Anda di halaman 1dari 56

13

BAB 2
PENGGUNAAN TEKNIK DRAMA KREATIF DALAM PEMBELAJARAN
MENULIS NASKAH DRAMA

2.1 Teknik Pembelajaran
2.1.1 Pengertian Teknik Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknik berarti pengetahuan dan
kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri (bangunan,
mesin); cara (kepandaian dsb.) membuat atau melakukan sesuatu yang
berhubungan dengan seni; metode atau sistem mengerjakan sesuatu (Pusat bahasa
departemen pendidikan nasional, 2001: 1158). Pembelajaran menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, yaitu proses, cara, perbuatan mempelajari (Pusat bahasa
departemen pendidikan nasional, 2001: 17).
Dengan demikian, secara bahasa teknik pembelajaran dapat diartikan
sebagai suatu sistem atau metode mengerjakan suatu cara atau proses perbuatan
mempelajari. Pada hakekatnya, teknik pembelajaran berarti cara atau kiat yang
digunakan dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar (Subana: 195).

2.1.2 Jenis-jenis Teknik Pembelajaran
Setiap teknik pembelajaran, memiliki karakteristik tertentu dengan segala
kelebihan masing-masing. Suatu teknik dapat maksimal diterapkan pada mata
pelajaran tertentu apabila sesuai dan tepat penggunaannya. Suatu teknik mungkin
saja baik untuk satu tujuan, pokok bahasan, situasi dan kondisi tertentu, tetapi
belum tentu baik untuk tujuan, pokok bahasan, dan situasi lain (Subana: 195).
14


Oleh karena itu, pengajar sangat perlu menggunakan beberapa teknik dalam
penyampaian pokok bahasan tertentu. Dengan menggunakan variasi beberapa
teknik pembelajaran selain tidak membosankan, juga bermanfaat untuk mengatasi
kekurangan pengajar dalam hal tertentu serta dapat memaksimalkan pencapaian
tujuan pembelajaran.
Secara umum, beberapa teknik pembelajaran tersebut adalah sebagai
berikut.
a. Teknik Tanya-jawab/ Dialog
Teknik tanya-jawab ialah suatu teknik pembelajaran untuk memberi
motivasi kepada siswa agar timbul keinginan dalam dirinya untuk bertanya selama
mengikuti kegiatan belajar serta berusaha menjawab bila guru mengajukan
pertanyaan (Subana: 196). Teknik tanya-jawab merupakan teknik yang umum
diberikan kepada siswa untuk mengatasi kejenuhan pada siswa. Teknik ini
memiliki tujuan utama untuk mendorong siswa agar mengerti atau mampu
mengingat kembali fakta yang dipelajari, didengar, ataupun dibaca, sehingga
siswa memiliki pengertian yang mendalam tentang suatu materi.
Penggunaan teknik tanya-jawab lebih tepat untuk menyimpulkan atau
mengikhtisarkan pelajaran atau bahan ajar yang dibaca. Dengan adanya tanya-
jawab diharapkan jalan pikiran siswa akan tersusun dengan baik sehingga
mencapai perumusan yang baik dan tepat. Teknik tanya-jawab dapat
meningkatkan perhatian siswa pada pelajaran sertra meningkatkan kemampuan
untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya sehingga pengetahuan
tersebut menjadi fungsional.
15


Penggunaan teknik tanya-jawab dapat dilakukan guru untuk meneliti
kemampuan dan daya tangkap siswa dalam memahami bacaan. Apakah siswa
dapat memahami apa yang dibacanya? Apakah siswa dapat menyimpulkan dari
bahan yang dibacanya? Dari jawaban yang diberikan siswa, guru dapat
mengetahui penguasaan siswa pada suatu pelajaran, pokok bahasan atau materi
yang diberikan.
Teknik tanya-jawab kurang mengenai sasaran bila guru bertujuan atau
mengungkapkan maksud berikut.
Pertama, guru ingin menilai taraf dan kadar pengetahuan siswa. Karena,
pertanyaan yang diajukan sebagai teknik tanya-jawab tidak pernah dimaksudkan
untuk menguji atau mengevaluasi siswa, melainkan hanya bertujuan untuk
mengingatkan kembali mengenai apa yang telah dipelajari, dialami dan dibaca
oleh siswa. Teknik tanya-jawab juga lebih ditujukan untuk menghubungkan
kembali pelajaran yang lama dengan yang baru atau dalam situasi dan masalah
yang baru.
Kedua, teknik tanya-jawab kurang tepat bila guru mengajukan pertanyaan
yang dapat dijawab dengan jawaban ya atau tidak. Pertanyaan tersebut tidak pada
tempatnya bila diberikan dalam teknik ini karena jawaban yang diberikan siswa
tidak mendorongnya untuk mengingat kembali atau memikirkan jawabannya
kembali.
Ketiga, bila pertanyaan itu tidak menghendaki jawaban yang sederhana,
tetapi kompleks, sedangkan jawaban sangat dibatasi sehingga pikiran siswa tidak
16


berkembang. Oleh karena, itu bila jawaban yang dikehendaki bersifat kompleks
sebaiknya guru menggunakan teknik diskusi.
Keempat, bila pertanyaan itu ditujukan pada seluruh kelas, guru menunjuk
seorang siswa atau menunggu sampai ada yang menunjukan jari untuk
menjawabnya. Sebaiknya guru memberikan hak yang sama kepada setiap siswa
serta memberikan kesempatan yang sama. Terutama untuk siswa yang pemalu,
guru harus bisa mendorong untuk lebih aktif bertanya. Guru sebaiknya juga
mampu mengendalikan siswa yang memang sudah tergolong aktif bertanya.
Sehingga dapat memberikan kesempatan pada siswa yang lain.
Teknik tanya-jawab memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan atau
keunggulan teknik ini ialah dapat membuat suasana kelas menjadi lebih hidup
karena sambutan kelas akan lebih baik. Siswa tidak hanya mendengarkan ceramah
guru. Dengan adanya tanya-jawab, partisipasi siswa akan lebih besar dan mereka
terdorong untuk mendengarkan pertanyaan guru dengan baik dan mencoba
memberikan jawaban yang tepat.
Teknik tanya-jawab juga memiliki kelemahan, yaitu kelancaran jalannya
pelajaran akan terhambat karena diselingi tanya-jawab dan jawaban siswa pun
belum tentu benar. Bahkan, kadang-kadang jawaban siswa menyimpang dari
persoalan sehingga guru memerlukan waktu lebih lama untuk memperoleh
jawaban yang benar. Namun demikian, teknik tanya-jawab ini dapat diterapkan
dengan ketegasan guru apabila ada siswa yang menyimpang dari pertanyaan.
Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam teknik tanya-jawab adalah
sebagai berikut.
17


1. materi yang akan dibahas dipersiapkan lebih dahulu atau paling tidak pernah
dibaca oleh guru;
2. guru mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa;
3. siswa ditugasi untuk menyusun sejumlah pertanyaan yang dikaitkan dengan
materi dalam pertemuan yang akan dilemparkan kepada siswa lain; dan
4. jawaban yang diberikan oleh siswa disimpulkan oleh guru dan disusun secara
sistematis.
b. Teknik Pemberian Tugas dan Resitasi
Teknik penugasan atau resitasi ialah teknik pembelajaran yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan
petunjuk yang telah dipersiapkan guru sehingga siswa dapat mengalami kegiatan
belajar secara nyata (Subana: 199). Selain itu teknik penugasan atau resitasi ini
diharapkan siswa dapat belajar secara aktif dan mandiri.
Terdapat dua fase penting dalam teknik ini, yaitu fase belajar dan fase
resitasi. Fase belajar adalah fase dimana siswa mengerjakan tugas, sedangkan fase
resitasi adalah fase siswa untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya.
Guru perlu mengingat bahwa teknik ini bukan sekedar PR (Pekerjaan
Rumah) bagi siswa, melainkan pembelajaran dengan memberikan tugas kepada
siswa untuk mempelajari sesuatu kemudian melaporkan hasilnya. Seringkali
resitasi dikacaukan dengan pekerjaan rumah, karena dalam percakapan sehari-
hari, bila pengajar memberi tugas, hal itu dikatakan memberi PR.
Sedangkan, idealnya pemberian tugas ini memiliki fungsi sebagai berikut.
18


1. menambah pengertian, memperkuat hasil belajar yang telah diterima di
sekolah;
2. melatih siswa untuk belajar sendiri dan mandiri;
3. melatih siswa untuk membagi waktu secara teratur;
4. melatih siswa untuk menggunakan waktu luangnya untuk mengerjakan
tugasnya;
5. membiasakan siswa berdisiplin dan tidak mengabaikan tugas;
6. melatih siswa untuk mencari dan menemukan cara yang tepat untuk
menyelesaikan tugasnya; dan
7. memperkaya pengalaman sekolah dengan memulai kegiatan di luar kelas.
Teknik pemberian tugas dan resitasi memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan teknik pemberian tugas yaitu, memberi kesempatan kepada siswa untuk
belajar lebih banyak serta lebih luas; rasa tanggung jawab siswa lebih
berkembang; hubungan sekolah dengan keluarga lebih erat; motivasi belajar siswa
lebih besar; keberanian berinisiatif siswa lebih berkembang; dan kerjasama
antarsiswa lebih berkembang.
Kebaikan teknik resitasi yaitu, siswa mendalami dan mengalami sendiri
pengetahuan yang dicarinya dengan demikian pengetahuan yang diperolehnya
akan lebih melekat dalam ingatan siswa; siswa dapat berpikir sendiri, memiliki
inisiatif, kreatif, tanggung jawab dan melatih berdiri sendiri.
Namun teknik pemberian tugas dan resitasi ini memiliki kelemahan, yaitu,
siswa mungkin meniru hasil pekerjaan temannya; adanya kemungkinan orang lain
yang mengerjakan tugas itu, maka guru perlu mengecek dengan bantuan orang tua
19


untuk memberitahukan apakah anaknya mengerjakan tugas atau tidak; siswa
mengalami kesukaran untuk mengerjakan tugas akibat terlalu banyak tugas yang
diberikan. Hal itu dapat mengganggu perkembangan jasmani dan rohani pada
usianya.
c. Teknik Latihan dan Praktik (Drill & Practice)
Teknik latihan dan praktik dimaksudkan untuk membantu siswa
menguasai keterampilan secara tepat dalam perilaku yang cepat dan otomatik
(Subana: 202). Sehingga diharapkan siswa mampu mengasah kemampuannya agar
lebih baik dan berkesinambungan.
Latihan adalah suatu teknik mengajar yang mendorong siswa untuk
melaksanakan kegiatan belajar agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang
lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Dengan melaksanakan kegiatan latihan
secara praktis dan teratur, siswa lebih terampil dan berprestasi dalam bidang
tertentu, terutama bila digunakan dalam pelajaran bahasa, misalnya pelafalan,
intonasi dan lain-lain.
Manfaat teknik ini ialah agar siswa memiliki keterampilan motoris, seperti
menghafalkan kata-kata, menulis, mempergunakan atau membuat huruf kapital,
melaksanakan gerak; siswa mengembangkan kecakapan intelek, seperti
mengalikan, membagi, menjumlah, dan dalam pelajaran berhitung lainnya; siswa
mampu menghubungkan suatu keadaan dengan hal lain, seperti hubungan sebab
akibat antara banyak hujan dengan banjir dan antara merokok dan penyakit
jantung dan lain sebagainya.
20


Kelemahan teknik latihan diantaranya adalah, menghambat bakat dan
inisiatif siswa, keterampilan siswa menetap atau pasti/ kaku, terjadi verbalisme
atau tanpa mengerti.
Agar teknik latihan berhasil, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh
guru sebagai berikut.
1. berlaku untuk pelajaran/ tindakan yang dilakukan secara otomatis/ gerak
refleks, seperti menghafal, berbicara, lari, dan sebagainya;
2. latihan yang mempunyai arti luas, yang dapat menanamkan pengertian
pemahaman latihan, tujuan serta kegunaan sekarang maupun yang akan
datang;
3. guru meneliti kesukaran/ hambatan yang dialami siswa serta mengadakan
variasi latihan sehingga timbul respon berbeda untuk peningkatan dan
penyempurnaan kecakapan/ keterampilan;
4. guru mengutamakan dan memperhatikan ketepatan dan kecepatan sehingga
siswa melakukan latihan dengan guru;
5. guru memperhitungkan waktu/ masa latihan yang singkat supaya tidak
meletihkan dan membosankan, melainkan sebaliknya, yaitu menyenangkan
dan menimbulkan optimisme;
6. guru memikirkan dan mengutamakan proses yang esensial, pokok, atau inti;
dan
7. guru memperhatikan perbedaan individual siswa serta mengawasi dan
memperhatikan latihan perseorangan.
Langkah-langkah pelaksanaan teknik latihan adalah sebagai berikut.
21


1. Tahap persiapan
a. persiapkan ruangan tempat latihan;
b. tentukan bahan/ bidang keterampilan yang akan dilatih;
c. persiapkan alat yang akan digunakan;
d. rencanakan banyaknya waktu yang akan digunakan;
e. teliti lebih dahulu tingkat penguasaan pengetahuan yang akan dilatih; dan
f. lakukan diagnosis kesulitan siswa dalam bidang yang akan dilatih.
2. Tahap pelaksanaan
a. latihan ketepatan dalam keterampilan, kemudian latihan kecepatan dalam
menggunakan keterampilan;
b. latihan keseimbangan antara ketepatan dan kecepatan;
c. latihan dilakukan secara kelompok kemudian secara individual; dan
d. selama latihan, perhatikan minat, keseriusan, disiplin, serta motif untuk
berhasil.
3. Tahap penilaian
a. selama latihan, guru perlu melakukan koreksi dan perbaikan; dan
b. pergunakan tes tindakan untuk mengukur tingkat kemajuan pengembangan
keterampilan siswa.
d. Teknik Simulasi
Secara harfiah, simulasi diartikan sebagai, peniruan dari keadaan yang
sebenarnya. Sebagai suatu teknik pembelajaran, simulasi diartikan sebagai satu
kegiatan yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk menguasai
keterampilan melalui latihan dalam situasi tiruan (Subana: 205).
22


Menurut Paul A. Twelker (Subana: 205) menyatakan bahwa simulasi
berarti memperoleh esensi dari sesuatu tanpa aspek-aspek realitas. Tujuan
bersimulasi adalah memberikan seluas mungkin kejadian yang dialami orang
dewasa tanpa takut mendapat kecaman karena berbuat salah.
Permainan simulasi (simulation games) diartikan sebagai suatu permainan
yang mengharuskan siswa memegang peran tertentu, seolah-olah betul-betul
terlibat dalam situasi sebenarnya. Contoh : permainan monopoli (para pemainnya
tampak seperti betul-betul terlibat dalam usaha real estate).
Langkah-langkah pelaksanaan simulasi sebagai teknik pembelajaran
adalah sebagai berikut.
1. pemilihan situasi, masalah, atau permainan yang cocok;
2. pengorganisasian kegiatan sehingga peran dan tugas-tugas menjadi jelas, dan
peralatan, waktu serta tempat pun memadai;
3. persiapan petunjuk yang dapat memudahkan siswa dalam melaksanakan tugas;
4. menyampaikan petunjuk secara jelas;
5. menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan;
6. memilih siswa untuk bermain peran;
7. membantu siswa dalam persiapan;
8. mengawasi kegiatan simulasi;
9. menyampaikan saran, perbaikan selama simulasi berlangsung; dan
10. mengadakan evaluasi.




23


2.2 Teknik Drama Kreatif
2.2.1 Pengertian Drama Kreatif
Sebelum memberikan pengertian atau definisi tentang drama kreatif,
sebaiknya kita mengetahui bahwa para ahli mengungkapkan istilah drama kreatif
ini sama dengan istilah improvisasi drama (Nessel, 1989: 76).
Istilah improvisasi dikenal dan menjadi populer setelah dikenalkan oleh
WS. Rendra (Rumadi, 1991), Rendra mengenalkan improvisasi sebagai salah satu
teknik latihan bermain drama pada awal tahun 1970-an. Yang dimaksud
improvisasi adalah, pertama, menciptakan, merangkai, memainkan, menyajikan,
sesuatu tanpa persiapan; kedua, menampilkan sesuatu dengan mendadak; dan
ketiga, atau melakukan begitu saja (offhand). Tujuan melatih improvisasi adalah
rangsangan spontanitas. Namun, spontanitas itu harus serasi dengan tuntutan
seluruh sajian pementasan, dan tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Banyak pendapat tentang pengertian drama kreatif, namun pada dasarnya
drama kreatif adalah aktivitas drama yang tujuannya memberikan pengalaman
untuk partisipannya (Buesgen, 1999: 1). Yang ditekankan oleh drama kreatif
adalah prosesnya bukan produknya. Dalam drama kreatif terdapat kesempatan
bagi siswa belajar banyak hal secara langsung. Belajar dan berpikir untuk
membuat kelompok, mengenal berbagai karakter manusia dan persoalan
kehidupan, mengenal sastra, dsb. Hal ini lebih mendalam daripada siswa sekedar
diskusi apa itu karakter manusia atau apa itu sastra.
24


Nessel (1989: 76) memberikan pengertian bahwa drama kreatif adalah
suatu aktivitas berbicara yang dapat dinikmati dan bersifat intelektual serta dapat
menstimulasi.
Creative dramatic, or improvised drama, is an enjoyable and intellectually stimulating
speaking activity. Students enact a story, inventing dialogue and action as they speak. Although
the activity is structured in that there is a story to be told, there is room for individual variations.
The group may act out the tale repeatedly, exchanging roles, making up new lines, and altering the
details with each new improvisation. The purpose is not to produce a formal play but rather to
imagine, interpret, and express the story in unique ways (Nessel, 1989: 76).
Drama kreatif erat kaitannya dengan imajinasi. Siswa tidak dituntut untuk
benar dalam melakukan kegiatan drama kreatif tersebut, melainkan
membayangkan (imajinasi), menginterpretasi, dan mengekspresikan suatu kisah
dengan unik. Hal ini berarti bahwa dengan imajinasi kita dapat menciptakan hal-
hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Imajinasi kita berubah menjadi
fantasi. Dan hal inilah yang sangat penting dimiliki oleh seniman terutama para
pemain drama (Mulyana, 1997: 170).

2.2.2 Tujuan Drama Kreatif
Drama kreatif, merupakan kegiatan yang memberikan kebebasan kepada
para pemainnya, dalam hal ini siswa. Mereka bebas mengekspresikan diri mereka.
drama kreatif merupakan kegiatan yang bersifat informal (tidak resmi) dimana
siswa dibimbing seorang guru untuk mencapai tujuan-tujuan, yakni; (1)
menyatakan dirinya sendiri melalui drama. Terdapat pertunjukan di dalamnya,
akan tetapi cenderung merupakan pernyataan bebas dari imajinasi kreatif siswa
melalui suatu bentuk seni; (2) mengembangkan kepribadian siswa. Melalui drama
kreatif siswa juga belajar berkelompok untuk mengembangkan pribadinya dan
25


meningkatkan apresiasinya terhadap seni teater; dan (3) menjadikan alat
pendidikan total dimana siswa dapat mengkonkretkan apa yang dipelajarinya
(Padmodarmaya, 1990: 32).

2.2.3 Manfaat Drama Kreatif
Penggunaan drama kreatif memiliki banyak keuntungan bila dapat
diterapkan dalam pembelajaran di kelas. drama kreatif masih perlu untuk
dikembangkan oleh guru, terutama karena penelitian yang pernah dilakukan baru
terbatas untuk anak usia empat hingga sembilan tahun (Buesgen,1999: 1).
Padmodarmaya (1990: 33) mengungkapkan hasil penelitian-penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa manfaat Drama Kreatif di antaranya sebagai berikut.
Pertama, Meningkatkan perkembangan keterampilan penguasaan bahasa.
drama kreatif berkaitan dengan peningkatan keterampilan berbahasa terutama
antara keterampilan berbicara dengan keterampilan mendengarkan. Selain itu,
proses drama kreatif dilanjutkan sampai menulis naskah drama, artinya
bermanfaat pula untuk mengasah keterampilan menulis. Pengalaman bermain
drama secara langsung dapat memudahkan siswa dalam menuangkan ide atau
gagasan mereka ke dalam tulisan berupa naskah drama.
Kedua, dapat merangsang imajinasi kreatif. Drama kreatif akan membuka
kemungkinan untuk melatih kepekaan terhadap proses kreativitas dan imajinasi
siswa. Drama kreatif sangat penting untuk mengarahkan siswa ke dalam suatu
realisasi pola gagasan secara sadar, berkembang terus-menerus, dan memperluas
cakupan pola gagasan itu dalam pikiran, emosi, sensasi, dan imajinasi
26


(Padmodarmaya, 1990: 12). Sebenarnya dalam berbagai hal pola gagasan dapat
tumbuh dari pengalaman belajar, pengamatan, berpikir dan membaca. Pola
gagasan ini kemudian menjadi landasan dari pikiran dan perbuatan kreatifnya.
Oleh karena itu, pola gagasan berfikir ini, dapat dilatih melalui pengalaman
langsung.
Ketiga, dapat mengembangkan pengertian sikap kemanusiaan. Drama
kreatif bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat yang kurang baik dari
siswa, misalnya: pemalu, penakut, pembohong, dan lain sebagainya. Melalui
drama kreatif anak yang pemalu misalnya, dapat melatih untuk berani. Karena
drama kreatif melibatkan seluruh siswa untuk mengalami secara langsung bermain
drama. Guru hendaknya mampu memberikan arahan kepada siswa yang pemalu
bahwa drama kreatif merupakan kegiatan yang menyenangkan dan alat untuk
berekspresi. Dengan demikian, diharapkan siswa mampu menikmatinya dengan
sukacita tanpa terbebani perasaan takut salah.
Keempat, dapat belajar bekerjasama dalam suatu kelompok dan
memecahkan masalah-masalah yang ada di dalam kelompoknya. Drama kreatif,
memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk belajar berorganisasi dan
bersosialisasi dalam satu kelompok. Contohnya, dalam menentukan pemain
beserta karakternya, saat tampil di kelas, mungkin saja ada siswa yang kurang
pandai berdialog. Maka, saatnya bagi anggota kelompoknya untuk membantu
dengan cara berimprovisasi yang bisa membuat temannya mampu meneruskan
dialognya. Pengalaman-pengalaman kecil tersebut sebenarnya bermanfaat besar
bagi siswa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
27



2.2.4 Unsur-unsur Drama Kreatif
Drama kreatif memiliki empat elemen dasar yang terdapat dalam semua
dramatisasi, yaitu gerak lakuan atau gerakan, suasana sekitar dan rasa kesadaran,
tindak-tanduk atau tingkah laku, serta interaksi verbal (Padmodarmaya, 1930: 39-
40).
Pertama, gerak lakuan, merupakan dasar drama. Pada umumnya kegiatan
drama kreatif akan selalu membuat siswa memberikan pernyataan gagasan yang
diungkapkan secara lahiriah. Siswa belajar bergerak secara bebas dan kreatif
dengan disiplin, dapat menolong dirinya sendiri, serta memiliki kontrol dan
gerakan yang meyakinkan sesuai karakter yang diperankannya. Siswa juga belajar
menggunakan ruang dan waktu dengan efisien dan melakukannya dengan
demokratis.
Kedua, suasana sekitar dan rasa kesadaran. Drama kreatif memiliki kaitan
dengan pembentukan kesadaran siswa-siswi. Siswa diharapkan mampu
memperluas pengetahuan dan kesadaran suasana sekitarnya, realitas dengan
angan-angan melalui perasaan dan daya imajinasinya.
Ketiga, perasaan dan tindak-tanduk atau tingkah laku. Drama kreatif
menjadi salah satu alat bagi siswa yang memainkannya untuk mendapat
kesempatan bermain berbagai macam peran dan karakter, mengalami perasaan
serta tingkah laku dari karakter tersebut (Padmodarmaya, 1990: 40). Ketika siswa
diberi perannya masing-masing, maka hal ini menjadi latihan bagi siswa untuk
menafsirkan karakter tokoh yang diperankannya. Setelah itu siswa pun belajar
28


menyesuaikan perannya dengan temannya dalam satu kelompok. Dengan
memainkan banyak peran yang berbeda, para siswa akan mengenali berbagai jenis
orang beserta karakternya.
Keempat, interaksi verbal. Drama kreatif menumbuhkan kemampuan
siswa untuk belajar berinteraksi secara verbal selain bahasa nonverbal seperti
gerakan. Pengalaman siswa memainkan berbagai macam peran dan berbagai
situasi yang kemudian melatih siswa mengatasi situasi dengan lawan mainnya.
Dialog-dialog verbal akan menjadi penunjang interaksi dengan pemeran yang lain.

2.2.5 Drama Kreatif dan Kurikulum
Drama kreatif memiliki sifat yang terbuka, artinya dia tidak hanya khusus
sebagai subjek tersendiri (Padmodarmaya, 1990: 35). Drama kreatif dengan
sifatnya yang terbuka, maka dapat dipadukan dengan banyak bidang keterampilan
maupun ilmu pengetahuan. Ia dapat dengan mudah dimanfaatkan sebagai sarana
atau teknik mengajarkan ilmu pengetahuan yang lain. Misalnya, dalam bidang
studi kemasyarakatan atau sosial, para siswa dapat memerankan drama kehidupan
Pak tani. Di bidang ilmu sejarah, siswa dapat memainkan drama penjajahan
jepang hingga detik-detik kemerdekaan, dan lain sebagainya.
Pengalaman drama kreatif juga dapat menjadi alat untuk menguji
pemahaman siswa terhadap suatu ilmu. Misalnya, suatu wisata atau studi
lapangan. Di samping membuat laporan secara tertulis, siswa ditugaskan membuat
kelompok drama yang isinya menceritakan pengalaman mereka di tempat studi
lapangan tersebuat.
29



2.2.6 Peran Guru dalam Drama Kreatif
Kegiatan drama kreatif memang ditujukan untuk siswa, namun dalam
pelaksanaannya peran guru tetap diutamakan. Di antaranya, guru yang
mempersiapkan, mengatur dan melaksanakan kegiatan drama kreatif agar tetap
berada dalam kontrol guru. Selama melaksanakan drama kreatif, sebaiknya guru
mengamati siswa secara terus-menerus. Namun, bukan berarti guru tidak
mempercayai siswanya. Sebaliknya, guru hendaklah percaya bahwa setiap siswa
merupakan pribadi yang memiliki potensi kreatif yang berharga (Padmodarmaya,
1990: 37-38).
Guru berperan sebagai pemimpin. Guru yang percaya diri menggunakan
drama kreatif sebagai alat pendidikan biasanya merupakan orang yang yakin betul
akan adanya kemampuan kreatif anak-anak (Padmodarmaya, 1990: 38). Sifat itu
merupakan hal positif yang harus dimiliki oleh seorang guru. Karena sikap seperti
itu merupakan cermin kepemimpinan yang memberikan dorongan kepada siswa
untuk maju.
Guru haruslah selalu mempersiapkan dan mengatur bahan-bahan
permainan yang berkenaan dengan kemampuan kelompok siswa untuk
melaksanakan segala keperluan kegiatan (Padmodarmaya, 1990: 39). Guru
disamping sebagai pemimpin juga harus mempertimbangkan kepribadiannya
sendiri, gaya mengajarnya, dan harus memiliki keyakinan terhadap kemampuan
kepemimpinan. Dengan demikian, ia dapat membimbing siswa-siswa dengan
penuh perhatian, perasaan, dan kecekatan.
30



2.2.7 Pelaksanaan Drama Kreatif di dalam Kelas
Pementasan drama dengan menggunakan teknik drama kreatif menurut
Nessel (1989: 76-80) memiliki beberapa strategi yang dapat diterapkan. Caranya
adalah sebagai berikut.
1 Siswa membentuk kelompok belajar.
2 Siswa memilih sebuah tema cerita yang sudah disiapkan oleh guru untuk
dipentaskan ke dalam bentuk drama.
3 Siswa berdiskusi untuk menentukan ke arah mana drama akan dibawa.
4 Siswa membagi peran sesuai cerita yang mereka pilih.
5 Siswa menampilkan drama mereka di depan kelas.
6 Kelompok lain memberi masukan.
7 Siswa mendiskusikan langkah-langkah menyusun naskah drama dari
pementasan yang telah mereka lakukan.
8 Siswa mengulang lagi langkah pertama sampai langkah kelima dengan
penampilan drama yang telah sesuai dengan naskah.
Cara lainnya adalah dengan meminta siswa untuk mengarang cerita sendiri
dan kemudian menuangkannya dalam bentuk drama (Nessel, 1989: 76-80).
Sebuah peristiwa biasa pun dapat merangsang siswa untuk mengembangkan
sebuah cerita. Mc. Caslin (1968) menggambarkan tentang penelitiannya terhadap
sekelompok anak kelas lima sekolah dasar yang dapat menciptakan dan
mengembangkan cerita tentang orang tua yang mereka lihat pada saat mereka
berjalan ke sekolah.
31


Drama kreatif sebaiknya tidak mengikuti skenario tertentu, karena
kesenangan dalam berimajinasi dan membuat karya akan hilang apabila siswa
dibebani oleh hafalan dialog. Meskipun demikian, perencanaan dan diskusi tetap
diperlukan agar kelompok ini dapat terbentuk dengan baik. Manfaat diskusi
kelompok ialah untuk memberikan gagasan pada para pemain tentang apa yang
harus dilakukan. Siswa disarankan untuk membuat panduan sebelum pentas
dengan mendiskusikan beberapa pertanyaan. Misalnya, suatu kelompok akan
memainkan cerita Sangkuriang, maka pertanyaan-pertanyaannya sebagai berikut.
1 Siapa Sangkuriang itu? Apa yang akan dilakukan Sangkuriang?
2 Apa yang terjadi di awal cerita?
3 Apa yang ingin kita tampilkan di pentas?
4 Apa yang akan dilakukan para jin untuk membantu Sangkuriang?
5 Apa yang akan dilakukan oleh Dayang Sumbi dan tokoh lainnya?
Pertanyaan tersebut di atas hanya dimaksudkan sebagai pedoman, sangat
penting untuk tetap membiarkan kelompok siswa tersebut memutuskan sendiri apa
yang harus dilakukannya. Setelah diskusi awal dapat mencapai sebuah keputusan,
para pemain akan mendapatkan gagasan bagaimana drama tersebut dapat dibuat.
Mereka dapat berdialog dan berakting dengan keyakinan diri. Secara umum,
mereka dapat mengetahui apa dialog yang tepat untuk diucapkan oleh setiap
karakter yang berbeda. Dengan sedikit gagasan sebagai pedoman awal, kelompok
tersebut dapat berakting, pengetahuan mereka tentang kisah Sangkuriang akan
selalu diingat. Setelah mereka menyatu dengan jiwa cerita itu, mereka akan
menambahkan detail yang sebelumnya tidak termasuk dalam bahasan diskusi
32


mereka. Bahkan memungkinkan sekali siswa membuat cerita Sangkuriang versi
mereka.
Setelah mereka tampil di kelas, kelompok lain akan memberikan
masukan. Bukan sebagai kritik bahwa penampilan atau cerita mereka tidak sesuai
dengan cerita sebenarnya, melainkan untuk memperbaiki dan mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan baru yang mungkin dapat diaplikasikan oleh
kelompok lainnya yang belum tampil.

2.2.8 Sumber-Sumber untuk Drama Kreatif
Penampilan drama kreatif di dalam kelas membutuhkan beberapa sumber
sebagai bahan pembelajaran atau sumber inspirasi dalam membuat cerita.
Di antara sumber-sumber itu adalah sebagai berikut.
1. Cerita rakyat/ Legenda
Banyak buku yang di dalamnya bercerita tentang kisah-kisah atau legenda
sesuatu. Beberapa di antaranya berasal dari negara-negara, agama atau kelompok,
dan daerah-daerah atau suku-suku tertentu. Adapula legenda yang dikelompokan
berdasarkan subjek, misalnya perempuan, alam, hewan, dsb.
Kriteria pemilihan legenda atau kisah tertentu untuk digunakan di dalam
kelas untuk drama kreatif di antaranya adalah, pilih yang alur ceritanya sederhana,
karakternya dinamis, dan pesan yang disampaikannya jelas. Selain itu, penting
juga memilih cerita atau legenda yang sudah dikenal oleh siswa. Contohnya,
legenda yang berasal dari dalam negeri seperti Sangkuriang dan Kabayan dari
Jawa Barat, Malin Kundang dan Siti Nurbaya dari Sumatera, dsb. Legenda
33


atau cerita yang berasal dari negara lain contohnya, Si Kerudung Merah,
Cinderela, dan Jack dan Pohon Buncis.
2. Puisi
Puisi dapat menciptakan inspirasi yang unik bagi siswa dalam
pembelajaran drama kreatif, karena puisi dapat dipertunjukan secara cepat atau
setelah dilakukan serangkaian perencanaan terlebih dahulu.
Puisi biasanya ditulis dari sudut pandang orang pertama. Hal ini dapat
mempermudah siswa untuk menempatkan dirinya ke dalam tindakan atau emosi
yang diekspresikan dalam puisi. Siswa dapat memilih puisi yang mereka sukai
untuk dijadikan bahan atau sumber inspirasi dalam drama kreatif. Namun, guru
juga dapat memilihkan puisi yang cocok untuk digunakan.
Puisi-puisi yang terkesan konyol, biasanya justru puisi yang disukai oleh
siswa. Ada beberapa puisi karangan penyair Indonesia yang terkesan lucu, dan ini
cocok untuk dipentaskan. Contohnya, Sajak Orang Gila.
3. Buku, Novel, dan Cerita Pendek
Buku, novel dan cerita pendek atau sumber lainnya dapat digunakan
sebagai sumber inspirasi untuk drama kreatif. Sebagai guru, kita harus pandai
memilih buku yang sesuai untuk siswa. Selain ceritanya menarik, isi pesan dalam
buku, novel, atau cerita pendek harus dijadikan pertimbangan. Namun, tidak ada
patokan yang baku tentang buku, novel, atau cerita pendek mana yang dapat
digunakan. Apabila buku tertentu dapat memberi Anda gagasan yang menarik,
maka buku itu dapat Anda gunakan.
34


Buku, novel dan cerita pendek biasanya berisi alur cerita yang lebih dari
satu alur. Begitu juga dengan latar, ruang dan waktu yang berbeda-beda. Oleh
karena itu, untuk keperluan drama kreatif di kelas, selain cerita yang menarik, hal-
hal yang mungkin mempermudah pementasan juga harus dipertimbangkan dalam
memilih buku, novel atau cerita pendek yang akan dijadikan sumber dalam
pembelajaran drama kreatif.

2.3 Menulis Naskah Drama
2.3.1 Menulis
Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa.
Keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dua
penelitian penggunaan waktu bagi keempat keterampilan berbahasa
menyimpulkan bahwa urutan lama waktu tersebut selalu berurutan (Djago Tarigan
& H. G. Tarigan, 1986: 185). Proses berbahasa dalam kehidupan kita sehari-hari
pun selalu dimulai dengan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Mengapa keterampilan menulis selalu berada di urutan terakhir? Ini bukan
karena keterampilan menulis bukan hal utama, melainkan karena proses alamiah
yang diraih manusia dalam belajar berbahasa. Tetapi, keterampilan menulis ini
menjadi sangat penting karena fungsinya yang sangat besar.
Selanjutnya menurut Tarigan, bahwa keterampilan menulis erat kaitannya
dengan kepemimpinan atau posisi seseorang. Semakin tinggi jabatan dan
kedudukan seseorang semakin tinggi tuntutan keterampilan menulis yang dituntut.
Mahasiswa termasuk golongan yang tinggi dalam pendidikan. Guru dan dosen
35


mempunyai posisi dan kedudukan dalam jenjang pendidikan. Pimpinan jelas
orang yang berpengaruh dan menentukan dalam perusahaan, organisasi dan
sebagainya.
Lantas, jika posisi keterampilan menulis menjadi hal yang penting,
mengapa banyak data dan hasil penelitian yang menunjukan bahwa Indonesia
merupakan negara yang budaya tulisannya rendah. Hal ini ditandai dengan
rendahnya oplah terbitan (buku, koran, majalah, tabloid) yang beredar di
Indonesia. Setiap tahun, di Indonesia hanya terbit sekitar 5.000 judul buku baru
dengan oplah rata-rata 4.000 eksemplar. Ini berarti hanya 20 juta eksemplar buku
baru. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa,
berarti satu buku untuk setiap sepuluh orang. Ternyata, dari 5.000 judul buku itu,
60 persen di antaranya merupakan terjemahan buku asing? Ini berarti bahwa
penulis dari dalam negeri sangat sedikit (Winarno, dalam Tiara Bahasa Vol. I, No.
1, September 2002).
Dalam tulisannya tersebut, dikemukakan lagi fakta yang membuat kita
tercengang. Situasi di atas sungguh sangat kontras dengan di Amerika Serikat.
Setiap tahun di Amerika Serikat diterbitkan 100.000 judul buku baru. Budaya
tulisan yang maju, menunjukan kemajuan bangsa. Budaya tulisan adalah budaya
produktif.
Lantas, menjadi sebuah kewajiban kita sebagai pengajar bahasa untuk
tidak sekedar mengajarkan tentang bahasa, tetapi mengajarkan bagaimana
berbahasa. Maka, menulis pun bukan mengajarkan apa itu menulis tetapi
bagaimana cara menulis.
36


2.3.1.1 Manfaat Menulis
Menulis merupakan satu dari empat ketermpilan berbahasa, yaitu
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Meskipun hasil penelitian-
penelitian menunjukan bahwa urutan lama waktu penguasaan keterampilan
berbahasa menempatkan menulis di posisi terakhir, bukan berarti menulis tidak
penting (Tarigan, 1986: 185). Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang
memiliki banyak manfaat. Di antaranya, menurut Komaidi (2007:12-13) menulis
memiliki setidaknya enam manfaat.
Pertama, ketika kita mulai menulis biasanya menimbulkan rasa ingin tahu
(curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas kehidupan yang ada di
sekitar kita. Begitupun ketika kita ingin menggali ide atau gagasan, kepekaan
dalam melihat realitas kehidupan akan semakin terasah. Hal ini merupakan hal
yang jarang dimiliki oleh orang yang bukan penulis.
Kedua, melalui kegiatan menulis, mendorong kita untuk menambah
referensi bacaan seperti buku, majalah, koran, jurnal, dan sejenisnya. Semakin
banyak kita menulis, semakin banyak kita mencari dan membaca referensi untuk
bahan tulisan sehingga secara tidak langsung kita menambah wawasan dan
pengetahuan terhadap apa yang kita tulis.
Ketiga, dengan kegiatan menulis, kita terlatih untuk menyusun pemikiran
dan argumen kita secara runut, sistematis, dan logis. Keteraturan menyusun
pemikiran tersebut memudahkan kita untuk menyampaikan pendapat atau
pemikiran kita terhadap orang lain. Selain itu, keteraturan menyusun pemikiran
juga berarti membiasakan berpikir serta berbahasa secara tertib.
37


Keempat, dengan menulis secara psikologis akan mengurangi tingkat
ketegangan dan stres kita. Apa yang menjadi uneg-uneg, rasa senang maupun
sedih, kesal ataupun terharu dan lain sebagainya, dapat kita tumpahkan lewat
tulisan. Dengan menulis, kita bisa mencurahkan isi hati tanpa diganggu atau
diketahui orang lain. Dalam tulisan, seorang penulis membuat dunia tersendiri
yang bebas dari intervensi orang lain.
Kelima, menulis juga dapat membantu kita secara ekonomi. Tentu saja
bila tulisan kita dimaksudkan untuk dibaca oleh khalayak umum dan dimuat oleh
media massa atau diterbitkan oleh suatu penerbit, maka kita akan memperoleh
honorarium. Selain itu, bila tulisan kita diterbitkan, kita juga akan mendapatkan
kepuasaan batin karena tulisannya dianggap bermanfaat bagi orang lain.
Keenam, bila tulisan kita dibaca oleh banyak orang (mungkin puluhan,
ratusan, bahkan jutaan) membuat penulis semakin populer dan dikenal oleh publik
pembaca. Popularitas kadang membuat seseorang merasa puas dan dihargai orang
lain.

2.3.1.2 Teknik Pengajaran Menulis
Teknik pengajaran menulis merupakan hal yang dapat dikembangkan dari
waktu ke waktu sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan manusia itu sendiri.
Teknik yang diajarkan di sekolah pun memiliki banyak variasi mulai dari teknik-
teknik tradisional sampai teknik-teknik yang modern.
Beberapa ahli pun mengembangkan teknik menulis untuk meningkatkan
keterampilam menulis siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
38


Teknik-teknik menulis yang telah lama dikenal di lingkungan sekolah di
antaranya, yakni; menyusun kalimat, memperkenalkan karangan, meniru model,
karangan bersama, menyusun kembali, menyelesaikan cerita, menjawab
pertanyaan, meringkas isi bacaan, parafrase, reka cerita gambar, memerikan,
mengembangkan kata kunci, mengembangkan kalimat topik, mengembangkan
judul, mengembangkan peribahasa, menulis surat, dan menyusun dialog (Tarigan,
1981).
Selain teknik-teknik tersebut, kita juga mengenal teknik baru yang dapat
diterapkan di sekolah. Teknik-teknik tersebut dikemukakan oleh beberapa ahli
yang terangkum dalam tulisan Hernowo (2004: 141-191). Uraian teknik-teknik
tersebut sebagai berikut.
a. Menggunakan Peta-Pikiran
Teknik peta-pikiran merupakan salah satu cara terbaik untuk menghasilkan
dan menata gagasan sebelum mulai menulis. Pemetaan-pikiran memungkinkan
menulis dapat mengalir dari penulisnya. Teknik ini kemudian dikembangkan oleh
Gabriele Lusser Rico, dosen Seni Kreatif Bahasa Inggris di Universitas Negeri
San Jose, metodenya ialah metode pencatatam nonlinier dan dinamai metode
clustering (pengelompokan).
Melalui metode clustering akan muncul sejumlah alternatif dari bagian
pikiran kita yang dalam alternatif tersebut, pengalaman hidup melebur menjadi
satu. Saat kita mulai memetakan-pikiran dan membiarkan gagasan mengalir, maka
saat inilah kita dapat bebas menuangkan apa yang dirasakan, baik pengalaman
maupun sesuatu yang kita harapkan terjadi. Perasaan kita kemudian secara
39


spontan akan menemukan ide atau gagasan inti terhadap apa yang sebenarnya
ingin kita tulis atau kita ungkapkan (Hernowo, 2004: 142).
Menulis dengan teknik ini akan membuat kita terhubung dengan alam
bawah sadar kita. Pada akhirnya tulisan kita akan lebih berbobot, memiliki emosi,
lebih berwarna, lebih berirama, dan yang terpenting tulisan kita akan menunjukan
identitas kita.
Teknik ini dapat diterapkan dengan mudah. Mulailah di manapun kita
inginkan. Langkah-langkah yang dapat kita tempuh di antaranya, buatlah gambar
besar di atas kertas dan isikan catatan, gagasan, dan simbol Anda, selanjutnya
catat dua ide, masing-masing di separuh kertas, lalu bandingkan atau
pertentangkan, setelah itu buatlah peta yang mirip jalan sebenarnya. Anda pun
dapat menggunakan apa saja untuk membuat peta-pikiran Anda, bisa saja Anda
memotong gambar dari majalah atau foto untuk peta tentang diri Anda.
Mengembangkan keterampilan memetakan-pikiran, perlu dilakukan
dengan cara berlatih. Salah satunya dengan berlatih mencatat visual langsung pada
waktunya, dengarkan rekaman presentasi. Buatlah setting yang nyaman, petakan
di atas kertas folio. Kaset rekaman merupakan sarana latihan yang sangat bagus
karena Anda bisa memberhentikan sementara dan memutar ulang, memberi waktu
bagi anda untuk berlatih. Dan cara terbaik untuk mempertahankan kemampuan
ini selain dengan berlatih juga dengan cara mengajarkan kepada orang lain. Ini
berguna untuk menguatkan pembelajaran peta-pikiran tersebut (Hernowo, 2004:
157).
40


Berikut ini adalah contoh peta-pikiran. Anda dapat mengembangkan
metode ini untuk berbagai keperluan Anda.

(Wycoff, 2003, 159)
Gambar 2.1
Peta-Pikiran







`
41


b. Menggunakan Iringan Musik
Menulis dengan menggunakan bantuan iringan musik merupakan salah
satu teknik menulis yang dapat mengembangkan kemampuan dua bagian otak
secara bersamaan. Pada saat Anda menulis, Anda sedang menggunakan belahan
otak bagian kiri, dan pada saat Anda mendengarkan musik, Anda sedang
menggunakan belahan otak bagian kanan (Pasiak, 2003: 123).
Pikiran yang sangat dalam dan gagasan yang istimewa sering muncul pada
saat Anda menulis karangan dengan iringan musik. Musik mampu mengalirkan
energi kreatif yang membuat pendengarnya terkejut sekaligus gembira. Beberapa
guru melakukan pengamatan bahwa musik tidak hanya membuat siswa lebih giat,
karangan yang dibuat siswa pun lebih kreatif dan bermakna. Menggunakan musik
di dalam kelas pun dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Guru yang
mengajar di sekolah khusus mengamati bahwa berkat bantuan musik, anak-anak
yang biasanya tidak mampu menyusun sebuah kalimat lengkap, sekarang mampu
melakukannya (Hernowo 169).
Keterampilan menuangkan gagasan dalam kebahasaan dapat dilatih
dengan menggunakan iringan musik. Oleh karena itu, cara untuk melatih
kemampuan berimajinasi dapat dilakukan dengan tahap-tahap berikut. Pertama,
cari tempat yang tenang untuk duduk atau berbaring, selanjutnya sebelum musik
diputar, yakinkan diri bahwa Anda akan mengamati setiap citra dan keterikatan
yang muncul, amati setiap perasaan yang muncul bersama dengan pencitraan
tersebut, bayangkan Anda berada di alam terbuka di sebuah tempat yang Anda
sukai, putar Introduction and Allegro dari Ravel atau Prelude to the Afternoon of
42


Faun. Biarkan musik membawa Anda pergi, catat di dalam buku harian Anda,
citra, keterkaitan, dan emosi yang muncul, tulis secepat mungkin, jangan berpikir
(Hernowo, 2004: 168).

c. Menggunakan Gaya Quantum Learning
Teknik mengajar menulis yang diterapkan di sekolah, biasanya merupakan
teknik mengajar formal yang membuat menulis menjadi proses belahan otak
kanan semata. Siswa menjadi terbelenggu dengan adanya perencanaan dan
outline, tata bahasa dan tanda baca, struktur dan penyuntingan. Teknik-teknik
mengajar tradisional mengabaikan hal penting bahwa menulis merupakan
aktivitas seluruh otak (Hernowo, 2004: 178). Sehingga banyak siswa yang merasa
kesulitan ketika mendapat tugas menulis.
Pikiran kita adalah tempat penyimpanan ide-ide, gagasan, yang harus kita
keluarkan atau dituangkan. Kita dapat mengekspresikannya melalui menulis. Ada
dua cara untuk menulis dengan metode ini. Pertama, pengelompokan dan
menulis cepat. Setelah kedua cara ini dilakukan barulah memperbagus tulisan
kita.
d. Menggunakan Gaya Accelerated Learning
Menulis dengan menggunakan gaya ini berupaya agar dalam menulis, kita
berkonsentrasi terhadap apa, lalu bagaimana dan isi lebih penting daripada
gaya.
Ketika proses menulis, sangat dianjurkan untuk menulis dengan bebas,
tanpa melakukan kegiatan mengedit secara bersamaan. Pada dasarnya, teknik ini
43


pun hampir sama dengan teknik-teknik sebelumnya. Dengan gaya ini kita bisa
menulis dengan bebas, lalu membiarkannya mengendap dulu beberapa waktu atau
mungkin hari. Hal ini bertujuan agar ketika kita melakukan langkah mengedit, kita
lebih objektif menilai tulisan sendiri.
Sekaranglah saat yang tepat untuk memperbaiki tulisan dan membuat gaya
tersendiri. Dapat memberi kesan yang diinginkan kita. Beberapa hal yang dapat
kita perhatikan bahwa tulisan kita harus diarahkan siapa pembacanya, setelah
kita tahu kalangan mana pembacanya, pikat mereka, beri alasan agar mereka
tertarik, berbicaralah dalam bahasa aktif, hal yang harus diperhatikan juga adalah,
jangan berpanjang-panjang, buatlah tampilannya memikat, dan terakhir, buatlah
ledakan di akhir tulisan.

2.3.1.3 Proses Kreatif Menulis
Banyak para penulis dan pengarang yang telah menekuni bidang tulis-
menulis mengungkapkan bahwa kegiatan menulis merupakan suatu hal yang
mudah. Namun, siswa banyak yang mengeluh mengarang merupakan hal yang
sulit. Lalu, bagaimana pandangan para penulis tersebut. Salah satu penulis
mengungkapkan bahwa menulis itu sesuatu yang mudah. Mudah yang dimaksud
tentunya memiliki bukti yang kuat. Ia mengungkapkan menulis itu mudah karena
ketika kita menulis surat saja itu sudah termasuk contoh kegiatan menulis (Asura,
2005: 1)
Beberapa penulis lain pun berpendapat sama, contohnya Asma Nadia
(2003: 12) yang dikenal sebagai penulis cerita remaja dengan tema-tema yang
44


funky en syari mengungkapkan bahwa menulis itu merupakan pekerjaan yang
mudah. Terutama menulis cerita remaja, tidak perlu rumit-rumit, ide ada di sekitar
kita, kita hanya perlu menggalinya dari narasumber, misalnya melalui berbagi
cerita antar teman.
Biasanya kita berpikir bahwa menulis itu pekerjaan yang sulit. Pada
dasarnya, menulis itu merupakan hal yang sangat mudah. mudah atau tidaknya
tergantung oleh pikiran kita. Kita mengenal hukum gravitasi yaitu hukum tarik-
menarik. Kita bagaikan pemancar radio yang menarik chanel-chanel yang kita
inginkan. Kaitannya dalam menulis, kita akan membuat menulis itu sulit atau
mudah kitalah yang menentukan. Bila kita berpikir dan merasakan benar bahwa
menulis itu kegiatan yang mudah maka itu akan menjadi mudah (Byrne, 2007:
12).
Lebih luar biasanya, proses kreatif ini memiliki strategi-strategi yang
mudah diterapkan oleh siswa. E. Ayan (2002: 33) dalam bukunya Bengkel
Kreativitas. Kesepuluh strategi ini dapat diterapkan dalam segala bidang
kehidupan, yakni; menyatu dengan masyarakat luas, merancang suatu lingkungan
dengan nilai tambah, keluar dari dunia sempit Anda, menjadi pengembara,
menyulut inspirasi dengan permainan dan humor, mengembangkan daya pikir
dengan membaca, menggemari seni, menggeluti teknologi, menghadapi
tantangan dengan teknik berpikir ampuh, membebaskan kesadaran diri yang lain,
dan menyatu dengan jiwa kreatif.


45


2.3.2 Drama
2.3.2.1 Pengertian Drama
Drama merupakan suatu karya yang memiliki dua dimensi karakter, yaitu
sebagai genre sastra dan sebagai seni lakon, seni peran, atau seni pertunjukan
(Hasanuddin WS, 1996:1). Oleh karena dua dimensi tersebut, mengartikan drama
tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja. Pengertian drama yang biasa kita
kenal bahwa drama adalah cerita atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan
tidaklah salah. Karena pengertian di atas mengacu pada pengertian drama pada
awalnya. Kata drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat,
berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Drama berarti perbuatan, tindakan
(Harymawan, 1988: 1)
Beberapa ahli mengungkapkan pengertian drama sebagai berikut. Pertama
menurut Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen, dalam Hassanuddin (1996:
2) drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus
melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Harymawan (1998:1)
mengungkapkan bahwa drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala
apa yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan
(exciting), dan ketegangan pada pendengar/penonton.
Menurut Moulton dalam Hasanuddin (1996: 2), drama adalah Hidup yang
dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Jika buku roman
menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia
diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri. Sedangkan Reaske dan
Asmara (Wordpress.com, 2008: 1) mengartikan drama dengan lebih bijak. Bahwa
46


pada umumnya drama memang didesain untuk dipertunjukan, maka naskah/ teks
drama perlu dipelajari. Sebagai bentuk kesusastraan, tidak ada alasan bagi kita,
baik praktisi, peneliti, ataupun penikmat drama pada umumnya, untuk tidak
mempelajari naskah drama sepanjang kita tidak melupakan bahwa tulisan itu
untuk dipentaskan. Karena proses selanjutnya, dari bentuk tulisan, drama dapat
dipertunjukan, maka lahir kritik drama yang mencoba menganalisis drama sebagai
kerja-kerja seni sebaik pertunjukan-pertunjukan (Reaske dan Asmara dalam
Wordpress.com, 2008: 1).
Baik pengertian yang diungkapkan Ferdinan Brunetiere dan Balthazar
Verhagen, Harymawan, maupun Moulton masih memandang drama dari dimensi
drama sebagai suatu seni pementasan. Drama sebenarnya adalah karya yang
mempunyai dua dimensi, maka pementasan harus dianggap sebagai penafsiran
lain dari penafsiran yang telah ada yang dapat ditarik dari suatu karya sastra
(Hasanuddin, 1996: 3). Oleh karena, itu pengertian drama sebagai karya dua
dimensi dapat disimpulkan bahwa drama adalah genre sastra yang ditulis dalam
bentuk dialog-dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni
pertunjukan.

2.3.2.2 Perkembangan Seni Drama
Seni drama sebenarnya berawal dari upacara keagamaan. Hal ini
ditemukan pada dinding piramida Mesir, 3500 SM. Di situ terlukis, seorang
pendeta berdiri di antara para jemaah. Wajahnya bertopeng. Sementara itu,
tubuhnya berayun seperti tengah menceritakan sesuatu. Rupanya pendeta Mesir
47


Kuno itu sedang melukiskan keagungan Sang Pencipta langit dan bumi. Ia
memanfaatkan seni peran dalam menyampaikan ajarannya.
Pertunjukan drama yang lengkap pertama kali ditemukan di Yunani, tahun
534 SM. Sedangkan di Romawi, cerita yang populer adalah cerita-cerita komedi.
Mereka biasa mementaskannya di hari-hari libur atau hari besar. Aktor Prancis
Pierre de Beaumarchais pada tahun 1776 menulis Le Mariage de Figaro
(Perkawinan Figaro). Drama komedi ini penuh dengan kritik-kritik tajam:
mengulas bagaimana kekejaman para bangsawan terhadap rakyatnya. Banyak
drama lainnya yang ditentang Raja Louis XVI dan kemudian menjadi picu
penggerak Revolusi Prancis (1789-1799).
Drama-drama sosial kemudian mulai tumbuh di abad 19. Seni drama tak
lagi milik para bangsawan atau golongan menengah atas, melainkan milik rakyat
kecil. Cerita yang diceritakan pun mengacu pada nasib si miskin. Di dalam negeri
seni drama menjadi wadah mengungkapkan kritik pada penguasa. Tak hanya grup
drama tradisional dan profesional, namun juga di kampus-kampus.
Seni drama tradisional, khususnya, berkembang hampir di seluruh pelosok
daerah dengan beragam variasi dan bentuk. Namanya pun berbeda-beda menurut
daerah asal dari seni itu lahir. Di antaranya, wayang dan ketoprak dari Jawa
Tengah, Lenong dari Jakarta, Randai dari Sumatera Barat, dan lain-lain.




48


2.3.2.3 Unsur-unsur Pembangun Drama
Bachmid dalam Mulyana (1997: 147) mengutip pendapat Patrice Papiv
bahwa drama memiliki konvensi dan kaidah umum yang dapat dikelompokkan ke
dalam dua kelompok besar. Yaitu, pertama kaidah bentuk dan konvensi stilistika
atau bahasa dramatik. Kaidah bentuk berkaitan dengan alur, dan pengaluran,
tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, dan perlengkapan. Konvensi stilisika
atau bahasa dramatik, dapat diartikan berkaitan dengan aturan penulisan,
keindahan bahasa, dsb. Sederhananya drama meliputi unsur-unsur sebagai berikut.

2.3.2.3.1 Alur dan Pengaluran
Pada umumnya, orang akan mengatakan plot adalah jalan cerita. Bila
merujuk pada pengertian yang dikemukakan Forster (Nurgiyantoro, 2002: 113)
bahwa plot adalah peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada
adanya hubungan kausalitas (hubungan sebab akibat). Stanton (Nurgiyantoro,
2002: 113) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian,
namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang
satu menyebabkan peristiwa yang lain. Kenny mengemukakan plot sebagai
peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana,
karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab
akibat (Nurgiyantoro, 2002: 113).
Peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat itu lalu dirancang oleh
pengarang sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah unsur yang indah dan
menarik, khususnya dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara
49


keseluruhan. Kegiatan ini, bila dilihat dari sisi pengarang merupakan kegiatan
pengembangan plot atau dapat juga disebut sebagai pemplotan, atau pengaluran.
Jadi kegiatan pemplotan itu sendiri meliputi kegiatan memilih peristiwa yang akan
diceritakan.
Kaidah umum dalam alur dan pengaluran adalah pola dasar cerita, konflik,
gerak alur, dan penyajiannya. Pola dasar cerita pada umumnya menuntut adanya
konflik yang berawal, berkembang, dan kemudian terselesaikan. Konflik biasanya
muncul ketika terjadi tarik-menarik antara kepentingan atau tujuan-tujuan yang
berbeda antar tokoh. Dalam konflik ini memungkinkan terjadinya perkembangan
pada tokoh-tokoh dalam suatu gerak alur yang dinamis. Oleh karena itu, gerak
alur terbentuk dari tiga bagian utama, yaitu situasi awal atau disebut juga
pemaparan, konflik, serta penyelesaiannya (Mulyana, 1997: 147).
Bila pola dasar pada prosa fiksi berupa satu alur atau lebih yang
menunjukan perubahan tempat atau situasi hanya digambarkan, maka dalam
drama berbeda. Penyajian pola dasar tersebut dilakukan dengan membaginya ke
dalam bagian-bagian yang disebut adegan dan babak. Kekhasan drama akan
tampak dari penyajian cerita dalam susunan babak dan adegan. Disinilah peran
sutradara sangat dikedepankan. Seorang sutradara yang memiliki kreativitas yang
tinggi akan menjaga kepaduan serta keterjalinan bagian-bagian alur maupun
keterjalinan semua unsur bentuk atau disebut juga dengan koherensi cerita
(Mulyana, 1997: 147-148).
Harymawan (1988: 28) mengungkapkan juga mengenai alur bahwa dalam
unsur alur drama pun memiliki kesamaan dengan karya sastra lainnya. Cerita
50


harus begerak dari suatu permulaan, melalui suatu bagian tengah, menuju suatu
akhir. Dalam drama, bagian-bagian ini dikenal sebagai eksposisi, komplikasi, dan
resolusi (denouement).
Eksposisi sesuatu cerita menentukan aksi dalam waktu dan tempat;
memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi sesuatu cerita, mengajukan
konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita tersebut, dan
adakalanya membayangkan resolusi yang akan dibuat dalam cerita itu.
Komplikasi atau bagian tengah cerita, mengembangkan konflik. Sang
pahlawan atau pelaku utama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan
tujuannya, dia mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk
menanggulangi rintangan-rintangan ini. Pengarang dapat menggunakan teknik
flash-back atau sorot balik untuk memperkenalkan penonton dengan masa lalu
sang pahlawan, menjelaskan suatu situasi, atau untuk memberikan motivasi bagi
aksi-aksinya.
Resolusi atau denouement hendaklah muncul secara logis dari apa-apa
yang telah mendahuluinya di dalam komplikasi. Titik batas yang memisahkan
komplikasi dan resolusi, biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks
itulah terjadi perubahan penting mengenai nasib sang tokoh. Kepuasan para
penonton terhadap suatu cerita tergantung pada sesuai-tidaknya perubahan itu
dengan yang mereka harapkan.



51


2.3.2.3.2 Tokoh dan Penokohan
Unsur drama selanjutnya ialah tokoh dan penokohan. Sebelum
membicarakan penokohan, kita akan membahas terlebih dahulu pengertian tokoh.
Istilah tokoh memiliki pengertian pada orangnya, pelaku cerita. Misalnya
sebagai jawaban terhadap pertanyaan: siapakah tokoh utama drama itu? atau
ada berapa orang jumlah tokoh drama itu?dan sebagainya (Nurgiyantoro, 2002:
165). Sedangkan istilah watak, perwatakan dan karakter, menunjuk pada sifat dan
sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan pembaca, lebih menunjuk pada kualitas
pribadi seorang tokoh. Penokohan sering disamakan artinya dengan perwatakan.
Oleh karena itu, dengan kata lain penokohan menunjuk pada penempatan tokoh-
tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam cerita atau seperti yang
dikatakan Jones (Nurgiyantoro, 2002: 165) bahwa penokohan adalah pelukisan
gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Harymawan (1988: 25-26) mengemukakan bahwa tokoh dalam drama
harus memiliki sifat tiga dimensional, yaitu yang memiliki dimensi fisiologis,
sosiologis, dan psikologis.
Dimensi fisiologis terdiri atas usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-
ciri muka. Dimensi sosiologis terdiri atas status sosial, pekerjaan (jabatan dan
peranan dalam masyarakat), pandangan hidup (kepercayaan, agama, dan
ideologi), aktivitas sosial/ organisasi, hobi dan kegemaran, bangsa (suku dan
keturunan). Dimensi psikologis meliputi mentalitas dan moralitas, tempramen dan
intelegensi (tingkat kecerdasan, kecakapan, dan keahlian khusus dalam bidang-
bidang tertentu).
52


Harymawan (1988: 27) mengklasifikasikan tokoh-tokoh dalam drama
sebagai berikut.
Tokoh gagal atau tokoh badut (the foil). Tokoh ini dalam drama memiliki
karakter sebagai orang yang gagal. Selain itu tokoh ini biasanya orang yang dapat
menimbulkan gelak tawa penonton.
Tokoh idaman (the type character). Tokoh ini biasanya memiliki karakter
yang disukai oleh penonton. Istilah lainnya adalah tokoh protagonis. Tokoh ini
dalam cerita merupakan tokoh yang memiliki tujuan. Dan tujuannya inilah yang
menjadi hal penting dalam cerita.
Tokoh statis (the static character), tokoh statis biasanya memiliki karakter
yang sama sejak awal muncul sampai selesainya sebuah pementasan drama. Bila
dari awal berkarakter baik, sampai akhirnya tetap baik. Begitupun sebaliknya bila
ia berkarakter tidak baik atau tidak disukai penonton (antagonis) maka sampai
pertunjukan usai pun masih sama.
Tokoh yang berkembang, adakalanya karakter setiap manusia berbeda-
beda dan mudah berubah, oleh karena itu ada juga karakter tokoh yang dari awal
cerita sampai akhir mengalami perubahan di dalamnya. Bisa saja tokoh antagonis
berubah menjai protagonis atau sebaliknya.
Reaske (Wordpress.com, 2008: 1) membagi karakter menjadi dua, yaitu
karakter mayor dan karakter minor. Penentuan ini didapat dari persentase
kemunculan aktor drama dalam cerita. Pada umumnya, karakter mayor atau
dengan kata lain karakter utama terdiri dari dua orang tokoh, yaitu seorang laki-
laki dan seorang perempuan. Namun, adakalanya karakter mayor juga terdiri dari
53


tiga orang. Biasanya hal itu terjadi, bila di dalam cerita tersebut terdapat
kebingungan dari seorang tokoh mayor dalam menentukan dua tokoh lainnya.
Misal, bila cerita drama tersebut tentang cinta segitiga.
Kemodle (Wordpress.com, 2008: 1) mengemukakan bahwa adanya
karakter tokoh, menjadi alasan suatu peristiwa terjadi. Dengan kata lain, karakter
mampu menggerakkan peristiwa. Karakter tersebut melakukan tindakan
berdasarkan motivasi yang ada dalam dirinya. Dari motivasi tersebut, dapat
diketahui dimensi psikologis karakter. Reaske dan Asmara dalam Wordpress.com
(2008: 1) memberi contoh tujuh motivasi yang sering ditemui dalam kehidupan
nyata. Pertama, motivasi perhitungan. Motivasi ini memandang semua hal yang
dilakukkan bertujuan untuk mendapatkan imbalan. Kedua, motivasi penuh cinta,
yaitu motivasi yang memandang segala hal yang dilakukannya demi cinta, baik
cinta yang dimilikinya, cinta yang diidamkannya, ataupun cinta yang dimiliki
seseorang untuknya. Ketiga, motivasi takut gagal, yaitu motivasi yang
memandang sesuatu yang dikerjakan berdasarkan perhitungan untuk menghindari
kegagalan. Keempat, motivasi beragama, yaitu motivasi yang memandang sesuatu
yang dikerjakannya berdasar atas nama Tuhan. Kelima, motivasi pendendam,
yaitu motivasi yang memandang segala sesuatu yang dikerjakan berdasar atas rasa
dendam. Keenam, motivasi bangga, yaitu motivasi yang memandang sesuatu yang
dilakukkan sebagai sesuatu yang luar biasa yang bisa membuatnya merasa
bangga. Ketujuh, motivasi cemburu adalah jenis motivasi yang dikerjakannya
berdasarkan kecemburuan atau iri terhadap orang lain.

54


2.3.2.3.3 Dialog
Dialog erat kaitannya dengan bahasa. Keberadaan bahasa dihadirkan lewat
pembicaraan-pembicaraan para tokohnya. Oleh karena itu dialog merupakan
bagian tekstur terpenting dalam drama. Tekstur drama dibangun oleh dialog.
Tekstur drama tercipta karena adanya suara dan imaji bahasa dalam dialog.
Kernodle (Wordpress.com, 2008: 1).
Dalam drama, percakapan atau dialog haruslah memenuhi dua tuntutan.
Pertama, dialog harus turut menunjang gerak laku tokohnya. Dialog haruslah
dipergunakan untuk mencerminkan apa yang telah terjadi sebelum cerita itu, apa
yang sedang terjadi di luar panggung selama cerita itu berlangsung; dan harus
pula dapat mengungkapkan pikiran-pikiran serta perasaan-perasaan para tokoh
yang turut berperan di atas pentas. Karena dialog dalam drama merupakan sumber
utama untuk menggali segala informasi tekstual Dewojati (Wordpress.com, 2008:
1).
Kedua, dialog yang diucapkan di atas pentas lebih tajam dan tertib
daripada ujaran sehari-hari. Tidak ada kata yang harus terbuang begitu saja; para
tokoh harus berbicara jelas dan tepat sasaran. Dialog itu disampaikan secara wajar
dan alamiah.

2.3.2.3.4 Diksi
Diksi atau pemilihan kata atau kebahasaan. Kata-kata yang digunakan
dalam penulisan naskah drama harus dipilih sedemikian rupa agar mampu
mengungkapkan gagasan pengarang dan mudah diterima oleh pembaca,
55


pendengar, atau penonton. Kata-kata yang dipilih harus tepat, sesuai dengan tema,
latar, atau seting dari drama yang ditulis. Pada umumnya semua penulis drama
menggunakan bahasa kiasan. Para penulis drama ini biasanya mengemuakan ide-
idenya dengan menggunakan analogi yang dihadirkan dengan cara berbeda.
Dengan kata lain, penulis drama biasanya menuliskan idenya dengan cara tersirat
Reaske dan Asmara (Wordpress.com, 2008: 1).
Pilihan kata (Diksi) yang tersirat, maknanya adalah pemilihan bahasa yang
secara tidak langsung atau mengandung kiasan-kiasan. Ketidaklangsungan
menurut Reaske (Wordpress.com, 2008: 1) ada 13 jenis ketidaklangsungan
bahasa, yaitu simile, metafora, allegori, alliterasi, anthitesis, cocophoni, epithet,
eufimisme, euphoni, imaji, paradoks, periphasis, dan personifikasi. Menurut
Reaske, dari ke-13 ketidaklangsungan bahasa itu, simile dan metafora merupakan
bagian yang paling penting, karena kedua gaya bahasa tersebut mampu
menciptakan dialog menjadi lebih hidup dan dramatis. Simile adalah semacam
analogi yang membandingkan kesamaan antara satu dengan yang lainnya
sehingga menarik untuk diteliti (Reaske, 1966: 59 dan Asmara, 1983: 84). Contoh
Simile, di antaranya, matahari seperti lampu panas di langit. Metafora adalah
menyamakan sesuatu benda dengan benda yang lain. Contoh metafora, matahari
adalah lampu panas di langit.
Mulyana (1997: 149) menambahkan bahwa dialog yang ditulis juga harus
tunduk pada konvensi stilistika. Misalnya, para tokoh melakukan dialog dengan
menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan lingkungan sosial serta watak
mereka.
56


2.3.2.3.5 Tema
Tema, merupakan gagasan pokok yang disampaikan oleh pengarang
kepada pembaca, pendengar atau penonton. Sebuah drama baik hanya sekedar
dibaca oleh pembacanya maupun untuk dipentaskan harus memiliki tema atau
sesuatu yang ingin disampaikan. Drama merupakan karya yang didalamnya
terdapat banyak pesan sosial. Sebuah pementasan adalah suatu upaya komunikasi.
Artinya, seniman mengolah realitas sehari-hari sebagai medium dalam rangka
menyampaikan pesan yang berupa nili-nilai. Penyajian realitas tanpa pesan
bukanlah teater atau drama (Saini, 1996: 9).
Harymawan (1984:26) dan Seomanto dalam Wordpress.com (2008: 1)
menyebut tema adalah premis. Premis adalah rumusan intisari cerita sebagai
landasan idiil dalam menentukan arah tujuan cerita. Dalam kamus bahasa
Indonesia, premis diartikan sebagai ide pemikiran cerita. Untuk menemukan
makna lengkap dalam drama, tema sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai
drama yang lain.
Menurut Kernodle (Wordpress.com, 2008: 1) tema dapat ditemukan
melalui banyak cara. Misalnya, dalam dialog dan diperjelas dalam pertunjukan.
Setiap adegan memiliki kesatuan yang erat dan saling berhubungan untuk
melengkapi dan menyempurnakan tema. Adakalanya dalam dialog para pemain
drama, terutama karakter utama akan mudah diungkapkan tema. Dialog-
dialognya memberikan penjelasan-penjelasan yang mungkin saja merupakan
tema. Namun, penikmat drama juga harus berhati-hati untuk tidak menganggap
pernyataan karakter tertentu sebagai tema. Pernyataan tersebut bisa saja
57


kesimpulan sementara atau bahkan menunjukan suatu perbedaan yang ironis
dengan peristiwa yang terjadi.
Drama abad pertengahan rupanya lebih tersurat dalam menyampaikan
tema. Biasanya tema di abad pertengahan disampaikan melalui epilog. Sedangkan
dalam drama modern, biasanya tema dapat disampaikan juga oleh seorang
karakter eksternal yang berbicara.

2.3.2.3.6 Latar, Ruang dan Waktu
Mulyana (1998: 146) mengemukakan bahwa prinsip yang melandasi
perumusan kaidah-kaidah bentuk drama adalah prinsip mimesis (peniruan) yang
menghendaki realisme dalam drama. Selain itu, keterbatasan pementasan
mengharuskan adanya kepadatan semua unsur bentuk. Realitas dunia yang ditiru
hendaklah terlihat nyata.
Seperti halnya alur dan tokoh, unsur ruang dan waktu pun mengikuti
konvensi umum yang didasari pada peniruan realitas kehidupan. Ruang dapat
ditulis pengarang dengan petunjuk pemanggungan (istilahnya ialah kramagung,
waramimbar, atau teks samping) dan dialog, cakapan, atau wawancang (Mulyana ,
1997: 149).
Konvensi waktu juga harus tunduk pada prinsip kepaduan dan kejelasan.
Dalam drama, waktu lakukan atau saat tokoh-tokoh bertindak adalah kini, waktu
cerita atau waktu yang digunakan oleh para tokoh dalam dialog dapat berupa
waktu lampau maupun yang akan datang.
58


Walaupun sebuah latar dan ruang dalam drama harus mengikuti kaidah
peniruan atau mimesis, pada kenyataannya tidak semua realitas kehidupan nyata
dapat digambarkan dengan jelas dalam sebuah drama. Terutama ketika
dipentaskan.
Saini (1996: 7) mengungkapkan bahwa drama merupakan realitas ambang.
Disebut ambang, karena ia memiliki dua ruang. Pertama ruang realitas, yaitu
ruang yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Misalnya, dalam sebuah
pementasan kita melihat para pemain, aneka benda, perbuatan, warna-warni,
cahaya dan lain sebagainya. Kadangkala musik atau cahaya bahkan dialog pemain
terdengar wajar seperti realitas kehidupan namun, kadang tak wajar.
Realitas pancaindera itu tersaji di pentas agar kita dapat melihat realitas
lain, yaitu realitas nilai. Nilai yang dimaksud adalah sikap, gagasan, perasaan,
pesan, pandangan hidup, dan suasana hati seniman khususnya penulis naskah atau
sutradara.
Sutradara memiliki peran penting untuk dapat mewujudkan realitas yang
ditangkap pancaindera tetap memiliki nilai. Atau dengan kata lain, realitas
pancaindera harus dapat mengungkapkan realitas nilai.

2.3.2.3.7 Unsur Penunjang
Selain dari unsur-unsur yang telah diperbincangkan di atas masih terdapat
sejumlah sarana kesastraan serta kedramaan lainnya yang turut menunjang
kesuksesan suatu pementasan drama. Perlengkapan seperti kostum, tata lampu,
59


musik dan nyanyian merupakan pendukung yang mempermudah penyampaian
gagasan kepada penonton.
Perlengkapan seperti kostum, tata lampu, musik dan nyanyian merupakan
unsur penunjang. Soemanto (Wordpress.com, 2008: 1) menyebutkan bahwa
unsur-unsur penunjang tersebut dengan kata lain adalah spectacle. Spectacle
merupakan aspek-aspek sebuah lakon, terutama action fisik karakter-karakter. Di
dalam spectacle terdapat pembabakan, kostum, tata rias, perlampuan dan
perlengkapan. Sutradara harus mampu memvisualisasikan naskah drama ke dalam
bentuk visual pertunjukan.
Bagian drama yang menunjang drama menurut Aristoteles adalah musik
dengan suasana. Karena pada drama modern sedikit menggunakan instrument atau
melodi. Contohnya, dalam naskah drama berjudul Tangis yang ditulis oleh P.
Hariyanto, tidak dituliskan keterangan saat musik dimainkan. Tetapi sifat yang
ada dalam musik, misalnya ritme, tidak dapat dipisahkan di dalam suasana.
Kernodle dalam Wordpress.com mengatakan bahwa suasana tergantung
pada banyak unsur yang dikomunikasikan langsung kepada penikmat drama.
Suasana dapat dirasakan melalui dialog dan spectacle. Suasana terutama
dikomunikasikan secara langsung kepada penikmat drama melalui ritme, gerak
aktor, dialog aktor, dan perubahan-perubahan intensitas pencahayaan. Dengan
demikian unsur penunjang dapat mempermudah penyampaian gagasan kepada
penonton. Penikmat drama pun dapat menikmati drama dengan lengkap.


60


2.3.2.4 Pementasan Drama
Pada dasarnya untuk mementaskan sebuah pementasan drama tidak ada
aturan yang mengikat. Namun, pada umumnya ada langkah-langkah tertentu yang
biasa dilakukan. Harymawan (1988) memberikan langkah-langkah pementasan
drama pada umumnya sebagai berikut.
Menyusun naskah, tahap ini naskah dapat dibuat sendiri oleh penulis
drama ataupun bisa menyiapkan naskah drama yang sudah ada.
Bila naskah dibuat sendiri, maka sebaiknya benar-benar ditulis secara
lengkap dan rinci tentang petunjuk penyutradaraan karena demikian dapat
membantu untuk membayangkan kemungkinan pementasannya.
Langkah berikutnya, lakukan pembedahan secara bersama-sama terhadap
isi naskah yang akan dipentaskan. Sebaiknya setelah langkah ini, baik sutradara
maupun tim yang lainnya melakukan Reading, yaitu membaca naskah dengan
penuh ketelitian sehingga menemukan detail-detail yang diperlukan.
Bila sudah membaca naskah dan melakukan pembedahan, langkah
selanjutnya yang dapat dilakukan adalah Casting, yaitu menetapkan para pemain
drama. Sutradara setidaknya menetapkan para pemain dengan menggunakan lima
macam teknik, pertama casting by ability, yaitu menentukan pemain berdasarkan
kecakapan, yang terbaik dipilih untuk memegang peran tokoh utama atau tokoh
penting dan dianggap sukar; kedua casting by type, yaitu menentukan pemain
berdasarkan kecocokan fisik pemain dengan peran tokoh yang harus diembannya.
Misalnya memilih tokoh tukang pukul tentu sebaiknya dijatuhkan kepada
pemain yang mempunyai fisik tegap dan kekar; dan seterusnya; antytype casting,
61


yaitu penentuan pemain dengan mempergunakan teknik kontroversi, yaitu peran
tokoh yang akan ditugaskan kepada pemain bertolak belakang dengan keadaan
fisik, maupun watak tokoh sehari-hari. Teknik ini sangat berguna jika drama yang
dipentaskan bersifat parodi; casting to emotional temperament, menentukan
pemain berdasarkan kecocokan watak dan kepribadian pemain dengan tokoh
peran yang akan diperankannya. Hal ini dapat dilakukan berdasarkan hasil
pengamatan hidup pribadi pemain; therapeutic casting, pemilihan peran dengan
menempatkan pemain pada peran yang dianggap dapat ikut membantu kejiwaan
(psikologis) pemain pada perkembangan yang lebih baik.
Bila para pemain telah ditentukan, maka langkah selanjutnya para pemain
mendalami peran yang akan dimainkan. Pada tahap ini, para pemain hendaknya
melakukan beberapa latihan dasar seperti, kesadaran indera, improvisasi,
pernapasan, suara dan cakapan, tubuh dan gerakan.
Tahapan berikutnya adalah sutradara harus mampu mewujudkan naskah
dalam gerak atau istilahnya adalah Blocking. Peran sutradara di sini adalah
mengatur blocking para pemain sehingga sampai pada blocking yang tepat.
Bila tahap tersebut telah dilakukan, maka seluruh kru drama dapat
memulai latihan drama secara kontinu, tahap ini istilahnya Running. Proses
berlatih dan mempersiapkan segala sesuatunya ini membutuhkan waktu sampai
mendekati hari pementasan akan dipentaskan. Setelah semua kru merasa siap, ada
baiknya melakukan gladiresik terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar ketika
pementasan berlangsung sesuai dengan rencana dan meminimalisir hal-hal yang
belum dipersiapkan. Tahap terakhir adalah pementasan itu sendiri. Tahap ini
62


adalah tahap puncak dari seluruh latihan yang telah dilakukan. Keberhasilan
pementasan sangat bergantung kepada kerja sama serta kesolidan di antara para
pendukungnya (Mulyana, 1997: 193).

2.4 Penggunaan Teknik Drama Kreatif dalam Pembelajaran Menulis
Naskah Drama
2.4.1 Pengertian Menulis Naskah Drama
Drama merupakan kehidupan nyata yang dipentaskan. Sehingga pada
dasarnya, sebuah drama yang baik harus memenuhi prinsip-prinsip kehidupan
tersebut. Prinsip-prinsip tersebut telah dianut sejak zaman Aristotelles yang
menghendaki adanya realisme dalam drama. Prinsip tersebut adalah prinsip
mimesis (peniruan). Dapat diartikan, peniruan terhadap kehidupan nyata yang
dituangkan ke dalam bentuk pentas. Selain itu, karena sebuah pementasan drama
memilkki keterbatasan waktu, maka pementasan drama mengharuskan adanya
kepadatan semua unsur bentuk dalam drama (Mulyana, 1997: 146).
Teks atau naskah drama, menurut Wiyanto (Komaidi, 2007: 230) adalah
karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut termuat nama-nama
tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh, dan keadaan panggung
yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang juga dilengkapi penjelasan tentang tata
busana, tata lampu (lighting), dan tata suara (musik pengiring).
Pada dasarnya naskah drama memiliki kesamaan dengan naskah cerita
pendek atau novel, yaitu bentuk tulisan yang di dalamnya bercerita atau
menuturkan kisah. Namun, naskah drama bentuk dan susunannya berbeda dengan
63


naskah cerita pendek atau novel. Naskah cerpen atau novel berisi cerita lengkap
dan langsung tentang peristiwa yang terjadi. Namun, naskah drama tidak
mengisahkan secara langsung. Penuturan cerita pada naskah drama diganti dengan
dialog para tokoh. Suasana panggung juga dapat menjadi latar yang secara tidak
langsung memberikan informasi di mana atau kapan peristiwa cerita itu terjadi.
Jadi, naskah drama itu dapat dikatakan sangat mengutamakan ucapan-ucapan atau
pembicaraan para tokoh. Dari pembicaraan para tokoh itulah, penonton dapat
menangkap dan mengerti seluruh ceritanya (Komaidi, 2007: 230).

2.4.2 Menulis Naskah Drama Pentas
Menulis naskah drama untuk dipentaskan berbeda dengan penulisan teks
drama yang sekedar untuk dibaca. Adakalanya sebuah teks drama menyenangkan
ketika dibaca tetapi tidak menarik ketika dipentaskan.
Luxemburg, dalam Mulyana (1997: 145) mengatakan baik drama sebagai
karya sastra maupun sebagai bagian dari kelengkapan teater atau pementasan
drama, naskah drama harus selalu diupayakan mengacu pada kaidah-kaidah
pementasan. Hal inilah yang membedakan drama dengan prosa fiksi maupun
puisi. Orientasi utama pada pementasan ini yang menjadikan drama mendapatkan
penafsiran yang kedua. Tafsiran pertama dilakukan oleh pekerja teater ketika akan
mementaskan sebuah drama. Tafsiran kedua, ketika pementasan teater atau drama
tersebut disaksikan oleh penonton.
Oleh karena itu, dalam menulis naskah drama perlu memperhatikan
kaidah-kaidah yang ada. Gejala-gejala yang tampak pada drama, seperti di atas
64


setidaknya memunculkan kesadaran bagi para calon penulis naskah drama atau
yang tengah belajar menulis naskah drama, bahwa imajinasi pemanggungan mesti
terbentuk ketika proses penulisan naskah drama berlangsung (Mulyana, 1997:
145). Imajinasi pemanggungan inilah yang diharapkan dimiliki siswa setelah
melakukan drama kreatif di kelas. Sehingga siswa mampu menulis naskah drama
berdasarkan pengalaman pementasan yang pernah dilakukan. Maka, ketika
menulis naskah drama, siswa merasa lebih mudah dan dapat mengikuti kaidah
penulisan naskah drama namun dengan tetap mengedepankan imajinasi
pemanggungan.
Berikut ini merupakan kaidah-kaidah penulisan naskah drama menurut
Talha Bachmid dalam Mulyana (1997: 147-150).
2.4.2.1 Alur dan Pengaluran
Kaidah alur adalah pola dasar cerita, konflik, gerak, alur, dan
penyajiannya. Semenjak jaman Aristotelles dinyatakan bahwa alur drama mesti
tunduk pada pola dasar cerita yang menuntut adanya konflik yang berawal,
berkembang, dan kemudian terselesaikan.
Kemudian, penyajian pola dasar tersebut dilakukan dengan membaginya
ke dalam bagian-bagian yang disebut adegan dan babak. Kekhasan sebuah drama
akan tampak melalui penyajian cerita dalam susunan babak dan adegan. Dalam
menyusun babak dan adegan, pengarang drama akan selalu menjaga kepaduan
serta keterjalinan bagian-bagian alur maupun keterjalinan semua unsur bentuk.
Inilah yang disebut dengan koherensi cerita (Mulyana, 1997: 147-148).

65


2.4.2.2 Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam drama berbeda dengan tokoh dalam cerpen atau novel yang
dapat dikisahkan oleh pengarangnya. Dalam drama, tokoh harus dihidupkan
dengan dialog dan unsur-unsur lainnya yang harus dipenuhi.
Tokoh dalam drama mesti memiliki ciri-ciri seperti nama diri, watak, serta
lingkungan sosial yang jelas. Pendeknya, tokoh atau karakter yang baik harus
memiliki ciri atau sifat yang tiga dimensional, yaitu yang memiliki dimensi
fisiologis, sosiologis, dan psikologis (Mulyana, 1997: 148).
Harymawan (1988: 25-26) menyebutkan bahwa rincian fisiologis terdiri
atas usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-ciri muka; dimensi fisiologis
terdiri atas status sosial, pekerjaan (jabatan dan peranan di dalam masyarakat),
pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup (kepercayaan, agama, dan
ideologi), aktivitas sosial/ organisasi, hobi dan kegemaran, bangsa (suku dan
keturunan); dimensi psikologis meliputi mentalitas dan moralitas, temperamen
dan intelegensi (tingkat kecerdasan, kecakapan, dan keahlian khusus dalam
bidang-bidang tertentu).
Berikut ini merupakan contoh keterangan mengenai tokoh dalam sebuah
naskah drama yang diambil dari naskah drama berjudul Anak Nakal.
Para Pemain:
Buyung : anak keluarga menengah ke bawah seorang penjual nasi.
Betty : anak keluarga kaya dan mapan, manja, dan judes.
Yu Minah : ibu Buyung penjual nasi.
Parmin : tukang becak yang sering lewat warung Yu Minah.
66


Karyo : tukang kredit keliling.
Polisi 1 : intel bagian reserse dan kriminal.
Polisi 2 : intel bagian reserse dan kriminal (Komaidi, 2007: 232).

2.4.2.3 Latar, Ruang dan Waktu
Seperti halnya alur dan tokoh, unsur ruang dan waktu pun mengikuti
konvensi umum yang didasari pada peniruan realitas kehidupan. Ruang dapat
disisipi pengarang dengan petunjuk pemanggungan atau istilahnya kramagung
(Mulyana, 1997: 149).
Berikut ini merupakan contoh kramagung yang diambil dari naskah drama
berjudul Anak Nakal.
PANGGUNG
Panggung menggambarkan sebuah rumah di depannya terdapat warung di teras
rumah, berisi dagangan berupa tempat kerupuk, pisang yang digantung, nasi,
sayur, piring, dan sebagainya. Ada meja dan kursi panjang tempat duduk pembeli
(Komaidi, 2007: 232).

2.4.2.4 Perlengkapan
Perlengkapan juga tunduk pada konvensi seperti unsur yang telah kita
sebutkan. Perlengkapan merupakan unsur khas teater, yang dapat berupa objek
atau benda-benda yang diperlukan sebagai pelengkap cerita, seperti perlengkapan
tokoh, kostum, dan perlengkapan panggung. Perlengkapan (dalam kramagung dan
wawancang) selalu sesuai dengan keperluan cerita (Mulyana, 1997: 149).
67


2.4.2.5 Bahasa
Bahasa dalam drama konvensional juga tunduk pada konvensi stilistika.
Misalnya, para tokoh melakukan dialog dengan menggunakan ragam bahasa yang
sesuai dengan lingkungan sosial serta watak mereka. (Mulyana, 1997: 149). Selain
itu, karena dalam pementasan drama biasanya langsung, maka kepadatan dialog
sangatlah penting.

2.4.3 Naskah Drama dan Pengarangnya
Naskah drama dan pengarangnya merupakan kaitan yang tidak terpisahkan
satu sama lainnya. Sebuah teks drama dapat mewakili suara hati pengarang di
jamannya. Untuk itu, banyak sekali contoh drama dan pengarangnya, di antaranya
adalah Ken Arok dan Ken Dedes, karya Moh Yamin, The Provokd Wife karya Sir
Jhon Vanburg, Romeo dan Juliet karya Shakespare, Oidipus karya Sophocles,
Sekda, Mastodon dan Burung Kondor karya Rendra, Aduh, Dag Dig Dug, Hom
Pim Pah, Edan, Aib, Geeer, dan Dor karya Putu Wijaya, dll.
Selain menulis dan mementaskan karya drama pengarang-pengarang
Indonesia, biasanya drama-drama karya pengarang dunia juga dipentaskan. Hal
ini biasanya demi ekspresi pemanggungan, hanya saja agar konteksnya sesuai
dengan konteks Indonesia, biasanya dramawan menerjemahkannya dengan
mengadaptasi dan menyadurnya (Mulyana, 1997: 153). Sebagai contoh, drama-
drama yang berkisah tentang perang saudara yang terjadi di kerajaan Mataram di
sekitar abad XVI M merupakan drama yang bersumber dari drama pengarang
Jerman, yaitu F. Schiller. Achadiat Kartamihardja menulis drama saduran Pakaian
68


dan Kepalsuan yang bersumber dari The Man With the Green Nectie karya
Averchenko, Orang Asing karya D. Djajakusuma, yang bersumber dari drama
lihtuania karya Rupert Brook, dan Biduanita Botak karya Jim Adhilimas yang
bersumber dari The Bald Soprano karya Eugne Lonesco.