Anda di halaman 1dari 9

Impaksi insisivus rahang atas: diagnosis dan pengukuran prediktif

Ringkasan
Latar belakang. Saat gigi insisivus tidak erupsi sesuai waktu yang diperkirakan, sangat
penting bagi dokter gigi untuk menentukan etiologi dan menyusun rencana perawatan.
Tujuan. Tujuan laporan ini yaitu memberikan informasi yang bermanfaat untuk diagnosa dan
penanganan langsung impaksi insisivus rahang atas menggunakan perawatan interseptif:
pengeluaran hambatan dan rapid maxillary expansion (RME). Desain. Diagnosa akurat dapat
diperoleh dengan pemeriksaan klinis dan radiografi seperti radiografi panoramik,
computerized tomography (CT) dan cone beam computerized tomography (CBCT). Penting
untuk mengetahui pengukuran prediktif erupsi yang dinilai pada foto panoramik: jarak
dataran oklusal, kematangan, angulasi dan posisi vertikal insisivus yang tidak erupsi. Penting
untuk mendiagnosa lebih awal serta perawatan ortodontik interseptif, seperti pengeluaran
hambatan dan rapid maxillary expansion (RME), dapat memperbaiki gangguan erupsi
melalui pengambilan ruang untuk insisivus dan meningkatkan posisi dalam tulang gigi
impaksi tersebut. Hasil. Perawatan RME setelah pengeluaran secara bedah hambatan erupsi
insisivus atas memberikan peningkatan posisi dalam tulang gigi tersebut. Kesimpulan.
Angulasi dan posisi vertikal gigi impaksi penting dalam mencoba memprediksi erupsi.
Peningkatan posisi dalam tulang insisivus yang tidak erupsi, melalui pengeluaran odontoma
dan rapid maxillary expansion, memungkinkan pembedahan konservatif dan pencapaian
estetik yang sangat baik dan hasil periodontal.
Kata kunci: gangguan erupsi, odontoma, ekspansi maksila, traksi ortodontik, teknik close
eruption.
Pendahuluan
Impaksi insisivus rahang atas memberikan masalah pada usia muda, kondisi patologis ini
lebih jarang terjadi daripada molar tiga atau kaninus. Impaksi insisivus permanen rahang atas
terjadi pada 0,2 - 1% populasi. Rujukan lebih dini pasien saat periode gigi bercampur biasa
dilakukan karena perhatian orang tua dan dokter gigi mengenai erupsi terhambat insisivus
sentral permanen rahang atas.
Karena insisivus rahang atas yang tidak muncul dianggap tidak menarik, ini dapat
mempengaruhi rasa percaya diri dan interaksi sosial, sehingga penting untuk mendeteksi dan
menangani masalah ini sesegera mungkin.
Gigi insisivus rahang atas merupakan gigi paling menonjol dalam senyuman, ini juga
merupakan gigi yang paling terlihat saat berbicara pada kebanyakan orang, serta pada erupsi,
posisi, dan morfologi normal gigi ini penting bagi estetik wajah dan pengucapan.
Diagnosa lebih awal sangat penting serta perawatan ortodontik interseptif tidak hanya
meningkatkan malrelasi skeletal dan menghilangkan gangguan fungsional, tapi dapat
memperbaiki gangguan saat erupsi.
Penyebab
Literatur menunjukkan beberapa penyebab kegagalan atau terhambatnya erupsi insisivus
rahang atas.
Kegagalan erupsi dapat terjadi jika penghambat patologi seperti gigi supernumerari,
odontoma, kista yang muncul dalam jalan erupsi gigi insisivus.
Gigi supernumerari dan odontoma merupakan penyebab paling sering: 56 - 60% gigi
supernumerari menyebabkan impaksi insisivus permanen akibat hambatan langsung erupsi.
Kegagalan erupsi juga dapat disebabkan oleh malformasi atau dilaserasi gigi. Dilaserasi
terjadi setelah trauma gigi sulung, saat benih gigi permanen yang sedang berkembang cedera
akibat hubungannya yang dekat dengan gigi sulung. Derajat kerusakan gigi permanen
tergantung pada tahap perkembangan gigi, juga jenis dan arah trauma yang terkena.
Penyebab lain yang menyebabkan terhambatnya erupsi insisivus rahang atas yaitu: posisi
ektopik benih gigi, gigi sulung non-vital atau ankylosis, ekstraksi lebih awal (atau kehilangan
lebih awal) gigi sulung, hambatan mukosa di jalan erupsi yang menjadi penghalang erupsi,
abnormalitas endokrin, serta penyakit tulang.
Prosedur diagnostik
Saat gigi insisivus tidak erupsi pada waktu yang diperkirakan, sangat penting bagi dokter gigi
untuk menentukan penyebab dan menyusun rencana perawatan yang sesuai. Diagnosa akurat
dapat diperoleh setelah pemeriksaan klinis dan radiografi menyeluruh. Penting pula untuk
meninjau kembali riwayat medis pasien untuk mengeluarkan kondisi lokal dan sistemik.
Pasien dan orang tua harus ditanyakan mengenai riwayat trauma gigi bahkan saat masa
kanak-kanak. Diagnosa gigi impaksi biasanya berdasarkan pada temuan klinis dan radiografi.
Disarankan untuk melakukan pemeriksaan klinis dan palpasi prosessus alveolaris.
Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan intra oral harus dilakukan untuk mengidentifikasi gigi sulung yang tertahan,
pembengkakan bukal-palatal serta tersedianya ruang yang sesuai untuk gigi insisivus (9 mm
untuk insisivus sentral dan 7 mm untuk insisivus lateral).
Tanda klinis penting yaitu retensi berlebihan gigi sulung sementara gigi permanen
kontralateralnya telah erupsi; pengurangan cukup besar ruang yang tersedia bagi erupsi gigi
permanen atau penutupan ruang; rotasi dan inklinasi gigi tetangga; penonjolan jaringan lunak
pada mukosa labial dan palatal tergantung dari lokasi gigi; tidak adanya tonjolan pada sulkus
bukal pada 1 - 1,5 tahun sebelum waktu erupsi gigi yang diperkirakan.
Tanda patognomik yang menunjukkan impaksi insisivus sentral yaitu munculnya insisivus
lateral homolateral pada lengkung rahang, karena ini menunjuk pada anomali proses erupsi
insisivus sentral.
Penyimpangan urutan erupsi normal, contoh insisivus lateral erupsi setelah insisivus sentral,
atau erupsi gigi tetangga yang terjadi 6 bulan sebelumnya (dengan insisivus atas belum
erupsi, insisivus bawah erupsi setahun sebelumnya), merupakan tanda lain erupsi terhambat
insisivus rahang atas.
Posisi gigi tetangga dalam rahang harus dicatat juga apakah tegak lurus atau miring ke arah
gigi yang hilang. Ini dapat membantu dalam menentukan lokasi gigi yang tidak erupsi: saat
dekat dengan jalan erupsi normal, gigi tetangganya dapat menjadi miring, tapi saat gigi yang
tidak erupsi jauh dari jalan erupsi normalnya, gigi tetangganya dapat menutup ruang dengan
pergerakan gigi bodily.
Palpasi daerah alveolar
Palpasi merupakan keterangan penting dalam penetapan akhir gigi yang tidak erupsi, ini juga
dapat membantu dalam evaluasi radiografik.
Pada palpasi daerah tersebut, dokter gigi cenderung menemukan tonjolan palatal atau labial
yang akan membantu menentukan posisi gigi yang tidak erupsi. Untuk menemukan mahkota
gigi impaksi, kami mencari tonjolan fibromukosa palatal atau vestibular yang tidak sakit dan
tak dapat ditekan. Ridge tak bergigi dengan ukuran mesiodistal dan vestibulopalatal yang
kecil pada puncaknya menandakan bahwa gigi tersebut impaksi lebih dalam.
Pemeriksaan radiografi
Diagnosa gigi impaksi dipastikan dan lokasinya ditentukan melalui evaluasi radiografi.
Foto panoramik dianggap sebagai pemeriksaan radiografi standar tahap awal untuk
perencanaan perawatan gigi impaksi karena ini memberikan dosis rendah sambil memberikan
tinjauan radiografi terbaik. Foto ini berguna karena memiliki ciri khas menunjukkan semua
gigi sekaligus, ini dapat menunjukkan adanya gigi impaksi, derajat resorpsi akar gigi sulung,
serta kedalaman impaksi.
Sefalometri lateral merupakan foto lain yang berguna khususnya jika terdapat gigi
supernumerari atau dilaserasi karena ini memungkinkan pandangan dari beberapa dimensi.
Untuk menganjurkan rangkaian perawatan terbaik dan untuk merencanakan strategi yang
sesuai, dokter ortodontik membutuhkan informasi berikut: posisi yang tepat mahkota dan
apeks akar gigi impaksi dan orientasi 3 dimensi sumbu panjang gigi; kedekatan gigi impaksi
terhadap akar gigi tetangga; adanya patologi seperti gigi supernumerari, odontoma,
granuloma atau kista apikal, serta hubungan ruang dengan gigi impaksi; adanya kondisi yang
merugikan yang mengenai gigi tetangga, seperti resorpsi akar; anatomi 3 dimensi mahkota
akar gigi impaksi.
CT dibuktikan lebih baik daripada metode radiografi lainnya dalam memperlihatkan jaringan
tulang. Foto CT 3D dengan jelas menunjukkan lokasi dalam tulang, inklinasi dan morfologi
gigi impaksi juga jaraknya dari struktur di sekitarnya.
Karena diperoleh informasi tiga dimensi yang sangat mendetail, Computerized Tomography
merupakan metode pilihan untuk dengan akurat menemukan lokasi gigi yang tidak erupsi dan
mengidentifikasi resorpsi akar gigi tetangga yang tidak dapat ditemukan dengan metode lain.
Informasi yang sangat detail serta perbedaan jaringan yang sangat jelas tanpa blur (kabur)
dan overlap (tumpang tindih) struktur di dekatnya memberikan dosis radiasi lebih berat,
ketersediaan terbatas, serta harganya mahal.
Gambaran tiga dimensi memungkinkan analisis lokasi serta orientasi gigi impaksi yang tepat,
keadaan relatif terhadap hambatan erupsi, anatomi eksternal dan internal, ketebalan tulang
labial dan palatal; adanya resorpsi gigi tetangga atau kehilangan tulang patologis; ada atau
tidaknya garis radiolusen yang tersambung antara akar dan tulang (kemungkinan ankilosis).
Baru-baru ini cone-beam CT (CBCT) telah diperkenalkan dan teknik yang ditujukan untuk
menggambarkan gigi dan struktur maksilofasial. Ini memiliki seperenam radiasi CT, lebih
efisien waktu, lebih murah, mampu menyediakan gambaran tiga dimensi, perbedaan tulang
yang sangat baik dan jumlah tampilan yang tak terbatas. Kerugiannya meliputi resolusi
spasial struktur yang halus yang sedikit dibawah kemampuan CT dan gambaran terbatas
jaringan lunak (akibat dosis radiasi rendah).
Pengukuran prediktif erupsi dinilai dari radiografi panoramik
Mitchell dan Bennet pada tahun 1992 menggolongkan jarak gigi permanen yang tidak erupsi
dari dataran oklusal yaitu: dekat, yaitu pergeseran vertikal pada 1/3 koronal akar gigi
tetangga, pergeseran horisontal <1/2 lebar gigi; menengah, yaitu pergeseran vertikal pada 1/3
tengah akar gigi tetangga, pergeseran horisontal > lebar gigi tapi <1 lebar gigi; jauh, yaitu
pergeseran lebih besar (Gambar 1). Kematangan gigi insisivus yang tidak erupsi diperiksa
dengan klasifikasi Cvek. Gigi dengan ujung akar lebar, divergen dan akar yang diperkirakan
kurang dari setengah panjang akhir dimasukkan ke grup 1. Gigi dengan akar antara setengah
dan dua pertiga panjang akar akhir dimasukkan ke grup 2, dan yang memiliki akar dua
pertiga panjang akhir masuk ke grup 3. Gigi dengan foramen apikal terbuka dan hampir
mencapai panjang akar sempurna ditempatkan ke grup 4 dan gigi yang memiliki akar
sempurna masuk dalam grup 5. (Gambar 2).
Bryen,dkk memperkirakan sudut sumbu panjang gigi permanen yang belum erupsi pada
bidang mid-sagital (Gambar 3).
Posisi vertikal insisivus permanen impaksi hubungannya dengan insisivus sentral
kontralateral dianalisa oleh Smailiene,dkk. Untuk menentukan posisi vertikal awal gigi
impaksi, digunakan sepertiga panjang akar insisivus sentral yang sudah erupsi. Tiga
kemungkinan posisi vertikal insisivus impaksi telah ditetapkan: v1- bagian sepertiga gingival
akar; v2- bagian duapertiga akar; v3- bagian sepertiga apikal akar (Gambar 4).
Laporan kasus
Tujuan laporan ini yaitu menunjukkan penanganan interseptif kasus impaksi insisivus sentral
rahang atas yang disebabkan karena odontoma pada pasien muda.
Riwayat dan pemeriksaan awal
Perempuan Kaukasia berusia 9 tahun dirujuk oleh dokter giginya ke Bagian ortodontik
University of Rome Tor Vergata untuk evaluasi. Keluhan utama yaitu kekhawatiran
mengenai gangguan erupsi, yang menyebabkan tampilan yang tidak estetik.
Diagnosis
Pasien memiliki pola wajah seimbang dengan profil cembung, dan senyum asimetris yang
jelek. Pemeriksaan klinis intraoral menunjukkan periode gigi bercampur, perubahan urutan
erupsi dan tidak adanya insisivus sentral kanan atas (Gambar 5,6).
Analisis oklusal menunjukkan hubungan molar Klas I. Terdapat gigi berjejal pada rahang atas
dan bawah. Insisivus sentral kanan atas tidak ada dan insisivus lateral kanan atas sementara
erupsi dengan ruang yang kurang untuk insisivus sentral pada lengkung rahang. Overjet dan
overbite 3 mm.
Pemeriksaan radiografi dilakukan untuk menyelesaikan evaluasi klinis. Foto panoramik
menunjukkan odontoma yang terletak di jalan erupsi insisivus permanen kanan atas. Tidak
memungkinkan untuk menentukan dengan tepat lokasi impaksi insisivus.
Evaluasi TC-Dentascan memastikan adanya odontoma pada badan premaksilla, dekat
mahkota insisivus yang impaksi.
Analisis sefalometri menunjukkan maloklusi skeletal Klas 1 (ANB T1:3) dan pola
dolikofasial (FMA T1:31). Insisivus bawah menunjukkan inklinasi baik pada dataran
mandibula (IMOA T1:92).
Posisi vertikal insisivus permanen impaksi hubungannya dengan insisivus sentral
kontralateralnya yaitu v2, sementara angulasi dataran mid-sagital yaitu 20 (Gambar 7).
Tujuan perawatan
Tujuan perawatan ini yaitu: 1) pengeluaran hambatan dengan pembedahan, 2) ekspansi
rahang atas untuk memperoleh ruang untuk erupsi insisivus dan meningkatkan posisi dalam
tulang gigi insisivus impaksi, 3) Diperolehnya gigi impaksi.
Rencana perawatan
Odontoma dikeluarkan, dan Palatal expander dibonding pada lengkung rahang atas. Ekspansi
rahang atas memungkinkan diperolehnya koreksi yang baik hubungan antar rahang yang
menguntungkan susunan gigi, interkuspasi gigi dan pergerakan fungsional, serta
meningkatkan posisi dalam tulang insisivus (Gambar 8).
Pasien menjalani Rapid Maxillary Expansion modifikasi yang didesain dengan dua kawat
Crozat Kobalt Kromium 0,028 yang dipatri pada lengan metal yang ditempatkan pada posisi
ke depan, lengan ini ditempatkan mesial dari kaninus sulung kanan dan di sebelah kiri
insisivus sentral untuk membuat dan menjaga ruang untuk gigi yang tidak ada (Gambar 9).
Aktivasi skrup dilanjutkan sampai cusp palatal gigi posterior rahang atas berkontak dengan
cusp bukal gigi posterior rahang bawah. Setelah ekspansi, pasien tetap dipasang expander
selama 6 bulan. Pada periode retensi, expander dilepas dan pasien dikondisikan untuk dapat
diperiksa secara klinis dan radiografi untuk mengawasi posisi dalam tulang gigi insisivus
impaksi.
Pada foto panoramik gigi insisivus sentral menunjukkan perkembangan posisi awal vertikal
(bagian v1) dan angulasi (12) (Gambar 10).
8 bulan setelah pengeluaran odontoma, direncanakan pembukaan bedah dan traksi insisivus
sentral kanan yang impaksi. Pembukaan bedah dilakukan menggunakan teknik erupsi
tertutup, yang mengangkat flap yang meliputi gingiva cekat dikembalikan ke posisi
semulanya. Sebenarnya flap gingiva yang dijahit kembali dengan cara seperti itu supaya
mahkota yang di-bracket tidak tampak pada rongga mulut. Perawatan khusus diberikan untuk
memelihara tulang, mukoperiosteum dan jaringan gingiva di sekitar mahkota. Pasien kembali
dua minggu kemudian, setelah penyembuhan jaringan lunak, dan rantai elastomer (60-90 g)
diikat dengan tekanan pada coil terbuka. Pasien datang setiap tiga minggu.
Saat gigi impaksi telah erupsi, bracket ditempatkan pada rahang atas dan diikat pada archwire
(0,016 x 0,022 pada multibraid stainless steel) (Gambar 12).
Foto radiografi sementara diminta untuk memastikan pengaturan posisi akar.
Perawatan aktif membutuhkan waktu 14 minggu untuk pemulihan impaksi insisivus pada
lengkung rahang. Pasien saat ini sedang dalam recall pasien secara rutin. Pada akhir periode
gigi pasien akan dievaluasi untuk tahap kedua perawatan dengan piranti cekat.
Hasil perawatan
Pasien menunjukkan lengkung senyuman yang baik dan profil seimbang (Gambar 13, 14).
Insisivus sentral kanan atas yang impaksi dibawa ke posisi yang benar. Tampilan akhir gigi
menyenangkan secara estetik, dengan batas gingiva pada tinggi yang sama dengan ukuran
mahkota klinis. Gigi bereaksi dengan baik terhadap vitalitas dan tidak menunjukkan kelainan
pada bentuk mahkota. Dari sudut pandang periodontal, tampak gingiva labial berkeratin
berukuran 4 mm, serta kedalaman poket dari 1 sampai 2 mm.
Foto radiografi akhir menunjukkan akar yang utuh, posisi akar yang sesuai, dan tidak ada
penyakit akar.
Klas I skeletal (ANB T1:3 , T2:3) dijaga. Overbite ideal (T1:3mm, T2: 2mm) dan overjet
ideal (T1: 2mm, T2: 2mm) dicapai serta tampak hubungan molar dan kaninus kelas I.
Insisivus atas dan bawah menunjukkan inklinasi yang baik (IMPA T1: 92, T2: 91; U1^FH
T1: 108, T2: 113).
Kesimpulan
Saat gigi insisivus tidak erupsi pada waktu yang diperkirakan, sangat penting bagi dokter gigi
untuk menentukan penyebab pasti dan menyusun rencana perawatan yang sesuai.
Penting untuk melakukan diagnosis lebih awal erupsi terhambat dan dibuat berdasarkan
temuan klinis dan radiografi. Penggunaan TC-dentascan atau CBCT harus dianggap sebagai
pembantu diagnostik pada kasus dimana dipertimbangkan perawatan gigi impaksi, karena ini
memberikan informasi tiga dimensi yang sangat mendetail.
Perawatan interseptif terdiri dari pembuangan bedah hambatan dilanjutkan dengan Rapid
Maxillary Expansion dan penyediaan ruang bagi gigi impaksi menggunakan Modify Rapid
Maxillary Expander, yang memungkinkan peningkatan posisi insisivus dalam tulang.
Pada kasus yang digambarkan, terima kasih pada metode interseptif, diperoleh hasil estetik
dan fungsional yang memuaskan, perlekatan gingiva dijaga dan integritas lengkung gigi
dikembalikan.
Gambar 1. Pengukuran Mitchel dan Bennet
Gambar 2. Klasifikasi Cvek
Gambar 3. Pengukuran Brian,dkk
Gambar 4. Pengukuran Smailiene,dkk
Gambar 5. Foto intraoral sebelum perawatan, tampak depan
Gambar 6. Foto ekstraoral sebelum perawatan, tampilan senyum
Gambar 7. Pengukuran T1
Gambar 8. Tampak depan intraoral saat ekspansi maksila
Gambar 9. Tampak oklusal intraoral saat ekspansi maksila
Gambar 10. Pengukuran T2
Gambar 11. Tampak depan intraoral tahap traksi ortodontik
Gambar 12. Tampak depan intraoral pada akhir traksi ortodontik
Gambar 13. Foto intraoral setelah perawatan, tampak depan
Gambar 14. Foto ekstraoral setelah perawatan, tampilan senyum

Anda mungkin juga menyukai