Anda di halaman 1dari 30

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KECEMASAN

1. Definisi Kecemasan
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya dan keadaan emosi ini
tidak memiliki objek spesifik (Sturart, 2006).
Kecemasan berasal dari kata cemas yang artinya khawatir, gelisah, dan
takut. Kecemasan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kekhawatiran atau
ketegangan yang berasal dari sumber yang tidak diketahui. Dalam hal ini,
kecemasan pada pasien dapat dimaksudkan sebagai rasa takut terhadap perawatan
gigi. Hal ini merupakan hambatan bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan
gigi (Permatasari, R., 2013).
Kecemasan dental dan ketakutan dental adalah faktor yang paling utama
menyebabkan masalah kunjungan orang-orang untuk memeriksakan kesehatan
gigi dan mulut mereka ke dokter gigi. Kecemasan dan ketakutan dental dapat
menimbulkan masalah yang signifikan dalam manajemen pasien, dengan pasien
merasa cemas lebih mungkin untuk menghindari atau menunda pengobatan dan
lebih mungkin untuk membatalkan janji untuk perawatan gigi.
2. Tingkat Kecemasan
Menurut Stuart (2001), mengidentifikasi kecemasan dalam empat
tingkatan dan menggambarkan efek dari tiap tingkatan. Setiap tindakan memiliki
7

karakteristik lahan persepsi yang berbeda tergantung pada kemampuan individu
dalam menerima informasi/ pengetahuan mengenai kondisi yang ada dari dalam
dirinya maupun dari lingkungannya.
Tingkat kecemasan menurut Peplau (1963) yang dikutip oleh Stuart (2001)
itu dapat dibagi menjadi empat meliputi :
1) Cemas Ringan
Cemas ringan merupakan cemas yang normal yang berhubungan dengan
ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi
waspada dan meningkatkan lahan persepsinya, seperti melihat, mendengar dan
gerakan menggenggam lebih kuat. Kecemasan tingkat ini dapat memotivasi
belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2) Cemas Sedang
Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal
yang penting dan mengesampingkan hal yang lain, sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
Kecemasan ini mempersempit lapang presepsi individu, seperti penglihatan,
pendengaran, dan gerakan menggenggam berkurang.

3) Cemas Berat
Cemas berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak
dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
8

ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada suatu area lain.
4) Panik
Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian
terpecah dari proporsinya. Individu yang mengalami panik tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan hal itu dikarenakan individu
tersebut mengalami kehilangan kendali, terjadi peningkatan aktivitas motorik,
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Panik melibatkan
disorganisasi kepribadian. Individu yang mengalami panik juga tidak dapat
berkomunikasi secara efektif. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan
kehidupan, dan jika berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama, dapat
terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian.
3. Tanda dan Gejala Kecemasan Dental
Gejala klinis kecemasan antara lain :
1) Kecemasan Ringan
Respon fisiologis kecemasan tingkat ringan meliputi ketegangan otot
ringan, sesekali nafas pendek, gekala ringan pada lambung, muka berkerut dan
bibir bergetar. Respon kognitif meliputi lapang pandang meluas, mampu
menerima rangsang yang kompleks, konsentrasi pada masalah, dan penyelesaian
masalah secara efektif. Respon perilaku dan emosi meliputi tidak dapat duduk
dengan tenang, tremor halus pada tangan, sedikit tidak sabar.
9

2) Kecemasan Sedang
Respon fisiologis pada kecemasan tingkat sedang ketegangan otot
sedang, meliputi nafas pendek, frekuensi cepat, nadi cepat, tekanan darah naik,
mulut kering, anoreksia, sering berkemih, mulai berkeringat dan gelisah. Respon
konitif meliputi lapang pandang persepsi menyempit, rentang perhatian menurun,
pembelajaran erjadi dengan memfokuskan, penyelaian masalah menurun. Respon
perilaku dan emosi meliputi gerakan tersentak-sentak ( meremas tangan ), bicara
banyak dan cepat, susah tidur, mudah tersinggung, tidak sabar dan perasaan tidak
nyaman.
3) Kecemasan Berat
Respon fisiologis pada kecemasan tingkat berat meliputi ketegangan otot
berat, hiperventilasi, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat meningkat, sakit
kepala, penglihatan kabur, rahang menegang. Respon kognitif meliputi lapang
pandang persepsi terbatas, tidak mampu menyelesaikan masalah, sulit berfikir.
Respon perilaku dan emosi meliputi perasaan ancaman meningkat, bingung,
menarik diri, penyangkalan.
4) Panik
Respon fisiologis pada kecemasan tingkat panik meliputi tanda-tanda
vital meningkat kemudian meurun, rasa tercekik, pupil dilatasi, sakit dada, pucat,
mulut ternganga. Respon kognitif meliputi lahan persepsi sempit dan tidak
berfikiran logis, fokus pada pikiran sendiri, tidak rasional. Respon perilaku dan
10

emosi meliputi mengamuk, marah, ketakutan, berteriak-teriak, kehilangan kontrol
diri.
Kecemasan dapat didefinisikan sebagai kondisi emosional yang tidak
menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subyektif seperti
ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem
saraf pusat. Pada umumnya para ahli membagi kecemasan menjadi dua tingkat,
yaitu tingkat psikologis dan tingkat fisiologis:
a. Tingkat psikologis, yaitu kecemasan yang berwujud gejala kejiwaan
seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak
menentu, gelisah, gugup, dan sebagainya.
b. Tingkat fisiologis, yaitu kecemasan yang sudah mempengaruhi atau
terwujud pada gejala fisik, terutama pada fungsi system syaraf pusat.
Misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, keluar keringat dingin
berlebihan, sering gemetar, perut mual, pusing, dan sebagainya.
Menurut kamus kedokteran Dorland, tanda dan gejala dari kecemasan
terdiri dari penyerta fisiologis dan penyerta psikologis. Penyerta fisiologis
mencakup denyut jantung bertambah cepat, kecepatan pernapasan tidak teratur,
berkeringat, gemetar, lemas dan lelah. Penyerta psikologis meliputi perasaan-
perasaan akan ada bahaya, tidak berdaya, terancam, dan takut.
Tanda dan gejala kecemasan yang ditunjukkan atau dikemukakan oleh
seseorang bervariasi, tergantung dari beratnya atau tingkatan yang dirasakan oleh
individu tersebut (Hawari, 2004).
11

Menurut Stuart (2001) pada orang yang cemas akan muncul beberapa
respon yang meliputi :
(1) Respon fisiologis diantaranya:
(a) Kardiovaskular : palpitasi, tekanan darah meningkat, tekanan darah
menurun, dan denyut nadi menurun
(b) Pernafasan : nafas cepat dan pendek, nafas dangkal dan terengah-
engah
(c) Gastrointestinal : nafsu makan menurun, tidak nyaman pada perut,
mual dan diare
(d) Neuromuskular : tremor, gugup, gelisah, insomnia dan pusing
(e) Traktus urinarius : sering berkemih
(f) Kulit : keringat dingin, gatal, dan wajah kemerahan
(2) Respon perilaku: respon perilaku yang muncul adalah gelisah, tremor,
ketegangan fisik, reaksi terkejut, gugup, bicara cepat, menghindar, kurang
kooordinasi, menarik diri dari hubungan interpersonal dan melarikan diri dari
masalah;
(3) Respon kognitif: respon kognitif yang muncul adalah kesadaran diri
meningkat, tidak mampu berkonsentrasi, tidak mampu mengambil keputusan, ,
bingung, takut, kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual dan takut cedera
atau kematian
12

(4) Respon afektif: respon afektif yang sering muncul adalah mudah terganggu,
tidak sabar, gelisah, tegang, ketakutan, waspada, gugup, mati rasa, rasa bersalah
dan malu.
4. Faktor Penyebab Kecemasan Dental
Kecemasan dental merupakan fenomena yang kompleks multi dimensi,
dan tidak ada satu pun variabel eksklusif yang dapat menjelaskan
perkembangannya. Dalam literatur, beberapa faktor yang secara konsisten dapat
dikaitkan dengan timbulnya kecemasan dental, antara lain :
a. Faktor pengalaman traumatik
Kecemasan yang dialami oleh pasien pada umumnya disebabkan oleh
sesuatu hal yang dialami pasien dari pengalaman traumatik pribadi sebelumnya.
Pengalaman traumatik pada waktu masih kecil atau masa remaja dapat menjadi
penyebab utama rasa takut dan cemas pada orang dewasa. Bahkan sejumlah besar
masyarakat berpendapat bahwa tingkah laku karakteristik pribadi dokter gigi atau
orang-orang yang terlibat dalam pengobatan gigi tersebut dapat menjadi salah satu
faktor yang menimbulkan rasa takut dan cemas dalam diri mereka. Ini berarti,
para dokter gigi atau perawat yang berkerja dalam perawatan gigi tersebut
memainkan suatu peranan yang penting juga, oleh karena nantinya mempengaruhi
bagaimana sikap dan tingkah laku pasien terhadap dokter gigi.
b. Faktor sosial ekonomi
13

Beberapa pengamatan dan penelitian telah menunjukkan bahwa
masyarakat yang status sosial ekonominya rendah cenderung untuk lebih takut
dan cemas terhadap perawatan gigi dibandingkan dengan masyarakat yang sosial
ekonominya menengah ke atas. Hal ini dikarenakan perawatan gigi tersebut
kurang umum bagi masyarakat yang status ekonominya rendah. Disamping itu,
masyarakat tersebut merasa bahwa biaya perawatan gigi sangat mahal padahal.
c. Faktor pendidikan
Kurangnya pendidikan khususnya pengetahuan mengenai perawatan gigi dapat
menyebabkan timbulnya rasa cemas pada perawatan gigi. Hal ini disebabkan
masyarakat yang pendidikannya rendah tersebut tidak mendapatkan informasi
yang cukup mengenai perawatan gigi sehingga mereka menganggap hal tersebut
adalah sesuatu yang menakutkan, dan tidak jarang pula terjadi, pasien datang ke
dokter gigi dengan keadaan gigi dan rasa sakit yang sudah begitu parah yang tentu
saja ini membutuhkan perawatan dan pengobatan yang ekstensif.
d. Faktor keluarga dan teman
Cerita-cerita dari anggota keluarga ataupun teman-teman lainnya tentang
ketakutan mereka terhadap dokter gigi, mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap pandangan seseorang terhadap dokter gigi. Jika orangtua ataupun
saudara dan teman lainnya menunjukkan ketakutan terhadap dokter gigi, maka
orang tersebut pun akan memiliki perasaan yang sama pula. Komentar negatif dan
perkiraan yang salah tentang perawatan gigi dapat menyebabkan rasa takut pada
orang desawa dan anak-anak.
14

e. Faktor fobia alat perawatan gigi
Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan pasien terhadap penggunaan
setiap alat yang terdapat di ruang perawatan sehingga pasien menjadi cemas
terhadap perawatan gigi. Perasaan ini dapat hilang apabila dokter gigi
menjelaskan kepada pasien penggunaan setiap alat tersebut.
4. Macam- macam kecemasan
Freud mengemukakan adanya tiga macam kecemasan yaitu :
a. Kecemasan realistis, dari ketiga kecemasan itu yang paling pokok adalah
kecemasan atau ketakutan realistis, atau takut akan bahaya-bahaya di
dunia luar; kedua kecemasan yang lain diasalkan dari kecemasan yang
realistis ini.
b. Kecemasan neurotis, adalah kecemasan kalau-kalau instink-instink tidak
dapat dikendalikan atau menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat
dihukum. Kecemasan ini sebenarnya mempunyai dasar di dalam realitas,
karena dunia sebagai mana diwakili oleh orang tua dan lain-lain orang
yang memegang kekuasaan itu menghukun anak yang melakukan tindakan
impulsif.
c. Kecemasan moral atau perasaan berdosa, adalah kecemasan kata hati.
Orang yang das ueber ichnya berkembang baik cendrung untuk merasa
dosa apabila dia melakukan aatau bahkan berpikir norma moral.
Kecemasan moral ini juga mempunyai dasar dalam realitas; karena di
masa yang lampau orang telah mendapatkan hukuman sebagai akibat dari
15

perubuatan yang melanggar kode moral, dan mungkin akan mendapat
hukuman lagi.
5. Dental Anxiety Scale (DAS)

Rasa cemas pada penelitian ini diukur menggunakan Corahs
Dental Anxiety Scale (DAS), merupakan skala yang menunjukkan 4 reaksi
yang berbeda dalam situasi atau prosedur yang ditemukan di klinik gigi.
Adapun keempat situasi yang digambarkan dalam skala pengukuran ini
adalah : 1) sebelum datang ke praktik dokter gigi; 2) saat menunggu
perawatan; 3) saat duduk di dental unit; dan 4) saat menjalani perawatan.
Setiap pilihan jawaban memiliki skor A = 1, B = 2, C = 3, D = 4, E = 5;
dengan pilihan A menunjukkan pasien tidak cemas dan pilihan E
menunjukkan tingkat maksimum dari kecemasan dental. Total skor dari
Norman Corah Scale yang paling rendah adalah 4 (tidak cemas) dan yang
paling tinggi adalah 20 (sangat cemas).
6. Visual Analogue Scale
Menurut Gould (1990), visual analogue scale (VAS) merupakan salah satu
metode yang paling sering digunakan untuk menilai kuantitas dan kualitas
rasa nyeri dari pasien. VAS adalah alat ukur untuk mengukur karakteristik
atau perilaku (dalam suatu rentang tertentu) yang sukar untuk diukur
secara langsung. Penggunaan VAS secara operasional biasanya erupa garis
horizontal dengan panjang 100mm, dimana pada tiap ujungnya terdapat
deskripsi berupa kata-kata. Pasien kemudian akan menandai garis tersebut
sesuai dengan persepsi yang dirasakan, dengan garis pendek yang tegak
16

lurus dengan garis tersebut. Skor VAS ditentukan dengan mengukur jarak
dalam milimeter dari awal garis ke garis tanda yang dibuat pasien.
VAS memiliki korelasi dengan pengukuran kecemasan yang telah diakui
seperti DAS (dental anxiety scale) dan STAI (state trait anxiety inventory)
dalam level kecemasan yang berubah-ubah. VAS adalah metode yang
sederhana dan cepat, yang berguna dalam penelitian farmakologi dimana
pasien mungkin dalam efek sedasi dan memilih kesulitan dalam menjawab
pertanyaan (Luyk dkk, 1988).
VAS dianjurkan sebagai self-report dalam pengukuran kecemasan yang
menilai perubahan level kecemasan yang berbeda dalam satu waktu (Luyk
dkk, 1988).

B. MUSIK
1. Pengertian Musik
Musik adalah produk pikiran. Menurut Parker, elemen fibrasi
(fisika dan kosmos) atas frekuensi, bentuk, amplitudo, dan durasi belum
17

menjadi musik bagi manusia sampai semua itu di transformasi secara
neurologis dan diinterpretasikan melalui otak menjadi : pitch, warna
suara, keras-lembut, dan waktu (dalam kerangka tonal). Transformasi
kedalam musik dan respon manusia (perilaku) adalah unik untuk dirasa
(kognisi) karena otak besar manusia berkembang dengan amat pesat
sebagai akibat pengalaman musikal sebelumnya.
Musik merupakan sebuah rangsangan pendengaran yang
terorganisir yang terdiri dari melodi, ritme, dan harmoni. Melodi
mempengaruhi tubuh, ritme atau irama mempengaruhi jiwa, sedangkan
harmoni mempengaruhi roh. Banyak dari proses kehidupan kita yang
berakar dari irama, sebagai contoh, irama detak jantung, pernafasan,
sampai berbagai aktivitas otak. Musik dalam bidang kedokteran
memiliki hubungan sejarah yang erat dan panjang. Sejak zaman Yunani
kuno musik digunakan sebagai sarana untuk meringankan penyakit dan
membantu pasien dalam mengatasi emosi yang menyakitkan seperti
kecemasan, kesedihan, dan kemarahan (Prasetyo dan Turana, 2004).
2. Jenis musik yang mempengaruhi kecemasan
Musik mengandung kombinasi enam elemen, yaitu pitch yang
membangun melodi dan harmoni, rhythm (berhubungan dengan konsep
tempo, meter, dan artikulasi), dinamik, struktur, dan kualitas sonic untuk
timbre dan tekstur. Karakteristik musik untuk perawatan adalah musik
non-dramatic, memiliki dinamik yang dapat diramalkan, nada yang
halus, harmonis, dan tidak memiliki lirik (Nilsson, 2007). Menurut
18

Aldridge (1993), respon manusia terhadap musik bervariasi menurut
volume, melodi, ryhthm, pitch, tergantung pada pendengarannya.
Diantara kempatnya, melodi adalah unsur yang paling berpengaruh.
Menurut Anonim (2007), jenis musik yang paling baik untuk
mengurangi stress atau menciptakan lingkungan yang santai adalah
pendengar yang menikmati jenis musik tersebut. Aliran yang ideal untuk
relaksasi dan meditasi adalah musik klasik. Salah satu jenis musik klasik
pada masa awal yang paling efektif dalam mengurangi stress adalah
musik pada periode musikal baroque. Beberapa komposer pada periode
baroque adalah Bach, Haydn, Corelli, Telemann, Vivaldi, dan Mozart.
Pada mesin EEG yang merekam aktivitas gelombang di otak,
orang yang mendengarkan musik klasik memiliki aktivitas gelombang
otak yang sama dengan orang yang mndapatkan meditasi. Pergerakan
yang perlahan-lahan pada komposisi Baroque, yaitu 60 ketukan per
menit, menunjukkan tempo yang membuat santai dan menghasilkan
level aktivitas gelombang otak alpha yang lebih tinggi. Hal ini serupa
pada saat seseorang menjalani deep relaxation, hypnosis, dan meditasi
(Anonim, 2007).
Tempo musik merupakan hal yang paling penting, yaitu sekitar 60-
80 ketukan per menit adalah tempo terbaik untuk menghasilkan relaksasi.
Aliran musik tidak berpengaruh terhadap efek yang dihasilkannya.
Pemilihan aliran musik dapat dibedakan berdasarkan kebangsaan dan
19

kebudayaannya. Volume yang dianjurkan adalah 60 dB untuk level
maksimal dengan durasi 20-60 menit (Nilsson, 2007).
3. Pengertian Musik Klasik
Musik klasik lahir sekitar tahun 500 Masehi sampai dengan abad
ke-21. Kata klasik sebenarnya berarti mempunyai nilai atau mutu
yang diakui secara luas, dan menjadi tolak ukur kesempurnaan yang
tertinggi. Namun demikian, sebagian orang menganggap musik yang
sulit dipahami adalah musik klasik. Musik klasik dikelompokkan
menurut zamannya, yaitu : Medieval, Renaissance, Baroque, Classical,
Romantic, dan Modern atau Contemporary (Grimonia, E., 2014).
Musik klasik merupakan sebuah musik yang dibuat dan
ditampilkan oleh orang yang terlatih secara profesional melalui
pendidikan musik. Musik klasik juga merupakan suatu tradisi dalam
menulis musik, yaitu ditulis dalam bentuk notasi musik dan dimainkan
sesuai dengan notasi yang ditulis. Musik klasik adalah musik yang
komposisinya lahir dari budaya Eropa dan digolongkan melalui
periodisasi tertentu (Anonim, 2008). Pada musik klasik, improvisasi
dilakukan dalam bentuk interpretasi. Improvisasi sering dilakukan pada
periode baraque, terutama oleh J.S Bach. Pemain dapat mengimprovisasi
chord maupun melodi (Kamien, 2004).
4. Cara Kerja Musik Klasik
Musik bersifat terapeutik artinya dapat menyembuhkan. Salah satu
alasannya karena musik menghasilkan rangsangan ritmis yang kemudian
20

ditangkap melalui organ pendengaran dan diolah di dalam sistem saraf
tubuh dan kelenjar pada otak yang selanjutnya mereorganisasi
interpretasi bunyi ke dalam ritme internal pendengarnya. Ritme internal
ini mempengaruhi metabolisme tubuh manusia sehingga prosesnya
berlangsung dengan lebih baik. Dengan metabolisme yang lebih baik,
tubuh akan mampu membangun sistem kekebalan yang lebih baik, dan
dengan sistem kekebalan yang lebih baik tubuh menjadi lebih tangguh
terhadap kemungkinan serangan penyakit (Satiadarma, 2002). Sebagian
besar perubahan fisiologis tersebut terjadi akibat aktivitas dua sistem
neuroendokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus yaitu sistem simpatis
dan sistem korteks adrenal (Prabowo & Regina, 2007).
Hipotalamus juga dinamakan pusat stres otak karena fungsi
gandanya dalam keadaan darurat. Fungsi pertamanya adalah
mengaktifkan cabang simpatis dan sistem saraf otonom. Hipotalamus
menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus di batang otak yang
mengendalikan fungsi sistem saraf otonom. Cabang simpatis dari sistem
saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk
menghasilkan beberapa perubahan tubuh seperti peningkatan denyut
jantung dan peningkatan tekanan darah. Sistem simpatis juga
menstimulasi medula adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin
(adrenalin) dan norepinefrin ke dalam pembuluh darah, sehingga
berdampak meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, dan
norepinefrin secara tidak langsung melalui aksinya pada kelenjar
21

hipofisis melepaskan gula dari hati. Ardenal Corticotropin Hormon
(ACTH) menstimulasi lapisan luar kelenjar adrenal (korteks adrenal)
yang menyebabkan pelepasan hormon (salah satu yang utama adalah
kortisol) yang meregulasi kadar glukosa dan mineral tertentu (Atkinson
cit Primadita, 2011).
Salah satu manfaat musik sebagai terapi adalah self-mastery yaitu
kemampuan untuk mengendalikan diri. Musik mengandung vibrasi
energi, vibrasi ini juga mengaktifkan sel-sel di dalam diri seseorang,
sehingga dengan aktifnya sel-sel tersebut sistem kekebalan tubuh
seseorang lebih berpeluang untuk aktif dan meningkat fungsinya. Selain
itu, musik dapat meningkatkan serotonin dan pertumbuhan hormon yang
sama baiknya dengan menurunkan hormon ACTH (Satiadarma, 2002).
Pemberian intervensi terapi musik klasik membuat seseorang menjadi
rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira
dan sedih, melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stres, sehingga
dapat menyebabkan penurunan kecemasan (Musbikin, 2009). Hal
tersebut terjadi karena adanya penurunan Ardenal Corticotropin Hormon
(ACTH) yang merupakan hormon stres (Djohan, 2009).
Musik dapat memberikan kenyamanan dan relaksasi yang
merupakan salah satu cara menurunkan kecemasan psikologis dan
prilaku individual yang menunggu perawatan ataupun yang sedang
dalam perawatan. Pada saat musik diperdengarkan, musik mampu
merangsang pengeluaran gamma amino butric acid (GABA), enkephalin,
22

beta endorphin. Zat-zat tersebut dapat menimbulkan efek analgesik
sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan pasien.
Musik sebagai gelombang suara dapat meningkatkan suatu
respon seperti peningkatan endorphin yang dapat mempengaruhi suasana
hati dan dapat menurunkan kecemasan pasien. musik memiliki sifat yang
universal dan sangat mudah diterima oleh organ pendengaran dan tidak
dibatasi pula oleh fungsi intelektual. Maka itu musik sangat mudah
digunakan untuk mengalihkan perhatian pasien dari hal yang dianggap
asing dalam praktek kedokteran gigi.
Kita semua memiliki musik favorit dan terpukau akan efek yang
ditimbulkannya. Beberapa jenis musik dan efek yang ditimbulkan antara
lain : lagu-lagu gregorian, menggunakan ritme pernafasan alamiah untuk
menciptakan perasan lapang dan santai; jazz, blues, dixieland, soul,
calypso, raggea dan jenis musik dansa lain memberi ilham yang
membawa pada kecerdasan sekaligus melepaskan rasa gembira maupun
sedih yang mendalam; musik rock dari Elvis Presley, Rolling Stone, dan
Michael Jackson dapat menggugah nafsu, merangsang gerakan aktif,
melepas ketegangan dan menutupi rasa sakit; musik klasik memiliki
kejernihan keanggunan, dan kebeningan, musik ini mampu memperbaiki
konsentrasi, ingatan dan persepsi; musik romantik menekankan ekspresi
dan perasaan, seringkali memunculkan tema-tema individualisme,
nasionalisme, atau mistime, musik semacam ini paling baik digunakan
untuk meningkatkan simpati, rasa sependeritaan, dan kasih sayang;
23

musik heavy, metal, punk, rap, hip hop, dan grunge dapat menggugah
system saraf, menjurus pada perilaku dinamis maupun pengungkapan
diri (Cambpbell, 2001).
5. Tata Cara Pemberian Terapi Musik
Seringkali dianjurkan memilih musik relaksasi dengan tempo
sekitar 60 ketukan/menit, sehingga didapatkan keadaan istirahat yang
optimal. Musik klasik sering menjadi acuan karena berirama tenang dan
mengalun lembut. Pemilihan musik klasik lebih didasarkan pada
kenyataan banyak ahli bahwa irama dan tempo kebanyakan musik klasik
mengikuti kecepatan detak jantung manusia yaitu sekitar 60 detik/menit
(Turana dan Yuanitasari).
Belum ada rekomendasi mengenai durasi yang optimal dalam
pemberian terapi musik. Seringkali durasi yang diberikan dalam
pemberian terapi musik adalah selama 20-35 menit, tetapi untuk masalah
kesehatan yang lebih spesifik terapi musik diberikan dengan durasi 30
sampai 45 menit. Ketika mendengarkan terapi musik klien berbaring
dengan posisi yang nyaman (Schou, 2007).
6. Manfaat musik
a) Musik menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan
Tempat praktek dokter gigi, misalnya, bunyi yang bergema di rahang
dan tulang-belulang lain menciptakan rasa yang luar biasa. Musik Barok
yang tenang dapat menutupi atau bahkan menetralisir bunyi-bunyi tajam
24

bor dokter gigi. ( Musik populer yang sering kita dengar di ruang tunggu
dokter gigi tidak dengan sendirinya menenangkan apabila duduk di kursi
dan menunggu bor tersebut bekerja).
Para dokter gigi semakin menyadari efek-efek nada terhadap
konduksi tulang dan terhadap kekuatan nada untuk menghilangkan
kegaduhan yang ditimbulkan oleh bunyi-bunyi keras serta getaran-
getaran peralatan mereka (Campbell, D., 2001).
b) Musik dapat memperlambat dan menyeimbangkan gelombang otak
Gelombang otak dapat dimodifikasi baik oleh suara musik
maupun suara yang ditimbulkan sendiri. Kesadaran biasa terdiri atas
gelombang beta, yang bergetar dari 14 hingga 20 hertz. Gelombang beta
terjadi apabila kita memusatkan perhatian pada kegiatan sehari-hari di
dunia luar, maupun apabila kita mengalami perasaan negatif yang
kuat.ketenangan dan kesadaran yang meningkat dicirikan oleh
gelombang ala, yang durnya mulai 8 hingga 13 hertz. Gelombang theta,
dari 4 hingga 7 hertz, dan tidur nyenyak meditasi yang dalam, serta
keadaan tak sadar menghasilkan gelombang delta, yang berkisar dari 0,5
hingga 3 hertz. Semakin lambat gelombang otak, semakin santai, puas,
dan damailah perasaan kita (Campbell, D., 2001).
c) Musik mempengaruhi pernafasan
Pernafasan bersifat ritmis. Laju pernafasan yang lebih dalam atau
lebih lambat sangat baik, menimbulkan ketenangan, kendasi emosi,
25

pemikiran yang lebih dalam, dan metabolisme yang lebih baik.
Pernafasan dangkal dan cepat dapat membawa kita ke pemikiran yang
superficial dan terpecah-pecah, dan kecenduruan untuk membuat
kesalahan. Dengan memperlambat tempomusik atau dengan
mendengarkan musik yang bunyinya lebih panjang dan lebih lambat,
orang mampu memperdalam dan memperlambat pernafasan, sehingga
memungkinkan pikiran menjadi tenang (Campbell, D., 2001).
d) Musik mempengaruhi denyut jantung
Denyut jantung menanggapi variabel-variabel musik seperti
frekuensi, tempo, dan volume dan cenderung lebih cepat atau menjadi
lebih lambat guna menyamai ritme suatu bunyi. Semakin cepat
musiknya, semakin cepat detak jantung, semakin lambat musiknya,
semakin lambat detak jantung. Sama dengan laju pernafsan, detak
jantung yang lebih lambatmenciptakan tingkat stres dn ketegangan fisik
yang lebih rendah, menenangkan pikiran, dan membantu tubuh untk
menyembuhkan dirinya sendiri. Musik merupakan alat pacu ilmiah
(Campbell, D., 2001).
C. ODONTEKTOMI
1. Pengertian Odontektomi
Istilah odontektomi digunakan dalam tindakan operasi untuk
mengeluarkan gigi impaksi(terpendam). Gigi impaksi adalah gigi yang
jalan erupsi normalnya terhalang.Odontektomi atau surgical extraction
adalah metode pengambilan gigi dari soketnya setelah
26

pembuatan flap danmengurangi sebagian tulang yang mengelilingi gigi
tersebut (Fragiskos ,2007).
Evol us i dengan t er j adi nya pengur angan pada ukur an r aha
ng pada manus i a moder ndirefleksikan dengan diet makanan
yang relatif lunak. Dengan terjadinya pengurangan dimensi
rahang menyebabkan kurangnya ruangan pada lengkung rahang
untuk molar 3 mandibula yangmerupakan gigi yang paling sering
mengalami impaksi pada seluruh gigi yang ada pada rahangmanusia.
Waktu erupsi molar 3 mandibula sering tidak dapat diprediksi dan sering
berubah-ubah.(Dimitroulis, 1997). Gigi impaksi dapat
didefinisikan juga sebagai suatu keadaan dimana gigi yang
dalam pertumbuhannya terhalang oleh gigi atau tulang sekitarnya baik sec
ara keseluruhan atau sebagian. Impaksi diperkirakan secara klinis apabila
gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir bisa dipastikan apabila gigi
yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi. (Pedersen, 1996). Jika gigi
molar tiga tidak erupsi seluruhnya dan terletak di bawah gingiva,
molar tiga tersebut biasanya dibiarkan saja, tetapi bila sebagian
melewati permukaan dapat menyebabkan infeksi yang dapat masuk
ke gingiva (pericoronitis) dan juga molar tiga tersebut dapat rusak
ataumenyebabkan kerusakan pada gigi molar dua. Hal ini adalah salah satu
alasan untuk mengambilgigi impaksi tersebut. Komplikasi yang lebih
parah dapat berupa flegmon dasar mulut.
2. Indikasi dan Kontraindikasi
27

Sebelum melakukan pembedahan terlebih dahulu harus
mengetahui indikasi dan kontraindikasi dari pengambilan molar tiga
impaksi rahang bawah.
Indikasinya adalah:
a) Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal
(perikoronitis)
b) Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis
(kista odontogenik dan neoplasma)
c) Usia muda, sesudah akar gigi terbentuk sepertiga
sampai dua pertiga bagian dan sebelum pasien mencapai
usia 18 tahun
d) Penyimpangan panjang lengkung rahang dan untuk
membantu mempertahankan stabilitashasil perawatan
ortodonsi
e) Prostetik atau restoratif (diperlukan untuk mencapai jalan
masuk ke tepi gingival distal dari molar dua didekatnya)
f) Apabila molar kedua dicabut dan emungkinan erupsi normal
atau berfungsinya molar ketiga impaksi sangat kecil
Kontraindikasi :
a) Pasien tidak menghendaki giginya dicabut
b) Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dentin dan
apabila tulang yang menutupinya terlalu banyak (pencabutan
prematur)
28

c) Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktur penting
disekitarnya atau kerusakan pendukung tulang luas
d) Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan
terganggu oleh kondisi fisik atau mental tertentu (Pedersen, 1996).
3. Prosedur Odontektomi
Prosedur odontektomi yang umumnya dilakukan pada pencabutan wisdom
tooth rahang bawah sebagai berikut: (Nurul Fadilah Rery, dkk., 2010)
a.Anestesi
Anestesi yang digunakan dapat berupa anestesi lokal (pada pasien yang
memiliki keadaan umum baik atau normal dan keadaan mental yang baik) atau
anestesi umum (pada pasien yang gelisah).
b. Teknik operasi
1) Membuat insisi untuk pembuatan flap
- Harus membuka daerah operasi dengan jelas
- Insisi terletak pada jaringan yang sehat
- Mempunyai basis yang cukup lebar, sehingga pengaliran darah ke flap
cukup baik.
2) Pengambilan tulang yang menghalangi gigi
3) Pengambilan gigi
Pengambilan gigi dapat dilakukan secara :
- Intoto (utuh)
Tulang yang mengelilingi gigi diambil secukupnya, sehingga
didapatkan cukup ruangan untuk dapat meletakkan elevator di bawah
29

korona. Kemudian dengan elevator tersebut dilakukan gerakan
mengungkit gigi tersebut.
- In separasi (terpisah)
Pada metode ini, pengambilan gigi impaksi dilakukan dengan
membuang sedikit tulang. Gigi yang impaksi tersebut diambil dengan
cara diambil sebagian-sebagian (dibelah terlebih dahulu).
4) Pembersihan luka
Setelah gigi dikeluarkan, socket harus benar-benar dibersihkan dari sisa-
sisa tulang bekas pengeboran. Folikel dan sisa enamel organ harus dibersihkan
atau diirigasi dengan air garam fisiologis 0,9% karena jika masih tertinggal dapat
menyebabkan kista residual.
5) Flap dikembalikan pada tempatnya dan dijahit.
6). Edukasi Pasien
Setelah operasi wisdom tooth rahang bawah, pasien akan mengalami
pembengkakan 3-4 hari yang merupakan reaksi normal dari tubuh untuk
penyembuhan. Pasien tidak perlu khawatir karena pembengkakan yang tidak
disertai demam bukan merupakan gejala infeksi dan pembengkakan ini akan
hilang tanpa meninggalkan bekas. (drg. Djoko Micni, SpBM, FICOI dan drg.
Yeanne Rosseno,2010). Pasien yang menjalani operasi gigi geraham bungsu
cukup mendapat antibiotika, analgetik atau penahan sakit dan obat anti inflamasi
atau anti radang. Selama pembengkakan, pasien dapat makan (lunak), beraktivitas
sehari-hari seperti sekolah atau bekerja. Setelah satu minggu benang jahitan dapat
30

dibuka dan obat sudah dapat dihentikan. (drg. Djoko Micni, SpBM, FICOI dan
drg. Yeanne Rosseno, 2010).
Dengan demikian pencabutan wisdom tooth rahang bawah merupakan
tindakan yang bijaksana untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk dan
kekhawatiran akan efek operasi tidak akan terjadi sebab dilakukan pada usia yang
tepat. (drg. Djoko Micni, SpBM, FICOI dan drg. Yeanne Rosseno, 2010).
4. Faktor Penyulit tindakan odontektomi
a) Bentuk anatomi misalnya akar terpisah atau mengalami fusi.
b) Gigi ankylosis dan Hipersementosis
c) Kedekatan gigi impaksi dengan kanalis mandibularis.
d) Gigi yang terletak pada zona yang dalam.
e) Ketebalan tulang yang ekstrim, khususnya pada pasien usia tua.
f) Follicular space terisi dengan tulang,paling sering pada pasien diatas usia
25 tahun.
g) Ankylosis antara gigi dan tulang yang mana memerlukan pengambilan
keseluruhan tulang disekeliling mahkota gigi sebelum gigi tersebut dapat
di luksasi, atau dipotong-potong menjadi beberapa bagian dengan bur.

h) Akses yang sulit ke daerah operasi oleh karena :
Orbicularis oris yang kecil.
Ketidakmampuan pasien membuka mulut lebar.
Lidah yang besar dan tidak terkontrol gerakannya.
Penderita sensitif terhadap benda asing di dalam rongga mulut.
31

Usia penderita, semakin lanjut usia akan semakin sukar
pembedahannya dan semakin beresiko terjadi infeksi pascaoperasi
(Coen, 2006).
5. Komplikasi Odontektomi pada saat pembedahan
a) Perdarahan
b) Tertekan / putusnya n.alv.inf.
c) Fraktura : akar, proc.alv.lingual, tulang rhg bagian lingual, mandibula
terutama daerah angulus.
d) Trauma pd gigi terdekat rusak, goyang, sampai tercabut.
e) Rusaknya tumpatan atau mahkota pada gigi molar kedua di samping
molar ketiga yang dilakukan odontektomi.
f) Masuknya gigi / sisa akar gigi ke dalam submand. Space, kanalis
mandibularis atau spasia regio lingual.
g) Alergi pada obat-obatan yang diberikan : antibiotika, analgetika maupun
anaestesi lokal.
h) Syok anafilaktik.
i) Patahnya instrument

6. Komplikasi Odontektomi pasca pembedahan
a) Rasa sakit atau pernah mengalami rasa sakit di regio gigi molar ketiga
impaksi.
b) Pembengkakan.
c) Dry socket (alv. Osteitis).
32

d) Infeksi pada jaringan lunak maupun tulang.
e) Memar jaringan lunak ekstraoral dan dapat meluas sampai ke regio leher
dan dada di regio odontektomi atau bilateral.
f) Trismus.
g) Fraktur rahang.
h) Emphysema.
i) Parestesi.
j) Aspirasi.
k) Luka di daerah sudut bibir.
D. Hubungan musik mempengaruhi kecemasan saat
tindakan odontektomi
Prosedur bedah mulut minor odontektomi merupakan keadaan yang
dapat membuat pasien stress baik sebelum, selama dan sesudah tindakan. (Blinder
et al, 2001). Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, Salah satu
penyebab kecemasan yang sering terjadi dalam tindakan bedah mulut adalah
karena bunyi bur yang sangat memilukan dan rasa nyeri atau pengalaman yang
tidak menyenangkan pada perawatan sebelumnya. Bila kecemasan pasien tidak
dapat teratasi maka akan menjadi hambatan bagi dokter gigi dalam melakukan
tindakan pembedahan. Sedangkan musik sebagai gelombang suara dapat
meningkatkan suatu respon seperti peningkatan endorphin yang dapat
mempengaruhi suasana hati dan dapat menurunkan kecemasan pasien. Aliran
yang ideal untuk relaksasi dan meditasi adalah musik klasik.Jenis musik yang
paling baik untuk mengurangi stress atau menciptakan lingkungan yang santai
33

adalah pendengar yang menikmati jenis musik tersebut. Maka itu musik sangat
mudah digunakan untuk mengalihkan perhatian pasien dalam praktek kedokteran
gigi (Djohan, 2009).






KERANGKA TEORI








Diteruskan melalui malleus



Pasien
Odontektomi
Kecemasan
Dental
Faktor penyebab
kecemasan
Dental
Tanda
Psikologis
Tegang
Bingung
Khawatir
Sukar
berkonsentrasi
Perasaan tidak
menentu
Gelisah
Tanda Fisiologis
Denyut nadi
meningkat
Peningkatan
laju pernafasan
Berdebar- debar
Ketegangan
otot
Musik Klasik Meatus
akustikus
eksternus
Membran
timpani
bergetar
Inkus dan
Stapes
Efek analgesia
34



Getaran diteruskan
merangsang


Nervus auditorius



KERANGKA KONSEP












Tindakan
Odontektomi
Terapi Musik
Klasik
Penurunan
kecemasan pada
saat tindakan
odontektomi
Penurunan
reseptor GABA
Organ
cortii
dalam
koklea
Sistim Saraf
Otak
Sistim Limbik
Pengeluaran
GABA
35











HIPOTESA

Terdapat pengaruh pemberian terapi musik klasik mozart dalam
mengurangi rasa cemas pada pasien yang akan dilakukan tindakan
odontektomi.