Anda di halaman 1dari 7

DASAR – DASAR ILMU HADITS

A. PENGERTIAN DAN FUNGSI HADITS


I. Pengertian hadits, sunnah, atsar dan khabar
a. Hadits
Secara “ Lughawiyah “ ( bahasa ) hadits mempunyai beberapa arti, antara lain :
- baru, kebalikan dari lama ( qadim )
- dekat, belum lama terjadi
- khabar, berita, riwayat
Menurut istilah para ahli hadits ( muhadditsin ), antara lain Al – Hafidh dalam syarah
Al – Bukhari menerangkan, bahwa Hadits ialah :
“ Perkataan – perkataan Nabi saw., perbuatan – perbuatan dan keadaan beliau “.
( Aminuddin dan Siddik Muhtadi, 1986 )
Menurut istilah ahli ushul hadits, Hadits ialah “ Segala perkataan, perbuatan dan
taqrir Nabi saw., yang bersangkut paut dengan hukum “( TM Hasbi Ash-Shiddieqy, 1974 ).

b. Sunnah
Dari segi bahasa sunnah berarti jalan yang terbentang untuk dilalui, jalan yang baik
atau tidak baik. Sunnah juga berarti adat kebiasaan atau tradisi, atau ketetapan, meskipun
hal itu tidak baik.
Menurut sebagian ‘ulama muhadditsin, pengertian sunnah lebih luas dari hadits.
Sunnah meliputi segala yang datang dari Nabi Muhammad saw., baik berupa perkataan,
perbuatan dan taqrir, juga sifat-sifat dan perilaku atau perjalanan hidup beliau, sebelum
atau sesudah diangkat menjadi nabi.
Para ahli Ushul Fiqih, berpendapat bahwa menurut istilah, sunnah ialah segala yang
dari Nabi Muhammad saw., baik perkataan maupun perbuatan, atau taqrir yang mempu –
nyai hubungan dengan hukum agama ( TM Hasbi Ash – Shiddieqy, 1974 ).
Dari pengertian tersebut maka kedudukan sunnah menempati posisi ke dua dalam
tatanan sumber hukum Islam, setelah Al – Qur’an. Hal ini diterangkan dalam sabda Nabi
saw. sebagai berikut, yang artinya :
“ Sungguh telah aku tinggalkan untukmu dua perkara : kamu tidak akan sesat selama ka –
mu berpegang pada ke duanya, yaitu Kitab Allah ( Al – Qur’an ) dan Sunnah Rasul – Nya “
( HR. Malik ).
Juga dijelaskan dalam Hadits yang lain, yang artinya :
“ Berpegang teguhlah kamu dengan Sunnahku dan Sunnah Al – Khulafa Ar – Rasyidin
sesudahku “. ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Irbadh bin Sariyyah ).
Guna menghindari kerancuan pengertian hadits dan sunnah perlu ditegaskan per –
bedaannya.

Hadits Sunnah

1. Hadits ialah segala peristiwa yang disandarkan ke - 1. Sunnah adalah amaliah Nabi saw., yang mutawatir
pada Nabi saw. walaupun selama hayat beliau dan sampai kepada kita dengan cara mutawatir pula.
hanya sekali terjadi atau hanya diriwayatkan oleh Nabi melaksanakannya bersama para sahabat, lalu
seorang. para sahabat melaksanakannya, diteruskan oleh para
2. Prosesnya tidak mutawatir. tabi’in, meskipun lafadz penyampaiannya tidak muta –
watir.
2. Proses penyampaiannya mutawatir.

c. Atsar
Secara Lughawiyah, Atsar berarti “ bekas atau sisa “ dari sesuatu. Do’a yang
berasal dari Nabi saw., disebut do’a ma’tsur.
Menurut mayoritas ( jumhur ) ‘ulama, Atsar artinya sama dengan ( sinonim ) hadits.
Oleh karena itu, maka ahli hadits disebut “ Atsary “. Sebaliknya menurut Ahli Fiqih ( Fu –
qaha ) istilah atsar merupakan perkataan sahabat, tabi’in, ‘ulama salaf dan lain – lain.
d. Khabar
Secara Lughawiyah, Khabar berarti warta, kabar, berita yang disampaikan se –
seorang kepada yang lain. Menurut istilah ‘ulama Muhadditsin, khabar ialah suatu berita
baik dari Nabi saw., para sahabat maupun tabi’in.
‘Ulama lain berpendapat bahwa Khabar hanya dimaksudkan sebagai berita yang
diterima dari selain Nabi Muhammad saw. Orang yang meriwayatkan sejarah disebut
Khabary atau Akhbary sebagaimana halnya orang yang meriwayatkan hadits disebut
Muhaddits. Disamping itu ada pula yang berpendapat bahwa Khabar itu sama dengan
hadits, keduanya dari Nabi saw., sedangkan Atsar dari sahabat.

e. Hadits Qudsi
Hadits Qudsi ialah perkataan – perkataan yang disabdakan Nabi Muhammad
saw. dengan mengatakan “ bahwa Allah berfirman ……. “. Nabi saw. menyandarkan
perkataan ( hadits ) itu kepada Allah dan beliau meriwayatkannya dari Allah SWT.
Menurut Al – Kirmani, Hadits Qudsi disebut juga dengan Hadits Ilahi atau Hadits
Rabbani.
Sedangkan menurut Ath – Thibbi mengemukakan bahwa Hadits Qudsi ialah
firman Allah SWT. yang disampaikan kepada Nabi saw. dalam mimpi atau ilham,
kemudian Nabi menerangkannya dengan susunan perkataan beliau sendiri dengan
menyandarkannya kepada Allah.
Perbedaan Al – Qur’an dengan Hadits Qudsi ialah bahwa Al – Qur’an adalah wahyu yang
lafadz dan maknanya dari Allah, sedangkan Hadits Qudsi ialah wahyu yang lafadznya dari
Nabi saw. dan maknanya dari Allah, yang diturunkan kepada Nabi dengan jalan ilham atau
mimpi.
Contoh Hadits Qudsi, yang artinya :
“ Allah SWT. berfirman : Aku adalah menurut persangkaan hamba – Ku, dan Aku beserta
dia di mana saja dia menyebut ( mengingat ) Aku “. ( HR. Bukhari dari Abu Hurairah ).

Dalam hadits yang lain, artinya :


“ Allah SWT. berfirman : Semua amal manusia adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa.
Puasa itu untuk – Ku. Aku akan memberi balasannya. Puasa itu perisai, apabila seseorang
sedang puasa janganlah kamu mencaci maki, berkata keji, dan jangan pula membuat ke –
ributan. Apabila ada yang memaki atau membunuh, maka katakanlah : ‘ Saya sedang
berpuasa “. ( HR. Al – Bukari dan Muslim, Lafadz hadits ini dari Al – Bukhari ).

2. Macam – macam sunnah


Dari pengertian tentang sunnah seperti yang diterangkan di atas, terdapat 3 ( tiga )
macam sunnah, yaitu : sunnah Qauliyah, sunnah Fi’liyah dan sunnah Taqririyah.
a. Sunnah Qauliyah
ialah perkataan atau ucapan – ucapan Nabi saw. yang berhubungan dengan syariat
Islam. Contohnya :
“ Sesungguhnya amal – amal perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya tiap orang
akan mendapat apa yang diniatkan “. ( HR. Al – Bukhari dan Muslim ).
b. Sunnah Fi’liyah
ialah amal – amal perbuatan Nabi saw. yang berhubungan dengan syariat Islam,
seperti tata cara mengerjakan sholat, menunaikan ibadah haji, sebagaimana dicontoh –
kan Nabi dalam sabdanya :
“ Kerjakanlah sholat seperti kamu melihat bagaimana aku mengerjakannya “.
( HR. Al – Bukhari dan Muslim dari Malik bin Huwairits ).

“ Ambillah manasik ( tata cara melaksanakan haji ) kamu dariku “.


( HR. Muslim dari Jabir ).

c. Sunnah Taqririyah
ialah penetapan atau persetujuan Nabi saw. terhadap sesuatu amal perbuatan se –
seorang sahabat yang berhubungan dengan Agama Islam ( syara ) yang dilakukan di
hadapan atau dilaporkan kepada Nabi saw., sedangkan Nabi tidak melarang atau me –
nyalahkannya.

Contohnya, seperti yang diriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi saw. disuguhi ma –
kanan, diantaranya daging dhab ( sejenis biawak ). Beliau tidak memakannya, sehingga
Khalid bin Walid bertanya : “ Apakah daging itu haram ya Rasulullah ? Nabi menjawab :
“ Tidak, tetapi binatang itu tidak terdapat di daerah kaumku. Makanlah, sesungguhnya
dia halal “. ( HR. Al – Bukhari dan Muslim ).
3. Fungsi Hadits ( Sunnah )
a. Menjelaskan Al – Qur’an, artinya hadits atau sunnah menjelaskan ayat – ayat Al –
Qur’an yang masih belum jelas, menafsirkan maknanya, merinci yang mujmal, meng –
kaidkan yang mutlak dan mengkhususkan yang umum. Dalam Al – Qur’an diterangkan :
“ Dan Kami menurunkan Al – Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa – apa yang telah diturunkan kepada mereka “. ( QS. An – Nahl ( 16 ) : 43 )

b. Menetapkan Hukum, artinya hadits atau sunnah berfungsi menetapkan hukum yang
belum disebutkan dalam Al – Qur’an ( istidlal al hukmi ). Fungsi ini diterangkan dalam
Al – Qur’an :
“ Apa – apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia; dan apa – apa
Yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah “. ( QS. Al – Hasyr ( 59 ) : 7 )
B. ISTILAH – ISTILAH DALAM HADITS
Dalam hadits atau sunnah terdapat beberapa istilah, yaitu :
1. S a n a d
Secara lughawiyah sanad berarti sandaran atau tempat bersandar. Juga berarti sesuatu yang dapat
dipegangi atau dipercaya. Bentuk jamak dari sanad ialah asnad atau sanadat. Juga dapat berarti thoriq ( jalan ).
Dalam istilah ilmu hadits, sanad ialah rangkaian urutan orang – orang yang menjadi sandaran atau jalan yang
menghubungkan suatu hadits atau sunnah sampai kepada Nabi Muhammad saw.
Menerangkan rangkaian urutan sanad suatu hadits disebut isnad. Orang yang menerangkan sanad suatu
hadits disebut musnid, sedang hadits yang diterangkan dengan menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Nabi saw.
disebut musnad.
2. M a t a n
Dari segi bahasa matan berarti punggung jalan ( muka jalan ), tanah yang keras dan tinggi. Matan dari
uatu kitab ialah teks dari kitab tersebut, bukan penjelasan atau syarah kitab. Matan hadits ialah sabda Rasulullah
Muhammad saw.
3. R a w i
Ialah sistem yang dipergunakan dalam penyampaian suatu hadits atau sunnah hingga sampai kepada kita dan
kaum muslimin di seluruh dunia ialah dengan cara riwayat.
Dalam ilmu hadits, riwayat ialah memindahkan atau menyampaikan suatu hadits atau sunnah dari seorang
sahabat Nabi kepada orang berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits dengan
menyebutkan sandarannya. Orang yang memindahkan atau menyampaikan hadits disebut rawi. Rawi pertama suatu
hadits ialah sahabat Nabi, dan rawi terakhir dari suatu hadits ialah orang yang menulis atau mengumpulkannya, seperti
Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lain – lain.
Untuk memperjelas pengertian sanad, matan dan rawi, simaklah hadits di bawah ini :
4. Rijalul Hadits ( Takhrijul Hadits )
Rijalul Hadits ialah tokoh – tokoh terkemuka dalam bidang hadits yang diakui keabsahannya dalam
periwayatan hadits. Untuk mengetahui seseorang disebut sebagai rijalul hadits ditentukan oleh Ilmu rijalul hadits yaitu
ilmu pengetahuan tentang rijalul hadits.
Studi tentang rijalul hadits, pada dasarnya meliputi :
a. Namanya masing – masing, keadaan dan biografinya, laqab atau titel dalam bidang hadits, seperti dhabit, adil,
dsb.
b. Guru – gurunya yang memberi atau menyampaikan hadits kepadanya.
c. Murid – muridnya, yang menerima hadits dari dia.
d. Kedudukannya dalam ilmu hadits dan hasil karyanya dalam bidang hadits.
C. PEMBAGIAN ILMU HADITS
Untuk mengetahui macam – macam hadits dan tingkatannya masing – masing, lebih dahulu harus mengetahui
ilmu hadits, yaitu ilmu pengetahuan yang membahas tentang hadits. Secara garis besar, ilmu hadits itu ada 2 ( dua )
macam, yaitu Ilmu Hadits Dirayah dan Ilmu Hadits Riwayah.
1. Ilmu Hadits Dirayah ialah ilmu untuk mengetahui keadaan sanad dan matan hadits dalam hubungannya dengan
penerimaan atau penolakan suatu hadits dan hal – hal lainnya yang berhubungan dengan masalah itu. Dengan ilmu
Dirayah ini dapat diketahui hadits – hadits yang dapat diterima sebagai Dasar Hukum ( hujjah ) dan diamalkan, atau
ditolak, sehingga tidak boleh diamalkan.
Pokok pembahasan dalam Ilmu Hadits Dirayah ialah masalah sanad dan matan hadits. Ilmu Hadits Dirayah oleh
sebagian ‘ulama hadits disebut Ilmu Musthalah Hadits.
2. Ilmu Hadits Riwayah ialah ilmu yang membahas tentang tata cara perhubungan ( kesinambungan ) suatu hadits
hingga sampai kepada Nabi Muhammad saw. Hubungan itu di lihat dari segi keadaan orang – orang yang meriwayatkan (
para rawi ) hadits, dalam hal kekuatan hafalan, ingatan dan sifat keadilan, kejujuran mereka dan dari segi sanadnya.
Bersambung atau tidak ( putus ) sanadnya itu, sampai kepada Rasulullah saw.
‘Ulama hadits pada umumnya mendefinisikan Ilmu Hadits Riwayah sebagai berikut :
Artinya : “ Ilmu Hadits Riwayah ialah ilmu untuk mengetahui ucapan – ucapan Nabi saw., amal – amal perbuatannya dan
penetapan – penetapannya ( taqrir ) serta sifat – sifatnya “.
D. PENULISAN DAN KODIFIKASI HADITS
Penulisan dan pembukuan ( kodifikasi ) hadits ialah kegiatan menulis, mengumpulkan dan membukukan hadits
- hadits Nabi Muhammad saw. hingga terkumpul menjadi kitab hadits. Pada zaman Nabi Muhammad saw. dan masa
Khualafa Al – Rasyidin : Abu Bakar Ash – Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, hadits
belum terkumpul dalam kitab hadits. Pada waktu itu hadits hanya tercatat dalam hafalan atau ingatan para sahabat
dan pengikut – pengikutnya. Adapun sebab – sebabnya ialah :
1. Pada masa Nabi saw. masih hidup kaum Muslimin dapat bertanya langsung kepada Nabi mengenai masalah – masalah
yang mereka hadapi, baik persoalan peribadatan atau yang lainnya.
2. Para sahabat khawatir, apabila waktu itu hadits ditulis akan bercampur dengan ayat – ayat Al – Qur’an yang pada
waktu itu masih dalam proses turun berangsur – angsur.
3. Pada masa sahabat, perhatian kaum Muslimin banyak dicurahkan untuk menjaga kemurnian Al – Qur’an dari orang –
orang yang mengaku nabi, membuat – buat wahyu dan orang – orang murtad. ( Aminuddin dan Siddik Muhtadi, 1986 ).
Akan tetapi setelah dunia Islam berkembang luas, sedang para sahabat yang hafal hadits mulai banyak yang
wafat, timbullah kekhawatiran akan kepunahan hadits bersamaan dengan wafatnya sahabat – sahabat yang
menghafalnya. Pada tahun 100 Hijriyyah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz ( 99 – 101 H ) mengeluarkan instruksi kepada
Gubernurnya di Madinah yaitu Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazn dan Gubernur lainnya untuk membukukan
hadits Nabi saw. Perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal itu, berbunyi :
Artinya : “ Perhatikanlah apa yang terdapat pada hadits Rasulullah saw. dan bukukan. Sesungguhnya aku khawatir
kehilangan ilmu karena wafatnya ‘ulama, dan janganlah kamu terima selain Hadits Rasulullah saw. Dan hendaklah kamu
sebarluaskan ilmu, dan mengadakan majelis – majelis ilmu agar orang yang tidak tahu dapat mengetahuinya. Sesung
guhnya ilmu itu tidak akan lenyap, sehingga menjadi tertutup ( rahasia ) “.
1. Cara Penulisan Hadits
Dalam usaha membukukan hadits itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada para Gubernur
agar membukukan hadits yang ada pada para ‘ulama di wilayahnya masing – masing. Diantara ‘ulama besar yang mula
pertama membukukan hadits ialah Muhammad Syihab Az – Zuhri.
Pada abad ke – 2 Hijriyyah, para ‘ulama mulai mengumpulkan hadits untuk dibukukan. Pada waktu itu cara
pengumpulan dan pembukuan hadits belum selektif. Mereka hanya mengumpulkan hadits, akan tetapi fatwa – fatwa para
sahabat juga ikut dikumpulkan dan dibukukan. Hadits – hadits itu dikumpulkan dari periwayatan para sahabat yang
menghafalnya. Dalam periwayatan hadits – hadits itu, mereka menempuh 2 cara, yaitu :
a. Mengambil ucapan dan tutur bahasa sebagaimana yang mereka dengar dari Nabi Muhammad saw., tanpa
mengurangi atau menambah.
b. Dengan mengambil maksud dan artinya, sedang lafadz dan redaksinya disusun oleh sahabat yang meriwayatkan
hadits itu. Kadang – kadang sahabat menerangkan amal perbuatan Nabi saw. atau taqrirnya dengan lafadz atau
redaksi yang disusunnya sendiri.
Dengan cara seperti itu maka terdapatlah berbagai macam hadits dan tingkatan kitab hadits. Ada hadits
Shahih, Ahad, Maudhu. Ada tingkatan Kitab Sahih, Musnad, dan lain – lain .
2. Kodifikasi Hadits
Kegiatan pengumpulan dan pembukuan hadits yang diperintahkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu
melahirkan berbagai pengumpulan hadits dalam kitab – kitab hadits yang dibukukan ( kodifikasikan ) para
penyusunnya.
Kitab – kitab Hadits yang telah berhasil dikodifikasikan pada abad ke – 2 H itu, yang terkenal ialah :
a. Al-Muwaththa’, disusun oleh oleh Imam Malik ( 95 – 179 H )
b. Al-Jami’, disusun oleh Abdulrazzaq As-San’ani ( 211 H )
c. Al-Mushnaf, disusun oleh Al-Auza’I ( 150 H )
d. Al-Musnad, disusun oleh Imam Abu Hanifah ( 150 H )
e. Al-Musnad, disusun oleh Imam Asy-Syafi’i ( 204 H )
f. Mukhtalif Al Hadits, disusun oleh Imam Asy-Syafi’i ( 204 H )

E. TINGKATAN KITAB-KITAB HADITS


Dari system penulisan dan pembukuan atau kodifikasi hadits, lahirlah berbagai macam tingkatan kitab
hadits, yaitu :
1. Al – Ushul Al - Khamsah
Kegiatan penulisan dan kodifikasi hadits mencapai puncaknya pada abad ke – 3 H. Perintah Khalifah Umar
bin Abdul Aziz dan usaha para sahabat serta ‘ulama lainnya untuk membukukan hadits mendapat sambutan yang
sangat besar dan luas. Pada waktu itu para ‘Ulama hanya menerima dan mengumpulkan hadits-hadits dari
orang-orang yang meriwayatkannya ( para rawi ). Hadits-hadits itu dibukukan dan disaring dengan menentukan
syarat-syarat periwayatan hadits, sehingga tidak dapat diketahui bobot keaslian atau keabsahan suatu hadits.
Selain itu, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang bermaksud merusak Islam dari dalam. Dalam kegiatan
pengumpulan dan pembukuan hadits itu mereka merusak Islam dengan membuat hadits-hadits palsu,
hadits yang tidak benar, yang bukan dari Nabi saw.
Untuk menjaga keaslian hadits dan kesucian Islam, para ‘Ulama mengadakan penertiban dan pengamanan
hadits dengan mengumpulkan dan membukukan hadits, melalui cara :
a. Meneliti orang-orang yang meriwayatkan hadits ( rawi ) kemudian dikumpulkan, kaidah-kaidah hadits, illat-illat
hadits dan riwayat hidupnya.
b. Mengadakan koreksi ( tashih ) dan penyaringan, dengan memisahkan hadits yang shahih dan tidak shahih, seperti
hadits dhaif, dan lain-lain.
Usaha pemurnian dan pelestarian hadits itu melahirkan Ilmu Riwayah Hadits dan Ilmu Dirayah Hadits,
sehingga muncullah kitab-kitab hadits Shahih dan Sunan. Usaha itu dipelopori oleh Ishaq bin Ruhawaih. Pekerjaan
yang berat tapi mulia itu disempurnakan oleh Imam Al-Bukhari. Beliau berhasil menyusun Kitab Al-Jami’ Ash-
Shahih yang berisi hadits-hadits shahih. Kemudian diteruskan oleh Imam Muslim, muridnya, dan ‘ulama -
ulama hadits lainnya.
Kitab-kitab hadits yang telah dihasilkan para ‘ulama pada waktu itu dan telah ditetapkan menjadi pedoman
( standar ) hadits, yang terkenal ada lima, sesuai dengan tingkatannya, sebagai berikut :
a. Shahih Al-Bukhari,
b. Shahih Muslim,
c. Sunan Abu Daud,
d. Sunan At-Turmudzi,
e. Sunan An-Nasa’i.
Di kalangan masyarakat Islam, ke lima hadits itu terkenal dengan sebutan “ Lima Kitab Pokok Hadits “
atau Al-Ushul Al-Khamsah.
2. Al Kutub Al-Sittah
Selain lima orang ‘Ulama Besar Hadits yang telah berhasil menyusun kitab hadits yang termasuk dalam Al-
Ushul Al-Khamsah, ‘ulama lain yang berhasil mengikuti jejak mereka sehingga berhasil membukukan hadits dengan
baik ialah Ibnu Majah. Kodifikasi hadits yang berhasil dibukukannya disebut Sunan Ibnu Majah.
Sebagian ‘ulama memasukkan Sunan Ibnu Majah ini ke dalam tingkatan kitab-kitab induk hadits, sehingga
bagi mereka yang berpendapat demikian, kitab induk hadits itu jumlahnya menjadi 6 ( enam ) buah, yaitu Al-Ushul
Al-Khamsah, ditambah kitab Sunan Ibnu Majah. Ke enam kitab pokok ( standar ) hadits itu terkenal dengan
sebutan Al-Kutub Al-Sittah.
Kitab hadits shahih ialah kitab hadits yang berisi hadits-hadits yang oleh penyusunnya dianggap shahih,
seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim. Sedangkan kitab-kitab Sunan ialah kumpulan hadits yang oleh
penyusunnya tidak dicampuri dengan hadits yang munkar atau sejenisnya. Dalam hal ini, menurut sebagian ‘ulama,
terkecuali Sunan Ibnu Majah. Adapun mengenai kitab Musnad ialah kitab hadits yang menghimpun segala ma -
cam jenis hadits yang diterima oleh penyusunnya tanpa menerangkan derajatnya.
Pada awal abad ke – 4 H, masih ada ‘ulama hadits yang berusaha memisahkan hadits yang shahih dan tidak
shahih. Di antara mereka, yang terkenal ialah Imam Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani ( wafat 360 H ), Imam
Daruquthni ( wafat 321 H ) dan Ibnu Huzaimah ( wafat 316 H ).

EVALUASI
1. Sebutkan arti hadits, sunnah, khabar dan atsar menurut bahasa dan menurut istilah para ahli
hadits ?
2. Sebutkan perbedaan antara khabar dan atsar !
3. Jelaskan perbedaan antara hadits dan hadits qudsi !
4. Sebutkan dan jelaskan macam-macam ilmu hadits !
5. Apakah yang dimaksud :
a. Sanad
b. Matan
c. Rawi
6. Jelaskan apa yang dimaksud Rijalul Hadits !
7. Sebutkan perbedaan antara kitab Musnad dan Sunan !
8. Apakah yang dimaksud dengan Al-Ushul Al-Khamsah ?
9. Apakah yang dimaksud dengan Al-Kutub Al-Sittah ?
10. Beri harakat hadits di bawah ini dan menjelaskan tentang apa hadits tersebut ?

11. Apa arti hadits di bawah ini ?

12. Sebutkan bagian-bagian hadits di bawah ini !

13. Beri harakat hadits di bawah ini dan sebutkan apa artinya ?

***** Ir *****