Anda di halaman 1dari 4

Enukleasi kista radikular menggunakan mikroskop operasi: Laporan kasus dan

tinjauan penggunaan mikroskop


ABSTRAK
Artikel ini menunjukkan laporan kasus kista radikular yang berhubungan dengan gigi anterior
atas diikuti dengan pembesaran bibir. Kantong kista dikeluarkan dengan pembedahan
dibawah anestesi lokal serta menggunakan mikroskop operasi. Artikel ini juga akan
mendiskusikan pro dan kontra penggunaan mikroskop endodontik.
Kata kunci: Mikroskop operasi; Kista radikular; Enukleasi
PENDAHULUAN
Radiolusensi periapikal biasanya berhubungan dengan gigi non-vital. Secara radiografi ini
sering cukup besar untuk didiagnosa sebagai kista tapi secara klinis seperti abses periapikal
dengan adanya pus.
Diagnosa banding dengan granuloma periapikal, kista radikular atau patologi lain harus
dilakukan, serta butuh biopsi jaringan; karena tampilan periapikal lesi dapat membingungkan
dokter gigi.
LAPORAN KASUS
Wanita berusia 35 tahun datang ke Department of Conservative Dentistry and Endodontics
pada 15 Januari 2009. Dia datang dengan dengan rasa sakit parah dan pembengkakan besar
pada bibir atas. Pasien mengalami kejadian berulang keluhan tersebut selama dua bulan
terakhir bersama dengan pembengkakan yang membesar secara bertahap.
Riwayat pasien menunjukkan bahwa dia mengalami trauma pada gigi anteriornya, saat
kecelakaan lalu lintas dua tahun yang lalu. Karena tidak ada perdarahan atau rasa sakit pada
saat terjadinya trauma, tidak ada perawatan yang dilakukan.
Pada pemeriksaan ditemukan bahwa pasien dalam keadaan kesehatan umum dan fisik yang
baik. Pemeriksaan intraoral menyeluruh dilakukan yang menunjukkan pembengkakan
fluktuan dengan permukaan halus, menyebar dari kaninus kanan sampai kaninus kiri.
Pembengkakan kira-kira berukuran 6 x 2 cm. Uji vitalitas gigi menunjukkan bahwa selain
kaninus atas, semua gigi anterior atas non-vital. Insisivus sentral kiri memiliki mobilitas
derajat satu.
Radiografi menunjukkan radiolusensi meluas dari akar kaninus kiri atas sampai insisivus
lateral atas. Radiografi menunjukkan insisivus lateral kanan mengalami kalsifikasi saluran
akar. Dari riwayat dan pemeriksaan klinis ditentukan diagnosis sementara infeksi kista
radikular. Diputuskan untuk melakukan enukleasi lesi setelah perawatan endodontik pada
gigi yang membutuhkan perawatan tersebut.
Diberikan obat antibiotik dan antiinflamasi untuk mengontrol keluhan yang ada. Pasien
dijelaskan mengenai tahap perawatan dan diambil informed consent. Perawatan saluran akar
sekali kunjungan dijadwalkan untuk hari berikutnya pada kedua insisivus sentral atas,
insisivus lateral dan kaninus kanan dilanjutkan dengan enukleasi kista, apisektomi dan
retrograde filling gigi yang terlibat.
Setelah perawatan endodontik selesai pada insisivus sentral atas, insisivus lateral dan kaninus
kanan, diambil foto radiografi setelah perawatan saluran akar. Teknik intraoral dengan
mengangkat flap trapezoidal yang meluas dari kaninus kiri sampai insisivus lateral dan
daerah kista dibuka, yang menunjukkan kavitas tulang besar dengan buccal plate yang hilang,
terisi dengan kista. Enukleasi kista dilakukan di bawah mikroskop endodontik dan kista
dikeluarkan seluruhnya. Pada pemeriksaan kavitas tulang dengan mikroskop ditemukan
bahwa lesi telah menyebabkan resorpsi palatal vault dan mukosa di bawahnya dapat
dipalpasi.
Penutupan dilakukan setelah hemostasis. Saat setelah perawatan tidak ada keluhan apapun.
Kantong kista dikirim untuk pemeriksaan histopatologis. Gambaran histopatologis tetap pada
diagnosis klinik kista radikular.
DISKUSI
Kista radikular umumnya muncul pada bagian anterior setelah riwayat trauma. Kista ini
pertumbuhannya lambat dan dapat menyebabkan ekspansi pada tulang juga menyebabkan
terlibatnya gigi tetangga dan resorpsi akar.
Secara histologi ini menunjukkan adanya lumen kista, dibatasi oleh garis epitel tipis yang
didukung oleh stroma jaringan ikat fibroselular, menunjukkan infiltrat sel inflamasi kronik
tebal dengan beberapa cholesterol cleft.
Pada kasus ini kista radikular melibatkan insisivus sentral atas, insisivus lateral kanan dan
kaninus kanan, karena itu enukleasi diikuti dengan retrograde filling menggunakan GIC
untuk memperoleh penutupan yang lebih baik.
Pengenalan alat atau perlengkapan baru menyebabkan salah paham dan salah tafsir.
Mikroskop dental pada dasarnya merupakan mikroskop THT (telinga-hidung-tenggorokan)
dengan sedikit modifikasi untuk penggunaan dalam kedokteran gigi. Ini merupakan peralatan
yang penting dan penggunaannya menjadi populer, karena penglihatan meningkat. Peralatan
ini mahal dan penggabungan pada praktek membutuhkan banyak perubahan dalam peralatan
dan prosedur. Dokter gigi bedah dan pegawai harus belajar pegangan baru dan teknik
pembantu. Selain itu, kualitas optik, keahlian teknik komponen dan pilihan operasi sangat
mempengaruhi penglihatan jangka panjang dan kesehatan serta kenyamanan pengguna.
Persyaratan utama mikroskop operasi yaitu stabilitas optik dan kemampuan bergerak. Optik
sangat sulit untuk dinilai. Kemampuan bergerak sangat penting karena kepala pasien sering
bergerak. Untuk mengatur posisi, kepala mikroskop harus ringan. Stabilitas mekanis
merupakan faktor terpenting kedua karena harus sering direposisi saat prosedur untuk
menyesuaikan dengan perubahan pada kepala pasien. Penting pula bagi mikroskop untuk
berhenti bergerak segera setelah direposisi.
Walaupun mikroskop meningkatkan lapangan pandang, penggunaan energinya dibatasi
karena pembesaran penglihatan akan mengurangi kedalaman lapangan pandang dan
mempersempit ukurannya. Literatur menyatakan bahwa pembersaran diatas 30x memberikan
sedikit nilai dalam bedah periapikal karena sedikit gerakan pasien termasuk bernafas
menghilangkan fokus dan recenter berulang, refokus menyebabkan kelelahan pada mata.
Penggunaan mikroskop dalam kasus ini membantu untuk memperoleh pandangan yang lebih
baik dari perluasan kelainan. Kista dikeluarkan secara keseluruhan dan akar diamati dengan
jelas. Dibuat bevel pada akar; gutta percha yang berlebih dipotong dengan instrumen yang
dipanaskan dan dimampatkan, serta ditempatkan GIC di daerah apikal.
Penggunaan mikroskop memberikan penglihatan yang lebih baik dan lapangan pandang yang
lebih jelas; tapi meningkatkan waktu operasi serta kelelahan operator dan pasien. Penggunaan
mikroskop operasi dalam prosedur membutuhkan asisten yang terlatih dengan pengetahuan
yang baik mengenai prosedur.
Karena hal di atas, mikroskop operasi memiliki pro dan kontra . Penggunaannya merupakan
prosedur yang sulit tapi dengan pengetahuan yang baik mengenai peralatan dan
penggunaannya akan membantu dalam mengatasi keterbatasannya.
Gambar 1. Foto panoramik menunjukkan radiolusensi
Gambar 2. Foto periapikal pada sisi kanan menunjukkan kalsifikasi insisivus lateral dan
perluasan radiolusensi
Gambar 3. Foto periapikal pada sisi kiri menunjukkan perluasan radiolusensi
Gambar 4. Foto periapikal setelah perawatan endodontik menunjukkan gigi insisivus sentral
atas, serta insisivus lateral kanan
Gambar 5. Foto periapikal setelah perawatan saluran akar menunjukkan insisivus lateral dan
kaninus kanan atas
Gambar 6. Flap trapezoidal diangkat
Gambar 7. Kavitas tulang setelah enukleasi kista (gambar diambil dengan mikroskop operasi)
Gambar 8. Kista yang di-enukleasi

Anda mungkin juga menyukai