Anda di halaman 1dari 29
DINAS CIPTA KARYA KABUPATEN BADUNG Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung-Mangupraja Mandala Jalan Raya Sempidi- Badung

DINAS CIPTA KARYA

KABUPATEN BADUNG

Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung-Mangupraja Mandala Jalan Raya Sempidi- Badung

SPESIFIKASI TEKNIS

KEGIATAN :

PeningkatanPeningkatanPeningkatanPeningkatan JalanJalanJalanJalan LingkunganLingkunganLingkunganLingkungan PermukimanPermukimanPermukimanPermukiman DesaDesaDesaDesa WerdiWerdiWerdiWerdi BhuwanaBhuwanaBhuwanaBhuwana DiDiDiDi KecamatanKecamatanKecamatanKecamatan MengwiMengwiMengwiMengwi

DAFTAR ISI

SPESIFIKASI TEKNIS

1. PEKERJAAN PERSIAPAN

……………………………………………………………………………….3

2. ACUAN NORMATIF ……………………………………………………………………………………… 4

3. PEKERJAAN GALIAN TANAH , URUGAN , TIMBUNAN …………………………………….5

4. PEKERJAAN BETON, BESI BETON , BEGESTING ………………………………………….14

5. PEKERJAAN PASANGAN BATU KALI , PLESTERAN , SIARAN ………………………22

6. PEKERJAAN PAVING BLOK , KANSTEEN(KERB) …………………………………………….23

7. RAMBU – RAMBU KESELAMATAN KERJA

………………………………………………………26

8. PEMBUANGAN SISA GALIAN KELUAR LOKASI DENGAN KENDARAAN …………….26

9. PENYELESAIAN PEKERJAAN

…………………………………………………………………………26

10.P E N U T U P

…………………………………………………………………………………………… 27

2

SPESIFIKASI TEKNIS

Spesifikasi teknis ini merupakan ketentuan yang harus di baca dan dimengerti bersama–sama dengan gambar-gambar rencana, yang keduanya menguraikan tentang pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Pemborong. Identitas pekerjaan seperti peta lokasi, tempat pekerjaan dilaksanakan dijelaskan dalam gambar rencana. Lingkup dan item pekerjaan selengkapnya akan uraikan dalam daftar quantity pekerjaan, sedangkan uraian teknis pekerjaan adalah sebagai berikut :

1. PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1 Penyerahan Lapangan

Sebelum memulai kegiatan, pemborong harus sudah menerima surat/berita acara penyerahan lapangan dari Pemberi Tugas.

1.2 Perijinan

Bila ada sebagian atau seluruhnya pekerjaan yang harus memerlukan perijinan dari instansi yang berwenang, maka Pemborong harus sudah memiliki perijinan yang dimaksud sebelum memulai bagian dari pekerjaan tersebut. Pemborong tidak diperkenankan memulai kegiatan sebelum memegang perijinan yang dimaksud. Segala biaya yang dikeluarkan untuk mengurus perijinan menjadi tanggung jawab pemborong.

1.3 Penyediaan Fasilitas Penunjang Pekerjaan

Semua keperluan fasilitas penunjang pekerjaan seperti listrik, air bersih dan lainnya yang dibutuhkan menjadi tanggung jawab Pemborong.

1.4 Mobilisasi Personalia Kontraktor

1. Pemborong selaku pelaksana kegiatan ini wajib menugaskan personalia yang cakap dan berpengalaman dalam bidang tugasnya untuk menyelesaikan tugas tugas lapangan.

2. Tenaga Kerja dari Pimpinan Kegiatan yang diperbantukan pada pelaksanaan kegiatan , Operator,Mekanik,Driver(pengemudi) tanggungan pemborong.

3. Tenaga Kerja yang dikerahkan yang pelaksanaan kegiatan ini diusahakan menggunakan Tenaga Kerja setempat. Dalam hal tenaga kerja setempat kurang/tidak mencukupi kebutuhan, dapat mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah.

4. Apabila Pemborang mendatangkan Tenaga Kerja dari luar daerah, maka setelah kegiatan selesai , Pemborong wajib mengembalikan tenaga kerja tersebut ketempat asalnya.

1.5 Mobilisasi Peralatan dan Material

Semua peralatan kerja yang akan dipakai dalam pekerjaan ini harus sudah dipersiapkan oleh Pemborong. Peralatan tersebut harus dalam kondisi baik dan laik pakai. Jika dalam masa pelaksanaan pekerjaan, peralatan mengalami kerusakan/tidak bisa dipergunakan, pemborong harus segera menyiapkan peralatan pengganti yang baru yang laik pakai. Penempatan material di areal site harus dikonsultasikan dengan Direksi Tenis, agar tidak mengganggu pekerjaan selama proses pekerjaan berlangsung.Pemborong harus sudah menghitung biaya mobilisasi material sampai ke tempat lokasi pekerjaan sesuai dengan tingkat kesulitannya.

1

1.6

Alat Dan Peralatan Kerja Pemborong

1. Pemborong harus wajib menyediakan sendiri semua jenis alat peralatan maupun perlengkapan kerja yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan.

2. Alat dan peralatan dimaksud harus dalam keadaan siap pakai, kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan agar segera diperbaiki dan dicarikan penggantinya.

3. Untuk kegiatan ini Pemborong wajib menyediakan peralatan.

4. Biaya angkutan , pengadaan maupun biaya oprasional semua peralatan menjadi tanggungan Pemborong.

5. Pemborong wajib menyediakan tambahan peralatan jika peralatan yang ada dinilai tidak mencukupi.

6. Keamanan peralatan selama pelaksanaan menjadi tanggung njawab Pemborong sendiri.

1.7 Contoh – Contoh Material

Contoh – contoh material yang akan dipakai harus diajukan lebih awal oleh Pemborong, mengacu pada spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Contoh-contoh material yang telah disetujui oleh Direksi Teknis, dituangkan dalam lembaran persetujuan material.

1.8 Pengukuran

Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor harus mengadakan pengukuran kembali dengan teliti elevasi dasar galian, permukaan tanah, ketinggian tanggul dan jalan atau elevasi lainnya sesuai permintaan Direksi. Semua pengukuran kembali harus dikaitkan terhadap titik tetap yang terdekat. Alat – alat ukur yang dipergunakan harus dalam keadaan berfungsi baik dan sebelum pekerjaan dimulai semua alat ukur yang akan dipakai harus mendapat persetujuan Direksi, baik dari jenisnya maupun kondisinya. Alat – alat yang dipergunakan adalah waterpass lengkap dengan statip dan rambu – rambunya, theodolite lengkap dengan instruksi Direksi. Cara pengukuran ketepatan hasil pengukuran, toleransi, dan pembuatan serta pemasangan patok bantu akan ditentukan oleh Direksi. Ukuran – ukuran pokok dari pekerjaan adalah sesuai dengan yang tercantum dalam gambar. Ukuran – ukuran yang tidak tercantum, tidak jelas atau saling berbeda, harus segera dilaporkan kepada Pengawas Lapangan. Apabila dianggap perlu, Direksi berhak memerintahkan kepada Kontraktor untuk merubah ketinggian, letak atau ukuran suatu bagian pekerjaan. Apabila timbul keragu – raguan dari pihak Kontraktor dalam menginterpretasi angka – angka elevasi dalam gambar maka hal ini harus dilaporkan kepada Direksi untuk dimintakan penjelasannya. Apabila terdapat kesalahan dalam pengukuran kembali, maka pengukuran ulang menjadi tanggung jawab Kontraktor. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan menurut peil – peil dan ukuran dalam gambar dan uraian / syarat – syarat pelaksanaan itu. Pembuatan dan pemasangan papan dasar pelaksanaan (bouwplank) termasuk pekerjaan Kontraktor dan harus dibuat dari kayu jenis meranti kelas II yang tidak berubah oleh cuaca. Pemasangannya harus kuat dan permukaan atasnya rata dan sifatnya datar (waterpass).Semua ketetapan pekerjaan pengukuran, baik ukuran panjang maupun sudut harus terjamin kebenarannya. Pengukuran sudut siku – siku dengan prisma atau benang hanya dibenarkan untuk bagian – bagian kecil dari pekerjaan dan mendapat persetujuan Direksi. Kekeliruan dari hasil pengukuran, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

2

1.9

Gambar-gambar Kerja

Sebelum mengerjakan pekerjaan, Pemborong wajib membuat Gambar-gambar kerja (shop drawing) yang acuannya dari Gambar Rencana yang terakhir. Jika terdapat perbedaan antara gambar kerja dengan keadaan sebenarnya di lapangan, maka yang dilaksanakan adalah keputusan yang diberikan oleh Direksi. Selanjutnya Kontraktor wajib melakukan penggambaran kembali tapak proyek sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari gambar rencana, kontraktor harus mengajukan 3 (tiga) lembar gambar penampang dari daerah yang dipatok. Direksi akan membubuhkan tanda tangan persetujuan atau pendapat / revisi pada satu lembar gambar tersebut dan mengembalikannya kepada kontraktor. Setelah diperbaiki, kontraktor harus mengajukan kembali gambar yang Direksi diminta untuk direvisi. Gambar tersebut harus digambar kembali diatas kertas A3 dan setelah disetujui oleh Direksi, maka Kontraktor akan menyerahkan kepada Direksi gambar asli dan 3 (tiga) lembar hasil rekamannya.

1.10 Papan Nama Kegiatan.

Papan nama kegiatan dipasang pada patok kayu yang kuat, ditanam dalam tanah dengan ketinggian 1,5 meter. Ukuran Papan Nama Kegiatan adalah 80 x 120 cm, terbuat dari bahan multiplek tebal 9 mm, dicat dasar warna putih, tulisan warna biru, besar huruf disesuaikan.

Letak pemasangan Papan Nama pada lokasi proyek dan Redaksi Papan Nama akan ditentukan kemudian dengan Direksi Teknis.

1.11 Administrasi dan Dokumentasi.

Pemborong harus menyiapkan administrasi pelaksanaan pekerjaan antara lain : Request, laporan harian pelaksanaan , laporan mingguan, laporan bulanan, prestasi fisik pekerjaan, Time schedule pekerjaan dan foto-foto kemajuan pekerjaan dibuat sesuai dengan laporan prestasi pekerjaan, sekurang-kurangnya pada saat dilakukan opname kemajuan pekerjaan.

Yang tidak termasuk pekerjaan persiapan akan tetapi pemborong wajib menyiapkan dan menyediakan adalah :

a. Pagar pengaman Pemborong wajib membuat pagar pengaman di sekeliling areal site, dengan menggunakan seng atau gedeg atau bahan lainnya dengan ketinggian minimal 2 meter. Penempatan pagar pengaman supaya dikoordinasikan dengan pihak Direksi Teknis.

b. Kantor Direksi dengan luas ± 40 m2 (atau disesuaikan dengan kondisi yang memungkinkan di lapangan) untuk kegiatan/ruang kerja Direksi Teknis/pengawas, rapat-rapat rutin lapangan dan lain-lain, dengan perlengkapan sebagai berikut :

Meja rapat lengkap kursi untuk lebih kurang 15 orang.

2 stel meja tulis dan tempat duduk.

Almari/Rak penyimpan alat-alat Kantor/pengawasan.

Papan tulis/white board ukuran 90 x 120 cm.

Sepatu karet dan helm proyek.

Kotak P3K beserta isinya

Kantor Direksi harus terang, aman dan nyaman, serta selalu terjaga kebersihannya. Penempatan /lokasi dari kantor Direksi harus mendapatkan persetujuan dari Direksi Teknis.

c. Kantor Pemborong, Gudang bahan dan los kerja luasnya disesuaikan dengan kebutuhan dan keamanan kerja para pekerja serta terlindungnya bahan bangunan dari cuaca dan hujan.

d. WC darurat untuk Direksi, Pemborong dan pekerja secukupnya serta tersedia cukup air dan terjamin kebersihannya.

3

e.

Kantor direksi, kantor Pemborong/Los Kerja serta wc darurat setelah selesainya pekerjan adalah milik pemborong dan segera harus dibersihkan dari tempat pekerjaan.

ACUAN NORMATIF

Dalam pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus memahami, mengikuti semua persyaratan yang ditentukan dalam rencana kerja dan syarat-syarat termasuk standar material yang akan dipakai yang mengacu pada SNI (Standar Nasional Indonesia), SII (Standar Industri Indonesia). Jika spesifikasi material yang disaratkan belum ada dalam standar SNI dan SII, maka dapat dipakai standar lain yang lebih tinggi kwalitasnya dari standar Nasional diatas antara lain:

: International Organization for Standardization

: Japanese Industrial Standart

: British Standart

ISO

JIS

BS

: Deutsche Industrie Norm

DIN

AWWA : American Water Works Association

: American Society for Testing and Materials

: American National Standard Institute

ASTM

ANSI

: Australian Standardi

AS

: American Welding Society

dan standar standar lainnya yang telah mendapat persetujuan dari Direksi.

AWS

4

2.PEKERJAAN GALIAN TANAH DAN URUGAN, TIMBUNAN

3.1

Galian

3.1.1 Umum

1). Uraian

a) Pekerjaan ini terdiri dari pekerjaan galian tanah di dalam Rumija (Ruang Milik Jalan) ,untuk pembuatan drainase/saluran air dan dinding penahan tanah (DPT) dimana hasil galian dipergunakan untuk :

(1) Penimbunan kembali galian drainase, gorong - gorong dan DPT. (2) Untuk dibuang.

Sehingga dalam pekerjaan galian ini termasukpekerjaan pekerjaan penggalian,pemuatan ,penganjgkutan,penghamparan,pemadatan dan pembentukan sesuai rencana dari bahan tanah yang diperlukanuntuk penyelesaian pekerjaan dalam kontrak ini.

b) Pekerjaan ini diperlukan untuk selokan samping dan saluran air, yang sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi garis ketinggian dan penampang melintang yang ditunjukan dalam Gambar atau sebagaiman yang diperintahkan oleh Direksi pekerjaan.

c) Kecuali untuk keperlu pembayaran, ketentuan dari Seksi ini berlaku untuk semua jenis galian yang dilakukan sehubungan dengan Kontrak, dan pekerjaan galian dapat berupa :

(1) Galian biasa untuk material timbunan (2) Galian biasa sebagai bahan buangan (3) Galian cadas/ Tanah keras (4) Galian batu

3.1.2 PERSYARATAN

1). Standar Rujukan

Standar Nasional Indonesia (SNI) SNI 03 - 1742 - 1989 : Metode Pengujian Ringan untuk tanah SNI 03 - 1744 - 1989 : Metoda Pengujian CBR laboratorium

2).Toleransi Dimensiitentukan dalam gambar Elevasi akhir tanah dasar untuk drainase /saluran tidak boleh berbeda lebih dari 20 mm dari yang ditentukan dalam gambar dan tolenransi kerataan < 10 mm yang di ukurdengan mistar atau yang diperintahkan oleh direksi pada setiap detik, sedangkan untuk galian dinding penahan tanah (DPT) tidak boleh berbeda lebih dari 1 cm dari yang di syaratkan. Toleransi kelandaian galian tidak boleh ber4variasi lebih dari 10 cm dari garis profilyang ditentukan.

3). Peryaratan Bahan a) Penggunaan dan Pembuangan Bahan Galian

1.Semua bahan tanah yang dapat dipakai dalam batas-batas dan lingkup Proyek harus digunakan secara efektif untuk kontruksi. 2.Bahan galian yang tidak memenuh syarat sebagai timbunan dan bahan galian nyang memenuhi persyaratan tetapi berlebihan tidak diperlukan dalam konstruksi harus dibuang sebagai bahan galian untuk dibuang.

5

3.setiap bahan galian yang melebihi kebutuhan timbunan dan memenuhi syarat sebagai bahan timbunan , sedapat mungkin dibuang didaerah Rumija,sedangkan bahan galian yang tidak memenuhi syarat sebagai bahan timbunan harus dibuang didaerah rumija biladia tersedia,atau

dibuang dilahan disediakan secara permanen oleh penyedia jasa setelah mendapat persetujuan dari direksi pekerjaan. 4.Penyedia jasa harus bertanggung jawab terhadap seluruh pengaturan dan biaya yang diperlukan untuk pembuangan bahan galian yang tidak terpakai atau yang tidak memenuhi syrat untuk bahan timbunan,termasuk pembuangan bahan galian ,pengangkutan bahan galian, pengangkutan hasil galian ke tempat pembuangan akhir dengan memperoleh ijin tetap dari ijin pemilik dimana pembuangan akhir tersebut akan dilakukan.

b) Semua daerah galian harus digali sesuai dengan gambar kerja ,atau shop- drawing yang diajukan oleh penyedia jasa dan mendapat persetujuan dari direksi teknik.

c) Pengembalian bentuk dan pembuangan pekerjaan sementara

(1)Bahan bekas yang diperoleh dari pekerjaan sementara tetap menjadi milik penyedia jasa ,bila memenuhi syarat dan disetujui oleh direksi Pekerjaan, bahan – bahan tersebut dapat dipergunakan untuk bahan permanen. (2)Setiap bahan – galian yang ditempatkan dalam saluran air harus dibuang seluruhnya setelah pekerjaan berahir sedemikian sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu saluran air. ( 3)Seluruh tempat bekas galian bahan atau sumber bahan yang digunakan oleh penyedia jasa harus ditinggalkan dalan kondisi yang ratadan rapi dengan tepi dan lelreng yang stabildan saluran drainase yang memadai.

4). Persyaratan Pelaksanaan

a) Pengajuan Kesiapan Kerja dan Pencatatan

(1) Untuk setiap pekerjaan galian sebelum memulai pekerjaan, Penyedia jasa harus menyerahkan kepada Direksi Teknis, gambar detail penampang melintang yang menunjukan elevasi tanah asli sebelum operasi pembersihan dan pembongkaran , atau penggalian paling lambat 6 hari sebelum pekerjaan dimulai. (2)Penyedia jasa harus memasang patok – patok batas galian paling lambat 3 hari sebelumpekerjaan dimulai. (3)Penyedia jasa harus memberitahu direksi Teknis untuk setiap galian yang telah mencapai elevasi dasr saluran , gorong – gorong dll.

b) Pengamanan Pekerjaan Galian

(1)Penyedia jasa harus memikul semua tanggung dalam menjamin keselamatan pekerja,yang melaksanakan pekerjaan galian ,penduduk dan bangunan yang ada di sekitar lokasi galian. (2)Selama pelaksanaan pekerjaan galian, Penyedia jasa harus menjaga stabilitas lereng , agar menjadi stabil dan tidak rusak oleh pekejaan galian tersebut. (3)Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau keperluan lainya tidak diijinkan berada atau beroprasi lebih dekat 1.5 m dari tepi galian drainase,gorong – gorong pipa. (4)Dalam setiap saat, bilamana pekerja atau orang lain berada dalam lokasi galian yang membahayakan keselamatan, maka penyedia jasa harus menempatkan seorang pengawas keamanandilokasi kerja yang tugasnya

6

hanya membantu keamanan dan kemajuan. Sepanjang waktu penggalian , peralatan galian cadangan (yang belum dipakai)serta perlengkapan P3K harus tersedia pada tempat galian. (5)Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang (barikade)yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh ke, dalamnya, dan setiap galian terbuka pada lokasi jalur lalu lintas maupun lokasi bahu jalan harus diberi rambu tambahan pada malam hari berupa drum yang dicat putih(atau sejenis)beserta lamp-u merah atau kuning guna menjamin keselamatan para pengguna jalan, sesuai dengan yang diperintahkan direksi teknis.

c) Pengamanan Hasil Kerja

(1)Pada setiap tahap penggalian terbuka,permukaan galian harus tetap dalam kondisi yang mulus (sound), untuk mencegah gangguan operasi dan perendaman akibat hujan. (2)Bilaman lalu lintas pada jalan terganggu karena oprasi pekerjaan lainya, penyedia jasa harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu atas jadwal gangguan tersebutdari pihak yang berwenang dan dari direksi pekerjaan.

d) Perbaikan Terhadap Pekerjaan Galian yang tidak Memenuhi Ketentuan Pekerjaan Galian yang tidak tidak memenuhi toleransi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia jasa dan harus diperbaiki oleh penyedia jasa sebagai berikut :

(1)Lokasi Galian dengan garis dan dan ketinggian akhir yang melebihi garis dan ketinggian yang ditunjukan dalam gambar/atau sebagai mana yang diperintahkan direksiTeknis harus digali lebih lanjut sampai memenuhi toleransi yang diperyaratkan. (2)Lokasi dengan penggalian yang melebihi garis dan ketinggian yang ditukjukan dalam gambar atau sebagai mana yang diperintahkan oleh direksi Teknisatau dasar galian yang mengalami kerusakan atau menjadi menjadi lembek, maka material yang telah rusak dibuang dan ditimbun kembali dengan material yang lebih baiksebagai mana yang diperintahkan direksi Teknis, dipadatkan dan dibentuk sesuai ketentuan dalam spesifikasi ini.

e) Utilitas Bawah Tanah

(1)Penyedia jasa harus bertanggung jawab untuk memperoleh informasi tentang keberadaan dan lokasi utilitasbawah tanah dan membayar setiap ijin atau kewenangan lainya yang diperlukan dalam pelaksanaan galian yang diperlukan dalam kontrak. (2)Penyedia jasa harus bertanggung jawab untuk menjaga dan me4lindungi setiap utilitas bawah tanah yang masih berfungsi seperti pipa, kabel, atau

saluran bawah tanah lainya atau struktur yang mungkin dijumpai dan harus memperbaiki setiap kerusakanyang timbul akibat operasi kegiatan.

3.1.3 PELAKSANAAN 1) Prosedur Umum

a)Penggalian harus dilaksanakan menurut kelandaian, garis,dan elevasi yang ditentukan dalam gambar yang disetujui oleh Direksi Teknisdan harus mencakup pembuangan semua bahan dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah,batu,batu bata,beton, pasangan batu dan bahan perkerasan lama, yang tidak digunakan untuk pekerjaan permanen.

7

b)Pekerjaan galian harus dilaksanakn dengan gangguan yang seminimal mungkin terhadap bahan di bawah dan diluar batas galian. c)Bilaman bahan yang terekp[us dari garis formasiatau tanah dasar atau pondasidalam keadaan lepas atau lunak atau kotor atau menurut pendapat Direksi Teknis tidak memenuhi syarat, maka bahan tersebut harus seluruhnya atau sebagian dibuang dan diganti dengan bahan memenuhi syarat.

2)Galian pada Tanah Dasar Selokan dan Talud Galian untuk gorong – gorong atau drainase saluran dan galian untuk pondasi DPT atau struktur lain, harus cukup ukuranya sehingga memungkinkan pemasangan bahan kontruksi sesuai gambar rencana,sehingga pengawasan dan pemadatan pemedatan penimbunan kembali di bawah dibawah dan di sekelilinjg pekerjaan dapat dilakukan dengan cermat.

3.1.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1)

Cara Pengukuran

a)Pekerjaan yang tidak diukur untuk pembiayaan terdiri dari :

(1)Galian Diluar Rencana(Overcut) (2)Galian yang digunakan bukan untuk pekerjaan permanen (3)Galian yang sudah termasuk dalam satu item pekerjaan.

b)Cara pengukuran volume galian dilakukan dengan basis pengukuran akhir(final measurement basis)sebagai berikut :

(1 )Pengukuran awal potongan memanjang (logitudinal)dan potongan melintang (cross section)permukaan lahan setelah pekerjaan pembersihan dan pemotongan(land clearingand grubbing) (2)Pengukuran akhir pemotongan memanjang dan potongan melintang permukaan setelah galian selesai dikerjakan sesuai rencana. (3)Jarak pembuatan potongan melintang satu dengan lainya sebesar 25 m atau dalam keadaan khusus dapat ditentukan lain. (4)Luas galian pada suatu Cross Section adalah luas selisih butir 1 dan butir 2 (5)Volume pekerjaan adalah jumlah perkalian jarak potongan melintang satu dengan potongan melintang berikutnya yang sama.

2) Dasar Pembayaran

Pembayaran dilakukan atas dasar volume galian yang disetujui oleh direksi pekerjaan dan direksi teknik dan harga satuan yang tercantumdalam kontrak. Kwantitas galian yang diukur menurut menurut ketentuan di atas, akan dibayar menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukan dalam Daftar Kwantitas dan Harga untuk masing masing mata pembayaran yang terdaftar dibawah ini, dimana harga dan pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk seluruh pekerjaan yang berkaitan, dan biaya yang diprlukan dalam melaksanakan pekerjaan galian sebagaimana yang diuraikan dalam spesifikasi ini.

8

3.2 TIBUNAN

3.2.1 UMUM

1) Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan,penghamparan dan pemadatan tanah, limestone atau bahan bebutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk penimbunan kembali galian dan untuk timbunan umumyang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis ,kelandaian, dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atrau disetujui. 2) Timbunan yang dicakup dalam hal ini,yaitu timbunan biasa dan tibunan pilihan. 3) Timbunan pilihan akan digunakan sebagai lapia perbaikan tanah dasar (improv sub grade)untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar. 4) Pekerjaan ini juga mencakup timbunan secara manual atau mekanis, dikerjakan sesuai dengan Spesifikasi ini dan sangat mendekati garis dan ketinggian yang ditujukan dalam gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.

3.2.2 PERSYARATAN

1)Standar Rujukan Standar Nasional Indonesia (SNI) SNI 03-1742-1989 : Metoda Pengujian kepadatan ringan untuk tanah SNI 03-1744- 1989: Metoda Pengujian CBR Laboratorium SNI 03-Z828-1992 : Metoda pengujian kepadatan lapangan dengan alat konus pasir.

2)

Toleransi Dimensi a)Setelah pemadatan lapis dasar perkerasan (sub grade), toleransi elevasi permukaan tidak boleh lebih dari 20 mm dan toleransi kerataan maksimum 10 mm yang diukur dengan mistar panjang 3 m arah memanjang dan melintang. b)Seluruh permukaan akhir timbunan yang terekpos harus cukup rata dan harus memiliki memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran air permukaan yang bebas. c)Permukaan akhir lereng timbunan tidak boleh bervariasi lebih dari 10 cm dari garis profil yang ditentukan.

3)

Persyratan bahan

a) Tibunan Biasa

1)Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari bahan galian tanah yang disetujui oleh direksi pekerjaan sebagai bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan timbunan. 2)Bahan untuk timbunan biasa tidak boleh dari bahan galian tanah yang mempunyai sifat sifat sebagai berikut :

a)Tanah yang mengandung organik, serta tanah yang mengan dung daun- daun, rumput-rumputan,akar dan sampah. b)Tanah yang mempunyi sifat kembang susut tinggi c)tanah dengan kadar air alamiah sangat tinggi yang tidak mungkin dikeringkan untuk memenuhi toleransi kadar air pada saat pemadatan.

b) Timbunan Pilihan (Selected material) 1)Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai Timbunan Pilihan bila digunakan pada lokasi dan untukdan untuk maksud dimana dimana timbunan pilihan telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh direksi pekerjaan.

9

2)Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah,tanah berbatu,batu berpasiratau limestone yang memenuhi semua ketentuan untuk timbunan biasa dan sebagai tambahan dan sebagai tambahan harus memiliki sifat tertentu yang tergantung dari maksud penggunaanya,seperti diperintahkan atau disetujui oleh direksi pekejaan. 3)Bahan timbunan pilihan yang akan digunakan bilamana pemadatan dalam keadaan jenuh atau banjir yang tidak dapat dihindari,haruslah pasir atau krikilatau bahan berbutir bersih lainya dengan indek Plastisitas maksimum

6%.

c) Ketentuan Kepadatan untuk tanah,Limestone 1)Lapisan Tanah ,Limestone yang lebih dari 20 cm dibawah elevasi permukaan harus dipadatkan dalam dalam lapisan - lapisan timbunan dengan ketebalan maksimum 20 cm dan tidak boleh kurang dari 10 cm, sampai 95 % dari kepadatan kering maksimum. 2)Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis timbunan yang dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian menunjukan kepadatan kurang yang disyaratkan , maka penyedia jasa harus memperbaiki pekerjaan ini. Pengujian harus dilakukan pada kedalaman penuh pada lokasi yang diperintahkan oleh Direksi Teknis, tetapi tidak boleh berselang lebih dari 50 m untuk setiap lebar hamparan. 4) Persyaratan Kerja a) Kesiapan Kerja

(1)Paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan dimulai untuk setiap timbunan awal yang akan dilaksanakan, Penyedia jasa harus :

a) Menyerahkan Gambar hasil penampang melintang dasar timbunan yang menunjukan permukaan yang telah dipersiapkan untuk penghamparan timbunan kepada Direksi Teknis. b) Menyerahkan hasil pengujian kepadatan dasar timbunan yang membuktikan bahwa pemadatan pada permukaan yang telah memenuhi persyaratan.

(2)Penyedia jasa harus menyerahkan hal – hal berikut ini kepada. Direksi Pekerjaan paling lambat 14 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk penggunaan pertama kalinya sebagai bahan timbunan. a)Dua contoh masing-masing 50 kg untuk setiap jenis bahan,satu contoh harus disimpsn oleh Direksi pekerjaan untuk rujukan selama perioda kontrak. b)Pernytaan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk bahan timbunan,bersama-sama dengan hasil pengujian laboratorium yang menunjukan sifat sifat bahan tersebut memenuhi ketentuan yang disyaratkan.

b) Metoda Kerja

(1)Untuk menghasilkan hamparan dengan tebal padat 20 cm atau yang disyaratkan Penyedia jasa harus menyampaikan metoda kerja yang akan dilakukan. (2)Pelaksanaan Timbunan Badan Jalan harus dikerjakan setengah lebar jalan sehingga setiap saat jalan tetap terbuka untuk lalu – lintas.

c) Kondisi Tempat Kerja

(1)Penyedia jasa harus menjamin bahwa pekerjaan harus dijaga tetap kering

segera sebelum dan selama pekerjaan pekerjaan penghamparan dan pemadatan,dan selama pelaksanaan timbunan haurs mempunyai lereng melintang yang cukup untuk membantu drainase badan jalan dari setiap curahan air hujan dan juga harus menjamin pekerjaan akhir mempunyai

10

drainase yang baik.Bilaman memungkinkan air yang berasal dari tempat kerja ,harus dibuang kedalam sistim drainase permanen. (2)Penyedia jasa harus selalu menyediakan pasokan air yang cukup untuk pengendalian kadar air timbunan selama noprasi penghaparan dan pemadatan.

d)Perbaikan Terhadap Timbunan yang tidak memenuhi ketentuan /tidak stabil. (1)Timbunan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui atau toleransi permukaan yang disyaratkan harus diperbaiki dengan menggemburkan permukaanya dan membuang atau menambah bahan sebagaimana yang diperlukan dan dilanjutkan dengan pembentukan dan pemadatan kembali. (2)Lapis hamparan timbunan yang terlalu kering untuk dipadatkan,dalam hal batas-batas kadar airnya yang disyratkan, harus diperbaiki dengan menggaruk bahan tersebut,dilanjutkan dengan penyemprotan air secukupnya,dan dicampur seluruhnya dengan mengunakan Motor Ggreader atau peralatan lian yang disetujui. (3)Timbunan yang telah padat dan memenuhi ketentuan yang disyratkan dalam Spesifikasi ini, menjadi jenuh akibat hujan atau banjir atau karena hal lain, biasanya tidak memerlukan perkerjaan perbaikan asalkan sifat-sifat bahan dan kerataan permukaan masih memenuhi ketentuan dalam spesifikasi ini. (4)Pemgembalian Bentuk Pekerjaan setelah Pengujian. Semua lubang pada pekerjaan akhir yang timbul akaibat pengujian Kepadatan atau lainya harus secepatnya ditutup kembali oleh penyedia jasa dan dipadatkan sampai mencapai kepadatan dan toleransi permukaan yang disyaratkan oleh spesifikasi ini. (5)Cuaca Yang Dijinkan Untuk Bekerja. Timbunan tanah tidak boleh ditempatkan dihampar atau dipadatkan sewaktu hujan, dan pemadatan tidak boleh dilahsanakan setelah hujan atau bilamana kadar air bahan diluar rentang yang disyaratkan.

3.2.3 PELAKSANAAN

1) Penyiapan Tempat Kerja a)Sebelum penghamparan timbunan

pada setiap tempat, semua bahan yang

tidak diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaann sesuai dengan Spesifikasi ini. b)Penyedia jasa harus memasang patok batas dasar timbunan 3 hari sebelum pekerjaan dimulai. c)Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian serta penduduk sekitar. d)Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainya berada dalam galian yang mengharuskan kepada mereka berada dipermukaan tanah, kontraktor harus menempatkan pengawas keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor kemajuan dan keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadangan(yang belum terpakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia pada tempat kerja galian. e)Seluruh galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh kedalamnya, dan setiap galian terbuka pada badan jalan atau bahu jalan harus ditambah dengan rambupada malam hari dengan drunm dicat putih (atau yang serupa) ketentuan pengaturan dan pengendalian lalu – lintas selama pelaksanaan kostrukasi harus diterapkan pada seluruh galian ndalam daerah milik jalan.

11

f)Dsar pondasi timbunan harus dipadatkan (termasuk penghamparan dan pengeringan atau pembasahan bila diperlukan) setebal 20 cm,dan harus memenuhi kepadatan sesuai persyaratan.

2) Penghamparan Timbunan a)Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata yang setelah dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana timbunan terakhir yang dipadatkan lebih dari 20 cmdan kurang dari 40 cmmaka dibagi 2 sama tebalnya. Tanah /Limestone timbunan diangkut langsung dari luar sumber bahan ke permukaan yang yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah. Penumpukan tanah di lokasi sumber ataupun dilokasi timbunan untuk persedian tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan kecuali dengan perlindungansehingga air hujan tidak membasahi tumpukan Tanah / Limeston.

b)Penimbunan dalam suatu lokasi(lot)dan pada satu lapis hanya boleh digunakan bahan tanah yang berasal dari satu sumber galian dan yang seragam. c)Bilamana timbunan badan jalan akan dipelebar, pelebaran timbunan harus dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar jalan lama, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin,dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkan kesisi jalan lainya bilaman diperlukan.

3) Pemadatan Timbunan a)Segera setelah penempatan dan penghamparan tibunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan. b)Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya, bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3% dibawah kadar air oftimum sampai 1% diatas kadar air optimum. c)Setiap lapisan tibunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang dsyratkan , diuyji kepadatanya dan harus diterima oleh Direksi Teknis sebelum lapisan berikutnya dihampar. d)Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi terendah dan bergerak menuju ke arah elevasi tertinggi sumbu jal;an, sehingga setiap titik akan menerima energi pemadatan yang sama. e)Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas,harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis dengan berat kurang lebih 70 kg atau timbris(tamper)manual dengan berat minimum 10 kg. Pemadatan dibawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian Khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga , dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya.

12

3.2.4 PENGENDALIAN MUTU

1) Penerimaan Bahan a)Jumlah data pendukung hasil pengujian yang diperlukan untuk persetujuan awal mutu bahan akan ditetapkan ditetapkan oleh direksi pekerjaan , tetapi bagaimanapun juga harus mencakup seluruh pengujian yang disyaratkan dengan satu rangkaian pengujian bahan yang lengkap, untuk setiap jenis tanah dari setiap sumber bahan setelah setelah persetujuan terhadap mutu bahan timbunan yang diusulkan, Direksi Teknis dapat memintakan pengujian mutu bahan ulang untuk mencegah terjadinya perubahan sifat bahan. b)Pengandalian mutu bahan harus rutin dilaksanakan untuk mengendalikan setiap perubahan mutu bahan yang dibawa ke lapangan. Setiap perubahan sumber bahan paling sedikit harus dilakukan satu pengujian untuk menentukan bahan timbunan ketentuan, seperti yang disyaratkan. Direksi Teknik setiap saat dapat memerintahkan dilakukanya uji ke ekspansif an sesuai SNI 03-6795-2002.

2) Percobaan Pemadatan Lapangan Penyedia jasa harus menyampaikan usulan percobaan pemadatan termasuk memilh Metoda dan peralatan untuk mendapatkan ketebalan dan tingkat kepadatan yang disyaratkan. Bilamana penyedia jasa tidak dapat mencapai kepadatan yang disyaratkan, prosedur pemadatan berikut ini harus diikuti:

a) Mengganti alat pemadat yang lebih sesuai atau lebih berat. b) Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasijumlah lintasan alat pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai, sehingga dapat diterima oleh Direhsi Teknik. Hasil percobaan lapangan ini selanjutnya dapat digunakan penyedia jasa sebagi bahan untuk menetapkan pola lintasa pemadatan, jumlah lintasan, jenis jenis alat pemadat dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.

3.2.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN 1)Retribusi bahan galian untuk Timbunan Bilamana bahan galian tanah biasa atau bahan tibunan pilihan atau lapis pondasi agregat, atau bahan lainya dari galian sumber bahan di luar daerah milik jalan, penyedia jasa harus dilakukan pengaturan yang diperlukan dan membayar kepemilikan bahan konsesi kepada pemilik tanah maupun retribusi dan ijin pengangkutan kepada pihak yang bewenang.

2)Pengukuran Timbunan Pekerjaan timbunan tidak diukur tersendiri tetapi telah dibayar dalam pekerjaan galian. Kecuali untuk tibunan pilihan (agregat,limestone) timbunan diukur atas dasar selisih profil melintang sesuai desain rencana yang dihitung atas dasar satuan m3 padat / terpasang.

3)Dasar Pembayaran Kwantitas timbunan yang diukur seperti yang diuraikan diatas, dalam jarak angkut berapapun yang diperluka, harus dibayar untuk per satuan pengukuran dari masing – masing harga yang dimasukan dalam daftar kwantitas dan harga, dimana harga tersebut harus sudah merupakan harga konpensasi penuh untuk pengadaan, pemasokan,penghamparan, pemadatan, penyelesaian akhir dan pengujian bahan, termasuk seluruh biaya lain yang

13

diperlukan atau biaya atau biaya untuk penyelesaian dari pekerjaan yang diuraikan dalam spesifikasi ini.

4 .PEKERJAAN BETON

Lingkup pekerjaan beton adalah semua struktur bangunan Pelat duiker pada gorong-gorong yang terbuat dari beton bertulang dan lainnya yang disebutkan dalam gambar rencana. Pemborong wajib mengerjakan semua pekerjaan beton yang disebutkan dalam gambar rencana.

4.1 UMUM

a. Pekerjaan yang disyaratkan dalam Pasal ini harus mencakup pembuatan seluruh struktur beton, termasuk tulangan dan struktur komposit sesuai dengan Persyaratan dan sesuai dengan garis, elevasi, ketinggian dan dimensi yang ditunjukkan dalam gambar, dan sebagaimana diperlukan oleh Direksi.

b. Kelas dari beton yang akan digunakan pada masing – masing bagian dari pekerjaan dalam kontrak haruslah seperti yang diminta dalam Gambar atau pasal lain yang berhubungan dengan persyaratan ini atau sebagaimana diperintahkan oleh direksi. Seluruh beton struktur harus mempunyai tegangan tekan minimal K.225

c. K.225 : untuk digunakan dalam struktur beton bertulang seperti Pelat Duiker, saluran dan lainnya.

d. Beton non Struktur 1Pc :3 Ps : 5 Krl untuk digunakan dalam semua beton, sebagai lapisan lantai dasar pondasi, sebagai pengisi dan lain – lain.

e. Syarat dari SKSNI T-15-1991-03 harus diterapkan sepenuhnya pada semua pekerjaan beton yang dilaksanakan dalam kontrak ini, kecuali bila terdapat pertentangan dengan syarat dalam spesifikasi ini, dalam hal ini syarat dari spesifikasi ini harus dipakai.

4.2 SEMEN

a. Semen yang dipakai adalah type I semen Portland yang mendapat persetujuan Direksi dan memenuhi SKSNI-1991, SNI, SII.

b. Selama pengangkutan dan penyimpanan, semen tidak boleh kena air dan kantongnya harus asli dari pabriknya, dan tetap utuh dan tertutup rapat.

c. Semen yang sudah membeku, tidak dibenarkan dipakai dalam pekerjaan ini.

d. Semen disimpan pada tempat yang beralaskan dari kayu yang tingginya tidak kurang dari 30 cm dari lantai.

e. Semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi dari 2,00 meter.

f. Pengeluaran semen dari tempat penyimpanan berurutan sesuai dengan datangnya semen di tempat penyimpanan.

4.3 PASIR DAN KERIKIL BETON

a. Pasir dari pasir alam, sedangkan kerikil beton dari hasil mesin pemecah batu (stone crusher) dan harus bersih dari segala kotoran seperti bahan organis, tanah/lumpur, kapur, garam dan sebagainya, tidak porus dan sesuai dengan SKSNI -1991.

b. Bahan pengisi (pasir dan kerikil) harus disimpan ditempat yang bersih dan dicegah agar terjadi pencampuran antara bahan yang satu dengan yang lainnya dan terlindung dari pengotoran.

14

4.4

AIR BETON DAN BAHAN CAMPURAN TAMBAHAN (ADMIXTURE)

a. Air untuk adukan dan untuk merawat beton harus bersih dan bebas dari semua kotoran yang dapat merusak daya lekat semen atau dapat menurunkan mutu beton.

b. Bahan campuran tambahan bila dipandang perlu dapat digunakan untuk mempercepat pengerasan, perbaikan beton. Bahan – bahan tersebut tidak boleh mengandung bahan – bahan yang merugikan sifat beton bertulang.

5. BESI BETON

a. Mutu besi beton yang digunakan adalah :

Mutu besi tulangan beton untuk diamater batang polos adalah BJ. Tp 24 (fy = 240 Mpa), sedangkan mutu besi beton yang diprofil (Deform / ulir) minimal BJ. TP 32 (fy = 320 Mpa), untuk tulangan baja jaring BJ. Tp. 50 fy=500 Mpa) dan ukuran sesuai ketentuan dalam gambar. Simbol “Ø” ( menunjukkan Baja tulangan polos ), Simbol “D” (menunjukan Baja Tulangan Deform/Ulir ). Simbol “M” tulangan baja jaring (wire mesh)

b. Semua besi yang dipakai diatas harus mempunyai sertifikat dari produsen/pabrik. Ketentuan toleransi ukuran besi disesuaikan dengan standar SII atau SNI.

c. Jika besi yang di datangkan ke lokasi tidak sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat/diragukan, Direksi pekerjaan berhak memerintahkan kontraktor untuk melakukan pengujian fisik terhadap besi tersebut. Semua biaya hasil pengujian menjadi tanggungan kontraktor. Bila hasil pengujian tidak sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat, maka Direksi berhak menolak semua besi tersebut. Berita acara hasil pengujian besi di laboratorium harus sah dan ditanda tangani oleh pejabat laboratorium.

d. Membengkokkan dan meluruskan besi beton harus dalam keadaan dingin, sesuai dengan aturan yang berlaku. Panjang penyaluran besi beton dan panjang pengangkeran pada bagian-bagian konstruksi disesuaikan dengan gambar kerja atau menurut aturan dalam SKSNI-1991.

e. Besi beton harus bebas dari kotoran, karat, minyak, cat dan kotoran lain yang dapat mengurangi daya lekat semen atau dapat menurunkan mutu besi beton.

f. Besi beton harus dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar. Kemudian dibentuk dan dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempat.

g. Kawat beton yang dipergunakan harus lazim dipakai, sehingga dapat mengikat besi beton tetap pada tempatnya. Untuk mendapatkan mutu besi beton yang diinginkan, dapat dipergunakan besi beton dari produk yang ditunjuk Direksi Teknis.

h. Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di alam terbuka untuk jangka waktu yang panjang.

SPESIFIKASI: ROUND BAR ( Grade 24 )

CODE NO.

UNIT WEIGHT

 

Diameter

Tolerance

 

Kg/m

( d)

Effective

Tolerance

Ø 7

0.302

7

%

7

7

%

Ø 8

0.395

7

%

8

7

%

Ø 10

0.617

5

%

10

6

%

Ø 12

0.888

5

%

12

6

%

Ø 16

1.578

5

%

16

5

%

Ø 19

2.226

4

%

19

5

%

15

Ø 22

2.984

4

%

22

5

%

Ø 25

3.853

4

%

25

5

%

SPESIFIKASI: DEFORMED BAR ( Grade 40 )

CODE NO.

UNIT WEIGHT

Effective Diameter

 

Kg/m

Effective

Tolerance

D

-

10

0.617

6

%

10

D

-

13

1.042

6

%

13

D

-

16

1.578

5

%

16

D

-

19

2.226

5

%

19

D

-

22

2.984

5

%

22

D

-

25

3.853

5

%

25

D

-

29

5.185

4

%

29

D

-

32

6.313

4

%

32

SPESIFIKASI

: WIRE MESH

 

CODE

TYPE

SIZE ( m )

WEIGHT ( kg )

 

NO.

M

4

Rool

54,0

2,10

154.5

M

5

Rool

54,0

2,10

241.4

M

6

Rool

54,0

2,10

347.6

M

6

Sheet

5,40

2,10

34.76

M

7

Sheet

5,40

2,10

47.31

M

8

Sheet

5,40

2,10

61.79

M

9

Sheet

5,40

2,10

78.21

M

10

Sheet

5,40

2,10

96.55

SPESIFIKASI : PIPA BAJA MEDIUM GALVANIS

DIAMETER

DIAMETER LUAR

TEBAL

BERAT

NOMINAL

inch

mm

Max(mm)

Min (mm)

mm

Kg/m

1/2

15

21.4

21.1

2.65

1.22

3/4

20

27.2

26.4

2.65

1.58

1

25

34.2

33.4

3.25

2.44

1 ¼

32

42.9

42.1

3.25

3.14

1 ½

40

48.8

48.0

3.25

3.61

2

50

60.8

59.8

3.65

5.10

2 ½

65

76.6

75.4

3.65

6.51

3

80

89.5

88.1

4.05

8.47

4

100

114.9

113.3

4.05

12.00

5

125

140.6

138.7

4.85

16.20

6

150

166.1

164.1

4.85

19.20

16

CETAKANKAN BETON / BEKISTING

a. Bahan

- Cetakan untuk beton / bekisting (formwork), harus dibuat dari plywood yang tebalnya minimal 9 mm. Rangka penguat cetakan yang di pakai minimal dari kayu kelas kuat II dan dipasang sedemikian rupa sehingga cukup kuat untuk menahan tekanan beban beton.

- Bahan steger (tiang penyangga) harus terbuat dari kayu bermutu baik atau menggunakan schafolding.

b. Konstruksi

- Cetakan dibuat dan disangga sedemikian rupa sehingga dapat mencegah getaran yang merusak. Dan tidak berubah bentuk sebelum, selama pengecoran berlangsung dan selama beton belum padat.

- Cetakan dibuat sedemikian rupa mempermudah pengecoran dan pemadatan beton tanpa merusak konstruksi beton.

- Kayu steger (penyangga) harus dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menahan beban yang dipikulnya.

- Kontraktor harus mempuat shop drawing dari bagian – bagian konstruksi cetakan / bekisting serta mendapat persetujuan Direksi.

c. Pelapis cetakan

- Untuk mempermudah membuka bekisting beton, dapat digunakan pelapis cetakan dari bahan yang disetujui Direksi.

- Minyak pelumas, baik bekas maupun baru, tidak dibenarkan dipakai sebagai bahan pelapis cetakan.

4.5 ADUKAN BETON

a. Rencana Adukan

- Nama “jenis adukan” di bawah diberikan untuk setiap jumlah bahan pengisi (pasir dan kerikil) terhadap 40 kg semen.

- Gradasi butiran bahan pengisi harus sesuai dengan syarat – syarat gradasi dalam tabel dibawah ini :

Ukuran Ayakan

 

Persentase Berat Yang Lolos

 

Standar

Inch

Agregat

 

Pilihan Agregat

 

(mm)

(in)

Halus

Kasar

50

2

-

100

-

- -

 

37

1 ½

-

95-100

100

- -

 

25

1

-

-

95-100

100

-

19

¾

-

35-70

-

90-100

100

13

½

-

-

25-60

-

90-100

10

3/8

100

10-30

-

20-55

40-70

4.75

#4

90-100

0-5

0-10

0-10

0-15

2.36

#8

-

-

0-5

0-5

0-5

1.18

#16

45-80

-

-

-

-

17

0.3

 

#50

10-30

- -

   

- -

   

0.15

 

#100

2-10

- -

   

- -

 
 

-

Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran partikel terbesar tidak lebih dari ¾ dari jarak minimum antara tulangan baja atau antara tulangan baja dengan acuan, atau antara perbatasan lainnya.

-

Jenis adukan Beton :

 

Catatan :

pc

=

portland cement

 

m

3

ps

=

pasir (bahan pengisi halus)

m

3

krl

= kerikil (bahan pengisi kasar)

m

3

b. Kekuatan beton

kuat tekan beton yang direncanakan adalah K.225

c. Pengadukan beton

Pencampuran bahan-bahan penyusun beton dilakukan agar diperoleh suatu komposisi yang solid dari bahan-bahan penyusun berdasarkan rancangan campuran beton. Sebelum diimplementasikan dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan, pencampuran bahan-bahan dapat dilakukan di laboratorium, untuk mendapatkan formula rancangan sesuai rencana ( membuat Job Mix Formula). Secara umum pengadukan beton dengan mesin (batching plant) harus disesuaikan dengan kecepatan yang direkomendasikan oleh pabrik pembuatnya. Ketentuan waktu pengadukan minimal untuk campuran beton yang volumenya lebih kecil atau sama dengan 1 m3 adalah 1,5 menit atau menurut petunjuk direksi. Selama proses pengadukan, kekentalan campuran beton harus diawasi terus dengan cara memeriksa nilai slump yang disesuaikan dengan jarak pengangkutan.

d. Beton Dekking

- Beton dekking / ganjal 1pc : 2ps harus dibuat terlebih dahulu, sebelum pekerjaan beton konstruksi dimulai. Dicetak setebal 2 cm berukuran 4 x 4 cm atau sesuai dengan yang diisyaratkan, lengkap dengan kawat pengikatnya.

- Sesudah mengeras dan kering udara, beton dekking ini direndam dengan air.

- Untuk beton balok dan kolom, dipasang 10 (sepuluh) buah untuk setiap 1 m 2 dengan ketebalan 3 cm. Dan untuk beton plat duiker dipasang beton dekking dengan ketebalan 3 cm sebanyak 5 buah untuk setiap 1 m 2 .

- Selain beton dekking untuk balok yang mempunyai dua baris atau lebih tulangan, harus diberikan ganjalan dengan besi beton dengan diameter yang sama dengan tulangan rangkap. Ganjalan ini dipasang pada bagian samping dan bawah balok sebanyak 3 buah untuk setiap 1 m 2 .

e. Adukan Beton “Ready Mix”

- Bila dipakai adukan beton “ready mix” nama dan alamat suppliernya harus mendapat persetujuan direksi.

- Kontraktor bertanggung jawab penuh, bahwa adukan yang disuplai tersebut memenuhi syarat spesifikasi dengan membawa hasil test laboratorium sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan dalam RKS dan menjamin kontinuitas kedatangan setiap delivery.

- Direksi mempunyai wewenang untuk setiap saat meminta kepada kontraktor untuk mengadakan percobaan mutu beton tersebut. Apabila mutunya diragukan direksi berhak menghentikan dan menolak beton ready mix tersebut dan semua kerugian yang ditimbulkan oleh hal ini menjadi tanggungan kontraktor.

Adukan beton “Site Mixing” (setempat)

18

- Adukan beton dibuat dengan alat pengaduk “batch mixer” dengan type dan kapasitas yang mendapat persetujuan direksi.

- Kecepatan aduk sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya.

- Kapasitas aduk tidak boleh lebih dari yang diijinkan.

4.6 PENGUJIAN BETON

a. Untuk pengujian beton digunakan silinder berdiameter 15 cm dengan tinggi 30 cm atau kubus beton berukuran 15 x 15 x 15 cm3 yang hasilnya dikonversikan sesuai aturan dalam SKSNI -1991.

b. Pengambilan campuran beton untuk silinder / kubus coba (specimen) dan pengetesannya menjadi tanggung jawab kontraktor dan harus dibawah pengawasan direksi.

c. Prosedur pembuatan kubus beton terdiri dari :

- Setiap pembuatan 5 m3 beton harus dibuat minimal 1 buah silinder / kubus beton coba (specimen) untuk pengetesan.

- Jumlah silinder / kubus coba yang harus dibuat untuk seluruh volume beton minimum 21 buah dimana masing – masing sebanyak 7 buah untuk percobaan pada umur 3, 7, 14, dan 28 hari. Hasil percobaan tahap I ini harus mendapat persetujuan Direksi Teknis sebelum pekerjaan beton dimulai.

- Selanjutnya, setiap saat bila dirasakan perlu direksi berhak meminta kepada kontraktor untuk membuat silinder / kubus coba dari adukan beton yang dibuat. Dalam hal ini silinder / kubus beton diberi tanda yang dapat mengidentifikasi tanggal pengecoran, penggunaan untuk bagian struktur yang bersangkutan dan lain – lain yang dianggap perlu.

d. Semua silinder / kubus coba, ditest di laboratorium yang disetujui Direksi Teknis. Apabila pengetesan akan dilakukan di lapangan, maka tes coba harus mempunyai sertifikat kalibrasi yang diakui dan pelaksanaan pengetesan ada dibawah pengawasan Direksi Teknis.

e. Kontraktor juga diharuskan mengadakan slump tes menurut syarat – syarat dalam SKSNI - 1991.

f. Apabila terjadi setelah beton dicor tidak memenuhi syarat – syarat sesuai dengan hasil test, maka seluruh volume beton yang dicor dengan campuran tersebut harus dibongkar. Sebelum dilaksanakan pembongkaran, kontraktor diijinkan untuk mengajukan usulan pengetesan ulang, loading test pada struktur beton yang sudah dicor dengan persetujuan direksi.

kepada

g. Semua

biaya

yang

diperlukan

dalam

pengujian

mutu

beton

dibebankan

kontraktor.

4.7 MUTU BETON

a. Standar mutu beton

- Selambat – lambatnya 3 (tiga) hari setelah waktu pengujian, direksi harus mencantumkan nilai karakteristik, deviasi standar, slump, tanggal pengecoran dan pengujian.

- Apabila hasil percobaan tidak memenuhi kekuatan yang diisyaratkan, kontraktor harus merubah proporsi adukan, sehingga dapat mencapai syarat yang direncanakan.

b. Apabila ternyata kuat tekan silinder / kubus coba beton yang diambil dari adonan beton dalam pelaksanaan tidak memenuhi syarat spesifikasi, maka Direksi Teknis berhak meminta Kontraktor untuk mengadakan percobaan non destruktif.

4.8 PENGECORAN BETON

19

a. Proporsi perbandingan campuran semen dengan bahan pengisi (pasir dan kerikil) adalah minimal. Jadi tidak dibenarkan untuk dikurangi semennya.

b. Sebelum adukan beton dituangkan, semua cetakan harus betul – betul bersih dari kotoran seperti serbuk gergaji, tanah, minyak dan kotoran lainnya. Kemudian cetakan tersebut dibasahi dengan air secukupnya, namun tidak boleh ada genangan air pada cetakan tersebut.

c. Pengecoran baru bisa dimulai setelah mendapat persetujuan Direksi Teknis. Apabila pengecoran beton dilakukan tanpa adanya persetujuan direksi, maka kerugian akibat pembongkaran, sepenuhnya menjadi tanggungan kontraktor.

d. Adukan harus homogen atau dengan warna yang merata dan harus sudah dicorkan dalam waktu 1 (satu) jam setelah pencampuran air dimulai.

e. Pengecoran suatu unit pekerjaan beton harus dilaksanakan terus menerus sampai selesai dengan tanpa berhenti, kecuali mendapat persetujuan direksi. Tidak dibenarkan mengecor beton saat hujan, kecuali ada tindakan pengaman dari kontraktor, terutama untuk meneruskan pengecoran suatu unit pekerjaan, yang mendapat persetujuan direksi. Dalam hal ini kontraktor harus berupaya agar beton yang baru dicorkan tidak dirusak oleh air hujan.

f. Setelah dicorkan pada cetakan, adukan harus dipadatkan dengan alat penggetar (vibrator) yang berfrekwensi dalam adukan paling sedikit 3000 putaran setiap menit. Penggetaran dilakukan selama 20 detik setiap satu adukan yang dicorkan, mulai pada saat adukan dicorkan dalamcetakan dan dilanjutkan dengan adukan selanjutnya. Vibrator tidak boleh menyentuh cetakan dan besi beton yang salah satu bagiannya berhubungan dengan adukan beton yang telah mengeras.

g. Adukan beton harus diangkut sedemikian rupa, sehingga dapat dicegah adanya pemisahan atau pengurangan bagian – bagian bahan. Adukan tidak boleh dijatuhkan lebih dari 2 meter. Untuk kolom – kolom yang tinggi, harus dibuatkan jendela – jendela dengan jarak vertikal tidak lebih dari 2 meter.

h. Siar pelaksanaan (contruction joint) dipakai bahan penyekat “Styrofoam” yang mudah hancur dengan bensin, dalam pengecoran beton harus mendapat persetujuan direksi.

i. Apabila terjadi pertemuan dengan beton yang sudah dicor, bidang pertemuan harus dibersihkan dengan cara menyemprot dengan air. Kemudian disikat sampai agregat kasar kelihatan dan selanjutnya disiram dengan air semen kental dan ditambah additive, merata keseluruh permukaan yang akan disambung, sedang untuk beton yang memerlukan kedap air harus memakai “Water Stop” ex Tricosal type yang direkomendasikan untuk setiap jenis sistem sambungan.

4.9 PEMASANGAN ANGKER / PEMBENGKOKAN BESI TULANGAN

a. Pengangkeran perletakan pelat duiker pada pondasi/tumpuan pasangan menggunakan besi diameter D -16 dengan jarak sesuai gambar rencana.

4.10 TOLERANSI – TOLERANSI

a. Toleransi pada beton cetakan kasar

- Toleransi terhadap posisi untuk masing–masing bagian konstruksi adalah 1 cm.

- Toleransi terhadap ukuran masing – masing bagian konstruksi adalah – 0,3 cm dan

+ 0,5 cm.

b. Toleransi pada cetakan beton halus.

- Toleransi terhadap posisi untuk masing – masing bagian konstruksi adalah 0,6 cm.

- Toleransi terhadap ukuran masing – masing bagian konstruksi adalah – 0,2 cm dan

+ 0,4 cm

c. Toleransi posisi vertikal : 2 mm/m’

20

d.

Toleransi posisi horisontal : 1 mm/m’

4.11 PERLINDUNGAN BETON

a. Agar beton terlindung dari pengaruh cuaca, beton harus dibasahi secara terus menerus selama 14 (empat belas) hari setelah pengecoran dengan menutupi jerami / karung basah.

b. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga agar tetap basah sekurang – kurangnya selama 4 (empat) hari setelah pengecoran, dengan cara menyemprotkan atau menggenangi dengan air pada permukaan beton tersebut, terutama pada pagi / sore hari atau cuaca teduh.

c. Beton harus terlindung dari pengrusakan secara mekanis / pengeringan sebelum waktunya.

4.12 PEMBONGKARAN CETAKAN

a. Cetakan beton tidak boleh dibongkar sebelum beton mencapai kekuatan kubus yang dapat memikul 2 x berat sendiri. Pada bagian – bagian konstruksi yang memikul beban lebih besar dari rencana rata – rata, cetakan beton belum boleh dibongkar sampai beton mempunyai kekuatan tersebut.

b. Untuk pembongkaran cetakan pada bagian – bagian tertentu, kontraktor harus meminta persetujuan direksi. Untuk pembongkaran cetakan, kontraktor harus berpedoman pada SKSNI 1991. Jika Pemborong mengabaikan perintah Direksi Teknis, maka segala akibat yang ditimbulkan oleh pembongkaran cetakan ini adalah menjadi tanggungan kontraktor.

4.13 CACAT PADA BETON

a. Yang dimaksud dengan cacat beton adalah hal – hal sebagai berikut :

- Konstruksi beton yang amat keropos

- Konstruksi beton tidak sesuai dengan yang direncanakan

- Konstruksi beton yang berisi benda – benda yang dilarang ada pada beton.

b. Apabila hal ini terjadi, direksi berwenang untuk tidak menerima pekerjaan beton tersebut dan kontraktor harus segera memperbaikinya sesuai dengan petunjuk direksi.

c. Penggunaan alat pembantu pekerjaan yang membebani struktur harus mendapat persetujuan direksi dan kontraktor harus memperbaiki beton yang rusak akibat penggunan alat pembantu.

d. Hasil yang diharapkan semua cor beton tidak ada yang menyimpang dari toleransi yang dijinkan, karena tidak ada perbaikan beton dengan plesteran.

5.PEKERJAAN PASANGAN BATU KALI plesteran dan siaran

PASANGAN BATU KALI UNTUK DRAINAGE, SENDERAN/DPT,

KONSTRUKSI GORONG-GORONG.

- Batu kali yang dipergunakan batu kali yang dibelah atau batu gunung yang keras, tidak porous dan bersih, besarnya tidak lebih dari 30 cm.

- Tidak dibenarkan menggunakan batu kali bulat atau batu endapan. Pemecahan batu harus dilakukan diluar batas bowplank bangunan.

- Semen, pasir, air dan pasangan adalah sama dengan ditentukan dalam pekerjaan beton.

- Penggunaan adukan : 1 pc : 5 ps = Digunakan untuk pasangan batu kali secara umum atau sesuai dengan gambar kerja atau dengan Kuat tekan mortar setara 90 kg/cm.

21

-

Pada setiap pokok galian dibuat profil pasangan terbuat dari kayu atau bambu dengan ukuran sesuai dengan ukuran drainage dan atau senderan yang akan dibuat.

-

Batu kali terpasang padat dan diantara batu kali harus dilapisi oleh adukan. Tepi atas dari pondasi batu kali harus datar.

-

1.1. Pekerjaan Plesteran dan siaran

a. Kwalitas Bahan .

- Pasir yang digunakan adalah pasir pasang yang berasal dari sungai/kali atau dari daerah quarry.

- Pelaksanaan pekejaan plesteran harus mendapatkan hasil yang baik dan sempurna dalam arti bidang permukaan harus betul-betul rata, tidak bergelombang, tegak lurus dan padat.

- Jika hasil plesteran menunjukkan hasil tidak memuaskan maka bagian tersebut sebagian atau seluruhnya harus dibongkar untuk diperbaiki atau diulang kembali atas tanggungan Pemborong.

b. Teknis/Cara Pemasangan.

- Permukaan pasangan batu yang akan diplester, dibuatkan kepala dengan jarak kurang lebih 2 meter untuk menghasilkan permukaan yang rata, barulah pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan. Tebalnya plesteran tidak boleh kurang dari 2 cm.

c. Pekerjaan siaran/Acian batu muka

- Pekerjaan siaran dilaksanakan setelah pekerjaan pasangan drainage selesai. Ketebalan acian harus merata berkisar 2 – 3 mm. Permukaan akhir acian harus merata, halus dan tidak retak-retak.

6. PEKERJAAN PAVING BLOCK DAN KANSTEEN ( KERB)

6.1. Bahan Standar

a. Paving yang dipakai adalah paving khusus dibuat untuk jalan kendaraan (drive way).

b. Produksi Paving Block Proses mesin dengan kekuatan menahan beban kendaraan minimal 8 ton.

c. Mutu paving block yang direncanakan dengan kekuatan tekan minimal 225 kg / cm2 .

d. Kansteen beton cetak/kerb dengan ukuran sesuai gambar rencana dengan kuat tekan minimal 225 kg/cm2.

6.2. Toleransi Dimensi

a. Perbedaan ukuran paving rata – rata tidak lebih dari 2 mm setiap paving.

b. Kerataan permukaan masing – masing paving tidak lebih dari 0,3 mm.

c. Kemiringan permukaan untuk keperluan drainage dibuat rata – rata max. 2 % kearah pembuangan kecuali pada tikungan menyesuaikan gambar.

d. Alur paving sesuai standar pabrik.

e. Ketebalan rata – rata minimal 8 cm.

f. Paving yang tidak memenuhi standar toleransi tidak diterima (ditolak).

g. Ukuran paving menyesuaikan dengan gambar rencana.

6.3. Pengujian contoh Paving block.

a. Contoh paving block yang akan dipasang kuat tekannya harus diuji terlebih dahulu dilaboratorium yang direkomendasikan oleh Direksi.

b. Contoh Paving yang diuji adalah yang akan dipasang di lapangan di ambil secara acak.

22

c.

Setiap kurang lebih 30 m2 paving block yang akan dipasang harus diwakili 1 buah benda uji untuk pengetesan kuat tekan.

d. Jumlah benda uji paving keseluruhan minimal 10 buah.

e. Ketahanan aus dari paving juga diuji dengan menggunakan Mesin aus (SNI.03-0028-

1987). Cara uji ubin semen. Ketahanan aus maksimal 0,149 mm/menit.

f. Penyerapan Air dari paving juga perlu diuji sehingga di dapat penyerapan air rata-rata maksimal 6%.

g. Paving block dan kansteen cetak yang tidak memenuhi persyaratan kuat tekan berdasarkan hasil pengujian di laboratorium , tidak akan diterima (ditolak).

6.4. Persyaratan Pasir

a. Pasir Perata (Bedding Sand) Berfungsi sebagai lapis perata (platform) yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan Paving block memposisikan diri terutama dalam proses penguncian (interlocking). Syarat Gradasi Pasir perata seperti ditunjukkan dalam Tabel

b. Pasir Pengisi (Joint Filling Sand) Pasir pengisi ini diisikan pada celah – celah diantara Paving block dengan fungsi utama memberikan kondisi kelulusan air, menghindarkan bersinggungannya . Syarat Gradasi Pasir Pengisi seperti ditunjukkan dalam Tabel

Tabel Gradasi Pasir Perata

UKURAN SARINGAN

%

LOLOS SARINGAN

9,52 mm

 

100

4,75 mm

95-100

2,36 mm

80-100

1,18 mm

50-85

600

microns

25-60

300

microns

10-30

150

microns

5-15

75 microns

0-10

- Secara fisik bentuk partikel pasir perata tidak bulat atau tajam.

- Kadar air ‹ 10% dan kadar Lempung ‹ 3%

Tabel Gradasi Pasir Pengisi

UKURAN SARINGAN

% LOLOS SARINGAN

2,36 mm

100

1,18 mm

90-100

23

600

microns

60-90

300

microns

30-60

150

microns

15-30

75 microns

5-10

- Kadar air ‹ 5%, kadar Lempung dan lanau ‹ 10%

- Jangan menggunakan bahan pengikat seperti semen.

6.5. Pola dan Pemasangan Paving Blok

6.5.1. Lapisan Sub grade Subgrade atau lapisan tanah paling dasar harus diratakan terlebih dahulu, sehingga mempunyai profil dengan kemiringan sama dengan yang kita perlukan untuk kemiringan Drainage (Water run off) yaitu minimal 1,5 %. Subgrade atau lapisan tanah dasar tersebut harus kita padatkan dengan kepadatan minimal 95 % MDD (Modified Max Dry Density) sebelum pekerjaan subbase dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang kita butuhkan. Ini sangat penting untuk kekuatan landasan area paving nantinya.

6.5.2. Lapisan Sub base Pekerjaan lapisan subbase harus disesuaikan dengan gambar dan spesifikasi teknis yang di butuhkan. Profil lapisan permukaan dari sub base juga harus mempunyai minimal kemiringan 2 %, dua arah melintang kekiri dan kekanan. Kemiringan ini sangat penting untuk jangka panjang kestabilan paving .

6.5.3. Kanstin/Penguat Tepi/kerb Kanstin atau Penguat tepi atau Kerb harus sudah kita pasang sebelum pemasangan paving dilakukan. Hal ini harus dilakukan untuk menahan paving pada tiap sisi agar paving tidak bergeser sehingga paving akan lebih rapi pada hasil akhirnya.

6.5.4. Drainage/Saluran Seperti halnya kanstin, Drainage atau Saluran air ini juga harus sudah kita pasang sebelum pemasangan paving dilakukan. Hal ini sangat wajib dilakukan untuk effisiensi waktu/kecepatan pekerjaan. Drainage yang dikerjaan setelah paving terpasang akan sangat mengganggu pekerjaan pemasangan paving itu sendiri karena harus membongkar paving yang sudah terpasang.

6.5.5. Perlengkapan peralatan kerja. Peralatan yang kita butuhkan harus sudah disiapkan sebelum pemasangan paving dimulai. Adapun alat-alat yang kita butuhkan adalah sebagai berikut:

a. Mesin Plat Compactor dengan luas permukaan plat antara 0,35 s/d 0,50 m2 dan mempunyai gaya sentrifugal sebesar 16 s/d 20 kN dengan frekwensi getaran berkisar 75 s/d 00 Hz.

b. Alat Pemotong paving (Block Cutter)

c. Kayu yang diserut rata/jidar untuk Levelling Screeding pasir

d. Benang sepat

e. Lori/gerobak angkut.

6.5.6. Persyaratan dan tata cara pemasangan paving

a. Abu batu/pasir alas seperti yang dipersyaratkan segera digelar diatas lapisan base. Kemudian diratakan dengan jidar kayu sehingga mencapai kerataan yang seragam dan harus mengikuti kemiringan yang sudah dibentuk sebelumnya pada lapisan base.

b. Penggelaran abu batu/pasir alas tidak melebihi jarak 1 meter didepan paving terpasang dengan tebal screeding.

24

c.

Pemasangan paving harus kita mulai dari satu titik/garis (starting point) diatas lapisan abu batu/pasir alas (laying course).

d. Tentukan kemiringan dengan menggunakan benang yang kita tarik tegang dan kita arahkan melintang sebagai pedoman garis A dan memanjang sebagai garis B, kemudian kita buat pasangan kepala masing-masing diujung benang tersebut.

e. Pemasangaan paving harus segera kita lakukan setelah penggelaran abu batu/pasir alas. Hindari terjadinya kontak langsung antar block dengan membuat jarak celah/naat dengaan spasi 2-3 mm untuk pengisian joint filler.

f. Memasang paving harus maju, dengan posisi si pekerja diatas block yang sudah terpasang.

g. Apabila tidak disebutkan dalam spesifikasi teknis, maka profil melintang permukaan paving minimal mencapai 2 % dan maksimal 4 % denga toleransi cross fall 10 mm untuk setiap jarak 3 meter dan 20 mm utnuk jarak 10 meter garis lurus. Pembedaan maksimum kerataaan antaar block tidak boleh melebihi 3 mm.

h. Pengisian joint filler harus segera kita lakukan setelah pamasangan paving dan seera dilanjutkan dengan pemadatan paving.

i. Pemadatan paving dilakukan dengan menggunakan alat plat compactor yang mempunyai plat area 0,35 s/d 0,50 m2 dengan gaya sentrifugal sebesar 16 s/d 20 kN dan getaran dengan frekwensi 75 s/d 100 MHz. Pemadatan hendaknya dilakukan secara simultan bersamaan dengan pemasangan paving dengan minimal akhir pemadatan meter dibelakang akhir pasangan. Jangan meninggalkan pasangan paving tanpa adanya pemadatan, karena hal tersebut dapat memudahkan terjadinya deformasi dan pergeseran garis joint akibat adanya sesuatu yang melintas melewati pasangan paving tersebut.Pemadatan sebaiknya kita lakukan dua putaran, putaran yang pertama ditujukan untuk memadatkan abu batu/pasir alas dengan penurunan 5 - 15 mm ( tergantung abu batu/pasir yang dipakai). Pemadatan putaran kedua, disertai dengan menyapu abu batu/pasir pengisi celah/naat block, dan masing-masing putaran dilakukan paling sedikit 2 lintasan.

j. Pengecatan paving untuk marka parkir sepeda motor menggunakan cat Tennokote (exterior). Pengecatan marka dilakukan sesuai dengan tata cara yang lazim.

6.6. Hasil akhir

a. Bidang pasang paving rata atau tidak bergelombang, padat , tidak cacat, ( pecah / patah terbagi ).

b. Alur –alur harus lurus dengan ukuran yang sama.

c. Siar terisi penuh dengan pasir halus / mortar.

d. Air mengalir lancar kesaluran drainage jalan dengan kemiringan maximal 2 %.

e. Permukaan paving harus bersih dari bekas – bekas semen dan kotoran lainnya.

7. RAMBU–RAMBU KESELAMATAN KERJA

a. Bila diperlukan sebelum dimulainya dan selama berlangsungnya pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk memasang tanda – tanda pengaman lalu lintas dengan ketentuan sebagai berikut : Semua papan – papan dan tanda – tanda perhatian harus dibuat dari papan Kayu Kelas II tebal minimum 3 mm dengan warna dasar kuning dan Penunjuk Pengaman Lalu Lintas dengan warna hitam dengan ukuran sesuai petunjuk direksi.

b. Pada malam hari ditempat – tempat yang berbahaya bagi yang lewat harus dipasang lampu merah yang cukup jelas dan terang menurut petunjuk Direksi untuk menghindari terjadinya kecelakaan.

25

c.

Penempatan alat – alat dan bahan – bahan yang berada di tepi jalan pada malam hari harus juga diberi seperti lampu merah atau tanda – tanda yang sifatnya membantu keamanan jalannya lalu lintas.

d. Menutup lalu lintas secara total tidak dibenarkan, kecuali setelah ada persetujuan tertulis dari Direksi.

e. Kontraktor harus menjaga jangan sampai lalulintas macet dan Kontraktor harus menyediakan orang untuk mengatur lalu lintas jalannya bila diperlukan Kontraktor harus menyediakan pesawat HT untuk mempermudah sistem pengaturannya.

f. Penetapan alat – alat dan bahan – bahan diusahakan sedapat mungkin tidak mengganggu lalu lintas. Bila karena terpaksa bahan – bahan harus dituangkan di tepi jalan, dengan tidak mengganggu lalu lintas selambat – lambatnya dalam waktu satu kali 24 jam sesudah penurunan bahan – bahan harus sudah dipindah ketempat penyimpanannya.

g. Setiap kecelakaan yang disebabkan karena kelalaian kontraktor memberi pengaman seperti tersebut diatas, sepenuhnya adalah tanggung jawab Kontraktor.

8. PEMBUANGAN SISA GALIAN KELUAR LOKASI DENGAN KENDARAAN

a. Untuk keperluan pengangkutan jauh keluar lokasi kerja dengan alat angkut yang memadai. Alat angkut dan operatornya disediakan oleh kontraktor. Penempatan material tersebut pada tempat yang aman atas persetujuan Direksi.

9. PENYELESAIAN PEKERJAAN

a. Yang dimaksud dengan pekerjaan penyelesaian adalah :

- Perbaikan – perbaikan kecil terhadap bagian dari pekerjaan yang kurang sempurna dengan nilai pekerjaan setinggi – tingginya 1% dari harga jenis pekerjaannya dan bukan pekerjaan pokok.

- Pembersihan kembali lapangan kerja dari sisa – sisa bahan / peralatan kerja menjadi tanggung jawab kontraktor.

b. Selama masa pemeliharaan, kontraktor diwajibkan untuk :

- Membongkar barak kerja / gudang bahan dan membersihkannya

- Memperbaiki bangunan – bangunan setempat yang rusak sehubungan dengan pelaksanaan / kegiatan pekerjaan. Termasuk lining jembatan, deker / gorong – gorong yang rusak akibat kendaraan – kendaraan kontraktor selama pelaksanaan pekerjaan.

- Semua alat bantu milik Negara yang dipinjamkan / diperbantukan dikembalikan setelah diservice / diperbaiki sebagaimana keadaan pada waktu penyerahan dari proyek.

c. Pembersihan dan pembuangan lumpur / sampah / pasir bawaan

- Yang dimaksud dengan item ini adalah pembersihan sampah / lumpur / pasir yang terbawa aliran air setelah dilaksanakan pekerjaan pembersihan sebelumnya baik pada saluran maupun sungai. Hal ini harus dilengkapi data pendukung / photo dan atas sepengetahuan direksi. Hasil pembersihan ( tanah / pasir) yang kualitasnya baik dapat digunakan untuk timbunan atas persetujuan direksi.

10 . P E N U T U P.

26

- Hal – hal yang belum jelas disebutkan dalam Rencana Kerja dan syarat-syarat ini, akan disampaikan dan dijelaskan dalam Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).

- Pemborong harus membuat gambar As Built Drawing sebanyak 5 ( lima ) exemplar yang telah disetujui oleh Direksi dan Pengguna Jasa. Dalam gambar as built drawing tersebut dicantumkan pula tabel mengenai spesifikasi material yang dipakai, baik material dasar maupun material finishing.

Mangupura, 3 Maret

2014

Ditetapkan Oleh; Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/ Kepala Seksi Permukiman Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung

PANDE NYOMAN ARTAWIBAWA .ST, MT Penata NIP. 19780416 200312 1 012

27