurator swasta
4. Pengesahan bahwa upaya hukum yang mungkin adalah kasasi (tanpa banding)
serta tata caranya yang lebih jelas
72
5. Adanya mekanisme stay yang merupakan penangguhan pelaksanaan hak
kreditur preferens dan pengaturan status hukum tentang perikatan yang telah
dibuat sebelum putusan pernyataan pailit
6. Penyempurnaan ketentuan mengenai tundaan pembayaran
7. Pembentukan pengadilan khusus yang disebut dengan pengadilan niaga

D. Pengertian dan Syarat-syarat Kepailitan
Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kepailitan itu? Arti yang orisinal
dari bangkrut atau pailit adalah seorang pedagang yang bersembunyi atau
melakukan tindakan tertentu yang cenderung untuk mengelabuhi pihak keduanya.
(Black, Henry Campbell, 1968:186).
Dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan disebutkan bahwa
yang dimaksudkan dengan pailit atau bangkrut, antara lain adalah seseorang yang
oleh suatu pengadilan dinyatakan bankrupt, dan yang aktivitasnya atau
warisannya telah diperuntukkan untuk membayar hutang-hutangnya.
(Abdurrachman, A. 1991:89).
Namun demikian, umumnya orang sering menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan pailit atau bangkrut itu adalah suatu sitaan umum atas seluruh
harta debitur agar dicapainya perdamaian antara debitur dan para kreditur atau
agar harta tersebut dapat dibagi-bagi secara adil diantara para kreditur.
Dari ketentuan dalam pasal 2 undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
(selanjutnya disebut undang-undang kepailitan) dapat ditarik kesimpulan bahwa
syarat-syarat yuridis agar suatu perusahaan dapat dinyatakan pailit adalah sebagai
berikut:
1. Adanya hutang
2. Minimal satu dari hutang sudah jatuh tempo
3. Minimal satu dari hutang dapat ditagih
4. Adanya debitur
5. Adanya kreditur
6. Kreditur lebih dari satu
73
7. Pernyataan pailit dilakukan oleh pengadilan khusus yang disebut dengan
Pengadilan Niaga
8. Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang, yaitu:
a. Pihak debitur
b. Satu atau lebih kreditur
c. Jaksa untuk kepentingan umum
d. Bank Indonesia jika debiturnya bank
e. Bapepam jika debiturnya perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan
penjaminan dan lembaga penyimpanan dan penyelesaian
f. Menteri keuangan jika debiturnya perusahaan asuransi, reasuransi, dana
pensiun dan BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik
9. Dan syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam Undang-undang
Kepailitan
10. Apabila syarat-syarat terpenuhi, hakim menyatakan pailit, bukan dapat
menyatakan pailit. Sehingga dalam hal ini kepada hakim tidak diberikan
ruang untuk memberikan judgement yang harus seperti pada kasus-kasus
lainnya, sungguhpun limited defence masih dibenarkan, mengingat yang
berlaku pada prosedur pembuktian yang sumir (vide pasal 8 ayat (4) Undang-
undang Kepailitan.
Catatan:
Lain halnya dengan keputusan Pengadilan Niaga mengenai penundaan
pembayaran hutang yang harus secara otomatis (tanpa defence) dikabulkan
oleh hakim (Pasal 225 ayat (2) dan ayat (3) undang-undang kepailitan).
Tentunya jika seluruh persyaratan administrasi pengajuan permohonan sudah
semua dipenuhi.
Contoh hipotesis tentang kewenangan jaksa yang mempailitkan seorang debitur
untuk kepentingan umum misalnya ada penipuan di bidang bisnis dan seseorang
yang telah banyak jatuh korban secara finansial, maka dalam hal ini jaksa dapat
bertindak mempailitkan si penipu tersebut untuk kemudian mengembalikan uang
hasil tipuannya kepada kreditur-krediturnya dalam hal ini orang-orang yang telah
ditipunya.
74
E. Dasar Hukum Kepailitan
Yang merupakan dasar hukum bagi suatu kepailitan adalah sebagai berikut:
1. Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang kepailitan
2. KUH Perdata misalnya pasal 1139, pasal 1149, pasal 1134 dan lain-lain
3. KUH Pidana, misalnya pasal 296, pasal 397, pasal 398, pasal 399, pasal 400,
pasal 520 dan lain-lain
4. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, misalnya
pasal 79 ayat (3), pasal 96, pasal 85 ayat (1) dan ayat (2), pasal 3 ayat (2) huruf
b, huruf c, dan huruf d, pasal 90 ayat (2) dan ayat (3), pasal 98 ayat (1) dan
lain-lain
5. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan
6. Undang-undang nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
7. Perundang-undangan di bidang Pasar Modal, Perbankan, BUMN dan lain-lain