Anda di halaman 1dari 123

Office Address:

Jakarta :

JlPadang no 5, Manggarai, Setiabudi,

Jakarta Selatan

(Belakang Pasar Raya Manggarai)

Phone Numbers:

021 8317064

Pin BB 2A8E2925

WA 081380385694

Medan :

JlSetiabudi no 65G, Medan

Phone numbers : 061 82292290

pin BB : 24BF7CD2

PEMBAHASAN

ETIK STATISTIK Optimaprep

Batch II UKDI 2014

PEMBAHASAN ETIK STATISTIK Optimaprep Batch II UKDI 2014 dr. Widya, dr. Alvin, dr. Yolina dr. Cahyo,

dr. Widya, dr. Alvin, dr. Yolina dr. Cahyo, dr. Ayu, dr. Gregorius

1. Data penelitian

Jenis Data

Keterangan

Kualitatif

data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data kualitatif

diperoleh melalui berbagai macam teknik

pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip)

Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat

diolah atau dianalisis menggunakan teknik

perhitungan matematika atau statistika

Data penelitian

Skala nominal adalah skala yang hanya digunakan untuk memberikan kategori saja

Contoh: Wanita

1 ,

Laki-laki 2

Skala ordinal adalah skala pengukuran yang sudah dapat digunakan untuk menyatakan peringkat

antar tingkatan, akan tetapi jarak atau interval antar tingkatan belum jelas. Contoh:

Berilah peringkat supermarket berdasarkan kualitas pelayanannya ! Sri Ratu……………………… 1

Moro ………………………… 3

Matahari …………………

5

Rita I ……………………….

2

Rita II ………………………

4

IKK dan Forensik

Skala Interval adalah skala pengukuran yang sudah dapat digunakan untuk menyatakan peringkat antar tingkatan, dan jarak atau interval antar tingkatan sudah jelas, namun belum memiliki nilai 0 (nol) yang mutlak.

Contoh:

1. Skala Pada Termometer

2. Skala Pada Jam

Skala Rasio adalah skala pengukuran yang sudah dapat digunakan untuk menyatakan peringkat antar tingkatan, dan jarak atau interval antar tingkatan sudah jelas, dan memiliki nilai 0 (nol) yang mutlak .

Contoh:

1. Berat Badan

2. Pendapatan

3. Hasil Penjualan

IKK dan Forensik

Ringkasan Tentang Skala

Skala

 

Tipe Pengukuran

 

Kategori

Peringkat

Jarak

Perbandingan

Nominal

Ya

Tidak

Tidak

Tidak

Ordinal

Ya

Ya

Tidak

Tidak

Interval

Ya

Ya

Ya

Tidak

Rasio

Ya

Ya

Ya

Ya

Studi Observasional

Studi Observasional Fletcher RH , Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiology — the essentials. 3rd ed.

Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiologythe essentials. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1996

Cross Sectional

Studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi

maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit atau karakteristik terkait kesehatan lainnya

Status paparan dan penyakit diukur pada saat yang sama.

Data yang dihasilkan adalah data prevalensi, maka disebut juga survei prevalensi.

Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei

• Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

3. Studi Observasional

3. Studi Observasional Fletcher RH , Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiology — the essentials. 3rd

Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiologythe essentials. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1996

Case control

Case control
Case control

Case Control

Menganalisa faktor risiko dengan menentukan dua kelompok yang memiliki perbedaan outcome (penyakit), kemudian dihubungkan dengan causal attribute- nya

Keuntungan : Membutuhkan sumber

daya, dana yang lebih sedikit, serta

waktu yang lebih singkat. Good for rare cases, long latent period, ethical related cases

Useful when epidemiologists investigate an outbreak of a disease

Hasil Odds ratio

Kelemahan : provide less evidence for causal inference

investigate an outbreak of a disease • Hasil Odds ratio • Kelemahan : provide less evidence

4. Studi Observasional

4. Studi Observasional Fletcher RH , Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiology — the essentials. 3rd

Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiologythe essentials. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1996

Cohort

Analisa faktor risiko, dengan mengikuti kelompok yang

tidak/belum menderita penyakit dengan faktor risiko dan tidak dengan faktor risiko.

Hasilnya : incidence rate & relative risks

Keuntungan : Dapat menentukan faktor risiko terjadinya penyakit karena bersifat longitudinal observation

Kelemahan : Mahal, memakan waktu yang lama, drop-out rasio yang tinggi

karena bersifat longitudinal observation • Kelemahan : Mahal, memakan waktu yang lama, drop-out rasio yang tinggi
Cohort vs Case Control

Cohort vs

Case Control

Summary of Strengths and Limitations of

Prospective Cohort and Case-Control Studies

Prospective Cohort

Case-Control

Strengths:

Opportunity to measure risk factors before disease occurs

Can study multiple disease outcomes Can yield incidence rates as well as relative risk estimates

Limitations:

Useful for common disease

Relatively inexpensive

Relatively quick results

Strengths:

Useful for rare disease

Relatively inexpensive

Relatively quick results

Limitations:

Possible bias in measuring risk factors after disease has occurred

Possible bias in selecting control

group

Identified cases may not represent exposure of all cases

Comparing Odds Ratios and Relative Risks

Outcome

Exposure

Cases

Controls

Exposed

70

300

370

Not Exposed

30

700

730

100

1000

1100

OR = AD/BC = 5.44

RR= A/(A+B)

Exposed 30 700 730 100 1000 1100 OR = AD/BC = 5.44 R R = A

C/(C+D) = 4.41

16

Stating your results

OR = 5.44

Those with the disease are 5.44 times as likely to have had the exposure compared to those without the disease

RR = 4.41

Those with the exposure are 4.41 times as likely to

develop the disease compared to those without the

exposure

5. Desain Studi

Desain

Keterangan

Deskriptif

mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi, berdasarkan karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan,

kelas sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya,

serta waktu

Analitik

menguji hipotesis dan menaksir (mengestimasi) besarnya hubungan/ pengaruh paparan terhadap penyakit

Studi

peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya

observasional

mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasi, menghitung, dan

menganalisis (membandingkan) perubahan pada variabel-variabel pada kondisi yang alami

Studi

peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek

eksperimental

dari berbagai level intervensi itu

6. Case Control

Comparing Odds Ratios and Relative Risks

Outcome

Exposure

Cases

Controls

Exposed

70

300

370

Not Exposed

30

700

730

100

1000

1100

OR = AD/BC = 5.44

RR= A/(A+B)

Exposed 30 700 730 100 1000 1100 OR = AD/BC = 5.44 R R = A

C/(C+D) = 4.41

19

DIARE

Ya

Tidak

TOTAL

MAKAN ES

Ya

22

78

100

Tidak

10

80

90

TOTAL

32

158

3160

OR = AD/BC = (22x80)/(10x78)

7. Research Design

Cohort study

7. Research Design Cohort study Relative risks ( RR) = a/(a + b) : c /

Relative risks ( RR) = a/(a + b) : c / (c + d)

KANKER PARU

Ya

Tidak

TOTAL

MEROKOK

Ya

20

30

50

Tidak

5

45

50

TOTAL

25

75

100

Relative risks ( RR) = a/(a + b) : c / (c + d)

= (20/50) : 5/50

= 20/5

= 4

8. Diagnostic Test

Condition (by gold standard) Present Absent
Condition
(by gold standard)
Present
Absent
Total
Total
Positive
Positive
True positive False positive a + b (a) (b)
True positive
False positive
a + b
(a)
(b)
False negative (c) True negative (d)
False
negative (c)
True
negative (d)
c + d
c + d
Test
Test
Negative
Negative

d

Total
Total
a + c
a + c
b + d
b + d
a + b + c + d
a
+ b +
c
+ d

Sensitivity

Proportion of people with the disease who have a positive test

A sensitive test will rarely miss disease in those who have it

Sn = a / (a +c)

Specificity

proportion of patients without the disease with a negative test

A specific test will rarely identify

disease in someone who does not have it

Sp = d / b+d

Negative predictive value

present absent Positive a b a+b negative c d c+d a+c b+d a+b+c+d
present
absent
Positive
a
b
a+b
negative
c
d
c+d
a+c
b+d
a+b+c+d

Positive predictive value

Probability of disease in a patient with a positive (abnormal) test That a

positive test is a true positive

Highly specific diagnostic tests have high PPV

Ppv = a / a + b

Probability that a patient with a negative test (normal) does not have disease

More sensitive tests have higher NPV

NPV = d / c +d

Penelitian Diagnostik

Penelitian Diagnostik • Sensitivitas: bila subyek benar-benar sakit, berapa besar kemungkinan hasil uji diagnostik akan

Sensitivitas: bila subyek benar-benar sakit, berapa besar kemungkinan hasil uji diagnostik akan postif atau abnormal

Spesifitas: bila subyek tidak sakit, berapa besar kemungkinan hasil uji diagnostik akan negatif

Nilai prediksi positif: probabilitas seseorang

menderita penyakit jika hasil uji diagnostiknya positif

Nilai prediksi negatif: probabilitas seseorang tidak menderita penyakit jika hasil uji diagnostiknya negatif

menderita penyakit jika hasil uji diagnostiknya negatif Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan,

Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.

 

Penyakit Ca Servix (+)

Penyakit Ca Servix (-)

Total

Hasil Skrinning (+)

95 (a)

15

(b)

110

Hasil Skrinning (-)

5 (c)

85

(d)

90

Total

100

100

200

NPV = d / c +d = 85/90

9. Variabel

Suatu karakteristik yang membedakan antara satu individu dengan individu lain

Lawan kata constant”, sesuatu yang tetap sama dan tidak berubah

Variabel bebas (Independent Variable)

Variabel perlakuan oleh peneliti

The “cause”.

Juga disebut factors

Variabel terikat (Dependent Variable)

Variabel yang di ukur, dihitung, dan dicatat. Tergantung pada variabel independen.

The “effect”, outcome.

Variabel Kategorik vs Numerik

Kategorik : Memiliki kategori variabel. Nominal (kategori sederajat, cth laki-laki-perempuan)/Ordinal (kategori bertingkat, cth baik-sedang-buruk)

Numerik : Dalam angka numerik, rasio (memiliki nilai nol

alami, cth tinggi badan)/interval (tidak memiliki nilai nol alami, cth suhu)

Hipotesis Komparatif vs Korelatif

Komparatif : perbedaan/hubungan (cth. Apakah

terdapat/hubungan antara kadar gula darah dengan jenis pengobatam?)

Korelasi : Cth. Berapa besar korelasi antara kadar

trigliserida dan kadar gula darah?

Skala Pengukuran

Komparatif : Dianggap skala kategorikal bila kedua variabel kategorik. Skala numerik jika salah satu variabel numerik

Korelatif : Dianggap skala kategorikal bila salah satu variabel kategorik. Skala numerik jika kedua variabel numerik

Berpasangan vs Tidak Berpasangan

Berpasangan : Dua atau lebih kelompok data berasal dari subyek yang sama atau yang berbeda tapi telah dilakukan matching

Tidak berpasangan : Data berasal dari kelompok subyek yang berbeda, tanpa matching

Variable

Methode

Independent

Dependent

Nominal

Nominal

Chi-square; Fischer

Nominal (dichotom)

Numeric

T-test (independent, paired)

Nominal (> 2 score)

Numeric

Anova

Numeric

Numeric

Regression correlation

Variable

Methode

Independent

Dependent

Nominal (dichotom) PERSALINAN (YA/TIDAK)

Numeric BERAT BADAN LAHIR ANAK

T-test (independent, paired)

10. Uji Hipotesis Bivariat

Apakah terdapat korelasi antara peningkatan IMT denan penurunan nilai kapasitas paru?

Variabel yang dihubungkan: IMT (numerik) dengan nilai kapasitas paru (kategorik)

Jenis hipotesis: korelatif

Skala variabel: numerik

Uji Hipotesis Bivariat

Korelatif, numerik

Uji Hipotesis Bivariat Korelatif, numerik

11. Uji bivariat

Type of data and appropriate hypothesis test (Univariate analysis)

Variable

Methode

Independent

Dependent

Nominal

Nominal

Chi-square (analitik); Fischer (deskriftif)

Nominal (dichotom)

Numeric

T-test (independent, paired)

Nominal (> 2 score)

Numeric

Anova

Numeric

Numeric

Regression correlation

12. Uji Parametrik vs Non-parametrik

Syarat uji parametrik : Skala numerik, sebaran data normal, untuk >2 kelompok data tidak berpasangan kesamaan varians merupakan syarat mutlak (Uji varians, p>0.05)

UJI

Keterangan

Chi-square

Uji statistik terhadap hipotesis. Distribusi data harus normal dan jumlah sampel besar untuk mendekati yang diinginkan. Uji tidak dapat digunakan ketika “expected value” kurang dari 10

Fisher

Test kemaknaan statistik yang digunakan pada analisis tabel

kontingensi. Digunakan ketika ukuran sampel kecil. Uji ini dapat digunakan pada semua ukuran sampel

Kolmogorov-Smirnov

Uji normalitas yang membandingkan distribusi data (yang akan diuji) dengan distribusi normal baku. Bila nilai p>=0,05 dikatakan terdapat perbedaan signifikan

reflection-on-presentation-2-sampling.html

13-16. Pengambilan Sample

reflection-on-presentation-2-sampling.html 13-16. Pengambilan Sample
reflection-on-presentation-2-sampling.html

reflection-on-presentation-2-sampling.html

reflection-on-presentation-2-sampling.html

reflection-on-presentation-2-sampling.html

reflection-on-presentation-2-sampling.html

Cara pengambilan sampel

Cara pengambilan sampel Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi

Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.

17. Bias dalam Penelitian

Surveillance bias

More likely in case control studies where cases are ascertained through

medical clinics, hospitals. If clinical visits are associated with the exposure,

sub-clinical cases are more likely to be detected among those with the exposure than those without the exposure Example:

Case Control Study of Oral Contraceptive Use and DiabetesOC users more likely to have

medical visits, resulting in higher probability of subclinical disease being detected. Any

association with OC use and diabetes would be an overestimate of risk because subclinical diabetics with no OC use would have a lower probability of being selected

Bias dalam Penelitian

Recall bias

Bias ini terutama terjadi pada kasus kontrol

Contoh kasus recall bias: pada studi yang mencari hubungan antara asfiksia

dengan gangguan belajar, ibu yang anaknya mengalami gangguan belajar akan berusaha dengan keras mengingat apakah anaknya dulu pernah mengalami asfiksia. Sebaliknya, ibu yang anaknya tidak mengalami gangguan belajar, tidak atau kurang berupaya mengingat kembali apakah anaknya mengalami

asfiksia atau tidak.

Bias dalam Penelitian

Procedural Bias

Bias ini terjadi apabila pengukuran, prosedur, pengobatan, dan lain-lain pada

kelompok-kelompok yang dibandingkan tidak sama

Contoh kasus: pasien yang diberi obat tertentu lebih banyak diperhatikan, lebih sering ditimbang, lebih sering diukur tekanan darahnya.

Bias dalam Penelitian

Detection bias

Bias ini terjadi karena adanya perubahan kemampuan alat ukur dalam

mendeteksi penyakit.

Kesintasan pasien tertentu sering dilaporkan menjadi semakin lama; sebagian mungkin disebabkan oleh deteksi yang lebih dini sehingga masa pengamatan menjadi lebih panjang.

Bias dalam Penelitian

Compliance bias

Bias ini terjadi karena ketaatan mengikuti prosedur yang berbeda antara satu

kelompok dengan kelompok lainnya .

Contoh kasus: regimen untuk kelompok studi (obat baru) hanya diberikan satu kali sehari; sedangkan regimen standar (kontrol), obat harus diminum tiga kali sehari. Maka pasien kelompok kontrol cenderung kurang taat dibandingkan dengan kelompok studi.

18. Experimental Study

Design elements in experimental study

Samples are representative

Randomization or matching are used to produce equivalent groups

Variables to measure are clearly defined

A wide range of variables is measured

The same variables are measured in several different ways (triangulation)to see if they support the same finding

Measures and instruments are validated

Measurement is checked for tester or observer reliability

Both pre-tests and post-tests data collection are given

The experiment is replicated with similar samples and with different samples

These elements make the data from experiments more valid (accurate),

and therefore more believable and useable

Type of Experimental Study

based on design element

Pre-experimental designs

Have either no comparison groups or comparison groups whose equivalence is

indeterminate

One-shot Case Study: no pre-test and no comparison group

One Group Pre-test Post-test: One group is exposed to the presence of X or a change in X and is measured before and after this has occurred

Static-group Comparison. One group is exposed to X and is compared with another group which is not exposed to X. No pre-test.

True Experimental Designs

Provide formal means (pre-tests and/or comparison groups created by random allocation) for handling many of the extraneous variables that weaken internal and external validity

Quasi-experimental Designs

Lack control over exposure to X; i.e., when to expose, to whom, and ability to randomize group assignment

pidemiolog.wordpress.com/2008/11/05/pengertian-epidemiologi/

19. Epidemiologi

Bahasa Yunani 3 kata dasar

EPI yang berarti PADA atau TENTANG

DEMOS yang berati PENDUDUK

LOGOS yang berarti ILMU PENGETAHUAN

EPIDEMILOGI adalah ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG PENDUDUK

Epidemiology is the study of disease occurance in human populations. ( Gary D. Friedman ( 1974 ))

Epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari timbulnya, distribusi, dan jenis penyakit pada manusia menurut waktu dan tempat.(W.H. Frost)

pidemiolog.wordpress.com/2008/11/05/pengertian-epidemiologi/

PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK

Aspek Akademik

Analisa data kesehatan, sosial-ekonomi, dan trend yang terjadi

mengindentifikasi dan menginterpretasi perubahan-perubahan

kesehatan yang terjadi atau akan terjadi pada masyarakat umum

atau kelompok penduduk tertentu. Aspek Klinik

mendeteksi secara dini perubahan insidensi atau prevalensi

penemuan klinis atau laboratorium pada awal timbulnya penyakit

baru dan awal terjadinya epidemi Aspek praktis

upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menimpa individu, kelompok penduduk atau masyarakat umum.

Aspek Administrasi

mengetahui keadaan masyarakat di suatu wilayah atau negara agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan masyarakat

Tujuan Epidemiologi:

menggambarkan penyakit secara komprehensif & dinamis, tidak hanya mencakup wabah tetapi juga antara periode terjadinya wabah secara sporadis dan endemis

Epidemiologi didefinisikan :

Beberapa penyakit atau cedera

Menggambarkan perbedaan penyakit dalam berbagai

keadaan

Mulai dari daerah yang kecil sampai daerah yang luas

Mencakup periode waktujam, hari, minggu, bulan dan tahun

KONSEP EPIDEMIOLOGI, Suyatno, Ir. MKes

Pengertian Pokok yang dipelajari Epidemiologi:

Frekuensi masalah Kesehatanbanyaknya masalah kesehatan( kesakitan, kecelakaan dll) pada sekelompok manusia

Penyebaran masalah kesehatan.pengelompokkan

masalah kesehatn menurut keadaan tertentu,

Person(manusia) ; Place(tempat) dan Time(waktu).

Faktor-Faktor Yang mempengaruhi

Faktor penyebab suatu maslah kesehatan, baik yang menerangkan frekuensi, penyebarannya maupun penyebab timbulnya masalah kesehatan

KONSEP EPIDEMIOLOGI, Suyatno, Ir. MKes

20. Penelitian Epidemiologis

Tujuan dan Ruang Lingkup

Deskripsi penyakit agent, host, lingkungan

Mekanisme penyakit

Faktor‐faktor determinan suatu penyakit

Mencari data diagnostik yang spesifik

Mencari cara pencegahan, pengendalian, & pemberantasan penyakit

Mengikuti berbagai faktor sbg agent potensial, identifikasi efek potensial

agent

Memperoleh data frekuensi dan distribusi penyakit atau fenomena lain yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat

http://hmtl.itb.ac.id/wordpress/wp-content/uploads/2011/03/epid6-penelitian1.pdf

21. Cara Mengungkapkan Wabah

dideteksi dari analisis data surveilans rutin

adanya laporan petugas, pamong ataupun warga yang cukup perduli

Langkah-Langkah Investigasi Wabah

1.

Persiapan Investigasi di Lapangan

2.

Memastikan adanya Wabah

3.

Memastikan diagnosis

4.

a. Membuat definisi kasus

b. Menemukan dan menghitung Kasus

5.

Epidemiologi deskriptif (waktu, tempat, orang)

6.

Membuat hipotesis

7.

Menilai hipotesis (penelitian kohort dan penelitian kasus-kontrol)

8.

Memperbaiki hipotesis dan mengadakan penelitian tambahan

9.

Melaksanakan pengendalian dan pencegahan

10.

Menyampaikan hasil penyelidikan

22. Infant Mortality Rate

Neonatal Mortality

Refers to a death of a live-born baby within the first 28

days of life

Neonatal Mortality Rate = number of deaths <28 days of age during time period X 1,000

Infant Mortality Rate (IMR)

number of live births during time period

The number of deaths of babies under one year of age per

1,000 live births

Infant Mortality Rate (IMR) =

number of infant deaths(<1year) during time period

number of live births during time period

= 55/250 x 1000

X 1,000

23. Indikator Program Gizi Puskesmas

Cakupan penimbangan balita (SKDN)

Indicator partisipasi masyarakat (D/S)

Hasil Program (N/S)

Liputan Program (K/S)

Hasil Penimbangan (N/D)

Cakupan vitamin A dan Yodium untuk bayi, balita dan ibu nifas

Tablet tambah darah (fe) ibu hamil

Status gizi balitapelayanan thdp gizi buruk dan pemberian MP-ASI

Keluarga sadar gizi

Kecamatan bebas rawan gizi

Indikator

Jumlah

Jumlah seluruh balita

6742

Balita yang ditimbang

5621

Balita yang naik berat badannya

5600

Balita yang memiliki KMS

6427

D / S = Balita yang ditimbang/jumlah seluruh balita

= 5621/6742 x 100%

= 83.37%

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal (Spm) Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia , Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat , Direktorat Gizi Masyarakat . Jakarta . 2004

24. Observasional Studies

24. Observasional Studies Fletcher RH , Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiology — the essentials. 3rd

Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiologythe essentials. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1996

Case control

Case control
Case control

Rumus Odd Ratio

 

Kasus PPOK

Kontrol

PPOK

Merokok

90

180

Tidak

30

300

Merokok

Total

120

480

Odd Ratio = ad/bc = (90x300)/(30x180) = 5

25. Teknik pengumpulan data

Teknik

Keterangan

Wawancara

proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian

Teknik

Keterangan

Observasi

adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan

partisipasi

observasi

yaitu peneliti melakukan penelitian dengan cara tidak melibatkan dirinya dalam

nonpartisipan

interaksi dengan objek penelitian. Sehingga, peneliti tidak memposisikan

dirinya sebagai anggota kelompok yang diteliti

Observasi tidak terstruktur

ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan

Observasi

ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian

kelompok

Teknik

Keterangan

Focus Group

yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang yang

Discussion

dianggap mewakili sejumlah publik yang berbeda lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti

Hariwijaya, M, Metodologi dan teknik penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, elMatera Publishing, Yogyakarta, 2007

26. Desain Studi Penelitian

26. Desain Studi Penelitian DESAIN STUDI Prof. dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD Institute of Health

DESAIN STUDI

Prof. dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD

Institute of Health Economic and Policy Studies (IHEPS),

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat,

dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD Institute of Health Economic and Policy Studies (IHEPS), Bagian Ilmu

Insidensi

Insidensi Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Insidensi Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Prevalensi

Prevalensi Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

DESAIN STUDI Prof. dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD Institute of Health Economic and Policy

DESAIN STUDI

Prof. dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD Institute of Health Economic and Policy Studies (IHEPS), Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

27. Cross Sectional

Studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi

maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit atau karakteristik terkait kesehatan lainnya

Status paparan dan penyakit diukur pada saat yang sama.

Data yang dihasilkan adalah data prevalensi, maka disebut juga survei prevalensi.

Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei

• Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

28. Jenis Data Berdasarkan

Sifatnya

Jenis Data

Keterangan

Kualitatif

data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data

kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip)

Teknik

Keterangan

Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika

Nominal

data yang diperoleh melalui pengelompokkan obyek berdasarkan kategori tertentu. Contoh: laki-laki dan perempuan

Ordinal

data yang berasal dari suatu objek atau kategori yang telah disusun secara berjenjang menurut besarnya. Contoh: miskin, menengah, kaya

Numerik

Terdapat informasi peringkat yang lengkap dan dapat di ukur. Interval = tidak memiliki nilai 0 mutlak suhu Rasio = memiliki nilai 0 mutlak kadar obat

Sastroasmoro S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Sagung Seto. Jakarta: 2002.

29. Desain Studi

Desain

Keterangan

Deskriptif

mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi, berdasarkan karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan,

kelas sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya,

serta waktu

Analitik

menguji hipotesis dan menaksir (mengestimasi) besarnya hubungan/ pengaruh paparan terhadap penyakit

Studi

peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya

observasional

mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasi, menghitung, dan

menganalisis (membandingkan) perubahan pada variabel-variabel pada kondisi yang alami

Studi

peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek

eksperimental

dari berbagai level intervensi itu

30. Uji Klinis pre-eksperimental

Pada soal memenuhi desain uji klinis pre-eksperimental yang dikenal sebagai the one group pretest-posttest design/before and after

Sekelompok subyek dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit (malaria) kemudian diberi intervensi (obat kombinasi malaria baru); kemudian dilakukan kembali pemeriksaan terhadap penyakit (malaria) setelah periode tertentu setelah intervensi (obat baru)

31. Level of Prevention

Primary level of prevention

Health promotion

Specific protection

Secondary level of prevention

Early case detection and prompt treatment

Tertiary level of prevention

Disability limitation

Rehabilitation

PRIMARY SECONDARY TERTIARY

PRIMARY

SECONDARY

TERTIARY

PRIMARY SECONDARY TERTIARY
PRIMARY SECONDARY TERTIARY
PRIMARY SECONDARY TERTIARY
PRIMARY SECONDARY TERTIARY
PRIMARY SECONDARY TERTIARY
PRIMARY SECONDARY TERTIARY
PRIMARY SECONDARY TERTIARY

Level of Prevention

Health promotion

Pendidikan kesehatan

Makanan& gizi yg baik

Perkembangan kesehatan pribadi total

Perumahan yg memadai

Kondisi kerja yg baik

Gaya hidup sehat

Persiapan Fisiologis

Skrining Kesehatan

Specific protection

Imunisasi

Hygine personal yg baik

Sanitasi lingkungan

Pengurangan Bahaya Pekerjaan

Asupan gizi yg adekuat & benar

Menghindari karsinogen

Menghindari Alergen

Level of Prevention

Early diagnosis and prompt treatment Early diagnosisskrining

Rempellede, darah rutin untuk pasien curiga DHF

Skring HIV untuk kelompok berisiko (PSK, homoseksual)

Terapi Adequat

Antibiotik

Antifungal

Level of Prevention

Disability limitation

Menghambat proses penyakit

Pencegahan komplikasi

Mengurangi Periode Ketidak mampuan

Rehabilitation

Fasilitas kes masy & medis untuk

terapi dan Retraining

Pendidikan & Reduksi Untuk pemulihan fungsi yg umum

Kembali pada pekerjaan atau

posisi kehidupan secepat

mungkin

Terapi Fisik

Terapi Pekerjaan

32. Teknik pengumpulan data

Teknik

Keterangan

Wawancara

proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian

Teknik

Keterangan

Observasi

adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan

partisipasi

observasi

yaitu peneliti melakukan penelitian dengan cara tidak melibatkan dirinya dalam

nonpartisipan

interaksi dengan objek penelitian. Sehingga, peneliti tidak memposisikan

dirinya sebagai anggota kelompok yang diteliti

Observasi tidak terstruktur

ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan

Observasi

ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian

kelompok

Teknik

Keterangan

Focus Group

yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang yang

Discussion

dianggap mewakili sejumlah publik yang berbeda lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti

Hariwijaya, M, Metodologi dan teknik penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, elMatera Publishing, Yogyakarta, 2007

33. Jenjang Rujukan Pasien

33. Jenjang Rujukan Pasien

34. Case Fatality Rate (CFR)

Rumus CFR:

jumlah kematian karena penyakit X x 100%

Jmlh seluruh penderita penyakit X

Case Fatality Rate (CFR)

Dusun

Jmlh

Nama

Yang sakit

Yang

Yang

penduduk

Desa

Dirawat

Meninggal

Desa 1

100

Mata air

25

-

-

Desa 2

150

Mata hati

38

5

1

Desa 3

100

Mata kaki

12

-

-

Desa 4

50

Mata Sapi

10

6

2

CFR desa 1 = (0/25) x 100% = 0%

CFR desa 2 = (1/38) x 100% = 2.6%

CFR desa 3 = (0/12) x 100% = 0%

CFR desa 4 = (2/10) x 100% = 20%

35. Ukuran dalam Epidemiologi

Insidens Rate (IR)

Insidens : jumlah kasus baru yang timbul pada suatu periode waktu dalam

populasi tertentugambaran tentang frekuensi penderita baru suatu

penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di suatu kelompok masyarakat

Contoh : Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1 Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap penyakit diare ditemukan

laporan penderita baru sebagai berikutbulan januari 50 orang, Maret

100o rang, Juni 150 orang, September 10 orang dan Desember 90 orang

IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %

Ukuran dalam Epidemiologi

Attack rate (AR)

Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan

pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama dalam % atau permil.

Contoh: Dari 500 orang murid yang tercatat pada SD X

ternyata 100 orang tiba-tiba menderita muntaber setelah

makan nasi bungkus di kantin sekolah

AR = 100 / 500 X 100% = 20 %

AR hanya dignkan pada kelompok masyarakat terbatas dan periode terbatas,misalnya KLB.

Ukuran dalam Epidemiologi

Prevalens rate

Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat tertentu.

Ada dua Prevalen:

Period Prevalence

Contoh : Pada suatu daerah penduduk pada 1 juli 2005 100.000 orang, dilaporkan keadaan penyakit A sbb: Januari 50 kasus lama dan 100 kasus baru, Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli 25 kasus lama dan 75 kasus baru; September 50 kasus lama dan 50 kasus baru, dan Desember 200 kasus lama dan 200 kasus baru.

Period Prevalens rate :

(50+100)+(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200) /100.000 X 100 % =

0,9 %

Ukuran dalam Epidemiologi

Point Prevalence Rate

Jumlah penderita lama dan baru pada

satu saat, dibagi dengan jumlah penduduk saat itu dalam persen atau permil.

Contoh: Satu sekolah dengan murid 100

orang, kemarin 5 orang menderita

penyakit campak, dan hari ini 5 orang

lainnya menderita penyakit campak

Point Prevalence rate = 10/100 x 1000 ‰= 100 ‰

36. Sasaran Penyuluhan

Sasaran primer: individu atau kelompok yang akan memperoleh manfaat paling besar dari hasil perubahan perilaku

Sasaran sekunder: individu atau kelompok individu yang berpengaruh dan disegani oleh sasaran primer

Sasaran tersier: para pengambil keputusan, penyandang dana, dan pihak lainnya yang berpengaruh

Pada soal:

Sasaran primer: ibu hamil dan ibu yang menyusui

Sasaran sekunder: kader

Sasaran tersier: lurah atau ketua RW

37. Rasio Prevalens (RP)

Faktor

Risiko

Efek

 

Ya

Tidak

Jumlah

Ya

a

b

a

+ b

Tidak

c

d

c

+ d

 

a + c

b + d

a + b + c + d

RP:

a/(a+b) : c/(c+d)

Rasio Prevalens (RP)

Difteri

   

Ya

Tidak

Jumlah

Ya

15

35

50

Imunisasi

Tidak

20

30

50

 

35

65

100

RP:

15/(15+35)

= 0.75

20/(20+30)

38. Regulasi Perijinan Obat Baru

Perijinan obat baru harus melewati uji praklinis (hewan coba) dan uji kinis sebagai berikut :

1. Fase I. Uji fase I dilakukan terhadap probandus sehat, kecuali untuk sitotoksik. Uji ini bertujuan untuk menentukan metabolisme obat, mencari rentang dosis aman, mengidentifikasi reaksi toksik.

2. Fase II. Uji fase II dilakukan terhadap sejumlah kecil pasien. Uji ini bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak informasi farmakokinetika,

efek samping relatif, informasi efikasi obat, penentuan dosis harian dan

regimen.

3. Fase III. Uji fase III dilakukan terhadap sejumlah besar pasien, 500-3000. Uji ini bertujuan untuk evaluasi efikasi dan toksisitas obat, umumnya desain penelitian yang digunakan adalah randomized clinical trial.

Pedoman dasar uji klinis

39. Patient’s Response to Bad News

Response

Definition

Denial

Refusal to accept external reality because it is too threatening

Repression

Process of attempting to repel desires towards pleasurable instincts

Altruism

Constructive service to others that brings pleasure and personal satisfaction

Thought

The conscious process of pushing thoughts into the preconscious

supression

Humour

Overt expression of ideas and feelings

process of pushing thoughts into the preconscious supression Humour Overt expression of ideas and feelings

40. KLB

40. KLB

41. Health Promotion Strategy

Program Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) telah diluncurkan sejak tahun 1996

oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, yang sekarang bernama Pusat

Promosi Kesehatan.

Strategi

Definisi

Advokasi

Pendekatan kepada pembuat keputusan di berbagai sektor dan

berbagai tingkat sehingga mereka mau pendukung program

kesehatan yang kita rancang.

Kemitraan

Merangkul tokoh masyarakat agar mau menjembatani rencana pembuat program dengan masyarakat

Pemberdayaan

masyarakat

Mewujudkan kemampuan masyarakat untuk menjaga dan

memelihara kesehatannya sendiri

42.

Ada 2 faktor penyebab dari gizi buruk adalah sebagai berikut :

1. Penyebab Langsung.

Kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi,

menderita penyakit infeksi, cacat bawaan dan menderita penyakit kanker. 2. Penyebab tidak langsung, a.ketersediaan Pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan kesehatan. b. kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan dan kesempatan kerja.

(Dinkes SU, 2006).

43. Pembagian wewenang &

tanggungjawab

Interval referral

pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu

dokter tsb tidak ikut menangani

Collateral referral

menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja

Cross referral

menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya

Split referral

menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan

penderita sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan

dokter pemberi rujukan tidak ikut campur

44. Otonomi

otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

45. Visum et Repertum

Pasal 133 KUHAP menyebutkan:

(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang

merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan

ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat

Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI

46. Rekam Medis

Dalam Pasal 47 ayat (1) UU Praktek Kedokteran bahwa dokumen rekam medis milik dokter, doktek gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis milik pasien.

Dalam Pasal 48 UU Praktek Kedokteran.

Ayat (1) setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran;

Ayat (2) rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang undangan.

Permenkes Rekam Medis Pasal 11 ayat (2) yang menyatakan pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat menjelaskanisi rekam medis secara tertulis atau langsung kepada pemohon tanpa izin pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan

Penyidik dapat meminta kopi rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan yang menyimpannya, untuk melengkapi alat bukti yang diperlukan dalam perkara hukum (pidana).

47-53 Beneficence (Tindakan berbuat baik)

General beneficence

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,

Specific beneficence

menolong orang cacat,

menyelamatkan orang dari bahaya.

Mengutamakan kepentingan pasien

Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain

Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk)

Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup)

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Beneficence

Prinsip tindakan

Berbuat baik kepada siapapun termasuk yang tidak kita kenal

pengorbanan diri demi melindungi, menyelamatkan pasien

“janji”atau wajib menyejahterakan pasien dan membuat diri terpercaya.

Contoh tindakan

Dokter berlaku profesional, bersikap jujur dan luhur pribadi (integrity);

menghormati pasien, peduli pada kesejahteraan pasien, kasih sayang,

dedikatif mempertahankan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan teknisnya

Misal memilihkan keputusan terbaik pada pasien yang tidak otonom ( kurang mampu memutuskan bagi dirinya), seperti anak, gangguan jiwa, gawat)

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Non maleficence (Tidak merugikan)

Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien,seperti :

Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien

Minimalisasi akibat buruk

Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal :

Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting

Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut

Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal).

Norma tunggal, isinya larangan

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Non maleficence

Contoh tindakan

Tidak melakukan malpraktek etik baik sengaja ataupun tidak, seperti

dokter tak mempertahakan kemampuan ekspertisnya atau

menganggap pasien sebagai komoditi.

Tindakan nomaleficence antara lain menghentikan pengobatan yang sia-sia, atau pengobatan luar biasa; yakni pengobatan yang tak biasa

diperoleh atau digunakan tanpa pengeluaran amat banyak, nyeri

berlebihan, atau ketidaknyamanan lainnya.

Juga membiarkan mati (letting die), bunuh diri dibantu dokter, euthanasia, sengaja malpraktek etis

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Justice (Keadilan)

Treat similar cases in a similar way = justice withinmorality Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni :

Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka

Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).

Jenis keadilan :

Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima)

Distributif (membagi sumber) : sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada

Setiap orang andil yang sama

Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya

Setiap orang sesuai upayanya

Setiap orang sesuai kontribusinya

Setiap orang sesuai jasanya

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Justice

Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama

Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social

dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien.

Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil).

Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu

Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhandan kesamaan).

Hukum (umum) :

Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.

pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai

kesejahteraan umum

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Otonomi

Pandangan Kant :

otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia

Tell the truth

hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

Beneficence - Autonomy

General beneficence

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain

Autonomy hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan Penting

Jadi berbuat baik tapi tetap menghormati keputusan pasien

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

kaidah dasar moral

Principle

Definition

Beneficence

A practitioner should act in the best interest of the patient. (Salus aegroti suprema lex.)

Non-Maleficence

"first, do no harm" (primum non nocere).

Justice

Concerns the distribution of scarce health resources, and

the decision of who gets what treatment (fairness and

equality).

Autonomy

The patient has the right to refuse or choose their treatment (Voluntas aegroti suprema lex)

54. Rahasia pasien

Pasal 12 Kode Etik Kedokteran Indonesia

Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang

diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia

Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun

55. Hak pasien

Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

55. Hak pasien Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 45 ayat 1 tentang

Penjelasan Pasal 45 ayat 1 tentang Persetujuan Tindakan

55. Hak pasien Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 45 ayat 1 tentang

56. breaking the bad news

Salah satu kewajiban dokter adalah memberikan penjelasan mengenai penyakit pada pasien atau wali pasien

Dalam keadaan duka, dokter harus melakukan breaking the bad newskepada keluarga pasien

Hal diatas dilakukan dokter dengan penuh empati sehingga keluarga pasien dapat menerima berita duka dengan lapang dada

57. Komunikasi Efektif

Empati

Mendengar aktif:

1. Refleksi isi

2. Refleksi perasaan

3. Merangkum

Informed Consent

Diwakili bila:

Usia <18 tahun

Keterbelakangan mental

Tanpa persetujuan pasien, rekam medik dapat diberikan ke:

58.

Pasal 3 Kode Etik Kedokteran

Indonesia

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh

dipengaruhi oleh

sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi

Sumpah Dokter

Penjelasan

Perbuatan berikut dipandang bertentangan

dengan etik:

Membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi/obat, perusahaan alat kesehatan/kedokteran atau badan lain yang dapat mempengaruhi pekerjaan dokter

Melibatkan diri secara langsung atau tidak

langsung untuk mempromosikan obat, alat, atau bahan lain guna kepentingan dan keuntungan pribadi dokter

atau tidak langsung untuk mempromosikan obat, alat, atau bahan lain guna kepentingan dan keuntungan pribadi dokter

59. Hak pasien

Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

59. Hak pasien Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

60. Hak pasien

Relationship building seeks to ensure the patient's willingness to provide diagnostic and other important information, to relieve the patient's physical and psychosocial distress, to ensure the patient's

willingness to accept the treatment plan or a process of negotiation,

and to ensure both the patient's and clinician's satisfaction with work well-done

61. Hak pasien

Kode Etik Kedokteran Indonesia

61. Hak pasien Kode Etik Kedokteran Indonesia
61. Hak pasien Kode Etik Kedokteran Indonesia

62. Komunikasi efektif

Undang-

undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

62. Komunikasi efektif Undang- undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004
62. Komunikasi efektif Undang- undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

Dokter yang baik berusaha memahami kondisi pasien sehingga pasien merasa nyaman saat berkonsultasi dan dapat mengungkapkan segala keluhan yang sedang dialaminya, baik secara medis maupun psikososial

63.

63.

64.

Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

64. Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004

Kode Etik Kedokteran Indonesia

Dilema, antara

menjaga rahasia pasien dengan memikirkan keselamatan masyarakat?

Pasien dengan penyakit yang sukar disembuhkan, diberi cuti lebih dahulu sampai sembuh

Bila ternyata tidak dapat sembuh dan

bahaya bagi yang lain, sebelum

membuka rahasia, dokter memberikan penjelasan tentang penyakitnya dan akibatnya bagi orang lain

Bila rahasia jabatan terpaksa harus

diungkapkan, dokter memberikan surat rahasia kepada atasan, kemudian atasan tsb meminta

pertimbangan kepada Majelis Penguji

Kesehatan (MPK)

Diagnosis penyakit tidak perlu diberitahukan kepada atasan karyawan tsb

65. Beneficence - Autonomy

General beneficence

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain

Autonomy hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan Penting

Jadi berbuat baik tapi tetap menghormati keputusan pasien

Agus Purwadianto. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi kedokteran

66. Beneficence vs Otonomy

General beneficence

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain

Autonomy

hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi

konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri

pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan Penting

Jadi berbuat baik tapi tetap menghormati keputusan pasien

67. Konseling

Sebagai dokter kita harus melihat pasien secara holistik, selain penyakit yang dideritanya, seorang dokter juga harus melihat manusia sebagai makhluk bio-social sehingga diperlukan komunikasi yang baik; termasuk salah satunya konseling individu.

68. CENTRAL VALUES

Pendekatan Holistik

Mempertimbangkan segala aspek yg ada pada pasien, keluarga dan

komunitasnya, bukan hanya fokus pada penyakit yg diderita saja

Memperhatikan aspek bio-psiko-sosial

Personal care

The patient may consult his family doctor not only when he is unwell

but may seek his councel as a friend and mentor

Prinsip dasar pelayanan kedokteran keluarga

CENTRAL VALUES

Continuing care

Terutama

untuk

kasus-kasus

kronik

yg pelayanan komplikasi yg mungkin muncul

perlu

monitoring

rutin

dan

Hipertensi, DM, Hiperlipidemia, dll

Penting adanya good medical record keeping, komunikasi dan diskusi

mengenai rencana penanganan masalah

Kadang

perlu

konsep

sebagai koordinator

pengelolaan

pelayanan

secara

tim

dengan

DK

CENTRAL VALUES

Comprehensive care Ada 3 pengertian:

1.

Pelayanan mencakup semua usia

2.

Pelayanan melingkupi promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif

3.

Pelayanan meliputi bio-psiko-sosial