Anda di halaman 1dari 25

FILARIASIS|1

BAB I
PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG

Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya
sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Filariasis atau juga dikenal
dengan elephantiasis yaitu penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi
cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk.
Data WHO menunjukkan bahwa di dunia terdapat 1,3 miliar penduduk yang berada di
lebih dari 83 negara berisiko tertular filariasis, dan lebih dari 60% negara-negara tersebut
berada di Asia Tenggara. Diperkirakan lebih dari 120 juta orang diantaranya sudah terinfeksi
dengan 43 juta orang sudah menunjukkan gejala klinis berupa pembengkakan anggota tubuh
di kaki atau lengan (Lymphoedema) atau anggota tubuh lainnya. Penyakit ini tersebar luas
terutama di pedesaan, dapat menyerang semua golongan umur baik anak-anak maupun
dewasa, laki-laki dan perempuan.
Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di
Indonesia. Diperkirakan sampai tahun 2009 penduduk berisiko tertular filariasis lebih dari 125
juta orang yang tersebar di 337 kabupaten/kota endemis filariasis dengan 11.914 kasus kronis
yang dilaporkan dan diestimasikan prevalensi microfilaria 19%, kurang lebih penyakit ini
akan mengenai 40 juta penduduk. Vektor penular filariasis hingga saat ini telah diketahui ada
23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Filariasis
dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan organ kelamin.
Penyakit kaki gajah disebabkan oleh cacing dari kelompok nematoda, yaitu
Wucheraria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Ketiga jenis cacing tersebut
menyebabkan penyakit kaki gajah dengan cara penularan dan gejala klinis, serta pengobatan
yang sama. Cacing betina akan menghasilkan (melahirkan) larva, disebut mikrofilaria, yang
akan bermigrasi kedalam sistem peredaran darah. Penyakit kaki gajah terutama disebabkan
karena adanya cacing dewasa yang hidup di saluran getah bening. Cacing tersebut akan
merusak saluran getah bening yang mengakibatkan cairan getah bening tidak dapat
tersalurkan dengan baik sehingga menyebabkan pembengkakan pada tungkai dan lengan.
Cacing dewasa mampu bertahan hidup selama 5 7 tahun di dalam kelenjar getah bening.
FILARIASIS|2

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM LIMFATIK
Sistem limfatik (lymphatic system) atau sistem getah bening membawa cairan dan
protein yang hilang kembali ke darah .Cairan memasuki sistem ini dengan cara berdifusi ke
dalam kapiler limfa kecil yang terjalin di antara kapiler-kapiler sistem kardiovaskuler.
Apabila suda berada dalam sistem limfatik, cairan itu disebut limfa (lymph) atau getah bening,
komposisinya kira-kira sama dengan komposisi cairan interstisial. Sistem limfatik
mengalirkan isinya ke dalam sistem sirkulasi di dekat persambungan vena cava dengan atrium
kanan.

Gambar 1. Sistem limfatik
Cairan limfe adalah cairan mirip plasma dengan kadar protein lebih rendah. Kelenjar
limfe menambahkan limfosit, sehingga dalam saluran limfe jumlah selnya besar. Faktor
pendorong gerak cairan limfe:
Pembuluh limfe mirip vena, mempunyai katup yang bergantung pada pergerakan otot
rangka untuk memecah cairan ke arah jantung.
FILARIASIS|3

Perlawanan pertama yang dilakukan tubuh adalah dengan respon immun non spesifik :
sel makrofag dan cairan limfa. Sehingga cairan limfatik mengalir melalui sistem
limfatik yang berfungsi juga dalam sirkulasi sistem imun seluler.
Karena fungsi dari sistem saluran limfe juga untuk mengembalikan cairan dan protein
dari jaringan kembali ke darah melalui sistem limfatik, maka faktor pendorong gerak
cairan limfe juga dikarenakan adanya cairan yang keluar dari kapiler darah.
System limfe terdiri dari pembuluh limfe, nodus limfatik, organ limfatik, dan sel
limfatik. Organ-organ limfa diantanya kelenjar getah bening (limfonodus), tonsil, tymus,
limpa (spleen atau lien).
a. Nodus limfaticus
Nodus limfatikus terdapat di sepanjang jalur pembuluh limfe berupa benda
oval atau bulat yang kecil. Fungsi utama nodus limfaticus untuk menyaring antigen
dari limfe dan menginisiasi respon imun. Di dalam nodus limfa terdapat jaringan ikat
yang berbentuk seperti sarang lebah dengan ruang-ruang yang penuh dengan sel darah
putih. Sel-sel darah putih tersebut berfungsi untuk menyerang virus dan bakteri.
Ditemukan berkelompok yang menerima limfe dari bagian tubuh. Kelompok-
kelompok limfonodus utama terdapat di dalam leher, axila, thorax, abdomen, dan
lipatan paha.

Gambar 2. Nodus limfatikus
Kelenjar limfe secara periodik diselingi di seluruh perjalanan saluran limfe
pengumpul. Masing-masing kelenjar limfe bisa mempunyai beberapa saluran limfe
eferen yang masuk melalui kapsul. Kemudian limfe memasuki sinus, membasahi
daerah korteks dan medula, dan keluar melalui saluran eferen tunggal. Daerah korteks
FILARIASIS|4

terutama mengandung limfosit, yang tersusun dalam folikel yang dipisahkan oleh
perluasan trabekular kapsula ini. Di dalam folikel terdapat sentrum germinativum
diskrit. Medula bisa mengandung makrofag dan sel plasma maupun limfosit, dan sel-
sel ini dianggap dalam keseimbangan dinamik di dalam kelenjar limfe. Tiap kelenjar
limfe juga mempunyai suplai saraf dan vaskular yang terpisah,
b. Tonsil
Tonsil merupakan kelompok sel limfatik dan matrix extra seluler yang
dibungkus oleh capsul jaringan pemyambung, tapi tidak lengkap. Terdiri atas bagian
tengah (germinal center) dan Crypti. Tonsil ditemukan di pharyngeal yaitu :
tonsil pharyngeal (adenoid), dibagian posterior naso pharynx
tonsil palatina, posteo lateral cavum oral
tonsil lingualis, sepanjang 1/3 posterior lidah

Gambar 3. Tonsil
c. Timus
Timus terletak di mediastinum anterior berupa 2 lobus. Pada bayi dan anak-
anak, timus agak besar dan sampai ke mediastinum superior. Timus terus berkembang
sampai pubertas mencapai berat 30 -50 gr. Kemudian mengalami regresi dan
digantikan oleh jaringan lemak. Pada orang dewasa timus mengalami atrofi dan
hampir tidak berfungsi.

Gambar 4. Timus
FILARIASIS|5

d. Limpa
Limpa terletak di kuadran atas kiri abdomen, di inferior diaphragma yang
memanjang dari iga 9 11, terletak dilateralis ginjal dan posterolateral gaster. Fungsi
limpa yaitu:
Menginisiasi respon imun bila ada antigen didalam darah
Reservoir eritrosit dan platelet
Memfagosit eritrosit dan platelet yang defektif
Fagosit bakteri dan benda asing lainnya

Gambar 5. Limpa
e. Pembuluh limfe
Kapiler limfatik (Plexus lymphaticus) merupakan tempat absorpsi limfe seluruh
tubuh. Kapiler-kapiler ini bermuara kedalam pembuluh pengumpul yang melewati
ekstremitas dan rongga tubuh, yang kemudian bermuara kedalam sistem vena melalui
duktus toraksikus. Pembuluh pengumpul secara periodik diselingi oleh kelenjar limfe,
yang menyaring limfe dan terutama melakukan fungsi imunologi.
Kapiler limfe serupa dengan kapiler darah yakni terdiri dari selapis endotel,
kecuali bahwa membrana basalis sangat tipis bahkan tidak ada. Telah diketahui adanya
celah besar antara sel endotel pembuluh limfe yang berdekatan, sehingga partikel
sebesar eritrosit dan limfosit bisa berjalan melaluinya.
FILARIASIS|6


Gambar 6. Pembuluh limfe
Pada pembuluh limfe yang lebih besar mempunyai katup seperti vena, yang
mencegah aliran balik cairan menuju kapiler. Kontraksi ritmik (berirama) dinding
pembuluh tersebut membantu mengalirkan cairan ke dalam kapiler limfatik. Seperti
vena, pembuluh limfa juga sangat bergantung pada pergerakan otot rangka untuk
memeras cairan ke arah jantung.
Pembuluh limfe mempunyai struktur yang serupa dengan pembuluh darah
(vena kecil) dengan tunika intima yang terdiri dari sel endotel dan lapisan jaringan ikat
tipis. Tunika media yang terdiri dari serat otot polos sirkuler dan tunika adventisia
yang terdiri dari jaringan fibrosa sedikit serat otot polos. Pembuluh ini juga memiliki
lebih banyak katub yang berasal dari pelipatan endotel. Umumnya mudah kolaps
sehingga sukar dilihat. Pembuluh ini juga dipersarafi dan telah diamati adanya spasme
maupun kontraksi alamiah berirama.
Jaringan tertentu tampaknya tidak mempunyai pembuluh limfe. Keseluruhan
epidermis, sistem saraf pusat, selubung mata dan otot, kartilago dan tendon tidak
mempunyai pembuluh limfe. Dermis kaya akan pembuluh limfe yang mudah dikenal
dengan penyuntikan intradermis zat warna tertentu. Pembuluh tanpa katup ini
berhubungan dengan pembuluh pengumpul pada sambungan dermis-subkutis.
Pembuluh limfe superfisialis ekstremitas terdiri dari beberapa saluran berkatup
yang terutama melewati sisi medial ekstremitas ke arah lipat paha atau aksila, dimana
saluran ini berakhir dalam satu kelenjar limfe atau lebih. Sistem pembuluh limfe
profundus yang terpisah juga terdapat pada ekstremitas. Jalinan ini mengikuti dengan
FILARIASIS|7

dengan rapat jalur vaskular utama profunda terhadap fasia otot. Pada individu normal,
ada sedikit (jika ada) hubungan antara dua sistem.
Saluran limfe ekstremitas bawah dan visera bersatu untuk membentuk sisterna chyli
dekat aorta di dalam abdomen atas. Struktur terakhir ini berjalan melalui diafragma untuk
menjadi duktus toraksikus. Di dalam dada, duktus ini menerima pembuluh limfe visera totem
vena melalui persatuan dengan vena subclavia sisnistra. Selain itu duktus ini juga merupakan
kumpulan dari pembuluh limfe yang berasal dari regio kepala leher sebelah kiri dan dada
sebelah kiri.
Trunkus bronkomediastinal dextra menampung limfe dan struktur mediastinal dan
paru-paru, kemudian menyatu dengan duktus limfatikus dextra. Duktus limfatikus dekstra
yang terpisah, memberikan drainase untuk ekstremitas kanan atas, dada sebelah kanan, kepala
dan leher sebelah kanan serta memasuki vena subclavia dekstra.

Gambar 7. Aliran limfatik
Secara garis besar, sistem limfatik mempunyai 3 fungsi yaitu sebagai berikut :
1. Aliran Cairan Interestial
Cairan interestial yang menggenangi jaringan secara terus menerus yang
diambil oleh kapiler kapiler limfatik disebut dengan Limfa. Limfa mengalir
melalui sistem pembuluh yang akhirnya kembali ke sistem sirkulasi. Ini dimulai
pada ekstremitas dari sistem kapiler limfatik yang dirancang untuk menyerap
cairan dalam jaringan yang kemudian dibawa melalui sistem limfatik yang
FILARIASIS|8

bergerak dari kapiler ke limfatik (pembuluh getah bening) dan kemudian ke
kelenjar getah bening. Getah bening ini disaring melalui benjolan dan keluar dari
limfatik eferen. Dari sana getah bening melewati batang limfatik dan akhirnya ke
dalam saluran limfatik. Pada titik ini getah bening dilewatkan kembali ke dalam
aliran darah dimana perjalanan ini dimulai lagi.
2. Mencegah Infeksi
Sementara kapiler getah bening mengumpulkan cairan interstisial mereka
juga mengambil sesuatu hal lain seperti virus dan bakteri, ini terbawa dalam getah
bening sampai mereka mencapai kelenjar getah bening yang mana dirancang
untuk menghancurkan virus dan bakteri dengan menggunakan berbagai metode.
Pertama sel makrofag menelan bakteri, ini dikenal sebagai fagositosis. Kedua sel
limfosit menghasilkan antibodi, ini dikenal sebagai respon kekebalan tubuh.
Proses ini diharapkan akan berhubungan dengan semua infeksi yang berjalan
melalui getah bening tetapi sistem limfatik tidak meninggalkan ini di sana.
Beberapa sel Limfosit akan meninggalkan node dengan perjalanan di getah bening
dan memasuki darah ketika getah bening bergabung kembali, ini memungkinkan
untuk menangani infeksi pada jaringan lain.
Ini bukan satu-satunya daerah dimana perlawanan berlangsung, limpa juga
menyaring darah dengan cara yang sama seperti sebuah nodus yang menyaring
getah bening, sel B dan sel T yang bermigrasi dari sumsum tulang merah dan
Thymus yang telah matang pada limpa (Ada 3 jenis sel T yang menakjubkan, itu
adalah memori T sel yang dapat mengenali patogen yang telah memasuki tubuh
sebelumnya. Dan dapat menangani mereka dengan lebih cepat, sel T lainnya
disebut helper dan sitotoksik) yang melaksanakan fungsi kekebalan, sedangkan
sel makrofag limpa menghancurkan sel-sel darah patogen yang dilakukan oleh
fagositosis. Ada nodul limfatik seperti amandel yang menjaga terhadap infeksi
bakteri yang mana ini menggunakan sel limfosit. Kelenjar timus mematangkan sel
yang diproduksi di sumsum tulang merah.
Setelah sel-sel ini matang, sel-sel ini kemudian bermigrasi ke jaringan
limfatik seperti amandel yang mana kemudian berkumpul pada suatu wilayah dan
mulai melawan infeksi. Sumsum tulang Merah memproduksi sel B dan sel T yang
bermigrasi ke daerah lain dari sistem getah bening untuk membantu dalam respon
kekebalan.
FILARIASIS|9


3. Pengangkutan Lipid
Jaringan kapiler dan pembuluh juga mengangkut lipid dan vitamin yang
larut lemak A, D, E dan K ke dalam darah, yang menyebabkan getah bening
berubah warna menjadi krem. Lipid dan vitamin yang diserap dalam saluran
pencernaan dari makanan dan kemudian dikumpulkan oleh getah bening pada saat
ini dikirimkan ke darah. Tanpa sistem limfatik kita akan berada dalam kesulitan,
memiliki masalah dengan banyak penyakit. Jaringan tubuh akan menjadi macet
dengan cairan dan sisa-sisa yang membuat kita menjadi bengkak. Kita juga akan
kehilangan vitamin yang diperlukan.




2.2 FILARIASIS
Penyakit ini disebabkan oleh infestasi satu atau dua cacing jenis filarial, yaitu
Wucheria bancrofti atau Brugia malayi. Cacing filaria ini termasuk famili Filiridae, yang
bentuknya langsing dan ditemukan di dalam system peredaran darah limfe, otot, jaringan ikat,
atau rongga serosa pada vertebra. Cacing bentuk dewasa dapat ditemukan pada pembuluh dan
jaringan limfe pasien.
Masa inkubasi penyakit ini cukup lama lebih kurang 1 tahun, sedangkan penularan
parasit terjadi melalui vektor nyamuk sebagai hospes perantara, dan manusia atau hewan kera
dan anjing sebagai hospes definitif.
Prevalensi mikrofilaria meningkat bersamaan dengan umur pada anak-anak dan
meningkat antara umur 20-30 tahun, pada saat usia pertumbuhan, serta lebih tinggi pada
laki-laki dibanding wanita. Lingkungan hidup filarial meliputi :
1) Penghisapan mikrofilaria dari darah atau jaringan oleh serangga penghisap darah
2) Metamorfosis mikrofilaria di dalam hospes perantara serangga, dimana mula-mula
membentuk larva filariform yang aktif
3) Penularan larva infektif ke dalam kulit hospes baru, melalui proboscis serangga yang
menggigit, dan kemudian pertumbuhan larva setelah masuk ke dalam luka gigitan
sehingga menjadi cacing dewasa.
FILARIASIS|10

Kekebalan alami atau yang didapat manusia terhadap infeksi filaria belum diketahui
banyak. Cacing filaria mempunyai antigen yang spesifik untuk spesies dan spesifik untuk
kelompok, memberi reaksi silang antar nematoda lainnya

2.2.1. FILARIASIS BANCROFTI, WUCHERIASIS
2.2.1.1. Etiologi
Penyebab adalah cacing filarial jenis Wucheria bancrofti. Cacing
dewasa jantan dan betina hidup di saluran kelenjar limfe: bentuknya halus
seperti benang dan berwarna putih susu. Yang betina berukuran 65-100
mm x 0,25 mm dan yang jantan 40 mm x 0,1 mm. Cacing betina
mengeluarkan mikrofila yang bersarung berukuran 250-300 mikron x 7-8
mikron. Vektor yang membawa cacing ini adalah nyamuk Anopheles,
Aedes, dan Culex quinquefasciatus.

Gambar 8. Wucheria bancrofti

2.2.1.2. Lingkaran Hidup
Penularan penyakit ini melalui vektor nyamuk yang sesuai. Cacing
bentuk dewasa tinggal di pembuluh limfe dan mikrofilaria terdapat di
pembuluh darah dan limfe.
Pada manusia W. bancrofti dapat hidup selama kira-kira 5 tahun.
Sesudah menembus kulit melalui gigitan nyamuk, larva meneruskan
perjalanannya ke pembuluh dam kelenjar limfe tempat meraka tumbuh
sampai dewasa dalam waktu satu tahun. Cacing dewasa ini sering
menimbulkan varises saluran limfe anggota kaki bagian bawah, kelenjar
FILARIASIS|11

ari-aridan epididimis pada laki-laki serta kelenjar labium pada wanita.
Mikrofilaria kemudian meniggalkan cacing induknya, menembus dinding
pembuluh limfe menuju ke omebuluih darah yang berdekatan atau terbawa
oleh saluran limfeke aliran darah.

Gambar 9. Lingakaran hidup Wucheria bancrofti
2.2.1.3. Patologi
Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh
getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan
oleh mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen
atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh
getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma,
eosinofil, dan makrofag didalam dan sekitar pembulih getah bening ynag
mengalami inflamasi bersama dengan poliferasi sel endotel dan jaringan
penunjang, menyebabkan berliku-likunya system limfatik dan kerusakan
atau inkompetensi katup pembuluh getah bening.
Limfedema dan perubahan kronik akibat statis bersama dengan
edema keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan
yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung dari cacing
FILARIASIS|12

ini dan oleh respon imun penjamu terhadap parasite. Respon imun ini
dipercaya mneyebabkan proses granulomatosadan poliferasi yang
menyababkan obstruksi total pembulih getah bening. Diduga bahwa
pembuluh-pembuluh tersebut tetap paten selama cacing tetap hidup dan
bahwa kematian cacing tersebut menyebabkan reaksi granulomatosa dan
fibrosis. Dengan demikian terjadilah obstruksi limfatik dan penurunan
fungsi limfatik.
2.2.1.4. Gejala Klinis
Manifestasi dini adalah peradangan, sedangkan bila sudah lanjut
akan menimbulkan gejala obstruktif. Mikrofilaria yang tampak dalam
darah pada stadium akut akan menimbulkan peradangan yang nyata,
seperti limfangitis, limfadenitis, funikulitis, epididymitis dan orkitis.
Gejala peradangan tersebut sering timbul setelah bekerja berat dan dapat
berlangusng Antara beberapa hari minggu (2-3 minggu). Gejala dari
limfadenitis adalah nyeri lokal, keras didaerah kelenjar limfe yang terkena
dan biasanya disertai demam, sakit kepala dan badan, muntah-muntah,
lesu, dan tidak nafsu makan, stadium akut ini lambat laun akan beralih ke
stadium manahun dengan gejala-gejala hidrokel, kiluria, limfedema dan
elephantiasis
Karena filariasis bancroftidapat berlangsung selama beberapa tahun,
maka ia dapt mempunyai perputaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi
pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda-beda, yaitu : 1). Filariasis
tanpa gejala; 2). Filariasis dengan peradangan; 3). Filariasis dengan
penyumbatan.
1) Filariasis tanpa gejala
Pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar
limfe terutama didaerah inguinal. Pada pemeriksaan darah ditemukan
mikrofilaria dalam jumlah besar disertai adanya eosinofilia. Pada
waktu cacing dewasa mati, mikrofilaria menghilang tanpa pasien
menyadari adanya infeksi.


FILARIASIS|13

2) Filariasis dengan peradangan
Infeksi primer terlihat limfangitis, limfangitis terjadi disekitar
larva dan cacing dewasa muda yang sedang berkembang,
mengakibatkan inflamasi eosinofil akut demam, menggigil, sakit
kepala, muntah, kelamahan dapat berlangsung beberapa hari sampai
beberapa minggu, dan terkena pada saluran limfe ketiak, tungkai, dan
genitalia.
Demam pada filarial terjadi karena adanya inflamasi yang
berawal dari kelenjar getah bening (biasanya kelenjar getah bening
inguinal) dengan perluasan retrofgrad ke bawah aliran getah bening
dan disertai edema dingin.
Demam yang sering terjadi akibat adanya infeksi sekunder
oleh bakteri. Gejalanya biasanya demam tinggi, menggigil, mialgia,
dan sakit kepala. Juga timbul plak edematosa yang mudah dibedakan
dengan jaringan sehat disekitarnya. Biasanya disertai dengan vesikel,
ulkus hiperpigmentasi. Pada filaria juga timbul ulkus, namun ulkusnya
steril dan mengeluarkan cairan serosanguineous.
Serangan akut ini dapat terjadi selama satu bulan atau lebih.
Bila keadaan berat dapat menyebabkan abses pelvis ginjal,
pembengkakan epididimis, jaringan retroperitoneal dan otot iliopsoas.
Hal ini dapat terjadi karena cacing yang mati mengalami degenerasi
Hematuria dapat timbul pada filariasis, hematuria yang terjadi
dapat makroskopik namun lebih sering mikroskopik dan ditemukan
pada saat pemeriksaan urin rutin. Kelainan ginjal ini mungkin
disebabkan oleh adanya mikrofilaria yang beredar dalam darah
dibandingkan dengan adanya cacing dewasa hal ini ditunjukan dengan
perbaikan dari fungsi ginjal bila mikrofilaria hilang dari peredaran
darah.




FILARIASIS|14

Fenomena lain yang dapat terjadi pada filarial adalah suatu
keadaan yang disebut sebagai tropical pulmonary eosinophilia. Hal ini
disebabkan oleh respon berlebihan imunologik terhadap infeksi
filarial. Sindrom ditandai dengan :
Kadar eosinofil darah tepi yang sangat tinggi
Gejala mirip asma
Penyakit paru restriktif
Kadar antibody spesifik antifilaria sangat tinggi
Respon pengobatan yang baik dengan terapi antifilaria

3) Filarisid dengan Penyumbatan
Dalam stadium yang manhunt ini terjadi jaringan granulasi
yang poliferatif serta terbentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar
proteinyang tinggi dalam saluran limfe merangsang
oembentukanjaringan ikat dan kolagen. Sedikit demi sedikit setelah
bertahun-tahun bagian yang membesar manjadi luas dan timbul
elephantiasis menahun.
Penyumbatan duktus torasikus atau saluran limfe perut bagian
tengah turut mempengaruhi skrotum dan penis pada laki-laki dan
bagian luar alat kelamin pada wanita. Infeksi kelenjar inguinal dapat
mempengaruhi tungkai bagian luar alat kelamin. Elephantiasispada
umumnya mengenai tungkai serta alat kemalin dan menyebabkan
perubahan bentuk yang luas.
Limfedema pada filariasis bancrofibiasanya mengenai seluruh
tungkai. Limfedema tungkai ini dapat dibagi dalam 4 tingkat, yaitu:
Tingkat 1 : Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali
normal (reversibel) bila tungkai diangkat
Tingkat 2 : Pitting/non pitting edema yang tungkai tidak dapat
kembali normal (ireversibel) bila tungkai diangkat.
Tingkat 3 : Edemea non pitting, tidak dapat kembali normal bila
tungkai diangkat, kulit menjadi tebal
Tingkat 4 : edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan
verukosa pasa kulit (elephantiasis)
FILARIASIS|15


Hubungan Antara adanya mikrofilaria di dalam darah dan
elephantiasis sangat kecil, karena mikrofilaria menghilang setelah
cacing mati. Bila saluran limfe kandung kemih dan ginjal pecah akan
timbul kiluria, sedangkan episode berulang adenolimfangitis pada
saluran limfe testis yang mengakibatkan pecahnya tunika vaginalis
akan terjadi hidrokel atau kolakel, dan bila pecah saluran limfe
peritoneum terjadi asites kilus.
Cairan hidrokel ini biasanya jernih namun pada beberapa kasus
bisa keruh. Limfangitis dan elephantiasis ini dapat diperberat dengan
infeksi sekunder oleh Streptococcus.

2.2.1.5. Diagnosis
Diagnosis pasti hanya dapat diperoleh melalui pemeriksaan parasit
dan hal ini cukup sulit. Cacing dewasa yang hidup di pembuluh getah
bening atau kelenjar getah bening sulit dijangkau sehingga tidak dapat
dialkukan pemeriksaan parasite. Mikrofilaria dapat ditemukan didalam
darah, cairan hidrokel, atau kadang-kadang cairan tubuh lainnya. Cairan-
cairan tersebut dapat diperiksa secara mikroskopik. Banyak individu
terinfeksi yang tidak mengandung mikrofilaria dalam darahnya sehingga
diagnosis pasti sulit ditegakkan.
Pada pemerikaan darah tepi ditemukan leukositosis dengan
eosinofilia sampai 10-30%. Di sebagian besar belahan dunia. Mikrofilaria
aktif pada malam hari terutama dari jam 10 malam sampai 2 pagi. Namun
di beberapa daerah Asia dan Pasifik seperti timbulnya subperiodik, yaitu
timbul hampir sepanjang hari dengan puncak beberapa kali sehari.
Sehingga pengambilan spesimen darah untuk pemeriksaan mikrofilaria
harus sesuai dengan puncaknya mikrofilaria aktif didalam darah.
Mikrofilaria dapat ditemukan dengan pengambilan darah tebal atau tipis
pada dipulas dengan pewarnaan Giemsa atau Wright.
Spesimen darah yang diambil lebih baik diambil dari darah kapiler
dibanding dengan darah vena. Terdapat beberapa bukti yang menyebutkan
bahwa konsentrasi mikrofilaria di daerah kapiler labih tinggi dibanding
FILARIASIS|16

dengan daerah vena. Volume darah yang digunakan untuk pulasan sekitar
50l dan jumlah mikrofilaria yang terdapat sekitar 20 mf/ml atau lebih
merupakan petunjuk adanya mikrofilaria dalam darah.
Penggunaan mikroskopik untuk mendeteksi mikrofilaria sudah
ditinggalkan, digantikan dengan penggunaan membrane filtrasi yang
dikemukakan oleh Bell tahun 1967. Keuntungan dari alat ini bahwa
sampeldapat disimpan dalam waktu yang lama. Selain itu karena
menggunakan formalin maka dapat memfiksasi mikrofilaria dalam darah
dan membuang organisme yang tidak diinginkan seperti HIV, Hepatitis B
dan Hepatitis C. Pada episode akut, filariasis limfatik harus dibedakan
dengan tromboflebitis, infeksi, dan trauma. Limfangitis retrogad
merupakan gambaran yang khas meb=mbantu mebedakan dari limfangitis
yang bersifat asendens.
Pemeriksaan terhadap antigen W. bancrofti yang bersikulasi dapat
menegakan diagnosis. Dua tes yang tersedia yakni, ELISA dan ICT.
Sensitivitas keduanya berkisar Antara 96-100%.
Pemeriksaan serologi antibodi juga telah digunakan untuk
mendeteksi W. bancrofti, namun sensitifitasnya rendah, disebabkan oleh
adanya reaksi silang dengan parasit lain. Selain itu juga tidak dapat
membedakan antara infeksi sekarang dan infeksi lampau
Pencitraan limfoskintigrafi dengan radiobuklir pada extremitas
menunjukan abnormalitas system limfatik, baik pada mereka yang
asimtomatik mikrofilaremik dan mereka dengan manifestasi klinis.
Kegunaan dari limfoskintigrafi ini adalah:
1) Peragaan alur aliran limfe
2) Evaluasi kecepatan aliran limfe
3) Peragaan kelenjar limfe
4) Peragaan pusat inflamasi dengan jaringan lunak dan kelenjar yang
baru terbentuk pada proses inflamasi menahun
5) Menemukan kerusakan trauma saluran limfe
6) Membedakan adema tungkai limfe, trauma mekanik tungkai bawah
7) Mengikuti proses perubahan obliterasi limfe
FILARIASIS|17

Pada filariasis limfatik, pemeriksaan USG Dopler skrotum pada pria
dan payudara pada wanita memperlihatkan adanya cacing dewasa yang
bergerak aktif di dalam pembuluh getah bening yang megnalami dilatasi.
Cacing dapat dilihat di pembuluh getah bening korda spermatika hampir
pada 80% pria.
Pemeriksaan PCR untuk mendeteksi DNA W. brancrofti lebih tinggi
sensitivitasnya disbanding metode parasitologik.

2.2.1.6. Pengobatan
a. Perawatan Umum
Istirahat di tempat tidur, pindah tempat ke daerah yang dingin
akan mengurangi derajat serangan akut.
Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses.
Pengikatan di daerah pembendungan mengurangi edema.
b. Pengobatan Spesifik
1) Pengobatan infeksi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan
Dietilcarbamazine (DEC) sebagai satu-satunya obat yang efektif,
aman, dan relative murah. Pengobatan dilakukan dengan
pemberian DEC 6 mg/kgBB/hari selama 12 hari. Pengobatan ini
diulang 1 hingga 6 bulan kemudan bila perlu, atau DEC selama 2
hari per bulan (6-8mg/kgBB/hari)
Obat lain yang digunakan adalah Ivermektin. Meski
Ivermektin sangat efektif menurunkan kadar mikrofilaremia,
tampaknya tidak membunuh cacing dewasa (non-
makrofilarisidal), sehinggaterapi tersebut tidak dapat diharapkan
menyembuhkan infeksi secara menyeluruh. Albendazol bersifat
makrofilarisidal untuk W. bancrofti dengan pemberian setiap hari
selama 2-3 minggu.
Efek samping DEC dibagi dua jenis. Yang pertama bersifat
farmakologis, tergantung disisnya, angka kejadian sama baik pada
terinfeksi filariasis maupun tidak. Yang kedua adalah respon dari
hospes yang terinfeksi terhadap kematian parasite, sifatnya tidak
FILARIASIS|18

tergantung pada dosis obatnya tapi pada jumlah parasite dalam
tubuh hospes. Ada dua jenis reaksi pada DEC :
1) Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa sakit
kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, sendi-sendi,
pusing, anoreksia, lemah, hematuria transien, reaksi slergi,
muntah, dan serangan asma. Raksi ini terjadi karena
kematian filarial dengan cepat dapat menginduksi banyak
antigen sehingga merangsang system imun dan dengan
demikian menginduksi berbagai reaksi. Reaksi ini terjadi
beberapa jam setelah pemberian DEC dan tidak lebih dari 3
hari.
2) Reaksi local dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis,
abses ulserasi, transien limfeedema, hidrokel, funikulitis,
dam epididymitis. Reaksi ini cenderung terjadi kemudian
dan berlangusng lebih lama sampai beberapa bulan, tetapi
akan menghilangndengan spontan. Rekasi lokal cenderung
terjadi pada pasien dengan riwayat adenolimfangitis;
berhubungan dengan keberadaan cacing dewasa atau larva
stadium IV dalam tubuh hospes. Efek smaping pada
pemberian Ivermektin, patogensisnya sama dengan pada
pemberian DEC, hanya lebih ringan pada penderita
filariasis malayi disbandingkan filariasis bankrofti.
2) Pengobatan Penyakit
Hidrokel besar yang tidak mengalami regresi spontan
sesudah terapi adekuat harus dioperasi dengan tujuan drainase
airan dan pembebasan tunika vaginalis yang terjebak untuk
melancarkan aliran limfe.
Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan
operasi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada
hidrokel:
1) Hidrokel besar sehingga dapat menekan pembuluh darah
2) Indikasi kosmetik
FILARIASIS|19

3) Hidrokel permagna yang disarankan teralu berat dan
mengganggu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Terapi bedah dipertimbangkan apabila non-bedah tidak
memberikan hasil yang memuaskan, beberapa terapi bedah yang
dapat dilakukan antara lain:
1) Limfangioplasti
2) Prosedur jembatan limfe
3) Transposisi flap omentum
4) Eksis radial dan graft kulit
5) Anastomosis pembuluh limfe tepi ke dalam
6) Bedah mikrolimfatik


2.2.2. FILARIASIS MALAYI
2.2.2.1. Etiologi
Penyebab adalah filariasis Brugia malayi. Menurut Gandahusada
dkk (2004) bahwa cacing B.malayi dewasa jantan dan betina hidup di
saluran dan pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna
putih susu. Betina berukuran 55 mm x 0,16 mm dan yang jantan 22-23 mm
x 0,09 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria bersarung. Ukuran
mikrofilaria pada B.malayi adalah 200-260 mikron x 8 mikron.

Gambar 10. Brugia malayi

FILARIASIS|20

2.2.2.2. Lingkaran Hidup
Manusia merupakan hospes definitif, priodisitas mikrofilaria
B.malayi adalah periodik nokturna, subperodik nokturna, atau non
periodik. Periodisitas mikrofilaria yang bersarung dan berbentuk khas ini,
tidak senyata periodisitas W. Bancrofti. Sebagai hospes perantara adalah
Mansonia, Anopheles barbirostris, dan Amigeres. Dalam tubuh nyamuk
mikrofilaria tumbuh menjadi larva infeksitif dalam waktu 6-12 hari. Ada
peneliti yang menyebutkan bahwa masa pertumbuhannya didalam
nyamuk kurang lebih 10 hari dan pada manusia kurang lebih 3 bulan.
Di dalam tubuh nyamuk parasit ini juga mengalami dua kali
pergantian kulit, berkembang dari larva stadium I menjadi larva stadium II
dan III, menyerupai perkembangan parasit W.bancrofti. Di dalam tubuh
manusia dan nyamuk perkembangan parasit ini juga sama dengan
perkembangan W.bancrofti.

Gambar 11. Lingkaran hidup Brugia malayi


FILARIASIS|21

2.2.2.3. Epidemiologi
Penyebaran geografis parasit ini luas melipiti srilanka, indonesia,
filipina, india selatan, asia, tiongkok, korea, dan sebagian kecil di jepang.
Daerah penyebarannya terdapat daerah dataran sesuai dengan tempat hidup
nyamuk mansonia. Nyamuk terdapat didaerah rendah dengan banyak
kolam yang bertanamanan pistia (suatu tumbyhan air). Penyaki ini terdapat
diluar kota bila vektornya adalah mansonia, dan bila vektornya adalah
anopheles terdapat didaerah kota dan sekitasrnya.
2.2.2.4. Patogenesis dan Gejala Klinis
Parasit seperti W. Bancrofti akan menimbulkan limfangitis dan
elephantiasis. B. Malayi berdbedan dengan W. Bancrofti dalam hal pasien
dengan gejla filariasis yaitu mempunya jumlah mikrofilaria yang lebih
tingggi dibanding pasien yang tidak mempunyai gejala. Di malaysia
dengan perbandingan sampai lima kali. Filariasis malayi khas dengan
adanya limfadenopati superfisial dan dengan eosinofilia yang tinggi (7-
70%)
Gejala klinis filariasis malayi sama dengan gejala klinis filariasis
timori. Gejala klinis kedua penyakit tersebut berbeda dengan gejala klinis
filariasis bancrofti. Stadium skut ditandai dengan serangan demam dan
ejala peradangan saluaran dan kelenjar limfe, yang hilang tibul berulang
kali. Limfadenitis biasanya mengenai kelenjar limfe inguinal disatu sisi
dan peradangan ini sering tibul setelah penderita bekerja berat diladang
atau sawah. Kadang-kadan peradangan pada keenjar limfe in menjalar
kebawah, mengenai saluran limfe dan menimbulkan limfangitis retrograt,
yang bersifat khas untuk filariasis.
Peradangan pada saluran limfe ini dapat menjalar ke daerah
sekitarnya dan menimbulkan infiltrasi pada seluruh paha atas. Pada
stadium ini tugkai bawah biasanya ikut membengkak dan menimbulkan
gejala limfedema. Limfadenitis dapat pula berkembang menjadi bisul,
pecah menjadi ulkus. Ulkus pada pangkal paha ini, bila sembuh
meninggalkan bekas sebagai jaringan parut dan tanda ini merupaka salah
satu gejala obyektif filariasis limfatik. Selain itu pemebesaran kelenjar
FILARIASIS|22

limfe ini dapat juga dilihat sebagai tali yag memanjang yang merupakan
salah satu tanda lain yang penting untuk filariasis malayi.
Hal lain yang penting dari filariasis malayi ini dalah sistem limfe alat
kelamin tidak pernah terkena, berbeda dengan filariasis bancrofti kecuali
kelenjar limfe inguinal, kelenjar limfe ain dibagian medial tungaki, di
ketiak, dan dibagian medial lengan juga sering terkena. Pada filariasis
brugia, elephantiasis hanya mengenai tungkai bawah, dibawah liutu atau
kadang-kadang lengan bawah dibawah siku. Alat kelamin dan payudara
tidak pernah terkena, kecuali didaerah filariasis brugia yang bersamaan
dengan filariasis bancrofti.
2.2.2.5. Diagnosis
Diagnosis pada filariasis malayi sama seperti diagnosis pada W.
Bancroofti. Namun pada filariasis malayi, pemeriksaan immunologis tidak
dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya mikrofilaria. Selain itu
pemeriksaan radiologis juga jarang pada filariais malayi.
2.2.2.6. Pengobatan
Prinsisp pengobatan pada filariais malayi hampir sama dengan
pengobatan pada W. Bancrofti. Pada filariasis malayi diberikan DEC
dengan dosis 6mg/kgbb/hari selama 6 hari. Ada kepustaakn lain yang
menyebutkan bahwa DEC diberikan dengan dosis 5mg/kgbb/hari selama
10 hari. Untuk pengobatan masal, pemberian dosis standar dan dosis
tunggal tidak dianjurkan. Yang dianjurkan adalah pemberian dosis endah
jangka panjang (100mg/minggu selama 40 minggu) atau garam DEC 0,2-
0,4 % selama 9-12 bulan. Pencegahan terhadap vektor ini dengan cara
memberantas vektor nyamuk tersebut dan menyingkirkan tanaman pistia
strapiotes dengan venoxsoilen 30gr merupakan obat murah dan
memuaskan terhadap tumbuhan air ini.




FILARIASIS|23


2.2.3. FILARIASIS TIMORI
2.2.3.1. Etiologi dan Lingkar Hidup
Penyebab adalah filaria tipe timori. Menurut Gandahusada dkk
(2004) bahwa cacing Brugia timori dewasa jantan dan betina hidup di
saluran dan pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna
putih susu. Betina berukuran 21-39 mm x 0,1 mm dan yang jantan 13-23
mm x 0,08 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria bersarung.
Ukuran mikrofilaria pada B.timorii adalah 2800-310 mikron x 7 mikron.
Mikrofilaria B.timori mempunyai sifat periodik nokturna. B.timori
biasanya ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris. Daur hidupnya
sama seperti B.malayi.

Gambar 12. Brugia Timori
2.2.3.2. Epidemiologi
Filaria tipe ini terdapat di timor, pulang rote, flores, dan beberapa
pulau disekitarnya. Cacing dewasa hidup d dalam saluran dan kelenjar
limfe. Vektornya adakah anopjeles barbirostis. Mikrofilarianya
menyerupai mikrofilaria brugia malayi, yaitu lekuk badannya patah-patah
dan sususnan intinya tidak teraatur, perbedaannya terletak dalam :
1. Panjang kepala sama dengan tiga kali lebar kepala
FILARIASIS|24

2. Ekornya mempunyai dua inti tambahan, yang ukurannya lebih kecil
daripada inti-inti liannya dan letaknya lebi berjauhan bila
dibandingkan dengan letak inti tambahan B. Malayi.
3. Sarungnya tidak mengambil warna pulasan diemsa
4. Ukurannya lebih panjang daripada mikro filaria brugia malayi.
Mikrofilaria bersifat periodik nokturnal.

2.2.3.3. Gejala Klinis, Diagnosis, dan Pengobatan
Gejala klinis, diagnosis dan pengobatan filariasis timori menyerupai
B. Malayi.























FILARIASIS|25

BAB III
PENUTUP



KESIMPULAN

Filariasis atau juga dikenal dengan elephantiasis yaitu penyakit menular dan menahun
yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies
nyamuk. Penyakit kaki gajah disebabkan oleh cacing dari kelompok nematoda, yaitu
Wucheraria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular filariasis hingga saat
ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan
Armigeres. Ketiga jenis cacing tersebut menyebabkan penyakit kaki gajah dengan cara
penularan dan gejala klinis, serta pengobatan yang sama.