Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KKP/KKBM

TAHUN 2013 DESA PLOSOKEREP


KECAMATAN TERISI KABUPATEN INDRAMAYU

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SECARA PARTISIPATIF DALAM
PENINGKATAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN PERTANIAN
BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL
Lokasi: Masyarakat Sekitar Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat.







Oleh :
Wulan Aprilyani Dwi P A14100007
Amanda Sari Widyanti A24100050
Siti Nurul Benowati A34100038
Rezza Mien Nugraha A44100001
Hernawan Prassetyo I14100073
Wida Edwina Arifin I24100016
Sari Lestari I34100103


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013


PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SECARA PARTISIPATIF DALAM
PENINGKATAN PENDIDIKAN KESEHATAN DAN PERTANIAN
BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL



Oleh :
Wulan Aprilyani Dwi P A14100007
Amanda Sari Widyanti A24100050
Siti Nurul Benowati A34100038
Rezza Mien Nugraha A44100001
Hernawan Prassetyo I14100073
Wida Edwina Arifin I24100016
Sari Lestari I34100103


Dosen Pembimbing Lapang 1




Dr. Ir. Sugianta, M.Si
NIP 19630115 198811 1 002
Dosen Pembimbing Lapang 2




Dr. Ivanovich Agusta, SP, M.Si
NIP 19700816 199702 1 001


Kepala LPPM IPB



Dr. Ir. Prastowo, M.Eng
NIP 19580217 198703 1 004


RINGKASAN


Pendidikan, kesehatan dan pertanian merupakan sektor yang penting dan
strategis dalam kehidupan. Kualitas SDM tidak hanya ditunjang oleh salah satu
sektor saja melainkan dari ketiga sektor tersebut. Pemberdayaan masyarakat
merupakan jalan yang dipilih untuk mencapai peningkatan kualitas SDM.
Pasalnya, pemberdayaan masyarakat menempatkan masyarakat secara setara dan
bertujuan untuk membuat masyarakat lebih berdaya dan dapat meningkatkan
kualitas taraf hidup. Pemberdayaan masyarakat menggunakan cara yang
patisipatif dalam menjaring aspirasi. Hal ini dilakukan, agar setiap masyarakat
merasa memiliki peluang yang sama dan ditempatkan sebagai subjek.
Pemberdayaan masyarakat diawali dengan analisis permasalahan dan
potensi wilayah. Cara yang ditempuh adalah dengan melakukan pertemuan
kelompok dalam suatu wilayah. Dalam pertemuan kelompok semua partisipan
bisa dengan leluasa curhat mengenai permasalahan yang menjadi fokus
pembicaraan. Hasil analisis masalah di bidang pertanian yang dilakukan di Desa
Plosokerep menggambarkan bahwa petani mengeluhkan serangan hama dan
penyakit pada tumbuhan padi mereka disusul dengan keadaan irigasi yang tidak
maksimal.
Upaya yang dilakukan pelaksana program dalam membantu memberikan
alternatif jalan keluar dari permasaahan tersebut yakni dengan menawarkan
penggunaan pestisida nabati dan PGPR. Selain itu program tambahan yang
dianggap menunjang kebutuhan petani yakni dengan melakukan penyuluhan
pertanian dan pekarangan yang didalamnya disampaikan materi mengenai
pembuatan kompos, manajemen pasca panen, dan pemanfaatan pekarangan.
Program dibidang kesehatan yang dilakukan di setiap kegiatan posyandu adalah
penyuluhan ayo melek gizi dan tumbuh kembang anak. Penyuluhan ini dilakukan
untuk memberikan tambahan pengetahuan bagi ibu hamil dan ibu rumah tangga.
Selain itu sosialisasi pedoman hidup bersih dan sehat (PUGS) dilakukan di SD
sekitar desa. Program yang ditawarkan dan dijalankan oleh penyelenggara
program mendapat sambutan yang baik dan berjalan lancar.

KATA PENGANTAR


Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
laporan ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan Akhir Kegiatan Kuliah Kerja
Profesi dengan judul pemberdayaan masyarakat secara partisipatif dalam
peningkatan pendidikan kesehatan dan pertanian berbasis sumberdaya lokal.
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan pelaksanaan Program
Kuliah Kerja Profesi. Selain itu, penyusunan laporan akhir ini ditujukan sebagai
bahan evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan.
Penulis menyadari bahwa pembuatan laporan ini semuanya tentu tidak
akan berjalan tanpa dukungan berbagai pihak. Penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada para dosen pembimbing, Aparat Pemerintahan Plosokerep,
seluruh warga Desa Plosokerep dan berbagai pihak yang telah membantu
sehingga program ini dapat terlaksana.
Harapan penulis semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi berbagai
pihak. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan manusia
tidak luput dari dosa dan kesalahan. Kritik dan saran sangat Penulis harapkan,
semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

Indramayu, 28 Agustus 2012



Tim Penulis

DAFTAR ISI

RINGKASAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Kegiatan 2
POTENSI WILAYAH DAN PERMASALAHAN 3
Kondisi Geografis 3
Kondisi Demografi 3
Potensi wilayah 3
Kondisi Ekonomi 4
Potensi Pendidikan 4
PELAKSANAAN DAN EVALUASI PROGRAM 6
Program Umum 6
3.1.1 Rumah Pintar 6
3.1.2. Lomba 17 Agustus 6
3.1.3 Pemetaan dan Pengecekan Kadar Hara (N, P, dan K) Lahan Sawah 7
Program Profesi 8
3.2.1 FGD (Focus Group Discussion) 8
3.2.2 Praktek Teknik Penanaman Vertikultur 9
3.2.3 Kegiatan Aku Cinta Pertanian 9
3.2.4. Pembuatan Kebun Bibit Sederhana 9
3.2.5 P3 (Penyuluhan Pertanian dan Pekarangan) 10
3.2.7. Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 18
3.2.8. Ayo Melek Gizi Error! Bookmark not defined.
3.2.9 Revitalisasi Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) 21
3.2.10 Pemahaman Tumbuh Kembang Anak 17
3.2.11 Penerapan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter 18
3.2.11 Pengenalan Buah dan Sayur Lokal 19
Evaluasi 19
KESIMPULAN DAN SARAN 20
Kesimpulan 20
Saran 20
LAMPIRAN 21

1

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Indonesia memiliki banyak desa yang memiliki potensi dan berpeluang
untuk dikembangkan menjadi wilayah produktif. Potensi yang dapat
dikembangkan mencakup sumberdaya alam dan manusia yang ada di dalamnya.
Kegiatan pembangunan desa merupakan salah satu usaha pemerintah dalam
meningkatkan taraf hidup dan kesehjateraan masyarakat di lingkungan pedesaan.
Kegiatan pembangunan desa dapat berupa pembangunan pertanian, kesehatan,
pendidikan anak usia dini, dan pengembangan masyarakat.
Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten yang merupakan
daerah sentra pertanian, dimana sector pertanian menyumbang 43 persen dari total
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Indramayu. Selain itu
pertanian juga merupakan sector usaha utama berdasarkan prosentase jumlah
penduduk yaitu 8,8%. Kabupaten Indramayu juga dikenal sebagai daerah dengan
lumbung padi Jawa Barat. Akan tetapi produksi padi sawah ini seiring waktu
banyak mengalami penurunan produksi serta luas lahan, sehingga berdampak
kepada penurunan produktivitas. Produksi padi sawah mengalami penurunan
dikarenakan terjadi kekeringan yang disebabkan sulitnya mencari sumber air di
daerah ini (BAPEDA). Selain padi kabupaten Indramayu juga memiliki komoditas
buah-buahan local seperti mangga, jeruk, jambu biji, sawo, pisang, papaya dan
semangka. Indramayu juga menghasilkan sayuran local seperti kacang panjang,
terong, ketimun, kangkung, cabe merah, bawang merah, dan melinjo.
Desa Plosokerep merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan
Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Mayoritas penduduk desa berprofesi
sebagai petani dan buruh tani, yang pada umumnya masih memiliki tingkat
kesejahteraan relatif rendah. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat ini
menjadi salah satu faktor yang menimbulkan berbagai permasalahan di Desa
Plosokerep. Secara umum, permasalahan yang terjadi antara lain di bidang
pertanian, pendidikan, kesehatan.
Masalah pertanian yang terjadi diantaranya mewabahnya organisme
pengganggu tanaman (OPT) khususnya tanaman padi, kurangnya aplikasi

2
penggunaan pestisida dan pupuk organik, dan pemanfaatan lahan
pekarangan lestari. Masih rendahnya kesadaran mengenai perilaku hidup bersih
dan sehat khususnya ibu dan anak. Program Kuliah Kerja Bersama Masyarakat
(KKBM) yang dilaksanakan merupakan suatu bentuk kepedulian mahasiswa
terhadap upaya penyelesaian masalah-masalah dan isu sentral dalam masyarakat
sebagai upaya pendorong Indeks Pembangunan Manusia. Kegiatan ini merupakan
langkah awal pengorganisasian komunitas, dimana mahasiswa sebagai community
organizer mencoba untuk terlibat bersama di aras komunitas dan menjalin
komunikasi serta relasi dengan cara belajar dari kebiasaan sehari-
haridarikomunitas.
Berbagai program yang menyentuh bidang pertanian, pendidikan, dan
kesehatan dengan mengangkat konsep Pemberdayaan Masyarakat Secara
Partisipatif Dalam Peningkatan Pendidikan Kesehatan dan Pertanian Berbasis
Sumberdaya Lokal yang dibangun dengan pengorganisasian komunitas
diharapkan mampu membangkitkan kesadaran dan meningkatkan partisipasi
masyarakat terhadap peningkatan kualiatas hidup. Oleh karena itu, Fakultas
Pertanian bergabung dengan Fakultas Ekologi Manusia IPB perlu melakukan
tindakan nyata sebagai peran serta dalam upaya penanggulangan permasalahan
yang muncul di lingkungan masyarakat. Melalui program kuliah kerja bersama
masyarakat (KKBM) diharapkan mahasiswa FAPERTA dan FEMA IPB dapat
melakukan berbagai upaya berkelanjutan guna menyelesaikan permasalahan yang
muncul secara partisipatif dan kolaboratif demi tercapainya pembangunan dan
kemandirian desa


Tujuan Kegiatan

Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan potensi
pertanian dan pengembangan masyarakat berupa kesehatan, pendidikan usia dini
dan pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada sumberdaya lokal Desa
Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
3
POTENSI WILAYAH DAN PERMASALAHAN


Kondisi Geografis

Desa Plosokerep merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan
Terisi Kabupaten Indramayu. Luas Desa Plosokerep adalah 761 Ha. Terletak
disebelah utara Desa Kendayakan, Desa Plosokerep berbatasan langsung juga
dengan Desa Jatimulya di sebelah selatan, Desa Kedokan Gabus di sebelah barat,
dan Desa Rajasinga di sebelah timur. Desa Plosokerep termasuk kedalam daerah
dataran rendah karena ketinggian tanah dari permukaan laut hanya berkisar 13
M/Dpl. Curah hujan rata-rata Desa Plosokerep adalah 893-100 mm/Th. Hampir
85% lahan di Desa Plosokerep digunakan sebagai lahan pesawahan dan sekitar 28
Ha digunakan sebagai lahan perkebunan.


Kondisi Demografi

Jumlah penduduk Desa Plosokerep adalah 5.136 orang atau sekitar 1.725
kepala keluarga. Dengan komposisi penduduk pria sebanyak 2.717 jiwa dan
perempuan 2.419 jiwa. Seluruh masyarakat Desa Plosokerep berkewarganegaraan
Indonesia dan menganut agama islam.
Tabel 1 Jumlah penduduk Desa Plosokerep berdasarkan umur
No Usia (Tahun) Jumlah (jiwa)
1 0-3 440
2 4-6 504
3 7-12 520
4 13-15 109
5 16-18 296
6 >19 3682


Potensi wilayah

Luas area yang termasuk ke dalam wilayah Plosokerep adalah sekitar 761
ha. Secara umum sebagian besar wilayah Desa Plosokerep terdiri dari
persawahan, yaitu sekitar seluas 626,5 ha, sedang sisanya terdiri 28 ha
pekarangan, 107 ha permukiman, dan sisanya adalah kebun dan ladang. Data
4

struktur tata guna lahan di Desa Plosokerep disajkan pada Tabel. Lahan kering
yang terdapat di Desa Plosokerep dimanfaatkan untuk menanam padi pada musim
penghujan dan semangka pada musim kemarau. Secara ekologis, berdasarkan
kondisi geografis dan karakteristik lahan maupun jenis flora dan fauna yang
tumbuh. Desa Plosokerep dapat dikategorikan sebagai daerah pertanian lahan
kering. Debit air untuk irigasi tidak konsisten dan cenderung tidak mencukupi
kebutuhan, khususnya pada musim kemarau panjang.
Tabel 2 Luas Penggunaan Lahan Desa Plosokerep
Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha)
Sawah 626,5
Empang -
Pekarangan 28
Pemukiman 107
Sumber: Profil Desa di Wilayah Kecamatan Plosokerep 2010

Kondisi Ekonomi

Mata pencaharian penduduk Desa Plosokerep sama seperti desa lainnya di
Kecamatan Terisi yaitu bertani. Petani di Desa Plosokerep memiliki 2 pola
bertani. Pola yang pertama adalah menanam padi pada musim penghujan atau dua
kali tanam seam satu tahun dan pola kedua adalah menanam semangka pada saat
musim kemarau. Bertani dilakukan oleh para kaum tua di Desa Plosokerep
sedangkan para kaum muda bekerja menjadi buruh di pabrik batu bata. Desa
Plosokerep merupakan salah satu desa yang mensuplai kebutuhan batu bata untuk
wilayah Indramayu, maka tak heran banyak terdapat banyak lio di Desa
Plosokerep.
Dilihat secara fisik, kondisi ekonomi masyarakat Desa Plosokerep bisa
digolongkan ke golongan mampu. Pasalnya rumah di Desa Plosokerep layak dan
tidak jarang juga mewah. Selain itu aset tidak bergerak yang dimiliki oleh
Masyakat Plosokerep seperti sawah terbilang luas.


Potensi Pendidikan

Desa Plosokerep terdapat di ujung barat Kecamatan Terisi dengan jarak
relative jauh dari ibukota. Hal ini menyebabkan jumlah fasilitas pendidikan hanya
5
terdapat sekolah dasar yang jumlahnnya tiga unit. Karena letak sekolah
menenngah pertama dan sekolah mengengah atas terdapat di pusat keramaian
Kecamatan Terisi. Jumlah penduduk menurut pendidikan terakhir yang dienyam
yakni: 693 jiwa lulusan SD, 203 jiwa lulusan SMP, 54 jiwa lulusan SMA, 22 jiwa
lulusan D1-D3, dan 15 jiwa lulusan S1.
6
PELAKSANAAN DAN EVALUASI PROGRAM


Program Umum

3.1.1 Rumah Pintar
Program ini dilakukan sebagai salah satu wadah untuk
mendekatkan diri kepada warga sekitar, terutama pada anak-anak usia SD.
Rumah Pintar diadakan selama tiga kali dalam satu minggu pada hari
Senin, Rabu, dan Jumat. Kegiatan dilaksanakan selama dua jam dalam
satu periode. Anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok tergantung
tingkatan kelas di sekolah. Penyampaian materi dilakukan secara informal
dan menyenangkan. Setelah proses belajar selesai diadakan main-main
bersama atau pembacaan dongeng anak.
Hambatan yang dirasakan selama kegiatan ini adalah antusiasme
anak-anak yang cenderung berlebihan, terutama untuk sesi bermain
bersama, sehingga kegiatan menjadi gaduh.

3.1.2. Lomba 17 Agustus
Program ini dapat berlangsung atas dukungan warga dusun Lung
Salam desa Plosokerep yang sangat antusias dengan adanya lomba 17
Agustus setelah dua tahun berturut-turut ditiadakan. Oleh karena itu,
lomba 17 Agustus dilaksanakan dengan fokus massa pada anak-anak.
Lomba-lomba yang diadakan antara lain lomba panjat pinang, lomba
kelereng, balap karung, memasukkan pulpen ke botol, makan kerupuk, dan
joget balon. Kegiatan dilaksanakan tepat pada tanggal 17 Agustus di dusun
Lung Salam desa Plosokerep.
Pelaksaan kegiatan diawali dengan sosialisasi lomba sehari
sebelum acara dilaksanakan. Sementara pendaftaran dilakukan pada pagi
hari sebelum acara. Biaya pendaftaran Rp 2000 untuk dapat mengikuti
semua lomba yang diinginkan. Lokasi pendaftaran dilaksanakan di rumah
warga.
Hambatan yang dirasakan selama mempersiapkan program ini
adalah kurangnya waktu untuk persiapan dan kurangnya dana yang

7

didapat, sehingga hadiah untuk pemenang lomba relatif sederhana.
Kurangnya waktu persiapan dikarenakan adanya jeda libur lebaran
sehingga tim KKP IPB baru dapat menjalankan persiapan dimulai pada
tanggal 15 Agustus.

3.1.3 Pemetaan dan Pengecekan Kadar Hara (N, P, dan K) Lahan Sawah
Aktivitas pemetaan lahan sawah ini bertujuan untuk memverifikasi
luas dan keberadaan lahan sawah di desa tempat KKP dilaksanakan. Selain
itu juga bermanfaat untuk mengetahui produksi aktual dari luasan petakan
sawah ketika ditanami padi atau tanaman selain padi. Sawah di desa
Plosokerep hanya ditanami padi selama dua musim tanam. Karena
permasalahan irigasi yang belum juga teratasi dari tahun ke tahun. Adanya
penjadwalan distribusi air ke sawah, membuat petani tak bisa telat di
awal musim tanam pertama dan setelah masa tanam pertama, sawah harus
siap untuk ditanami kembali dengan jangka waktu yang singkat. Setelah
masa panen kedua, air segera dibelokkan ke wilayah lain, sehingga di
desa ini tidak dapat menanam padi untuk ketiga kalinya. Untuk
mengatasinya, banyak petani yang beralih menjadi petani semangka
dengan memanfaatkan air yang berasal dari sumur bor.
Pengecekan kadar hara tanah sawah, dilakukan dengan bantuan
perangkat uji tanah sawah atau yang biasa disebut dengan PUTS dan
kertas pH untuk menguji derajat kemasaman dari tanah yang diuji.
Hambatan yang terjadi dikarenakan keterbatasan alat dan
pengetahuan dari pengamat membuat praktik uji tanah menjadi kurang
optimal. Selain itu juga, sejarah penggunaan lahan dan riwayat dosis
pemupukan tidak dapat diakses secara baik, menjadikan sulitnya membuat
rekomendasi pemupukan atau pengapuran untuk memperbaiki kualitas
kesuburan tanah.

8

Program Profesi

3.2.1 FGD (Focus Group Discussion)
Pada awal minggu KKP mahasiswa harus dapat mengidentifikasi
potensi dan permasalahan yang ada di desa agar dapat melaksanakan
program yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Kegiatan
ini merupakan sebuah forum diskusi antara mahasiswa dengan aparat, desa
dan masyarakat. Pada kegiatan ini mahasiswa berperan sebagai fasilitator
yang membahas permasalahan yang ada di desa.
Kegiatan ini dilakukan satu kali yaitu pada tanggal 9 Juli 2013.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 15 orang petani. Kegiatan ini bertujuan
untuk menjaring masalah yang dialami oleh petani yang ada di Dusun
Lung Salam secara khususnya dan Desa Plosokerep secara umumnya.
Kegiatan ini menggunakan konsep diskusi dan mahasiswa
menerapkan teknik-teknik partisipatoris seperti pengorganisasian masalah
Pada awalnya, mahasiswa selaku fasilitator membuka acara dan
mengarahkan jalannya acara. Masyarakat di desa saling mengemukakan
permasalahan yang ada di desa khususnya di bidang pertanian dan
bersama-sama mencari solusi.
Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat dapat mengungkapkan
permasalahan yang ada di desa dan harapannya untuk kemajuan desa.
Masyarakat dan mahasiswa juga dapat berdiskusi bersama untuk
mendapatkan solusi dari permasalahan yang ada. Kendala yang di hadapi
dalam kegiatan ini adalah kendala bahasa, banyak masyarakat yang tidak
mengerti bahasa Indonesia karena dalam sehari-harinya hanya
menggunakan bahasa daerah. Selain itu ditemui juga adanya kendala
berupa tidak seluruhnya warga masyarakat mau menyampaikan masalah
karena adanya sikap malu atau belum terbiasa menyampaikan pendapat
selayaknya budaya desa pada umumnya. Selain itu, waku pelaksanaan
yang bertepatan dengan panen raya membuat jumlah warga yang dapat
bergabung sedikit. Pasalnya mereka lebih memilih ke sawah dibandingkan
untuk mengikuti kegiatan kumpul warga.
9
3.2.2 Praktek Teknik Penanaman Vertikultur
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2013 di halaman
depan rumah warga. Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan
yang di paving. Vertikultur diharapkan dapat menjadi alternative untuk
mengatasi keterbatasan lahan warga. Praktek pembuatan vertikultur
dilakukan dengan teknik penanaman menggunakan pipa paralon yang
dilubangi dan diberdirikan secara vertical serta dengan memanfaatkan
bamboo yang ditata horizontal pada pagar pembatas. Hasil dari kegiatan
ini dapat disampaikan pada masyarakat dalam bentuk presentasi.
Hambatan yang terjadi saat pelaksaan vertikultur adalah tanaman
yang tumbuh kerdil dan layu kemungkinan karena kurangnya
pemeliharaan. Hambatan lain adalah sulitnya mengundang warga sekitar
untuk turut serta dalam pembuatan vertikultur karena terhalang musim
panen padi.
3.2.3 Kegiatan Aku Cinta Pertanian
Kegiatan ini dilaksanakan dalam 3 periode yaitu pada tanggal 20,
27, dan 29 Juli 2013. Kegiatan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan
PHBS untuk mengoptimalkan waktu. Kegiatan Aku Cinta Pertanian
bertujuan untuk mengenalkan pertanian dalam bentuk sederhana kepada
siswa sekolah dasar terutama kelas 4 dan 5. Praktek dilakukan dengan
penanaman benih tanaman sayur di gelas air mineral bekas sebagai pot
sederhana. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan sampah bekas dan agar
tanaman dapat lebih mudah dirawat oleh siswa.
Hambatan yang terjadi saat pelaksanaan kegiatan Aku Cinta
Pertanian adalah terlalu tingginya minat siswa untuk turut serta menaman
sementara alat dan bahan yang dibawa relative terbatas, sehingga kegiatan
harus dibagi dalam beberapa kelompok besar.
3.2.4. Pembuatan Kebun Bibit Sederhana
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendukung kebutuhan program
pemanfaatan pekarangan. Pembibitan sendiri dilakukan pada komoditas
cabe dan papaya. Pembibitan cabai dilakukan menggunakan tray semai

10

dengan media arang sekam. Sementara pembibitan papaya dilakukan
terpusat di Koordinator Kecamatan.
Hambatan yang terjadi saat kegiatan ini adalah tidak tumbuhnya
benih-benih yang disemai. Benih cabai yang disemai pertama kali dirusak
oleh OPT berupa ayam, sementara yang kedua kemungkinan karena
kurangnya perawatan. Sementara benih papaya gagal tumbuh karena
kurang perawatan dan ditinggal saat jeda libur lebaran.
3.2.5 P3 (Penyuluhan Pertanian dan Pekarangan)
3.2.5.1 Pengendalian Hayati Melalui Pestisida Nabati.
Pengendalian hayati melalui pestisida nabati dilakukan di Desa
Plosokerep melalui kegiatan P3 (Penyuluhan Pertanian dan Pekarangan)
yang meliputi pengenalan dan pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting
Rhizobacteria), pengendalian hayati melalui pestisida, pembuatan kompos,
dan pekarangan. Kegiatan ini terlaksana di Dusun Lung Salam, Dusun
Suket Baju, dan Dusun Plosokerep.
Hasil survei dan diskusi bersama petani dan masyarakat diketahui
bahwa adanya permasalahan mengenai sundep-beluk, smut, blast, tikus,
irigasi, distribusi hasil panen, dan pascapanen dimana permasalahan
sundep-beluk (hama putih), irigasi, dan pascapanen merupakan yang
utama. Langkah selanjutnya identifikasi permasalahan dan mencari solusi
yang tepat yang kemudian solusi tersebut di informasikan kepada petani
dan masyarakat dalam penyuluhan yang akan dilaksanakan di masing-
masing dusun.
Serangan OPT hama putih di Desa Plosokerep menyebabkan
hampir semua petani munggunakan pestisida secara berlebihan dengan
intensitas waktu penyemprotan yang sangat singkat. Kegiatan P3 menjadi
salah satu upaya mengajak masyarakat menggunakan bahan-bahan organik
untuk mengembalikan fungsi lahan dan mengurangi dampak yang dapat
ditimbulkan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.
Kegiatan P3 di Desa Plosokerep dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu
pada tanggal 22 Agustus 2013 pukul 14.00 WIB di Dusun Lung Salam,
tanggal 24 Agustus 2013 pukul 19.00 WIB di Dusun Suket Baju, dan
11
tanggal 27 Agustus 2013 pukul 19.30 WIB di Dusun Plosokerep.
Pengendalian hayati melalui pestisida nabati dan pengenalan PGPR
disampaikan melalui kegiatan ini. Pengendalian hayati melalui pestisida
nabati dikenalkan kepada masyarakat melalui presentasi penjelasan
pestisida kimiawi, kekurangan dan kelebihan pestisida kimiawi, penjelasan
pestisida nabati, kekurangan dan kelebihan pestisida nabati, perbedaan
pestisida kimiawi dan pestisida nabati, pembagian leaflet bahan-bahan
pestisida nabati, cara pembuatan pestisida nabati, praktik pembuatan
pestisida nabati, dan tanya jawab. Pada kegiatan ini dijelaskan bahwa
penggunaan pestisida nabati tidak dapat menyebabkan kerusakan pada
tanaman dan tidak menyisakan bahan penyemprotan pestisida pada hasil
produksi karena sasaran dari pestisida nabati adalah OPT yang terdapat
pada tanaman dan sekitar tanaman dan bahan-bahan dari pestisida nabati
mudah terurai secara alami.
Kegiatan PGPR dilakukan melalui presentasi mengenai PGPR,
kegunaan, alat dan bahan, cara pembuatan, praktik langsung pembuatan,
pembagian leaflet, dan tanya jawab. Bahan untuk pembuatan PGPR dapat
menggunakan bahan lokal yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat,
diantaranya perakaran bambu, alang-alang, puteri malu, kacang-kacangan,
humus hutan, dan bonggol pisang dengan media biakan terdiri dari air
cucian beras, air kelapa, dan larutan gula bisa juga ditambah dengan
ampas tahu.
Kegiatan pembuatan PGPR secara langsung dilakukan dengan
bahan dan alat yang sudah disiapkan sebelumnya kemudian masyarakat
dan petani yang melakukan pembuatannya. Larutan PGPR dapat
digunakan setelah 10-15 hari atau saat larutan sudah tercium bau seperti
tape. Sebanyak 1.5 liter larutan tersebut dapat ditambahkan 15 liter air saat
akan digunakan untuk penyemprotan di lahan. Larutan ini juga dapat
digunakan saat merendam benih sebelum tanam, merendam akar bibit
persemaian selama 4-6 jam sebelum di pindahkan ke lahan, dan
penyiraman bibit di minggu ketiga dan kelima. Aplikasi larutan ini dapat
dicampur dengan bahan organik lainnya seperti kompos dan pupuk
12
organik. Selang waktu penggunaan larutan PGPR dengan penyemprotan
pestisida adalah satu minggu setelah pengguanaan larutan PGPR.
Masyarakan dan petani yang hadir terlihat antusias dengan adanya
kegiatan ini dilihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Namun,
pelaksanaan kegiatan ini mengalami sedikit kendala dimana sulit
mengumpulkan para petani saat kegiatan dilakukan sebelum hari raya. Hal
ini dikarenakan bertepatan dengan masa panen padi sehingga hampir
semua petani yang ada di desa berada di lahannya dan sulit diadakan
perkumpulan, sedangkan pada malam harinya bertepatan dengan sholat
terawih.
3.2.5.2 Penyuluhan Pekarangan
Penyuluhan pekarangan adalah salah satu kegiatan Kuliah Kerja
Profesi Institut pertanian Bogor di daerah Indramayu, Desa Plosokerep.
Hal ini dilakukan, karena dirasakan masyarakat di desa tidak terlalu
memperhatikan pekarangan contoh yang kita buat di salah satu rumah
warga desa. Vertikultur terbuat dari pipa paralon dan bambu. Pipa paralon
dan bambu dipotong sepanjang 50 cm. Untuk pipa paralon di seluruh
sisinya di lubangi dengan ukuran diameter 8 cm, dan untuk bambu
dilubangi salah satu sisinya dengan panjang 40 cm dan lebarnya 10 cm.
Pipa paralon ditanami tanaman kangkung, dan bambu ditanami tanaman
bayam. Sayangnya, untuk bambu tanamannya tidak dapat tumbuh dengan
baik karena cuaca di Indramayu yang setiap hari selalu panas, dan sempat
tidak terurus karena tidak ada perawatan saat libur lebaran.
Berdasarkan kondisi tersebut, akhirnya diputuskan untuk
melakukan penyuluhan langsung kepada masyarakat sekitar untuk
memberikan pemahaman lebih lanjut tentang pekarangan. Terkait alat dan
bahan untuk menyampaikan penyuluhan semua tersedia. Namun untuk
waktu penyuluhan yang menjadi permasalahan. Awalnya penyuluhan
dijadwalkan di minggu sebelum lebaran, tapi karena warga Indramayu
melaksanakan panen raya, sehingga kegiatan ditunda setelah lebaran untuk
melaksanakan penyuluhan. Namun, timbul permasalahan lain setelah
lebaran. Masyarakat Indramayu banyak yang melaksanakan hajatan
setelah panen raya, sehingga kegiatan penyuluhan harus mencocokkan
13
jadwal di setiap blok desa, karena kekhawatiran tidak ada yang datang
pada saat penyuluhan. Warga desa merespon dengan baik penyuluhan
pekarangan, sesuai dengan interaksi mereka yang diberikan pada saat kita
melaksanakan penyuluhan.
3.2.5.3. Penyuluhan Pembuatan Kompos
Pemanfaatan sampah-sampah organik dari pertanian, seperti
jerami dan pupuk kandang masih sangat minim di kalangan petani.
Sebagian besar dari mereka membakar jeraminya setelah masa panen,
dengan alasan kotor dan tidak dapat dijadikan pupuk yang langsung
tersedia. Aplikasi langsung jerami pada tanah sawah, juga mengakibatkan
suhu tanah menjadi naik.
Penyuluhan pembuatan kompos ini dilaksnakan bukan karena
petani belum memahami teknik pembuatan kampos. Akan tetapi lebih
kepada penyadaran bagi para petani akan manfaat dari kompos bagi
pertanian.
Hambatan yang terjadi dikarenakan penyuluhan pembuatan
kompos ini tidak disertai dengan praktik langsung. Sehingga membuat
petani masih ragu dan bingung dalam menerapkannya.
3.2.7. Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Kegiatan ini dilakukan dengan mengadakan penyuluhan mengenai
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan memberikan praktik
langsung kepada siswa-siswi SDN Plosokerep. materi penyuluhan yang
disampaikan berupa beberapa kegiatan, yaitu kegiatan bersama
menggalakan kebiasaan gosok gigi, cuci tangan, penerapan gizi seimbang,
dan membuang sampah pada tempatnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada
tanggal 20, 27, dan 29 Juli 2013 pukul 08.00-10.00 WIB di SDN 1, 2, dan
3 Desa Plosokerep dengan total peserta sejumlah 190 siswa dari kelas 4
dan 5.
Penanaman kesadaran mengenai perilaku hidup bersih dan sehat
sejak dini diharapkan dapat menunjang kelancaran siswa dalam menggapai
prestasi. Selain melakukan penyuluhan, juga dilakukan praktik mencuci
tangan dengan sabun secara baik dan benar kepada seluruh para siswa-
14
siswa SD tersebut. Sebagai sumbangsih mahasiswa KKBM IPB kepada
Sekolah SDN 1, 2, dan 3 Desa Plosokerep dilakukan penempelan poster
PHBS agar siswa selalu mengingat cara untuk hidup yang bersih. Selain
itu bagi siswa yang beruntung dan dapat menjawab pertanyaan akan
diberikan hadiah, dengan tujuan agar dapat memotivasi siswa dalam
mengikuti kegiatan ini.
Adannya gangguan dari siswa SD diluar kelas 4 dan 5 yang
membuat acara ini sedikit terganggu. Tidak adanya guru yang
mendampingi kegiatan ini serta anak-anak kelas lain yang belum belajar
secara effektif menyebabkan banyaknya gangguan dari luar. Jumlah siswa
yang terlalu banyak dan jumlah panitia yang terlampau sedikit dibutuhkan
kekompakkan agar acara ini berjalan dengan baik. Pancuran yang ada di
sekolah sangat membantu dalam melakukan praktik langsung cuci tangan
pakai sabun.
Mengenai Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) diharapkan
dapat menjadi kegiatan rutin sekolah untuk menanamkan kesadaran siswa
untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sekolah dapat bekerjasama
dengan Poskesdes sebagai pemateri untuk memberikan pelayanan
kesehatan ataupun sekolah memberikan hari khusus atau waktu tambahan
setiap minggunya untuk melaksanakan kegiatan ini, dikarenakan masih
banyaknya materi dan praktik dari PHBS ini belum terlaksana seperti
menggosok gigi dengan rutin dan benar.
3.2.8. Ayo Melek Gizi
Masalah pengetahuan dan cara pemenuhan zat gizi bagi
masyarakat masih menjadi salah satu tantangan pembangunan kesehatan di
Indonesia. Sari Husada yang mengemban misi Nutrisi untuk Bangsa
bekerjasama dengan Departemen Gizi Masyarakat-Institut Pertanian
Bogor mengadakan Program Ayo Melek Gizi dalam rangka turut
mengatasi permasalahan gizi tersebut. Program ini dikembangkan dengan
tujuan untuk membangun dan mengembangkan potensi masyarakat untuk
menghadapi situasi pangan yang tidak menentu secara tepat serta
memberikan pendidikan gizi bagi ibu untuk memahami lebih jauh
15
mengenai pentingnya gizi sehingga tercapai status gizi masyarakat yang
lebih baik.
Kegiatan sosialisasi ayo melek gizi ini diberikan kepada Ibu Kader
Posyandu dan Ibu peserta Posyandu Cempaka berupa materi ayo melek
gizi dan ASI eksklusif. Materi berupa flip chart tentang seputar gizi,
pembagian leaflet, tanya jawab dan pertanyaan pretest dan posttest dan
diakhiri dengan pembagian hadiah serta penyerahan kenang-kenangan.
Materi tersebut berisikan tentang zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh,
manfaat zat gizi, contoh makanan bergizi, cara menyiapkan makanan yang
benar, perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu dilakukan penimbangan
terhadap bayi dan balita sebanyak 2 kali agar dapat mengetahui status
gizinya.
Tujuan dari diadakannya sosialisasi ayo melek gizi ini adalah
untuk meningkatkan pengetahuan dan meminimalisir adanya
permasalahan gizi kurang dan gizi buruk yang ada di Desa Plosokerep
sehingga warga Desa Plosokerep terutama Ibu peserta Posyandu / warga
dan Kader Posyandunya lebih memahami dan melek akan gizi anak-anak
bayi dan balitanya.
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15, 20, 22 juli 2013 bertempat di
posyandu cempaka 1, 2 dan cempaka 4 Blok Plosokerep, dan Blok
Lungsalam desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Indramayu. Selama
pelaksanaan kegiatan ini warga terutama ibu-ibu peserta posyandu sangat
antusias mengikuti penyuluhan ini. Penyuluhan ini juga dilaksanakan
dengan adanya bantuan dari ibu bidan desa yang membantu mengarahkan
warga. Akan tetapi seiring berjalannya penyuluhan ada beberapa warga
yang keluar masuk forum dengan bebasnya, sehingga sedikit membuat
kegaduhan dalam menjalankan penyuluhan ini. Belum adanya ruangan
posyandu yang tetap sehingga penyuluhan ini dilakukan diluar ruangan
atau dihalaman rumah warga yang dijadikan posyandu. Dalam pengisian
pretest dan posttest ada beberapa yang terkendala dengan baca tulis
dikarenakan ada yang buta huruf, jadi perlu diberikan pendampingan
khusus. Pengetahuan ibu-ibu tentang kesehatan dan gizi masih sangat
16
kurang dapat dilihat dari hasil pemeriksaan pretest dan post test
mereka. Selain itu kesadaran warga untuk mengisi pretest dan posttest
tersebut serta ada warga yang keluar forum sewaktu acara berlangsung
membuat pengisisan pretest dan posttest ini kurang maksimal atau hanya
mengisi salah satu saja. Kegiatan ini hendaknya dapat dilangsungkan
secara rutin atau setiap pelaksanaan posyandu, oleh pihak puskesmas dan
bidan desa sebagai pemateri. Materi yang diberikan hendaknya berbeda-
beda tiap waktunya agar pengetahuan warga dapat bertambah. Hal ini
dimaksudkan karena kurangnya kesadaran warga dalam membaca. Leflet
yang dibagikan hanya sekedar disimpan atau bukan untuk dibaca oleh
mereka. Selain itu perlu adanya gedung posyandu yang tetap agar hasil
posyandu dapat berjalan semaksimal mungkin. Adanya sound system
sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan ini.
3.2.9 Revitalisasi Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU)
Revitalisasi posyandu di Desa Plosokerep perlu dilakukan karena
sistem Lima Meja Posyandu. Di desa ini sistem lima meja sudah
berjalan, akan tetapi hanya sistemnya saja yang berjalan. Akan tetapi
sewaktu pelaksanaan posyandu masih kurang tertata dengan baik. Meja
yang ada hanya berjumlah 3 meja, kurangnya bantuan dari pemerintah
setempat sehingga meja yang ada ditiap posyandu belum berjumlah 5.
Meja pendaftaran, meja penimbangan, meja pencatatan, meja penyuluhan,
serta meja pelayanan kesehatan dan KB. hal tersebut meskipun dianggap
tidak penting bagi sebagian orang, namun sebenarnya memiliki peran
besar bagi perubahan pendekatan perbaikan gizi keluarga terutama meja
konseling. Pada meja konseling ini peserta posyandu yaitu ibu dari balita
dapat bertanya seputar masalah gizi dari anaknya dan perkembangan berat
badan anak dari hasil penimbangan. Kader yang ada didesa ini hanya
berjumlah 2 orang, kurangnya jumlah kader sehingga membuat para
petugas kesehatan juga ikut dalam mencatat dan menyuluh ibu-ibu yang
ada. Masih belum terampilnya kader dalam penyuluhan serta kurangnya
pengetahuan kader maka diberikan penyuluhan khusus kepada kader
posyandu dan diberikan buku berupa materi seputar gizi keluarga.
17
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu menjadi
masalah utama dalam melakukan kegiatan ini. Sebelum melakukan
kegiatan posyandu harus diberikan pengumuman terlebih dahulu di
masjid-masjid. Serta kurangnya jumlah kader posyandu, sehingga perlu
adanya tambahan kader lagi yang dapat bekerja secara ikhlas dan sukarela.
Selain itu perlunya tambahan meja lagi dari pihak terkait agar sistem 5
meja tersebut dapat terlaksana dengan baik.
3.2.10 Pemahaman Tumbuh Kembang Anak
Masa balita adalah masa dimana semua perkembangan anak terjadi
dengan pesat. Setiap tahapan perkembangan memiliki tugas perkembangan
masing-masing yang harus dilalui oleh anak. Jika anak tidak dapat
melewati tugas perkembangannya, maka akan terjadi gangguan pada tahap
perkembangan selanjutnya. Namun, banyak orang tua yang masih belum
paham atau menganggap bahwa perkembangan anak adalah sesuatu yang
tidak penting. Orang tua di desa pada umumnya beranggapan bahwa anak
akan mampu melewati tahapan perkembangan dengan sendirinya. Padahal,
peran orang tua sebagai pengasuh utama sangat penting dalam membantu
anak melewati tugas perkembangannya. Disini orang tua berperan untuk
memberikan stimulasi kepada anak-anaknya, mengenalkan lingkungan
kepada anak, dan mencegah hal negatif mempengaruhi anak. Hal-hal kecil
yang luput dari perhatian orang tua, seperti membiarkan anak bermain
sendiri, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perkembangan
anak terhambat pada masa selanjutnya.
Penyuluhan dilakukan ketika posyandu berlangsung. Hal ini
dimaksudkan agar para orang tua dapat berdiskusi langsung dengan orang
tua yang lain mengenai anaknya. Selain itu juga adanya pendampingan
dari bidan dan kader setempat yang membantu meyakini orang tua
mengenai pentingnya tumbuh kembang anak. Materi yang diberikan
mengenai tumbuh kembang anak dari masa kehamilan hingga balita,
karena anggota posyandu adalah ibu hamil, bayi dan balita.
Penyuluhan mengenai tumbuh kembang anak ini mendapat respon
positif dari para orang tua, karena ini adalah sesuatu yang baru bagi
18
mereka. Mereka jadi lebih memahami mengenai tumbuh kembang
anaknya dan pentingnya peran mereka sebagai orang tua untuk
memberikan stimulasi. Namun, beberapa orang tua ada yang menganggap
bahwa hal tersebut biasa saja karena pasti terjadi pada setiap anak. Disini
terlihat perlu adanya pendampingan yang berkelanjutan agar pemahaman
mereka bisa lebih baik lagi.
3.2.11 Penerapan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter
Keberadaan TK dan PAUD sebagai jenjang awal seorang anak
memasuki dunia pendidikan tentulah sangat penting. TK dan PAUD
berfungsi untuk mengenalkan kepada anak mengenai lingkungan
sekitarnya, berinteraksi dengan teman sebaya dan mendapatkan
pengalaman baru. Pembelajaran yang dilakukan tentu saja harus
berdasarkan kurikulum yang sesuai. Sebagian besar TK dan PAUD yang
ada hanya memberikan pelajaran yang lebih mengarah kepada kemampuan
kognitif. Pendidikan holistik berbasis karakter ini bertujuan agar siswa
tidak hanya belajar dari sisi kognitif, melainkan afektif, psikomotor dan
moralnya tersentuh. Selain itu, guru dituntut untuk kreatif dalam mengajar
agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan.
TK dan PAUD yang berada di Desa Plosokerep bukan merupakan
sekolah formal, melainkan berbentuk BKB Kemas. Tantangan pada BKB
Kemas ini adalah mereka tidak memiliki panduan kurikulum untuk
mengajar, sehingga kegiatan belajar mengajar mengalir begitu saja.
pembelajaran yang dilakukan cenderung monoton dan lebih mengarah
kepada kemampuan kognitif anak. Guru lebih aktif dan siswa cenderung
pastif. BKB Kemas memiliki jadwal empat hari dalam seminggu dimana
pembelajaran yang dilakukan adalah menulis, berhitung, membaca Iqra,
dan olahraga. Selain itu, tenaga pengajar yang ada hanya terdiri dari dua
orang guru yang tidak memiliki basic seorang pengajar dan sekolah ini
tidak memiliki bangunan sendiri. Sehingga, pendampingan kepada guru
harus dilakukan secara rutin agar mereka mengerti tentang pendidikan
holistik. Selain itu, tidak mudah merubah jadwal atau kebiasaan
pembelajaran yang sudah ada. Kendala lainnya adalah keberadaan orang
19
tua yang ikut masuk kedalam kelas. Hal ini sebenarnya dapat mengganggu
kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung dan siswa menjadi
tidak mandiri.
3.2.11 Pengenalan Buah dan Sayur Lokal
Kegiatan ini adalah salah satu bentuk kegiatan tambahan yang
difokuskan pada anak sekolah dasar terumata kelas 4 dan 5 SD. Buah dan
sayur impor saat ini banyak dijual dipasar. Rasa dan warnanya yang
menarik membuat konsumen Indonesia beralih mengkonsumsi produk
tersebut. Hal ini menyebabkan produk lokal tidak laku dipasaran dan dapat
membuat petani Indonesia rugi. Banyak orang yang masih belum mengerti
mengenai keunggulan produk lokal dibanding produk impor. buah dan
sayur lokal yang ada di daerah sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai
alternatif pilihan pangan keluarga, sehingga komoditas buah dan sayur
lokal tidak tersisihkan.
Anak-anak yang diminta untuk memilih antara produk lokal
dengan produk impor, ternyata sebagian besar masih memilih produk
impor. Alasannya karena warnanya yang menarik dan sudah familiar
dimata mereka. Namun, setelah dijelaskan mengenai keunggulan produk
lokal dan melakukan praktek langsung mengenai berkebun sederhana,
mereka menjadi paham dan tertarik kepada produk lokal. Penyuluhan
kepada ibu-ibu dilakukan bersamaan dengan penyuluhan pemanfaatan
pekarangan. Namun, dari semua warga yang hadir, hanya sebagian kecil
yang terdiri dari ibu-ibu.


Evaluasi

Berdasarkan keseluruhan program yang dijalankan, dapat dilihat bahwa
masyarakat sangat menerima masukan-masukan yang diberikan mahasiswa, baik
dari segi pertanian maupun sosial. Antusiasme warga desa Plosokerep terbilang
cukup tinggi. Sayangnya karena waktu yang relative singkat, beberapa program
masih belum memperlihatkan hasil maksimal.
20
KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan

Kegiatan KKP di Desa Plosokerep Kecamatan Terisi Kabupaten
Indramayu menghasilkan kesimpulan bahwa permasalahan utama warga desa
yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani adalah masalah hama
penyakit dan saluran irigasi yang kurang maksimal. Kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang keselamatan kerja penggunaan pestisida kimia juga masih
sangat kurang sehingga perlu diberikan pengetahuan lebih lanjut. Sementara dari
bidang pendidikan dan kesehatan permasalahan utamanya adalah masih banyak
balita yang gizinya kurang seimbang. Kegiatan posyandu sudah dilaksanakan
dengan relative baik dan terjadwal di setiap dusun. Namun untuk sarana
pendidikan terutama anak usia dini atau PAUD masih perlu dikembangkan lebih
lanjut. Permasalahan dan kebutuhan desa sudah dapat diidentifikasi namun karena
kurangnya sarana-prasarana, tenaga, waktu dan biaya masalah-masalah tersebut
masih banyak yang belum teratasi sepenuhnya.


Saran

Waktu yang terbatas dan terpotong libur lebaran menyebabkan kerja tim
untuk menyelesaikan permasalah desa masih kurang maksimal. Selain itu,
harapannya seluruh lembaga pemerintahan dalam lingkup kabupaten dan
kecamatan dapat mengikuti proses berjalannya lokakarya agar dapat mengetahui
potensi wilayah dan permasalahan yang telat diindentifikasi sehingga
keberlanjutan program dapat berjalan optimal.
.
21
LAMPIRAN


Jurnal Harian KKP IPB 2013

Desa : Plosokerep
Kecamatan : Terisi
Kabupaten : Indramayu

No. Tanggal Jam Uraian Kegiatan Tanda Tangan
1 1 Juli 2013 17.00-
selesai
Tiba di tempat tinggal selama
kegiatan KKP.
Membereskan barang-barang.

2 2 Juli 2013 13.00-
15.00
Berkunjung dan diskusi ke
rumah ketua RT, RW, dan
Kadus

15.00-
16.30
Survei sawah terdekat

3 3 Juli 2013 09.00-
14.00
Kunjungan ke balai desa untuk
mencari data monograf,
kepemilikan lahan sawah.

14.00-
16.30
Kunjungan ke rumah raksabumi
untuk mengetahui lebih jauh
tentang Gapoktan

20.00-
20.30
Rapat kelompok

4 4 Juli 2013 07.00-
08.00
Kunjungan ke kadus untuk
mengadakan sosialisasi
manajemen pasca p

08.00-
10.00
Penyemaian cabai

17.00-
18.00
Kunjungan ke ketua pengajian
ibu-ibu

5 5 Juli 2013 13.00-
15.30
Pengajian ibu-ibu

16.00-
17.30
Pemetaan lahan sawah

6 6 Juli 2013 18.30-
19.00
Mengajar ngaji anak-anak

7 7 Juli 2013 09.00-
11.00
Penyuluhan pasca panen dan
kumpul warga

11.00-
12.00
Pemetaan lahan sawah
12.30-
19.00
Mengajar ngaji anak-anak




8 8 Juli 2013 09.00-
13.00
Panen perdana di Balai Desa
Plosokerep

13.30-
16.30
Pawai sambut ramadhan
9 9 Juli 2013 08.00-
12.00
Pemetaan sawah

10 12 Juli 2013 13.00-
15.30
Lokakarya 1


11 13 Juli 2013 10.00-
15.00
Membuat desain pekarangan

12 14 Juli 2013 13.00-
15.00
Menanam beberapa tanaman

13 15 Juli 2013 08.00-
09.30
Pendampingan Posyandu di
Dusun Plosokerep

14 18 Juli 2013 09.00-
11.00
Pendamp ingan Posyandu di
Dusun Lung Salam 1

15 20 Juli 2013 08.00-
10.00
Penyuluhan PHBS di SD
Plosokerep 3 (Siswa kelas 4,5
SD)

16 22 Juli 2013 08.00-
10.00
Pendamingan Posyandu di
Dusun Lung Salam 1

11.00-
14.00
Kunjungan ke BPP Kecamatan
Terisi

17 27 Juli 2013 08.00-
12.00
Penyuluhan PHBS di SD
Plosokerep 2 (Siswa kelas 4,5
SD)

18 29 Juli 2013 08.00-
12.00
Penyuluhan PHBS di SD
Plosokerep 1 (Siswa kelas 4,5
SD)

19 20 Juli -14
Agustus 2013
Libur lebaran

20 15 Agustus
2013
07.00-
09.30
Pemetaan sawah

09.00-
12.00
Silaturahim ke rumah kadus dan
kades

21 16 Agustus 2013 07.00-
12.00
Pemetaan sawah dan uji tanah
sawah

14.00-
21.00
Persiapan perayaan 17 Agustus
22 17 Agustus
2013
07.30-
10.00
Pemetaan sawah

14.00-
17.00
Perlombaan 17 Agustus
23
23 18 Agustus
2013
08.30-
selesai
Pemetaan sawah dan uji tanah

24 21 Agustus
2013
09.00-
11.00
Kunjungan ke BPP

13.00-
14.30
Supervisi oleh dekan Faperta

25 22 Agustus
2013
08.00-
10.00
Membantu pelaksanaan
posyandu di Blok Lungsalam 1

14.30-
16.30
Penyuluhan pekarangan dan
pertanian di Dusun Lung Salam

26 23 Agustus
2013
14.00-
16.00
Pemetaan sawah

29 24 Agustus
2013
17.30-
21.00
Penyuluhan pekarangan dan
pertanian di Dusun Suket Baju

30 25 Agustus
2013
10.00-
16.00
Jalan-jalan dengan pemilik
rumah

31 26 Agustus 2013 09.00-
10.00
Pendampingan Posyandu di
Dusun Lung Salam 1

32 27 Agustus 2013 18.00-
21.00
Penyuluhan pekarangan dan
pertanian di Dusun Plosokerep

33 28 Agustus 2013 10.00-
selesai
Persiapan lokakarya dan
menghadiri acara pernikahan

34 29 Agustus 2013 08.00-
08.30
Menuju tempat lokakarya

17.00-
24.00
Perjalanan dari Indramayu
menuju Bogor


Keterangan :
Tanda tangan dari pihak bersangkutan terlampir dalam Surat Pernyataan
24





Desa Plosokerep Kecamatan Terisi
Kabupaten Indramayu
N
E W
S
Blok Desa (Perkampungan)
Perum
Lokasi bata
Sungai
Rel kereta
Jalan raya
Sawah
Legenda:
25
Dokumentasi Kegiatan







Gambar 1. Rumah Pintar Gambar 2. Lomba1 17Agustus












Gambar 3. Pemetaan dan Uji Kadar Hara Gambar 4. FGD dengan masyarakat












Gambar 5. Praktik pembuatan vertikultur Gambar 6. Aku Cinta Pertanian





26





Gambar 7. Penyuluhan Posyandu Gambar 8. Penyuluhan Pertanian






Gambar 8. Pendidikan Holistik di PAUD Gambar 9. PHBS dan PUGS di SD







Gambar 10. Proses Pembuatan PGPR Gambar 11. Ayo Melek Gizi