Anda di halaman 1dari 18

DIABETES MELLITUS TIPE 1

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Referat Kepaniteraan


Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Disusun oleh:
Kelompok 3
Ryanto Ruliff Nadeak 4151131005
Karina Rosdiana 4151131012
Denty Hawafirdaus 4151131447
Finantria Legowo 4151131472
Sonia Avila Veta P. 4151131506
Triani Komaria Anwar 4151131418
Yafma Femin Helta H. 4151131438
Yuanita Meidiandini 4151131415











Preceptor:
Ina Setiyowati, dr., SpA., M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RS DUSTIRA/FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengalirkan atau mengalihkan
(siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau madu. Penyakit
diabetes mellitus dapatdiartikan individu yang mengalirkan volume urine yang banyak
dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes mellitus adalah penyakit hiperglikemia yang
ditandai dengan ketidakadaan insulin absolut atau penurunan sensitivitas sel terhadap
insulin.
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi
kronik seperti pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran
basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2005, diabetes merupakan
suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainansekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan defisiensi dari insulin dan kehilangan
toleransi terhadap glukosa.
DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar
glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau akibat
kerja insulin yang tidak adekuat.

Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan global yang insidensinya
semakin meningkat. Sebanyak 346 juta orang di dunia menderita diabetes, dan
diperkirakan mencapai 380 juta jiwa pada tahun 2025. Di AmerikaSerikat, berdasarkan
2011 National Diabetes Fact Sheet sebanyak 25,8 juta orang (8,3% dari populasi)
menderita diabetes. Kasus baru yang didiagnosis pada tahun 2010 sebanyak 1,9 juta
kasus.
Pada tahun 1995 Indonesia menempati urutan tertinggi ke-tujuh untuk prevalensi
diabetes, sebagianbesarmerupakan diabetes tipe 2. Menurut WHO tahun 2000,
Indonesia menempati peringkat keempat negara dengan prevalensi diabetes terbanyak di
dunia setelah India, Cina, dan Amerika dengan jumlah penderita sebesar 8,4 juta orang.
Jumlah ini diasumsikan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2030. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2003 prevalensi diabetes pada
penduduk di atas 20 tahun sebanyak 13,7 juta.
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diabetes di
Indonesia menempati urutan keenam penyakit penyebab kematian (5,8%) setelah stroke,
tuberkulosis, hipertensi, cedera dan perinatal. Diabetes sebagai penyebab kematian pada
kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki peringkat ke-dua yaitu
14,7%. Dan daerah pedesaan, diabetes menduduki peringkat ke-enam yaitu 5,8%.
Meskipun insidensi diabetes di dunia tinggi, banyak kasus diabetes yang berlum
terdiagnosis. Di Amerika Serikat, menurut 2011 National Diabetes Fact Sheet
sebanyak 18,8juta orang didiagnosis diabetes dan 7 juta orang tidak terdiagnosis,
sedangkan di Indonesia diperkirakan separuh kasus diabetes belum terdiagnosis.

Diabetes diikuti oleh komplikasi akut dan kronis. Komplikasi akut antara lain
ketoasidosis diabetik, status hiperglikemia hiperosmolar, dan hipoglikemia. Komplikasi
kronis yang menahun dapat dibagi menjadi makroangiopati, mikroangiopati dan
neuropati. Komplikasi makroangiopati meliputi kelainan kardiovaskuler, kelainan
serebrovaskuler, dan kelainan pembuluh darah tepi. Komplikasi mikroangiopati
meliputi retinopati dan nefropati.
Komplikasi mikroangiopati berupa Diabetic Kidney Disease (DKD) berdampak
cukup besar. Adanya DKD menandakan peningkatan morbiditas dan mortalitas
prematur yang bermakna serta secara signifikan berdampak pada biaya pengobatan.
Sebesar 25% - 40% pasien diabetes tipe 1 dan 5% - 40% pasien diabetes tipe 2
akan masuk ke DKD. Masalah lain yang timbuladalah 20% pasien diabetes tipe 2 telah
menderita DKD pada saat mereka didiagnosis diabetes, sedangkan 30%-40% akan
terkena nefropati diabetika dalam 10 tahun setelah diagnosis.
Perjalanan penyakit pada DKD dapat dilihat dari histopatologi, glomerular
filtration rate (GFR), albuminuria, dan tekanan darah. Seiring meningkatnya stadium
pada DKD, terjadi penurunan GFR yang berhubungan dengan peningkatan tekanan
darah, akhir dari DKD adalah end stage renal disease (ESRD). Pasien DKD yang telah
mencapai stadium ESRD akan membutuhkan dialysis atau pun transplantasi ginjal yang
akan memakan biaya besar. Lebih dari 40% pasien yang menjalani dialisis di Amerika
didapati menyandang diabetes.
Diabetes merupakan penyebab utama gagal ginjal di Amerika, sebanyak 44%
dari kasus baru di tahun 2008. Sebanyak 48.374 orang dengan diabetes memulai terap

untuk ESRD pada tahun 2008 dan 202.290 pasien dengan ESRD akibat diabetes
menjalani dialysis atau memperoleh transplantasi ginjal. Perawatan ESRD
membutuhkan biaya yang tidak sedikit, total biaya untuk diabetes yang terdiagnosis
pada tahun 2007 di Amerika sebesar $174 juta dengan pembagian sebagai berikut: biaya
medis langsung sebesar $116 juta dan biaya medis tidak langsung, yaitu biaya akibat
disabilitas, hilangnya pekerjaan dan mortalitas prematur, sebesar $58 juta.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases tahun
2010, di Amerika Serikat dan Eropa diabetes merupakan penyebab tunggal tersering
dari ESRD pada dewasa. Di Jepang, Asia Pasifik dan Amerika Latin, diabetes mellitus
merupakan penyebab ESRD kedua setelah glomerulonefritis. Sedangkan di Indonesia
DKD merupakan penyebab kedua tertinggi dari ESRD selama tahun 2010 setelah
penyakit ginjal hipertensi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi
Diabetes insipidus adalah penyakit akibat gangguan metabolisme glukosa yang
ditandai oleh hiperglikemia kronik. Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan sel-
pankreas baik oleh proses autoimun maupun idiopatik sehingga produksi insulin
berkurang atau terhenti, dimana terjadi peningkatan rasa haus dan peningkatan kuantitas
urin akibat kekurangan hormon antidiuretik yang berfungsi mengatur metabolisme air di
tubuh.
1,2

2.2 Gambaran Klinis
Sebagian besar penderita DM tipe-1 mempunyai riwayat perjalanan klinis yang
akut. Biasanya gejala poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan yang cepat menurun
terjadi antara satu sampai dua minggu sebelum diagnosis ditegakkan. Apabila gejala-
gejala klinis ini disertai dengan hiperglikemia maka diagnosis DM tidak diragukan lagi.
Insidensi DM tipe-1 di Indonesia masih belum diketahui dengan pasti, sehingga sering
terjadi kesalahan diagnosis yang mengakibatkan keterlamabatan diagnosis. Akibatnya
pasien sering datang dengan ketoasidosis diabetik pada saat awitan diagnosis.
Manifestasi awal ketoasidosis mungkin relatif ringan dan terdiri dari muntah,
poliuria, dan dehidrasi. Pada kasus-kasus yang lebih lama dan berat, ada pernapasan

Kussmaul dan ada bau asteon pada pernapasannya. DM tipe-1 harus dipertimbangkan
sebagai salah satu diagnosis banding pada anak dengan enuresis nokturnal (pada anak
yang sudah besar), anak dengan dehidrasi sedang sampai berat tetapi masih ditemukan
diuresis (poliuria) apalagi disertai dengan pernafasan Kussmaul dan bau keton.
Kesalahan diagnosis yang sering terjadi adalah napas Kussmaul disangka sebagai
bronkopneumonia atau dehidrasi dianggap disebabkan oleh gastroenteritis.
Infeksi kulit bernanah dan vaginitis monilia pada gadis umur belasan tahun
kadang-kadang timbul pada waktu diagnosis diabetes. Infeksi ini jarang menjadi
manfestasi klinis diabetes pada anak. Jika terdapat infeksi tersebut pada anak diabetes
harus disertai adanya gejala poliuria dan polidipsia pada anak tersebut.
Perjalanan alamiah penyakit DM tipe-1 ditandai dengan adanya periode remisi
(parsial) yang dikenal sebagai periode Honeymoon. Periode ini terjadi akibat
berfungsinya kembali jaringan residual pankreas sehingga pankreas mensekresikan
kembali sisa insulin. Periode ini akan berakhir apabila pankreas sudah menghabiskan
seluruh sisa insulin. Secara klinis ada tidaknya periode ini harus dicurigai apabila
seorang penderita baru DM tipe-1 sering mengalami serangan hipoglikemia sehingga
kebutuhan insulin harus dikurangi untuk menghindari hipoglikemia. Apabila dosis
insulin yang dibutuhkan sudah mencapai <0,5U/kgBB/hari maka dapat dikatakan
penderita berada pada periode remisi. Perlu diingat bahwa pada saat cadangan insulin
sudah habis, penderita akan membutuhkan kembali insulin dan apabila tidak segera
mendapat insulin penderita akan jatuh kembali ke keadaaan ketoasidosis.


2.3 Patofisiologi
Pada keadaan normal, insulin disekresikan sebagai respon terhadap adanya
makanan yang diatur oleh suatu mekanisme kompleks yang melibatkan sistem neural,
hormonal, dan substrat. Hal ini memungkinkan pengaturan disposisi energi yang berasal
dari makanan menjadi energi yang langsung dipakai atau disimpan. Pada DM tipe-1,
makin menurunnya insulin pasca makan akan mempercepat proses katabolisme.
4

Insulinopenia menyebabkan penggunaan glukosa oleh otot dan lemak berkurang
mengakibatkan hiperglikemi postprandial. Bila insulin makin menurun, tubuh berusaha
memproduksi lebih banyak glukosa melalui glikogenolisis dan glukoneogenesis. Akan
tetapi karena glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel maka hepar akan
berusaha lebih keras lagi, sebagai akibatnya timbulah hiperglikemia puasa,
menimbulkan dieresis osmotic disertai glukosuria bila ambang ginjal sudah terlampaui
(180 mg/dL). Akibatnya tubuh kehilangan kalori, elektrolit dan cairan sehingga terjadi
dehidrasi, yang selanjutnya menimbulkan stress fisiologis dengan hipersekresi hormon
stress (epinefrin, kortisol, glukagon, dan hormon pertumbuhan). Meningkatnya kadar
hormon stress dan makin menurunnya kadar insulin menyebabkan peningkatan
glikogenolisis, glukoneogenesis, lipolisis dan ketogenesis, dan ketoasidosis diabetic
(KAD).
4


2.4 Komplikasi
Dalam perjalanan penyakit DM dapat menimbulkan bermacam-macam
komplikasi yaitu komplikasi jangka pendek dan jangka panjang. Komplikasi jangka

pendek antara lain hipoglikemi dan ketoasidosis.Komplikasi jangka panjang terjadi
akibat perubahan mikrovaskular berupa retinopati, nefropati, dan neuropati.
5
Hipoglikemia pada anak terjadi jika kadar gula darah <70mg/dL. Gejala
hipoglikemia dibagi menjadi 2, yaitu gejala neurogenik dan neuroglikopenik. Gejala
neurogenik antara lain berkeringat, lapar, rasa bergetar disekitar mulut, tremor,
takikardi, pucat, berdebar-debar, dan lemas. Gajala neuroglikopenik berupa lemah, sakit
kepala, gangguan penglihatan, bicara tidak jelas, pusing atau sakit kepala, sulit
berkonsentrasi, mengantuk, mudah marah, bingung, koma, dan kejang. Hipoglikemia
terjadi karena usaha dokter untuk mencapai nilai normal kadar gula darah. Semakin
besar usaha dokter untuk menghendaki normoglikemi, semakin besar risiko terjadinya
hipoglikemi. Insiden hipoglikemi sebagai komplikasi dapat dikurangi dengan
meningkatkan pemantauan gula darah dan pemakaian insulin analog. Terjadinya
hipoglikemia menunjukkan ketidaksesuaian pemberian insulin terhadap konsumsi
makanan dan pemakaian energi.
5,6
Ketoasisdosis diabetik (KAD) sebagai akibat defisiensi insulin adalah suatu
keadaan darurat dan merupakan penyebab tersering kematian yang berhubungan dengan
diabetes pada anak. KAD dapat dijumpai pada saat diagnosis pertama DM tipe 1 atau
pasien lama akibat pemakaian insulin yang salah. KAD ditandai dengan adanya
hiperglikemi (gula darah>300 mg/dl), asidosis metabolik akibat penimbunan benda
keton dan diueresis osmotik.Salah satu komplikasi terberat dari KAD adalah edema
serebri. Sebesar 57-87% penyebab kematian pada KAD adalah edema serebri.

Seperempat penderita edema serebri pada KAD yang berhasil diselamatkan memiliki
gangguan neurologis permanen.
7
Retinopati merupakan komplikasi yang sering didapatkan, lebih sering dijumpai
pada pasien DM tipe 1 yang telah menderita lebih dari 8 tahun. Faktor risiko timbulnya
retinopati antara lain kadar gula yang tidak terkontrol dan lamanya menderita
diabetes.
5,7

Nefropati diperkirakan dapat terjadi pada 25%-45% pasien DM tipe 1 dan sekitar
20%-30 akan mengalami mikroalbuminuria subklinis. Mikroalbuminuria merupakan
manifestasi paling awal timbulnya nefropati diabetik.Neuropati merupakan komplikasi
yang jarang didapatkan pada anak dan remaja, tetapi dapat ditemukan kelainan subklinis
dengan melakukan evaluasi klinis dan pemeriksaan saraf perifer. Komplikasi
makrovaskular lebih jarang didapatkan pada anak dan remaja. Komplikasi tersebut
dapat terjadi akibat kontrol metabolik yang tidak baik.
7

2.5 Penatalaksanaan
DM tipe-1 tidak dapat disembuhkan, tetapi kualitas hidup penderita dapat
dipertahankan seoptimal mungkin dengan kontrol metabolik yang baik. Yang dimaksud
kontrol metabolik yang baik adalah mengusahakan kadar glukosa darah berada dalam
batas normal atau mendekati nilai normal, tanpa menyebabkan hipoglikemia. Walaupun
masih dianggap ada kelemahan, parameter HbA1c merupakan parameter kontrol
metabolik standar pada DM. Nilai HbA1c < 7% berarti kontrol metabolik baik; HbA1c
< 8% cukup dan HbA1c > 8% dianggap buruk. Kriteria ini pada anak perlu disesuaikan

dengan usia karena semakin rendah HbA1c semakin tinggi risiko terjadinya
hipoglikemia.
Untuk mencapai kontrol metabolik yang baik pengelolaan DM tipe-1 pada anak
sebaiknya dilakukan secara terpadu oleh suatu tim yang terdiri dari ahli endokrinologi
anak/dokter anak/ahli gizi/ahli psikiatri/psikologi anak, pekerja sosial, dan edukator.
Kerjasama yang baik antara tim dan pihak penderita akan lebih menjamin tercapainya
kontrol metabolik yang baik. Sasaran dan tujuan pengobatan pada DM tipe-1 perlu
dijelaskan oleh tim pelaksana dan dimengerti oleh penderita maupun keluarga.
Sasaran pengelolaan DM tipe-1 pada anak yaitu bebas dari gejala penyakit, dapat
menikmati kehidupan sosial, dan terhindar dari komplikasi. Sedangkan tujuan khusus
pengelolaan DM tipe-1 pada anak yaitu tumbuh kembang optimal, perkembangan
emosional normal, kontrol metabolik yang baik tanpa menimbulkan hipoglikemia, hari
absensi sekolah rendah serta aktif berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, pasien tidak
memanipulasi penyakit, dan pada saatnya mampu mandiri mengelola penyakitnya.
8,9

Untuk mencapai sasaran dan tujuan khusus tersebut, komponen pengelolaan DM tipe-1
meliputi pemberian insulin, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi, yang didukung
oleh pemantauan mandiri (home monitoring). Keseluruhan komponen berjalan secara
terintegrasi untuk mendapatkan kontrol metabolik yang baik. Dari faktor penderita juga
terdapat beberapa kendala pencapaian kontrol metabolik yang baik. Faktor pendidikan,
sosioekonomi dan kepercayaan merupakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan
dalam pengelolaan penderita terutama dari segi edukasi.
9


Terdapat tiga jenis regimen insulin dalam penanganan DM tipe-1 yaitu sistem
konservatif, sistem intensif, dan sistem basal bolus. Sistem konservatif adalah
pemberian insulin 2 atau 3 kali perhari dengan pemantauan kadar gula darah di rumah
yang longgar / tidak rutin, kontrol ke dokter setiap tiga bulan, dan tidak dapat mengubah
dosis insulin sesuka hati. Sistem intensif berarti pemberian insulin minimal empat kali
sehari disertai dengan pemantauan glukosa darah di rumah juga minimal empat kali
sehari. Sistem basal bolus adalah pemberian insulin kerja panjang atau kerja menengah
sebelum tidur malam (komponen basal) dan kemudian pemberian insulin kerja pendek
setiap kali sebelum makan. Dosis komponen basal 30%40% dari total dosis insulin
perhari dan sisanya dibagi rata untuk komponen bolus.
Regimen basal bolus dengan insulin pump merupakan regimen yang paling
mendekati kebutuhan insulin fisiologis. Regimen insulin pump terbukti aman, efektif,
mencapai kontrol metabolik yang baik, serta efek samping berupa episode hipoglikemia
yang minimal. Regimen lain yang juga terbukti efektif dalam mencapai kontrol gula
darah yang baik namun masih sangat jarang dilakukan adalah inhaled insulin.C Jenis
sediaan yang dapat dipakai sekaligus profil kerjanya. Dapat dilihat pada tabel 2.5







Tabel 2.5 Jenis sediaan insulin dan profil kerjanya
8

Jenis Insulin Awitan
(jam)
Puncak Kerja
(jam)
Lama Kerja (jam)
Kerja cepat (rapid
acting)
(aspart, gluisine, dan
lispro)
0,15
0,35
1 - 3 3 5
Kerja pendek
(regular/soluble)
0,5 - 1 2 - 4 5 8
Kerja menengah
Semilente
NPH
IZS lente type

1 2
2 4
3 - 4

4 - 10
4 12
6 15

8 16
12 24
18 24
Insulin basal
Glargine
Detemir

2 - 4
1 2

Tidak ada
6 - 12

24*
20 24
Kerja panjang
Ultralente type
Insulin campuran
Cepat-menengah
Pendek-menengah

4 - 8

0,5
0,5

12 - 24

1 12
1 - 12

20 - 30

16 24
16 24
IZS= insulin zinc suspension; NPH= neutral protamine Hagedorn insulin.
* Lama kerja kemungkinan kurang dari 24 jam.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyerapan insulin. Faktor-faktor
yang mempengaruhi penyerapan insulin adalah lokasi penyuntikkan (dinding perut
tercepat, kemudian berturut-turut lengan, paha, dan bokong), kedalaman penyuntikkan
(suntikan intra muskular akan mempercepat absorpsi), jenis insulin, dosis insulin (dosis
kecil diabsorpsi lebih cepat), kegiatan fisik, ada tidaknya lipodistrofi atau lipohipertrofi
(keadaan ini akan memperlambat absorpsi), dan perbedaan suhu (suhu tinggi akan
mempercepat absorpsi). Insulin harus disuntikkan secara subkutan dalam dengan
melakukan pinched (cubitan) dan jarum suntik harus membentuk sudut 450, atau 900
apabila jaringan subkutannya tebal. Tempat penyuntikkan dapat dilakukan di abdomen,

paha bagian depan, pantat, dan lengan atas. Penyuntikan dapat dilakukan di daerah yang
sama setiap hari, tetapi tidak dianjurkan di titik yang sama. Sebaiknya dilakukan rotasi
tempat penyuntikan. Penyuntikan insulin kerja cepat dianjurkan di daerah abdomen
sedangkan insulin kerja menengah di daerah paha dan bokong.
9

Diet
1. Perencanaan makanan dengan sistem pilihan tukar sajian kalori
2. Jumlah kebutuhan kalori anak sehari berdasarkan umur, jika 0-12 tahun
menggunakan rumus 1000 + (umur [tahun] X 100) = kal/hari dan jika berusia lebih
dari 12 tahun = 2000 kal/m
2

3. Komposisi makanan yang disarankan perhari:
Karbohidrat 50-55%
Sukrosa sedang (sampai dengan 10% total kalori
Lemak 30-35%
< 10% lemak jenuh + asam lemak trans
< 10% lemak tak jenuh rantai ganda
> 10% lemak tak jenuh rantai tunggal (sampai dengan 20% total kalori)
Asam lemak n-3 (konfigurasi sis) 0,15 g/hari
Protein 10-15%
4. Beban karbohidrat dibagi secara teratur dalam 3 makanan besar dan 2 3 makanan
kecil (snack)
Diet rendah garam, rendah lemak & tinggi serat dianjurkan.

Olahraga
Tujuan olahraga yaitu mengurangi kebutuhan insulin dengan menambah kepekaan
sel otot terhadap insulin dan menambah pemakaian glukosa. Tetapi senam dapat
menyebab hipoglikemia pada pasien DM tipe 1 yang belum melakukan persiapan untuk
berolahraga.
10
Bagi penderita DM tipe 1 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
sebelum, selama, dan sesudah olah raga. Ada beberapa penyesuaian diet, insulin, dan
cara monitoring gula darah agar aman berolah raga, antara lain:
1. Sebelum berolah raga
Tentukan waktu, lama, jenis, dan intensitas olah raga dan konsultasikan dengan
dokter.
Asupan karbohidrat dalam 1-3 jam sebelum olah raga.
Cek kontrol metabolik, minimal 2 kali sebelum berolah raga.
Jika gula darah <90 mg/dL dan cenderung turun, tambahkan ekstra karbohidrat.
Jika gula darah 90-250 mg/dL tidak diperlukan ekstra karbohidrat.
Jika gula darah >250 mg/dL dan ketom urin/darah (+) tunda olah raga sampai
GD normal dengan insulin.
Bila olah raga aerobik, perkirakan energi yang dikeluarkan dan tentukan apakah
penyesuaian insulin atau tambahan karbohidrat diperlukan.
Bila olah raga anaerobik atau olah raga saat panas, atau olah raga kompetisi
insulin dapat dinaikkan.
Pertimbangkan pemberian cairan untuk menjaga hidrasi (@250 mL 20 menit
sebelum olah raga).

2. Selama berolah raga
Monitor gula darah tiap 30 menit.
Teruskan asupan cairan (250 ml tiap 20-30 menit).
Konsumsi karbohidrat tiap 20-30 menit, bila diperlukan.
3. Setelah berolah raga
Monitor gula darah, termasuk sepanjang malam (terutama bila tidak biasa
dengan program olah raga yang sedang dilakukan).
Pertimbangkan mengubah terapi insulin.
Pertimbangkan tambahan karbohidrat kerja lambat dalam 1-2 jam setelah olah
raga untuk menghindari hipoglikemi awitan lambat. Hipoglikemia awitan lambat
dapat terjadi sampai 2 kali 24 jam setelah latihan.
3,10





DAFTAR PUSTAKA


1. Homenta H. Diabetes Mellitus Tipe I. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya; 2012.

2. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Diabetes Insipidus. Dalam: A. Samik Wahab,
editor. Nelson: Ilmu Kesehatan Anak. Ed 15. Jakarta: EGC; 2000. hal.1919-1921.

3. Rustama, Subardja, Oentario, dkk. Diabetes Mellitus. Dalam: Batubara JRL, Tridjaja,
Pulungan, editor. Endokrinologi anak. Ed 1. Jakarta: IDAI; 2010. Hal 125-60.

4. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. Ilmu kesehatan anak nelson
Vol. 3. Jakarta: EGC, 2000.

5. Himawan IW, Pulungan AB, Tridjadja B, Batubara JRL. Sari Pediatri. Komplikasi
Jangka Pendek dan Jangka Panjang Diabetes Mellitus Tipe 1.2009;10(6):367-72.

6. Rustama, Subardja, Oentario, dkk. Diabetes Mellitus. Dalam: Batubara JRL, Tridjadja
B, Pulungan AB. Endokrinologi anak. Ed 1. Jakarta: IDAI; 2010. Hal 125-60.

7. IDAI. Tata laksana Menurunkan Angka Kematian Ketoasidosis Diabetikum (KAD)
pada Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1 (DM 1). http://idai.or.id/professional-
resources/rekomendasi/tata-laksana-menurunkan-angka-kematian-ketoasidosis-
diabetikum-kad-pada-anak-dengan-diabetes-melitus-tipe-1-dm-1.html (accessed 22 Juni
2014).

8. Rahmat M. Diabetes Mellitus Tipe 1 pada Anak. Sulawesi: Universitas Sulawesi Utara.
2008.

9. Ikatan Dokter Indonesia Anak (IDAI). Konsensus Nasional Pengelolaan DM tipe 1.
IDAI. Jakarta. 2009.

10. Deliana M, dkk. Pemberian Insulin pada Diabetes Melitus Tipe-1. Sari Pediatri. 2007; 9
(1): 48-53.


11. International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes (ISPAD). Global
IDF/ISPAD Guidline for Diabetes in Childhood and Adolescence.
http://www.idf.org/sites/default/files/Diabetes-in-Childhood-and-Adolescence-
Guidelines.pdf.