Anda di halaman 1dari 14

1

REFERAT
ILMU PENYAKIT DALAM
Leptospirosis



PEMBIMBING
dr. M. Noer Abdoellah, Sp.PD

Disusun Oleh :
Andella Pradifta NIM 2007.04.0.0003
Annisa Nur Fitria NIM 2009.04.0.0036
Anita Tanuwijaya NIM 2009.04.0.0038
Astine Jennifer S NIM 2009.04.0.0054

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014
2

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
anugerahNya, sehingga kami bisa menyelesaikan tugas referat tentang
Leptospirosis dengan baik.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada dr. M. Noer Abdoellah, Sp.PD yang telah
meluangkan waktu dan memberikan kesempatan kepada kami sehingga
dapat menyelesaikan tugas referat ini tepat pada waktunya.
Dalam penulisan referat ini kami menyadari adanya keterbatasan
kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki, sehingga referat ini jauh dari
sempurna. Untuk itu, kritik dan saran kami perlukan agar dapat
menyempurnakan karya tulis ini di masa yang akan datang.
Semoga referat ini dapat berguna bagi pembaca pada
umumnyadanpenulispadakhususnya.









Surabaya, Februari 2014


Penulis



3

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................... 1
KATA PENGANTAR .................................................................... 2
DAFTAR ISI........ ......................................................................... 3

LEPTOSPIROSIS
Definisi...... ...................................................................... 4
Etiologi ............................................................................ 4
Epidemiologi ................................................................... 5
Penularan ....................................................................... 6
Pathogenesis .................................................................. 7
Manifestasi Klinis ............................................................ 8
Diagnosis ........................................................................ 11
Diagnosis Banding .......................................................... 12
Terapi .............................................................................. 12
Prognosis ........................................................................ 13
Preventif .......................................................................... 13
Daftar Pustaka ................................................................ 14












4

Definisi Leptospirosis
Leptospirosis adalah Suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
mikroorganisme Leptospira interorgans tanpa memandang bentuk spesifik
serotipenya. Penyakit ini pertama sekali dikemukakan oleh weil pada tahun
1886 yang membedakan penyakit yang disertai dengan ikterus ini dengan
penyakit lain yang juga menyebabkan ikterus. Bentuk yang beratnya dikenal
sebagai Weils disease. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti
mud fever, slime fever, swamp fever, autumnal fever, infectious jaundice, field
fever, cane cutter fever, dan lain-lain.

Etiologi Leptospirosis
Leptospirosis disebabkan oleh genus leptospira, family
treponemataceae, suatu mikororganisme spirochaeta. Ciri khas organism ini
yakni berbelit, tipis,fleksibel,panjangnya 5-15 um, dengan spiral yang sangat
halus, letaknya 0,-0,2 um. Salah satu ujung organism sering membengkak,
membentuk suatu kait. Terdapat gerak rotasi aktif, tetapi tidak ditemukan
adanya flagella. Sprichaeta ini demikian halus sehingga dalam mikroskop
lapangan gelap hanya dapat terlihat sebagai rantai kokus kecil-kecil. Dengan
pemeriksaan lapangan redup pada mikroskop biasa morfologi leptospira
secara umum dapat dilihat. Untuk mengamati lebih jelas gerakan leptospira
digunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield microscope). Leptospira
membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membuat kultur yang positif.
Dengan medium Fletchers dapat tumbuh dengan baik sebagai obligat aerob.
Secara sederhana , genus leptospira terdiri atas dua spsies : L.interrorgans
yang pathogen dan l.biflexa yang non pathogen/ saprofit. Tujuh spesies dari
leptospira pathogen sekarang ini telah diketahui dasar ikatan DNA-nya,
namun lebih praktis dalam klinik dan epidemiologi menggunakan klasifikasi
yang didasarkan atas perbedaan serologis. Spesies L.interrogans dibagi
menjadi beberapa serogrup dan serogrup ini dibagi menjadi banyak serovar
menurut komposisi antigennya. Saat ini telah ditemukan lebih dari 250
5

serovar yang tergabung dalam 23 serogrup.Menurut beberapa peneliti yang
sering menginfeksi manusia ialah L.icterohaemorrhagica dengan reservoir
tikus, L.canicola dengan reservoir anjing dan L.pamona dengan reservoir sapi
dan babi.

Epidemiologi Leptospirosis
Lepstospirosis tersebar di seluruh dunia, disemua benua kecuali benua
Antartika, namun terbanyak didapati daerah tropis. Leptospira bisa terdapat
pada binatang piaraan seperti anjing,babi,lembu,kuda,kucing,marmot,atau
binatang-binatang pengerat lainnya seperti tupai,musang,kelelawar, dan lain
sebagainya. Di dalam tubuh binatang tersebut, leptospira hidup di dalam
ginjal/air kemihnya. Tikus merupakan vector yang utama dari
L.Icterohaemorrhagica penyebab leptospirosis pada manusia. Dalam tubuh
tikus, leptospira akan menetap dan membentuk koloni serta berkembang biak
di dalam epitel tubulus ginjal tikus dan secara terus-menerus dan ikut
mengalir dalam filtrate urine. Penyakit ini bersifat musiman, di daerah beriklim
sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur
karena temperature adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup
leptospira, sedangkan didaerah tropis insidens tertinggi terjadi selama musim
hujan. Lepstospirosis mengenai paling kurang 160 spesies mamalia. Ada
berbagai jenis penjamu dari leptospira, mulai dari mamalia landak, kelinci,
tikus sawah, tikus rumah, tupai, musang, sampai yang berukuran kecil di
mana manusia dapat kontak dengannya, misalnya dengan reptile (berbagai
jenis katak dan ular), babi,sapi,kucing,dan anjing. Binatang pengerat
terutama tikus merupakan reservoir paling banyak. Leptospira membentuk
hubungan simbiosis dengan pejamunya dan dapat menetap dalam tubulus
renalis selama berbulan-bulan bahkan bertahun-yahun.Beberapa reservoir
berhubungan dengan binatang tertentu, seperti
L.icterohaemorragic/copenhageni dengan tikus, L.grippotyphosa dengan
6

voles(sejenis tikus), L.harjo dengan sapi, L.canicola dengan anjing dan
L.pomona dengan babi.

International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai
Negara dengan insidens leptospirosis tinggi dan peringkat ketiga di dunia
untuk mortalitas. Di Indonesia Leptospirosis ditemukan di DKI Jakarta, jawa
barat, Jawa tengah, DI Yogyakarta, Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu,
Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Utara, Kalimantan Timur , dan Kalimantan Barat. Pada kejadian banjir besar
di Jakarta tahun 2002, dilaporkan lebih dari seratus kasus leptospirosis
dengan 20 kematian.
Salah satu kendala dalam menangani leptospirosis berupa kesulitan
dalam melakukan diagnostic awal. Sementara dengan pemeriksaan
sederhana memakai mikroskop biasa dapat dideteksi adanya gerakan
leptospira dalam urine. Diagnostik pasti ditegakkan dengan ditemukannya
leptospira pada daerah atau urine atau ditemukannya hasil serologi positif.
Untuk dapat berkembang biaknya leptospira memerlukan lingkungan optimal
serta tergantung pada suhu yang lembaba, hangat, PH air/tanah yang netral,
dimana kondisi ini ditemukan sepanjang tahun di daerah tropis.

Penularan Leptospirosis
Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan air, atau tanah, lumpur
yang telah terkontaminasi oleh urine binatang yang telah terinfeksi leptospira.
Infeksi tersebut terjadi jika luka/erosi pada kulit ataupun selaput lender. Air
tergenang atau mengalir lambat yang terkontaminasi urine binatang infeksius
memainkan peranan dalam penularan penyakit ini, bahkan air yang deraspun
dapat berperan. Kadang-kadang penyakit ini terjadi akibat gigitan binatang
yang sebelumnya terinfeksi leptospira atau kontak dengan kultur leptospira di
laboratorium. Ekspos yang lama pada genangan air yang terkontaminasi
terhadap kulit yang utuh juga dapat menularkan leptospira. Orang-orang yang
7

mempunyai resiko tinggi mendapat penyakit ini adalah pekerja-pekerja di
sawah, pertanian, perkebunan, perternakan, pekerja tambang, pekerja di
rumah potong hewan atau orang-orang yang mengadakan perkemahan di
hutan, dokter hewan.

Pathogenesis
Patogenesis leptospirosis tidak sepenuhnya dipahami. Leptospira
masuk host melalui lecet (abrasi) di kulit atau melalui membrane mukosa
yang utuh, terutama konjungtiva dan lapisan nasofaring oro-dan. Minum air
yang terkontaminasi dapat memperkenalkan leptospira melalui mulut,
tenggorokan, atau kerongkongan. Setelah masuknya organisme,
leptospiremia berkembang, dengan penyebaran berikutnya adalah ke seluruh
organ. Perkembangan berlangsung dalam darah dan jaringan, dan leptospira
dapat terisolasi dari darah dan cairan cerebrospinal (CSF) selama 4-10 hari
pertama sakit. Pemeriksaan CSF selama periode ini menggambarkan
pleositosis dalam sebagian besar kasus, tetapi hanya sebagian kecil pasien
memiliki gejala dan tanda meningitis pada saat ini. Semua bentuk leptospira
dapat merusak dinding pembuluh darah kecil, kerusakan ini menyebabkan
vaskulitis dengan kebocoran dan ekstravasasi sel, termasuk perdarahan.
Sifat patogenik yang paling penting dari leptospira adalah adhesi pada
permukaan sel dan toksisitas selular.

Vaskulitis berperan atas manifestasi yang paling penting dari penyakit.
Meskipun leptospira terutama menginfeksi ginjal dan hati, setiap organ
mungkin akan terpengaruh. Di ginjal, leptospira bermigrasi ke interstitium,
tubulus ginjal, dan lumen tubular, menyebabkan nefritis interstitial dan
nekrosis tubular. Hipovolemia karena dehidrasi atau perubahan permeabilitas
kapiler dapat berkontribusi untuk perkembangan gagal ginjal. Dalam hati,
nekrosis centrilobular dengan proliferasi sel Kupffer dapat ditemukan.
Namun, nekrosis hepatoseluler berat bukan merupakan gambaran
8

leptospirosis. Keterlibatan paru adalah akibat dari perdarahan, bukan dari
peradangan. Invasi otot rangka oleh leptospira menyebabkan
pembengkakan, vakuolasi dari miofibril, dan nekrosis focal. Pada
leptospirosis berat, vaskulitis pada akhirnya dapat merusak mikrosirkulasi dan
meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga kebocoran cairan dan
hipovolemia.
Ketika antibodi terbentuk, leptospira dikeluarkan dari semua tempat di
host kecuali mata, tubulus ginjal proksimal, dan mungkin otak, di mana
mereka dapat bertahan selama beberapa minggu atau bulan. Ketahanan
leptospira di aqueous humor kadang-kadang menyebabkan kronis atau
uveitis berulang. Respon imun sistemik efektif dalam menghilangkan
organisme tetapi juga dapat menghasilkan gejala reaksi inflamasi. Kenaikan
titer antibodi bersamaan dengan perkembangan meningitis, hubungan ini
menunjukkan bahwa mekanisme imunologi bertanggung jawab.
Setelah memulai pengobatan antimikroba terhadap leptospirosis, reaksi
Jarisch-Herxheimer sama dengan yang terlihat pada penyakit spirochetal
lainnya dapat berkembang. Meskipun sering digambarkan dalam publikasi
yang lebih tua, reaksi ini tampaknya menjadi peristiwa langka di leptospirosis
dan tentu saja kurang sering pada infeksi ini daripada di spirochetal penyakit
lainnya.

Manifestasi Klinis
Leptospirosis biasanya asimtomatis. Periode inkubasi 2-20 hari tapi
biasanya 1-2 minggu. Biasanya, fase leptospiremia akut diikuti fase
leptospiremia imun. Perbedaan fase pertama dan fase kedua tidak jelas,
kasus yang lebih ringan tidak selalu masuk ke fase kedua.
Anicteric Leptospirosis
Leptospirosis dapat terlihat sebagai acute influenza-like illness, dengan
demam, menggigil, sakit kepala yang parah, mual, muntah dan myalgia. Nyeri
otot, yang terutama mengenai betis, punggung dan abdomen adalah
9

gambaran penting dari infeksi leptospira. Gambaran yang kurang umum
termasuk sakit tenggorokan dan ruam. Pasien biasanya memiliki sakit kepala
yang terus menerus ( frontal atau retroorbital ) dan terkadang menjadi
fotofobia. Mungkin ada mental confusion. Keterlibatan dari system pulmonal
bermanifestasi pada kebanyakan kasus dengan tanda-tanda yaitu batuk dan
nyeri dada dan bahkan pada beberapa kasus terdapat hemoptosis dan hal ini
jarang terjadi. Hal yang banyak ditemukan pada pemeriksaan fisik adalah
demam dengan conjunctival suffusion. Yang jarang ditemukan adalah nyeri
tekan otot, limfadenopati, faringeal injeksi, ruam, hepatomegaly dan
splenomegaly. Ruamnya dapat makular, makulopopular, eritematous,
urtikaria, atau hemoragik. Mungkin juga terdapat jaundice yang ringan.

Kebanyakan pasien menjadi asimtomatik dalam waktu 1 minggu.
Setelah selang waktu 1-3 hari, penyakitnya kambuh dalam beberapa kasus.
Awal mula fase kedua (imun) ini bertepatan dengan pembentukan antibodi.
Gejalanya lebih bervariasi daripada fase pertama ( leptospiremic ). Biasanya
gejala berlangsung selama beberapa hari, tapi kadang-kadang tetap ada
selama beberapa minggu. Seringkali demam dan mialgia kurang menonjol
daripada di fase leptospiremic. Peristiwa penting selama fase imun adalah
terjadinya meningitis aseptik. Meskipun tidak lebih dari 15 % dari semua
pasien memiliki gejala dan tanda-tanda meningitis, banyak pasien memiliki
CSF pleositosis. Gejala meningeal biasanya hilang dalam beberapa hari
tetapi dapat bertahan selama berminggu-minggu. Demikian pula, pleositosis
umumnya menghilang dalam waktu 2 minggu tapi kadang-kadang
berlangsung selama berbulan-bulan. Aseptic meningitis lebih sering terjadi
pada anak-anak daripada orang dewasa. Iritis, iridosiklitis, dan komplikasi
chorioretinitis yang dapat bertahan selama bertahun-tahun bisa menjadi jelas
pada awal minggu ketiga tapi sering muncul beberapa bulan setelah awal
mula penyakit. Salah satu epidemi uveitis antara pasien dengan leptospirosis.

10

Severe Leptosirosis (Sindrom Weil)
Sindrom Weil , bentuk yang paling parah leptospirosis , ditandai dengan
ikterus , disfungsi ginjal , dan diatesis hemoragik, dengan keterlibatan paru
dalam banyak kasus , dan dengan tingkat kematian 5-15 %. Onset penyakit
tidak berbeda dari yang leptospirosis anikterik , namun setelah 4-9 hari,
jaundice serta disfungsi ginjal dan pembuluh darah umumnya muncul .
Meskipun beberapa derajat penurunan suhu badan sampai yg normal dapat
dicatat setelah minggu pertama penyakit , pola penyakit bifasik seperti yang
terlihat pada leptospirosis anicteric kurang terlihat . Penyakit kuning sindrom
Weil, yang parah dan menyebabkan warna seperti orange jeruk pada kulit ,
biasanya tidak berhubungan dengan nekrosis hati yang berat. Kematian
jarang karena kegagalan hati. Hepatomegali dan nyeri di kuadran kanan atas
biasanya terdeteksi. Splenomegali ditemukan pada 20% kasus.
Gagal ginjal dapat terjadi, sering pada minggu kedua penyakit.
Hipovolemia dan penurunan perfusi ginjal berkontribusi pada pengembangan
nekrosis tubular akut dengan oliguria atau anuria . Dialisis kadang-kadang
diperlukan, meskipun cukup banyak kasus dapat ditangani tanpa dialisis.
Fungsi ginjal mungkin dapat benar-benar kembali.
Keterlibatan paru sering terjadi , dalam beberapa kelompok kasus
merupakan manifestasi utama , dengan gejala batuk , dyspnea , nyeri dada ,
dan dahak dengan bercak darah dan kadang-kadang hemoptisis atau bahkan
kegagalan pernapasan . Manifestasi perdarahan yang sering terlihat pada
sindrom Weil adalah epistaksis , petechiae , purpura , ekimosis, sedangkan
perdarahan gastrointestinal yang parah dan perdarahan adrenal atau
subarachnoid jarang terjadi.





11

DIAGNOSIS
Pada biasanya diagnosis awal leptospirosis sulit, karena pasien
biasanya datang dengan meningitis, hepatitis, nefritis, pneumonia, influenza,
syoktoksik, demam yang tidak diketahui asalnya dan diabetes hemoragik,
bahkan beberapa kasus dating sebagai pankreatitis.
Pada anamnesis, penting diketaui tentang riwayat pekerjaan pasien,
apakah termasuk kelompok risiko tinggi. Gejala / keluhan didapati demam
yang muncul mendadak, sakit kepala terutama di bagian frontal, nyeri otot,
matamerah / fotofobia, mual atau muntah.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai demam, bradikardia, nyeri tekan otot,
hepatomegali dan lain-lain.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin dijumpai lekositosis, normal
atau sedikit menurun disertai gambaran neutrofilia dan laju endap darah yang
meninggi. Bila organ hati terlibat, bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan
transaminase. BUN, Ureum dan kreatinin juga bisa meninggi bila terjadi
komplikasi pada ginjal. Trombositopenia terdapat pada 50% kasus.
Pada urin dijumpai proteinuria, leukosituria dan thorak (cast), serta
ditemukan leptospira pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap.
Diagnosa pasti dengan isolasi leptospira dari cairan tubuh dan serologi.

Kultur :dengan mengambil specimen dari darah atau CCS segera pada awal
gejala. Dianjurkan untuk melakukan kultur ganda dan mengambil spesimen
pada fase leptospiremia serta belum diberi antibiotik. Kultur urine diambil
setelah 2-4 minggu onset penyakit. Pada spesimen yang terkontaminasi,
inokulasi hewan dapat digunakan.

Serologi .Jenis uji serologi dapat dilihat pada Tabel 3. Pemeriksaan untuk
mendeteksi adanya leptospira dengan cepat adalah dengan pemeriksaan
Polymerase Chain reaction (PCR), Silver Chain atau fluroscent antibodiy
stain, dan mikroskop lapangan gelap.
12


Tabel 3. Jenis Uji Serologi pada Leptospirosis
Microscopic
Agglutination Test (MAT)
Macroscopic Slide
Agglutination Test (MSAT)
Uji carik celup :
- Lepto dipsttick
- LeptoTek Lateral Flow
Enzyme linked immune sorbant
assay (ELISA)
Aglutinasi lateks kering
(LeptoTek Dry-Dot)
Microcapsule agglutination test
Indirect fluorescent antibody test
(IFAT)
Patoc-slide agglutination test (PSAT)
Indirect haemagglutination test (IHA) Sensitized erythrocyte lysis test
(SEL)
Uji aglutinasi lateks
Complement fixation test (CFT)
Counter immune electrophoresis
(CIE)

Diagnosa Banding
- Malaria
- Demam thypoid
- Demam berdarah dengue
- Hepatitis viral

Terapi
Leptospira perlu diobati sedini mungkin, untuk pengobatan leptospira
dibedakan derajat beratnya: leptospira ringan, sedang atau berat, dan
profilaksis.
1. Leptospirosis ringan :
- Doxycycline 100 mg p.o 2x1 atau
- Ampicillin 500-700 mg p.o 4x1 (tiap 6 jam) atau
- Amoxylin 500 mg p.o 4x1 (tiap 6 jam)
13


2. Leptospirosis sedang berat :
- Penicillin G 1,5 juta unit IV 4x1 atau
- Ampicillin 1 g IV 4x1 atau
- Amoxilin 1 g IV 4x1 atau
- Erythromycine 500 mg IV 4x1
3. Chemoprophylaxis :
- Doxycycline 200 mg p.o 1x seminggu
Pengobatan dilanjutkan selama 6-7 hari.
Terapi simptomatis ditujukan untuk demam dan nyeri.
Dialisis perlu dipertimbangkan jika ditemukan salah 1 dari :
- Hiperkalemia intractable ( K > 6,5 mmol/L)
- Asidosis yang sulit dikoreksi
- Edema paru
- Ensefalopati uremik
- Oliguria ( urine < 200mL / 12 jam dan BUN > 100 mg/dL)

Prognosis
Umumnya baik, mortalitas meningkat pada usia tua (5-20%) dan jika timbul
Weil syndrome.

Pencegahan
1. Penyebaran informasi tentang penularan leptospira pada pekerjaan atau
tempat rekreasi, desinfeksi lingkungan kerja. Contoh : petani yang bekerja
di sawah dianjurkan menggunakan sepatu boots, pemerah susu sapi
dianjurkan menggunakan sarung tangan.
2. Pengendalian tikus
3. Vaksinasi hewan peliharaan
4. Memberi larangan berenang di daerah tercemar.

14

Daftar Pustaka

Fauci et all. 2008. Leptospirosis. Harrisons Principles of Internal Medicine.
17
th
edition. United States of America : McGraw-Hills.

Suharto, Soewandojo E, Hadi U, Nasronudin .2007. Leptospirosis. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya : Airlangga University Press. Hal : 307-
309.

Zein U. 2009. Leptosirosis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta :
Interna Publishing. Hal : 2087, 2808-2810.