Anda di halaman 1dari 76

pa l a wa unpa d

cikatomas
k a r s t e k s k u r s i
Ekskursi Karst Cikatomas
palawa unpad - 2013
Nanang Fuadi
Fikry Rausyan
Ahmad Hevicko
Dwi Margo
Baihaqi
Eris Krismayanto
Taufk Nugraha
Ferry Hendarsin
Ronald Agusta
diterbitkan oleh humas
DP XXV PMPA PALAWA UNPAD
penyunting dan penata letak
Mirza Ahmad
foto sampul
Deni Sugandi
diizinkan untuk mengutip maupun memperbanyak dan
menyebarkan, kecuali untuk tujuan komersial
Pengantar Laporan
P
uji syukur ke hadirat Tuhan YME karena atas izinnyalah
maka rencana penelusuran gua di kawasan karst Ta-
sikmalaya dapat terwujud menjadi kegiatan yang terbilang
sukses. Seluruh tim dapat bekerjasama sejak masa persiapan
sampai dengan pasca-penelusuran.
Salawat dan salam juga kami persembahkan kepada
Nabi-Nya bersama dengan tanggungjawab yang diemban-
nya telah berhasil membawa umat manusia dari kegelapan
ke alam terang. Perihal ketiadaan cahaya para penelusur
gua sudah sangat memahaminya. Betapa tanpanya segala
sesuatu seolah menjadi hilang dalam keberadaannya. Tanpa
cahaya mustahil fotograf ada.
Tim juga memiliki kesadaran bahwa tanpa dukungan
dan doa dari seluruh anggota Palawa Unpad niscaya ren-
cana akan tinggal menjadi cerita yang tampil malu-malu
karena gagal atau belum berhasil, meski sesungguhnya kita
takhanya memerlukan cerita sukses belaka tetapi dari cerita
kegagalan pun selalu banyak yang dapat dijadikan pelajaran
berharga. Atas kesadaran itulah kami menyampaikan terima
kasih takberhingga untuk semua yang telah saudara-saudar-
aku diberikan.
Dewan Pengurus XXV memegang peran yang tidak kecil.
Saat tim harus menerima kenyataan bahwa Kang Hidayat
tidak bisa turut menelusuri gua di Tasikmalaya karena harus
memberi pelatihan arung jeram bagi para calon guide Sun-
gai Batang Merangin, atas kebijakan DP-lah sehingga Kang
Nanang diberi kesempatan bergabung bersama kami. Teri-
ma kasih atas pertimbangan dan kebijakannya.
Kegiatan ini berada di atas ide besar menyusun database
gua di kawasan Jawa Barat. Semoga langkah, yang sebetul-
nya sudah sejak lama dirintis oleh para anggota yang masuk
lebih dulu, ini dapat melanjutkan dan melanjutkan. Bukankah
kita masih meyakini pribahasa Sedikit demi sedikit lama-la-
ma menjadi bukit. Membumikan gagasan dan menyatakan-
nya dalam perbuatan. Meski sedikit merasa tidak percaya
diri saat harus menyerahkan sehimpun corat-coret selama,
dan refeksi kegiatan, di lapangan sebagai sebuah laporan
akhirnya kami beranikan juga dengan keyakinan: sejelek apa
pun toh, sejujurnya, ini adalah upaya. Baik buruk bukan kami
yang menilai. Kepada saudara yang saat ini tengah membaca
kami ucapkan terima kasih. Kritik, saran, dan segala komen-
tar terhadap laporan ini kami tunggu dan akan kami terima
dengan senang hati. Selamat membaca, semoga ada satu
dua makna atau informasi yang nyanthel dan kaharti. []
Panitia
Karst Cikatomas
W
ilayah Selatan Tasikmalaya yang terdiri atas ben-
tang karst yang luas dan secara geografs dapat
digolongkan ke dalam tiga region: Cikatomas, Sodonghilir,
dan Karangnunggal, menarik minat kami untuk mendtangin-
ya. Eksplorasi kali ini bermain di region Cikatomas. Ratusan
mulut gua ada di wilayah ini.
Survei kali ini enam gua yang ditelusuri: Gua Ciodeng,
Gua Cikaret, Gua Curug, Gua Surupan, Gua Cigerendong, dan
Gua Hulukuya yang beberapa di antaranya diduga memben-
tuk satu sistem.
Sebagian besar lorong yang ditelusuri berkarakter hor-
isontal. Hanya di Gua Cigerendong II tim menemukan dan
menelusuri lorong bertipe vertikal, serta melihat sebuah
aven di bagian tengah Gua Hulukuya.
Seluruh gua yang disurvei merupakan aliran sungai
bawah tanah. Pada Gua Ciodeng, Gua Cikaret, dan Gua Suru-
pan, reruntuhan atap gua yang menghalangi lorong sehing-
ga tidak dapat dilalui; Penelusuran Gua Curug terhenti pada
sebuah sump, sedangkan pada Gua Cigerendong I dan II
penjelajahan dihentikan oleh keterbatasan waktu dan pera-
latan teknis penelusuran gua vertikal. Lorong gua horisontal
dan gua vertikalnya masih meninggalkan pertanyaan yang
kelak akan meminta jawabnya. Hanya pada Gua Hulukuya
penelusuran tembus ke lubang mulut lainnya.
Tim survei kali ini tidak memetakan gua yang ditelusuri.
Pendokumentasian dibuat dengan peralatan fotograf dan
videograf. Selain itu kami juga membuat catatan berdasar-
kan halmenarik yang ditemukan. Perihal fotograf ditangani
oleh Ronald Agusta dan Deni Sugandi, sedangkan videograf
oleh Taufk Nugraha dan Baihaqi. Pada teknisnya penelu-
sur membagi tugas: sebagian menjadi model pemotretan
dan yang lain menangani pencahayaan. Setiap penelusuran
selalu meninggalkan tiga atau empat orang (anggota tim)
di luar gua untuk berjaga. Kerjasama tim sangat diperlukan
dalam hal ini.
Foto-foto dan footage gambar akan berguna sebagai
pembantu bagi penelusur yang akan mendeskripsikan gua
secara tertulis. Teks gambar dan tulisan akanakan diolah dan
bersinergi untuk menjadi informasi yang bermanfaat.[]
GAMBARAN UMUM KEGIATAN
P
enelusuran gua yang dilakukan bertujuan mendata
dan mendokumentasikan keberadaan dan kondisinya.
Semula direncanakan ada tiga gua yang akan disurvei namun
menimbang situasi dan kondisi lapangan, terutama setelah
tim utama bertemu dengan tim pendahulu. Tiga gua yang
semula disiapkan yaitu Gua Ciodeng, Gua Hulukuya, dan
Gua Cimaranggi. Setelah dilakukan evaluasi taktis akhirnya
disepakati untuk menyusun ulang daftar gua yang akan diek-
splorasi. Adapun gua-gua tersebut yaitu Gua Ciodeng, Gua
Cikaret, Gua Curug, Gua Surupan atau Gua Tajur, Gua Ciger-
endong, dan Gua Hulukuya.
Pendokumentasian dan pendataan yang telah dilakukan
kemudian akan diolah untuk kemudian menjadi buku.
Profil Penelusur
S
urvei speleologi ini dilakukan oleh tim yang berisi
gabungan antara Palawa Unpad dan Badan Geologi.
Semua berjumlah total 13 personal.
Palawa Unpad: Ahmad Hevicko (koordinator), Bai Haqi
(rescuer, penulis, fotografer), Margo Dwi Utomo (rescuer,
penulis, sie logistik), Ferry Hendarsin (rescuer, ahli spele-
ologi), Fikry Rausyan (rescuer, penulis, sie akomodasi, light-
man), Taufk Nugraha (rescuer, videografer), Nanang Fuadi
Sejahtera (sie logistik, penulis, rescuer, lightman), Eris Kris-
mayanto (rescuer).
Badan Geologi: Pak Ronald Agusta, Iwan, Pak Yudi, Pak
Deni, dan Pak Dudi.
Perihal jumlah personal juga terjadi perubahan. Penam-
bahan anggota tim dinilai perlu dilakukan dengan pertim-
bangan bahwa diperlukannya tim yang lebih kuat untuk
mendukung rencana pendokumentasian dan potensi ter-
jadinya kecelakaan.
Durasi Kegiatan
T
im Pendahulu mulai berangkat ke Tasikmalaya pada
Kamis menjelang siang, 29 Agustus 2013; sedangkan
Tim Utama berangkat pada Jumat pagi, 30 Agustus 2013.
Kegiatan berlangsung sampai dengan hari Minggu, 1 Sep-
tember 2013. Hampir pukul 23.00 saat anggota tim Palawa
tiba kembali di Jatinangor.
Pembiayaan
S
eluruh pembiayaan kegiatan ini dipenuhi oleh Badan
Geologi.
Lokasi Kegiatan
S
eluruh gua yang disurvei berada di Kabupaten Tasikma-
laya. Gua Ciodeng, Gua Cikaret, Gua Curug, Gua Suru-
pan, dan Gua Cigerendong berada di Kecamatan Pancaten-
gah; adapun Gua Hulukuya berada di Kecamatan Cikatomas.
[]
KRONOLOGIS harian
Jumat 30 Agustus 2013
06.00 Seluruh anggota tim berkumpul di depan gd.
Badan Geologi, kecuali Pak Yudi.
08.30 Berangkat
09.00 Parakan Muncang bertemu Pak Yudi.
09.30 Berangkat
11.30 Tiba di Salawu hujan rintik, istirahat makan siang
dan minum kopi.
13.00 Pinggir sungai, di seberang lain sebuah bukit dan
singkapan.
16.00 Sungai Cikembang pendokumentasian.
17.00 Bertemu dgn tim pendahulu (areal mulut Gua Ci-
odeng) bergerak ke basecamp.
19.00 Bersiap
20.00 Eksplorasi Gua Ciodeng
20.30 Tim keluar, lorong buntu, reruntuhan atap menu-
tupi lorong.
21.00 Tim masuk Gua Cikaret (Gua Ciodeng Belakang).
Sesaat gerimis turun.
23.30 Tim sudah keluar dan tiba di basecamp.
Sabtu 31 Agustus 2013
10.00 Bergerak ke lokasi Gua Curug.
10.30 Eksplorasi Gua Curug
11.00 Eksplorasi Gua Curug selesai. Tim terhalang sump
10 m dari lubang masuk.
12.00 Eksplorasi Gua Surupan Tajur.
15.30 Eksplorasi selesai kembali ke lapangan SD Karya
Mukti.
17.30 Eksplorasi Gua Cigerendong. Horisontal (I) dan
Vertikal (II).
20.00 Eksplorasi selesai kembali ke lapangan SD Karya
Mukti.
22.00 Tim tiba di basecamp Ds. Mekarsari.
Minggu 1 September 2013
12.00 Tiba di Dusun Katomas, Desa Cogreg.
13.00 Eksplorasi Gua Hulukuya
15.30 Eksplorasi selesai.
18.00 Kembali ke Tasikmalaya ke rumah Kang Eris.
22.30 Tiba di Palawa Unpad, Jatinangor, sebagian ang-
gota tim melanjutkan ke Bandung.[]
Hari 1
Hari/tangggal: Jumat, 30
Agustus 2013
Nama gua: Gua Ciodeng
dan Gua Cikaret
Lokasi: Desa Mekarsari,
Kecamatan Pancatengah,
Kabupaten Tasikmalaya
Koordinat:
Gua Ciodeng: 108
0
20
7.3 BT - 07
0
39 50 LS
Gua Cikaret: 108
0
20 8.08
BT - 07
0
39 47.07 LS
Waktu tempuh penelu-
suran: 2,5 Jam (masuk
dan keluar)
Penelusur: tim a) Dwi
Margo, Fikry Rausyan,
Yudi, Ronald Agusta, tim
b) Baihaqi, Taufk Nugra-
ha, Nanang Fuadi, Deni
Sugandi.
Fotografer: Ronald Agus-
ta dan Deni Sugandi
Penulis: Dwi Margo, Fikry
Rausyan, dan Baihaqi
Perlengkapan: yang di-
gunakan peralatan pen-
elusuran horisontal
Speleothem: Ornamen
batu alir (fowstone) dan
Batu Tetes (dripstone) juga
ditemukan di dalam Gua
Ciodeng dan Cikaret. Be-
berapa ornamen gua yang
terbentuk karena aliran
air di dalam Gua Ciodeng
dan Cikaret antara lain (1)
canopy: ornamen yang
tumbuh pada dinding gua,
berbentuk menyerupai
setengah tudung payung
atau jamur. Ornamen je-
nis ini terbentuk karena
INFORMASI SURVEI GUA
aliran air yang mengalir di
atas permukaan batu yang
menempel pada dind-
ing gua; (2) gordyn: orna-
men yang menempel pada
dinding gua, meman-
jang dari atas ke bawah
dan berbentuk menyeru-
pai gordin; (3) drapheris:
merupakan ornamen pada
dinding gua yang meny-
erupai susunan gigi atau
gergaji di bagian bawahn-
ya. Merupakan gordyn
yang bagian bawahnya
terbentuk bentukan gerg-
aji; (4) gourdam: ornamen
ini berbentuk mirip petak-
petak sawah. Jenis orna-
men batu tetes (dripstone)
juga ditemukan di dalam
gua ini. Ornamen yang ter-
bentuk karena tetesan air
yang dapat ditemukan an-
tara lain, stalagtit (formasi
batuan yang menggantung
tumbuh ke bawah karena
pengaruh gravitasi), straw
(stalagtit dengan diameter
sesuai dengan tetesan air
dan di bagian tengah ber-
lubang, menyerupai sedo-
tan minuman); stalagmit
(ornamen yang tumbuh di
lantai gua jejak tetesan air
dari stalagtit yang terus
menumpuk pada satu ti-
tik), dan column (stalagmit
dan stalagtit yang telah
bersambung ujungnya se-
hingga menjadi satu pilar).
Warna speleothem di dua
gua ini cokelat keemasan
dan menghitam. Lapisan
lumpur membungkus per-
mukaan speleothem.
Hambatan: Lorong Gua
Ciodeng buntu tidak jauh
dari lubang masuk. Ke-
mungkinan lorong tertutup
oleh reruntuhan dari atap
gua atau oleh banjir besar.
Sekitar lubang masuk Gua
Cikaret terdapat beberapa
pipa paralon yang dipa-
sang warga untuk men-
galirkan air dari dalam gua
ke bak penampungan dan
rumah-rumah. Selain pipa,
di sekitar lubang masuk,
juga ada instalasi pompa
air listrik yang kabelnya
terendam di dalam lorong
berair. Dua hal tersebut
meminta perhatian bagi
penelusur gua. Selain itu,
aktivitas penelusuran juga
berpotensi membuat air
yang mengalir menjadi
keruh oleh lumpur yang
mengendap di lantai gua
berair teraduk oleh pijakan
kaki penelusur.
Hari 2
Hari/tangggal: Sabtu, 31
Agustus 2013
Nama gua: Gua Curug,
Surupan/Tajur, dan Ciger-
endong
Lokasi: kampung Pun-
cakganas, Desa Tawang,
Kecamatan Tawang, Kab.
Tasikmalaya
Koordinat:
Gua Curug: 108
0
19 56.4
BT 07
0
40 41.1 LS
Gua Surupan/Gua Tajur:
108
0
19 BT 07
0
41.1
LS
Cigerendong I: 108
0
19
43.2 BT - 07
0
40 57.7 LS
Waktu tempuh penelu-
suran:
Gua Curug: 1 jam, tim ter-
halang sump.
Gua Surupan: 2,5 Jam
(masuk dan keluar)
Gua Cigerendong: 2,5 jam
(masuk dan keluar)
Penelusur: tim a) Margo,
Fikry, Yudi, Ronald Agus-
ta, tim b) Baihaqi, Taufk,
Nanang Fuadi, Deni.
Fotografer: Ronald Agus-
ta, Baihaqi, dan Deni Su-
gandi
Penulis: Dwi Margo, Fikry,
dan Vicko
Perlengkapan yang di-
gunakan: Peralatan pen-
elusuran horisontal
Speleothem: Gua Suru-
pan tidak banyak memiliki
speleothem di dalamnya,
sedangkan Gua Curug, di
bagian depan, terdapat
beberapa jenis ornamen
batu alir. Ornamen batu alir
(fowstone) dan batu tetes
(dripstone) juga ditemukan
di dalam Gua Cigeren-
dong. Beberapa ornamen
gua yang terbentuk karena
aliran air di dalam Gua Ci-
gerendong antara lain (1)
canopy, (2) gordyn, (3) dra-
pheris, dan (4) gourdam:
ornamen ini berbentuk
mirip petak-petak sawah.
Ada dua jenis gours: micro
(berukuran kecil) dan mac-
rogours (berukuran besar).
Jenis ornamen batu tetes
(dripstone) juga ditemu-
kan di dalam gua ini. Or-
namen yang terbentuk
karena tetesan air yang
dapat ditemui antara lain,
stalagtit, straw; stalagmit,
dan column (stalagmit dan
stalagtit yang telah bers-
ambung ujungnya sehing-
ga menjadi satu pilar).
Hambatan: Lorong bagian
awal Gua Curug memben-
tuk sump yang tidak dilalui
oleh tim. Menurut infor-
masi dari penelusur lain
(Palawa 1996), lorong ma-
sih panjang dengan ber-
macam speleothem. Pada
perjalanan kali ini penelu-
suran berhenti.
Hari 3
Hari/tangggal: Minggu, 1
September 2013
Nama gua: Gua Hulukuya
Lokasi: kampung Kato-
mas, Desa Cogreg, Keca-
matan Cikatomas, Kabu-
paten Tasikmalaya
Koordinat: 108
0
16 10.8
BT - 07
0
37 10.7 LS.
Waktu tempuh penelu-
suran: 2 Jam (masuk dan
keluar)
Penelusur: tim a) Vicko,
Fikry Rausyan, Baihaqi,
Ronald, tim b) Eris Kris-
mayanto, Taufk, Nanang
Fuadi, Deni Sugandi, Iwan.
Fotografer: Ronald Agus-
ta, Baihaqi, dan Deni
Penulis: Fikry Rausyan
dan Vicko
Perlengkapan yang di-
gunakan: Peralatan pen-
elusuran horisontal
Speleothem: Ornamen
Flowstone dan Dripstone
ditemukan di dalam gua
ini. Beberapa ornamen
gua yang terbentuk karena
aliran air di dalam Gua Hu-
lukuya antara lain (1) cano-
py, (2) gordyn, (3) draperis,
dan (4) gourdam: ornamen
ini berbentuk mirip petak-
petak sawah.
Jenis ornamen batu tetes
(dripstone) juga ditemu-
kan di dalam gua ini.
Ornamen yang terbentuk
karena tetesan air yang
dapat ditemui antara lain,
stalagtit, straw; stalag-
mit, dan column. Meski
demikian sedikit sekali
ornamen yang masih me-
mantulkan cahaya terang
berkilauan.Umumnya
ornamen yang ada ber-
warna cokelat kehitaman.
Adapun beberapa yang
berwarna putih sudah ker-
ing memfosil.
Hambatan: Kenikmatan
penelusuri gua terganggu
dengan banyaknya sam-
pah yang tersangkut di
banyak bagian lorong.
Umumnya sampah didu-
ga terbawa oleh aliran air
sungai permukaan yang
masuk ke dalam gua.[]
KOORDINAT GEOGRAFIS DAN
DESKRIPSI RINGKAS GUA
C
iodeng: 108
0
20 7.3 BT - 07
0
39 50 LS. Berada di kaki
sebuah bukit batu yang bersambung dengan sebentang
sawah. Aliran sungai permukaan masuk ke bawah tanah.
Berdasarkan data penelusuran tahun 1996 dan 2008 diper-
oleh informasi bahwa lorong gua ini terhubung dengan Gua
Cikaret, namun penelusuran kami menemukan lorong buntu.
C
ikaret: 108
0
20 8.08 BT - 07
0
39 47.07 LS. Berada di
dasar lembah dan kaki bukit. Aliran air keluar dari gua.
Penduduk memanfaatkan air gua untuk keperluan sehari-
hari. Beberapa keluarga memasang pompa air listrik agar air
dapat terangkat sampai ke rumah. Vegetasi di sekitar terdiri
atas bermacam pepohonan kayu keras, termasuk kelapa,
dan persawahan, juga kolam ikan.
C
urug: 108
0
19 56.4 BT 07
0
40 41.1 LS. Gua Curug
berada di Dusun Sekung, Desa Tawang, Kecamatan
Pancatengah, Kab. Tasikmalaya. Penelusuran berhenti dan ti-
dak dilanjutkan karena setelah 10 meter dari mulut gua, jalur
terendam air, lorong membentuk sump, sehingga penelusur
diharuskan menyelam.
S
urupan: Gua ini juga dikenal dengan sebutan lain, Gua-
Tajur. Berada di Dusun Sekung, Puncakganas, Desa
Tawang, Kec. Pantatengah, Kab. Tasikmalaya. Panjang
lorong gua ini berkisar150 meter sampai 200 meter lebih.
Merupakan lorong sungai bawah tanah. Letak mulut gua be-
rada di dasar sebuah doline. Di dalamnya tidak didapati orna-
men gua. Banyak batuan vulkanik yang teronggok di lantai
gua, juga lumpur yang mengendap di dasar dan dinding gua.
Di beberapa bagian terlihat arusnya deras. Diperkirakan
dalam kondisi hujan banyak lorong yang terendam penuh
dengan air. Perjalanan kami berhenti di ujung lorong buntu
tertutup batuan boulder. Kondisi lorong menuntut penelu-
sur bergerak secara variatif, mulai dari merayap, jongkok
hingga berdiri, dengan kondisi keseluruhan berair.
C
igerendong: 108
0
19 43.2 BT - 07
0
40 57.7LS. Gua
Cigerenong berada di Desa Cikawayung, Kec. Pancaten-
gah, Kab. Tasikmalaya. Akses medan menuju gua melewati
pesawahan dan kebun penduduk, menurun. Lokasi di bawah
lembah dikelilingi sawah. Mulut gua berada di lintasan sun-
gai aliran air kecil. Terdiri dari dua mulut gua, vertikal dan
horisontal. Penelurusan gua horisontal, mulut gua kurang
lebih 5 meter dari lintasan sungai.
Mulut gua kurang lebih lebar 2 meter tinggi 1,2 meter,
kondisi berair, aliran bawah tanah, banyak didapati genan-
gan genangan air bertingkat (kolam gourdam), lorong
dipenuhi oleh ornamen gua yang sangat indah dan beragam.
Teknik penelusuran gua horisontal banyak yang teraplikasi-
kan dalam lorong-lorong yang cukup unik, pergerakan harus
bungkuk hingga merayap.Jarak 10 meter terdapat cham-
ber, dengan ornamen menarik dan kolam-kolam rimstone
bertingkat. Terus ke depan dilanjutkan dua lorong, kembali
ke mulut gua dan satu lagi menuju bawah, menuju lorong
sempit. Dari chamber ini, kemudian didapati lorong sempit/
lubang jarum bertingkat-tingkat.
Chamber danau bawah tanah, dilanjutkan menuju lorong
besar, pergerakan berdiri bebas, dalam aliran sungai bawah
tanah. Lorong ini belum ditelurusi. Informan: Dendi Irawan,
Dusun Sekung, Desa Tawang, Kecamatan Pancatengah,
Tasikmalaya
H
ulukuya:108
0
16 10.8 BT - 07
0
37 10.7 LS. Gua Hu-
lukuya berada di Dusun Katomas, Desa Cogreg, Ke-
camatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Gua lebar,
pergerakan berdiri bebas, jalur basar berair, dari kedalaman
30 cm hingga 2 meter. Saluran air aktif, pada masa musim
hujan dipenuhi air hingga ketinggian 5 meter. Ornamen gua
bervariatif, tetapi sudah mati, kemungkinan karena perubah-
an ekologi di bagian permukaan gua. Panjang gua perkiraan
150 hingga 200 meter. Gua ini sangat cocok untuk pengena-
lan wisata umum atau minat khusus. Karena aliran aktif, di
dalam gua banyak ditemukan sampah yang tersangkut dan
beberapa bagian stalagmit dan stalagtit telah dipotong den-
gan sengaja, sehingga memberikan nilai minus.
S
ungai Cikembang dan Curug Dengdeng (eksokarst):
Dusun Tawang, Kecamatan Pancatengah.Sungai permu-
kaan di Cikatomas yang menarik dan potensial dijadikan ob-
jek wisata alam. Lebar dan undakan air terjunnya tergolong
unik dan khas kawasan karst.[]
PENDOKUMENTASIAN
S
ecara keseluruhan semua aktivitas inti kegiatan survei
speleologi ini dapat didokumentasikan dengan pera-
latan fotograf dan videograf. Eksokarst dan endokarst
secara berimbang direkam dalam gambar. Hambatan atau
tantangan utama untuk dua proses pendokumentasian
tersebut adalah pencahayaan dan kondisi medan berair,
serta lorong sempit. Selain aktivitas, turut didokumentasi-
kan juga beberapa ornamen yang ditemukan di dalam gua.
Sebagian besar foto dihasilkan oleh Kang Ronald Agusta
serta Pak Deni Sugandi, sedangkan video oleh Kang Baihaqi
dan Kang Taufk Nugraha. Dokumentasi lengkap kegiatan
ini dapat dilihat di sekretariat Palawa Unpad. Hasil pendo-
kumentasian akan menjadi bahan untuk penyusunan buku
yang sedang dalam tahap persiapan.[]
PENULISAN
T
ahap pertama penulisan berwujud catatan perjala-
nan. Pada tahap berikutnya, yaitu pasca-penelusuran,
catatan perjalanan yang dihasilkan dari lapangan dibahas
bersama sekaligus mengalami pengolahan yang berujung
pada dihasilkannya esai perjalanan yang membahas segi
teknik penelusuran gua (petualangan), teknik pendokumen-
tasian (fotograf gua), ulasan geologis (geomorfologi), dan
kemasyarakatan (sosial, ekonomi, dan budaya). Sampai saat
laporan ini disusun, penulisan masih berlangsung. Diren-
canakan dua kali workshop sebelum fnalisasi draf naskah
yang akan menjadi konten buku.
Adapun penyunting dan penata letak untuk buku yang
sedang disiapkan tersebut adalah Kang Ronald Agusta.[]
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
W
aktu yang ada berhasil dimanfaatkan secara maksi-
mal. Semua pergerakan dilakukan dengan efektif
dan efsien. Tim pendahulu yang bertugas untuk survei
berfungsi dan menjalankan perannya dengan baik. Fungsi
gua dan bentang karst sebagai akuifer air terlihat di Cikato-
mas. Masyarakat berhubungan dengan gua dalam kaitannya
dengan air. Beberapa gua juga menjadi lokasi tujuan ziarah
sehingga dapat disebut memiliki fungsi budaya. Seluruh air
gua dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di sekitar
aliran. Lubang gua berada di doline.
Di antara semua gua yang ditelusuri, khusus mengenai
wisata gua yang ramah dan berwawasan lingkungan, diang-
gap paling menarik dan layakdirekomendasikan adalah Gua
Hulukuya. Meski demikian untuk sampai tahap operasional-
isasi diperlukan serangkaian penelitian yang menghasilkan
kajian komprehensif atas Gua Hulukuya.
Lebih dari itu perlu diupayakan suatu pendataan yang
terpadu dan berkelanjutan mengingat besarnya potensi
yang disimpan oleh bentang karst Tasikmalaya Selatan, khu-
susnya Cikatomas.
Perihal penyusunan dan penerbitan buku yang menjadi
salah satu tujuan dilakukannya survei speleologi ini maka
perlu disinggung sedikit ihwal konsepsi yang mendasari
buku gua karst Laos dan Indonesia. Di dalamnya dibayang-
kan hadir pula informasi tentang gua di Indonesia yang
dapat diperbandingkan dengan Gua Khoun Xe di Laos. Ciri
fsik yang mudah dikenali dari gua yang disebut terakhir tadi
adalah sungai raksasa yang mengalir keluar membentuk
sungai permukaan. Gua dengan ciri fsik semacam itu dapat
pula didapatkan di beberapa gua yang ada di Indonesia, ter-
masuk di Jawa, misalnya Ngerong di Tuban (Jatim)atau Gua
Barat dan Gua Surupan di Gombong Selatan (Jateng). Untuk
keperluan di atas kami merekomendasikan untuk menga-
dakan pendokumentasian Gua Barat dan Gua Surupan di
Gombong Selatan.[]
lampiran
Survei Explorasi dan Sila-
turahmi

Dwi Margo
B
eberapa minggu sebelumnya, muncul perencanaan
kegiatan kerjasama antara Palawa Unpad dan Badan
Geologi, yakni mengadakan Explorasi Penelusuran Gua di
kawasan Cikatomas Tasikmalaya. Tujuan kegiatan ini salah
satunya ialah mendokumentasikan dalam bentuk foto dan
video kondisi gua-gua yang berada di sana. Hal lainnya juga
terkait dengan rencana penerbitan buku penelusuran Gua
Tham Khoun Xe di Laos, World Gigantic River Cave 2011.
Kegiatan penelusuran gua di Cikatomas ini kelak akan meng-
hasilkan data yang dapat diolah menjadi informasi dan akan
dipadu-padankan dengan draf materi buku Gua Tham Khoun
Xe.
S
eluruh peralatan dan persiapan logistik telah ter-pack-
ing dalam beberapa carrier dan drybag yang disusun
rapi dalam Landrover, tak lupa peralatan rescue dengan
sebuah stretcher (tandu) pun disiapkan. Pagi itu Kamis, 29
Agustus 2013 tim advance yang terdiri dari saya, Fikri, dan
Nanang siap bergerak menuju kota Tasikmalaya. Perjala-
nan kami kali ini berjalan dengan menyenangkan, musik
tak henti-hentinya menemani sepanjang perjalanan tim
advance munuju kota Tasikmalaya. Siang pukul 13.00 kami
tiba di rumah Kang Eris untuk beristirahat sejenak sambil
memenuhi kekurangan kebutuhan logistik. Kekuatan tim
bertambah; semula bertiga, sekarang berempat. Setelah
perut kenyang terisi ayam bakar di rumah Kang Eris, perjala-
nan dilanjutkan sekitar pukul 15.30. Kami bertolak dari kota
Tasikmalaya menuju Cikatomas.
Perjalanan sore menuju Cikatomas ditemani guyuran
hujan yang lumayan deras, tapi tidak lama hujan pun reda
seiring hari yang semakin gelap. Hampir Magrib kami tiba
di pasar Cikatomas. Kami beristirahat sembari menanyakan
lokasi mulut Gua Hulukuya. Kami bertugas melakukan survei.
Roda Landrover terus bergerak menelusur jalan berbatu dan
sempit menuju dusun Katomas. Akhirnya kami tiba di dekat
sebuah rumah. Pertanyaan kami ajukan kepada seorang war-
ga. Kepadanya perihal perizinan pun kami kemukakan.
Setelah informasi dasar yang kami perlukan sudah
tersampaikan kemudian kami bersiap melihat langsung ke-
adaan mulut gua. Alat penerangan kami keluarkan. Berbekal
koordinat hasil survei disbudpar yang ternyata tidak akurat,
akhirnya kami pun berhasil menemukan mulut gua. Namun,
menurut informasi warga yang kebetulan melintas ternyata
gua yang kami dekati itu Gua Sodong Parat bukan Gua Hulu-
kuya. Akhirnya kami berempat kembali mencari mulut gua
dengan menyusuri sawah. Tidak terlalu jauh dari letak mulut
Gua Sodong Parat. Akhirnya keberadaan mulut Gua Hulu-
kuya dapat kami temukan. Setelah koordinat diplot ke dalam
GPS kami segera bergerak menuju Desa Mekarsari.
Hari yang semakin larut dengan kondisi jalan yang buruk,
di mana banyak terdapat lubang dengan air tergenang, men-
jadi rute menuju Desa Mekarsari. Setelah satu jam bergerak,
motor Kang Eris berhenti di sebuah warung Bakso khas Ta-
sikmalaya, saya ikut menghentikan laju mobil, Istirahat heu-
la nya!!, jalan na butut. Urang bari makan heula, lapar euy...
tutur Kang Eris yang segera kami sambut positif. Enya!
Waktosna makan malam ieu mah, kata Fikry. Di tangan,
jam menunjukan pukul 20.50 Wib. Kami masih belum tahu
akan menginap di mana malam ini. Sambil makan malam aku
mencoba menghubungi sahabat lama yang dahulu sempat
ngekos di rumah orangtuaku. Teringat dahulu saat dia kos
dulu, seringkali dalam obrolan-obrolannya, ia menyebutkan
nama daerah-daerah yang sekarang akan kami tuju. Segera
aku menghubunginya, nomornya aktif, dan taklama ke-
mudian kami terhubung. Tanpa banyak basa-basi aku pun
memberikan petunjuk ke mana tujuanku dan posisiku seka-
rang. Beruntung sekali, ternyata lokasi tujuanku berdekatan
dengan rumah tinggalnya. Sebuah tawaran yang memang
sudah kami tunggu pun datang. Kami diminta menginap
di rumahnya. Kami bergegas beranjak dari warung bakso
menuju check point yang diberikan. Di suatu tempat yang
tersepakati dia berjanji akan menunggu kami.
Akhirnya kami bertemu. Namanya Dendi. Di depan
sebuah warung di samping jalan raya yang sepi. Wajah dan
tampangnya masih kuingat, tidak banyak perubahan. Aku
segera mengenalkan Kang Eris, Fikry, dan Nanang kepada
Dendi, begitu pula sebaliknya. Sudah lebih dari lima tahun
kami tidak bertemu. Aku masih ingat hari kepindahannya.
Kami bergerak menuju ke rumahnya. Tidak jauh dari sana
letak mulut Gua Curug. Tiga gua utama yang harus kami
survei mulanya adalah Gua Ciodeng, Gua Hulukuya, dan Gua
Cimaranggi. Dan malam itu kami habiskan dengan mengo-
bral banyak obrolan sampai menjelang pagi. Adzan Subuh
berkumandang.

R
intik Hujan turun perlahan sejak pagi tadi. Di rumah
Dendi kami mengalami hari dengan suasana khas
perdesaan. Pagi itu kami nikmati dengan mengobrol-ngobrol
seputar rencana survei lokasi mulut gua serta mengurus
perizinan dan akomodasi yang akan digunakan selama
kegiatan berlangsung. Perbincangan ditemani secangkir
kopi dan gorengan hangat. Ditemani Dendi, aku dan Kang
Eris kemudian mencari lokasi base camp setelah menempuh
perizinan ke kantor desa sementara Nanang dan Fikry survei
mulut Gua Ciodeng. Tibalah kami di rumah Haji Kosim, yang
lokasinya dekat dengan Gua Ciodeng.
Kami berbincang hangat bersama Haji Kosim yang
juga ternyata mengenal teman-teman Kang Eris, semakin
akrablah obrolan kami di rumahnya. Haji Kosim merupakan
salah satu dari sekian banyak pelaku Poligini (pria memiliki
beberapa istri sekaligus) di mana ia memiliki tujuh istri yang
tergolong ke dalam salah satu bentuk dari poligami, di samp-
ing ada poliandri dan group marriage (pernikahan kelom-
pok) antara poligini dan poliandri. Berpoligami tentu saja
merupakan hal yang tabu dalam budaya timur, terutama di
Indonesia. Bahkan tindakan poligami cenderung mengarah
pada konotasi negatif dalam pandangan sebagian besar ma-
syarakat Indonesia. Apalagi ketiga istrinya tinggal bersebela-
han dalam tiga rumah yang berbeda, Hebat sekali Haji Kosim
ini. Lokasi base camp kami berada di rumah istri keduanya.
Tim dari Bandung sudah bergerak, info hasil komunikasi
Fikry dan Kang Ferry. Kami berempat berkumpul kembali ke
rumah Dendi sebagai base camp sementara tim advance.
Siang yang terik, minum air kelapa muda segar sambil me-
lepas lelah sisa perjalanan dan menunggu kedatangan tim
dari bandung. Dalam benak masih tak menyangka bahwa
aku dan Dendi akan bertemu kembali pasca-kepindahannya
dari Bandung, mengingat lokasi rumahnya yang jauh dari
Bandung, hampir tak mungkin apabila tidak ada hal penting
aku datang kemari. Beruntunglah, karena kegiatan penelu-
suran gua (caving) bersama Palawa Unpad kali ini ternyata
berlokasi sangat dekat dengan rumahnya sehingga masih
berkesempatan silaturahmi bersama sahabat lama. Dia pun
sangat senang dengan kehadiranku bersama tim, Dendi pun
turut membantu dalam kelancaran kegiatan kali ini, seluruh
mulut gua yang akan kami eksplor dan beberapa gua lainnya
sebagai gua alternatif ditunjukan olehnya, sehingga kami
tak kesulitan menemukan tiap-tiap mulut gua. Selama kami
berkegiatan di sana, dia pun turut hadir dan membantu di
sela-sela kegiatan eksokarst yang tim lakukan.
J
umat sore harinya rombongan tim dari Bandung yakni,
empat orang dari Badan Geologi (Pak Iwan, Pak Yudi,
Pak Deni dan Pak Dudi), dan Tim Palawa Unpad (Kang On-
ath, Kang Ferry, Kang Opik, Kang Vicko dan Kang Baihaqi)
bertemu dengan kami di pinggiran sawah dekat mulut Gua
Ciodeng. Tidak lama kemudian semua menuju base camp
untuk mempersiapkan peralatan dokumentasi dan alat pen-
elusuran.
Malam itu, sekitar Pukul 19.00, kami memulai penelu-
suran Gua Ciodeng, baru beberapa saat melakukan penelu-
suran, terdapat runtuhan batu yang menutupi lorong gua
sehingga kami keluar kembali dan menelusur melalui mulut
lainnya, yang dinamai Gua Cikaret. Selama menelusuri Gua
Cikaret kami mengumpulkan dokumentasi ornamen dan
kondisi gua dengan memotret dan merekam dalam bentuk
video sampai sekitar pukul 23.00 dan kemudian kembali
keluar menuju base camp. Hal serupa pun dilakukan selama
dua hari selanjutnya dengan menelusur Gua Curug, Gua Su-
rupan/Tajur, Gua Cigerendong Horisontal dan Vertikal, serta
Gua Hulukuya; sebelum akhirnya kami kembali ke Bandung.
Minggu malam. Seperti ketika datang, saat pulang pun kami
singgah beberapa saat di rumah Kang Eris. Lengkap perjala-
nan ini. Survei dan eksplorasi sambil tetap menjalin silatur-
ahmi.[]
KETELANJURAN GUA NYAI
Fikry Rausyan
T
idak jauh dari Sungai Cimedang, angin sejuk berhembus
pagi itu. Mentari tidak terik, awan abu-abu masih meng-
gelayut di langit. Subuh tadi hujan turun cukup lebat, mem-
buat jalan tanah yang kami lalui berlumpur karena genangan
air. Air-air itu kemudian turun untuk terserap, lalu mengalir,
mengisi lorong-lorong bawah tanah. Kemarau yang basah.
Empat orang pemuda sedang sibuk mengumpulkan
bambu tidak jauh dari Sungai Cimedang. Pepohonan rindang
meremangkan cahaya di tempat mereka bekerja. Sesekali
mereka bercanda sambil mengikat kumpulan bambu meng-
gunakan rotan. Pemandangan tersebut saya dapati saat
melakukan survei mulut gua di Kecamatan Pancatengah,
Kabupaten Tasikmalaya. Saya bersama Nanang.
Kawasan Pancatengah dikenal memiliki sebaran lorong
bawah tanah yang cukup banyak. Informasi tersebut, satu
di antaranya kami dapatkan dari sebuah laporan milik Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Dalam
laporan tersebut tertera beberapa mulut gua di lokasi yang
kami sambangi, salah satunya Gua Nyai. Akan tetapi, survei
mulut gua selalu tidak mudah walau berbekal GPS sekalipun.
Informasi dari masyarakat kadangkala malah menjadi infor-
masi yang lebih akurat.
Kami bertanya tentang lokasi mulut Gua Nyai pada em-
pat pemuda yang kami temui. Meski pada awal pertemuan
tampak tidak ramah, komunikasi yang kami bangun nyatan-
ya berhasil mencairkan suasana. Seorang pemuda kemudian
bercerita penuh semangat tentang gua tersebut. Menurut
penuturannya, Gua Nyai berada pada ujung dua buah anak
sungai. Kedua buah anak Sungai Cimedang tersebut merujuk
pada dua buah mulut gua. Kedua mulut tersebut merupakan
pecahan dari lorong Gua Nyai. Mulut gua yang satu bisa
dimasuki manusia, sedangkan satunya lagi terlalu sempit
untuk bisa dimasuki.
Pemuda tersebut mengatakan bahwa Gua Nyai meru-
pakan gua horisontal. Kemudian, beberapa puluh meter
setelah mulut gua, terdapat sebuah ruangan besar atau
chamber. Tinggi atapnya lebih tinggi dari pohon kelapa,
kata seorang pemuda sambil menunjuk pohon kelapa yang
menjulang paling tinggi.
Gua tersebut dinamakan Nyai karena terdapat patung
berbentuk seorang wanita di dalamnya. Dalam Bahasa Sun-
da, kata Nyai berarti wanita atau nona. Kami pikir itu mung-
kin ornamen yang menyerupai seorang wanita. Akan tetapi,
mereka mengatakan bahwa patung wanita itu hanya bisa
dilihat oleh orang yang bisa. Berbekal informasi tersebut,
kami mulai mencari lokasi mulut gua.
Sebelum berangkat menuju mulut gua, seorang pemuda
menyarankan untuk tidak masuk ke dalam Gua Nyai. Pesan
yang sama dengan warga lain saat kami menanyakan lokasi
Gua Nyai. Jawaban yang sama pun kami lontarkan. Ucapan
terima kasih dan memberi tahu bahwa kami hanya meny-
urvei mulut gua. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju
mulut gua yang sejak 20 menit lalu kami perbincangkan.
Setelah berjalan tidak lama, kami tiba di anak sungai Gua
Nyai. Air yang mengarus dari mulut Nyai menderu cukup
keras. Saya jadi membayangkan hebatnya gema suara air di
dalam sana. Saat menuju mulut gua, beberapa kali saya ter-
peleset karena arusnya cukup kencang dan terperosok pada
bagian sungai yang lebih dalam. Untuk mencapai mulut Gua
Nyai, kami harus melawan arus kurang lebih 10 meter.
Merasakan derasnya arus Gua Nyai, mengingatkan saya
pada sebuah cerita lain dari pemuda yang ditemui tadi. Pada
awal era tahun 2000-an, terjadi tragedi yang cukup me-
nyesakkan bagi pegiat penelusuran gua Indonesia. Sungai
yang kami lihat keluar dari mulut Gua Nyai saat survei, ujar
masyarakat sekitar pernah mengalir sangat besar akibat
bandang. Menurut seorang pemuda yang kami temui, air-
air menggelontor seukuran batu-batu yang sangat besar.
Tujuh orang penelusur Gua Nyai meninggal kehabisan napas.
Beberapa penelusur lainnya selamat karena memanfaatkan
chamber untuk bertahan dari terjangan bandang.
Bagi masyarakat Pancatengah, saat ini Gua Nyai meru-
pakan sebuah monumen. Gua tersebut tidak lagi hanya
bermakna sebagai lorong bawah tanah yang terus menerus
menyemburkan air. Gua Nyai merupakan sebuah penanda
konsep kekuatan alam. Maka sudah seharusnya tidak
didekati saat sedang berada pada siklus debit air yang san-
gat besar.
Hujan lebat subuh tadi mungkin petanda bahwa Gua
Nyai sedang tak ingin didekati. Hujan lebat itu juga menjadi
petanda bagi masyarakat untuk saling mengingatkan pada
kejadian yang telanjur terjadi dulu. Kemudian kami datang,
dan setiap orang yang kami temui selalu mengingatkan, agar
ketelanjuran tidak kembali berulang. []
Karst Region Cikatomas
Nanang Fuadi S
K
arst merupakan suatu wilayah dengan bentang alam
yang didominasi oleh batu gamping. Indonesia memiliki
sebaran karst yang cukup besar, seperti pada bagian selatan
Pulau Jawa dan daerah pinggir laut pulau di Indonesia lain-
nya.
Karst secara umum terbentuk melalui proses tektonika
yang menyebabkan batu gamping yang semula ada jauh di
dalam dasar lautan tersebut muncul ke permukaan bumi.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa proses mun-
culnya batu gamping tersebut melalui proses penurunan
permukaan air laut.
Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah di Indonesia
yang memiliki karst cukup luas. Salah satunya karst yang
terdapat di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sebagian besar wilayah Tasikmalaya bagian selatan
disusun oleh batu gamping baik itu berupa batu gamping
terumbu maupun klastik. Setiap wilayah dengan bentang
alam karst memiliki bentukan alam yang khusus, terlihat dari
sebaran bukit-bukit kapur dengan karakteristik berupa per-
bukitan landai, terjal, bahkan menara. Apabila diperhatikan
secara kasat mata wilayah Tasikmalaya bagian selatan tidak
terlalu memperlihatkan bentukan alam yang umum seperti
kawasan karst lainnya, karena dominasi tersingkapnya batu
gamping terkalahkan oleh topsoil berupa tanah yang subur
dan terdapatnya vegetasi yang menutupi kawasan ini. Selain
itu wilayah dengan susunan karst yang besar berpotensi
terdapatnya aliran-aliran bawah permukaan yang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber perairan. Aliran-aliran bawah
permukaan inilah yang menyebabkan terbentuknya lorong-
lorong bawah tanah (gua).
Gua-gua yang terbentuk melalui proses pelarutan kal-
sium karbonat dari batu gamping ini akan tersingkap seir-
ing dengan terbentuknya karst di suatu wilayah, begitu
juga dengan gua-gua yang terdapat di wilayah Tasikmalaya.
Aktivitas gunung api yang terdapat di sekitar wilayah Ta-
sikmalaya dan vegetasi yang menyelimuti wilayah ini mem-
beri pengaruh besar pada terbentuknya gua di wilayah ini.
Melalui penelusuran yang dilakukan pada beberapa gua di
kawasan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, terlihat be-
berapa gua yang merupakan aliran sungai yang mengalir
di sepanjang lorong gua. Tidak seperti gua-gua batu kapur
lainnya yang dapat ditemukan ornamen-ornamen unik yang
terbentuk dari pelarutan kalsit pada dinding-dinding gua,
pada salah satu gua di wilayah Cikatomas, Gua Surupan,
tidak ditemukan. Hanya sebagian kecil ornamen gua yang
warna kalsitnya masih terlihat, sedangkan sebagian besar
sudah terlapisi lumpur dan juga (mungkin) lumut, sehingga
warnanya menua menjadi cokelat keemasan dan juga kehita-
man.
Beberapa mulut gua yang sempat ditelusuri di wilayah
Cikatomas antara lain Gua Ciodeng, Gua Cikaret, Gua Ciger-
endong, Gua Curug, Gua Surupan, dan Gua Hulukuya yang
merupakan gua dengan karakteristik gua horisontal. Salah
satu gua yang menarik perhatian adalah Gua Surupan karena
sepanjang lorong gua tersebut tidak tebentuknya ornamen
yang khas pada gua batu gamping. Lorong-lorong gua terse-
but sebagian besar diselimuti oleh lumpur dengan volume
air yang cukup besar. Banyak hal yang mempengaruhi ter-
bentuknya ornamen gua seperti aliran air, kandungan kal-
sium karbonat pada batu gamping penyusun gua, dan juga
vegetasi yang terdapat di permukaan. Begitu juga dengan
Gua Curug walaupun aliran pada gua ini cukup untuk melar-
utkan kalsit tetapi kandungan kalsit tersebut tidak seband-
ing dengan sedimen yang masih berupa tanah yang melapisi
bagian atas permukaan gua ini, menyebabkan dinding-dind-
ing gua ini sebagian besar oleh lumpur.
Apabila diperhatikan antarmulut gua di wilayah Ci-
katomas ini saling terhubung oleh aliran sungai yang sama
sehingga dapat diidentifkasikan bahwa gua-gua tersebut
masuk pada sistem perguaan yang sama. Ada beberapa
kemungkinan yang menyebakan keadaan tersebut seperti
tererosinya lorong gua yang tersingkap di permukaan aki-
bat air yang mengaliri lorong gua atau akibat kebencanaan
geologi lainnya yang ada di wilayah Cikatomas.[]
Cikatomas Tasik Selatan
Ahmad Hevicko
R
eracau di bawah ini merupakan usaha pemanasan dan
pelemasan yang saya siapkan sebelum menulis para-
graf-paragraf yang lebih panjang yang menjadi sesi lanjutan
dari penelusuran gua di akhir pekan --di pengujung dan awal
bulan. Jika ada bagian yang membuat hati takberkenan saya
mohon dimaafan.
dari Jakarta ke Jatinangor
P
ersiapan yang telah dilakukan akan segera menemukan
wujud nyatanya dalam kegiatan. Jumat sampai dengan
Minggu besok saya dan beberapa anggota Palawa Unpad
lainnya akan mendampingi sebuah tim yang terdiri dari ahli
geologi, penulis feature, dan juru foto dalam sebuah aktivi-
tas penelusuran gua di Tasikmalaya. Sesuai dengan perenca-
naan yang telah mulai dibangun sejak sebulan sebelumnya,
pada perjalanan petualangan bersalut wacana ilmiah itu
kami akan menelusuri dan mendokumentasikan tiga gua
yang berada di region Cikatomas. Masing-masingnya oleh
penduduk dan penelusur gua dikenal dengan nama Gua
Ciodeng, Gua Hulukuya, dan Gua Cimaranggi.
Sepulang dari pabrik, tempat di mana sejak beberapa
waktu terakhir ini saya bekerja, dengan langkah sigap ber-
segera saya naiki bus jurusan Jakarta -Tasikmalaya. Matahari
sudah jatuh di ufuk barat. Di langit Cawang takada tanda-
tanda akan turun hujan. Lebih dari tiga jam waktu yang
termakan dalam perjalanan malam melintasi jalan panjang
tol Cipularang. Mungkin karena ini malam Jumat sehingga
banyak bangku kosong yang masih menunggu pantat para
penumpang yang mungkin ingin mempercepat akhir pekan
meski sekarang baru Kamis malam. Tidak langsung ke Tasik-
malaya, saya turun di pintu tol Cileunyi.
Tidak langsung ke Tasikmalaya, saya harus ke kampus
terlebih dahulu untuk bertemu dengan anggota tim lainnya.
Sebagai gambaran awal, kegiatan penelusuran gua kali ini
terdiri atas dua tim yang masing-masingnya berfungsi seb-
agai tim pendahulu dan tim utama. Mereka yang tergabung
ke dalam tim pendahulu berjumlah empat orang dan sudah
berangkat sejak tadi pagi --Kamis, 29 Agustus 2013. Adapun
tim utama terdiri dari lima orang anggota Palawa dan tiga
orang perwakilan dari Badan Geologi dan jurnalis kebumian
dari GeoMagz --majalah geologi popular. Tim utama atau tim
kedua baru akan berangkat pada keesokan pagi --30 Agustus
2013.
Perjalanan malam tadi agak berbeda dengan yang bi-
asa. Selain bangku-bangku kosong di dalam bus, lalu lintas
menuju Jatinangor pun jauh lebih lancar. Agar takkedinginan
saya memilih duduk sendirian di kabin para ahli isap. Ini
malam Jumat yang istimewa. Situasi dan kondisi perjalanan
lancar di dalam bus yang sepi penumpang sungguh terasa
menyenangkan, mungkin karena di luar kebiasaan. Malam
Jumat dan Jumat malam semakin jelas keberbedaannya jika
sudut pandang diarahkan pada peristiwa perjalanan malam
menggelinding di atas Cipularang.
Angin dingin buatan yang memacu gigil di dalam bus ter-
us tersemprot dari dinding kiri dan kanan membuat gumpal
asap yang mengepul dari mulut segera terhembus keluar,
disedot kipas yang ditanam di atap di samping lampu-lampu
kecil kekuningan. Situasi itu seolah mengondisikan agar saya
menyisihkan sebagian ruang dalam otak untuk memikirkan,
termasuk menyusun rencana strategi yang bisa dicadang-
kan apabila satu dan lain hal mendorong saya dan anggota
tim lainnya untuk mengubah rencana yang sudah tercatat.
Semua anggota tim telah bersepakat. Gua Ciodeng, Gua
Hulukuya, dan Gua Cimaranggi. Sejumlah data telah terkum-
pul dan digunakan. Beberapa literatur telah dibaca. Satu dan
yang lainnya kemudian dibandingkan sebagai upaya validasi.
Semua tahu belaka betapa tidak jarang terjadi bias yang
memelencengkan informasi pada buku dan bahan-bahan
lainnya. Piranti pencarian seperti Google kerap merekam
dan menyajikan data yang salah. Para pencari informasi
harus piawai memilih dan memilah. Tidak jarang di dalamnya
ditemukan banyak sampah. Tidak hanya mengotori, berb-
agai sampah tersebut juga bisa menyesatkan. Menyiasati
kenyataan tersebut, para pencari informasi perlu mengem-
bangkan sikap kritis, tidak semua yang tersaji itu benar dan
valid. Perbandingan antar data mutlak dilakukan. Harapan
agar rencana yang disusun bisa dioperasionalkan secara
maksimal menjadi keinginan yang minta diperhatikan.
Lanskap berkelebat di balik jendela bus malam, seperti
ingin menunjukkan betapa di dunia ini tidak sesuatu pun
yang diam. Gerak adalah satu keniscayaan yang menanti
manusia untuk memberinya makna yang lebih dari sekadar
dimungkinkannya perpindahan. Bayangan di kepala meng-
gambarkan lukisan realis yang seolah lekat takterpisahkan
dengan diri, menjadi ciri betapa rencana yang baik hampir
selalu mewujud dalam gambar yang terdiri atas beberapa
kolom dalam tabel yang menyimpan angka-angka berpers-
pektif kuantitatif.
Di gerbang tol Cileunyi, langit hanya bagai selembar
kain hitam yang digelar. Takada bintang dan ke mana bulan?
Langit terlihat ganjil saat begitu kosong seperti malam tadi.
Ini malam tanggal 30 Agustus 2013. Di sekretariat banyak
anggota lainnya yang sedang mengerjakan ini itu yang me-
narik minat mereka masing-masing. Tak ada yang bermain
catur, beberapa menonton flm horor terbaru. Entah ke
mana perginya segala kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan
bertahan sejak dahulu sampai beberapa waktu yang lalu. Ke
mana saya harus melangkah untuk sekadar menonton den-
gan nikmat permainan truf atau kuorum yang menyisakan
kenangan dan hangatnya pergaulan di dunia perhimpunan
pasca-pelantikan. Perubahan --sekali terjadi tak bisa dihenti-
kan.
Kang Baihaqi sudah lebih dahulu tiba di sekretariat. Dia
sedang bercakap dengan Ketua DP Palawa, Kang Syafq
Gumilang. Tas punggung miliknya terlihat penuh dan tinggal
diangkat waktu berangkat. Semula kami bertiga (saya, Kang
Baihaqi, dan Kang Taufk Nugraha) akan berangkat ke Tasik-
malaya dari sekretariat, namun rencana berubah. Seluruh
anggota Tim Utama atau juga disebut Tim Kedua akan be-
rangkat bersama menuju lokasi kegiatan dari halaman kan-
tor Badan Geologi, Bandung, sekira pukul 06.00 Wib. Di sana
nanti kami akan bertemu dan bergabung dengan seluruh
anggota tim: Kang Ronald Agusta, Kang Ferry Hendarsin,
dan beberapa utusan dari Badan Geologi.
Perubahan rencana tersebut membuat kami harus be-
rangkat sejak pagi buta. Saya membayangkan jalan menuju
Bandung pada jam-jam sebelum adzan Subuh yang lengang.
Saya menyukai jalan-jalan, apalagi jalan dengan keadaan ruas
yang lapang tanpa dipenuhi kendaraan. Besok pagi mungkin
kebahagian itu akan kembali datang.
Bukan sembarangan. Saya menyukai jalanan entah sejak
kapan. Ingatan dari zaman yang silam kembali menyeruak.
Saya lahir di jalan, tepatnya di Jalan Gadingan, Wates, se-
belah barat Kali Progo. Takhanya lahir, saya pun tumbuh
dan berkembang di jalan, terutama di Jalan Setiadarma dan
Iskandarsyah Raya Jakarta Selatan. Terakhir di km.21 Jalan
Raya Bandung - Sumedang. Mungkin karena pengalaman
sejak lahir itulah saya menyukai jalan-jalan, termasuk menu-
liskan pengalaman sebelum, selama, dan setelah jalan-jalan.
Secara pribadi menulis catatan perjalanan menjadi cara bagi
saya untuk menghidupkan memori perjalanan yang mudah
hilang, memori yang begitu rentan. Verba volant scripta
manent! []
Salawu Hujan
M
enjelang siang perut sudah terasa keroncongan
minta makan. Pagi tadi sekira pukul 8.00 Wib. kami
berdelapan berangkat menuju Tasikmalaya. Sebuah Elf
berwarna hitam keluar dari pagar kompleks perkantoran
Museum Geologi, Bandung. Tim utama ini seharusnya ber-
jumlah sembilan orang, salah seorang di antaranya masih
harus kami jemput di sekitar wilayah Parakan Muncang,
Cicalengka.
Sesampainya di wilayah Parakan Muncang mobil kami
berhenti. Salah seorang anggota tim sudah menunggu di
tepian jalan, di muka sebuah waserba. Selain memenuhi
kebutuhan akan makanan ringan dan minuman untuk bekal
perjalanan, kami juga menyempatkan diri sarapan dengan
menyantap batagor. Mungkin karena cuaca, belum sampai
tengah hari perut sudah kembali minta diisi.
Perjalanan menuju Cikatomas kami akses melalui jalur
alternatif. Kang Eris, salah seorang anggota Palawa Unpad
yang tergabung dalam tim pendahulu dan sekarang sudah
berada di Cikatomas, mengatakan jalur yang kami tempuh
akan memakan waktu yang lebih panjang. Kepada kami dia
menyarankan agar memilih jalur normal. Sesuatu yang tidak
diketahui oleh Kang Eris bahwa pilihan jalur alternatif tidak
semata-mata berkaitan dengan jarak tempuh tetapi juga
soal pemandangan selama perjalanan. Belum tengah hari
saat kami berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan.
Hujan yang merintik sejak beberapa saat yang lalu kini
mulai membesar. Di hadapan saya segelas kopi panas baru
saja disediakan, sesuai pesanan. Bukan hanya kopi yang
membuat siang ini terasa segar. Rupanya, selain kopi dan
olahan panganan berbahan dasar ikan, salah satu keung-
gulan warung kopi ini adalah pemandangan alam di bagian
belakang. Kami bersembilan duduk berjajar pada sebuah
balkon panjang menyesap kopi sambil menikmati sajian
pemandangan yang sungguh membuat mata dan perasaan
segar. Sebentang persawahan hijau terhampar dalam undak-
undakan. Di tengahnya terlihat sebuah dangau mungil dan
sederhana. Di tepiannya sungai berbatu dan berkelok bagai
lukisan masa kanak: bukit, sawah, sungai, dan dangau. Hujan
dan kabut tipis yang turun dari bukit menambah pesona
pemandangan alam siang ini di Salawu.
Nama Salawu baru kali pertama ini saya dengar. Nama
yang unik, bagi saya. Kang Baihaqi mengisi kekosongan
kepala saya dengan ceritanya mengenai Kampung Naga. Ru-
panya tidak jauh dari tempat kami beristirahat siang ini ter-
dapat sebuah kampung adat yang telah menjadi salah satu
tujuan wisata-budaya di Jawa Barat, khususnya di Garut.
Kunjungan terakhir Palawa Unpad ke sana terjadi beberapa
tahun yang lalu. Sambil mengingat-ingat kembali peristiwa
yang telah lampau tersebut, Kang Baihaqi menyebut be-
berapa nama anggota Palawa yang menyambangi kampung
wisata tersebut. Bagi saya ceritanya menarik dan penting se-
bagai bekal pengetahuan sebelum benar-benar mendatangi
Kampung Naga, kelak jika ada kesempatan.
Di sudut balkon, Pak Deni sang juru foto terlihat asyik
menjepret pemandangan. Bukan cuma foto, dia juga men-
coba membuat timelapse. Kang Taufk berseloroh penuh
semangat, Ayo siapkan perahu, kita arungi sungai itu. Pak
Iwan dan Pak Yudi yang menanggapi keduanya utusan dari
Badan Geologi. Suara tawa riuh berderai meningkahi obro-
lan di warung kopi siang ini. Kami masih terus menghadapi
lukisan alam khas yang dahulu, di zaman kolonial Belanda,
dikenal dengan nama Indie Mooi. Hujan mereda dan kabut
berpendar kena sorot kemilau sinar matahari. []
Gua Ciodeng dan Gua Cikaret

P
enelusuran gua di hari pertama telah dituntaskan. Ham-
pir tiga jam yang lalu derap kaki para penelusur yang
baru keluar dari Gua Ciodeng terdengar begitu indah di tel-
inga. Mendengarnya membuat saya mengucapkan syukur,
Alhamdulillah. Bunyi prak prek prok yang keluar dari sepatu
boot basah mengiringi terkembangnya senyum di wajah
para penelusur. Hampir tengah malam. Mereka bersembilan.
Pak Yudi dan Pak Deni dua orang Badan Geologi yang turut
dalam penelusuran pertama, tadi. Bersama mereka anggota
Palawa Unpad mendampingi: Kang Eris (SH), Kang Ronald
(PW), Kang Baihaqi (DB), Kang Nanang (NK), Kang Margo
(LT), Kang Taufk (KP), dan Kang Fikry (TA). Saya bersama
Kang Ferry (PW), Pak Iwan (Badan Geologi), dan Pak Dudi
(supir Elf yang bertugas menemani kegiatan ini) berjaga di
basecamp.
Penelusuran Gua Ciodeng dimulai pada pukul 20.00 Wib.
Gua ini memiliki dua pintu masuk. Oleh penduduk tempa-
tan, dua lubang masuk gua masing-masingnya diberi nama.
Lubang masuk yang berada di tepian sawah lazim disebut
Gua Ciodeng, sedangkan lubang yang berada di belakang
basecamp terkenal dengan nama Gua Cikaret. Gua ini pernah
ditelusuri oleh Palawa Unpad pada tahun 1996
1
. Mereka ma-
suk dari Ciodeng dan keluar dari Cikaret. Bukan hanya penel-
usuran, pada tahun itu Gua Ciodeng juga dipetakan dengan
kualifkasi grade 3C
2
.
Kalau tidak salah, pukul 23.30 Wib. suara derap lang-
kah mereka mulai dapat saya dengar. Mereka datang dari
arah samping kanan rumah Pak Haji yang kami jadikan
1 Para penelusur yang tergabung dalam tim pengembaraan
Palawa Unpad saat itu antara lain adalah Mas Oktavian,
Olivia Damayanti, Eris Krismayanto, Windi Luis, Deden Seti-
anandika dan Budi Rahayu sebagai pembimbing.
2 Grade 3C merupakan salah satu grade yang sering digu-
nakan sebagai capaian dalam pemetaan oleh perhimpunan.
Grade pemetaan dipengaruhi oleh keakuratan dalam pen-
gambilan dan pengolahan data. Penggunaan alat ukur mag-
netik menjadi salah satu syarat agar penggambaran dapat
mencapai grade 3C.
basecamp penelusuran. Meski dapat disebut lancar na-
mun penelusuran malam tadi takbisa dianggap datar. Seusai
penelusuran saya mendengarkan cerita-cerita pengalaman
mereka selama di dalam. Perjalanan ke dalam bumi tadi
sesungguhnya menyimpan cerita seru, termasuk di dalam-
nya cerita lucu, yang saya kira perlu dicatat. Mumpung ada
waktu.
Saya merasakan suasana tenang, meski bukan berarti
bebas dari bebunyian. Bukan suara kendaraan, dari jendela
terlihat jalanan lengang. Aspalnya terlihat semakin hitam.
Entah siapa, saya mendengar dengkuran yang saling bersa-
hutan. Masih dalam ambang normal sehingga tidak dapat
disebut sebagai pengganggu. Malam di kampungku tak per-
nah setenang ini. Saya mengingat, basecamp caving seperti-
nya selalu terasa nyaman, menurut pengalaman, seperti juga
sekarang. Semakin jauh melewati tengah malam. Satu jam
ke depan adzan Subuh mungkin akan terdengar berkuman-
dang.
Tidak berapa lama sejak tim meninggalkan saya di
bagian luar lubang masuk Gua Ciodeng, terdengar bunyi
ouu kode yang sudah sangat dikenal oleh umumnya ang-
gota Palawa. Saya beserta Kang Ferry dan Pak Dudi sedang
di depan warung ikan bakar. Kode yang datang terdengar
mengejutkan, Ada apa? Begitu saya membatin sam-
bil mendatangi sumber bunyi. Seperempat perjalanan kemu-
dian baru saya dapat mengenali sosok yang berada di depan
sana. Warna pakaian yang dikenakan olehnya menjadikan-
nya identik, Tidak mungkin salah, di sana pasti Kang Eris.
Dari mulut Kang Eris itulah saya mendengar informasi
yang sekiranya perlu mendapat perhatian. Rupanya lorong
Gua Ciodeng tertutup bebatuan yang diperkirakan berasal
dari reruntuhan atap. Ini temuan menarik. Setelah menyam-
paikan kabar itu ia berjalan ke arah samping lubang. Sambil
melangkah Kang Eris menceritakan bahwa saat pengem-
baraan dulu ia sempat menemukan lubang masuk lain, yang
berukuran jauh lebih kecil. Kang Eris berusaha mengingat-
ingat. Lubang yang dicari tidak berhasil ditemukan kembali,
ah sayang sekali. Anggota tim yang lain mulai sampai di luar.
Lampu berpendaran menerangi gerumbul tetumbuhan di
sekitar lubang. Semua kembali ke mulut karena dihadang
kebuntuan.
Di jalan aspal saya melihat Kang Ferry berjalan ke arah
saya dan Kang Eris. Cahaya di kepalanya menjadi tanda yang
mudah dibaca. Setelah berkumpul di batas sawah dan jalan
beraspal, semua berpikr taktis dan segera menarik persetu-
juan, takada jalan lain kecuali masuk dari belakang. Mulut
yang satu dan mulut yang lain sekarang tidak terhubung, itu
asumsinya. Batu yang menutupi lorong berasal dari reruntu-
han atap, itu asumsi kedua. Babatuan tersebut runtuh saat
terjadi gempa, itu yang selanjutnya. Apakah benar, apakah
keliru, semua perlu pembuktian. Sejak kapan lorong itu
tertutup bisa menjadi pertanyaan pertama. Apakah ada yang
tahu?
Semua berjalan kaki kembali ke basecamp. Elf berjalan
perlahan di belakang. Terang membuat jelas pakaian basah
berlumpur para penelusur, sebatas dada ke bawah. Sorotan
lampu depannya menjadikan setiap orang bagaikan mengi-
kuti bayang-bayangnya sendiri. Saat itu ada yang mengingat
sajak Sapardi, ada pula yang mengenang penggal scene-
scene dalam medan operasi
3
. Jarak mulut Gua Ciodeng den-
3 Medan operasi adalah sebuah sesi kegiatan di dalam rang-
kaian Pendidikan dan Lathan Dasar PMPA Palawa Unpad. Bi-
asanya sesi ini dianggap sebagai satu fase pentng bagi anggota
dalam beraktvitas dalam olahraga alam bebas. Medan Operasi
gan ruko yang kami jadikan basecamp sekira seratus meter.
Hampir pukul 20.30 Wib. ketika lagu dangdut men-
gudara, mendayu di malam takberbintang dari warung dan
bengkel di depan basecamp. Itu bagai lagu penyambut. Dihi-
bur musik, makanan, minuman, dan obrolan. Setengah jam
kemudian penelusuran kembali dilanjutkan. Tidak lebih dari
lima puluh meter di belakang basecamp letak lubang kedua
Gua Ciodeng. Posisinya di kaki lembah luas yang terdiri dari
sawah dan kolam-kolam, tempat penduduk menanam padi
dan ikan. Dari dalamnya mengalir sungai kecil. Sebuah tang-
gul dibangun di depannya dan penduduk memasang pipa-
pipa plastik sehingga air bisa sampai ke rumah-rumah.
Pak Haji, tuan rumah yang menampung kami, mema-
sang pompa listrik di sekitar lubang agar air dapat ditarik ke
rumah tiga lantai miliknya. Mengenai tanggul dan pipa-pipa
yang menjulur keluar saya melihatnya langsung, tetapi men-
genai informasi pompa listrik Pak Haji, itu saya dapat dari
seorang ibu yang kebetulan duduk bersama kami di bangku
panjang yang berjajar di depan ruko.
Bukan hanya soal pompa listrik milik Pak Haji, si ibu
juga bercerita tentang lain-lain soal. Misalnya mengenai
status kepemilikan lahan tempat lubang Gua Cikaret berada.
Kang Ferry bersoal-jawab dengan si ibu dalam bahasa Sun-
da. Dari obrolan itulah seharusnya saya dapat memperoleh
informasi.
Saya dan Kang Ferry masih duduk menunggu di depan
ruko milik Pak Haji. Si ibu sudah pergi setelah anak lelaki
yang menjemputnya datang. Malam malam dia baru pulang
karena urusan sosial. Rupanya hari itu ada seorang tokoh
Diklatdas Palawa Unpad juga sering dipadankan atau dipahami
sebagai kawah candradimuka bagi calon anggota.
yang meninggal dunia. Banyak orang desa Mekarsari yang
pergi melayat ke kota Tasik. Tidak berapa lama setelah
gerimis kedua berhenti, sembilan penelusur datang dalam
formasi berjalan babaduyan.
Dua jam setengah lama penelusuran. Mereka kembali
keluar dari gua melalui lubang tempat masuk, berarti lorong
yang diasumsikan sebagai lorong buntu semakin dapat di-
pastikan kebenarannya sampai kelak dibantahkan oleh pen-
emuan. Kemungkinan semacam itu selalu ada dan terbuka.
Semua terlihat basah dan lumpur menempel di beberapa ba-
gian coverall. Teh dan kopi segera dipesan di warung depan.
Beberapa orang mendekati unggun yang menyala sejak satu
jam sebelum mereka datang. Di dalamnya sempat dibakar
beberapa ubi kayu. Apinya takmati oleh rintik gerimis yang
turun dua kali. Saya bersyukur atas semua keselamatan yang
tercurah pada kami, malam tadi.
Beberapa orang sudah selesai mandi ketika turun hujan
deras. Kang Ronald dan Pak Deni mengambil foto selama
penelusuran, sedangkan urusan video ditangani oleh Kang
Baihaqi. Banyak komentar bagus yang luput dari catatan.
Kang Eris pemimpin penelusuran.
Sekarang semua sedang tidur, beristirahat, dan ber-
harap esok pagi kegiatan dapat dijalankan sebagaimana
yang direncakanan. Untuk apa perencanaan jika tidak untuk
dijalankan. Pikiran itu mengingatkan saya pada baris terakh-
ir dari satu sajak Mas Willy? dan perjuangan adalah pelak-
sanaan kata-kata. []
G
elap mulai menjalar
tiap sudut wilayah
Pancatengah, Kabupaten Ta-
sikmalaya. Pijar-pijar cahaya
berurutan menerangi rumah
warga. Berbeda dengan
rumah, tidak ada pijaran
lain selain nyala head lamp
yang kami gunakan untuk
menyusuri jalanan aspal
Desa Mekarsari. Perjalanan
menuju mulut Gua Ciodeng
kami lakukan setelah makan
malam, sekitar pukul 20.00.
Mulut Gua Ciodeng menurut
koordinat geografs terletak
pada 108 20 17.9 BT dan 07
39 79.1 LS.
Setelah melalui jalanan
beraspal, tim Palawa Unpad
dan Badan Geologi kemu-
dian melintasi sawah untuk
tiba di mulut gua. Tidak sulit
untuk menemukan mulut
Gua Ciodeng. Gua tersebut
CIODENG
Fikry Rausyan Fikry Muhammad
merupakan salah satu gua
yang populer di telinga ma-
syarakat sekitar. Selain itu,
letak gua tidak berada jauh
dari jalan utama yang mem-
belah Kecamatan Cikatomas,
Pancatengah, Kalapagenep,
hingga ke Batu Karas Pan-
gandaran.
Mulut Gua Ciodeng
dikelilingi oleh sawah dan
perkebunan warga. Air yang
mengaliri sawah berhilir di
gua tersebut. Begitu juga
dengan air yang mengalir
dari lereng curam perkebu-
nan masyarakat. Maka tidak
aneh ketika Dendi, seorang
pemuda asli Desa Mekarsari
bercerita tentang terendam-
nya Gua Ciodeng.
Dendi berkisah bahwa
beberapa waktu sebelum
kami tiba di rumahnya, Gua
Ciodeng terendam oleh air.
Rendaman airnya bukan
main besarnya. Mulut Gua
Ciodeng yang memiliki lebar
kurang lebih tiga meter dan
tinggi dua meter hampir
terendam seluruhnya oleh
air. Ketinggian air tersebut
berbeda jauh dibandingkan
dengan saat kami menelusuri
gua. Kedalaman air mulut
Gua Ciodeng hanya sekitar
sebetis orang dewasa.
Letak Gua Ciodeng me-
mang berada di sebuah ce-
rukan. Pada sebelah selatan,
timur dan barat mulut gua
terdapat bukitan. Berbeda
dengan sebelah barat yang
telah dibelah oleh aspal, ba-
gian selatan dan timur masih
mengalirkan airnya menuju
Gua Ciodeng.
Entah karena banjir
yang diceritakan Dendi, atau
gempa yang menimpa Tasik
pada 2009, mulut Gua Ci-
odeng tertutup oleh batuan
dan genangan air. Menurut
penuturan Kang Eris, ang-
gota Palawa yang pernah
menelusuri gua tersebut,
sebelum tahun 2009 gua
masih bisa ditelusuri. Kondisi
unexplored tersebut mem-
buat tim bergerak menuju
mulut Gua Cikaret.
Gua Cikaret merupakan
bagian dari sistem Gua Ci-
odeng. Mulut gua tersebut
merupakan mulut gua up
stream atau hilir dari Ci-
odeng. Jarak antara Ciodeng
dan Cikaret tidak terlalu jauh.
Kedua mulut gua itu hanya
dipisah oleh sebuah bukitan.
Mulut Cikaret berada
pada sebuah lereng yang
cukup curam. Di enterance
tersebut terdapat bedungan
kecil yang dibuat warga.
Bendungan tersebut dibuat
agar air yang keluar dari Gua
Cikaret dapat dimanfaatkan
warga. Bendungan kecil
tersebut dihubungkan meng-
gunakan pipa pada beberapa
rumah warga.
Kami berhati-hati ketika
melintasi mulut gua. Kehati-
hatian kami dimaksudkan
agar tidak menginjak kemu-
dian memecahkan pipa air.
Kami tidak mau penelusuran
gua yang disambut hangat
masyarakat berubah menjadi
bencana bagi sebagian war-
ga. Keramahan warga sekitar
yang kami rasakan sangat
menyenangkan. Kesan
kekeluargaan begitu ken-
tal. Suasana itu bisa meng-
gambarkan dengan nyata
retweet seorang teman
yang memuat penggal sajak
Neruda, Love is humanity,
it is the desire to help oth-
ers. Ingatan itu membuat
langkah kaki semakin hati-
hati. Pipa-pipa yang ditanam
warga seolah bagai ranjau
yang terbenam di air yang
bercampur tanah lumpur.
Terlebih karena penelusuran
dilakukan pada malam hari.
Sama seperti halnya
di luar, di dalam gua gelap
mengitari kami. Akan tetapi,
pada fase area gelap abadi,
kegelapan benar-benar pe-
kat. Bantuan cahaya cukup
signifkan dipancarkan oleh
senter bermerek fenix. Ini
bukan iklan. Senter yang me-
miliki tingkat lumens tinggi
itu dipegang oleh penelesur
yang paling depan.
Sinar dari fenix mem-
bantu kami untuk menikmati
pemandangan di dalam gua.
Lorong Gua Ciodeng atau
Cikaret ini tidak terlalu luas.
Lebar lorong berkisar antara
1,5 5 meter, sedangkan
tinggi atap yang mengerucut
ada yang mencapai belasan
meter.
Tidak terlalu sulit untuk
menelusuri gua horisontal
ini. Hanya saja terdapat
beberapa lorong beratap
pendek, yang jika debit air
meninggi akan menciptakan
cerukan lorong yang di-
penuhi oleh air atau sump.
Ornamen yang terben-
tuk di dalam gua, beberapa
sudah tidak teraliri air.
Namun, beberapa gours-
dam, fowstone, stalagtit,
dan stalagmit masih aktif.
Ornamen-ornamen gua yang
masih aktif sangat menarik
untuk diamati. Aliran air
yang merembes dari atap
gua mengalir mengikuti tek-
stur ornamen. Air tersebut
kemudian menetes ke dasar,
beberapa kemudian mem-
bentuk stalagmit. Beberapa
ornamen kami abadikan
menggunakan kamera dan
handycam.
Penelusuran gua tidak
lama kami lakukan, hanya
berkisar dua jam. Ketika
pengambilan gambar dan
video sudah dirasa cukup,
kami bergerak keluar gua.
Menggunakan jalan yang
sama saat masuk, kami kem-
bali berhati-hati saat melalui
bendungan milik warga. Di
luar gua, udara segar kem-
bali kami hirup.
Gua Ciodeng atau Cikaret
merupakan satu sistem gua
yang memiliki dua mulut.
Meskipun kedua mulut gua
terpisah tidak jauh, tetapi
secara administratif kedua
mulut tersebut terpisah.
Mulut Ciodeng merupakan
bagian dari Desa Mekarsari,
sedangkan Cikaret terma-
suk ke dalam wilayah Desa
Cikaret. []
Dua Sesi Penelusuran Hari
Kedua
Ahmad hevicko
S
abtu, 31 Agustus 2013. Alhamdulillah eksplorasi Hari
kedua telah diselesaikan. Waktu menunjukkan pukul
20.30 Wib. Seluruh anggota tim selamat tanpa kurang suatu
apa pun. Memang ada sedikit darah yang tertetes di lokasi
kegiatan. Itu darah dari kaki Kang Ferry yang terkoyak cadas,
tadi, menjelang malam. Dan sekarang kami sudah berada
di sebidang tanah lapang dengan api unggun dan belasan
anak-anak penduduk sekitar yang menemani malam pasca-
penelusuran. Hari ini ada dua sesi. Catatan lapangan hari
kedua saya mulai dengan syukur alhamdulillah dan kaki yang
berdarah. Bukan ketaksengajaan, bagi saya keduanya pent-
ing untuk disinggung dan didahulukan dalam pencatatan
yang tidak lain sekadar berisi bahan menulis laporan, seka-
dar penggalan kabar-kabar, seikat cerita. Oleh-oleh buat
Palawa.
Tim dibagi dua pada penelusuran sesi kedua di hari
kedua ini. Pada sesi pertama, kecuali Kang Ferry dan Kang
Margo, semua masuk menelusuri Gua Curug. Pada sesi
kedua, satu tim menjelajahi Gua Cigerendong dan tim yang
lain masuk ke lorong vertikal yang berada takjauh dari depan
lubang Gua Cigerendong. Nama gua berlorong vertikal ini
belum dikenal, meski demikian kami berasumsi lorong terse-
but akan terhubung dengan lorong Gua Cigerendong. Untuk
sementara, agar memudahkan penyebutan, saya sebut gua
vertikal itu sebagai Gua Cigerendong II.
Selain kedua tim yang melakukan penelusuran, ada
beberapa orang yang bertugas berjaga di luar. Mereka yang
bertugas di sekitar lubang masuk gua antara lain Kang Bai-
haqi, Kang Eris, dan Kang Ferry. Selain tiga orang yang
telah disebut namanya, masih ada Kang Ronald, Pak Iwan,
dan Pak Dudi yang berjaga, duduk-duduk, di sekitar Elf dan
Landy, yang terparkir pada sebidang tanah lapang yang
berada di bagian depan sebuah bangunan sekolah dasar. SD
Karya Mukti, begitu tulisan yang tertatah pada monumen di
balik pagar.
Saat sedang bertugas memerhatikan ketinggian air
sungai yang alirannya masuk ke lorong gua vertikal, Kang
Ferry rupanya tersandung batu yang bertumpuk di sekitar
lubang masuk. Kulitnya terkoyak dan darah pun menetes
keluar. Peristiwa tersebut tidak saya lihat secara langsung,
karena sedang berada di dalam Gua Cigerendong. Dua jam
kemudian, ketika sudah keluar dari gua, barulah saya men-
getahui ihwal kejadian itu. Kaki kanan Kang Ferry terlihat
dibebat dengan kain syal. Bercak darah yang mulai monger-
ing terlihat membekas pada syal kuning.
Ketika dikonfrmasi kepada yang bersangkutan, saya
mendengar jawaban yang menenangkan. Selanjutnya kekha-
watiran menyusut dan hilang. Hal tersebut harus masuk
dalam catatan yang kelak akan dilaporkan. Inilah kali per-
tama, pada kegiatan ini, darah terpercik keluar. Seluruh
anggota tim perlu menjaga keselamatan. Semua takbo-
leh mengabaikan keselamatan jiwa, raga, dan peralatan.
Meski sudah tertangani dan aliran darah pun sudah berhenti
namun hal semacam itu sebaiknya diperhatikan agar jangan
sampai kembali terulang. Dan yang sudah terjadi akan men-
jadi kenangan.
Pagi siang sore dan malam beraktivitas di Puncak Ga-
nas. Aktivitas sehari dalam beberapa kata kunci: bersiap se-
jak pagi, siang bergerak sampai malam. Empat mulut dalam
sehari. Dua sesi penelusuran hari kedua: Curug, Surupan
Tajur, Cigerendong I, Cigerendong II. []
Gua curug dan Gua Surupan
Tajur
H
ari ini, hari kedua penelusuran. Sesuai dengan ren-
cana yang kembali dibicarakan sekaligus dimatang-
kan semalam, hari ini giliran Gua Curug dan Cigerendong
yang akan ditelusuri. Menurut survei yang dilakukan oleh
tim pendahulu dapat diketahui bahwa Gua Curug memiliki
dia lubang masuk. Yang pertama berada tidak jauh dari
sebidang tanah lapang di depan SD Karya Mukti, kampung
Puncak Ganas, Desa Tawang, Kecamatan Pancatengah. Dari
dalam gua mengalir sungai kecil yang dimanfaatkan oleh
penduduk tempatan sebagai pemenuh keperluan hidup se-
hari-hari. Di sekitar lubang masuknya terlihat sebuah tanggul
beton dan pipa-pipa plastik yang menjulur keluar, serta se-
buah mesin pompa air listrik yang diperlukan agar air dapat
ditarik ke atas. Adapun lubang masuk kedua Gua Curug yang
berada di sudut persawahan lebih dikenal dengan nama Gua
Surupan Tajur.
Kejadian yang hampir mirip dengan penelusuran ke-
marin malam kembali terulang. Jika semalam, pada pen-
elusuran Gua Ciodeng, tim dihadang oleh reruntuhan batu
yang menyebabkan penelusuran harus dihentikan dan
berganti arah dengan memulai penelusuran dari lubang be-
lakang (yaitu lubang Gua Cikaret), kali ini tim terhenti setelah
sebuah sump menghadang perjalanan.
Tidak jauh dari lubang masuk Gua Curug, perjalanan
terhenti. Kang Eris, Kang Taufk, dan Kang Nanang berada
di urutan paling depan. Keadaan lorong yang sempit me-
maksa seluruh anggota tim berjalan berbaris satu persatu.
Tidak lebih dari sepuluh meter dari lubang masuk, sebuah
fowstone besar menghadang. Sebagiannya tercelup aliran
sungai sehingga tidak ada ruang terbuka; di sini penelu-
sur harus melakukan penyelaman. Mungkin karena debit air
sedang besar, atau bahkan sepanjang musim bagian lorong
ini tetaplah menjadi sebuah sump? Untuk menjawab dengan
kepastian tertentu, survei harus dilakukan beberapa kali
dalam waktu yang berlainan. Anggota tim yang berjalan di
depan sudah mencoba beberapa upaya untuk mengetahui
panjang lorong yang mewajibkan penelusur menyelam jika
ingin melanjutkan perjalanan, dengan kaki dan tangan usaha
mengukur dilakukan. Meski demikian tim gagal mendeteksi
sejarak apa panjang sump. Kang Taufk memberi saran agar
tim segera membeli selang air untuk digunakan sebagai
alat bantu pernapasan. Selang air dibayangkan dapat men-
jadi alat substitusi bagi google snorkeling yang tidak kami
bawa. Usulan tersebut cukup masuk di akal. Tanpa banyak
menunggu, segera tim bergerak keluar dari gua. Semua balik
badan dan beranjak ke lahan parkiran.
Sampai di luar matahari sudah tinggi, sebentar lagi ten-
gah hari. Sambil menunggu dibelinya selang di toko bahan
material yang ada di Pasar Tawang, tim memutuskan untuk
langsung berangkat ke lubang masuk kedua Gua Curug ma-
sih berada di kampung Puncak Ganas.
Kang Ronald memutuskan tidak ikut dalam penelusuran
Gua Curug melalui lubang belakang. Dendi dan seorang
kawannya mengantarkan kami sampai ke dalam lubang.
Saya mendengar beberapa cerita unik. Ini perihal interaksi
masyarakat sekitar dengan gua. Sebagaimana yang saya
dengar, setiap musim kemarau gua akan didatangi oleh pen-
duduk sekitar. Mereka bersama-sama membawa pakaian
kotor untuk dicuci di dalam gua. Sayang sekali fenomena
itu tidak dapat kami lihat langsung. Meski hanya cerita
namun setidaknya hal itu menarik untuk dicatat. Lain waktu
mungkin kami dapat mendokumentasikan fenomena unik
tersebut. Baru membayangkan suasana gua dengan banyak
perempuan mencuci pakaian sambil bercengkerama larut
dalam obrolan tentang ini dan itu saja sudah menarik. Obor-
obor yang menyala di beberapa tempat tentu akan menya-
jikan keadaan ruangan yang indah juga romantik. Selain
cerita kebiasaan penduduk saat musim kemarau, saya juga
mendengar cerita kegiatan kemah Pramuka yang menggu-
nakan genset untuk mengangkat air. Pipa malang melintang
di dinding tebing.
Lubang kedua Gua Curug, oleh warga sekitar, lebih dike-
nal dengan sebutan Gua Surupan Tajur. Jarak tempuhnya ti-
dak terlalu jauh dari lapangan SD karya Mukti. Tidak lebih
dari setengah kilometer berjalan kaki kami sudah berada di
depannya. Bentuk lubang masuknya memanjang ke samp-
ing. Melangkah masuk ke dalam gua kami segera berada di
sebuah ruangan luas beratap tinggi atau yang lazim disebut
chamber. Lorong utama mengarah ke sebuah aliran sungai
bawah tanah.
Suasana beralih saat memasuki lorong aliran sungai.
Suara gemuruhnya sempat menggetarkan nyali. Dasar lo-
rong yang berlumpur menyebabkan langkah kaki penelusur
terasa lebih berat. Atap gua di beberapa bagian sangatlah
rendah dan miring sedangkan lebar lorong tidak lebih dari
satu setengah sampai dua meter. Jarak permukaan air dan
atap yang tidak jarang hanya menyisakan sekira lima puluh
centimeter menambah ketegangan yang tetap harus ter-
simpan rapi di dalam benak. Penampakan tanda batas air
di lorong gua mengindikasikan lorong sering penuh tertu-
tup dengan air. Pada satu dua bagian gua lorong membesar
dan atap meninggi. Aliran sungai, atau lantai yang teraliri air,
melebar sampai sekira dua meter.
Gua Surupan Tajur tidak jarang meminta penelusurnya
untuk jalan jongkok, merangkak, dan bahkan merayap.
Dua teknik yang disebut terakhir itu akan mudah dilakukan
pada ruangan kering namun menjadi berbeda jika dilakukan
di lorong berair dan berlumpur. Seluruh dinding gua terlapisi
lumpur tebal yang membuatnya terlihat sebagai bongkah-
bongkah besar cokelat-susu. Banyak batuan vulkanik, kalau
tidak salah. Hal ini perlu dicek dulu ke Kang Nanang. Sekali
dua kali saya membayangkan sedang berada di dalam pabrik
cokelat. Mungkin karena mulai merasa lapar. Perjalanan sep-
erti ini lumayan menguras tenaga, meski demikian saya me-
lihat semua wajah menampakkan semangat petualangan.
Pendokumentasian berjalan cukup menyenangkan, semua
terlihat terlibat dalam permainan.
Penelusuran berakhir pada ujung lorong yang buntu.
Aliran air sungai merembes melalui celah kecil bebatuan.
Reruntuhan batu bertumpuk-tumpuk di depan. Saya dan
Kang Nanang mencoba mencari celah yang dapat dimuati
orang. Gerakan chimney harus digunakan. Sekira lima meter
ke atas kebuntuan kembali menghadang. Suka tidak suka
saya harus menginformasikan bahwa di sinilah akhir dari
penelusuran. Tidak berapa lama kemudian seluruh anggota
tim bergerak keluar.
Setengah dua siang, semua berjalan secara babaduy-
an. Kang Taufk mendokumentasikan penelusuran dengan
kamera handycam yang dibawanya. Bagi saya tindakan yang
dilakukan Kang Taufk sangat beresiko. Pertama, gelombang
air yang tercipta dari gerakan para penelusur di lorong men-
jadi potensi yang mengancam kamera di tangannya. Kedua,
ada Kang Fikry yang juga merekam kegiatan ke dalam ka-
mera digital yang sudah dilengkapi dengan pembungkus
kedap air. Meski demikian saya tidak akan melarang Kang
Taufk untuk merekam kegiatan karena itu dapat dianggap
kurang ajar, saya bukan Kang Nanang, lagi pula itu kan
kamera pribadi bukan inventaris perhimpunan. Mungkin
saja peristiwa di dalam Gua Surupan Tajur ini dinilai lebih
berharga bila dibandingkan dengan harga pembelian handy-
cam sehingga pertaruhan memperoleh gambar yang bagus
dan menghindari kerusakan kamera akibat terbentur, jatuh,
dan terendam air layak untuk diperjuangkan. Alih-alih mela-
rang saya justru senang. Pendokumentasian menggunakan
videocam tidak terlalu kami persiapkan, pada mulanya. Kami
beruntung.
Sesampai di tepi tanah lapang depan SD Karya Mukti,
matahari sudah tergelincir ke barat. Pada sebuah gardu
ronda, tempat alat masak dan makanan perbekalan diletak-
kan, terlihat beberapa butir kelapa hijau yang seperti baru
dipetik. Kata seseorang, Tadi Kang Margo yang membawa
kelapa-kelapa itu sepulangnya dari survei mulut Gua Cigeren-
dong. []
Lorong Horisontal Vertikal
Gua Cigerendong I & II
L
orong horisontal dan vertikal. Pembagian tim harus
dilakukan mengingat penelusuran dua gua ini dilaku-
kan di waktu yang bersamaan. Sudah pukul 17.00 Wib. saat
kami tiba di depan dua lubang gua yang akan ditelusuri.
Perjalanan dari lapangan tempat mobil diparkir ke tempat
lubang Gua Cigerendong I dan Cigerendong II tidak lebih dari
setengah jam. Untuk sampai di lokasi, kami harus berjalan
ke arah belakang sekolah, melintasi kompleks pemukiman
warga, masuk ke kebun kelapa, kandang kambing, kebun
singkong, pematang sawah, dan meniti kolam-kolam milik
warga. Selepas rumah-rumah perjalanan terus menurun.
Ini penelusuran di hari kedua. Siang tadi kami memulai-
nya dengan menelusuri Gua Curug dan Gua Surupan Tajur.
Sampai saat ini, seluruh gua yang kami telusuri pada per-
jalanan kali ini berkarakter gua vedosa (sungai bawa tanah)
yang memiliki lubang masuk dan keluar ke permukaan,
kecuali satu di antaranya yang berbentuk lubang vertikal
(pothole), yaitu Gua Cigerendong II, yang berada di de-
pan lubang Gua Cigerendong I.
Kang Fikry dan Kang Margo ditemani Kang Eris sedang
menginstal lintasan SRT untuk mendekati dan kalau bisa
menuruni lubang saat saya beserta tim memulai penelu-
suran. Selain mereka yang sedang rigging, di luar, masih ada
Kang Baihaqi dan Kang Ferry. Saya bersama Kang Taufk, Pak
Deni, dan Pak Yudi. Lorong berselimut hitam yang dinamai
Gua Cigerendong ini kami masuki. Secara perlahan cahaya
yang kami bawa menyingkapkan kegelapan yang bersemay-
am di dalam, sebagian demi sebagian. Berbelok ke lorong
kiri, penelusur akan disajikan pemandangan bawah permu-
kaan yang fantastik.
Tinggi lorong meminta penelusur berjongkok, merang-
kak, bahkan merayap. Di bagian ini terhampar aneka jenis
speleothem yang berkilau-kilauan, dari yang berukuran
mikro hingga makro. Sebut saja stalagtit (ornamen yang
terdapat pada langit-langit gua dengan ujung meruncing ke
bawah), stalagmit (seperti bentuk stalagtit terbalik terben-
tuk di lantai dari tetesan air bermineral), coloumn (stalagtit
dan stalagmit yang menyatu), fowstone (ornamen berben-
tuk bekuan air terjun), curtain (ornamen mirip tirai berle-
kuk di dinding, bagian ujungnya terkadang menyerupai gigi
ikan), draphery (ornamen berbentuk resapan air membeku
di dinding atau atap), sodastraw (stalagtit kecil menyeru-
pai sedotan), serta mikro dan makro gourdam (berbentuk
petakan sawah atau kolam), dengan keunikannya masing-
masing. Singkatnya lorong Gua Cigerendong menyimpan va-
riasi speleothem yang kaya. Sebuah keindahan yang sangat
rentan, apalagi mengingat atap gua yang begitu rendah dan
manusia yang sering lengah.
Lorong kanan beratap lebih tinggi. Penelusuran mengi-
kuti arah aliran air. Tiga kali menuruni gourdam penelusuran
terhenti pada sebuah chamber mungil berlumpur kering. Ali-
ran sungai sudah berbelok ke kiri beberapa langkah sebelum
chamber. Air menyelusup dan melintas celah sempit yang
tidak dapat dimuati orang.
Sekilas penelusuran akan terhenti pada chamber na-
mun jika dilihat lebih dekat, terdapat lorong lanjutan. Un-
tuk memasukinya penelusur harus berusaha melenturkan
tubuhnya. Terdapat dua undakan yang bengkok di bagian
tengahnya. Selepas celah tersebut penelusur dapat kemba-
li berdiri. Sekira lima langkah kemudian terdapat lorong luas
beratap rendah. Bagian ini dialiri air yang rupanya tembusan
dari aliran lorong atas. Ada undakan gourdam yang mem-
bentuk miniatur air terjun. Dari atap juga mengucur curahan
air yang menyerupai kran dan shower di kamar mandi.
Keluar dari lorong itu atap meninggi. Lebar lorong sekira
dua sampai tiga meter. Perjalanan mengikuti arus sungai.
Pada beberapa bagian lorong lumpur mengendap di lantai
yang tertutup air sampai sebatas lutut orang dewasa. Kami
menemukan tumpukan cangkang kerang-kerangan di beber-
apa bagian lorong selanjutnya. Pendokumentasian diarah-
kan pada visualisasi lorong gua berikut lekak-lekuknya. Gua
ini cocok untuk dijadikan tempat pengenalan speleothem
bagi para calon penelusur gua dengan beberapa catatan
yang mengikuti. Pertama dari yang lain-lainnya, pelajar dan
pengajar sama-sama memahami betapa masuk menjela-
jahi gua merupakan sebentuk anugerah yang tidak setiap
manusia dapat mengalami. Atas dasar itu dibayangkan para
pelajar dan pengajar ihwal teknik penelusuran gua akan
sama-sama sadar betapa segala tindak-tanduknya selalu
minta pertanggungjawaban.
Di luar sudah malam. Kang Fikry dan Kang Margo yang
mencoba masuk ke lubang vertikal sudah menyelesaikan ak-
tivitasnya. Mereka yang di luar seolah sudah siap untuk kem-
bali ke lahan parkiran tempat Kang Ronald, Pak Iwan, dan
Pak Dudi menunggu. Rupanya mereka semua memang ting-
gal menunggu kami. Sedikit lebih dari waktu yang tersepak-
ati, dan akan semakin banyak lebihnya jika kami tidak disusul
dan diberitahu. Suara peluit bagai perintah ibu yang bersifat
memaksa dan takboleh dibantah.
Tiga jam penelusuran. Lorong masih panjang di depan
tapi kami harus kembali keluar, sesuai janji sore tadi. Pen-
elusuran kali ini meninggalkan PR yang kelak harus disele-
saikan, pada lorong vertikal maupun lorong horisontal. []
Penelusuran Hari Ketiga Di
Rumah Pak Haji
H
ari ini lebih lambat. Hanya Pak Deni yang sejak pagi-
pagi sudah beranjak. Dia dan segala peralatan foto-
grafnya sudah siap sebelum berangkat. Pagi tadi Curug
Dengdeng
4
yang disambangi olehnya. Motor Kang Eris yang
dibawanya. Kang Ferry mengulas soal ini sekilas, Sebaiknya
dia tidak sendirian. Sangat berbahaya. Kurang lebih begi-
tulah yang saya ingat. Sampai setengah sembilan, Pak Deni
datang. Syukur tidak terjadi apa-apa. Beruntung, kekhawati-
ran tinggal kekhawatiran, semua berpulang pada kenyataan.
Wajahnya tampak puas meski hujan tampaknya sempat
membasahi badannya, selain keringat.
Hari ini lebih lambat. Mungkin aktivitas kemarin terma-
suk berat atau karena lama tidak berolahraga dalam porsi
yang lumayat banyak bahkan binjas pun tidak. Benar, mung-
kin kemarin terlalu diforsir. Mabuk caving. Jika mengingat
kemarin, nafsu petualangan seperti menolak direm. Kalau
bisa akhir penelusuran diperpanjang, durasi eksplorasi dit-
ambah, dan pulang ke basecamp ditunda sebentar. Dua lo-
4 Selain gua-gua, di kawasan Cikatomas juga terdapat
sebuah curug yang menarik dan indah pemandangannya.
Objek tersebut sangat potensial dipoles dan dijadikan objek
wisata. Keindahan bentuk curug tersebut dibayangkan tidak
hanya akan menarik wisatawan lokal tetapi juga regional,
dan bahkan nasional.
rong gua terakhir: Cigerendong I dan Cigerendong II, menin-
ggalkan penasaran yang mesti dibayar di lain kesempatan.
Kemarin seru. Sejak pagi sampai malam blusukan
5
ma-
suk-keluar gua; dan setelahnya, di basecamp pun perayaan
atas kesuksesan penelusuran masih terus dilangsungkan:
ngobrol-ngobrol dan memeriksa hasil pendokumentasian.
Foto-foto dan footage diputar, dikomentari, dievaluasi. Ka-
mera Kang Taufk lumayan canggih. Secara langsung gambar
hidup diekspose ke dinding aula tempat kami bermalam, lalu
lampu dimatikan.
Sejak pagi semua bermalas-malasan. Dan saya masih
berusaha mengingat-ingat mimpi semalam yang timbul
tenggelam bagai kucing-kucingan dalam kepala, setiap
hampir teringat ia justru seperti mengambil jalan menikung,
dan berusaha menghilang. Sejak pagi di luar jendela ada
jejak hujan. Dinginnya pagi dihajar dengan mandi. Tukang
bubur kacang hijau yang kemarin datang sekarang mungkin
tertahan entah di mana oleh rerintik yang turun pelan-pelan
atau mungkin hari ini ia tidak berjualan. Saya melupakan
kenyataan bahwa ini minggu dan itu berarti juga hari libur,
tidak cuma bagi pegawai tapi untuk semua orang, terma-
suk juga para pedagang. Jadi ini hari minggu dan banyak
yang menyebutnya sebagai hari keluarga. Dan pagi ini, saya
berada di tengah keluarga penelusur gua yang sejak dua
hari ke belakang bergiat bermain, bertualang, dan menjalani
proses pendokumentasian gua beserta penelusurannya.
5 Istilah blusukan belakangan ramai digunakan oleh ma-
syarakat luas, takhanya mereka yang bersuku bangsa dan
atau penutur bahawa Jawa, mengikuti perkataan Jokowi,
Gubernur Jakarta. Blusukan merupakan kata dalam kha-
zanah bahasa Jawa yang diartikan sebagai berjalan keluar
masuk wilayah yang jarang dilintasi oleh umumnya orang.
Sejak Ciodeng sampai kemarin, Kang Nanang selalu menjadi
model.
Matahari masih menggoda kami untuk terus bersantai-
santai menikmati minggu pagi dan flm kartun. Sudah ham-
pir satu jam yang lalu sajian sarapan sudah kami tandaskan.
Sambal yang menghiasi meja makan selalu menjadi prima-
dona, apa pun pendampingnya, tidak peduli pagi, siang,
ataupun malam. Pagi terus bergerak meski waktu dan cuaca
seolah berhenti dan kesejukan udara masih terjaga. Semua
sudah mandi. Kang Nanang mulai menyusun dan mengecek
seluruh peralatan penelusuran. Sambil menulis ini saya
senyam-senyum sendirian. Kata mengecek yang saya
gunakan mengingatkan pada Kang Zulkifi. Dia tidak ikut
dalam perjalanan kali ini. Mungkin sedang kuliah lapangan,
mengumpul dan mencatat data sejarah lisan atau duduk
suntuk di dalam museum sebagai laku seorang yang sedang
menyelesaikan sebuah penelitian panjang yang bahkan
bagai takberujung, maklum dia kan mahasiswa sejarah. Satu
subjek pelajaran yang hanya berisi berkarung-karung kibul
dan cerita versi yang sudah banyak mendapat tambahan
dan kurangan di sana dan di sini. Hampir semua peralatan
berwarna merah dan semua dalam keadaan basah. Bagian
ini juga didokumentasikan. Saya diam-diam masuk ke dalam
frame, pura-pura membantu Kang Nanang menyiapkan
peralatan dan bahan-bahan lain yang akan dibawa dalam
penelusuran.
Mobil sudah dinyalakan. Kami berpamitan kepada nyo-
nya rumah, Istri Pak Haji, yang sudah menerima kedatangan
kami dan tadi melepas kami di depan toko bahan material
bangunan. Perjalanan menuju lubang Gua Hulukuya diisi
dengan bernyanyi. Semua jadi vokalis, karena ini karaokean.
Hampir satu setengah jam perjalanan yang harus ditempuh
untuk dapat sampai di lokasi tempat gua berada. Ini akan
menjadi penelusuran terakhir dalam trip ini. []
Gua Terakhir Gua Hulukuya
H
ulukuya merupakan gua tempat tinggal ratusan kele-
lawar. Saya tidak tahu dari jenis apa. Apakah pemakan
bebuahan ataukah hewan? Cericit suaranya memekakkan
pendengaran. Itu terjadi terutama di bagian terdalam gua
yang merupakan aliran sungai bawah tanah. Kami menelu-
surinya dari hilir, menantang arus air. Jika memilih lorong
air, di bagian mula lubang masuk, penelusur harus melintasi
sump --meski tidak panjang. Bagi yang enggan dapat ma-
suk melalui lorong fosil yang ada di seberang aliran sungai.
Lorong tersebut akan bertemu dengan lorong air di bagian
dalam gua.
Hal yang paling mencolok mata adalah sampah yang
menumpuk di lantai dan aliran sungai selebar tujuh langkah
ini; dan terus membesar serta memecah karena aliran ter-
halang reruntuhan. Berkelok dan bercabang untuk kembali
bergabung di bagian yang lain. Saya menaksir ketinggian
atap di beberapa bagian tidak kurang dari sepuluh meter.
Speleotem yang menggantung terlihat menghitam, mung-
kin ditumbuhi jamur atau terciprat kotoran kelelawar. Tidak
sampai dua jam penelusuran, kami sampai di lubang keluar.
Tadi ada yang mengira-ngira panjang lorong tidak lebih dari
dua ratus meter. Meski takbisa disebut panjang dan hampir
di setiap bagian lorongnya dihiasi sampah plastik dan lain
sebagainya tetapi gua ini sesungguhnya menarik, antara
lain karena memiliki lekuk liku lorong unik. Pada beberapa
bagian lorong, penelusuran terbayang akan semakin meny-
enangkan jika dilakukan sambil berkayak.
Pendokumentasian Gua Hulukuya dilakukan dengan
membagi tim ke dalam dua kelompok penelusuran. Pak Yudi
merasa mencukupkan diri dan tidak kembali masuk gua di
hari ketiga ini. Tidak ada pilihan lain, Pak Iwan dengan seten-
gah terpaksa akhirnya mengenakan coverall ukuran ekstra
yang dibawa Kang Ronald. Dikatakan ekstra karena tidak
satu pun coverall bawaan Palawa yang cukup di badannya.
Mau dikatakan apa jika bukan ekstra?
Sejak awal Pak Iwan enggan turun menelusuri gua.
Sambil bercanda, Pak Yudi dan Pak Deni sering menjuluki
Pak Iwan sebagai Dokter Badan Geologi, dokter spesialis
visum. Pak Iwan menangani bidang administratif. Perannya
sangat besar untuk melancarkan jalannya operasi lapangan.
Pak Iwan bertugas menemui pejabat lokal dan meminta mer-
eka untuk membubuhkan tandatangan pada berbagai surat
standar perjalanan yang telah disiapkannya sebagai tanda
bukti operasional benar dilakukan. Hal tersebut diperlukan
agar biaya perjalanan dapat dibayar oleh kas kantor. Pak
Iwan hobi ngebanyol dan tadi ia sempat kehilangan selera
humornya saat terdesak takbisa menolak ajakan kami untuk
turun menelusuri gua.
Sepanjang jalan ia merutuki keadaannya. Ia menyesali
sang supir, yaitu Pak Dudi, yang memang tidak mungkin dim-
inta untuk menggantikannya. Selama penelusuran saya tidak
melihatnya. Kami berbeda kelompok. Ia berada di kelompok
satu bersama Kang Taufk, Kang Eris, dan Pak Deni. Saya
bersama kelompok II yang berisi Kang Baihaqi, Kang Fikry,
Kang Ronald, dan juga Kang Nanang. Dia kembali menjadi
model di gua ini. Kang Baihaqi bersama kamera G12, Kang
Fikry menjadi asisten Kang Ronald, sedangkan saya bertugas
membawa fash; lightman in the right place. Saya bertemu
kembali dengan Pak Iwan di luar lubang belakang.
Berbeda dengan gua-gua sebelumnya, yang mana dua
lubang gua yang berlorong menyambung memiliki atau
diberi nama masing-masing, di mana mulut yang satu dan
yang lainnya saling berbeda, Gua Hulukuya tidak. Masyara-
kat tetap menyebutnya dengan nama itu bukan dengan
yang lainnya.
Di luar lubang belakang Gua Hulukuya, pascapenelu-
suran, saya melihat wajah Pak Iwan berbinar-binar. Mung-
kin itu penampakan dari perasaan senang yang memancar
atau, bahkan secara lebaynya, membadai di dalam hatinya.
Sesaat setelah sebatang rokok habis diisapnya, Kang Taufk
merekam beberapa pernyataan yang disampaikan oleh Pak
Iwan. Apa yang sebelumnya sudah terpancar dari wajah dan
gesturnya tubuhnya kemudian ternyatakan secara verbal.
Dapat saya simpulkan, Pak Iwan cukup senang. Boleh jadi
pengalaman pertama itu tadi membuatnya tidak akan meno-
lak ajakan kami, kelak jika ada lagi kesempatan, untuk kem-
bali menelusuri gua.[]
Aven dan Semacam Kelucuan
di Gua Hulukuya
S
egi menarik lain Gua Hulukuya adalah aven
6
-nya. Penelu-
suran tadi sudah lucu sejak awal. Misalnya memerhati-
kan Pak Iwan yang merutuk sebagaimana yang tadi sudah
saya bongkar, atau sebagian penelusur yang seperti kesasar
dan mendekati ke Gua Sodong yang dikira sebagai Gua
Hulukuya, jarak keduanya tidak berjauhan. Atau peristiwa
Kang Nanang. Sebelum bincang teknis dan berdoa bersama
pra-penelusuran, Kang Nanang sudah menceburkan diri siap
berenang ke seberang sungai, mencoba menengok keadaan
terlebih dahulu sebelum anggota tim lainnya menyusul.
Kang Ferry memberi tanda agar semua penelusur mendekat
berkumpul membentuk lingkaran. Semangat menggebu-ge-
bu yang dipadamkan oleh sebuah panggilan menjadi terlihat
lucu, setidaknya begitu yang saya rasakan saat melihatnya.
Kang Nanang urung berenang ke seberang. Di belakangnya,
Kang Taufk, juga bergerak kembali ke atas, tempat yang
lain mulai berkumpul, belum lagi perihal pernyataan spon-
6 Aven adalah sebuah lubang di atap suatu bagian gua
yang mungkin poros inlet sungai ke dalam sistem gua.Se-
buah ftur digambarkan sebagai Aven jika dilihat dari bawah
atau dapat digambarkan sebagai poros jika dilihat dari atas,
dan penamaan ftur tersebut umumnya bergantung murni
pada arah eksplorasi. Banyak aven merupakan celah kecil
ke atas dan tidak bisa ditembus, tetapi mungkin masih rute
penting hidrologi (Field, 2002 via Adji, t.t. dan glosarium
karst @cave.or.id).
tan yang dikatakan Pak Iwan di hadapan kami, Terimakasih
takberhingga kepada seluruh teman-teman dari Mapala UI.
Kalimatnya jelas tapi terdengar aneh di telinga. Beberapa
dari kami saling pandang dan berusaha sekuat tenaga mena-
han gelombang tawa yang semakin mendesak siap keluar:
hahahahaha. Jika kalimat itu bagian dari kesengajaan yang
didorong oleh semangat humor, saya kira itu berhasil. Tidak
sebentar tawa yang sudah keluar sulit dihentikan. Dan tera-
khir tentang suara-suara aneh yang takkalah lucu.
Di sekitar jarak setengah perjalanan, saya sempat dibuat
kebingungan oleh suara-suara anak kecil yang seperti se-
dang bercakap dengan teman sebayanya. Suara aneh yang
timbul tenggelam ditingkahi cericit kelelawar yang mungkin
tidurnya terusik oleh kunjungan kami. Suara bocah yang mi-
rip cericit hewan gua ataukah cericit hewan gua yang mirip
suara bocah. Apa mungkin itu bisikan setan gua yang sedang
berkonspirasi untuk menjahati kami? Pikiran jorok semacam
itu langsung dihapus dari jidat yang kubayangkan seperti
papan tulis. Dari mana hubungannya suara-suara kecil yang
mencericit itu dikaitkan dengan kemungkinan bisik-bisik se-
tan. Itu terlalu primitif. Keanehan tidak segera saya bagikan
atau tanyakan kepada yang lain, khawatir mereka menjadi
panik dan justru akan merepotkan. Saya diam sambil terus
memandang ke sekeliling. Berputar-putar sampai akhirnya
berhenti pada satu titik terang. Aven. Terlihat kepala dan
setengah badan beberapa anak kecil pada sebuah lubang
di bagian atap yang terhubung ke bagian luar gua. Teka-teki
pun terjawab; sebuah kelucuan menyembul dari aven.[]
Tasikmalaya Jatinangor, Awal September 2013
c
i
k
a
t
o
m
a
s
k


a


r


s


t
e

k

s

k

u

r

s

i
PMPA PALAWA UNPAD
Kompleks UKM Barat Unpad, Jatinangor
Jalan Bandung - Sumedang km.21
palawaunpad.com

Gua, ibarat suatu buku yang


merekam berbagai episode
geologi-bioarkeologi.
R.K.T. Ko