Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN DISLOCATION OF HIP JOINT

1 Pengertian
dislocatoin of hip atau biasa disebut pergeseran sendi atau tulang semenjak lahir.
Suatu bentuk kelainan pada persendian yang ditemukan pada bayi baru lahir.Congenital
dislocatoin of hip terjadi dengan kejadian 1,5 per 1.000 kelahiran dan lebih umum terjadi
pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.penyebab hal ini belum diketahui tapi
diduga melibatkan faktor genetik.
Kelainan ini sering dijumpai pada:
Anak pertama
Bayi perempuan
Riwayat dislokasi pada keluarga.
Bayi dalam letak bokong
kriteria untuk mengetahui diagnosis congenital dislocation dapat dilakukan dengan
secara fisik dan radiografi.tanda-tanda klinis tertentu telah diidentifikasi yang membantu
dalam mengevaluasi bayi yang baru lahir.diantaranya:
pinggul tertekuk, karena shortening dan kontraksi adductors hip
peningkatan kedalaman atau asimetri dari inguinalis atau lipatan paha;
pemendekan satu kaki;
posisi bawah lutut sisi terpengaruh ketika lutut dan pinggul yang tertekuk, karena lokasi
femoralis posterior kepala untuk acetabulum dalam posisi ini;
Barlow's test ("bunyi yang keluar" atau dislokasi sign);
telescoping atau tindakan pistoning paha, karena kurangnya penahanan kepala femoralis
dengan acetabulum;
Trendelenburg - drop pinggul normal ketika anak berdiri pada kedua kaki, mengangkat
tungkai dan dikenakan berat pada sisi yang terkena.

2. Etiologi
Dislokasi terjadi saat ligarnen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang
berpindah dari posisinya yang normnal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh
faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir
(kongenital).
congenital dislocation of hip biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang
disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang sedemikian rupa karena cacat bawaan.
Kebanyakan bayi yang lahir dengan Congenital dislocatoin of hip memiliki orang tua
yang jelas-jelas tidak memiliki gangguan kesehatan maupun faktor resiko. Seorang wanita
hamil yang telah mengikuti semua nasihat dokternya agar kelak melahirkan bayi yang
sehat, mungkin saja nanti melahirkan bayi yang memilii kelainan bawaan. 60% kasus
kelainan bawaan penyebabnya tidak diketahui; sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan
atau genetik atau kombinasi dari keduanya.
Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau
meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan.Radiasi, obat tertentu dan racun merupakan
teratogen.
Gizi
Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari teratogen, tetapi
juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik.Salah satu zat yang penting untuk
pertumbuhan janin adalah asam folat. Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko
terjadinya spina bifida atau kelainan tabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi
sebelum seorang wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita usia subur
sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400 mikrogram/hari.


Faktor fisik pada rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan pelindung
terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa menyebabkan atau
menunjukkan adanya kelainan bawaan.
Faktor genetik dan kromosom
Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan. Beberapa
kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang diwariskan melalui gen yang
abnormal dari salah satu atau kedua orang tua.Gen adalah pembawa sifat individu yang
terdapat di dalam kromosom setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau
cacat, bisa terjadi kelainan bawaan.
Informasi yang diperoleh dari ortopedi Radiologi oleh Adam Greenspan tentang
Congenital dislocatoin of hip tentang pergeseran pada panggul adalah:
a) Y-line adalah garis yang ditarik melalui bagian superior dari tulang rawan triradiate.
Pada bayi normal, jarak yang diwakili oleh baris (ab) tegak lurus garis-Y pada titik paling
proksimal leher femoralis harus sama di kedua sisi panggul, sebagaimana seharusnya
jarak diwakili oleh garis (bc) ditarik bertepatan dengan garis-Y medial ke lantai
acetabular. Pada bayi usia enam sampai tujuh bulan, nilai rata-rata untuk jarak (ab)
menjadi 19,3 mm + / - 1,5 mm; untuk jarak (bc), 18,2 mm + / - 1,4 mm. Indeks acetabular
adalah sudut yang dibentuk oleh garis singgung ditarik ke atap acetabular dari titik (c) di
lantai acetabular pada garis-Y. Nilai normal dari sudut ini berkisar antara 25 derajat
hingga 29 derajat. Garis Shenton-Menard adalah busur berjalan melalui aspek medial
leher femoralis di perbatasan unggul foramen obturatorius.. Harus halus dan tak terputus.


b) Garis Perkins-Ombredanne ditarik tegak lurus dengan garis-Y, melalui tepi paling
lateral acetabular tulang rawan kaku, yang benar-benar sesuai dengan spina iliaka
anteroinferior pada bayi baru lahir normal dan bayi, aspek medial femur atau leher kaku
modal femoral epiphysis jatuh di dalam kuadran yang lebih rendah. Munculnya salah satu
dari struktur di kuadran luar atau lebih rendah menunjukkan subluksasi atau dislokasi
pinggul.
c) The Rosen von Andren-line,, yang diperoleh dengan setidaknya 45 derajat dari pinggul
dan rotasi internal, digambarkan sepanjang sumbu longitudinal batang femoralis. Dalam
pinggul normal, memotong panggul di tepi atas acetabulum tersebut.
d) Dalam subluksasi atau dislokasi pinggul, baris membagi-dua atau jatuh di atas tulang
belakang anteorsuperior iliaka.

3 Anatomi
Dalam dislokasi pinggul, bola di bagian atas tulang paha (kepala femoral)
tidak duduk aman di soket (acetabulum) dari sendi pinggul. Ligamen di sekitarnya
juga mungkin longgar dan menggeliat. Bola mungkin kendur dalam soket atau
benar-benar di luar itu.
4 Patofisiologi
Dysplasia perkembangan pinggul (developmental dysplasia of the hip, DDH),atau
congenital dislocation of the hip, merupakan ketidaknormalan perkembangan antara
kaput femur dan asetabulum. Pinggul merupakan suatu bonggol (kaput femur) dan
mangkuk (asetabulum) sendi yang memberikan gerakan dan stabilitas pinggul. Terdapat
tiga pola dalam CDH :
1. Dysplasia asetabular (perkembangan tidak normal )- keterlambatan dalam
perkembangan asetabulum sehingga lebih dangkal dari normal, kaput femur tetap dalam
asetabulum ;
2. Subluksasi dislokasi pinggul yang tidak normal ; kaput femur tidak sepenuhnya
keluar dari asetabulum dan dapat berdislokasi secara parsial ; dan
3. Dislokasi pinggul berada pada posisi dislokasi, dan kaput femur tidak bersentuhan
dengan asetabulum. DDH pada akhirnya dapat berkembang menjadi reduksi permanen,
dislokasi lengkap, atau dysplasia akibat perubahan adaptif yang terjadi pada jaringan dan
tulang yang berdekatan.





5 Manifestasi klinis

Pergerakan yang terbatas di daerah yang terkena
Posisi tungkai yang asimetris
Lipatan lemak yang asimetris
Setelah bayi berumur 3 bulan : rotasi tungkai asimetris dan tungkai pada sisi yang
terkena tampak memendek.
ilangnya tonjolan tulang yang normal, misalnya trauma ekstensi dan eksorotasi pada
dislokasi anterior sendi bahu.
Kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu, misalnya dislokasi posterior sendi
panggul kedudukan endorotasi, fleksi dan aduksi.
Nyeri

6 Pemeriksaan diagnosik
Pemeriksaan yang paling penting adalah pemeriksaan USG,pada bayi yang agak
besar atau anak-anak dapat dilakukan rontgen.
1) Rontgen
Menunjukkan lokasi / luasnya fraktur / trauma
2) Scan tulang, tonogram, CT scan / MRI
Memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan
jaringan lunak.


7 Penatalaksanaan
1) Pada awal masa bayi, agar kaput femoralis tetap berada dalam kantungnya, bisa
dipasang alat untuk memisahkan tungkai dan melipatnya ke arah luar (seperti kodok).
2) Jika posisi diatas sulit dipertahankan, bisa digunakan gips yang secara periodik diganti
sehingga pertumbuhan tulang tidak terhambat.
3) Jika tindakan tersebut tidak berhasil atau jika dislokasi diketahui setelah anak cukup
besar, maka dilakukan tindakan pembedahan.







KONSEP ASKEP

3.1 PENGKAJIAN
Pengkajian
Pengkajian musculoskeletal
Kaji tanda iritasi kulit
Kaji respon anak terhadap traksi dan immobilisasi dalam balutan gips
Pasca operasi kaji tanda vital dan drainase luka
Kaji tingkat perkembangan anak
Kaji kesiapan orang tua untuk merawat di rumah

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun
potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (boedihartono,1994).

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dislokasi
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri saat mobilisasi
c. Gangguan bodi image berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh

3.3 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dislokasi
Tujuan :Nyeri dapat berkurang atau hilang
criteria hasil : Nyeri berkurang, Klien tampak tenang
Kaji tingkat nyeri
Beri posisi rileks
Ajarkan tekhnik relaksasi
Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
Kolaborasi pemberian analgetik

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri saat mobilisasi
Tujuan :Klien dapat bergerak bebas
Kriteria hasil :Klien dapat bergerak bebas
Kaji tingkat mobilisasi klien
Beri latihan ROM
anjurkan alat bantu jika dibutuhkan


3. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh
Tujuan :Masalah klien teratasi
kriteria hasil :Klien dapat menungkapkan masalahnya
kaji konsep diri
bantu klien mengungkapkan masalahnya
bantu klien mengatasi masalahnya

3.4 EVALUASI
Hasil yang diharapkan
1. Pinggul bayi atau anak akan tetap pada posisi yang diharapkan
2. Kulit bayi atau anak akan tetap utuh tanpa kemerahan atau kerusakan
Orang tua akan mendemonstrasikan aktivitas perawatan untuk mengakomodasi alat
bantu pengoreksi bayi / anak atau gips spika pinggul.







DAFTAR PUSTAKA

1. http://hasgurstika.blogspot.com/2011/02/askep-cdh.html
2. Doenges, Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta EGC.