Anda di halaman 1dari 36

Translation Revision Control:

-March 12, 2010

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 30 TAHUN 2009
TENTANG
KETENAGALISTRIKAN

LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA


NUMBER 30 OF 2009
CONCERNING
ELECTRICITY

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WITH THE BLESSING OF GOD ALMIGHTY

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF


INDONESIA,

Table of Contents
Pasal / Article
BAB I: KETENTUAN UMUM

CHAPTER I: GENERAL PROVISIONS

BAB II: ASAS DAN TUJUAN

CHAPTER II: PRINCIPLES AND PURPOSES

BAB III: PENGUASAAN DAN PENGUSAHAAN

3-4

CHAPTER III: CONTROL AND


COMMERCIALIZATION

Bagian Kesatu: Penguasaan

Part One: Control

Bagian Kedua: Pengusahaan

Part Two: Commercialization

BAB IV: KEWENANGAN PENGELOLAAN


BAB V: PEMANFAATAN SUMBER ENERGI PRIMER
BAB VI: RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN
BAB VII: USAHA KETENAGALISTRIKAN
Bagian Kesatu: Umum

CHAPTER IV: AUTHORITY OF MANAGEMENT

CHAPTER V: BENEFICIAL USE OF PRIMARY


ENERGY SOURCES

CHAPTER VI: GENERAL ELECTRICITY PLAN

8-17
8

CHAPTER VII: ELECTRICITY BUSINESS


Part One: General

Bagian Kedua: Usaha Penyediaan Tenaga Listrik

9-14

Part Two: Power Supply Business

Bagian Ketiga: Usaha Penunjang Tenaga Listrik

15-17

Part Three: Power Support Business

BAB VIII: PERIZINAN


Bagian Kesatu: Umum

18-29
18

CHPATER VIII: LICENSING


Part One: General

Bagian Kedua: Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik


dan Izin Operasi

19-24

Part Two: Power Supply Licenses and Operating


Licenses

Bagian Ketiga: Izin Usaha Penunjang Tenaga Listrik

25-26

Part Three: Power Support Licenses

Bagian Keempat: Hak dan Kewajiban Pemegang Izin


Usaha Penyediaan Tenaga Listrik

27-28

Part Four: Rights and Obligations of Power Supply


License Holders

Bagian Kelima: Hak dan Kewajiban Konsumen

29

Part Five: Consumer Rights and Obligations

BAB IX: PENGGUNAAN TANAH

30-32

CHAPTER IX: USE OF LAND

BAB X: HARGA JUAL, SEWA JARINGAN, DAN


TARIF TENAGA LISTRIK

33-41

CHAPTER X: POWER SALES PRICES, ELECTRICAL


GRID RENT PRICES, AND TARIFFS

Bagian Kesatu: Harga Jual Tenaga Listrik dan Sewa


Jaringan Tenaga Listrik

33

Bagian Kedua: Tarif Tenaga Listrik

34-36

Bagian Ketiga: Jual Beli Tenaga Listrik Lintas


Negara

37-41

BAB XI: LINGKUNGAN HIDUP DAN KETEKNIKAN

42-45

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Part One: Power Sales Prices and Electrical Grid Rent


Prices
Part Two: Power Tariffs
Part Three: Cross-Border Electricity Trading
CHAPTER XI: THE ENVIRONMENT AND

ENGINEERING
Bagian Kesatu: Lingkungan Hidup
Bagian Kedua: Keteknikan

42
43-45

Part One: The Environment


Part Two: Engineering

BAB XII: PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

46

CHAPTER XII: DIRECTION AND SUPERVISION

BAB XIII: PENYIDIKAN

47

CHAPTER XIII: INVESTIGATIONS

BAB XIV: SANKSI ADMINISTRATIF

48

CHAPTER XIV: ADMINISTRATIVE SANCTIONS

BAB XV: KETENTUAN PIDANA

49-55

CHAPTER XV: PENAL PROVISIONS

BAB XVI: KETENTUAN PERALIHAN

56

CHAPTER XVI: TRANSITIONAL PROVISIONS

BAB XVII: KETENTUAN PENUTUP

57

CHAPTER XVII: CONCLUDING PROVISIONS

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

NOTE: WHERE NO ELUCIDATION IS PROVIDED UNDERNEATH A CLAUSE, THE CLAUSE IS SUFFICIENTLY CLEAR.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 30 TAHUN 2009
TENTANG
KETENAGALISTRIKAN

LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA


NUMBER 30 OF 2009
CONCERNING
ELECTRICITY

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WITH THE BLESSING OF GOD ALMIGHTY

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF


INDONESIA,

Menimbang:
Considering:
a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk a. that national development aims to achieve just
mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang
and prosperous society in a manner materially
merata materiil dan spiritual berdasarkan
and spiritually distributive under Pancasila and
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
the 1945 Constitution of the Republic of
Republik Indonesia Tahun 1945;
Indonesia;
b.

bahwa tenaga listrik mempunyai peran yang b.


sangat penting dan strategis dalam mewujudkan
tujuan pembangunan nasional maka usaha
penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara
dan penyediaannya perlu terus ditingkatkan
sejalan dengan perkembangan pembangunan
agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang
cukup, merata, dan bermutu;

that with electricity having important and


strategic role in the achievement of national
development objectives, power supply business
is therefore controlled by the state and the
supplies thereof needs to be kept increased to
reflect the progress in development to enable the
availability of power in adequate quantity, fair
distribution, and quality;

c.

bahwa penyediaan tenaga listrik bersifat padat c.


modal dan teknologi dan sejalan dengan prinsip
otonomi daerah dan demokratisasi dalam
tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara maka peran pemerintah daerah
dan masyarakat dalam penyediaan tenaga listrik
perlu ditingkatkan;

that power supplies are labor and technology


intensive and in line with the principles of
regional autonomy and democratization within
the life style of the society, the nation, and the
state, the role of the regional governments and
the people in the supply of power requires
increase;

d.

bahwa di samping bermanfaat, tenaga listrik d.


juga dapat membahayakan sehingga penyediaan
dan pemanfaatannya harus memperhatikan
ketentuan keselamatan ketenagalistrikan;

that however useful, power also poses risk such


that supplies and beneficial use of it must be
subject to the electricity safety requirements.

e.

bahwa Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 e.


tentang Ketenagalistrikan tidak sesuai lagi
dengan tuntutan perkembangan keadaan dan
perubahan dalam kehidupan masyarakat

that Law Number 15 of 1985 concerning


Electricity no longer reflects the demanding
times and changes in the society life such that
replacement with a new law is required;

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Translated by: Wishnu Basuki (ABNR)


wbasuki@abnrlaw.com

sehingga perlu diganti dengan undangundang


yang baru;
f.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana f.


dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf
d, dan huruf e, perlu membentuk UndangUndang tentang Ketenagalistrikan;

that in consideration of what item a, item b, item


c, item d, and item e intend, it is necessary to
make Law concerning Electricity;

Mengingat:
Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 20, dan Pasal 33
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;

Bearing in Mind:
Article 5 section (1), Article 18, Article 20, and
Article 33 of the 1945 Constitution of the State of
the Republic of Indonesia;

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK
INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

With the Joint Consent of


THE HOUSE OF REPRESENTATIVES OF THE
REPUBLIC OF INDONESIA
and
THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF
INDONESIA

MEMUTUSKAN:

HAS DECIDED:

Menetapkan: UNDANGUNDANG TENTANG


KETENAGALISTRIKAN.
.

To enact:

LAW CONCERNING
ELECTRICITY.

Penjelasan Umum
Pembangunan sektor ketenagalistrikan bertujuan
untuk memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa guna mewujudkan
tujuan pembangunan nasional, yaitu menciptakan
masyarakat adil dan makmur yang merata materiil
dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Tenaga listrik, sebagai salah satu hasil
pemanfaatan kekayaan alam, mempunyai peranan
penting bagi negara dalam mewujudkan pencapaian
tujuan pembangunan nasional.

General Elucidation
Development in electricity sector has aim to improve
the public welfare and advance the intellectual life
of the people in order to meet the objectives of
national development for the creation of just and
prosperous society through a fair distribution both
in material and spiritual manner under Pancasila
and the 1945 Constitution of the Republic of
Indonesia. Electric power as one of the outcomes of
natural resource utilization has important role in the
realization of attainment of the objectives of national
development.

Mengingat arti penting tenaga listrik bagi negara


dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat
dalam segala bidang dan sejalan dengan ketentuan
dalam Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, UndangUndang ini menyatakan bahwa usaha penyediaan
tenaga listrik dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat yang penyelenggaraannya dilakukan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah dan
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
menetapkan kebijakan, pengaturan, pengawasan,
dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik.

Given that electric power is fundamental to the state


especially in the realization of public welfare for all
sectors and bearing in mind Article 33 section (2) of
the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia,
this Law affirms that electric power supply shall be
controlled by the state and used in the best
prosperity of the people with its organization being
conducted by the Government and the regional
governments.
The competent Government or
regional governments shall make policies,
regulation, and supervision and implement electric
power supply business.

Pemerintah

The Government and the regional governments shall

dan

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

pemerintah

daerah

menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik


yang pelaksanaannya dilakukan oleh badan usaha
milik negara dan badan usaha milik daerah. Untuk
lebih meningkatkan kemampuan negara dalam
penyediaan tenaga listrik, Undang-Undang ini
memberi kesempatan kepada badan usaha swasta,
koperasi, dan swadaya masyarakat untuk
berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga
listrik.

conduct power supply business, of which the


implementation shall be undertaken by state-owned
entities and region-owned entities. To enhance the
capability of the state in the power supply, this Law
gives opportunities to private entities, cooperatives,
and self-reliant communities to participate in the
power supply business.

Sesuai dengan prinsip otonomi daerah, Pemerintah


atau
pemerintah
daerah
sesuai
dengan
kewenangannya menetapkan izin usaha penyediaan
tenaga listrik.

The competent Government or regional governments


shall within the regional autonomy principles issue
power supply licenses.

Berbagai permasalahan ketenagalistrikan yang saat


ini dihadapi oleh bangsa dan negara telah
diantisipasi dalam Undang-Undang ini yang
mengatur, antara lain, mengenai pembagian
wilayah usaha penyediaan tenaga listrik yang
terintegrasi, penerapan tarif regional yang berlaku
terbatas untuk suatu wilayah usaha tertentu,
pemanfaatan jaringan tenaga listrik untuk
kepentingan telekomunikasi, multimedia, dan
informatika, serta mengatur tentang jual beli tenaga
listrik lintas negara yang tidak diatur dalam
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang
Ketenagalistrikan.

Various electricity issues of concerns faced by the


nation and state today have been anticipated by this
Law that governs, inter alia, division of integrated
power supply business areas, application of regional
tariffs applicable only for one certain business area,
electrical grid utilization in the interest of
telecommunications, multimedia, and informatics, as
well as cross-border electricity trading former Law
Number 15 of 1985 concerning Electricity does not
govern.

Dalam rangka peningkatan penyediaan tenaga


listrik kepada masyarakat diperlukan pula upaya
penegakan hukum di bidang ketenagalistrikan.
Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai
kewenangan untuk melakukan pembinaan dan
pengawasan pelaksanaan usaha ketenagalistrikan,
termasuk pelaksanaan pengawasan di bidang
keteknikan.

To increase public power supply also requires


exercise of legal enforcement powers in the
electricity field. The Government and the regional
governments shall have the authority to direct and
supervise the implementation of electricity, including
supervision of engineering.

Selain bermanfaat, tenaga listrik juga dapat


membahayakan. Oleh karena itu, untuk lebih
menjamin keselamatan umum, keselamatan kerja,
keamanan instalasi, dan kelestarian fungsi
lingkungan dalam penyediaan tenaga listrik dan
pemanfaatan tenaga listrik, instalasi tenaga listrik
harus menggunakan peralatan dan perlengkapan
listrik yang memenuhi standar peralatan di bidang
ketenagalistrikan.

Despite benefit, electric power can also present a


danger. Accordingly, to further guarantee the public
safety, occupational safety, installation security, and
conservation of environmental functions in the
supply electric power and utilization of electric
power, electric power installation must use
electricity equipment and tools that meet the
electricity equipment standards.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1.

CHAPTER I
GENERAL PROVISIONS
Article 1
In this Law:

Ketenagalistrikan adalah segala sesuatu yang 1.


menyangkut penyediaan dan pemanfaatan
tenaga listrik serta usaha penunjang tenaga
listrik.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Electricity means any matter that concerns


power supply and beneficial use as well as
power support business.
5

2.

Tenaga listrik adalah suatu bentuk energi 2.


sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan,
dan didistribusikan untuk segala macam
keperluan, tetapi tidak meliputi listrik yang
dipakai untuk komunikasi, elektronika, atau
isyarat.

[Electric] power means any form of secondary


energy that is generated, transmitted, and
distributed for any purposes, not including
electricity in use for communication,
electronics, or signal.

3.

Usaha penyediaan tenaga listrik adalah 3.


pengadaan tenaga listrik meliputi pembangkitan,
transmisi, distribusi, dan penjualan tenaga listrik
kepada konsumen.

Power supply business means power


procurement through power generation,
transmission, distribution and sale to consumers.

4.

Pembangkitan tenaga listrik adalah kegiatan 4.


memproduksi tenaga listrik.

Power generation means any activity through


which to produce power.

5.

Transmisi tenaga listrik adalah penyaluran 5.


tenaga listrik dari pembangkitan ke sistem
distribusi atau ke konsumen, atau penyaluran
tenaga listrik antarsistem.

Power transmission means delivery of power


from generation to distribution system or to
consumers, or cross-system delivery of power.

6.

Distribusi tenaga listrik adalah penyaluran 6.


tenaga listrik dari sistem transmisi atau dari
pembangkitan ke konsumen.

Power distribution means delivery of power


from transmission system or from generation to
consumers.

7.

Konsumen adalah setiap orang atau badan 7.


yang membeli tenaga listrik dari pemegang izin
usaha penyediaan tenaga listrik.

Consumer means any person or entity that


purchases power from power supply license
holders.

8.

Usaha penjualan tenaga listrik adalah kegiatan 8.


usaha penjualan tenaga listrik kepada
konsumen.

[Electric] power sale business means any


activity through which to sell power to
consumers.

9.

Rencana umum ketenagalistrikan adalah 9.


rencana pengembangan sistem penyediaan
tenaga
listrik
yang
meliputi
bidang
pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga
listrik yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan tenaga listrik.

General power plan means any development


plan for power supply system, including power
generation, transmission, and distribution as
necessary to meet power demand.

10. Izin usaha penyediaan tenaga listrik adalah 10. Power supply license means a license to
izin untuk melakukan usaha penyediaan tenaga
conduct public power supply business.
listrik untuk kepentingan umum.
11. Izin operasi adalah izin untuk melakukan 11. Operating license means a license under
penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan
which to provide captive power supplies.
sendiri.
12. Wilayah usaha adalah wilayah yang 12. Business area means an area the Government
ditetapkan Pemerintah sebagai tempat badan
determines as a place at which power supply
usaha distribusi dan/atau penjualan tenaga listrik
business is conducted by power distributing
melakukan usaha penyediaan tenaga listrik.
and/or selling entities.
13. Ganti rugi hak atas tanah adalah penggantian 13. Land damages means any payment in
atas pelepasan atau penyerahan hak atas tanah
compensation for release or transfer of land title,
berikut bangunan, tanaman, dan/atau benda lain
including the buildings, plants and/or other
yang terdapat di atas tanah tersebut.
objects related to land.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

14. Kompensasi adalah pemberian sejumlah uang 14. Compensation means an award of a sum of
kepada pemegang hak atas tanah berikut
monies to land title holders, including the
bangunan, tanaman, dan/atau benda lain yang
buildings, plants and/or other objects related to
terdapat di atas tanah tersebut karena tanah
land for the benefit of indirect use of the land
tersebut digunakan secara tidak langsung untuk
for electricity constructions without the land
pembangunan ketenagalistrikan tanpa dilakukan
title being released or transferred.
pelepasan atau penyerahan hak atas tanah.
15. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut 15. The Central Government, hereinafter called
Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia
the Government, means the President of the
yang memegang kekuasaan pemerintah negara
Republic of Indonesia that holds the power in
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
the government of the state of the Republic of
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia as intended by the 1945 Constitution
Indonesia Tahun 1945.
of the State of the Republic of Indonesia.
16. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, 16. The Regional government
atau walikota, dan perangkat daerah sebagai
governors, the regents, or the
unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
regional instrumentalities that
elements of the administrators of
Administration.

means the
mayors and
act as the
the Regional

17. Menteri adalah menteri yang membidangi 17. Minister means the minister in charge of
urusan ketenagalistrikan.
electricity affairs.
18. Setiap orang adalah orang perorangan atau 18. Any person means any individual or entity of
badan baik yang berbadan hukum maupun yang
either legal entity or nonlegal entity.
bukan berbadan hukum.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2

CHAPTER II
PRINCIPLES AND PURPOSES
Article 2

(1) Pembangunan ketenagalistrikan menganut asas:

(1) Electricity development shall embrace the


principles of:

a.

manfaat;

a.

benefit;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf a:


Yang dimaksud dengan asas manfaat adalah
bahwa hasil pembangunan ketenagalistrikan harus
dapat
dimanfaatkan
sebesar-besarnya
bagi
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Elucidation of Article 2 Section (1) (a):


The principle of benefit means the results of
electricity development should be in beneficial use in
the best welfare and prosperity of the people.

b.

b.

efisiensi berkeadilan;

just efficiency;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf b:


Yang dimaksud dengan asas efisiensi berkeadilan
adalah bahwa pembangunan ketenagalistrikan
harus dapat dilaksanakan dengan biaya seminimal
mungkin, tetapi dengan hasil yang dapat dinikmati
secara merata oleh seluruh rakyat.

Elucidation of Article 2 Section (1) (b):


The principle of just efficiency means electricity
development should be undertaken at a reasonable
minimum cost from which the benefit can be reaped
by all of the people in a distributive manner.

c.

c.

berkelanjutan;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf c:


Yang dimaksud dengan asas berkelanjutan
adalah bahwa usaha penyediaan tenaga listrik harus
dikelola dengan baik agar dapat terus berlangsung
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

sustainability;

Elucidation of Article 2 Section (1) (c):


The principle of sustainability means power
supply business should be managed properly to
enable sustainable viability.
7

secara berkelanjutan.

d.

optimalisasi ekonomi dalam pemanfaatan


sumber daya energi;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf d:


Yang dimaksud dengan asas optimalisasi ekonomi
dalam pemanfaatan sumber daya energi adalah
bahwa penggunaan sumber energi
untuk
pembangkitan tenaga listrik harus dilakukan dengan
memperhatikan ketersediaan sumber energi.

e.

mengandalkan pada kemampuan sendiri;

d.

optimum economics with the beneficial use


of energy resources;

Elucidation of Article 2 Section (1) (d):


The principle of optimum economics with the

beneficial use of energy resources means


energy sources for power generation should be
in use with due regard to the availability of energy
sources.

e.

self-reliance;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf e:


Yang dimaksud dengan asas mengandalkan pada
kemampuan sendiri adalah bahwa pembangunan
ketenagalistrikan dilakukan dengan mengutamakan
kemampuan dalam negeri.

Elucidation of Article 2 Section (1) (e):


The principle of self-reliance means electricity
development should be undertaken while setting a
value on the domestic capability.

f.

f.

kaidah usaha yang sehat;

sound business;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf f:


Yang dimaksud dengan asas kaidah usaha yang
sehat adalah bahwa usaha ketenagalistrikan
dilaksanakan dengan menerapkan prinsip-prinsip
transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban,
dan kewajaran.

Elucidation of Article 2 Section (1) (f):


The principle of sound business means electricity
business is conducted by serving the principles of
transparency, accountability, responsibility, and
fairness.

g.

g.

keamanan dan keselamatan;

security and safety;

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf g:


Yang dimaksud dengan asas keamanan dan
keselamatan adalah bahwa penyediaan dan
pemanfaatan tenaga listrik harus memperhatikan
keamanan instalasi, keselamatan manusia, dan
lingkungan hidup di sekitar instalasi.

Elucidation of Article 2 Section (1) (g):


The principles of security and safety means the
supply and beneficial use of power should consider
installation security, human safety, and the
environment around the installations.

h.

h.

kelestarian fungsi lingkungan; dan

conservation of environmental functions;


and

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Huruf h:


Yang dimaksud dengan asas kelestarian fungsi
lingkungan adalah bahwa penyelenggaraan
penyediaan tenaga listrik harus memperhatikan
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan lingkungan
sekitar.

Elucidation of Article 2 Section (1) (h):


The principle of conservation of environmental
functions means the provision of power supply
should consider the conservation of environmental
functions and the surrounding environment.

i.

i.

otonomi daerah.

regional autonomy.

(2) Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk (2) Electricity development shall aim to guarantee
menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam
the availability of power at adequate quantity,
jumlah yang cukup, kualitas yang baik, dan
good quality, and reasonable price to improve
harga yang wajar dalam rangka meningkatkan
public welfare and prosperity in a just and
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara
distributive manner as well as to realize
adil
dan
merata
serta
mewujudkan
sustainable development
pembangunan yang berkelanjutan.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

BAB III
PENGUASAAN DAN PENGUSAHAAN
Bagian Kesatu
Penguasaan
Pasal 3

CHAPTER III
CONTROL AND COMMERCIALIZATION
Part One
Control
Article 3

(1) Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara (1) Power supplies shall be under the control of the
yang penyelenggaraannya dilakukan oleh
state, which supplies shall be provided by the
Pemerintah dan pemerintah daerah berlandaskan
Government and the regional governments
prinsip otonomi daerah.
under the principle of regional autonomy.
Penjelasan Pasal 3 Ayat (1):
Mengingat tenaga listrik merupakan salah satu
cabang produksi yang penting dan strategis dalam
kehidupan nasional, usaha penyediaan tenaga listrik
dikuasai
oleh
negara
yang
dalam
penyelenggaraannya ditujukan untuk sebesarbesarnya bagi kepentingan dan kemakmuran rakyat.

Elucidation of Article 3 Section (1):


Given power is one of the important and strategic
production sectors in national life, power supply
business shall be taken control by the state, of which
the implementation is dedicated to serving the best
interest and prosperity of the people.

(2) Untuk penyelenggaraan penyediaan tenaga (2) To provide power supplies as intended by
listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
section (1), the competent Government and
Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
regional governments shall establish policies,
dengan kewenangannya menetapkan kebijakan,
regulation, and supervision and manage/conduct
pengaturan, pengawasan, dan melaksanakan
power supply business.
usaha penyediaan tenaga listrik.
Bagian Kedua
Pengusahaan
Pasal 4

Part Two
Commercialization
Article 4

(1) Pelaksanaan usaha penyediaan tenaga listrik (1) The conduct of power supply business by the
oleh Pemerintah dan pemerintah daerah
Government and the regional governments shall
dilakukan oleh badan usaha milik negara dan
be authorized to state-owned entities and regionbadan usaha milik daerah.
owned entities.
Penjelasan Pasal 4 Ayat (1):
Badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah dalam ketentuan ini adalah yang berusaha di
bidang penyediaan tenaga listrik.

Elucidation of Article 4 Section (1):


State-owned entities and region-owned entities shall
under this provision be those engaged in the power
supply business.

(2) Badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya (2) Private entities, cooperatives, and self-reliant
masyarakat dapat berpartisipasi dalam usaha
communities may participate in power supply
penyediaan tenaga listrik.
business.
Penjelasan Pasal 4 Ayat (2):
Partisipasi badan usaha swasta, koperasi, dan
swadaya masyarakat dilakukan dalam rangka
memperkuat pemenuhan kebutuhan tenaga listrik.
Swadaya masyarakat dapat berbentuk badan hukum

Elucidation of Article 4 Section (2):


Participation of private entities, cooperatives, and
self-reliant communities is invited to strengthen the
power needs. Self-reliant communities may be in
legal entity form.

(3) Untuk penyediaan tenaga listrik sebagaimana (3) With respect to power supplies as intended by
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), Pemerintah
Article 3 section (1), the Government and the
dan pemerintah daerah menyediakan dana
regional governments shall set up funds for:
untuk:
a.

kelompok masyarakat tidak mampu;

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

a.

indigent community groups;

b.

pembangunan sarana penyediaan tenaga


listrik di daerah yang belum berkembang;

b.

the construction of power supply facilities


in less-developed regions;

c.

pembangunan tenaga listrik di daerah


terpencil dan perbatasan; dan

c.

the construction of power in remote and


contiguous areas; and

d.

pembangunan listrik perdesaan.

d.

the construction of rural electricity.

Penjelasan Pasal 4 Ayat (3): Cukup jelas

Elucidation of Article 4 Section (3): Sufficiently clear

BAB IV
KEWENANGAN PENGELOLAAN
Pasal 5

CHAPTER IV
AUTHORITY OF MANAGEMENT
Article 5

(1) Kewenangan
Pemerintah
ketenagalistrikan meliputi:
kebijakan

di

bidang (1) The authority of the Government in the field of


electricity shall include:

a.

penetapan
nasional;

ketenagalistrikan

a.

adopt national electricity policy;

b.

penetapan peraturan perundang-undangan


di bidang ketenagalistrikan;

b.

make electricity laws and regulations;

c.

penetapan pedoman, standar, dan kriteria di


bidang ketenagalistrikan;

c.

prepare guidelines, standards, and the


criteria with respect to electricity;

d.

penetapan pedoman penetapan tarif tenaga


listrik untuk konsumen;

d.

set guidelines to consumer power tariffs;

e.

penetapan rencana umum ketenagalistrikan


nasional;

e.

develop a general national electricity plan;

f.

penetapan wilayah usaha;

f.

determine business areas;

g.

penetapan izin jual beli tenaga listrik lintas


negara;

g.

issue cross-border
licenses;

h.

penetapan izin usaha penyediaan tenaga


listrik untuk badan usaha yang:

h.

issue power supply business licenses to


entities:

electricity

trading

1.

wilayah usahanya lintas provinsi;

1.

whose business overlaps the provinces;

2.

dilakukan oleh badan usaha milik


negara; dan

2.

in state-owned-entity form; and

3.

menjual tenaga listrik dan/atau


menyewakan jaringan tenaga listrik
kepada
pemegang
izin
usaha
penyediaan tenaga listrik yang
ditetapkan oleh Pemerintah;

3.

that sell power and/or rent electrical


grids to Government-appointed power
supply license holders;

i.

penetapan izin operasi yang fasilitas


instalasinya mencakup lintas provinsi;

i.

issue operating licenses for installation


facilities overlapping the provinces;

j.

penetapan tarif tenaga listrik untuk


konsumen dari pemegang izin usaha
penyediaan tenaga listrik yang ditetapkan
oleh Pemerintah;

j.

set consumer power tariffs for Governmentappointed power supply license holders;

k.

penetapan persetujuan harga jual tenaga

k.

give approval for power selling and

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

10

listrik dan sewa jaringan tenaga listrik dari


pemegang izin usaha penyediaan tenaga
listrik yang ditetapkan oleh Pemerintah;
l.

penetapan persetujuan penjualan kelebihan


tenaga listrik dari pemegang izin operasi
yang ditetapkan oleh Pemerintah;

electrical grid rent prices to Governmentappointed power supply license holders;


l.

give approval for excess power sale to


Government-appointed operating license
holders;

m. penetapan izin usaha jasa penunjang tenaga


listrik yang dilakukan oleh badan usaha
milik negara atau penanam modal
asing/mayoritas sahamnya dimiliki oleh
penanam modal asing;

m. issue power service licenses to state-own


entities or foreign investors/with majority
of shares being owned by foreign investors;

n.

penetapan izin pemanfaatan jaringan tenaga


listrik untuk kepentingan telekomunikasi,
multimedia, dan informatika pada jaringan
milik pemegang izin usaha penyediaan
tenaga listrik atau izin operasi yang
ditetapkan oleh Pemerintah;

n.

issue electrical grid utilization licenses in


the interest of telecommunications,
multimedia, and informatics to grids owned
by Government-appointed power supply
license holders or Government-appointed
operating license holders;

o.

pembinaan dan pengawasan kepada badan


usaha di bidang ketenagalistrikan yang
izinnya ditetapkan oleh Pemerintah;

o.

direct and supervise entities engaged in the


field of electricity whose licenses issued by
the Government;

p.

pengangkatan inspektur ketenagalistrikan;

p.

appoint electricity inspector(s);

q.

pembinaan jabatan fungsional inspektur


ketenagalistrikan untuk seluruh tingkat
pemerintahan; dan

q.

establish functional positions for electricity


inspectors at every level of the
governments; and

r.

penetapan sanksi administratif kepada


badan usaha yang izinnya ditetapkan oleh
Pemerintah.

r.

impose administrative sanctions on entities


whose licenses issued by the Government.

(2) Kewenangan pemerintah provinsi di bidang (2) The authority of the province governments in
ketenagalistrikan meliputi:
the field of electricity shall include:
a.

penetapan peraturan daerah provinsi di


bidang ketenagalistrikan;

a.

make provincial regulations in the field of


electricity;

b.

penetapan rencana umum ketenagalistrikan


daerah provinsi;

b.

develop a general provincial electricity


plan;

c.

penetapan izin usaha penyediaan tenaga


listrik untuk badan usaha yang wilayah
usahanya lintas kabupaten/kota;

c.

issue power supply licenses to entities


whose business areas overlap the
districts/cities;

d.

penetapan izin
instalasinya
kabupaten/kota;

fasilitas
lintas

d.

issue operating licenses for installation


facilities overlapping the districts/cities;

e.

penetapan tarif tenaga listrik untuk


konsumen dari pemegang izin usaha
penyediaan tenaga listrik yang ditetapkan
oleh pemerintah provinsi;

e.

set consumer power tariffs for province


government-appointed
power
supply
license holders;

f.

penetapan persetujuan harga jual tenaga

f.

give approval for power selling and

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

operasi yang
mencakup

11

listrik dan sewa jaringan tenaga listrik


untuk badan usaha yang menjual tenaga
listrik dan/atau menyewakan jaringan
tenaga listrik kepada badan usaha yang
izinnya ditetapkan oleh pemerintah
provinsi;

electrical grid rent prices to entities that


sells power and/or rents electrical grids to
entities whose license issued by the
province governments;

g.

penetapan persetujuan penjualan kelebihan


tenaga listrik dari pemegang izin operasi
yang izinnya ditetapkan oleh pemerintah
provinsi;

g.

give approval for excess power sale to


operating license holders whose licenses
issued by the province governments;

h.

penetapan izin pemanfaatan jaringan tenaga


listrik untuk kepentingan telekomunikasi,
multimedia, dan informatika pada jaringan
milik pemegang izin usaha penyediaan
tenaga listrik atau izin operasi yang
ditetapkan oleh pemerintah provinsi;

h.

issue electrical grid utilization licenses in


the interest of telecommunications,
multimedia, and informatics to grids owned
by province government-appointed power
supply license holders or province
government-appointed operating license
holders;

i.

pembinaan dan pengawasan kepada badan


usaha di bidang ketenagalistrikan yang
izinnya ditetapkan oleh pemerintah
provinsi;

i.

direct and supervise entities engaged in the


field of electricity whose licenses issued by
the province governments;

j.

pengangkatan inspektur ketenagalistrikan


untuk provinsi; dan

j.

appoint provincial electricity inspector(s);


and

k.

penetapan sanksi administratif kepada


badan usaha yang izinnya ditetapkan oleh
pemerintah provinsi.

k.

impose administrative sanctions on entities


whose licenses issued by the province
governments.

(3) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota di (3) The authority of the district/city governments in
bidang ketenagalistrikan meliputi:
the field of electricity shall include:
a.

penetapan peraturan daerah kabupaten/kota


di bidang ketenagalistrikan;

a.

make district/city regulations in the field of


electricity;

b.

penetapan rencana umum ketenagalistrikan


daerah kabupaten/kota;

b.

develop a general district/city electricity


plan;

c.

penetapan izin usaha penyediaan tenaga


listrik untuk badan usaha yang wilayah
usahanya dalam kabupaten/kota;

c.

issue power supply licenses to entities


whose business areas within the
districts/cities;

d.

penetapan izin operasi yang fasilitas


instalasinya dalam kabupaten/kota;

d.

issue operating licenses for installation


facilities within the districts/cities;

e.

penetapan tarif tenaga listrik untuk


konsumen dari pemegang izin usaha
penyediaan tenaga listrik yang ditetapkan
oleh pemerintah kabupaten/kota;

e.

set consumer power tariffs for district/city


government-appointed
power
supply
license holders;

f.

penetapan persetujuan harga jual tenaga


listrik dan sewa jaringan tenaga listrik
untuk badan usaha yang menjual tenaga
listrik dan/atau menyewakan jaringan

f.

give approval for power selling and


electrical grid rent prices to entities that
sells power and/or rents electrical grids to
entities whose licenses are issued by the

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

12

tenaga listrik kepada badan usaha yang


izinnya ditetapkan oleh pemerintah
kabupaten/kota;

district/city governments;

g.

penetapan izin usaha jasa penunjang tenaga


listrik bagi badan usaha yang mayoritas
sahamnya dimiliki oleh penanam modal
dalam negeri;

g.

issue power service licenses to entities


whose majority of shares is owned by
domestic investors;

h.

penetapan persetujuan penjualan kelebihan


tenaga listrik dari pemegang izin operasi
yang izinnya ditetapkan oleh pemerintah
kabupaten/kota;

h.

give approval for excess power sale to


operating license holders whose licenses
issued by the district/city governments;

i.

penetapan izin pemanfaatan jaringan tenaga


listrik untuk kepentingan telekomunikasi,
multimedia, dan informatika pada jaringan
milik pemegang izin usaha penyediaan
tenaga listrik atau izin operasi yang
ditetapkan oleh pemerintah kabupaten/kota;

i.

issue electrical grid utilization licenses in


the interest of telecommunications,
multimedia, and informatics to grids owned
by
district/city
government-appointed
power supply license holders or district/city
government-appointed operating license
holders;

j.

pembinaan dan pengawasan kepada badan


usaha di bidang ketenagalistrikan yang
izinnya ditetapkan oleh pemerintah
kabupaten/kota;

j.

direct and supervise entities engaged in the


field of electricity whose licenses issued by
the district/city governments;

k.

pengangkatan inspektur ketenagalistrikan


untuk kabupaten/kota; dan

k.

appoint district/city electricity inspector(s);


and

l.

penetapan sanksi administratif kepada


badan usaha yang izinnya ditetapkan oleh
pemerintah kabupaten/kota.

l.

impose administrative sanctions on entities


whose licenses issued by the district/city
governments.

BAB V
PEMANFAATAN SUMBER ENERGI PRIMER
Pasal 6

CHAPTER V
BENEFICIAL USE OF PRIMARY ENERGY
SOURCES
Article 6

(1) Sumber energi primer yang terdapat di dalam (1) Primary energy sources domestically available
negeri dan/atau berasal dari luar negeri harus
and/or imported/coming from abroad must be
dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan
beneficially used in an optimum manner within
kebijakan energi nasional untuk menjamin
the national energy policy to enable guarantee of
penyediaan tenaga listrik yang berkelanjutan.
the sustainable power supplies.
(2) Pemanfaatan sumber energi primer sebagaimana (2) Beneficial use of primary energy sources as
dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan
intended by section (1) must be made while
dengan mengutamakan sumber energi baru dan
giving precedence over new energy and
energi terbarukan.
renewable energy sources.
Penjelasan Pasal 6 Ayat (2):
Sumber energi baru dan energi terbarukan
dimanfaatkan
dengan
tetap
memperhatikan
keekonomiannya

(3) Pemanfaatan

sumber

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

energi

primer

Elucidation of Article 6 Section (2):


New energy and renewable energy sources shall be
beneficially used with due regard to their economies.

yang (3) Beneficial use of primary energy sources


13

terdapat di dalam negeri sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) diutamakan untuk kepentingan
ketenagalistrikan nasional.

domestically available as intended by section (1)


shall be given precedence in the interest of
national electricity.

BAB VI
RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN
Pasal 7

CHAPTER VI
GENERAL ELECTRICITY PLAN
Article 7

(1) Rencana umum ketenagalistrikan nasional (1) General electricity plan shall be prepared under
disusun berdasarkan pada kebijakan energi
the national energy policy and adopted by the
nasional dan ditetapkan oleh Pemerintah setelah
Government upon consultation with the House
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat
of Representatives of the Republic of Indonesia.
Republik Indonesia.
Elucidation of Article 7 Section (1):
National energy policy means national energy
policy as intended by Law concerning Energy.

Penjelasan Pasal Pasal 7 Ayat (1):


Yang dimaksud dengan kebijakan energi nasional
adalah kebijakan energi nasional sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang tentang Energi

(2) Rencana umum ketenagalistrikan nasional (2) General electricity plan as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
(1) shall be prepared in which the regional
dengan mengikutsertakan pemerintah daerah.
governments are involved.
(3) Rencana umum ketenagalistrikan daerah (3) Regional general electricity plan shall be
disusun berdasarkan pada rencana umum
prepared under the national general electricity
ketenagalistrikan nasional dan ditetapkan oleh
plan and adopted by the regional governments
pemerintah daerah setelah berkonsultasi dengan
upon consultation with the Regional House of
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Representatives.
(4) Pedoman
penyusunan
rencana
umum (4) Guidelines to preparation of general electricity
ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada
plan as intended by section (1) and section (3)
ayat (1) dan ayat (3) ditetapkan oleh Menteri.
shall be issued by the Minister.
BAB VII
USAHA KETENAGALISTRIKAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 8

CHAPTER VII
ELECTRICITY BUSINESS
Part One
General
Article 8

Usaha ketenagalistrikan terdiri atas:

Electricity business shall include:

a.

usaha penyediaan tenaga listrik; dan

a.

power supply business; and

b.

usaha penunjang tenaga listrik.

b.

power support business.

Bagian Kedua
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
Pasal 9

Part Two
Power Supply Business
Article 9

Usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana Power supply business as intended by Article 8 shall
dimaksud dalam Pasal 8 huruf a terdiri atas:
include:
a.

usaha penyediaan tenaga


kepentingan umum; dan

listrik

untuk a.

public power supply business; and

b.

usaha

listrik

untuk b.

captive power supply business.

penyediaan

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

tenaga

14

kepentingan sendiri.
Pasal 10

Article 10

(1) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk (1) Public power supply business as intended by
kepentingan umum sebagaimana dimaksud
Article 9 item (a) shall include the following
dalam Pasal 9 huruf a meliputi jenis usaha:
types of business:
a.

pembangkitan tenaga listrik;

a.

power generation;

b.

transmisi tenaga listrik;

b.

power transmission;

c.

distribusi tenaga listrik; dan/atau

c.

power distribution; and

d.

penjualan tenaga listrik.

d.

power sale.

(2) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk (2) Public power supply business as intended by
kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada
section (1) may be conducted in an integrated
ayat (1) dapat dilakukan secara terintegrasi.
manner.
(3) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk (3) Public power supply business as intended by
kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada
section (2) shall be conducted by 1 (one) entity
ayat (2) dilakukan oleh 1 (satu) badan usaha
within 1 (one) business area.
dalam 1 (satu) wilayah usaha.
(4) Pembatasan wilayah usaha sebagaimana (4) Limited business areas as intended by section
dimaksud pada ayat (3) juga berlaku untuk
(3) shall also apply to public power supply
usaha penyediaan tenaga listrik untuk
business limited to only power distribution
kepentingan umum yang hanya meliputi
and/or power sale.
distribusi tenaga listrik dan/atau penjualan
tenaga listrik.
(5) Wilayah usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (5) Business areas as intended by section (3) and
(3) dan ayat (4) ditetapkan oleh Pemerintah.
section (4) shall be determined by the
Government.
Penjelasan Pasal 10 Ayat (5):
Wilayah usaha bukan merupakan
administrasi pemerintahan.

wilayah

Pasal 11

Elucidation of Article 10 Section (5):


A business area shall not be an administrative area
of the government.

Article 11

(1) Usaha penyediaan tenaga listrik untuk (1) Public power supply business as intended by
kepentingan umum sebagaimana dimaksud
Article 10 section (1) shall be conducted by
dalam Pasal 10 ayat (1) dilaksanakan oleh badan
state-owned entities, region-owned entities,
usaha milik negara, badan usaha milik daerah,
private entities, cooperatives, and self-reliant
badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya
communities engaged in the field of power
masyarakat yang berusaha di bidang penyediaan
supplies.
tenaga listrik.
(2) Badan usaha milik negara sebagaimana (2) State-owned entities as intended by section (1)
dimaksud pada ayat (1) diberi prioritas pertama
shall receive first priority to conduct public
melakukan usaha penyediaan tenaga listrik
power supply business.
untuk kepentingan umum.
Penjelasan Pasal 11 Ayat (2):
Pemberian prioritas kepada badan usaha milik

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Elucidation of Article 11 Section (2):


Priority to state-owned entities constitutes the
15

negara merupakan perwujudan penguasaan negara


terhadap penyediaan tenaga listrik.
Badan usaha milik negara adalah badan usaha yang
semata-mata berusaha di bidang penyediaan tenaga
listrik

embodiment of the control of the state over power


supplies.
State-owned entities shall be entities that are solely
engaged in the field of power supplies.

(3) Untuk wilayah yang belum mendapatkan (3) The competent Government or regional
governments shall allow opportunities to regionpelayanan tenaga listrik, Pemerintah atau
owned entities, private entities, or cooperatives
pemerintah daerah sesuai kewenangannya
to conduct integrated power supply business in
memberi kesempatan kepada badan usaha milik
areas where power service is not yet provided.
daerah, badan usaha swasta, atau koperasi
sebagai penyelenggara usaha penyediaan tenaga
listrik terintegrasi.
(4) Dalam hal tidak ada badan usaha milik daerah, (4) Where no region-owned entities, private entities,
badan usaha swasta, atau koperasi yang dapat
or cooperatives are able to supply power in
menyediakan tenaga listrik di wilayah tersebut,
those areas, the Government must commission a
Pemerintah wajib menugasi badan usaha milik
state-own entity(ies) to supply power.
negara untuk menyediakan tenaga listrik.
Pasal 12

Article 12

Usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan Captive power supply business as intended by
sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b Article 9 item (b) shall include:
meliputi:
a.

pembangkitan tenaga listrik;

a.

power generation;

b.

pembangkitan tenaga listrik dan distribusi b.


tenaga listrik; atau

power generation and power distribution; or

c.

pembangkitan tenaga listrik, transmisi tenaga c.


listrik, dan distribusi tenaga listrik.

power generation, power transmission, and


power distribution.

Pasal 13

Article 13

Usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan


sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dapat
dilaksanakan oleh instansi pemerintah, pemerintah
daerah, badan usaha milik negara, badan usaha milik
daerah, badan usaha swasta, koperasi, perseorangan,
dan lembaga/badan usaha lainnya.

Captive power supply business as intended by


Article 12 may be conducted by government
agencies, the regional governments, state-owned
entities, region-owned entities, private entities,
cooperatives, sole proprietorships, and other
institutions/entities.

Penjelasan Pasal 13:


Yang dimaksud dengan kepentingan sendiri
adalah penyediaan tenaga listrik untuk digunakan
sendiri dan tidak untuk diperjualbelikan.
Yang dimaksud dengan lembaga/badan usaha
lainnya adalah perwakilan lembaga asing atau
badan usaha asing

Elucidation of Article 13:


Captive power supply means power supply for own
consumption, not for trade.

Pasal 14

Other institutions/entities means representatives of


foreign institutions or foreign entities.

Article 14

Ketentuan lebih lanjut mengenai usaha penyediaan Ancillary provisions on power supply business as
tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 intended by Article 9 through Article 13 shall be
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

16

sampai dengan Pasal 13 diatur dengan Peraturan governed by Regulation of the Government.
Pemerintah.
Bagian Ketiga
Usaha Penunjang Tenaga Listrik
Pasal 15

Part Three
Power Support Business
Article 15

Usaha penunjang tenaga listrik sebagaimana Power support business as intended by Article 8 item
dimaksud dalam Pasal 8 huruf b terdiri atas:
(b) shall include:
a.

usaha jasa penunjang tenaga listrik; dan

a.

power service business; and

b.

usaha industri penunjang tenaga listrik.

b.

power industry business.

Pasal 16

Article 16

(1) Usaha
jasa
penunjang
tenaga
listrik (1) Power service business as intended by Article
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a
15 item (a) shall include:
meliputi:
a.

konsultansi
dalam
bidang
penyediaan tenaga listrik;

instalasi

a.

power supply installation consultancy;

b.

pembangunan dan pemasangan instalasi


penyediaan tenaga listrik;

b.

power supply installation construction and


performance;

c.

pemeriksaan dan pengujian instalasi tenaga


listrik;

c.

power installation checking and testing;

d.

pengoperasian instalasi tenaga listrik;

d.

power installation operation;

e.

pemeliharaan instalasi tenaga listrik;

e.

power installation maintenance;

f.

penelitian dan pengembangan;

f.

research and development;

g.

pendidikan dan pelatihan;

g.

education and training;

h.

laboratorium pengujian
pemanfaat tenaga listrik;

dan

h.

power tools and equipment laboratory


testing;

i.

sertifikasi peralatan dan pemanfaat tenaga


listrik;

i.

power tools and equipment certification;

j.

sertifikasi kompetensi
ketenagalistrikan; atau

teknik

j.

electricity
technician
certification; or

k.

usaha jasa lain yang secara langsung


berkaitan dengan penyediaan tenaga listrik.

j.

other service business directly associated


with power supplies.

peralatan

tenaga

competency

(2) Usaha
jasa
penunjang
tenaga
listrik (2) Power service business as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(1) shall be conducted by state-owned entities,
dilaksanakan oleh badan usaha milik negara,
region-owned entities, private entities, and
badan usaha milik daerah, badan usaha swasta,
cooperatives with certification, classification,
dan koperasi yang memiliki sertifikasi,
and qualification under provisions of laws and
klasifikasi, dan kualifikasi sesuai dengan
regulations.
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Badan usaha milik negara, badan usaha milik (3) In the conduct of power service business, statedaerah, badan usaha swasta, dan koperasi dalam
owned entities, region-owned entities, private
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

17

melakukan usaha jasa penunjang tenaga listrik


wajib mengutamakan produk dan potensi dalam
negeri.

entities, and cooperatives must give precedence


over domestic products and potential.

Penjelasan Pasal 16 Ayat (3):


Penggunaan produk dan potensi luar negeri dapat
digunakan apabila produk dan potensi dalam negeri
tidak tersedia.

Elucidation of Article 16 Section (3):


Foreign products and potential may be in use if no
domestic products and potential are available.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi, (4) Ancillary


provisions
on
certification,
klasifikasi, dan kualifikasi usaha jasa penunjang
classification, and qualification of power service
tenaga listrik diatur dengan Peraturan
business shall be governed by Regulation of the
Pemerintah.
Government.
Pasal 17

Article 17

(1) Usaha industri penunjang tenaga listrik (1) Power industry business as intended by Article
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b
15 item (b) shall include:
meliputi:
a.

usaha industri peralatan tenaga listrik;


dan/atau

a.

power tools industry business; and/or

b.

usaha industri pemanfaat tenaga listrik.

b.

power equipment industry business.

(2) Usaha industri penunjang tenaga listrik (2) Power industry business as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(1) shall be conducted by state-owned entities,
dilaksanakan oleh badan usaha milik negara,
region-owned entities, private entities, and
badan usaha milik daerah, badan usaha swasta,
cooperatives.
dan koperasi.
(3) Badan usaha milik negara, badan usaha milik (3) In the conduct of power industry business, statedaerah, badan usaha swasta, dan koperasi dalam
owned entities, region-owned entities, private
melakukan usaha industri penunjang tenaga
entities, and cooperatives must give precedence
listrik wajib mengutamakan produk dan potensi
over domestic products and potential.
dalam negeri.
Penjelasan Pasal 17 Ayat (3):
Penggunaan produk dan potensi luar negeri dapat
digunakan apabila produk dan potensi dalam negeri
tidak tersedia.

Elucidation of Article 17 Section (3):


Foreign products and potential may be in use if no
domestic products and potential are available.

(4) Kegiatan usaha industri penunjang tenaga listrik (4) Power industry business activities as intended
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
by section (1) shall be performed under
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
provisions of laws and regulations.
perundang-undangan.
BAB VIII
PERIZINAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 18

CHPATER VIII
LICENSING
Part One
General
Article 18

Usaha penyediaan tenaga listrik dan usaha Power supply business and power support business
penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud as intended by Article 8 shall be conducted upon
dalam Pasal 8 dilaksanakan setelah mendapatkan receipt of business licenses.
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

18

izin usaha.
Bagian Kedua
Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan Izin
Operasi
Pasal 19

Part Two
Power Supply Licenses and Operating Licenses
Article 19

(1) Izin usaha untuk menyediakan tenaga listrik (1) A license under which to supply power shall
terdiri atas:
include:
a.

Izin usaha penyediaan tenaga listrik; dan

a.

A power supply license; and

b.

Izin operasi.

b.

An operating license.

(2) Setiap
orang
yang
menyelenggarakan (2) Any person to engage in public power supply
penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan
must hold a power supply license.
umum wajib memiliki izin usaha penyediaan
tenaga listrik.
Pasal 20

Article 20

Izin usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a ditetapkan
sesuai dengan jenis usahanya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 ayat (1).

A power supply license as intended by Article 19


section (1) item (a) shall be issued subject to the
types of business as intended by Article 10 section
(1).

Pasal 21

Article 21

Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan The competent Government or regional governments
kewenangannya menetapkan izin usaha penyediaan shall issue power supply licenses.
tenaga listrik.
Penjelasan Pasal 21:
Dalam penetapan izin, Pemerintah atau pemerintah
daerah
memperhatikan
kemampuan
dalam
penyediaan tenaga listrik pemegang izin usaha
penyediaan tenaga listrik yang memiliki wilayah
usaha setempat.
Izin usaha penyediaan tenaga listrik memuat, antara
lain, nama dan alamat badan usaha, jenis usaha
yang diberikan, kewajiban dalam penyelenggaraan
usaha, syarat teknis, dan ketentuan sanksi.

Elucidation of Article 21:


In the issue of licenses, the Government or the
regional governments shall have due regard to the
power supply capability of the power supply license
holders in possession of the local business area.
A power supply license shall contain, inter alia, the
name and address of the entity, the type of business
granted, obligations of the conduct of business,
technical requirements, and sanctions.

Pasal 22

Article 22

Izin operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19


ayat (1) huruf b diwajibkan untuk pembangkit tenaga
listrik dengan kapasitas tertentu yang diatur dengan
Peraturan Menteri.

Operating licenses as intended by Article 19 section


(1) item (b) shall be issued to power generators with
specified capacity as governed by Regulation of the
Minister.

Pasal 23

Article 23

(1) Izin operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal (1) Operating licenses as intended by Article 22
22 ditetapkan oleh Pemerintah atau pemerintah
shall be issued by the competent Government or
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

19

daerah sesuai dengan kewenangannya.

regional governments.

(2) Izin operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Operating licenses as intended by section (1)
(1) ditetapkan setelah memenuhi persyaratan
shall be issued upon meeting the administrative,
administratif, teknis, dan lingkungan.
technical, and environmental requirements.
(3) Pemegang izin operasi dapat menjual kelebihan (3) Operating license holders may sell excess power
tenaga listrik untuk dimanfaatkan bagi
for the benefit of public interest upon receipt of
kepentingan
umum
setelah
mendapat
approval from the competent Government or
persetujuan dari Pemerintah atau pemerintah
regional governments.
daerah sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 24

Article 24

Ketentuan lebih lanjut mengenai izin usaha Ancillary provisions on power supply licenses and
penyediaan tenaga listrik dan izin operasi diatur operating licenses shall be governed by Regulation
dengan Peraturan Pemerintah.
of the Government.
Bagian Ketiga
Izin Usaha Penunjang Tenaga Listrik
Pasal 25

Part Three
Power Support Licenses
Article 25

(1) Usaha
jasa
penunjang
tenaga
listrik (1) Power service business as intended by Article
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a
15 item (a) and Article 16 section (2) shall be
dan Pasal 16 ayat (2) dilaksanakan setelah
conducted upon receipt of power service
mendapatkan izin usaha jasa penunjang tenaga
licenses from the competent Government or
listrik dari Pemerintah atau pemerintah daerah
regional governments.
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Penetapan izin usaha jasa penunjang tenaga (2) Power service licenses and power industry
listrik dan izin usaha industri penunjang tenaga
licenses shall be issued under the provisions of
listrik dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
laws and regulations.
peraturan perundang-undangan.
Pasal 26

Article 26

Ketentuan lebih lanjut mengenai izin usaha jasa Ancillary provisions on power service licenses shall
penunjang tenaga listrik diatur dengan Peraturan be governed by Regulation of the Government.
Pemerintah.
Bagian Keempat
Hak dan Kewajiban Pemegang Izin Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik
Pasal 27

Part Four
Rights and Obligations of Power Supply License
Holders
Article 27

(1) Untuk kepentingan umum, pemegang izin usaha (1) In the conduct of power supply business as
penyediaan tenaga listrik dalam melaksanakan
intended by Article 10 section (1) power supply
usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana
license holders shall in the public interest be
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) berhak untuk:
entitled to:
a.

melintasi sungai atau danau baik di atas


maupun di bawah permukaan;

a.

cross rivers or lakes either above or below


the surface;

b.

melintasi laut baik di atas maupun di bawah

b.

cross sea either above or below the surface;

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

20

permukaan;
c.

melintasi jalan umum dan jalan kereta api;

c.

cross public roads and railway;

d.

masuk ke tempat umum atau perorangan


dan menggunakannya untuk sementara
waktu;

d.

have access to public places or private


places and use them temporarily;

e.

menggunakan tanah dan melintas di atas


atau di bawah tanah;

e.

use land and


underground;

f.

melintas di atas atau di bawah bangunan


yang dibangun di atas atau di bawah tanah;
dan

f.

cross over or below buildings built on land


or underground;

g.

memotong dan/atau menebang tanaman


yang menghalanginya.

g.

cut and/or fell obstructing plants.

cross

over

land

or

(2) Dalam pelaksanaan kegiatan sebagaimana (2) In the performance of activities as intended by
dimaksud pada ayat (1), pemegang izin usaha
section (1), power supply license holders must
penyediaan
tenaga
listrik
harus
exercise them under laws and regulations.
melaksanakannya
berdasarkan
peraturan
perundang-undangan.
Pasal 28

Article 28

Pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik Power supply license holders must:
wajib:
a.

menyediakan tenaga listrik yang memenuhi a.


standar mutu dan keandalan yang berlaku;

make available power that meets the prevailing


quality and reliability standard;

b.

memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya b.


kepada konsumen dan masyarakat;

provide as good service as possible to


consumers and the public;

c.

memenuhi
ketentuan
ketenagalistrikan; dan

meet the electricity safety requirements; and

d.

mengutamakan produk dan potensi dalam d.


negeri.

give precedence over domestic products and


potential.

Penjelasan Pasal 28 Huruf (d):


Penggunaan produk dan potensi luar negeri dapat
digunakan apabila produk dan potensi dalam negeri
tidak tersedia.

Elucidation of Article 28 (d):


Foreign products and potential may be in use if no
domestic products and potential are available.

keselamatan c.

Bagian Kelima
Hak dan Kewajiban Konsumen
Pasal 29
(1) Konsumen berhak untuk:

Part Five
Consumer Rights and Obligations
Article 29
(1) Consumers shall have the rights to:

a.

mendapat pelayanan yang baik;

a.

receive good services;

b.

mendapat tenaga listrik secara terusmenerus dengan mutu dan keandalan yang
baik;

b.

have continuous access to power at good


quality and reliability;

c.

memperoleh tenaga listrik yang menjadi

c.

have access to power as of right at fair

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

21

haknya dengan harga yang wajar;

price;

d.

mendapat pelayanan untuk perbaikan


apabila ada gangguan tenaga listrik; dan

d.

receive repair services in case of electrical


faults; and

e.

mendapat ganti rugi apabila terjadi


pemadaman yang diakibatkan kesalahan
dan/atau kelalaian pengoperasian oleh
pemegang izin usaha penyediaan tenaga
listrik sesuai syarat yang diatur dalam
perjanjian jual beli tenaga listrik.

e.

recover damages in case of outage/failure


through operating error and/or neglect by
power supply license holders under the
terms governed in a power sale/purchase
agreement.

(2) Konsumen wajib:

(2) Consumers must:

a.

melaksanakan
pengamanan
terhadap
bahaya yang mungkin timbul akibat
pemanfaatan tenaga listrik;

a.

secure against any danger that may arise


from the use of power;

b.

menjaga keamanan instalasi tenaga listrik


milik konsumen;

b.

protect the security of consumer power


installations;

Penjelasan Pasal 29 Ayat (2) Huruf b:


Yang dimaksud dengan instalasi tenaga listrik
milik konsumen adalah instalasi tenaga listrik
setelah alat pengukur atau alat pembatas
penggunaan tenaga listrik.

Elucidation of Article 29 Section (2) (b):


Consumer power installations means power
installations following the installations of electric
meters or load limit controllers.

c.

memanfaatkan tenaga listrik sesuai dengan


peruntukannya;

c.

use power within its allocation;

d.

membayar tagihan pemakaian tenaga listrik;


dan

d.

pay electric bills; and

e.

menaati persyaratan
ketenagalistrikan.

e.

observe
the
requirements.

teknis

di

bidang

electricity

technical

(3) Konsumen bertanggung jawab apabila karena (3) Consumers shall be responsible for their
kelalaiannya mengakibatkan kerugian pemegang
negligence resulting in losses to power supply
izin usaha penyediaan tenaga listrik.
license holders.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung (4) Ancillary provisions on consumer responsibility
jawab konsumen sebagaimana dimaksud pada
as intended by section (3) shall be governed by
ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
Regulation of the Minister.
BAB IX
PENGGUNAAN TANAH
Pasal 30

CHAPTER IX
USE OF LAND
Article 30

(1) Penggunaan tanah oleh pemegang izin usaha (1) Use of land by power supply license holders as
penyediaan tenaga listrik untuk melaksanakan
of right as intended by Article 27 shall require
haknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
payment of damages with respect to land title or
dilakukan dengan memberikan ganti rugi hak
compensation to land, building, and plant title
atas tanah atau kompensasi kepada pemegang
holders under provisions of laws and
hak atas tanah, bangunan, dan tanaman sesuai
regulations.
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Ganti

rugi

hak

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

atas

tanah

sebagaimana (2) Damages with respect to land title as intended


22

dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk tanah


yang dipergunakan secara langsung oleh
pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik
dan bangunan serta tanaman di atas tanah.

by section (1) shall be paid for land that is


directly used by power supply license holders
and for buildings and plants related to land.

Penjelasan Pasal 30 Ayat (2):


Ganti rugi hak atas tanah termasuk untuk sisa tanah
yang tidak dapat digunakan oleh pemegang hak
sebagai akibat dari penggunaan sebagian tanahnya
oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik.
Yang dimaksud dengan secara langsung adalah
penggunaan tanah untuk pembangunan instalasi
tenaga listrik, antara lain, pembangkitan, gardu
induk, dan tapak menara transmisi.

Elucidation of Article 30 Section (2):


Damages with respect to land title shall include the
remaining land the title holders cannot use as result
of partial use of land by power supply license
holders.
Directly means the use of land for the
construction of power installations, inter alia,
generation, electrical substations, and electricity
pylon sites.

(3) Kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Compensation as intended by section (1) shall
(1) diberikan untuk penggunaan tanah secara
be made for the indirect use of land by power
tidak langsung oleh pemegang izin usaha
supply license holders who results in
penyediaan tenaga listrik yang mengakibatkan
depreciation of economic value of land,
berkurangnya nilai ekonomis atas tanah,
buildings, and plant over which electricity
bangunan, dan tanaman yang dilintasi transmisi
pylons cross.
tenaga listrik.
Penjelasan Pasal 30 Ayat (3):
Secara tidak langsung dalam ketentuan ini antara
lain penggunaan tanah untuk lintasan jalur
transmisi.

Elucidation of Article 30 Section (3):


Indirect use in this provision includes, inter alia,
the use of land over which transmission lines cross.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai perhitungan (4) Ancillary provisions on calculation of
kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat
compensation as intended by section (3) shall be
(3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
governed by Regulation of the Government.
(5) Dalam hal tanah yang digunakan pemegang izin (5) Where power supply license holders use land,
usaha penyediaan tenaga listrik terdapat bagianthe parcels of which are possessed by land title
bagian tanah yang dikuasai oleh pemegang hak
holders or state land users, power supply license
atas tanah atau pemakai tanah negara, sebelum
holders must prior to commencing any activities
memulai kegiatan, pemegang izin usaha
solve the land problem under provisions of land
penyediaan tenaga listrik wajib menyelesaikan
laws and regulations.
masalah tanah tersebut sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang
pertanahan.
(6) Dalam hal tanah yang digunakan pemegang izin (6) Where power supply license holders use land,
usaha penyediaan tenaga listrik terdapat tanah
the partial area of which is communal land, any
ulayat, penyelesaiannya dilakukan berdasarkan
solution thereto shall be achieved under
peraturan perundang-undangan di bidang
provisions of land laws and regulations subject
pertanahan dengan memperhatikan ketentuan
to the local customary law.
hukum adat setempat.
Pasal 31

Article 31

Kewajiban untuk memberi ganti rugi hak atas tanah


atau kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 ayat (1) tidak berlaku terhadap setiap orang yang
sengaja mendirikan bangunan, menanam tanaman,
dan lain-lain di atas tanah yang sudah memiliki izin

Obligations to pay damages with respect to land title


or compensation as intended by Article 30 section
(1) shall not apply to any person by whom building
are erected, plants are planted with willfulness, etc.
on land already with a location permit for power

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

23

lokasi untuk usaha penyediaan tenaga listrik dan supply business and to whom damages or
sudah diberikan ganti rugi hak atas tanah atau compensation with respect to land title are already
kompensasi.
paid.
Pasal 32

Article 32

(1) Penetapan dan tata cara pembayaran ganti rugi (1) Valuation of and procedures for payment of
hak atas tanah atau kompensasi sebagaimana
damages with respect to land title or
dimaksud dalam Pasal 30 dilakukan sesuai
compensation as intended by Article 30 shall be
dengan ketentuan peraturan perundangconducted under provisions of laws and
undangan.
regulations.
(2) Ganti rugi hak atas tanah atau kompensasi (2) Damages with respect to land title or
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
compensation as intended by Article 30 shall be
dibebankan kepada pemegang izin usaha
for the account of power supply license holders.
penyediaan tenaga listrik.
BAB X
HARGA JUAL, SEWA JARINGAN, DAN TARIF
TENAGA LISTRIK
Bagian Kesatu
Harga Jual Tenaga Listrik dan Sewa Jaringan
Tenaga Listrik
Pasal 33

CHAPTER X
POWER SALES PRICES, ELECTRICAL GRID
RENT PRICES, AND TARIFFS
Part One
Power Sales Prices and Electrical Grid Rent Prices
Article 33

(1) Harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan (1) Power sales prices and electrical grid rent prices
tenaga listrik ditetapkan berdasarkan prinsip
shall be set under the principle of sound
usaha yang sehat.
business.
Penjelasan Pasal 33Ayat (1):
Pengertian harga jual tenaga listrik meliputi semua
biaya yang berkaitan dengan penjualan tenaga
listrik dari pembangkit tenaga listrik.
Pengertian harga sewa jaringan tenaga listrik
meliputi semua biaya yang berkaitan dengan
penyewaan jaringan transmisi dan/atau distribusi
tenaga listrik.

Elucidation of Article 33 Section (1):


Power sales price includes all costs in connection
with power sale by power generators.
Electrical grid rent price includes all costs
associated with power transmission and/or
distribution grid rent.

(2) Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai (2) The competent Government or regional
dengan
kewenangannya
memberikan
governments shall give approval for power sales
persetujuan atas harga jual tenaga listrik dan
prices and electrical grid rent prices.
sewa jaringan tenaga listrik.
Penjelasan Pasal 33Ayat (2):
Dalam menetapkan persetujuan harga jual tenaga
listrik dan sewa jaringan tenaga listrik, Pemerintah
atau
pemerintah
daerah
memperhatikan
kesepakatan di antara badan usaha.

Elucidation of Article 33 Section (2):


In giving approval for power sales prices and
electrical grid rent prices, the Government or the
regional governments shall have due regard to
agreement among entities.

(3) Pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik (3) At no time shall power supply license holders
dilarang menerapkan harga jual tenaga listrik
charge power sales prices and electrical grid rent
dan sewa jaringan tenaga listrik tanpa
prices without approval of the Government or
persetujuan Pemerintah atau pemerintah daerah.
the regional governments.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

24

Bagian Kedua
Tarif Tenaga Listrik
Pasal 34

Part Two
Power Tariffs
Article 34

(1) Pemerintah sesuai dengan kewenangannya (1) The competent Government shall set consumer
menetapkan tarif tenaga listrik untuk konsumen
power tariffs upon consent of the House of
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Representatives of the Republic of Indonesia.
Republik Indonesia.
Penjelasan Pasal 34 Ayat (1):
Tarif tenaga listrik untuk konsumen meliputi semua
biaya yang berkaitan dengan pemakaian tenaga
listrik oleh konsumen, antara lain, biaya beban
(Rp/kVA) dan biaya pemakaian (Rp/kWh), biaya
pemakaian daya reaktif (Rp/kVArh), dan/atau biaya
kVA maksimum yang dibayar berdasarkan harga
langganan (Rp/bulan) sesuai dengan batasan daya
yang dipakai atau bentuk lainnya.

Elucidation of Article 34 Section (1):


Consumer power tariffs include all costs to which
consumer power consumption relates, inter alia, fees
(Rp/kVA) and billing charges (Rp/kWh), reactive
power billing charges (Rp/kVArh), and/or maximum
kVA fees paid at subscription rates (Rp/month)
within the power limits consumed or other forms.

(2) Pemerintah
daerah
sesuai
dengan (2) The competent regional governments shall set
kewenangannya menetapkan tarif tenaga listrik
consumer power tariffs upon consent of the
untuk konsumen dengan persetujuan Dewan
Regional House of Representatives under
Perwakilan Rakyat Daerah berdasarkan
guidelines adopted by the Government.
pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah.
(3) Dalam hal pemerintah daerah tidak dapat (3) Where the regional governments are unable to
menetapkan tarif tenaga listrik sebagaimana
set power tariffs as intended by section (2), the
dimaksud pada ayat (2), Pemerintah menetapkan
Government shall set power tariffs for said
tarif tenaga listrik untuk daerah tersebut dengan
regions upon consent of the House of
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Representatives of the Republic of Indonesia.
Indonesia.
(4) Tarif
tenaga
listrik
untuk
konsumen (4) Consumer power tariffs as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
(1), section (2), and section (3) shall be set with
dan ayat (3) ditetapkan dengan memperhatikan
due regard to the balanced interests of nation,
keseimbangan kepentingan nasional, daerah,
regions, consumers, and power supply business
konsumen, dan pelaku usaha penyediaan tenaga
actors.
listrik.
Penjelasan Pasal 34 Ayat (4):
Kepentingan daerah mencakup, antara lain,
pembangunan ekonomi dan industri di daerah.

Elucidation of Article 34 Section (4):


The interest of regions includes, inter alia,
economic and industrial development in regions.

(5) Tarif
tenaga
listrik
untuk
konsumen (5) Any region within one business area may vary
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
in consumer power tariffs as intended by section
(2) dapat ditetapkan secara berbeda di setiap
(1) and section (2).
daerah dalam suatu wilayah usaha.
Pasal 35

Article 35

Pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik


dilarang menerapkan tarif tenaga listrik untuk
konsumen yang tidak sesuai dengan penetapan
Pemerintah atau pemerintah daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34.

At no time shall power supply license holders charge


consumer power tariffs other than in accordance
with tariffs set by the Government or the regional
governments as intended by Article 34.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

25

Pasal 36

Article 36

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan


harga jual, sewa jaringan, dan tarif tenaga listrik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Ancillary provisions on procedures for power sale


and grid rent pricing, and power tariff as intended by
Article 33 and Article 34 shall be governed by
Regulation of the Government.

Bagian Ketiga
Jual Beli Tenaga Listrik Lintas Negara
Pasal 37

Part Three
Cross-Border Electricity Trading
Article 37

Jual beli tenaga listrik lintas negara dilakukan oleh Cross-border electricity trading shall be conducted
pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik by power supply license holders under a license by
berdasarkan izin Pemerintah.
the Government.
Pasal 38

Article 38

Jual beli tenaga listrik lintas negara dapat dilakukan Cross-border electricity trading may be conducted
melalui pembelian atau penjualan tenaga listrik.
through power purchase or sale.
Pasal 39

Article 39

Pembelian tenaga listrik lintas negara sebagaimana Cross-border power purchase as intended by Article
dimaksud dalam Pasal 38 dapat dilakukan dengan 38 may be made on the following conditions:
syarat:
a.

belum terpenuhinya kebutuhan tenaga listrik a.


setempat;

local electricity needs are not yet met;

b.

hanya sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan b.


tenaga listrik setempat;

only to act as support to meet local electricity


needs;

c.

tidak merugikan kepentingan negara dan bangsa c.


yang terkait dengan kedaulatan, keamanan, dan
pembangunan ekonomi;

not adverse to the state and nation interest with


respect to sovereignty, security, and economic
development;

d.

untuk meningkatkan mutu dan


penyediaan tenaga listrik setempat;

keandalan d.

to improve the quality and reliability of local


power supply.

e.

tidak mengabaikan pengembangan kemampuan e.


penyediaan tenaga listrik dalam negeri; dan

to not disregard the development of domestic


power supply capability; and

Penjelasan Pasal 39 Huruf e:


Yang
dimaksud
dengan
pengembangan
kemampuan penyediaan tenaga listrik dalam
negeri adalah pengembangan sumber energi,
sumber daya manusia, dan teknologi.

Elucidation of Article 39 (e):


Development of domestic power supply capability
means development of energy sources, human
resources, and technology.

tidak menimbulkan ketergantungan pengadaan f.


tenaga listrik dari luar negeri.

to not raise dependence on power procurement


from abroad.

f.

Pasal 40

Article 40

Penjualan tenaga listrik lintas negara sebagaimana Cross-border power sale as intended by Article 38
dimaksud dalam Pasal 38 dapat dilakukan apabila:
shall be made if:

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

26

a.

kebutuhan tenaga listrik setempat dan wilayah a.


sekitarnya telah terpenuhi;

electricity needs of the local and surrounding


areas have been met;

b.

harga jual tenaga listrik tidak mengandung b.


subsidi; dan

power sale prices are not subsidized

c.

tidak mengganggu mutu dan


penyediaan tenaga listrik setempat.

not compromise the quality and reliability of


local power supply.

keandalan c.

Pasal 41

Article 41

Ketentuan lebih lanjut mengenai jual beli tenaga Ancillary provisions on cross-border electricity
listrik lintas negara sebagaimana dimaksud dalam trading as intended by Article 37 through Article 40
Pasal 37 sampai dengan Pasal 40 diatur dengan shall be governed by Regulation of the Government.
Peraturan Pemerintah.
BAB XI
LINGKUNGAN HIDUP DAN KETEKNIKAN
Bagian Kesatu
Lingkungan Hidup
Pasal 42

CHAPTER XI
THE ENVIRONMENT AND ENGINEERING
Part One
The Environment
Article 42

Setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib Any electricity business activities must meet the
memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam provisions as stated in the environmental laws and
peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan regulations.
hidup.
Bagian Kedua
Keteknikan
Pasal 43

Part Two
Engineering
Article 43

Keteknikan ketenagalistrikan terdiri atas:

Electricity engineering shall include:

a.

keselamatan ketenagalistrikan; dan

a.

b.

pemanfaatan jaringan tenaga listrik untuk b.


kepentingan telekomunikasi, multimedia, dan
informatika.

electricity safety, and


electrical grids utilization in the interests of
telecommunications,
multimedia,
and
informatics.

Pasal 44

Article 44

(1) Setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib (1) Any electricity business activities must meet the
memenuhi
ketentuan
keselamatan
electricity safety requirements.
ketenagalistrikan.
(2) Ketentuan
keselamatan
ketenagalistrikan (2) The electricity safety requirements as intended
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan
by section (1) shall aim at achieving condition
untuk mewujudkan kondisi:
that is:
a.

andal dan aman bagi instalasi;

a.

reliable and safe for installations;

b.

aman dari bahaya bagi manusia dan


makhluk hidup lainnya; dan

b.

safe from any danger for humans and other


living things; and

c.

ramah lingkungan.

c.

environment-friendly.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

27

(3) Ketentuan
keselamatan
ketenagalistrikan (3) The electricity safety requirements as intended
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
by section (1) shall include:
a.

pemenuhan standardisasi peralatan dan


pemanfaat tenaga listrik;

a.

to meet power
standardization;

tool

and

b.

pengamanan instalasi tenaga listrik; dan

b.

to secure power installations; and

c.

pengamanan pemanfaat tenaga listrik.

c.

to secure power equipment.

equipment

(4) Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi (4) Any power installation in operation must hold a
wajib memiliki sertifikat laik operasi.
commissioning certificate.
(5) Setiap peralatan dan pemanfaat tenaga listrik (5) Any power tool and equipment must meet the
wajib memenuhi ketentuan standar nasional
Indonesian national standard requirements.
Indonesia.
(6) Setiap
tenaga
ketenagalistrikan
kompetensi.

teknik
dalam
usaha (6) Any technician with electricity business must
wajib memiliki sertifikat
hold a competency certificate.

(7) Ketentuan
mengenai
keselamatan (7) Provisions on electricity safety, commissioning
ketenagalistrikan, sertifikat laik operasi, standar
certificates, Indonesian national standard, and
nasional Indonesia, dan sertifikat kompetensi
competency certificates as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai
(1) through section (6) shall be governed by
dengan ayat (6) diatur dengan Peraturan
Regulation of the Government.
Pemerintah.
Pasal 45

Article 45

(1) Pemanfaatan jaringan tenaga listrik untuk (1) Electrical grid utilization in the interests of
kepentingan telekomunikasi, multimedia, dan
telecommunications,
multimedia,
and
informatika hanya dapat dilakukan sepanjang
informatics may only be conducted to the extent
tidak mengganggu kelangsungan penyediaan
not affect the viability of power supplies.
tenaga listrik.
(2) Pemanfaatan
jaringan
tenaga
listrik (2) Electrical grid utilization as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya
(1) may only be conducted upon approval of
dapat dilakukan dengan persetujuan pemilik
grid owners.
jaringan.
(3) Pemanfaatan
jaringan
tenaga
listrik (3) Electrical grid utilization as intended by section
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
(1) shall be conducted upon a grid utilization
berdasarkan izin pemanfaatan jaringan yang
license that is issued by the competent
diberikan oleh Pemerintah atau pemerintah
Government or regional governments.
daerah sesuai dengan kewenangannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanfaatan (4) Ancillary provisions on electrical grid utilization
jaringan tenaga listrik sebagaimana dimaksud
as intended by section (1) and section (2) shall
pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan
be governed by Regulations of the Government.
Peraturan Pemerintah.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

28

BAB XII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 46

CHAPTER XII
DIRECTION AND SUPERVISION
Article 46

(1) Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai (1) The competent Government or regional
dengan kewenangannya melakukan pembinaan
governments shall direct and supervise power
dan pengawasan terhadap usaha penyediaan
supply business pertaining to:
tenaga listrik dalam hal:
a.

penyediaan dan pemanfaatan sumber energi


untuk pembangkit tenaga listrik;

a.

energy source supply and utilization for


power generators;

b.

pemenuhan kecukupan pasokan tenaga


listrik;

b.

fulfillment of adequate power supplies;

c.

pemenuhan persyaratan keteknikan;

c.

fulfillment of technical requirements;

d.

pemenuhan aspek perlindungan lingkungan


hidup;

d.

fulfillment of environmental protection;

e.

pengutamaan pemanfaatan barang dan jasa


dalam negeri;

e.

preferential use of domestic goods and


services;

f.

penggunaan tenaga kerja asing;

f.

employment of foreign workers;

g.

pemenuhan tingkat mutu dan keandalan


penyediaan tenaga listrik;

g.

achievement in power supply quality and


reliability levels;

h.

pemenuhan persyaratan perizinan;

h.

licensing eligibility;

i.

penerapan tarif tenaga listrik; dan

i.

power tariff charge;

j.

pemenuhan mutu jasa yang diberikan oleh


usaha penunjang tenaga listrik.

j.

achievement of quality of service provided


by power support business.

(2) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana (2) In the exercise of supervision as intended by
dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan
section (1), the Government and the regional
pemerintah daerah dapat:
governments may:
a.

melakukan
lapangan;

inspeksi

pengawasan

di

a.

conduct site inspections;

b.

meminta laporan pelaksanaan usaha di


bidang ketenagalistrikan;

b.

inquire about electricity business reports;

c.

melakukan penelitian dan evaluasi atas


laporan pelaksanaan usaha di bidang
ketenagalistrikan; dan

c.

conduct research and evaluation


electricity business reports; and

d.

memberikan sanksi administratif terhadap


pelanggaran ketentuan perizinan.

d.

impose administrative sanctions against


violation of licensing requirements.

of

(3) Dalam melaksanakan pengawasan keteknikan (3) In the exercise of engineering supervision as
sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
intended by section (1), the Government and the
Pemerintah dan pemerintah daerah dibantu oleh
regional governments shall be with the
inspektur ketenagalistrikan dan/atau Penyidik
assistance of an electricity inspector(s) and/or a
Pegawai Negeri Sipil.
Civil Servant Investigator(s).
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan (4) Ancillary provisions on direction and
pengawasan
diatur
dengan
Peraturan
supervision shall be governed by Regulation of
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

29

Pemerintah.

the Government.
BAB XIII
PENYIDIKAN
Pasal 47

CHAPTER XIII
INVESTIGATIONS
Article 47

(1) Selain Penyidik Kepolisian Negara Republik (1) In addition to Investigators of the State Police of
the Republic of Indonesia, specified Civil
Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu
Service Officials with the scope of duties and
yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
responsibilities in the field of electricity shall be
bidang ketenagalistrikan diberi wewenang
granted special authority as Investigators as
khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud
intended by the Law of Criminal Procedure to
dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana
conduct criminal investigations in the field of
untuk melakukan penyidikan tindak pidana di
electricity.
bidang ketenagalistrikan.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana (2) Civil Service Investigators as intended by
dimaksud pada ayat (1) berwenang:
section (1) shall be authorized to:
a.

melakukan pemeriksaan atas kebenaran


laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana dalam kegiatan usaha
ketenagalistrikan;

a.

make examinations of the truth of reports or


information about criminal acts in
electricity business activities;

b.

melakukan pemeriksaan terhadap setiap


orang yang diduga melakukan tindak
pidana
dalam
kegiatan
usaha
ketenagalistrikan;

b.

make examinations of any persons that are


suspected of perpetrating criminal acts in
electricity business activities;

c.

memanggil orang untuk didengar dan


diperiksa sebagai saksi atau tersangka
dalam perkara tindak pidana dalam kegiatan
usaha ketenagalistrikan;

c.

call persons to be heard and examined as


witnesses or suspects in criminal cases in
electricity business activities;

d.

menggeledah
tempat
yang
diduga
digunakan untuk melakukan tindak pidana
dalam kegiatan usaha ketenagalistrikan;

d.

search places that are suspected of being


used to perpetrate criminal acts in
electricity business activities;

e.

melakukan pemeriksaan sarana dan


prasarana kegiatan usaha ketenagalistrikan
dan menghentikan penggunaan peralatan
yang diduga digunakan untuk melakukan
tindak pidana;

e.

make examinations of facilities and


infrastructure of electricity business
activities and cease the use of equipment
that is suspected of being used to perpetrate
criminal acts;

f.

menyegel dan/atau menyita alat kegiatan


usaha ketenagalistrikan yang digunakan
untuk melakukan tindak pidana sebagai alat
bukti;

f.

seal and/or seize electricity business


activity instruments that are used to
perpetrate criminal acts as means of proof;

g.

mendatangkan tenaga ahli yang diperlukan


dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha
ketenagalistrikan; dan

g.

procure experts that are required in


connection with examinations of criminal
cases in electricity business activities and

h.

menangkap dan menahan pelaku tindak


pidana
di
bidang
ketenagalistrikan

h.

arrest and detain electricity perpetrators


under laws and regulations.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

30

berdasarkan
undangan.

peraturan

perundang-

(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana (3) Civil Service Investigators as intended by
dimaksud pada ayat (1) memberitahukan
section (1) shall inform Officials of the State
dimulainya penyidikan perkara pidana kepada
Police of the Republic of Indonesia of the
Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia
initiation of criminal case investigations under
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangprovisions of laws and regulations.
undangan.
(4) Pelaksanaan
kewenangan
sebagaimana (4) Authority as intended by section (2) shall be
dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan
exercised under provisions of laws and
ketentuan peraturan perundang-undangan.
regulations.
BAB XIV
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 48

CHAPTER XIV
ADMINISTRATIVE SANCTIONS
Article 48

(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan (1) Any person in violation of the provisions as
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3),
intended by Article 16 section (3), Article 17
Pasal 17 ayat (3), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28,
section (3), Article 27 section (2), Article 28,
Pasal 33 ayat (3), Pasal 35, Pasal 37, Pasal 42,
Article 33 section (3), Article 35, Article 37,
atau Pasal 45 ayat (3) dikenai sanksi
Article 42, or Article 45 section (3) shall be
administratif berupa:
imposed administrative sanctions through:
a.

teguran tertulis;

a.

written warning:

b.

pembekuan kegiatan sementara; dan/atau

b.

suspension; and/or

c.

pencabutan izin usaha.

c.

revocation of license.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud (2) Administrative sanctions as intended by section
pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri, gubernur,
(1) shall be effected by the competent Minister,
atau
bupati/walikota
sesuai
dengan
governors, or regents/mayors.
kewenangannya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara (3) Ancillary provisions on procedures for
pengenaan sanksi administratif sebagaimana
imposition of administrative sanctions as
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
intended by section (1) shall be governed by
Pemerintah.
Regulation of the Government.
BAB XV
KETENTUAN PIDANA
Pasal 49

CHAPTER XV
PENAL PROVISIONS
Article 49

(1) Setiap orang yang melakukan usaha penyediaan (1) Any person who conducts public power supply
tenaga listrik untuk kepentingan umum tanpa
business without a license as intended by Article
izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
19 section (2) shall be sentenced to
(2) dipidana dengan pidana penjara paling lama
imprisonment of at most 3 (three) years and a
3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
fine of at most Rp2,000,000,000.00 (two billion
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
rupiah).
(2) Setiap orang yang melakukan usaha penyediaan (2) Any person who conducts public power supply
tenaga listrik tanpa izin operasi sebagaimana
business without an operating license as
dimaksud dalam Pasal 22 dipidana dengan
intended by Article 22 shall be sentenced to
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

31

pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan


denda paling banyak Rp4.000.000.000,00
(empat miliar rupiah).

imprisonment of at most 5 (five) years and a


fine of at most Rp4,000,000,000.00 (four billion
rupiah).

(3) Setiap orang yang menjual kelebihan tenaga (3) Any person who sells excess power for the
listrik untuk dimanfaatkan bagi kepentingan
benefit of public interest without approval of the
umum tanpa persetujuan dari Pemerintah atau
Government or the regional governments as
pemerintah daerah sebagaimana dimaksud
intended by Article 23 section (3) shall be
dalam Pasal 23 ayat (3) dipidana dengan pidana
sentenced to imprisonment of at most 2 (two)
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda
years and a fine of at most Rp2,000,000,000.00
paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar
(two billion rupiah).
rupiah).
Pasal 50

Article 50

(1) Setiap orang yang tidak memenuhi keselamatan (1) Any person who fails to meet the electricity
ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam
safety as intended by Article 44 section (1)
Pasal 44 ayat (1) yang mengakibatkan matinya
resulting in death of person from power shall be
seseorang karena tenaga listrik dipidana dengan
sentenced to imprisonment of at most 10 (ten)
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
years and a fine of at most Rp500,000,000.00
dan denda paling banyak Rp500.000.000,00
(five hundred million rupiah).
(lima ratus juta rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada (2) Power supply license holders or operating
ayat (1) dilakukan oleh pemegang izin usaha
license holders who commit acts as intended by
penyediaan tenaga listrik atau pemegang izin
section (1) shall be sentenced to imprisonment
operasi dipidana dengan pidana penjara paling
of at most 10 (ten) years and a fine of at most
lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
Rp1,000,000,000.00 (one billion rupiah).
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(3) Selain pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Other than sentences as intended by section (2),
(2), pemegang izin usaha penyediaan tenaga
power supply license holders or operating
listrik atau pemegang izin operasi juga
license holders are also obligated to compensate
diwajibkan untuk memberi ganti rugi kepada
the victims in damages.
korban.
(4) Penetapan dan tata cara pembayaran ganti rugi (4) Requirements and procedures for payment in
sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
damages as intended by section (3) shall be
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
implemented under provisions of laws and
perundang-undangan.
regulations.
Pasal 51

Article 51

(1) Setiap orang yang tidak memenuhi keselamatan (1) Any person who fails to meet the electricity
safety as intended by Article 44 section (1) to
ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam
affect the viability of power supplies shall be
Pasal 44 ayat (1) sehingga mempengaruhi
sentenced to imprisonment of at most 3 (three)
kelangsungan penyediaan tenaga listrik dipidana
years and a fine of at most Rp500,000,000.00
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
(five hundred million rupiah).
tahun
dan
denda
paling
banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada (2) If an act as intended by section (1) results in
ayat (1) mengakibatkan terputusnya aliran listrik
power outage/failure to the detriment of the
sehingga merugikan masyarakat, dipidana
public shall be sentenced to imprisonment of at
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

32

dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)


tahun
dan
denda
paling
banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

most 5 (five) years and a fine of at most


Rp2,500,000,000.00 (two billion five hundred
million rupiah).

(3) Setiap orang yang menggunakan tenaga listrik (3) Any person who consumes electricity in an
unauthorized manner unlawfully shall be
yang bukan haknya secara melawan hukum
sentenced to imprisonment of at most 7 (seven)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 7
years and a fine of at most Rp2,500,000,000.00
(tujuh) tahun dan denda paling banyak
(two billion five hundred million rupiah).
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).
Pasal 52

Article 52

(1) Setiap orang yang melakukan usaha penyediaan (1) Any person engaged in power supply business
tenaga listrik yang tidak memenuhi kewajiban
not meeting obligations to the land, building,
terhadap yang berhak atas tanah, bangunan, dan
and plant title holders as intended by Article 30
tanaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
section (1) shall be sentenced to imprisonment
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
of at most 5 (five) years and a fine of at most
lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp3,000,000,000.00 (three billion rupiah)..
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Selain pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Other than sentences as intended by section (1),
(1) dapat dikenai sanksi tambahan berupa
additional sanctions of revocation of power
pencabutan izin usaha penyediaan tenaga listrik
supply license or operating license may be
atau izin operasi.
imposed.
Pasal 53

Article 53

Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha jasa


penunjang tenaga listrik tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar
rupiah).

Any person who performs power service business


activities in an unlicensed manner as intended by
Article 25 section (1) shall be sentenced to
imprisonment of at most 5 (five) years and a fine of
at most Rp2,000,000,000.00 (two billion rupiah).

Pasal 54

Article 54

(1) Setiap orang yang mengoperasikan instalasi (1) Any person who operates power installations
tenaga listrik tanpa sertifikat laik operasi
without a commissioning certificate as intended
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (4)
by Article 44 section (4) shall be sentenced to
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
imprisonment of at most 5 (five) years and a
(lima) tahun dan denda paling banyak
fine of at most Rp500,000,000.00 (five hundred
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
million rupiah).
(2) Setiap orang yang memproduksi, mengedarkan, (2) Any person who produces, distributes, or trades
in power tools and equipment other than in
atau
memperjualbelikan
peralatan
dan
accordance with the Indonesia national standard
pemanfaat tenaga listrik yang tidak sesuai
as intended by Article 44 section (5) shall be
dengan standar nasional Indonesia sebagaimana
sentenced to imprisonment of at most 5 (five)
dimaksud dalam Pasal 44 ayat (5) dipidana
years and a fine of at most Rp5,000,000,000.00
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
(five billion rupiah).
tahun
dan
denda
paling
banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

33

Pasal 55

Article 55

(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud (1) Where criminal acts as intended by Article 49
dalam Pasal 49 sampai dengan Pasal 54
through Article 54 are committed by an entity,
dilakukan oleh badan usaha, pidana dikenakan
the sentence shall be imposed on the entity
terhadap badan usaha dan/atau pengurusnya.
and/or its management.
(2) Dalam hal pidana sebagaimana dimaksud pada (2) Where the sentence as intended by section (1) is
ayat (1) dikenakan terhadap badan usaha, pidana
imposed on an entity, the sentence to be
yang dikenakan berupa denda maksimal
imposed shall be a maximum fine plus one third
ditambah sepertiganya.
of it.
BAB XVI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 56
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:

CHAPTER XVI
TRANSITIONAL PROVISIONS
Article 56
Upon this Law coming into effect:

1.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagai 1.


badan usaha milik negara yang dibentuk
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk
Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara
menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)
dianggap telah memiliki izin usaha penyediaan
tenaga listrik.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) as stateowned entity that is formed under Regulation of
the Government Number 23 of 1994 concerning
Change in the Form of Public Enterprise into
Limited Liability Company shall be deemed to
have held a power supply license.

2.

Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, 2.


Pemerintah telah melakukan penataan dan
penetapan izin usaha penyediaan tenaga listrik
kepada badan usaha milik negara sebagaimana
dimaksud pada angka 1 sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang ini.

Within a period of not exceeding 2 (two) years,


the Government shall already prepare and issue
a power supply license to state-owned entity as
intended by item 1 under the provisions of this
Law.

Penjelasan Pasal 56 Angka 2:


Penataan dimaksudkan agar badan usaha milik
negara menjadi lebih efisien dan efektif dalam
melakukan pelayanan penyediaan tenaga listrik
kepada masyarakat.

Elucidation of Article 56 (2):


The preparation aims to make state-owned entities
more efficient and effective in provision of power
supply services to the public.

3.

Izin
Usaha
Ketenagalistrikan
Untuk 3.
Kepentingan
Umum,
Izin
Usaha
Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Sendiri,
dan Izin Usaha Penunjang Tenaga Listrik yang
telah dikeluarkan berdasarkan Undang-Undang
Nomor
15
Tahun
1985
tentang
Ketenagalistrikan tetap berlaku sampai habis
masa berlakunya.

Public Power Business Licenses, Captive Power


Business Licenses, and Power Support Business
Licenses that have been issued under Law
Number 15 of 1985 concerning Electricity shall
remain valid until their expiration.

4.

Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, 4.


pelaksanaan Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk
Kepentingan
Umum,
Izin
Usaha
Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Sendiri,
dan Izin Usaha Penunjang Tenaga Listrik yang

Within a period of not exceeding 2 (two) years,


Public Power Business Licenses, Captive Power
Business Licenses, and Power Support Business
Licenses that have been issued under Law
Number 15 of 1985 concerning Electricity as

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

34

telah dikeluarkan berdasarkan Undang-Undang


Nomor
15
Tahun
1985
tentang
Ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada
angka 3 disesuaikan dengan ketentuan UndangUndang ini.
BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 57

intended by item 3 are subject to adjustment to


the provisions of this Law.

CHAPTER XVII
CONCLUDING PROVISIONS
Article 57

(1) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, (1) Upon this Law coming into effect, Law Number
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang
15 of 1985 concerning Electricity (State Gazette
Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik
of the Republic of Indonesia Number 74 of
Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan
1985, Supplement to State Gazette of the
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Republic of Indonesia Number 3317) is revoked
3317) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
and declared no longer valid.
(2) Peraturan
pelaksanaan
di
bidang (2) Ancillary regulations on electricity already
ketenagalistrikan yang telah ada berdasarkan
existing under Law Number 15 of 1985
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang
concerning Electricity shall remain valid to the
Ketenagalistrikan tetap berlaku sepanjang tidak
extent not against or not yet replaced under this
bertentangan atau belum diganti berdasarkan
Law.
Undang-Undang ini.
(3) Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini (3) Ancillary regulations to this Law must have
harus telah ditetapkan dalam waktu paling lama
been issued not longer than 1 (one) from when
1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini
this Law is promulgated.
diundangkan.
Pasal 58

Article 58

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal This Law shall take effect from the date it is
diundangkan.
promulgated.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan In order that every person may know of it, the
pengundangan
Undang-Undang
ini
dengan promulgation of this Law is ordered by placement in
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik the State Gazette of the Republic of Indonesia
Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 23 September 2009

Ratified in Jakarta
on September 23, 2009

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA,

ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

sgd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 September 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI
MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Promulgated in Jakarta
on September 23, 2009
MINISTER OF LAW AND HUMAN RIGHTS OF
THE REPUBLIC OF INDONESIA,
sgd.
ANDI MATTALATTA

35

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN


2009 NOMOR 133

STATE GAZETTE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA


NUMBER 133 OF 2009.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK


INDONESIA NOMOR 5052

SUPPLEMENT TO STATE GAZETTE OF THE REPUBLIC


OF INDONESIA NUMBER 5052

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

36