Anda di halaman 1dari 6

Model Pembelajaran Discovery Learning

Discovery merupakan cara belajar dengan membangkitkan rasa


ingin tahu (curiousity) peserta didik untuk mengeksplorasi dan
belajar sendiri. Pemahaman suatu konsep didapat peserta didik
melalui proses yang lebih menekankan kepada proses penemuan
konsep dan bukan pada produknya. Discovery Learning mempunyai
prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan problem solving.
Ketigannya tidak ada perbedaan yang prinsip, hanya saja Discovery
Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau
prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Pada discovery masalah
yang diperhadapkan kepada peserta didik semacam masalah yang
direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan
hasil rekayasa, sehingga peserta didik harus mengerahkan seluruh
pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan
di dalam masalah itu melalui proses penelitian sederhana. Problem
solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan
masalah.
Prinsip belajar dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan
yang akan dibelajarkan tidak disampaikan dalam bentuk fnal;
peserta didik didorong untuk mengidentifkasi apa yang ingin
diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian
mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka
ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.
Tahapan Discovery Learni ada empat tahap, yaitu: (1) data
dikemukakan kepada peserta didik, (2) peserta didik menganalisis
strategi untuk mendapatkan konsep-konsep, (3) peserta didik
menganalisis jenis-jenis konsep, yang sesuai dengan umur dan
pengalaman peserta didik, (4) peserta didik mengaplikasikan konsep
Proses mental yang dikembangkan dalam pembelajaran dengan
discovery learning meliputi kegiatan: (1) mengamati, (2) menggolong-
golongkan, (3) membuat dugaan/rumusan., (4) mengukur, (5)
mengumpulkan data, (6) menarik kesimpulan.
Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning
Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery
Learning di kelas, secara umum ada beberapa prosedur yang harus
dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut.
a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu
yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk
tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki
sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan pembelajaran
dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi
interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta
didik dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan
stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan
peserta didik pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan
demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi
stimulus kepada peserta didik agar tujuan mengaktifkan peserta didik
untuk mengeksplorasi dapat tercapai.
b. Problem Statement (Pernyataan/ Identifkasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifkasi sebanyak
mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan
pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam
bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah
2004:244), sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu
selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau
hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas
pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan peserta didik
untuk mengidentifkasi dan menganalisis permasalahan yang mereka
hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun peserta
didik agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
c. Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada
para peserta didik agar mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah,
2004:244). Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian peserta
didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang
relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara
sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari
tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan
sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi,
dengan demikian secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan
masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan
mengolah data dan informasi yang telah diperoleh peserta didik baik
melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua
informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya,
semuanya diolah, diacak, diklasifkasikan, ditabulasi, bahkan bila
perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat
kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Data processing disebut
juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai
pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut
peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif
jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
e. Verifcation (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan
tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data
processing (Syah, 2004:244). Verifcation menurut Bruner, bertujuan
agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan
suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh
yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan
dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang
telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau
tidak, apakah terbukti atau tidak.
f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik
sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku
untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifkasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil
verifkasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari
generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus
memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya
penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip
yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya
proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.
Daftar Pustaka
Arend, R.I. 2001. Learning to Teach, 5
th
Ed. Boston: McGraw-Hill Company, Inc.
Baldwin, A.L. 1967. Theories of Child Development. New York: John Wiley &
Sons.
Carin, A.A. & Sund, R.B. 1975. Teaching Science trough Discovery, 3
rd
Ed.
Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company.
Carin, A.A. 1993. Teaching Science Through Discovery. ( 7th. ed. ) New York:
Maxwell Macmillan International.
Muller, U., Carpendale, J.I.M., Smith, L. 2009. The Cambridge Companion to
PIAGET. Cambridge University Press.
Nur, M. 1998. Teori-teori Perkembangan. Surabaya: Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan.
Nur, M. & Wikandari, P.R. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Peserta didik
Dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya : Universitas
Negeri Surabaya University Press.
Osborne, R.J. & Wittrock, M.C. 1985. Learning Science: A Generative Process,
Science Education, 64, 4: 489-503.
Permendikbud Nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum.
Sund, R.B. & Trowbridge, L.W. 1973. Teaching Science by Inquiry in the
Secondary School, 3
rd
Ed. Columbus: Charles E. Merrill Publishing
Company.
Sutherland, P. 1992. Cognitive Development Today: Piaget and his Critics.
London: Paul Chapman Publishing Ltd.
Syah, M., 2004. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.