Anda di halaman 1dari 19

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 1

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum W.R. W.B.
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelasaikan tugas
makalah tentang Termokopel guna memenuhi tugas mata kuliah Fisika II.
Perubahan suhu yang terjadi merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan dalam
mempelajari berbagai fenomena yang sedang dipelajari. Selain dalam proses pembelajaran,
perubahan suhu juga kerap kali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
keinginan, bantuan dari teman-teman, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-
kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui secara mendalam tentang alat
pengukur suhu, terutama Termokopel. Makalah yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada mahasiswa Universitas Brawijaya, khususnya Jurusan Teknik Industri. Saya
sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,
kepada dosen mata kuliah Fisika II, saya meminta masukannya demi perbaikan dan
pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca.
Wassalamualaikum W.R.W.B.


Malang, 28 Maret 2014


Penyusun



FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......1
DAFTAR ISI.........2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....3
1.2 Tujuan Penulisan.3
1.3 Rumusan Masalah...3
BAB II ISI
2.1 Mikrometer.4
2.1.1 Jenis-Jenis Mikrometer..4
2.2 Mikrometer Sekrup.6
2.2.1 Bagian Penyusun Mikrometer Sekrup...6
2.2.2 Skala Dalam Mikrometer Sekrup..8
2.2.3 Prinsip Kerja Mikrometer Sekrup.....8
2.2.4 Cara Penggunaan Mikrometer Sekrup...9
2.2.5 Cara Membaca Mikrometer Sekrup...9
BAB III KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan...11
DAFTAR PUSTAKA..12












FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari yang namanya perubahan suhu,
dimulai dari yang ada dari diri kita sendiri seperti suhu tubuh, suhu suatu benda, sampai pada
sesuatu yang berada di luar diri kita, seperti yang ada di lingkungan kita. Dalam jenjang
perguruan tinggi, seorang mahasiswa diharapkan tidak hanya mengikuti perkuliahan dengan
baik, namun lebih dari itu juga dituntut untuk dapat mengaplikasikan alat-alat pengukuran
suhu, sehingga nantinya akan menghasilkan sarjana-sarjana yang berkualitas dan mampu
mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata dan bermanfaat bagi masyarakat, sesuai dengan
Tri Darma Mahasiswa.
Mengukur perubahan suhu dalam bidang teknik khususnya Teknik Industri, merupakan hal
yang sangat penting dan benar-benar harus dikuasai secara teori dan praktek. Dengan latar
belakang itulah, maka kami mahasiswa teknik industri semester II diberi tugas membuat
makalah mata kuliah Fisika II.

1.2 TUJUAN PENULISAN
1. Memahami definisi mengenai perubahan suhu.
2. Dapat mengetahui dan mamahami fungsi dari bagian-bagian Termokopel.
3. Manunjang pemahaman materi kuliah yang disampaikan dosen.
4. Mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam menggunakan alat
Termokopel.

1.3 RUMUAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud Termokopel?
2. Apa saja bagian peyusun Termokopel?
3. Mengetahui fungsi termokopel
4. Bagaimana cara kerja Termokopel?
5. Dimana saja pengaplikasian termokopel di dunia industri?
6. Apa saja kaitan elektronika dalam dunia industri?

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN TEKNIK INDUSTRI
Teknik Industri merupakan suatu disiplin ilmu gabungan dari ilmu keteknikan dan ilmu
manajemen yang mempelajari tentang perancangan, penginstalan, dan perbaikan serta
pengembangan suatu sistem yang integral yang terdiri dari manusia, material, peralatan,
energi, dan informasi agar tercapai prosedur operasi/kerja sistem yang efektif dan efisien. Jadi
dapat dikatakan pula Teknik Industri merupakan ilmu yang menjembatani antara ilmu
keteknikan dan ilmu sosial.
Teknik Industri merupakan gabungan dari ilmu matematika, fisika, pengetahuan teknik dan
aktivitas bisnis seperti system pemasaran, keuangan, pengembangan sumber daya manusia dan
lain-lain, yang fundamental dengan prinsip-prinsip dan metode-metode dari desain dan
analisis keteknikan.
Meskipun merupakan gabungan dari beberapa disiplin ilmu, tetapi Teknik Industri tetap
berakar pada keilmuan teknik yaitu proses perancangan (design). Obyek yang dirancang dalam
Teknik Industri adalah sebuah sistem, bukan sesuatu yang konkret seperti jembatan, gedung,
pesawat terbang, atau yang lain. Pada dasarnya, ilmu Teknik Industri dapat dibagi ke dalam
tiga bidang keahlian, yaitu :
1. Sistem Manufaktur. Bidang ini memanfaatkan pendekatan Teknik Industri untuk
peningkatan kualitas, produktivitas, dan efisiensi sistem integral (manusia, mesin,
material, energi, dan informasi) melalui proses perancangan, perencanaan,
pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga
keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya.
2. Bidang keahlian Manajemen Industri. Bidang ini cenderung bergerak ke arah
persoalan-persoalan yang bersifat makro dan strategis. Persoalan yang dihadapi
seringkali sudah tidak ada lagi bersangkut-paut dengan problem yang timbul di lini
produksi (sistem produksi) ataupun manajemen produksi/industri; melainkan sudah
beranjak ke persoalan diluar dinding-dinding pabrik.

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 5

3. Bidang keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi. Bidang ini memanfaatkan
pendekatan Teknik Industri untuk meningkatkan daya saing sistem integral (tenaga
kerja, bahan baku, energi, informasi, teknologi, dan infrastruktur) yang berinteraksi
dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah.
Dalam Sistem Manufaktur salah satunya yaitu melalui proses sistem Produksi. Untuk
menghasilkan produk yang di inginkan, terutama dalam memproduksi material yang berasal
dari besi dan baja biasanya sering digunakan alat termometer yang berjenis termokopel.

2.2 TERMOKOPEL
2.2.1 Pengertian


Gambar 2.1 Termokopel
Sumber: Tri Noviatun (2012)

Berasal dari kata Thermo yang berarti energi panas dan Coupleyang berarti pertemuan
dari dua buah benda. Termokopel adalah transduser aktif suhu yang tersusun dari dua buah
logam berbeda dengan titik pembacaan pada pertemuan kedua logam dan titik yang lain
sebagai outputnya.

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 6

Termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu
dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dapat
dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur temperatur
dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 C.
Termokopel terdiri atas dua buah logam yang berbeda (tingkat kepadatan elektron berbeda)
yang salah satu ujungnya digabung menjadi satu, disebut sebagai hot junction yang terhubung
langsung ke object yang ingin diukur suhunya. Kemudian pada salah satu ujung lain terdapat
cold junction sebagai suhu referensi dari termokopel.


Gambar 2.2 Komponen Termokopel
Sumber: Suswanto (2013)


FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 7

2.2.2 Sejarah Termokopel

Gambar Thomas Johann Seebeck
Sumber: Wikipedia

Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck menemukan
bahwa sebuah konduktor (semacam logam) yang diberi perbedaan panas secara gradien akan
menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Untuk mengukur
perubahan panas ini, gabungan dua macam konduktor sekaligus sering dipakai pada ujung
benda panas yang diukur. Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu,
dan mengalami perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda.
Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan
yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan
pengukuran, yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1
hingga 70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam
modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya,
ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting
diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur
absolut.
Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan yang dingin) dijaga sebagai
temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. Termokopel
dapat dihubungkan secara seri satu sama lain untuk membuat termopile, dimana tiap
sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua sambungan dingin ke
suhu yang lebih rendah.

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 8

Dengan begitu, tegangan pada setiap termokopel menjadi naik, yang memungkinkan untuk
digunakan pada tegangan yang lebih tinggi. Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan
dingin, yang berguna untuk pengukuran di laboratorium, secara sederhana termokopel tidak
mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol.
Di sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin yang diketahui dapat disimulasikan,
dan koreksi yang baik dapat diaplikasikan. Hal ini dikenal dengan kompensasi hubungan
dingin. Biasanya termokopel dihubungkan dengan alat indikasi oleh kawat yang disebut kabel
ekstensi atau kompensasi. Tujuannya sudah jelas. Kabel ekstensi menggunakan kawat-kawat
dengan jumlah yang sama dengan kondoktur yang dipakai pada Termokopel itu sendiri.

2.2.3 Fungsi Termokopel
Termokopel merupakan salah satu sensor suhu yang banyak digunakan di industri, karena
mempunyai beberapa kelebihan yaitu :
1. Tahan terhadap efek getaran
2. Waktu respon pendek
3. Ukurannya kecil dan harganya murah
4. Tidak memiliki efek self-heating

Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas, hingga
1800 K. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus
diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0-100 C dengan keakuratan
0.1 C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok. Contoh penggunaan termokopel
yang umum antara lain :
a. Industri besi dan baja
b. Pengaman pada alat-alat pemanas
c. Untuk termopile sensor radiasi
d. Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi termopile.




FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 9

Efek Seebeck
Termokopel bekerja berdasarkan efek Seebeck, mengubah antara suhu sambungan acuan
(reference junction) dengan suhu sambungan ukur (measuring junction) menjadi tegangan
listrik. Hubungan antara harga tegangan yang terkoreksiV
(tl,0)
harga tegangan sambungan
acuan V
(ref,0)
dan harga tegangan pada tabel standar kalibrasi V
(tl,ref)
adalah :

V
(tl,0)
=V
(tl,ref)
+V
(ref,0)


Efek Seebeck timbul karena kerapatan muatan pembawa (electron dalam logam) suatu
penghantar berbeda dengan penghantar lain dan bergantung pada temperatur. Bila dua jenis
penghantar dihubungkan sehingga membentuk dua sambungan dan kedua sambungan itu
dipertahankan pada temperatur yang berbeda, maka difusi pembawa muatan yang terjadi pada
sambungan itu mempunyai laju yang berbeda. Pada benda itu akan terjadi gerak neto dari
pembawa muatan, seolah-olah pembawa muatan digerakkan oleh medan nonelektrik. Integral
medan ini, pada lintasan tertutup sepanjang termokopel, menghasilkan elektromotansi
Seebeck.

2.2.4 Prinsip Kerja Termokopel
Prinsip kerja dari termokopel adalah, adanya perbedaan panas secara gradien akan
menghasilkan tegangan listrik, hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Untuk mengukur
perubahan panas ini gabungan dua macam konduktor sekaligus sering dipakai pada ujung
benda panas yang diukur. Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu,
dan mengalami perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda.
Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan
yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan
pengukuran, yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1
hingga 70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam
modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya,
ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting
diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur
absolut.

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 10

2.2.5 Cara Menggunakan

Gambar Cara Kerja Termkopel
Sumber: Ahmadi RafeI (2011)

Termokopel merupakan salah satu aplikasi dari prinsip termodinamika, dimana termokopel
ini sering digunakan pada: Industri besi dan baja, Pengaman pada alat-alat pemanas, Untuk
termopile sensor radiasi, Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi
termopile.
Prinsip kerja dari termokopel adalah, adanya perbedaan panas secara gradien akan
menghasilkan tegangan listrik, hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Untuk mengukur
perubahan panas ini gabungan dua macam konduktor sekaligus sering dipakai pada ujung
benda panas yang diukur. Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu,
dan mengalami perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda.
Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan
yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan
pengukuran, yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1
hingga 70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam
modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya,
ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting
diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur
absolut.


FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 11

2.2.6 Hubungan Suhu dan Tegangan
Hubungan antara perbedaan suhu dengan tegangan yang dihasilkan termokopel bukan
merupakan fungsi linier melainkan fungsi interpolasi polinomial. Namun demikian, untuk
pengukuran suhu yang lebih kecil perubahan tegangan relative linear. Secara matematis
ditunjukkan sebagai berikut:
V = (T1 - Tref)
Dimana:
V =Tegangan Ukur
T1 = suhu ukur (K)
Tref = suhu referensi (K)
= koefisien seebek
Termokopel diberi tanda dengan hurup besar yang mengindikasikan komposisinya berdasar
pada aturan American National Standard Institute (ANSI), seperti dibawah ini :
Tabel Sifat dari beberapa tipe termokopel pada 25
0
C
Tipe Material( + dan -) Temp.Kerja(
0
C) Sensitivitas(V/
0
C)
E Ni-Cr dan Cu-Ni -270 ~ 1000 60.9
J Fe dan Cu-Ni -210 ~ 1200 51.7
K Ni-Cr dan Ni-Al -270 ~ 1350 40.6
T Cu dan Cu-Ni -270 ~ 400 40.6
R Pt dan Pt(87%)-Rh(13%) -50 ~ 1750 6
S Pt dan Pt(90%)-Rh(10%) -50 ~ 1750 6
B Pt(70%)-h(30%)dan
Pt(94%)-Rh(6%)
-50 ~ 1750 6







FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 12

2.2.7 Tipe Termokopel
1. Tipe K, logam chromel dan alumel. Digunakan untuk tujuan umum, murah dan
rentang suhu antara -200 C hingga +1200 C.
2. Tipe Chromel / Constantan, memiliki output yang besar (68 V/C). Tepat untuk
tempeature rendah.
3. Tipe J (Iron/Constantan), sensitifitas sekitar ~52 V/C. Range suhu -40 C hingga
750 C.
4. Tipe N, simple, daya tahan tinggi terhadap oksidasi. Tepat untuk pengukuran suhu
tinggi, sensitifitas sekitar 39 V/C.
5. dll.
2.2.8 Ketelitian Satuan
Termokopel yaitu dua logam yang didekatkan yang apabila terpapar oleh kalor dengan suhu
tertentu akan menghasilkan beda potensial. Termokopel Suhu didefinisikan sebagai jumlah
dari energi panas dari sebuah objek atau sistem. Perubahan suhu dapat memberikan pengaruh
yang cukup signifikan terhadap proses ataupun material pada tingkatan molekul (Wilson,
2005). Sensor suhu adalah device yang dapat melakukan deteksi pada perubahan suhu
berdasarkan pada parameter-parameter fisik seperti hambatan, ataupun perubahan voltage
(Wilson, 2005). Salah satu jenis sensor suhu yang banyak digunakan sebagai sensor suhu pada
suhu tinggi adalah termokopel seperti pada Gambar dibawah ini


Gambar Termokopel
Sumber: Wilson (2005)

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 13

Termokopel merupakan jenis logam yang berbeda disatukan salah satu ujungnya dan ujung
tersebut dipanaskan maka akan timbul beda potensial pada ujung-ujung yang lain, hal ini
diakibatkan oleh kecepatan gerak elektron dari dua material yang berbeda daya hantar panas
sehingga mengakibatkan beda potensial. Dalam perancangan serta penggolongan dari
termokopel sendiri sudah diatur oleh Instrument Society of America (ISA).
Termokopel dibangun berdasarkan Asas Seeback dimana bila dua jenis logam yang berlainan
disambungkan ini akan menjadi rangkaian tertutup sehingga perbedaan temperature pada
sambungan akan menimbulkan beda potensial listrik pada kedua logam tersebut, selanjutnya
akan dibaca oleh alat ukur temperatur (Fraden, 2003).
Termokopel dapat dihubungkan secara seri satu sama lain untuk membuat termopile,
dimana tiap sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua
sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah. Dengan begitu, tegangan pada setiap
termokopel menjadi naik, yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih
tinggi. Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran
di laboratorium, secara sederhana termokopel tidak mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi
sambungan langsung dan instrumen kontrol. Mereka menambahkan sambungan dingin tiruan
ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif terhadap suhu (seperti termistor atau dioda)
untuk mengukur suhu sambungan input pada peralatan, dengan tujuan untuk mengurangi
gradiasi suhu di antara ujung-ujungnya. Di sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin
yang diketahui dapat disimulasikan, dan koreksi yang baik dapat diaplikasikan. Hal ini dikenal
dengan kompensasi hubungan dingin
2.2.9 Aplikasi dan Penggunaan Termokopel
Melihat karakter dari termokopel, instrumen ini tepat digunakan untuk mengukur suhu
dengan suhu mimimal 2000C. Dalam dunia industri, termokopel dijadikan sebagai transduser
pada tungku pencairan logam. termokopel akan memberikan feedback berupa tegangan yang
dapat dimanfaatkan oleh sistem yang lebih cerdas untuk menanggapi tiap kenaikan/penurunan
suhu pada object yang diukur. Dalam dunia industri, termokopel sangat penting adanya, yang
digunakan dalam hal berikut:



FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 14

1. Industri besi dan baja

,
2. Pengaman pada alat-alat pemanas


3. Sebagai thermopile (alat untuk mengubah suhu menjadi tegangan) pada sensor
radiasi.




FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 15

4. Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop.


2.2.10 Kaitan Elektronika Dalam Dunia Idustri
Revolusi Industri yang terjadi pada awal abad ke 19 menjadikan babak baru bagi
perkembangan dunia industri, dengan ditemukannya mesin uap industri-industri dalam
berbagai aspek jenis hasil produksi berkembang dengan pesat ditenagai oleh mesin yang
dikembangkan dengan menggunakan prinsip mesin uap. Dampak dari revolusi industri
menyebabkan pabrik-pabrik skala besar tumbuh menjamur dimana-mana yang kemudian
memiliki konsekuensi terjadinya perubahan dalam masyarakat.
Awalnya pabrik-pabrik tersebut ditenagai oleh tenaga uap, tetapi kemudian dialihkan ke
tenaga listrik setelah sebuah jaringan listrik di kembangkan. Hal ini pun memberikan dampak
besar dalam dunia industri dimana mesin-mesin bertenaga uap digantikan oleh mesin
bertenaga listrik menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam hal efisiensi.
Perkembangannya tidak berhenti sampai disitu melainkan terus mengalami inovasi. Penerapan
otomatisasi hadir untuk menggantikan operator manusia. Proses ini dipercepat dengan
perkembangan komputer dan robot .
Disini peran elektronika hadir di dunia industri, Elektronika sendiri merupakan ilmu yang
mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron
atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik,
termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya. Revolusi besar-besaran terhadap dunia
elektronika terjadi sekitar tahun 1960-an, dimana saat itu mulai ditemukan suatu komponen
elektronika yang dinamakan Transistor, yang berbahan dasar silicon sehingga memungkinkan
membuat suatu alat dalam dimensi yg lebih kecil dan lebih hemat listrik.

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 16

Sebagai contoh, dalam bidang industri berat, Elektronika digunakan sebagai sistem
otomatisasi, biasa disebut Mekatronika, atau yang lebih familiar adalah teknologi Robot,
hampir seluruh proses pembuatan suatu produk semuanya di kerjakan oleh tangan-tangan besi
tersebut, hal ini menjadikan proses produksi menjadi semakin efektif dan efisien. Sistem
otomatisasi dalam dunia industri biasanya menggunakan beberapa media pembantu yaitu
Hidrolik, Pneumatic dan Motor servo. Adapun kelebihan dan kekurangan dari ketiga media
pembantu tersebut ialah :
1. Hidrolik
a. Berdaya besar
b. Respon Lambat
c. Menggunakan OLI, sehingga biasa ada genangan OLI disekitar instrument, tidak
cocok untuk proses pekerjaan yang membutuhkan kebersihan tinggi
2. Pneumatic
a. Daya tidak sebesar Hidrolik
b. Respon cepat
c. Menggunakan udara yg dikompresi, teknologi ini cenderung lebih bersih dari
hidrolik, cocok utk industri yg membutuhkan kebersihan pada proses produksi
3. Motor servo
a. Daya leih rendah dari pneumatic
b. Respon sangat cepat
c. Tingkat ketelitian sangat tinggi dibanding kedua teknologi di atas
d. Menggunakan motor servo yang bisa dikatakan sangat bersih tanpa ada kotoran
yang dikeluarkan pada saat bekerja, sangat cocok utk industri elelktronika, misalnya
dalam proses pembuatan prosesor.

Dewasa ini Elektronika dalam dunia industri semakin berkembang dan sulit untuk
dipisahkan. Hadir kemudian cabang ilmu yang menggabungkan antara pengetahuan
elektronika dan instrumentasi yang diperlukan dalam suatu industri. Cabang ilmu ini dikenal
sebagai Elektronika dan Instrumentasi. Pengetahuan elektronika sangat diperlukan untuk
mendukung sistem pengukuran dan pengontrolan instrumentasi dari industri yang
dikendalikan.

FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 17


Di dalam suatu industri kimia, misalnya, bermacam-macam reaksi kimia harus diukur dan
dikendalikan baik suhu, volume campuran bahan, tekanan, derajad keasaman, dan lain-
lainnya. Sementara pada industri baja dan logam, suhu yang tinggi harus diukur secara tepat
dengan menggunakan alat pengukur elektronik untuk bisa mengendalikan pengepresan logam
pada ketebalan yang diinginkan. Pada umumnya, peralatan pengukuran atau alat pengukur
secara elektronik ini merupakan bagian dasar instrumentasi yang dipakai pada hampir semua
bidang industri.

Bidang elektronika dan instrumentasi ini, tidak hanya diaplikasikan untuk industri kimia
dan industri baja semata, tetapi diperlukan juga untuk pabrik mobil, pabrik gula, pabrik kertas,
pabrik pemrosesan makanan, untuk instrumentasi kedokteran, dan untuk pabrik pembuatan
alat-alat elektronik itu sendiri (seperti pabrik pembuatan telepon genggam, pabrik pembuatan
chip/ sirkuit terpadu, pabrik pembuatan komputer, dsb


FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 18

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Termokopel adalah salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan
dalam menentukan temperatur proses.
2. Termokopel mempunyai tipe-tipe yaitu tipe K, E, J, N, B, R, S, dan T. Setiap tipe
mempunyai kalebihan dan kekurangan yang berbeda.
3. Keuntungan menggunakan termokopel yaitu biaya yang diperlukan tidak besar, mudah
didapat, mudah dalam pengoperasian, mudah dalam perawatan dan hanya
membutuhkan tegangan yang kecil.
4. Kekurangannya yaitu termokopel adalah alat yang sangat sensitive sehingga kesalahan
akan semakin besar jika pengamat tidak teliti dan termokopel cepat rusak.
5. Pengkalibrasian alat harus dilakukan secara manual dengan mengukur suhu nol derajat.


3.2 SARAN
Dalam pengukuran dilapangan diperlukan ketelitian dan sebelum dan sesudahnya alat harus
dikalibrasi terlabih dahulu.




FISIKA II | MAKALAH TERMOKOPEL 19

REFERENSI

http://www.engineeringtown.com/teenagers/index.php/teknik-industri.html
http://sersasih.wordpress.com/2011/12/03/termokopel/
http://id.wikipedia.org/wiki/Termokopel
http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Johann_Seebeck
Moran, M.J. dan Howard, N.S., 2004, Termodinamika Teknik, Jilid 1, Edisi ke-4, Penerjemah :
Yulianto Sulistyo Nugroho, Erlangga : Jakarta.
Zemansky, M.W. dan Dittman, R.H.,1986,Kalor dan Termodinamika, Terbitan ke 6 ,Penerjemah :
Suroso, ITB : Bandung.