Anda di halaman 1dari 12

PERIODONTITIS

1. Definisi
Periodontitis adalah penyakit inflamasi periodontium, yang menyebabkan kerusakan
ligamen periodontal (Brahm, 2008) Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada
jaringan penyangga gigi (= jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga
gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen
periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga
berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang). Suatu keadaan dapat disebut
periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami
kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga gigi) juga mengalami
kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada
gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi
sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal. (Dibar,
2010)
2. Etiologi dan Patogenesis
Periodontitis disebabkan oleh bakteri plak yang terkalsifikasi disekitar gigi yang
selanjurnya membentuk kalkulus. Bakteri plak dapat menghasilkan enzim, kolagen yang
dapat menyebabkan destruksi dari jaringan gingiva dan tulang. Periodontitis umumnya
disebabkan oleh plak.Plak adalah lapisan tipis biofilm yang mengandung bakteri, produk
bakteri, dan sisa makanan.Lapisan ini melekat pada permukaan gigi dan berwarna putih
atau putih kekuningan.Plak yang menyebabkan gingivitis dan periodontitis adalah plak
yang berada tepat di atas garis gusi. Bakteri dan produknya dapat menyebar ke bawah
gusi sehingga terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis. (Dibar, 2010)
Adanya inflamasi akibat akumulasi bakteri plak dalam mulut dapat menstimulasi
pelepasan sel netrofil (PMNs) menuju bakteri. Tubuh juga melepaskan mediator kimia
sebagai respon dari invasi bakteri seperti cytokin IL1-Beta dan prostaglandin menuju
target bakteri plak dan mencegah infeksi periodontal. Aktifasi berlebih dari mediator ini
dapat menyebabkan destruksi dan kerusakan lebih lanjut terhadap perlekatan tulang dan
jaringan ikat.
Ketika inflamasi terjadi pada gingiva seseorang dan menyebabkan gangguan hanya
pada jaringan gingiva tapi tidak melibatkan kehilangan perlekatan tulang maka kondisi ini
disebut gingivitis. Gingivitis merupakan inisial manifestadi dari penyakit periodontal,
namun tidak selalu berlanjut ke arah periodontitis. Jika gingivitis tidak dilakukan
perawatan, maka gingivitis ini akan menginisiasi kehilangan tulang dan perlekatan
jaringan di sekitar gigi, yang disebut periodontitis. (Brahm, 2008)
3. Prevalensi
Pada orang dewasa, penyakit periodontal yang kronik dan destruktif lebih sering
menjadi penyebab tanggalnya gigi dibandingkan karies dentis, khususnya pada manula.
Namun, prevalensi dan insidensi penyakit periodontal juga tampak menurun di Amerika
Serikat. Bentuk penyakit periodontal yang paling sering ditemukan dimulai sebagai
inflamasi pada gingiva marginal (gingivitis) yang tidak terasa nyeri, kendati gingiva dapat
berdarah ketika pasien menyikat giginya. Penyakit tersebut dapat menyebar hingga
mengenai ligamentum periodontal dan tulang alveolaris, hal ini diserap secara perlahan-
lahan, pelekatan ligamentum periodontal antara gigi dan tulang akan menghilang.
Jaringan lunak akan terlepas dari permukaan gigi sehingga terbentuk kantong dengan
perdarahan ketika disonde atau pada saat mengunyah makanan. Inflamasi akut dapat
menutupi proses yang kronik ini dengan timbulnya pus dan terbentuknya abses
periodontal. Akhirnya, hilangnya tulang secara ekstrim, mobilitas gigi, dan pembentukan
abses rekuren menyebabkan eksfoliasi gigi atau dapat diperintahkan untuk ekstraksi gigi
(Isselbacher, 1999).
Gingivitis dan periodontitis merupakan infeksi yang menyertai penumpukan plak
bakteri dan kemudian mengalami mineralisasi (kalkulus); keadaan ini dapat dicegah
dengen mempertahankan higiene oral yang tepat, termasuk tindakan menyikat gigi,
pemakaian dental floss untuk membershkan sela-sela gigi, kumur mulut dengan larutan
antibakterial dan pengangkatan sisa-sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi.
Penggunaan gigi palsu yang jelek atau kurang pas dapat menimbulkan infeksi tersebut
melalui bagian tepinya yang terlalu menonjol atau tidak sesuai, sementara peranan trauma
oklusal masih belum jelas. Terapi keadaan ini ditujukan untuk mengatasi mikroflora
penyebabnya dan terdiri atas pengangkatan plak serta kalkulus, debridement dinding
kantong serta bagian semen yang lapisan superfisialnya terinfeksi, dan penanganan untuk
menghilangkan faktor penyebab lainnya (Isselbacher, 1999).
Infeksi bakteri periapikal serta periodontal dapat menyebabkan bakteremia sepintas
setelah pencabutan gigi dan bahkan sesudah tindakan profilaksis dental yang rutin.
Keadaan ini dapat menimbulkan endokarditis bakterialis pada pasien-pasien dengan
riwayat demam rematik, penyakit valvuler lainnya, pencangkokan katup jantung atau
penggunaan prostesis jantung atau sendi. Pemberian antibiotik sebagai terapi profilaksis
merupakan tindakan yang tepat untuk menangani kasus-kasus semacam ini (Isselbacher,
1999).
4. Tanda dan Gejala
1. Kemerahan pada gingiva
2. Bengkak
3. Mudah berdarah pada gingiva
4. Mau mulut
5. Pelebaran gingiva
5. Klasifikasi Periodontitis
1. Chronic periodontitis
2. Aggressive periodontitis
3. Periodontitis associated with systemic disease
4. Necrotazing periodontal disease consisting of necrotizing ulcerative gingivitis
(NUG) and necrotizing ulcerative periodontitis (NUP)

6. Ciri-Ciri
Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya.Biasanya tanda-
tanda yang dapat diperhatikan adalah :
Gusi berdarah saat menyikat gigi.
Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak.
Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi.
Terdapat nanah di antara gigi dan gusi.
Gigi goyang.

Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal
dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga
gigi) juga mengalami kerusakan.

7. Macam-Macam Periodontitis
7.1 Periodontitis Marginalis Kronis
Periodontitis marginalis berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada
gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah bawah gigi sehingga
menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal.
Tanda dan gejala periodontitis marginalis kronis diantaranya :
Inflamasi gingiva secara kronis
Plak banyak (etiologi)
Poket
Kerusakan tulang, gigi goyang dan migrasi
Diperparah oleh iritasi faktor lokal seperti kalkulus, restorasi yang buruk dll.
Berhubungan langsung dengan deposit plak dan kalkulus
Keluhan yang disebabkan oleh hipersensitif dentin karena resesi sebagian besar
gigi
Terjadi pada umur lebih dari 40 tahun
Plak banyak karena kerusakan yang terjadi
Inflamasi gingiva (pembesaran, kemerahan dan perdarahan)
Kerusakan hampir merata pada semua gigi, kecuali bila disertai faktor
predisposisi seperti trauma, food impaksi
Loss of attachment disertai poket dan resesi
Trauma karena oklusi
(Ingle, 2008)

Pada klinis terlihat keradangan kronis pada gingiva, poket periodontal dan hilangnya
tulang. Pada kasus lanjut terjadi, migrasi gigi patologis dan gigi goyang. Penyebab
adalah plak gigi. Akumulasi plak dapat disertai oleh iritasi lokal seperti karang gigi,
restorasi yang kurang baik dan impaksi makanan. Berdasarkan pada laju kerusakan
jaringan dari penampakan klinis, periodontitis marginalis dapat di subklasifikasikan
sebagai berikut :
Periodontitis dengan laju perkembangan yang lambat (Slowly Progressing
Periodontitis)
Periodontitis dengan laju perkembangan yang cepat (Rapidly Progressing
Periodontitis)
Refractory periodontitis. (Dumitrescu, 2010)
Periodontitis dengan Laju Perkembangan yang Lambat
Periodontitis ini disebut pula periodontitis tipe dewasa (adult type periodontitis) dan
mempunyai hubungan dengan pengendapan plak gigi dan karang gigi. Stadium lanjut
terjadi pada usia 50 - 60 tahunan. Pada umumnya tidak memberi keluhan rasa sakit, tetapi
kadang-kadang akar gigi yang terbuka (tidak tertutup gingiva) menjadi sensitif. Gejala
akut dapat terjadi karena terbentuknya abses periodontal dan caries pada akar gigi.
Penyakit ini dapat mengenai beberapa gigi atau seluruh gigi dalam mulut. (Dumitrescu,
2010)
Lesi memberi respon yang baik terhadap bentuk perawatan konvensional. Bila disertai
trauma oklusi, kondisi yang ada disebut compound periodontitis atau traumatic
periodontitis. Terlihat adanya poket nifraboni dengan insiden yang tinggi, kehilangan
tulang lebih banyak bentuk angular daripada horizontal, gigi goyang lebih dini dan lebih
parah. (Ingle, 2008)
Periodontitis dengan Laju Perkembangan yang Cepat
Pada periodontitis ini akumulasi plak tidak sepadan dengan keparahan penyakit.
Kondisi penyakit dijelaskan oleh Page dkk, sebagai berikut : pada umumnya terjadi pada
individu dewasa muda usia dua puluhan tetapi dapat juga terjadi di atas usia 35 tahun.
Tampak keradangan mencolok pada gingiva, marginal gingiva ploriferasi, eksudasi dan
kehilangan tulang sangat cepat (dalam beberapa minggu/bulan).
Sebagian besar penderita mempunyai antibodi untuk berbagai spesies Bacteroides,
Actinobacillus atau keduanya dan menunjukkan defek pada fungsi fagositosis.
Penampakan klinik tipe periodontitis lambat dan cepat kadang-kadang sukar dibedakan
kecuali diobservasi dalam waktu yang lebih lama terhadap laju perkembangan dan
responnya terhadap perawatan.
7.2. Abses Periodontal
Abses periodontal adalah suatu lesi akut mengakibatkan kerusakan pada jaringan
pendukung gigi. Terjadinya abses periodontal akibat adanya infeksi lokal. Bakteri utama
penyebab terjadinya bases periodontal adalah Streptococcus viridans, Actinobacillus
actinomycetemcomitans, dan Spirochetes. Terjadinya lesi abses periodontal sangat erat
kaitannya dengan kondisi periodontitis dan poket periodontal, baik pada pasien yang
melakukan perawatan maupun pada pasien yang tidak melakukan perawatan. Dalam
penelitian diterangkan bahwa 62% abses periodontal terjadi pada pasien periodontiti
namun tidak melakukan perawatan, 14% terjadi pada pasien yang telah melakukan
perawatan periodontal seperti scalling maupun root planning. Abses periodontal
merupakan suatu penyebab utama terjadi hilangnya gigi.
Etiologi
Etiologi abses periodontal dibagi atas 2, yaitu:
a. Abses periodontal berhubungan dengan periodontitis . Hal- hal yang menyebabkan
abses periodontal yang berhubungan dengan periodontitis adalah:
1. Adanya saku periodontal yang dalam dan berliku.
2. Penutupan marginal saku periodontal yang dapat mengakibatkan perluasan infeksi
ke jaringan periodontal sekitarnya karena tekanan pus di dalam saku tertutup.
3. Perubahan dalam komposisi mikroflora, virulensi bakteri, atau dalam pertahanan
host bisa juga membuat lumen saku tidak efisien dalam meningkatkan
pengeluaran suppurasi.
4. Pengobatan dengan antibiotik sistemik tanpa debridemen subgingiva pada pasien
dengan periodontitis lanjut juga dapat menyebabkan pembentukan abses.
b. Abses periodontal tidak berhubungan dengan periodontitis Hal-hal yang
menyebabkan abses periodontal yang tidak berhubungan dengan periodontitis adalah:
1. Impaksi dari benda asing seperti potongan dental floss, biji popcorn, potongan
tusuk gigi, tulang ikan, atau objek yang tidak diketahui.
2. Perforasi dari dinding gigi oleh instrumen endodontik.
3. Infeksi lateral kista.
4. Faktor-faktor lokal yang mempengaruhi morfologi akar dapat menjadi
predisposisi pembentukan abses periodontal. Adanya cervical cemental tears
dapat memicu pekembangan yang cepat dari periodontitis dan perkembangan
abses. (Eley, 2004)
Patogenesis dan Histopatologi
Masuknya bakteri kedalam dinding saku jaringan lunak merupakan awal terjadinya
abses periodontal. Sel-sel inflamatori kemudian ditarik oleh faktor kemotaksis yang
dilepaskan oleh bakteri dan bersama dengan reaksi inflamatori akan menyebabkan
destruksi jaringan ikat, enkapsulasi dari infeksi bakteri dan memproduksi pus.
Secara histologis, akan ditemukan neutrofil-neutrofil yang utuh mengelilingi bagian
tengah debris jaringan lunak dan destruksi leukosit. Pada tahap berikutnya, membran
piogenik yang terdiri dari makrofag dan neutrofil telah terbentuk. Laju destruksi abses
tergantung pada pertumbuhan bakteri di dalamnya, virulensinya dan pH lokal. Adanya
pH asam akan memberi keuntungan terhadap enzim lisosom. ( Linde, 2006)
Gejala Klinis
Tampakan klinis dari lesi abses periodontal hampir sama dengan abses gingiva, abses
periapikal, lesi perio-endo, patahnya akar gigi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada
lesi abses periodontal diantaranya adalah pemeriksaan umum, pemeriksaan ekstra oral,
pemeriksaan intra oral, tes vitalitas pulpa, tes microbial, dan pemeriksaan penunjang
seperti radiografi.
Penatalaksanaan
Terapi yang biasanya dilakukan pada lesi abses periodontal adalah drainase,
menghilangkan penyebab terjadinya abses, pemberian antibiotic seperti metrinodazole,
amoxicillin, clindamicyn, erythromycin, dan doxycycline.


Gambaran klinis lesi abses periapikal

Abses periodontal dapat di klasifikasikan atas 3 kriteria, yaitu:
1. Berdasarkan lokasi abses
a. Abses gingival
Abses gingiva merupakan infeksi lokal purulen yang terletak pada marginal gingiva
atau papila interdental dan merupakan lesi inflamasi akut yang mungkin timbul dari
berbagai faktor, termasuk infeksi plak mikroba, trauma, dan impaksi benda asing.
Gambaran klinisnya merah, licin, kadang-kadang sangat sakit dan pembengkakan
sering berfluktuasi. (Weinberg, 2006)
b. Abses periodontal
Abses periodontal merupakan infeksi lokal purulen di dalam dinding gingiva pada
saku periodontal yang dapat menyebabkan destruksi ligamen periodontal dan
tulang alveolar. (Newman, 2006)


c. Abses perikoronal
Abses perikoronal merupakan akibat dari inflamasi jaringan lunak operkulum, yang
menutupi sebagian erupsi gigi. Keadaan ini paling sering terjadi pada gigi molar
tiga rahang atas dan rahang bawah.Sama halnya dengan abses gingiva, abses
perikoronal dapat disebabkan oleh retensi dari plak mikroba dan impaksi makanan
atau trauma.Gambaran klinis berupa gingiva berwarna merah terlokalisir, bengkak,
lesi yang sakit jika disentuh dan memungkinkan terbentuknya eksudat purulen,
trismus, limfadenopati, demam dan malaise. (Martinez, 2005)



2. Berdasarkan jalannya lesi
a. Abses periodontal akut
Abses periodontal akut biasanya menunjukkan gejala seperti sakit, edematous,
lunak, pembengkakan, dengan penekanan yang lembut di jumpai adanya pus,
peka terhadap perkusi gigi dan terasa nyeri pada saku, sensitifitas terhadap
palpasi dan kadang disertai demam dan limfadenopati.
b. Abses periodontal kronis
Abses periodontal kronis biasanya berhubungan dengan saluran sinus dan
c. Asimtomatik, walaupun pada pasien didapatkan gejala-gejala ringan. (Herrera,
2000)
3. Berdasarkan jumlah abses
a. Abses periodontal tunggal
Abses periodontal tunggal biasanya berkaitan dengan faktor-faktor lokal
mengakibatkan tertutupnya drainase saku periodontal yang ada.
b. Abses periodontal multipel
Abses ini bisa terjadi pada pasien diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pasien
dengan penyakit sistemik dan pasien dengan periodontitis tidak terawat setelah
terapi antibiotik sistemik untuk masalah non oral. Abses ini juga ditemukan pada
pasien multipel eksternal resopsi akar, dimana faktor lokal ditemukan pada
beberapa gigi. (Eley BM, 2004)
7.3 Periodontitis Karena Gingivitis
Penyakit periodontal ditandai dengan gingivitis (gingiva merah dan bengkak),
perdarahan gusi, penyusutan gusi, dan pembentukan rongga antara gigi dan gusi.
Pada penyakit periodontal lanjut, gigi tanggal, dan terdapat pus ketika gusi ditekan.
(Berman, 2009) Gingivitis merupakan proses peradangan didalam jaringan
periodonsium yang terbatas pada gingiva, yang disebabkan oleh mikroorganisme
yaang membentuk suatu koloni serta membentuk plak gigi yang melekat pada tepi
gingival. (Nirmaladewi, 2010)
Gingivitis adalah peradangan gingiva. Pada kondisi ini tidak terjadi kehilangan
perlekatan. Pada pemeriksaan klinis terdapat gambaran kemerahan di margin gingiva,
pembengkakan dengan tingkat yang bervariasi, perdarahan saat probing dengan
tekanan ringan dan perubahan bentuk gingiva. Peradangan gingiva tidak disertai rasa
sakit. (Peter, 2004) Peradangan gingiva disebabkan oleh faktor plak maupun non-
plak.

Namun peradangan gingiva tidak selalu disebabkan oleh akumulasi plak pada
permukaan gigi, dan peradangan gingiva yang tidak disebabkan oleh plak sering
memperlihatkan gambaran klinis yang khas. Keadaan ini dapat disebabkan beberapa
penyebab, seperti infeksi bakteri spesifik, infeksi virus atau jamur yang tidak
berhubungan dengan peradangan gingiva yang berhubungan dengan plak dan
peradangan gingiva karena faktor genetik. (Peter, 2004)
Peradangan gingiva yang berasal dari faktor genetik terlihat pada Hereditary
gingival fibromatosis, dan beberapa kelainan mukokutaneus yang bermanifestasi
sebagai peradangan gingiva. Contoh lesi adalah lichen planus, pemphigoid,
pemphigus vulgaris dan erythema multiforme.
Alergi dan trauma merupakan contoh lain dari peradangan gingiva yang tidak
disebabkan oleh faktor non-plak. Peradangan gingiva yang tidak disebabkan oleh
faktor non-plak sangat relevan, penyebab lesi secara umum merupakan sample
penting untuk memahami variasi dari reaksi jaringan yang terdapat pada
periodontium. (Steenberghe, 2005)
Selain faktor plak dan non-plak peradangan gingiva juga disebabkan oleh
karena gangguan sistemik dengan perdarahan spontan atau setelah teriritasi.
Perdarahannya eksesif dan sulit dikontrol. Adapula karena penggunaan obat tertentu,
alergi, terapi radiasi, siklus menstruasi, dan genetik. (Mustaqimah, 2009) Keparahan
peradangan gingiva akan terus berlanjut akibat penumpukan plak, apabila kebersihan
rongga mulut tidak dipelihara. (Gani, 2007)
Pada gingiva yang mengalami perdarahan, persentase jaringan ikat yang
terkena radang adalah lebih besar, tetapi epitelnya lebih sedikit dan lebih tipis bila
dibandingkan dengan gingiva yang tidak mengalami perdarahan. Ini berarti terjadinya
perdarahan pada gingiva adalah sejalan dengan perubahan histopatologis yang terjadi
pada jaringan ikat periodonsium. (Daliemunthe, 2001)
Gingivitis adalah inflamasi gusi atau gingiva yang biasanya terjadi akibat
iritasi oleh karang dan plak gigi. Gingivitis dapat terjadi pada pemberian secara
sistemik beberapa jenis obat, mis. sodium dilantin atau merkuri, dan dapat menyertai
kehamilan akibat perubahan hormonal. (Hinchliff, 1999)
Hilangnya aspek higienis dalam mulut menyebabkan akumulasi massa bakteri
yang padat (plak gigi) di sekeliling daerah leher gigi pada pinggiran gingiva (garis
gusi). Apabila tidak dibersihkan, plak gigi ini akan mempercepat respons peradangan
gingiva, yaitu gingiva tampak merah dan bengkak, perdarahan gingiva spontan, dan
bau mulut, Tingkat keparahan tanda-tanda klinis ini bervariasi. Gingivitis dapat
bersifat lokal atau menyeluruh; gingivitis dapat sembuh bila cara-cara higiene mulut
yang tepat diterapkan. Apabila tindakan higiene mulut yang cermat tetap tidak
mampu mengatasi gingivitis, maka dokter gigi perlu mempertimbangkan masalah
lain, karena gingivitis tersebut mungkin merupakan suatu komponen dari penyakit
lain (misalnya leukemia nonlimfositik akut, diabetes mellitus, neutropenia,
trombositopenia, skorbut, dan perubahan hormon akibat pubertas serta kehamilan)
(Behrman, 1999).

8. Perawatan
Pembersihan secara menyeluruh atau scaling dan meningkatkan kebersihan mulut
dengan menyikat gigi dan dengan menggunakan dental floss. (Obiechina, 2011)