Anda di halaman 1dari 9

Bagaimana cara berinteraksi dengan Al Qur'an?

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam pada masa dahulu disebabkan oleh karena Ummat
Islam memiliki interaksi yang baik dengan Al Qur'an. Sejarah juga membuktikan bahwa
keruntuhan kejayaan Islam disebabkan jauhnya Ummat Islam dari Al Quran. Menjadikan Al
Quran sebagai pedoman akan membawa kepada kemuliaan, sedangkan meninggalkannya akan
mengakibatkan kehinaan.

Saat ini, kondisi Ummat Islam sedang jauh dari Al Quran. Hanya sedikit orang Islam yang
mampu membaca Al Quran dengan benar. Hanya sedikit orang Islam yang memahami Al
Quran. Yang mengamalkannnya? Pasti jumlahnya jauh lebih sedikit lagi.

Bahkan, telah banyak orang Islam yang meninggalkan Al Quran. Jangankan untuk
menghafalkannya/memahaminya, membacanya saja mereka sudah tidak berminat lagi. Benarlah
keluhan Nabi saw kepada Allah swt yang termaktub dalam Al Quran [Al Furqan: 30]

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang
tidak diacuhkan".

Jauhnya Ummat Islam dari Al Quran mengakibatkan Ummat Islam terjerembap ke dalam
lumpur kehinaan. Khususnya di Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, orang Islam
digambarkan dengan image miskin dan tertinggal.

Karena itu, jika ingin bangkit, maka tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada Al Qur'an.
Kembali kepada Al Quran berarti kita harus memperbaiki interaksi kita dengan Al Quran. Lalu,
Bagaimana cara berinterkasi dengan Al Qur'an?

Berinteraksi dengan Al Quran tidaklah sulit. Karena pada dasarnya berinteraksi dengan Al
Quran adalah mudah, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surat Al Qamar: 15, 17, 22,
32.

dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang
mengambil pelajaran?


Cukuplah 5 (lima) hal yang perlu dilakukan, yaitu: membacanya, memahaminya,
mengamalkannya, menghafalkannya, dan mendakwahkannya.

1. Membaca Al Qur'an
Membaca Al Quran adalah kunci untuk memahami Al Quran. Tanpa kemampuan membaca Al
Quran dengan baik, akan mustahil bagi seseorang untuk dapat memahami Al Quran dengan
baik. Ketidakmampuan membaca Al Quran dengan baik akan menyebabkan kurang
sempurnanya ibadah shalat seseorang. Oleh sebab itu, hukum membaca Al Quran dengan benar
adalah wajib.

Selain itu, membaca Al Qur'an dengan benar dan lancar merupakan salah satu bukti ciri baiknya
keimanan sesesorang. [Al Baqarah: 121]

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan
yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya,
maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Bagi yang belum bisa membaca Al Quran, maka segeralah belajar tahsin. Jangan sampai kita
kena ejekan, "Ummatu Iqra' laa taqra", yaitu ummat yang wahyu pertamanya "bacalah", tapi
tidak bisa membaca kitabnya sendiri.

Bagi yang sudah bisa membaca Al Quran dengan benar, maka bacalah Al Qur'an minimal 1 juz
setiap harinya. Berdasarkan hadits,

Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan bacaan) Al-Quran
dalam masa sebulan. Jawabku: Aku merasa kuat, sehingga Nabi saw. bersabda: Bacalah
(khatamkan) dalam tujuh hari jangan kurang dari itu. (Bukhari, Muslim)

2. Memahami Al Qur'an
Orang yang pandai membaca Al Quran tapi tidak memahaminya seperti burung beo yang pandai
berkicau tapi tidak faham apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri.

Memahami Al Quran dapat dilakukan dengan mengikuti pengajian tafsir Al Quran ataupun
membaca kitab-kitab tafsir yang sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Namum demikian cara ideal untuk memahami Al Quran adalah dengan cara mempelajari bahasa
Arab. Bahkan banyak ulama yang mewajibkan belajar bahasa Arab.

Berdasarkan kaidah usul fiqh, "Man lam yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajib"."Sesuatu yang
tanpanya kewajiban menjadi tidak sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib".

Karena pemahaman Al Quran tidak akan sempurna tanpa bahasa Arab, maka hukum belajar
bahasa Arab menjadi wajib.

Saudaraku kaum muslimin, tidak ada kata terlambat untuk belajar bahasa Arab. Bagi yang belum
berkesempatan belajar bahasa Arab, berdoalah kepada Allah SWT, semoga diberikan
kesempatan untuk mempelajarinya suatu saat nanti, insya Allah.

3. mengamalkan Al Qur'an (4:82)
Membaca dan memahami Al Qur'an saja tidaklah bermanfaat tanpa mengamalkannya.
----------------
Namanya Bairuha.
Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah.
Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah
memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk.
Bairuha adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya.
Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu
menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:

Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu
yang kalian cintai (Q.S. Ali Imran: 92)

Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian
dengan serta merta menyerahkan Bairuha beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk
dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha
dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.
Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah
sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!
Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-
37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya.
----------------
Kisah di atas memberikan gambaran bagaimana patuhnya para shahabat terhadap perintah-
perintah Allah yang terdapat dalam Al Qur'an.

Mereka mendengar dan mereka taat (samina wa athana). Inilah salah satu ciri orang beriman.
[Al Baqarah: 285]

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-
kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara
seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar
dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah
tempat kembali".

Sebaliknya salah satu ciri dari orang kafir adalah ketika mendengar Al Quran lalu mereka ingkar
(samina wa ashaina) [Al Baqarah: 93]

dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di
atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan
dengarkanlah!" mereka menjawab: "Kami mendengar tetapi tidak mentaati". dan telah
diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.
Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu
beriman (kepada Taurat).

Respon yang luar biasa terhadap Al Qur'an yang telah ditunjukkan oleh para shahabat merupakan
bukti kebenaran iman. Kerena, iman tidak hanya terucap di lisan, tapi juga diyakini oleh hati dan
DIAMALKAN dalam perbuatan.

Dan sesungguhnya, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling baik adalah yang paling
banyak mengeksekusi/mengamalkan ayat-ayat Allah SWT. Berdasarkan hadits,

"Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al Qur'an dan YANG MENGAMALKANNYA" (HR
Bukhari)

Sungguh Nabi SAW telah memberikan teladan, dimana beliau digambarkan oleh istrinya Aisyah
r.a sebagai, Kaana khuluquhul Quran (Al Qur'an yang berjalan).

4. Menghafalkan Al Qur'an
Banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Quran, sehingga hati
seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran
sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh. (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Quran (Keutamaan menghafal Quran) yang dijelaskan Allah
dan Rasul-Nya, agar kita lebih bergairah dalam menghafal Al Quran.
Fadhail Dunia
1. Hifzhul Quran merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah. Bahkan Allah
membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Quran, Tidak boleh seseorang
berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah
kepadanya Al Quran kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga
tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, Andaikan aku diberi sebagaimana si
fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat (HR. Bukhari).
Bahkan nikmat mampu menghafal Al Quran sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak
mendapatkan wahyu,
Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat
kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya. (HR. Hakim)
2. Al Quran menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya Sebaik-baik
kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Seorang hafizh Al Quran adalah orang yang mendapatkan tasyrif nabawi (penghargaan
khusus dari Nabi SAW). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para
sahabat penghafal Al Quran adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang
hafizh Al Quran.
Nabi saw mendahulukan pemakamannya. Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang
syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal
Al Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di
liang lahat. (HR. Bukhari).
Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya
sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, Telah mengutus Rasulullah SAW
sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian
satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada shahabi yang
paling muda usianya, beliau bertanya, Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,Aku hafal surat
ini, surat ini, dan surat Al Baqarah. Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah? Tanya Nabi lagi.
Shahabi menjawab, Benar. Nabi bersabda, Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin
delegasi. (HR. At-Turmudzi dan An-Nasai). Kepada hafizh Al Quran, Rasul SAW
menetapkan berhak menjadi imam shalat berjamaah. Rasulullah SAW bersabda,
Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya. (HR. Muslim)
4. Hafizh Quran adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. Sesungguhnya Allah
mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, Siapakah mereka ya
Rasulullah? Rasul menjawab, Para ahli Al Quran. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-
pilihan-Nya. (HR. Ahmad).
5. Menghormati seorang hafizh Al Quran berarti mengagungkan Allah. Sesungguhnya
termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Quran yang
tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya
(enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil. (HR. Abu Daud)

Fadhail Akhirat
1. Al Quran akan menjadi penolong (syafaat) bagi penghafalnya. Dari Abi Umamah ra. ia
berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Bacalah olehmu Al Quran,
sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya
(penghafalnya). (HR. Muslim
2. Hifzhul Quran akan meninggikan derajat manusia di surga. Dari Abdillah bin Amr bin Ash
dari Nabi SAW, beliau bersabda, Akan dikatakan kepada shahib Al Quran, Bacalah dan
naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Quran di dunia, sesungguhnya
kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).
Para ulama menjelaskan arti shahib Al Quran adalah orang yang hafal semuanya atau
sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai
dengan tuntunannya.
3. Para penghafal Al Quran bersama para malaikat yang mulia dan taat. Dan perumpamaan
orang yang membaca Al Quran sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang
mulia dan taat. (Muttafaqunalaih)
4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan). Mereka akan
dipanggil, Dimana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca
kitabku? Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota
kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan
kirinya. (HR. At-Tabrani)
5. Kedua orang tua penghafal Al Quran mendapat kemuliaan. Siapa yang membaca Al Quran,
mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.
Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan)
yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, Mengapa kami dipakaikan jubah
ini? Dijawab,Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran.
(HR. Al-Hakim)
6. Penghafal Al Quran adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Quran.
Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan
pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang
hayatnya sampai bertemu dengan Allah.
Allah telah menjanjikan pahala untuk setiap huruf Al Quran yang dibaca. Barangsiapa yang
membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan
dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif
itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (HR. At-Turmudzi)


5. Mendakwahkan Al Qur'an
Jika seseorang telah pandai membaca Al Quran, mampu memahaminya, mengamalkannya, dan
menghafalkannya, maka insya Allah Allah dia telah menjadi orang yang shalih secara pribadi.
Namun keshalehan pribadi tentu saja belum cukup, harus diiringi dengan keshalihan secara
sosial. Karena itu, menjadi wajib baginya untuk mendakwahkan Al Quran.

Karena, pada dasarnya hukum berdakwah adalah wajib bagi setiap mukmin [An Nahl: 125]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.

Selain itu, sesunggunya orang yang hanya ingin shalih untuk dirinya sendiri maka dia termasuk
orang yang merugi,

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Al Ashr: 2-3)

Wallahua'lam