Anda di halaman 1dari 296

Emptiness of the Soul

by
Andros Luvena
Sinopsis:
Masa kecil Jarvis dipenuhi dengan kekerasan. Dia hidup menderita
sampai Liana - seorang wanita yang 15 tahun lebih tua darinya -
menyelamatkannya dan memberinya kehidupan yang layak. Tapi
Jarvis harus rela membuang hatinya bersama dengan harga dirinya
untuk menalani kehidupan itu.
!ehilangan cinta dari orang-orang yang disayanginya membuat
Jarvis membekukan hatinya" tidak ingin dicintai dan mencintai.
#elama ini dia bisa bertahan dengan kehidupan seperti itu" sampai
dia bertemu dengan seorang gadis yang berhasil mengacaukan
kehidupannya.
$le%a telah merubah segalanya" memporak-porandakan dinding
kebekuan yang selama bertahun-tahun ini berhasil melindungi
hatinya dari sentuhan sebuah perasaan bernama cinta. Merubah
Jarvis yang sebelumnya tidak ingin dicintai menadi rindu untuk
dicintai.
&ni adalah sebuah kisah tentang peruangan seorang lelaki yang
merasa tidak memiliki harga diri untuk mendapatkan cinta dari
seorang gadis yang sangat dicintainya. Dengan kebimbangan
dalam hatinya" dia merasa tidak layak untuk dicintai karena
kehidupannya yang kotor dan masa lalunya yang selalu menadi
mimpi buruknya. $pakah Jarvis memang layak untuk $le%a'
!isah ini merupakan buku pertama dari trilogy(
1.)mptiness *+ The #oul
2.,ragility *+ The #oul
3.,reeing The #oul

Copyright 2014 by Andros Luvena
prolog
Aku terbangun ketika sebuah tangan kasar meraih kaki kecilku,
tangan itu menyentakku hingga aku terduduk dan terjatuh di lantai.
Aku mengucek mataku yang masih terasa berat, lalu kulihat seorang
laki-laki yang kukenali sebagai adik ibu berdiri garang di depanku.
"Cepat bangun!" bentaknya kasar.
ukannya beranjak bangun, aku malah mengkeret ketakutan,
kudekap boneka kelinci usang kesayanganku.
!m enny terlihat geram, dia menarik tanganku dan menyeretnya.
Aku berusaha memberontak dan mencoba untuk bertahan dengan
meraih kaki ranjang yang kujadikan pegangan, sambil berteriak-
teriak memanggil "bu yang selalu bisa kuandalkan, selalu ada saat
aku membutuhkannya. #uaraku sudah serak, berteriak sekencang
mungkin untuk mengalahkan bunyi gemuruh hujan di luar rumah.
$amun "bu tidak datang juga.
"bu..."bu...%i mana "bu& 'enapa dia tidak datang-datang juga&
(egangan tanganku terlepas hingga !m enny bisa dengan
mudahnya menyeretku yang masih berlutut ke luar dari kamar. Aku
terkejut ketika melihat keadaan rumah yang berantakan, kursi dan
meja saling tumpang tindih dalam keadaan terbalik.
!m enny terus menyeretku, aku meringis kesakitan ketika lututku
terasa perih karena terkena beberapa pecahan beling yang berserakan
di lantai.
)alu aku melihat "bu yang tergeletak di lantai ruang tengah,
tubuhnya bersimbah darah, dan di sela-sela rambutnya yang
berantakan, aku melihat matanya yang terbuka lebar dengan
pandangan kosong.
Aku berteriak, lalu kuhentakkan tanganku yang dipegang !m enny
kuat-kuat dan berlari menabrak tubuh "bu yang kini sudah tak
bergerak.
Aku menggoyang-goyangkan tubuh "bu dengan tangan kecilku,
memanggilnya, dan memohon padanya agar dia terbangun dan
memelukku, seperti yang biasanya dia lakukan padaku. *api "bu
tidak mau terbangun.
+ajah "bu yang cantik sekarang pucat, matanya yang terbuka
menatapku kosong. Aku tidak ingin menangis, "bu bilang anak laki-
laki tidak boleh cengeng. *api melihat "bu yang seperti itu
membuatku tidak bisa menghentikan air mataku. Aku meraung pilu,
melihat kenyataan bah,a "bu sudah meninggalkanku. Aku menatap
!m enny dengan garang, aku yakin dialah yang membunuhnya.
!m enny selalu jahat pada kami, dia selalu memukuliku atau "bu
yang berusaha melindungiku.
%ipenuhi rasa marah yang mendera hatiku, aku meraih pisau penuh
darah yang tergeletak di samping "bu. *angan kecilku bergetar, dan
sambil berteriak marah, aku menyerang !m enny dengan pisau
yang ada di tanganku.
*api kemudian yang kurasakan adalah rasa sakit ketika tubuh
kurusku menghantam ubin lantai, kemudian sebuah tendangan
mendarat di kepalaku, membuat kepalaku berdengung dan seakan
hendak meledak. )alu di ambang batas kesadaranku, aku melihat api
yang berkobar dan kemudian semuanya menjadi...gelap.
---
ab 1

! L"#E
Aku adalah serigala yang terluka, tubuhku kokoh dan kuat, namun
hatiku terasa remuk. Aku adalah serigala yang terkurung, berada di
sudut gelap dan meringkuk sendirian. Aku adalah serigala malam,
hatiku adalah batu, ji,aku adalah kelam, dan...ragaku adalah
bayangan...
.am hampir menunjukkan tengah malam ketika aku mengendarai
mobil menembus jalanan "bukota. %erasnya hujan dan hembusan
ha,a dingin yang menggigit membuat orang enggan ke luar rumah.
#ehingga jalanan begitu sepi dan lengang. #uara hujan yang
mengenai kaca mobil membuatku sama sekali tidak merasa nyaman.
Aku membenci hujan.
Aku mengurangi kecepatan mobilku ketika membelok menuju
apartemen yang kutinggali. %engan sedikit terburu-buru aku
memarkirkan mobilku dan berlari menembus hujan menuju gedung
apartemen.
Aku menepis percikan air yang membasahi bahu sebelum memasuki
lobi apartemen. 'usapu ke belakang dengan jariku, helaian rambut
yang menutupi pandangan.
)alu aku memasuki pintu kaca lobby apartemen, aku
menganggukkan kepala kepada satpam dan langsung menuju li/t.
0asuk ke dalam li/t, aku menekan tombol yang bertuliskan angka
21. #etengah melamun, memperhatikan angka-angka yang terus
bergerak. #aat terdengar bunyi 2ping2 dan pintu li/t yang terbuka, aku
segera melangkah ke luar.
Aku membuka pintu apartemen dan melangkah masuk. #aat
menutup pintu, aku mencium ,angi la3ender memenuhi ruangan
apartemen.
Aku menyeringai, aku tahu siapa si la3ender itu.
Aku menghampiri salah satu kamar yang kujadikan kamar khusus,
dan melihatnya di sana. %ia mengenakan lingerie ,arna merah
maroon yang menampilkan lekuk tubuhnya yang membayang karena
terkena pantulan cahaya dari lilin-lilin aromatherapy - satu-satunya
cahaya yang ada di kamar khusus - yang dinyalakannya. 0elihat
lekuk tubuhnya yang sempurna, membuatku menelan air liur.
%ia sedang menuangkan minuman ke dalam gelas yang terletak di
atas meja bundar kecil.
Aku menghampirinya dan memeluk pinggangnya dari belakang,
mencium lehernya, membuatnya terkikik geli.
"*unggu tampan," bisiknya sensual.
"Aku tak bisa menunggu..." gumamku terus menelusuri lehernya
dengan bibirku. *anganku mulai meraba payudaranya yang melebihi
telapak tanganku, kupilin putingnya dengan jari-jariku, membuatnya
menggelinjang, dia suka permainan tanganku.
%ia mendesah, "#sshhh...ahkan kau belum melihat lingerie
baruku..."
*anpa melepaskan bibirku dari lehernya, aku menggumam, "#iapa
yang butuh lingerie sialan ini, dia menghalangiku merasakan kulitmu
yang halus." )alu dengan kasar kurobek lingerie yang menempel di
tubuhnya.
%ia berbalik, dengan lingerie yang terkoyak di bagian dadanya,
memperlihatkan payudaranya yang menantang sempurna. %ia
menyambar bibirku dan melumatnya dengan liar. #hit- #he.s a good
kisser. Aku membalas ciumannya dan meremas pantatnya yang
kenyal, memajukan pinggulku, menunjukkan padanya bah,a
kejantananku sudah mengeras karenanya.
0erasakan kejantananku yang menusuk perutnya, dia melepas
s,eaterku dan melucuti celana denimku. 'ini aku telanjang di
depannya, dengan kejantananku yang tegak sempurna. %ia berlutut
di depanku hingga ,ajahnya hanya berjarak beberapa inch dari
kejantananku. %ia mulai menciumi batang kemaluanku, memainkan
lidahnya pada /renulumku dan sesekali membelai bolaku, kemudian
mulut mungilnya menghisap kemaluanku tanpa ampun, dan lidahnya
menjilati cairan pre-cum milikku. 0embuatku tidak tahan karena
sensasi kenikmatannya.
")iana..." Aku menggeram, memanggil namanya dan menariknya
berdiri, lalu kulumat bibirnya dengan rakus.
)iana melepaskan ciumanku, menyeringai dan mendorongku ke atas
ranjang, meraih kondom yang tersimpan di dalam laci nakas dan
dengan terampil dia memakaikannya di kemaluanku. 'emudian
secepat kilat dia menaikiku, memasukkan kejantananku ke dalam
ke,anitaannya yang sudah sangat basah. Aku mengerang, karena
mendapat serangan yang mendadak itu.
%ia menggoyangkan pantatnya yang gemulai, disertai dengan
cengkeraman dari lubang ke,anitaannya ke ereksiku, oh...demi seks
dan segala kenikmatannya, dia melakukan kegel sialan itu lagi.
Aku menusukkan kejantananku dengan gerakan liar, mengikuti
irama putaran pinggulnya, mencengkeram bongkahan pantatnya.
%ari balik helaian rambut basahku yang ber,arna perunggu, aku
menatap lapar payudaranya yang menggantung dan bergoyang-
goyang. *anganku beralih ke payudaranya, meremasnya dengan
lembut. )iana melentingkan punggungnya ke belakang,
mendekatkan payudaranya ke bibirku, kusambar puting payudaranya
dan mengulumnya dalam mulutku. 0enghisapnya dengan liar
disertai gigitan-gigitan kecil. *angan kiriku meremas pinggangnya,
sedangkan tanganku yang satu lagi memilin-milin puting
payudaranya yang bebas. $a/asnya memburu, bersahutan dengan
deruan na/asku, dia mencengkeram bahuku hingga kuku-kukunya
menusuk kulitku.
"!h....ar3is," )iana mengerang, menyebut namaku, kepalanya
terdongak ke belakang. Aku tahu dia hampir selesai, maka kualihkan
kedua tanganku pada pinggulnya dan kuayunkan naik turun
tubuhnya kuat-kuat, menimbulkan bunyi sensual yang menambah
gairahku. %an ketika )iana menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuhku
dengan erangannya, akupun menyusulnya, melepaskan orgasmeku.
---
Aku telentang di sebelah )iana yang berbaring menghadapku,
tangannya membelai lembut dadaku.
"'au pulang malam sekali, dari mana saja&" tanyanya.
Aku menatap )iana, ,anita yang 11 tahun lebih tua dariku, dia
memiliki ,ajah eksotis khas Asia, matanya yang sedikit sipit dengan
lingkaran hitam tipis di ba,ahnya, serta bibirnya yang penuh dan
kulit tubuh yang putih mulus.
"Aku tidak tahu kau akan datang, tadi aku menindaklanjuti ta,aran
kerja dari !m ayu. .adi aku harus mempelajari berbagai hal yang
bersangkutan dengan properti kalau aku ingin bekerja di sana."
.a,abku.
)iana mendesah, "4enry ada panggilan mendadak dari kantornya
yang diluar kota, jadi aku meman/aatkan ,aktuku sebaik-baiknya."
Aku terkekeh mendengar perkataannya. "'au tidak curiga dia
berselingkuh&" 5odaku.
%ia mendengus dan berbalik telentang, kedua tangannya diletakkan
di atas kepalanya, aku melirik payudaranya yang terekspos
sempurna.
"%ia impoten, kau ingat&" gumamnya. *entu saja aku ingat, karena
itulah dia memeliharaku, bukankah begitu& Aku meringis pedih
mengingat kenyataan itu.
"'au tahu kau tidak perlu bekerja .ar3is," gumam )iana kemudian.
"Aku sudah berumur 16 tahun, sebentar lagi aku lulus, jadi aku harus
mempersiapkan diriku."
"7a, aku mengerti. *api kau bisa /okus belajar jika ,aktumu tidak
terbagi dengan bekerja. Aku masih bisa membiayai kuliahmu."
Aku berbalik menghadapnya dan memeluk pinggangnya, "*erima
kasih, tapi aku ingin mandiri. 'au tahu kan, aku terbiasa hidup keras
dari kecil, jadi aku tidak akan membiarkanmu membuatku menjadi
pria manja."
)iana berbalik membelakangiku dan merapatkan punggungnya ke
dadaku.
"7a sudah, kalau itu maumu."
*ak berapa lama kemudian aku sudah mendengar dengkuran
halusnya.
0elihatnya sudah tertidur, aku bangun dan meraih bo8erku yang tadi
terlempar dan tergeletak di lantai, setelah memakai bo8erku, aku
menyelimuti )iana dengan bed co3er. )alu aku melangkah ke luar
kamar.
Aku menuju bar yang terletak di sudut dapur, menghampiri tempat
penyimpanan anggur, dan melihat-lihat isinya. (ilihanku jatuh pada
Armand de rignac, aku meraih botolnya dan memba,anya ke meja
bar.
Aku duduk dan menuangkan champagne itu ke dalam gelas yang
langsung kutenggak habis. #ensasi manisnya mengalir di
tenggorokanku. 0engernyitkan keningku, aku menatap botol
Armand de rignac yang me,ah itu, berdiri dengan anggunnya di
atas meja bar. Champagne biasanya di minum saat sedang
merayakan sesuatu bukan& *api sekarang, aku meminumnya, apa
yang sedang kurayakan& 'eberhasilanku menjadi gigolo& Aku
tersenyum miris mengingat itu. Apakah aku gigolo&
Aku sudah berhubungan seks dengan )iana sejak berumur 11 tahun,
di hari pertama dia menemukanku. #aat dia melakukannya, aku
dalam keadaan kacau, tapi dia tahu cara menenangkanku. %an dia
memba,aku ke perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya,
gairah.
Liana. Dialah penyelamatku.
Aku sedang meringkuk di pinggir jalan ketika dia menemukanku,
tanganku yang gemetar mendekap erat tubuhku yang kedinginan.
%ia menghentikan mobilnya dan turun menghampiriku. #etengah
berlutut, dia menyentuh bahuku, aku menatapnya ketakutan.
".angan takut," bisiknya. "Apakah kau sendirian&" tanyanya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku lemah.
%ia tersenyum lembut, ""kutlah denganku."
'emudian dia membantuku berdiri dan membimbingku menuju
mobilnya. 0obil ber,arna merah yang sangat bagus. %ia
membukakan pintu penumpang dan menuntunku memasuki mobil
itu. )alu dia berjalan kembali ke sisi kiri mobil dan duduk di
belakang kemudi.
0elihat aku yang menggigil kedinginan, dia mematikan AC mobil
dan berbalik meraih jaketnya yang tergeletak di kursi belakang.
""ni akan membuatmu lebih hangat," gumamnya sambil menyelimuti
tubuhku dengan jaketnya.
Aku menatapnya penuh rasa terima kasih.
%ia kembali tersenyum, "$amaku )iana, siapa namamu&"
".ar3is." 5umamku.
"!kay .ar3is, kau akan ke rumahku sekarang..." katanya sambil
menatap lurus ke depan dan melajukan mobilnya.
#aat mobil melaju, aku memandang ke luar jendela dengan tatapan
kosong. Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya&
0obil memasuki sebuah halaman yang sangat luas. )iana
menghentikan mobilnya di depan rumah tiga lantai yang terlihat
sangat me,ah. Aku melongo, menatap kemegahan rumah itu,
dengan teras berlantaikan marmer yang ada pilar-pilar besar
ber,arna putih di setiap sisinya. %i depannya terdapat pintu utama
dengan dua daun pintu yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang
sangat indah.
)iana ke luar dari mobil dan kembali membukakan pintu untukku.
%ia membimbingku menuju rumah itu. Aku mengikuti langkahnya
menaiki anak tangga, dan memasuki rumah itu.
Aku lebih terkagum-kagum lagi saat memasuki rumah, tapi )iana
tidak membiarkanku terlalu lama mengagumi seisi rumah itu. %ia
mengajakku ke lantai dua dan memasuki sebuah kamar yang sangat
luas, dengan ranjang yang besar dan kasur yang terlihat empuk.
#angat berbeda dengan kamarku di rumah !m enny.
)iana menuntunku memasuki sebuah ruangan yang ada di kamar itu.
Aku kembali melongo ketika mengetahui ruangan yang besarnya
lima kali kamarku itu adalah sebuah kamar mandi.
Aku tersentak ketika )iana mengangkat kaosku.
"Angkat tanganmu," bisiknya lembut. "*idak apa-apa, kau harus
mandi," katanya ketika melihat aku hanya diam saja.
Aku menurut dan mengangkat tangan, )iana melepas kaosku.
'emudian jarinya membuka kancing celana pendekku dan
melepasnya, aku tertunduk malu ketika menyadari dibaliknya aku
sama sekali tidak mengenakan apa-apa lagi. *idak pernah terpikirkan
olehku sebelumnya untuk membeli celana dalam, bisa memakai baju
saja sudah untung.
*api )iana tidak mempedulikannya, dia menarik tanganku menuju
sho,er. )iana menyalakan sho,er, kemudian dia meraih botol sabun
dan menuangkannya di telapak tangannya. *ercium ,angi la3ender
saat )iana menggosok kedua telapak tangannya sehingga
menghasilkan busa yang melimpah, membuatku merasa tenang dan
nyaman. )alu dia meraih spons dan menggosokkannya di dadaku
menuju ke ba,ah hingga perutku. Aku merasakan kenyamanan saat
jari-jarinya menyentuh kulitku, seperti dibelai "bu saat aku
menangis, atau *ante 0irna saat mengantarkanku tidur.
)iana berjongkok dan mulai menggosok kaki dan pahaku. Aku
mengernyit ketika merasakan sesuatu yang menegang di antara
pahaku saat )iana menyentuhnya. !tomatis aku menunduk, dan
bersirobok pandang dengan matanya yang sedang menatapku tajam,
aku merasa pipiku memerah.
'etika )iana sudah selesai memandikanku, dia meraih handuk dan
melilitkannya di pinggangku. 'emudian dia melepas pakaiannya
yang basah karena terkena air. Aku ternganga melihatnya yang kini
sudah telanjang bulat, merasa malu aku mengalihkan pandanganku.
(erlahan )iana mendekatiku dan menuntunku ke luar dari kamar
mandi tanpa mempedulikan ketelanjangannya. )alu dia
mendudukkanku di ranjang. )iana berdiri di depanku, tangannya
membelai lembut bahuku. %ibelai )iana dengan ketelanjangannya
sekarang terasa berbeda dengan tadi, aku merasakan ada yang
menggelenyar di dalam perutku.
Aku merasakan sengatan listrik yang mengalir di tubuhku saat )iana
membungkuk dan mencium bibirku, mula-mula terasa lembut, tapi
kemudian semakin liar dan menuntut. %ia memasukkan lidahnya ke
dalam mulutku, dadaku langsung berdesir. #elanjutnya aku merasa
diselimuti bayangan sehingga aku tidak bisa mengingat pasti
kejadiannya. 7ang kuingat kemudian adalah aku sudah terbaring
dengan )iana di atasku, menggoyangkan tubuhnya dengan na/asnya
yang memburu. Aku terbelalak ketika merasakan sensasi aneh saat
kejantananku berada di dalam ke,anitaannya. Aliran darahku
mengalir lebih cepat dari yang kuingat, dan aku mengerang,
merasakan kebingungan dengan sensasi yang belum pernah
kurasakan ini.
'emudian aku merasakan ujung kejantananku membengkak dan
terasa penuh, disebabkan oleh naluri, aku mendorong pinggulku
kuat-kuat, menggeram seolah tak tahu malu, lalu...meledaklah
semuanya.
)angit seakan bersorak untukku, menaburkan bintang-bintang yang
bercahaya dengan indahnya. umi seakan mendukungku dan
melemparkanku dan kemudian dihempaskan pada kelembutan a,an
yang menyelimutiku dengan kehalusannya. Aku merasa berbeda,
merasa sangat luar biasa dengan denyutan pada kejantananku, dan
tubuhnya yang terbaring di atasku. 0embuatku melupakan semua
permasalahanku.
7ang kuingat selanjutnya adalah samar-samar, aku merasa )iana
melepaskan sesuatu dari kemaluanku, dan membuangnya ke sudut
ruangan. #ebuah kantung karet bening yang penuh berisi cairan.
---
(agi harinya )iana memba,akanku makanan yang sangat banyak ke
dalam kamar, aku makan dengan sangat lahap. 'egiatanku semalam
benar-benar menguras tenaga. 0ukaku terasa panas mengingat
kejadian semalam, aku menunduk malu.
)iana yang duduk di depanku tersenyum lembut, seolah-olah
mengerti dengan apa yang kupikirkan.
%ia meraih roti bakar yang ada di nampanku dan menyuapkannya
padaku, "'au harus makan yang banyak," gumamnya, kemudian dia
menyuapkan untuk dirinya sendiri. ".adi berapa usiamu&" tanyanya.
Aku mengunyah makananku dan menja,ab pertanyaannya dengan
gumaman, "11 tahun."
Aku melihat dia seperti tersedak, segera kuraih gelas minumanku
dan menyodorkannya. %ia menerimanya dan meminum habis air
putih yang ada di dalamnya.
%ia berdehem, "+ell, kau tidak terlihat seperti...berusia 11 tahun,"
gumamnya kemudian.
Aku tersipu, "Aku memang lebih besar dari anak-anak lain yang
seusiaku," gumamku. "0ungkin ini gen dari Ayahku yang orang
.erman..." 'ataku kemudian sambil mengerutkan hidungku karena
merasa ragu.
"Ayahmu orang .erman&" )iana terlihat tertarik.
"'ata "buku..."
"'au...tidak pernah bertemu dengannya." "tu pernyataan bukan
pertanyaan.
Aku menggeleng.
")alu sekarang di mana ibumu&"
Aku menunduk, "#udah meninggal." .a,abku pelan.
%ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, "!h...0aa/..." %ia
terlihat sangat menyesal.
Aku tersenyum menenangkannya, "*idak apa-apa, kejadiannya
sudah sangat lama."
Aku berbincang-bincang dengan )iana cukup lama, sama sekali
tidak menyinggung kejadian semalam. %ia tidak mengorek-ngorek
masa laluku sehingga membuatku merasa nyaman bersamanya.
#aat suaminya pulang dia mengenalkanku kepada suaminya, 4enry.
(ria yang tampan dan baik hati. 4enry mengijinkanku tinggal di
rumahnya.
)iana bahkan memasukkanku ke sekolah elit bertara/ internasional,
dia menda/tarkanku sebagai keponakannya. Aku diterima sebagai
murid kelas 9, sama seperti ,aktu di sekolah yang lama. Aku selalu
belajar dengan tekun, dan berusaha bersikap baik, aku tidak ingin
mengece,akan 4enry dan )iana yang sudah begitu baik mau
menampungku.
*entu saja 4enry tidak tahu apa yang dilakukan )iana bersamaku
saat dia tidak ada di rumah. *api terlepas dari hubungan terlarangku
dengan )iana, aku sangat menghormati 4enry. "tu karena dia orang
yang baik dan bijaksana. *ak jarang aku membantunya merekap
data-data perusahaannya, aku cepat belajar, dan 4enry sangat senang
dengan hasilnya.
encana datang saat 4enry memergoki aku sedang bercinta dengan
)iana di kamarnya, itu setahun yang lalu. 4enry marah besar, dia
hampir memukulku kalau )iana tidak mendekapnya dan
menyuruhku lari, dan ketika aku sudah di luar kamar, )iana
mengunci pintu kamarnya.
Aku berdiri di depan pintu kamar hanya mengenakan bo8er,
mendengar suara teriakan 4enry dan pecahan benda-benda yang
dibanting. )alu samar-samar, aku mendengar )iana berkata-kata
menenangkan 4enry.
""ni hanya seks, sayang. Aku membutuhkannya...#etelah kecelakaan
itu, aku tidak bisa mendapatkan kebutuhan seksualku darimu,
bertahun-tahun aku menahannya, aku tidak pernah berpaling, aku
mencintaimu...#ekarang pun aku mencintaimu. 7ang kulakukan
bersama .ar3is hanyalah seks semata, bukan cinta. "ni bukan
salahnya, aku yang memulai..."
"#ejak kapan&" Aku mendengar nada putus asa pada suara 4enry.
*idak ada ja,aban.
"Apakah sejak pertama kau memba,anya ke sini&"
Aku tidak mendengar )iana menja,abnya, tapi kemudian terdengar
suara benda dibanting, membuatku mengerti ja,aban yang diberikan
)iana.
"Aku membutuhkannya, 4enry...Aku ,anita normal..." Aku
mendengar )iana berkata dengan suara bergetar.
)alu aku mendengar 4enry menangis, "0aa/kan aku...Aku tidak
bisa menjadi suami yang sempurna."
4ening sesaat.
".angan di sini," 4enry kembali bersuara dengan lemah. "a,a dia
pergi, jangan melakukannya di sini...Aku sudah terlanjur
menyayanginya..."
'emudian aku meninggalkan tempat itu, dan berjalan menuju
kamarku dengan mata berkaca-kaca. Aku benar-benar merasa seperti
seorang bajingan.
%ari dalam kamarku, aku melihat 4enry pergi dengan mobilnya.
#ekarang di sinilah aku berada, tinggal di sebuah apartemen me,ah,
hidup berlimpah harta dengan semua /asilitas yang ada, tapi sama
sekali tidak memiliki hati. Aku sudah membuang hatiku bersama
dengan harga diriku.
"'au tidak tidur&"
Aku menoleh dan melihat )iana bersandar di pintu dapur, dia sudah
mengenakan jubah tidurnya.
Aku tersenyum kepadanya, "'au terbangun ya&"
)iana menghampiriku, "*idurlah. esok kau harus sekolah kan&"
Aku mengangguk, lalu berdiri dan meraih pinggangnya,
membimbingnya ke kamar. "*emani aku tidur," gumamku.
Aku merangkak naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhku,
diikuti oleh )iana. )iana menyelimutiku, kemudian merebahkan
kepalanya di lenganku, tangannya memeluk pinggangku.
"*idurlah," bisik )iana lembut.
Aku mengusap-usap rambutnya sampai dia tertidur, tapi mataku
masih saja nyalang.
&nilah kutukannya.
Aku tidak akan pernah bisa tidur jika ada orang lain di sisiku. *idak
akan pernah....
---
0obilku memasuki gerbang sekolah dengan perlahan, kubelokkan
mobilku ke tempat parkir dan memarkirkannya di tempat yang tidak
terlalu jauh dari gerbang sekolah. "tu selalu kulakukan agar aku bisa
dengan mudah ke luar saat pulang nanti.
Aku ke luar dari mobil dan membanting pintu mobilku,
menimbulkan suara yang menarik perhatian murid-murid lainnya.
*api itu tidak membuatku terganggu, tanpa mempedulikan tatapan
mereka, aku melangkah menuju kelasku.
%ari balik kacamata hitamku, aku melihat beberapa gerombolan
anak perempuan yang mencuri pandang ke arahku, mereka berbisik-
bisik dan kemudian cekikikan.
Aku hampir sampai kelasku ketika berpapasan dengan u :ictoria,
salah satu sta/ *; di sekolahku. Aku menghentikan langkahku dan
melepas kacamataku.
"(agi, u." #apaku sopan.
u :ictoria menghentikan langkahnya dan tersenyum melihatku.
"(agi, .ar3is."
"Apa hari ini Anda memba,a berita bagus untukku&"
+anita setengah baya itu terta,a melihatku yang memandangnya
dengan tatapan memohon. "Apa yang sedang kau nantikan&" %ia
balik bertanya dengan senyuman di matanya.
"#esuatu seperti...surat misalnya."
"#urat apa&" desaknya.
"#urat pemberitahuan lulus seleksi beasis,a," gumamku ragu.
"7ap! 0aka kau mendapatkannya," katanya sambil mengeluarkan
sebuah amplop putih.
4ampir saja aku terlonjak gembira, aku menerima amplop putih
yang diulurkan u :ictoria padaku. Amplop putih dengan logo
sebuah perguruan tinggi yang paling berkelas dan berkualitas di kota
ini.
"'au hebat .ar3is, se-"ndonesia hanya lima orang yang mendapatkan
beasis,a ini, dan kau mendapatkannya, selamat ya." 'ata u
:ictoria tulus.
Aku mengangguk gembira, "*erima kasih, u."
"!kay, berjuang ya." u :ictoria meninggalkanku sambil
melambaikan tangannya.
Aku tersenyum simpul menatap amplop di tanganku, ini akan
membuat semuanya menjadi lebih mudah. Aku memasukkan amplop
itu ke dalam tasku dan meneruskan langkahku menuju kelas. 0elihat
para murid perempuan yang memandangku dengan tatapan memuja,
dan murid laki-laki yang memandangku dengan tatapan ingin
membunuh, aku hanya mengangkat bahu acuh, mereka hanya iri.
---
ab 2
$%E %"&'( S(A%)
4ingar bingar suara dentuman musik tidak menggangguku yang
sedang duduk di depan meja bar sebuah nightclub kelas atas.
(erhatianku terpusat pada sekelompok perempuan yang berpakaian
sangat minim. 0ereka sedang bergoyang di lantai dansa,
memamerkan lekuk tubuhnya pada para pria hidung belang yang
sedang mengerumuni mereka.
7ang menarik adalah, bah,a tidak ada seorang pria pun yang
berhasil bergabung bersama mereka. 'elima gadis itu, dengan
caranya sendiri selalu bisa mengusir pria-pria yang mendekati
mereka.
Adrenalinku merasa tertantang.
Aku meletakkan uang ke atas meja bar dan melangkah menghampiri
kerumunan itu...'udekati seorang gadis yang paling menarik di
antara mereka, menempel padanya dari belakang dan berbisik
padanya, "4ai, seksi."
'urasakan gadis itu tersentak dan berbalik, siap mengusirku. *api
kemudian dia hanya tersenyum ketika melihatku.
"4ai juga tampan." %ia mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku menyeringai, merapat padanya dan ikut bergoyang mengikuti
irama musik yang menghentak kencang. Aku memegang pinggulnya
dan mendekatkannya pada pinggulku, itu menarik perhatian keempat
gadis yang lainnya. #ehingga mereka mendekati kami dan menempel
kepadaku. #eorang gadis berambut merah merangkul leherku dan
mencoba membalikkan tubuhku padanya, gadis yang lain meraba
punggung dan lenganku, bahkan ada seorang gadis yang berusaha
meremas pantatku. !h...#hit! "ni benar-benar menggangguku.
Aku mundur dan menarik pinggang gadis yang menjadi incaranku,
"#orry ladies, aku hanya ingin bersama gadis ini." Aku menunjuk
gadis yang ada di sampingku, membuat gadis itu tersenyum senang.
"!h tidak," gadis yang berambut merah itu menggeleng, "ukan
begitu peraturannya."
Aku mengangkat sebelah alisku, ".adi, apa peraturannya&"
"'au bersama kami semua, atau tidak sama sekali."
Aku mendekatkan ,ajahku padanya, "Aku tidak ingin bercinta
dengan 1 orang pelacur," gumamku.
"'alau begitu, lupakan!" bentaknya sambil menarik tangan gadis
yang ada di sampingku.
%emi payudara setiap ,anita...gadis itu gila. Aku menyeringai, dan
menyilangkan tanganku di depan dada. ".adi, kurasa kaulah
pemimpinnya, ya." Aku menatap intens matanya yang menyala. "tu
membuatnya jadi terlihat lebih menarik daripada gadis yang ku incar
tadi. !kay, aku akan berubah haluan.
%ia mengangkat ,ajahnya, menantangku, "7a, aku."
"!kay, tidak akan ada lima orang gadis malam ini. Aku hanya ingin
bersamamu."
0atanya menatapku ragu, mempertimbangkan ta,aranku. "%engan
semuanya, atau tidak sama sekali," gumamnya pelan, menunjukkan
adanya kebimbangan pada kata-katanya.
#udut bibirku terangkat, bola sudah berada di tanganku. "'alau
begitu, lupakan." 'ataku mengutip apa yang tadi dia katakan.
'ulihat ada keraguan di matanya, dan ketika aku berbalik, dia
menarik tanganku.
"!kay, aku akan bersamamu," katanya membuat teman-temannya
menggerutu kesal.
Aku kembali menyeringai dan menarik pinggangnya agar lebih
dekat padaku, menempelkan tubuhnya pada tubuhku. 'ulihat teman-
temannya menyingkir sambil memberengut.
'ami mulai bergerak mengikuti irama musik, tangannya merangkul
leherku, dan pinggulnya bergoyang di atas pinggulku.
%ia mendekatkan bibirnya padaku, berbisik dengan suara mendesah
menyebutkan namanya. "Carlista."
ibirku yang sudah agak kelu, pengaruh dari alkohol yang kuminum
tadi membuatku susah mengeja namanya.
'etika musik berganti menjadi lebih menghentak, dia berbalik
membelakangiku. (unggungnya menempel pada dadaku, dan
pantatnya bergoyang menggesek kejantananku. 0embuat ereksiku
semakin keras. Aku menggerayangi tubuhnya, tanganku meraba
pinggangnya, terus ke atas sampai pada payudaranya. 5aun backless
ketat yang digunakannya, mengekspos punggungnya yang putih, aku
memainkan bibirku di sana, dengan tanganku yang menangkup
payudaranya dan sesekali meremasnya.
%ia kembali berbalik menghadapku, tangannya meraba dadaku, dan
pinggulnya kembali bergoyang di atas pinggulku. Aku meraih
pantatnya dan menariknya mendekat padaku, sehingga membuat
pinggulnya menempel pada pinggulku, kemudian kami bergoyang
dengan gerakan orang bercinta.
'urasa aku akan bercinta dengan gadis ini di sini, kalau saja aksi
kami tidak menjadi pusat perhatian.
"Ayo ke apartmentku." isikku di telinganya, lidahku menjilat
cuping telinganya, membuatnya terkikik geli. 'emudian aku
menariknya ke luar dari nightclub itu dan memba,anya ke
apartmentku.
---
"*h.../eah...,0ck me....ar3is...7eah...!h..."
Carlista meracau saat aku menusuk intinya dengan ereksiku. Aku
memegang pergelangan kakinya yang berada di bahuku,
menggerakkan pinggulku maju mundur dan sesekali melakukan
gerakan memutar.
"1ome on" babe..." Aku menghujamkan kejantananku dan dia
menjerit, kembali kurasakan denyutan di antara ereksiku. Aku
menyeringai, ini orgasmenya yang kedua.
Aku melepaskan kejantananku dari intinya, membalik tubuhnya dan
menarik pantatnya sehingga membuatnya menungging. 'udekatkan
ereksiku yang kini berkilat terkena cairannya, memainkan ujungnya
pada celah di antara bongkahan kedua pantatnya, kemudian
menelusurinya hingga sampai pada intinya, dan menggesek-
gesekkannya di sana.
%ia mengerang /rustasi, "!h...Ayolah .ar3is, jangan menggodaku,
masukkan sayang..." rintihnya.
"*enang, babe..." isikku kemudian, aku meremas kedua
payudaranya yang menggantung dan memainkan putingnya. %ia
mendesah, na/asnya kembali memburu...!h yeah, gadis ini cepat
bergairah.
*anganku turun menelusuri perutnya, berputar-putar di sana...dan
turun sampai pada klit-nya. 0emainkan klit-nya lebih karena ingin
menyiksanya. %ia mengerang dan menggoyangkan pinggulnya,
berusaha memasukkan ereksiku pada intinya.
Aku memukul pantatnya, membuatnya tersentak, "%iamlah babe!"
"*idak .ar3is, jangan menyiksaku. Aku ingin milikmu yang besar
itu, masuk ke dalam intiku. )A5"."
"#eberapa besar keinginanmu&"
")ebih besar dari keinginanku untuk hidup sekarang..."
"0emohonlah!"
"'umohon .ar3is..." %ia memohon dengan suaranya yang serak.
Aku memegang kedua bongkahan pantatnya dan menusukkan
kejantananku pada ke,anitaannya, menggerakkan pinggulku dengan
keras, kali ini mencari kenikmatan untuk diriku sendiri. Carlista
kembali menjerit, merasakan orgasme untuk kesekian kalinya. "tu
mendorongku untuk melakukannya dengan cepat, aku bergerak lebih
cepat lagi, dan aku menghujamkan kejantananku dalam-dalam ketika
kurasakan ledakan pada ereksiku.
Aku menghempaskan tubuhku di atas tubuh Carlista yang kini
terbaring telungkup. #esaat aku terdiam. )alu aku berguling ke
samping, melepas kondomku dan melemparkannya asal.
$a/asku sudah teratur ketika kulihat Carlista sudah mendengkur
halus. Aku memakai bo8erku. 'emudian aku memperhatikan
Carlista. 0elihatnya yang tidur tengkurap dalam keadaan telanjang
membuatku mengernyit jijik. (erasaan yang selalu ada setiap aku
selesai melakukan one night stand.
Aku memukul pantat Carlista dengan telapak tanganku, membuatnya
tersentak dan terduduk kaget.
"Apa&" %ia terlihat bingung.
"#aatnya kau pulang, babe." 'ataku sambil mengumpulkan
pakaiannya dan menyerahkan padanya.
%ia mengerang, ""ni hampir pagi .ar3is. iarkan aku menginap di
sini," gumamnya bersiap untuk tidur lagi.
Aku menarik kakinya dan melemparkan pakaiannya ke atas
perutnya. "*idak, pakai bajumu dan pulanglah. #ebentar lagi "striku
pulang, aku tidak mau dia melihatku habis bercinta dengan
perempuan lain."
%ia tersentak dan langsung terduduk.
!h yeah, kalimat ini selalu ampuh untuk mengusir perempuan
setelah kau menidurinya.
"'au sudah punya istri&" tanyanya geram.
Aku memasang ,ajah menyesal dan mengangguk. 0embuatnya
bergegas mengenakan bajunya.
"#ialan kau, .ar3is," gumamnya sambil mengenakan sepatunya.
Aku hanya mengangkat bahuku.
%ia meraih tasnya dan melangkah ke luar dari kamar khusus. )alu
aku mendengar suara pintu yang dibanting.
Aku terkekeh geli, gadis bodoh.
'emudian aku memastikan pintu apartment terkunci dan kembali ke
kamar khusus. %engan kondisiku yang 2acak-acakan sehabis
bercinta2 membuatku malas kembali ke kamarku yang sebenarnya.
iasanya aku akan mandi dulu dan tidur di kamarku. *api aku malas
mandi malam ini.
Aku merebahkan tubuhku di ranjang. 0emandang bintang-bintang
yang terlihat dari jendela kaca besar dalam kamar ini.
(ikiranku melayang pada 12 tahun silam, saat api berkobar
membakar rumah dan tubuh "buku. #etelah membakar rumah itu,
!m enny melarikan diri dengan memba,aku. Aku tinggal bersama
!m enny, dia meman/aatkanku untuk mencari uang. Aku
mengamen, menjadi kuli pasar, bahkan menjadi pencopet. Aku
memberontak dan tidak mau melakukannya, saat itu umurku masih <
tahun, masih terlalu kecil untuk mengerti cara mencari uang. #elama
ini aku hidup nyaman bersama "buku, meski hidup kami kekurangan,
"bu selalu melindungiku dan menyayangiku. %an saat aku ditarik
dari =ona nyamanku dengan paksa, aku tidak bisa menerimanya. !m
enny yang pemarah selalu memukuliku. *api aku tidak peduli, "bu
sudah tidak ada lagi, buat apa aku hidup di dunia ini...
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, tapi sesuatu yang basah
yang menelusuri kemaluanku membuatku terbangun. Aku
memicingkan mataku, silau terkena cahaya matahari yang
menerobos dari jendela. %an aku mengerang ketika melihat )iana
yang sudah telanjang sedang memainkan kejantananku dengan
lidahnya.
")iana...4entikan sayang..."
)iana tidak mempedulikan ucapanku. %ia memainkan jarinya di
bolaku dan memutar lidahnya mengelilingi ereksiku.
Aku mengangkat pinggulku, tapi )iana memukulkan telapak
tangannya pada pahaku. Aku tersentak, sengatan yang kurasakan
pada pahaku membuat libidoku memuncak.
"*idak! "ni bukan untukmu, .ar3is!" gumamnya di atas batangku.
! yeah..."ni menarik.
)iana bangkit dan mengambil sesuatu dari dalam tas karton yang
semalam bisa kupastikan tidak ada di situ. )alu aku melihatnya
mengeluarkan sebuah benda bulat panjang ber,arna hitam, pada
kedua sisi benda itu terdapat tali yang menyerupai ikat pinggang.
)iana memasang benda itu di antara pahanya dan memasang talinya
pada pinggangnya, aku terbelalak. *h shit...&tu D&LD*.
Aku segera meloncat dan berdiri dari ranjangku dan membuka kedua
telapak tanganku di depan dadaku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, "*idak )iana, tidak! 'au
tidak akan melakukan itu padaku."
)iana menyeringai, "7a, aku akan melakukannya. Ayolah
sayang...*idak akan apa-apa." )iana membujukku.
Aku menatapnya ngeri. 0elihat dia yang telanjang bulat, dengan
dildo yang menggantung di pinggangnya, di lain ,aktu mungkin aku
akan terta,a. *api *"%A' untuk saat ini.
#ecepat kilat aku berbalik dan melompat ke kamar mandi.
0embanting pintu kamar mandi dengan keras dan menguncinya dari
dalam.
Aku bersandar pada pintu kamar mandi dan menarik na/as lega.
#esaat setelah aku menghilangkan kepanikanku, aku melangkah
menuju bathtub dan mengisinya dengan air hangat, menuangkan
sabun ke dalamnya, kemudian berendam, menikmati aroma la3ender
yang menenangkan.
Aku mendengar )iana mengetuk pintu dan memanggilku lembut,
membujukku untuk ke luar.
".ar3is...Ayo ke luar sayang..."
"*"%A'!" #ahutku dari dalam.
"Ayolah sayang...Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu yang
berbeda&"
Aku mengernyit jijik mendengar ucapannya, dengan dildo di lubang
duburku& *entu saja *"%A'.
"Aku membacanya di no3el, dan kau pasti akan menyukainya."
.adi gara-gara no3el. Akan kupastikan penulis no3el itu berada di
rumah sakit dalam jangka ,aktu yang lama.
"Ayolah sayang...'eluarlah..."
Aku menenggelamkan tubuhku ke dalam air sebatas leher. 0encoba
tidak mempedulikan )iana yang masih berusaha membujukku.
#ampai lama kemudian, aku tidak mendengar suaranya lagi.
")iana..." (anggilku.
"'au berubah pikiran, sayang&"
Aku mendengus, "*idak."
"Apakah kau akan di kamar mandi seharian&"
"Aku tidak akan ke luar kalau kau masih memakai dildo itu."
%ia terdiam. isa kupastikan dia sedang memikirkan ja,abannya.
"!kay, aku akan melepas dildonya." %ia berbohong!
"'au tahu )iana, kau tidak akan pernah bisa membohongiku."
Aku mendengar dia mengerang, lalu suara benda yang dijatuhkan
dengan kasar.
"#ekarang aku sudah melepasnya, (;A#&!"
Aku tersenyum dan melangkah ke luar dari bathtub. Aku meraih
handuk lalu melilitkannya di pinggangku.
Aku membuka pintu kamar mandi dan melihat )iana yang sedang
memakai bajunya, lalu kulihat dildo itu tergeletak di lantai. Aku
mengambilnya, benda itu terasa kenyal dan lembut.
Aku membuka laci yang berada di dalam lemariku, meletakkan
benda itu dan mengunci lacinya. )alu kuraih kaos dan celana yang
ada di tumpukan terdekat dengan tanganku.
)iana sudah selesai mengenakan bajunya saat aku memakai bo8erku.
".adi...!ne night stand heh&" tanyanya.
Aku melirik kondom yang tergeletak di kaki ranjang, lalu kupakai
kaosku. "'au keberatan&"
%ia terta,a, "*entu saja tidak."
Aku tahu dia berkata jujur.
"7a...#eperti biasa..." Aku mengangkat bahuku acuh. "'au sudah
makan&"
%ia menggeleng, "Aku memba,akan bubur ayam untukmu."
Aku meraih pinggangnya dan membimbingnya ke luar kamar. "'au
memasaknya&"
"'au tahu aku tidak bisa masak."
Aku tersenyum dan dia mengusap rambutku dengan sayang.
ersama )iana, selalu membuatku merasa nyaman. #eperti saat
bersama "bu...atau *ante 0irna, cuma ini sedikit lebih berbeda...
"Aku mendapatkan beasis,a itu." 'ataku ketika sudah duduk di
meja makan.
)iana membelalakkan matanya, "+o,..."tu harus dirayakan."
Aku hanya tersenyum, "*idak usah berlebihan."
"*api itu hebat .ar3is. 7ah, aku tahu kalau kau memang jenius."
Aku menyuapkan suapan terakhir ke dalam mulutku. "Aku tidak
jenius," gumamku.
"'au jenius. .angan merendah."
Aku hanya mengangkat bahuku dan memba,a mangkuk kosong itu
ke tempat cucian piring, lalu mencucinya.
"$gomong-ngomong, masalah pekerjaanmu itu gimana&"
0engelap tangan, aku berbalik menghadapnya. "Aku akan
mengaturnya. anyak orang yang bisa kuliah sambil bekerja."
"*api kau masih sekolah."
"4anya untuk beberapa bulan lagi." )alu aku mendekati kulkas dan
membuka pintunya. "Aku harus berbelanja hari ini, kau mau ikut&"
"*idak. 4enry mengajakku makan siang dengan rekan bisnisnya hari
ini."
'uke luarkan beberapa isi kulkas yang sudah kadalu,arsa dan
mengumpulkannya di sebuah keranjang. "agaimana hubunganmu
dengan 4enry&"
"aik-baik saja kurasa."
"'omunikasi&" Aku menanyakan kelancarannya berkomunikasi
dengan 4enry.
"*idak ada masalah dengan komunikasi kami. %ia selalu manis,
perhatian, dan selalu memba,akan aku bunga setiap pulang ke
rumah."
Aku tersenyum sayang, "%ia sangat mencintaimu, ya."
)iana terdiam.
Aku menghentikan kegiatanku dan berbalik menghadapnya,
"#ebelumnya maa/ ya )iana. *api, apa kamu tidak pernah
mengajaknya 2ke dokter2&" Aku membentuk tanda kutip dengan
kedua jari telunjukku saat mengucapkan 2ke dokter2.
)iana menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi dan menghela na/as,
"4enry tidak ingin penyakitnya diketahui orang lain."
Aku mengangkat keranjang yang berisi makanan dan minuman yang
sudah kadalu,arsa dan membuangnya ke tempat sampah. 0elihat
)iana yang mengernyitkan dahinya dengan tatapan matanya yang
kosong, aku menghampirinya dan mengusap-usap punggung
tangannya.
"#emuanya akan baik-baik saja )iana," gumamku menenangkan.
)iana hanya mengangguk lemah.
---
jantungku. )alu aku melepas kaos yang sudah basah karena keringat
dan beranjak bangun menuju ,asta/el. 'ubasuh mukaku dengan air
dingin, lalu aku mendongak, menatap bayangan seraut ,ajah dengan
rambut ,arna perunggu dalam cermin, yang kembali menatapku
dengan mata birunya yang terlihat lelah.
#ekelebat sosok penuh api menari-nari di pelupuk mataku. 'enapa
mimpi itu tidak pernah mau meninggalkanku&
Aku meraih jubah tidur yang tergeletak pada sandaran kursi dan
memakainya. )alu aku melangkah menuju balkon kamarku.
)angit masih gelap saat aku membuka pintu, dan merasakan angin
dingin yang menerpa ,ajahku. Aku bersandar membelakangi pagar
balkon, menyilangkan tangan di depan dadaku. *atapanku mengarah
pada langit gelap tanpa bintang yang terhampar luas. )angit itu
seperti ji,aku, kelam...tanpa bintang. .i,a yang kosong karena tidak
memiliki hati. Akankah ada bintang yang mau menerangi ji,a tanpa
hati&
Aku masih memiliki hati saat ada "bu. Aku juga masih memiliki hati
saat ada *ante 0irna. 0erekalah penjaga hatiku. 0ereka yang
selalu melindungiku.
Aku menghela na/as panjang, kembali menatap langit yang semakin
gelap. Aku berbalik dan meletakkan tanganku pada pagar balkon,
menjadikannya tumpuan untuk tubuhku yang condong ke depan.
#ebaris kilat muncul di ujung langit, sepertinya akan turun hujan.
Aku benar-benar benci hujan.
---
ab 3
#A"*! &"*L
5 Tahun kemudian...
0alam sudah larut ketika aku memasuki apartemen. 0elepas jas,
aku memasuki kamar dan melemparkannya ke sandaran so/a, dan
menghempaskan tubuhku ke atasnya. 'utekan acak tombol remote
*: dan berhenti pada tayangan /ilm yang sudah berkali-kali
kutonton.
Aku mengecilkan 3olume tele3isi dan beranjak ke kamar mandi.
0engguyur tubuh lelahku dengan air hangat dan membasuhnya
dengan sabun beraroma la3ender yang selalu disiapkan )iana.
#elesai mandi aku kembali ke so/a dan membuka ponselku, ada
beberapa panggilan tak terja,ab dari )iana.
Aku menulis pesan untuk )iana dan mengirimkannya.
Maa+" aku baru menghubungimu. !au sudah pulang' alasan dari
)iana langsung datang.
2aru saa.
3enry di rumah'
Dia sudah tidur. !au mau aku ke sana'
Tidak. &ni sudah malam.
*kay" sampai besok.
Aku menjatuhkan kepalaku ke sandaran so/a, kesibukanku akhir-
akhir ini membuatku jarang bertemu dengan )iana.
#ekarang aku bukan lagi karya,an !m ayu. 'eberuntungan berada
di pihakku saat aku mendapatkan in3estasi dana dari seseorang yang
tidak kukenal melalui !m ayu. !rang itu -aku menyebutnya 0r.>-
menginginkanku menjalankan usaha properti dengan dana yang
sangat minim, dan dia mendapatkan sebagian keuntungannya.
Aku yang masih kuliah saat itu merasa ragu, tapi !m ayu
menyemangatiku. !m ayu mengucapkan satu kalimat yang
membuatku merasakan energi positi/ di dalam dadaku 2*hink ig,
#tart #mall, Act $o,2. 0aka aku menerima tantangan tersebut.
Aku memulainya dengan bantuan !m ayu dan .eremy -anak laki-
lakinya-. 'arena dana yang minim, aku membeli lahan di pinggiran
kota. )ingkungan yang masih asri dan nyaman, dengan banyaknya
pepohonan, membuatku berpikir untuk membangun sebuah rumah
peristirahatan di sana.
Aku bekerja keras setiap hari, di samping kesibukanku sebagai
mahasis,a semester akhir, aku juga harus membagi ,aktuku dengan
proyek yang sedang kukerjakan. Aku pun resmi resign dari
pekerjaanku yang dulu. !m ayu tidak keberatan, dia bahkan
menyuruh .eremy untuk bekerja sama denganku.
;ntuk sementara aku dan .eremy menggunakan apartemenku
sebagai kantor, dan bekerja sepanjang ,aktu. *api kerja keras kami
tidak sia-sia, rumah peristirahatan yang kami bangun terjual dengan
harga /antastis. "tu membuat pemilik modal mempercayai kami dan
menyuntikkan dana yang lebih besar untuk mengembangkan usaha
kami.
#etelah tiga tahun, akhirnya kami berhasil merintis usaha di sektor
properti dengan nama .?0 5roup, dan seperti impianku
sebelumnya, dengan hasil dari jerih payahku, kini aku sudah
memiliki saham meski hanya 13@ di perusahaan ini. .eremy
memiliki saham 1A@ dan !m ayu yang akhirnya ikut berpartisipasi
- di luar perusahaannya sendiri- memiliki saham 1B@. #edangkan
0r. > yang berperan sebagai CC! memiliki saham <A@.
#ekarang kami sudah memiliki kantor sendiri, di lantai 11 sebuah
gedung perkantoran yang cukup bona/ide. 'ami juga merekrut
beberapa orang karya,an yang sudah berpengalaman.
'arena penasaran, aku pernah menanyakan identitas 0r.> kepada
!m ayu, tetapi !m ayu hanya tersenyum dan berkata 2belum
saatnya .ar3is2. #elama ini aku dan .eremy menyerahkan hasil
laporan kami secara online, dan dalam pertemuan online kami, tidak
pernah satu kalipun 0r.> memperlihatkan ,ajahnya.
Aku menguap, melirik jam dinding yang terus berdetak. 4ampir
tengah malam.
Aku mematikan tele3isi dan beranjak ke ranjangku, merebahkan
tubuhku di atasnya dengan pikiran yang melayang tentang apa saja
yang harus kukerjakan besok. )alu aku memejamkan mataku
mencoba untuk terlelap.
---
0atahari bersinar sangat terik siang ini. Aku duduk di sebuah kedai
kopi murahan yang terletak di pinggir terminal, dengan secangkir
kopi hitam pekat di hadapanku. #eorang preman ber,ajah garang
yang mengenakan kaos kumal dengan beberapa lubang di sana-sini,
memperhatikanku dengan pandangan menyelidik, terlihat heran
dengan penampilanku yang sangat berbeda dengan orang-orang
disekitarnya.
Aku yakin dia orang baru di ,ilayah ini. #udah lebih dari lima
tahun, aku selalu menyempatkan ,aktu ke sini, menyendiri dan
duduk di tempat yang sama selama bertahun-tahun. +anita tua
pemilik kedai ini pun sudah sangat ha/al dengan kopi yang selalu
kupesan, kopi hitam tanpa gula.
"ni...seperti sebuah kebiasaan bagiku, mengamati anak-anak belasan
tahun yang memba,a bermacam-macam alat untuk mengamen. %ari
sebuah gitar kecil sampai tutup botol yang dibuat menjadi kecrekan.
(andanganku jatuh pada seorang anak laki-laki lusuh yang terlihat
berbeda dengan temannya, rambutnya yang ber,arna keemasan
tampak berkilau karena terkena sinar mentari. %ia terlihat duduk
menyendiri, menghitung recehan yang dike luarkannya dari sebuah
plastik bekas kantung permen. %i sebelahnya tergeletak sebuah gitar
kecil yang sudah usang.
"tu seperti melihat gambaran diriku sepuluh tahun yang lalu. ukan
secara /isik, tapi lebih pada kondisi.
Aku menyeruput kopi hitamku, rasa pahit kopi menemani pikiranku
kembali ke masa lalu.
%ulu aku adalah seorang anak laki-laki kecil yang di jauhi teman-
temannya karena rambut ,arna perunggu dan mata biru yang aku
miliki. 0ereka mengejekku dengan sebutan 2bule jadah2.
Aku pernah bertanya pada "bu, kenapa aku berbeda dengan anak-
anak yang lainnya...
""tu karena Ayahmu orang .erman, nak." "tu ja,aban "bu. ".ar3is
adalah nama Ayahmu. "bu memberimu nama yang sama dengan
Ayah, agar kau selalu ingat dengan keberadaannya," katanya sambil
mengelus rambutku.
)alu aku bertanya di mana sekarang Ayahku& "bu mengambil sebuah
peta dunia dan menunjuk dengan jarinya sebuah titik kecil yang
bertuliskan .CD0A$, dan "bu juga menunjukkan padaku tempat di
mana kami tinggal, sebuah titik bertuliskan "$%!$C#"A.
Aku mengelus titik yang bertuliskan .erman itu dan bertanya pada
"bu, apakah suatu saat nanti Ayah mau mengajakku ke .erman. "bu
mengelus rambutku dan hanya menatapku sedih, kemudian dia
membereskan peta itu, tanpa menja,ab pertanyaanku.
#etelahnya aku melihat "bu menangis di kamar, dan sejak saat itu,
aku tidak berani menanyakan Ayahku lagi.
#aat tinggal bersama !m enny, setiap siang aku mengamen.
0engumpulkan recehan demi untuk menyenangkan hatinya, agar
aku tetap diijinkan untuk sekolah.
#ekolah adalah satu-satunya tempat yang bisa mengalihkan
pikiranku dari kesedihan karena ditinggal "bu.
#elain mengamen, aku juga menjadi kuli pasar. #etiap hari, aku akan
bangun pagi-pagi sekali, berjalan kaki ke pasar yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari rumah !m enny.
Aku selalu jadi yang pertama datang, dan postur tubuhku yang
terlihat lebih besar daripada anak-anak yang lain membuatku
menjadi pilihan pengunjung pasar untuk memba,akan belanjaannya.
)anggananku banyak, itu karena aku selalu bersikap sopan.
(enampilanku juga tergolong rapi dibanding anak-anak yang lain,
memakai pakaian -meskipun usang- yang selalu kucuci bersih.
)alu jika sore menjelang malam, aku akan berkeliling ke daerah-
daerah yang jauh dari tempat tinggalku. 0engamati orang-orang dan
mengambil kesempatan apabila orang itu lengah, aku mengambil
dompet miliknya, menjadi copet dadakan. #aat itu, aku tahu itu
salah. *api mendapatkan uang adalah moti3asi utamaku. *erutama
jika aku ingin menghindar dari siksaan !m enny.
!m enny sangat senang apabila aku pulang dengan memba,a uang
yang banyak untuknya. %ia tidak akan memukuliku.
#isa ,aktuku, kuhabiskan di kamarku. #ebuah petak kecil yang
hanya cukup untuk selembar kasur tipis adalah kamarku. Aku
menenggelamkan diriku dengan belajar. 0empelajari apa saja,
bahkan yang belum diajarkan di sekolah.
#uara teriakan kenek bis berlogat atak yang sangat kencang
menarikku ke luar secara paksa dari lamunan panjangku. 'opiku
pun sudah tidak lagi mengepul.
Aku berdiri, mengeluarkan selembar ratusan ribu dari dompetku dan
meletakkannya di atas meja, lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
erjalan menuju mobil yang sengaja kuparkir agak jauh dari kedai.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi,
memposisikan tubuhku senyaman mungkin. )alu bersiap untuk
menstarter ketika ponselku bergetar, menunjukkan adanya sebuah
pesan masuk. Aku membuka pesan itu. %ari .eremy.
'e sini sekarang juga. %i ca/e biasa.
Aku mengetikkan jariku dengan cepat, membalas pesannya.
'emudian melajukan mobilku menuju ca/e yang di maksud .eremy.
.eremy bukan hanya rekan bisnisku, tapi dia juga satu-satunya
temanku.
(onselku berdering saat aku memasuki ca/e tempat kami bertemu.
*api sebelum aku mengangkat ponselku, aku sudah melihatnya di
salah satu meja di sudut ruangan.
Aku mematikan ponselku dan berjalan menghampirinya. %ia terlihat
kesal, dan mau mencoba menghubungiku lagi, namun kedatanganku
menghentikannya.
")ama sekali," gerutunya kesal.
*anpa mempedulikan kekesalannya, aku memesan minuman kepada
pelayan yang menghampiri kami. #ecangkir co//ee latte.
"*adi dia di sini." 'ata .eremy.
"#iapa&" Aku tidak mengerti.
"Ale8, dia gadis yang aku ceritakan kemarin."
Aku bahkan tidak ingat dia menceritakan seorang gadis.
Aku mendengus, "'au menyuruhku kemari hanya untuk melihat
seorang gadis&"
"%ia berbeda," gumamnya.
"#emua perempuan sama saja."
""tu karena kamu belum pernah melihatnya."
Aku mengangkat kedua bahuku, lalu mulai menyeruput co//ee latte
yang kini sudah ada dihadapanku. (aduan rasa manis, pahit, dan
gurih dalam satu sesapan, menghilangkan rasa pahit akibat kopi
hitam tanpa gula yang tadi aku minum di kedai terminal.
"'urasa, kau harus mulai berkencan."
Aku terkekeh mendengar ucapannya, "'au paling tahu kalau aku
ahlinya berkencan."
"0aksudku, diluar )iana dan one night stand-mu."
Aku mengangkat sebelah alisku, mempertanyakan maksudnya.
%ia menggerakkan kedua telapak tangannya, memutar seperti
putaran roda di depan dadanya, "4ubungan yang lebih serius."
;capannya membuatku tersedak co//ee latte yang baru saja
kuseruput. 'emudian aku tergelak, "'au mau membuatku pensiun
karena bosan mempunyai saingan he&"
"Aku serius, aku tidak suka melihatmu terus bersama )iana. %ia
perempuan bersuami."
"#uaminya impoten."
"ukan berarti kau bisa bercinta dengan "strinya." #eru .eremy
marah, mukanya memerah, membuatku bertanya-tanya apa yang
membuatnya marah.
.eremy terlihat berusaha menenangkan dirinya, "#udahlah.
)upakan," gumamnya.
;capan .eremy mengusik pikiranku, )iana dan 4enry memang
memiliki masalah internal. *api .eremy benar, aku tidak bisa
menggunakan keadaan #uaminya sebagai alasan pembenaran diri
atas perbuatanku. *idak seharusnya aku terus bersama )iana. *api
apakah aku sanggup meninggalkannya yang begitu tergantung
padaku&
"#epertinya mau turun hujan." .eremy menatap kosong ke luar
jendela. Aku mengikuti arah pandangan .eremy. *erlihat gelap
diluar, mentari yang tadi bersinar terik, kini tertutup a,an kelabu
yang sangat tebal. #udah pasti hujan akan turun dengan sangat lebat
sebentar lagi.
"(asti hujan yang sangat lebat," gumamku.
"#orry, aku harus pulang." Aku beranjak berdiri.
.eremy hanya mengangguk. 0ukanya masih terlihat keruh.
$pa yang dipikirkannya' 4adis itukah'
Aku menepuk bahunya pelan sebagai ucapan selamat tinggal, lalu
melangkah meninggalkannya. %engan bergegas aku ke luar dari ca/e
dan setengah berlari menuju mobilku.
aru saja aku duduk di kursi mobil, ketika langit mencurahkan hujan
dengan sangat derasnya. Aku menghela na/as panjang, menyalakan
mobilku dan melaju ke luar dari parkiran ca/e.
*idak suka terlalu lama berada di tengah hujan, aku sengaja memilih
jalan memutar untuk menghindari kemacetan. .alan kecil yang
jarang dilalui kendaraan, dengan pohon-pohon besar di kiri dan
kanannya. #ebagian daun pohon tersebut menutupi jalanan,
membuat suasana terlihat semakin suram.
Aku menatap lurus ke depan, kulihat dari kejauhan sesosok tubuh di
tepi jalan, berdiri di tengah hujan. (enasaran dengan sosok itu, aku
memelankan laju mobilku.
#aat mobilku semakin dekat, aku baru menyadari bah,a sosok itu
adalah seorang gadis. 5adis itu membelakangiku, tangannya
terentang ke samping dan kepalanya mendongak ke atas.
Aku semakin memelankan laju mobilku ketika mele,ati gadis itu.
%ari kaca spion, aku melihat mata gadis itu terpejam. ibirnya
menyunggingkan sebuah senyuman yang tidak akan kulupakan.
+ajah lembutnya terbingkai rambut ber,arna coklat yang dikepang
menyamping mele,ati bahu kirinya. #edangkan tetesan air hujan
yang mengenai tubuhnya membias, membentuk kabut putih yang
menyelimuti sosoknya.
%ia terlihat menyatu dengan hujan.
Aku menahan keinginanku untuk berbalik ketika pandangan mataku
tidak bisa menangkap sosoknya lagi.
0encoba menepiskan bayangan gadis itu, aku mempercepat laju
mobilku menuju apartemen.
---
Aku memasuki kantorku, sebuah ruangan yang cukup luas dengan
banyak jendela lebar pada dindingnya. +arna coklat dan hitam
mendominasi /urniture ruang kerjaku, berpadu dengan dinding yang
dicat ,arna putih keseluruhannya. 0emberikan kesan tegas dan
maskulin pada ruangan ini.
*idak ada gambar atau lukisan pada dinding kantor, aku tidak
menyukainya. *erlalu ber,arna, dan tampak tidak teratur.
#ebuah so/a kulit type bernardi ,arna putih dengan meja kaca dan
karpet tebal yang ber,arna senada dengan so/anya berada di tengah
ruanganku, dan di salah satu dinding kantor terdapat sebuah pintu
kaca hitam yang menghubungkan ke ruangan meeting.
Aku duduk di kursi kerjaku dan mulai mengeluarkan laptop dari
dalam tas. 0enunggu laptop menyala, aku meraih berkas-berkas
yang disiapkan Denata di mejaku.
Aku mencoba untuk mempelajari berkas-berkas itu, tapi pikiranku
sama sekali tidak bisa /okus. 'arena kesal, aku melemparkan berkas
itu ke atas meja dan menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi.
0ataku terpejam, bayangan gadis itu terekam dalam ingatanku.
0embuatku tidak bisa memikirkan hal yang lainnya.
"'enapa kau&"
Aku membuka mata dan menegakkan tubuhku, merasa terkejut
karena tidak menyadari kehadiran .eremy yang kini sudah berada di
depanku.
"*idak apa-apa."
.eremy mendekatiku dan duduk di depanku, "'au terlihat kacau."
Aku hanya menggeleng, dan meraih berkas yang tadi kulemparkan
ke atas meja. "Aku hanya bingung dengan berkas-berkas ini,"
gumamku.
"!h ayolah, kau tidak pernah bingung dengan berkas-berkas
manapun. (asti ada sesuatu denganmu."
Aku menghela na/as putus asa. .eremy tidak akan pernah bisa
dibohongi. 'adang aku berpikir, kenapa dia tidak jadi polisi saja.
"Apa&" desaknya.
Aku meletakkan kembali berkas yang tadi kupegang, dan melipat
kedua tanganku di depan dada. "!kay, tapi aku akan membunuhmu
kalau kau menerta,akanku."
"Aku tidak akan menerta,akanmu," katanya serius.
"+ell, ini terdengar tidak masuk akal," suaraku terdengar gugup.
"Aku melihat seorang gadis..."
Aku menghentikan ucapanku dan menyipitkan mataku ketika
melihat sudut bibir .eremy berkedut.
")upakan!" entakku kesal.
.eremy terbahak, "0aa/, maa/ bro..." %ia terlihat susah payah
mengucapkan kalimat itu di tengah-tengah ta,anya.
Aku tidak mempedulikannya dan kembali membaca berkas-berkas
yang ada di mejaku.
"Aku minta maa/," kata .eremy ketika ta,anya mereda. "#ekarang
lanjutkanlah."
"*idak akan," gumamku.
"Ayolah, aku bersumpah tidak akan terta,a lagi."
"0akan tuh sumpah!"
"'au benar-benar marah ya&" .eremy terlihat sangat menyesal.
"!kay, jangan bercerita jika kau tidak ingin. *api itu tadi hanya
reaksi spontan. #ebelumnya aku tidak pernah melihatmu
memikirkan seorang gadis, tapi hari ini kau terlihat kacau karena
bertemu seorang gadis. #ejujurnya aku sangat senang."
"'au senang melihat aku kacau&"
"!h ayolah, kau tahu bukan itu maksudku."
'ami terdiam beberapa saat, .eremy meraih beberapa berkas yang
ada di mejaku dan membacanya.
"Aku melihatnya di tengah-tengah hujan kemarin," gumamku,
membuat .eremy menghentikan kegiatannya.
"%ia...terlihat sangat menikmati hujan, dan itu menggangguku."
"'arena kau tidak menyukai hujan."
"'arena aku membenci hujan," ralatku. "*api gadis itu terlihat
sangat menyatu dengan tetesan air hujan yang jatuh mengenai
tubuhnya."
.eremy mendengarkanku dengan seksama.
"'au tahu& Aku menyukai cara gadis itu mendongakkan kepalanya,
dengan senyuman di bibirnya. %ia bahkan tidak memperhatikan
sekelilingnya, matanya terpejam. 'abut putih yang menyelimuti
tubuhnya, membuatku berpikir...Apa dia seorang peri& (eri hujan
mungkin..."
"'au jatuh cinta padanya."
(ernyataan .eremy membuatku tersentak, "*entu saja tidak."
.a,abku cepat. "Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan seorang
gadis yang baru kulihat."
.eremy tersenyum simpul, "0ungkin," gumamnya.
'ami terdiam sesaat.
"'emarin kau bercerita tentang seorang gadis. 'au menyukainya&"
*anyaku mengalihkan perhatian .eremy.
0endadak .eremy terlihat bersemangat, "7a. $amanya Ale8, dia
sangat cantik. 'urasa aku akan mencoba serius dengannya."
"+o,, dia pasti sangat spesial."
"%ia istime,a. #elama ini aku belum berani mendekatinya, tapi
kupastikan, hari ini aku bisa berkenalan dengannya. 'au harus ikut
denganku."
Aku mengangkat sebelah alisku.
"#ore ini, ikut denganku. %i ca/e biasa." )alu .eremy berdiri, "'au
akan melihatnya nanti." %ia melirik jam tangannya, "Aku harus
pergi. #ampai nanti," katanya sebelum beranjak meninggalkanku.
Aku hanya menatap punggungnya sampai dia menghilang dari
ruanganku.
---
'ami memasuki ca/e dan menuju meja yang paling sudut. *empat
biasa aku dan .eremy duduk jika ke sini.
Aku menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya, .eremy duduk di
sampingku.
"%ia ada di sana." isik .eremy, sudut matanya melirik ke sebuah
meja di tepi jendela besar yang tidak begitu jauh dari meja kami.
Aku melirik ke meja yang dimaksud .eremy. Ada empat orang gadis
di sana. #eorang gadis langsung menarik perhatianku, dan membuat
jantungku berdetak lebih cepat. "tu peri hujan yang kemarin.
5adis itu terlihat sangat bosan, kedua tangannya menopang dagu,
pandangannya kosong ke arah jendela lebar yang ada di sampingnya.
#eperti kemarin, rambut coklatnya dikepang asal menyamping
mele,ati bahunya, agak berantakan memang, tapi terkesan natural.
Cahaya mentari sore yang masuk dari jendela besar di sampingnya,
membuat sosoknya membayang, membentuk siluet yang bersinar.
%ia memang seorang peri...
"'au sudah melihatnya&" (ertanyaan .eremy mengalihkan
perhatianku dari gadis itu.
"#iapa&"
"Ale8, dia gadis berkepang yang duduk di sebelah jendela."
*idak mungkin...
"Aku melihatnya beberapa hari yang lalu di ca/e ini. %ia terlihat
sangat berbeda, kau tahu&"
*entu saja aku tahu.
Aku melihat kedua teman Ale8 berdiri, berbicara dengan Ale8 dan
melangkah ke luar sambil melambaikan tangannya kepada Ale8 dan
seorang temannya yang masih berada di situ.
*iba-tiba .eremy berdiri, "Aku akan menemuinya." )alu sebelum
aku mencegahnya, dia sudah menghampiri meja Ale8.
Aku hanya memperhatikannya dari mejaku, kulihat .eremy mencoba
berbicara dengan mereka, kemudian menoleh ke arahku dan
melambaikan tangannya.
Apa yang dia lakukan&
%engan enggan aku menghampiri mereka. erkenalan dengan
seseorang bukanlah kebiasaanku.
.eremy sudah duduk di depan Ale8 ketika aku sampai di meja
mereka, dan duduk di samping .eremy.
""ni .ar3is." .eremy memperkenalkan aku kepada mereka.
*eman Ale8 mengulurkan tangannya padaku dengan senyuman lebar
yang berlebihan. "Aku #andra," katanya.
Aku membalas uluran tangannya sekilas dan hanya tersenyum tipis.
"%ia Ale8." #andra menunjuk Ale8. "Ale8a, tapi kami biasa
memanggilnya Ale8.
$amanya Ale8a...*erdengar seksi di telingaku.
"Ale8a. "tu nama yang seksi," gumam .eremy.
#ejak kapan .eremy bisa membaca pikiranku&
Ale8a tersenyum, namun senyumnya tidak sampai ke matanya.
'emudian dia mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.
"Apa yang menarik di luar sana&" gumamku, membuat Ale8a
tersentak.
Ale8a berpaling menatapku, mata coklat lembutnya yang besar
menatapku tajam. Aku berpikir dia akan mengucapkan kata-kata
pedas padaku, tapi aku salah.
"anyak hal yang bisa di lihat, tergantung dari sudut mana kau
memandangnya."
%ia gadis yang cerdas.
Aku menatap matanya, pandangan kami bertemu dan aku tidak bisa
melepaskan mataku dari tatapannya. *idak ada senyum yang
kemarin kulihat pada bibirnya yang membuatku terpesona, tapi aku
tersesat pada ke dalaman mata coklatnya.
"Ale8 memang aneh." ;capan #andra membuatku dan Ale8a
tersadar dan melepaskan tatapan kami. "%ia menyukai apa yang
orang lain tidak sukai, dan dia mengerjakan apa yang orang lain
hindari."
*eman seperti apa yang membicarakan temannya seperti itu&
"0engerjakan yang orang lain hindari&" .eremy terdengar tertarik.
"7ah, seperti berdiri di tengah hujan misalnya..."
#eketika aku berpaling ke arah .eremy, dan melihat ,ajahnya
memucat.
".adi...Ale8 itu, peri hujanmu&" gumamnya kepadaku.
"(eri hujan&" *anya #andra penasaran.
Aku gugup ketika Ale8a juga menatapku penuh tanda tanya.
"+ell, ini menarik..." gumam .eremy.
"'urasa, kita harus pergi." Aku menarik tangan .eremy
menyuruhnya berdiri sebelum dia mengatakan semuanya.
.eremy masih setengah bingung ketika aku menggeretnya ke luar
dari ca/e dan mengajaknya berjalan ke tempat parkir. $amun dia
kembali tersadar saat kami memasuki mobil.
*anpa banyak bicara aku menjalankan mobilku. 0engemudikannya
secepat yang kubisa. 0encoba menghentikan debaran aneh yang kini
menggangguku.
Aku menepikan mobilku ketika sudah cukup jauh dari ca/e, melepas
sabuk pengamanku dan menjatuhkan kepalaku ke sandaran kursi.
"+o,, ini hebat. 'au tidak pernah tertarik pada seorang ,anita, dan
saat kau menyukai seorang gadis, dia gadis yang sama dengan gadis
yang kusukai."
""tu tidak benar," gumamku. "Aku tidak menyukai gadis itu."
Aku tidak yakin dengan apa yang aku ucapkan.
#esaat kami terdiam. *iba-tiba .eremy terta,a terbahak-bahak,
membuatku menoleh dan menatapnya heran.
"'au menyedihkan, ro." %ia berkata disela-sela ta,anya.
Aku mengerutkan keningku.
.eremy berusaha menghentikan ta,anya, dia memegangi perutnya,
dan itu membuatku merasa kesal padanya. 0emangnya apa yang dia
terta,akan&
"*idak, aku tidak akan mengatakannya padamu."
"0engatakan apa&" *anyaku penasaran.
.eremy hanya menggeleng, "7ang pasti, itu akan menyiksamu. %an
itu membuatku senang." .eremy menyeringai, merasa senang dengan
apa yang dia pikirkan.
Aku mendengus kesal dan kembali menjalankan mobilku. Apapun
yang .eremy pikirkan, itu tidak akan berpengaruh padaku. Apa yang
bisa lebih menyiksaku daripada kejadian masa laluku&
---
ab E
'A("+, +E-AL"
aru beberapa saat yang lalu aku dan .eremy memasuki nightclub
ini, tapi aku sudah merasa sangat bosan. 0usik menghentak, yang
biasanya membangkitkan adrenalinku kini tidak berpengaruh apa-
apa pada diriku. eberapa gadis seksi yang mencoba main mata
padaku sama sekali tidak menarik perhatianku.
"'au kenapa, bro& 0emikirkan Ale8&"
*ubuhku menegak, "*idak." antahku cepat.
.eremy terkekeh, kemudian dia memanggil ,aitress dan memesan
minuman.
%ua orang gadis menghampiri kami dan tersenyum menggoda.
"#epertinya kalian butuh teman." 'ata salah seorang di antara
mereka.
"7a..."
"*idak!"
Aku dan .eremy menja,ab berbarengan, membuat kami saling
bertatapan. Aku melotot padanya dan menggelengkan kepalaku.
.eremy menatap kedua gadis itu penuh penyesalan, ")ain kali,
okay&" katanya pada mereka.
'edua gadis itu hanya mengangkat bahunya acuh dan meninggalkan
kami.
+aitress datang memba,akan dua botol .ack %aniel2s pesanan
.eremy. .eremy meraihnya dan menyerahkan satu botol padaku,
"0alam yang indah untuk mabuk, bro." katanya.
Aku menerima botol itu.
.eremy meneguk .ack %aniel2s yang ada di tangannya langsung dari
botol. "Ada apa denganmu&" tanyanya.
Aku hanya menggeleng.
"'ita ke sini untuk bersenang-senang, dan kau mengacaukannya.
erapa gadis yang sudah kau tolak&" .eremy meneguk minumannya
lagi. "'alau kamu seperti ini terus, aku akan meninggalkanmu.
'urasa gadis berbaju merah itu tertarik padaku, aku akan
mengajaknya bercinta."
Aku melirik gadis yang dimaksud .eremy, seorang gadis dengan baju
yang menempel ketat pada tubuhnya, terlihat sedang bermain mata
dengan .eremy.
Aku mendengus kesal, "ukankah kau tertarik dengan Ale8a&
'enapa sekarang memikirkan untuk bercinta dengan gadis lain&"
"Aku berubah pikiran." .eremy berpaling dan menatapku,
"'upikir...%ia lebih cocok untukmu."
Aku membelalakkan mataku, "Apa maksudmu&"
"Akui saja bro," .eremy mengalihkan pandangannya. "'au jatuh
cinta pada Ale8. Cinta pada pandangan pertama."
Aku mengerutkan keningku, jatuh cinta& (ada Ale8&
""tu tidak mungkin."
"'enapa tidak&"
"Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, aku tahu itu."
.eremy terta,a mengejek, "'au sudah pernah jatuh cinta& (ada
siapa he& )iana&"
Aku mengernyitkan dahiku, tidak senang mendengar ucapan .eremy.
".angan bicara seperti itu tentang )iana. Aku menghormatinya."
.eremy kembali terkekeh, "0enghormati sebagai apa& #ebagai *ante
girang& Atau sebagai "bu& "bu yang kau tiduri."
Aku meraih kerah bajunya dan mencengkeramnya kuat-kuat, kata-
katanya benar-benar membuatku marah. "rengsek kau .eremy. Apa
masalahmu he&"
eberapa bodyguard club mulai memperhatikan kami.
"#orry bro. *enang, okay&" .eremy berusaha melepaskan tanganku
dari kerah bajunya.
Aku melepaskan tanganku dan menghempaskan punggungku ke
sandaran so/a. "Apa masalahmu, bro&" *anyaku. "'au tidak
menyukai )iana, okay. *idak masalah selama kau tidak
menghinanya dihadapanku." Aku meraih botol .ack %aniel2s-ku dan
menenggaknya sampai isinya tinggal setengah.
.eremy merapikan kerah bajunya. "!kay, aku kele,atan. Aku hanya
tidak suka kau tidak mengakui perasaanmu. 'au tahu kan, aku
tertarik pada Ale8& *api aku berhenti mendekatinya, karena kupikir
kau tertarik padanya."
"Aku tidak tertarik padanya!" antahku cepat.
"'au tidak tertarik padanya&" .eremy mengulangi pernyataanku.
"'au sudah mendengarnya." Aku menegaskan lagi.
"!kay. .adi tidak masalah kalau aku mendekatinya&"
Aku menggeleng, lalu aku menenggak minumanku lagi,
mengabaikan denyutan nyeri yang terasa di dadaku.
.eremy menyeringai, kemudian dia juga menenggak minumannya.
Aku tidak tahu lagi berapa banyak aku minum. Aku mulai tidak
sadar dengan apa yang kulakukan, aku hanya mendengar samar-
samar .eremy berbicara.
"4entikan bro, kau mabuk. Ayo, kuantar kau pulang. 7a..ya, aku
tahu...%asar kau ini..."
%an kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
---
)angkah kaki yang berderap dari kejauhan mulai mendekat. Aku
yang terperangkap dalam tubuh kecilku meringkuk di sudut ruangan
yang terlihat sangat gelap dan suram.
.angan lagi, kumohon jangan lagi..."bu, "bu...*olong aku...
)alu aku melihatnya menghampiriku. 0ulut jahatnya menyeringai
kepadaku. %ia semakin dekat denganku...#eringaiannya semakin
lebar, aku ingin berteriak, tapi lidahku terasa kelu.
*angannya yang besar menggenggam sesuatu yang berkilat, itu
terlihat...tajam. )alu dia menempelkan benda tajam itu pada pangkal
leherku, terasa dingin di kulit leherku yang tipis.
Aku menjerit ketika dia menggoreskan benda itu melintang pada
dada kiriku. 0embuat kaos putih usang yang kukenakan sobek dan
membentuk garis ber,arna merah. )alu tiba-tiba...+arna merah
pada kaosku berubah menjadi api yang membara, menyambar tubuh
yang berada di depanku. *ubuh itu menggeliat kepanasan...
Aku tersentak dan terbangun dari tidurku, dan tersadar bah,a itu
hanyalah mimpi. Aku menarik na/as karena lega.
Aku membuka mataku, dan langsung memicingkan mata karena
silau dengan cahaya matahari yang sudah bersinar terang. 'epalaku
langsung terasa sakit saat aku mencoba untuk bangun.
0emperhatikan sekeliling, aku baru menyadari bah,a ini adalah
kamarku.
"'au sudah bangun..."
Aku mengerjapkan mataku heran, kenapa )iana ada di sini&
#eperti bisa membaca pikiranku, )iana berkata, "#emalam .eremy
menghubungiku, dia bilang kau mabuk." 'emudian dia
menyerahkan baki yang berisi secangkir kopi dan aspirin. ";ntuk
meredakan pusing akibat alkohol," katanya.
"Apa yang terjadi&" *anya )iana setelah aku meminum aspirinnya.
Aku menggelengkan kepalaku, "4anya sedikit bersenang-senang,"
gumamku, dan kemudian aku meletakkan baki itu pada meja
samping ranjangku.
"#iapa itu 2?airy2&" tanyanya membuat aku langsung berpaling ke
arahnya.
)iana menatapku menyelidik.
"%arimana kau tahu& .eremy&"
)iana terta,a sumbang, "Aku bahkan tidak bertemu .eremy. 'au
menyebutnya semalaman, dan kau juga mengatakan bah,a kau jatuh
cinta padanya. enarkah&" )iana mengangkat sebelah alisnya,
meminta kepastian dariku.
Aku mengatakan itu& "'urasa, aku butuh mandi," gumamku
menghindar untuk menja,ab, lalu aku beranjak untuk bangun.
".ar3is!" (anggilan )iana membuatku terpaku. "'au tidak pernah
seperti ini sebelumnya, apakah gadis itu sangat berarti buatmu&"
Aku tidak tahu. Aku bahkan baru mengenalnya.
*anpa menja,ab pertanyaannya, aku melangkah menuju kamar
mandi. 0enyalakan sho,er dan membiarkan air dingin mengguyur
kepalaku. 0enyegarkan pikiranku. Aku mencoba mengingat apa
yang kubicarakan bersama .eremy sebelum aku mabuk.
Cinta pada pandangan pertama...Apakah aku jatuh cinta pada Ale8a&
"tu tidak mungkin. Aku membuang pikiran itu jauh-jauh dan
mencoba mengalihkan perhatianku dengan lebih /okus pada apa
yang kulakukan.
0engingat aku sudah menyakiti )iana -hal yang paling tidak ingin
aku lakukan-, aku menyelesaikan mandiku cepat-cepat, dan segera
ke luar dari kamar mandi.
)iana sudah tidak ada di kamarku, maka aku bergegas memakai *-
shirt dan meraih celana denimku, lalu memakainya sambil berjalan.
Aku ke luar dari kamar dan mencari )iana.
")iana..." (anggilku.
"Aku di sini."
Aku mendengar suaranya dari kamar khusus. Apa yang dia lakukan&
Aku membuka pintu kamar khusus dan melihatnya sedang
mengepak lingerie-lingerienya yang tergantung di lemari.
Aku mendekatinya, "Apa yang kau lakukan&" *anyaku.
"Aku harus menyimpan lingerie ini." ja,abnya tanpa melihat ke
arahku.
"'enapa&"
)iana menatapku, "'au mungkin akan mengajak gadismu ke sini,
akan mengherankan kalau ada banyak lingerie di lemarimu." )iana
kembali pada kegiatannya semula. "0ungkin kau juga tidak
membutuhkanku lagi," gumamnya sedih.
*idak tahan dengan kesedihannya, aku meraih tumpukan lingerie itu
dan menggantungnya kembali ke dalam lemari. "!mong kosong,"
gumamku, "Aku tidak akan memba,a pulang gadis manapun, jika
itu membuatmu sedih )iana."
"!h .ar3is, aku tidak pernah keberatan melihatmu bersama one night
stand-mu. *api ini berbeda, aku baru mendengar namanya dan aku
merasa sudah kehilanganmu."
Aku berbalik dan menarik pinggangnya hingga tubuhnya menempel
padaku. 0enutup bibirnya yang gemetar dengan jariku dan
menatapnya tajam, "Aku milikmu )iana, hanya milikmu."
0engabaikan rasa pedih yang tiba-tiba muncul dari dalam dadaku,
aku mencium bibir )iana liar. 0elumatnya dengan rakus untuk
menghapus rasa bersalahku padanya.
0eski aku sendiri merasakan sakit yang menyengat saat
mengingkari hatiku. 4ati yang entah sejak kapan sudah berada
kembali dalam dadaku.
0embuatku merasakan sakit saat memeluk )iana, dan membuatku
merasakan nyeri saat aku mencumbu )iana.
'uangkat tubuh )iana, dan merebahkannya di atas ranjang.
"Aku mencintaimu .ar3is. Cntah sejak kapan, aku
membutuhkanmu." ;ngkapan cinta dari )iana meremas jantungku.
Aku mencium leher )iana, dan reaksi )iana sungguh
mengejutkanku.
%ia menggelinjang dan mendesah, "#entuh aku .ar3is, yakinkan
hanya aku milikmu..."
Aku menurutinya, menyentuh setiap jengkal tubuhnya.
0embelainya dan memba,anya naik sampai tepian batas. Aku
menyetubuhinya dengan pakaian yang masih melekat pada tubuh
kami.
)alu...'etika kejantananku berada di dalam ke,anitaan )iana,
perasaan marah melingkupiku. Dasa sedih dan tak berdaya
membuatku melakukannya dengan kasar.
Aku menghujamkan ereksiku kuat-kuat, saat )iana menarik pantatku
ke arahnya, aku merasakan orgasme )iana, tapi itu belum cukup
untuk membuatku orgasme.
(erasaan /rustasi dikarenakan rasa marah yang tiba-tiba muncul
memenuhi dadaku. 0enimbulkan rasa nyeri yang sangat parah,
membuatku merasa putus asa dan membalikkan tubuhku hingga
telentang, tanpa menginginkan penyelesaian.
$amun aku merasakan )iana menaikiku, dan aku memejamkan mata
saat merasakan lidah lembut )iana menelusuri ereksiku.
Cntah kenapa aku melihat Ale8a dalam bayanganku, berada di
atasku dan bermain dengan ereksiku. 0ata coklatnya menatapku
lembut, bibir tipis dan merah mudanya terlihat menggairahkan di
atas kejantananku.
Aku mengerang, merasakan gairah yang luar biasa saat ereksiku
masuk ke dalam mulut mungilnya.
'uraih kepalanya dan menahannya di atas kejantananku, "Ale8a..."
Aku menyebut namanya bagai doa dan menyemburkan orgasmeku
pada mulutnya.
#esaat tubuhku terasa melayang, namun aku kembali terhempas saat
merasakan tubuh yang menegang di atasku. Aku tersadar bukan
Ale8a yang bersamaku. *api )iana.
Aku membuka mataku dan melihat )iana menatapku sedih dengan
spermaku yang masih membasahi bibirnya. (erasaan bersalah
langsung menderaku.
Aku melepaskan tanganku dari kepalanya dan menariknya dalam
pelukanku.
"0aa/kan aku..." gumamku.
*api )iana menarik diri dari pelukanku, ""t2s okay. *idak apa-apa
.ar3is."
Aku merasa tidak berdaya.
Ale8a...Apa yang kau lakukan padaku&
)iana merapikan pakaiannya yang kusut, kemudian dia turun dari
ranjang.
")iana..."
)iana hanya mengangkat tangannya, mengisyaratkan kata 2tidak apa-
apa2 dan masuk ke kamar mandi.
Aku mengikutinya, melihatnya menyiapkan air hangat pada bathtub.
(erlahan dia melepas pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub.
"'emarilah," bisiknya. "*emani aku berendam."
Aku melepas pakaianku dan menyusulnya. %uduk di belakangnya
dan memeluk perutnya, menarik punggungnya hingga menempel
pada dadaku.
"Ceritakan tentang dia..." gumamnya.
Aku terdiam, hanya meletakkan daguku pada bahunya.
"$amanya Ale8a ya& %ia /airy-mu."
Aku menggeleng, "%ia bukan siapa-siapaku."
#esaat )iana terdiam, dan kemudian mengucapkan kalimat yang
sama sekali tidak ingin aku dengar.
".ar3is...Aku berpikir untuk meninggalkan 4enry."
Aku mempererat pelukanku. "'enapa&"
)iana mendesah, "'au tahu kenapa."
"Aku tidak ingin kamu meninggalkan 4enry karena aku," gumamku.
"%ia sangat mencintaimu."
"Cintanya tidak cukup untukku, .ar3is." )iana memajukan tubuhnya
dengan tetap menempelkan punggungnya pada dadaku, hingga dia
setengah tiduran di atas dadaku. "Aku mendambakan cintamu."
Aku kembali terdiam.
"*inggallah bersamaku, .ar3is. Aku akan bercerai dengan 4enry, dan
kita bisa menikah."
#anggupkah aku menolak )iana&
".ar3is..." )iana mendongak, menatap mataku sendu. ibirnya yang
penuh terbuka dan bergetar, menungguku untuk melakukan sesuatu.
Aku merasa sesuatu yang tumpul dan berkarat menusuk jantungku.
Aku tidak akan bisa menolak )iana, setelah apa yang dia lakukan
untukku selama ini. Aku tidak memiliki kekuatan untuk itu.
0enghapus rasa perih yang diakibatkan tusukan itu, perlahan aku
mendekatkan bibirku pada bibirnya. .arak bibir kami hanya tinggal
beberapa inch, ketika suara bel pintu apartemen berbunyi.
0embuatku bergerak canggung dan menjauh dari )iana.
"Aku harus ke luar," gumamku. )alu aku berdiri, melangkah ke luar
dari bathtub dan meraih pakaianku. *ergesa-gesa mengenakannya
tanpa mengeringkan tubuhku.
Aku melangkah ke luar dari kamar mandi untuk membuka pintu.
Ada perasaan lega dalam hatiku, ketika aku bisa menghindar dari
)iana...saat ini.
Aku membuka pintu apartemen dan melihat .eremy berdiri di depan
pintu dengan seringaiannya yang lebar.
"4ai bro," katanya sambil melangkah masuk. "Aku memba,akanmu
bubur ayam kesukaanmu." %ia mengangkat tas plastik yang
tergantung di tangannya.
'ututup pintu apartemen dan berpaling ke arah .eremy.
"agaimana keadaanmu& 'upikir setelah kejadian semalam,
kamu..."
.eremy tertegun ketika melihat )iana menghampiri kami hanya
dengan menggunakan jubah mandinya.
)alu dia memandangi aku dan )iana bergantian, "+ell, kurasa
sekarang kau baik-baik saja," gumamnya. %ia meletakkan tas plastik
berisi bubur ayam itu di atas meja, "0aa/ aku mengganggu, lain kali
saja aku mampir lagi." )alu .eremy beranjak menuju pintu.
"*inggallah .eremy." Aku mencegah .eremy. "*inggallah di sini dan
sarapan bersama kami."
.eremy berbalik dan memandangku, kemudian dia memandang
)iana dengan tatapan tidak suka. "Aku ingin tinggal, tapi aku hanya
membeli bubur untuk dua orang."
)iana menatap .eremy tajam, "Aku akan pergi," gumamnya, lalu dia
berbalik meninggalkan kami.
")iana..." Aku mengejarnya dan mencekal lengannya, "'amu tidak
harus pergi."
"*idak apa-apa .ar3is, aku memang harus pergi. $anti malam aku ke
sini lagi, okay&" katanya lembut tanpa mempedulikan kehadiran
.eremy. )alu dia masuk ke dalam kamar khusus.
0enyandarkan punggungku pada dinding, aku menatap .eremy,
berusaha memperingatkan dia untuk menjaga sikapnya. *api dia
pura-pura tidak melihatku, sambil bersiul, .eremy meraih tas plastik
yang tadi diletakkannya di atas meja, dan memba,anya ke meja
makan yang menyatu dengan dapur.
Aku mendengus kesal, entah apa yang menyebabkan .eremy tidak
begitu menyukai )iana. )iana pun seperti menjaga jarak dengan
.eremy.
*idak berapa lama kemudian, )iana ke luar dari kamar dalam
keadaan sudah berpakaian rapi.
%ia mendekatiku dan mencium pipiku, "Aku pergi dulu ya,"
katanya. %ia menatap langsung ke bola mataku, "Aku ingin
ja,abannya nanti malam," bisiknya pelan namun tegas. 'emudian
dia melangkah pergi meninggalkanku.
Aku hanya menatap kepergiannya dengan pandangan kosong. )alu
menyusul .eremy ke dapur.
Aku duduk di depan .eremy tanpa bicara apa-apa, dan langsung
menyuapkan bubur ayam yang sudah disiapkan .eremy ke mulutku.
0elihat perbuatanku, .eremy terkekeh. "(antas saja kau begitu
menyukai bubur ayam, ternyata memang nikmat kalau untuk sarapan
ya."
0endengar ucapannya, sendok bubur yang mau kusuapkan ke dalam
mulutku terhenti dan menggantung di udara.
.eremy mengerutkan keningnya, "'enapa&" tanyanya heran.
Aku hanya menggeleng, dan melanjutkan suapanku.
Aku tidak pernah menceritakan alasanku kenapa aku begitu
menyukai bubur ayam kepada siapapun. ahkan kepada )iana.
"'enapa kau tidak menyukai )iana&" *anyaku saat aku menyuapkan
sendokan terakhir.
.eremy mengangkat bahunya, "*idak penting apakah aku menyukai
)iana atau tidak," gumamnya.
"*api semalam, saat aku mabuk, kau menghubunginya."
"Aku tidak menghubungi )iana, aku yang memba,amu pulang."
.a,ab .eremy membuatku bingung.
"'enapa )iana bilang kau menghubunginya&"
"%ia bilang begitu&" .eremy terlihat kesal. ""tu tidak benar, aku tidak
pernah menghubunginya."
Aku terdiam, jadi )iana membohongiku&
"Apa maksud )iana membohongimu&"
Aku hanya mengangkat bahu, lalu aku membereskan perlengkapan
makanku.
".ar3is, kau tidak curiga )iana menyembunyikan sesuatu&"
"0ungkin sekarang dia merahasiakan sesuatu dariku. *api aku
yakin, jika sudah saatnya, dia pasti mau menceritakannya."
"'au percaya sekali sama dia ya."
Aku berbalik menghadap .eremy.
"Aku sudah bersamanya selama 6 tahun, .eremy. Aku sangat
mengerti )iana, dia tidak mungkin berbuat sesuatu yang
menyakitiku."
"0ungkin dia tidak menyakitimu. *api dia menyakiti suaminya,"
gumam .eremy pelan.
Aku hanya menghela na/as, tidak bisa membantah pernyataan
.eremy. "Aku harus siap-siap. 'au mau menungguku&"
.eremy mengangguk, "Aku akan menunggumu di ruang tengah."
---
'arena semalam aku mabuk, dan .eremy yang mengantarkanku
pulang, otomatis mobilku masih berada di tempat parkir nightclub.
.adi hari ini dia berbaik hati menyediakan tumpangan untukku.
%alam perjalanan ke kantor, kami lebih banyak terdiam. #ampai
.eremy mengucapkan satu pertanyaan yang membuat hatiku
berdesir.
"Apa kau tidak ingin mengejar Ale8&"
"*idak." .a,abku pendek.
"'au tidak keberatan kalau aku mengajaknya kencan&"
Aku keberatan.
"Aku tidak keberatan." .a,abanku sangat berla,anan dengan apa
yang diucapkan isi hatiku.
.eremy tersenyum senang. "*hanks bro, sebenarnya aku akan
mundur jika kamu tertarik pada Ale8. *api kurasa...'au tidak
menginginkan dia, jadi ini kesempatanku."
Aku memalingkan mukaku dan menatap ke luar jendela,
menyembunyikan rasa terbakar yang tiba-tiba muncul dalam hatiku.
4anya *uhan yang tahu, seberapa besar aku menginginkan Ale8a.
?airy girl-ku.
"4ari ini, kita ada pertemuan dengan (* +ise %arma,an."
Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku, "(erusahaan
pemilik beberapa supermall di kota ini kan&"
"7a. ukan hanya di kota ini, mereka juga memiliki supermall di
kota-kota besar lainnya. ahkan aku dengar, mereka berniat
membangun supermall di kota #he//ield, "nggris."
Aku mengerutkan keningku, "#he//ield&"
"7a, itu kota kelahiran 0rs. Clara +ise, "stri *uan %arma,an.
0ungkin itulah salah satu alasan mereka ingin mendirikan supermall
di sana."
'ali ini aku mengalihkan perhatianku pada .eremy.
"Aku dengar, mereka memiliki seorang putri yang sangat cantik. %ia
yang akan menemui kita nanti, karena *uan %arma,an dan "strinya
sedang berkunjung ke #he//ield."
"'au tahu banyak, ya."
"4ei, mereka calon klien kita. #etidaknya kita harus bisa memahami
mereka. #atu-satunya hal yang kusayangkan, aku tidak bisa
mendapatkan gambar putri *uan %arma,an di manapun. Dupanya
dia orang yang tertutup, sehingga media tidak bisa mengendusnya."
.eremy membelokkan mobilnya memasuki area perkantoran kami.
".adi bersiaplah bro, ini tugasmu untuk meyakinkan mereka agar
mau bekerjasama dengan kita. 'au selalu bisa diandalkan dalam hal
itu."
---
ab 1

ALE.A
Aku sedang mempelajari /ile tentang (* +ise %arma,an yang
diberikan .eremy padaku, ketika lampu interkom yang berada di
mejaku menyala.
"Ada apa, Den&"
"0iss +ise sudah berada di sini, (ak." .a,ab Denata, sekretarisku.
"!kay. 4ubungi .eremy lalu antar 0iss +ise ke ruangan meeting."
"7a, (ak."
eberapa saat setelah aku selesai menyiapkan berkas-berkas, .eremy
muncul dari balik pintu.
"'au sudah siap&" tanyanya.
Aku mengangguk dan menghampirinya, lalu kami melangkah ke
arah pintu kaca hitam yang menjadi penghubung antara ruanganku
dengan ruangan meeting.
.eremy membuka pintu dan aku melihat Denata sedang berbicara
dengan seorang lelaki paruh baya yang bertubuh gempal. %i
samping laki-laki itu berdiri seorang ,anita yang membelakangi
kami.
+anita itu mengenakan rok pensil ber,arna abu-abu yang dipadukan
dengan bla=er ,arna peach, membalut tubuhnya dengan pas namun
tetap terlihat sopan. Aku memperhatikan rambut coklatnya yang
tersanggul longgar di atas tengkuknya.
*unggu...Aku mengenali rambut itu.
"(ak." #apa Denata yang melihat kedatangan kami.
+anita itu berbalik...
"tu memang dia...?airy girl-ku.
Ale8a terlihat terkejut melihat kehadiran kami, itu terlihat dari mata
coklatnya yang terbuka lebar.
"+o,, Ale8. 'ejutan yang sangat menyenangkan." .eremy yang
berdiri di belakangku berjalan mele,atiku untuk menghampiri
Ale8a.
Aku menyusulnya dan berdiri di samping .eremy.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi." 'ata .eremy.
Ale8a tersenyum, gugup dan malu-malu.
"'alian sudah saling kenal&" *anya lelaki paruh baya yang
mendampingi Ale8a. )elaki itu mengenakan kacamata yang terlihat
kekecilan untuknya.
"!h ya, maa/kan saya. #aya melupakan Anda." .eremy mengulurkan
tangannya ke arah laki-laki itu, "#aya .eremy."
)elaki itu tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan .eremy,
"*idak apa-apa. #aya rata, +illiam #ubrata. 'eturunan *ionghoa
yang lahir di "ndonesia dan mencintai "ndonesia."
Aku menahan sudut bibirku yang terangkat, melihat muka Ale8a
yang memerah mendengar cara perkenalan *uan rata. %ia
menyenggol tubuh *uan rata dengan bahunya.
.eremy terta,a, "#aya juga keturunan *ionghoa yang lahir di
"ndonesia dan mencintai "ndonesia."
*uan rata memperhatikan .eremy dengan seksama dan
mengerutkan keningnya, "!h ya&" eliau terlihat heran melihat
tidak ada sama sekali ciri-ciri /isik orang *ionghoa pada .eremy.
"%ari Ayah atau "bu&"
"%ari (amannya $eneknya "bunya Ayah saya."
*uan rata tergelak, perutnya yang tambun ikut bergerak-gerak. "7a
ya ya, karena itulah saya suka anak muda. #elalu penuh semangat
dan bisa membuat saya tetap a,et muda."
.eremy berdeham, "egitulah *uan..."
"!m. (anggil saya !m rata, di kantor semua orang memanggil
saya !m rata."
"!kay !m rata. !h ya, ini teman sekaligus rekan bisnis saya,
.ar3is."
Aku menganggukkan kepalaku sopan.
"7a ya ya, dan kalian sudah mengenal Ale8a kan& %ia putri atasan
sekaligus sahabat saya. "ni adalah kali pertama Ale8a terjun
langsung dalam dunia bisnis."
"'ami sudah mendengarnya, !m." .eremy membimbing !m rata
ke meja yang berada di tengah ruangan. "#ekarang, mari kita
membicarakan bisnis."
#elama satu jam kami membicarakan tentang konsep pembuatan
supermall yang mereka inginkan. .adi mereka akan membangun
sebuah supermall 21 lantai, dengan E lantai basement yang akan
digunakan sebagai tempat parkir. 7ang di situ juga mencakup hotel
dengan /asilitas 3AA kamar, con3ention hall, bioskop dengan E
studio. Atap yang akan digunakan sebagai kolam renang, helipad dan
taman atap.
%i tengah-tengah pembicaraan itu, aku sesekali memperhatikan
Ale8a yang lebih banyak terdiam. erbeda dengan saat pertama aku
melihatnya, kali ini ,ajahnya dipoles dengan make up tipis.
0embuatnya terlihat lebih de,asa. ibirnya yang tipis membentuk
garis lurus saat dia serius menyimak pembicaraan kami, dan
mengetikkan beberapa hal yang dianggapnya penting dalam
laptopnya.
Cntah kenapa, hanya dengan melihatnya seperti ini, membuatku
merasakan kesejukan dalam hatiku.
'ami menutup pertemuan dengan kesepakatan untuk bekerja sama.
"#enang bekerja sama dengan kalian." 'ata !m rata sambil
bergantian menjabat tanganku dan .eremy dengan hangat.
Aku dan Ale8a berhadapan, sesaat saling terpaku. #ampai Ale8a
mengulurkan tangannya dengan canggung, "*erima
kasih,"gumamnya.
!h...Astaga, suaranya membuat jantungku melompat.
Aku membalas uluran tangannya, dan saat telapak tangannya
menyentuh telapak tanganku, sebuah sengatan listrik menjalar dari
urat nadiku menyebar pada seluruh tubuhku dan bere/ek pada bagian
tertentu yang membengkak.
#ialan. Aku belum pernah ereksi hanya dengan menyentuh telapak
tangan seorang gadis sebelumnya.
Ale8a segera menarik tangannya dengan muka memerah. "tu tidak
luput dari perhatianku, dia merasakan hal yang sama denganku.
)alu Ale8a berpaling pada .eremy dan menjabat tangannya. .eremy
menggenggam tangan Ale8a lama, membuat hatiku bergejolak
menahan rasa tidak suka.
"Apakah kau keberatan, jika aku mengajakmu makan siang hari ini&"
!h...%emi langit dan bumi, jangan sekarang.
Ale8a tergeragap, "#aya..."
"*entu saja dia bersedia. 7a kan Ale8&"
"tu !m rata yang memotong ucapan Ale8a.
"!kay, aku akan menjemputmu nanti." .eremy melepaskan
genggaman tangannya dari Ale8a, yang entah kenapa membuat
sesuatu yang menghimpit hatiku terlepas begitu saja.
.eremy mengantar !m rata dan Ale8a sampai pintu li/t. #edangkan
aku hanya terpaku di tempat.
"(ak, Anda masih mau di sini&"
Aku lupa dengan kehadiran Denata di ruangan ini.
"Ch ya...*idak. 0aksudku, ya saya mau ke luar."
#etelah meninggalkan Denata yang aku yakin sedang menatapku
kebingungan, aku bergegas menyusul .eremy.
%engan langkah panjang, aku menjajari langkah .eremy. "Apa
maksudmu dengan mengajaknya makan siang&"
.eremy tersenyum misterius, "#eperti yang kubilang tadi pagi, aku
akan mengajaknya berkencan."
".adi, ini adalah kencan&"
"ukan. "ni adalah batu loncatan menuju kencan," gumamnya.
4atiku bagai di pukul dengan palu godam. Ada apa dengan hatiku&
%ia kembali padaku tapi selalu membuatku merasakan sakit yang
sebelumnya tidak pernah kurasakan. Apakah dia ingin membalasku
karena selama ini aku telah membuangnya&
---
0enunggu jam makan siang terasa sangat lama untukku, maka 11
menit sebelum jam makan siang, aku sudah ke luar dari ruanganku
dan menuju tempat parkir.
erdiri di tengah terik matahari dengan bersandar pada mobil
.eremy.
#aat .eremy datang, dia terlihat mengerutkan keningnya ketika
melihatku yang sudah menunggunya.
"Apa yang kau lakukan di sini&" tanyanya.
"0enunggumu," aku melirik jam tanganku. "ukankah ini sudah
jam makan siang&"
"'au lupa& Aku ada janji makan siang dengan Ale8, aku tidak bisa
menemanimu."
Aku menatapnya dengan pandangan tak bersalah. "Aku tidak
memba,a mobil, jadi kurasa, aku harus ikut denganmu."
.eremy tersenyum, "Aku tadi sudah menyuruh Arman mengambil
mobilmu. "tu, di sana mobilmu." .eremy menunjuk sebuah mobil
-yang aku yakini memang milikku- yang terparkir tidak begitu jauh
dari mobilnya.
'enapa tadi aku tidak melihatnya&
"!h itu. 7a, tadi aku sudah mencobanya, tapi ternyata bensinnya
habis." Aku mengangkat kedua bahuku, berusaha meyakinkan
.eremy dengan tatapanku.
.eremy menatapku dengan pandangan menyelidik, "'au sedang
tidak ingin mengacaukan usahaku mendekati Ale8, kan&"
"*entu saja tidak," ja,abku cepat. Aku hanya ingin menga,asimu,
sambungku dalam hati.
"!kay, masuklah."
.eremy memasuki mobilnya dan aku memutar untuk duduk di kursi
penumpang.
.eremy mengendarai mobilnya dengan lincah, menembus kemacetan
ibu kota. #ampai mobilnya memasuki halaman gedung perkantoran
yang sangat megah.
#etelah memarkirkan mobil, .eremy turun. Aku mengikutinya dan
memakai kacamata hitamku, ini berguna saat nanti aku bisa
memperhatikan Ale8a tanpa takut diketahuinya.
'ami berjalan beriringan menuju gedung tersebut, dan memasuki
pintu putar yang langsung menuju lobby utama.
Aku menunggu di tempat yang agak jauh, saat .eremy menghampiri
meja resepsionis dan berbicara dengan seorang ,anita yang berada
di sana. +anita itu memperhatikan .eremy dan kemudian tampak
menghubungi seseorang.
eberapa saat kemudian aku melihat Ale8a ke luar dari pintu li/t.
*erlihat sangat cantik.
.eremy menghampiri Ale8a dan terlihat membicarakan sesuatu
dengannya, kemudian dia menunjuk ke arahku.
Aku melihat Ale8a memandangku sekilas dan menganggukkan
kepalanya pada .eremy. 'emudian mereka menghampiriku.
".ar3is, kita akan langsung berangkat." 'ata .eremy.
Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan mengikuti mereka yang
mendahuluiku.
Ale8a berjalan tepat di depanku, dan meskipun aku mencoba untuk
berpaling dari pantatnya yang sempurna, aku tidak bisa. ayangan
bisa meremas pantatnya dalam keadaan telanjang membuat sesuatu
yang berada di balik celanaku menggeliat, memohon untuk
dibebaskan.
#aat kami sampai di samping mobil .eremy, .eremy membukakan
pintu belakang mobilnya untuk Ale8a, dan menutupnya kembali saat
Ale8a sudah masuk ke dalamnya.
Aku hampir membuka pintu penumpang ketika .eremy
melemparkan kuncinya padaku. Aku menangkap kunci itu, dan
menatap .eremy tak mengerti.
*api .eremy hanya mengangkat bahunya dan menyebutkan nama
sebuah restoran (rancis. )alu dia berjalan memutari mobilnya dan
duduk di samping Ale8a.
#ekarang aku mengerti. #ialan .eremy, dia menjadikanku supirnya.
#etengah mendengus aku berjalan memutar, membuka pintu kemudi
dan memasukinya. Aku duduk dan memasang sabuk pengamanku.
#ebelum menjalankan mobil, aku melirik Ale8a melalui kaca spion
yang ada di atas dashboard mobil. %ia memperhatikanku, aku
merasakan letupan dalam hatiku. Aku mengangkat sudut bibirku
menahan senyum, dan mulai melajukan mobil .eremy.
".adi kamu keturunan "nggris ya&" .eremy membuka percakapan
dengan Ale8a.
""buku memang orang "nggris, tepatnya #he//ield."
!h *uhan...Aku suka mendengar suaranya.
"+o, itu kota yang indah, #he//ield dekat dengan Cdensor, kan&"
"7a, sekitar satu jam dari #he//ield. #e,aktu kecil, saat mengunjungi
5randma, aku paling suka piknik ke Cdensor. %i sana
menyenangkan sekali, banyak ka,anan domba %erbyshire yang
sedang merumput dalam perjalanan ke sana."
"7a, dan hamparan rumput-rumput hijau serta perbukitan yang
sangat indah."
"'au pernah ke sana juga& 0enyenangkan sekali bukan&"
Aku melirik mereka dan melihat Ale8a tampak bersemangat saat
menceritakan negara kelahiran "bunya. "tu membuatnya tidak terlihat
canggung lagi.
.eremy tersenyum dan mengangguk, "Aku pernah berlibur ke sana.
elum lama, itu karena kakak perempuanku tergila-gila dengan
Cdensor setelah membaca no3el Andre 4irata." .eremy memutar
bola matanya seakan berbicara 2dasar perempuan2, ".adi dia
memaksa kami seke luarga untuk berlibur ke sana. *api Andre 4irata
benar, Cdensor betul-betul seperti negeri khayalan. #angat indah."
Ale8a mengangguk menyetujui, "Aku paling suka ke sana saat
menjelang musim gugur. (ada saat itu, dedaunan mulai ber,arna
merah. #angat indah."
.adi musim gugur ya...
Aku menghentikan mobil di depan sebuah restoran (rancis.
0embuka sabuk pengaman dan segera ke luar dari mobil,
mendahului .eremy membukakan pintu untuk Ale8a.
.eremy yang baru ke luar dari mobil menatapku tajam, tapi aku pura-
pura tidak melihatnya dengan menyerahkan kunci mobil. pada
petugas 3alet.
#aat kami sampai di depan pintu, .eremy seperti baru mengingat
sesuatu. %ia menghampiriku dan berbisik padaku.
"#orry bro, aku lupa sudah reser3asi untuk dua orang."
Aku terbelalak. %ouble shiiittt...!!!
"'alau kau mau, kau bisa mencoba untuk masuk, siapa tahu masih
ada meja yang kosong. *api..." .eremy menggantung kalimatnya,
"...biasanya sih tempat ini selalu penuh," katanya dengan nada
menyesal -yang aku yakin di buat-buat-. "Atau...'au menunggu saja
di mobil, aku janji akan membelikan makan siang dan
membungkusnya untukmu."
Aku melepas kacamataku dan menatapnya gusar, melirik Ale8a yang
berdiri agak jauh dari kami. "#ialan kau .eremy," bisikku geram.
)alu aku berbalik dan menghampiri petugas 3alet untuk meminta
kembali kunci mobil .eremy. 0enolaknya dengan kasar saat dia
mena,arkan diri untuk mengambilkan mobil tersebut.
Aku berjalan agak jauh untuk sampai ke tempat parkir di mana
mobil .eremy diparkirkan. #esampainya di samping mobil, aku
membuka pintu dengan kasar dan duduk di kursi kemudi. 'ubuka
jendela mobil bagian penumpang lebar-lebar, lalu aku memilih lagu
pada stereo mobil .eremy. #aat musik mulai mengalun, aku
merebahkan tubuhku di atas jok mobil dan menjulurkan kakiku ke
luar jendela.
Cntah berapa lama aku tertidur. #aat aku membuka mataku, aku
sudah melihat .eremy yang sedang berusaha menyingkirkan kakiku
dari jendela mobil.
Aku bangun dan menarik kakiku, "#udah&" #indirku sambil
membetulkan letak dudukku.
.eremy hanya menyeringai dan menyerahkan makan siang yang dia
belikan untukku. Aku menyambar bungkusan tersebut dan
meletakkannya di atas dashboard.
#ekilas aku melihat Ale8a yang sedang masuk ke mobil, terlihat
seperti menahan senyum. Aku melirik kaca spion dan melihat diriku
yang berantakan. Dambut perungguku yang agak panjang terlihat
acak-acakan dengan sebagian rambut menutupi dahiku, mataku
terlihat merah karena aku baru saja bangun tidur.
Aku meraih kacamata hitam yang tadi kukaitkan pada kerah kemeja
dan memakainya. )alu mencoba merapikan rambut dengan tanganku
meski aku tahu itu tidak akan merubah banyak.
#aat Ale8a dan .eremy sudah masuk ke mobil, aku menstarter mobil
dan menjalankannya. 0elaju dengan kecepatan tinggi, menyalip
setiap kendaraan yang ada di depanku, dan membelok dengan mulus
saat mele,ati tikungan tanpa mengurangi kecepatan mobil.
Aku ingin Ale8a cepat sampai ke kantornya dan tidak duduk di
samping .eremy lagi.
Aku melirik dari kaca spion dan melihat Ale8a memejamkan
matanya, sedang .eremy terlihat pucat dengan tangan yang
menggenggam sabuk pengaman. agus, itu juga suatu keuntungan
bagiku, karena mereka tidak lagi saling bicara.
Aku berhenti tepat di depan kantor Ale8a dengan bunyi ban yang
berdecit.
Ale8a terlihat sedang menenangkan dirinya, lalu dia membuka
matanya dan ke luar dari mobil tanpa menunggu dibukakan pintu.
.eremy melepas sabuk pengamannya dan menggeser duduknya ke
kursi yang tadi diduduki Ale8a, lalu dia menjulurkan lehernya ke
luar jendela.
"*erima kasih, Ale8," katanya.
Ale8a mengangguk, kemudian, tanpa kuduga dia menatapku dari
kaca spion.
"*erima kasih, .ar3is," gumamnya pelan, tapi terdengar sangat keras
di telingaku.
Aku melongo tidak percaya, sampai dia menghilang dari pandangan.
"*utup tuh mulut," kata .eremy sambil membanting pintu saat dia
pindah ke sampingku, ".alan."
Aku tersadar, dan segera menutup mulutku. )alu menjalankan mobil
dengan senyuman yang tak bisa hilang dari bibirku.
'ali ini aku menjalankan mobil dengan pelan. *ak kupedulikan
.eremy yang mengutukiku karena kegilaanku dalam mengendarai
mobilnya di jalan raya.
.eremy selalu berhati-hati jika berkendara. %ia tidak pernah
menjalankan mobilnya di atas kecepatan yang diijinkan. %ia bilang,
itu semua demi keamanan dan kenyamanan. Aku bilang itu karena
dia penakut.
Aku turun dari mobilnya saat kami sampai di kantor, dan
menyerahkan kunci mobil padanya. *api sebelum .eremy
menerimanya, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari
dalamnya, lalu menyerahkannya padaku.
%emi apapun yang ada di balik celanaku..."tu kunci mobilku.
"'unci mobilmu," katanya, "%engan bensin yang terisi penuh saat
Arman mengambilnya."
---
Aku sampai ke apartemen dalam keadaan sangat lelah. .am yang
melingkar di tanganku sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan
aku ingin cepat-cepat tidur sekarang.
Aku membuka pintu apartemen dan menyalakan lampu. )alu
melangkah ke dalam.
Aku terkejut ketika melihat )iana duduk di so/a ruang tengah,
seketika aku teringat dengan kata-katanya tadi pagi.
)iana berdiri dan menyambutku, "'au pulang malam sekali," dia
melirik jam dinding. "0aksudku pagi."
Aku menghampirinya dan mencium pipinya, "0aa/ )iana. 4ari ini
aku mendapatkan proyek besar dan baru selesai membahas
rancangannya bersama .eremy."
)iana menggeleng, "*idak apa-apa." %ia melepas jas dan dasiku.
"Aku hanya kha,atir kau menghindariku karena ucapanku tadi
pagi."
Aku menghempaskan tubuhku di atas so/a.
"Apa yang kuucapkan tadi pagi, tidak usah kau pikirkan dulu .ar3is."
)iana duduk di sampingku. "Aku memang mencintaimu dan
mengharapkan bisa bersamamu selamanya, tapi aku tidak ingin
memaksamu."
)iana menempelkan pipinya pada rahangku dan menggesek-
gesekkannya di sana. .ari-jari tangannya membuka kancing
kemejaku satu persatu, lalu dia menelusupkan tangannya ke dadaku
dan memutar-mutar ujung jarinya di sana, membentuk lingkaran-
lingkaran kecil. 0embangkitkan gairahku.
Aku menengadahkan kepalaku, menikmati sentuhan tangannya yang
tera,at. )idahnya menelusuri leherku, naik ke cuping telingaku,
menghadirkan rasa geli yang terasa sangat /amiliar.
.ari-jarinya mulai turun ke pinggangku dan membuka kancing
celanaku, lalu dia memasukkan tangannya ke balik bo8erku dan
meremas kejantananku yang mulai mengeras.
"*erima kasih, .ar3is."
'alimat pendek yang tadi siang diucapkan Ale8a tiba-tiba terngiang
kembali di telingaku. 0enghadirkan seraut ,ajah dengan senyum
gugupnya dalam bayanganku. 0embuat kejantananku yang sudah
mengeras, melemas secara tiba-tiba.
Aku tidak menginginkan )iana.
)iana menghentikan aksinya, dia mengerutkan keningnya dan
menatapku bingung.
Aku segera menegakkan tubuhku dan membenahi kancing celanaku.
)alu menatap )iana meminta maa/.
"Aku lelah sekali )iana. 0aa/kan aku, tapi aku ingin istirahat."
)iana mengangguk mengerti, ""stirahatlah .ar3is," gumamnya.
Aku membungkuk, mencium pipi )iana. )alu berdiri dan
meninggalkan )iana menuju kamarku.
%i dalam kamarku aku termangu. 0emikirkan kejadian demi
kejadian saat pertemuanku dengan /airy girl-ku...Ale8a.
#atu lagi yang membuatku yakin kalau dia adalah seorang peri,
karena sekecil apapun sikapnya, gerakannya, dan suaranya itu,
memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi tubuhku. *erutama
pada tubuh bagian ba,ah.
$amun kesadaran kembali menghantamku...#iapa aku ini& Anak
yang terbuang& 5igolo&
Dasa nyeri kembali menyelimuti hatiku.
Apakah aku pantas untuk Ale8a&
0asa lalu yang ingin kulupakan melintas dalam pikiranku.
0engingatkanku...
Aku tidak pantas untuk Ale8a.
---
ab <
CE-,*, -,(A
eberapa hari yang lalu, aku adalah .ar3is yang penuh rasa percaya
diri, berpengalaman dan tidak pernah bermain hati. *api sekarang,
aku seperti tidak mengenal diriku lagi.
Aku tidak pernah bisa memuaskan )iana lagi, aku tidak bisa /okus
pada pekerjaanku, dan aku jadi seorang yang pemarah.
"ni semua hanya karena seorang gadis bernama Ale8a. 5adis yang
sudah mengacaukan hidupku, yang selalu membangkitkan gairahku
hanya dengan memikirkannya, tapi juga yang mematikan hasratku
terhadap ,anita lain.
5adis yang membuatku tidak menginginkan ,anita manapun,
bahkan )iana sekalipun.
#eperti hari ini, aku terduduk lemas di atas kursi kerjaku. 0enyesali
kejadian semalam, saat aku memaksakan diri untuk melupakan
Ale8a.
0alam itu aku pergi sendirian ke nightclub. #eperti di tahun-tahun
saat aku belum mengenal .eremy. %uduk di meja bar dan menga,asi
setiap ,anita yang berusaha menarik perhatianku.
'upikir 2one night stand2 adalah satu-satunya jalan agar aku bisa
melepaskan hasratku. ersama )iana, itu tidak mungkin saat ini.
Aku akan merasa menjadi seorang bajingan ketika bercinta
dengannya, tetapi Ale8a-lah yang ada di dalam pikiranku.
)agipula, )iana belum ke apartemen lagi sejak kejadian aku
menolaknya beberapa malam yang lalu.
"*eFuila sunrise."
#uara seorang ,anita di sampingku menarik perhatianku.
Aku menoleh dan melihatnya duduk di sampingku. (ostur tubuhnya
mengingatkanku pada Ale8a. 'urasa dia bisa jadi teman kencanku
malam ini.
"Aku yang akan membayar minuman $ona ini," kataku pada
bartender.
5adis itu menoleh dan tersenyum, "*erima kasih," gumamnya.
"*idak masalah."
"'au sendirian&" tanyanya.
"#eperti yang kau lihat."
"0au bersenang-senang&"
Aku suka ,anita agresi/. *o the point.
#elanjutnya, aku sudah berada di kamar mandi dengan kejantananku
yang berada di dalam mulut ,anita itu.
"7a babe, seperti itu...7a bagus..."
5adis itu dengan bersemangat menghisap kejantananku yang sudah
mengeras. *angannya menggenggam pangkalku dan
menggerakkannya naik turun, sesekali diselingi gerakan memutar.
"#ialan. )ebih keras babe..."
#etelah sekian lama hanya menerima blue balls" aku merasakan
kenikmatan luar biasa pada kejantananku. Aku hampir saja selesai,
tapi kejadian selanjutnya sungguh diluar dugaanku.
+ajah Ale8a muncul begitu saja dalam pikiranku, lengkap dengan
senyum gugupnya dan tatapan malu-malunya.
!h sial! .angan sekarang...'umohon jangan sekarang...
*api yang di ba,ah sana tidak mendengarkan perintahku. %ia lemas
begitu saja. 7a, begitu saja.
0embuat gadis yang sedang mengulum kemaluanku merasa bingung
karena benda yang tadi terasa penuh di mulutnya kini mulai
mengecil. %ia menjulurkan lidahnya, menelusuri batang lemasku
yang berada dalam genggamannya. #ungguh suatu usaha yang
mengesankan.
*api aku tidak akan bangun lagi. *idak akan bisa.
"#udah hentikan." 'ataku kesal, ketika gadis itu tidak juga berhenti
menjilati penisku.
5adis itu melepaskan tangannya dari kejantananku.
"'au impoten&"
!h *uhan, apa yang dia katakan& Apakah dia tidak pernah tahu
kalau impoten itu berarti tidak akan pernah bisa ereksi, tapi dia baru
saja mengulum penis yang keras dan tegang bukan& +ell, itu
sebelum aku terkena AC...Ale8a C//ect, seharusnya tidak mudah
baginya untuk mem3onis aku..." 0 ( ! * C $.
Aku membenahi celanaku, dan membuang rasa maluku saat
menatapnya.
"#orry babe, sepertinya aku agak bermasalah malam ini..." kubelai
pipinya sekilas, "*api aku tidak impoten baby, hanya ada -sedikit-
masalah." Aku memposisikan jari telunjuk di atas "bu jariku dengan
menyisakan sedikit ruang diantaranya. 0enekankan maksudku saat
mengatakan 2sedikit2.
"!kay, mungkin lain kali."
"*hank you, babe."
%ia menyelipkan kertas -yang aku yakini adalah kartu namanya-
pada saku jaketku. Aku hanya tersenyum, lalu meninggalkannya.
%i depan nightclub aku membuang kertas itu tanpa membacanya.
Aku tidak menginginkan dia. Aku hanya menginginkan Ale8a...?airy
girl-ku.
#ekarang di sinilah aku, terduduk lemas di kantorku tanpa memiliki
keinginan untuk menjalani kehidupanku seperti biasanya.
.eremy jarang menemuiku, dia sibuk dengan usahanya untuk
mendekati Ale8a. 'alau mau jujur, hal itulah yang paling
mempengaruhiku. 0embayangkan .eremy berkencan dengan
Ale8a....
4uh, sama sekali tidak ingin kubayangkan.
'urasa, aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa hanya duduk
begitu saja tanpa berbuat sesuatu.
0ungkin sedikit berolahraga akan menjernihkan pikiranku. 7a, itu
benar.
Aku segera ke luar dari ruanganku dan menuju li/t untuk turun ke
ba,ah. Ada tempat /itness di sekitar sini, aku akan ke sana.
"#elamat sore, (ak." Agus, salah satu satpam di gedung ini
menyapaku saat aku sudah berada di halaman gedung.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan berusaha tersenyum.
"#aya panggilkan petugas 3alet, (ak&" tanyanya sopan.
"*idak usah, saya hanya ingin jalan-jalan."
Agus mengangguk dan beranjak meninggalkanku.
Aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan kompleks perkantoran.
%i samping jalanan ini dipenuhi dengan pepohonan besar. 4embusan
angin yang kencang membuat beberapa daun yang gugur
berterbangan di sepanjang jalan.
Aku menghentikan langkahku di depan sebuah tempat /itness. )alu
aku memasuki toko olahraga yang terletak di sebelah tempat. /itness
tersebut, dan membeli sebuah kaos oblong tanpa lengan dan celana
longgar sebatas betis.
Aku memasuki ruangan /itness setelah mengganti bajuku, dan
langsung menuju treadmill yang ada di sudut ruangan. 0emulai
pemanasan, aku berjalan santai selama lima menit, kemudian
perlahan aku mulai menaikkan kecepatan hingga batas maksimal.
4anya membutuhkan ,aktu dua puluh menit untuk mengeluarkan
semua keringat dalam tubuhku, aku memelankan laju kecepatan
secara bertahap, dan berhenti tepat ketika seorang gadis berdiri di
depanku.
"#andra&" Aku mengenali gadis itu sebagai teman Ale8a.
"4ai," sapa #andra, "#endirian saja&"
Aku mengangguk dan turun dari treadmill lalu mendekati bench
press. #andra mengikutiku.
Aku memulai latihan untuk otot dadaku dan melihat #andra masih di
depanku.
"Apa yang kau lakukan di sini&" tanyaku.
#andra mengangkat bahunya, "0elihat-lihat."
"#endirian&"
"ersama teman."
Aku menghentikan akti3itasku, tertarik dengan ucapannya. "Ale8a&"
tanyaku berharap.
#andra menggeleng, "Ale8 tidak akan suka ke tempat ini."
"egitu&" aku kembali melanjutkan latihanku.
"%ia agak aneh, kau tahu&"
ukankah #andra teman Ale8a& 'enapa dia tidak bersikap layaknya
seorang teman&
"%ia yang menyebabkan saudara kembarnya hilang."
"Ale8a punya saudara kembar&"
"7a, tapi hilang saat berumur 1 tahun."
"'enapa kau bilang, Ale8a penyebabnya&"
#andra kembali mengangkat bahunya, "Ale8a mengajaknya ke
tengah hutan saat mereka sedang piknik, dan meninggalkannya
begitu saja."
Aku mengernyitkan dahiku, #andra bercerita seolah-olah Ale8a
melakukannya dengan sengaja. 4ei, mereka masih berumur 1 tahun
saat itu.
"%ia sangat aneh..."
"'au sudah mengatakannya tadi," aku memotong ucapannya, lalu
melirik jam tanganku, "!kay #andra, aku rasa aku harus kembali
sekarang." Aku tidak ingin berlama-lama mendengarnya menjelek-
jelekkan Ale8a.
"*unggu." #andra memegang lenganku.
Aku melirik tangannya yang menempel di lenganku, dan dia segera
melepasnya.
"Aku sering melihatmu di nightclub," dia tersenyum, "Apakah nanti
malam kau mau mengajakku ke sana&"
!h, dia sudah mulai menggangguku.
"*idak." .a,abku ketus, menghilangkan senyuman di ,ajahnya.
Aku tidak peduli dan bergegas meninggalkannya. 'embali ke
kantorku dengan langkah yang lebih cepat.
---
Aku baru mengenakan jasku kembali ketika .eremy memasuki
ruangan.
"'au baru mandi&" tanyanya heran, lalu duduk di so/a yang berada
di ruanganku.
"Aku berkeringat." .a,abku pendek.
".ar3is, aku butuh bantuanmu."
"Apa&" aku menghampiri .eremy dan duduk di sampingnya.
"Aku mengajak Ale8a makan malam."
Aku tertegun, "'apan&"
"0alam ini."
"Apa katanya&" .antungku berdegup kencang saat menunggu
ja,aban .eremy.
"%ia bersedia..."
0atilah aku.
"*api dia mengajak #andra juga."
Aku menghela na/as lega.
"'arena itu aku minta bantuanmu, ikutlah denganku. 'au bisa
menemani #andra, jadi dia tidak akan mengganggu kami."
Aku mengerutkan keningku, kenapa harus #andra& Aku ragu ingin
berurusan dengan #andra setelah pertemuanku dengannya tadi. *api,
kalau aku menolaknya, aku tidak akan bisa menga,asi .eremy dan
Ale8a. agaimana kalau mereka memutuskan untuk...tidak!
".ar3is&"
"!kay, aku mau."
.eremy tersenyum senang. %ia bangkit dari duduknya, "*hanks
sobat. 'au memang bisa diandalkan. .am tujuh kau jemput #andra,
kita bertemu di )e ridge Ancol."
"*unggu, kita berangkat terpisah&"
.eremy menatapku, "*entu saja, aku ingin benar-benar berkencan
dengan Ale8. !h ya, alamat #andra nanti kukirim le,at email." )alu
dia melangkah meninggalkanku.
!h bagus, aku mempunyai kesempatan untuk bersama Ale8a, tapi
harus menjaga jarak dengannya.
#ekarang, apa yang akan kulakukan& 0enunggu. "tu satu-satunya
ja,aban.
---
#andra menggandeng tanganku saat kami mele,ati jembatan untuk
sampai ke )e ridge.
"*empat ini sangat indah. Aku senang sekali bisa ke sini bersamamu
.ar3is." #andra menggelayut manja di pundakku.
Aku ingin menepisnya, tapi itu akan terlihat sangat tidak sopan.
"0enurutmu, apakah ini bukan suatu pertanda, .ar3is& *adi siang
kau menolak ketika kuajak ke nightclub, tapi sekarang kita berada di
sebuah restoran yang sangat romantis."
Aku hanya diam saja mendengar ocehannya, pikiranku tertuju pada
Ale8a dan .eremy yang sudah menungguku.
"0aksudku, apa ini berarti kita berjodoh&"
'ali ini ucapannya menghentikan langkahku. Aku berpaling,
menatapnya tajam dan meloloskan tangannya dari bahuku. "'ita G
tidakG berjodoh." 'ataku menekankan setiap suku kata untuk
menjelaskan maksudku padanya. )alu melangkah cepat
meninggalkannya.
".ar3is! *unggu!"
#andra berteriak memanggilku, tapi aku tetap melangkahkan kakiku.
)alu kudengar dia mulai berlari menyusulku.
%i ambang pintu masuk aku menga,asi sekeliling dan melihat
.eremy yang melambaikan tangannya ke arahku. Aku
menghampirinya, #andra masih setengah berlari di belakangku.
Ada empat kursi di meja itu. .eremy duduk di depan Ale8a, dan
meskipun aku ingin duduk di samping Ale8a, pada akhirnya aku
memilih untuk duduk di samping .eremy. #andra menyusul dengan
na/as terengah-engah dan duduk di samping Ale8a.
"'au meninggalkanku, .ar3is." 5umam #andra kesal.
Aku tidak mempedulikannya, tatapanku terpusat pada Ale8a. %ia
mengenakan gaun hitam yang memperlihatkan bahunya, rambut
coklat ikalnya tergerai dengan kepang kecil yang melingkar di atas
kepalanya. #angat cantik...
"'au sangat cantik..." gumamku tanpa sadar, menatap intens pada
mata coklatnya yang memancarkan kegugupan.
"Chm..." .eremy berdeham mengingatkanku. 0embuatku berpaling
dan mengalihkan perhatianku dari Ale8a. "Aku akan memesan
untukmu," gumamnya, lalu dia beranjak berdiri dan menuju tempat
pemesanan.
*idak ada yang bersuara saat kami makan, bahkan .eremy sekalipun.
#esekali aku melirik Ale8a yang juga tak banyak bicara, hanya
kadang-kadang berbisik pada #andra, entah apa yang mereka
bicarakan.
'adang aku merasa gemas ingin menyingkirkan anak rambut yang
tertiup angin dari pipinya, dan menyelipkan di balik telinganya. Atau
menghapus noda saus pada bibirnya dengan lidahku.
(ikiran untuk menghapus noda saus di bibirnya dengan lidahku
membuatku mengeras.
"Aku akan ke luar sebentar dengan Ale8a." 'ata .eremy
membuyarkan lamunan mesumku.
Ale8a terlihat terkejut, tapi dia tetap berdiri dan meyambut uluran
tangan .eremy.
.eremy melingkarkan lengannya di pinggang Ale8a saat berjalan
meninggalkanku.
Aku hanya menatap mereka dengan pandangan nanar.
"(asangan yang sangat serasi," 5umaman #andra menohok tepat di
ulu hatiku. "#epertinya Ale8a menyukai .eremy."
Aku melirik #andra kesal, aku yakin ,anita jalang itu hanya ingin
melukai hatiku.
%engan sabar aku menunggu, 1A menit...11 menit...3A menit... !h
yeah, ini sudah terlalu lama.
Aku bangkit dan berdiri, tanpa mempedulikan #andra yang masih
mengoceh entah membicarakan apa, dan bergegas ke luar dari
restoran itu.
".ar3is." #andra memanggilku dan mengikutiku.
Aku berkeliling dan mencari mereka, tapi aku tidak melihat sosok
Ale8a maupun .eremy di antara orang-orang yang lalu lalang.
0endadak aku menjadi panik, dan saat aku berlari menuju mobilku,
ponselku bergetar.
5ugup, aku membuka ponselku dan mendapati pesan dari .eremy.
#orry, bro. Ale8 memutuskan untuk menghabiskan malam
bersamaku. *olong antar #andra ke rumahnya.
*idak mungkin.
Aku berlari menuju mobilku.
".ar3is!"
Astaga, aku lupa dengan keberadaan ,anita jalang itu.
Aku berbalik dan menyeret tangannya, menghentikan taksi dan
menyuruhnya naik. )alu memberi uang pada supir taksi tersebut dan
menyebutkan alamat rumah #andra.
"*unggu .ar3is, kau tidak boleh memperlakukan aku seperti ini."
*api taksi itu sudah melaju kencang dan teriakan #andra hilang
terba,a angin.
Aku bergegas masuk ke mobilku dan melajukannya dengan kencang.
#eperti orang gila, aku mendatangi club-club yang biasa dikunjungi
.eremy. 0enembus lautan manusia dan berharap bisa menemukan
Ale8a. *api nihil.
)alu ketika sudah tidak ada lagi da/tar nightclub yang bisa
kukunjungi, dengan putus asa, aku mendatangi hotel-hotel.
0enanyakan kepada setiap resepsionis hotel, mencari jejak
keberadaan .eremy. *api sudah sekitar 11 hotel yang aku datangi,
tidak ada setitikpun tanda-tanda aku bisa menemukan .eremy.
#udah pukul tiga dini hari ketika aku berjalan gontai ke luar dari
hotel ke 1< yang aku datangi.
'au ba,a kemana Ale8a, .eremy...&
Aku menyandarkan keningku pada roda kemudi, hatiku diselimuti
rasa ,as-,as dan kepedihan, memikirkan apa yang mungkin
diperbuat .eremy pada Ale8a.
Aku merasa putus asa, mungkin ini memang takdirku untuk tidak
bersama Ale8a.
'urasa aku harus pulang ke apartemen.
Apartemen& *unggu.
#eketika kesadaran menyentakku, aku sama sekali belum ke
apartemen .eremy. 'enapa itu tidak terpikirkan olehku sebelumnya&
Aku segera memundurkan mobilku dari tempat parkir dan
membelokkannya, lalu melaju dengan kencang menuju apartemen
.eremy.
Aku menghentikan mobilku di depan gedung apartemen, dan
langsung berlari ke dalam. 0asuk ke dalam li/t dan menunggu
dengan gelisah di dalam li/t yang bergerak naik, segera menerobos
ke luar ketika pintu belum sepenuhnya terbuka.
Aku berlari di lorong...1A9...11A...111...112...113..."ni dia.
Aku berhenti dan menekan bel pintu berkali-kali. $amun pintu sama
sekali tidak terbuka. 'arena panik aku menggedor-gedor pintu itu,
tapi gedoranku malah membuat pintu itu terdorong dan terbuka
sedikit.
4ei, pintu ini tidak tertutup sempurna.
Aku mendorong pintu tersebut, dan langsung terbuka lebar. Aku
menerobos masuk, memanggil-manggil .eremy.
*idak ada sahutan, aku mendengar alunan musik erotis dari kamar
.eremy. %engan langkah lebar, aku menuju kamar .eremy, dan
menghampiri pintunya yang setengah terbuka.
"!h yeah babe, teruskan. #ialan, ini luar biasa babe, milikmu terasa
nikmat..."
Aku meradang mendengar ucapan .eremy yang bercampur dengan
desahannya. )alu aku mendengar suara perempuan mengerang.
#ialan .eremy. Aku akan membunuhnya.
'udorong pintu kamar .eremy, dan aku melihat dia sedang
menggoyang pantatnya di atas tubuh seseorang Hyang aku yakini
adalah Ale8aI.
Aku meraih bahu .eremy dan menariknya kasar, hingga membuatnya
terhuyung-huyung di hadapanku, dan sebelum dia menyadari apa
yang terjadi, aku sudah melayangkan tinjuku pada rahangnya.
0embuatnya terjengkang dan jatuh terduduk.
.eremy menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah,
"rengsek kau .ar3is! Apa yang kau lakukan&!"
"'au yang brengsek!" *eriakku, lalu meloncat ke arahnya dan
memukulinya secara bertubi-tubi. "eraninya kau meniduri Ale8a,
beraninya kau bercinta dengannya. %ia milikku .eremy! 'au dengar
itu! Ale8a milikku!"
"4entikan! 'umohon hentikan!"
Aku menghentikan tinjuku di udara, dan tertegun mendengar suara
yang menghentikanku.
Aku berbalik dengan cepat dan mendapati seorang ,anita berambut
hitam yang terduduk di ranjang menangis ketakutan. *angannya
gemetar, menggenggam selimut yang menutupi dadanya.
ergantian aku memandangi .eremy yang telanjang dan gadis itu
dengan bingung. Aku tidak mengerti....eremy...*idak bersama
Ale8a...
.eremy bangkit dan menghampiri gadis itu. 0embisikkan sesuatu
untuk menenangkannya. 5adis itu mengangguk dan menyeka air
matanya. )alu .eremy memakai bo8ernya dan berbalik menatapku.
"'au..." tudingnya padaku, ""kut denganku!" )alu dia ke luar dari
kamarnya.
Aku mengikutinya setengah linglung. .eremy menutup pintu
kamarnya dan mengajakku ke bar pribadinya.
.eremy mengambil dua buah gelas kecil dari lemari beserta sebotol
,ine. )alu dia mengisi gelas itu dengan es batu dan menuang ,ine
ke dalamnya.
%ia menghampiriku yang terduduk lemas di so/a dan memberikan
segelas ,ine itu padaku. Aku menerima gelas itu dan meneguk habis
isinya. 0engendurkan kembali syara/-syara/ku yang menegang.
.eremy berdiri di hadapanku, meneguk minumannya, dan matanya
mengamatiku, menyelidik ke dalaman isi hatiku.
".adi benar, kau mencintai Ale8&" tanyanya pelan, lebih seperti
gumaman.
"'au tidak bersama Ale8a&" Aku balik bertanya.
.eremy menggeleng. "Aku mengantarnya pulang tidak lama setelah
kami ke luar dari restoran."
"*api kau tadi..."
"Aku memancingmu .ar3is, aku ingin melihat reaksimu. *idak
kukira, rasa penasaranku membuat mukaku jadi babak belur."
.eremy mengusap lebam yang ada di pipinya.
"0aa/kan aku," aku menunduk dan meremas rambutku dengan
kedua tanganku, "Aku..."
"Cemburu." .eremy memotong ucapanku.
Aku terhenyak, aku cemburu& enarkah& Aku merasakan perasaan
marah yang tidak tertahankan saat melihat .eremy sedang bercinta
dengan gadis yang kukira Ale8a, aku merasakan sakit di dalam dada,
seakan-akan ada yang meremas jantungku. #eperti inikah rasanya
cemburu&
"'au cemburu buta .ar3is." .eremy kembali meneguk minumannya.
"*api kenapa&"
"'au masih belum mengerti& 'arena kau mencintai Ale8."
"Aku tahu."
.eremy mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tahu aku mencintai Ale8a. Dasa ingin memilikinya, begitu kuat
di dalam sini." Aku menunjuk dadaku, "*api kenapa aku mencintai
dia& 'enapa harus Ale8a&"
.eremy terkekeh, "'arena cinta tidak memilih, .ar3is."
"Aku tidak pantas untuk Ale8a."
"Apa yang kau katakan&"
Aku berdiri tegak di hadapan .eremy, merentangkan tanganku ke
samping. ")ihat aku .eremy, siapa aku& Aku pria simpanan, gigolo,
atau apapun orang menyebutnya," lalu aku terduduk kembali, lemas
tak berdaya, "Aku bajingan...ajingan kotor yang tidak ada artinya."
"!mong kosong! 'au manusia seperti yang lainnya .ar3is, kau
berhak memiliki cinta."
"'au tidak mengerti..." gumamku pelan.
"Aku mengerti." .eremy menunduk dan menatapku tajam. "Aku
mengerti dirimu, lebih daripada yang kau tahu." )alu dia berdiri dan
berbalik, berjalan ke meja bar dan menuang kembali ,ine ke dalam
gelasnya. "'ejar dia .ar3is. 'alau kau laki-laki, kejar Ale8a.
%apatkan cintanya, dia pantas untukmu."
Aku terdiam, tekad yang kuat muncul dalam dadaku. "Aku akan
mengejarnya."
"agus...dan satu lagi," .eremy menghampiriku. )alu tiba-tiba, dia
melayangkan tinjunya ke pipiku, hingga membuatku terlempar ke
samping. ""tu tadi sakit tahu." #eringainya puas. )alu dia berbalik
dan melangkah menuju kamarnya, "#ekarang kau boleh pulang, atau
tidur di situ jika mau. Aku akan meneruskan apa yang tadi kau
kacaukan."
#udut bibirku terangkat, membentuk senyuman kecil. )alu aku
menyeka darah yang menetes di sudut bibirku.
2ersiaplah $le%a" aku akan mengearmu.
---
ab B
($&E('E* /"(' 'E*
'elegaan memenuhi dadaku ketika aku memutuskan untuk mengejar
Ale8a. Aku ingin memperbaiki diriku, melepaskan hatiku untuk
mendapatkan apa yang aku inginkan.
Aku tidak lagi memikirkan ketakutanku akan masa lalu. 'ehadiran
Ale8a dalam ji,aku menghapus semua mimpi-mimpi yang selama
bertahun-tahun menghantuiku.
(embangunan supermall (* +ise %arma,an sudah dimulai. (agi
ini, aku dan .eremy memutuskan untuk meninjau secara langsung
proses pembangunan tersebut.
%i sampingku yang sedang menyetir, .eremy menatap serius ke layar
laptopnya, melihat gambar rancangan gedung supermall yang akan
dibangun.
"ro, menurutmu aku harus memulai dari mana&" tanyaku mengusik
keseriusannya.
%ia sama sekali tidak mendengarkanku.
"4ei, aku bertanya padamu."
"Apa&" tanyanya tanpa melihatku.
"0enurutmu aku harus memulai dari mana&"
"Apanya&"
Aku mendengus kesal, "Ale8a. 'au bilang aku harus mengejarnya.
Aku harus mulai darimana&" Aku mengulangi pertanyaanku untuk
ketiga kalinya.
.eremy mengalihkan perhatiannya dari layar laptop dan menatapku
sebal. ""ni bukan yang pertama kalinya kau berurusan dengan
seorang gadis. 'enapa bertanya padaku&" )alu .eremy kembali
menatap layar laptopnya.
Ale8a berbeda. %ia tidak sama dengan gadis-gadis lainnya, yang
kudekati hanya untuk kutiduri.
.eremy mematikan laptopnya ketika aku membelokkan mobil dan
menghentikannya di sebuah lahan kosong. 'emudian kami turun
dari mobil dan berjalan kaki menuju tempat pembangunan.
'ami menghampiri sebuah bangunan sederhana berupa ruang
persegi yang menyerupai kamar, kamar itu digunakan sebagai tempat
penyimpanan berbagai macam peralatan untuk bekerja.
Ada seorang penjaga di sana. (enjaga itu berdiri dan tersenyum
ramah melihat kedatangan kami.
"(agi, (ak..." sapanya ramah.
"(agi (ak #anto."
"tulah hebatnya .eremy, dia ha/al nama semua pekerja. aik sta// di
kantor maupun buruh bangunan yang hanya sebagai pekerja
sementara.
#ementara .eremy bercakap-cakap dengan (ak #anto, aku masuk ke
dalam dan mencari helm proyek. )alu ke luar lagi dengan memba,a
dua helm proyek ber,arna merah di tanganku. Aku menyerahkan
satu pada .eremy dan memakai yang satunya untuk diriku sendiri.
Aku tidak begitu pintar bergaul dan beramah-tamah, karena itu aku
bergeser agak jauh dari .eremy dan mengamati para pekerja. #aat
itulah aku melihat dia...erlari di kejauhan dan melambaikan
tangannya ke arahku.
Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Apakah itu benar dia&
"4ai, .ar3is."
%ia sudah ada di hadapanku, meletakkan kedua tangannya di
belakang punggungnya, dan tersenyum malu-malu.
Aku mengucek mataku, masih tak percaya dengan apa yang kulihat.
""tu memang dia, bodoh," gumam .eremy yang sudah ada di
belakangku, bahunya menabrak bahuku saat mele,atiku. "4ai
Ale8." .eremy mendekati Ale8a dan mencium pipinya.
4ei, bagaimana bisa dia mencium pipi Ale8a.
"4ei, .eremy."
.eremy mengamati Ale8a yang mengenakan setelan bla=er dan
celana panjang ,arna ungu muda. "'au terlihat sangat cantik hari
ini," gumamnya menilai.
Ale8a tersenyum, "*erima kasih, kau mengirim pesan memintaku
untuk datang ke sini, ada apa&"
.eremy meminta Ale8a ke sini&
"etul. .ar3is dan aku ingin memperlihatkan proses pembangunan
tahap a,al padamu. *api..." .eremy melirik jam tangannya,
"...kebetulan aku ada janji. 0aa/ Ale8, tapi sepertinya aku tidak bisa
menemanimu. .ar3is akan mengurus semuanya, dia akan
mengajakmu berkeliling."
.eremy merencanakan ini&
Aku berusaha bersikap se,ajar mungkin. *idak melompat-lompat
kegirangan dengan situasi ini.
Ale8a melirikku, "!kay, tidak masalah."
.eremy menoleh ke arahku, "#orry bro, sepertinya aku harus
meminjam kunci mobilmu," katanya. "'au tidak keberatan kalau
nanti mengantar .ar3is kan Ale8a&"
Aku bersorak dalam hati, thanks...bro.
"*entu saja tidak." .a,ab Ale8a, bibirnya melengkung ke atas,
membentuk senyuman yang sangat manis.
.eremy berbalik ke arahku, "'unci mobilnya, bro." %ia mengulurkan
tangannya dan mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku melemparkan kunci mobilku ke arahnya dan .eremy
menyambarnya sebelum kunci itu jatuh ke tanah. )alu dia pergi dan
melambaikan tangannya pada Ale8a, "#ampai jumpa Ale8..."
Aku dan Ale8a memperhatikan .eremy sampai dia tidak terlihat.
#ekarang...4anya ada aku dan Ale8a...
"'ita mau ke mana dulu&" *anya Ale8a mengakhiri kebisuan kami.
"#ebentar, tunggu sebentar..." Aku berjalan mundur dan
menyuruhnya menunggu, ".angan ke mana-mana ya..." 'emudian
aku berbalik dan berlari masuk ke dalam kamar penyimpanan
peralatan yang tadi aku masuki.
)alu aku ke luar dengan menenteng sebuah helm proyek di
tanganku. Aku berdiri di depan Ale8a dan memakaikan helm itu
padanya, agak terlalu longgar untuk kepala Ale8a.
""ni untuk melindungi kepalamu," gumamku, mata coklatnya terlihat
melembut saat bertemu dengan mataku.
"*erima kasih..." %ia berbisik pelan.
Aku berdeham, "!kay, mari kita melihat-lihat."
Ale8a berjalan di sampingku saat aku mengajaknya berkeliling dan
menerangkan proses pembangunan supermall miliknya.
"...jadi nantinya akan ada dua pintu utama, pintu untuk hotel dan
pintu untuk supermall itu sendiri...ups," Aku menangkap tubuh
Ale8a yang condong ke samping karena tergelincir. "4ati-hati
?airy..."
*anganku merengkuh pinggang Ale8a, dan tangannya
mencengkeram bajuku kuat-kuat, menahan tubuhnya agar tidak
terjatuh.
#esaat kami saling terpaku, sampai akhirnya dia bergerak dan aku
membantunya untuk berdiri tegak kembali.
"*erima kasih," gumamnya pendek.
Aku hanya mengangguk, menenangkan jantungku yang terlanjur
berdetak sangat kencang.
"'enapa&" tanyanya pelan.
Aku tidak mengerti dengan pertanyaannya. "Apa&"
"'enapa...kau menyebutku ?airy&"
*h...
"'alau aku boleh tahu..."
Aku berdeham, menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba datang
menghampiriku. ""tu karena...saat pertama melihatmu, aku mengira
kau seorang peri."
"ni menggelikan. %ia pasti akan menerta,akanku.
*api dia hanya berpaling, menatap lembut padaku. "%i mana itu&"
0erasa canggung, aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak
gatal, "%i tengah hujan, kau merentangkan tangan dan memejamkan
matamu...dan kau...tersenyum." Aku terkekeh pelan, "'au sangat
menyukai hujan ya&"
%ia masih menatapku, kemudian dia tersenyum, "7a..." bisiknya,
"Aku sangat menyukai hujan."
Aku memalingkan ,ajahku, menghindar dari tatapannya. "+ell, itu
bagus..." 5umamku.
Ale8a berjalan mendahuluiku, dia mendekati sebuah pilar yang
belum terpasang dan duduk di atasnya. Aku menghampirinya dan
ikut duduk di sampingnya.
"#elain hujan, apa yang kau sukai&" tanyaku.
";mm...Aku suka petir."
"tu mengejutkanku.
"Aku juga suka pelangi, langit, hutan, laut, bintang, bulan, a,an,
matahari, pohon..."
"*unggu."
%ia menghentikan ucapannya dan berpaling menatapku, mengangkat
sebelah alisnya...
"Apakah bisa diselipkan kata 2kamu2 sebelum kata pelangi&"
%ia mengangguk, meski terlihat tidak mengerti dengan apa yang
kumaksud.
"Aku juga suka 2kamu2..." Ale8a terbelalak, menatapku yang
berusaha menahan ta,a. 'emudian dia tergelak.
Aku tersenyum memandangnya yang terta,a lepas. Anak-anak
rambut yang terlepas dari jalinan rambutnya berterbangan tertiup
angin, membelai-belai pipinya, membuatku merasa iri dengan anak-
anak rambut tersebut.
%ia menghentikan ta,anya dan menatapku dengan masih
menyimpan sorot geli pada matanya.
".adi...mau makan siang denganku&" *anyaku berharap.
Ale8a menggeleng, dan aku berusaha menekan rasa kece,aku.
*idak apa, .ar3is.
"agaimana kalau makan malam&" gumamnya dibalik
senyumannya.
%ia kembali mengejutkanku.
Ale8a menelengkan kepalanya dan mengangkat alisnya, melihatku
yang hanya ternganga.
Aku tersadar, dan kebahagiaan menyerbu hatiku. "!kay. $anti
malam&" kataku cepat.
Ale8a kembali terta,a mendengar ucapanku.
---
#ebelumnya aku tidak pernah makan malam dengan seorang gadis,
karena itu aku meminta bantuan .eremy. .eremy merekomendasikan
sebuah restoran dengan konsep berputar yang cukup romantis. %ia
menyuruhku untuk reser3asi tempat. *api, aku kha,atir Ale8a tidak
menyukainya. %ia agak berbeda dengan gadis kebanyakan. Aku pun
tidak melakukan reser3asi. 'upikir, toh ini bukan malam minggu.
0ungkin restoran tidak begitu ramai.
Aku berada di depan pintu rumahnya tepat pukul B, menekan bel
beberapa kali sebelum Ale8a membukakan pintu.
%ia berdiri di depan pintu, dengan gaun malam biru gelap sepanjang
lutut yang membalut tubuhnya, sepatu high heels ,arna senada
melengkapi penampilannya. %ia terlihat sangat seksi di mataku.
"#iapa di luar, sayang&" *erdengar suara perempuan dengan logat
asing dari dalam rumah.
Ale8a terlihat gugup. "*eman, Aunty." ja,abnya setengah berteriak.
#eorang ,anita ke luar dan menghampiri kami. 0atanya menyipit
saat menatap Ale8a, "*eman&" 'emudian dia berpaling menatapku
dan terlihat seperti menilaiku.
Aku tersenyum padanya, dia membalas senyumanku dan
menegaskan pertanyaannya pada Ale8a. "'au yakin hanya teman&"
"7a Aunty, dan aku akan ke luar dengannya sekarang." 'ata Ale8a
terlihat terburu-buru. )alu dia meraih tanganku, bersiap untuk
berlalu, tapi ,anita itu menahannya.
"#etidaknya perkenalkan Aunty pada temanmu."
Ale8a tersenyum gugup, aku mengambil inisiati/ dengan
mengulurkan tanganku. "#aya .ar3is, *ante."
+anita itu tersenyum hangat dan menyambut uluran tanganku,
"(anggil saja Claire," gumamnya ramah.
Aku mengangguk, "!kay, Claire."
Claire terta,a, "!kay, sekarang kau boleh pergi Ale8. #enang
bertemu denganmu, .ar3is."
Aku membungkuk sopan, "#aya juga."
)alu Ale8a menggeretku, meninggalkan *antenya.
"*antemu sangat ramah," gumamku setelah kami berada di dalam
mobilku.
"7a, dia adik kembar "buku."
""bumu mempunyai saudara kembar&" #ekilas aku teringat cerita
#andra tentang saudara kembar Ale8a yang hilang.
Ale8a hanya mengangguk, tapi matanya menunjukkan kalau dia
enggan menceritakan tentang dirinya, aku pun tidak lagi
mengungkitnya.
"'au mau mengajakku makan malam di mana&" #etengah melamun,
dia bertanya padaku.
"agaimana menurutmu dengan (ure %ine n2 %rinks&" Aku
meliriknya, ingin melihat reaksi Ale8a. 0enurut .eremy, setiap gadis
pasti suka dengan resto itu.
*api Ale8a...tidak. %ia hanya termangu dan menatap ke luar jendela.
Aku menstarter mobil dan menjalankannya.
"'au sudah reser3asi tempat di resto itu&" *anya Ale8a.
Aku menggeleng.
"agus." *iba-tiba Ale8a terlihat bersemangat.
Aku mengangkat alis tidak mengerti.
"Aku akan mengajakmu ke tempat lain," dia tersenyum misterius,
"*empat yang lebih asik." )alu dia membungkukkan badannya ke
depan dan melihat ke atas dari kaca jendela depan mobil. "$ot bad,"
gumamnya pada diri sendiri.
"Apa yang kau lihat&" tanyaku penasaran.
'embali dia tersenyum misterius, "$anti kau akan tahu."
Aku melihat Ale8a dengan sudut mataku, dia memang berbeda.
"erapa umurmu&"
Ale8a menatapku dan mengangkat alisnya dengan cara yang jenaka,
""tu pertanyaan yang sangat sensiti/."
Aku terkekeh, "7a, maa/ aku hanya penasaran."
"'enapa&"
"(ertama melihatmu, aku pikir kau baru berumur 11 atau 1< tahun."
Aku meliriknya dan melihat ekspresinya yang seolah-olah merasa
terhina dengan ucapanku, tapi aku tahu dia tidak merasa seperti itu.
"#ekarang&"
"+ell, kau terlihat lebih de,asa dari perkiraanku sebelumnya."
%ia terlihat lega mendengarnya, ""tu bagus," seringainya, lalu dia
berpaling dariku. ";murku 19 tahun," gumamnya.
'ali ini aku yang menarik na/as lega.
"Ada apa dengan gaun dan high heels& 'au sering menggunakannya
akhir-akhir ini."
"'upikir kau menyukainya&"
Aku menyeringai, menangkap maksud dari ucapannya. ".adi, kau
mengenakan gaun dan high heels itu karena berpikir aku
menyukainya&"
"*idak! ukan. 0aksudku...Ah aku tidak tahu!" %ia terlihat panik
dan memalingkan mukanya ke samping. 0enyembunyikan rona
merah yang menjalar di pipi mulusnya. Cahaya lampu dari beberapa
mobil yang berpapasan dengan kami, membuatku bisa leluasa
melihat rona merah itu.
0enurutku, itu sangat menggemaskan.
Aku terkekeh geli melihat reaksi spontan Ale8a, lalu kuletakkan
tanganku ke atas tangan Ale8a yang berada di atas pahanya dan
meremasnya lembut.
Ale8a terlihat kaget dan mengalihkan perhatiannya padaku,
menatapku dengan mata bulatnya yang melebar.
Aku tersenyum menenangkannya, "Aku menyukainya, ?airy,"
gumamku. )alu melepaskan genggaman tanganku dan
meletakkannya kembali di atas roda kemudi.
0ata Ale8a melembut, lalu dia kembali menatap lurus ke depan
dengan kedua tangan yang saling menggenggam di atas
pangkuannya.
"#ekedar in/ormasi," aku kembali bersuara, "Aku menyukai apapun
yang kau pakai."
"*erima kasih. 'alau begitu...'au yang pertama," gumamnya pelan,
,ajahnya terlihat sendu saat mengucapkan kalimat itu.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Ale8a, tapi aku tidak
ingin menanyakannya.
"erhenti di depan." 'ata Ale8a tiba-tiba, tangannya menunjuk
papan nama sebuah restoran ,estern.
"'ita makan malam di sana&"
"*idak. *api kita akan membeli makan malam di sana."
Aku mengerutkan keningku, dan menghentikan mobil di depan resto
itu. )alu berbalik menghadapnya, menunggu instruksi selanjutnya.
"'au, turunlah dan beli apapun yang bisa dijadikan makan malam
dan sebotol ,ine," katanya.
#isi lain yang baru kulihat pada Ale8a, 2bossy2.
Aku turun dari mobil dan mengikuti perintahnya. )alu kembali
dengan memba,a dua porsi tenderloin steak dan sebotol (aul
.aboulet di tanganku.
%ia tersenyum manis saat melihatku duduk dan meletakkan
ba,aanku di pangkuannya. )alu aku kembali mengendarai mobilku.
"'au harus mengikuti arah yang kutunjuk."
"*ak masalah. /ou.re the boss"" gumamku.
%ia terlihat suka dengan apa yang kukatakan.
---
#ekarang, di sinilah kami. %uduk di atas mobil, di tepi jalan kecil
tempat pertama kali aku melihat Ale8a. Aku sudah melepas jas-ku,
sedangkan high heels Ale8a tergeletak begitu saja di ba,ah mobil.
'ami sudah menghabiskan dua porsi tenderloin steak dan setengah
botol (aul .aboulet. *anpa pisau dan garpu, tanpa gelas ,ine. 'ami
saling menjilat tangan yang belepotan, dia menjilat tanganku dengan
lembut. )idahnya menyapu habis sisa-sisa makanan di jariku, dan
aku berusaha tidak memikirkan e/ek dari lidah lembutnya pada
tubuh bagian ba,ahku. #ialnya saat giliranku menjilat tangannya,
dia merogohkan jarinya ke tenggorokanku, membuatku tersedak dan
terbatuk-batuk.
Ale8a tergelak, kemudian menyodorkan botol ,ine yang isinya
tinggal setengah padaku. *api aku menangkap pergelangan
tangannya dan menatapnya tajam. Ale8a terdiam, dengan tangan
yang satunya, aku mengambil botol ,ine dalam genggamannya dan
meletakkannya di sampingku. )alu meluruskan jari-jarinya dengan
lembut, dan tanpa mengalihkan tatapanku pada bola matanya, aku
mendekatkan jari-jari tangannya pada bibirku.
Ale8a menahan na/as saat aku menyelipkan jari-jarinya ke bibirku
dan menelusurinya dengan lidahku. 0embersihkannya sampai tak
ada sisa makanan pada jarinya. #aat aku melakukan itu,
pandanganku sama sekali tidak terlepas dari matanya.
"#ekarang sudah bersih..." 5umamku.
Ale8a menarik tangannya dari genggamanku, dan meskipun dengan
penerangan yang minimum, aku yakin telah melihat rona merah
pada pipinya.
Aku terkekeh melihat Ale8a yang salah tingkah, "'enapa&" 5odaku.
Ale8a hanya mengeluarkan suara yang tidak aku mengerti, seperti
gumaman...2bukan urusanmu2 atau semacamnya.
Aku mengeluarkan rokok dari sakuku dan menyalakannya. )alu
menghisapnya dalam-dalam.
"'au merokok&" tanya Ale8a.
"'adang-kadang."
"#ituasi seperti apa yang membuatmu ingin merokok&"
Aku kembali menghisap rokok dan menghembuskannya, berusaha
agar asapnya tidak mengenai Ale8a. "0ungkin...saat stres, atau
seperti sekarang...saat aku berusaha untuk mengalihkan pikiranku."
Ale8a berpaling menatapku dan mengerutkan keningnya.
"0aksudku...seperti...yah jika seorang pria berdekatan dengan
seorang gadis cantik dan seksi, menurutmu, apa yang pria itu
pikirkan& 4al seperti itulah yang ingin aku alihkan dari pikiranku."
Aku menatapnya penuh arti.
Ale8a ternganga menatapku, "'au...menjijikkan!!!" teriaknya
membuatku tergelak.
)ucu dan menggemaskan. "tulah yang kupikirkan ketika melihat
ekspresinya saat dia mengucapkan kalimat itu.
"agaimana mungkin kau berpikir kalau itu menjijikkan& "tu hal
yang sangat-sangat normal, seperti kau membutuhkan udara,
tanaman membutuhkan air..."
%ia menutup telinganya dan terkikik geli, "#udah, hentikan..."
gumamnya dengan muka merah padam.
Aku tersenyum dan menghisap rokokku untuk yang terakhir kalinya,
lalu membuangnya ke jalan raya.
0elihatnya seperti itu membuatku sangat ingin menciumnya.
'ami terdiam beberapa saat. Ale8a mendekap kedua kakinya yang
tertekuk hingga lututnya menyentuh dada, dan meletakkan dagunya
di atas lutut. #edangkan aku berbaring telentang di sampingnya
beralaskan kedua lenganku dengan salah satu kaki yang setengah
tertekuk, menatap langit yang hanya memiliki sedikit bintang,
dengan bulan separuh yang menyembul malu-malu di balik a,an.
"0enurutmu, apa ini makan malam yang romantis& %engan langit
yang tanpa bintang dan hanya bulan separuh, bukannya bulan
penuh," gumamku sambil menunjuk langit.
Ale8a melepaskan dekapan pada lututnya dan ikut berbaring di
sebelahku. "0enurutmu romantis itu apa hanya sebatas langit penuh
bintang dan bulan yang bersinar penuh&"
Aku terdiam, menelaah ucapannya. Aku tidak tahu, aku tidak pernah
memikirkan kata itu sebelumnya.
"0enurutku, romantis itu...suatu masa dimana kita merasa bahagia,
sesederhana apapun kejadian yang membuat kita bahagia. Apakah
malam ini kau bahagia&" Ale8a berbisik di sampingku.
Aku menoleh, menatap matanya yang juga sedang menatapku. "Aku
bahagia..." gumamku pelan.
"Aku juga. erarti, kita mele,atkan malam yang romantis saat ini..."
"0eski dengan langit tanpa bintang&"
"0eski dengan langit tanpa bintang."
"0eski hanya ada bulan separuh di atas kita&"
"0eski hanya ada bulan separuh di atas kita."
"#esederhana itukah&"
"7a, memang sesederhana itu."
Aku menatap ,ajahnya yang berada sangat dekat dengan ,ajahku,
sampai aku bisa merasakan hembusan na/asnya menyapu permukaan
,ajahku.
%ia mengalihkan pandangannya dan bangkit, kemudian duduk
kembali, "'au harus mengantarku pulang, ini sudah malam."
Aku melirik jam tanganku dan mendesah kece,a. #udah le,at pukul
sepuluh, kenapa ,aktu begitu cepat berlalu&
Aku bangkit dan meloncat turun dari atas mobil, lalu membantu
Ale8a menuruni mobilku dengan mengangkat pinggangnya.
#ebelum turun. Ale8a meraih jas-ku dan botol ,ine yang masih
tergeletak di atas mobil. )alu dia menyerahkannya padaku saat
kakinya sudah menginjak tanah.
Aku menerimanya dan membukakan pintu mobil untuknya, dia
melangkah masuk, lalu aku ambil high heels-nya dan dengan
seringaian pada ,ajahku, aku melemparkan high heels itu ke
pangkuannya.
)alu aku memutar dan duduk di sampingnya, berbalik ke belakang
dan meletakkan jas serta botol ,ine itu di jok belakang. 'emudian
berbalik kembali menghadap kemudi.
Aku melihat Ale8a tidak memasang sabuk pengamannya. "'au harus
memakai sabuk pengamanmu." 'ataku, lalu aku mendekat dan
memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Ale8a terlihat gugup.
#etelah selesai dengan Ale8a, aku tersenyum dan menepuk pelan
pipinya, lalu memasang sabuk pengaman untuk diriku sendiri dan
mulai menstarter mobil.
"'apan aku bisa bersamamu lagi&" *anyaku saat mobil sudah
melaju, menembus kegelapan jalan kecil itu.
"'apanpun kau mau."
Aku tersenyum senang, "esok&" %esakku.
Ale8a terkikik geli, dan hanya mengangguk. "*api aku harus ke
kampus dulu besok."
"Aku akan mengantarmu."
"*idak usah, aku bersama #andra."
#andra. *eman Ale8a yang menyebalkan itu ya. "#andra bukannya
temanmu yang pernah menemanimu makan malam bersama .eremy
itu kan&"
Ale8a tersenyum simpul, "*eman kencanmu malam itu," gumamnya
penuh arti.
Aku meringis, "%ia bukan teman kencanku." )alu aku teringat
sikapnya malam itu, dan ingin mencari tahu sedikit tentangnya. "'au
terlihat dekat dengannya."
"#andra temanku sejak kecil, rumah kami berdekatan."
"*api dia terlihat lebih...de,asa."
"%ia memang tiga tahun lebih tua dariku, tapi kami sangat cocok.
%ia tidak menyukaimu, kau tahu&"
Aku mengerutkan keningku, sikapnya tidak menunjukkan itu.
"'atanya, dia sering melihatmu di nightclub."
#andra sudah mengatakannya padaku.
"0enurutnya kau playboy."
"!h ya&"
Ale8a menunduk, "%ia memperingatkanku agar jangan terlalu dekat
denganmu. 'atanya, kau hanya mendekati ,anita untuk ditiduri,"
gumamnya pelan.
!h tidak. Aku harus membungkam mulut si jalang itu.
"'au percaya&" *anyaku ,as-,as.
Ale8a berpaling dan menatapku, "*entu saja. #andra punya /otomu
bersama seorang gadis seksi. 'alian sedang...ehm...kau tahu
maksudku..." Ale8a mengerutkan hidungnya, "...ber...cumbu..."
katanya dengan susah payah.
%amn it.
%i luar kejengkelanku terhadap #andra, aku merasa geli melihat
betapa canggungnya Ale8a saat mengatakan 2bercumbu2.
"*api kau mau kuajak makan malam." 5umamku menahan senyum.
Ale8a tersipu, "iasanya aku menurut pada #andra. %ia satu-satunya
temanku, kau tahu." Ale8a melihatku sekilas, lalu kembali menatap
lurus ke depan. "*api, kata .eremy...pada dasarnya kau pria yang
baik, hanya...kau mempunyai sedikit masalah yang membuatmu
agak...kehilangan arah. .adi..." Ale8a mengangkat bahunya, "...tidak
ada salahnya aku mencoba untuk mengenalmu. 'ita bisa berteman,
selama..."
"Apa&" *anyaku penasaran.
Ale8a tersenyum malu-malu, "...kau tidak berusaha memaksaku
untuk telentang di ranjangmu."
Aku ternganga tak percaya mendengar Ale8a mengucapkan kalimat
itu. )alu terta,a terbahak-bahak. "Aku benar-benar sangat
menyukaimu ?airy..." gumamku diantara ta,a.
---
ab 6

S($*
'ami sampai di halaman rumah Ale8a dan melihat sebuah mobil
me,ah yang terparkir di sana.
"0ereka sudah kembali." 5umam Ale8a sambil melepas sabuk
pengamannya.
"#iapa&" tanyaku.
"!rangtuaku."
Aku ke luar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ale8a.
Ale8a menerima uluran tanganku dan melangkah turun.
"Apakah kau ingin aku mengantarmu ke dalam&" *anyaku.
Ale8a terlihat ragu-ragu, tapi kemudian kami mendengar Claire
memanggil kami.
"'amukah itu, Ale8&"
"7a, Aunty."
"!h dear, kemarilah. Ajak .ar3is masuk."
Ale8a menatapku sambil menahan senyum.
"Apa&" *anyaku.
"*idak, hanya agak mengherankan melihat Aunty Claire bisa
mengingat namamu. %ia sangat pelupa, kau tahu&"
Aku tersenyum senang, "#epertinya itu pertanda baik." 5umamku.
Ale8a menggandeng tanganku, mengajakku masuk ke dalam
rumahnya. %ia melepaskan gandengannya saat kami berjalan
menuju ruang tengah, di mana kedua orang tuanya berada.
Aku melihat Claire yang berdiri di samping seorang ,anita yang
sangat mirip dengannya -yang aku yakini sebagai 0ama Ale8a-dan
seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah, sedang duduk di
so/a.
Claire menghampiriku, ""ni .ar3is Clara, JtemanK Ale8a yang tadi
aku ceritakan," katanya menekankan kata JtemanK saat
mengucapkannya. ".ar3is, itu Clara dan +ahyu, orang tua Ale8a."
".ar3is bekerja pada perusahaan properti yang membangun
supermall kita, (apa." 'ata Ale8a, kenapa suaranya terdengar
bergetar&
(apa Ale8a berdiri dan menghampiriku, "4alo .ar3is, saya sudah
banyak mendengar tentangmu. #eorang pengusaha muda yang
jenius."
"erita di media terlalu berlebihan, !m." 5umamku, lalu kami
berjabat tangan dengan hangat.
"$ah, sekarang ceritakan sudah sampai sejauh apa proses
pembangunan proyek kami." (apa Ale8a membimbingku untuk
duduk di so/a bersamanya.
"+ahyu, itu sangat tidak sopan." *egur Claire yang disambut dengan
ta,a 0ama Ale8a.
!m +ahyu memutar kedua bola matanya, membuat aku menahan
senyum.
"0aa/kan kami .ar3is," kata 0ama Ale8a lembut. )alu beliau duduk
di samping suaminya yang langsung melingkarkan lengannya di
pundaknya.
"*idak apa-apa, *ante."
"!h ya, kata Claire kalian tadi ke luar untuk makan malam ya&
'emana&"
Aku melirik Ale8a, dan sangat membingungkanku melihatnya
berdiri di sudut ruangan, sendirian dan termangu. #eperti anak ayam
yang kehilangan induknya. Aku memutuskan untuk merahasiakan
tempat kencan kami malam ini. "4anya ke restoran tempat biasa
saya ke sana, *ante." 5umamku pelan.
0ama Ale8a menatapku, dan seperti mengingat sesuatu, dia
bertanya pada suaminya, "%ia mengingatkanku pada seseorang,
sayang. Apakah kau juga merasakannya&"
(apa Ale8a mengernyitkan keningnya, lalu berdeham, "'au
benarL"
Aku tidak memperhatikan apa yang mereka katakan. (erhatianku
teralihkan sepenuhnya pada Ale8a yang kini sedang berbicara pada
Claire. )alu Claire membimbing Ale8a ke lorong yang
menghubungkan ruang tengah dengan bagian dalam rumah yang
lebih pribadi.
"#epertinya, saya harus permisi dulu !m, *ante." 'ataku
menghentikan diskusi mereka.
!rang tua Ale8a terlihat terkejut mendengar suaraku. 0ereka pasti
sedang mendiskusikan sesuatu yang serius.
"!h, iya .ar3is. #enang bertemu denganmu." 0ama Ale8a
menja,ab dengan gugup, lalu dia berdiri diikuti suaminya.
0ereka mengantarku sampai depan pintu, dan 0ama Ale8a
melambaikan tangannya saat mobilku meninggalkan halaman
rumahnya.
Ada yang aneh dengan mereka, Ale8a dan kedua orang tuanya.
0ereka tidak bersikap seperti orangtua dan anak pada umumnya.
0engapa&
---
Aku memasuki apartemen, jas-ku kusampirkan di lengan kananku,
dan aku memba,a ,ine yang tadi kuminum bersama Ale8a dengan
senyuman lebar. 0asih tersisa setengah, dan ada bekas bibir Ale8a di
mulut botolnya.
Aku akan mengingat ,ine ini. (aul .aboulet 4ermitage )a Chapelle
tahun 2AA1.
"'au sudah pulang&"
Aku terkejut melihat )iana yang sudah ada di depanku. "!hL
4aiL" #apaku gugup.
)iana memperhatikan penampilanku, "'au habis makan malam&
ersama klien&" tanyanya.
"ChL"ya."
Aku tidak berbohong kan& Ale8a memang klienku.
)alu aku meletakkan botol ,ine yang ada di tanganku ke atas meja
dan menyampirkan jasku ke sandaran kursi.
"AhL'au memba,a ,ineL" )iana meraih botol ,ine yang baru
saja kuletakkan dan bersiap membuka botolnya ketika aku
merebutnya kembali.
)iana terlihat terkejut.
"0aa/L" 'ataku gugup, "0aa/ )iana, tapi ,ine iniL" Aku tidak
tahu mau menjelaskan apa. Apa aku harus bilang Jmaa/ )iana, tapi
ada bekas bibir gadis yang kucintai di mulut botol ini, dan aku ingin
meminumnya untuk diriku sendiriK. "tu tidak lucu.
"Aku mengertiL" gumam )iana.
Aku menatapnya kha,atir.
"otol itu pasti bekas bibir .eremy. "tu satu-satunya alasan kau
melarangku meminum ,ine itu. etul kan&"
Aku mengangguk, diam-diam menarik na/as lega.
)iana berbalik, "0andilah .ar3is. Aku menunggumu di kamar
khusus," katanya, lalu dia melangkah meninggalkanku.
'enapa sekarang aku merasa takut&
Aku mandi dengan perasaan kacau. Aku tidak ingin bersama )iana,
tapi aku tidak ingin menyakitinya. Apa yang harus kulakukan&
#aat aku berdiri di depan pintu kamar khusus, )iana sudah
mengganti pakaiannya dengan lingerie ,arna hitam yang terlihat
kontras dengan kulitnya. Dambut hitam sebahunya tergerai agak
berantakan, membuat penampilannya terlihat makin seksi.
'ebimbangan muncul dalam hatiku, antara menuruti nuraniku
atauLkejantananku.
#udah dua minggu aku tidak berhubungan seks, dan itu berpengaruh
pada prinsipku saat ini. Aku mencintai Ale8a, aku tahu itu. *api
setelah dua minggu hanya merasakan blue balls, dan sekarangL
melihat )iana yang menatapku sayuLdengan jemarinya yang
menelusuri kulit payudaranya yang tereksposLbibir yang mendesah
menyebut namakuLmembuat milikku yang di ba,ah sana
berdenyut, menuntut untuk dipenuhi kebutuhannya.
Tidak-
Aku memejamkan mataku, "0aa/kan aku )ianaL" gumamku, lalu
aku berbalik dan menyambar botol ,ine yang tergeletak di meja
depan sebelum berlari ke luar apartemen.
Aku mengendarai mobilku secepat kilat menuju ke kediaman Ale8a.
Aku tidak tahu kenapa aku lari dari )iana, bisa saja aku bercinta
dengannya, aku selalu bisa dengannya. #elama 6 tahun, aku selalu
bisa menyingkirkan harga diriku dan selalu melayaninya. 'enapa
sekarang aku merasa salah jika bercinta dengan )iana& Aku
merasaLitu tidak benar.
Aku berhenti agak jauh dari rumah Ale8a. (agarnya sudah tertutup
rapat, tentu saja, ini sudah hampir tengah malam.
Aku mengamati rumah Ale8a, mengira-ngira di mana letak
kamarnya. *idak. Aku tidak berniat untuk menyelinap masuk, hanya
sajaLjika mengetahui di mana dia berada, itu membuatku merasa
nyaman, bah,a aku berada dekat dengannya.
#uara pintu gerbang yang digeser dengan hati-hati mengalihkan
perhatianku. Aku melihat seorang satpam yang ke luar, disusul
dengan sosok yang sangat aku kenal.
"tuLAle8a. "a mengenakan kaos oblong putih dan celana katun
pendek.
Ale8a berbicara pada satpam itu, satpam itu hanya mengangguk-
anggukkan kepalanya, kemudian satpam itu membungkuk pada
Ale8a dan masuk lagi ke dalam untuk menutup pintu gerbang
kembali.
Ale8a melangkahkan kakinya perlahan. Aku bergegas menjalankan
mobilku dan menyusulnya.
Aku berhenti tepat di samping Ale8a dan menggeser dudukku untuk
membuka kaca mobil.
"0asuklah ?airyL" 5umamku, lalu membuka pintu mobil
untuknya.
".ar3is&" Ale8a terlihat heran dengan kehadiranku, tapi dia menuruti
perintahku dan masuk ke dalam mobil.
Aku menjalankan mobilku.
"'enapa kau ada di sini&" tanyanya.
Aku mengangkat sebelah alisku, "'enapa seorang gadis ke luar
sendirian di tengah malam seperti ini&"
"Aku hanya ingin mencari udara segar," gumamnya.
"!rang tuamu tidak mencarimu&"
"0ereka sudah pergi lagi."
"ukankah mereka baru datang tadi&"
Ale8a menatapku dan tersenyum, "'au tidak tahu ya& 0ereka tidak
tinggal bersamaku."
Aku mengernyitkan keningku.
"Aku tinggal bersama Aunty Claire sejak E tahun yang lalu, sejak
suaminya meninggal dan Aunty Claire tidak ingin tinggal di
#he//ield lagi."
")alu, apakah kau terbiasa ke luar pada saat tengah malam seperti
ini&"
Ale8a tersenyum tipis, "*idak juga. 4anya jika dirasa perlu."
"0enurutmu saat ini perlu&"
Ale8a kembali tersenyum, tapi dia tidak menja,abnya.
#esaat kami terdiam.
".ar3is, maukah kau mengantarku ke suatu tempat&"
"*entu saja," gumamku, "'au mau ke mana&"
"5rand Alena 4otel."
Aku menoleh ke arah Ale8a dan melihat dia sedang menatap kosong
ke luar jendela. Aku kembali /okus pada jalanan.
Ale8a seperti memendam kesedihan yang sangat dalam. Aku merasa
ingin merengkuhnya dalam pelukanku dan menghiburnya.
"AlenaL$ama hotelnya mirip dengan namamu." 5umamku, aku
merasa /amiliar dengan nama hotel itu.
""tu nama saudara kembarku. (apa membangun hotel itu lima tahun
yang lalu."
#ekarang aku ingat, lima tahun yang laluL(erusahaan !m ayu
membangun sebuah hotel yang memiliki 111 kamar, dengan 11
lantai beserta basement. Ada banyak angka 1 di sana, kurasa aku
mengerti maksudnya.
"'au tidak pernah bercerita kalau kau memiliki saudara kembar,
?airy."
"Alena hilang saat berumur lima tahun."
!h yaLAku sudah mendengarnya dari ,anita jalang itu.
"#aat itu, kamiLke luargaku dalam perjalanan piknik ke luar kota."
#uara Ale8a bergetar saat menceritakan kisahnya, "(apa berhenti di
sebuah kota kecil yang sangat indah untuk istirahat. 'ota yang
jarang sekali penduduknya, tapi aku ingat, kami mele,ati sebuah
rumah besar ber,arna putih yang sangat besar dan indah.
'upikirL" Ale8a mengerutkan keningnya, "Lrumah itu agak mirip
dengan mansion milik bangsa,an "nggris." Ale8a menghentikan
ceritanya sejenak. "'ami berhenti di pinggir hutan. Ada sungai kecil
di sana. (apa menggelar kain coklat yang diba,anya dari rumah,
sedangkan 0ama menyiapkan makan siang kami."
Aku menyimak cerita Ale8a dengan serius, sesekali menoleh
kepadanya dan menggenggam tangannya yang terasa dingin.
0emberikan dukungan padanya.
"anyak kupu-kupu di sana. #etelah makan, aku mengajak Alena
untuk menangkap kupu-kupu, kami pergi agak terlalu jauhLsampai
aku tidak sadar sudah kehilangan Alena." Ale8a menghela na/as
panjang, "'upikir dia sudah kembali lebih dulu. 0aka aku langsung
kembali tanpa mencarinya terlebih dahulu. #aat ituLlangit sangat
gelap, dan hujan sudah mulai turun. Aku pun berlari sangat kencang,
dan melihat (apa serta 0ama sudah berada di dalam mobil, mereka
berteriak menyuruhku cepat. Aku mengira Alena sudah berada di
dalam mobil bersama mereka. Aku masuk ke mobil dan mereka
menjalankan mobil dengan tergesa-gesa. 0ama sangat panik melihat
hujan yang turun sangat deras disertai angin yang kencang dan
guntur yang terus-terusan menggelegar, sehingga (apa harus
mengemudi sambil menenangkan 0ama. #etelah kami sudah
mele,ati daerah yang terkena badai, kami baru sadar bah,a Alena
sudah tidak bersama kami. 'ami langsung kembali untuk mencari
Alena, tapi jalan yang tadi kami le,ati sudah ditutup karena terkena
longsor. *idak ada alternati/ jalan lain. (apa berniat menye,a
helikopter untuk kembali, tapi cuaca yang belum stabil
memungkinkan badai bisa datang kembali. (ihak ber,ajib
menyarankan kami untuk menunggu."
"'au mengingat itu semua&" tanyaku kagum.
Ale8a menatapku tidak mengerti.
"0aksudku, saat itu kamu juga baru berumur 1 tahun kan& %an
kamu mengingat semuanya secara mendetail."
Ale8a terta,a kecil, ""ngatanku sangat kuat. *idak seperti AlenaL
dia pelupa." Ada nada getir pada suaranya.
")alu kalian menunggu&"
Ale8a mengangguk, "7a. %ua hari kemudian kami kembali. *api
kami tidak menemukan Alena. *idak ada satu pun penduduk yang
pernah bertemu dengan Alena."
".uga penghuni rumah putih yang besar itu&"
Ale8a mengernyitkan keningnya.
"'atamu tadi, kau melihat rumah besar ber,arna putih yang sangat
indah. Apakah kalian juga menanyakan tentang Alena pada pemilik
rumah itu&"
"!h ya, kami berniat menanyakannya. *api rumah itu kosong. 'ata
penduduk setempat, pemiliknya baru pindah ke .akarta sehari
sebelum kami ke sana."
Aku teringat sikap !m +ahyu dan *ante Clara saat aku bertemu
dengan mereka. .ika diperhatikan, mereka sama sekali tidak
berbicara dengan Ale8a saat itu.
"Apa orangtuamu menyalahkanmu dengan hilangnya Alena&"
"*entu saja tidak!" Ale8a menja,ab cepat, tapi kemudian dia
menundukkan kepalanya. "0ereka hanya terlalu sedihL"
gumamnya.
0endengar suaranya, aku merasa ada sesuatu yang meremas hatiku.
Aku mengerti ?airyLAku mengertiL
"4ei, ngomong-ngomong apakah kau akan menginap di hotel itu&"
Aku mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan kesedihan
Ale8a.
Ale8a tersenyum, "Aku memang mempunyai kamar di sana. *api
aku ke sana bukan untuk menumpang tidur."
"Aku tertarik dengan bagian kau memiliki kamar di sana, ?airy."
5umamku mencoba mencairkan suasana.
Ale8a tersipu dan memukul pundakku dengan tangan mungilnya.
Aku hanya terkekeh geli. "oleh aku ikut denganmu&" *anyaku
memohon.
"Apa itu karena aku mempunyai kamar di sana&"
Aku menyeringai, "*entu saja tidak. Aku hanya ingin menemanimu."
"0ungkin aku akan berdiri di atap hotel semalaman," gumamnya.
""tu menarik."
"!kay, ikutlah."
Aku tersenyum senang.
"*api kita tidak boleh terlihat bersama."
Aku mengerutkan keningku.
"*urunkan aku beberapa meter sebelum hotel, dan setelah aku
masuk, baru kau boleh masuk. *api ingat, kau harus menyelinap
untuk bisa sampai ke atas."
"agaimana caranya&"
Ale8a mengangkat bahunya, ""tu urusanmu," gumamnya. ")antai 11
kamar no. 11E."
"Apa&"
"Aku hanya akan menunggumu selama 1A menit di sana. )ebih dari
itu, silahkan pulang kembali."
Aku membelalakkan mataku, "'au sangat kejam."
Ale8a hanya tersenyum simpul, mata coklat lembutnya menatap
tajam mataku, membuatku meleleh dan tak berdaya. "(erhatikan
jalan," gumamnya geli.
Aku tersentak dan meluruskan kembali laju mobilku yang sudah
melenceng dari jalurnya.
Ale8a terta,a, dan aku tersenyum, merasa lega melihatnya sudah
melupakan kesedihannya.
"erhenti di depan," serunya sambil menunjuk ke depan.
Aku menghentikan mobilku perlahan.
"Aku turun di sini," gumam Ale8a.
Aku memperhatikan Ale8a yang turun dari mobil, dan sebelum
menutup pintu, dia membungkuk dan berkata, "ersenang-
senanglah, .ar3is. (enga,asan hotel ini sangat ketat." )alu dia
mengedipkan sebelah matanya dan melenggang pergi.
'etika Ale8a sudah tak terlihat dari pandanganku, aku menjalankan
mobilku menuju halaman hotel, turun dari mobil dan menyerahkan
kuncinya pada petugas 3alet yang menghampiriku.
Aku memasuki lobby hotel, dan merasa putus asa ketika melihat
banyaknya petugas hotel di sana.
Aku tidak mungkin bisa menyelinap masuk, dengan banyaknya
petugas hotel yang berkeliaran.
#eorang petugas menghampiriku.
"Ada yang bisa dibantu, (ak&"
Aku berdeham, lalu mengeluarkan tanda pengenalku. "#aya .ar3is,
dari .?0 5roup."
(etugas hotel itu memperhatikan tanda pengenalku, kemudian
menganggukkan kepalanya.
"7a (ak .ar3is. isa saya bantu&"
"(erusahaan kami sedang menangani proyek pembangunan
supermall dan hotel milik (* +ise %arma,an. 'ebetulan tadi saya
le,at sini, dan saya berpikir untuk melihat-lihat hotel ini. 4anya
sebagai perbandingan untuk pembangunan hotel yang akan kami
bangun nantinya. Apakah itu diperbolehkan&"
"#ilahkan Anda tunggu sebentar, saya kon/irmasi dulu pada atasan
saya."
+aktunya tidak akan cukup.
"*idak usah, sebaiknya besok saja saya kembali."
(etugas itu mengangguk, dan aku berbalik ke luar dari lobby.
Aku membelokkan langkahku ke belakang gedung. 4anya ada
beberapa petugas yang le,at, saat aku menelusuri area belakang
hotel yang agak sepi. Aku menyelinap masuk ke gudang dan
menemukan li/t barang di sana.
"ni kesempatanku.
Aku bergegas masuk ke li/t itu dan menekan tombol 11.
0elirik jam tanganku, aku ke luar dari li/t, dan mendapati aku
berada di sebuah ruangan yang penuh dengan kotak-kotak kayu.
Aku mendekati pintu dan membukanya sedikit. 0emastikan tidak
ada petugas di lorong hotel, dan segera menyelinap ke luar saat aku
yakin tidak ada petugas yang berkeliaran.
*idak ada banyak pintu di lantai ini, hanya ada tiga dengan pintu
yang baru saja aku le,ati. %ua pintu lainnya terletak berhadapan, no.
11E dan no. 111.
'embali aku melirik jam tanganku untuk memastikan aku belum
terlambat, lalu kuketuk pintu kamar no. 11E.
Ale8a membuka pintu dengan senyuman lebar pada bibirnya, dia
melongokkan kepalanya, melihat ke ujung lorong, dan menyuruhku
masuk ketika yakin tidak ada orang lain selain aku di sini.
Aku masuk dan tertegun, ini bukan kamar hotel biasa. "ni (enthouse.
#aat mendengar Ale8a berkata bah,a dia memiliki sebuah kamar di
hotel ini, tak pernah terpikirkan olehku yang dimaksud JkamarK
olehnya adalah sebuah (enthouse.
Aku menatapnya dengan pandangan menuduh, dan dia hanya
mengangkat alisnya dengan jenaka. )alu dia menggandeng
tanganku, mengajakku memasuki li/t kecil yang ada di (enthouse-
nya.
Angin dingin menerpa ,ajahku saat pintu li/t terbuka. Ale8a
mengajakku ke atap (enthouse-nya, memperlihatkan pemandangan
langit yang sangat luar biasa.
(antulan cahaya dari bulan yang bersinar penuh membiaskan ,arna
keemasan pada permukaan kolam renang yang hampir memenuhi
atap.
Aku berdecak kagum. ""niLbenar-benar indah ?airy." 5umamku
mengagumi keindahan malam yang memukau.
""ni tidak akan lama," gumamnya. Ada senyum pada suaranya.
Aku berpaling menatapnya, "0aksudmu&"
")ihat saja." %ia mengedipkan sebelah matanya penuh misteri,
membuatku terkekeh geli.
Ale8a duduk di lantai atap, dan menggeretku agar ikut duduk di
sampingnya.
Aku menunjuk tembok tinggi yang membatasi kolam renang, "Ada
apa dibalik tembok itu&" tanyaku.
"#ama dengan di sini, hanya itu milik Alena."
"Apakah kamar, maksudku J(enthouseK no. 111 itu juga milik
Alena&" *anyaku, meliriknya tajam saat mengucapkan (enthouse.
Ale8a terta,a dan mengangguk, "(apa dan 0ama sengaja
menjadikan lantai 11 khusus untuk (enthouse kami."
"*api bukannya AlenaL"
"0ereka masih berharap, suatu saat akan menemukan Alena.
egitupun denganku."
Aku merengkuh bahu mungilnya dan mendekapnya erat, "'au pasti
akan bisa menemukan Alena, ?airy." 5umamku menghiburnya.
Ale8a menyandarkan kepalanya pada bahuku, aroma lembut dan
manis dari tubuhnya menyeruak masuk ke dalam indra
penciumanku. 0embangkitkan khayalan-khayalan yang berusaha
aku pendam dalam-dalam.
*ubuhku menegang saat Ale8a bergerak, membuat rambut halusnya
menggesek leherku, dan milikku langsung terasa keras di ba,ah
sana.
!h shitL"ni akan menjadi malam yang sangat panjang buatku.
Ale8a menatap langit dengan senyuman di bibirnya, memperhatikan
bulan dan ribuan bintang yang bertebaran. )alu senyumannya
semakin lebar, dan bibir tipisnya yang selalu bisa membuat
pandanganku hanya terpaku padanya, mulai menghitung mundur.
"1A, 9, 6, BL.<, 1LEL3L2L1!"
#im salabimL)angit yang tadinya terang menjadi gelap seketika.
Aku mendongak dan mendapati a,an hitam sudah menutupi
sebagian isi langit.
""ni kejutannyaL" 5umam Ale8a, dia berdiri dan berjalan beberapa
langkah di depanku, melebarkan tangannya dan mendongakkan
kepalanya. 0atanya terpejam, dan bibirnya membentuk senyum
penuh kerinduan.
%MjN 3uLAku merasa pernah mengalami kejadian ini.
#ebaris kilat muncul di ujung langit, aku mendongak dan menatap
langit cemas.
"?airy, sebaiknya kita ke ba,ah, sepertinya akan ada badai."
#uaraku kabur, terkalahkan oleh suara angin yang bergemuruh,
Ale8a sama sekali tidak mendengarkanku. Aku kembali menatap
langit dengan cemas.
Angin kencang menghantam tubuhku, mengingatkanku akan sebuah
kesadaran yang terpendam.
"?airyL" (anggilku setengah berteriak.
*api suara halilintar yang menggelegar mengalahkan suaraku. Ale8a
tak bergeming sedikitpun.
Aku mendekap tubuhku yang bergetar, dan ketika aku merasakan
tetesan air yang membasahi tubuhku, aku mendongak ngeri.
Aku benci hujanL
Aku merasa tubuhku menjadi kaku, pandanganku berkabutL
'ilasan-kilasan kejadian pada masa laluku berkelebat dalam
benakku. #uara-suara yang menghantuiku selama ini berdenging di
telingaku.
Aku melihat tubuh "bu yang bersimbah darahL
Aku melihat *ante 0irna yang terkapar di tengah jalan rayaL
)alu aku melihat api yang berkobar-kobar, membakar sesosok tubuh.
%iantara suara petir yang terus menggelegar, samar-samar aku
mendengar sebuah suara yang membuat bulu kudukku meremang.
#uara yang mirip lolongan seekor serigala, sarat dengan kesedihanL
dan kepiluan.
Aku sudah tidak mengenali sekelilingku, ketika sebuah cahaya
memba,a pandanganku pada sesosok tubuh yang bersinar, yang
duduk di sampingku dan memba,a kepalaku di pangkuannya.
*angannya membelai pipiku, ada kekha,atiran pada mata coklat
lembutnya.
"?airyL" 5umamku pelan, aku mengulurkan tanganku, ingin
menyentuh bibirnya yang menyebut namaku dengan cemas, tapi
terjatuh ketika bibir itu belum tersentuh. )aluLsemuanya menjadi
gelapL
---
ab 9
('E $S( -EA,("#,L
Aku melihat "bu tersenyum padaku, aku terta,a gembira dan berlari
untuk memeluknya.
AnehLtinggiku hanya sepinggang "bu. )alu aku baru menyadari
bah,a ini adalah tubuh kecilku.
"bu membelai kepalaku lembut, lalu dia berlutut di hadapanku.
"#emuanya akan baik-baik saja sayangL" gumamnya.
Aku mengangguk, mempercayai ucapannya. )alu pandanganku
menjadi kabur, dan ketika semuanya terlihat jelas kembali, aku
melihat Ale8a yang berada di hadapanku.
".ar3isL" gumamnya penuh kelegaan.
*angan kanan Ale8a menyangga leherku, sedangkan tangan satunya
berada di pipiku. Aku mengangkat kepalaku yang masih berada di
pangkuannya, namun Ale8a menahannya.
"%iamlah .ar3is," dia berbisik lembut. 0atanya menatapku sayu,
"Aku sangat cemas melihatmu seperti itu."
"Apa yang sudah kulakukanL&" 5umamku tak mengerti.
)alu aku teringat dengan badai tadi, aku mendongak dan menatap
langit yang masih mencurahkan hujan. #esekali dengan kilat dan
bunyi guntur dari kejauhan. *ubuhku basah kuyup, namun anehL
perasaan yang selalu kurasakan jika berada di tengah hujan, sama
sekali tidak kurasakan saat ini. 4ilang tak berbekas.
Aku memperhatikan Ale8a yang masih menatapku, anak-anak
rambut yang lepas dari jalinan kepangnya menempel di pipinya yang
basah. Air hujan yang jatuh mengenai tubuhnya, menyisakan bulir-
bulir bening pada kulit sehalus sutranya. 0embuatnya terlihat
berkilau seolah dikelilingi berlian.
".ar3isL" Ale8a terlihat cemas.
Aku mengulurkan tanganku dan membelai pipinya lembut, "'au
sangat cantik ?airyL" gumamku, lalu aku bangkit dan duduk di
hadapannya. "Apa aku melakukan hal yang memalukan&" tanyaku.
Alisku terangkat sebelah saat menanyakan itu.
*iba-tiba Ale8a memeluk dan menubrukku, membuatku kehilangan
keseimbangan dan harus menyangga tubuh kami dengan sikuku. Aku
yang tidak menduga Ale8a akan berbuat seperti itu hanya tertegun.
"'au benar-benar membuatku kha,atir .ar3isL" bisiknya, dan dia
memelukku makin erat.
Aku tersenyum dan menelusupkan kepalaku pada lehernya, lalu
mengusap punggungnya pelan.
"Aku tidak apa-apa. #emua akan baik-baik sajaL" gumamku.
0ataku menera,ang, mengingat ,ajah "bu yang tersenyum saat
mengucapkan kata-kata itu dalam mimpiku.
Ale8a melepaskan pelukannya dan menatapku sekali lagi.
Aku mengangguk, meyakinkannya bah,a aku baik-baik saja.
"'au ingin kita ke ba,ah sekarang&" *anya Ale8a pelan.
Aku memperhatikan sekelilingku, kupikir hujan tidak akan berhenti
dalam ,aktu dekat, tapi aku tidak merasakan kecemasan sama
sekali.
Aku berpaling dan menatap Ale8a lembut, mengulurkan tanganku
untuk menyentuh bibirnya yang selalu menarik perhatianku. "Aku
inginL" Aku menelan ludahku, "Lkita tetap di sini ?airy."
#aat ujung jariku merasakan kelembutan bibir Ale8a, aku tahuLaku
merasa tidak akan cukup hanya dengan menyentuhnya.
Aku menatap mata coklat Ale8a lekat, membelai bibirnya dengan
jariku. 0enyusuri pipinya yang halus, menyingkirkan anak-anak
rambut yang menempel pada pipinya dan menyelipkannya ke
belakang telinganya. *anganku merasakan kenyamanan saat
menyentuh leher belakangnya, dan aku mendiamkannya di sana.
'ami saling menatap lekat satu sama lain, enggan untuk melepaskan
diri. .antungku berdetak lebih kencang saat tanganku menekan
lehernya hingga ,ajahnya mendekat ke ,ajahku. )alu aku menekan
bibirnya dengan bibirku. Ale8a mengerang, dia memejamkan
matanya dan membuka mulutnya, memberikan akses agar aku lebih
mudah merasakan kelembutan dan kehangatan bibirnya.
Aku melumat bibirnya lembut, mencecap dan menjelajah mulutnya
dengan lidahku. 0erasakan tiap-tiap jengkalnya.
!h *uhanLAku merasa kembali hidup setelah seribu tahun lamanya
mati.
Ale8a melingkarkan lengannya ke leherku, dia mulai membalas
ciumanku. Aku makin kehilangan kendali. 'ami saling berpelukan
dengan bibir yang masih terpaut, saling mencecap dan merasakan ke
dalaman masing-masing.
*anganku yang semula cukup hanya dengan membelai rambutnya,
kini menelusuri tubuhnya yang dibalut pakaian basah, meremas tiap
lekukannya, dan merasakan sensasi yang membuat jantungku
melompat.
Ale8a mendesah dan mendorongku hingga aku telentang di atas
lantai, dia menggeliat di atasku saat tanganku meremas
pinggangnya. )idahnya dan lidahku saling membelit, tak ada yang
ingin berhenti. *anganku meluncur turun ke ba,ah pinggulnya dan
menemukan bongkahan pantatnya yang indah. Aku membelai dan
meremasnya, Ale8a membalasnya dengan memutar pinggulnya di
atas kejantananku, milikku yang sudah mengeras dengan hanya
menyentuhnya, kini semakin keras dan tegang. Aku memejamkan
mataku dan mengerang, tidak menduga Ale8a dapat melakukan
gerakan yang bisa membuatku gila.
Aku berguling dan merubah posisi kami, kali ini Ale8a berada di
ba,ahku. Aku tidak ingin kehilangan kendali, bersama Ale8aL
akulah pemegang kendalinya. .ika aku tidak ingin semuanya
berakhir dengan cepat.
Aku melepaskan ciumanku, Ale8a mengerang protes.
Aku menatapnya dengan pandangan berkabut, "4entikan aku
?airyL.ika kau tidak menghentikannya sekarang, aku pastikan aku
tidak akan bisa berhenti." 5umamku dengan suara bergetar dan
na/as yang menderu menahan gairah.
Ale8a menyentuh pipiku, "Aku tidak akan menghentikanmu, .ar3is.
*idak akanL"
Aku tidak menunggu kelanjutan dari ucapan Ale8a, bibirku kembali
menekan bibirnya dan melumatnya dengan rakus. Ale8a meraih
ujung kaosku dan menariknya ke atas, aku melepaskan ciumanku
saat Ale8a menarik kaosku mele,ati kepalaku dan kembali
menciumnya ketika kaosku sudah terlepas.
Ale8a melepaskan ciumanku, kali ini aku yang mengerang protes.
"(elan-pelan .ar3is, aku tidak akan kemana-mana, okay&"
Aku mencoba untuk menenangkan diriku.
"ni sulit.
Ale8a menyentuh dada telanjangku dan membelainya dengan
lembut. ;jung jarinya menelusuri bekas luka memanjang pada
pangkal leherku. Ale8a mendesah, "%emi *uhan, kau sangat indah
.ar3isL"
Aku menarik kaos Ale8a ke atas, membukanya dan melemparkannya
ke samping. "'auLcantikL" 5umamku, lalu aku melepas kancing
celana pendek Ale8a dan menurunkan ritsletingnya. 0enarik celana
itu hingga terlepas dari kaki Ale8a, "#angat cantikL"
0ataku meredup melihat tubuh Ale8a yang hanya mengenakan
setelan pakaian dalam ,arna peach, terlihat lembut di kulitnya yang
pucat. *anpa mengalihkan pandanganku, aku melepas celanaku.
'ini aku berlutut di samping Ale8a yang hampir telanjang, dengan
kejantanan yang mengacung tegak, dengan angkuhnya
memperlihatkan seberapa besar dia terpengaruh dengan tubuh indah
Ale8a.
Aku membelai bahu Ale8a dan menurunkan tali bra-nya, merasakan
kelembutan kulitnya. $a/as cepat Ale8a memberikan gerakan yang
indah pada dadanya, aku meraba bagian depan dadanya dan melepas
kaitan bra-nya. Ale8a tercekat saat payudaranya terekspos di
hadapanku. De/lek tangannya ingin menutup dadanya, namun aku
menahannya.
"*idak apa-apa, sayang. 'auLindahL" isikku.
Ale8a memejamkan matanya ketika tanganku meluncur turun ke
ba,ah perutnya hingga sampai pada kain segitiga tipis yang
menutupi puncak ke,anitaan Ale8a. Aku mengaitkan jariku pada
karet celana dalam itu dan menariknya ke ba,ah. 0enggulungnya
hingga terlepas dari kedua kakinya. Ale8a merapatkan kakinya,
perlahan aku membimbingnya untuk membuka kakinya hingga
memperlihatkan keindahan yang membuat pandanganku nanar.
Aku menelan air liurku, melihat milik Ale8a yang sangat indah. %ia
bersih dan tercukur rapi. erbeda dengan milik )iana yang lebih
suka menebalkan pubisnya, Ale8a hanya menyisakan sedikit dan
tipis. Aku menyentuhnya dengan jariku, pubisnya terasa lembut,
tidak kasar dan menusuk.
Ale8a kini membuka matanya, menatapku dengan sayu. Aku
mendekati ,ajahnya dan mengecup ujung bibirnya lembut, lalu
pipinya, dan turun ke lehernya.
Ale8a melentingkan punggungnya saat bibirku sampai pada salah
satu puncak payudaranya. 0enyusuri puting pink pucatnya dengan
ujung lidahku, dan memilin-milin puting yang satunya dengan
tanganku. Aku menghisap puting Ale8a dan menariknya hingga
terlepas. Ale8a memekik dan berusaha menahan kepalaku di atas
payudaranya.
"*etap di situ .ar3isL.angan berhentiL"
"Aku mau saja sayangLtapi aku ingin merasakan bagian tubuhmu
yang lainL" gumamku dengan seringaian pada ,ajahku.
Ale8a mengerang, "'au menyiksakuL"
Aku mengangkat ,ajahku dan mengusap pipinya lembut, "*idak
akan ?airyLpercayalah padaku."
4ujan belum berhenti, tetesan-tetesan airnya membasahi tubuh
Ale8a dan membuatnya berkilau terkena pantulan cahaya lampu
kolam renang yang bersinar redup.
Aku berdecak, mengagumi keindahan yang ada di depanku. 0ilikku
sudah terasa sakit menahan keinginan untuk terlampiaskan, tapi aku
menahannya. "ni bukan untukku, ini untuk Ale8a.
Aku menangkupkan telapak tanganku pada payudara Ale8a dan
mendesah senang ketika melihat payudaranya terasa pas di ba,ah
telapak tanganku. Aku memijatnya pelan, sesekali memelintir
putingnya dengan jariku.
Ale8a mengeluarkan suara desahan yang makin membangkitkan
libidoku, aku merunduk dan mencium pusarnya, menyusuri tiap
bagian perutnya dengan lidahku.
".ar3isL"
Aku merasa mabuk mendengar Ale8a menyebut namaku. erkali-
kali aku mendengar ,anita yang bercinta denganku menyebut
namaku dengan memuja. *api ini Ale8a, gadis yang kucintai. *erasa
sangat berbeda ketika dia yang menyebut namaku. Aku merasaL
Aku bisa melakukan apapun agar Ale8a bersedia menyebut namaku
seperti itu.
Aku mencium puncak ke,anitaan Ale8a dan menyelipkan lidahku di
antara celahnya, melakukan gerakan memutar pada klitorisnya.
".ar3is!" Ale8a memekik ketika aku menghisap miliknya.
Aku menyeringai dan kembali menghisap miliknya, lalu
menusukkan lidahku pada ke,anitaannya.
Ale8a menggelinjang dan menggerak-gerakkan pinggulnya, aku
menahannya dengan menekan pinggangnya agar bibirku tetap
bersentuhan dengan bibir ba,ahnya.
Ale8a mengerang parau, tubuhnya terasa bergetar dalam sentuhanku.
"'limakslah untukku sayangL" isikku diantara hisapanku.
Ale8a mengalihkan tangannya pada rambutku. %ia
mencengkeramnya kuat-kuat dan berusaha menarik kepalaku
menjauh dari miliknya. Aku menahannya dan terus menghisap
miliknya, menusuknya dengan lidahku dan memutar-mutarnya di ke
dalamannya. 0encari titik-titiknya yang sensiti/, sampai aku
merasakan getaran pada tubuhnya dan denyutan pada
ke,anitaannya. Aku tidak menarik ke luar lidahku, aku hanya diam,
merasakan denyutan yang mengelilingi lidahku. 0enahan
keinginanku yang makin tidak terkendali, dan meskipun ingin, aku
tidak menghisap habis cairan Ale8a. "tu akan berguna ketika aku
memulainya nanti.
'etika Ale8a sudah lebih tenang, aku mengangkat kepalaku dan
mendekati ,ajahnya. %ia tersenyum dan menatapku malu-malu.
".ar3isLkauLiniLsangatL"
")uar biasa." Aku menyelesaikan kalimatnya dengan senyuman pada
,ajahku.
Ale8a memejamkan matanya dan mengatur na/asnya. Aku
melingkupi tubuhnya dengan tubuhku dan meletakkan kepalaku di
dadanya. 0ilikku yang sudah terasa berdenyut menusuk keras
kakinya, membuat Ale8a membuka matanya dan menatapku lembut.
"#ekarang, mari kita urus dirimuL" gumamnya jenaka.
Aku mengangkat kepalaku dan mengecup matanya, "Aku bisa
mengurus diriku sendiri, ?airy."
)alu aku mencium bibirnya dan melumatnya lembut. Ale8a
membalas ciumanku, berbeda dengan tadi, kali ini dia lebih lihai
dalam mencium. Ale8a membelit lidahku dengan lidahnya dan
menghisapnya lembut. Aku kelabakan menghadapi ciumannya dan
membalasnya dengan lumatan yang panjang.
'ami melepaskan ciuman kami, na/as kami memburu dan aku
menempelkan keningku pada keningnya.
Aku menyeringai, "5adis pintar. 'au cepat belajar, sayang."
Ale8a balas menyeringai, kemudian dia memutar pinggulnya.
Aku mengerang, "!h shit. 7ou dri3e me cra=y." Aku menekan
pinggulku pada pinggulnya. "'atakan padaku, ?airy. Apakah kau
benar-benar menginginkan ini&"
"7a .ar3isL7aLAku menginginkannya."
"Aku tahu ini yang pertama buatmu. 0ungkin akan sedikit
menyakitkan sayangL" isikku, aku menggigit cuping telinganya
lembut.
";ughhLAku tidak peduli .ar3isL#ialanLAku benar-benar tidak
peduliL"
Aku menatap lembut pada ke dalaman mata coklatnya dan bersiap
memasukkan milikku pada ke,anitaannya ketika Ale8a berbisik.
".ar3isL"
Aku berhenti dan menatapnya, mencoba untuk tidak menampilkan
ekspresi kece,a pada ,ajahku karena sudah dihentikan. Aku tidak
ingin menjadi laki-laki brengsek. Aku akan menghargai keputusan
Ale8a jika dia berubah pikiran.
"Aku hanya ingin kau tahuLAku menarik ucapankuL"
Aku mengangkat sebelah alisku tak mengerti.
"ah,a aku keberatan jika kau memaksaku telentang di ranjangmu."
Aku mengerti. Aku menunduk dan mengecup keningnya.
"#ejujurnya, aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Aku tak
peduli jika kau memaksaku, aku tak peduli jika kau jadikan one
night standLAkuL"
Aku menempelkan bibirku pada bibirnya, menghentikan ucapannya.
"Aku menginginkanmu sejak pertama aku melihatmu, ?airy. %i jalan
itu, di tengah hujan ituL"
Ale8a terbelalak dengan matanya yang berbinar, tangannya
merengkuh leherku dan dia mencium bibirku keras.
Aku meletakkan kejantananku pada intinya. 0erasakan desahan
na/asnya ketika milikku mulai mendesak masuk ke dalam lubang
ke,anitaannya.
Aku berusaha melakukannya sepelan mungkin, mendorongnya
sedikit demi sedikit, sampai aku merasakan adanya lapisan yang
menahan ujung penisku. Ale8a memekik, aku berhenti sebentar dan
menciumi leher Ale8a, mengecupnya dengan lembut. Aku
merasakan milik Ale8a menahanku. Aku menggertakkan gigi,
menahan keinginanku untuk menusuknya dengan keras.
Aku memejamkan mataku. *enang .ar3isL*enangL
Aku mendorong pinggulku perlahan, mencoba menembus selaput
tipis yang menghalangiku. (ada dorongan ketiga, Ale8a menjerit
keras, dia mencengkeram punggungku sampai aku bisa merasakan
kukunya menembus kulitku. Aku terkesiap ketika merasakan
milikku terhisap ke dalam ke,anitaan Ale8a disertai dengan
cengkeraman ketat di sekitar kejantananku.
!h *uhanL"niLiniL
Aku kehabisan kata-kata. (uluhan atau bahkan mungkin ratusan
,anita yang pernah kutiduri, tidak sebanding dengan ini. ahkan
jika mereka disatukan dan melakukan kegel secara bersamaan, itu
benar-benar tidak ada artinya dibandingkan dengan milik Ale8a. %ia
begituLbegitu ketatLbegitu lembut dan panas.
Aku merasa terbakar ketika menerima kenikmatan ini. 4angus dan
melebur bersama hasrat yang begitu menggelora.
Cengkeraman kuku Ale8a semakin kuat. #usah payah aku mencoba
untuk diam, menatap ,ajahnya yang menahan sakit. 0elihat mata
coklatnya yang berkaca-kaca, aku ingin menghilangkan rasa sakit
yang menderanya. "#ssshhLsayang, aku tidak bermaksud
menyakitimu."
Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menciumi lehernya
dan menjilati cuping telinganya. )alu aku mengecup bagian-bagian
,ajah Ale8a. 'eningnyaLmatanyaLpipinyaL'emudian
memberikan ciuman yang dalam dan intim di bibir tipis Ale8a.
)alu, ketika Ale8a sudah lebih tenang, aku mulai menggerakkan
pinggulku. 0ula-mula perlahan dan teratur, namun ketika Ale8a
mulai ikut bergerak, menjepit pinggangku dengan kakinya dan
memutar pinggulnya, aku kehilangan kendali. 'enikmatan yang
kurasakan membuatku melayang-layang. Crangan dan desahan
Ale8a semakin membuatku /rustasi.
"!h *uhanL?aiL!h *uhanL?aiL" 4anya kata-kata itu yang bisa
terucap dari bibirku.
Aku menangkupkan kedua tanganku pada pipinya, menyangga bobot
tubuhku dengan sikuku. 0engunci matanya dengan mataku.
Ale8a mendesah, ".ar3isLAkuLAkuL"
Aku melumat bibir Ale8a, "?aiL%emi *uhan ?aiL" Aku
mempercepat gerakanku, "'limakslah bersamaku ?aiL'limakslah
untukkuL"
ersamaan dengan itu, aku mendorong pinggulku keras dan
menekannya kuat-kuat. Ale8a menjerit, tubuhnya menegang lalu aku
merasakan denyutan di sekitar kejantananku. *ubuh kami bergetar
hebat di ba,ah tetesan hujan yang makin deras. *idak terdengar lagi
suara guntur diantara hujan, satu-satunya suara yang terdengar
adalah degup jantung kami berdua.
Ale8a membiarkanku menindihnya beberapa saat, lalu aku berguling
dan telentang di sampingnya. Ale8a menjatuhkan kepalanya ke
samping, berhadap-hadapan denganku, tangan kami saling
menggenggam erat, mata kami saling bertaut. )alu kami terta,a
bersama-sama, mendongak ke arah langit yang mulai terang,
membiarkan tetesan air hujan menerpa ,ajah kami.
"Aku jatuh cinta padamu, Ale8aL" Aku mengungkapkan perasaan
yang begitu meluap-luap dalam hatiku. 'ebahagiaan yang mengaliri
setiap pembuluh darahku dan mengiringi denyutan nadiku,
membuatku merasakan keinginan untuk mempertahankan ini. Aku
tidak akan membiarkannya le,at begitu saja. Aku ingin memiliki
saat-saat seperti ini selamanya. Aku ingin memiliki Ale8a untuk
diriku sendiri, selamanya.
Ale8a menghentikan ta,anya, aku bangkit dan mencondongkan
tubuhku ke atas tubuh Ale8a tanpa menindihnya. 0enatap mata
coklat lembutnya yang se,arna beer. enar-benar memabukkan.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu, dan meskipun aku baru
menyadarinyaLAku yakin, aku sudah jatuh cinta padamu sejak
pertama melihatmu," gumamku pelan. "'au merubah semuanya
yang ada pada diriku, aku yang tidak sempurna. *api kau adalah
peri-ku, kau yang membuatku sempurna."
Ale8a menatapku lembut, lalu dia menarikku dalam pelukannya.
"'au tahu .ar3is, bertahun-tahun lamanya aku bermimpi, bah,a
suatu saat nanti mereka akan benar-benar mencintaiku, tanpa merasa
sedih lagi jika melihatku."
Aku mengerti dengan apa yang dimaksud Ale8a, meskipun dia tidak
pernah membicarakannya, tapi aku tahu yang dimaksudnya dengan
mereka adalah kedua orang tuanya.
Aku menyusupkan ,ajahku pada lehernya dan menghirup aroma
manis lembut yang ada pada tubuhnya.
Ale8a mencium rambutku, "#ampai saat aku bertemu denganmu di
ca/e itu, aku merasaLbumiku berubah. Aku masih menginginkan
mereka, tidak pernah tidak. *api aku tidak memimpikan mereka lagi.
Aku memimpikanmu. 'auLmimpiku yang baru."
Aku mengangkat ,ajahku dan menatapnya dengan haru, "!h ?aiL,
kau sangat manisL" )alu aku mengeluarkan seringaianku, ""tu
membuatku ingin memakanmu."
Ale8a memekik dan terkikik geli ketika aku menggigiti lehernya,
lalu aku berdiri dan mengangkatnya di lenganku, memba,anya
masuk ke dalam li/t. 0eninggalkan pakaian kami yang berserakan,
sekilas aku melihat genangan air yang disebabkan oleh hujan di
lantai atap. Ada semburat kemerahan di sana, yang mulai hilang
tercampur dengan curahan air hujan. Aku mengecup bibir Ale8a
yang masih terkikik geli.
Aku baru saja bercinta dengan seorang pera,an, aku tidak bisa
menyembunyikan senyumku, merasa bangga menjadi pria pertama
bagi Ale8a. 5adis periku.
---
ab 1A
+E-E*SAAA%
'ami baru saja selesai berendam air hangat di dalam jacu==i. Aku
memandikan Ale8a, memijatnya dengan lembut dan meremas
beberapa bagian tubuhnya yang menarik perhatianku. %an meskipun
milikku mengeras di ba,ah sana, aku sama sekali tidak
mengajaknya bercinta. Ale8a membutuhkan ,aktu beberapa saat
untuk memulihkan rasa sakit akibat kehilangan 3irginitasnya, dan
sebagai seorang pria sejati, aku harus menghormati itu.
"Aku harus menelepon .eremy." Aku menghampiri Ale8a, "(onselku
tertinggal, boleh aku pinjam ponselmu&"
Ale8a mengangguk, dia tidak memalingkan ,ajahnya dariku. %an
dia berusaha menahan ta,anya.
Aku memutar bola mataku, "*idak usah berpura-pura. 'au boleh
terta,a jika kau ingin terta,a."
)alu meledaklah ta,a Ale8a, dia menelungkupkan mukanya di atas
bantal untuk meredam suara ta,anya.
Ale8a tidak menyimpan nomor ponsel .eremy, beruntunglah aku
mengingatnya di luar kepala. Aku menekan beberapa tombol dan
menunggu panggilanku tersambung.
"4aloL"
".eremy, aku butuh bantuanmu." #eruku begitu mendengar suara
.eremy menyahut dari seberang.
".ar3is. #ialan, kau di mana& #emalam )iana menghubungiku, dia
mengira kau bersamaku. Ah brengsek, kau harus tahu apa yang
dikatakan )iana padakuL"
".eremy."
.eremy terdiam, aku mendengar dia menarik na/as. "!kayL'au di
mana&" tanyanya lebih tenang.
"Aku di hotel. 'au harus menyuruh seseorang untuk membelikanku
pakaian dan memba,anya ke sini."
"'enapa dengan pakaianmu&"
"'uceritakan nanti."
"!kay, harus kukirim ke hotel apa&" )alu terdengar bunyi kertas
dirobek.
"5rand Alena 4otel. (enthouse 11E atas nama Ale8a."
4ening sesaat di sana, lalu .eremy terta,a terbahak-bahak, sampai
aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku. "%asar si brengsek
yang beruntung. 'au bersama Ale8, ha&" tanyanya diantara gelak
ta,anya. "Apa kau bercinta dengan Ale8 sedemikian hebatnya
sampai-sampai kau membutuhkan baju baru&"
".eremy." Aku memperingatkannya.
.eremy sama sekali tidak mempedulikan peringatanku, dia masih
saja terta,a meski sudah tidak sekeras tadi. "'atakan padaku, apa
sekarang kau telanjang di depan Ale8&"
"Aku tidak harus menja,abnya." %engusku kesal.
"!LoL'au harus, terutama jika kau menginginkan bajumu."
#ialan.
Aku melirik Ale8a yang sudah berhenti terta,a tapi masih terlihat
geli. )alu aku menunduk, memperhatikan diriku sendiri.
*entu saja aku tidak telanjang, tapi aku mengenakan jubah mandi
,arna pink yang kekecilan di badanku. .ubah mandi milik Ale8a,
panjangnya hanya setengah pahaku dan jubah ini sama sekali tidak
menutupi dadaku. .eremy akan senang sekali jika mengetahui aku
memakai ini, dan itu akan menjadi olok-oloknya sepanjang tahun.
Akan lebih baik jika dia tidak mengetahui hal ini. "7a, aku
telanjang."
'embali aku mendengar .eremy terta,a. Aku menekan tombol
ponsel dengan kesal, memutuskan sambungan telepon.
Aku meletakkan ponsel Ale8a ke atas meja dan berpaling menatap
Ale8a tajam.
0elihat ekspresiku, Ale8a berusaha mengatupkan bibirnya. %an
ketika bibirnya tidak bisa menutupi seringaian lebarnya, dia
membungkamnya dengan tangannya. *api sepertinya sia-sia, karena
tak berapa lama kemudian, Ale8a sudah kembali tergelak.
Aku melompat ke arahnya dan menindihnya, menciumi perutnya
hingga dia berteriak-teriak minta ampun karena kegelian.
"4entikan .ar3is, hentikanL" teriaknya disela-sela ta,anya.
"Aku akan berhenti kalau kau berjanji tidak menerta,akanku lagi."
"Aku berjanjiLAku berjanji .ar3isL"
Aku menghentikan aksiku, mendongakkan kepalaku dan
menatapnya dengan seringaian penuh kemenangan di ,ajahku.
Ale8a mengatur na/asnya yang tersengal-sengal, dia memegangi
dadanya. "DasanyaLdadaku hampirLmeledakL" gumamnya
payah.
Aku terkekeh dan menghempaskan tubuhku di samping Ale8a.
"#udah lama aku tidak terta,a sekeras ini."
Aku merasa tidak nyaman dengan jubah mandi yang kukenakan, aku
bangkit dan melepaskan jubah itu, lalu menarik bedco3er untuk
menutupi bagian ba,ah tubuhku sampai pinggang.
"'au tidak harus menutupinya dengan bedco3er." 5umam Ale8a,
seringai jahil menghiasi ,ajahnya.
"'alau begitu, sebaiknya kau juga tidak mengenakan piyama ituL"
'ataku sambil berbalik ke atas Ale8a dan melucuti piyama yang
dikenakannya.
0enyadari ketelanjangannya, Ale8a menyusup masuk ke balik
bedco3er, dan berbalik miring membelakangiku. #ekilas aku melihat
,ajahnya merona.
Aku terkekeh dan meraihnya, membuatnya meringkuk dalam
pelukanku. *ubuhnya terlihat mungil dan rapuh ketika berada dalam
dekapanku. Aku mencium puncak kepalanya dan menahannya di
sana. (erasaan nyaman dan bahagia mengaliri setiap pembuluh
darahku, memompanya sampai memenuhi dadaku.
".adilah milikkuLselamanya, ?airy." 5umamku pelan.
Ale8a merapatkan tubuhnya, membuat punggungnya sepenuhnya
menempel ke dadaku. %ia terasa pas berada dalam dekapanku, lekuk
tubuhnya mengisi bagian-bagian tubuhku dengan sempurna, bagai
dua potong pu==le yang disatukan. #eolah-olah dia memang
diciptakan dari bagian tubuhku, seperti 4a,a yang tercipta dari
tulang rusuk Adam.
Aku mencium bahunya, naik ke lehernya dan mulai menjilati cuping
telinganya. *anganku meraba payudaranya, membelainya dan
meremasnya penuh gairah. Ale8a menggelinjang, aku merasakan
bulu-bulu halus pada tengkuknya meremang.
"!h ?aiLAku ingin bercintaLAku ingin memasukimuL" isikku
menggoda.
Ale8a mendesah, dia menjatuhkan kepalanya ke bahuku. ibirnya
terbuka menyebut namaku, suaranya terdengar parau dan seksi.
"'au menginginkannya, ?aiL" 0enciumi tulang pipinya, aku
kembali berbisik, "'au ingin ereksiku masuk ke dalam milikmu
yang ketat ituLdan panasLdan lembutL"
"7aL7aL.ar3is, demi *uhan ya. Aku sangat menginginkanmuL
berada dalam diriku."
Aku melumat bibirnya, merasakan kembali kelembutannya, rasa
manisnyaLyang selalu bisa membuatku terbakar hanya dengan
menyentuhnya.
#atu tanganku meluncur turun ke intinya, membuka bibirnya dan
memasukkan jari telunjuk dan jari tengahku ke dalamnya.
#edangkan tanganku yang lain masih berada di payudaranya,
memilin putingnya dengan jari-jariku.
Aku menggeram ketika dia sudah basah untukku, "!h ?aiL'au
sangatLbasahL#angat siap untukkuL"
Aku memajukan pinggulku, membuat ereksiku berada tepat di
intinya. 0endorongnya, berusaha untuk memasukinya. Aku baru
memasukinya setengah jalan, tapi milik Ale8a sudah menghisapku
dengan sangat kuatnya, membuatku masuk sepenuhnya.
Aku gelagapan, "%amn it! !h demi *uhan ?aiL%ari mana kau
belajar menghisap seperti ituL'au membuatku terbakarL"
#etengah gila, tanganku memainkan klitorisnya, mengimbangi
perasaan ingin meledak yang kurasakan.
Ale8a mengerang, lalu dia memberikan cengkeraman yang kuat pada
ereksiku, melepasnyaLdan mencengkeram lagi.
0erasa tidak tahan, aku menarik ereksiku dari intinya dan Ale8a
mengerang sebagai bentuk protes.
"*idak sayangLukan seperti itu cara bermainnyaL" gumamku
dan membalik tubuhnya hingga telentang.
$a/asku memburu dan jantungku berdebar kencang. "%engarL
peraturannya adalah, aku akan membuatmu klimaks dan biarkan aku
merasakan kenikmatannya."
Aku mengecup bibirnya yang merengut, lalu mulai memasukkan
kembali ereksiku ke intinya. Aku menggeram, ketika merasakan
hisapan itu lagi.
"!h *uhan, berhentilah menghisapku, ?aiL'au bisa membuatku
gila."
Ale8a tidak mempedulikan peringatanku, dia menggerakkan
pinggulnya memutar, menghisap, dan mencengkeram milikku secara
bersamaan. Aku menggila, bergerak dengan liar dan tak terkendali.
Ale8a melengkungkan punggungnya, tubuhnya menegang dan
bergetar, intinya berdenyut dengan keras.
".ar3isL!hL.ar3isL" desahnya parau.
%anLmeledaklahLAku terbakar dan meleleh secara bersamaan.
0elebur bersama kenikmatan panas yang membara. Aku
menekankan pinggulku kuat-kuat, meraup kenikmatan yang seperti
tiada akhir. 0embuat jantungku seakan ingin meledak, dan tubuhku
bergetar dengan hebatnya.
")uar biasaL" %esisku parau.
Aku berguling ke samping, miring menghadap Ale8a dengan
bertumpu pada sikuku. ";ntuk seorang gadis 19 tahun yang masih
pera,an, kau termasuk hebat dalam urusan bercinta." 5umamku
menggodanya.
";ntuk seorang pria berusia 23 tahun yang berpengalaman, kau
terlihat sangat kacau."
Aku menyeringai, "'au yang mengacaukanku, ?airy."
)alu aku mengangkat bahunya dan meletakkan kepalanya di atas
dadaku. Ale8a menempelkan pipinya di dadaku, rambut coklat
gelapnya tergerai mele,ati bahuku. Aroma bunga-bungaan dari
shampoo yang digunakannya menyeruak masuk dalam indra
penciumanku, bercampur dengan aroma manis dari tubuhnya. Aku
menghirupnya dalam-dalam dan menyimpannya dalam ingatanku.
".ar3isL"
"4mmL"
Ale8a terlihat ragu-ragu, "oleh aku bertanya sesuatu&"
"7a&"
"'enapa semalam kau bersikap seperti itu&"
Aku terdiam, teringat kejadian semalam.
"'au terlihat sangat sedih dan ketakutan. 'auLmengeluarkan suara
yangL" Ale8a menghela na/as panjang, "Lmemilukan.
0engingatkanku pada lolongan serigala yang terluka. #iapapun yang
mendengarnya pasti ikut merasa sedihL"
.adi, suara lolongan yang aku dengar ituLadalah suaraku sendiri.
Aku mengusap-usap bahunya pelan.
"'au tidak perlu bercerita jika itu membuatmu tidak nyaman,
.ar3is."
Aku berpaling, menatap mata coklat lembutnya yang kini
menatapku. Cntah kenapa aku ingin menceritakannya pada Ale8a.
'ejadian yang selalu ingin kulupakan dan kukubur dalam-dalam,
yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun, bahkan )iana
sekalipun.
"erla,anan denganmu yang menyukai hujan, aku sangat membenci
hujan." Aku mulai bercerita.
Ale8a mendengarkan, sama sekali tidak menyela ucapanku.
"Aku kehilangan "buku saat berumur < tahun."
Aku merasakan Ale8a mempererat pelukannya padaku. Aku
menatapnya penuh rasa terima kasih.
"Ayahku orang .erman. Aku sama sekali tidak pernah melihatnya.
%ia meninggalkan "bu saat "bu mengandung aku."
Aku mengecup puncak kepala Ale8a, berpikir untuk tidak
melakukan perbuatan seperti yang Ayah lakukan pada "bu.
"*api meski "bu membesarkanku seorang diri, dia tidak pernah
mengeluh. %ia sangat menyayangiku dan memanjakanku," aku
menghela na/as panjang. "'ami bukan orang kaya, tapi "bu selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhanku."
"'au sangat beruntungL" gumam Ale8a sedih.
"!h sayangL" Aku mencium matanya, menghiburnya.
"*eruskan .ar3is."
""bu mempunyai seorang adik laki-laki, namanya !m enny." Aku
meringis ketika menyebut nama itu. #udah lama aku berusaha
melupakan nama itu, bahkan tidak pernah menyebutnya sama sekali.
"#e,aktu orang tua "buku meninggal, mereka me,ariskan rumah
pada "bu dan sebidang tanah untuk !m enny. ;siaku belum genap
satu tahun saat itu."
Ale8a mengecup dadaku.
"!m enny suka berjudi, tanah peninggalan 'akek dan $enek tidak
bertahan lama di tangannya. )alu dia mulai mengganggu "bu,
meminta uang dan memukuli "bu. Aku sangat membencinya."
0ataku membara mengingat kejadian itu, dimana !m enny selalu
melakukan kekerasan pada kami.
Aku menarik na/as panjang, saat sampai pada bagian yang paling
menyakitkan. "#ampai suatu malam, hujan turun sangat deras,
dengan bunyi guntur dan angin yang sangat kencang. "bu
memelukku sepanjang malam, dia menyanyikan lagu nina bobo
untuk menenangkanku."
%emi *uhan, aku tidak pernah menangis lagi semenjak beranjak
remaja, tapi kali ini aku tidak bisa menahan air mataku.
"!h sayangL" Ale8a bergeser ke sampingku dan memelukku,
"*idak usah diteruskan lagi, sayangL" bisiknya lembut.
Aku menggeleng, "*idak apa-apa," gumamku. "*engah malam, !m
enny membangunkanku dengan kasar, dan aku menemukan "buku
sudah tidak bernya,a lagi. !m enny membunuh "bu dengan pisau
yang diba,anya dari rumah. %ia sudah merencanakan semuanya."
Aku mengetatkan rahangku, "!m enny memba,aku dan dia
membakar rumah "bu untuk menghilangkan jejaknya."
Ale8a menatapku, ada kesedihan pada matanya. Aku mengendurkan
otot ,ajahku dan tersenyum padanya, "#emua itu sudah berlalu,
sayang." 5umamku.
Aku mengganti posisi tiduranku menjadi duduk dan bersandar pada
kepala ranjang, lalu meraih Ale8a dalam pangkuanku. "'au masih
ingin mendengar kelanjutannya&"
Ale8a mengangguk, lalu meringkuk dengan nyaman dalam
pangkuanku.
"Aku dalam keadaan pingsan ketika !m enny memba,aku ke
rumahnya. #aat aku terbangun, aku berada di pelukan seorang
,anita yang kemudian kuketahui sebagai kekasih !m enny,
namanya *ante 0irna. %ia sangat baik dan lembut, mirip dengan
"bu."
"'au menganggapnya sebagai pengganti "bumu&" *anya Ale8a.
Aku mengangguk. "!m enny sering memukuliku, tetapi *ante
0irna-lah yang selalu melindungiku dan membelaku. %ia
menyayangiku seperti seorang "bu yang menyayangi anaknya."
"!m enny selalu memukulimu&" Ale8a terlihat tidak suka.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Apa dia juga yang menyebabkan bekas luka ini&" Ale8a meraba
bekas luka memanjang di pangkal leherku, "(asti sakit sekali yaL"
"Aku masih berumur 1A tahun saat mendapatkan luka ini."
"!hL" Ale8a membekap mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Aku memeluknya dengan sayang.
"'enapa dia melukaimu&"
"'arena hari itu hujan turun sangat deras, aku tidak berani ke luar
rumah untuk bekerja, dan !m enny sangat marah. %ia kesal, tidak
bekerja berarti tidak ada uang, tidak ada uang itu artinya dia tidak
bisa bersenang-senang."
Ale8a terbelalak, "%ia menyuruhmu bekerja&"
"Aku melakukan apapun untuk mendapatkan uang, ?airy.
0engamen, jadi kuli pasar, bahkan mencopet."
"0encopet&"
Aku terkekeh melihat mata coklatnya yang membulat sempurna.
0erasa gemas, aku membekap pipinya dengan kedua tanganku, "7a
mencopet. 'au merasa pernah kehilangan sesuatu saat bersamaku&"
Aku mengerling penuh arti.
Ale8a tersipu, merasa malu, dia melepaskan tanganku dan beranjak
dari pangkuanku. )upa dengan ketelanjangannya.
"+o,, aku suka pada bagian ini, sayang!" #eringaiku puas.
Ale8a memekik, teringat dengan ketelanjangannya, dia menarik
bedco3er dan melilitkannya di tubuhnya. 0ukanya merah padam,
dan dia menatapku kesal.
Aku tergelak, "ukan salahkuL" 5umamku diantara ta,a. *api mau
tak mau milikku mulai mengeras lagi melihat ketelanjangan Ale8a.
Ale8a memperhatikan perubahan ,ajahku, lalu melirik pangkal
pahaku yang kini sudah tidak tertutup apa-apa. !h sialLmerasa
diperhatikan, milikku langsung terasa tegang sempurna.
Ale8a menggeleng-gelengkan kepalanya, "*idakL"
)alu Ale8a berbalik dan berusaha berlari. *api dia kalah cepat, aku
sudah merengkuh pinggangnya dan menariknya, sehingga dia jatuh
di atas tubuhku. Ale8a terta,a ketika aku membaliknya dengan
mudah meski dia meronta. Aku memegang kedua lengannya dengan
satu tanganku dan menguncinya di atas kepalanya, bibirku mencari
bibirnya dan melumatnya dengan rakus ketika menemukannya.
"4mmpphhhL" *a,a Ale8a terhenti. %ia berusaha memiringkan
kepalanya, tapi tanganku yang satu menahan pipinya, membuatnya
menerima ciumanku seutuhnya.
'ami sudah sama-sama terbakar ketika tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu. (anik, Ale8a mendorongku dan meraih jubah
mandinya yang tadi kupakai.
%ia mengenakan jubah mandinya dan mengikat tali pada
pinggangnya, dan berbisik padaku, "'au, diamlah di sini." )alu dia
berbalik dan ke luar dari kamar.
Aku mendengar Ale8a membuka pintu dan bercakap-cakap sebentar
dengan seseorang yang kuyakini sebagai petugas hotel. *ak berapa
lama kemudian, Ale8a kembali dengan memba,a tas kertas
eksklusi/ di tangannya.
".eremy sungguh cerdas," gumam Ale8a. Aku mengangkat alisku tak
mengerti. "%ia menggunakan tas dari butik ,anita untuk
membungkus pakaianmu."
Aku tidak begitu mempedulikan ucapan Ale8a, aku hanya ingin
menyelesaikan hasratku yang sudah begitu menggebu. Aku
mendekati Ale8a dan meraih pinggangnya, mencumbu lehernya
penuh gairah. 0eneruskan apa yang tadi sempat tertunda.
---
Ale8a tertidur di sampingku, kepala mungilnya bersandar di
lenganku. Aku menatapnya sayang, merasakan kedamaian ketika
melihat ,ajah polosnya yang tertidur. %engkuran halusnya
membuatku merasa nyaman, seolah meyakinkanku bah,a dia tidak
berada jauh dariku.
Ale8a sudah menghubungi Claire, mengatakan bah,a dia berada di
(enthouse, dan menceritakan sedikit tentangku padanya.
Aku tersenyum mengingat ekspresi Ale8a saat berbicara dengan
Claire le,at telepon. 0ukanya merah padam, dan dia berbisik-bisik
dan terus melirikku. Aku pura-pura tidak memperhatikannya, asik
dengan kripik kentang yang kutemukan di lemari pendingin. 'etika
Ale8a selesai berbicara dengan Claire, dia menghampiriku.
"Aunty ingin bertemu denganmu," katanya gugup. "0aa/, aku tidak
bermaksud mengikatmu, atau berusaha menjebakmu. *api AuntyL"
Aku menariknya, dan membuatnya meringkuk dalam pangkuanku,
"Apa yang kau bicarakan, ?airy& 'enapa kau berpikiran seperti itu&"
"Chm, kupikirLmaksudku, aku tahu kau tidak tertarik untuk
berhubungan serius dengan ,anita, .ar3is. 'au lebih suka dengan
hubungan satu malam yang tanpa komitmen apa-apa."
Aku mengangkat dagunya dan menatapnya tajam, "#iapa yang
mengatakan itu padamu&"
Ale8a menatapku bingung, "ukankahLkauL"
"5adis bodoh," gumamku lembut, aku mendekapnya dan mengayun-
ayunkannya dalam pangkuanku. "*idak mengertikah kau apa yang
kuucapkan semalam& ah,a aku tergila-gila padamu, ingin
memilikimuLdan kalau kau tidak mau mengikatku, aku yang akan
menjebakmu. 4ingga kau tidak akan bisa lari dariku."
Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku.
Ale8a mendongak dan menatapku, mata bulat coklatnya melembut.
"!h .ar3is, aku pikir itu yang selalu kau ucapkan jika bercinta
dengan seorang gadis. *idak heran jika mereka tergila-gila padamu."
Aku mengerling dan tersenyum jenaka, "Apakah itu artinya kau juga
tergila-gila padaku&"
Ale8a memukul bahuku dan menyembunyikan ,ajahnya di dadaku.
Aku terkekeh, "Asal kau tahu ?airy, aku hanya mengucapkan kata-
kata itu padamuL4anya padamuL" 5umamku pelan.
Aku menggulingkan tubuhku, menghadap Ale8a yang masih tertidur
dan membelai pipinya lembut. 0enyingkirkan helaian rambut yang
menutupi pipinya, aku tercenung, mengingat apa yang harus
kulakukan selanjutnya. 7ang pertama tentu berbicara dengan )iana,
aku harus meninggalkan )iana.
eberapa ,aktu yang lalu aku tidak memiliki kekuatan untuk
meninggalkannya, mengingat apa yang sudah dia lakukan untukku
selama ini. #ekarang, dorongan untuk mengakhiri hubunganku
dengan )iana begitu kuat.
Aku mengernyit, mungkin )iana akan terluka. Aku tidak begitu suka
mengingat hal itu, tapi jika aku tidak meninggalkannya, Ale8a yang
akan terluka. Aku, beribu kali lebih tidak menginginkan Ale8a yang
terluka.
Aku mengetatkan rahangku, kesal lebih kepada diri sendiri.
#eharusnya aku mengikuti kata-kata .eremy, meninggalkan )iana
dari dulu. #emuanya tidak akan serumit sekarang.
"Apa yang kau pikirkan&"
#uara lembut Ale8a menyentakku, aku tidak menyadari Ale8a
terbangun dan kini sedang menatapku.
"*idak sayang, aku hanya berpikir untuk mengenalkanmu pada
seseorang."
"Apa itu *antemu&"
Apa yang kukatakan& "0aksudmu&"
Ale8a tersipu, "0aa/, lupakan saja." 0atanya menghindari tatapanku
dan dia berusaha berbalik membelakangiku.
Aku menahannya, "*idak, sayang. 'atakan padaku, J*anteK siapa
yang kau maksud&"
"'au ingat saat kau dan .eremy menjemputku untuk makan siang di
restoran (rancis&"
*entu saja aku ingat. Aku mengangguk.
"Aku heran kenapa kau tidak ikut masuk ke dalam."
"tu karena .eremy menahanku.
"*ernyata karena di dalam ada *antemu."
Aku kaget menerima in/ormasi ini.
"#iapa&"
Ale8a mendekat dan meletakkan kepalanya di dadaku. "#eorang
,anita cantik menghampiri kami dan menyapa .eremy, lalu
mengajak kami untuk bergabung dengan dia dan suaminya. *api
.eremy menolaknya. 'ata .eremy, ,anita itu *antemu, kalau tidak
salah namanya )inaL"
")ianaL" Aku secara tidak sadar menyebut nama )iana.
"7a itu. )iana. $ama yang bagus, dia sangat elegantLdan juga
ramah."
Ale8a sama sekali tidak menyadari perubahan ,ajahku.
'enapa .eremy tidak menceritakannya padaku&
".ar3is."
Aku menunduk dan melihat Ale8a yang kini menatapku.
"'au tidak harus mengenalkanku pada *antemu, aku tahu itu terlalu
cepat."
!h, dia salah paham.
Aku merasa hancur saat mendengar nada tidak percaya diri pada
suaranya, "'au akan berkenalan dengannya, ?airy. 'au pantas untuk
mengenal satu-satunya keluargaku."
Ale8a menatapku tak percaya, tapi aku melihat kegembiraan di
matanya.
Aku mengangguk dan memeluknya sayang.
!h *uhanL5adis periku ini begituLbegitu tidak dimengerti. %ia
memiliki semua yang setiap gadis idamkan, tapi kenapa aku merasa,
dia tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi layaknya gadis-gadis
kaya lainnya&
#ekarang melihatnya seperti ini, merasa gembira karena akan
berkenalan dengan seseorang yang dia pikir ke luargaku, aku tidak
akan tega untuk tidak mengenalkannya pada 2*anteku2.
Aku mendekapnya erat. .ika memang harus hancur, hancurlahL
#elama aku tidak harus kehilangan Ale8a tidak apa-apa.
---
ab 11

*E(A+
'upikir semuanya akan baik-baik saja...
(ada a,alnya semuanya memang baik-baik saja. 'ami menemui
Claire, makan siang bersamanya, dan berbincang-bincang
dengannya sejenak. Aku senang karena Claire terlihat menyukaiku,
tak henti-hentinya dia menceritakan kecerobohan Ale8a semasa
kecil, membuat ,ajah Ale8a merah padam dan aku tidak berhenti
terta,a lebih karena melihat reaksinya.
#ungguh, aku tidak pernah merasa selengkap ini sebelumnya.
#ore hari, aku mengajak Ale8a ke apartemenku, menembus hujan
yang masih setia membasahi bumi. %alam perjalanan, jika ada
kesempatan, aku selalu memperhatikannya dengan senyuman yang
terus mengembang pada bibirku. Aku menyukai penampilannya sore
ini, dia mengenakan celana jeans ketat. *-shirt orange cerah -dengan
tulisan 7ours di dadanya-yang dikenakannya, mempunyai garis leher
yang lebar, memperlihatkan sebagian bahunya yang terlihat kontras
dengan ,arna *-shirt itu. %an aku suka dengan kombinasi karet
lebar pada bagian ba,ahnya, membuat kaos itu menggantung di atas
pinggangnya, sehingga jika aku beruntung, aku bisa mengintip
perutnya yang selalu membuatku ingin menyentuhnya dengan
lidahku.
%i dalam li/t, aku melihat muka Ale8a yang agak pucat, dan ketika
pintu li/t terbuka, dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
Aku menggenggam tangannya lembut, "Ayo..." 5umamku pelan,
mengajaknya ke luar dari li/t.
Ale8a tak bergeming, pandangannya sama sekali tidak /okus.
"'urasa sebaiknya aku pulang, .ar3is," gumamnya gugup.
#eharusnya aku menurutinya, dan mengantarkannya pulang, tapi
bukan itu yang kulakukan...
"*idak sayang, kau sudah berada di sini. "kutlah denganku..." Aku
mencium tangannya yang berada dalam genggamanku untuk
menenangkannya.
"Apa menurutmu ini tidak terlalu cepat&"
"*idak ada yang terlalu cepat. 'ita bertemu, kita saling jatuh cinta
dan tertarik satu sama lain, lalu kita menjalin hubungan serius, itu
sederhana." Aku berkata lembut untuk membujuknya.
Ale8a terlihat bimbang, "*api..."
;capannya terhenti dan berganti dengan pekikan ketika aku
mengangkat tubuh mungilnya dan meletakkannya di atas bahuku,
"*idak ada tapi." 5umamku tanpa basa-basi.
Ale8a berteriak-teriak dan memukul-mukul punggungku sekuat
tenaga, aku hanya terkekeh menerima pukulannya.
"*urunkan aku, .ar3is! Aku tidak suka diperlakukan seperti ini,
turunkan aku!" %ia benar-benar terdengar kesal.
Aku membuka pintu apartemen, "#ebentar lagi sayang..."
)alu aku menurunkan Ale8a saat berada di dalam apartemenku.
Ale8a mendengus kesal, ,ajahnya merah padam. "'au membuatku
marah." %ia menuju so/a dan menghempaskan tubuhnya untuk
duduk di atasnya, tangannya terlipat di depan dadanya dan dia
terlihat sangat marah.
%emi *uhan...%ia terlihat seksi ketika marah.
'ejantananku terasa mengeras di ba,ah sana. Aku menghampirinya
dan berlutut di depannya, meraih tangannya yang terlipat di depan
dadanya untuk kugenggam.
"0aa/kan aku..." Aku memasang ,ajah memelas.
Ale8a memutar bola matanya.
%emi bolaku, posisi berlututku kali ini benar-benar membuatku
tersiksa.
0enahan rasa sakit di area 3italku, aku menggigit bibir ba,ahku.
"'alau kau mau, kau bisa bercerita kenapa kau tidak suka
diperlakukan seperti itu." Aku berusaha membujuknya.
#esaat Ale8a menatapku, kemudian dia terlihat lebih santai. ahunya
mulai melemas. ""tu karena papa..." gumamnya kemudian.
Aku mengangkat sebelah alisku, mendorongnya untuk terus
bercerita.
"%ulu, jika aku nakal atau tidak mau menurut, (apa selalu
mengangkatku di atas bahunya dan memba,aku ke gudang untuk
mengurungku..."
Aku berusaha menyembunyikan senyumku.
Ale8a menatapku tajam, ""tu tidak lucu."
"Aku tidak menganggapnya lucu." *api aku tidak bisa menahan
senyumku yang semakin melebar.
"'au terta,a."
Aku memalingkan mukaku, menghindar dari tatapannya, "*idak."
%an kemudian, ketika Ale8a menyipitkan matanya, menyelidik
kesungguhanku, aku tergelak.
Ale8a merengut, dia kembali menyilangkan kedua tangannya di
depan dada.
Aku berdiri dan duduk di sampingnya, berusaha menghentikan
ta,aku.
"'au menyebalkan," gumamnya kesal.
"'au tahu kenapa kami para pria senang melakukan itu padamu&"
Ale8a melirikku, dan meskipun kesal, dia terlihat tertarik dengan
ja,abannya.
"'arena kau sangat menggemaskan." Aku mendekap tubuhnya,
menariknya hingga punggungnya menempel di dadaku.
#esaat tubuh Ale8a menegang, kemudian aku meletakkan daguku ke
atas puncak kepalanya dan mengayun-ayunkan tubuhnya lembut.
"0aa/kan aku..." 5umamku.
(erlahan tubuh Ale8a merileks, dan terlihat menikmati ayunanku.
"'au berjanji tidak akan melakukannya lagi&" tanyanya.
Aku menyeringai, "0aa/ sayang, sepertinya aku tidak bisa berjanji.
Aku sangat menyukai tubuh mungilmu berada di atas bahuku."
Ale8a menarik tubuhnya dari dekapanku, berusaha melepaskan diri.
*api aku menahannya dan membalik tubuhnya hingga dia
menghadapku. Aku membuat tubuhku telentang di atas so/a dengan
Ale8a berada di atasku. +ajahnya sangat dekat dengan ,ajahku, aku
bisa melihat dengan jelas ketika pipinya merona, kurasa itu karena
dia merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya.
Aku kembali menyeringai, "'au merasakannya, ?ai. agaimana kau
selalu bisa membuatku bergairah&"
Ale8a semakin merona, dia menahan tubuhnya dengan kedua
lengannya. "tu sama sekali tidak berarti bagiku, aku menariknya
lebih keras, membuatnya lebih dekat denganku. 'ini telapak tangan
sampai sebatas sikunya menempel di dadaku. 0ata bulat Ale8a
terbuka lebar, terlihat gugup dan malu.
Aku menekan lehernya ke arahku, membuat bibirnya yang sedikit
terbuka menempel pada bibirku, dan aku merasakan sentakan keras
pada jantungku.
%emi *uhan, berkali-kali aku menciumnya, dan berkali-kali juga aku
terbakar.
Ciumanku penuh gairah...sangat menuntut...sangat mendesak.
#eolah-olah aku tidak akan pernah merasa cukup puas dengan
bibirnya. Aku tergoda, lidahku membelai bibir tipisnya,
membujuknya agar terbuka lebih lebar. 0embiarkan aku masuk ke
dalamnya, menikmati setiap sensasi yang kurasakan, yang membuat
letupan-letupan dalam dadaku. !h *uhan...Aku sangat menyukai
kelembutan bibirnya.
Aku melepaskan ciumanku, melihat ke dalaman mata coklat Ale8a
yang kini meredup.
Aku bangkit, dan membuat Ale8a terduduk di pangkuanku. Ale8a
melingkarkan kedua kakinya di pinggangku saat aku berdiri. Aku
mengangkat pantatnya sedikit lebih tinggi dan melangkah
meninggalkan ruang tamu.
0ataku tak pernah lepas dari matanya, aku sengaja mele,ati kamar
khusus dan memasuki kamarku. Aku tidak akan bercinta dengan
Ale8a di kamar khusus, bukan karena di sana ada lingerie milik
)iana, tapi karena Ale8a pantas untuk mendapatkan lebih dari
sekedar kamar khusus.
'amar khusus tempat biasa aku berhubungan seks dengan sekian
banyak ,anita. Aku hanya tidak ingin Ale8a menjadi salah satu dari
mereka. %ia...bukan )iana, bukan juga ,anita satu malamku. Aku
ingin memilikinya seumur hidupku. %an kamarku-lah satu-satunya
tempat yang pantas untuknya, dimana aku tidak pernah bercinta
dengan seorang ,anita-pun di sana.
Aku merebahkan tubuhnya di atas ranjang king si=e-ku, membuat
tubuh mungilnya tenggelam di kasurku. *erburu-buru melepas
s,eater abu-abu gelap yang kukenakan dan meletakkannya begitu
saja di lantai. )alu aku merangkak menghampiri kaki Ale8a,
membuka celana jeans ketat yang digunakannya dan menariknya
hingga terlepas dari kakinya. Aku terpana melihat apa yang
dipakainya, tanganku gemetar saat aku meraih karet lebar *shirt-nya
dan menariknya ke atas, melepaskan dari tubuh Ale8a.
Ale8a tersenyum sensual saat melihatku yang menatapnya tak
berkedip.
"agaimana menurutmu&" tanyanya malu-malu.
"#angat..." Aku menelan air liurku, "...cantik."
Apa lagi yang harus kukatakan&
%ia mengenakan 5-string berenda yang membuatku tidak bisa
bicara, hanya mengagumi dan mengagumi keindahannya.
"'emarilah, sayang." Aku menarik tangannya dan menggeretnya ke
so/a yang ada di kamarku. "erdirilah di hadapanku, lakukan
gerakan apapun." 5umamku parau. Aku ingin memanjakan mataku
dengan keindahannya.
Aku duduk di atas so/a dan menyandarkan tubuhku ke sandaran
so/a, membuka kakiku agar lebih terasa nyaman.
Ale8a berdiri di hadapanku dengan canggung, aku menikmati
kecanggungannya. 'urasa aku bisa orgasme hanya dengan
melihatnya seperti ini.
"'atakan padaku...," kataku dengan suara serak, "...apakah kau
melakukan ini untukku&"
Ale8a menatapku dari balik bulu matanya yang panjang dan lentik,
dan meskipun rona merah menjalar di pipinya, dia tersenyum
sensual. "7a."
%amn! .a,aban pendeknya membuatku semakin keras.
Aku mulai mengelus ereksiku, menatap payudaranya yang tertutup
kain tipis berenda, sama sekali tidak menghalangi keindahan
puncaknya. (andanganku turun pada perutnya yang rata tanpa otot,
lalu meluncur turun ke keindahan yang satunya, yang nyaris
membuat na/asku tersedot habis. 'ain segitiga transparan yang
berada di atasnya tidak bisa menutupi keindahannya. %i kedua ujung
segitiga itu, terdapat renda yang berbentuk bunga-bunga kecil
menggantikan tali, melingkari pinggulnya.
Aku merubah elusan pada ereksiku menjadi remasan, na/asku sudah
mulai memburu. "erbaliklah, ?ai..." #uaraku tercekat di
tenggorokan.
Ale8a berbalik, membiarkan rambutnya tergerai ke samping
mele,ati bahunya.
*enggorokanku mendadak kering melihat pantatnya yang sempurna.
(erlahan aku menghampirinya dan berlutut di belakangnya.
Aku meremas pantatnya, mengusapnya dengan lembut, lalu
tanganku berpindah ke pinggulnya, menekannya lembut saat lidahku
membelai bongkahan pantatnya. Ale8a menggelinjang, aku
memuaskan lidahku merasakan kehalusan daging kenyal itu,
menelusuri tiap inch-nya dengan penuh kenikmatan, sesekali
menggigit kecil, membuat Ale8a memekik.
*anganku mulai turun menyusuri paha mulusnya, membelainya
dengan lembut. )alu bergerak mendekati intinya, dan meletakkan
ujung jariku pada pusatnya. 0embelai ujung klit-nya, merasakan
sensasi luar biasa yang kurasakan pada perutku saat mendengarnya
mengerang karena itu.
".ar3is..." desahnya lembut.
'epalaku terasa dipenuhi aliran darah, aku merasa pening dalam
artian yang bukan sebenarnya. Ale8a benar-benar membuatku kacau.
Aku berdiri dan melepaskan celana denimku, bersamaan dengan
bo8er putih yang kukenakan. )alu aku memeluknya dari belakang,
mencumbu bahunya dan meremas lembut payudaranya.
Aku memajukan pinggulku hingga ereksiku terselip di antara kedua
bongkahan pantatnya, Ale8a mengerang...%ia mendongakkan
kepalanya hingga tersandar di bahuku. Aku mencari bibirnya,
merasakan nikmatnya saat bibir kami bertemu, memagutnya dengan
/rustasi. Aku memutar tubuh Ale8a hingga menghadapku tanpa
melepas bibirnya, menangkup pantatnya dan mengangkatnya dengan
mudah, membantunya mengaitkan kakinya pada pinggangku.
Ale8a melingkarkan kedua tangannya pada leherku, dia membalas
ciumanku penuh gairah. Aku berjalan mundur dan menghempaskan
tubuhku di atas so/a, memilin tali renda yang melingkari pinggulnya
dan menariknya, hingga membuat 5-string yang dipakainya
terkoyak dan terlepas darinya.
Aku menggeram merasakan bibir basahnya menyentuh ereksiku,
Ale8a mengangkat pinggulnya sedikit, memberikan ruang agar aku
bisa memasukinya. %an...akupun meleleh saat kehangatannya
melingkupi ereksiku. 'elembutan dan basahnya mengakibatkan
gejolak yang begitu kuat dalam perutku, menjadikannya sebuah
gelombang besar yang menghantam setiap sisi diriku.
Ale8a bergerak naik turun di pangkuanku, menggesek setiap inch
kulitku dengan kelembabannya.
"?ai..." gumamku serak, tanganku meremas pinggulnya yang telah
menyiksaku. 0embantunya mempercepat gerakannya, "!h...?ai..."
"7a .ar3is...7a..." Ale8a mengikuti iramaku, lalu dia melengkungkan
punggungnya dan memekik.
Aku merasakan ledakan yang menghancurkanku. 0embuatku
berkeping-keping dan berserakan.
"?ai...?ai...!h ?ai..." Aku memeluk tubuhnya yang bergetar,
meletakkan ,ajahku pada lekukan lehernya yang beraroma manis.
Aku melonggarkan pelukanku ketika merasakan tubuh Ale8a mulai
melemas, dan mencium keningnya lembut. )alu aku beranjak dari
so/a dengan kejantananku yang masih berada di dalam Ale8a.
0emba,anya ke ranjangku dan berbaring di sana.
Aku mengusap rambut Ale8a dan mencium matanya yang masih
terpejam, lalu menatapnya dengan pandangan sayu. "0aa/kan aku..."
5umamku.
Ale8a membuka matanya, mengelus pipiku dengan tangannya.
"'enapa&" tanyanya lembut.
"Aku melakukannya lagi."
Ale8a mengangkat alisnya.
"Aku bercinta denganmu tanpa menggunakan pengaman."
"Apakah kau..." Ale8a menatapku ragu-ragu.
Aku terbelalak ketika mengetahui arah pembicaraannya. "*entu saja
tidak. #ialan, aku tidak terkena 4":, babe."
Ale8a terkikik geli, ")alu, kenapa kau terlihat cemas&"
""tu bisa membuatmu hamil, ?ai...'au tidak kha,atir&"
Ale8a membelalakkan matanya.
Aku merasa bersalah dan mengutuk diriku sendiri yang sudah begitu
ceroboh. *api kemudian mata Ale8a melembut, dan dia membelai
perutnya sayang.
"Apakah itu artinya, aku akan mempunyai bayi&" gumamnya pelan,
dia menunduk memandangi perutnya.
"tu membuatku /rustasi. "'au tidak kha,atir&"
Ale8a menatapku, "'enapa harus kha,atir& Aku bisa mera,at bayi."
"Chm, tapi kita belum menikah."
"ukankah kau akan menikahiku&"
"*entu saja." .a,abku cepat. "*entu saja aku akan menikahimu." "tu
sudah ada dalam rencanaku sejak aku menyadari bah,a aku
mencintai Ale8a.
Ale8a bergelung di dadaku, ")alu, kenapa harus kha,atir& 'au akan
menikahiku, entah itu besok atau seratus tahun lagi. Aku tidak peduli
selama kau ada di sisiku .ar3is..." gumamnya dengan suara
mengantuk.
Aku mendekapnya, dan mengelus rambutnya. *ak berapa lama
kemudian, Ale8a sudah tertidur. %engkuran halusnya membuatku
merasa nyaman.
Aku menghela na/as panjang. Aku akan menikahinya, itu pasti. Aku
harus memastikan dia akan menjadi milikku selamanya.
*api...egitu banyak hal yang harus diselesaikan.
---
"ndra penciumanku menangkap aroma yang terasa /amiliar dalam
ingatan, meraih ke samping, aku tersentak dan membuka mata, panik
ketika melihat Ale8a sudah tidak lagi berada di sampingku.
Aku bangkit dan setengah berlari ke luar dari kamar, merasa lega
ketika menemukan Ale8a berada di dapur.
Aku tersenyum. 0embayangkan beberapa tahun kedepan dia akan
selalu ada di dapurku, hatiku terasa hangat.
Ale8a berdiri di depan kompor, mengaduk-aduk sesuatu di dalam
panci yang sedang dimasaknya. 0enyadari kehadiranku, dia
melambaikan tangannya yang memegang sendok sayur ke arahku.
Aku menghampirinya dan menempelkan tubuhku ke punggungnya.
%ia mengenakan kaos oblong milikku dan aku merasa terangsang
saat menyadari dia tidak mengenakan apapun dibaliknya.
"Ada aroma yang enak di sini," gumamku. Aku melongok dari atas
bahunya untuk melihat apa yang dimasaknya. "'au masak apa&
'elihatannya le=at." Aku memperhatikan kuah santan kekuningan
yang sedang diaduk-aduknya.
"ubur ayam," ja,abnya pendek.
Aku tertegun, ingatanku kembali ke puluhan tahun silam...
".eremy bilang, kau sangat suka bubur ayam." Ale8a mematikan
kompor dan berbalik menghadapku, menyadari perubahan ,ajahku,
dia terlihat cemas. "'au tidak keberatan aku memasak bubur ayam
kan&"
"*entu saja tidak." Aku beranjak ke meja makan dan menarik
kursinya, lalu duduk di atasnya. "'emarilah, hidangkan bubur ayam
itu. Aku membutuhkan tenaga ekstra untuk kegiatan setelah makan."
5umamku dengan seringaian pada ,ajahku.
Ale8a merona ketika menyadari maksudku. %ia berbalik dan
menyiapkan bubur ayam di dua mangkuk keramik. )alu dia
menghampiriku dan meletakkan sebuah mangkuk di hadapanku,
menarik kursi yang ada di depanku dan duduk di atasnya.
Ale8a memperhatikanku ketika aku menyuapkan sesendok bubur ke
mulutku. Aku merasa ingin menangis saat bubur ayam itu mele,ati
tenggorokanku.
"'au tidak suka ya&" tanyanya cemas, menyalahartikan ekspresiku.
"Aku suka, ini...enak sekali." Aku tersenyum dan menatapnya
lembut, "*erima kasih, ?ai..."
Ale8a terlihat lega, dia mulai menyendok bubur ayam itu dan
meniupnya pelan-pelan.
"'au tahu...%ulu "buku berjualan bubur ayam di depan rumah."
Ale8a berhenti meniup, perhatiannya teralihkan padaku. "#etiap pagi
aku makan bubur ayam." Aku terkekeh mengingat kenangan itu.
Ale8a meletakkan sendoknya, dan menjadikan kedua tangannya
sebagai penopang dagunya. %ia tersenyum dan menatapku lembut.
"Dasa bubur ayam buatanmu, sangat mirip dengan buatannya.
#angat enak dan gurih..." Aku kembali menyuapkan bubur itu ke
mulutku. "0akanlah, ?ai. Aku tidak mau kau menjadi lemas setelah
ini."
Ale8a kembali merona, dia meraih sendoknya dan mulai memakan
bubur ayamnya.
Aku memandangnya dari balik bulu mataku, merasa geli melihat
reaksinya.
".ar3is."
Aku merasa ada petir yang melintas di kepalaku ketika mendengar
suara itu. Aku berpaling ke arah pintu dan melihat dia di sana. )iana.
)iana menatapku, kemudian berpaling memperhatikan Ale8a.
Aku panik ketika )iana menghampiri kami, aku berdiri, dan dengan
langkah lebar aku menghampirinya sebelum )iana sampai ke tempat
dimana Ale8a sedang menatapku bingung.
")iana, tolong..."
)iana mengangkat tangannya, menghentikan ucapanku, dia tetap
melangkah ke arah Ale8a.
"4alo," )iana mengulurkan tangannya pada Ale8a, "#epertinya kita
pernah bertemu."
Ale8a berdiri dan menyambut uluran tangan )iana, dia mengangguk.
"!h ya...Aku ingat, kita memang pernah bertemu. Ale8a kan& +aktu
itu kau bersama .eremy."
Aku tidak heran jika )iana mengingat nama Ale8a.
Ale8a kembali mengangguk. Aku menghampiri mereka dan duduk di
kursiku.
)iana duduk di antara kami. "%uduklah, )e8a." 'ata )iana ketika
melihat Ale8a masih berdiri. "4mmm...Dupanya kau masak bubur
ayam, sepertinya enak. 0aukah kau mengambilkan satu mangkuk
untukku )e8a&"
"*entu saja, *ante."
"iar aku saja." Aku berdiri mendahului Ale8a dan mengambilkan
semangkuk bubur untuk )iana.
Aku meletakkan mangkuk bubur itu di depan )iana.
"#epertinya kalian baru mele,ati malam yang panjang." 5umam
)iana melirik Ale8a dengan pandangan menggoda.
Ale8a merona, "0aa/ *ante, aku harus ke kamar dulu." Ale8a
beranjak dari duduknya.
Aku meraih tangannya ketika dia mele,atiku, "Aku temani."
5umamku.
"Aku hanya mau ganti baju, .ar3is." isik Ale8a, "$anti aku ke sini
lagi."
Aku melepaskan tanganku dan membiarkan dia pergi.
"%ia cantik." 5umam )iana.
Aku berpaling dan menatap )iana, "'umohon. .angan ganggu dia,
)iana."
)iana hanya tersenyum. "*adi sebelum ke sini, aku mencarimu ke
kamar khusus. 'amar itu masih sangat rapi, seperti kau tidak
memakainya saja semalam. %ia pasti gadis yang rajin. !ne night
stand-mu sebelumnya tidak pernah seperti itu."
"%ia bukan one night stand-ku )iana." %esisku, "%an kami tidur di
kamarku semalam."
)iana terhenyak. %ia menatapku, sekilas aku melihat luka di sana,
tapi dia menyembunyikannya dengan baik.
"'au tidak pernah memba,a gadis ke kamarmu sebelumnya,"
gumamnya lirih. "'au juga tidak mengijinkan aku tidur di kamarmu,
sampai sekarang aku tidak tahu kenapa. *api Ale8a..." )iana
mendesah, "#epertinya aku sudah kalah."
Aku luluh melihatnya seperti itu, ")iana...aku..."
""tKs okay .ar3is. Aku mengerti. Aku akan bersikap baik pada
gadismu."
Aku merasa senang mendengar )iana menyebut Ale8a sebagai
gadisku. %an merasa percaya padanya...
"*erima kasih, )iana."
)iana tersenyum. #eharusnya aku memperhatikan senyumnya yang
agak berbeda saat itu.
")e8a."
Aku menoleh dan melihat Ale8a menghampiri kami dengan senyum
malu-malu di bibirnya. %ia memakai baju yang dikenakannya
kemarin, tapi sekarang dengan rambutnya yang masih acak-acakan
membuat penampilannya terlihat lebih sensual.
Aku menatapnya tak berkedip.
"#ebaiknya kau ke luar untuk membelikan )e8a baju .ar3is.
#epertinya dia tidak memba,a baju ganti."
Aku merasa sedikit curiga, kenapa )iana bisa tahu Ale8a tidak
mengganti bajunya& *api ketika melihat dia tersenyum dan
mengedipkan mata menggoda pada Ale8a, aku menghilangkan
kecurigaanku. 0ungkin )iana hanya menebak.
"!kay." Aku mendorong kursiku ke belakang dan berdiri, "'au mau
ikut, ?ai&" *anyaku pada Ale8a.
"Ale8a di sini saja, ada banyak yang perlu kami bicarakan, ya kan
)e8a&" )iana mengucapkan itu dengan nada yang bersahabat. #ama
sekali tidak menunjukkan adanya kecemburuan, lebih
seperti...seorang kakak yang ingin mengenal pacar adiknya.
"'au tidak keberatan, sayang&"
Ale8a menggeleng, "*entu saja tidak, .ar3is."
Aku mengangguk setuju, "!kay, aku pergi dulu ya." Aku
menghampiri Ale8a dan mengecup ujung bibirnya.
Ale8a merona, merasa malu, dan aku terkekeh senang.
---
ab 12
'A%C,*
4ujan mulai turun lagi saat aku ke luar dari mall yang terdekat
dengan apartemenku. Aku menembus hujan tanpa merasa kha,atir
lagi, bunyi kecipak genangan air yang kuinjak bahkan terdengar
indah di telingaku. Aku tersenyum lebar, membayangkan ,ajah
Ale8a yang sedang menungguku di apartemen. %ia pasti akan sangat
kesal ketika mengetahui isi kantung belanjaanku. Aku membeli 1A
pasang baju -yang kesemuanya adalah seleraku tentu saja-untuknya.
0embutuhkan ,aktu yang lama saat memilih baju untuknya, ada
banyak /aktor yang harus kupertimbangkan, diantaranya O baju itu
bisa memperlihatkan belahan dadanya saat dia membungkuk, tidak
menghalangiku menyentuh bahunya, tidak menutupi leher
jenjangnya, tidak terlalu tebal, tidak menutupi kakinya, dan yang
paling penting mudah untuk dibuka.
%i dalam mobil, tak henti-hentinya aku bersenandung. 0engikuti
lagu yang dinyanyikan sebuah grup musik yang kuputar di stereoku.
Aku bukan orang yang suka bernyanyi, dengan kenangan masa
laluku yang kelam, aku bukanlah orang yang suka mengikuti
perkembangan musik. *api sekarang aku menyanyikan lagu cinta
-yang bahkan tidak kutahu judulnya-dengan lancar.
Aku kembali tersenyum lebar. 0elirik kaca spion di atas dashboard
dan mengusap rambut basahku ke belakang. 4atiku membuncah
karena bahagia. #emua akan baik-baik saja.
#eharusnya aku tidak seyakin itu...
Aku memasuki apartemen dan memanggil Ale8a.
"?airy..."
Ale8a tidak menyahut.
Aku melangkah ke dalam dan mendapati )iana yang sedang duduk
di so/a ruang tengah. Ckspresinya tidak terbaca.
Aku menghampirinya dan meletakkan belanjaanku di sampingnya.
erceloteh dengan gembira.
"Aku membelikan banyak baju untuk Ale8a, kuharap dia tidak akan
marah." Aku menyeringai, "*api melihat si/atnya, aku yakin dia akan
marah besar." )iana hanya diam saja, aku mulai mengeluarkan
belanjaanku dari kantong plastik. "Aku juga membelikannya
perlengkapan mandi, dia suka sabun yang beraroma daun-daunan.
0mm...'osmetik..."ni lotion dengan aroma 3anilla, aku tidak tahu
dia memakai lotion apa, tapi kurasa ,angi lotion ini mirip dengan
,angi tubuhnya, jadi aku membelinya. %an aku juga membeli
beberapa camilan. 'au tidak akan percaya )iana, dibalik tubuhnya
yang mungil ternyata dia sangat suka camilan yang dihindari
sebagian besar ,anita karena takut gemuk." Aku terus mengeluarkan
barang-barang satu persatu sambil tak henti-hentinya bicara.
"#ekarang aku harus menemui Ale8a. %i mana dia& Ah...pasti di
kamarku." Aku melompat ke kamarku dan membuka pintunya,
"?ai..." *idak ada Ale8a di kamarku, aku melangkah masuk dan
mencarinya di kamar mandi. *api aku juga tidak menemukannya di
sana. #ekarang aku agak panik, aku setengah berlari menuju dapur
dan mendapati keheningan di sana.
Aku kembali ke ruang tengah, na/asku memburu karena panik. "%i
mana Ale8a&" *anyaku pada )iana. 0ataku mulai berkeliaran ke
mana-mana, meneliti setiap sudut ruangan.
)iana tidak menja,ab.
"%" 0A$A A)C>A, )"A$A&!" *eriakku panik.
)iana menatapku, sorot matanya benar-benar membuatku takut,
takut dengan kenyataan yang akan menghantamku.
"'atakan padaku di mana Ale8a." 'ataku lirih, suaraku sarat dengan
permohonan.
)iana tak bergeming.
Aku mulai mengerti, namun aku berharap ini tidaklah nyata.
'emarahan mulai melingkupi hatiku, aku mulai histeris. "'C$A(A
'A; %"A0 #A.A&! #"A)A$! .A+A A';! %" 0A$A
A)C>A&!" Aku meraih belanjaanku dan melemparkannya hingga
mengenai tele3isi layar datar yang ada di depan so/a. )iana
tersentak, keangkuhan di matanya luruh, berganti dengan
kecemasan. Aku menendang meja kaca di samping so/a dan
membuatnya pecah berantakan.
)iana berdiri, kepanikan terlihat di matanya. "*enang .ar3is,
tenang...okay&"
Aku menggeram marah, dia memperlakukan aku seperti he,an liar
yang harus dijinakkan. "A'; *"%A' A'A$ *C$A$5 #CC);0
'A; 0C$5A*A'A$ %" 0A$A A)C>A!" %engan gusar aku
melangkah ke kamarku dan menendang pintunya hingga terlepas
dari engselnya. 0enimbulkan bunyi keras saat pintunya jatuh ke
lantai. "%" 0A$A A)C>A&" Aku menghancurkan barang-barang
yang ada di kamarku, menarik sprei dan mengoyaknya menjadi
beberapa bagian. "'C$A(A 'A; *"%A' 0A; ")A$5, %"
0A$A A)C>A&! %" 0A$A A)C>A&! 'A*A'A$ (A%A'; %"
0A$A A)C>A!"
)iana yang berlari mengikutiku berteriak-teriak mencoba
menenangkanku sambil berusaha menghindari barang-barang yang
berterbangan di sekitarnya.
"%"A (CD5" .AD:"#, %"A (CD5"."
Aku berhenti, tertegun mendengar ucapannya, lalu berbalik dan
menatapnya garang. "Apa yang kau lakukan padanya...&" %esisku
marah.
)iana berdiri tegak di hadapanku, dagunya terangkat ke atas,
matanya menatapku tajam. "Aku mengajaknya ke kamar khusus,
memperlihatkan lingerieku padanya dan mengatakan bah,a kau
selalu menyetubuhiku di kamar itu."
Aku meraih lampu tidur yang tergeletak di atas nakas dan
melemparkannya ke arah )iana, mele,ati samping kepalanya
dengan jarak hanya beberapa inch dan menimbulkan bunyi yang
memekakkan telinga saat menghantam dinding di belakang )iana.
)iana tersentak, matanya terbelalak ngeri, menyadari jika
lemparanku meleset sedikit saja, kepalanya-lah yang akan terkena
lampu itu.
"Apalagi yang kau katakan padanya&" Aku bahkan tidak mengenali
suaraku lagi, yang kini sarat dengan amarah.
*ubuh )iana mengerut ketakutan, suaranya bergetar ketika
berbicara. "Aku katakan padanya, kita sudah bersama selama 6
tahun, seberapa seringnya kau menggantiku dengan perempuan lain,
kau selalu kembali padaku. Aku rumahmu .ar3is, aku tempatmu
kembali."
"'A; ;'A$ D;0A4';!" *eriakku histeris, /rustasi dengan
keadaan yang ada.
"A'; 0C$C"$*A"0;. *"%A''A4 "*; C;';( ;$*;'0;&!
#elama tiga tahun aku selalu mengikutimu, menye,a detekti/ untuk
menga,asimu. 0eyakinkan hatiku kau akan selalu kembali
padaku."
"'au. 0enguntitku&" 'ali ini kemarahanku semakin memuncak.
""tu karena aku selalu ketakutan kau akan meninggalkanku. Aku
harus menanganinya, menjauhkan orang yang mencoba merebutmu
dariku. #elama ini aku merasa aman, sampai kau mengenal Ale8a.
'au milikku, aku yang menemukanmu terkapar tak berdaya di
jalanan. %ia tidak bisa begitu saja merebutmu dariku. Aku benar
sudah mengusirnya dari sini. A'; C$AD #;%A4
0C$5;#"D$7A!"
*ubuhku bergetar karena amarah, rahangku mengetat mendengar
ucapannya. 'alap, aku memukul dinding dengan tinjuku, meremas
rambutku /rustasi dan berlari ke luar dari kamarku.
"A'; ;'A$ C$%A. A'; ;'A$ 0")"'0;!" *eriakku
histeris, kakiku terus melangkah meninggalkan apartemen. erlari
menembus hujan yang mulai lebat.
---
5oresan luka ini mulai bernanah, menimbulkan rasa perih yang tidak
tertahankan. %i kegelapan...Aku terpuruk tak berdaya, hanya
menatap nyalang ke ujung jalan. *aringku sudah patah, cakarku tak
lagi tajam, hanya lolonganku yang tersisa. )olongan kepedihan,
lolongan kehancuran...)olongan ketidakberdayaan...Aku...adalah
serigala yang terluka...
Aku berdiri di depan pagar rumah Ale8a, berteriak-teriak memanggil
namanya. #ama sekali tidak mempedulikan satpam yang berusaha
mengusirku.
#etelah berlari dari apartemen, menembus derasnya hujan dengan
hati yang sudah berkeping-keping, aku sampai di rumah Ale8a dan
berharap Ale8a mau menemuiku. 0eskipun tahu kemungkinannya
sangat kecil.
"?airy, ke luar sayang. 'ita harus bicara." *eriakku, tanganku
menggoyang-goyangkan gerbang, berharap akan terbuka.
)angit mulai gelap, dan hujan belum juga berhenti, sama sepertiku
yang tak berhenti memanggil-manggil Ale8a. *ubuhku sudah basah
kuyup sejak aku meninggalkan apartemen, udara dingin yang
menggigit sama sekali tidak kurasakan. 0ataku terasa panas,
mengingat aku mungkin telah kehilangan Ale8a. Aku mencengkeram
teralis pagar dan mengguncangnya kuat-kuat, berteriak menyebut
nama Ale8a dengan suara yang penuh luka.
Aku terdiam, na/asku naik turun menahan rasa sesak di dadaku.
)alu, aku mendengar suara klakson mobil, aku menoleh dan melihat
mobil yang kukenali sebagai mobil orang tua Ale8a, berhenti di
belakangku. #etitik harapan muncul, aku menghampiri mobil
tersebut, namun tiba-tiba pengemudi mobil itu menancap gas,
membuatku menyingkir cepat-cepat dari hadapannya. 0obil itu
melaju kencang mele,atiku dan meninggalkan cipratan dari
genangan air yang ada di depanku. 0asuk mele,ati pintu gerbang
yang baru terbuka dan langsung menutup begitu mobil itu sudah
berlalu.
%engan langkah gontai aku melangkah menghampiri tembok di
samping pintu gerbang, bersandar padanya dan melorot turun hingga
aku terduduk di tanah. 0enahan ha,a dingin yang mulai terasa, aku
memeluk kedua lututku dan meletakkan kepalaku di atasnya.
Cntah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena mendengar
suara yang memanggilku.
"#ssttt, .ar3is..."
Aku tersentak dan mendongak ,aspada. 0elesat ke pintu gerbang,
berharap Ale8a yang memanggilku. 0ukaku mengendur putus asa
ketika melihat Claire yang ada di hadapanku. *api itu tidak
menyurutkan semangatku.
"agaimana keadaan Ale8a, Claire&" *anyaku pelan.
"Ale8a baik, dia menangis semalaman dan tertidur karena
kelelahan." Claire berbisik dengan logat #he//ield-nya yang khas.
4atiku terasa remuk mendengar Ale8a begitu terluka.
"Ada apa sebenarnya, .ar3is& Ale8 pulang dalam keadaan yang
sangat mengenaskan, #andra tak henti-hentinya mengatakan dia
bodoh."
"#andra&"
"#andra yang mengantarkan Ale8 pulang, dan dia menginap di sini
sekarang," gumamnya tidak suka. "%ia juga menelepon +ahyu, dan
menceritakan keadaan Ale8 padanya. Aku sudah melarangnya,
kupikir sebaiknya +ahyu dan Clara tidak perlu tahu masalah ini
mengingat cara pandang mereka terhadap Ale8. *api #andra sama
sekali tidak mendengarkanku. Aku benar-benar tidak suka padanya,
tapi dia satu-satunya teman Ale8."
"Claire, katakan padaku apa yang Ale8a ceritakan&" Aku menatap
Claire putus asa.
Claire menggeleng, "%ia tidak mengatakan apapun, dia hanya
menangis tanpa suara. *api #andra bercerita pada +ahyu dan Clara
tentangmu."
.antungku berdetak kencang menunggu kelanjutan kata-kata Claire.
"%ia menceritakan kelakuanmu yang selalu berganti pasangan, dan
dia juga mengatakan..." Claire terdiam, aku merasakan /irasat yang
buruk.
"Apa&" *anyaku lirih.
"%ia bilang, kau simpanan seorang ,anita kaya. Apa itu benar,
.ar3is&"
Aku tertunduk lemas, ""ni agak rumit, apa menurutmu Ale8a yang
menceritakan itu pada #andra&"
"Aku yakin bukan, Ale8a sama sekali tidak mau bicara. Aku sempat
mendengar kalau selama ini #andra telah menyelidikimu."
Aku menggeram marah. "Aku harus bertemu dengan Ale8a, Claire.
'umohon..."
Claire menggeleng, "*idak bisa sekarang, +ahyu marah besar, dia
memberi peringatan keras untuk menjauhkanmu dari Ale8a. %ia
bahkan berniat membatalkan kontrak kerja dengan perusahaanmu,
tapi Clara berhasil menenangkannya dan meyakinkan +ahyu untuk
tetap melanjutkan kontrak itu."
Aku tercekat, memikirkan kemungkinan itu bisa saja terjadi.
"#ekarang sebaiknya kau pulang, .ar3is. *inggalkan nomor
ponselmu dan aku berjanji akan menghubungimu setelah semuanya
mereda."
Aku sudah seperti tubuh yang tak bernya,a saat mengeluarkan
dompetku dan memberikan kartu namaku pada Claire. Claire
menerimanya dan menyembunyikannya di dalam bra-nya.
"(ulanglah, .ar3is," gumamnya sebelum meninggalkanku.
#esaat aku hanya terpaku, menatap punggung Claire dengan tatapan
sayu. )alu aku mulai melangkah gontai, meninggalkan tempat itu.
(andanganku mulai kabur, dan aku merasakan tubuhku mulai
menggigil. Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi .eremy.
"7a .ar3is..." #uara .eremy terdengar mengantuk di seberang sana.
Aku menghembuskan na/asku yang terasa panas, ".eremy...aku..."
*iba-tiba semuanya terasa berputar, dan aku mendengar suara benda
jatuh sebelum semuanya menjadi gelap.
---
)orong ini terlalu panjang...Aku tak sanggup mencapai ujungnya.
*ubuhku sudah terlalu lemah...penuh luka dan berdarah-darah.
'apankah semuanya berakhir& Akankah semuanya berakhir&
*ubuhku sama sekali tidak bisa kugerakkan, dan aku tidak bisa
membuka mataku meskipun ingin. au karbol yang menyengat
membuatku yakin, aku berada di rumah sakit. Aku mencoba untuk
mem/okuskan pendengaranku, mencoba menangkap pembicaraan
yang kudengar samar-samar.
"'enapa dia bisa seperti ini&" "tu suara !m ayu.
"Aku tidak tahu, (a. Aku menemukannya di sekitar rumah Ale8,
pasti ada hubungannya dengan Ale8."
"Apa Ale8 menghubungimu&"
"Aku mencoba untuk menghubunginya, tapi ponselnya sama sekali
tidak akti/."
4ening beberapa saat.
"'ita harus memberitahukan keadaan .ar3is pada dia, (a."
"Aku sudah memberitahunya, dia sedang ada urusan bisnis di
Austria."
#iapa yang mereka maksud dengan JdiaK&
*api aku terlalu pusing untuk memikirkan kata-kata mereka.
'epalaku terasa berat dan aku mulai tertidur lagi.
"+anita itu berusaha menemuimu lagi&" !m ayu terdengar sangat
kesal.
"Aku tidak mengijinkan dia menemui .ar3is."
"4uh, benar-benar perempuan tak tahu malu."
"(apa, tak baik bicara seperti itu." 4ei, itu suara .ulia. 'akak
perempuan .eremy.
"%ia sebetulnya perempuan yang baik, hanya saja, cinta
membutakan matanya." #epertinya *ante #o/i juga berada di sini.
'enyataan itu membuatku ingin segera membuka mataku, mereka
sudah seperti ke luarga bagiku. *api mata ini sama sekali tidak bisa
kuajak kompromi. Akupun tertidur lagi.
"'au harus memberitahunya."
"Aku belum siap, ayu." #uara itu terasa /amiliar di telingaku, tapi
aku tak bisa mengingat kapan aku mendengar suara itu.
"'au harus siap. .ar3is berhak tahu siapa dia sebenarnya."
"7ah...'au benar."
Aku berusaha sangat keras untuk bisa terus mendengarkan
percakapan itu, tapi kegelapan kembali menarikku.
---
#uasana sangat hening ketika aku mulai sadarkan diri kembali.
0ataku belum bisa terbuka, tapi aku mulai bisa menggerakkan
jemariku, menemukan seseorang menggenggam jariku hangat.
erharap itu adalah Ale8a, aku mencoba untuk membuka mata. )alu
sebaris sinar menyilaukan membuatku memejamkan mata kembali.
Aku mencoba lagi, kali ini perlahan-lahan.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, samar-samar melihat seraut
,ajah berambut gelap tersenyum padaku.
"?airy..." 5umamku.
"'au sudah sadar." "tu suara .ulia.
#ekarang aku bisa melihat ,ajahnya dengan jelas, ".ulia&"
"7a, ini aku." .ulia menggenggam tanganku, ".eremy ada urusan
sebentar, jadi aku yang menunggumu."
"*erima kasih, .ulia." 5umamku lemah. "Aku sudah merepotkan
ya..."
.ulia tersenyum lembut, "#ama sekali tidak. 'au adikku juga .ar3is,
sudah seharusnya aku membantumu."
Aku tersenyum, terharu mendengar ucapannya. .ulia memang
cere,et dan protekti/ terhadap .eremy dan aku, tapi aku yakin, itu
karena dia mencintai kami.
"Apakah *ante #o/i juga ada di sini&"
.ulia mengangguk, "0ama lagi ke kantin sebentar."
#edetik setelah .ulia berhenti bicara, pintu kamar rumah sakit
terbuka.
"#egala puji bagi *uhan, akhirnya kau sadar juga, .ar3is."
Aku tersenyum lemah melihat *ante #o/i bergegas menghampiriku.
"0aa/, *ante. Aku sudah merepotkan."
"Anak bodoh. #iapa yang merepotkan& 'au benar-benar membuat
kami cemas, sayang. Aku mengira akan kehilangan anak laki-lakiku
yang satu."
Aku terkekeh. "*idak separah itu, *ante."
"'au tidak sadarkan diri selama lima hari, bagaimana *ante tidak
kha,atir&"
Aku menggenggam tangan *ante #o/i lembut. "Apakah selama itu&"
"7a, dan itu hanya gara-gara gadis bernama Ale8a, iya kan&"
"0ama." .ulia mengingatkan *ante #o/i.
"*idak apa-apa .ulia, memang seperti itu." 5umamku geli, merasa
terhibur dengan tingkah laku mereka.
*ante #o/i tersenyum sayang padaku, ".angan kha,atir, sayang. 'au
pasti akan mendapatkan Ale8a lagi."
Aku tersenyum dan mengangguk mantap, aku memang harus
mendapatkan Ale8a kembali.
'emudian pera,at datang dan memeriksaku. *ante #o/i
meninggalkanku untuk menemui dokter yang mera,atku, dan .ulia
tak henti-hentinya menceritakan lelucon untuk membuatku terta,a.
*api, ketika .ulia pergi meninggalkanku untuk menyusul *ante #o/i,
kesedihan kembali menghampiriku. 0ataku terasa panas mengingat
kejadian beberapa ,aktu yang lalu. agaimana keadaan Ale8a
sekarang& Apa dia membenciku& %ia pasti membenciku.
Aku menatap kosong ke jendela kaca besar di samping ranjangku.
Duangan ini berada di lantai 2A, dan aku bisa menatap langit luas di
atas sana tanpa terhalang apapun. Aku berharap, langit itu adalah
langit yang sama dengan langit yang dilihat Ale8a. Aku menunduk,
menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku dan merasakan
aliran hangat di sela-sela jariku.
"!kay, semuanya baik-baik saja."
*ergesa-gesa, aku menghapus air mata yang ke luar ketika
mendengar suara *ante #o/i di luar, lalu pintu kamar rumah sakit
terbuka dan *ante #o/i muncul bersama .ulia yang tersenyum
padaku.
"esok kau sudah boleh ke luar, .ar3is." .ulia berkata padaku.
---
#udah satu minggu setelah ke luar dari rumah sakit. Aku sudah
kembali bekerja meskipun .eremy dan !m ayu sempat
melarangku.
#ekarang aku tinggal bersama .eremy, tidak ingin kembali ke
apartemenku yang mengingatkanku dengan kejadian itu.
eberapa kali )iana mencoba menghubungiku, aku sama sekali
tidak menja,ab panggilan darinya, atau membalas pesan-pesannya
bahkan tidak ingin membacanya. Aku tidak ingin berhubungan lagi
dengan )iana. %ia, hanyalah masa lalu buatku.
Aku menunggu telepon dari Claire, tapi dia sama sekali tidak
menghubungiku. )alu aku nekat berkunjung ke rumahnya, dan yang
kutemui hanyalah rumah kosong yang sudah tidak berpenghuni.
Ale8a sudah meninggalkan rumah itu.
Aku merasa putus asa, lelah dan merana. 0enghabiskan ,aktu
dengan bekerja dan bekerja. %i minggu kedua setelah kepergian
Ale8a, Denata masuk ke kantorku.
"Ada apa&" *anyaku tanpa mengalihkan perhatian dari lembaran
kertas di tanganku.
"#eorang gadis memaksa ingin menemui Anda, (ak."
Aku mendongak, "#iapa&"
"$ona #andra."
Aku mengernyitkan dahiku, apa Ale8a menyuruhnya ke sini& #etitik
harapan muncul di hatiku, mungkin saja. #andra satu-satunya teman
Ale8a.
"#uruh dia masuk."
"7a, (ak."
Denata ke luar, dan tak lama kemudian #andra masuk dengan
senyuman lebar di bibirnya. Aku memicingkan mata melihat
penampilannya yang...habis-habisan.
5aun merah anggurnya yang sangat mini membungkus ketat
tubuhnya, memperlihatkan sebagian pahanya. %adanya pun
terekspos dengan belahan leher yang sangat rendah, ,ajahnya
dipoles make-up dengan maskara yang tebal pada bulu matanya.
%an aku meringis saat melihat dia mengecat rambut hitamnya
menjadi coklat gelap, persis rambut Ale8a.
"'au memba,a kabar dari Ale8a&" *anyaku dingin.
"Aku ke sini bukan karena Ale8, .ar3is. Ale8 sudah melupakanmu,
dia sudah meninggalkan "ndonesia."
Aku mengernyit, merasakan pedih di dalam dadaku mendengar
kenyataan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku,
Ale8a meninggalkan "ndonesia. "%i mana dia&"
#andra mengangkat bahunya, dengan senyum licik di ,ajahnya.
"Aku tak tahu, bukan urusanku."
Dasanya...Aku ingin menonjok mulutnya yang menyebalkan itu.
")upakan Ale8, .ar3is. anyak ,anita yang lebih baik darinya,"
gumamnya dengan nada merayu.
"'alau kau pikir kau lebih baik dari Ale8a itu salah besar." 'ataku
ketus.
0uka #andra memerah, "Asal kau tahu, aku masih pera,an."
"Apa maksudmu&"
#andra memutari meja kerjaku dan berdiri di hadapanku, menunduk,
memperlihatkan belahan dadanya padaku. "Aku tahu kau tidak bisa
melupakan Ale8a karena kau menidurinya saat dia masih pera,an.
Aku masih pera,an, kau pasti akan menyukainya. #etubuhi aku,
.ar3is," gumamnya penuh rayuan. %ia meliukkan tubuhnya dan
melorotkan gaunnya sebatas pinggang, sehingga payudara
telanjangnya terpampang jelas di depanku. #andra memasang
senyuman menggoda dan menghampiriku.
Aku berdiri dengan ekspresi jijik, mendorongnya saat dia berusaha
menempel padaku. "'C);AD %AD" 'A$*!D';!
DC$A*AAAA..."
*ergopoh-gopoh Denata memasuki kantorku dan terpekik kaget
melihat #andra yang setengah telanjang di hadapanku.
";#"D +A$"*A "$" %AD" 'A$*!D';. (A$55") #A*(A0
."'A (CD);." *eriakku penuh amarah.
Denata menghampiri #andra yang sedang membetulkan gaunnya
dengan muka yang sudah merah padam.
"%" 0A$A .CDC07&!"
Denata tersentak kaget, "eliau sedang ke luar, (ak." .a,ab Denata
gugup.
Aku ke luar dari ruanganku dan membanting pintu keras-keras. Aku
harus menemui !m ayu, meminta padanya agar mau membujuk
!m +ahyu untuk mengatakan keberadaan Ale8a. ukankah mereka
sangat dekat sebagai rekanan bisnis. Aku memang gila jika
melakukan ini, tapi aku memang sudah gila.
Aku melajukan mobilku dengan kencang, menembus kemacetan
jalanan "bukota. erkali-kali menekan klakson mobil untuk
mendapatkan jalan.
%engan caraku mengemudi, tidak membutuhkan ,aktu lama untuk
sampai di gedung perkantoran milik !m ayu. ergegas aku
memasuki lobby dan langsung menuju li/t untuk sampai ke ruangan
!m ayu.
Aku menuju ruangan !m ayu, mele,ati meja sekretaris !m ayu
yang kosong dan berdiri di depan kantornya, berniat untuk mengetuk
pintu ketika menyadari pintu itu setengah terbuka. %ari celah pintu
itu, aku melihat !m ayu sedang berbicara dengan .eremy.
.adi, .eremy pergi mengunjungi Ayahnya&
0emegang handel pintu aku berniat melongokkan kepalaku, tapi
kuurungkan ketika mendengar suara lain di ruangan itu. Aku
mengenali suara itu, dia yang berbicara dengan !m ayu saat aku
dalam keadaan tak sadarkan diri di rumah sakit.
Dasa penasaran membuatku mendengarkan pembicaraan mereka.
"%ia terlihat sangat hancur." Aku merasa sangat mengenali suara itu.
"%ia memang hancur." "tu .eremy.
"'apan kau akan mengatakan semuanya pada dia&" !m ayu
berkata dengan suara beratnya.
!rang itu menghela na/as panjang, "+ahyu sangat dekat denganku,
apa akan mengubah keadaan jika aku berbicara pada +ahyu&"
!rang itu mengenal (apa Ale8a&
"0ungkin akan merubah keadaan untuk .ar3is jika kau mau
berbicara dengan +ahyu."
0ereka membicarakan aku.
"*api kau harus mengatakan kebenarannya terlebih dahulu pada
.ar3is."
"7ah...0ungkin dimulai dari membuka identitasku sebagai 0r. >."
%ia 0r. >.
Aku mendorong pintu hingga terbuka lebar. .eremy berpaling
padaku dan !m ayu terlihat terkejut melihat kedatanganku.
"Anda...0r. >&" *anyaku ragu-ragu pada orang yang duduk
membelakangiku.
!rang itu berdiri dan berbalik menghadapku.
%amn! "ni tidak mungkin...
---
ab 13
+E-E%A*A%
"ni tidak masuk akal.
"4enry&"
4enry tersenyum hangat, "4alo .ar3is," sapanya ramah meski dia
terlihat terkejut dengan kehadiranku.
Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak mengerti.
)ututku terasa lemas dan mungkin aku akan jatuh jika .eremy tidak
menghampiriku dan menuntunku untuk duduk di so/a.
"0aa/ mengejutkanmu," gumam 4enry sedih.
Aku menyandarkan tubuhku ke so/a, tidak tahu harus berkata apa.
.eremy mengambilkanku segelas ,ine yang diambilnya dari lemari
penyimpanan anggur milik Ayahnya yang ada di ruangan ini.
"'ami akan meninggalkan kalian di sini." 'ata !m ayu sambil
melangkah ke luar, "Ceritakan padanya, 4enry," gumamnya sebelum
menutup pintu kantor.
4enry duduk di depanku, kedua tangannya saling menggenggam di
antara lututnya, "agaimana keadaanmu&" %ia bertanya dengan
senyuman hangat yang masih terukir di bibirnya.
Ada apa dengannya& ertahun-tahun aku meniduri "strinya dan dia
bersikap sangat baik padaku&
"uruk." .a,abku pendek.
"Ayah Ale8a sahabatku, jika kau mau, aku bisa berbicara padanya."
"Apa maumu&" Aku menatapnya curiga.
4enry terkekeh, "'au benar-benar mirip Ayahmu, .ar3is."
adanku menegak dan menatapnya tajam, "'au...mengenal
Ayahku&" *anyaku hati-hati.
Ckspresi 4enry terlihat sangat sedih, "7a...Aku sangat mengenal
Ayahmu...Ayah kita."
"ni klise, tapi aku merasa ada jutaan halilintar yang menyambarku.
"Ayah kita&"
"'au adalah .ar3is achmann, adikku."
"achmann&"
)alu aku mulai menyadari, hanya mengulang-ulang ucapannya.
"0aksudmu apa&" *anyaku mulai bingung dengan in/ormasi yang
baru kuterima.
"Ceritanya panjang..."
"Ceritakan padaku." %esakku.
4enry menghela na/as panjang, "#aat aku berusia 1B tahun, terjadi
pertengkaran hebat antara Ayah dan "buku."
Aku menekan perasaan sesak di dadaku, mencoba memahami cerita
4enry.
""tu terjadi karena ada pera,at yang menelepon rumah dan
mengatakan "stri Ayah baru saja melahirkan. "bu, yang menerima
telepon itu menjadi marah, apalagi data-data yang diberikan pera,at
itu tentang #uami si ,anita yang melahirkan adalah memang Ayah.
'emudian Ayah mengaku mencintai ,anita lain, dan dia ingin
menceraikan "bu. "bu menangis dan berteriak-teriak, tapi Ayah tidak
mempedulikannya, dia pergi meninggalkan "bu untuk menemui
,anita itu."
Aku meminum ,ine yang disediakan .eremy dalam sekali tegukan.
"Aku yang melihat keadaan "bu, sangat membenci ,anita itu, dan
bertekad untuk membalaskan sakit hati "bu pada ,anita itu, yang
kemudian kuketahui bernama )aila."
""tu nama "buku."
4enry menatapku iba, "7a, memang dia."
4ening beberapa saat.
"*iga hari kemudian Ayah pulang, tapi dia tidak menceraikan "buku.
%ia menjalani hari-harinya seperti biasa. "bu pun seperti sudah
memaa/kan Ayah. erbulan-bulan berlalu, aku hampir melupakan
kejadian itu ketika suatu hari aku melihat Ayah pergi ke suatu tempat
dengan sembunyi-sembunyi. Aku mengikutinya, dan sampai di suatu
perkampungan sederhana. Aku melihat Ayah menga,asi satu rumah
dengan gerobak bubur ayam di depannya."
Aku tercekat, membayangkan selama ini aku bisa saja bertemu
Ayahku.
")alu seorang ,anita ke luar, meskipun penampilannya sederhana,
tapi dia terlihat sangat cantik." (andangan mata 4enry menera,ang,
"Aku menyadari, bah,a dialah )aila. 0enggendong seorang anak
laki-laki yang mungkin baru berumur satu tahun. Ayah
memperhatikan mereka dari dalam mobilnya, aku ikut
memperhatikan mereka. 0elihat ,anita itu menggandeng anaknya
yang berjalan tertatih-tatih, kemudian menggendong anak itu ketika
anak itu terjatuh, dan memeluknya penuh kasih sayang saat anak itu
menangis. %adaku terasa sesak melihat itu, berpikir bah,a itu
mungkin adikku. %an itu memang adikku...kamu .ar3is."
Aku menunduk dan hanya terdiam.
")ama setelah itu, aku semakin sering mengunjungi rumah itu,
merasa senang saat melihat kau dan "bumu yang memperlakukanmu
dengan penuh kasih sayang. #ampai tanpa sengaja, Ayah memergoki
aku sedang memperhatikan rumah itu. #uatu malam, dia mengajakku
bicara." 4enry menarik na/as panjang.
)alu mulai kembali melanjutkan ceritanya. "%ia menceritakan
bagaimana dia bertemu ,anita itu dan jatuh cinta padanya. #aat kau
lahir, Ayah ingin menceraikan "bu dan menikahi )aila. *api )aila
menolaknya, dia bilang dia tidak akan bisa hidup bahagia jika
merebut kebahagiaan ,anita lain. )aila membujuk Ayah untuk tetap
mempertahankan ke luarganya, dan meminta Ayah agar tidak
menemuinya lagi. #emula Ayahku keberatan, tapi )aila memaksa
dan mengancam tidak akan mencantumkan nama Ayah sebagai
Ayahmu di akte kelahiranmu jika Ayah masih berusaha
menemuinya."
Aku memejamkan mataku, menyadari betapa "bu berjuang sangat
keras untuk membesarkanku.
")aila menolak santunan dari Ayah, dia bilang dia tidak berhak."
4enry menarik na/as panjang, "Aku mengerti mengapa Ayah jatuh
cinta pada )aila." %esahnya, "%ia...sangat berbeda dengan "buku
yang manja."
"Ayah mempunyai rencana, jika ,aktu memberi kesempatan Ayah
berumur panjang, dia akan menemuimu ketika kau de,asa. *api
kanker yang dideritanya menghapus impian itu. 0enjelang ajalnya,
dia berpesan padaku untuk menjagamu."
"Apa "stri Ayah..."bumu, tahu keberadaanku&"
4enry menggeleng, ""tu rahasia kami. eberapa bulan setelah
kematian Ayah, "bu menyusul beliau. #etelah pemakaman "buku, aku
mengunjungi rumah kalian, berniat untuk mengajak kalian tinggal
bersamaku. *api rumah kalian sudah tidak ada, menurut seorang "bu
yang kutemui di sana, )aila mengalami kecelakaan, rumahnya
terbakar dan dia terperangkap di dalamnya. 'etika kutanyakan
dirimu, "bu itu hanya bilang kau ikut dengan (amanmu, tapi dia
tidak mengetahui rumah (amanmu."
Aku tersenyum miris mendengar cerita itu, hanya *uhan dan aku
yang tahu kebenaran dibalik kecelakaan itu.
"Aku mencoba mencarimu kemana-mana, tapi kau menghilang bagai
ditelan bumi."
"#ejak kapan kau tahu aku Adikmu&" *anyaku penasaran.
"%i hari aku memergoki kau bercinta dengan "striku," gumamnya
pelan.
"0aa/kan aku..." Aku merasa sangat bersalah.
4enry menggeleng, "ukan salahmu, kau masih terlalu muda saat
itu."
Aku terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.
"Aku menye,a detekti/ untuk menyelidikimu," gumamnya.
"(ertama aku melihatmu, aku merasakan getaran aneh di dadaku.
#osokmu mengingatkanku pada Ayah, namamu juga sama dengan
Ayah."
""bu menamaiku dengan nama Ayahku agar aku mengingat Ayah."
"Aku bersyukur dia melakukan itu."
'ami terdiam beberapa saat.
".ar3is..."
Aku meliriknya, dan melihat ekspresinya yang berubah menjadi
gugup.
".ika kau bisa melupakan Ale8a, kembalilah pada )iana."
Aku mendongak, marah dengan apa yang dibicarakannya. "(ertama.
Aku tidak akan pernah melupakan Ale8a. 'edua. Apa kau pikir aku
masih mau berhubungan dengan "stri kakakku&!" %esisku marah.
"A-aku berniat menceraikan )iana. %ia terlihat sangat kacau, kalau
kau bisa membahagiakannya, aku rela."
Aku berdiri tegak dari dudukku, "(engorbanan cinta, ya." 5umamku
sinis. "Apa kau mencintai )iana&"
4enry mendongak, menatapku bingung. "*entu saja..."
"'alau begitu, kejar dia. (ersetan dengan Jaku rela menderita asal
kau bahagiaK-mu itu."
"%ia tidak mencintaiku lagi..."
"%apatkan kembali cintanya. %ia pernah mencintaimu, tidak akan
sulit membuatnya jatuh cinta lagi padamu."
Aku berbalik dan mulai melangkah meninggalkannya yang terduduk
lesu.
")akukan apapun untuk mempertahankan dia tetap di sisimu."
5umamku sebelum menutup pintu.
---
Aku mengendarai mobilku dengan pelan, mencoba memikirkan
kembali perbincanganku dengan 4enry. )ampu-lampu kota mulai
menyala, menggantikan langit yang mulai menggelap.
#etelah sekian lama, aku baru mengetahui bah,a aku masih
memiliki seorang 'akak, dan dia adalah seorang pria yang selama
ini "strinya kutiduri. Aku memukul roda kemudi dengan keras,
merasa marah dengan diriku sendiri. ahkan, setelah apa yang
kulakukan padanya...
Aku menggelengkan kepala, kesal. Aku benar-benar brengsek.
#esampai di apartemen, aku melihat .eremy sedang duduk di so/a
ruang tengah, memelototi )C% *: yang ada di depannya. Aku
berniat mele,atinya ketika dia memanggilku.
".ar3is."
Aku berhenti, "iarkan aku sendiri, .eremy." 5umamku, lalu
kembali melangkah mele,atinya.
#aat aku selesai mandi, aku melihat .eremy sudah duduk di so/a
yang ada di kamarku.
"'au tidak mengerti arti 2aku ingin sendiri2 ya&" %esisku sinis.
"'au butuh penjelasan, .ar3is."
Aku mendengus, "'au pasti sudah tahu hal ini dari a,al kan&"
"0emang, karena itu aku ingin menjelaskannya padamu."
"Apalagi yang perlu dijelaskan&"
.eremy menghela na/as. "Ayahku dan !m 4enry bersahabat sejak
mereka masih remaja."
;capannya menarik perhatianku, aku terdiam.
"%uduklah .ar3is, aku akan menceritakan semuanya padamu."
Aku menurut dan duduk di sampingnya.
"Ayahku tahu persis kehidupan !m 4enry, dari masa remajanya,
sampai di kehidupannya yang sekarang."
"'atakan padaku, apa pekerjaan pertama yang dita,arkan Ayahmu
untukku dulu, juga rencana 4enry&"
.eremy mengangguk.
"%ia merencanakan semuanya kan&" 5umamku.
'embali .eremy mengangguk.
Aku menyandarkan kepalaku dan menatap langit-langit kamar,
menghela na/as untuk mengurangi rasa sesak di dadaku.
"#uatu malam dia datang ke rumahku dan menangis di depan Ayah,
menceritakan semuanya. Aku yang ikut terbangun, merasa penasaran
dan diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Aku sangat
menyanyangi !m 4enry, dia sudah seperti Ayah bagiku. 0endengar
ceritanya, aku ikut merasa sedih dan mengutuk perbuatan
)iana....uga kamu yang menurutku tidak tahu berterima kasih." %ia
melirikku saat mengucapkan kalimat terakhir.
Aku tidak tersinggung dengan kata-katanya, itu memang benar.
"0alam itu Ayahku baru tahu kalau !m 4enry impoten karena
kecelakaan yang dulu menimpanya. %ia sudah menyembunyikan hal
itu selama bertahun-tahun. Apa...)iana pernah menceritakan
kejadian tentang kecelakaan itu padamu&"
Aku menggeleng.
"%ia menyelamatkan )iana..."
Aku berpaling, menatap .eremy untuk mencari kebohongan di
matanya, tapi aku tidak melihatnya. "tu membuatku semakin merasa
bersalah.
"0ereka sedang berlibur di Permatt, #,iss. #aat sedang bermain ski,
entah kenapa, )iana tiba-tiba meluncur turun tidak terkendali. !m
4enry yang melihat ada pohon besar di depan )iana segera
menyusul )iana, dia memotong jalan )iana dan berdiri di depannya,
berusaha menghentikan laju papan ski. *api kecepatan papan ski
)iana sangat kencang, sehingga !m 4enry terdorong ke depan, dan
dialah yang akhirnya menabrak pohon itu. !m 4enry sempat tidak
sadarkan diri dan diba,a ke rumah sakit terdekat. )iana sama sekali
tidak terluka, tubuhnya terlindungi tubuh !m 4enry saat menabrak
pohon besar itu. 'ejadian itu sempat menjadi bahan terta,aan kami,
tanpa kami tahu dampaknya pada kehidupan !m 4enry."
Aku sama sekali tidak menduga ceritanya seperti itu, kalau aku tidak
dalam kondisi seperti ini, aku pasti sudah terta,a mendengar cerita
itu.
"'arena itulah, !m 4enry menolak memeriksakan dirinya ke
%okter. %ia merasa malu dan tidak ingin menceritakan kejadian itu
pada siapapun."
")epas dari cerita itu, .ar3is. !m 4enry sangat menyayangimu. %ia
mempersiapkan .?0 5roup untukmu."
Aku sudah mendengarnya dari 4enry.
"'au tahu apa kepanjangan .?0&" *anya .eremy.
Aku menggeleng.
".ar3is ?amily."
Aku mendesah, "Apa yang harus kulakukan&"
"*erima dia sebagai saudaramu, ke luargamu."
"Aku tidak pantas. Aku sudah sangat menyakitinya."
"%ia tidak pernah merasa sakit hati padamu. #elama ini, dialah yang
merasa bersalah karena masa kecilmu yang menderita."
#eperti itukah& Apakah dengan menerima dia sebagai 'akakku akan
menghapus semua kesalahanku padanya&
"%ia memang saudaraku, kan&" 5umamku pedih. Aku memejamkan
mataku dan merasakan cairan hangat turun di sudut mataku.
%an ketika aku membuka mataku, .eremy sudah meninggalkanku.
Aku beranjak dari so/a dan merebahkan tubuhku di atas ranjang,
meletakkan kedua tangan di ba,ah kepalaku dan menatap langit-
langit kamar dengan pandangan menera,ang.
4ari ini begitu banyak kejadian yang membuatku lelah, dari tingkah
,anita jalang yang menyebalkan itu, sampai kebenaran tentang siapa
diriku yang terungkap. %an...Ale8a yang sudah tidak berada di
negara yang sama denganku.
%i mana kau, ?airy...sedang apa kau sekarang& #elama ini aku cukup
senang dengan hanya membayangkan kau masih menghirup udara
yang sama denganku. 0asih menatap langit yang sama denganku.
*api sekarang...'au menjauh dariku. .i,aku kosong tanpa dirimu,
sayang. 4atiku beku tanpa kehadiranmu. 'embalilah
padaku...'embalilah, sayang...0y ?airy girl...
---
Aku kembali ke pusaran ini, pusaran gelap yang selama ini
menghilang dari ingatanku, kini kembali padaku.
Aku melihat sosok bertubuh tanggung yang menggigil
ketakutan...meringkuk di sudut jalan. Aku mendekatinya...dan
merasa takut ketika mengenali sosok itu, tanpa bisa mengingat siapa
anak itu. 7ang mungkin berusia 11 tahun...
Aku mengulurkan tanganku, berusaha menyentuh tubuh itu, tapi aku
hanya menangkap udara.
Aku tersentak ketika melihat anak itu berdiri dan menatapku
ketakutan. )alu aku menyadari dia tidak sedang menatapku, dia
bukan takut padaku, tapi pada sesuatu di belakangku.
Aku menoleh dan segera menyingkir ketika melihat sesosok tubuh
penuh api yang berjalan gontai ke arahku, aku menatap anak itu
cemas.
)ari...lari...menjauh darinya...cepatlah lari...
*eriakku pada anak itu, seolah-olah menyadari bahaya yang
mendatangi anak itu.
Anak itu lari ketakutan, aku mengikutinya dari belakang dan
berteriak-teriak menyuruhnya cepat. *api kaki kurusnya membuat
dia tidak bisa berlari dengan cepat. Aku memekik ketika sesuatu
membuatnya jatuh, berusaha meraih tangannya untuk membantunya
berdiri, tapi kembali hanya menangkap udara. #osok penuh api itu
semakin dekat, dan aku baru menyadari sosok itu memegang sebuah
parang. Aku berteriak ketika sosok itu mele,atiku dan menembus
tubuhku seolah-olah aku tidak ada di situ, lalu mengangkat
parangnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke tubuh anak itu...
Aku terduduk dan terbangun. 'eringat membasahi dadaku yang
telanjang. Aku meraih ke atas nakas, mencari segelas air putih yang
biasanya selalu kuletakkan di sana sebelum tidur. *api aku tidak
menemukannya, kemudian aku ingat, semalam aku tertidur begitu
saja.
Aku beranjak dari ranjangku, ke luar dari kamar dan menuju bar
pribadi milik .eremy, mencari sebotol ,ine dan menuangkannya ke
dalam gelas. )angsung meminumnya dalam sekali tegukan. )alu aku
kembali ke kamarku.
Aku membuka pintu balkon, merasakan hembusan angin malam
yang menerpa ,ajahku.
Aku mendekati pagar balkon dan melihat lampu-lampu kota yang
berkelap-kelip. 'ehidupan malam baru saja di mulai, dan aku
kembali terperangkap dalam mimpi burukku.
#osok penuh api yang selalu ada di mimpi burukku itu...Aku tahu
siapa dia...!m enny.
(andanganku menera,ang ke atas langit, mengingat kembali
kejadian dari sisi gelap kehidupanku.
Aku ingat, ketika itu !m enny pulang dalam keadaan mabuk,
rumah dalam keadaan sangat gelap karena mati lampu. Aku yang
baru berumur 11 tahun menyalakan lilin dan membukakan pintu
untuknya. %ia masuk dan berusaha memukulku, tapi keadaannya
yang mabuk membuat pukulannya meleset. %i tangannya
tergenggam bir murahan yang baru saja ditenggaknya. %ia
menghempaskan tubuhnya di so/a usang yang ada di ruang tamu, dia
mulai meracau. 0engata-ngataiku sebagai pembunuh *ante 0irna.
*uhan tahu aku tidak membunuhnya. Aku baru berumur sepuluh
tahun saat kecelakaan itu terjadi, dia menyelamatkan aku dari truk
yang mau menabrakku dan dia tidak sempat menghindar, sehingga
dialah yang tertabrak. Aku merasa sangat bersalah karena
kematiannya, dan sangat kehilangan dia. Apalagi sejak saat itu, !m
enny semakin kejam, dia tidak segan-segan menggunakan benda
tajam untuk menyakitiku. #eperti bekas luka pada pangkal leherku.
)alu aku melihat !m enny tertidur, dengkurannya sangat keras,
membuatku yakin dia sangat lelap. (andanganku tertumbuk pada
botol bir yang diletakkannya di atas meja, isinya tinggal setengah.
#ekelebat pikiran muncul di kepalaku.
Aku menghampirinya, menuangkan sisa bir ke atas tubuhnya. )alu
aku mundur...dan melemparkan lilin yang kupegang ke arahnya.
Aku membelalakkan mataku saat melihat api memercik di tubuhnya
menjadi api yang lebih besar. !m enny terbangun, dia berteriak-
teriak, matanya nyalang menatapku. Aku melangkah mundur
ketakutan, !m benny mencoba berjalan ke arahku, tapi keadaannya
yang masih mabuk membuatnya limbung dan menabrak tirai yang
membatasi ruang tamu dengan ruang tengah. *irai itu tertarik dan
jatuh ke tubuh !m enny, membuat api yang membakar tubuhnya
semakin besar.
Aku berbalik, membuka pintu dan lari ke luar. !m enny berteriak-
teriak kepanasan di belakangku, aku terus berlari kencang, sampai
suara itu tidak terdengar lagi. Aku tidak berhenti, aku terus
berlari...erlari...#ampai aku tersungkur dan terjatuh di jalanan.
Aku sudah membunuh !m enny...Aku pembunuh. 'enyataan
itulah yang selalu menghantuiku. 0enjadikan mimpi-mimpi buruk
di setiap malam-malamku.
0impi itu menghilang ketika aku bersama Ale8a. Ale8a...%ia tidak
pernah tahu kenyataan ini. Aku tidak bermaksud
menyembunyikannya. Aku hanya belum siap menceritakannya, aku
takut dia akan meninggalkanku jika dia tahu aku adalah seorang
pembunuh.
0ungkin...Aku malah tidak akan mempunyai kesempatan untuk
menceritakannya pada Ale8a.
Aku kembali ke kamarku untuk merebahkan tubuhku kembali,
malam masih panjang, tapi aku tidak ingin mencoba untuk terlelap.
(onselku bergetar di atas nakas, dan nomor yang tidak kukenal
terpampang di layarnya. Aku tidak ingin menja,abnya, tapi entah
kenapa tanganku terulur meraih ponsel dan menja,ab panggilannya
itu.
"4alo."
""ni aku."
4enry. "Ada apa&" *anyaku.
"Apakah kau bisa ke luar& Aku ingin bicara denganmu."
Aku tidak akan bisa tidur lagi. "!kay." .a,abku.
%ia menyebutkan nama sebuah ca/e yang buka 2E jam, lalu menutup
panggilannya.
Ca/e yang kumasuki terlihat sangat nyaman dengan konsep alam di
dalam ruangannya. *erdapat jendela-jendela besar di dinding-
dindingnya, dan tanaman merambat pada pilar-pilar dan kaki tangga
yang menuju ke lantai dua. *anaman merambat itu menarik
perhatianku, dengan bunga-bunganya yang ber,arna-,arni. aru
kemudian aku mengetahui nama tanaman itu adalah 0ande3illa
#anderi, sejenis tanaman yang bisa berbunga sepanjang ,aktu
dengan catatan mendapatkan panas yang cukup. #ekarang aku
mengerti mengapa ca/e itu penuh dengan jendela-jendela besar yang
memenuhi dindingnya.
Aku memperhatikan sekeliling, hanya ada beberapa orang yang ada
di ca/e tersebut, seorang gadis yang asik dengan laptopnya -mungkin
dia seorang penulis-, seorang pemuda yang terlihat berbicara serius
dengan ,anita yang ada di depannya, dan seorang pria paruh baya
yang sedang asik menyeruput kopinya. )alu aku melihat 4enry di
meja yang paling sudut. Aku menghampirinya dan duduk di
depannya.
"4ai." #apaku canggung.
4enry mendongak dan tersenyum melihat kehadiranku. "'au mau
memesan sesuatu&" tanyanya.
"#ecangkir kopi pahit yang panas." 5umamku.
4enry memanggil pelayan tua yang ada di meja kasir, dan
mengatakan pesananku.
'ami terdiam, sampai pelayan itu mengantarkan pesananku.
"'au benar," gumamnya.
Aku menyeruput kopiku, harum kopinya membuatku tidak begitu
merasakan rasa pahit yang mele,ati tenggorokanku. 0endengar
ucapan 4enry, aku menatapnya dari balik bulu mataku.
"Aku sangat mencintai )iana, aku akan membuatnya kembali
mencintaiku."
Aku tidak tahu harus berkata apa. 0eskipun darah yang sama
mengalir di tubuh kami, tapi aku tidak begitu mengenalnya, dan aku
tidak bisa mengucapkan kata-kata penuh empati.
"Aku akan mengobati penyakitku, lalu aku akan memba,a )iana ke
.erman, ke tempat kelahiran Ayah. Aku memutuskan untuk menetap
dan menjalankan perusahaan Ayah yang ada di sana. %i sana masih
ada 'akek, $enek, dan ibi .annice-adik Ayah."
.antungku berdebar mendengar 4enry menceritakan itu, merasakan
sesuatu yang merayap di hatiku saat mengetahui aku masih memiliki
ke luarga yang lain. *api aku menunduk, mereka tidak mengetahui
keberadaanku, aku adalah aib bagi mereka.
#eperti bisa membaca pikiranku, 4enry berkata, "Aku akan
menceritakan tentangmu pada mereka, kau harus berkunjung ke
sana, mereka akan sangat senang."
"Apakah...itu benar&" *anyaku ragu-ragu.
4enry mengangguk antusias, "'eluarga Ayah sangat terbuka, dan
mereka sangat penyayang."
Aku yakin 4enry me,arisi si/at mereka.
#esaat kami terdiam.
".adi...Aku ingin menyerahkan tanggung ja,abku yang ada di sini
padamu." 5umam 4enry serius.
"0aksudmu&"
".?0 5roup sudah pasti akan jadi milikmu, itu hakmu. *api selain
.?0 5roup aku juga menjalankan perusahaan transportasi
peninggalan Ayah, di perusahaan itu kau juga memiliki saham yang
sama denganku, Ayah menyiapkannya untukmu. Aku ingin kau
menggantikanku menjalankan perusahaan ke luarga kita."
"Aku...tidak begitu mengerti tentang itu."
"Aku yakin kau akan cepat belajar, dulu aku dibuat kagum olehmu
karena kelihaianmu ,aktu membantuku." 4enry tersenyum sayang.
#ekelebat bayangan aku dan 4enry yang sedang merekap data-data
di ruang kerjanya terekam dalam ingatanku.
Aku pun tersenyum, "Akan kucoba."
)alu kami terdiam.
"0aa/kan aku." 5umamku.
4enry menatapku dan tersenyum. "Aku yang seharusnya minta
maa/, maa/ untuk masa kecilmu yang menderita."
""tu bukan salahmu. Aku yang selama ini menyakitimu,
mengkhianatimu."
""tu juga bukan salahmu. 'eadaanlah yang membuat kita begini,
sekarang kita impas, okay&"
Aku mengangguk, lalu menyeruput kopi untuk terakhir kalinya.
"#emoga kau bahagia...bersama )iana." 'ataku tulus.
"7a, kau juga. Ale8a pasti akan kembali padamu."
"*erima kasih." 5umamku tak yakin.
'ami terdiam.
Aku berdiri, "Aku harus pergi."
"*unggu .ar3is," 4enry menahanku. "Apakah boleh...aku
memelukmu& Aku selalu ingin memelukmu sejak melihatmu dalam
gendongan )aila," gumamnya serak.
Ada yang menggumpal di tenggorokanku, aku hanya mengangguk
dengan mata yang memanas. #elanjutnya yang aku tahu, 4enry
sudah memelukku kuat, pundaknya bergetar halus. Aku
mengulurkan tanganku yang gemetar, dan memberanikan diri untuk
balas memeluknya.
%engan ini aku mengerti, suatu saat...jika ,aktu sudah mengubur
sebagian kenangan kami...kami pasti akan bisa memaa/kan diri kami
sendiri.
---
ab 1E
-E*"(A
5 bulan setelah kepergian $le%a6
#udah hampir satu tahun Ale8a pergi, aku menjalani kehidupan
bagai seorang mayat hidup. 'esibukanku sebagai CC! di
perusahaan peninggalan Ayah membantuku menghabiskan ,aktu
untuk melupakan kesedihanku. $amun, seberapa keras pun usahaku
untuk melupakan Ale8a, bayangannya tidak pernah bisa pergi dari
ingatanku. 'ebersamaan kami yang singkat tidak membuatku mudah
untuk melupakannya, dia sudah tertanam kuat di hatiku, mengakar,
memenuhi setiap rongga yang ada di dadaku.
.alanan malam yang kulalui tidak berbeda dengan malam-malam
sebelumnya, aku meluncur menuju gedung apartemen baruku,
mengendarai mobil me,ah pemberian 4enry enam bulan yang lalu.
#etidaknya, sekarang 4enry sudah mendapatkan kebahagiaannya.
Cmpat bulan yang lalu, dia mengatakan bah,a operasinya berhasil,
dan aku ikut bahagia untuknya.
Aku memasuki area parkir yang disediakan khusus untuk mobil-
mobilku, ke luar dari mobil dan langsung menuju li/t khusus yang
menuju (enthouse milikku. Aku menekan kode rahasia dan masuk
ke dalam li/t begitu pintu li/t terbuka. )i/t melaju kencang menuju
lantai paling atas.
(intu li/t terbuka, aku melangkah ke luar dan mele,ati lobby yang
bernuansa putih dan coklat, dengan beberapa lukisan di dinding-
dindingnya. #ebuah lukisan yang berukuran paling besar terpasang
dengan pas di belakang meja lobby, lukisan jalan kecil dengan
pohon-pohon besar di sampingnya, ada sebuah mobil di pinggir jalan
itu, dan sepasang kekasih yang sedang menikmati malam di atas
mobil itu. 7aL)ukisan itu kenanganku bersama Ale8a, aku
mempunyai hobby baru sekarang, melukis. Aku mempunyai studio
khusus di apartemenku, tempat aku mengingat kembali setiap
kenangan-kenanganku bersama Ale8a dan mengabadikannya di atas
kan3as.
#elesai mandi dan hanya dengan handuk yang melilit pinggangku,
aku langsung menuju studio yang selalu terkunci. 4anya Dachel,
pengurus rumah tanggaku yang menyimpan kunci cadangannya.
Aku menarik kain putih yang menutupi sebuah kan3as, dan menahan
na/as saat melihat lukisan itu. "ni maha karyaku, masterpiece-ku,
satu-satunya lukisan yang mampu membuatku menahan na/as setiap
melihatnya.
Aku menyentuh ,ajah dalam lukisan itu dengan jariku, menyusuri
lekuk tubuhnya yang telanjang, dan aku mengeras hanya dengan
melakukan itu.
"tu Ale8a. *elentang di atas lantai dengan bertumpu pada kedua
sikunya, dadanya membusung, menampilkan payudara indah dengan
puting pink pucatnya yang menggairahkan. #ebelah kakinya tertekuk
dengan tumit terangkat dan ujung jari menyentuh lantai, kaki yang
satu menegang lurus sejajar dengan lantai. Dambut coklat gelapnya
berkilau, jatuh tergerai dengan ujungnya yang menyentuh lantai.
+ajahnya menunjukkan kenikmatan luar biasa akan orgasme yang
diterimanya, dia menggigit bibir ba,ahnya dan mata coklat
lembutnya menatapku dengan sorot mata yang berkabut. (enuh
cinta, danLgairah.
Aku menyelesaikan lukisan ini dalam satu malam. 0engingat setiap
detail ekspresinya dalam ingatanku, membuatnya terlihat nyata.
Aku menarik handuk yang melilit pinggangku hingga terlepas, dan
melemparkannya begitu saja. )alu menghempaskan tubuh
telanjangku di atas kursi yang ada di depan kan3as itu. 0elorotkan
pantatku dan memajukan pinggulku, membuat kejantananku yang
berurat dan tebal terekspos sempurna. 0enatap ,ajah Ale8a, aku
melahap tubuh telanjangnya dengan mataku, membuat ereksiku
semakin tegang. *anpa mengalihkan perhatianku dari lukisan Ale8a,
aku meremas ereksiku, membayangkan ke,anitaan Ale8a yang
menjepitku. %an mengurutnya ke atas, membayangkan hisapan yang
dilakukan lubang ke,anitaannya, melakukannya beberapa kali,
laluLaku meledak hanya dengan itu. 0erasakan kenikmatan
orgasme hanya dengan membayangkannya.
Aku terduduk lemas, dengan cairan sperma yang memenuhi telapak
tanganku yang menggantung di samping tubuhku.
#etelah mereda, aku membungkuk, meraih handuk dan berdiri,
melilitkannya kembali pada pinggangku. )alu menutupi lukisan itu
kembali dengan kain putih.
Aku melangkahkan kaki ke luar dari studio, menuju kamar.
0emakai bo8er, dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang.
0encoba untuk tertidur ketika mendengar deringan pada ponselku.
"tu pasti .eremy.
0eraih ponsel di atas nakas, aku menja,ab panggilan itu.
"7a." 5umamku.
".ar3is, kau harus ke sini." #uaranya terdengar di antara hiruk-pikuk
suara musik yang berdentam. %ia pasti berada di club.
"'enapa&" *anyaku tak acuh.
"%ua gadis seksi sedang bersamaku, bro. 0ereka benar-benarL
H.eremy bersiulI. 'au harus ke sini, men." )alu terdengar suara
cekikikan di sampingnya.
Aku memutuskan panggilan itu dan mematikan ponsel. .eremy tidak
pernah berhenti mencoba menghiburku dengan mengajakku
mengencani ,anita lain. "tu tidak akan bisa. #etelah kepergian
Ale8a, aku benar-benar menjauhi dunia malam, tidak ada lagi
clubbing, tidak ada lagi ,anita, dan tidak ada minuman keras. !kay,
aku masih minum, tapi tidak di nightclub. 4anya ketika aku berada
di bar pribadiku.
Aku memejamkan mataku yang sudah mulai berat, meninggalkan
malam untuk menghadapi hari esok.
---
#eperti pagi-pagi sebelumnya, pukul enam tepat aku sudah
berpakaian rapi, mengenakan setelan jas yang menempel pas pada
tubuhku. Aku berdiri di depan cermin, membetulkan letak dasiku
ketika terdengar ketukan di pintu kamarku.
Aku membuka pintu, dan melihat Dachel berdiri di depan pintu.
*ubuh tinggi besarnya membuat dia tetap terlihat kuat di usianya
yang sudah menjelang 1A tahun. %ia pelayan kepercayaan ke luarga
Ayahku di .erman, 4enry yang memba,anya ke sini saat aku
membeli apartemen ini.
"(agi .unior." #apanya hangat dalam bahasa .erman yang kental.
Aku tersenyum mendengar sapaannya, sejak tahu aku anak bungsu
dari anak sulungnya, $enek memanggilku dengan sebutan .unior.
%an itu menular pada Dachel.
"(agi Dachel, ada apa&" Aku selalu bersikap hangat pada Dachel, dia
sudah seperti ke luarga bagiku.
"Ada telepon untukmu. 'au mematikan ponselmu&" tanyanya sambil
menyipitkan matanya.
Aku terkekeh, "Aku lupa. !kay, aku akan menerima telepon itu di
kamarku."
Dachel mengangguk, "#etelah itu, turunlah untuk makan. Aku
membuatkan bubur ayam untukmu."
Aku terbelalak dan cepat-cepat menutup pintu kamarku. 0encoba
memikirkan cara untuk menghindari siksaan bubur ayam Dachel
-begitu aku menyebutnya-pagi ini. #ejak mengetahui cerita di balik
bubur ayam itu, Dachel selalu mencoba untuk membuat bubur ayam,
dan itu dilakukannya setiap pagi. 4ari pertama dia membuat bubur
ayam, aku bersemangat untuk mencobanya, dan itu berakhir dengan
aku muntah di toilet. 4ari kedua, aku mencoba dengan ragu-ragu,
dan aku mengutuk diriku sendiri karena kemudian aku harus
berakhir dengan berkali-kali buang air besar. 4ari ketiga, aku
mencobanya dengan enggan, itu tidak berbeda jauh dengan hari
pertama dan hari kedua. #elanjutnya, aku berusaha menghindari
makanan itu. isa dibayangkan bagaimana rasanya, aku tidak akan
sanggup mencobanya lagi.
Aku duduk di so/a bulat yang tak jauh dari ranjang, dan mengangkat
gagang telepon yang ada di samping so/a.
".ar3is."
Aku mengenali suara itu, "4alo 4enry."
".ar3is, aku punya kabar gembira untukmu." #uara 4enry yang
biasanya tenang terdengar agak bersemangat. "Aku akan
mengatakannya padamu sekarang." )alu terdengar suara ribut-ribut
di belakang 4enry.
Aku tersenyum ketika mengenali salah satu suara itu adalah suara
$enek. "7aLAku mendengarkan."
"Aku akan mengatakannyaL*idak $enek, aku yang akan
mengatakannya H4enry menggunakan bahasa .erman saat bicara
dengan $enekIL.ar3is dengarkanL"
"7aL"
"Aku akan mengatakannya padamuL"
Aku mulai tidak sabar mendengar 4enry yang hanya mengulang-
ngulang kata-katanya. "7a, katakan padaku." 'ataku kesal.
"etul, aku harus mengatakannyaL*idakL'akakmu yang akan
mengatakannya padamu. 'urasa aku terlalu gembira sampai tidak
tahu harus berkata apaL."
0aksud 4enry dengan 2'akakmu2 adalah )iana, dan aku merasa
nyaman dengan panggilan itu.
".ar3isL" #uara lembut )iana terdengar dari seberang.
"7a, #ist." 5umamku dalam senyum.
Aku sudah memaa/kan perbuatan )iana pada Ale8a, pada saat
kunjunganku ke .erman tujuh bulan yang lalu. %an berusaha
melupakan kenangan-kenanganku bersamanya. (ada dasarnya aku
menyayangi )iana yang berperan sebagai penolongku, dan sekarang
rasa sayang itu semakin bertambah dengan adanya ikatan
persaudaraan di antara kita.
"#epertinya kau akan memiliki keponakanL" 'ata )iana.
Aku terlonjak kegirangan memahami perkataan )iana.
"0aksudmuL'au hamil&"
"7a .ar3is, )iana hamil." 4enry kembali bersuara. "Aku akan
mempunyai anak."
"%an aku akan mempunyai keponakanL" 5umamku terharu.
"7aL" #epertinya 4enry juga kehabisan kata-kata sepertiku.
*iba-tiba aku teringat sesuatu, "Apa menurut dokter tidak apa-apa&"
"*idak apa-apa, memang agak beresiko karena umur )iana yang
sudah hampir kepala empat, tapi kondisi )iana sangat sehat. %ia
hanya membutuhkan banyak istirahat."
"'au harus menjaganya, 4enry."
"*entu, $enek dan 'akek sangat memanjakan )ianaLAduhL" Aku
mendengar 4enry memekik kesakitan, aku terkekeh, itu pasti karena
cubitan )iana. "Lini cicit pertama merekaL"ya $ek, sebentar.
$enek ingin bicara denganmu .ar3is."
'emudian aku berbicara dengan $enek beberapa saat yang
menanyakan kabarku dan tentu saja Dachel, pelayan kesayangannya.
*erkadang, aku merasa bersalah telah memba,a Dachel ke
"ndonesia. #elanjutnya 'akek menyerobot pembicaraan kami, dan
aku berakhir dengan ibi .annice. 7ang mengurus perusahaan Ayah
ketika 4enry masih di "ndonesia, dia sangat gembira dengan
kedatangan 4enry ke .erman yang mengambil alih semua tugas-
tugasnya. %an sekarang, dia sangat menikmati kehidupannya
menjadi "bu rumah tangga, mengurus #uami dan dua putra kecilnya
yang lucu-lucu. #ebelum menutup telepon, aku berbicara lagi
dengan 4enry, mengucapkan selamat padanya.
(erlahan-lahan aku ke luar dari kamar, berjalan mengendap-endap,
memastikan tidak terlihat oleh Dachel. Aku mendengar suara Dachel
dari dapur, bersenandung menyanyikan lagu daerah .erman yang
tidak aku mengerti. Aroma masakan yang membuat perutku mual,
menjadi pemicu untuk mempercepat langkahku.
Apa dia menambahkan ramuan itu lagi pada kuah bubur ayamnya&
Dachel mempunyai ramuan dengan bau menyengat yang diba,anya
dari .erman dan di simpan dalam kantung kain yang selalu
digantungkan di pinggangnya. 0enurutnya, ramuan itu bisa
mengembalikan cinta yang hilang. Aku pernah mencobanya sekali,
dan aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi.
---
Aku sengaja pulang cepat hari ini, ke luar dari kantor saat ,aktu
baru menunjukkan pukul empat sore.
Ada tempat yang ingin kukunjungi, tapi sebelumnya aku ingin
mampir ke toko perlengkapan bayi, mencarikan hadiah untuk calon
keponakanku.
)angit terlihat gelap saat aku melajukan mobilku di jalan raya.
#etelah lama tidak turun hujan, rupanya sekarang bumi harus bersiap
untuk menerima curahannya. 4ujan tidak menimbulkan rasa tak
nyaman lagi dalam hatiku, aku tidak lagi membencinya. 4ujan tidak
lagi mengingatkanku akan kenangan burukku di masa lalu, tidak
juga menghadirkan mimpi-mimpi buruk dalam tidurku. 4anya
kenangan bersama Ale8a-lah yang sekarang memenuhi kepalaku,
dan menghampiri mimpi-mimpiku. 0impi yang selalu ingin
kujadikan kenyataan. 0impi yang membuatku bisa menumbuhkan
harapan di hatiku.
Aku memasuki sebuah aby #hop dengan gedung yang bernuasa
pink dan ungu. 0emasuki pintu kacanya yang berdenting saat
dile,ati, dan langsung menuju tempat perlengkapan bayi.
#ebuah ranjang bayi ber,arna putih dengan hiasan boneka-boneka
kecil pada jerujinya menarik perhatianku, ,arna putihnya di
kombinasi dengan ,arna pink yang lembut. Aku menyentuh ranjang
itu dan merasakan kehangatan yang mengalir di dadaku, aku ingin
membeli ranjang ini. *api aku menggeleng, akan sangat merepotkan
memba,anya ke .erman.
Aku sudah berniat meninggalkan ranjang itu ketika terbersit ide di
kepalaku.
'enapa aku tidak membelinya saja, keponakanku bisa memakainya
saat berkunjung ke "ndonesia.
Aku pun membeli ranjang itu, dan saat aku memutuskan untuk
membeli ranjang itu, aku tidak bisa menahan keinginanku untuk
membeli yang lainnya. oneka-boneka, baju bayi, sarung tangan,
dan kaos kaki bayi, bahkan aku membeli pampers untuk bayi baru
lahir hanya karena gambarnya yang menggemaskan.
Aku mendorong keranjang belanja yang sudah penuh ke meja kasir
dengan ,ajah sumringah. *ersenyum lebar pada petugas kasir yang
mulai menghitung belanjaanku.
"Anak pertama ya (ak&" *anya petugas kasir itu saat mengambil
boneka beruang besar ber,arna pink lembut.
"Ch oh, apa&"
"apak sedang menunggu kelahiran anak pertama&"
"Ch iyaL" .a,abku asal.
"(asti anaknya perempuan."
"'ok bisa&"
"'arena sebagian barang-barang yang apak beli ber,arna pink."
Aku sendiri tidak begitu menyadari apa yang membuatku membeli
barang-barang itu.
""ni diantar kemana (ak&"
Aku menyebutkan alamat apartemenku, lalu pandanganku tertumbuk
pada selimut bayi yang diba,a seorang perempuan dengan tubuh
tambun yang baru menghampiri meja kasir. #elimut itu ber,arna
coklat gelap dengan moti/ bunga-bunga kecil ber,arna coklat
lembut di permukaannya, mengingatkanku dengan ,arna rambut
dan ,arna iris mata Ale8a.
"0bak, saya mau selimut seperti "bu itu." 'ataku pada #(5 yang
kebetulan mele,atiku, tanganku menunjuk selimut yang diba,a "bu
muda di sebelahku.
"#ebentar (ak," #(5 itu segera menuju rak selimut, dan kembali
beberapa saat kemudian. "0aa/ (ak, kebetulan stock-nya kosong.
isa jenis yang lainnya (ak&" *anya #(5 itu.
Aku menggeleng, dan berpaling menatap selimut bayi yang sekarang
tergeletak di meja kasir dengan pandangan kece,a.
"apak ambil saja selimut yang ini, biar saya cari yang lainnya."
Aku menoleh ke arah suara di sampingku dan mendapati perempuan
yang membeli selimut itu tersenyum ramah padaku. "Apa tidak apa-
apa u&" *anyaku merasa tidak enak, tapi tidak bisa
menyembunyikan kegembiraanku.
(erempuan itu menggeleng, "#aya bisa membeli yang lain, hanya
untuk kado tetangga kok."
"*erima kasih ya u." 'ataku senang dan menyerahkan selimut itu
pada petugas kasir.
"bu itu kembali tersenyum ramah dan melangkah menuju rak
perlengkapan bayi.
"0bak, ranjang bayinya saja yang diantar, barang-barang lainnya
biar saya ba,a sendiri." Aku berubah pikiran.
"aik (ak." .a,ab petugas kasir itu.
Aku ke luar dari area parkir aby #hop dan langsung menuju tempat
yang menjadi tujuanku semula. )angit yang tadi mendung sekarang
sudah menurunkan gerimisnya, meninggalkan tetesan air pada kaca
mobilku, aku menyalakan ,iper untuk menghilangkan tetesan air
hujan itu.
#ebuah tikungan lagi, dan aku akan sampai pada tempat tujuanku.
.alan kecil di mana aku melihat Ale8a untuk pertama kali. Aku
selalu ke jalan ini setiap langit menunjukkan tanda-tanda akan turun
hujan, berharap menemukan kembali Ale8a.
Aku membelokkan mobilku, dan tiba-tiba sebuah mobil melaju
kencang dari depanku. Aku menginjak rem mendadak, dan
sepertinya pengemudi mobil itupun melakukan hal yang sama, tapi
kami tidak bisa menghindari tubrukan pada bemper mobil kami.
4enry akan membunuhku.
'eluar dari mobil, aku memeriksa bemper mobil, ada sedikit
penyokan di ujung bempernya.
0endengar suara pintu mobil yang dibuka, aku berbalik untuk
menanyakan keadaan pengemudi mobil yang menabrakku.
"Apakah AndaL" Aku terdiam, terkejut melihat keberadaannya
yang kini berdiri di balik pintu mobil yang setengah terbuka.
"?airyL"
Ale8a terlihat sama terkejutnya sepertiku, lalu dia menunjukkan
tanda-tanda ingin menghindariku, berniat masuk kembali ke dalam
mobil. Aku bergerak cepat, meraih tangannya dan menahan pintu
mobil.
"*unggu ?aiL" isikku panik.
Ale8a terlihat ketakutan.
'enapa dia takut padaku&
Aku membalik tubuhnya hingga menghadapku, menatap mata coklat
lembutnya yang selama ini kurindukan.
0emperhatikan keadaan /isiknya yang tidak berubah sama sekali,
hanya sedikit lebih berisi. %ia mengenakan rok terusan semata kaki
dari kain katun denim yang melebar pada bagian ba,ahnya,
dipadukan dengan s,eater tebal ber,arna biru langit. #elendang
segitiga lebar yang se,arna dengan roknya menutupi pundak hingga
perutnya. *etesan gerimis meninggalkan butir-butiran embun kecil
pada rambut coklatnya.
0elihat ekspresi ,ajahnya, aku hancur, tidak bisa menahan
perasaan, aku pun memeluknya, "Aku sangat merindukanmu, ?aiL"
%an aku terkejut ketika merasakan ada sesuatu yang mengganjal di
perutnya.
Aku melepaskan pelukanku, menatapnya bingung. #ebersit pikiran
yang melintas di kepalaku membuatku menyibakkan selendang yang
menutupi perutnya.
Aku terpanaLdan takjub dengan apa yang kulihat.
"'auLhamil&" *anyaku antusias, merasa sangat yakin itu anakku.
*erlintas dalam benakku beberapa bulan yang lalu, saat aku mual
dan muntah-muntah tanpa sebab setiap pagi, aku tidak ingin makan
apa-apa, hanya rujak mangga muda yang selalu mengisi perutku.
.eremy sempat protes karena dialah yang kerepotan mencari mangga
muda pada saat bukan musimnya. *ubuhku menjadi lemas dan tak
bertenaga. %okter tidak bisa menjelaskan penyakitku, dia
mengatakan itu adalah gejala hiperemesis gra3idarum- yang
seharusnya diderita "bu hamil. Aku tidak pernah memikirkan tentang
kemungkinan itu.
"A-akuL" Ale8a terlihat sangat gugup, lalu tiba-tiba dia mengernyit
menahan sakit, membuatku kebingungan.
"'enapa sayang&" *anyaku panik. *anganku menggenggam
tangannya yang berkeringat dingin.
Ale8a melorot, terduduk di samping pintu mobil, tangannya
memegangi perut dan dia berna/as pendek-pendek.
Aku berlutut di sampingnya, merasa panik dan ikut memegangi
perutnya. 5erakan pada perutnya membuatku tertegun, kehangatan
yang mengisi setiap rongga dadaku membuatku merasakan eu/oria.
".AD:"#L"
.eritan Ale8a yang memanggil namaku kembali membuatku panik,
"7a sayang, aku di sini."
"#e-per-ti-nyaLakuLkontrak-siL" %ia bergumam susah payah.
'ontraksi& *unggu. Apa maksudnya kontraksi& Apa dia akan
melahirkan&
%engan gugup aku merogoh sakuku untuk mengeluarkan ponsel.
*anganku yang satu terus menggenggam tangan Ale8a,
menenangkannya. Aku menekan tombol untuk panggilan pada
.eremy.
"4aloL"
".eremyLAle8a, Ale8aL.eremyL"
"*enang .ar3is, tenangL!kay& #ekarangL'atakan ada apa."
%ia menyuruhku tenang&
"Aku menemukan Ale8a, danL"
"!h ya&"
"7a!" entakku merasa kesal karena ucapanku dipotong, "%ia
hamilL*idak, dia mau melahirkanL"
"*unggu. Apa maksudmu&"
".eremy! Aku menemukan Ale8a dan dia mau melahirkan sekarang."
"0aksudmu, kau menemukan Ale8a yang sedang hamil dan akan
melahirkan sekarang&"
!h *uhanLAku akan menggorok lehernya setelah ini.
"'C$A(A 'A; 0C$C)C(!$';&!" *eriakan .eremy
mengagetkanku. "(A$55") A0;)A$# #C'ADA$5!" )alu dia
memutuskan panggilanku.
Ale8a kembali menjerit, aku mengalihkan perhatianku pada Ale8a.
0enenangkannya dengan kata-kata dan menghapus keringatnya
dengan sapu tangan milikku. *anganku gemetar, menggulirkan layar
sentuh pada ponselku, mencari nomor telepon rumah sakit yang
mungkin kusimpan. Aku panik ketika tidak menemukannya.
".ar3isL" (anggilnya lemah.
"7a sayangL" Aku menghampirinya dan meraih kepalanya,
membuatnya bersandar di pangkuanku.
"#epertinyaLAir ketuban-kuLpecahL"
(ecah& *idak. *unggu. Aku menatap ngeri pada cairan bening yang
merembes ke luar dari roknya.
"ertahan sayangL" isikku panik. *anganku yang gemetar
kembali berusaha menekan sebuah tombol. $amun aku terlonjak
kaget ketika ponselku berdering. $ama .eremy terpampang di layar
ponselku.
"%" 0A$A 'A; #C'ADA$5&!" *eriaknya saat aku menerima
panggilannya.
".alan #oka tikungan ketiga. .eremy, kau harus menelepon ambulans
sekarang. Aku tidak tahu nomornya, Ale8aLair ketuban Ale8aL
sudah pecahL"
"!%!4!" )alu dia kembali menutup panggilannya.
Apa maksudnya dengan bodoh&
5erimis sudah berubah menjadi hujan, sambil memegangi kepala
Ale8a, aku bangkit setengah berdiri, membuka pintu penumpang
pada mobilnya. )alu aku mengangkat Ale8a dan memindahkannya
ke kursi penumpang. 0emposisikan kakinya agar terbuka. Aku
berdiri di luar mobil dengan tubuh yang sudah basah kuyup,
menggenggam tangan Ale8a dan berteriak-teriak mengingatkannya
cara berna/as saat melahirkan. Aku yakin dia sudah mempelajari itu.
"*arik na/aaasL7aLsayangLseperti ituL"
Ale8a terus berteriak dengan na/asnya yang terputus-putus, aku tak
henti-hentinya menyuruh dia untuk berna/as.
"%"A0!" bentaknya kesal, tangannya mencengkeram kerah jasku.
"*idakkah kau melihat aku sudah berna/as dari tadi." *eriaknya
diantara jeritan kesakitannya. "AkuL0embencimuL.ar3isL
AaaL"
"Aku mencintaimuL" Aku tidak yakin dia membenciku, "7a
sayangL*arik na/aaaasL)agiiiL"
"AaLngggggLAku membencimuLAku-tidak ingin-melihatmuL
kau menyebalkanL$ggghhhL" %ia mengejan.
Aku menggenggam tangannya, mengusap dahinya yang penuh
keringat, dan menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel
pada dahi dan pipinya.
"Aku mencintaimuLAku sangat mencintaimuL#ekarang tarik
na/asL"
"erhenti menyuruhku tarik na/as! (ergi! (ergi dari sini! Aku tidak
ingin melihatmuLAahhngggghhhL" .eritannya semakin panjang.
'ha,atir kehadiranku memberikan e/ek negati/ pada psikologisnya,
dengan gugup aku menegakkan badanku dan berniat menjauh dari
Ale8a.
Ale8a kembali mencengkeram kerah jasku dan menarikku kembali,
".angan pergiL'umohon jangan pergiLAhhhngggggLAku salah.
Aku tidak membencimu. AkuLaku sangat mencintaimu."
Aku kembali mendekat padanya, merasakan kehangatan di hatiku
saat mendengar pengungkapan isi hatinya padaku. *ersenyum, aku
mengusap-usap perutnya dan mengikuti cara Ale8a berna/as. "kut
mengejan jika dia mengejan.
"AaaaL.ar3isL'urasaLbayinya akan ke luar sekarangL
AaaahhhgggL" #erunya diantara teriakannya.
'eluar& *idak. .angan sekarang.
"*enang sayangL0ereka akan datang sebentar lagi." Aku berusaha
menenangkan Ale8a yang sudah tidak bisa berhenti mengejan.
#ecara naluri, aku mengangkat rok yang menutupi kakinya, dan
membuka kedua kakinya lebar-lebar. Aku terpana ketika melihat
gumpalan rambut kecoklatan diantara paha Ale8a. )alu aku
menyadari bayiku tidak bisa menunggu lagi.
Aku meletakkan tanganku di antara paha Ale8a, bersiap-siap dengan
kemungkinan yang akan terjadi. "CKmon baby, come to (apaL"
5umamku sambil berusaha menenangkan debaran pada jantungku.
Ale8a menjerit keras, dan aku kembali terpana takjub, dengan kedua
tanganku yang gemetarLAku menangkap kepala anakku yang kini
sudah ke luar sepenuhnya. #etelah kepalanya ke luar, badan bayi itu
bagai jellyLyang bisa meloloskan diri dengan mudahnya, aku
seperti melihat jin yang baru ke luar dari dalam botol.
Aku menangkap bayiku, tubuhnya yang licin dan penuh lendir
meringkuk nyaman di atas tanganku. 0enatapnya takjub, rasa haru
memenuhi dadaku, rambut ikal coklatnya yang tebal terasa lembut di
tanganku, bibir mungil merahnya bergerak-gerak lucu. *iba-tiba dia
menggerak-gerakkan tangannya, dan menangis keras. 0embuatku
tersadar dari keterpesonaanku padanya.
Aku mendekatkan bayiku pada Ale8a yang tersenyum bahagia,
matanya menatapku sayu.
"ayi perempuan yang sangat cantikLseperti 0ommy-nya."
5umamku bahagia.
#uara sirine terdengar mendekat, dan berhenti tak jauh dari mobil
kami, lalu suara-suara yang lain menyusul. 5umaman dan teriakan
para petugas medis yang bersiap menangani Ale8a, dan suara-suara
peralatan yang sedang dipersiapkan.
".ar3is!" Aku mendengar .eremy memanggilku, diikuti suara derap
langkah yang menghampiriku.
Aku tidak begitu mempedulikannya, kebahagiaan yang membuncah
di dalam dadaku membuatku berada di dalam gelembungku sendiri,
dengan anakku yang berada dalam dekapanku dan Ale8a yang
menatapku dengan senyum bahagianya.
---
03iperemesis 4ravidarum ( &bu hamil yang mengalami mual dan
muntah secara berlebihan. Jika sudah demikian" biasanya &bu
sampai tidak bisa makan dan minum sama sekali" kekurangan
cairan" gangguan elektrolit" lemah dan tidak bertenaga" hingga
mengganggu aktivitas sehari-hari" dan membahayakan anin.
ab 11
A+'"*0
Ale8a sudah dipindahkan ke kamar pera,atan yang sekarang sudah
penuh dengan barang-barang yang baru aku beli di toko
perlengkapan bayi - yang semula aku beli untuk calon keponakanku.
(uluhan boneka aneka bentuk dan ukuran memenuhi ruangan, dan di
salah satu sudut ruangan, menumpuk karangan bunga yang aku
pesan saat Ale8a masih berada di ruang bersalin.
'etika Ale8a memasuki ruangan ini, dia menutup mulutnya tak
percaya, mata coklat lembutnya berkilau karena air mata yang
membasahinya. %an dia tersenyum haru. #aat itulah aku tahuLaku
sudah dimaa/kan.
#ekarangLsaat Ale8a tertidur, aku sibuk mengamati bayiku yang
sudah terlelap. #etengah membungkuk, berdiri di samping keranjang
bayi yang terletak di sebelah ranjang Ale8a. Aku tidak bisa
menghentikan jariku untuk menyentuh kulit sehalus sutranya yang
seputih salju dengan rona merah pada kedua pipinya.
"'alau kau terus melakukan itu, kau akan membangunkannya."
#uara pera,at yang memasuki ruangan mengejutkanku.
Aku merengut, merasa tidak senang dengan tegurannya. )alu berdiri
dan memperhatikan dua orang pera,at yang sudah berada di
ruangan ini.
(era,at yang lebih tua menyuntikkan sesuatu ke botol in/us Ale8a,
sedangkan yang lebih muda membuatku risih dengan tatapannya
padaku.
"?okus suster!" *egur yang lebih tua pada pera,at muda.
"0-maa/ suster kepala." .a,ab pera,at muda itu dengan muka yang
merona, lalu dia menuliskan sesuatu di papan yang dia ba,a.
""stri dan anak Anda sedang istirahat, sebaiknya Anda pulang dulu
untuk berganti pakaian." 'ata suster kepala kepadaku.
Dahangku mengetat, "Aku tidak akan kemana-mana." 5umamku.
#uster kepala memutar bola matanya, ".angan keras kepala, Anda
terlihat sangat kacau dengan baju yang basah dan penuh noda darah.
'ami bisa menjaga "stri dan anak Anda." )alu suster kepala
meninggalkan ruangan diikuti oleh suster muda yang masih
mencuri-curi pandang padaku.
Aku memperhatikan diriku dan menyadari perkataan suster itu benar.
#ejenak aku merasa bimbang, aku harus mandi dan mengganti
pakaianku, tapi aku tidak ingin meninggalkan Ale8a dan anakku.
*idak setelah aku berhasil menemukan mereka.
#aat itulah aku mendengar pintu ruangan yang terbuka, .eremy
muncul dengan tas besar di tangannya. "?iuhhhL*idak kusangka
secepat ini aku memiliki keponakan. 'au mendahului .ulia, roL"
gumamnya saat memasuki ruangan. "Aku ba,akan baL" %ia
terbengong-bengong melihatku yang sudah menyambar tas besar
yang ada di tangannya. "Lju ganti." )alu dia mengangkat bahunya
acuh, "*erserahlah," gumamnya.
"*hanks, ro. 'au memang sahabat sejati." 'ataku sambil
mengeluarkan kaos berkerah dengan celana denim sebagai
pasangannya untuk kemudian kuba,a ke kamar mandi.
*idak membutuhkan ,aktu lama untuk membersihkan tubuhku,
karena aku memang tidak ingin berlama-lama. #aat aku ke luar dari
kamar mandi, .eremy sudah duduk di so/a dengan majalah kesehatan
anak di tangannya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
0eraih gelas kopi berlogo starbucks yang diba,a .eremy, dan
menyeruputnya pelan.
0elihatku, .eremy meletakkan majalah yang dibacanya dan
merogoh saku jasnya. 0engambil sebuah kotak beludru hitam
dengan lapisan emas murni di pinggirannya.
""ni barang yang kau minta," .eremy menyodorkan kotak itu padaku,
"Dachel yang menemukannya, tergeletak begitu saja di laci
nakasmu. 'au gila," gumamnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya, mengambil kotak itu
dari tangan .eremy, dan membukanya perlahan.
enda di dalam kotak itu memantulkan kilauan yang sangat
memukau. #enyumanku semakin lebar, kilauannya tidak berubah
setelah aku tidak melihatnya lagi sejak pertama membelinya tiga
bulan yang lalu. *erpesona. "tulah yang kurasakan saat melihat
benda itu untuk pertama kalinya. #ebuah cincin platinum dengan
desain yang sangat sederhana, tapi berlian 9 karat yang bertengger di
tengahnya membuat cincin itu terlihat anggun dan elegan. Cincin itu
mengingatkanku pada Ale8a, sederhana dan memukauL
"%i mana kau mendapatkannya& #etahuku cincin itu susah
didapatkan, apalagi dengan harganya yangLH.eremy memutar bola
matanyaIL/antastis."
Aku hanya tersenyum dan menutup kotak itu, lalu memasukkannya
ke saku celanaku. *idak perlu kuceritakan pada .eremy
perjuanganku mendapatkan cincin itu, apalagi dengan pahatan nama
panggilanku pada Ale8a di bagian dalam cincin itu.
"agaimana malammu&" *anyaku mengalihkan pembicaraan,
mengingat ucapannya di telepon semalam.
.eremy merengut, "uruk," gumamnya kesal.
Aku mengangkat alisku.
"#eharusnya jadi malam yang hebat kalau pengacau itu tidak
muncul."
"(engacau&" *anyaku tertarik.
.eremy memutar bola matanya dan kembali asik dengan majalahnya,
enggan menja,ab pertanyaanku.
".ar3isL"
(erhatianku teralihkan dari keinginan untuk mendesak .eremy ketika
mendengar Ale8a memanggilku.
Aku berdiri dan menghampiri Ale8a, duduk di samping ranjangnya,
meraih tangannya dalam genggamanku. "7a, sayang. 'au
membutuhkan sesuatu&"
Ale8a tersenyum dan menggeleng lemah, "Apa kau sudah
menghubungi orang tuaku&"
*ubuhku menegang, genggaman tanganku pada tangannya
mengencang.
0enghubungi orang tuanya& *entu saja tidak. 0ereka akan
memisahkanku dengan Ale8a. Aku akan memba,a Ale8a ke
apartemenku, apapun yang terjadi.
#eperti bisa membaca pikiranku, Ale8a meremas tanganku lembut.
"*idak seperti yang kau pikirkan, percayalah."
Aku terdiam, masih dengan ,ajah tegangku.
"(aling tidak, bicaralah pada Aunty Claire." Ale8a membujukku.
"Claire pernah berjanji akan menghubungiku untuk memberitahukan
keadaanmu. *api dia sama sekali tidak melakukannya." 5umamku
mengingat kejadian 9 bulan yang lalu.
Ale8a tersenyum sedih, "%ia bukannya tidak mau, percayalah. 'au
harus bicara padanya." Ale8a menatapku lembut, "0ereka akan
kha,atir jika tidak mendengar kabar darikuL" )anjutnya lagi.
Aku melirik jam dinding, Ale8a benar, ini sudah jam sembilan
malam. Aku harus memberitahukan keadaan Ale8a pada ke
luarganya. *api, bayangan Ale8a yang dijauhkan dariku membuatku
menatap bola matanya ragu-ragu.
Ale8a mengangguk, meyakinkanku.
"!kay." 5umamku mengalah.
Ale8a menatapku dengan mata coklatnya yang berbinar, itu
membuatku lemah.
"(onselku ada di tas," gumamnya.
Aku meraih tas Ale8a yang tadi kuletakkan di atas meja samping
tempat tidur, membukanya dan merogohkan tanganku, mencari
ponselnya.
%eringan ponsel mengagetkanku, aku mengeluarkan ponsel Ale8a,
tidak ada panggilan pada ponselnya& )alu aku melihat .eremy yang
sibuk merogoh saku celananya. %ia terlihat mengernyitkan
keningnya ketika melihat layar ponselnya, lalu mengangkat
panggilan itu.
.eremy tidak mengatakan apa-apa, hanya ekspresinya yang berubah,
itu membuatku kha,atir.
.eremy memutuskan sambungan dengan kerutan pada keningnya.
"Ada apa&" *anyaku penasaran.
.eremy menggeleng, "4anya masalah pribadi." )alu dia meraih
kacamata hitam yang tadi diletakkannya di atas meja. "Aku harus
pergi, .ar3is. Ada yang harus kuselesaikan." .eremy menghampiri
Ale8a dan mencium pipinya Haku merengut, kenapa dia selalu
seenaknya mencium pipi orang. Aku saja yang sangat merindukan
Ale8a belum berani menciumnyaI. "0aa/, Ale8. Aku harus pergi."
'ata .eremy pada Ale8a. Ale8a hanya tersenyum memaklumi.
"%ia bertemu seorang gadis." 5umam Ale8a ketika .eremy sudah
meninggalkan kami.
Aku yang masih berkecamuk dengan pikiranku menoleh bingung,
mengangkat alis tak mengerti.
Ale8a hanya mengangkat bahunya dan tersenyum penuh arti. "'au
harus menghubungi ke luargaku," katanya mengalihkan perhatianku.
Aku mengangguk, dan mulai menghubungi Claire.
Dengekan bayi kami sesaat setelah aku menutup telepon menarik
perhatianku, aku segera berdiri dan menghampiri ranjang bayi kami.
";chuuchuchuL'enapa chayangL& )aper yaL" !cehku
membungkuk di atas bayiku dan mengelus pipi merah mudanya.
)alu aku meraihnya hati-hati dalam gendonganku, dan memba,anya
ke Ale8a. "'e 0ommy ya chayangL#sttL.angan nangis, nanti
%adad cedihL"
Ale8a membelalakkan mata bulatnya dengan menahan ta,a, "#iapa
%adad&" godanya saat mengambil alih bayi kami dari gendonganku.
Aku tersenyum jenaka dan dengan bangga menunjuk dadaku.
Ale8a terta,a geli, tapi aku tidak peduli. Aku memperhatikan bayi
kami yang mulai menggesek-gesekkan mulutnya ke dada Ale8a,
tersenyum melihat bibir mungilnya mulai mencecap-cecap tidak
sabar. *api Ale8a tidak menunjukkan tanda-tanda hendak menyusui
bayi kami.
Aku mengalihkan pandanganku pada Ale8a dan menatapnya, "%ia
lapar." 'ataku sambil menunjuk bayi kami.
Ale8a mengangguk salah tingkah. "Aku tahu," gumamnya.
")alu, kenapa kau tidak menyusuinya&"
"Aku akan menyusuinya kalau kau menyingkir dari hadapanku."
Aku membelalakkan mataku, "'enapa&"
Ale8a tidak menja,ab, ,ajahnya yang masih agak pucat merona.
Aku mengertiL
"Astaga ?airy, aku sudah pernah melakukan segalanya pada
payudaramu, kenapa harus malu&" 5umamku kesal. "#usui saja dia,
aku tidak akan pergi."
Ale8a merengut mendengar ucapanku, namun dia melakukan juga
apa yang kusuruh. %engan satu tangannya dia membuka kancing
bajunya yang terletak di punggung, baju rumah sakit ber,arna hijau
itupun melorot, memperlihatkan kulit bahunya yang pucat.
#epertinya aku melupakan sesuatuL
'ini payudara Ale8a menyembul ke luar, dan bayi kami langsung
menyambar putingnya, kemudian menyedotnya dengan rakus.
Aku menelan air liurku. %i ba,ah sana, kejantananku mulai
memberontak, menuntut untuk dibebaskan. $anar, aku menatap
bongkahan daging kenyal yang ada dihadapanku, mengeluhkan
kecerobohanku yang melupakan e/ek saat melihat bagian dari tubuh
Ale8a yang kini terpampang jelas di depanku.
"#epertinyaLkau benar, aku harus menyingkir." 5umamku parau,
menahan gairah yang mulai bergejolak di ba,ah perutku.
)alu aku merebahkan tubuhku di atas so/a, menenangkan hatiku
yang berdebar kencang. Aku mencoba memejamkan mata, tapi bahu
mulus Ale8a dan payudara kenyalnya membayang di pelupuk
mataku. 0embuat kejantananku semakin mengeras.
Aku mengerang,menahan rasa nyeri yang mulai muncul di
selangkanganku.
"'au tidak apa-apa&" #uara lembut Ale8a terdengar kha,atir.
"*idak." .a,abku pendek. %amnL"ni tidak akan berhasil.
)alu aku berdiri dan beranjak ke kamar mandi, tanpa mempedulikan
ekspresi penuh tanya dari Ale8a.
5uyuran air dingin di kepalaku menjernihkan pikiranku, dan yang
paling penting melemaskan ereksiku. 0emakai handuk, aku meraba
saku celanaku, berdebar-debar ketika merasakan kotak yang
kusimpan di dalamnya.
'urasa, sekaranglah ,aktunya.
#aat aku ke luar dari kamar mandi, Ale8a sudah selesai menyusui
bayi kami. #ekarang bayi mungil itu terlelap di pangkuannya.
Aku menghampiri Ale8a yang sedang mengelus pipi bayi kami, dan
mengecup puncak kepala Ale8a lembut. "tu mengejutkan Ale8a, dia
mendongak dan tersenyum menatapku.
Aku duduk di samping Ale8a, tanganku melingkari bahunya dan
mengelus pundaknya lembut. "#iapa nama bayi kita&" *anyaku.
"Cllie." 5umam Ale8a.
"Cllie ?ee achmann." #ahutku.
Ale8a menoleh, aku terkekeh melihat kerutan halus di keningnya.
0engusap kerutan itu, aku mengulangi ucapanku, "Cllie ?ee
achmann."
"Cllie nama darimu, ?ee nama dariku, dan achmann nama ke
luargaku."
"$ama ke luargamu&"
Aku mengulurkan telapak tanganku yang terbuka ke hadapannya.
Cincin berlian yang kini tergeletak di tengah telapak tanganku, tanpa
kotak beludrunya, berkilau indah terkena cahaya lampu.
0ata bulat Ale8a terbuka lebar.
"Domantis adalah suatu masa dimana kita merasa bahagia,
sesederhana apapun kejadian yang membuat kita bahagia." Aku
mengutip kata-katanya beberapa bulan yang lalu. "+ill you marry
me&" isikku di telinganya.
Ale8a tidak bisa menyembunyikan air mata yang membasahi
pelupuk matanya, membuat mata coklatnya berkilau terkena air mata
itu. #enyum manis terukir di bibirnya, "7es, " ,ill," gumamnya
melegakanku.
*anpa melepas kontak mata kami, aku meraih tangan Ale8a dan
menyematkan cincin itu di jari manisnya.
"*erima kasih." 5umamku, aku memeluk Ale8a dan mengecup
ujung bibirnya. 4anya kecupan ringan, tapi mengakibatkan e/ek
yang luar biasa pada tubuh bagian ba,ahku.
"Ale8L" #uara penuh kekha,atiran terdengar, bersamaan dengan
pintu kamar yang terbuka.
*ante Clara berdiri di depan pintu, Claire dan !m +ahyu berdiri di
belakangnya.
*ubuhku menegang saat mereka menghampiri kami. *anganku
meremas bahu Ale8a, dia menoleh padaku dan tersenyum
menenangkan.
!rang tua Ale8a berdiri canggung dihadapan kami, seketika
ketegangan menyelimuti kami.
")ihat Clara, bayinya lucu sekaliL" #uara khas Claire memecah
keheningan, perlahan dia meraih Cll dari pangkuan Ale8a, dan
mendekatkannya pada orang tua Ale8a. "%ia manis kan& Coba kau
gendong Clara."
+ajah *ante Clara melembut, dia mengulurkan tangannya perlahan,
mengambil alih Cll dari Claire. "!h sayangL"ni $enek sayangL"
gumam *ante Clara. "(uji *uhanLayimu sehat Ale8, siapa
namanya&"
"Cllie ?ee achmann." Aku yang menja,ab, sedangkan Ale8a
menguatkannya dengan menganggukkan kepala.
!m +ahyu mendongakkan kepalanya mendengar aku menempelkan
nama belakangku pada cucunya, dia menatapku tajam.
Aku tak bergeming, keyakinanku sudah mantap untuk
mempertahankan Ale8a dan Cll bersamaku.
"isa kita bicara berdua, .ar3is&" (inta !m +ahyu dengan suara
beratnya.
Aku mengangguk dan berdiri, mengecup kening Ale8a dan
mengikuti !m +ahyu yang sudah ke luar ruangan.
'ami duduk berhadapan di kantin rumah sakit, saling berdiam diri,
tak tahu harus memulai dari mana. !m +ahyu hanya mengamatiku,
menilai apa yang ada di dalam benakku.
Aku tak tahan dengan keheningan ini, "#aya melamar Ale8a, dan
kami akan menikah secepatnya. #aya harap, Anda tidak keberatan."
'ataku pasti, menekankan setiap kalimat sebagai penegasan.
*idak kusangka !m +ahyu tersenyum hangat, "#udah kuduga,"
gumamnya. "enar kata 4enry, kau sangat mirip dengan Ayahmu."
Aku menyipitkan mataku, 4enry memang pernah bercerita bah,a
dia mengenal baik Ayah Ale8a, tapi aku tidak menduga dia akan
menceritakan masalah ke luarga kami padanya.
".angan salahkan 4enry. Aku mengenal Ayahmu jauh sebelum
4enry terjun ke dunia bisnis. +aktu itu, Ayahmu merupakan panutan
bagi kami, pengusaha-pengusaha muda yang baru terjun dalam dunia
bisnis. 0eski kami merintis usaha dalam bidang yang berbeda, tapi
dia banyak membantuku dalam strategi pemasaran dan
pengembangan aset."
".ika saya bukan keturunan achmann, apa Anda juga akan bersikap
seperti ini pada saya&" 5umamku tajam. 0engingat beberapa bulan
yang lalu, dia begitu marah melihat Ale8a dekat denganku yang
diketahuinya sebagai gigolo.
%ia sama sekali tidak tersinggung mendengar ucapanku, ".angan
salah paham, .ar3is. 'atakan padaku, apa yang kau lakukan jika
mendengar (utrimu pulang dalam keadaan yang sangat
menyedihkan, karena perbuatan pria yang selama ini dicintai
putrimu. 'emudian kau mendengar bah,a pria itu adalah pria
brengsek yang suka berganti-ganti pasangan, ditambah ternyata si
pria adalah lelaki simpanan perempuan yang sudah bersuami."
Aku tidak bisa menyalahkan tindakannya.
"Andai kau berada diposisiku saat itu, .ar3is. 0elihat Ale8 yang
sangat kacau. *idak mau melakukan apapun, dia hanya berdiam diri
dan melamun di kamarnya. Aku merasa sangat bersalah, apalagi
sebelumnya, kami tidak begitu mempedulikannya," gumamnya
penuh penyesalan.
"#andra bilang, Anda memba,anya ke luar negeri."
"#andra&" !m +ahyu mengernyit tidak suka, "Ah ya, aku sedih
melihat Ale8 seperti itu. Aku memba,anya ke kampung halaman
mamanya, berharap dia bisa melupakan kesedihannya. *api ternyata,
bukan itu yang membuatnya bangkit kembali."
Aku menyimak perkataan !m +ahyu, penasaran dengan kelanjutan
ucapannya.
"Ale8 kembali bersemangat menjalani kehidupannya ketika
mengetahui dia hamil anakmu."
Aku merasa sesuatu yang hangat menyelimuti hatiku.
"#aat itu, aku baru menyadari kesalahanku yang telah memisahkan
dia darimu. Aku langsung kembali ke "ndonesia, bermaksud
menemuimu dan menanyakan apakah kau sungguh-sungguh
mencintai Ale8. #aat itulah 4enry menemuiku, menceritakan
semuanya padaku, juga masa lalumu. Aku ikut menyesal, .ar3is,"
gumamnya bersimpati.
Aku hanya tersenyum pahit, "#emua sudah berlaluL" gumamku
pelan, ")alu kenapa Anda tidak menemui saya&"
!m +ahyu menghela na/as, "#andra."
#andra&
"%ia menghubungi Ale8, dan mempengaruhi Ale8 agar tidak
kembali padamu. 0enurutnya, kehidupanmu sepeninggalan Ale8
menjadi lebih baik. .ika Ale8 bersikeras kembali padamu, itu akan
membuatmu kehilangan segalanya. %itambah dengan kehamilan
Ale8 yang menurut #andra bisa menghancurkan reputasimu."
Dahangku mengetat mendengar in/ormasi itu. +anita jalang
brengsek!
"Ale8 menelepon, menyuruhku agar tidak berusaha
menghubungimu. Atau dia akan meninggalkan kami. 0ulanya aku
bingung dengan sikapnya, tapi kemudian Claire memberitahuku.
Dupanya dia ikut menguping pembicaraan Ale8 dengan #andra."
".adi .ar3is, maukah kau memaa/kan kami&"
Aku menatap !m +ahyu, dan melihat ketulusan di matanya.
"%anLmaukah kau menjadi menantu kami&"
0elihat senyum di bibirnya, aku tak bisa menyembunyikan
senyumanku. #emua kesedihan dan kemarahan pun lenyap.
"%engan senang hatiL!m," kataku sambil mengulurkan tanganku.
"(apa," ralatnya dan menyambut uluran tanganku.
"(apa." ;capku memastikan, menjabat tangannya hangat. #egala
prasangkaku akan dirinya hilang tak berbekas. 7ang tersisa hanyalah
rasa hormatku padanya.
---
4ari ini hari yang paling kutunggu selama dua bulan terakhir. (agi-
pagi sekali aku sudah mandi dan bersiap-siap. 'eluar dari kamar
untuk membangunkan tamu-tamuku yang sudah berada di
apartemenku sejak tiga hari yang lalu.
Aku mengetuk salah satu kamar tamu. *ersenyum ketika mendapati
ibi .annice berdiri di hadapanku dengan ,ajah yang masih
mengantuk.
"'ita harus bersiap-siap, ibi .annice." 'ataku dalam bahasa .erman
yang tidak begitu /asih.
"Astaga .ar3is, ini baru jam empat pagi. *idak bisakah kau
menunggu sebentar lagi&" 5umam ibi .annice kesal.
0enunggu& *entu saja tidak. "*api ibi .annice, kita harus sampai
di sana pagi-pagi sekali. .angan sampai nanti terjebak macet."
'ataku berargumentasi.
ibi .annice memutar bola matanya, "7ang benar saja, acaranya
baru mulai jam sembilan." 'emudian pintu kamarnya tertutup.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. %engan sudut
mataku, aku melirik kamar sebelah, berniat untuk mengetuk pintu,
namun kuurungkan, mengingat mereka mungkin masih terlalu lelah.
Akhirnya aku memutuskan untuk ke dapur, melihat apa yang
dimasak Dachel.
".unior." Aku terkejut mendengar seruan itu, tapi lebih terkejut lagi
ketika melihat mereka sudah ada di dapur bersama Dachel. 'akek
yang barusan memanggilku sedang duduk di meja makan dengan
koran di tangannya dan secangkir teh hangat di depannya, sedangkan
$enek sedang meracik bumbu bersama Dachel.
"'akekL$enek," sapaku bergegas menghampiri mereka dan
mencium pipi mereka bergantian. "*adi aku berniat membangunkan
kalian, ternyata kalian sudah berada di sini."
'akek -tanpa mengalihkan pandangannya dari koran-terkekeh,
"'ami bahkan tidak tertidur, tidak sabar menunggu pagi datang."
"ibi .annice tidak sependapat denganmu, 'ek." 5umamku, diam-
diam tertarik dengan koran yang dipegang 'akek, merasa heran
karena koran yang dipegangnya adalah koran "ndonesia. "0emang
'akek bisa baca koran ini&" *anyaku sambil melongokkan kepalaku
untuk melihat apa yang dibaca 'akek, dan aku terngangaL#ialan
.eremy!
0ukaku merah padam melihat apa yang disembunyikan 'akek
dibalik koran itu. Aku ingat, seminggu yang lalu, .eremy datang ke
apartemenku dengan memba,a majalah porno, dan dia
meninggalkannya begitu saja saat pulang. Aku sudah menyimpannya
dan berniat mengembalikannya pada .eremy, tapi kenapa sekarang
majalah itu bisa ada pada 'akek&
Aku mengamati ,ajah 'akek yang tersenyum-senyum salah
tingkah, melirik ke arah $enek yang masih asyik bersama Dachel.
'akek mengisyaratkan agar aku tutup mulut, aku hanya geleng-
geleng kepala dan tersenyum masam. isa-bisanya di usianya yang
hampir satu abad, 'akek masih tertarik dengan gambar gadis
telanjang. )alu aku menghampiri $enek dan memeluknya dari
belakang, agak membungkukkan tubuhku untuk meletakkan daguku
ke bahunya.
"Aku lega kalian ada di sini," gumamku, "0eski sedikit kece,a
karena 4enry dan )iana tidak bisa menghadiri pernikahanku."
$enek dari balik bahunya mengelus rambutku dengan sayang.
")iana tidak boleh terlalu lelah, karena itulah 4enry memutuskan
untuk tetap di sana." )alu $enek kembali asik mengupas ba,ang,
"7ahL0eskipun dia sangat ingin bertemu dengan keponakannya."
Aku tersenyum mengingat seraut ,ajah mungil yang tersenyum
padaku. CllL(utriku yang sangat menggemaskan. +arna bola mata
dan rambutnya memang sama dengan Ale8a, tapi aku berani
bertaruh, raut ,ajah (utriku merupakan jiplakan dari ,ajahku
dengan 3ersi yang lebih kecil dan lembut.
"*api pasti dia kece,a karena calon (utranya bukanlah cicit pertama
$enek," gumamku dengan seringaian pada ,ajahku.
$enek terta,a, "%asar kau ini." )alu dia menjulurkan tangannya ke
samping untuk mencubit pinggangku.
Aku melepas pelukanku dan berkelit, terta,a ketika jari $enek
menangkap udara kosong. $enek hanya mengeleng-gelengkan
kepalanya.
Aku menyandarkan tubuhku pada dinding dapur, menyilangkan
tanganku di depan dada. %an mengamati $enek yang kembali asyik
bekerja sambil berbincang-bincang dengan Dachel, bahasa dan
alunan suara mereka yang khas, membuat dapurku terasa hangat.
)alu aku melirik 'akek yang masih asyik dengan koran 88-nya,
tersenyum geli ketika melihat raut ,ajahnya.
Aku bangga pada mereka yang mau menerimaku menjadi bagian
dari mereka, tanpa mempedulikan masa laluku yang kelam. %an aku
bersyukur dengan kesehatan yang mereka miliki, di usia mereka
yang hampir 9A tahun, mereka masih sehat dan kuat. ahkan
sanggup melakukan perjalanan jauh seperti sekarang.
Dasanya semuanya hampir terasa lengkap, hanya tinggal satu
langkah lagiLdan kelengkapan ini akan menjadi sempurna.
---
.ulia dan ibi .annice sedang mendandaniku di kamar ibi .annice.
0ereka sama sekali tidak mempedulikan raut mukaku yang masam
karena merasa kesal dengan ritual make-up yang mereka lakukan.
".auhkan bedak itu dariku." #eruku tak tahan lagi ketika melihat
.ulia bersiap untuk menyapukan sesuatu pada ,ajahku.
"%iamlah .ar3is, ini bukan bedak. "ni hanya krim yang bisa menahan
keringatmu."
Aku berusaha menggeleng kuat-kuat, tapi tangan *ante .annice
-yang masih mencengkeram daguku untuk mengoleskan cleanser-
menahanku.
"Aku tidak mau. #udah ibi .annice, aku tidak perlu memakai ini."
%aun telingaku bergerak-gerak menangkap adanya suara ta,a
tertahan dari belakangku.
"#ialan kau, .eremy. A,as kau!" )alu meraih botol cleanser yang
ada di hadapanku dan berniat melemparkannya ke arah .eremy,
ketika *ante .annice menjerit dan menahan tanganku.
""ni mahal, tahu!" #eru ibi .annice dengan tangkas merebut botol
itu dari tanganku.
.eremy tergelak dan berlari ke luar dari kamar, "Cepatlah, sekarang
sudah jam setengah sembilan." *eriaknya membuatku panik.
"Cepat ibi, aku tidak mau terlambat."
.ulia terkikik geli, sedangkan ibi .annice memutar bola matanya
bosan. ".eremy bohong, .ar3is. #ekarang baru jam setengah delapan
,aktu setempat." ;jarnya sambil menunjuk jam dinding besar yang
ada di ruangan ini.
Aku merengut kesal. A,as kau .eremy.
Akhirnya setelah setengah jam kemudian, aku bisa menarik na/as
lega. 'ami sudah ada di lantai ba,ah apartemenku, bersiap untuk ke
luar dan menuju mobil yang sudah berada di luar gedung lengkap
dengan supir yang sudah menunggu.
Aku dan .eremy masih di depan pintu gedung apartemen ketika
rombongan yang lainnya sudah memasuki mobil masing-masing.
Aku menuju mobil terdepan, bersiap untuk membuka pintu ketika
pandanganku tertumbuk pada sesosok tubuh di kejauhan yang
sedang memperhatikanku. *ubuhku membeku, aku seperti
mengenali sosok itu, tapi itu tidaklah mungkin.
0erasa tidak yakin dengan apa yang kulihat, aku mengerjapkan
mata. *api sosok itu menghilang begitu mataku terbuka kembali.
0engabaikan bulu-bulu halus yang berdiri di tengkukku, aku
mencoba meyakinkan diri sendiri bah,a aku berhalusinasi.
"Cepatlah .ar3is!" #eruan .eremy mengembalikan kesadaranku, aku
bergegas memasuki mobil dan tersenyum cerah mengingat ,aktunya
sebentar lagi. %an apa yang kulihat barusan terlupakan begitu saja.
---
ab 1< - *amat
('E /E))"%&
Ale8a menyerahkan Cll pada 0amanya, Cll yang sudah terlelap
hanya bergerak sedikit saat berpindah tangan, lalu kembali tertidur
ketika menemukan posisi yang nyaman dalam gendongan $eneknya.
Aku yang berada di samping Ale8a merundukkan tubuhku untuk
mencium pipi montok Cll, dan ketika jariku menyentuh pipinya, Cll
menangkapnya dengan tangan mungilnya, dalam tidurnya dia
menggenggam jari telunjukku dan didekatkan ke bibirnya.
Aku terta,a pelan melihat tingkah (utriku, begitupun dengan
mereka yang mengerumuni kami.
"'enapa tidak kita ba,a saja Cll bersama kita&" 5umam Ale8a
setengah merajuk.
Aku mendekatkan bibirku ke telinga Ale8a, "'husus malam ini, aku
tidak mau membagimu sayang," bisikku sensual.
Ale8a merona, dia mengalihkan perhatiannya dengan mencium Cll.
".angan kha,atirkan Cll, toh kalian hanya berjarak beberapa lantai
dari kami." 'ata "bu mertuaku sambil menggoyang-goyangkan Cll.
Aku merangkul pundak Ale8a, "%engarkan kata mamamuL"
isikku lagi.
'ami memang memutuskan untuk menunda bulan madu kami
karena Cll masih terlalu kecil untuk ditinggal. 0alam ini kami
menginap di 5rand Alena 4otel -tepatnya di (enthouse milik Ale8a-
yang sejak lima bulan lalu berganti nama menjadi AQA 4otel,
tempat resepsi pernikahan kami diadakan. Desepsi dengan tamu
yang terbatas, hanya kerabat dan kolega terdekat yang menjadi tamu
undangan kami, seperti itulah yang diinginkan Ale8a.
.antungku berdebar kencang saat menunggu Ale8a di altar. Cntah ide
siapa yang melarangku untuk menemui Ale8a sebelum pernikahan
berlangsung, itu membuatku sangat tersiksa, dan hampir tidak bisa
menahan diri untuk tidak melompat dan menggeret Ale8a dalam
pelukanku saat melihatnya berjalan menghampiriku di samping
Ayahnya.
%ia tampak cantik dengan gaun putih lebar yang membungkus
tubuhnya, rambutnya terjalin rapi ke samping mele,ati bahunya,
dengan hiasan bunga-bunga putih kecil yang menempel pada
rambutnya. :eil transparan yang menutupi bagian belakang
kepalanya, melembutkan penampilannya, dengan ekor 3eil yang
menjulur ke belakang, menyamai ekor gaun pengantinnya.
#umpah setia terucap dari bibirku, mengikat janji untuk
sepenanggungan dalam suka dan duka, dalam sakit dan ta,a.
(erasaan lega memenuhi dadaku saat kami disahkan menjadi #uami
"stri.
%an saat resepsi pernikahan kami berlangsung, aku berdiri dengan
membusungkan dada di samping kedua periku. Ale8a dengan gaun
pengantin bak (utri dari negeri dongeng, dan Cll yang memakai baju
senada di dalam gendongannya, meskipun Cll lebih banyak tertidur
saat resepsi pernikahan kami berlangsung.
#etelah berpamitan kepada mereka yang masih tersisa di allroom
AQA 4otel -yang sebagian besar adalah kerabat terdekat-aku
menggeret Ale8a untuk meninggalkan ruangan itu.
"*ak sabar cari kamar, roL" *eriak .eremy dari kejauhan yang
membuatku melotot ke arahnya. (ara orang tua hanya tersenyum
maklum, sedangkan Ale8a sudah merah padam menahan malu.
Aku memasuki li/t dan merangkul Ale8a posesi/, mengacungkan jari
tengahku pada .eremy dan menggerakkan bibirku membentuk kata
J/-ck youK tepat sebelum pintu li/t menutup.
"'enapa kau tidak menunggu mereka pergi dulu baru kita ke atas&"
5umam Ale8a setengah menggerutu.
"0enunggu&! .angan bercanda, bagaimana bisa aku menunggu saat
aku begitu ingin memakanmu." Aku membalik tubuh Ale8a
menghadapku dan melumat bibirnya, hal yang paling ingin
kulakukan sejak tadi.
'etika kami sudah disahkan menjadi pasangan #uami "stri tadi pagi,
Ale8a hanya mengijinkanku mengecup bibirnya. %ia menarik diri
begitu saja saat aku mulai merasa terbakar ketika menyentuh bibir
lembutnya. Aku mencoba untuk mendapatkan lebih dengan menahan
kepalanya, tapi apa yang dilakukannya& %ia menggigit bibirku
sehingga aku memekik kesakitan.
#ekarang, saatnyalah aku membalas perbuatannya.
Aku mengerang ketika bibirnya berada dalam lumatanku, merasakan
gejolak di dalam perutku.
".aL.ar3is, tu-tungguL"ni di li/tL"
ukannya menghentikan ciumanku, aku malah mendorong tubuhnya
hingga terdesak ke dinding li/t, meletakkan tanganku di belakang
kepalanya dan mencengkeram 3eil yang menutup kepalanya,
mencecap habis bibir Ale8a.
!h *uhanLibirnya terasa manis, betapa aku merindukan ini.
$a/as Ale8a sudah terengah-engah ketika aku setengah mendesak,
menyorongkan lidahku ke dalam mulutnya, membelai setiap
sudutnya untuk menandai kembali milikku. 0embelitkan lidahku
pada lidahnya dan memilinnya menjadi gerakan yang membuat
semua aliran darahku berbalik naik ke kepalaku.
#usah payah Ale8a membalas ciumanku, menjinjit dan
merangkulkan kedua tangannya pada leherku, menelusupkan jari-
jarinya pada rambutku.
Aku tidak bisa berhenti, sampai bunyi dentingan li/t yang
menandakan kami telah sampai di lantai tujuan mengagetkanku. Aku
melepaskan ciumanku, meletakkan satu tanganku di ba,ah lututnya
dan mengangkatnya dalam gendonganku. 0elangkahkan kaki lebar-
lebar untuk sampai di (enthouse Ale8a.
%i saat aku menggendongnya, Ale8a membuka pintu (enthouse.
Aroma ma,ar dan melati yang menyeruak begitu pintu terbuka
menghampiri indra penciumanku. Aku memasuki (enthouse dan
menutup pintunya dengan kakiku, kemudian melangkah menuju
ranjang besar yang seolah-olah sedang menunggu kehadiran kami.
Aku mendudukkan Ale8a di pinggir ranjang. (erlahan, melepaskan
3eil yang menutupi kepalanya dan melepaskan jalinan rambutnya,
membuatnya tergerai mele,ati bahunya. Dambut coklat gelapnya
terlihat berkilau terkena cahaya lampu, aku membelainya dan
mengunci pandangan matanya.
"'au sangatLcantik, ?aiL" isikku parau.
"'au juga tampanL"
Aku mengangkat sebelah alisku mendengar ucapannya, heran,
karena sebelumnya Ale8a tidak pernah memujiku.
Ale8a mengerling nakal, dia mengulurkan tangannya, melonggarkan
dasi dan melepaskan jas yang kupakai. *anpa mengalihkan
tatapannya dari mataku, dia menggerakkan jari-jari lentiknya dengan
lincah, membuka setiap kancing yang ada pada kemejaku. )alu
melepasnya mele,ati bahuku, memperlihatkan dada telanjangku
padanya.
*angan halus Ale8a mulai meraba dadaku, "Ldan seksi, sayangL"
isiknya.
#esuatu yang liar dalam diriku terbangun mendengarnya
memanggilku JsayangK. Aku meraihnya dalam gendonganku dan
menghempaskan tubuhnya di tengah ranjang. 0elompat ke atasnya,
lalu melepas ritsleting gaun pengantinnya, menarik turun mele,ati
kakinya. 0odel gaunnya yang berbentuk bustier memudahkanku
untuk membukanya tanpa memerlukan ,aktu yang lama.
%alam sekejap saja Ale8a sudah telanjang di ba,ahku. Aku
menatapnya liar, dengan pandangan yang semakin berkabut, melihat
Ale8a yang sangat membuka diri.
Ale8a menatapku sayu, dia melengkungkan punggungnya hingga
membuat payudaranya terangkat, seakan menantangku untuk
mencicipi putingnya yang kini sudah mengeras.
*ergesa-gesa aku melepaskan ikat pinggangku, membuka celana
sekaligus bo8er yang menempel dan melemparkannya jauh-jauh.
Aku tidak ingin ada satupun yang menghalangi sentuhan kulitku
dengan kulit Ale8a, tidak sama sekali.
*anganku gemetar saat menyentuh tubuhnya, membelai dan
meremas pinggangnya, meluncur turun ke celah di antara pahanya.
Ale8a membuka pahanya semakin lebar, aku menelan air liurku saat
Ale8a mengangkat pinggulnya, membuatku bisa melihat pusat
ke,anitaannya yang berkilau karena cairannya. 0erasakan
kehangatannya di jariku, aku mendesah.
"'au sudah basah untukku, sayangL"
"#angatL" isik Ale8a sensual.
Aku menggeram mendengar nada suaranya yang menggodaku,
menggigit bibir ba,ahku aku menaikinya, merasakan sensasi yang
luar biasa saat kulit kejantananku menyentuh permukaan intinya.
Aku menangkupkan kedua tanganku ke atas payudaranya dan
meremasnya lembut, Ale8a mendesah.
".angan menunggu lagi, sayang. #etubuhi aku denganLkeras."
%amn! Aku bisa orgasme hanya dengan mendengarnya meminta
padaku. *anpa menunggu lagi, aku memasukkan ereksiku pada
lubang ke,anitaannya, medongakkan kepalaku saat merasakan apa
yang selama ini sangat aku rindukan.
Ale8a mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dengan liar.
"*idakLtidak ?ai, tungguL" *eriakku panik. 'alau dia terus saja
bergerak, itu akan membunuhku.
Ale8a tidak mempedulikan teriakanku, dia menangkupkan kedua
tangannya pada pipiku, menatap tepat di kedua bola mataku. ".angan
menunggu lagi sayang, kita sudah terlalu lama menunggu." isiknya
parau.
(erutku semakin bergejolak merasakan gesekan dari dinding
ke,anitaannya pada kejantananku. ""niLini akan sangat cepatL"
Aku mencoba untuk menahan desakan di ba,ah perutku.
"Aku ingin cepatL"
%anLaku kehilangan kendali. Aku memompanya dengan kuat,
tanpa menahan lagi. .eritan dan erangan dari bibir Ale8a semakin
membuatku bergairah. #entuhan hangat yang membungkus
kejantananku terasa sangat nikmat. *anganku bergerak liar, meremas
setiap jengkal tubuhnya. %i antara goyangan tubuhnya, aku melihat
kedua tangan Ale8a meraba dada dan si8 packs-ku, menatapnya
dengan sorot mata penuh kekaguman. "tuLmembuatku semakinL
panas.
Aku mempercepat gerakanku, "?aiL" #uara serakku menyebut
namanya di batas ambang kenikmatanku.
Ale8a mengerang, ")ebih keras, sayang. )ebih keras lagiL"
Aku tahu dia hampir sampai, aku menusuknya lebih keras lagi. %an
bersamaan dengan jeritannya aku meledak di dalamnya,
menjatuhkan tubuhku ke atas tubuhnya. *erkapar dalam kenikmatan
luar biasa yang membungkusku.
""niLsangat luar biasaL" 5umam Ale8a saat kami sudah mereda.
Aku mengecup bibirnya, dan berguling ke samping. "Aku tahu."
5umamku.
'ami berbaring berhadapan dan terdiam beberapa saat, aku
menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel di pipinya.
"'au tahu& Aku sangat suka rambut coklat yang membingkai
,ajahmu." isikku lembut.
"Aku suka rambut ,arna perunggumu, itu terlihat aneh di sini."
Aku terkekeh, "'au menyukai rambutku karena terlihat aneh&"
Ale8a menyeringai, "'au terlihat seksi dengan rambut
perunggumu."
Aku mengangkat sebelah alisku, "Aku suka mata coklat lembutmu,
,arnanya seperti beer, dan itu menghanyutkanku saat menatap ke
dalamannya."
"0ata birumu terlihat menyesatkanLdan penuh misteriL"
"*idak adakah kata-kata yang lebih indah dari Jpenuh misteriK& "tu
seakan-akan mengatakan aku seorang psikopat." 5erutuku.
Ale8a terkekeh dan menggeleng, "*idak. "tu sangat cocok untukmu,
aku menyukainya."
Aku menyeringai, "Aku tidak peduli apapun julukan untuk mataku,
yang penting kau menyukainya."
Ale8a membelai dadaku, "Aku suka dada bidangmuLmembuatku
terasa nyaman saat berbaring di atasnya," bisiknya lembut, lalu
gerakan tangannya turun ke perutku dan membelai setiap bagiannya.
"Aku suka dengan si8 packs-muL*erlihatLsangat-sangat panasL"
desahnya, jari-jarinya memainkan happytrail-ku.
Aku mendesah, "#epertinya, kau agak berbedaL"
Ale8a menatapku dan mengangkat sebelah alisnya.
"'auLagak lebih terbuka." #eringaiku nakal, "*adi kau
menggodaku, ingat&"
Ale8a tersenyum, agak tersipu. *api kemudian dia mengangkat
dagunya, "'enapa& 'au tidak suka&"
"+o,Ltentu saja aku suka. "tu hebat." (ujiku dengan senyuman
lebar pada bibirku.
"0ungkinLini semacam balas dendam dari hormon masa hamilku
yang tidak terpenuhi."
Aku menariknya dalam pelukanku, "!h sayangLAku menyesal
tidak berada di dekatmu saat kau membutuhkanku." 5umamku
sedih.
"4ei, aku cuma bercanda."
"Aku seriusL" Aku mengecup puncak kepalanya, "0aa/kan akuL"
isikku.
"#udah dimaa/kanL"
'ami terhanyut dalam ketenangan.
"?aiL" Aku berbisik memanggil namanya.
"4mmL"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmuL"
"Apa&"
"*apiLApakah kau mau berjanji tidak akan membenciku&"
"Aku tidak akan pernah bisa membencimu, .ar3is."
""ni tentang masa laluku."
"'alau tentang kenapa kau bersama )iana, aku sudah tahuL"
"ukan. "ni tentang masa sebelum itu."
Ale8a mendongak, menatapku lembut. "Ceritakanlah jika itu
membuatmu merasa lebih baik."
)alu meluncurlah semua cerita tentang kehidupanku di masa lalu
dari bibirku. *entang kehidupanku sepeninggalan "bu, sampai
kejadian saat aku membakar !m enny.
#elesai bercerita, ragu-ragu aku menatap mata Ale8a, mencari-cari
sorot mata kebencian atau jijik pada bola matanya, tapi aku tidak
menemukannya. 7ang kudapati hanya sorot mata penuh rasa simpati.
"'au tidak takut padaku&" *anyaku ragu-ragu.
"*akut kenapa&"
"Aku seorang pembunuh."
"Apa kau yakin sudah membunuhnya&"
"0aksudmu&"
"7ahLbisa saja dia tidak terbunuh karena perbuatanmu. 0ungkin
dia selamatL"
ulu tengkukku berdiri mengingat kemungkinan itu, kemungkinan
yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku.
"*api, kalaupun dia sampai terbunuhLAku tidak akan
---
0ata kami saling terpaut, uap air memenuhi ruangan ini, menjadikan
kami berada di dalam kabut hangat. 5elembung sabun beraroma
ma,ar dan jasmine melimpah ruah di dalam .acu==i.
Ale8a bergerak di atasku, melumpuhkan syara/-syara/ku.
(ayudaranya terasa lembut dan licin saat membentur dadaku.
Crangan dari bibirku menyadarkanku bah,a aku bukanlah berada di
surga, melainkan di kehidupan nyata, merasakan kenikmatan luar
biasa akibat gesekan dinding ke,anitaannya pada ereksiku.
*anganku membelai pantatnya, menelusuri celah diantaranya, dan
menggesek-gesekkan jariku di sana. #edangkan tanganku yang satu
berada di atas payudaranya, memilin putingnya dengan jari-jariku.
Ale8a mendesah, gerakan lembut yang dilakukannya membuaiku ke
a,ang-a,ang. %ari balik bahunya, aku melihat gerakan pantatnya
yang sesekali menyembul dari limpahan busa di antara kami.
"'au sangat seksi, babeL" 5eramku, mulai memasukkan jariku ke
lubang pantatnya, dan menekan ke dindingnya.
Ale8a terkesiap, matanya membulat menatapku. ibirnya mendesah,
menyebut namaku dengan nada memuja.
Aku suka saat dia melakukan itu.
5erakannya semakin cepat, naik turun di atasku. Aku memutar
pinggul dan menghentakkannya kedepan sekali, lalu memutar lagi.
0elakukan gerakan itu berkali-kali. #ampai kami berdua kehilangan
kontrol.
%engan na/as yang semakin memburu, kami mengejar puncak yang
semakin dekat. Aku memperdalam tusukan jariku pada lubang
pantatnya, melakukan gerakan memutar di dalamnya, dengan jempol
yang membelai celahnya.
"!h .ar3isL%emi *uhanL.ar3isL"
Ale8a menggeliat semakin liar.
"7eahL?aiL?aiLterusL!h *uhanL" Aku menarik pantat Ale8a
dan menekannya ke arahku. 0eledakkan benihku ke dalam
ke,anitaannya.
%an aku pun tenggelam akan kenikmatan yang menghantamku
secara bertubi-tubi. 0elayang saat merasakan denyutan pada
ke,anitaannya yang membungkus ereksiku, membuatku kehilangan
kesadaran sejenak.
#aat kenikmatanku mulai mereda, aku mengembalikan kesadaranku.
0embelai tubuh Ale8a yang terbaring lemas di atasku.
"Aku mencintaimuL" isikku lembut.
"Aku tahu," kerlingnya nakal.
Aku terkekeh melihat reaksinya, itu membuatku kembali mengeras,
bahkan sebelum milikku ke luar dari intinya.
Ale8a mendongakkan kepalanya dan terbelalak menatapku.
"Ayo kita mulai ronde selanjutnya, sayangL" 5umamku parau, dan
kemudian berguling, membuatnya berada di ba,ahku.
---
7 bulan kemudian6
0inggu pagi yang sangat cerah. Aku memasukkan bekal-bekal yang
sudah disiapkan Ale8a ke dalam bagasi mobil. )alu mendorong
kereta bayi yang sudah terlipat ke kursi belakang.
Aku menutup pintu penumpang, dan tersenyum puas pada Ale8a
yang menghampiriku dengan Cll dalam gendongannya.
0eraih Cll, aku mengangkatnya tinggi-tinggi lalu menurunkannya
hingga sebatas kepalaku, memainkan bibirku di perutnya. Cll
terkekeh geli, kedua tangan mungilnya meremas rambutku.
Ale8a terta,a, aku lalu menurunkan Cll dan meletakkannya dalam
lekukan tangan kiriku. %ia terduduk nyaman, dan mulai memukul-
mukulkan tangannya ke bibirku.
"%adadaL" !cehnya membuatku terta,a.
"%ia memanggilku." 'ataku pada Ale8a.
Ale8a terta,a, "*idak sayang. %ia hanya mengoceh."
"7a. *api dia mengoceh %adad, itu panggilan untukku."
"#emua bayi mengocehkan kata itu. 'alau dia sudah mulai bisa
bicara, "bu-lah yang akan disebut terlebih dahulu."
"*api dia mengatakan %adad, bukannya 0omomL" Aku bersikeras.
Ale8a memutar bola matanya, "*erserahlah," gumamnya.
"7ee..0ommy ngambek tuhLAyo baby Cll, panggil %addyL%adL
dy" Aku menghadapkan Cll ke mukaku.
"%ad..dadL"
"Anak pintar, sekarang 0om..my"
"4ei, kita harus segera berangkat." #eru Ale8a yang sudah membuka
pintu mobil.
"Ayo berangkat, sayangL" #ambil menggoyang-goyangkan Cll, aku
menyerahkan Cll pada Ale8a.
"0om..momm."
Aku dan Ale8a terbelalak.
"%ia memanggilmu."
"%ia memanggilku."
Aku dan Ale8a berseru bersamaan. )alu kami terta,a.
";langi lagi sayangL0om..my." Ale8a terlihat sangat bahagia.
"0omLmomm." !ceh Cll.
"%ad..dy." Aku tak mau kalah.
"%ad..daddad."
'ami kembali terta,a.
"Anak pintarL"
Cll tersenyum lebar, tangan mungilnya tak berhenti bergerak,
menyentuh muka Ale8a.
Ale8a masuk ke dalam mobil, aku menutup pintunya dan memutari
mobil, kemudian duduk di kursi pengemudi.
"Ayo kita berangkatL" #eruku menstarter mobil.
")et2s go, %adL" Ale8a mengacungkan tangan Cll yang tergenggam
ke atas, Cll terkekeh senang.
"0bak )ian semalam telepon, dia ingin saat melahirkan nanti, kita
berada di sana." 'ata Ale8a saat mobil kami meluncur, melintasi
jalan raya.
Aku tersenyum, "Akan kupikirkan." 5umamku.
0bak )ian, panggilan Ale8a untuk )iana, sekarang dia lebih sering
menghubungi Ale8a daripada aku. A,alnya Ale8a merasa canggung
untuk berkomunikasi dengannya, tapi seiring dengan berjalannya
,aktu, kurasa Ale8a sudah memaa/kan )iana. Aku merasa senang
semuanya berakhir dengan baik.
%i pertigaan terakhir sebelum memasuki jalan tol, lampu lalu lintas
menyala merah. Aku menghentikan mobilku, membuka kaca jendela
samping saat seorang anak kecil bernyanyi di samping mobil, lalu
menyerahkan lembaran dua puluh ribuan padanya.
Anak itu tersenyum lebar, tak henti-hentinya mengucapkan terima
kasih. Aku hanya melambaikan tanganku dan berniat menutup kaca
jendela ketika melihat sosok itu diantara kerumunan orang di pinggir
jalan. erjalan melintasi mobilku bersama arus hilir mudik pejalan
kaki.
Aku tertegun, sesaat merasa kehilangan orientasi. #aat tersadar aku
berusaha mencari sosok itu dengan pandangan mataku, tapi dia
sudah tidak terlihat.
"#ayang, ada apa&" Ale8a memanggilku. Dibut bunyi klakson di
belakang menyadarkanku bah,a lampu lalu lintas sudah berganti.
"*idak. *idak apa-apa." 5umamku pelan, lalu mulai melajukan
mobil kembali. Aku pasti hanya salah lihat.
SELESA"