Anda di halaman 1dari 35

KOMISI PENYIARAN INDONESIA (KPI)

DISUSUN OLEH:
REINHARDT WILLIAM DAMPING (1106019123)
PERMATA MIS LUSITANIA (1106056144)
RIYAN PERMANA PUTRA (0906490393)
FAKULTAS HUKUM
UNIERSITAS INDONESIA
PROGRAM REGULER
HUKUM A!ARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA
2014
"A" I
PENDAHULUAN
A# R$%&'()* +(, P$-(, S$-.( P$,/*(-(, M$+*( M())( +('(0 K(01(,/$
P(-.(* P2'*.*3 P$)$-.( P$0*'*4(, U0&0
Di dalam pengaturan mengenai penyelenggaran pemilu baik legislatif
maupun eksekutif, terdapat ketentuan mengenai kampanye yang boleh dilakukan
oleh partai politik peserta pemilu, baik melalui media massa elektronik ataupun
cetak. Kampanye dapat diartikan sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang
terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada khalayak yang dilakukan
secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu.
1
Kampanye yang digubakan
dalam suatu pemilihan umum disebut juga sebagai candidate oriented-campaign,
yaitu kampanye yang berorientasi pada kandidat yang dimotivasi untuk
mendapatkan kekuasaan (jabatan publik)


!eran media massa secara ideal adalah bersifat netral dan objektif. "ni
berarti media massa harus dapat menjalankan peran sebagai suatu media
komunikasi yang ideal bagi masyarakat dalam rangka pertukaran informasi terkait
dengan proses penyelenggaraan pemerintahan, maka dari itu sudah sepantasnya
media massa terlepas dari pengaruh pihak manapun dalam menyiarkan berita atau
pesan kepada rakyat (non#manipulatif). $amun pada kenyataannya di dalam suatu
$egara yang demokratis hampir tidak pernah ditemukan adanya suatu kampanye
media massa yang netral dan tidak memihak. %erdapat suatu hukum tak tertulis di
dalam masyarakat yang menyatakan bahwa &Pemerintah ataupun setiap orang
yang berkuasa atas pemerintahan mampu mengendalikan media massa'. (al ini
dimaklumi sebagaimana masa pemerintahan )aman orde baru, dengan adanya
suatu pengawasan pemerintah terhadap penyiaran yang dilakukan di media massa
terkait dengan citra partai politiknya.
1
*. +. ,ogers dan -. D. .torey, Handbook of Communication Science, ($ewbury !ark,
/01 .age, 1234), hlm. 35.

6ambang 7ibiono, &!eran +edia .ebagai 0lat Komunikasi !olitik dalam Kampanye
!olitik' http188w9b9.wordpress.com8554818148peran#media#sebagai#alat#komunikasi#politik#
dalam#kampanye#pemilu8, diunduh 1: 0pril 51;.
.alah satu kampanye yang dilakukan dengan perantara media massa
eletronik adalah melalui iklan di televisi. !ada hakikatnya iklan memiliki dua
fungsi, yaitu fungis informatif dan fungsi persuasif. <ungsi informatif dalam
periklanan adalah sebagai media informasi mengenai hal#hal tertentu, berupa
publikasi maupun penyuluhan. .edangkan fungsi persuasif adalah fungsi untuk
dapat membujuk atau mengajak seseorang, tidak jarang pula fungsi persuasif ini
kemudian dapat menjadi suatu manipulasi dalam periklanan. +anipulasi
periklanan dapat diartikan sebagai suatu penanaman pemikiran seseorang untuk
mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dalam dirinya sendiri, namun berasal
dari luar.
9
Dalam kaitannya dengan kampanye parpol, penyiaran iklan pada setiap
tahapan pemilu yang dilakukan oleh Komisi !enyiaran "ndonesia haruslah bersifat
berimbang dan mengusung asas keadilan. =ang dimaksud dengan hal ini adalah
agar K!" dapat menyiarkan beritanya pada prinsipnya, setiap partai politik
peserta diberikan kesempatan yang sama untuk dapat mengiklankan parpol#nya
selama masa kampanye (1 hari sebelum masa pencoblosan), dengan ketentuan
maksimal 15 kali sehari dalam durasi 95 detik untuk televisi dan :5 detik untuk
radio.
;
.ebagaimana diatur dalam >ndang#>ndang $omor 9 %ahun 55 tentang
!enyiaran.
(al itu juga dipertegas dalam !asal 9: ayat (;) >ndang#>ndang $omor 9
%ahun 55 tentang !enyiaran yang mengatakan bahwa isi siaran wajib dijaga
netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu.
$amun kemudian persoalan ditemukan ketika konglomerasi melanda
dunia penyiaran. +edia penyiaran tidak pernah lepas dari intervensi pemilik
modal yang dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki beragam kepentingan
seperti kepentingan ekonomi, politik dan ideologi tertentu. Konglomerasi media
makin disuburkan oleh revolusi teknologi informasi yang ditandai olehkehadiran
9
$.$., &!eriklanan dan *tika'
http188initugasku.wordpress.com85158598598?*?35?2/periklanan#dan#etika?*?35?2D8,
diunduh 1: 0pril 51;.
;
"ra, &!engaturan "klan Kampanye di @embaga !enyiaran >ntuk +ewujudkan Keadilan'
http188www.kpi.go.id8indeA.php8lihat#terkini89153;#pengaturan#iklan#kampanye#di#lembaga#
penyiaran#untuk#wujudkan#keadilan, diunduh 1: 0pril 51;.
internet dan digitalisasi data dan informasi. !otensi konflik kepentingan dalam
konglomerasi media massa ini secara faktual dapat dilihat dari munculnya sikap
media massa yang cenderung partisan dan tidak netral dalam pemberitaan.
B
+eski secara formal media massa di "ndonesia tidak pernah menyatakan
bahwa mereka memiliki hubungan afiliatif maupun partisan terhadap kekuatan
politik. $amun relasi antara pemilik modal yang merangkap politisi membuat
para pengelola media massa tidak bisa netral dari kepentingan politik pemilik
modalnya.
:
.ehingga konflik kepentingan antara media massa yang harus tunduk
pada kaidah#kaidah jurnalistik dalam menyajikan informasi kepada publik dengan
kepentingan politik dari pemilik media tersebut menjadi tidak terhindarkan.
0pabila hal tersebut terjadi secara intensif dan mengabaikan kode etik jurnalistik
maka dikhawatirkan konglomerasi media massa akan mampu merusak kualitas
demokrasi.
+engenai hal tersebut sebenarnya >ndang#>ndang $o 3 %ahun 55
tentang !emilu telah mengatur beberapa hal, termasuk diantaranya mengenai
larangan#larangan kampanye, tentang masa tenang, penggunaan blocking segment
dan8atau blocking time sebagai waktu penyiaran kampanye.
=ang dimaksud dengan &blocking segment' adalah kolom pada media
cetak dan sub#acara pada lembaga penyiaran yang digunakan untuk keperluan
pemberitaan bagi publik. =ang dimaksud dengan &blocking time' adalah
hari8tanggal penerbitan media cetak dan jam tayang pada lembaga penyiaran yang
digunakan untuk keperluan pemberitaan bagi publik.
4
$amun meski telah ada regulasi yang mengatur mengenai hal tersebut
fakta di lapangan banyak sekali ditemui pelanggaran#pelanggaran nyata yang
dilakukan oleh media penyiaran terkait hal tersebut. +enurut Direktur *ksekutif
@embaga .tudi !ers dan !embangunan (@.!!) "gnatius (aryanto, praktik
konglomerasi perusahaan media massa juga menciptakan berbagai kondisi
B
,obert +c/hesney, Konglomerasi Media Massa dan Ancaman Terhadap Demokrasi,
diterjemahkan oleh 0ndi 0chdian, (-akarta1 <reedom "nstitute, 559), hlm. 9:.
:
Datuak 0lat %jumano, &Konglomerasi +edia +assa', Kompas (3 .eptember 519).
4
!enjelasan !asal 2: ayat (1) >ndang#>ndang $omor 3 %ahun 55.
merugikan lain, terutama ketika media massa kemudian hanya dijadikan sekadar
corong demi kepentingan politik dan bisnis sang pemilik modal. Dalam hal ini
maka kepentingan politik dalam rangka menjelang pemilu.
.orotan terhadap dampak konglomerasi media massa kembali mengemuka
menjelang !emilu 51;. !eranan media massa baik cetak maupun elektronik
yang strategis dalam sosialisasi dan pencitraan politik membuat semua kekuatan
politik berupaya memanfaatkan dan menguasai media massa. !ersoalannya, tidak
semua partai politik memiliki tokoh yang menguasai media massa terutama
priate o!nership media, sehingga dikhawatirkan masuknya para pemilik media
massa ke kancah politik akan menimbulkan situasi yang tidak fair dan menjadi
ancaman bagi kualitas demokrasi akibat monopoli media massa untuk
kepentingan politik partai atau tokoh tertentu.
3
Dalam praktik demokrasi elektoral di "ndonesia, fase kampanye kerap
menjadi satu titik krusial yang mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pemilu,
terutama hubungannya dengan pendidikan politik warga masyarakat. (al kunci
yang sering menjadi persoalan dalam fase kampanye adalah komitmen untuk
menghormati dan menjalankan kesepakatan aturan main yang telah tertera dalam
peraturan perundang#undangan dan perangkat peraturan pelaksananya (regulasi).
6atasan waktu kampanye seharusnya dihormati semua kontestan. %erlebih
untuk media penyiaran, spektrum frekuensi itu jelas#jelas sumber daya alam
terbatas sebagaimana diatur dalam pertimbangan >ndang#>ndang $omor 9
%ahun 55 tentang !enyiaran. -adi, kekeliruan besar jika frekuensi yang terbatas
semena#mena dimanfaatkan segelintir pengusaha#politisi untuk kepentingan partai
mereka.
(al tersebut menjadi upaya besar dalam upaya mengurangi
tingginya8mahalnya ongkos kampanye di "ndonesia, mengingat dalam dua pemilu
sebelumnya, partai politik disulitkan dengan tingginya ongkos kampanye,
sehingga hanya partai#partai yang punya modal banyak yang mampu
menampilkan wajahnya di depan publik lewat fasilitas media massa, sedangkan
partai#partai kecil mengalami kesulitan.
2
3
,obert +c/hesney, "p. Cit., hlm. ;5.
2
6uhanuddin +uhtadi, Perang #intang $%&', (-akarta1 $oura 6ook, 519), hlm. B.
Cuna memperbaiki kualitas kampanye di media penyiaran, ada beberapa
faktor yang harus menjadi perhatian bersama. !ertama, faktor struktural, harus
adanya koordinasi yang lebih intensif, fungsional, dan komplementer antar
penyelenggara pemiluD dalam hal ini K!> (Komisi !emilihan >mum) dan
6awaslu (6adan !engawas !emilu) dengan K!" (Komisi !enyiaran "ndonesia)
dan Dewan !ers. K!> telah menetapkan peraturan $o 18519 tentang !edoman
!elaksanaan Kampanye @egislatif.
15
0pa yang sudah disusun K!> ini tentu harus dikoordinasikan dengan K!",
terutama menyangkut aturan kampanye di media penyiaran, karena sepemahaman
penulis, K!" juga sedang dalam proses akhir penyusunan peraturan program
pemilu. -angan sampai aturan main yang disusun kedua lembaga ini berbenturan
sehingga menjadi pintu masuk bagi para kontestan untuk mencari celah
memainkannya. %ermasuk penjelasan soal persepsi program siaran pemilu selain
iklan, kewenangan antar lembaga K!> (Komisi !emilihan >mum) dan K!"
(Komisi !enyiaran "ndonesia), sanksi atas pelanggaran oleh lembaga penyiaran
dan partai kontestan, serta sejumlah aturan teknis operasional K!" (Komisi
!enyiaran "ndonesia). +E> kelembagaan jangan semata seremonial dan
formalistik, atau lebih menunjukkan ego kelembagaan, tetapi harus dalam koridor
kebersamaan mengawal kualitas kampanye.
Kedua, faktor substansial, yakni menyangkut sejumlah aturan yang
memerlukan ketatnya sistem pengawasan di lapangan. .ebenarnya, dalam
>ndang#>ndang $o 3 %ahun 55 tentang !emilu ini ada beberapa hal yang
sudah mulai diatur meskipun masih melahirkan banyak problematika. +isalnya,
!asal 2: mengatur soal larangan1 menjual blocking segment dan blocking time,
menerima program sponsor dalam format atau segmen apa pun yang dapat
dikategorikan iklan kampanye pemilu, serta menjual spot iklan yang tidak
dimanfaatkan oleh peserta pemilu kepada peserta pemilu lainnya.
!asal 24, batas maksimum pemasangan iklan kampanye pemilu di televisi
secara kumulatif sebanyak 15 spot berdurasi paling lama 95 detik untuk setiap
15
Cun Cun (eryanto, &,egulasi Kampanye', Kompas (3 -uni 519).
stasiun televisi setiap hari pada masa kampanye. Di radio, 15 spot berdurasi paling
lama :5 detik.
.oal durasi ini, K!" tentu harus melengkapinya dengan aturan tentang
waktu siaran iklan kampanye pemilu ditambah dengan iklan komersial ataupun
iklan layanan masyarakat lain, maksimal 5 persen dari seluruh waktu siaran per
hari selama masa kampanye di lembaga penyiaran yang bersangkutan. "ni penting
dilakukan agar tidak berbenturan dengan pengaturan dalam >ndang#>ndang
$omor 9 %ahun 55 tentang !enyiaran.
K!" juga perlu mengatur secara lebih operasional tentang beberapa hal,
antara lain berapa kali diperbolehkannya running te(t dan superimpose dalam
sehari, penyiaran jajak pendapat, dialog8talksho!, dan jenis siaran lain yang
sangat mungkin menjadi kampanye terselubung para kontestan pemilu.
Dinamika perjalanan partai politik di "ndonesia bukan lagi soal positioning
ideologi, namun lebih mengarah pada populisme dan pengaruh opini. 6ila diamati
sejak "ndonesia merdeka sampai sekarang, pergeseran positioning ideologi partai
politik terus bergeser sampai garis tengah. (al tersebut tidak lepas dari tingginya
peran media sebagai alat untuk menggiring opini publik dan jeritan rakyat yang
memberikan celah bagi partai politik untuk menerapkan strategi populis. 6ila
kedua faktor telah merasuki kehidupan politik maka positioning ideologi tidak
lagi menentukan nasib partai.
%ingginya pengaruh media massa dalam menggiring opini publik membuat
ideologi partai politik tidak lagi menjadi sesuatu kekuatan yang mampu menarik
pemilih. %erlebih apabila kepemilikan media massa jatuh ketangan praktisi politik,
dalam hal ini permainan opini sudah tidak dapat dihindarkan. +edia massa kini
sudah menjadi kendaraan perang dalam konstelasi politik. +edia massa
digunakan sebagai ajang pencitraan publik, meruntuhkan popularias lawan politik,
dan mampu menjadi alat counter attack bagi serangan#serangan politis. Keadaan
seperti ini membuat ideologi menjadi tersingkirkan dan secara tidak langsung
sudah tidak lagi berpengaruh bagi partai politik.
%ingginya pengaruh media massa dalam menggiring opini dan
memobilisasi massa tentu semakin membuah arah kebijakan menjadi tidak jelas
dan menimbulkan masa depan kebijakan politik yang tidak menyehatkan. Karena
apabila sudah seperti itu praktisi politik hanya memikirkan bagaimana permainan
opini untuk kedepannya, bukan untuk memikirkan arah kebijakan suatu negara.
Eleh karena itu wajib hukumnya bahwa perlu adanya regulasi kampanye yang
tegas untuk menghindari praktek#pkraktek kecurangan dalam kampanye dan juga
guna untuk mengurangi mahalnya ongkos kampanye.
"A" II
ISI
A. L$05(%( N$%(-( P$,&,6(,% (State Auxiliary Bodies)
.alah satu ciri negara hukum, yang dalam bahasa "nggris disebut the rule
of la! atau dalam bahasa 6elanda dan -erman disebut rechstaat, adalah adanya
ciri pembatasan kekuasaan dalam penyelenggaraan kekuasaan negara.
11
"de
pembatasan kekuasaan itu dianggap mutlak harus ada, karena sebelumnya semua
fungsi kekuasaan negara terpusat dan terkonsentrasi di tangan satu orang, yaitu di
tangan ,aja atau ,atu yang memimpin negara secara turun temurun.
1
Kekuasaan
,aja atau ,atu pada jaman feodalisme kerap kali disamakan dengan suara dan
kehendak %uhan yang absolut dan tidak terbantahkan. Dilihat dari sudut pandang
sejarah, kekuasaan ,aja atau ,atu yang disamakan dengan kekuasaan %uhan dapat
kita temukan prakteknya dalam semua peradaban umat manusia, mulai dari
peradaban +esir, peradaban /ina, hingga di peradaban *ropa sendiri, yang
dimana pada akhirnya muncul suatu gerakan sekularisme yang memisahkan antara
kekuasaan negara dan kekuasaan %uhan secara tegas.
>paya untuk mengadakan pembatasan terhadap kekuasaan itu tidak
berhenti hanya dengan munculnya gerakan sekularisme saja, namun juga
dilakukan dengan mengadakan pola#pola pembatasan di dalam pengelolaan
internal kekuasaan negara itu sendiri, yaitu dengan mengadakan pembedaan dan
pemisahan kekuasaan negara ke dalam beberapa fungsi yang berbeda#beda.
Dalam hubungan ini, yang dapat dianggap paling berpengaruh pemikirannya
dalam mengadakan pembedaan fungsi#fungsi kekuasaan itu adalah +ontesFuieu
dengan teori trias politica#nya, yaitu cabang kekuasaan legislatif, cabang
kekuasaan eksekutif atau administratif, dan cabang kekuasaan yudisial.
19
!ada pokoknya ajaran trias politica isinya adalah sebagai berikut1
1;
a. Kekuasaan @egislatif ()egislatie Po!ers)
11
-imly 0sshiddiFie, Pengantar *lmu Hukum Tata +egara ,ilid **, cet. 1, (-akarta1
Konstitusi !ress, 55:), hlm. 11.
1
*bid.
19
*bid., hlm. 1.
1;
/. .. %. Kansil dan /hristine .. %. Kansil, *lmu +egara -.mum dan *ndonesia), cet. ,
(-akarta1 !% !radnya !aramita, 55;), hlm. 1; G 1;9.
Kekuasaan untuk membuat undang#undang harus terletak dalam suatu
badan yang berhak khusus untuk itu. -ika penyusunan undang#undang
tidak diletakkan pada suatu badan tertentu, maka mungkinlah tiap
golongan atau tiap orang mengadakan undang#undang untuk
kepentingan sendiri.

b. Kekuasaan *ksekutif (/(ecutie Po!ers)
Kekuasaan menjalankan undang#undang ini dipegang oleh kepala
negara. Kepala negara tentu tidak dapat sendirian menjalankan segala
undang#undang ini. Eleh karena itu, kekuasaan dari kepala negara
dilimpahkan (didelegasikannya) kepada pejabat#pejabat
pemerintah8negara yang bersama#sama merupakan suatu badan
pelaksana undang#undang (badan eksekutif).
c. Kekuasaan =udikatif (,udicatie Po!ers)
Kekuasaan yudikatif atau kekuasaan yustisi (kehakiman) ialah
kekuasaan yang berkewajiban mempertahankan undang#undang dan
berhak untuk memberikan peradilan kepada masyarakat. 6adan
yudikatiflah yang berkuasa memutuskan perkara, menjatuhkan
hukuman terhadap setiap pelanggaran undang#undang yang telah
diadakan atau dijalankan.
!ada beberapa tahun belakangan ini, lembaga negara mengalami suatu
perubahan yang pesat. !erubahan ini ditandai dengan munculnya beberapa
lembaga#lembaga baru, yang dimana kemunculannya dalam hal ini disebabkan
karena beberapa hal, antara lain1
a) $egara mengalami perkembangan di mana kehidupan ekonomi dan
sosial menjadi sangat kompleks yang mengakibatkan badan eksekutif
mengatur hampir seluruh kehidupan masyarakat.
b) (ampir semua negara modern mempunyai tujuan untuk mencapai
kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya yang berkonsep negara
kesejahteraan (0elfare State). >ntuk mencapai tujuan tersebut negara
dituntut menjalankan fungsi secara tepat, cepat dan komprehensif dari
semua lembaga negara yang ada.
c) 0danya keadaan dan kebutuhan yang nyata, baik karena faktor#faktor
sosial, ekonomi, politik dan budaya di tengah dinamika gelombang
pengaruh globalisme versus lokalisme yang semakin komplek
mengakibatkan variasi struktur dan fungsi organisasi dan institusi#
institusi kenegaraan semakin berkembang.
d) %erjadinya transisi demokrasi, yang mengakibatkan terjadinya
berbagai kesulitan ekonomi, dikarenakan terjadinya aneka perubahan
sosial dan ekonomi. $egara yang mengalami perubahan sosial dan
ekonomi memaksa banyak negara melakukan eksperimentasi
kelembagaan (institutional e(perimentation).
1B
@embaga#lembaga baru tersebut biasa disebut sebagai state au(iliary
organs, atau au(iliary institutions sebagai lembaga negara yang bersifat
penunjang. Di antara lembaga#lembaga itu kadang#kadang ada juga yang disebut
sebagai self regulatory agencies, independent superisory bodies, atau lembaga#
lembaga yang menjalankan fungsi campuran (mi( function) antara fungsi#fungsi
regulatif, administratif, dan fungsi penghukuman yang biasanya dipisahkan tetapi
justru dilakukan secara bersamaan oleh lembaga#lembaga baru tersebut. 6ahkan
ada lembaga#lembaga yang disebut sebagai 1uasi non-goernmental
organi2ation.
1:
+erujuk kepada >>D 12;B (setelah amandemen), dapatlah kita lihat
bahwa setidaknya ada 9; lembaga negara yang ada di "ndonesia. Dari ke#9;
lembaga tersebut dapat kita bedakan dari dua segi, yaitu dari segi fungsinya dan
dari segi hierarkinya. 6erdasarkan segi fungsinya, ke#9; lembaga tersebut
1B
"lham 7ayank (ermawan, &Konsep %entang @embaga $egara !enunjang (Komisi
$egara)' http188ilhamendra.wordpress.com85528581281konsep#tentang#lembaga#negara#
penunjang8, diunduh 12 0pril 51;.
1:
-imly 0sshiddiFie, Perkembangan dan Konsolidasi )embaga +egara Pasca 3eformasi,
(-akarta1 .ekretariat -enderal dan Kepaniteraan +ahkamah Konstitusi ,", 55:), hlm. viii.
dibedakan antara yang bersifat umum atau primer dengan sekunder atau
penunjang (au(iliary). .edangkan, berdasarkan segi hierarkinya, ke#9; lembaga
tersebut dibedakan kedalam tiga (9) lapis, yaitu lembaga lapis pertama (lembaga
tinggi negara), lembaga lapis kedua (lembaga negara), dan lembaga lapis ketiga
(lembaga daerah).
Di "ndonesia sendiri, keberadaan dari lembaga negara penunjang atau
state au(iliary bodies sudahlah tidak asing lagi. (al ini dapat dilihat dengan
adanya keberadaan beberapa lembaga negara penunjang seperti, Komisi (ak
0sasi +anusia, Komisi !emilihan >mum (K!>), @embaga Embudsman, Komisi
!enyiaran "ndonesia (K!"), Komisi !erlindungan 0nak "ndonesia, Komisi
$asional 0nti Kekerasan terhadap !erempuan, 6! +igas dan 6!( +igas, 6adan
,egulasi %elekomunikasi "ndonesia (6,%"), Dewan !ers, Komisi 6anding !aten,
Komisi Kebenaran dan ,ekonsiliasi (KK,), Komisi !emberantasan Korupsi
(K!K), dan lain sebagainya. @embaga, badan atau organisasi#organisasi ini
sebelumnya dianggap sepenuhnya berada dalam kekuasaan eksekutif, tetapi
sekarang berkembang menjadi independen sehingga tidak lagi sepenuhnya
merupakan hak mutlak seorang kepala eksekutif untuk menentukan pengangkatan
ataupun pemberhentian pimpinannya.
14

B. S$'(/(,% P(,+(,% M$,%$,(* K20*)* P$,/*(-(, I,+2,$)*( (KPI)
S$5(%(* State Auxiliary Bodies
Komisi !enyiaran "ndonesia atau yang dikenal pula dengan sebutan K!"
adalah salah satu lembaga negara di "ndonesia yang bersifat independen dan yang
mempunyai fungsi utama untuk mengatur hal#hal mengenai penyiaran. K!"
dibentuk atas dasar >ndang#>ndang $o. 9 %ahun 55 tentang !enyiaran, @$
$o. 1;4 %ahun 559, %@$ $o. ;9;.
+engingat luasnya ruang lingkup penyiaran di "ndonesia, K!" dibentuk di
tingkat pusat dan tingkat daerah. Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, K!"
!usat diawasi oleh D!, (Dewan !erwakilan ,akyat), sedangkan K!" Daerah
diawasi oleh D!,D (Dewan !erwakilan ,akyat Daerah).
14
*bid., Konstitusi 4 Konstitusionalisme *ndonesia, ed. rev., cet. 1, (-akarta1 Konstitusi
!ers, 55B), hlm. 1B: G 1B4.
Dalam !asal 3 ayat (1) >ndang#>ndang $o. 9 %ahun 55 tentang
!enyiaran dijelaskan bahwa K!" berfungsi untuk mewadahi aspirasi serta
mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran. Kemudian, dalam !asal 3 ayat
() >ndang#>ndang $o. 9 %ahun 55 tentang !enyiaran, dijelaskan bahwa
dalam menjalankan fungsinya sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, K!"
mempunyai wewenang sebagai berikut1
a) +enetapkan standar program siaranD
b) +enyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaranD
c) +engawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran
serta standar program siaranD
d) +emberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman
perilaku penyiaran serta standar program siaranD
e) +elakukan koordinasi dan8atau kerjasama dengan !emerintah,
lembaga penyiaran, dan masyarakat.

.erta dalam !asal 3 ayat (9) >ndang#>ndang $o. 9 %ahun 55 tentang
!enyiaran dijelaskan tugas dan kewajiban K!" adalah1
a) +enjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan
benar sesuai dengan hak asasi manusiaD
b) "kut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaranD
c) "kut membangun iklim persaingan yang sehat antarlembaga penyiaran
dan industri terkaitD
d) +emelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan
seimbangD
e) +enampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta
kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaranD
dan
f) +enyusun perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang
menjamin profesionalitas di bidang penyiaran.
.ecara organisatoris, dikatakan dalam !asal 2 ayat (1) dan () anggota K!"
!usat berjumlah sembilan orang dipimpin oleh seorang ketua dan wakil ketua
yang dipilih dari dan oleh anggota, sedangkan K!" Daerah berjumlah tujuh orang
yang pimpinannya juga terdiri atas seorang ketua dan wakil ketua yang dipilih
dengan cara yang sama. +asa jabatan ketua, wakil ketua dan anggota K!" !usat
dan K!" Daerah tiga tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa
jabatan berikutnya. .ebagai lembaga $egara K!" dibantu oleh sebuah sekretariat
yang dibiayayi oleh $egara H!asal 2 ayat (;)I yang bersumber dari 0!6$ untuk
K!" !usat dan 0!6D bagi K!" Daerah H!asal 2 ayat (:)I.
13
"# A,('*)*) S&-(. K$1&.&)(, KPI S$5(%(* O56$3 S$,%3$.( +('(0 PTUN
(# K()&) P2)*)* (S&-(. K$1&.&)(, KPI P&)(. N2# 3107K7KPI702714)
.urat Keputusan K!" !usat $o. 9158K8K!"8581; adalah surat keputusan
yang dikeluarkan oleh Komisi !enyiaran "ndonesia (K!") !usat yang isinya
memutuskan untuk menjatuhkan sanksi administratif penghentian sementara pada
program siaran JKuis KebangsaanJ yang ditayangkan di ,/%".
.anksi penghentian sementara ini disampaikan Ketua K!" !usat dalam
sidang khusus penjatuhan sanksi di Kantor K!" !usat, -akarta. .idang tersebut
tidak dihadiri oleh perwakilan ,/%", meski K!" sebenarnya sudah melayangkan
surat yang meminta kehadiran perwakilan dua stasiun televisi tersebut.
!enghentian sementara program siaran JKuis KebangsaanJ itu berlaku sejak 1
<ebruari 519 hingga dilakukannya perubahan atas materi dua program siaran
tersebut. Keputusan K!" tersebut didasarkan pada pengaduan masyarakat,
pemantauan dan hasil analisis yang menemukan adanya pelanggaran atas
!edoman !erilaku !enyiaran dan .tandar !rogram .iaran (!9 K .!.), !9 !asal
11 dan .!. !asal 11 ayat (1) dan ayat () serta !asal 41 ayat (9).
.ebelum penjatuhan sanksi penghentian sementara ini, K!" telah
mengirimkan dua kali surat teguran tertulis kepada ,/%", namun tidak ada
perubahan materi siaran seperti yang diminta oleh K!".
13
*bid., Perkembangan dan Konsolidasi )embaga +egara Pasca 3eformasi, (-akarta1
.ekretariat -enderal dan Kepaniteraan +ahkamah Konstitusi ,", 55:), hlm. B4.
Dalam program &Kuis Kebangsaan' tersebut didapati isi siaran yang
bersifat tidak netral dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemilik lembaga
penyiaran dan8atau kelompoknya. .elain mengikutsertakan calon anggota
legislatif dari !artai (anura, program#program siaran tersebut juga menghadirkan
7iranto dan (ari %anoesudibjo yang sudah dideklarasikan sebagai calon presiden
dan calon wakil presiden partai tersebut. (al lain yang juga menjadi pelanggaran
menurut K!" adalah adanya password 6ersih, !eduli, %egas yang merupakan
JtaglineJ !artai (anura. .ebelum menjatuhkan sanksi, K!" telah memberikan
kesempatan bagi lembaga penyiaran tersebut untuk memberikan klarifikasi pada
19 <ebruari lalu.
>ntuk dapat menayangkan kembali program siaran Kuis Kebangsaan,
Clobal %L dan ,/%" harus melakukan perubahan materi siarannya. /aranya
dengan menghilangkan seluruh materi siaran yang bersifat tidak netral dan
dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemilik lembaga penyiaran dan8atau
kelompoknya dengan menghilangkan penyebutan 7"$#(%, tagline kampanye
!artai (anura1 6ersih, !eduli, %egas.
.erta tidak melibatkan pemilik lembaga penyiaran atau kelompoknya,
dalam hal ini calon anggota legislatif !artai (anura, sebagai pembaca kuis. .elain
itu K!" juga meminta ,/%" untuk melaporkan upaya perbaikan kepada K!"
!usat, bila ingin segera menayangkan kembali program kuis tersebut.
.anksi administratif ini seharusnya menjadi pelajaran bagi lembaga
penyiaran lain yang masih menyiarkan materi iklan politik yang melanggar
ketentuan dalam !9 K .!.. -angan lembaga penyiaran membuat program baru
atau menggunakan program#program yang sudah ada untuk dimanfaatkan bagi
kepentingan pribadi dan8 atau kelompok dari pemilik lembaga penyiaran.
.elain itu, K!" sudah bersepakat dengan Komisi !emilihan >mum dan
6adan !engawas !emilu untuk menjalankan kewenangan masing#masing lembaga
dalam pengawasan penyiaran pemilu. Eleh karenanya, K!" tidak akan berhenti
untuk terus memberikan sanksi pada seluruh lembaga penyiaran yang terbukti
telah melakukan pelanggaran.
5# T*,6(&(, T$2-*
.engketa dalam Kamus 6ahasa "ndonesia, berarti pertentangan atau
konflik, konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan antara orang#orang,
kelompok#kelompok, atau organisasi#organisasi terhadap satu objek
permasalahan.
12

.enada dengan itu 7inardi mengemukakan pengertian sengketa sebagai
pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu#individu atau kelompok#
kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama atas
suatu objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dengan
yang lain.
5

.edangkan menurut 0li 0chmad berpendapat sengketa adalah
pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari persepsi yang berbeda
tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat hukum
bagi keduanya.
1
Dari kedua pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa
sengketa adalah perilaku pertentangan antara dua orang atau lebih yang dapat
menimbulkan suatu akibat hukum dan karenanya dapat diberi sanksi hukum bagi
salah satu diantara keduanya.
.engketa %ata >saha $egara dapat dibedakan atas yaitu sengketa intern
dan sengketa ekstern. .engketa intern atau sengketa antara administrasi negara
terjadi di dalam lingkungan administrasi $egara (%>$) itu sendiri, baik yang
terjadi dalam satu departemen (instansi) maupun sengketa yang terjadi antar
departemen (instansi). !erbuatan administrasi $egara (%>$) dapat
dikelompokkan kedalam 9 (tiga) macam perbuatan, yakniD mengeluarkan
keputusan, mengeluarkan peraturan perundang#undangan, dan melakukan
perbuatan materil.


Dalam melakukan perbuatan tersebut badan atau pejabat tata usaha $egara
tidak jarang terjadi tindakan#tindakan yang menyimpang dan melawan hukum,
12
+uhammad Kusnaedi, Kamus #ahasa *ndonesia, (-akarta1 @iberty, 122B), hlm. BB.
5
7inardi, #uku #ahasa *ndonesia, (-akarta1 ,aja Crafindo, 555), hlm. :5.

1
0li 0chmad, Pintar #erbahasa, (=ogyakarta1 *rlangga, 559), hlm. 33.

"rwan, Sengketa Tata .saha +egara, (+akassar1 >nhas !ress, 552), hlm. :4.
sehingga dapat menimbulkan berbagai kerugian bagi yang terkena tindakan
tersebut. Kerugian yang ditimbulkan inilah yang akan mengakibatkan adanya
sengketa %>$.
.engketa esktren atau sengketa antara administrasi $egara dengan rakyat
adalah perkara administrasi yang menimbulkan sengketa antara administrasi
$egara dengan rakyat sebagai subjek yang berperkara ditimbulkan oleh unsur dari
unsur peradilan administrasi murni yang mensyaratkan adanya minimal dua pihak
dan sekurang#kurangnya salah satu pihak harus administrasi $egara, yang
mencakup administrasi $egara di tingkat daerah maupun administrasi $egara
pusat yang ada di daerah. Dengan demikian sengketa intern adalah menyangkut
persoalan kewenangan pejabat %>$ yang disengketakan dalam satu departemen
(instansi) atau kewenangan suatu departemen (instansi) terhadap departemen yang
lainnya yang disebabkan tumpang tindihnya kewenangan sehingga menimbulkan
kekaburan kewenangan. .engketa ini dapat juga disebut sebagai hukum antar
wewenang.
9

!angkal sengketa adalah keputusan %ata >saha $egara. Keputusan %>$
adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat %>$
yang berdasarkan peraturan perundang#undangan yang berlaku, yang bersifat
konkret, individual, dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seorang atau
badan hukum perdata.
"b5ectum litis dalam praktek hukum dikenal dengan istilah objek perkara
atau objek sengketa. Ebjek perkara di !%>$ adalah mengenai sengketa %ata
>saha $egara. =aitu sengketa yang timbul dalam bidang %ata >saha $egara
antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau !ejabat %ata >saha
$egara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan
%ata >saha $egara (K%>$)
;
, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan
peraturan perundang#undangan yang berlaku. K%>$ sendiri adalah suatu
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara
9
*bid.
;
!asal 1 angka 2 >> $o. B1 %ahun 552 %entang !erubahan Kedua 0tas >> $o. B
%ahun 123: %entang !eradilan %ata >saha $egara.

yang berisi tindakan hukum %ata >saha $egara yang berdasarkan peraturan
perundang#undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final,
yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Keputusan %ata >saha $egara yang dapat dijadikan objek gugatan di
!engadilan %ata >saha $egara adalah Keputusan %ata >saha $egara yang telah
memenuhi secara kumulatif unsur#unsur yang termuat dalam !asal 1 0ngka 2 >>
$omor B1 %ahun 552 %entang !erubahan Kedua 0tas >> $o. B %ahun 123:
%entang !eradilan %ata >saha $egara, yaitu penetapan tertulis yang dikeluarkan
oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara yang berdasarkan peraturan
perundang#undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual dan final
yang menimbulkan akibat hukum.
6erkaitan dengan unsur#unsur K%>$ sebagaimana dimaksud oleh
ketentuan diatas, penulis sampaikan dua pendapat mengenai unsur#unsur K%>$
tersebut, yaitu1 menurut "ndroharto, unsur K%>$ ada : (enam), yaitu1
B
a) 6entuk penetapan itu harus tertulisD
b) "a dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egaraD
c) 6erisi tindakan hukum %ata >saha $egaraD
d) 6erdasarkan peraturan perundang#undangan yang berlakuD
e) 6ersifat konkret, individual, dan finalD
f) +enimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
!endapat senada disampaikan oleh !aulus *. @otulung, yang menyatakan
bahwa unsur K%>$ ada 4 (tujuh), yaitu1
:
a) !enetapan tertulisD
b) Dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egaraD
c) 6erisi tindakan hukum %ata >saha $egara berdasarkan peraturan
perundang#undangan yang berlakuD
B
"ndroharto, .saha Memahami .ndang-.ndang Tentang Peradilan Tata .saha +egara
#uku * #eberapa Pengertian Dasar Peradilan Tata .saha +egara, cet. :, (-akarta1 !ustaka .inar
(arapan, 122:), hlm. 1: G 1:9.
:
!aulus *ffendi @otulung, Perbuatan-perbuatan Pemerintahan Menurut Hukum Publik6
dalam P7 ,7 , Sipayung -/ditor86 Pe5abat Sebagai Calon Tergugat Dalam Peradilan Tata .saha
+egara, (-akarta1 /L. .ri ,ahayu, 1232), hlm. 1;3.
d) 6ersifat konkretD
e) "ndividualD
f) <inalD dan
g) +enimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
7alaupun jumlah unsur K%>$ dari kedua pendapat diatas berbeda, namun
intinya sama yaitu1 bentuk K%>$#nya harus tertulis, diterbitkan oleh 6adan atau
!ejabat %ata >saha $egara, berisi tindakan hukum %ata >saha $egara, didasarkan
pada peraturan perundang#undangan yang berlaku, bersifat konkret, individual
dan final serta menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata. 0pabila suatu K%>$ telah memenuhi unsur#unsur di atas maka K%>$
seperti ini dapat digugat di !engadilan %ata >saha $egara.
6agi hakim %>$ pengertian penetapan tertulis (beschikking) yang
merupakan salah satu keputusan %>$ yang berfungsi sebagai instrumen yuridis
pemerintahan yang digunakan badan atau pejabat %>$ dalam melaksanakan
kewajibannya dibidang urusan pemerintahan itu sangat penting artinya, karena
hanya penetapan tertulis saja yang dapat digugat ke !engadilan %>$.
4
+enurut teori (ukum 0cara %ata >saha $egara objek sengketa dalam
!engadilan %ata >saha $egara adalah penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
6adan atau !ejabat %ata >saha $egara yang berisi tindakan hukum tata usaha
negara yang berdasarkan peraturan perundang#undangan yang berlaku yang
bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang atau badan hukum perdata sedangkan yang dimaksud dengan
Keputusan %ata >saha $egara sebagaimana tersebut dalam !asal 1 0ngka 2 >>
$omor B1 %ahun 552 %entang !erubahan Kedua 0tas >> $o. B %ahun 123:
%entang !eradilan %ata >saha $egara adalah suatu penetapan tertulis yang
dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara yang berisi tindakan
hukum %ata >saha $egara berdasarkan peraturan perundang#undangan yang
4
"ndroharto, .saha Memahami .ndang-.ndang Tentang Peradilan Tata .saha +egara
#uku ** #eracara di PT.+, (-akarta1 !ustaka .inar (arapan, 122;), hal. 1:1.
berlaku, yang bersifat konkret, individual dan final yang menimbulkan akibat
hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Dari pengertian tersebut, dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut1
1. !enetapan tertulis
"stilah penetapan tertulis
3
terutama menujukan kepada isi dan bukan
kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha
$egara. Keputusan itu memang diharuskan tertulis, namun yang disyaratkan
tertulis bukan bentuk formalnya seperti .urat Keputusan !engangkatan dan
sebagainya. !ersyaratan tertulis itu diharuskan untuk kemudaham segi
pembuktian, sebuah memo atau nota dapat memenuhi syarat tertulis tersebut dan
akan merupakan suatu Keputusan %ata >saha $egara menurut >ndang#undang ini
apabila sudah jelas1
# 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara mana yang
mengeluarkannyaD
# +aksud serta mengenai hal apa isi tulisan ituD
# Kepada siapa tulisan itu ditunjukan dan apa yang
ditetapkan didalamnya.
. Dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara
!asal 1 huruf a disebutkan yang disebut dengan %ata >saha $egara adalah
administrasi $egara yang melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan urusan
pemerintahan baik dipusat maupun di daerah.
.edangkan urusan pemerintahan adalah tujuan pembentukan pemerintahan
sebagaimana tersebut dalam 0linea "L !embukaan >>D 12;B yaitu &9
melindungi segenap tumpah darah *ndonesia: menyelenggarakan kese5ahteraan
umum: mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta men5aga perdamaian
dunia9'. +akna yang sedang menjalankan fungsi tidak harus organ pemerintah,
namun bisa juga pihak lain selain organ pemerintah menjalankan fungsi (orang#
perorangD badan hukum perdata) pemerintahan.
3
!enjelasan !asal 1 angka 9 >ndang#>ndang $omor B %ahun 123:.
9. 6erisi tindakan hukum %ata >saha $egara berdasarkan peraturan
perundang#undangan
%indakan hukum %ata >saha $egara adalah perbuatan hukum 6adan atau
!ejabat %ata >saha $egara yang bersumber pada suatu ketentuan hukum %ata
>saha $egara yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban pada orang lain,
dengan kata lain perbuatan tersebut berupa keputusan yang bersifat konstitutif
bukan deklaratur sedangkan yang dimaksud dengan peraturan perundang#
undangan adalah semua peraturan yang bersifat mengikat secara umum yang
dikeluarkan oleh 6adan !erwakilan ,akyat (D!, ,"D D!,D !rovinsi8D!,D
Kabupaten8Kota) bersama dengan !emerintah baik ditingkat pusat maupun daerah
serta semua keputusan 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara dipusat maupun
daerah yang bersifat dan mengikat umum.
Keputusan K!" adalah merupakan tindakan hukum %ata >saha $egara
yang berdasarkan peraturan perundang#undangan karena dalam memutus K!"
mendasarkan kewenangannya dengan >ndang#>ndang $omor 9 %ahun 55
tentang !enyiaran.
;. 6ersifat konkret, individual, final
Konkret artinya nyata lawan dari abstrak, artinya berwujud, tertentu atau
dapat ditentukan, umpamanya keputusan mengenai rumah si#0, pemecatan si#6
sebagai !$., dan lain#lain. "ndividual adalah tertuju kepada siapa keputusan
tersebut, bukan untuk umum. 0rtinya jelas dalam keputusan tersebut nama dan
alamat yang dituju. .edangkan final adalah terakhir, artinya keputusan tersebut
sudah tidak memerlukan lagi persetujuan dari pihak lain. Keputusan tersebut
berarti telah menimbulkan akibat hukum.
B. +enimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
=ang artinya bahwa perbuatan yang dilakukan oleh 6adan atau !ejabat
%ata >saha $egara tersebut menimbulkan hak dan kewajiban bagi seseorang atau
badan hukum perdata.
0kibat hukum dari keputusan tersebut biasanya menimbulkan kerugian
sehingga seseorang atau 6adan hukum perdata tersebut mengajukan gugatan
untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang hilang karena dikeluarkannya
keputusan tersebut.
>nsur#unsur K%>$ sebagi mana tercantum dalam !asal 1 angka 9
>ndang#undang $omor B %ahun 123: ternyata belum tuntas, ternyata terdapat
pengecualian berupa pengurangan untuk hal#hal yang tercantum dalam !asal
dan pengecualian yang berupa tambahan pada hal#hal yang tercantum dalam !asal
9.
+enurut !asal
2
, yang tidak termasuk dalam pengertian keputusan %ata
>saha $egara menurut undang#undang ini1
a. Keputusaan %ata >saha $egara yang merupakan
perbuatan hukum perdataD
b. Keputusan %ata >saha $egara merupakan pengaturan
yang bersifat umumD
c. Keputusan %ata >saha $egara yang masih memerlukan
persetujuanD
d. Keputusan %ata >saha $egara yang dikeluarkan
berdasarkan ketentuan Kitab >ndang#>ndang (ukum !idana atau
Kitab >ndang#>ndang (ukum 0cara !idana atau peraturan
perundang#undangan lain yang bersifat hukum pidanaD
e. Keputusan %>$ yang dikeluarkan atas dasar hasil
pemeriksaan badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang#undangan yang berlakuD
f. Keputusan %>$ mengenai tata usaha negara %entara
$asional "ndonesiaD
g. Keputusan K!> baik di pusat maupun di daerah,
mengenai hasil pemilihan umum.
2
"ndonesia, .ndang-.ndang Tentang Perubahan Atas .ndang-.ndang +omor ; Tahun
&<=> Tentang Peradilan Tata .saha +egara, >> $o. 2 %ahun 55;, @$ $o. 9B %ahun 55;, %@$
$o. ;935.
!asal 9
95
yang merupakan pengecualian yang berupa tambahan, mengatur
sebagai berikut1
(1) -ika suatu 6adan atau !ejabat %>$ tidak
mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya,
maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan %ata >saha $egara
() -ika suatu 6adan atau !ejabata %>$ tdk
mengeluarkan keputusan yg dimohon, sedangkan jangka waktu
sebagai mana ditentukan dlm peraturan perundang#undangan
dimaksud telah lewat, maka 6adan atau !ejabat %>$ tersebut
dianggap telah menolak mengeluarkan keputusan yang dimaksud.
(9) Dalam hal peraturan peundang#undangan yang
bersangkutan rtidak menentukan jangka waktu sebagai mana
dimaksud dalam ayat ()D maka setelah lewat jangka waktu empat
bulan sejak diterimanya permohobnan, 6adan atau !ejabat %ata >saha
$egara yang bersangkutan dianggap telah mengeluarkan kepurtusan
penolakan.
"si ketentuan yang tercantum dalam !asal dan !asal 9 >ndang#>ndang
$omor B %ahun 123:, dapat ditarik pengertian bahwa yang tercantum dalam !asal
sebenarnya merupakan suatu K%>$, akan tetapi menurut sifatnya oleh undang#
undang ini dianggap bukan sebagai K%>$, sedangkan hal#hal yang tercantum
dalam !asal 9 >> $omor B %ahun 123: sebenarnya bukan merupakan K%>$,
tetapi menurut sifatnya oleh >ndang#undang ini dianggap sebagai K%>$.
Demikian juga yang ditentukan dalam !asal ;2 >> !%>$ bahwa
pengadilan %>$ tidak berwenang memeriksa dan memutus keputusan#keputusan
%>$ yang dikeluarkan1
(# Dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan
bencana alam, atau dalam keadaan luar biasa yang membahayakan,
berdasarkan perundangan yang berlakuD
95
"ndonesia, .ndang-.ndang Tentang Peradilan Tata .saha +egara, >> $o. B %ahun
123:, @$ $o. 44 %ahun 123:, %@$ $o. 99;;.
5# Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
8# A1(3(4 3()&) +* (.() +(1(. 0$,6(+* 256$3
)$,%3$.( +('(0 H&3&0 A8(-( T(.( U)(4( N$%(-(9
.etelah kita memahami teori di atas, maka kita dapat menganalisis sanksi
administrasi K!" yang ditujukan kepada ,/%" mengenai program &Kuis
Kebangsaan'.
1. Dari segi penetapan tertulis
.yarat tertulis, yang merupakan syarat yang harus dipenuhi agar keputusan
tersebut dapat dijadikan obyek sengketa di !%>$ terpenuhi karna sanksi
administrasi yang dikeluarkan oleh K!" merupakan sanksi tertulis ini sesuai
dengan !asal BB ayat yang menyatakan .anksi administratif yang dikeluarkan
oleh K!" berupa teguran tertulis.
. Dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara
>nsur 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara adalah 6adan atau !ejabat
yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang#
undangan. Karna berdasarkan !asal 4 ayat K!" adalah lembaga negara yang
bersifat independen mengatur hal#hal mengenai penyiaran.
9. 6erisi tindakan hukum %ata >saha $egara berdasarkan peraturan
perundang#undangan.
Keputusan K!" adalah merupakan tindakan hukum %ata >saha $egara
yang berdasarkan peraturan perundang#undangan karna dalam memutus K!"
dengan >ndang#>ndang $omor 9 %ahun 55 tentang !enyiaran.
;. 6ersifat konkret, individual, final
Keputusan K!" merupakan keputusan yang konkret, individual dan final
karena jelas sanksinya ditujukan kepada siapa, seperti dalam kasus ini, keputusan
K!" jelas ditujukan kepada stasiun televisi ,/%" yang melanggar >ndang#
>ndang $omor 9 %ahun 55 tentang !enyiaran.
B. +enimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Keputusan K!" jelas menimbulkan akibat hukum bagi ,/%", yang
berakibat ,/%" harus menghentikan program siaran &Kuis Kebangsaan' yang
melanggar ketentuan dalam >ndang#>ndang $omor 9 %ahun 55 tentang
!enyiaran.
"A" III
PENUTUP
A# K$)*01&'(,
Dari segi teori (ukum 0cara %ata >saha $egara, surat keputusan K!"
!usat mengenai sanksi administratif penghentian sementara pada program siaran
JKuis KebangsaanJ yang ditayangkan di ,/%" ini termasuk objek sengketa dalam
kasus sengketa %ata >saha $egara karena keputusan K!" !usat ini merupakan
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh 6adan atau !ejabat %ata >saha $egara
yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan
perundang#undangan yang berlaku yang bersifat konkret, individual, dan final,
yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
"# S(-(,
>ndang#>ndang $omor 9 %ahun 55 tentang !enyiaran yang menjadi
dasar hukum K!" ini sedang digodok D!, untuk direvisi. ,evisi >ndang#>ndang
$omor 9 %ahun 55 tentang !enyiaran yang sedang digodok D!, seharusnya
menegaskan peran fungsi dan kewenangan K!". .ecara holistik seharusnya >>
!enyiaran yang baru menyatakan secara tegas bahwa lembaga yang mengatur
penyiaran adalah Komisi !enyiaran "ndonesia.
.aat ini K!" dibuat seolah#olah tidak memiliki kewenangan membuat
peraturan pelaksana >ndang#undang !enyiaran. Kemudian K!" juga dibuat
seolah#olah hanya memiliki kewenangan di bidang isi siaran.
.eperti dalam kasus ini, di mana keputusan K!" memberhentikan
sementara siaran &Kuis Kebangsaan' di ,/%". K!" dapat diajukan ke !engadilan
%ata >saha $egara (!%>$). "ni menjadi masalah, karena keputusan administratif
K!" bisa dibatalkan oleh !%>$. 0khirnya K!" hanya menjadi lembaga riset yang
memberikan kajian#kajian.
!adahal K!" diperintahkan oleh >ndang#>ndang $omor 9 %ahun 55
tentang !enyiaran untuk menciptakan penyiaran yang sehat, tapi kewenangan
yang diberikan tidak jelas, akhirnya K!" jadi tidak bisa berbuat banyak.
.eharusnya bisa mengatur melarang dan memberi perintah. Dalam >ndang#
>ndang $omor 9 %ahun 55 tentang !enyiaran yang sekarang ada ambiguitas
dalam memberi sanksi atau mengambil hak#hak yang seharusnya menjadi hak
publik. .eharusnya dalam revisi nanti, >> !enyiaran harus dijelaskan sebagai leA
specialis, karena jangan sampai prinsip#prinsip dalam >> !enyiaran tidak dapat
dilaksanakan dengan alasan bertentangan dengan >> yang lain.
>ntuk itu, anggota legislatif ketika memberikan masukan untuk revisi >>
!enyiaran yang sudah masuk dalam !rogram @egislasi $asioanal (!rolegnas) agar
revisi terbatas >> !enyiaran tidak mengubah landasan filosofi >> !enyiaran
yang berlandaskan diersity of content dan diersity of o!nership serta
menyerahkan urusan publik untuk diatur secara mandiri oleh publik sesuai konsep
negara modern dan semangat reformasi.
,evisi >> !enyiaran yang menjadi dasar hukum K!" harus didasari atas
kepentingan dan partisipasi publik seluas#luasnya karena penyiaran merupakan
ranah publik. .elain itu, K!" juga berharap revisi dilakukan dengan semangat
untuk memperbaiki demokratisasi penyiaran bebas dari pengaruh kepentingan
yang bersifat otoriter maupun liberalistik.
DAFTAR PUSTAKA
"&3& +(, M$+*( !$.(3
0chmad, 0li. Pintar #erbahasa. =ogyakarta1 *rlangga. 559.
0sshiddiFie, -imly. Konstitusi 4 Konstitusionalisme *ndonesia. *d. ,ev. /et. 1.
-akarta1 Konstitusi !ers. 55B.
MMMMM, -imly. Pengantar *lmu Hukum Tata +egara ,ilid **. /et. 1. -akarta1
Konstitusi !ress. 55:.
MMMMM, -imly. Perkembangan dan Konsolidasi )embaga +egara Pasca 3eformasi.
-akarta1 .ekretariat -enderal dan Kepaniteraan +ahkamah Konstitusi ,".
55:.
(eryanto, Cun Cun. &,egulasi Kampanye'. Kompas (3 -uni 519).
"ndra, +uhammad ,idhwan. Kedudukan )embaga-)embaga +egara dan Hak
Mengu5i Menurut .ndang-.ndang Dasar &<';. /et. 1. -akarta1 .inar
Crafika. 1234.
"ndroharto. .saha Memahami .ndang-.ndang Tentang Peradilan Tata .saha
+egara #uku * #eberapa Pengertian Dasar Peradilan Tata .saha +egara.
/et. :. -akarta1 !ustaka .inar (arapan. 122:.
MMMMM. .saha Memahami .ndang-.ndang Tentang Peradilan Tata .saha
+egara #uku ** #eracara di PT.+. -akarta1 !ustaka .inar (arapan. 122;.
"rwan. Sengketa Tata .saha +egara. +akassar1 >nhas !ress. 552.
Kansil, /. .. %. dan /hristine .. %. Kansil. Hukum Tata +egara 3epublik
*ndonesia &. *d. ,ev. /et. 9. -akarta1 !% ,ineka /ipta. 555.
MMMMM, /. .. %. dan /hristine .. %. Kansil. *lmu +egara -.mum dan *ndonesia).
/et. . -akarta1 !% !radnya !aramita. 55;.
Kusnaedi, +uhammad. Kamus #ahasa *ndonesia. -akarta1 @iberty. 122B.
@otulung, !aulus *ffendi. Perbuatan-perbuatan Pemerintahan Menurut Hukum
Publik6 dalam P7 ,7 , Sipayung -/ditor86 Pe5abat Sebagai Calon Tergugat
Dalam Peradilan Tata .saha +egara. -akarta1 /L. .ri ,ahayu. 1232.
+c/hesney, ,obert. Konglomerasi Media Massa dan Ancaman Terhadap
Demokrasi. Diterjemahkan oleh 0ndi 0chdian. -akarta1 <reedom "nstitute.
559.
+uhtadi, 6uhanuddin. Perang #intang $%&'. -akarta1 $oura 6ook. 519.
,ogers, *. +. dan -. D. .torey. Handbook of Communication Science. $ewbury
!ark, /01 .age. 1234.
,osadi, Etong. Hukum Tata +egara *ndonesia? Teori dan Praktek. !adang1
<akultas (ukum >niversitas *kasati. 55;.
%haib, Dahlan. *mplementasi Sistem Ketatanegaraan Menurut ..D &<';. *d. 1.
/et. 1. =ogyakarta1 @iberty =ogyakarta. 1232.
%jumano, Datuak 0lat. &Konglomerasi +edia +assa'. Kompas (3 .eptember
519).
7inardi. #uku #ahasa *ndonesia. -akarta1 ,aja Crafindo. 555.
U,+(,%:U,+(,%
"ndonesia. .ndang-.ndang Tentang Penyiaran. >> $o. 9 %ahun 55. @$ $o.
1;4 %ahun 559. %@$ $o. ;9;.
"ndonesia. .ndang-.ndang Tentang Peradilan Tata .saha +egara. >> $o. B
%ahun 123:. @$ $o. 44 %ahun 123:. %@$ $o. 99;;.
"ndonesia. .ndang-.ndang Tentang Perubahan Atas .ndang-.ndang +omor ;
Tahun &<=> Tentang Peradilan Tata .saha +egara. >> $o. 2 %ahun
55;. @$ $o. 9B %ahun 55;. %@$ $o. ;935.
"ndonesia. .ndang-.ndang Tentang Perubahan Kedua Atas .ndang-.ndang
+omor ; Tahun &<=> Tentang Peradilan Tata .saha +egara. >> $o. B1
%ahun 552. @$ $o. 1:5 %ahun 552. %@$ $o. B542.
I,.$-,$.
(ermawan, "lham 7ayank. &Konsep %entang @embaga $egara !enunjang
(Komisi $egara)' http188ilhamendra.wordpress.com85528581281konsep#
tentang#lembaga#negara#penunjang8. Diunduh 12 0pril 51;.
"ra. &!engaturan "klan Kampanye di @embaga !enyiaran >ntuk +ewujudkan
Keadilan' http188www.kpi.go.id8indeA.php8lihat#terkini89153;#pengaturan#
iklan#kampanye#di#lembaga#penyiaran#untuk#wujudkan#keadilan.
Diunduh 1: 0pril 51;.
$.$. &!eriklanan dan *tika'
http188initugasku.wordpress.com85158598598?*?35?2/periklanan#dan#
etika?*?35?2D8. Diunduh 1: 0pril 51;.
.%. &!enghentian .ementara &Kuis Kebangsaan' ,/%"'
http188www.kpi.go.id8indeA.php8lihat#sanksi891325#penghentian#
sementara#program#siaran#kuis#kebangsaan#rcti. Diunduh 2 0pril 51;.
7ibiono, 6ambang. &!eran +edia .ebagai 0lat Komunikasi !olitik dalam
Kampanye !olitik' http188w9b9.wordpress.com8554818148peran#media#
sebagai#alat#komunikasi#politik#dalam#kampanye#pemilu8. Diunduh 1:
0pril 51;.
LAMPIRAN
P$,%4$,.*(, S$0$,.(-( P-2%-(0 S*(-(, ;K&*) K$5(,%)((,; R!TI
Diterbitkan pada Kamis, 5 <ebruari 51; 155
Ditulis oleh .%

T%' S&-(. 5 <ebruari 51;
N2# S&-(. 9158K8K!"8581;
S.(.&) !enghentian .ementara
S.()*&, T ,/%"
P-2%-(0 S*(-(, <K&*) K$5(,%)((,;
D$)3-*1)*
P$'(,%%(-(,
Komisi !enyiaran "ndonesia (K!") !usat
berdasarkan kewenangan menurut >ndang#
>ndang $o.9 tahun 55 tentang !enyiaran
(>> !enyiaran), pengaduan masyarakat,
pemantauan, dan hasil analisis telah menemukan
pelanggaran !edoman !erilaku !enyiaran dan
.tandar !rogram .iaran (!9 dan .!.) K!" tahun
51 pada !rogram .iaran &Kuis Kebangsaan'
(selanjutnya disebut program kuis) yang
ditayangkan oleh stasiun ,/%" pada 2 <ebruari
51; mulai pukul 1:.B1 7"6.
!ada program kuis tersebut menayangkan isi
siaran yang bersifat tidak netral dan
dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemilik
lembaga penyiaran dan8atau kelompoknya,
dengan melibatkan /alon !residen dan 7akil
!residen yang telah dideklarasikan oleh !artai
(anura, yaituD 7iranto dan (ary %anoesodibjo
(7"$#(%) yang bertindak sebagai pemberi
pertanyaan. !embawa acara dalam siaran
tersebut memulai kuis dengan cara menyatakan
7"$#(% dan pemirsa di rumah yang menelpon
wajib untuk menyebutkan password1 6ersih,
!eduli, %egas yang merupakan tagline kampanye
dari pasangan 7"$#(%. .elain pada tanggal
tersebut, K!" juga menemukan program yang
sama yang ditayangkan hampir setiap hari,
dengan melibatkan /alon @egislatif dari !artai
(anura.
K!" !usat memutuskan bahwa tindakan
penayangan tersebut telah melanggar !9 !asal
11 dan .!. !asal 11 ayat (1) dan ayat () serta
!asal 41 ayat (9).
!rogram kuis ini telah diberikan sanksi
administrasi teguran tertulis sebanyak (dua)
kali, melalui .urat Keputusan K!" !usat %entang
%eguran %ertulis !ertama $o. 34c8K8K!"81819
tertanggal B Desember 519 dan .urat
Keputusan K!" !usat %entang .anksi
0dministratif %eguran Kedua $o.
1598K8K!"85181; tanggal ; -anuari 51;. Kami
juga telah melaksanakan tahap klarifikasi kepada
.audara pada tanggal 19 <ebruari 51; di
Kantor K!" !usat.

6erdasarkan pelanggaran#pelanggaran yang
telah dilakukan program kuis, sesuai dengan
ketentuan !asal 42 ayat (9) .tandar !rogram
.iaran dan hasil ,apat !leno Komisioner K!"
!usat tentang pemutusan sanksi administratif
program pada tanggal 14 <ebruari 51;, K!"
!usat memutuskan1
1. +enjatuhkan .anksi 0dministratif
!enghentian .ementara untuk !rogram .iaran
Kuis Kebangsaan sejak tanggal 1 <ebruari 51;
sampai dengan dilakukan perubahan pada
program kuis tersebutD
. >paya perubahan program kuis
sebagaimana dimaksud pada butir (1) dilakukan
dengan cara menghilangkan seluruh materi
siaran yang bersifat tidak netral dan
dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemilik
lembaga penyiaran dan8atau kelompoknya
dengan menghilangkan penyebutan 7"$#(%,
tagline kampanye 7"$#(%1 6ersih, !eduli,
%egas, dan tidak melibatkan pemilik lembaga
penyiaran atau kelompoknya, dalam hal ini calon
anggota legislatif !artai (anura, sebagai
pembaca kuisD dan
9. +eminta kepada .audara untuk melaporkan
upaya perubahan sebagaimana dimaksud pada
butir () kepada K!" !usat, bila ingin segera
menayangkan kembali program kuis tersebut.
Kami meminta kepada .audara agar menjadikan
!9 dan .!. K!" tahun 51 sebagai acuan
utama dalam penayangan sebuah program
siaran.
Demikian agar surat sanksi administratif
penghentian sementara ini diperhatikan dan
dipatuhi. %erima kasih.
.umber1 http188www.kpi.go.id8indeA.php8lihat#sanksi891325#penghentian#
sementara#program#siaran#kuis#kebangsaan#rcti, diunduh 2 0pril 51;.