Anda di halaman 1dari 31

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Konsep Terkait

1.

Konsep Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang dicakup di dalam kognitip mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2007) yaitu :

a. Tahu (know) b. Memahami (comprehension)
a. Tahu (know)
b. Memahami (comprehension)

Dapat diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Contoh seseorang bisa menyebutkan tanda-tanda TB paru.

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

d. Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi

8

9

2.

bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen- komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang telah ada.

e.

f. Perilaku Kesehatan
f.
Perilaku Kesehatan

Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2007).

Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati secara langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Blum (1986) menyatakan ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan pada manusia yaitu genetik (herediter), lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku (Notoatmodjo, 2007).

Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari

10

luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme tersebut merespons, maka teori Skiner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus Organisme Respons (Notoatmodjo, 2007).

a. Domain Perilaku

Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respons tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni (Notoatmodjo, 2007):

1. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan,
1.
Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang
bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan, misalnya : tingkat
kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
2.
Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
b.
Faktor Pembentuk Perilaku
Bentuk operasional dari perilaku ini dapat dikelompokkan menjadi 3
jenis, yaitu (Notoatmodjo, 2007) :

1) Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar. 2) Perilaku dalam bentuk sikap yaitu tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar subjek. 3) Perilaku dalam bentuk tindakan konkrit berupa perbuatan terhadap situasi rangsangan dari luar. Perilaku terbentuk melalui suatu proses tertentu, dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Begitu pula dengan perilaku pasien TB Paru dalam upaya pencegahan penularan penyakit TB Paru. Jadi

11

sebelum terbentuknya perilaku ( upaya pencegahan penularan ) ada beberapa hal yang melatar belakangi seperti pengetahuan/informasi yang diperoleh dan pemahaman atas informasi yang didapat tersebut sebelum ia melakukan tindakan konkrit berupa perbuatan pencegahan penularan penyakit TB Paru (Notoatmodjo, 2007).

Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007) ada 3 faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku individu maupun kelompok sebagai berikut :

1. 2. 3.
1.
2.
3.

Faktor-faktor yang mempermudah (predisposing factors) yang mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, norma sosial dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat .

Faktor-faktor pendukung (enabling factors) antara lain umur, status sosial, ekonomi, pendidikan, dan sumber daya manusia.

Faktor- faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat perubahan perilaku seseorang yang dikarenakan adanya sikap suami, orang tua, tokoh masyarakat atau petugas kesehatan.

Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.

12

3. Tuberkulosis Paru

a. Pengertian Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyebab penyakit ini adalah bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis. Mycobacteria termasuk dalam famili Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetales. Kompleks Mycobacterium tuberculosis meliputi M. tuberculosis, M. bovis, M. africanum, M. microti, dan M. canettii. Dari beberapa kompleks tersebut, M. tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan paling sering dijumpai. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%) dibandingkan bagian lain tubuh manusia (Masrin, 2008).

lemak (lipid), kemudian peptidoglikan dan arabinomannan
lemak (lipid), kemudian peptidoglikan dan arabinomannan

Penyebab Tuberkulosis Paru Penyebab tuberkulosis paru adalah kuman Mycobacterium tuberculosis, yang berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam

b.

Kuman dapat

tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun di lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis menjadi aktif lagi. Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup 14 jam di tempat gelap dan lembab (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, 2006). M. tuberculosis merupakan kuman berbentuk batang, berukuran panjang 5μ dan lebar 3μ, tidak membentuk spora, dan termasuk bakteri aerob, pada pewarnaan gram maka warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu M. tuberculosis disebut sebagai Basil Tahan Asam atau

BTA. Pada dinding sel M. tuberculosis lapisan lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan yang ada dibawahnya, hal ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari

13

antibiotik. Lipoarabinomannan, yaitu suatu molekul lain dalam dinding sel M. tuberculosis, yang berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, sehingga M. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag (Anonim,

2009).

c. Faktor Karakteristik Individu

1.

Faktor Umur Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. (Depkes RI, 2006). Dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. Hal ini disebabkan pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit TB-Paru (Hiswani, 2000). Selain itu kelompok usia produktif banyak mempunyai mobilitas atau kerja yang terlalu banyak, sehingga ,menyebabkan stamina menjadi turun sehingga mudah terserang penyakit.

2. Faktor Jenis Kelamin
2. Faktor Jenis Kelamin

Proporsi kasus baru BTA positif menurut jenis kelamin di Indonesia pada tahun 2005-2008 tidak banyak berubah, laki-laki berkisar 57-59% dan perempuan 40-43% (Profil Kesehatan Indonesia, 2008). Pada jenis kelamin laki-laki penyakit ini lebih tinggi karena merokok tembakau dan minum alkohol sehingga dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan agent penyebab TB-Paru. Kebiasaan merokok akan merusak mekanisme pertahanan paru yang disebut muccociliary clearance. Akibatnya bulu- bulu getar dan alat lain di paru tidak mudah "membuang" infeksi yang

14

sudah masuk karena bulu getar dan alat lain di paru rusak akibat asap rokok. Selain itu, asap rokok meningkatkan tahanan jalan napas (airway reistence) dan menyebabkan “mudah bocornya” pembuluh darah di paru-paru, juga akan merusak makrofag yang merupakan sel yang dapat memfagosit bakteri patogen (Zainul M, 2010). Di samping itu hal ini disebabkan karena perbedaan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan, dimana kebanyakan laki-laki bekerja sebagai buruh ataupun tukang ojek yang mempunyai risiko tertular lebih besar karena adanya kontak dengan penderita TB paru lain di luar rumah.

3. Tingkat Pendidikan 4. Pekerjaan
3. Tingkat Pendidikan
4. Pekerjaan

Pendidikan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penularan TB paru. Sehingga tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaannya.

Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu, paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru.

Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari- hari diantaranya konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu

15

juga

akan

mempengaruhi

terhadap

konstruksi

rumah

(http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/24/faktor-resiko-tbc/).

Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru.

5. Status Gizi
5. Status Gizi

Menurut Anderson (1947) salah satu faktor struktur sosial yaitu pekerjaan akan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan, pekerjaan seseorang dapat mencerminkan sedikit banyaknya informasi yang diterima, informasi tersebut akan membantu seseorang dalam mengambil keputusan unutk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada (Zuliana Imelda, 2009).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi dan lain- lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap penyakit termasuk TB Paru. Keadaan ini merupakan faktor penting yang berpengaruh di negara miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak (Hiswani, 2000).

16

6. Keadaan Sosial Ekonomi

Disini sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan hunian, lingkungan perumahan, lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk dapat memudahkan penularan TBC. Pendapatan keluarga sangat erat juga dengan penularan TBC, karena pendapatan yang kecil membuat orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat- syarat kesehatan (Hiswani, 2000 dan Putra Prabu 2008).

7. Perilaku a. Kebiasaan Merokok
7. Perilaku
a. Kebiasaan Merokok

Perilaku terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya. Perilaku pederita merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah penyebaran tuberkulosis. Seorang penderita rata-rata dapat menulari 2-3orang anggota keluarganya. Namun demikian pengetahuan dan perilaku penderita dalam mencegah agar anggota tidak tertular berpengaruh besar dalam upaya kesembuhan dan pencegahan tuberkulosis.

Kebiasaan merokok merupakan risiko untuk terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Merokok meningkatkan prevalensi kejadian tuberkulosis paru. Merokok dapat memperlemah paru dan menyebabkan paru lebih mudah terinfeksi kuman tuberkulosis. Asap rokok dalam jumlah besar yang dihirup dapat meningkatkan risiko keparahan tuberkulosis, kekambuhan dan kegagalan pengobatan tuberkulosis.

17

b. Kebiasaan Membuka Jendela

Kebiasaan membuka jendela merupakan solusi sederhana dalam membantu pencegahan menyebarnya kuman melalui udara seperti TB. Karena dengan jendela terbuka sinar alami matahari dapat masuk ke dalam rumah dan pertukaran udara akan membantu meningkatkan kualitas udara di dalam rumah.

d.

c. Kebiasaan Menutup Mulut Waktu Bersin Perilaku hidup sehat sangatlah penting untuk pencegahan penularan tuberkulosis paru di lingkungan. Karena Mycobacterium tuberculosis mudah menular melalui droplet (percikan ludah yang sangat kecil) dan dapat hidup dengan baik pada kondisi lembab dan kotor untuk media pertumbuhan. Oleh karena itu penting bagi penderita untuk berusaha melindungi orang-orang di sekitarnya dengan menutup mulut menggunakan masker dan tidak meludah di sembarang tempat. Bila membuang dahak, harus di tempat yang khusus dan tertutup kemudian dibersihkan dengan disinfektan

Faktor Karakteristik Lingkungan 1. Kepadatan Hunian Kamar Tidur
Faktor Karakteristik Lingkungan
1. Kepadatan Hunian Kamar Tidur

(http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/24/faktor-resiko-tbc/).

Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.

Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m 2 /orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk

18

rumah sederhana luasnya minimum 10 m 2 /orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m 2 /orang. Untuk mencegah penularan penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lain minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara yang cukup, di syaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2,75 m.

2. Pencahayaan

3.
3.

Untuk memperoleh sinar matahari yang cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca. Sinar matahari ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka risiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang. Ventilasi Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah, disamping itu kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman TB.

Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir.

19

4. Kondisi Rumah Pencahayaan alami dan ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat memiliki faktor risiko tertinggi sebagai penyebab terjadinya tuberkulosis paru. Sinar matahari langsung akan membunuh kuman TB. Rumah dengan ventilasi yang sangat minimal akan menyebabkan kuman tuberkulosis bertahan lama (Faktor Risiko TB.

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/24/faktor-resiko-tbc/).

E.

Gejala Klinis Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis paru dapat bermacam- macam atau banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali.

a. b.
a.
b.

Gejala TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik (Alsagaff, 2008).

Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Biasanya batuk ringan sehingga dianggap batuk biasa atau akibat rokok. Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan terkumpul pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun pagi hari.

Dahak Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi purulen/kuning atau kuning hijau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi perlunakan.

c. Batuk Darah Darah yang dikeluarkan penderita mungkin berupa bercak-bercak darah, gumpalan-gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.

d. Nyeri Dada

20

F.

Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Bila nyeri bertambah berat berarti telah terjadi pleuritis luas (nyeri dikeluhkan di daerah aksila, di ujung skapula atau di tempat- tempat lain). Wheezing Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret, bronkostenosis, peradangan, jaringan granula, ulserasi dan lain-lain (pada tuberkulosis lanjut). Dispneu Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi saluran pernapasan serta loss of vascular bed / thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi, hipertensi pulmonal dan korpulmonal.

e.

f.

Gejala-gejala umum: 1) 2) Menggigil 3) Keringat malam
Gejala-gejala umum:
1)
2)
Menggigil
3)
Keringat malam

Panas badan Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling penting sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari.

Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat, tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat.

Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah.

4)

Gangguan menstruasi

Gangguan menstruasi sering terjadi bila proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut.

21

Anoreksia/penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif .

G.

H.

6)

Lemah badan

Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan, kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan, karena itu harus dianalisa dengan baik dan harus lebih berhati-hati. Gejala umum ini, seringkali baru disadari oleh penderita setelah ia memperoleh terapi dan saat ini masih lebih baik dari sebelumnya/Retrospective Symptomatology (Alsagaff, 2008).

Orang-orang yang Berisiko Tinggi Terkena TB Paru 1. 2. Anak-anak Pengguna psikotropika 3. 4. Pengidap
Orang-orang yang Berisiko Tinggi Terkena TB Paru
1.
2.
Anak-anak Pengguna psikotropika
3.
4.
Pengidap HIV
5.
6.
Penularan Tuberkulosis Paru

Orang-orang yang kontak fisik secara dekat dengan penderita

Orang-orang bertaraf hidup rendah dan memiliki akses rendah terhadap fasilitas kesehatan

Orang-orang yang berada di negara yang terkena epidemi TBC

Orang-orang yang sedang sakit dan turun daya tahan kekebalan tubuhnya (http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/24/faktor-resiko- tbc/).

Penularan TB Paru biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dilepaskan pada saat penderita TB Paru batuk. Sumber penularan adalah pasien TB Paru Basil Tahan Asam (TB Paru BTA) positif. Bakteri ini masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TB Paru dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain- lain (www.digilib.unimus.ac.id ).

22

Tuberkulosis adalah penyakit menular, artinya orang yang tinggal serumah dengan penderita atau kontak erat dengan penderita yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular. Sumber penularannya adalah pasien TB paru dengan BTA positif terutama pada waktu batuk atau bersin, dimana pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak dan umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama (Depkes, 2008).

Adanya ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara keberadaan sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Kuman dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Faktor yang memungkinkan seseorang tertular kuman TB paru ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes, 2008).

udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes, 2008). Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya endemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting terjadinya infeksi TBC.

I. Perjalanan Penyakit Tuberkulosis

Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhirup oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru.

23

J.

Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel < 5mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya. Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis dan disebut sarang primer afek primer atau fokus ghon. Bila menjalar ke pleura maka akan menjadi efusi pleura. Kuman dapat juga masuk ke saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti otak, ginjal, tulang. Proses ini berlangsung selama 3-8minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat, sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa gari-garis fibrotik, berkomplikasi dan menyebar (Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, 2006).

1) Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya
1)
Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya

Diagnosis Tuberkulosis Paru Apabila seseorang dicurigai menderita atau tertular TB Paru, maka ada beberapa hal pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk memberikan diagnosa yang tepat antara lain :

Keluhan : batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada dan napas berbunyi yang berlangsung lama (Alsagaff, 2008).

2)

Pemeriksaan fisik secara langsung

Pemeriksaan pertama secara terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva pucat atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Pada permulaan, perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks

24

dan segmen posterior, serta daerah apeks lobus inferior. Pada perkusi didaptkan perkusi yang redup dan auskultasi suara napas bronkial (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, 2006).

Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006)

Gambar .2 Paru : apeks lobus superior dan apeks lobus inferior (Sumber : Perhimpunan Dokter
Gambar .2 Paru : apeks lobus superior dan apeks lobus inferior
(Sumber : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006)
3)
Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak)

Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat berasal dari dahak, darah, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, urin, faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH). Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):

- Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)

- Pagi ( keesokan harinya )

- Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi)

lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan :

- 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif BTA positif.

25

- 1 kali positif, 2 kali negatif ulang BTA 3 kali, kemudian bila 1 kali positif, 2 kali negatif BTA positif

- Bila 3 kali negatif BTA negatif

4)

Rontgen dada (thorax photo)

Sesuai dengan gambaran tuberkulosis paru. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru, tetapi bisa juga mengenai lobus bawah (bagian inferior). Pada awal penyakit, lesi merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas tidak tegas. Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. Lama-lama dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terdapat fibrosis terlohat bayangan yang bergaris-garis (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, 2006).

Kriteria berdasarkan WHO, 1991 :  
Kriteria berdasarkan WHO, 1991 :

Pasien dengan sputum BTA positif : 1. pasien pada pemriksaan sputumnya secara mikroskopik ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2X pemeriksaan, atau 2. satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif, atau 3. satu sediaan sputumnya positif disertai biakan positif.

Pasien dengan sputum BT negatif : 1. pasien pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopik tidak ditemukan BTA sedikitnya pada 2X pemeriksaan tetapi gambaran radiologis sesuai dengan TB aktif atau, 2. pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopik tidak ditemukan BTA sama sekali.

Penetapan diagnosis tuberkulosis paru berdasarkan hasil pemeriksaan dahak menurut Depkes RI (2002) dikelompokkan menjadi penderita TB paru BTA positif yakni sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif, atau 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran Tuberkulosis aktif.

26

Penderita TB paru BTA Negatif yakni pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif, serta penderita Tuberkulosis Extra Paru, yakni Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,misalnya, selaput otak,selaput jantung kelenjar limfe,tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

1. Klasifikasi Berdasarkan Organ Tubuh yang Terkena a.
1. Klasifikasi Berdasarkan Organ Tubuh yang Terkena
a.

Gambar.4 Alur Diagnosis TB (Perhimbunan Dokter Paru Indonesia, 2006) K. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien

Tuberkulosis paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.

b. Tuberkulosis ekstra paru Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

27

27 Gambar 5. Organ-organ yang diserang oleh penyakit TB Paru ( www.naturalypure.com ) 2. Klasifikasi Berdasarkan

Gambar 5. Organ-organ yang diserang oleh penyakit TB Paru

(www.naturalypure.com)

2. Klasifikasi Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak Mikroskopis

a. b.
a.
b.

Tuberkulosis Paru BTA positif 1) Sekurang- kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. 2) 1 spesimen dahak SPS (sewaktu-pagi-sewaktu) hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran TB Paru. 3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. 4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru dan BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:

1.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif. 2.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. 3.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 4.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

3. Klasifikasi Berdasarkan Riwayat Pengobatan Sebelumnya Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu:

28

a. Kasus baru

Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).

b. Kasus kambuh (Relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).

c. Kasus setelah putus berobat (Default) d. Kasus setelah gagal (Failure) e. Kasus pindahan (Transfer
c. Kasus setelah putus berobat (Default)
d. Kasus setelah gagal (Failure)
e. Kasus pindahan (Transfer In)
f. Kasus lain

Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB paru lain untuk melanjutkan pengobatannya.

Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006 dan Depkes RI, 2007).

29

L. Penatalaksanaan TB Paru

Tujuan Pengobatan

Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah

kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan

mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Obat Anti

Tuberkulosis).

Prinsip Pengobatan

Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - berikut:   seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). 
Pengobatan
tuberkulosis
dilakukan
dengan
prinsip
-
berikut:
seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
lanjutan.
Tabel.2 Jenis, Sifat dan Dosis OAT

prinsip

sebagai

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,

dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori

pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian

OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT/Obat Anti Tuberkulosis-

Kombinasi Dosis Tetap) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.

Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan

pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan

Jenis OAT

Sifat

Dosis Yang Direkomendasikan (mg/kg)

Harian

3 X

Seminggu

Isoniazid (H)

Bakterisid

5

10

(4-6)

(8-12)

Rifampicin (R)

Bakterisid

10

10

(8-12)

(8-12)

30

Pyrazinamide (Z)

Bakterisid

25

35

(20-30)

(30-40)

Streptomycin (S)

Bakterisid

15

15

(12-18)

(12-18)

Ethambutol (E)

Bakteriostatik

15

30

(15-20)

(20-35)

(Departemen Kesehatan RI, 2007)

Tahap awal (intensif)

o Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu

diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. o Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
o
Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
o
Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.
Tahap Lanjutan
o
Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama
o
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan (Depkes RI, 2007)
Paduan OAT dan peruntukannya
a.
Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif

Pasien TB ekstra paru

b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati

sebelumnya:

Pasien kambuh

Pasien gagal

Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

31

c. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari) (Depkes RI,

2007).

M. Komplikasi Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut (Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, 2006). Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis.

N.

O.

dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis. N. O. Komplikasi lanjut : obstruksi jalan napas, kor

Komplikasi lanjut : obstruksi jalan napas, kor pulmonale, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas .

Prognosis Tuberkulosis Paru Sebelum ditemukan anti tuberculosis, penderita tuberculosis paru mempunyai masa depan yang suram, seperti halnya penderita kanker paru saat ini. Tetapi sejak ditemukan obat anti tuberkulosis, maka masa depan penderita tuberculosis paru sangat cerah. Kecuali penderita yang telah mengalami relaps(kekambuhan), atau terjadi penyulit pada organ paru dan organ lain di dalam rongga dada, maka penderita-penderita demikian banyak yang jatuh ke dalam kor-pulmonal. Bila terbentuk kaverne yang cukup besar, kemungkinan batuk darah hebat dan dapat menimbulkan kematian (Alsagaff, 2008).

PENCEGAHAN TBC-PARU. Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat dan petugas kesehatan (www.library.usu.ac.id ).

A. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan.

1. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak disembarangan tempat.

2. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap bayi harus diberikan vaksinasi BCG.

3. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.

32

4. Isolasi, pemeriksaan kepada orang-orang yang terinfeksi, pengobatan khusus TBC. Pengobatan mondok dirumah sakit hanya bagi penderita yang kategori berat yang memerlukan pengembangan program pengobatannya yang karena alasan-alasan sosial ekonomi dan medis untuk tidak dikehendaki pengobatan jalan.

5. Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, tempat tidur, pakaian), ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.

6. 7. B. Tindakan Pencegahan. 1.
6.
7.
B. Tindakan Pencegahan.
1.

Imunisasi orang-orang kontak. Tindakan pencegahan bagi orang- orang sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan lainnya yang terindikasi dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.

Penyelidikan orang-orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga dengan foto rontgen yang bereaksi positif, apabila cara-cara ini negatif, perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu penyelidikan intensif.Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat. Obat- obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum dengan tekun dan teratur, jangka waktu yang lama ( 6 atau 12 bulan).

Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor risiko, seperti

kepadatan penghuni, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.

2. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita dan pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.

3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.

4. BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarganya.

33

5. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karena menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.

6. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru.

7. Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok berisiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas atau guru disekolah, petugas foto rontgen.

II.2

8. Penelitian Terkait a.
8.
Penelitian Terkait
a.

Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari hasil pemeriksaan tuberculin test.

Penelitian terkait yang dilakukan oleh Luh Budhaning Sutari Tahun 2009 dengan judul Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Pencegahan Penularan TB Paru Di Poli Paru Rumah Sakit Pasar Rebo Jakarta Timur Tahun 2009. Skripsi Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pembangunan Nasional tahun 2009. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel adalah penderita TB paru yang tercatat di Poli Paru Rumah Sakit Pasar Rebo sebanyak 120 orang dengan menggunakan teknik insidental sampling. Untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel digunakan uji statistik chi- square. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai P = 0,012, berarti P < 0,05 sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku mencegah.

b. Penelitian yang dilakukan oleh Helda Suarni tahun 2009 dengan judul Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penderita Penyakit Tuberkulosis Paru BTA Positif Di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok Bulan Oktober Tahun 2008 – April Tahun 2009. Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tahun 2009. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus untuk mencari hubungan seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi

34

terjadinya penyakit TB paru BTA positif. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari kasus dan kontrol berdasarkan sumber data dari Puskesmas Kecamatan Pancoran Mas. Didapatkan sampel berjumlah 100 responden dengan perbandingan 50 responden sebagai kelompok kasus dan 50 responden sebagai kelompok kontrol. Dari hasiluji chi square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur (P = 0,459), jenis kelamin (P = 0,228), pendidikan (P = 0,291), pekerjaan (P= 1,000) dengan kejadian TB paru. Dari sini dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin dan pekerjaan dengan kejadian TB paru dengan didapatkannya nilai P < 0,05.

c.
c.

Penelitian terkait yang dilakukan oleh Yuyun Yunia tahun 2009 dengan judul Hubungan Faktor Kualitas Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru BTA Positif Di Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi Tahun 2008 – Maret 2009. Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tahun 2009. Jenis Penelitian adalah penelitian kuantitaif dengan desain kasus kontrol untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko seperti karakteristik individu yaitu umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi serta lingkungan fisik rumah. Jumlah sample sebanyak 102 responden dengan perbandingan 51 reponden sebagai kasus dan 51 responden sebagai kontrol. Uji yang digunakan adalah chi square untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan kejadian TB paru. Hasil uji chi square didapatkan ada hubungan antara umur responden dengan kejadian TB paru dengan nilai P = 0,035 (< 0,05). Sedangkan tidak terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin (P=0,184), pendidikan (P=0,872), pendapatan (P=0,257) yang berarti nilai P > 0,05. Maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, pendidikan dan pendapatan.

d. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Junediono dengan judul Faktor Risiko Timbulnya Penyakit TB Paru di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengan Tahun 2002. Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat

35

Universitas Indonesia Tahun 2002. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 540 responden. Untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel independen dengan kejadian TB paru digunakan uji chi square. Didapatkan dari hasil uji chi square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara umur dengan penyakit TB paru dengan nilai P=0,000(p<0,05). Sedangkan pada jenis kelamin (P=0,308), pendidikan (P=0,394) dan pekerjaan (P=0,959) tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan penyakit TB paru dengan nilai P > 0,05.

e. f.
e.
f.

Penelitian terkait yang dilakukan oleh Nana Supriatna dengan judul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status BTA Pada Penderita TB Paru Di Kabupaten Tasikmalaya Tahun 1998. Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tahun 1998. Jenis penelitian ini adalah kasus kontrol dengan jumlah sampel 238 responden. Untuk mengetahui adanya hubungan antara faktor-faktor risiko dengan TB paru digunakan uji chi square. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan bermakna antara umur dengan status BTA (nilai P = 0,0025) dan jenis kelamin dengan status BTA(0,0064). Sedangkan pada pendidikan (P = 0,1759) dan pekerjaan (P = 0,1125) tidak terdapat hubungan bermakna dengan status BTA yaitu nilai P > 0,05.

Jais Prihanto. Hubungan Karakteristik Pasien TB Paru Dengan Perilaku Pencegahan Penularan Pada Anggota Keluarga Di Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung Tahun 2009. Hasil uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara pendidikan dan pekerjaan terhadap perilaku pencegahan penularan TB paru yaitu P < 0,05. tidak terdapat hubungan bermakna antara usia dan jenis kelamin dengan perilaku pencegahan penularan TB paru dengan nilai P > 0,05.

g. Imelda Zuliana. Pengaruh Faktor Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan dan Faktor PMO Terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita TB Paru Dalam Pengobatan Di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009. Skripsi Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2009.

ng

II.3

36

Kerangka Teori

Kerangka teori ini berdarsarkan teori dari Lewrence Green menjelaskan

bahwa perilaku itu dilatarbelakangi atau dipengaruhi tiga faktor pokok

yakni: faktor-faktor mempermudah (predisposing factors), faktor-faktor

pendukung (enabling factors) dan faktor-faktor yang memperkuat dan

mendorong (reinforcing factors) (Notoatmodjo, 2007). Untuk lebih jelasnya

kerangka teori akan digambarkan sebagai berikut :

Faktor Predisposisi a. pengetahuan tentang TB Par Faktor Pendukung b. karakteristik penderita - umur Perilaku
Faktor Predisposisi
a. pengetahuan tentang TB
Par
Faktor Pendukung
b.
karakteristik
penderita
- umur
Perilaku pencegahan
penularan TB Paru
- jenis kelamin
- pendidikan
- pekerjaan
- Status Gizi
Faktor Pendorong
-dukungan keluarga
pengobatan
TB paru/PMO
- kepadatan hunian
- pencahayaan
- kelembaban

II.4

Kerangka Konsep

Gambar Skema Kerangka Teori

37

Kerangka konsep adalah kerangka hubungan anara konsep-konsep yang

ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan

(Notoatmodjo, 2002). Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan

dalam teori terkait, maka pada bab ini peneliti menentukan kerangka konsep

penelitian yaitu untuk menggambarkan hubungan antara variabel

independen dengan variabel dependen. Kerangka konsep dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen a. Karakteristik Indvidu : - Usia - Jenis kelamin - Pendidikan
Variabel Independen
Variabel Dependen
a. Karakteristik Indvidu :
- Usia
- Jenis kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
b. Tingkat pengetahuan
tentang TB Paru
c. Status gizi
Perilaku Pencegahan
penularan TB Paru
d. Sosial ekonomi
a.
dukungan keluarga
untuk pengobatan TB
Paru/PMO

Gambar Skema Kerangka Konsep

dukungan keluarga untuk pengobatan TB Paru/PMO Gambar Skema Kerangka Konsep Variabel yang diteliti garis hubung variabel

Variabel yang diteliti

dukungan keluarga untuk pengobatan TB Paru/PMO Gambar Skema Kerangka Konsep Variabel yang diteliti garis hubung variabel

garis hubung variabel

  38   diteliti variabel yang tidak diteliti garis hubung variabel tidak diteliti II.5
 

38

 

diteliti

variabel yang tidak diteliti

variabel yang tidak diteliti garis hubung variabel

garis

hubung

variabel

tidak diteliti

II.5

Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara atas permasalahan penelitian dimana memerlukan data untuk menguji kebenaran dugaan tersebut (Kountur. Ronny, 2005). Sebagaimana tersebut pada bab sebelumnya, maka hipotesis yang peneliti buat adalah :

1. 2. 3. 4. 5.
1.
2.
3.
4.
5.

Ada hubungan antara umur responden dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru di Puskesmas Sawangan Kota Depok.

Ada hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru di Puskesmas Sawangan Kota Depok.

Ada hubungan antara pendidikan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru di Puskesmas Sawangan Kota Depok.

Ada hubungan antara pekerjaan dengan perilaku pencegahan penularan tubekulosis paru di Puskesmas Sawangan Kota Depok.

Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru di Puskesmas Sawangan Kota Depok.