Anda di halaman 1dari 18

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Unit 23 Amine Treatment Unit
Unit ini berfungsi untuk mengolah sour gas serta untuk
menghilangkan kandungan H
2
S yang terikat dalam sour gas. Proses yang
dipakai adalah SHELL ADIP dengan larutan DIPA (Diisopropanolamine)
sebagai larutan penyerap. Kadar larutan DIPA yang digunakan adalah 2 kg
mol/m
3
. Unit ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu :
1. Off Gas Obsorber
Off Gas Obsorber berfungsi untuk mengolah off gas dari CDU,
ARHDM, dan GO HTU. Hasilnya digunakan untuk fuel gas system
dan umpan gas Hydrogen Plant dan kapasitasnya yakni sebesar
18.522 Nm
2
/jam.
2. RCC (Residue Catalytic Cracking)
Unsaturated gas untuk mengolah sour gas dari unit RCC dan
hasilnya ke fuel gas system dan kapasitasnya sebesar 39.252 Nm
2
/jam.
3. Amine Regenerator
Berfungsi untuk meregenerasi larutan amine yang telah
digunakan kedua absorber diatas, dengan kapasitas 100% gas yang
keluar dari kedua menara penyerap. Spesifikasi produknya adalah
kandungan H
2
S yang keluar dari masing-masing menara maksimal 50
ppm volume.

3.2 Landasan Teori
3.2.1 Pengertian Heat Exchanger
Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari
suatu tempat ketempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan
sama sekali. Dalam suatu proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya
kenaikan suhu suatu zat dan atau perubahan tekanan, reaksi kimia dan
kelistrikan.Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara
langsung, yaitu fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan
fluida dingin tanpa adanya pemisahdan secara tidak langsung, yaitu bila
diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi
dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah.
Stabilitas fasa fluida pada HE suhu rendah sangat penting mengingat
aliran panas/dingin harus dapat mengalir dengan baik (viscositas optimal). P
engaruh suhu, tekanan, dan jenis kriogenik akan sangat menentukan
efektivitas pertukaran panas yang terjadi. Beberapa kriteria utama HE yang
dibutuhkan untuk penggunaan pada suhu rendah:
1. Perbedaan suhu aliran panas dan dingin yg kecil guna meningkatkan
efisiensi
2. Rasio luas permukaan terhadap volume yg besar untuk
meminimalkankebocoran.
3. Perpindahan panas yang tinggi untuk mengurangi luas permukaan
4. Massa yg rendah untuk meminimalkan waktu start up
5. Kemampuan multi channel untuk mengurangi jumlah HE
6. Kemampuan menerima tekanan yg tinggi
7. Pressure Drop yg rendah
Minimalisasi beda suhu aliran panas & dingin harus juga memperhatikan
pengaruhsuhu terhadap panas spesifik (Cp) fluida. Jika Cp menurun dengan
menurunnya suhufluida (contoh Hidrogen), maka perbedaan suhu inlet &
outlet harus ditambah dari hargaminimal beda suhu aliran.
Perpindahan Panas Secara Konduksi
Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling
berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh
perpindahan molekul-molekul tersebut secara fisik. Molekul-molekul benda yang
panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul benda yang berada
dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan
kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat
maka akan memberikan panas.
Perpindahan Panas Secara Konveksi
Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan
partikel atau zat tersebut secara fisik.
Perpindahan Panas Secara Radiasi
Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu
energy dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas
ke benda yang dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana
tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda
yang lain.

Gambar 3.1 perpindahan kalor pada HE (Djunaidi, 2009)
Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas
daridua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan
secara langsungataupun tidak langsung.
a) Secaara kontak langsung : Panas yang dipindahkan antara fluida panas
dan dinginmelalui permukaan kontak langsung berarti tidak ada dinding
antara kedua fluida.Transfer panas yang terjadi yaitumelalui interfase
/ penghubung antara kedua fluida. Contoh : aliran steam
pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat
bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.
b) Secara kontak tak langsung : Perpindahan panas terjadi antara fluida panas
dandingin melalui dinding pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan
mengalir.
Seperti yang telah dikemukakan dalam pendahuluan terdapat banyak
sekali jenis-jenis alat penukar kalor. Maka untuk mencegah timbulnya
kesalahpahaman maka alat penukar kalor dikelompokan berdasarkan
fungsinya :
a. Chiller , alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan
fluidasampai pada temperature yang rendah. Temperature fluida hasil
pendinginandidalam chiller yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
fluida pendinginanyang dilakukan dengan pendingin air. Untuk chiller ini
media pendingin biasanya digunakan amoniak atau Freon.
b. Kondensor, alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan uap
atau campuran uap, sehingga berubah fasa menjadi cairan. Media
pendingin yang dipakai biasanya air atau udara. Uap atau campuran uap
akan melepaskan panas latent kepada pendingin, misalnya pada
pembangkit listrik tenaga uap yang mempergunakan condensing turbin,
maka uap bekas dari turbin akan dimasukkan kedalam kondensor, lalu
diembunkan menjadi kondensat.
c. Cooler, alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan cairan atau
gas dengan mempergunakan air sebagai media pendingin. Disini tidak
terjadi perubahan fasa, dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka
pendingin coler mempergunakan media pendingin berupa udara dengan
bantuan fan(kipas).
d. Evaporator, alat penukar kalor ini digunakan untuk penguapan cairan
menjadi uap. Dimana pada alat ini menjadi proses evaporasi (penguapan)
suatu zat dari fasa cair menjadi uap. Yang dimanfaatkan alat ini adalah
panas latent dan zat yang digunakan adalah air atau refrigerant cair.
e. Reboiler, alat penukar kalor ini berfungsi mendidihkan kembali (reboil)
serta menguapkan sebagian cairan yang diproses. Adapun media pemanas
yang sering digunakan adalah uap atau zat panas yang sedang diproses itu
sendiri. Hal ini dapat dilihat pada penyulingan minyak pada gambar 3.2,
diperlihatkan sebuah reboiler dengan mempergunakan minyak (665
o
F)
sebagai media penguap,minyak tersebut akan keluar dari boiler dan
mengalir didalam tube.

Gambar 3.2 Thermosipon Reboiler (Anonim 2011)
f. Heat Exchanger, alat penukar kalor ini bertujuan untuk memanfaatkan
panas suatu aliran fluida yang lain. Maka akan terjadi dua fungsi sekaligus,
yaitu:
Memanaskan fluida
Mendinginkan fluida yang panas
Suhu yang masuk dan keluar kedua jenis fluida diatur sesuai dengan
kebutuhannya. Pada gambar diperlihatkan sebuah heat exchanger, dimana
fluida yang berada didalam tube adalah air, disebelah luar dari tube fluida
yang mengalir adalah kerosene yang semuanya berada didalam shell.

Gambar 3.3 Konstruksi Heat Excager Shell and Tube (Anonim 2011)
3.2.2 Klasifikasi Alat Penukar Kalor
Melihat begitu banyaknya jenis alat penukar kalor (heat exchanger), maka
dapat diklasifikasikan berdasarkan bermacam-macam pertimbangan yaitu :
1. Klasifikasi berdasarkan proses perpindahan panas
a. Tipe kontak tidak langsung :
Tipe dari satu fase
Tipe dari banyak fase
Tipe yang ditimbun (storage type)
Tipe fluidized bed
b. Tipe kontak langsung
Immiscible fluid
Gas liquid
Liquid vapor
2. Klasifikasi berdasarkan jumlah fluida yang mengalir
a. Dua jenis fluida
b. Tiga jenis fluida.
c. N Jenis fluida (N lebih dari tiga)
3. Klasifikasi berdasarkan kompaknya permukaan.
a. Tipe penukar kalor yang kompak, Density luas permukaan > 700 m
b. Tipe penukar kalor yang tidak kompak, Density luas permukaan <
700 m
4. Klasifikasi berdasarkan mekanisme perpindahan panas
a. Dengan cara konveksi, satu fase pada kedua sisi alirannya
b. Dengan cara konveksi pada satu sisi aliran dan pada sisi yang
lainnya terdapat carakonveksi 2 aliran
c. Dengan cara konveksi pada kedua sisi alirannya serta terdapat 2pass
aliran masing-masing
d. Kombinasi cara konveksi dan radiasi
5. Klasifikasi berdasarkan konstruksi
a. Konstruksi tubular (shell and tube)
1) Tube ganda (double tube)
2) Konstruksi shell and tube
Sekat plat ( plate baffle)
Sekat batang (rod baffle)
Konstruksi tube spiral
b. Konstruksi tipe pelat
1) Tipe pelat
2) Tipe lamella
3) Tipe spiral
4) Tipe pelat koil
c. Konstruksi dengan luas permukaan diperluas (extended surface)
1). Sirip pelat (plate fin)
2). Sirip tube (tube fin)
Heat pipe wall
Ordinary separating wall
d. Regenerative
1) Tipe rotary
2) Tipe disk (piringan)
3) Tipe drum
4) Tipe matrik tetap
6. Klasifikasi berdasarkan pengaturan aliran
a. Aliran dengan satu pass
1) Aliran berlawanan
4) Aliran parallel
2) Aliran melintang
5) Aliran split
3) Aliran yang dibagi (divided)

b. Aliran multipass
1). Permukaan yang diperbesar (extended surface)
Aliran counter menyilang
Aliran paralel menyilang
Aliran Compound
2). Shell and tube
Aliran paralel yang berlawanan (M pass pada shell dan N
pass pada tube)
Aliran split
Aliran dibagi (devided)
3). Multipass plat
N paralel plat multipass

3.2.3 Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal memiliki sebuah impeller (baling-baling) yang
bertujuan untuk mengalirkan zat cair dari suatu tenpat ketempat lain dengan
cara mengubah energi zat cair yang dikandung menjadi lebih besar. Pompa
digerakkan oleh motor. Daya dari motor diberikan pada poros pompa untuk
memutar impeler yang dipasangkan pada poros tersebut. Karena pompa
digerakkan oleh motor listrik (motor penggerak), jadi daya guna kerja
pompa adalah perbandingan antara gaya mekanis yang diberikan motor
kepada pompa.
Akibat dari putaran impeller yang menimbulkan gaya sentrifugal,
maka zat cair akan mengalir dari tengah impeler keluar lewat saluran di
antara sudu-sudu dan meninggalkan impeller dengan kecepatan yang tinggi.
Zat cair yang keluar dari impeller dengan kecepatan tinggi kemudian
melalui saluran yang penampangnya semakin membesar yang disebut
volute, sehingga akan terjadi perubahan dari head kecepatan menjadi head
tekanan. Jadi zat cair yang keluar dari flens keluar pompa head totalnya
bertambah besar. Sedangkan proses pengisapan terjadi karena setelah zat
cair dilemparkan oleh impeller, ruang diantara sudu-sudu menjadi vakum,
sehingga zat cair akan terisap masuk.
Selisih energi persatuan berat atau head total dari zat cair pada flens
keluar dan flens masuk disebut sebagai head total pompa. Sehingga dapat
dikatakan bahwa pompa sentrifugal berfungsi mengubah energi mekanik
motor menjadi energi aliran fluida. Energi inilah yang mengakibatkan
pertambahan head kecepatan, head tekanan dan head potensial secara
kontinyu.

Gambar 3.2 Motor dan Pompa Sentrifugal
3.2.4 Bagian-bagian Utama Pompa Sentrifugsl
Dalam pengoperasian pompa sentrifugal ada beberapa bagian yang
perlu diperhatikan agar pompa dapat bekerja dengan baik dan dapat
bertahan lama. Adapun bagian-bagian utama pompa sentrifugal tersebut
antara lain :
1. Rumah Pompa Sentrifugal
Rumah Pompa Sentrifugal dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3.3 Rumah Pompa Sentrifugal
Keterangan gambar ::
a. Stuffing Box ( Mechanical Seal)
Stuffing Box berfungsi untuk mencegah kebocoran pada daerah
dimana poros pompa menembus casing.
b. Packing
Packing digunakan untuk mencegah dan mengurangi bocoran
cairan dari casing pompa melalui poros. Biasanya terbuat dari asbes
atau teflon.
c. Shaft (Poros)
Poros berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari
penggerak selama beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan
bagian-bagian berputar lainnya.
d. Shaft-sleeve
Shaft sleeve berfungsi untuk melindungi poros dari erosi, korosi
dan keausan pada stuffing box. Pada pompa multi stage dapat sebagai
leakage joint, internal bearing dan interstage atau distance sleever.
e. Vane
Vane impeller berfungsi sebagai tempat berlalunya cairan pada
impeller.
f. Casing
Casing merupakan bagian paling luar dari pompa yang
berfungsi sebagai pelindung elemen yang berputar, tempat kedudukan
diffusor (guide vane), inlet dan outlet nozzle serta tempat memberikan
arah aliran dari impeller dan mengkonversikan energi kecepatan
cairan menjadi energi dinamis (single stage).
g. Eye of Impeller
Eye of impeller merupakan bagian sisi masuk pada arah isap
impeller.
h. Impeller
Impeller berfungsi untuk mengubah energi mekanis dari pompa
menjadi energi kecepatan pada cairan yang dipompakan secara
kontinyu, sehingga cairan pada sisi isap secara terus menerus akan
masuk mengisi kekosongan akibat perpindahan dari cairan yang
masuk sebelumnya.
i. Wearing Ring
Wearing ring berfungsi untuk memperkecil kebocoran cairan
yang melewati bagian depan impeller maupun bagian belakang
impeller, dengan cara memperkecil celah antara casing dengan
impeller.
j. Bearing
Bearing (bantalan) berfungsi untuk menahan beban dari poros
agar dapat berputar, baik berupa beban radial maupun beban axial.
Bearing juga memungkinkan poros untuk dapat berputar dengan
lancar dan tetap pada tempatnya, sehingga kerugian gesek menjadi
kecil.
k. Discharge Nozzle
Discharge nozzle adalah saluran cairan keluar dari pompa dan
berfungsi juga untuk meningkatkan energi tekanan keluar pompa.
2. Impeller
Impeller adalah bagian penting pompa sentrifugal dimana terjadi
perubahan energi mekanis berupa putaran menjadi kecepatan, aliran
impeller akan diputar oleh motor penggerak pompa, menyebabkan
aliran akan berputar dan gerakan aliran akan mengikuti impeller dan
keluar dengan kecepatan yang besar. Pada impeller juga terjadi head
atau tekanan dan kecepatan aliran akan bertambah besar.
Kecepatan aliran yang besar berubah menjadi tekanan aliran
atau head pompa. Perubahan kecepatan head ini terjadi pada rumah
kontak dan impeller. Hal ini akan dipergunakan untuk mengatasi head
loses dan beban lainnya pada instalasi pompa jika head pada instalasi
pipa ternyata masih lebih besar dari head maksimum yang dihasilkan
pompa maka aliran tidak akan sampai tujuan akhir instalasi pipa.
aliran akan berhenti pada daerah tertentu walaupun pompa terus
bekerja. Head maksimum dimana kapasitas pompa akan menjadi
panas jika dibiarkan terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan
pada pompa.
Impeller di bagi beberapa jenis antara lain:
1. Closed Impeller.
2. Semi open impeller.
3. Open impeller.
Adapun jenis-jenis dari impeller dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 3.4 Jenis-jenis Impeller
3. Seal Pompa
Seal pompa berfungsi mengatasi terjadinya kebocoran pada
pompa. Kebocoran dapat berupa keluarnya minyak pelumas dari
pompa, pembocoran yang berlebihan dapat mengganggu terjadinya
kerja pompa, bahkan dapat merusak bagian-bagian pompa lainnya.
Adapun bentuk-bentuk dari seal pompa dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.

Gambar 3.5 Bentuk-bentuk Seal pada Pompa

3.2.5 Kavitasi
Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir
sehingga membentuk gelembung-gelembung uap disebabkan karena
berkurangnya tekanan cairan tersebut sampai dibawah titik jenuh uapnya.
Misalnya, air pada tekanan 1 atm akan mendidih dan menjadi uap pada suhu
100 derajat celcius. Tetapi jika tekanan direndahkan maka air akan bisa
mendidih pada temperatur yang lebih rendah bahkan jika tekanannya cukup
rendah maka air bisa mendidih pada suhu kamar. Apabila zat cair mendidih,
maka akan timbul gelembung-gelembung uap zat cair. Hal ini dapat terjadi
pada zat cair yang sedang mengalir di dalam pompa maupun didalam pipa.
Tempat-tempat yang bertekanan rendah dan/atau yang berkecepatan tinggi
di dalam aliran, maka akan sangat rawan mengalami kavitasi. Misalnya pada
pompa maka bagian yang akan mudah mengalami kavitasi adalah pada sisi
isapnya. Kavitasi pada bagian ini disebabkan karena tekanan isap terlalu
rendah.
Gelembung ini akan terbawa aliran fluida sampai akhirnya berada
pada daerah yang mempunyai tekanan lebih besar daripada tekanan uap
jenuh cairan. Pada daerah tersebut gelembung tersebut akan pecah dan akan
menyebabkan shock pada dinding di dekatnya. Cairan akan masuk secara
tiba-tiba ke ruangan yang terbentuk akibat pecahnya gelembung uap tadi
sehingga mengakibatkan tumbukan. Peristiwa ini akan menyebabkan
terjadinya kerusakan mekanis pada pompa sehingga bisa menyebabkan
dinding akan berlubang atau bopeng. Peristiwa ini disebut dengan erosi
kavitasi sebagai akibat dari tumbukan gelembung-gelembung uap yang
pecah pada dinding secara terus menerus.
Selain itu kavitasi juga menyebabkan suara yang berisik, getaran,
korosi yang disebabkan karena adanya reaksi kimia gas-gas dan logam, dan
juga dapat menyebabkan performansi pompa akan menurun secara tiba-tiba
sehingga pompa tidak dapat bekerja dengan baik. Cara-cara yang bisa
digunakan untuk menghindari terjadinya kavitasi antara lain :
1. Tekanan sisi isap tidak boleh terlalu rendah, pompa tidak boleh
diletakkan jauh di atas permukaan cairan yang dipompa sebab
menyebabkan head statisnya besar.
2. Kecepatan aliran pada pipa isap tidak boleh terlalu besar. Bagian yang
mempunyai kecepatan tinggi maka tekanannya akan rendah. Oleh
karena itu besarnya kecepatan aliran harus dibatasi, caranya dengan
membatasi diameter pipa isap tidak boleh terlalu kecil.
3. Menghindari instalasi berupa belokan-belokan tajam Pada belokan
yang tajam kecepatan aliran fluida akan meningkat sedangkan tekanan
fluida akan turun sehingga menjadi rawan terhadap kavitasi.
4. Pipa isap dibuat sependek mungkin, atau dipilih pipa isap satu nomer
lebih tinggi untuk mengurangi kerugian gesek.
5. Tidak menghambat aliran cairan pada sisi isap.
6. Head total pompa harus sesuai dengan yang diperlukan pada kondisi
operasi sesungguhnya.

3.2.6 Maintenance(Perawatan)
Secara umum maintenance dapat didefinisikan sebagai serangkaian
aktivitas yang diperlukan untuk mempertahankan dan menjaga suatu produk
atau sistem tetap berada dalam kondisi yang aman, ekonomis, efisien, dan
pengoperasian yang optimal. Aktivitas perawatan dalam perusahaan sangat
diperlukan karena :
1. Setiap peralatan mempunyai umur penggantian (useful life) dimana
suatu saat dapat mengalami kegagalan atau kerusakan.
2. Kerusakan (failure) dari suatu peralatan atau mesin tidak dapat
diketahui secara pasti.
3. Manusia selalu berusaha untuk meningkatkan umur penggunaan
dengan melakukan perawatan (maintenance).
Perawatan (maintenance) berperan penting dalam kegiatan produksi
dari suatu perusahaan yang menyangkut kelancaran dan kemacetan
produksi, volume produksi, serta agar produk dapat diproduksi dan diterima
konsumen tepat pada waktunya (tidak terlambat) dan menjaga agar tidak
terdapat sumber daya (mesin dan karyawan) yang menganggur karena
kerusakan (breakdown) pada mesin sewaktu proses produksi sehingga dapat
meminimalkan biaya kehilangan produksi atau bila mungkin biaya tersebut
dapat dihilangkan.
Selain itu perawatan yang baik akan meningkatkan kinerja
perusahaan, nilai investasi yang dialokasikan untuk perlatan dan mesin
dapat diminimasi, dan perawatan yang baik juga dapat meningkatkan
kualitas produk yang dihasilkan dan mengurangi pemborosan (waste).
Dalam usaha menjaga agar setiap peralatan dan mesin dapat digunakan
secara kontinyu untuk berproduksi, maka kegiatan perawatan yang
diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Secara kontinu melakukan pengecekan (inspection).
2. Secara kontinu melakukan pelumasan (lubricating).
3. Secara kontinu melakukan perbaikan (reparation).
4. Melakukan penggantian spare-part.
Kegiatan perawatan peralatan dan fasilitas mesin tentu memiliki
beberapa tujuan. Tujuan utama dari fungsi perawatan antara lain:
1. Memperpanjang usia kegunaan aset.
2. Menjamin ketersediaan peralatan dan kesiapan operasional
perlengkapan serta peralatan yang dipasang untuk kegiatan produksi.
3. Membantu mengurangi pemakaian atau penyimpangan diluar batas
serta menjaga modal yang ditanamkan selama waktu yang ditentukan.
4. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang
dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak
terganggu.
5. Menekan tingkat biaya perawatan serendah mungkin dengan
melaksanakan kegiatan perawatan secara efektif dan efisien.
6. Memenuhi kebutuhan produk dan rencana produksi tepat waktu.
7. Meningkatkan keterampilan para supervisor dan operator melalui
kegiatan pelatihan yang diadakan.
8. Menghindari kegiatan maintenance yang dapat membahayakan
keselamatan para pekerja.
Ada beberapa macam perawatan (maintenance) yang biasa dilakukan,
yakni antara lain :
1. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance merupakan tindakan perawatan yang
terjadwal dan terencana. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
masalah-masalah yang dapat mengakibatkan kerusakan pada
komponen/instrumen dan menjaganya selalu tetap normal selama
dalam operasi.
Contoh pekerjaan tersebut adalah melakukan pengecekan
terhadap pendeteksi indikator tekanan dan temperatur, atau alat
pendeteksi indikator lainnya apakah telah sesuai hasilnya untuk
kondisi normal kerja suatu alat, membersihkan kotoran-kotoran yang
menempel pada alat/produk (debu, tanah maupun bekas minyak),
mengikat baut-baut yang kendor, pengecekan kondisi pelumasan,
perbaikan/mengganti gasket pada sambungan-sambungan flange yang
bocor atau rusak, dan lain-lain.
2. Predictive Maintenance
Predictive Maintenance merupakan perawatan yang bersifat
prediksi, dalam hal ini merupakan evaluasi dari perawatan berkala
(Preventive Maintenance). Pendeteksian ini dapat dievaluasi dari
indikaktor-indikator yang terpasang pada instalasi suatu alat dan juga
dapat melakukan pengecekan vibrasi dan alignment untuk menambah
data dan tindakan perbaikan selanjutnya.
3. Breakdown Maintenance
Breakdown Maintenance merupakan perbaikan yang dilakukan
tanpa adanya rencana terlebih dahulu. Dimana kerusakan terjadi
secara mendadak pada suatu alat/produk yang sedang beroperasi, yang
mengakibatkan kerusakan bahkan hingga alat tidak dapat beroperasi.
Contoh kerusakan tesebut pada pompa adalah rusaknya bantalan
karena kegagalan pada pelumasan, terlepasnya couple penghubung
antara poros pompa dan poros penggeraknya akibat kurang
kencangnya baut-baut yang tersambung. Macetnya impeller karena
terganjal benda asing.
4. Corrective Maintenance
Corrective Maintenance merupakan perawatan yang telah
direncanakan, yang didasarkan pada kelayakan waktu operasi yang
telah ditentukan pada buku petunjuk alat tersebut. Perawatan ini
merupakan general overhaul yang meliputi pemeriksaan, perbaikan
dan penggantian terhadap setiap bagian-bagian alat yang tidak layak
pakai lagi, baik karena rusak maupun batas maksimum waktu operasi
yang telah ditentukan.
Berikut ini merupakan flowchart tahapan untuk mempersiapkan
jadwal maintenance.

Gambar 3.6 Flowchart Tahapan Jadwal Maintenance
Sebelum menjadwalkan pekerjaan untuk dilaksanakan, Planner perlu
melihat prioritas pekerjaan, target penyelesaian yang diinginkan, dan
ketersediaan sumber daya yang diperlukan. Disamping itu, dia juga harus
mempertimbangkan adanya pekerjaan yang sedang dalam proses
pelaksanaan dan pekerjaan yang terlambat penyelesaiannya. Dengan
demikian diharapkan jadwal yang dibuat benar-benar harus dilaksanakan.