Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

ANEMIA DALAM KEHAMILAN









Oleh
Diana Budiandani
109103000024

Pembimbing
dr. Aditya Rangga, SpOG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

i



1
BAB I
PENDAHULUAN

Seorang ibu akan mengalami beberapa perubahan fisiologis selama
kehamilannya, salah satunya adalah perubahan sistem hematologi.
1
Dalam kehamilan
terdapat adanya hemodilusi yang disebabkan oleh peningkatan volume plasma yang
lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan sel darah merah.
2
Hal ini akan semakin
terlihat pada trimester kedua dalam kehamilan. Perubahan dalam sistem hematologi
sangat penting untuk pertumbuhan janin normal.
1

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di
bawah 11 g/dL pada trimester 1 dan 3 atau kadar hemoglobin di bawah 10,5 g/dL
pada trimester 2.
3
Anemia adalah keadaan yang dialami oleh sepertiga populasi di
dunia. Menurut WHO, prevalensi anemia dalam kehamilan pada negara maju sebesar
14 %, sedangkan pada negara berkembang sebesar 51 %.
4
Penyebab tersering anemia dalam kehamilan adalah anemia karena defisiensi
besi. Selain itu terdapat pula penyebab anemia lainnya seperti defisiensi asam folat,
perdarahan akut, penyakit kronik, dan lain-lain.
2
Hal ini harus dicegah karena dapat
menyebabkan berbagai komplikasi dapat kehamilan seperti kehalihran preterm,
pertumbuhan janin terhambat, berat bayi lahir rendah, dan lain-lain.
2
Pencegahan
anemia di Indonesia adalah dengan pemberian profilaksis anemia berupa kombinasi
60 mg besi dan 50 g asam folat .
3

Anemia dalam kehamilan adalah sebuah hal yang penting diperhatikan dalam
kehamilan dan harus selalu dievaluasi dalam setiap pemeriksaan antenatal. Ibu hamil
yang mengalami keluhan lemas dengan klinis pucat harus dicurigai adanya anemia.
Anemia yang diderita oleh seorang ibu hamil harus diketahui etiologi dan
patofisiologi yang mendasarinya agar dapat menjadi dasar pertimbangan untuk
tatalaksana yang akan diberikan.
1



2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Anemia dalam Kehamilan
Secara fungsional, anemia merupakan keadaan dimana sel darah merah
mengantarkan oksigen yang dibutuhkan ke jaringan perifer secara tidak adekuat.
Secara klinis, anemia merupakan kadar hemoglobin atau hematokrit dibawah batas
normal. Nilai normal hemoglobin pada wanita dewasa adalah 12 - 15 g/dL.
5
Anemia
dalam kehamilan adalah kondisi ibu pada trimester 1 dan 3 dengan kadar hemoglobin
di bawah 11 g/dL atau kondisi ibu pada trimester 2 dengan kadar hemoglobin di
bawah 10,5 g/dL. Pada wanita hamil terjadi kondisi hemodilusi sehingga terdapat
perbedaan nilai batas hemoglobin normal pada wanita hamil dengan wanita tidak
hamil.
3


Status kehamilan Hemoglobin (g/dL) Hematokrit (%)
Tidak hamil 12,0 36
Hamil
Trimester 1 11,0 33
Trimester 2 10,5 32
Trimester 3 11,0 33
Tabel 1. Nilai batas untuk anemia pada kehamilan
3


2.2 Fisiologi anemia pada kehamilan
Anemia normositik normokrom dapat muncul pada minggu ke 7-8 kehamilan
disebabkan oleh peningkatan volume plasma yang lebih besar daripada peningkatan
sel darah merah.
7
Kebutuhan oksigen lebih tinggi dalam kehamilan menyebabkan
peningkatan produksi eritropoietin. Peningkatan tersebut mengakibatkan volume
plasma bertambah dan sel darah merah meningkat. Peningkatan sel darah merah yang
terjadi lebih kecil daripada peningkatan volume plasma yang disebut juga hemodilusi


3
sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin.
6
Perbandingan peningkatan
tersebut adalah plasma darah bertambah 30% sedangkan sel darah merah bertambah
18%.
8
Anemia yang disebabkan oleh ekspansi volume plasma tersebut merupakan
fisiologis pada kehamilan. Volume plasma yang meningkat akan menurunkan kadar
hemoglobin, hematokrit dan eritrosit. Akan tetapi hal tersebut tidak menurunkan
jumlah eritrosit dalam sirkulasi.
6
Adanya penurunan viskositas darah secara fisiologis
ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung.
8
Selain itu, terdapat teori
yang menyatakan bahwa anemia fisiologis dalam kehamilan bertujuan untuk
menurunkan viskositas darah maternal sehingga meningkatkan perfusi plasenta dan
membantu penghantaran oksigen serta nutrisi ke janin.
6

Peningkatan volume plasma dimulai pada minggu keenam kehamilan hingga
mencapai puncak pada minggu ke-24 kehamilan.
6
Setelah persalinan, kadar
hemoglobin berfluktuasi dan kemudian naik menjadi kadar seperti keadaan tidak
hamil. Besarnya peningkatan kadar hemoglobin pada masa nifas adalah hasil dari
banyaknya hemoglobin yang meningkat dalam masa kehamilan dan banyaknya
kehilangan darah saat persalinan.
2



Gambar 1. Rerata konsentrasi hemoglobin (garis hitam) dan persentil ke-5 serta ke-95
(garis biru) pada wanita hamil yang mengkonsumsi suplemen besi (Data didapatkan
dari Centers for Disease Control and Prevention, 1989)
2



4
2.3 Epidemiologi Anemia dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan merupakan salah satu faktor pada 40% kematian ibu
di negara berkembang.
3
Frekuensi anemia dalam kehamilan bergantung pada status
besi dalam tubuh sebelumnya dan suplementasi pada saat prenatal. Hal tersebut
diungkapkan dalam studi oleh Taylor, dkk (1982) yang melaporkan bahwa kadar
hemoglobin rerata pada wanita hamil dengan suplementasi besi adalah 12,7 g/dL,
sedangkan kadar hemoglobin rerata pada wanita hamil tanpa suplementasi besi adalah
11,2 g/dL.
2
Kejadian anemia dalam kehamilan pada negara berkembang masih tinggi
yaitu sekitar dua pertiganya.
9
Menurut WHO (2001), jumlah ibu hamil dengan
anemia di Asia Tengggara adalah 24.8 juta. Angka tersebut merupakan angka
tertinggi di seluruh dunia.
10
Penyebab tersering anemia dalam kehamilan adalah
defisiensi besi, perdarahan akut, dan interaksi antara keduanya.
3

2.4 Etiologi Anemia dalam Kehamilan
Penyebab spesifik anemia sangat penting untuk mengevaluasi efek dari
anemia terhadap kehamilan.
2
Keadaan-keadaan yang merupakan predisposisi anemia
defisiensi pada ibu hamil di Indonesia adalah kekurangan gizi dan kekurangan
perhatian terhadap ibu hamil. Selain itu terdapat beberapa kondisi yang juga dapat
menyebabkan defisiensi kalori-besi, misalnya infeksi kronik, penyakit hati, dan
thalassemia.
3

Penyebab Anemia dalam Kehamilan
Didapat Anemia defisiensi besi
Anemia karena perdarahan akut
Anemia karena inflamasi atau keganasan
Anemia megaloblastik
Anemia hemolitik didapat
Anemia aplastik atau hipoplastik


5
Herediter Thalassemia
Hemoglobinopati sel sabit
Hemoglobinopati lainnya
Anemia hemolitik herediter
Tabel 2. Penyebab anemia dalam kehamilan
2

2.5 Gejala dan Tanda Anemia dalam Kehamilan
Gejala dan tanda anemia pada ibu hamil sangat tidak spesifik.
7
Biasanya ibu
hamil dengan anemia akan datang dengan keluhan lemah, pucat, dan mudah pingsan.
Secara klinis, dapat dilihat tubuh yang malnutrisi dan pucat. Apabila tekanan darah
masih dalam batas normal, perlu dicurigai adanya anemia defisiensi besi.
3
Selain itu,
tanda-tanda seperti demam, memar, jaundice, hepatomegali, dan splenomegali juga
perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah ada penyebab yang serius dari anemia.
5

2.6 Diagnosis Anemia dalam Kehamilan
Anemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi sel darah merah,
peningkatan penghancuran atau kehilangan sel darah merah, serta dilusi. Evaluasi
anemia pada kehamilan sama seperti pada seseorang yang tidak hamil. Anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan untuk penegakan diagnosis.
Pertanyaan tentang onset, durasi, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga,
asupan makanan, paparan lingkungan, dan riwayat pengobatan sangatlah penting.
5
Pemeriksaan penunjang awal yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kadar
hemoglobin dan darah tepi. Pemeriksaan hemoglobin dengan spektrofotometri
merupakan standar, kesulitannya adalah alat ini tidak selalu tersedia di semua layanan
masyarakat.
3
Pemeriksaan penunjang yang berlebihan tidak efektif dan tidak
ekonomis untuk menguji setiap wanita hamil dengan anemia, mengingat bahwa
sebagian besar anemia dalam kehamilan yang sifatnya ringan disebabkan oleh
defisiensi zat besi. Maka dari itu, terapi suplementasi besi perlu diberikan apabila ibu
hamil yang mengalami anemia tersebut belum mengkonsumsinya.
5


6
Apabila dicurigai adanya penyebab penyakit kronik seperti malaria dan
tuberkulosis, diperlukan adanya pemeriksaan khusus seperti pemeriksaan darah tepi
dan pemeriksaan sputum. Selain itu, diperlukan adanya beberapa pemeriksaan untuk
membedakan anemia akibat defisiensi besi, defisiensi asam folat, dan thalassemia.
3


Gambar 2. Alur diagnosis anemia dalam kehamilan
3








7
2.7 Komplikasi Anemia dalam Kehamilan
Pengaruh anemia pada kehamilan bergantung pada keparahan dan penyebab
dari anemia.
5
Anemia dalam kehamilan dapat mempengaruhi vaskularisasi plasenta
dengan mengubah angiogenesis pada masa awal kehamilan. Anemia yang terjadi
pada trimester pertama dapat meningkatkan risiko persalinan preterm dan berat bayi
lahir rendah.
2
Berikut ini adalah beberapa pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan,
dan nifas:
- Keguguran
- Partus prematurus
- Inersia uteri dan partus lama
- Atonia uteri dan perdarahan postpartum
- Syok
- Afibrinogenemia dan hipofibrinogenemia
- Infeksi intrapartum dan dalam nifas
8


2.8 Anemia Defisiensi Besi
Defisiensi besi adalah defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan di
seluruh dunia. Pada kehamilan kebutuhan besi meningkat seiring dengan
pertumbuhan janin yang cepat. Namun, hal tersebut tidak diimbangi dengan asupan
besi yang adekuat sehingga anemia dalam kehamilan sering disebabkan oleh
defisiensi besi. Hal ini ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin dan hematokrit
yang disertai penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi
transferin.
6
Selama kehamilan, kehilangan besi terjadi karena besi dari ibu dialihkan
kepada janin untuk eritropoiesis, kehilangan darah saat persalinan, dan laktasi.
Keseluruhan ketiga hal tersebut mencapai kira-kira 2 liter darah.
3
Kebutuhan besi ibu
selama kehamilan adalah 800 mg. Kebutuhan tersebut dijumlahkan dari kebutuhan
untuk janin plasenta sebesar 300 mg dan kebutuhan untuk penambahan eritrosit ibu


8
sebesar 500 mg. Umumnya, penambahan pemberian kalori 300 kalori/hari dan
preparat besi 60 mg/hari cukup untuk mencegah anemia.
3
Zat besi dalam jumlah besar dibutuhkan oleh hasil konsepsi yaitu janin,
plasenta, dan darah untuk pertumbuhannya. Kadar hemoglobin tidak akan turun
secara tiba-tiba apablia tubuh ibu hamil masih memiliki cadangan besi yang cukup.
Pengaruh anemia pada hasil konsepsi adalah kematian mudigah, kematian janin
dalam kandungan, kematian janin waktu lahir, kematian perinatal, prematuritas, cacat
bawaan, serta cadangan besi yang kurang.
8
Pemberian suplementasi besi pada ibu hamil harus dilakukan sedini mungkin.
Oleh karena sebagian besar perempuan mengawali kehamilan dengan cadangan besi
yang rendah, maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi.
6
Terapi anemia defisiensi besi yang rutin dilakukan ialah dengan preparat besi
oral atau parenteral serta transfusi darah. Preparat besi oral yang diberikan adalah fero
sulfat, fero glukonat, atau Na-fero bisitrat. Program nasional yang diterapkan saat ini
adalah kombinasi 60 mg besi dan 50 g asam folat untuk profilaksis anemia.
Pemberian preparat besi 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g% per
bulan. Efek samping pada saluran gastrointestinal pada pemberian besi oral dapat
menurunkan kepatuhan pemakaian. Efek samping tersebut relatif kecil pada
pemberian preparat ferobisitrat dibandingkan pemberian preparat fero sulfat.
3,9

Pemberian terapi seperti ini tidak selalu membantu untuk meningkatkan kadar
hemoglobin dalam darah seperti pada keadaan absorpsi gastrointestinal yang tidak
adekuat, masa kehamilan akhir, intoleransi pada kebutuhan besi oral, serta anemia
berat dengan kontraindikasi transfusi darah. Oleh karena itu, menurut studi Singh
Subhadra, dkk (2011) pemberian besi sukrosa secara intravena dapat menjadi pilihan
yang efektif dan cepat sebagai terapi anemia dalam kehamilan.
9
Pemberian preparat parenteral dengan ferum dekstran sebanyak 1000 mg (20
ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan kadar hemoglobin
relatif lebih cepat yaitu 2 g/dL. Pemberian parenteral ini memiliki indikasi yaitu
intoleransi besi pada saluran gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan
pemakaian preparat besi oral yang buruk. Efek samping utama adalah reaksi alergi,


9
maka perlu diberikan dosis 0,5 cc/im untuk melihat adanya reaksi sebelum diberikan
seluruh dosis.
3

2.9 Anemia Defisiensi Asam Folat
Pada kehamilan, terjadi pelepasan cadangan folat maternal untuk mengirim
folat dari ibu ke janin dan menyebabkan kebutuhan folat meningkat lima sampai
sepuluh kali lipat dibandingkan dengan keadaan tidak hamil. Peningkatan kebutuhan
yang lebih besar dapat terjadi pada beberapa keadaan seperti kehamilan multipel, diet
yang buruk, infeksi, anemia hemolitik, atau konsumsi obat antikonvulsi. Selain itu,
absorpsi folat juga dihambat oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi selama
kehamilan. Maka dari itu, defisiensi asam folat sangat sering terjadi pada kehamilan
yaitu penyebab kedua terbanyak setelah defisiensi zat besi.
6
Kebutuhan asam folat
pada wanita dewasa tidak hamil adalah 50-100 g/hari dan meningkat pada
kehamilan menjadi 400 g/hari.
2
Gejala-gejala yang ditimbulkan pada anemia defisiensi folat sama dengan
anemia pada umumnya ditambah kulit yang kasar dan glositis. Anemia defisiensi
asam folat menyebabkan anemia tipe megaloblastik yang merupakan kelainan yang
disebabkan oleh gangguan sintesis DNA. Pada pemeriksaan apusan darah, anemia ini
ditandai oleh sel-sel megaloblastik khas yang berupa prekursor eritrosit secara
morfologis lebih besar (maksrositik) dan perbandingan inti-sitoplasma yang abnormal
juga normokrom.
6
Pada masa awal defisiensi asam folat ditandai oleh kadar folat serum yang
rendah (<3ng/mL). Selain itu, terdapat pula indikator status folat lain yaitu folat
dalam sel darah merah.
6
Defisiensi asam folat merupakan salah satu faktor adanya anomali kongenital
janin, terutama defek pada penutupan tabung neural serta kelainan lainnya seperti
pada jantung, saluran kemih, alat gerak, dan organ lainnya. Pemberian folat secara
oral sebanyak 1-5 mg/ hari merupakan penatalaksanaan pada keadaan defisiensi asam
folat.
6
Jumlah retikulosit akan meningkat dalam 4-7 hari awal terapi.
2



10
2.10 Anemia karena Perdarahan Akut
Anemia karena perdarahan akut sering terjadi pada kehamilan dini seperti
pada kasus abortus, kehamilan ektopik, dan molahidatidosa. Anemia pada
pascapartum sering disebabkan oleh perdarahan obstetrik. Terapi yang diberikan pada
anemia karena perdarahan akut tidak selalu merupakan transfusi darah. Terapi besi
dapat diberikan selama tiga bulan pada ibu yang mengalami anemia karena
perdarahan akut dengan kadar hemoglobin 7 g/dL, dapat beraktivitas dengan baik,
dan tidak septik.
2

2.11 Anemia karena Penyakit Kronik
Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan anemia adalah gagal ginjal
kronik, kanker dan kemoterapi, infeksi HIV, infeksi cacing, inflammatory bowel
disease, artritis reumatoid, dan peradangan kronik. Penyakit kronik secara umum
dapat menyebabkan beberapa perubahan yaitu pada fungsi retikuloendotel,
metabolisme besi, dan penurunan eritropoiesis.
2


2.12 Anemia Aplastik
Anemia aplastik merupakan salah satu jenis anemia yang jarang dijumpai
selama kehamilan. Pada pemeriksaan penunjang, anemia aplastik didapatkan
pansitopenia dan sumsum tulang yang hiposelular. Hal-hal yang dapat menyebabkan
anemia aplastik antara lain obat dan bahan kimia, infeksi, radiasi, leukemia, penyakit
imun, dan penyakit herediter.
2
Anemia aplastik yang terjadi selama kehamilan dapat
membaik setelah terminasi. Akan tetapi, anemia aplastik tersebut dapat muncul
kembali pada kehamilan berikutnya. Secara umum, pilihan terapi antara lain
terminasi kehamilan elektif, terapi suportif, imunosupresi, atau transplantasi sumsum
tulang setelah persalinan.
6
Terapi yang dapat diterapkan pada pasien usia muda adalah
transplantasi sel punca hematopoietik.
2



11
BAB III
ILUSTRASI KASUS

Kasus I
1. Identitas
Nama pasien : Ny. SY
No RM : 01299310
Tempat, tanggal lahir : Pati, 15 Mei 1986
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : Tamat SLTA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Asrama Arhanud Jl. Pondok Betung Raya No 14,
Bintaro

Datang ke Poliklinik RSUP Fatmawati pada 9 Juni 2014 pukul 10.00 WIB.

2. Anamnesis
A. Keluhan Utama
Rujukan bidan karena anemia (Hb 8)

B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengaku hamil 37 minggu, HPHT 27 September 2013, TP 4 Juli 2014.
Pasien kontrol teratur di bidan, USG sebanyak 1x terakhir dikatakan bayi
dalam keadaan normal. Gerak janin aktif. Sejak awal kehamilan pasien
merasa badan lemas dan cepat lelah dan semakin lama semakin memberat.
Namun tidak ada nyeri kepala , mata berkunang kunang maupun telinga


12
berdenging. Tidak ada perdarahan pervaginam maupun perdarahan ditempat
lain. Pasien memeriksakan diri untuk kontrol secara teratur di bidans pada 1
hari SMRS dan diketahui bahwa pasien mengalami anemia, yaitu Hb 8
kemudian pasien dirujuk ke RSUP Farmawati. Pasien kemudian dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan darah dan USG, kemudian setelah
mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut pasien datang kembali. Tidak
terdapat mules, keluar air-air maupun munculnya lendir darah.

C. Riwayat Menstruasi
- Menarche : usia 13 tahun
- Siklus : teratur, 28 hari
- Lama haid : 7 hari
- Banyak haid : 2-3 pembalut/ hari
- Dismenorea : tidak ada
- HPHT : 27 September 2013
- TP : 4 Juli 2014

D. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah 1x, usia perkawinan 3 tahun

E. Riwayat Kehamilan Lalu
1. Kehamilan saat ini.

F. Riwayat KB
Pasien belum pernah menggunakan KB.

G. Riwayat Penyakit Sistemik
Alergi (-), hipertensi (-), diabetes melitus (-), penyakit jantung (-), asma (-),
penyakit paru (-)



13
H. Riwayat Penyakit Keluarga
Alergi (-), hipertensi (-), diabetes melitus (-), penyakit jantung (-), asma (-),
penyakit paru (-)

I. Riwayat Sosial dan Kebiasaan
Merokok (-), alkohol (-), obat tidur/ narkoba (-), minum jamu (-), aktivitas
berlebihan (-). Pasien makan teratur 3x sehari. Pasien mengaku tidak mau
mengkonsumsi suplemen vitamin, besi dan asam folat yang diberikan oleh
bidan untuk kehamilan, karena merasa mual yang berlebihan setiap
mengkonsumsi suplemen tersebut.

3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 9 Juni 2014
A. Status Generalis
- Keadaan umum : Tampak sakit ringan
- Kesadaran : Composmentis
- Tanda vital : Tekanan darah 110/70 mmHg
Frekuensi nadi 92x/menit
Frekuensi nafas 20x/menit
Suhu 36,7
o
C
- Berat badan : 65 kg
- Tinggi badan : 158 cm
- Kepala : Deformitas (-), rambut hitam dan tersebar merata
- Mata : Konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
- THT : Dalam batas normal
- Gigi dan mulut : Mukosa bibir tampak pucat, lembab, karies gigi (-)
- Leher : Pembesaran kel. tiroid (-), pembesaran KGB (-)
- Toraks : Mammae simetris, hiperpigmentasi pada kedua
areola, retraksi puting tidak ada, benjolan -/-


14
Pulmo suara nafas vesikuler pada seluruh lapang paru,
ronkhi-/-, wheezing -/-
Cor S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
- Abdomen : Sesuai status obstetri
- Ekstremitas : Akral hangat, pucat (-), CRT< 3 detik, edema -/-,
kolionychia (-)

B. Status Obstetri
Abdomen
- Inspeksi : abdomen membesar seusia usia kehamilan
- Palpasi :
Leopold I : TFU 30 cm, teraba bagian besar, bundar, dan kenyal
Leopold II : teraba bagian-bagian kecil di sebelah kiri serta bagian seperti
papan dan keras di sebelah kanan
Leopold III: teraba bagian besar, bulat, keras, dan melenting
Leopold IV: konvergen
His tidak ada
- TBJ : 2800 gram
- Auskultasi : denyut jantung janin 140 denyut/menit, reguler

Anogenital
- Inspeksi : Vulva dan uretra tenang
- Inspekulo : Porsio livid, licin, ostium tertutup, fluor (-), fluksus(+)
- VT : Porsio kenyal, t 3 cm, pembukaan tidak ada, kepalaH I-II








15
4. Pemeriksaan Penujang
A. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Satuan
Nilai
Rujukan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit

8.3
30
6.2
317
3.78

g/dL
%
ribu/uL
ribu/uL
juta/uL

11.7 - 15.5
33 45
5.0 10.0
150 440
3.80 5.20
VER
HER
KHER
RDW
78.6
22.0
28.0
16.2
fl
pg
g/dL
%
80.0 100.0
26.0 34.0
32.0 36.0
11.5 14.5
Basofil
Eosinofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
Luc
0
1
72
15
8
3
%
%
%
%
%
%
0 - 1
1 3
50 70
20 40
2 8
< 4.5
Feritin
Serum Iron
TIBC
7
62.0
491.0
mg/dL
mg/dL
mg/dL
10-291
65.0-175.0
253.0-435.0
Asam Folat
Vitamin B12
13.6
241.3
ng/Ml
pg/mL
3.1-17.5
174-878
ELEKTROFORESA HB
Hb A
Hb A2
Hb F

98.0
2.0
0.0

%
%
%

96.8-97.8
2.4-2.9
0


16
Hb S
Hb E
0.0
0.0
%
%
0
0
Glukosa Darah Sewaktu 105 mg/dL 70 140
HbSAg Non reaktif Non reaktif
URINALISA
Urobilinogen
Protein urin
Berat jennis
Bilirubin
Keton
Nitrit
pH
Lekosit
Darah/ Hb
Glukosa Urin/ Reduksi
Warna
Kejernihan

1.0
Trace
1.020
Negatif
Trace
Negatif
6.5
Negatif
Negatif
Negatif
Kuning
Jernih

<1
Negatif
1.005 1.030
Negatif
Negatif
Negatif
4.8 7.4
Negatif
Negatif
Negatif
Kuning
Jernih
SEDIMEN URIN
Epitel
Lekosit
Eritrosit
Silinder
Kristal
Bakteri
Lain-lain

+
2-3
0-1
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif


/LPB
/LPB
/LPK


0 5
0 2
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif







17
B. Ultrasonografi
Lokasi kehamilan kavum uteri, presentasi kepala.
Biometri janin :
o BPD : 87 mm
o HL : - mm
o HC : 32 mm
o DI : - mm
o AC : 31 mm
o FL : 71 mm
Taksiran berat janin : 2700 gr, jenis kelamin tidak terlihat
Plasenta lokasi implantasi di fundus, kedalaman normal
Kesimpulan : Hamil 35 minggu janin presentasi kepala
tunggal hidup
C. Cardiotokografi
Frekuensi dasar : 140 dpm
Variabilitas : 5-25 dpm
Akselerasi : 3x dalam 10 menit
Deselerasi : negatif
His : tidak ditemukan
Gerak janin : 3x dalam 10 menit
Kesimpulan : reassuring
5. Diagnosis
G1P0A0 hamil 36-37 minggu JPKTH
Anemia mikrositik hipokrom ec deff besi




18
6. Penatalaksanaan
- Perbaikan KU
- Atasi anemia :
o Iron Sucrose 100 mg/5mL iv
o Sulfas Ferosus 2x325 mg po
o Vitamin C 2x500 mg po


19
BAB IV
ANALISA KASUS

Pada kasus yang dialami oleh Ny. SH ditegakkan diagnosis G1 hamil 36-37
minggu, janin presentasi kepala tunggal hidup, belum inpartu dengan anemia
mikrositik hipokromik ec defisiensi Fe. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pada anamnesis didapatkan bahwa saat ini pasien hamil pertama kali dengan
usia kehamilan 36-37 minggu yang dihitung menurut HPHT. Pasien datang ke
poliklinik RSUP Fatmawati dikarenakan dirujuk oleh bidan karena Hb pasien rendah.
Secara umum tidak ada keluhan dalam kehamilan yang sangat menonjol pasien.
Pasien mengaku kadang merasa tampak lemas apabila berakifitas yang mulai
dirasakan semenjak awal kehamilan, kemudian semakin lama keluhan tersebut
dirasakan memberat namun tidak sampai mengganggu aktifitas. Selain itu, pasien
juga mekonsumsi secara tidak mau mengkonsumsi suplemen vitamin, besi, dan asam
folat yang diberikan oleh bidan untuk kehamilan karena merasa mual. Dari data yang
didapatkan tersebut, perlu pemeriksaan lebih lanjut mengenai keadaan fisik pasien
secara menyeluruh serta keadaan kehamilan pasien.
Pada pemeriksaan fisik pasien didapatkan kedua konjungtiva anemis. Status
generalis lainnya dalam batas normal. Hal ini diperkuat oleh pernyataan pasien bahwa
pasien tidak mengkonsumsi suplemen besi dan asam folat. Sehingga keadaan pasien
tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi seperti besi dan asam folat.
Akan tetapi, diagnosis belum dapat ditegakkan sebelum adanya pemeriksaan
laboratorium.
Pada pemeriksaan status obstetrikus didapatkan pada pemeriksaan leopold
berupa TFU 30 cm, janin tunggal, berada intrauterin, memanjang, dan presentasi
kepala. Taksiran berat janin sebesar 2800 gram dengan denyut jantung janin sebesar
140 denyut/menit. Vulva dan uretra tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan
inspekulo didapatkan porsio livid, licin, ostium tertutup, fluor (-), dan fluksus (-).


20
Pada pemeriksaan dalam didapatkan porsio kenyal, tebal 3 cm, pembukaan tidak ada,
kepala pada hodge I-II. Dari pemeriksaan tersebut didapatkan bahwa pasien belum
memasuki proses persalinan.
Hasil USG didapatkan janin presentasi kepala tunggal hidup dengan taksiran
berat janin sebesar 2700 gram. Pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin
kurang dari 11 g/dL pada kehamilan trimester 3 kehamilan dengan nilai VER kurang
dari 80% dan HER kurang dari 27%, sehingga dapat disimpulkan dengan adanya
anemia mikrositik hipokrom.
Anemia mikrositik hipokrom dapat disebabkan oleh defisiensi besi,
thalassemia, penyakit kronik, maupun anemia sideroblastik. Untuk menegakkan
etiologi dari anemia tersebut diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya seperti besi
serum, TIBC, feritin, dan apusan darah tepi.
2,11
Diagnosis anemia mikrositik
hipokrom pada pasien kemungkinan disebabkan oleh defisiensi besi. Anemia
defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi dalam kehamilan.
Diagnosis anemia mikrositik hipokrom ec defisiensi besi dapat ditegakkan
dengan adanya hasil laboratorium yang menunjukkan adanya penurunan kadar besi
serum dan peningkatan kadar TIBC.
Zat besi merupakan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh setiap sel. Hampir
semua besi di dalam tubuh terdapat pada hemoglobin. Besi diabsorpsi oleh usus, dan
dibawa dalam darah oleh protein transferin, dan disimpan sebagai feritin. Zat besi
terdapat pada bagian pengikat oksigen dalam hemoglobin sehingga zat besi
merupakan hal yang sangat penting untuk penyaluran oksigen tubuh.
12
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti penurunan
asupan besi, peningkatan kehilangan besi dari tubuh, dan peningkatan kebutuhan
besi. Kebutuhan besi paling tinggi terdapat pada wanita hamil. Pada kasus ini, pasien
tidak mencukupi kebutuhan besi yang dibutuhkan oleh kehamilannya. Apabila terjadi
secara kronik, anemia defisiensi besi dapat menyebabkan penurunan kapasitas kerja,
kehamilan preterm, dan bayi berat lahir rendah.
13
Pilihan tatalaksana yang dapat diberikan pada penderita anemia mikrositik
hipokrom adalah dengan terapi besi oral, terapi besi parenteral, serta transfusi darah.


21
Tatalaksana diberikan sesuai dengan tingkat keparahan dari anemia, usia kehamilan,
dan adanya faktor risiko tambahan.
3,11,13

Preparat besi oral merupakan terapi yang sering menjadi pilihan karena
efektif, aman, dan ekonomis. Preparat besi oral yang tersedia antara lain ferro sulfat,
ferro glukonat, ferro fumarat, dan ferro laktat. Akan tetapi untuk memperbaiki kadar
hemoglobin, preparat besi oral memerlukan waktu 2-4 minggu. Lalu keadaan anemia
dapat membaik dalam waktu 1-3 bulan.
3,11,13
Selain itu, terdapat ketidakpatuhan
pasien pada kasus ini dalam mengkonsumsi suplemen besi sehingga preparat besi oral
bukan merupakan pilihan terapi dalam kasus ini.
Preparat besi parenteral biasanya diberikan pada pasien yang tidak
mengkonsumsi preparat besi oral dengan baik, pasien yang tidak memberi respon
yang baik pada preparat besi oral, dan pada pasien yang memerlukan pemulihan besi
dengan cepat seperti pada kehamilan trimester akhir. Beberapa contoh pilihan
preparat besi parenteral adalah besi sorbitol sitrat (jectofer) dan ferri hidroksida
sukrosa (venover). Pemberian preparat besi parenteral memiliki efek samping yang
lebih berat daripada preparat besi peroral sehingga pemberiannya harus
dipertimbangkan dengan baik.
14,16
Dosis terapi kebutuhan besi parenteral juga harus
diperhitungkan dengan rumus
Kebutuhan besi = (Hb target - Hb sekarang) x berat badan x 3
Pada pasien ini diberikan preparat besi parenteral karena pasien sudah tidak
dapat lagi mengkonsumsi preparat oral dengan baik dan juga ditambah dengan pola
makan pasien kurang makanan bervariasi dan mengandung zat besi.
Transfusi darah jarang diberikan pada anemia defisiensi besi. Akan tetapi
dapat diberikan dengan indikasi tertentu.

Pada pasien ini belum perlu dilakukan
transfusi darah mengingat keadaan hemodinamik pasien masih stabil, tidak adanya
perdarahan aktif dan pasien juga tidak inpartu, dimana dapat terjadi kehilangan darah
yang dapat memperburuk keadaan pasien.


22
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Anemia merupakan salah satu keadaan yang harus dievaluasi dalam
kehamilan pada setiap pemeriksaan antenatal. Diagnosis dan penyebab anemia dalam
kehamilan harus dicari melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang baik. Penatalaksanaan anemia dalam kehamilan juga harus
disesuaikan dengan kebutuhan serta tingkat keparahan dari anemia.

5.2 Saran
Pemeriksaan antenatal yang rutin dapat mengurangi terjadinya anemia dalam
kehamilan. Setiap ibu hamil, sebaiknya mengkonsumsi suplemen besi oral secara
teratur untuk mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan.


23
DAFTAR PUSTAKA

1. Shiro Kozuma. Approaches to Anemia in Pregnancy. JMAJ. 2009;52 (4):214-
218.
2. F Gary Cunningham, et al. Williams Obstetrics. McGraw-Hill Companies.
2010.
3. Abdul Bari Saifuddin, dkk. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002.
4. K. Kalaivani. Prevalence & Consequences of Anaemia in Pregnancy. Indian J
Med Res. 2009;130 (11):627-633.
5. E Albert Reece, John C Hobbins. Clinical Obstetrics: the fetus & mother.
Blackwell Publishing. 2007.
6. Abdul Bari Saifuddin, dkk. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta:
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010.
7. D. Keith Edmonds. Dewhursts Textbook of Obstetrics & Gynaecology.
Blackwell Publishing. 2007
8. Rustam Mochtar. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi.
Jakarta: EGC. 1998.
9. Singh Subhadra, et al. A Study to Compare the Efficacy and Safety of
Intravenous Iron Sucrose and Intramuscular Iron Sorbitol Therapy for Anemia
During Pregancy. J Obstet Gynecol India. 2013;63 (1):18-21.
10. Jamaiyah Haniff, et al. Anemia in pregnancy in Malaysia: a cross-sectional
survey. Asia Pac J Clin Nutr. 2007;16 (3):527-536.
11. Aru W. Sudoyo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.
2010.
12. World Health Organization. The Clinical Use of Blood: in General Medicine,
Obstetrics, Paediatrics, Surgery & Anaesthesia, Trauma & Burns.
13. Anuradha Gupta, et al. Guidelines for Control of Iron Deficiency Anaemia.
India: National Iron+ Initiative. 2013.


24
14. Victor Hoffbrand, et al. Essential Haematology. Blackwell Publishing. 2006.
15. I Made Bakta. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC. 2006.