Anda di halaman 1dari 17

Sejarah Kerajaan Singosari Lengkap

Sejarah Kerajaan Singosari


TendaSejarah - Kerajaan Singosari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara
vang didirikan oleh Ken Arok pada 1222. Sejarah Kerajaan Singasari berawal dari Kerajaan
Tumapel, yang dikuasai oleh seorang akuwu (bupati). Letaknya di daerah pegunungan yang
subur di wilayah Malang dengan pelabuhannya bernama Pasuruan. Dari daerah inilah Kerajaan
Singosari berkembang dan bahkan menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Timur, terutama
setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dalam pertempuran di dekat Ganter tahun 1222
M. Kerajaan Singosari mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara (1268-
1292) yang bergelar Maharajadhiraja Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa.

Ken Arok merebut daerah Tumapel, salah satu wilayah Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh
Tunggul Ametung, pada 1222. Ken Arok pada mulanya adalah anak buah Tunggul Ametung,
namun ia membunuh Tunggul Ametung karena jatuh cinta pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok
kemudian mengawini Ken Dedes. Pada saat dikawini Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak
bernama Anusapati yang kemudian menjadi raja Singosari (1227-1248). Raja terakhir Kerajaan
Singosari adalah Kertanegara.Ken Arok

Sumber Sejarah

Sumber-sumber sejarah Kerajaan Singosari berasal dari:
Kitab Pararaton, menceritakan tentang raja-raja Singasari.
Kitab Negarakertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan erat
dengan raja-raja Singasari.
Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248 M.
Kehidupan Politik

Kerajaan Singosari yang pemah mengalami kejayaan dalam perkembangan sejarah Hindu di
Indonesia pernah diperintah oleh raja-raja sebagai berikut.

Raja Ken Arok Setelah kemenangannya dalam pertempuran melawan Kerajaan Kediri, Ken Arok
memutuskan untuk membuat dinasti Bhattara serta membangun kerajaan baru dengan nama
Kerajaan Singasari.

Ken Arok sebagai raja pertama Kerajaan Singasari bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang
Amurwabhumi dan dinastinya bernama Dinasti Girindrawangsa (Dinasti Keturunan Siwa).
Pendirian dinasti ini bertujuan menghilangkan jejak tentang siapa sebenarnya Ken Arok dan
mengapa ia berhasil mendirikan kerajaan. Di samping itu, agar keturunan-keturunan Ken Arok
(bila suatu saat menjadi raja besar) tidak ternoda oleh perilaku dan tindakan kejahatan yang
pemah dilakukan oleh Ken Arok. Raja Ken Arok memerintah pada tahun 1222-1227 M. Masa
pemerintahan Ken Arok diakhiri secara tragis, saat ia dibunuh oleh kaki tangan Anusapati, yang
merupakan anak tirinya (anak Ken Dedes dengan suami pertamanya Tunggul Ametung).

Raja Anusapati Dengan meninggalnya Ken Arok, tahta Kerajaan Singasari langsung dipegang
oleh Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahan yang cukup lama itu (1227-1248 M),
Anusapati tidak melakukan pembaruan-pembaruan, karena Anusapati larut dengan
kegemarannya sendiri, yaitu menyabung ayam.

Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai kepada putra Ken Arok dengan
Ken Umang yang bernama Tohjaya. Tohjaya mengetahui bahwa Anusapati suka menyabung
ayam, karena itu Anusapati diundang untuk menyabung ayam di Gedong Jiwa (tempat kediaman
Tohjaya). Saat Anusapati sedang asyik melihat aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjaya
mencabut keris Empu Gandring yang dibawa Anusapati dan langsung menusukkan ke punggung
Anusapati hingga ia meninggal.

Raja Tohjaya Dengan meninggalnya Anusapati, tahta kerajaan dipegang oleh Tohjaya. Tohjaya
memerintah Kerajaan Singasari hanya beberapa bulan saja (1248 M), karena putra Anusapati
yang bernama Ranggawuni mengetahui perihal kematian Anusapati. Ranggawuni yang dibantu
oleh Mahesa Cempaka menuntut hak atas tahta kerajaan kepada Tohjaya. Tetapi Tohjaya
mengirim pasukannya untuk menangkap Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Rencana Tohjaya
telah diketahui oleh Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, sehingga keduanya melarikan diri
sebelum pasukan Tohjaya menangkap mereka.

Untuk menyelidiki persembunyian Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, Tohjaya mengirim
pasukan di bawah pimpinan Lembu Ampal. Namun, Lembu Ampal akhirnya menyadari bahwa
yang berhak atas tahta kerajaan ternyata Ranggawuni, maka ia berbalik memihak Ranggawuni
dan Mahesa Cempaka. Ranggawuni yang dibantu Mahesa Cempaka dan Lembu Ampal berhasil
merebut tahta kerajaan dari tangan Tohjaya. Selanjutnya Ranggawuni menduduki tahta Kerajaan
Singasari.

Raja Wisnuwardhana Ranggawuni naik tahta atas Kerajaan Singasari dengan gelar Sri
JayaWisnuwardhana dibantu oleh Mahesa Cempaka dengan gelar Narasinghamurti. Mereka
memerintah bersama Kerajaan Singasari (1248-1268 M). Wisnuwardhana sebagai raja,
Narasinghamurti sebagai Ratu Angabhaya. Pemerintahan kedua penguasa tersebut membawa
keamanan dan kesejahteraan. Pada tahun 1254 M, Wisnuwardhana mengangkat putranya
sebagai Yuvaraja (raja muda) dengan maksud untuk mempersiapkan putranya yang bernama
Kertanegara menjadi seorang raja besar di Kerajaan Singasari. Setelah Wisnuwardhana meninggal
dunia (dialah satu-satunya raja yang meninggal tidak terbunuh di Kerajaan Singasari), tahta
Kerajaan Singasari beralih kepada Kertanegara.

Raja Kertanegara Raja Kertanegara (1268-1292 M) merupakan raja terkemuka dan raja terakhir
dari Kerajaan Singasari. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Singasari mencapai masa
kejayaannya. Stabilitas kerajaan yang diwujudkan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana
disempurnakan lagi dengan tindakan-tindakan yang tegas dan berani. Setelah keadaaan Jawa
Timur dianggap baik, Raja Kertanegara melangkah ke luar Jawa Timur untuk mewujudkan cita-
cita persatuan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari.

Upaya yang ditempuh Raja Kertanegara dapat dilihat dari pelaksanaan politik dalam dan luar
negeri. Dalam rangka mewujudkan Stabilitas politik Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara
menempuh jalan sebagai berikut.

a.Kebijakan dalam negeri
1. Pergantian pejabat kerajaan, bertujuan menggalang pemerintahan yang kompak.
2. Memelihara keamanan dan melakukan politik perkawinan. Tujuannya menciptakan
kerukunan dan politik yang stabil.
b.Kebijakan Luar Negeri
1. Menggalang persatuan 'Nusantara' dengan mengutus ekspedisi tentara Pamalayu ke
Kerajaan Melayu (Jambi). Mengutus pasukan ke Sunda, Bali, Pahang.
2. Menggalang kerjasama dengan kerajaan lain. Contohnya menjalin persekutuan dengan
kerajaan Campa.
Dari tindakan-tindakan politik Kertanegara tersebut, di satu sisi Kertanegara berhasil mencapai
cita-citanya memperluas dan memperkuat Singasari, tetapi dari sisi yang lain muncul beberapa
ancaman yang justru berakibat hancurnya Singasari. Ancaman yang muncul dari luar yaitu dari
tentara Kubilai-Khan dari Cina Mongol karena Kertanegara tidak mau mengakui kekuasaannya
bahkan menghina utusan Kubilai-khan yaitu Meng-chi. Dari dalam adanya serangan dari
Jayakatwang (Kadiri) tahun 1292 yang bekerja sama dengan Arya Wiraraja Bupati Sumenep yang
tidak diduga sebelumnya. Kertanegara terbunuh, maka jatuhlah Singasari di bawah kekuasaan
Jayakatwang dari Kediri. Setelah Kertanegara meninggal maka didharmakan/diberi penghargaan
di candi Jawi sebagai Syiwa Budha, di candi Singasari sebagai Bhairawa. Di Sagala sebagai Jina
(Wairocana) bersama permaisurinya Bajradewi. Untuk memperjelas pemahaman Anda, tentang
candi Singosari tempat Kertanegari di muliakan,

KEHIDUPAN EKONOMI

Dalam kehidupan ekonomi, walaupun tidak ditemukan sumber secara jelas. Ada kemungkinan
perekonomian ditekankan pada pertanian dan perdagangan karena Singosari merupakan daerah
yang subur dan dapat memanfaatkan sungai Brantas dan Bengawan Solo sebagai sarana lalu
lintas perdagangan dan pelayaran.

Berkas:Rajasa-Dynasty


Kerajaan MAJAPAHIT
Letak Geografis Kerajaan Majapahit
Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena adanya di daerah lembah sungai yang luas,
yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu.
Sejarah Terbentuknya Kerajaan Majapahit
Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan
yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana
Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-
pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu
penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja.
Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya
sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan
Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk
bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan
kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol,
sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta
dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Raja-raja Majapahit
Kertajasa Jawardhana (1293 1309)


Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang
turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi
kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan
sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan
Singasari.
Raja Jayanegara (1309-1328)


Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya
ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka,
pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru
1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti
adalah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat
diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh
Gajah Mada.
Tribuwana Tunggadewi (1328 1350)


Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja
adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan
dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun
1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil
ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat
sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan
kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman.
Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya
itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :Lamun luwas kalah
nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik,
samana sun amukti palapa. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.
Hayam Wuruk
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa
pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya.
Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk,
hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke
negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan
Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda
untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama
para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau
perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda
dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya
perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya.
Untuk memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali
mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi
Gajah Mada tidak akan diganti untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu
Tandi sebagais Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami sebagai Yuamentri.
Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.
Wikramawardhana


Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana.
Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi
anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak
menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur
Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi
disebut perang Paregreg.
Wikramawardhana meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja berikutnya berturut-turut adalah Suhita,
Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan.
Sumber Sejarah berdirinya Kerajaan Majaahit
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan.
Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan
kerajaan
Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika
menghadapi musuh dari kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
Kehidupan Politik
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina,
Ayodya (Siam), Champa dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 1381, Majapahit telah beberapa
kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai politikus-politikus yang handal. Hal ini
dibuktikan oleh Raden Wiajaya, Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan
kerajaan besar, tangguh dan berwibawa. Struktur pemerintahan di pusat pemerintahan Majapahit :
1. Raja
2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini
a. Mahamantri i-hino
b. Mahamantri i hulu
c. Mahamantri i-sirikan
4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiran
a. Rakryan Mahapatih (Panglima/Hamangkubhumi)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
5. Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, masing-masing dharmadyaka dibantu oleh sejumlah pejabat
keagamaan yang disebut Upapat. Pada masa hayam Wuruk ada 7 Upapati.
Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan dibawah raja ada sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang
masing-masing memerintah suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil maupun
militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa sistem pemerintahan dan kehidupan politik
kerjaan Majapahit sudah sangat teratur.
Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan Kerajaan Majapahit
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat mendukung dalam bidang
perekonomian (pelayaran dan perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah
kepulauan yang menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas
dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting.
Sebagai kerajaan Produsen Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang sangat
subur. Dengan daerah subur itu maka kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai Kerajaan Perantara Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi dari daerah yang satu ke daerah yang
lainnya. Keadaan masyarakat yang teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu. bukti-
bukti perkembangan kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan
berikut ini :
Candi : Antara lain candi Penataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan candi Tikus (Trowulan).
Sastra : Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi
Sastra Zaman Majapahit Awal
Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
Kitab Kunjarakarna
Kitab Parhayajna
Sastra Zaman Majapahit Akhir
Hasil sastra zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah, diantaranya ada yang ditulis dalam
bentuk tembang (kidung) dan yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara lain :
Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton
Majapahit ke Gelgel dan penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.
Selain kitab-kitab tersebut masih ada lagi kitab sastra yang penting pada zaman Majapahit akhir seperti Kitab
Paman Cangah, Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawasrama, Babhulisah, Tantri Kamandaka dan Pancatantra.


Kerajaan Majapahit Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa
Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari.

Raja-Raja yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit:

1. Raden Wijaya 1273 1309
2. Jayanegara 1309-1328
3. Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350
4. Hayam Wuruk 1350-1389
5. Wikramawardana 1389-1429
6. Kertabhumi 1429-1478

Kerajaan Majapahit ini mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja
Hayam Wuruk (1350-1389). Kebesaran kerajaan ditunjang oleh pertanian sudah teratur,
perdagangan lancar dan maju, memiliki armada angkutan laut yang kuat serta dipimpin
oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada.

Di bawah patih Gajah Mada Majapahit banyak menaklukkan daerah lain. Dengan
semangat persatuan yang dimilikinya, dan membuatkan Sumpah Palapa yang berbunyi
Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah
Nusantara.

Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang
kerajaan di masa Hayam Wuruk dan juga silsilah raja sebelumnya tahun 1364 Gajah
Mada meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai
mengalami kemunduran.


Penyebab kemunduran:

Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada meletusnya
Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan
kekuasaan daerah bawahan mulai melepaskan diri.


Peninggalan kerajaan Majapahit:

Bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus
Kitab: Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca, Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat
slogan Bhinneka Tunggal Ika.

Paraton Kidung Sundayana dan Sorandaka R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan
Kerajaan Majapahit.

Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto. Dua pohon
beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo Soejono dan
Gubernur Moehammad Noer.

Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya,
terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum. Bangunan bernama Petilasan
Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan tempat Patih Gajah Mada
mengumandangkan Sumpah Palapa.

Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini sebagai
latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan, dinding di sekitar
kuburan itu diselimuti kelambu putih transparan yang mampu menambah kesakralan
tempat itu.

Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa
sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat
ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. Tempat ini
dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit katanya.

Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang
datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. orang berdatangan untuk berdoa,
agar tujuannya tercapai kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan
Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.

Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari
ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan
bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya.

Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau yang
dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan
pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo.

Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat
disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil
dengan tulisan Lima Pedoman yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga.

Selengkapnya Ponco Waliko itu bertuliskan Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora
Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng
Eidra Hing Ubaya

Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum
pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak
dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.
Sejarah Kerajaan Majapahit Beserta Pemerintahan, Kehidupan Politik dan
Kebudayaan
a. Berdirinya Kerajaan Majapahit
Ketika Singasari jatuh ke tangan Jayakatwang, Raden Wijaya (menantu Kertanegara) lari ke
Madura. Atas bantuan Arya Wiraraja, ia diterima kembali dengan baik oleh Jayakatwang
dan diberi sebidang tanah di Tarik (Mojokerto). Ketika tentara Kublai Khan menyerbu
Singasari, Raden Wijaya berpura-pura membantu menyerang Jayakatwang.

Namun, setelah Jayakatwang dibunuh, Raden Wijaya berbalik menyerang tentara Mongol
dan berhasil mengusirnya. Setelah itu, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit (1293)
dan menobatkan dirinya dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.
b. Perkembangan politik Kerajaan Majapahit
1) Pemerintahan Kertarajasa

Untuk meredam kemungkinan terjadinya pemberontakan, Raden Wijaya (Kertarajasa)
melakukan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Mengawini empat putri Kertanegara dengan tujuan mencegah terjadinya perebutan
kekuasaan antar anggota keluarga raja. Putri sulung Kertanegara, Dyah Sri Tribhuaneswari,
dijadikan permaisuri dan putra dari pernikahan tersebut Jayanegara, dijadikan putra
mahkota.

Putri bungsu Kertanegara, Dyah Dewi Gayatri dijadikan Rajapatni. Dari putri ini,
Kertarajasa memiliki dua putri, Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani diangkat
menjadi Bhre Kahuripan dan Rajadewi Maharajasa diangkat menjadi Bhre Daha. Adapun
kedua putri Kertanegara lainnya yang dinikahi Kertarajasa adalah Dyah Dewi
Narendraduhita dan Dyah Dewi Prajnaparamita. Dari kedua putri ini, Kertarajasa tidak
mempunyai putra.

b) Memberikan kedudukan dan hadiah yang pantas kepada para pendukungnya, misalnya,
Lurah Kudadu memperoleh tanah di Surabaya dan Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas
daerah Lumajang sampai Blambangan.

Kepemimpinan Kertarajasa yang cukup bijaksana menyebabkan kerajaan menjadi aman dan
tenteram. Ia wafat pada tahun 1309 dan dimakamkan di Simping (Blitar) sebagai Syiwa dan
di Antahpura (dalam kota Majapahit) sebagai Buddha. Arca perwujudannya adalah
Harikaya, yaitu Wisnu dan Syiwa digambarkan dalam satu arca. Penggantinya adalah
Jayanegara.

2) Pemerintahan Jayanegara

Jayanegara (1309-1328) adalah raja Majapahit kedua yang naik takhta kerajaan
menggantikan Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pada tahun 1309 dan memerintah
sampai tahun 1328. Pada waktu naik takhta, Jayanegara baru berusia 15 tahun. Menurut
kitab Negarakertagama dan Pararaton, ia adalah putra Kertarajasa dari Dara Petak atau
putri Indreswari (selir). Menurut sumber lain, ia adalah putra Kertarajasa dari
Tribuaneswari (permaisuri). Pada tahun 1269, ketika ayahnya masih memerintah,
Jayanegara dinobatkan menjadi raja muda (yuwaraja) di Kediri dengan nama Abhiseka Sri
Jayanegara.

Masa pemerintahan Jayanegara dipenuhi pemberontakan akibat kepemimpinannya kurang
berwibawa dan kurang bijaksana. Pemberontakan-pemberontakan itu sebagai berikut.

a) Pemberontakan Ranggalawe pada tahun 1231. Pemberontakan ini dapat dipadamkan
pada tahun 1309.
b) Pemberontakan Lembu Sora pada tahun 1311.
c) Pemberontakan Juru Demung (1313) disusul Pemberontakan Gajah Biru.
d) Pemberontakan Nambi pada tahun 1319. Nambi adalah Rakryan Patih Majapahit sendiri.
e) Pemberontakan Kuti pada tahun 1319. Pemberontakan ini adalah yang paling besar dan
berbahaya. Kuti berhasil menduduki ibu kota kerajaan sehingga Jayanegara terpaksa
melarikan diri ke daerah Bedander.

Jayanegara kemudian dilindungi oleh pasukan Bhayangkari pimpinan Gajah Mada. Berkat
kepemimpinan Gajah Mada, Pemberontakan Kuti dapat dipadamkan. Namun, meskipun
berbagai pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Jayanegara justru meninggal akibat
dibunuh oleh salah seorang tabibnya yang bernama Tanca. Ia lalu dimakamkan di candi
Singgapura di Kapopongan.

3) Pemerintahan Tribhuwanatunggadewi

Oleh karena Jayanegara tidak berputra, sementara Gayatri sebagai Rajapatni telah menjadi
biksuni, takhta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada Tribhuwanatunggadewi
Jayawisnuwardhana (1328-1350) yang menjalankan pemerintahan dibantu suaminya,
Kertawardhana. Masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi diwarnai permasalahan dalam
negeri, yakni meletusnya Pemberontakan Sadeng. Pemberontakan ini dapat dipadamkan
oleh Gajah Mada yang pada saat itu baru saja diangkat menjadi Patih Daha.

4) Pemerintahan Hayam Wuruk

Tribhuwanatunggadewi terpaksa turun takhta pada tahun 1350 sebab Rajapatni Dyah Dewi
Gayatri wafat. Penggantinya adalah putranya yang bernama Hayam Wuruk yang lahir pada
tahun 1334. Hayam Wuruk naik takhta pada usia 16 tahun dengan gelar Rajasanegara.
Dalam menjalankan pemerintahan, ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.

Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit pada tahun 1331. Upacara
pelantikannya merupakan suatu persidangan besar yang dihadiri oleh para menteri dan
pejabat-pejabat utama. Dalam upacara pelantikan tersebut, Gajah Mada mengucapkan
sumpahnya yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa, berisi tekadnya untuk
mempersatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.

Dalam pelaksanaan sumpahnya tersebut, Gajah Mada dibantu oleh Adityawarman dan Pu
Nala. Gajah Mada mengawali langkahnya dengan menaklukkan Bali dibantu Adityawarman.
Setelah menguasai Bali, Gajah Mada memperluas langkahnya untuk menaklukkan
Kalimantan, Nusa Tenggara, dan beberapa wilayah di Semenanjung Malaka.

Usaha Gajah Mada untuk mewujudkan gagasan Nusantara banyak mendapat kesulitan. Di
antaranya adalah Peristiwa Bubat yang memaksanya menggunakan jalan kekerasan untuk
menyelesaikannya.

Peristiwa Bubat diawali dengan keinginan Hayam Wuruk menikahi Dyah Pitaloka, putri
Raja Sunda. Gajah Mada menghendaki agar putri Sunda itu diserahkan kepada Hayam
Wuruk sebagai tanda tunduk Raja Sunda kepada Majapahit. Tentu saja keinginan ini ditolak
oleh Sri Baduga Maharaja, ayah dari Dyah Pitaloka. Terjadilah pertempuran yang
mengakibatkan seluruh keluarga Raja Sunda berikut putrinya itu gugur.

Dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa pada zaman Hayam Wuruk, Kerajaan
Majapahit mengalami masa kejayaan dan memiliki wilayah yang sangat luas. Luas
kekuasaan Majapahit pada saat itu hampir sama dengan luas negara Republik Indonesia
sekarang.

Namun, sepeninggal Gajah Mada yang wafat pada tahun 1364, Hayam Wuruk tidak berhasil
mendapatkan penggantinya yang setara. Kerajaan Majapahit pun mulai mengalami
kemunduran.

Kondisi Majapahit berada di ambang kehancuran ketika Hayam Wuruk juga wafat pada
tahun 1389. Sepeninggalnya, Majapahit sering dilanda perang saudara dan satu per satu
daerah kekuasaan Majapahit pun melepaskan diri. Seiring dengan itu, muncul kerajaan-
kerajaan Islam di pesisir. Pada tahun 1526, Kerajaan Majapahit runtuh setelah diserbu oleh
pasukan Islam dari Demak di bawah pimpinan Raden Patah.
c. Struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit
Dalam struktur pemerintahan di Majapahit, raja dianggap sebagai penjelmaan dewa dan
memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Roda pemerintahan dijalankan raja
dibantu oleh putra raja, kerabat raja, dan beberapa pejabat pemerintah.

Sebelum menduduki jabatan raja, putra mahkota biasanya diberi kekuasaan sebagai raja
muda (Rajakumara atau Yuwaraja). Contohnya, sebelum dinobatkan menjadi raja, Hayam
Wuruk lebih dahulu diangkat sebagai Rajakumara yang berkedudukan di Jimna. Raja juga
dibantu oleh dewan pertimbangan kerajaan atau Bhatara Saptaprabu. Tugas lembaga ini
adalah memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada raja.

Anggota dewan ini adalah para sanak saudara raja. Untuk masalah-masalah keagamaan, raja
dibantu oleh dewan yang disebut Dharmadyaksa. Dharmadyaksa ri Kasainan bertugas
menangani urusan agama Syiwa dan Dharmadyaksa ri Kasogatan bertugas menangani
urusan agama Buddha. Para pejabat keagamaan ini dibantu oleh tujuh Dharma Upapati,
yaitu Sang Panget i Tirwan, i Kandamulri, i Mangkuri, i Paratan, i Jambi, i Kandangan Rase,
dan i Kandangan Atuha. Selain sebagai pejabat keagamaan, mereka juga merupakan
kelompok cendekiawan.

Tiga lembaga pemerintahan tingkat atas di Majapahit sebagai berikut.

1) Sapta Prabu, merupakan sebuah dewan kerajaan. Anggota dewan ini adalah keluarga raja
yang bertugas mengurusi soal keluarga raja, penggantian mahkota, dan urusan-urusan
negara yang berhubungan dengan kebijaksanaan negara.

2) Dewan Menteri Besar, menerima perintah raja. Anggotanya berjumlah lima orang dan
dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Dewan ini bertugas mengepalai urusan tata negara
merangkap urusan angkatan perang dan kebijaksanaan.

3) Dewan Menteri Kecil, melanjutkan perintah raja. Beranggotakan tiga orang dan bertugas
sebagai pelaksana kebijaksanaan raja.

Di tingkat tengah terdapat pemerintahan daerah yang dikepalai oleh bupati. Daerah ini
biasanya disebut mancanegara. Adapun di tingkat bawah terdapat pemerintahan desa yang
dikepalai seorang kepala desa. Di samping itu, masih ada jabatan raja-raja daerah atau
disebut Paduka Bhatara. Mereka memerintah negara-negara daerah jajahan dibantu
sejumlah pejabat daerah. Raja Majapahit juga dibantu oleh tiga mahamenteri, yakni i Hino, i
Halu, dan i Sirikan. Biasanya yang diangkat untuk menduduki jabatan ini adalah putra raja.

Mahamenteri i Hino memiliki kedudukan paling tinggi karena di samping memiliki
hubungan erat dengan raja, ia juga dapat mengeluarkan prasasti-prasasti. Para maha
menteri ini dibantu oleh para Rakryan Mantri atau sekelompok pejabat tinggi kerajaan yang
merupakan badan pelaksana pemerintahan. Badan ini terdiri atas lima orang, yaitu Patih
Amangkubumi, Rakyan Tumenggung, Rakryan Demung, Rakryan Rangga, dan Rakryan
Kanuruhan. Kelima pejabat ini disebut Sang Panca ri Wilwatikta atau Mantri Amancanegara.
d. Kehidupan kebudayaan Kerajaan Majapahit
Zaman Majapahit menghasilkan banyak karya sastra. Periodisasi sastra masa Majapahit
dibedakan menjadi dua, yaitu sastra zaman Majapahit awal dan sastra zaman Majapahit
akhir. Karya sastra zaman Majapahit awal adalah kitab Negarakertagama karangan Mpu
Prapanca (1365), kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, kitab Arjuna Wiwaha karangan
Mpu Tantular, kitab Kunjarakama (anonim), dan kitab Parthayajna (anonim).

Karya sastra zaman Majapahit akhir ditulis dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang
(kidung) dan gancaran (prosa). Karya-karya sastra pada zaman ini adalah kitab Pararaton
yang berisi tentang riwayat raja-raja Majapahit, kitab Sundayana berisi tentang Peristiwa
Bubat, kitab Surandaka menceritakan tentang Pemberontakan Sora di Lumajang, kitab
Ranggalawe tentang Pemberontaan Ranggalawe dari Tuban, kitab Panji Wijayakrama berisi
tentang riwayat Raden Wijaya, kitab Vsana Jawa menceritakan tentang penaklukkan Bali
oleh Gajah Mada, kitab Usana Bali mengisahkan tentang kekacauan Bali akibat keganasan
Maya Danawa, kitab Pamancangah, kitab Panggelaran, kitab Calon Arang, dan kitab
Korawasrama.

Jenis peninggalan kebudayaan yang lain dari Kerajaan Majapahit adalah candi. Candi-candi
peninggalan Majapahit, antara lain, candi Sumberjati, candi Sanggapura, candi Panataran,
dan candi Pari di dekat Porong. Candi Pari memiliki keistimewaan, yaitu arsitekturnya
memperlihatkan adanya langgam bangunan dari Campa.