Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Luka
bakar berat menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi
dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk
penanganannya pun tinggi. Di Amerika Serikat, kurang lebih 250.000 orang
mengalami luka bakar setiap tahunnya. Dari angka tersebut, 112.000 penderita
luka bakar membutuhkan tindakan emergensi, dan sekitar 210 penderita luka
bakar meninggal dunia. Di Indonesia, belum ada angka pasti mengenai luka bakar,
tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta industri, angka luka bakar
tersebut makin meningkat.
1

Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit juga menimbukan
efek sistemik yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan
derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Berat lukanya bergantung
pada dalam, luas, dan letak luka. Selain beratnya luka, umur dan keadaan
kesehatan penderita sebelumnya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
prognosis.
1
















2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia,
listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan jenis trauma dengan morbiditas dan
mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak fase awal
sampai fase lanjut.
3

2.2 Etiologi
Luka bakar dapat disebabkan oleh paparan api, baik secara langsung maupun
tidak langsung, misalnya tersiram air panas yang banyak terjadi pada
kecelakaan rumah tangga.
3
Selain itu, pajanan suhu tinggi dari matahari,
listrik, maupun bahan kimia juga dapat menyebabkan luka bakar.
1,2,3
Secara
garis besar, penyebab terjadinya luka bakar dapat dibagi menjadi :

Scald Burns
Air panas menjadi penyebab tersering terjadinya luka bakar. Air
mendidih biasanya menyebabkan luka bakar yang dalam.
2
Semakin kental
cairan dan semakin lama waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang
akan ditimbulkan. Luka yang disengaja atau akibat kecelakaan dapat
dibedakan berdasarkan pola luka bakarnya. Pada kasus kecelakaan, luka
umumnya menunjukkan pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan oloeh
kulit sehat. Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka umumnya
melibatkan keseluruhan ekstremitas dalam pola sirkumferensial dengan garis
yang menandai permukaan cairan.
3
Pada anak, kurang lebih 60% luka bakar
disebabkan oleh air panas yang terjadi pada kecelakaan rumah tangga, dan
umumnya merupakan luka bakar superficial, tetapi dapat juga mengenai
seluruh ketebalan kulit (derajat tiga).
1

Flame Burns
Kontak langsung dengan api merupakan penyebab kedua yang
biasa menyebabkan luka bakar.
2
Terbakar api langsung dapat dipicu atau
3

diperparah dengan adanya cairan yang mudah terbakar seperti bensin, gas
kompor rumah tangga, cairan dari lubang pemantik api, yang akan
menyebabkan luka bakar pada seluruh atau sebagian tebal kulit.
1,2
Api dapat
membakar pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh. Serat alami
memilki kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung
meleleh atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera
kontak.
3

Contact Burns
Terjadi kontak langsung dengan benda panas , misalnya yang
terbuat dari logam, plastik, kaca, atau batubara panas.
2,3
Luka bakar yang
dihasilkan biasanya terbatas pada area tubuh yang mengalamai kontak, tapi
bisa menghasilkan luka yang dalam.
2

Aliran Listrik
Cedera yang timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus
jaringan tubuh, umumnya mencapai kulit bagian dalam. Listrik yang
menyebabkan percikan api dan membakar pakaian dapat menyebabkan luka
bakar tambahan.
3


Zat Kimia
Bahan kimia ini bisa berupa asam atau basa kuat. Asam kuat
menyebabkan nekrosis koagulasi, denaturasi protein, dan rasa nyeri yang
hebat. Asam hidrofluorida mampu menembus jaringan sampai ke dalam dan
menyebabkan toksisitas sistemik yang fatal, bahkan pada luka yang kecil
sekalipun. Alkali atau basa kuat yang banyak terdapat dalam rumah tangga
antara lain cairan pemutih pakaian (bleaching),berbagai cairan pembersih,
dll. Luka bakar yang disebabkan oleh basa kuat akan menyebabkan jaringan
mengalami nekrosis yang mencair (liquefactive necrosis). Kemampuan
alkali menembus jaringan lebih dalam lebih kuat daripada asam, kerusakan
jaringan lebih berat karena sel mengalami dehidrasi dan terjadi denaturasi
protein dan kolagen. Rasa sakit baru timbul belakangan sehingga penderita
sering terlambat sehingga penderita sering terlambat datang untuk berobat
dan kerusakan jaringansudah meluas.
1

4

Radiasi
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber
radioaktif. Tipe injury ini seringkali berhubungan dengan penggunaan
radiasi ion pada industry atau dari sumber radiasi untuk keperluan terapeutik
pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar matahri akibat terpapar yang
terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi.

2.3 Patofisiologi
Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025 m
2
pada anak baru
lahir sampai 1 m
2
pada orang dewasa.apabila kulit terbakar atau terpajan suhu
tinggi, pembuluh kapiler di bawahnya, area sekitarnya dan area yang jauh
sekali pun akan rusak dan menyebabkan permeabilitasnya meningkat.
Terjadilah kebocoran cairan intrakapiler ke interstisial sehingga terjadi udem
dan bula yang mengandung banyak elektrolit. Rusaknya kulit akibat luka
bakar akan mengakibatkan hilangnya fungsi kulit sebagai barier dan penahan
penguapan.
1

Kedua penyebab di atas dengan cepat menyebabkan berkurangnya
cairan intravascular. Pada luka bakar yang luasnya kurang dari 20%,
mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya. Bila kulit yang
terbakar luas (lebih dari 20%), dapat terjadi syok hipovolemik disertai gejala
yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat,
tekanan arah menurun, dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi
perlahan, maksimalterjadi setelah delapan jam.
1

Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan
permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga
dapat terjadi anemia.
1

Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di
wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap
panas yang terhirup. Udem laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan
hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara
parau, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
1

Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya.
Karbonmonoksida sangat kuat terikat dengan hemoglobin sehingga
hemoglobin tidak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan yaitu
5

lemas, bingung, pusing, mual, dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi
koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat
meninggal.
1

Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan
terjadi mobilisasi serta penyerapan kembali cairan dari ruangan interstitial ke
pembuluh darah yang ditandai dengan meningkatnya diuresis.
1

Luka bakar umumnya tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati
yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan
mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai
oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Padahal, pembuluh ini
membawa system pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman penyebab infeksi
pada luka bakar, selain berasal dari penderita sendiri, juga dari kontaminasi
kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman di rumah sakit. Infeksi
nosokomial biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah
resisten terhadap berbagai antibiotik.
1

Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gran positif
yang berasal dari kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat
terjadi invasi kuman Gram negatif. Pseudomonas aeruginosa yang dapat
menghasilkan eksotoksin protease dan toksin lain yang berbahaya, terkenal
sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat
dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi
enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan
granulasi yang membentuk nanah.
1

Infeksi ringan dan noninvasive (tidak dalam) ditandai dengan
keropeng yang mudah terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang
invasive ditandai dengan keropeng yang kering dan perubahan jaringan di tepi
keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik; akibatnya, luka bakar yang
mula-mula derajat dua menjadi derajat tiga. Infeksi kuman menimbulkan
vaskulitis pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbkaar dan menimbulkan
trombosis.
1

Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat dua
dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini
dimulai dari sisa elemen epitel yang masih vital, misalnya sel kelenjar sebasea,
sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut. Luka bakar derajat
6

dua yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri, gatal,
kaku, dan secara estetik sangat jelek.
1

Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan
mengalami kontraktur. Bila ini terjadi di persendian; fungsi sendi dapat
berkurang atau hilang.
1

Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase
akut, peristaltik usus menurun atau berhenti karena syok. Juga peristaltis dapat
menurun karena kekurangan ion kalium.
1

Stres atau beban faali serta hipoperfusi daerah splangnikus pada
penderita luka bakar berat dapat menyebabkan terjadinya tukak di mukosa
lambung atau duodenum dengan gejala yang sama dengan gejala tukak peptik.
Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling atau stress ulcer. Aliran darah ke
lambung berkurang, sehingga terjadi iskemia mukosa. Bila keadaan ini
berlanjut, dapat timbul ulkus akibat nekrosis mukosa lambung. Yang
dikhawatirkan pada tukak Curling ini adalah penyulit perdarahan yang tampil
sebagai hematemesis dan/atau melena.
1

Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga
keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena
eksudasi, metabolism tinggi, dan mudah terjadi infeksi. Penguapan berlebihan
dari kulit yang rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang
diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari
otot skelet. Oleh karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil,
dan berat badan menurun. Kecacatan akibat luka bakar bisa sangat hebat,
terutama bila mengenai wajah. Penderita mungkin menglami beban kejiwaan
berat akibat cacat tersebut, sampai bisa menimbulkan gangguan jiwa yang
disebut schizophrenia postburn.
1


2.4 Luas Luka Bakar
Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada
orang dewasa digunakan rumus 9, yaitu luas kepala dan leher, dada,
punggung, perut, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas
atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki
kiri masing-masing 9 %, sisanya 1% adalah daerah genitalia. Rumus ini
7

membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang
dewasa.
1,2,3

Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif
permukaan kepala anak lebih besar. Karena perbandingan luas permukaan
bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal dengan rumus 10 untuk bayi dan
rumus 10-15-20 untuk anak.
1,2,3

Untuk anak, kepala dan leher 15%, badan depan dan belakang
masing-masing 20%, ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 10%,
ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 15%.
1,2,3


2.5 Derajat Luka Bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tinggi suhu dan lamanya pajanan suhu
tinggi. Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga
memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat
dari bulu domba (wol). Bahan sintetis, seperti nilon dan dakron, selain mudah
terbakar juga mudah lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga
memperberat kedalaman luka bakar.
1

Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan tingkatan kedalaman kulit
yang terpajan, seperti epidermis (derajat satu), lapisan superfisial dan
mencapai kedalaman dermis (derajat dua), seluruh lapisan kulit (derajat tiga)
dan derajat empat.
2

1. Derajat Satu
Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya
sembuh dalam 5-7 hari; misalnya tersengat matahari. Luka tampak eritema
dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat.

2. Derajat Dua
Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis, tetapi masih
ada elemen epitel sehat yang tersisa. Elemen epitel tersebut, misalnya
epitel sel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut.
Dengan adanya sisa epitel ini, luka dapat sembuh sendiri dalam dua
sampai tiga minggu. Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung, atau
8

bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas
dindingnya meningkat.

3. Derajat Tiga
Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit dan
mungkin subkutis, atau organ yang lebih dalam. Tidak ada lagi elemen
epitel hidup tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka;
biasanya diikuti dengan terbentuknya eskar yang merupakan jaringan
nekrosis akibat denaturasi protein jaringan kulit. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan kesembuhan harus dilakukan skin grafting. Kulit tampak
pucat abu-abu gelap atau hitam, dengan permukaan lebih rendah dari
jaringan sekeliling yang masih sehat. Tidak ada bula dan tidak terasa nyeri.

4. Derajat Empat
Luka bakar derajat empat tidak hanya menembus lapisan kulit,
tetapi dapat juga menembus jaringan lemak subkutan dan strukstur yang
lebih dalam. Luka biasanya terlihat hangus dan sering menyebabkan
destruksi pada jaringan dibawahnya.
2


2.6 Beratnya Luka Bakar
Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh
kedalaman luka bakar. Walaupun demikian, beratnya luka bergantung pada
dalam, luas, dan letak luka. Umur dan kesehatan penderita sebelumya akan
sangat mempengaruhi prognosis.
Selain dalam dan luasnya luka bakar, prognosis dan penanganan
ditentukan oleh letak luka, usia, dan keadaan kesehatan penderita. Perawatan
daerah perineum, ketiak, leher dan tangan sulit, antara lain karena mudah
mengalami kontraktur. Bayi dan orang usia lanjut daya kompensasinya lebih
rendah, maka bila terbakar digolongkan kedalam golongan berat.

2.7 Tatalaksana
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh,
misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk
menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala. Korban dapat
9

mengusahakannya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling agar pakaian
yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat
diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan
diri ke air dingin, atau melepaskan baju yang tersiram air panas.
1

Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah
merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiramnya dengan air mengalir
selama sekurang-kurangnya lima belas menit. Upaya pendinginan ini, dan upaya
mempertahankan suhu dingin pada jam pertama akan menghentikan proses
koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi yang akan terus
berlangsung walaupun api telah dipadamkan, sehingga destruksi tetap meluas.
Oleh karena itu, merendam bagian yang terbakar selama lima belas menit pertama
dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan
lebih dangkal dan diperkecil, luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat
berhenti pada derajat satu, atau luka yang kan menjadi tingkat tiga dihentikan
pada tingkat dua atau satu. Pencelupan tau penyiramandapat dilakukan dengan air
apa saja yang dingin, tidak usah steril.
1

Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah
mendinginkan daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan member
kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi, dan menutup permukaan luka.
Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka.
1

Pada luka bakar luas dan dalam, pasien harus segera dibawa ke rumah
sakit terdekat yang punya tenaga terlatih dan unit luka bakar yang memadai untuk
penanganan luka bakar tersebut. Dalam perjalanan, penderita sudah dilengkapi
dengan infuse dan penutup kain yang bersih serta mobil ambulans atau sejenisnya
yang bisa membawa penderita dalam posisi tidur (terlentang/telungkup).
1

Walaupun terdapat trauma penyerta, luka bakarlah yang paling
berpotensi menimbulkan mortalitas dan morbiditas. Jika trauma penyerta yang
lebih berpotensi tinggi menimbulkan morbiditas dan mortalitas, pasien distabilkan
terlebih dahulu di trauma center sebelum ditransfer ke unit luka bakar.
1

Pasien anak sebaiknya tidak dirawat di rumah sakit yang tidak
memiliki petugas dan fasilitas pelayanan pediatric yang memadai; demikian juga
penderita luka bakar yang memerlukan penanganan khusus masalah emosional
dan sosial atau memerlukan tindakan rehabilitative khusus (mencakup kasus
penganiayaan dan penelantaran anak).
1

10

Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka
bakar ringan, kalau perlu, dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan
gejala syok. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas, berikan
campuran udara lembab dan oksigen. Kalau terjadi udem laring, dipasang pipa
endotrakea atau dibuat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan
jalan napas, mengurangi ruang mati, dan memudahkan pembersihan jalan napas
dari lender atau kotoran. Bila ada dugaan keracunan CO, segera diberikan oksigen
murni.
1

Luka akibat asam hidrofluorida perlu dilavase (cuci bilas) sebanyak-
banyaknya dan diberi gel kalsium glukonat topikal. Pemberian kalsium sistemik
juga diperlukan karena asam hidrofluorida mengendapkan kalsium pada luka
bakar.
1

Perawatan lokal mengoleskan luka dengan antiseptic dan
membiarkannya terbuka untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan
pembalut steril untuk perawatan tertutup. Kalau perlu, penderita dimandikan
dahulu.
1

PEMBERIAN CAIRAN INTRAVENA. Sebelum infus diberikan, luas dan
dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti. Kemudian, jumlah cairan infus
yang akan diberikan dihitung. Ada beberapa cara untuk menghitung kebutuhan
cairan ini.
1. Cara Evans
Cara ini dilakukan sebagai berikut :
1) Luas luka dalam % x BB dalam kg menjadi mL NaCl per 24 jam
2) Luas luka dalam % x BB dalam kg menjadi mL plasma per 24 jam.
Keduanya merupakan pengganti cairan yang diberikan akibat edema.
Plasma diperlukan untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh
dan meninggikan tekanan osmosis sehingga mengurangi perembesan
keluar dan menarik kembali ciran yang telah keluar.
3) Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan
2.000 cc glukosa 5% per 24 jam.

Separuh jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah
11

jumlah cairan hari kedua. Penderita mula-mula dipuasakan karena
peristaltis usus terhambat pada keadaan prasyok, dan mulai diberikan
minum segera setelah fungsi usus normal kembali. Kalau diuresis pada
hari ketiga memuaskan dan penderita dapat minum tanpa kesulitan, infuse
dapat dikurangi bahkan dihentikan.


2. Rumus Baxter
Cara lain yang dipakai dan lebih sederhana adalah
menggunakan rumus Baxter, yaitu luas luka x BB dalam kg x 4 mL larutan
Ringer.
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama
sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama diberikan
kristaloid yaitu larutan Ringer Laktat. Hari kedua diberikan setengah
cairan pertama.
Contoh: seorang dewasa dengan berat badan 50 kg dan luka
bakar seluas 20% permukaan kulit akan diberikan 50 x 20 mL = 1000 mL
larutan NaCl 0,9% dan juga 1000 mL plasma sebagai cairan tambahan,
disertai 2000 cc larutan glukosa 5% sebagai kebutuhan dasar. Jumlah
cairan pada 8 jam pertama sama dengan jumlah cairan untuk 16 jam
berikut, masing-masing 2000 mL; 24 jam berikutnya = 2000 mL.
Menurut rumus Baxter, cairan diberikan dalam 2 hari, yaitu 20
x 50 mL x 4 = 4000 mL pada hari pertama, 2000 mL pada hari kedua.
Pemberian cairan dapat ditambah (jika perlu), misalnya bila
penderita dalam keadaan syok, atau jika diuresis kurang. Untuk itu,
pemantauan yang ketat sangat penting, karena fluktuasi perubahan
keadaan sangat cepat terutama pada fase awal luka bakar.
Intinya, status hidrasi penderita luka bakar luas harus dipantau
terus-menerus. Keberhasilan pemberian cairan dapat dilihat dari dieresis
normal yaitu sekurang-kurangnya 1000-1500mL/24 jam atau 1
mL/kgBB/jam pada pasien anak. Yang penting juga adalah pengamatan
apakah sirkulasi normal atau tidak.
Besarnya kehilangan cairan pada luka bakar luas disertai
resusitasi yang tidak betul dapat menyebabkan ketidakseimbangan
12

elektrolit. Hiponatremia sebagai gejala keracunan air dapat menyebabkan
udem otak dengan tanda kejang-kejang. Kekurangan ion K akibat
banyaknya kerusakan sel dapat diketahui dari EKG yang menunjukkan
depresi segmen ST atau gelombang U. ketidakseimbangan elektrolit ini
juga harus dikoreksi namun bukan menjadi prioritas utama dalam
resusitasi cairan emergensi manajemen primer pasien trauma.
Selain itu, ada pula beberapa formula yang biasa digunakan untuk
resusitasi cairan pada center luka bakar.
Electrolyte Colloid D5W
Colloid formulas
Evans Normal saline 1,0mL/kg/% burn 2000mL
1.0mL/kg/% burn

Brooke Lactated Ringer 0,5 mL/kg 2000 mL
solution 1.5mL/
kg/% burn

Slater Lactated Ringer Fresh frozen plasma
2 L/24 h 75 mL/kg/24 h

Crystalloid formulas
Parkland Lactated Ringer 4 mL/kg/% burn

Modified Brooke Lactated Ringer 2 mL/kg/% burn

Hypertonic saline formulas
Hypertonic saline solution (Monafo) Volume to maintain urine output at 30
mL/h;fluid contains 25 mEq Na/L
Modified hypertonic (Warden)Lactated Ringer solution + 50 mEq NaHCO3
(180 mEq Na/L) for 8 h to maintain urine output at 3050 mL/h; lactated
Ringer solution to maintain urine output at 3050 mL/h beginning 8 h
postburn

Dextran formula (Demling) Dextran 40 in saline: 2 mL/kg/h for 8 h; lactated
Ringer solution: volume to maintain output at 30 mL/h; fresh frozen plasma: 0.5
mL/kg/h for 18 h beginning 8 h postburn

Sumber: Reproduced with permission from Warden GD: Burn shock
resuscitation.World J Surg 16:16, 1992.







13


OBAT-OBATAN. Antibiotik sistemik spectrum luas diberikan untuk mencegah
infeksi. Yang banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif
terhadap pseudomonas. Bila ada infeksi, antibiotic diberikan berdasarkan hasil
biakan dan uji kepekaan kuman. Obat suportif yang tercantum pada tabel
diberikan secara rutin.
Untuk mengatasi nyeri, paling baik diberikn opiate melalui ontravena
dalam dosis serendah mungkin yang bisa menghasilkan analgesia yang adekuat
namun tanpa disertai hipotensi.
Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS san/atau
toksoid (lihat tabel indikasi pemberian tetanus).

NUTRISI. Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan
keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500-
3.000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi.
Pada masa kini, tiap unit luka bakar sudah menerapkan pemberian dini
nutrisi enteral melalui selang nasogastrik untuk mencegah terjadinya ulkus
Curling dan memenuhi kebutuhan status hipermetabolisme yang terjadi pada fase
akut luka bakar. Nutrisi enteral ini diberikan melalui selang nasogastrik yang
sekaligus berfungsi untuk mendekompresi lambung.
Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya memerlukn fisioterapi
untuk memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau perlu,
sendi diistirahatkan dalam posisi fungsional dengan bidai.

Kebutuhan Nutrisi Penderita Luka Bakar
Minuman diberikan pada penderita luka bakar :
Segera setelah peristaltis menjadi normal
Sebanyak 25 mL/kgBB/hari
Sampai dieresis sekurang-kurangnya mencapai 30 mL/jam
Makanan diberikan diberikan oral pada penderita luka bakar :
Segera setelah dapat minum tanpa kesulitan
Sedapat mungkin 2500 kalori/hari
Sedapat mungkin mengandung 100-150 gr protein/hari
14

Sebagai tambahan diberikan setiap hari :
Vitamin A, B, dan D
Vitamin C 500 mg
Fe sulfat 500 mg
Mukoprotektor

Penanganan Lokal
Luka bakar derajat satu dan dua yang menyisakan elemen epitel berupa
kelenjar sebasea, kelenjar keringat atau pangkal rambut, dapat diharapkan sembuh
sendiri, asal dijaga supaya elemen epitel tersebut tidak hancur ataurusak karena
infeksi. Pada luka lebih dalam perlu diusahakan secepat mungkin membuang
jaringan kulit yang mati dan member obat topikal yang daya tembusnya tinggi
sampai mencapai dasar jaringan mati. Perawatan setempat dapat dilakukan secara
terbuka atau tertutp.
Masih banyak kontroversi dalam pemakaian obat-obatan topikal, tetapi
yang penting obat topikal tersebut membuat luka bebas infeksi, mengurangi rasa
nyeri, bisa menembus eskar dan mempercepat epitelisasi. Ada beberapa jenis obat
yang dianjurkan seperti golongan silver sulfadiazine dan terbaru MEBO (moist
exposure burn ointment).
Obat topikal yang dipakai dapat berbentuk larutan, salep, atau krim.
Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk sediaan kasa (tulle). Antiseptic yang
dipakai adalah yodium povidon atau nitras-argenti 0,5%. Kompres nitras-argenti
yang selalu dibasahi tiap 2 jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua kuman.
Obat ini mengendap sebagai garam sulfide atau klorida yang member warna hitam
sehingga mengotori semua kain. Krim silver sulfadiazine 1 % sangat berguna
karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif
terhadap semua kuman, tidak menimbulkan resistensi, dan aman. Krim ini
dioleskan tanpas pembalut, dan dapat dibersihkan dan diganti setiap hari.
Keuntungan perawatan terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan
luka yang selalu terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit
berkembang. Kerugiannya, bila digunakan obat tertentu, misalnya nitras-argenti,
alas tidur menjadi kotor. Penderita dan keluarga pun merasa kurang enak melihat
15

luka yang tampak kotor. Sedapat mungkin luka dibarkan terbuka setelah diolesi
obat.
Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang
dimaksudkan untuk menutup luka dari kemungkinan kontaminasi, tetapi tutupnya
sedemikian rupa sehingga masih cukup longgar untuk berlangsungnya penguapan.
Keuntungan perawatn tertutup adalah luka tampak rapi, terlindung, dan enak bagi
penderita. Hanya, diperlukan tenaga dan dana lebih banyak karena dipakainya
banyak pembalut dan antiseptik. Kadang suasana luka yang lembap dan hangat
memungkinkan kuman untuk berkembang biak. Oleh karena itu, bila pembalut
melekat pada luka, tetapi tidak berbau, sebaiknya jangan dilepaskan, tetapi
ditunggu sampai terlepas sendiri. Sedapat mungkin luka ditutup kasa penjerap
setelah dibubuhi dan dikompres dengan antiseptik.

Tindak Bedah
Pemotongan eskar atau eskarotomi dilakukan pada luka bakar derajat
tiga yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh karena pengerutan keropeng dan
pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan yang
membahayakan sirkulasi sehingga bagian distal bisa mati. Tanda dini penjepitan
adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai kebas pada ujung-ujung
distal. Keadaan ini harus cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang
membuka keropeng sampai penjepitan terlepas.
Debridement diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan
mati dengan jalan eksisi tangensial. Tindakan ini dilakukan sesegera mungkin
setelah keadaan penderita menjadi stabil karena eksisi tangensial juga
menyebabkan perdarahan. Biasanya eksisi dini ini dilakukan pada hari ke-3
sampai ke-7, dan pasti boleh dilakukan pada hari ke-10. Eksisi tangensial
sebaiknya tidak dilakukan lebih dari 10% luas permukaan tubuh, karena dapat
terjadi perdarahan yang cukup banyak.
Luka bakar yang telah dibersihkn atau luka granulasi dapat ditutup
dengan skin grafting yang umumnya diambil dari kulit penderita sendiri (skin
grafting autologus). Penutupan luka bakar dengan bahan biologis seperti kulit
mayat atau kulit binatang atau amnion manusia dapat dilakukan jika terdapat
keterbatasan luas kulit penderita atau keadaan penderita terlalu payah. Walaupun
kemungkinan ditolak, bahan tersebut dapat berfungsu sementara sebagai
16

penghalang penguapan berlebihan, pencegah infeksi yang lebih parah, dan
mengurangi nyeri. Namun, sedikit demi sedikit penutup sementara ini harus
diganti dengan kulit penderita sendiri sebagai penutup permanen.
Sebaiknya pada penderita luka bakar derajat dua dalam dan derajat tiga
dilakukan skin grafting untuk mencegah terjadinya keloid dan jaringan parut yang
hipertropik. Skin grafting dapat dilakukan sebelum hari kesepuluh, yaitu sebelum
timbulnya jaringan granulasi.
Saat ini telah banyak terdapat material pengganti kulit (skin substitute)
yang dapat digunakan jika skin grafting tidak bisa dilakukan. Skin substitute ini
antara lain integra, aloderm, dan dermagraft. Aloderm adalah dermis manusia
yang elemen-elemen epitelnya telah dibuang sehingga secara teoritis bersifat
bebas antigen, dan berfungsi sebagai kerangka pengganti dermis. Dermagraft
merupakan hasil pembiakan fibroblast tneonatus yang digabung dengan membran
silicon, kolagen babi, dan jarring (mush) nilon. Setelah dua minggu, membrane
silicon dikelupas dan digantikan dengan STSG (split thickness skin graft). Integra
merupakan analog dermis yang terbuat dari lapisan kolagendan kondroitin
ditambah lapisan silicon tipis.

2.8 Komplikasi

Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah akibat jaringan
parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat
mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat
estetis yang jelek sekali, tertama bila parut tersebut berupa koloid. Kekakuan
sendi memerlukan program fisioterapi intensif dan kontraktur memerlukan
tindakan bedah.
Pada cacat estetik yang berat mungkin diperlukan psikiater untuk
mengembalikan rasa percaya diri penderita, dan diperlukan pertolongan ahli
bedah rekonstruksi, terutama jika cacat mengenai wajah atau tangan.
Bila luka bakar merusak jalan napas akibat inhalasi, dapat terjadi
atelektasis, pneumonia, atau insufisiensi fungsi paru pascatrauma.


17

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para
dokter. Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit juga menimbukan
efek sistemik yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan
derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Berat lukanya bergantung
pada dalam, luas, dan letak luka. Selain beratnya luka, umur dan keadaan
kesehatan penderita sebelumnya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
prognosis.

Penanganan secara cepat dan tepat dapat megrurangi tingkat
mortalitas pasien luka bakar.

3.2 Saran
Dengan adanya tinjauan kepustakaan ini, semoga dapat digunakan
oleh pembaca sebagai pedoman dalam tindakan penanggulangan pasien luka
bakar. Dalam penyusunan tinjauan kepustakaan ini, masih terdapat banyak
kekurangan. Untuk itu saran dan kritik sangat diharapkan demi kesempurnaan
penulisa tinjauan pustaka ini.















18

DAFTAR PUSTAKA

1. Hasibuan Lisa, Soedjana Hardisiswo, Bisono. Luka. Dalam :
Editor:Sjamsuhidajat, Karnadihardja, Prasetyono, Rudiman. Buku Ajar Ilmu
Bedah Sjamsuhidajat, De Jong. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 103-
10;2012.
2. Holmes James, Heimbach David. Burns. In : Editor : Brunicardi, Anderson
Dana, Billiar Timothy, Dunn David, Hunter John, Pollock Raphael.
Schwartzs Manual of Surgery Eighth Edition. McGraw-Hill: Medical
3. http://www.scribd.com/doc/61791414/REFERAT-LUKA-BAKAR. Diunduh
8 Juni 2014
4. http://www.scribd.com/doc/77231596/Makalah-Referat-Luka-Bakar-1.
Diunduh 8 Juni 2014