Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab (banyak yang
belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau "deteriorating") yang
luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial
budaya. Ditandai oleh adanya waham terutama yang berhubungan dengan ontrol terhadap
dirinya, halusinasi yang aneh, pikiran dan tingkah laku yang kaau.
!ada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropiate) atau tumpul (bluntted).
"esadaran yang jernih (lear onsiousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap
terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Di #merika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan seara bervariasi
terentang dari $ sampai $,% &' konsisten dengan angka tersebut, penelitian (pidemologial
)athment #rea (()#) yang disponsori oleh *ational +nstitue of ,ental -elath
(*+-,)melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar $,. &.
Skizofrenia adalah sama/sama prevalensinya antara laki/laki dan wanita. 0etapi, dua jenis
kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. 1aki/laki
mempunyai onset lebih awal daripada wanita. 2sia punak onset untuk laki/laki adalah $%
sampai 3% tahun' untuk wanita usia punak adalah 3%sampai .% tahun. 4nset skizofrenia
sebelum usia $5 tahun atau sesudah %5 tahun adalah sangat jarang.
Skizofrenia mempunyai beberapa tipe , berdasarkan !!6D7 +++ dibagi dalam .
pembagian besar paranoid, herbefrenik, katatonik. !aranoid ditandai dengan adanya waham
keurigaan, delusi of control, halusinasi yang menganam pasien. -erbefrenik ditandai oleh
prilaku yang tanpa maksud dan tujuan, tidak bertanggung jawab. Sementara "atatonik ditandai
1
dengan gangguan psikomotor dimana penderita seara sukarela mempertahankan posisi tertentu
yang aneh, negativism, rigiditas, waxy flexibility.
!ada makalah ini kita fokus pada pembahasan mengenai skizofrenia katatonik, karena
jenis ini mempunyai gejala yang khas, dan menarik untuk dibahas.
1.2 Tujuan Penulisan
!enulisan ,eet the (8pert (,0() ini bertujuan untuk memahami serta menambah
pengetahuan tentang Skizofrenia "atatonik
1.3 Batasan Masalah
!ada ,eet 0he (8pert (,0() ini akan dibahas tentang Skizofrenia "atatonik.
1.4 Met!e Penulisan
!enulisan ,0( ini menggunakan berbagai sumber kepustakaan.
BAB II
2
TIN"AUAN PU#TA$A
2.1. De%inisi
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang bersifat kronis atau kambuh ditandai dengan
terdapatnya perpeahan (shism) antara pikiran, emosi dan perilaku pasien yang terkena.
!erpeahan pada pasien digambarkan dengan adanya gejala fundamental (atau primer) spesifik,
yaitu gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya kelonggaran
asosiasi. 6ejala fundamental lainnya adalah gangguan afektif, autisme, dan ambivalensi.
Sedangkan gejala sekundernya adalah waham dan halusinasi("aplan9 Sadok, 355:).
;erdasarkan DS,/+<, skizofrenia merupakan gangguan yang terjadi dalam durasi paling
sedikit selama = bulan, dengan $ bulan fase aktif gejala (atau lebih) yang diikuti munulnya
delusi, halusinasi, pembiaraan yang tidak terorganisir, dan adanya perilaku yang katatonik serta
adanya gejala negatif (#!#, 3555).
2.2. $riteria Diagnstik
,enurut "aplan 9 Sadok (355:), terdapat beberapa kriteria diagnostik skizofrenia di dalam
DS,/+< antara lain >
#."arakteristik gejala
0erdapat dua (atau lebih) dari kriteria di bawah ini, masing/masing ditemukan seara signifikan
selama periode satu bulan (atau kurang, bila berhasil ditangani)>
$) Delusi (waham)
3) -alusinasi
.) !embiaraan yang tidak terorganisasi (misalnya, topiknya sering menyimpang atau tidak
berhubungan).
:) !erilaku yang tidak terorganisasi seara luas atau munulnya perilaku katatonik yang jelas.
%) 6ejala negatif' yaitu adanya afek yang datar, alogia atau avolisi (tidak adanya kemauan).
3
)atatan > -anya diperlukan satu gejala dari kriteria #, jika delusi yang munul bersifat kaau
(bizzare) atau halusinasi terdiri dari beberapa suara yang terus menerus mengomentari perilaku
atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling berbinang antara satu dengan yang
lainnya.
;.Disfungsi sosial atau pekerjaan
2ntuk kurun waktu yang signifikan sejak munulnya onset gangguan, ketidakberfungsian
ini meliputi satu atau lebih fungsi utama' seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau
perawatan diri, yang jelas di bawah tingkat yang diapai sebelum onset (atau jika onset pada
masa anak/anak atau remaja, adanya kegagalan untuk menapai beberapa tingkatan hubungan
interpersonal, prestasi akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
).Durasi
#danya tanda/tanda gangguan yang terus menerus menetap selama sekurangnya enam
bulan. !ada periode enam bulan ini, harus termasuk sekurangnya satu bulan gejala (atau kurang,
bila berhasil ditangani) yang memenuhi kriteria # (yaitu fase aktif gejala) dan mungkin termasuk
pula periode gejala prodromal atau residual. Selama periode prodromal atau residual ini, tanda/
tanda dari gangguan mungkin hanya dimanifestasikan oleh gejala negatif atau dua atau lebih
gejala yang dituliskan dalam kriteria # dalam bentuk yang lemah.
D. Di luar gangguan Skizoafektif dan gangguan ,ood
6angguan/gangguan lain dengan iri psikotik tidak dimasukkan, karena >
$) 0idak ada episode depresif mayor, manik atau episode ampuran yang terjadi seara
bersamaan yang terjadi bersama dengan gejala fase aktif.
3) 7ika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, maka durasi totalnya akan relatif lebih
singkat bila dibandingkan dengan durasi periode aktif atau residualnya.
(. Di luar kondisi di bawah pengaruh zat atau kondisi medis umum
4
6angguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (penyalahgunaan
obat, pengaruh medikasi) atau kondisi medis umum.
?. -ubungan dengan perkembangan pervasive
7ika ada riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasive lainnya,
diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika munul delusi atau halusinasi seara menonjol
untuk sekurang/kurangnya selama satu bulan (atau kurang jika berhasil ditangani).
"lasifikasi perjalanan gangguan jangka panjang (klasifikasi ini hanya dapat diterapkan
setelah sekurang/kurangnya satu tahun atau lebih, sejak onset awal dari munulnya gejalafase
aktif) >
a) (pisodik dengan gejala residual interepisode (episode ini dinyatakan dengan munulnya
kembali gejala psikotik yang menonjol)' khususnya dengan gejala negatif yang
menonjol.
b) (pisodik tanpa gejala residual interepisodik.
) "ontinum (ditemukan adanya gejala psikotik yang menonjol di seluruh periode observasi)'
dengan gejala negatif yang menonjol.
d) (pisode tunggal dalam remisi parsial' khususnya> dengan gejala negatif yang menonjol.
e) (pisode tunggal dalam remisi penuh.
f) !ola lain yang tidak ditemukan (tidak spesifik).
2.3. Etilgi
0eori tentang penyebab skizofrenia, yaitu>
a. Diatesis/Stres ,odel
0eori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan lingkungan yang seara
khusus mempengaruhi diri seseorang sehingga dapat menyebabkan berkembangnya gejala
skizofrenia. Dimana ketiga faktor tersebut saling berpengaruh seara dinamis ("aplan 9 Sadok,
355:).
5
b. ?aktor ;iologis
Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan bahwa skizofrenia
disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal otak, dan berkaitan
dengan gejala positif dari skizofrenia. !enelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya
neurotransmiter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamat dan 6#;#.Selain perubahan
yang sifatnya neurokimiawi, penelitian menggunakan )0 San ternyata ditemukan perubahan
anatomi otak seperti pelebaran lateral ventrikel, atropi koteks atau atropi otak keil (erebellum),
terutama pada penderita kronis skizofrenia ("aplan9 Sadok, 355:).
. 6enetika
?aktor genetika telah dibuktikan seara meyakinkan. @esiko masyarakat umum $&, pada
orang tua resiko %&, pada saudara kandung A& dan pada anak $3& apabila salah satu orang tua
menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua
orang tua skizofrenia :5&. !ada kembar monozigot :B&, sedangkan untuk kembar dizigot
sebesar $3& ("aplan9Sadok, 355:).
d. ?aktor !sikososial
0eori perkembangan
#hli teori Sullivan dan (rikson mengemukakan bahwa kurangnya perhatian yang hangat
dan penuh kasih sayang di tahun/tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya
identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan sosial pada
penderita skizofrenia.
0eori belajar
,enurut ahli teori belajar (learning theory), anak/anak yang menderita skizofrenia
mempelajari reaksi dan ara berfikir irasional orang tua yang mungkin memiliki masalah
emosional yang bermakna. -ubungan interpersonal yang buruk dari penderita skizofrenia akan
berkembang karena mempelajari model yang buruk selama anak/anak.
0eori keluarga
6
0idak ada teori yang terkait dengan peran keluarga dalam menimbulkan skizofrenia.
*amun beberapa penderita skizofrenia berasal dari keluarga yang disfungsional.
2.4. Ti&e'Ti&e #ki(%renia
;erdasarkan definisi dan kriteria diagnostik tersebut, skizofrenia di dalam DS,/+< dapat
dikelompokkan menjadi beberapa subtipe, yaitu("aplan9 Sadok, 355:)>
a. Skizofrenia Paranoid
0ipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut >
#. !reokupasi dengan satu atau lebih delusi atau halusinasi dengar yang menonjol seara
berulang/ulang.
;. 0idak ada yang menonjol dari berbagai keadaan berikut ini >
!embiaraan yang tidak terorganisasi,
perilaku yang tidak terorganisasi atau katatonik,
atau afek yang datar atau tidak sesuai.
b. Skizofrenia Terdisorganisasi
0ipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut >
#. Di bawah ini semuanya menonjol >
$) !embiaraan yang tidak terorganisasi.
3) !erilaku yang tidak terorganisasi.
.) #fek yang datar atau tidak sesuai.
;. 0idak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik
c. Skizofrenia Katatonik
0ipe skizofrenia dengan gambaran klinis yang didominasi oleh sekurang/kurangnya dua hal
berikut ini >
7
$) +mobilitas motorik, seperti ditunjukkan adanya katalepsi (termasuk fleksibilitas lilin) atau
stupor.
3) #ktivitas motorik yang berlebihan (tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulus
eksternal).
.) *egativisme yang berlebihan (sebuah resistensi yang tampak tidak adanya motivasi terhadap
semua bentuk perintah ataumempertahankan postur yang kaku dan menentang semua usahauntuk
menggerakkannya) atau mutism.
:) 6erakan/gerakan sadar yang aneh, seperti yang ditunjukkan oleh posturing (mengambil postur
yang tidak lazim atau aneh seara disengaja), gerakan stereotipik yang berulang/ulang, manerism
yang menonjol, atau bermuka menyeringai seara menonjol.
%) (kolalia atau ekopraksia (pembiaraan yang tidak bermakna).
d. Skizofrenia Tidak Tergolongkan
0ipe skizofrenia yang memenuhi kriteria #, tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe
paranoid, terdisorganisasi, dan katatonik.
e. Skizofrenia Residual
0ipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut >
#.0idak adanya delusi, halusinasi, pembiaraan yang tidak terorganisasi, dan perilaku yang tidak
terorganisasi atau katatonik yang menonjol.
;. 0erdapat terus tanda/tanda gangguan, seperti adanya gejala negatif atau dua atau lebih gejala
yang terdapat dalam kriteria #, walaupun ditemukan dalam bentuk yang lemah
(misalnya,keyakinan yang aneh, pengelaman persepsi yang tidak lazim).
2.). *ejala+ *a,-aran $linis !an Diagnsis
;erdasarkan DS,/+<, iri yang terpenting dari skizofrenia adalah adanya ampuran dari
dua karakteristik (baik gejalapositif maupun gejala negatif) (#!#, 3555). Seara umum,
karakteristik gejala skizofrenia (kriteria #), dapat digolongkan dalam tiga kelompok >
8
a. gejala positif,
b. gejala negatif, dan
. gejala lainnya.
6ejala positif adalah tanda yang biasanya pada orang kebanyakan tidak ada, namun pada
pasien Skizofrenia justru munul. 6ejala positif adalah gejala yang bersifat aneh, antara lain
berupa delusi, halusinasi, ketidakteraturan pembiaraan, dan perubahan perilaku ("aplan9
Sadok, 355:).
6ejala negatif adalah menurunnya atau tidak adanya perilaku tertentu, seperti perasaan
yang datar, tidak adanya perasaan yang bahagia dan gembira, menarik diri, ketiadaan
pembiaraan yang berisi, mengalami gangguan sosial, serta kurangnya motivasi untuk
beraktivitas ("aplan 9 Sadok, 355:).
"ategori gejala yang ketiga adalah disorganisasi, antara lain perilaku yang aneh
(misalnya katatonia, di mana pasien menampilkan perilaku tertentu berulang/ulang,
menampilkan pose tubuh yang aneh' atau wa8y fle8ibility, yaitu orang lain dapat memutar atau
membentuk posisi tertentu dari anggota badan pasien, yang akan dipertahankan dalam waktu
yang lama) dan disorganisasi pembiaraan. #dapun disorganisasi pembiaraan adalah masalah
dalam mengorganisasikan ide dan pembiaraan, sehingga orang lain mengerti (dikenal dengan
gangguan berpikir formal).,isalnya asosiasi longgar, inkoherensi, dan sebagainya.
"riteria Diagnosis untuk Skizofrenia "atatonik adalah(!!6D7 +++)
$. ,emenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
3. Satu atau lebih dari prilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya >
a. Stupor(berkurangnya respon terhadap lingkungan, dan dalam gerakan, serta
aktivitas spontan) atau mutisme(tidak biara)
b. 6aduh/gelisah
. ,enampilkan dan mempertahankan posisi tertentu dan aneh
9
d. *egativism (melawan setiap perintah)
e. @igiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku)
f. Waxy flexibility(mempertahankan anggota gerak atau tubuh dalam posisi yang
dapat dibentuk dari luar)
g. Command automatism dan pengulangan kata/kata serta kalimat/kalimat
.. !ada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi prilaku dari gangguan katatonik,
diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai
tentang adanya gejala/gejala lain.
:. 6ejala katatonik yang disebabkan penyakit organik harus disingkirkan
2... Tera&i
0iga dasar akan pertimbangan pengobatan gangguan pada skizofrenia adalah ("aplan9
Sadok, 355:)>
0erlepas dari berbagai etiologi, skizofrenia terjadi pada seseorang yang memiliki sifat
individual, keluarga, serta sosial psikologis yang unik, maka pendekatan pengobatan disusun
berdasarkan bagaimana penderita telah terpengaruhi oleh gangguan dan bagaimana penderita
akan terobati oleh pengobatan yang dilakukan (terapi farmakologi).
?aktor lingkungan dan psikologi turut berperan dalam perkembangan skizofrenia, maka harus
dilakukan juga terapi non farmakologi.
Skizofrenia adalah suatu gangguan yang kompleks, dan tiap pendekatan terapetik jarang
terukupi untuk mengobati gangguan yang memiliki berbagai maam bentuk.
2./. Perjalanan *angguan !an Prgnsis
!erjalanan berkembangnya skizofrenia sangatlah beragam pada setiap kasus. *amun,
seara umum melewati tiga fase utama, yaitu
a. ?ase prodromal
?ase prodromal ditandai dengan deteriorasi yang jelas dalam fungsi kehidupan, sebelum
fase aktif gejala gangguan, dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau akibat gangguan
penggunaan zat, serta menakup paling sedikit dua gejala dari kriteria # pada kriteria diagnosis
skizofrenia. #wal munulnya skizofrenia dapat terjadi setelah melewati suatu periode yang
10
sangat panjang, yaitu ketika seorang individu mulai menarik diri seara sosial dari
lingkungannya
+ndividu yang mengalami fase prodromal dapat berlangsung selama beberapa minggu
hingga bertahun/tahun, sebelum gejala lain yang memenuhi kriteria untuk menegakkan diagnosis
skizorenia munul. +ndividu dengan fase prodromal singkat, perkembangan gejala gangguannya
lebih jelas terlihat daripada individu yang mengalami fase prodromal panjang.
b. ?ase #ktif 6ejala
?ase aktif gejala ditandai dengan munulnya gejala/gejala skizofrenia seara jelas.
Sebagian besar penderita gangguan skizofrenia memiliki kelainan pada kemampuannya untuk
melihat realitas dan kesulitan dalam menapai insight. Sebagai akibatnya episode psikosis dapat
ditandai oleh adanya kesenjangan yang semakin besar antara individu dengan lingkungan
sosialnya.
. ?ase @esidual
?ase residual terjadi setelah fase aktif gejala paling sedikit terdapat dua gejala dari
kriteria # pada kriteria diagnosis skizofrenia yang bersifat mentap dan tidak disebabkan oleh
gangguan afek atau gangguan penggunaan zat. Dalam perjalanan gangguannya, beberapa pasien
skizofrenia mengalami kekambuhan hingga lebih dari lima kali. 4leh karena itu, tantangan terapi
saat ini adalah untuk mengurangi dan menegah terjadinya kekambuhan.!enegakan prognosis
dapat menghasilkan dua kemungkinan, yaitu prognosis positif apabila didukung oleh beberapa
aspek berikut, seperti> onset terjadi pada usia yang lebih lanjut, faktorpenetusnya jelas, adanya
kehidupan yang relatif baik sebelum terjadinya gangguan dalam bidang sosial, pekerjaan, dan
seksual, fase prodromal terjadi seara singkat, munulnya gejala gangguan mood, adanya
gejalapositif, sudah menikah, dan adanya sistem pendukung yang baik ("aplan9 Sadok, 355:).
Sedangkan prognosis negatif, dapat ditegakkan apabila munul beberapa keadaan seperti berikut>
onset gangguan lebih awal, faktor penetus tidak jelas, riwayat kehidupan sebelum terjadinya
gangguan kurang baik, fase prodromal terjadi ukup lama, adanya perilaku yang autistik,
melakukan penarikan diri, statusnya lajang, bererai, atau pasangannya telah meninggal, adanya
11
riwayat keluarga yang mengidap skizofrenia, munulnya gejalanegatif, sering kambuh seara
berulang, dan tidak adanya sistem pendukung yang baik("aplan9 Sadok, 355:). ,enurut Sirait
(355A) skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronis, berangsur/angsur menjadi semakin
menarik diri dan tidak berfungsi selama bertahun/tahun. ;eberapa penelitian menemukan lebih
dari periode waktu % sampai $5 tahun setelah perawatan pertama kali dirumah sakit, hanya $5
sampai 35& memiliki hasil yang baik. 1ebih dari %5& memiliki hasil buruk.Seorang aregiver
maupun anggota keluarga lainnya berperan penting selama pasien berada pada fase aktif maupun
fase residual. -al ini disebabkan karena setelah pasien selesai dengan perawatan di rumah sakit,
terapi akan tetap dilanjutkan di lingkungan rumah, oleh karena itu, kesuksesan pengobatan serta
kekambuhan pasien akan ditentukan oleh aregiver selain faktor/faktor lain yang turut
mempengaruhi kesuksesan pengobatan tersebut.
2..0. $a,-uh
"ambuh merupakan kondisi dimana pasien kembali menunjukkan gejala/gejala
skizofrenia setelah remisi dari rumah sakit. !enderita mengalami kambuh diikuti oleh
perburukan sosial lebih lanjut pada fungsi dasar pasien ("aplan9 Sadok, 355:).
0ambahan
!engobatan skizofrenia
!sikofarmaka
!ada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada
dosis ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping> sedasi, otonomik,
ekstrapiramidal). !emilihan jenis anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan
12
dan efek samping obat. !ergantian disesuaikan dengan dosis ekuivalen. #pabila obat antipsikosis
tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu
yang tepat, dapat diganti dengan obat anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak
sama) dengan dosis ekuivalennya. #pabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis
sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih
kembali untuk pemakaian sekarang. ;ila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif
pilihannya adalah obat anti psikosis atipikal. Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol
dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. ;egitu juga pasien/pasien dengan efek
samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. 4bat antipsikotik yang beredar di
pasaran dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti psikotik generasi pertama (#!6 +)
dan anti psikotik generasi ke dua (#!6 ll). #!6 + bekerja dengan memblok reseptor D3 di
mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoin fundibular sehingga dengan epat
menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa>
gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan
menyebabkan disfungsi seksualCpeningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif
maupun kognitif. Selain itu #!6 + menimbulkan efek samping anti kolinergik seperti mulut
kering pandangan kabur gangguan miksi, defekasi dan hipotensi. #!6 + dapat dibagi lagi
menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan $5 mg di antaranya
adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. 4bat/obat ini digunakan untuk
mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan
halusinasi. !otensi rendah bila dosisnya lebih dan %5 mg di antaranya adalah hlorpromazine dan
thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit
tidur. #!6 ++ sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SD#) atau anti psikotik
atipikal. ;ekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak
yang menyebabkan rendahnya efek samping e8trapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala
negatif. 4bat yang tersedia untuk golongan ini adalah lozapine, olanzapine, Duetiapine dan
rispendon, (1uana, 355B).
Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan>
4nset efek primer (efek klinis)> 3/: minggu. 4nset efek sekunder (efek samping)> 3/= jam.
Eaktu paruh> $3/3: jam (pemberian $/38 per hari)
13
Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi keil, malam besar) sehingga tidak mengganggu
kualitas hidup penderita.
4bat anti psikosis long ating> fluphenazine deanoate 3% mgC atau haloperidol deanoas %5
mgC, +, untuk 3/:ininggu. ;erguna untuk pasien yang tidakCsulit minum obat, dan untuk
terapi pemeliharaan.
)ara atau lama pemberian
,ulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 3/. hari sampai menapai
dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 3 minggu bila pertu dinaikkan sampai
dosis optimal kemudian dipertahankan A/$3 minggu (stabilisasi). Diturunkan setiap 3 minggu
(dosis maintenane) lalu dipertahankan = bulan sampai 3 tahun (diselingi drug holidaytapering
off (dosis diturunkan 3/: minggu) lalu dihentikan..
2ntuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multi episode, terapi pemeliharaan paling sedikit
% tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 3,% sampai % kali). !ada umumnya
pemberian obat anti psikosis sebaiknya dipertahankan selama . bulan sampai $ tahun setelah
semua gejala psikosis reda sama sekali. !ada penghentian mendadak dapat timbul gejala
holinergi rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. "eadaan ini
dapat diatasi dengan pemberian antikolinergikt seperti injeksi sulfas atropin 5,3% mg (seara intra
muskular), tablet trihe8yphenidyl .83 mgChari, (1uana, 355B). $/3ChariCminggu) setelah itu
!sikososial
#da beberapa maam metode yang dapat dilakukan antara lain>
!sikoterapi individual
0erapi suportif
Sosial skill training
14
0erapi okupasi
0erapi kognitif dan perilaku ();0)
!sikoterapi kelompok
!sikoterapi keluarga
,anajemen kasus
#ssertive )ommunity 0reatment (#)0)
"ekambuhan skizofrenia
"ekambuhan gangguan jiwa pisikotik adalah munulnya kembali gejala/gejala pisikotik yang
nyata. #ngka kekambuhan seara positif hubungan dengan beberapa kali masuk @umah Sakit
(@S), lamanya dan perjalanan penyakit. !enderita/penderita yang kambuh biasanya sebelum
keluar dari @S mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki sedikit
keterampilan sosial, (!orkony dkk, $FF.).
!orkony dkk ($FF.), melaporkan bahwa :F& penderita Skizofrenia mengalami rawat ulang
setelah follow up selama $ tahun, sedangkan penderita/penderita non Skizofrenia hanya 3A& .
Solomon dkk ($FF:), melaporkan bahwa dalam waktu = bulan pasa rawat didapatkan .5&/:5&
penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah $ tahun pasa rawat :5&/%5& penderita
mengalami kekambuhan, dari setelah ./% tahun pasa rawat didapatkan =%&/B%& penderita
mengalami kekambuhan, (!orkony dkk, $FF.).
!enderita dengan skizofrenia dapat mengalami remisi dan kekambuhan, mereka dapat dalam
waktu yang lama tidak munul gejala, maka skizofrenia sering disebut dengan penyakit kronik,
karena itu perlu mendapatkan perhatian medis yang sama, seperti juga individu/individu yang
menderita penyakit kronik lainnya seperti hipertensi dan diabetes mellitus.
15
#da beberapa hal yang bisa memiu kekambuhan skizofrenia, antara lain tidak minum obat dan
tidak kontrol ke dokter seara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter,
kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat
yang membuat stress, (ybermed.bn.net.id).
(mpat faktor penyebab penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit, menurut Sullinger,
$FAA>
!enderita
Sudah umum diketahui bahwa penderita yang gagal memakan obat seara teratur mempunyai
keenderungan untuk kambuh. ;erdasarkan hasil penelitian menunjukkan 3%& sampai %5&
klien yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat seara teratur (#ppleton, $FA3, dikutip
oleh Sullinger, $FAA).
Dokter
,akan obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun pemakaian obat neurolepti
yang lama dapat menimbulkan efek samping 0ardive Diskinesia yang dapat mengganggu
hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.
!enanggung jawab penderita
Setelah penderita pulang ke rumah maka pihak rumah sakit tetap bertanggung jawab atas
program adaptasi penderita di rumah.
"eluarga
;erdasarkan penelitian di +nggris dan #merika keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi
(bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan), hasilnya %B&
kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan $B& kembali dirawat dari
keluarga dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu penderita juga mudah
16
dipengaruhi oleh stres yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan
(kematianCkeelakaan). Dengan terapi keluarga penderita dan keluarga dapat mengatasi dan
mengurangi stres. )ara terapi bisanya> mengumpulkan semua anggota keluarga dan memberi
kesempatan menyampaikan perasaan/perasaannya. ,emberi kesempatan untuk menambah ilmu
dan wawasan baru kepada penderita ganguan jiwa, memfasilitasi untuk menemukan situasi dan
pengalaman baru bagi penderita.
;eberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarganya yaitu> menjadi
ragu/ragu dan serba takut, tidak nafsu makan, sukar konsentrasi, sulit tidur, depresi, tidak ada
minat serta menarik diri, (+yus, 355B).
2ntuk dapat hidup dalam masyarakat, maka penderita skizofrenia perlu mempelajari kembali
keterampilan sosial. !enderita/penderita yang baru keluar dari @S memerlukan pelayanan dari
masyarakat agar mereka dapat menyesuaikan diri dan menyatu dalam masyarakat. 0ingginya
angka rehospitalisasi merupakan tanda kegagalan dalam sistem masyarakat. !enderita kronis di
dalam masyarakat membutuhkan dukungan hidup yang dapat dipertahankan untuk waktu yang
lama. ;eberapa penderita tetap dapat mengalami kekambuhan meskipun mereka mendapatkan
pelayanan pasa rawat (after are servies) pada instansi/instansi. 1in dkk ($FA3) melaporkan
bahwa .=& dari penderita skizofrenia yang tinggal di panti setelah perawatan di @S tetap
mengalami kekambuhan, (!orkony dkk, $FF.).
-ubungan antara Dukungan Sosial "eluarga dengan "ekambuhan Skizofrenia
Sullivan mengemukakan teori psikodinamika skizofrenia berdasarkan perjalanan/perjalanan
klinik, di mana pusat dari psikopatologinya adalah gangguan kemampuan untuk berhubungan
dengan orang lain. 1ingkungan, terutama keluarga memegang peran penting dalam proses
terjadinya skizofrenia. !ernyataan ini juga berlaku sebaliknya, lingkungan, terutama keluarga
memegang peran penting dalam proses penyembuhan skizofrenia. Sebab, dikatakan oleh
Sullivan bahwa skizofrenia merupakan hasil dari kumpulan pengalaman/pengalaman traumatis
17
dalam hubungannya dengan lingkungan selama masa perkembangan individu ("aplan dan
Sadok, 355.).
0itik berat penelitian/penelitian tentang dukungan sosial keluarga dan gangguan psikotik
terutama skizofrenia adalah pada efek yang menghapuskan hubungan traumatik sendiri seperti
pernyataan emosi, rasa kebersamaan yang semu, menari kambing hitam dan keterikatan ganda.
#spek/aspek dukungan sosial keluarga terdiri dari empat aspek yaitu aspek informatif, aspek
emosional dan aspek penilaian atau penghargaan serta aspek instrumental, sebagaimana yang
dikatakan oleh -ouse dan "ahn ($FF%) tersebut di atas di titik beratkan pada besar dan padatnya
jaringan kerja sosial, misalnya hubungan dengan keluarga dan sifat/sifat hubungan sebelumnya,
(;reier 9 Strauss, $FF:).
-al ini menunjukkan bahwa kuat lemahnya dukungan sosial keluarga terhadap penderita
berpengaruh terhadap tingkat kesembuhan skizofrenia. Semakin kuat dukungan sosial keluarga
terhadap penderita memungkinkan semakin epat tingkat kesembuhan skizofrenia. Sebaliknya
semakin lemah dukungan sosial keluarga terhadap penderita memungkinkan semakin lama
tingkat kesembuhan skizofrenia. Demikian juga halnya dengan kekambuhan skizofrenia, terkait
dengan kuat lemahnya dukungan sosial keluarga.
Didapatkan $3 fungsi hubungan sosial dan 3 fase kebutuhan sosial yang penting selama periode
penyembuhan (;reier 9 Strauss, $FF:). ?ungsi/fungsi yang menolong dalam hubungan sosial
tersebut adalah $) ventilasi, 3) tes realita, untuk menilai kemampuan penderita di dalam
membedakan realita, .) maam dukungan sosial terutama keluarga, :) persetujuan dan perpaduan
sosial terutama keluarga dan lingkungan dekatnya, di mana penderita ingin diterima kembali
dalam lingkungan sosialnya dan mengharapkan hubungan dengan orang/orang yang dikenalnya
sebelum ia masuk @S, =) motivasi, B) pembentukan, di mana penderita menontoh tingkah laku
orang lain untuk meningkatkan fungsi sosialnya, A) pengawasan gejala, F) pemeahan masalah,
$5) pengertian yang empatik, $$) saling memberi dan menerima, $3) insight.
?ase kebutuhan sosial adalah $) fase penyembuhan, penderita sangat membutuhkan perhatian
dari keluarganya karena tidak dapat mandiri, fungsi hubungan sosial yang digunakan di sini
18
adalah maam dukungan dan ventilasi, 3) fase pembentukan kembali, fungsi hubungan sosial
yang digunakan adalah motivasi, saling memberi dan menerima, pengawasan gejala. $3 fungsi
hubungan sosial dan 3 fase kebutuhan sosial yang penting selama periode penyembuhan (;reier
dan Strauss, $FF:) tersebut sangat erat kaitannya dengan dukungan sosial keluarga.
!emberian obat antipsikotik dapat mengurangi resiko kekambuhan, tetapi obat/obatan tersebut
tidak dapat mengajarkan tentang kehidupan dan keterampilan meskipun dapat memperbaiki
kualitas hidup penderita melalui penekanan gejala/gejala. !engajaran kehidupan dan
keterampilan sosial hanya mungkin didapat penderita melalui dukungan sosial keluarga. Dari
penelitian didapat bahwa :%& penderita skizofrenia yang mendapat pengobatan antipsikotik
akan mengalami kekambuhan dalam waktu $ tahun pasa rawat, sedangkan penderita yang diberi
plasebo B5& kambuh, ("aplan dan Sadok , 355.).
-al ini berarti pengobatan skizofrenia harus dilakukan dengan ara interaksi multidimensional.
6ejala/gejala dan ketidakmampuan sosial serta ketidakmampuan individual yang di tunjukkan
merupakan hasil dari benturan/benturan yang dialami dalam kehidupan. #ngka kekambuhan
dalam waktu $ tahun pasa rawat pada penderita skizofrenia yang mendapat latihan keterampilan
sosial adalah 35&, penderita yang mendapat pengobatan antipsikotik :$& dan $F& penderita
yang pada keluarga diberikan psikoedukasi. !enderita yang mendapat latihan keterampilan
sosial, obat antipsikotik dan psikoedukasi keluarga dilaporkan tidak ada yang kambuh, ("aplan
dan Sadok, 355.).
Prgnsis ski(%renia
Ealaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai
gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Seara umum 3%& individu sembuh sempurna,
:5& mengalami kekambuhan dan .%& mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada
metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti > usia tua, faktor penetus jelas, onset akut,
riwayat sosial C pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan
mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik
sedangkan onset muda, tidak ada faktor penetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk, autistik,
tidak menikahCjandaCduda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif,
19
riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam . tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan
memberikan prognosis yang buruk, (1uana, 355B).
"esembuhan total tidak lazim ditemui pada penderita skizofrenia,
4nset yang timbul lebih awal, riwayat keluarga dengan skizofrenia, kelainan struktur pada otak,
gejala gangguan kognitif menonjol, berhubungan dengan prognosis yang buruk.
Seara epidemiologi, prognosis lebih baik pada orang yang hidup dengan pemasukan sedikit, dan
negara yang mempunyai pendapatan menengah. (,edsape > shizophrenia, 35$.)
DA1TA2 PU#TA$A
$. ,aslim @. Diagnosis 6angguan 7iwa> @ingkasan @ingkas dari !!D67/+++.
7akarta> !0.
*uh 7aya, 355.
3. "aplan, Sadok, 6rebb. Sinopsis !sikiatri +lmu !engetahuan !rilaku !sikiatri
"linis 7ilid
Satu. 7akarta> ;inarupa #ksara, 355:.
.. *ational +nstitue of ,ental -ealth, *ational +nstitues of -ealth.
www.nimh.nih.gov
iakses tanggal 35 7anuari 35$3.
20