Anda di halaman 1dari 629

Telapak Setan

Karya : Khu Lung Saduran : Tjan ID


Jilid 1
SUATU hari yang cerah, tiga orang laki-laki gagah berjalan
dengan langkah cepat mengarungi padang rumput yang luas.
Orang pertama adalah seorang tua dengan jenggot yang
putih, badan sedang dan agak kurus, melangkah dengan
tegap tanda bahwa ia memiliki tenaga dalam yang hebat.
Orang yang kedua adalah setengah tua, badan tinggi
kurus, muka pucat seperti penyakitan. Namun kalau
memperhatikan matanya yang mencorong tajam itu, orang
akan ngeri dan bergidik. Sebab mata itu bagaikan mata seekor

1
harimau dimalam gelap. Delapan orang yang ketiga seorang
muda berumur lebih kurang tiga puluh tahun muka putih dan
berbadan tampan- Tapi dari tarikan mukanya menunjukkan
orang itujahat serta licik.
Tiba-tiba orang kedua yang berbadan kurus, dan
penyakitan itu berhenti dan menunjukkan telapak tangannya
serta berseru.
"Hey toako. ji-ko ... coba lihat bangunan benteng dibawah
lembah tersebut mungkinkah benteng itu adalah benteng kuno
yang sedang kita cari?? . . ."
Semangat kakek berjenggot itu berkobar kembali, buruburu
ia menengok kebawah lembah itu, kemudian sambil
mundur selangkah ke belakang gumamnya. "Oooh....
mengerikan sekali"
Tanah berwarna kuning membentang didasar lembah,
panjang bagaikan seutas tali kuning, mengikuti kaki bukit
dikedua belah sisinya menjorok jauh kedalam, keadaan itu
bagaikan seekor naga yang berbaring dengan tenang disana .
. .
Gulungan angin yang kencang mengibarkan pasir kuning itu
ke angkasa membentuk kabut yang tebal, diantara lapatlapatnya
cuaca tampaklah sebuah bangunan benteng kuno
yang tinggi kokoh bertengger disitu, tapi karena jarak yang
terlalu jauh maka keadaan benteng itu tak sempat terlihat
jelas...
Lama sekali kakek berjenggot itu mengamati benteng
tersebut, kemudian baru ujarnya.
"Ehmm... tak bakal salah lagi, ayoh berangkat.. . kita turun
kebawah. Tapi ingat jangan gugup dan tak usah gelisah, kita
lakukan semua pekerjaan menurut rencana." habis berkata, ia
melangkah turun lebih dahulu.

2
Tiba-tiba kakek yang berwajah penyakitan itu menghela
napas panjang, lalu berkata.
"Toako apakah kita harus melakukan pembantaian secara
sadis hingga seorang manusiapun tak boleh dibiarkan
hidup??"... Tertegun hati kakek berjenggot itu setelah
mendengar ucapan tersebut, rupanya dia tak menyangka
kalau Ji-te atau adik keduanya bisa mengucapkan kata-kata
yang sama sekali diluar dugaan ini. Matanya yang sipit kontan
melotot besar, sambil mendengus ia menjawab.
"Hmmm Apa yang dikatakan Pembantaian itu?? ji-te,
pernahkah engkau mendengar kata-kata yang berbunyi
demikian, sisa rumput tidak dicabut, angin berhembus akan
tumbuh kembali??" sembari berkata dengan pandangan yang
tajam ia menatap wajah kakek penyakitan itu.
Buru-buru kakek tersebut alihkan sorot matanya kearah
lain, sesudah sangsi sejenak katanya.
"Tapi... ia telah menghindari kita selama dua belas tahun,
aku rasa...aku rasa..."
"Haaaaahh . ..haaahh . . . haaahh ..." lelaki bermuka putih
itu tertawa terbahak-bahak memotong ucapan kakek
penyakitan yang belum habis, "Ji-ko kalau engkau tidak tega
untuk turun tangan, biarlah aku serta toako mewakili dirimu . .
. yaa siapa suruh kita adalah saudara angkat yang sehidup
semati???" Ucapannya tajam sinis dan tak enak didengar.
Wajah kakek berwajah penyakitan itu kontan berubah
cemberut, ia mendengus dingin dan berseru.
"Sam-te, kalau engkau menganggap bahwa kita adalah
saudara senasib sependeritaan, aku harap tutuplah mulutmu
yang bau itu "
"Eeei...., eeei. ... kita toh orang sendiri, kenapa mesti
cekcok ?" damprat kakek berjenggot sambil menyapu sekejap

3
kedua orang itu. "Jite kalau engkau tiada usul lain, mari kita
segera berangkat."
Diam-diam kakek penyakitan itu menghela napas panjang,
tubuhnya segera meluncur kedasar lembah dengan gerakan
yang amat cepat, dua orang rekannya segera memberi tanda
kepada empat orang pria lainnya dan menyusul dari belakang.
Tujuh sosok bayangan manusia laksana kilat meluncur
kearah lembah bukit itu, dalam waktu singkat mereka sudah
menerobosi bukit bor batu dan tiba didepan pintu gerbang
benteng kuno itu.
Tiga orang yang ada didepan memandang sekejap pintu
gerbang yang tertutup rapat, tanpa disadari bulu kuduk
mereka pada bangun berdiri.
Pintu gerbang itu berwarna hitam dan tebal sekali, debu
tebal menyelimuti pintu tadi membuat warna yang sudah agak
luntur nampak makin mengenaskan, seakan-akan tempat itu
sudah lama tidak dihuni orang.
Kakek penyakitan mengamati sebentar pintu gerbang kuno
itu, lalu berkata dengan nada lirih. "Toako, mungkin kita telah
salah mencari tempat yang dituju, masa ada orang yang sudi
berdiam di tempat seperti ini ?"
Pria bermuka putih mendengus dingin. "Hm, jika engkau
tidak mau masuk. biarlah aku yang masuk, toh kita sudah
sampai disini, kalau tidak diperiksa apa gunanya kita jauh jauh
kemari ? Bagaimanapun juga hal itu tidak merugikan kita."
"Ehm, ucapan sam-te memang benar." sambung kakek
berjenggot sambil mengangguk. "Ayo masuk."
Sepasang kakinya menjejak tanah dan segera loncat naik
keatas dinding benteng yang tingginya mencapai lima tombak
itu dengan gerakan cepat.

4
Dua orang rekan lainnya segera menyusul dari belakang,
hanya empat orang pria berbaju ringkas saja yang tak mau
meloncat naik.
Pria bermuka putin itu menyapu sekejap halaman dalam
benteng itu, kemudian melemparkan seutas tali kebawah dan
menarik empat pria lainnya naik kedinding, setelah itu baru
meloncat masuk keruang dalam.
Suasana hening dan sepi sekali... dihalaman yang luas tiada
pepohonan, semak- belukar maupun bunga yang beraneka
ragam keadaannya gundul dan menyeramkan.
Ruangan yang besar berdebu tebal, pintu maupun jendela
tertutup rapat, sarang laba-laba mengotori dinding membuat
keadaan benteng itu kotor dan tak sedap dipandang, siapapun
akan berpendapat bahwa benteng itu kosong tak berpenghuni.
Menyaksikan keadaan ditempat itu, kakek berjenggot
segera berpikir didalam hati. "Rupanya kita sudah salah
mencari tempat" ia tarik tangan kakek penyakitan dan segera
melayang pula kedalam halaman benteng itu.
Mendadak serentetan bentakan nyaring menggema
memecahkan kesunyian-"Ada urusan apa kalian bertiga
dimalam buta berkunjung kebenteng oh liong-po ?"
Ketiga orang itu terkejut, dengan cepat mereka berpaling
kearah mana berasalnya suara itu dan mundur selangkah
kebelakang dengan hati terkesiap.
Kurang lebih lima tombak dihadapan mereka, berdirilah
seorang kakek berambut putih. Kapankah kakek tua itu
munculkan diri ? Dengan kepandaian silat yang mereka miliki
ternyata tak seorangpun yang tahu.
Pria bermuka putih itu termenung sebentar, lalu sambil
menjura ia berkata. "Lo-tiang, tolong tanya apakah tempat ini
adalah Selat oh- liong- kok" suaranya keras, jelas ia hendak
memamerkan kepandaian nya.

5
Sepasang mata kakek berambut putih yang semula
terkatup mendadak melotot besar, dengan serentetan cahaya
tajam bagaikan pisau belati ia menatap wajah pria bermuka
putih itu, lalu menegur dengan nada gusar.
"Jangan berteriak-teriak seperti setan menjerit, kalau
sampai majikan mudaku terbangun-.. kubacok tubuhmu
sampai hancur berkeping-keping."
Ketika sorot mata mereka bertiga saling membentur
dengan kakek berambut putih itu, satu ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar mereka berpikir
"Sebenarnya siapakah kakek tua ini ? Mungkinkah majikan
muda yang dia maksudkan adalah Gak In Ling ?" diikuti
pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya. "Ah, tidak
mungkin-.. hal ini tidak mungkin, sekalipun ilmu silat yang
dimiliki Gan cin Peng amat tinggi, tidak mungkin akan selihai
orang ini, mana mungkin orang ini bersedia menjadi
pelayannya ?"
Berpikir sampai disini tanpa terasa hati merekapun menjadi
lega. Pria bermuka putih kembali memberi normal, lalu
ujarnya sambil tertawa seram.
"Harap lo-tiang suka memaafkan kesalahan kami yang tidak
disengaja, adapun kedatangan kami adalah untuk mencari
tahu tentang seseorang, apakah engkau bersedia memberi
petunjuk ?"
Kakek berambut putih berpaling dan memandang sekejap
keruang dalam, lalu mendengus dingin. "Hm Tiang- kang Samkiat,
tiga sekutu dari Sungai Tiang- kang, kalau kalian tahu
diri, cepat- cepatlah enyah dari sini, kalau terlambat hm,
mungkin kalian akan menyesal sepanjang masa."
Dalam pada itu empat orang pria kekar yang datang
bersama Tiang- kang Sam- kiat telah melompati dinding pagar
dan memburu datang.

6
Kakek berjenggot itu menyapu sekejap ke-arah rekanrekannya,
kemudian tertawa dingin. "He, he, he, kalau sudah
tahu kami adalah tiga sekutu dari sungai Tiang-kang, tentu
mengetahui peraturan kami selama melakukan pekerjaan?
IHmm Engkau anggap dengan mengandalkan sepatah katamu
itu maka kami akan kabur ketakutan ?"
Sekali lagi kakek berambut putih itu memandang sekejap
keruang belakang, rambutnya yang beruban mendadak
menggetar keras tanpa terhembus angin, ia menarik napas
panjang untuk menahan hama amarah yang berkobar dalam
dadanya kemudian berkata. "Hm, katakanlah, siapa yang
kalian cari ?"
"Gak In Liang." Sekilas napsu membunuh berkelebat diatas
wajah kakek berambut putih itu.
"Tahukah kalian semua, siapa aku ?"
"Maafkanlah kami, sekalipun aku punya mata namun tak
kenal siapa dirimu itu "jawab lotoa dari Tiang- kang Sam- kiat
setelah melirik sekejap kearah rekan-rekannya.
"Engkau tak kenal siapa aku, sebaliknya aku tahu bahwa
kalian bertiga adalah bandit-bandit tak tahu malu yangjual
kawan untuk mencari pujian-"
Merah-jengah selembar wajah kakek penyakitan, buru-buru
dia alihkan pembicaraan kesoal lain- "Boleh aku tahu siapakah
namamu ?" ia bertanya.
Untuk ketiga kalinya kakek berambut putih itu berpaling
keruang benteng, setelah itu baru ia menjawab.
"Manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu bukan lain adalah
aku "
"Apa ? Engkau adalah manusia sesat dari selatan ?" tanpa
sadar Tiang-kang Sam-kiat mundur tiga langkah kebelakang,
jantung berdebar keras.

7
"Lam-shia" manusia sesat dari selatan- "Pak-koay" manusia
aneh dari utara selamanya tidak pernah berpisah satu sama
lainnya, mereka dikenal sebagai dua orang makhluk yang
paling sukar dilayani, bukan saja ilmu silatnya amat tinggi,
terutama sekali sikap mereka yang lurus tidak- sesatpun tidakperbuatan
mereka selamanya dilakukan menurut suara
hatinya karena ia hampir boleh dibilang setiapjago persilatan
berusaha untuk menjauhi mereka.
Mimpipun Tiang- kang sam- kiat tak pernah menyangka
kalau mereka akan berjumpa dengan manusia sesat dari
selatan ditengah benteng kuno yang terpencil ini. Terdengar
manusia sesat dari selatan berkata sambil mengertak gigi:
"Hitung-hitung kali ini nasib kalian bertiga anjing-anjing
sialan memang masih mujur, kedatanganmu memang
kebenaran sekali dikala majikan muda sedang beristirahat
kalau tidak...... hm Jangan harap bisa lolos dari sini dalam
keadaan hidup Nah, sekarang juga cepat enyah dari sini, apa
yang kalian masih nantikan ?"
Dari ucapan itu bisa diketahui bahwa manusia sesat dari
selatan ada maksud untuk melepaskan mereka, siapa tahu
orang-orang yang diberi kasihan tidak sadar, malahan
dikiranya pihak lawan sedang menggertak mereka.
"Kalian bertiga tak usah pergi lagi dari sini." mendadak
terdengar suara yang dingin menyeramkan datang. Tiangkang
Sam- kiat terkesiap. mereka sama-sama berpikir didalam
hati. "Seram amat suara orang ini, siapakah dia ?"
Entah sejak kapan, dibelakang tubuh manusia sesat dari
selatan telah muncul seorang pemuda baju hitam yang
tampan dan beralis lenting bagaikan pedang.
Mendengar seruan itu, air muka manusia sesat dari
selatanpun berubah hebat, dengan cepat ia putar badan dan
memberi hormat. "Budak benar-benar tak berguna, hanya

8
urusan sepele saja harus mengagetkan siau-ya" nada
ucapannya penuh dengan rasa hormat dan jeri.
Pemuda baju hitam itu gelengkan kepalanya dengan ewa.
"Selama ini aku sama sekali tidak tidur." sahutnya. "Ketika
mereka datang akupun sudah tahu," dia melangkah kedepan
dan menghampiri Tiat-kang Sam- kiat, sambungnya dengan
nada dingin. "Paman bertiga, apakah datang untuk mencari
aku Gak In Liang ?"
Tiat-kang Sam- kiat terkesiap dan merasakan bulu
kuduknya bangun berdiri, mereka merasa dirinya terpengaruh
oleh keangkeran serta keagungan musuhnya, membuat
mereka merasa tak mampu untuk bergerak.
Pria bermuka putih melirik sekejap kearah pemuda itu
dengan pandangan licik, tiba-tiba ia tertawa. "Ha h, hah,
hah..... selama banyak tahun Hian-tit (keponakan) pasti amat
menderita, bukan ? Kami selalu merasa tidak tenang, setelah
bersusah payah akhirnya"
"Sebutan tadi merupakan sebutan yang terakhir dari ku
untuk kalian bertiga." tukas pemuda baju hitam dengan sinis.
Diantara biji matanya yang jeli mendadak terlintas napsu
membunuh yang tebal, dengan nadanya yang seram,
lanjutnya kembali.
"Menjual ayahku untuk mencari pujian, mencelakai ibuku
untuk menutup mulut, dan sekarang datang ke benteng oh
liong-po untuk membabat rumput keakar-akar nya hm, hm..
jika aku Gak In Liang tidak menghancur lumatkan tubuhmu,
Thian benar-benar tidak adil."
Habis berkata ia loncat maju kemuka dan berdiri kurang
lebih lima depa dihadapan Tiang-Sam-kiat. Tiba-tiba manusia
sesat dari selatan menghadang dihadapan Gak In Liang,
ujarnya dengan hormat.

9
"Untuk menghadapi manusia-manusia bangsa tikus seperti
mereka, kenapa majikan muda harus turun tangan sendiri ?
Serahkan saja kepada budak untuk menggebah mereka pergi."
Napsu membunuh serta rasa dendam yang berkobar
menyelimuti seluruh benak Gak In Liang dengan tegas ia
menggeleng.
"Dendam ayahku harus dituntut balas oleh puteranya
sendiri, aku hendak membuat majikan mereka tahu
bagaimanakah keadaan dari korban yang menemui ajalnya
ditanganku."
Rasa ngeri dan seram menyelimuti hati Tiat kang Sam- kiat,
suatu firasat yang jelek melintas dalam benak beberapa orang
itu, walaupun mereka yakin bahwa ilmu silat yang dimilikinya
sangat lihay sehingga cukup digunakan untuk menghancurkan
benteng oh-liong-poo, akan tetapi dalam beberapa detik yang
singkat, seakan-akan mereka lupa bahwa mereka memiliki
ilmu silat yang tinggi, keadaan mereka tidak lebih bagaikan
orang hukuman yang menantikan keputusan pengadilan-
Mungkin hal ini dikarenakan pengaruh serta wibawa yang
terpancar keluar dari pemuda misterius dihadapannya ini,
mungkin juga karena kesalahan yang pernah mereka lakukan
dimasa lampau sehingga mengurangi kesombongan dan
kejumawaan mereka, pokoknya dalam waktu yang amat
singkat mereka tak mempunyai keberanian untuk menjawab
ataupun buka suara.
Dalam pada itu manusia sesat dari selatan telah
mengundurkan diri kesamping, Gak In Liang segera maju lebih
mendekat, katanya dengan seram.
"Belah dada kalian sendiri dan tarik keluar jantung kalian
masing-masing, aku ingin lihat jantung kalian berwarna hitam
atau tidak?"

10
Walaupun suaranya tenang dan datar, akan tetapi
mengandung daya kekuatan yang besar, seakan-akan perintah
kematian yang tak dapat dibantah lagi.
Manusia sesat dari selatan tersohor karena kekejiannya
dalam membunuh orang, tetapi setelah mendengar ucapan itu
tak urung hatinya terkesiap juga, pikirnya.
"Dihari-hari biasa majikan muda selalu halus dan berbudi
luhur, mengapa pada malam ini bisa berubah jadi begitu sadis
dan kejam?"
Tiang- kang Sam- kiat serta empat pria kekar yang berada
dibelakangnya segera mundur dua langkah kebelakang
dengan ketakutan, empat belas mata memancarkan cahaya
ngeri dan seram dan bersama ditujukan kepada pemuda baju
hitam di hadapannya.
Gak In Ling mengerdipkan matanya yang jeli, tindaktanduknya
tetap halus dan terpelajar, siapapun tidak percaya
bahwa perintah yang begitu sadis dan begitu brutal muncul
dari mulut pemuda tampan itu.
Waktu sedetik demi sedetik lewat dengan cepatnya,
kesadisan diatas wajah Gak in Ling yang tampan kian lama
kian bertambah tebal, mendadak ia tertawa seram.
"He, he, he Apakah kalian bertiga hendak menunggu
sampai aku Gak In Ling turun tangan sendiri ?" ancamnya.
Sambil berkata selangkah demi selangkah ia maju mendekati
tiga jagoan dari sungai Tiang- kang tersebut.
Tanpa sadar Tiang-kang Sam- kiat selangkah demi
selangkah mundur pula kebelakang, mengikuti langkah kaki
yang berat, air muka ketujuh orang itu berubah beberapa kali,
mereka merasa bahwa jiwa mereka yang sangat berharga itu
kian lama kian mendekati jurang kematian-
Jelas, keberanian serta segenap kekuatan mereka telah
dipunahkan oleh keangkeran Gak In Ling. Tiba-tiba dari

11
belakang tubuh Tiang-kang Sam-kiat berkumandang datang
suara bentakan keras:
"Bajingan cilik Engkau jangan terlalu menghina orang "
Sesosok bayangan manusia meluncur ke muka, angin
pukulan yang maha dahsyat langsung menghantam batok
kepala pemuda she Gak itu.
Gak In Ling sama sekali tidak berpaling atau angkat kepala,
diapun tidak menghentikan langkah kakinya, sorot mata yang
tajam masih menatap wajah Tiang- kang Sam-kiat tanpa
berkedip. terhadap serangan yang sedang mengancam
tubuhnya itu ia sama sekali tidak mengambil gubris.
Dalam waktu singkat, sepasang telapak telah mengancam
diatas batok kepala pemuda itu. Mendadak jeritan ngeri yang
menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian
yang mencengkamkan dimalam buta itu.
Sesosok bayangan tubuh yang besar mencelat keangkasa,
melewati atas kepala Tiang- kang Sam-kiat dan terbanting
kurang lebih tujuh tombak dibelakang ketiga orang itu dalam
keadaan tidak bernyawa lagi.
Tiang- kang Sam-kiat terkesiap, kecuali mereka saksikan
pemuda she Gak itu mengangkat tangan kanannya, tiada
gerakan lain yang terlihat oleh mereka, akan tetapi dari tujuh
orang sekarang mereka telah kehilangan seorang rekan-
Satu-satunya harapan untuk hiduppun ikut musnah
bersama dengan kematian pria kekar itu, sekarang mereka
sudah patah semangat dan tak punya keberanian untuk
melakukan perlawanan lagi.
Dari sorot mata Lo-toa serta Lo-sam Tiang- kang Sam-kiat
segera melintas rasa takut, ngeri, dan mohon ampun, bibir
yang pucat pias gemetar keras namun tak sepatah katapun
yang meluncur keluar.

12
Tiba-tiba terdengar Lo-ji yang baik hati itu menghela napas
panjang lalu berkata. "Aiii Satu kali salah melangkah akhirnya
kita akan menyesal sepanjang masa, toako Sam-te
Sebenarnya apa yang berhasil kita dapatkan ?"
Sambil berkata ia merobek pakaian bagian dadanya sendiri,
kemudian sambil mengertak gigi, jari tangannya yang kuat
bagaikan cakar baja tiba-tiba dihujamkan keatas dadanya
sendiri.
"creeet...." semburan darah segar berhamburan
disepanjang lantai, sambil meringis menahan kesakitan ia
betot keluar jantungnya sendiri.
Air muka yang semula berwarna kuning pucat kini berubah
jadi hijau keabu-abuan, sorot mata yang tajam kian pudar,
dengan pandangan mata minta maaf ia melirik sekejap kearah
Gak In Ling, bibir yang pucat gemetar keras dan akhirnya ...
bluuukk Tubuh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak
bernyawa lagi
Dua titik air mata perlahan-lahan menetes keluar dari balik
kelopak matanya, namun senyum ketenangan dan kedamaian
telah menghiasi bibirnya, mungkin ia merasa bahwa hutang
yang tak bisa dibayar selama ini akhirnya berhasil juga di
lunasi.
Tiada dengusan kesakitan, tiada jeritan lengking sekarat,
tapi seorang jago yang amat lihay telah gugur dengan jantung
yang berlumuran darah masih tergenggam ditangannya.
Sekilas rasa kaget berkelebat diwajah manusia sesat dari
selatan, mungkin ia merasa peristiwa itu terlalu sadis dan
kejam Airmuka Lo-toa dan Lo-sam dari Tiang-kang Sam-kiat
serta tiga orang pria kekar yang berada dibelakangnya telah
berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat sebesar
kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, rasa takut,
ngeri, dendam berkecamuk menjadi satu membakar hati
mereka semua.

13
Gak In Ling telah berdiri dengan wajah hambar, terhadap
peristiwa sadis yang berlangsung dihadapan matanya ia tidak
berpaling barang sekejappun, seakan-akan kejadian itu sama
sekali tak terlihat olehnya.
Dengan dingin ia menyapu sekejap kearah dua orang itu.
"Sekarang tiba giliran kalian berdua "
Beberapa patah kata yang pendek. terdengar oleh Lo-toa
serta Lo-sam dari Tiang- kang Sam-kiat bagaikan guntur yang
membelah bumi di siang hari bolong.
Lo-toa dari Tiang- kang Sam-kiat tak dapat menahan diri
lagi, ia menengadah keangkasa dan tertawa seram.
"Ha ha ha Gak In Ling bocah cilik, dengan mengandaikan
sepatah duapatah katamu itu, engkau anggap kami segera
menyerah dan mudah dibunuh ? Ha ha.... Engkau anggap
toyamu sekalian ini siapa ? Kau kira kelinci- kelinci yang
gampang dijagal dengan begitu saja?"
Gak In Ling mendengus dingin, napsu membunuh yang
tebal melintas diatas wajahnya, sambil ayunkan sepasang
telapaknya ia menjawab.
"Aku mengandaikan sepasang telapakku ini? Hm, kalau
kalian tidak percaya, silahkan mencoba"
Lo-sam lebih tenang dan licik daripada rekannya, walaupun
hatinya merasa takut sekali akan tetapi diatas wajahnya masih
dapat mempertahankan ketenangan, mendengar ucapan itu ia
angkat kepala dan memandang kearah sepasang te lapak
muda itu.
"Telapak maut?" jeritnya melengking, suaranya gemetar
dan mengandung rasa takut yang hebat, dengan
sempoyongan ia mundur sampai tujuh langkah kebelakang,
sepasang matanya memandang kearah telapak tangan
pemuda itu tanpa berkedip.

14
Rasa ngeri, putus asa, mohon ampun serta pelbagai
perasaan berkecamuk didalam hatinya dengan wajah yang
pucat.
"Apa ?? Ah, telapak maut" jerit Lo-toa pula dengan suara
tertahan, ia mundur sempoyongan dan jatuh terduduk diatas
lantai. Manusia sesat dari selatan pun tertegun, kemudian
dengan hati terjelos gumamnya:
"Oooh Thian, kenapa sampai jadi begini ? Kenapa sampai
diapun tidak dilepaskan?"
Mengikuti ucapan tersebut dua titik air mata jatuh berlinang
membasahi pipinya. Dalam pada itu dengan pandangan sadis
Gak in Ling telah memandang kembali kearah ke dua orang
itu, lalu bentaknya. "Apa yang kalian nantikan lagi ?"
"otak yang mendalangi pembunuhan itu bukan kami "jerit
Lo-sam dengan suara gemetar. "Kau... kau..."
"Kalau bukan kalian, siapa lagi ?" bentak Gak In Ling
kembali dengan nada seram.
"Aku... aku.... aku tidak tahu."
Gak In Ling menengadah dan tertawa panjang. "Haa....
haa... haa... Sedari tadi aku telah tahu bahwa kalian tak akan
tahu, jual ayah ku untuk mencari pujian, apa yang berhasil
kalian dapatkan- Haa haa.... haa.... "
"Majikan muda, kau. ...jangan terlalu emosi." bisik manusia
sesat dari selatan dengan nada kuatir.
Gak In Liang menghentikan gelak tawanya, dengan napsu
membunuh makin berkobar ia berseru keras: "Aku akan suruh
kalian berdua merasakan sampai di manakah kelihayan dari
telapak mautku ini " sambil berkata sepasang telapaknya
perlahan-lahan diangkat keatas.
Lo-toa dan Lo-sam dari Tiang- kang Sam-kiat mundur tiga
langkah kebelakang dengan ketakutan B reett Mereka robek

15
pakaian bagian ddadanya sendiri, sementara sorot mata
mengandung rasa takut dan minta ampun terpancar keluar
dari mata mereka.
Gak In Ling sama sekali tidak tergerak hatinya oleh tingkah
laku musuhnya itu, perlahan-lahan telapaknya sudah diangkat
mencapai depan dada, senyuman dingin yang sadis dan kejam
tersungging dibibirnya.
"Kalau tahu akhirnya akan jadi begini, kenapa dahulu kalian
berbuat khianat, hem ?"
Sepasang telapak dengan cepat didorong ke-depan-..
Rupanya kedua orang itu tahu bahwa nasib mereka akan
berakhir pada hari ini, dengan nekad merekapun
mencengkeram kearah dada sendiri serta membetot keluar
jantung mereka seperti apa yang telah dilakukan rekan
mereka sebelumnya.
Dua jeritan melengking kembali berkumandang
memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh lembah ohliong-
pio, suaranya begitu mengerikan sehingga mendirikan
bulu roma semua orang.
Dengan pandangan dingin Gak In ling menyapu sekejap
kearah mayat Tiang- kang Sam-kiat yang terkapar diatas
tanah, kemudian menengadah dan melotot kearah pria-pria
lainnya yang berdiri menjublek disana dengan pandangan
seram, katanya:
"Bawa ketiga sosok mayat itu dan segera enyah dari
tempat ini, kalian tak boleh mengubur mayat mereka disekitar
gunung Thaysan atau tempat manapun, mayat itu harus
kalian bawa pulang kemarkas besar Tiang-kang, jika berani
membangkang perintahku, h mm?"
Tiga orang pria kekar itu mundur dengan ketakutan, tapi
merekapun merasa amat girang karena mimpipun tak pernah
disangka bahwa mereka masih bisa lolos dari tempat itu dalam
keadaan hidup, Tanpa banyak bicara lagi mereka bopong

16
mayat Tiang-kaag Sam- kiat yang mengerikan serta mayat
rekannya lalu kabur terbirit-birit dari situ.
Sepeninggalnya beberapa orang itu, Gak In Ling
menengadah memandang bintang yang bertaburan diangkasa,
lalu bergumam seorang diri:
"Dua belas tahun lamanya,. yaa dua belas tahun, suatu
jangka waktu yang amat panjang."
Manusia sesat dari selatan maju kedepan dengan langkah
yang berat, bisiknya. "Majikan muda, apakah engkau telah
melatih ilmu telapak maut itu?"
"Benar," jawab pemuda she Gak dengan sedih. "aku tak
dapat menanti lebih lama lagi." Manusia sesat dari selatan
menghela napas panjang.
"Aaaai kesemuanya ini adalah akibat dari keteledoran
hamba sekalian, sehingga membuat pil mujarab yang hampir
jadi, telah dicuri orang. Tetapi, majikan muda, apakah engkau
tak bisa menunggu sebentar lagi ? Mungkin makhluk tua itu
akan segera kembali."
"Tujuan orang itu adalah hendak mencabut jiwa aku orang
she Gak. kendatipun penjagaan yang kalian lakukan lebih
ketatpun tak akan lolos dari cengkeramannya, oleh karena
itu..."
"Majikan muda sekalipun manusia berusaha, tapi Thianlah
yang menentukan segala-galanya, engkau tak boleh berputus
asa, kita tokh masih bisa...."
Gak In Liang tertawa. "Tak usah dicoba lagi, dua tahun
bagiku sudah terasa lebih daripada cukup,"
"Tapi sejak kini keluarga Gak..."
Gak In Ling mengerdipkan matanya, sebelum manusia
sesat dari selatan sempat menyelesaikan kata-katanya, dia
telah menukas.

17
"Asal dendam sakit hatiku bisa dibalaskan, apa yang aku
inginkan bisa terkabul, maka sisanya yang lain tak usahdibicarakan
lagi." setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Besok
pagi, aku hendak tinggalkan benteng kuno ini."
"Aku juga ikut " kata manusia sesat dari selatan dengan
hati amat gelisah.
"Tidak, engkau harus menunggu sampai manusia aneh dari
utara kembali ke sini, kemudian baru bersama pergi mencari
aku."
"Majikan Muda, aku tidak tega... aku merasa khawatir
sekali dan aku pikir..."
"Keputusanku sudah bulat, engkau tak usah banyak bicara
lagi." Tukas Gak In Ling dengan cepat.
Perlahan-lahan ia berjalan masuk kedalam ruangan, dari
balik biji matanya yang jeli, air mata perlahan-lahan mengalir
keluar.
Sebagai manusia tentu saja dia amat menyayangi jiwanya
sendiri, tetapi suatu kekuatan lain memaksa ia harus
melepaskan segala-galanya... karena sesuatu urusan ia harus
membuang jauh semua pikiran semacam itu...
Dendam yang dalam bagaikan lautan, benci yang
menumpuk bagaikan bukit, telah menyelimuti seluruh
benaknya.
Dengan sedih dan hati yang perih manusia sesat dari
selatan memandang bayangan punggung si anak muda itu
lenyap dari pandangan, pada saat yang amat singkat inilah dia
merasa bahwa dirinya jauh lebih memahami lagi perasaan si
pemuda yang sudah berdiam hampir dua belas tahun lamanya
dengan dia itu.
Senja telah lewat dan malam mencengkeram seluruh jagad,
sorot lampu yang tajam menyinari setiap sudut kota con
IHway, rumah makan, rumah penginapan dan tempat

18
pelacuran mulai dikunjungi orang, suasana amat ramai dan
hiruk pikuk memecahkan kesunyian-
Pada saat itulah di sebuah gedung besar yang letaknya di
luar kota, suasana tetap diliputi keheningan, Malaikat Elmaut
telah mencengkeram seluruh isi gedung itu, membuat
keadaan terasa seram dan mengerikan.
Belasan tahun berselang, gedung besar yang megah dan
kokoh ini dikenal sebagai gedung keluarga Gak. tapi kini nama
yang pernah disegani dan dihormati setiap orang itu sudah
mulai dilupakan orang...
Pada saat itu dua orang pria kekar berdiri mendelong
didepan pintu gerbang yang berwarna merah, pada istal kuda
terikat beberapa puluh ekor kuda jempolan, dari sikap kedua
orang itu nampak jelas bahwa mereka sedang menghadapi
suatu kejadian yang menakutkan hatinya.
Dalam sebuah ruang tamu yang luas, api lilin bersinar
menerangi seluruh sudut ruangan, dua buah meja perjamuan
yang besar diatur di-tengah ruangan dan disekelilingnya
duduklah enam belas orang pria tua maupun muda.
Tetapi aneh sekali, walaupun sayur yang lezat dan arak
yang wangi telah dihidangkan, namun tak seorangpun yang
bernapsu untuk menikmati kelezatan dan wanginya hidangan
tersebut. Suasana dalam ruangan itu sunyi, hening dan tak
kedengaran sedikit suara pun, wajah setiap orang nampak
murung dan sedih sekali. Tiba-tiba kakek berjenggot panjang
yang duduk dikursi utama bangkit berdiri dan berkata.
"Saudara saudara sekalian, silahkan makan dulu sedikit
hidangan yang telah tersedia, setelah itu baru merundingkan
masalah pelik yang sedang kita hadapi, mari... mari kuhormati
kalian semua dengan secawan arak."
Sambil berkata dia angkat cawan arak yang berada
dihadapannya dan sekali teguk menghabiskan isinya,

19
walaupun begitu kelihatan jelas sekali tangannya yang
memegang cawan nampak gemetar keras.
Semua orang segera bangkit berdiri dan menghabiskan
pula isi cawan masing-masing, mereka semua seperti telah
kehilangan semangat, wajahnya loyo dan sama sekali tak
bertenaga.
Kakek berjenggot panjang tadi menarik napas panjang,
kemudian setelah berbatuk sebentar, ujarnya.
"Lo-ngo. berita yang engkau dengar bisa dipercaya atau
tidak?" sambil berkata dia berpaling ke arah seorang kakek tua
berusia enampuluh tahun yang berada disebelah kanan dan
pada kening kanannya terdapat sebuah codet berwarna ungu.
Sorot mata semua orangpun dialihkan padanya wajah
mereka semua terlintas satu harapan, bahwa berita itu tidak
benar. Kakek bercodet dengan kaku mengangguk.
"Berita itu sungguh dan dapat dipercaya seratus persen-"
jawabnya tegas.
"Engkau dengar dari siapa ?" hampir bersamaan waktunya
ada tiga empat orang banyaknya yang mengajukan
pertanyaan itu.
Perlahan-lahan kakek bercodet itu bangkit berdiri lalu
berkata. "Kalian semua takut mati. masa akupun tidak takut
mati ? Aku menyaksikan kesemuanya ita dengan mata kepala
sendiri." suaranya gemetar dan penuh emosi.
Kakek berjenggot panjang itu amat terperanjat, tanpa
terasa ia berseru keras.
"Kau, kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri ?
Bagaimana keadaan mereka ?"
Kakek bercodet menengadah dan tertawa seram, suaranya
keras bagaikan kuntilanak ditengah kuburan.

20
"Hee hee hee... Dengan tangan sendiri mereka membetot
keluar jantung mereka...."
"Aahh" seruan tertahan menggema memenuhi seluruh
ruangan, rasa kaget dan ngeri melintas diatas wajah setiap
orang, dengan kaku dan tertegun mereka melotot kearah
kakek bercodet itu.
"Masa seorang bocah cilik mempunyai kepandaian selihay
itu ?" gumam kakek berjenggot panjang itu dengan nada
keheranan- "Bagaimana caranya dia memaksa Tiang kang
Sam- kiat untuk membetot keluar jantungnya sendiri ? Hal ini
tak mungkin-"
Sekalipun dimulut ia mengatakan tidak percaya, tetapi
bayangan hitam telah menyelimuti seluruh hatinya.... ia
merasa bahwa maut sudah semakin mendekati dirinya.
Keseraman dan kengerianpun dengan cepat menyelimuti
seluruh ruangan, setiap orang merasa ketakutan dan
semuanya tercekam dalam ketegangan yang memuncak
sehingga dadanya terasa sesak dan sukar untuk bernapas.
Tiba-tiba....
Gelak tertawa yang seram dan menggetarkan telinga
berkumandang datang dari luar tembok pekarangan, diikuti
serentetan cahaya merah munculkan diri ditengah ruangan.
Suara itu muncul begitu mendadak membuat semua orangterkesiap
dan merasakan jantungnya berdebar keras, puluhan
pasang mata yang memancarkan sinar kaget dan ngeri
bersama-sama di alihkan keluar ruangan-
Tapi mereka semakin terperanjat setelah menyaksikan
manusia yang berdiri dihadapannya. Tampaklah dua orang
kakek baju merah yang memakai kain penutup berwarna
merah pula berdiri kaku diluar ruangan, perawakan mereka
yang satu tinggi dan yang lain pendek. namun sorot matanya
memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.

21
Yang lebih mengejutkan lagi adalah dua butir batok kepala
yang berada dalam cekalan mereka berdua, darah segar
masih mengucur keluar tiada hentinya.
Terdengar manusia berkerudung yang berbadan pendek
berkata dengan suara menyeramkan-
"cin-hway Ngo- gi lima saudara dari cin-hway, aku
mendapat perintah untuk datang kemari memenggal batok
kepala kalian semua "
"Apa dosa kami berlima sehingga harus mendapat
hukuman penggal kepala ?" tanya kakek berjenggot panjang
dengan hati terjelos.
"Dosa kalian sudah terlalu besar dan kejahatan yang kalian
lakukan terlalu menumpuk." jawab manusia kerudung merah
yang jangkung dengan suara ketus. "Serahkan nyawa kalian
semua."
"Engkau mendapat perintah dari siapa ?" tanya Lo-sam dari
cin-hway Ngo-gi dengan dingin-
Manusia berkerudung merah yang berbadan cebol tertawa
dingin.
"Hee... hee... hee... Kalian masih belum berhak untuk
mengetahuinya..... kenapa masih belum turun tangan? Apakah
kalian hendakpaksa diriku untuk melakukannya sendiri?"
Dalam pada itu semua jago yang berada dalam ruangan
mengetahui bahwa kedua orang itu bukanlah manusia yang
ditakuti oleh mereka, maka hati merekapun jadi lega.
Mendengar ucapan lawan, mereka mendengus dingin.Jelas
orang-orang itu merasa amat tidak puas dengan ucapan
lawan-
Kakek berjenggot panjang segera tertawa terbahak-bahak.
"Ha.... haa haa..... Aku rasa kalian berdua belum tentu dapat
melakukannya"

22
Manusia berkerudung merah yang berbadan jangkung naik
pitam, dari balik kain kerudungnya memancar keluar dua
rentetan cahaya mata yang sangat tajam, tangan kanannya
segera di-ayun keluar dan sesosok bayangan hitam menerjang
kearah dada kakek berjenggot panjang itu dengan cepatnya.
Kakek berjenggot panjang mendengus dingin, ia sambut
datangnya benda hitam itu, tapi dengan cepat ia berteriak
kaget. "Aah......... bukankah dia adalah Hian Hok Tootiang?"
"Sedikitpun tidak salah, apakah kalian tidak merasa bahwa
kepandaian silat yang kamu miliki jauh lebih lihay daripada
Hian Hok Totiang?"
Mendengar perkataan itu cin-hway Ngo-gi saling
berpandangan dengan mulut membungkam,
mereka tak menyangka kalau Hian Hok Totiang yang
dikenal memiliki ilmu silat yang amat lihay pun menemui
ajalnya ditangan mereka berdua.
Setelah mengamati beberapa saat lamanya batok kepala
itu, Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi berteriak keras.
"Aaaah kalau begitu engkau adalah cianjiu jin-to pembantai
manusia bertangan seribu?"
"Pembantai manusia bertangan seribu." jeritan kaget
hampir berkumandang dari setiap manusia yang ada dalam
ruangan-
Manusia berkerudung merah itu tertawa terbahak-bahak.
"Haa haa..... haa... setelah mengetahui siapakah aku,
beranikah kalian semua melakukan perlawanan?"
Air muka kakek berjenggot panjang itu berubah hebat,
mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, batok
kepala itu dibuang ketanah lalu ikut tertawa seram pula.

23
"Haa .... haa haa.. ... memang kuakui bahwa ilmu silat
yang kami miliki masih terlalu jauh kalau dibandingkan dengan
dirimu, akan tetapi..."
"Akan tetapi kenapa ?"
"Akan tetapi kalian takkan berani mengganggu setiap
manusia dan benda yang berada dalam ruangan ini "
Mula-mula kedua orang manusia berkerudung merah itu
tertegun, kemudian dengan gusar teriaknya: "Engkau berani
pandang rendah diriku. Lihat saja aku berani atau tidak,"
sambil berkata tubuhnya menerjang kedepan.
Buru-buru kakek berjenggot panjang itu merogoh kedalam
sakunya dan mengambil keluar sebuah tanda pengenal yang
berukir indah sekali, sambil mengangkat tanda pengenal itu
ketengah udara serunya:
"coba kalian lihat, benda apakah ini?"
"Ah tanda perintah Nirwana.." seru manusia berkerudung
merah itu kaget.
Tiba-tiba ia menghentikan gerakan tubuhnya di tengah
jalan, putar badan dan kabur dari ruangan itu, tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
Ketika datang mereka muncul secara tiba-tiba, waktu
kaburpun dilakukan secara tiba-tiba pula, mati atau hidup
ternyata hanya tergantung pada tanda pengenal yang amat
kecil itu.
Dengusan dingin berkumandang keluar dari balik sebuah
pohon besar ditengah halaman, namun tak seorang
manusiapun yang tahu.
Sementara itu semua orang dalam ruangan tergirang hati
dan merasa lega ketika menyaksikan dua orang pembantai
manusia itu kabur terbirit-birit karena tanda perintah Nirwana

24
Tiba-tiba Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi berpaling kearah
kakek bercodet dan bertanya. "Lo-ngo, mungkinkah orang
yang membinasakan Tiang-kang Sam-kiat adalah pembantai
manusia bertangan seribu ?"
Ingatan kakek bercodet agak tergerak juga mendengar
ucapan itu, tapi dengan nada masih sangsi ia berkata^
"Tetapi menurut orang-orang yang pergi ke sana mengikuti
Tiang-kang Sam-kiat, katanya ke-tiga orang itu menemui
ajalnya ditangan seorang pemuda baju hitam."
Lo-sam tertawa bergelak.
"orang tokh bisa saja menyaru sebagai apapun, bukankah
menurut ceritamu mereka berdua seorang kakek dan seorang
pemuda ? Sedang pembantai manusia bertangan seribu juga
terdiri dari dua orang, siapa tahu kalau kedua orang itu adalah
hasil penyaruan mereka ?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang
merasa hatinya agak lega karena perkataan itu masuk diakal.
Kakek bercodet menghela napas panjang dan berkata.
"Aaai semoga saja apa yang kalian duga adalah benar,
teringat masa lampau, dimana kita semua telah digunakan
tenaganya oleh orang lain dan sampai kinipun kita tidak tahu
siapakah otak yang mendalangi kesemuanya itu... bahkan kita
harus menanggung resikonya."
"Lo ngo," tukas Lo-toa dengan cepat, "apakah kau sudah
bosan hidup ?Jangan lupa, dalam peristiwa yang terjadi tempo
hari kita semua terlibat dalam masalah tersebut."
"oleh karena itulah kalian semua harus mati." baru saja
ucapan Lo-toa dari cin-hway lo-ngo selesai diutarakan, tibatiba
dari tengah ruangan berkumandang serentetan suara
yang dingin dan ketus diiringi suara tertawa yang
menyeramkanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
25
Semua jago yang ada dalam ruangan terperanjat hingga
sukma terasa melayang tinggalkan raganya, dengan cepat
mereka berpaling dan loncat bangun dari kursi, senjata tajam
siap diloloskan siap menghadapi segala kemungkinan yang
tidak diinginkanseorang
pemuda tampan baju hitam dengan dingin dan
seram berdiri tegak didepan pintu ruangan, perlahan-lahan ia
menyapu setiap raut wajah para jago yang berada disitu.
Semua jago yang berada dalam ruangan itu meskipun
belum bisa dikatakan jago yang amat lihay dalam dunia
persilatan, akan tetapi mereka tak malu disebut jagoan kelas
satu, akan tetapi kapankah pemuda baju hitam itu munculkan
diri tak seorangpun diantara mereka yang tahu.
"Siapa engkau ?" tegur Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi dengan
nada gemetar, tanda pengenal Nirwana dicekalnya erat-erat
ditangan kanan.
Pemuda baju hitam itu mendengus dingin, napsu
membunuh yang tebal menyelimuti wajahnya dan ia
menjawab singkat. "Gak in Ling "
Meskipun hanya tiga patah kata, namun dalam
pendengaran semua jago yang ada dalam ruangan bagaikan
tiga batang anak panah beracun yang menembusi uluhati
mereka, membuat semua orang merasakan bulu kuduknya
pada bangun berdiri "Gak In Ling ?"
"Gak In Ling dari benteng oh-liong-po ?"
"Sedikitpun tidak salah, orang ini bukan lain adalah pemuda
baju hitam yang misterius dari benteng oh liong-po, dialah
Gak In Ling. Dengan pandangan sadis sianak muda itu
menyapu sekejap kearah para jago, lalu ujarnya dingin.
"Aku rasa maksud kedatanganku telah kalian ketahui, nah,
sekarang kalian boleh bunuh diri." Suaranya dingin, seram dan

26
datar, namun mengandung suatu kekuatan yang tak dapat
dibantah.
Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi memandang sekejap kearah
bemuda itu, lalu berpikir didalam hati. "Dengan usianya yang
masih begitu muda, tak mungkin ia memiliki ilmu silat yang
tinggi."
Pikiran semacam ini timbul pula dalam benak mereka yang
lain, hal ini membuat rasa ngeri yang semula menyelimuti
wajah mereka yang kian lama kian bertambah tawar.
Tampaklah tiga orang yang duduk di paling depan segera
bangkit berdiri, dengan senjata terhunus dan wajah
menampilkan sikap menghina selangkah demi selangkah
mendekati pemuda she Gak tersebut.
Gak In Ling menjengek dingin menyaksikan kedatengan
ketiga orang itu, tegurnya kembali dengan nada dingin-
"Apalagi yang hendak kalian nantikan ?"
"Bangsat Kubunuh dirimu" bentakan gusar tiba-tiba
menggelegar diangkasa.
Tiga orang pria itu membentak keras dan segera
menerjang maju kedepan, bayangan pedang, cahaya golok
memancar d iempat penjuru, dengan kecepatan yang luar
biasa ketiga batang senjata tajam itu menerjang kearah tiga
buah jalan darah kematian ditubuh Gak In Ling, serangan keji
dan jurusnya mematikan-
Gak In Ling mendengus dingin, tubuhnya sama sekali tidak
berkutik dari tempat semula. Serangan yang dilancarkan ke
tiga orang itu benar-benar cepat dan sepenuh tenaga,
bayangan manusia berkelebat lewat dan tahu-tahu ketiga
macam senjata tajam itu sudah berada lima inci diatas jalan
darah penting sianak muda.

27
Tiba-tiba... Gak In Ling mendengus dingin laksana kilat
telapak kanannya diangkat dan mengirim satu pukulan
kedepan-
Tiada desiran angin tajam yang menggidikkan hati, tiada
deruan angin pukulan yang menderu- deru udara tetap tenang
dan sunyi. Tapi pada saat itulah ditengah angkasa
berkumandang tiga kali jeritan melengking yang menyayatkan
hati, ketiga orang itu mencelat sejauh dua tombak dari tempat
semula dan terkapar dibawah tembok pekarangan dalam
keadaan tak bernyawa lagi.
"Oooh...." hampir semua orang yang hadir dalam ruangan
itu menjadi kaget, mereka tak menyangka dalam satu gerakan
tangan yang sederhana dari pemuda she Gak itu, tiga nyawa
telah melayang meninggalkan raganya.
Gak In Liug sama sekali tidak memandang sekejappun
terhadap tiga sosok mayat yang terkapar dalam keadaan
mengerikan itu, dengan dingin ia berkata kembali.
"Ini hari, siapapun jangan harap bisa meloloskan diri dari
cengkeramanku orang she Gak dalam keadaan hidup "
Rasa takut dan ngeri yang semula menyelimuti wajah para
jago, saat ini muncul kembali bahkan berlipat ganda dari
perasaan takut semula, keringat sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajah dan tubuh
mereka.
Tiba-tiba Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi mengacungkan tanda
pengenal dari Nirwana dan berseru. "Gak In Ling, aku
membawa tanda pengenal disini, kalau engkau punya
keberanian ayo cepat turun tangan "
"Haa... . haa.... haa Jika aku orang she Gak sudah bertekad
untuk membunuh orang, sekalipun kalian membawa tanda
pengenal dari kaisar Gick Te-pun takkan lolos dari kematian,
apalagi baru tanda pengenal Nirwana."

28
Dengan wajah menyeringai bengis dan tertawa seram yang
memekakkan telinga, selangkah demi selangkah pemuda itu
masuk ke tengah ruangan-
Tanpa sadar para jago semua mundur ke belakang, sorot
matanya menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. kian
lama jarak di antara mereka kian mendekat.
Took took took langkah kaki yang berat seakan-akan
godam yang menghantam dada mereka membuat setiapjago
dalam ruangan tercekam dalam ketakutan yang mengerikan-
Lo-toa dari cin-hway Ngo-gi amat terkejut, teriaknya keraskeras.
"Gak In Ling Engkau berani membangkang perintah dari
Yau-ti-glok-li gadis suci dari Nirwana?"
"Haa haa haa kakek tua, terus terang aku orang she Gak
katakan kepadamu, andaikata engkau berharap bisa lolos dari
Cengkeramanku dalam keadaan hidup, maka hal ini akan jauh
lebih sulit daripada mendekati keatas langit."
Sambil berkata selangkah demi selangkah ia lanjutkan
tindakannya masuk ke dalam ruangan-
Sementara itu para jago telah mengundurkan diri kesudut
ruangan, melihat jalan mundur telah terhadang sedangkan
Gak In Ling yang berada di hadapannya selangkah demi
selangkah masih mendesak maju kedepan, hati mereka jadi
amat terperanjat.
Anjing kepepet lompat ketembok, kucing terdesak naik
kepohon, setelah mengetahui jalan mundurnya tertutup,
timbullah niat dalam hatinya para jago untuk mengadu jiwa,
belasan pasang mata dengan memancarkan cahaya bengis
menatap wajah lawannya tanpa berkedip.
Pikiran Gak In Ling agak bergerak melihat sikap musuhmusuhnya,
namun diatas wajahnya yang tampan masih tetap
hambar dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan

29
apapun, telapak yang semula lurus kebawah perlahan-lahan
diangkat keatas, serunya ketus. "Sekarang serahkanlah jiwa
kalian"
"Belum tentu begitu " bentakan keras berkumandang dari
kumpulan para jago yang terdesak itu.
Ditengah bentakan keras mereka menerjang kemuka
secara berbareng, cahaya golok dan bayangan pedang
memancar dari empat penjuru dan meluruk seluruh jalan
darah penting ditubuh Gak In Ling, serangan itu ganas, cepat
dan luar biasa sekali, deruan angin pukulan menderu-deru dan
nampak menyeramkan sekali.
Ditengah ketegangan yang memuncak dan menyelimuti
seluruh ruangan, dari luar dinding pekarangan muncullah
seorang dara berbaju hijau yang amat cantik jelita diiringi
empat orang dara muda berdandan dayang, tapi sayang
kedatangan mereka terlambat satu tindak.
Pada waktu dara baju hijau itu melayang turun keatas
tanah, Gak In Ling telah melancar serangannya, tubuh yang
kekar menerjang kemuka dengan cepatnya, bagaikan sukma
gentayangan dia menerobos masuk kedalam lapisan cahaya
pedang yang bersusun-susun itu.
Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera
berkumandang dari ruangan tengah, dari empat belas orang
jago yang ikut mengerubut ada sepuluh orang diantaranya
roboh binasa dengan masing-masing korban mendapat
pukulan maut diatas dadanya, darah kental mengucur ke luar
dari ketujuh lubang inderanya.
Dalam sekejap mata tinggal empat orang yang hidup,
ketika menyaksikan rekan-rekannya telah binasa semua,
timbul niat untuk melarikan diri dalam benak mereka, dengan
mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya mereka
keluar dari pintu ruanganTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
30
Waktu itu napsu membunuh telah menyelimuti seluruh
benak Gak In Ling, tentu saja dia pakkan membiarkan orangorang
itu kabur dari situ, sambil mendengus dingin ia putar
badan dan melancarkan serangan dahsyat. ....
Serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata
memancar ketengah udara, empat orang jago lihay yang baru
saja melangkah keluar dari pintu ruangan itu mendadak
menjerit kesakitan, kemudian roboh terjengkang diatas tanah
dan menemui ajalnya.
Darah berceceran diseluruh lantai, mayat bergelimpangan
dimana-mana, cahaya lampu dalam ruangan masih memancar
dengan terangnya, hidangan lezat dimeja perjamuan masih
utuh dan menyiarkan bau harum, akan tetapi keempat belas
orang jago yang semula duduk mengelilingi meja perjamuan
itu telah terkapar mati diatas tanah dalam keadaan yang
mengerikan-..
Gak In Ling menghela napas panjang, ia tetap berdiri
mematung ditempat semula, entah pikiran apa yang membuat
dirinya tertegun.
Lama.... lama sekali, sianak muda itu baru melangkah
keluar dari pintu dan bergumam seorang diri. "Gadung ini
semula adalah tempat tinggal keluarga Gak kami, tetapi
sekarang, hanya tinggal aku Gak In Ling seorang."
Dengan kepala tertunduk Gak In Ling berjalan keluar dari
pintu, tiba-tiba ia melihat tanda pengenal Nirwana yang
tergeletak diatas tanah pemuda itu tertarik oleh ukirukirannya
yang indah dan segera berjongkok untuk
mengambilnya.
Dara cantik baju hijau yang berdiri menjublek ditengah
ruangan karena pembunuhan yang disaksikannya itu segera
berseru tertahan sewaktu menyaksikan Gak In Ling hendak
memungut tanda pengenal Nirwana, tanpa mengucapkan

31
sepatah katapun tangan kanannya diayun dan serentetan
cahaya biru meluncur kearah lengan sianak muda itu.
Gak ln Ling tidak menyangka kalau dirinya bakal diserang
orang dikala ia sedang melamun dan memikirkan satu urusan
yang pelik, baru saja tangannya hendak menyentuh tanda
pengenal Nirwana.... .. criiit Tiba-tiba telapaknya terhajar oleh
sebatang jarum warna biru.
Rasa sakit menyadarkan Gak In Ling dari lamunannya,
tanpa terasa ia hentikan sebentar gerakan tangannya, tapi ia
tidak membatalkan maksudnya untuk mengambil tanda
pengenal tersebut, setelah berhenti sebentar benda tadi
segera dipungut.
Semua gerakan ini mencengangkan hati dara baju hijau itu,
ia tak menyangka kalau pemuda itu meneruskan gerakannya
kendatipun tangannya sudah terluka, dengan suara yang
nyaring segera bentaknya.
"Lepaskan tanda pengenal Nirwana itu " sambil berseru ia
menerjang maju kedepan-
Gak In Ling sendiri merasa amat gusar setelah mengetahui
bahwa ia terluka ditangan seorang gadis, sambil bangkit
berdiri tegurnya. "Siapa kau ?"
Dengan sorot mata yang tajam dara itu di-tatap tanpa
berkedip.
Sementara itu gadis baju hijau pun telah melihat jelas raut
wajah pemuda dihadapannya, merah jengah selembar
wajahnya dan buru-buru ia melengos kesamping, dengan
dingin ia membentak.
"Besar amat nyalimu, berani sekali membunuh orang dan
merampas tanda pengenal dalam wilayah yang dikuasai ketua
kami. IHemm, setelah hari ini berjumpa dengan tuan putrimu,
akan kutuntut keadilan darimu"

32
Gak In Ling adalah seorang pemuda tinggi hati, mendengar
ucapan itu kontan saja ia naik pitam.
"Hm Meskipun tanda pengenal Nirwana disegani oleh setiap
umat persilatan dikolong langit." katanya sambil mendengus
dingin, "tetapi dalam pandangan aku orang she Gak, benda itu
tidak lebih hanya suatu permainan anak-anak. Aku ingin
bertanya, apa sebabnya engkau lancarkan serangan untuk
melukai diriku ?"
"Hee.... hee hee ketahuilah bahwa jarum berwarna biru
tadi adalah jarum beracun tanda peringatan dari ketua kami"
"Jarum beracun ?" naps u membunuh yang tebal tiba-tiba
melintas diatas biji matanya yang jeli. "Apa dosaku dan
permusuhan apa yang pernah diikat antara kita berdua ?
Mengapa engkau begitu tega untuk melukai aku dengan jarum
beracun ? Nona, engkau mengira bahwa aku tidak berani
membinasakan pula dirimu?" Sambil berkata dia siapkan
telapaknya didepan dada dan menghimpun tenaga dalam
yang di-milikinya.
Ucapan Gak In Ling yang dingin dan ketus mengejutkan
hati dara baju hijau itu, air muka-nya berubah hebat dan ia
mundur dua langkah kebelakang.
"Kalau engkau berani, ayoh coba turun tangan-" ia
berteriak. Keputusan yang diambil oleh gadis itu tidak
mengejutkan hati Gak In Ling, sebaliknya keempat orang
dayang yang mengetahui tabiat gadis itu jadi tercengang,
pikirnya.
"Aneh benar... kenapa watak tuan putri pada hari ini bisa
berubah sama sekali?"
Beberapa kali Gak In Ling angkat telapak tangannya tapi
setiap kali diurungkan niatnya, karena bagaimanapun juga
pemuda ini merasa diantara mereka tak pernah terikat oleh
dendam sakit hati apapun juga.

33
Akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata. "Nona,
bagaimana kalau kukembalikan tanda pengenal ini sebagai
ganti untuk mendapatkan obat pemunah ?"
"Bukankah engkau hendak membinasakan diriku ?" ejek
dara baju hijau itu kembali. "Ayo bunuhlah.... kenapa tidak
berani membunuh ?"
Gak In Ling tertawa tawa. "Diantara kita berdua toh tak
pernah terikat oleh dendam atau sakit hati apapun juga ?"
"Aku tidak membawa obat pemunah, asal dalam dua tahun
engkau bisa bertobat dan tidak melakukan pembunuhan yang
sadis lagi, ketua kami tentu akan mengutus orang untuk
menghadiahkan obat pemunah tersebut kepadamu."
"Dua tahun ?" tanya Gak In Ling dengan wajah tertegun-
"Inilah berkat belas kasihan dari ketua kami yang cantik
jelita" sambung salah seorang di antara empat dayang itu
dengan nyaring.
"Jika berganti dengan orang lain, mungkin engkau sudah
tiada bernyawa sedari tadi."
Gak In Ling menengadah memandang bintang yang
bertaburan diangkasa, lalu pikirnya. "Tuan putri yang tidak
pernah kujumpai ini memang seorang yang welas asih,
semoga saja dunia persilatan akan aman untuk selamanya." ia
berikan tanda pengenal Nirwana itu ketangan gadis baju hijau
dan berkata.
"Tanda pengenalmu ini kukembalikan, dua tahun bagi aku
Gak In Ling memang kelebihan beberapa bulan, batas waktu
yang kau berikan kepadaku sudah cukup bagiku untuk
menyelesaikan segala galanya . "
"oh..,..Jadi engkau adalah Gak In Ling?" ujar dara baju
hijau dengan terperanjat.
"Benar, akulah orang she Gak."

34
"Ketua kami ingin sekali berjumpa dengan dirimu, sekarang
kau ikut dengan kami. Mungkin detik itu juga dia akan berikan
obat tersebut kepadamu." Dari balik nada suaranya itu
terdengar nada girangnya yang tak terhingga.
"Tidak" jawab Gak In Ling sambil menggeleng. "Bila kita
berjumpa lagi lain waktu, entah dalam gedung pembunuhan
manakah pertemuan itu akan terjadi..."
Habis berkata ia buang tanda pengenal itu kearah seorang
dayang yang berada disisinya, lalu berjalan keluar dengan
langkah lebar.
Dara baju hijau itu terperanjat, tiba-tiba ia memburu maju
kedepan sambil menegur. "Jadi engkau hendak membunuh
orang lagi?"
"Dalam kehidupan aku Gak In Ling yang terbatas hanya
dua tahun, membunuh orang adalah tugas serta pekerjaanku
yang terutama." jawab pemuda itu tanpa berpaling lagi.
Dengan gesit badannya melompat naik keatas tembok
pekarangan kemudian lenyap dibaui kegelapan- Dengan
termangu-mangu dara baju hijau berdiri ditempat semula,
memandang bayangan punggung Gak In Ling hingga lenyap.
ia bergumam seorang diri. "Dua tahun-.. kehidupan yang
terbatas dua tahun"
Tiba-tiba wajahnya yang bersemu merah berubah hebat,
dengan terkejut serunya. "Ah... jangan, jangan dia telah..."
Kepada empat orang dayang yang berada di sisinya ia
berseru. "Ayo berangkat, kita pulang kemarkas besar."
Dengan termangu-mangu keempat orang dayang itu
memandang sekejap kearah tuanputri, seakan-akan mereka
telah memahami akan sesuatu dengan cepat dayang itu
menyusul dibelakang tuan putrinya berlalu dari situ.
----ooo0dw0ooo----

35
Dalam pada itu, setelah melompati pekarangan tembok
yang tinggi, Gak In Ling mencabut jarum beracun dari
telapaknya, setelah memandang kembali kegedung besar itu
berangkatlah si pemuda menuju kedalam kota.
Belum jauh pemuda itu berlalu, tiba-tiba berkumandanglah
serentetan bisikan nyamuk disisi telinganya, terdengar orang
itu berkata. "Gak-sicu, harap berangkat kedalam hutan
sebelah barat, aku ada persoalan yang hendak di bicarakan
dengan dirimu,"
Gak In Ling segera menghetikan langkahnya dan berpaling
kearah sebelah barat. Kurang- lebih lima puluh tombak dari
gedung keluarga Gak terbentanglah sebuah hutan yang lebar
dan luas sekali, diam-diam sianak muda itu merasa
terperanjat, pikirnya.
"Dari jarak lima puluh tombak orang itu bisa mengirim
suara dengan begitu jelasnya, hal ini menunjukkan bahwa
tenaga dalam yang dimilikinya jauh diatas kepandaian
manusia sesat dari selatan maupun manusia aneh dari utara
tapi siapakah dia ?"
Setelah mengambil keputusan didalam hati pemuda itupun
menuju kearah hutan disebelah barat. Ditengah kegelapan
yang mencekam diseluruh jagad, dengan cepatnya Gak In
Ling telah tiba ditepi hutan belantara tersebut, dengan sorot
mata yang tajam ia segera memeriksa keadaan di situ.
Tapi suasana tetap sunyi dan tak nampak sesosok
bayangan manusia pun, tanpa terasa ia berteriak keras.
"Siapakah taysu ? Ada urusan apa mencari aku ?"
"Omitohud Aku adalah Ku-Hud "jawaban yang nyaring
muncul dari balik hutan kurang lebih dua tombak
dihadapannya.

36
"Buddha Antik? Apakah dia belum mati?" pikir Gak In Ling
dengan hati terkejut, ia segera berpaling kearah mana asalnya
suara tadi.
Dari belakang sebuah pohon raksasa yang amat besar
kurang lebih dua tombak dihadapan-nya, perlahan-lahan
muncul seorang hwesio tua berjubah abu-abu yang
jenggotnya telah memutih semua, mukanya ramah dan sorot
matanya lembut, bagi siapapun yang memandang dirinya pasti
akan beranggapan bahwa dia adalah seorang padri suci yang
welas-kasih.
Dengan langkah yang lembut dan perlahan hwesio itu
berjalan mendekati sianak muda dan berhenti kurang lebih
lima depa dihadapannya.
"Taysu," ujar Gak In Ling kemudian sambil tertawa hambar,
"tingkah lakumu cukup membuat hati aku orang she Gak
merasa terkejut " ucapan kaku dan sama sekali tidak
bersahabat.
"Gak sicu," seru hwesio tua itu dengan suara berat, "semua
perbuatanmu dalam gedung besar itu telah menggusarkan
hati Sang Buddha yang maha suci."
Gak In Ling mendengus dingin, sorot mata nya yang tajam
menyapu sekejap kearah tangan kanan hwesio tua itu,
dibalikjubah yang panjang ia tidak menemukan lengan
tersebut...... rupanya padri itu sengaja menyembunyikan
lengannya atau memang buntung.
Maka jawabnya dengan lirih. "Siapa berani berbuat
kejahatan dia harus menerima pembalasannya, apa yang
terjadi didalam gedung itu hanya merupakan akibat dari
perbuatan mereka sendiri."
"Oooh....jadi kematian Tiang- kang Sam-kiatpun
dikarenakan perbuatan yang mereka laku kan sendiri ?" desak
hwesio tua itu lebih jauh dengan wajah serius.

37
"Sedikitpun tidak salah "jawab Gak in Ling sambil tertawa
dingin.
"Bolehkah aku tahu sebab-sebabnya ?"
"Tentang soal itu maafkan aku, rahasia ini belum dapat
kuceritakan kepadamu "jawab sang pemuda tegas.
Sekali lagi satu ingatan berkelebat dalam benak hwesio tua
itu, tiba-tiba ia bertanya. "Gak sicu, apakah engkau bernama
In Ling?"
"Bukankah taysu telah mengetahuinya? Kenapa harus
ditanyakan kembali ?"
"Gak sicu, engkau selalu memakai baju hitam dengan
kegagahan yang luar biasa, orang kang ouw telah mengetahui
akan dirimu itu, maka setelah kutemui dirimu tadi maka
akupun menduga bahwa engkau adalah orang yang sedang
kucari ternyata benar."
"Taysu, ada urusan apa engkau mencari aku orang she Gak
? Apakah dikarenakan urusan dalam gedung besar itu." kata
Gak In Ling sambil melirik kembali tangan kanan hwesio tua
itu.
Budha Antik berpikir sebentar. tiba-tiba ia menggeleng.
"Semula aku memang mempunyai tujuan demikian, tapi
sekarang aku sudah membataikan niatku itu, siapa berani
berbuat dia harus menanggung resikonya Meskipun perbuatan
sicu terlalu kejam dan tak kenal prikemanusiaan, tetapi
sebelum aku mengetahui sebab-sebabnya aku tak ingin
mengambil tindakan yang gegabah. Aku hanya berharap Gak
sicu suka cepat-cepat tinggaikan daratan Tlonggoan, sebab
orang lain belum tentu akan sesabar diriku."
"Siapa orangnya yang taysu maksudkan itu? Bolehkah aku
tahu ?"
---ooo0dw0ooo---

38
Jilid 2
"DUA orang gadis aneh yang tak pernah ribut dari dunia
persilatan "
"Salah satu diantaranya bukankah gadis suci dari Nirwana
?" seru Gak In Ling dingin.
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Aku sama sekali
tidak bermaksud untuk ribut atau merebut kekuasaan dengan
mereka."
"Engkau telah mengacau dan mengganggu ketenangan
dunia persilatan, membuat orang jadi tak tenang dan merasa
kuatir terus, menurut anggapanmu apakah mereka bersedia
melepaskan dirimu dengan begitu saja ?" Gak In Ling tertawa
tawa.
"Melepaskan diriku atau tidak aku orang she Gak takkan
menggubris, yang jelas setiap orang yang kucari tak ada
kemungkinan untuk hidup lebih lanjut dikolong langit ini."
Mendengar perkataan itu hwesio tua ini terperanjat, air
mukanya agak berubah tapi hanya sebentar saja telah lenyap
kembali, dengan suara hambar sengaja ia bertanya.
"Gak sicu, apakah engkau bersedia mengetahui siapakah
perempuan kedua yang kumaksudkan itu ?"
"Lebih baik kita tidak usah membicarakan tentang masalah
ini." tukas sang pemuda dengan cepat, setelah berhenti
sebentar tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara dalam. "Taysu,
orang she Gak ada satu permintaan, apakah taysu dapat
mengabulkan ?"
Sekali lagi air muka hwesio tua itu berubah hebat, sesudah
ragu-ragu sebentar, katanya.
"Asal aku bisa melakukan permintaanmu itu pasti akan
kupenuhi, katakanlah, apa permintaan sicu itu."

39
"Aku orang she Gak ingin sekali melihat tangan kanan taysu
itu"
Sepasang mata hwesio tua yang semula tertutup tiba-tiba
melotot besar, sinar yang tajam bagaikan pisau menatap
wajah pemuda itu tanpa berkedip. diatas wajahnya yang
tenang dan ramah terlintas napsu membunuh yang amat
tebal.
Hal ini menunjukkan bahwa ucapan dari Gak In ing telah
menyinggung perasaannya, atau telah menyinggung rahasia
hatinya. Sambil melangkah maju kedepan padri itu beerseru.
"Bolehkah aku mengetahui lebih dahulu, apa maksud Gak
sicu ingin melihat lengan kanan ini ?"
"Apakah taysu tidak bersedia ?" jawab Gak In Ling dengan
sorot mata tajam pula, "Toh pekerjaan ini terlalu gampang
dan bisa dilakukan oleh siapa pun."
"Hmm, engkau menaruh curiga bahwa aku merupakan
orang-orang yang harus menerima akibat dari perbuatanku
seperti halnya dengan Tiang- kang Sam- kiat sekalian ?"
"Tentu saja aku berharap bahwa engkau bukanlah orang
yang kumaksudkan itu ?"
hwesio tua itu segera tertawa dingin.
"Andaikata aku menampik permintaan dari sicu ?"
"Menampik ?" napsu membunuh melintas di atas wajah Gak
In Ling, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan
melanjutkan-
"Ha.... haa Buddha Antik, setelah aku orang she Gak punya
keinginan untuk melihat lengan kananmu. Maka engkau tak
akan bisa menampiknya kembali " Perlahan-lahan ia maju
kedepan dan mendekati Buddha Antik tersebut.
Napsu membunuh menyelimuti seluruh angkasa, dengan
pandangan tajam Buddha Antik menatap wajah musuhnya

40
tanpa berkedip. lalu ejeklnya sinis. "Engkau yakin bisa
menunjukkan keinginan mu itu"
Hawa murni secara diam-diam dihimpun ke dalam tubuh
dan siap melancarkan serangan, rupanya hwesio tua ini sudah
terbakar hatinya oleh napsu membunuh.
"Boleh coba saja "jawab Gak In Ling sambil maju kedepan-
Tiba-tiba ia membentak keras, dengan jurus kim liong-tamjiu
atau naga emas menunjukkan cakar mencengkeram bahu
Buddha Antik, gerakannya cepat mengejutkan, bayangan
manusia berkelebat lewat dan tahu-tahu serangannya sudah
mengancam tiba.
Buddha Antik tak menyangka kalau Gak In Ling dengan
usianya yang masih begitu muda ternyata mempunyai ilmu
silat yang luar biasa sekali, hatinya tercekat dan segera
mendengus dingin, badannya bergeser setengah depa
kesamping, telapak tangan kanan dilancarkan ke muka dari
arah samping, dengan jurus Kim-kong-ciang-si atau Malaikat
sakti turun kebumi, dihantamnya dada pemuda itu dengan
keras.
Angin pukulan menderu- deru bagaikan gulungan ombak di
tengah samudra dengan dahsyatnya menghantam datang,
tempat yang diancam adalah jalan darah kematian didepan
dada Gak In Ling, rupanya padri itu hendak membinasakan
lawannya dalam sekali gebrakan.
Menyaksikan serangannya mengenai tempat kosong, Gak
In Ling segera menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki
Buddha Antik sangat lihay, hatinya amat terperanjat dan kaki
kanannya buru-buru menutul tanah untuk putar badan,
dengan jurus ci-au-huang-liong atau membolak-balik naga
kuning, dia balas menghantam dada Buddha Antik, gerakan
tubuhnya tak kalah cepatnya dari serangan lawan danjurus
serangan yang digunakan aneh sekali.

41
Dari serangan yang dilancarkan sianak muda itu untuk
menyambut datangnya ancaman dengan keras lawan keras,
Buddha Antik tahu bahwa Gak In Ling pasti tak dapat
menghindarkan diri lagi dan terpaksa harus berbuat begitu,
melihat musuhnya yang baru berusia enam atau tujuh balas
tahun padri ini merasa tenaga dalamnya pasti akan jauh lebih
sempurna daripada pihak lawan-
Napsu membunuh segera memancar keluar dari balik mata
hwesio tua itu, hawa pukulan yang dipancarkan keluar dari
balik telapaknya segera diperlipat ganda.
Blaaam
Empat telapak saling beradu satu sama lainnya
menimbulkan suara ledakan yang amat dahsyat, gulungan
tanah dan pasir memancar setinggi puluhan tombak dari
permukaan tanah, ranting pohon putus daun berguguran,
suasana jadi kacau seakan-akan baru saja tertimpa bencana
angin topan-
Ditengah getaran keras, Buddha Antik secara beruntun
mundur empat langkah kcbelakang dengan sempoyongan,
darah panas dalam dadanya bergolak keras, sepasang
lengannya jadi kaku dan hatinya amat terkejut, pikirnya.
"luar biasa sekali , tidak dinyana dengan usianya yang
begitu muda ternyata dia memiliki tenaga dalam yang begitu
sempurna entah bagaimana caranya dia melatih diri hingga
mencapai taraf begitu tinggi...."
Tanpa terasa dia angkat kepala dan memandang kearah
lawannya, tapi dengan cepat hatinya terasa makin terkesiap.
Tampak pada permukaan tanah dimana Gak In Ling berdiri
terteralah sepasang telapak kaki yang membekas dalam diatas
tanah, jelas pemuda itu hanya terdorong mundur satu langkah
saja ke belakang, dan dari sini pula menunjukkan bahwa
tenaga dalamnya jauh lebih sempurna dari padri tua itu. Gak
In Ling tertawa seram, katanya.

42
"Buddha Antik, aku orang she Gak tidak ingin membunuh
orang tanpa dasar alasan yang kuat, seharusnya engkau harus
tahu diri."
Buddha Antik tertawa seram, setelah menyapu sekejap
sekeliling tempat itu, katanya.
"Gak In Ling, aku rasa orang yang takkan lolos dari
kematian bukanlah aku melainkan diri mu sendiri."
Dari perubahan wajah Buddha Antik, sianak muda itu
segera merasa mendapat suatu ftrasat tetapi diapun merasa
firasat itu tidak terlalu jelas, karena dengan ketajaman
pendengarannya ia sama sekali tidak mendengar suatu
apapun di sekitar sana.
"Buddha Antik, engkau jangan memaksa aku orang she Gak
untuk melakukan tindakan sadis...." seru pemuda itu,
langkahnya tetap tenang dan semakin maju kedepan
sementara naps u membunuh kian menebal menyelimuti
wajahnya.
Sejak bentrokan yang terjadi belum lama berselang,
Buddha Antik lebih menyadari bahwa tenaga dalam yang
dimiliki Gak In Ling jauh di atas kepandaiannya, ia tak berani
mandah bila diserang lagi.. Sebelum pemuda itu melancarkan
serangan mautnya, ia membentak keras dan melancarkan
pukulannya lebih dahulu.
Sekarang ia sudah tahu bahwa pemuda di hadapannya
adalah musuh yang tangguh, ia tak berani gegabah, lengan
bajunya yang lebar bergetar tiada hentinya mengirim
hembusan angin tajam, dalam waktu singkat ia telah
melepaskan tujuh pukulan dan tiga tendangan maut.
Terasalah dari empat arah delapan penjuru muncul
bayangan telapak dari Buddha Antik, angin serangan
sambung-menyambung tiada hentinya membuat orang sukar
untuk membedakan mana serangan yang sebenarnya dan
mana serangan palsu.

43
Angin pukulan menderu bagaikan pisau yang membelah
batu kurang membuat badan yang terhembus terasa sakit
bagaikan disayat, hal ini membuktikan bahwa padri tua ini
sudah dibikin terkejut oleh kelihayan musuhnya.
Napsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In
Ling, ditengah dengusan dingin diapun melancarkan serangan
untuk menyambut datangnya ancaman itu.
Bayangan hitam berkelebat lewat, tahu-tahu tubuh pemuda
itu lenyap dari pandangan, kemudian iapun melancarkan tujuh
buah pukulan dan lima kali tendangan untuk menyumbat
datangnya semua ancaman dari padri tua tersebut.
Buddha Antik mulai gelisah dan tidak tenang hatinya
menyaksikan serangan-serangannya tidak mendatangkan
hasil, gerakan jurusnya segera berubah, jurus-jurus ampuh
dari ilmu pukulan Kim-kong-ciang meluncur keluar tiada
hentinya.
Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah saling
menyerang sebanyak lima puluh jurus lebih akan tetapi
menang atau kalah masih sukar untuk ditentukan-
Tiba-tiba dari balik pepohonan disekeliling tempat itu
muncullah belasan orang manusia baju merah yang
berkerudung kain merah pula, selangkah demi selangkah
mereka mendekati gelanggang dimana kedua orang jago lihay
itu sedang melangsungkan pertarungan-
Dari posisi serta gerakan mereka yang mengepung seluruh
gelanggang pertarungan itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa
jebakan ini telah dipersiapkan sebelumnya oleh orang-orang
itu dengan rencana yang rapi.
Dalam pada itu pertarungan yang sengit antara Gak In Ling
melawan Buddha Antik telah mendekati seratus gebrakan,
meskipun menang kalah belum bisa ditentukan tetapi dari
keganasan jurus serangan yang dipancarkan serta perubahan

44
gerakan yang dilakukan mereka berdua, jelas kelihatan bahwa
Buddha Antik sudah terdesak dibawah angin-
Sambil melangsungkan pertarungannya yang seru dengan
mengirim pukulan-pukulan mematikan, Gak In Ling
memperhatikan terus telapak kanan Buddha Antik, tetapi
selama ini belum pernah ia saksikan padri tua itu
mengeluarkan telapak kanannya dari balik jubah lebarnya.
Dalam waktu singkat tiga puluh jurus kembali telah lewat,
diatas wajahnya yang merah mulai dibasahi oleh keringat
sebesar kacang kedelai, biji matanya yang jeli mengerling
tiada hentinya disekeliling tempat itu.
Sementara itu rombongan manusia berkerudung merah
yang mengepung sekeliling gelanggang telah mencapai kurang
lebih dua puluh tombak dari tempat berlangsungnya
pertarungan itu, namun mereka masih tetap menyembunyikan
dirinya di balik pohon dan tak seorang pun yang unjukkan
dirinya.
Suatu ketika telinga Gak In Ling yang tajam berhasil
menangkap suara langkah mereka yang lirih, hatinya kontan
terkesiap. Dan sekarang diapun sudah tahu apa sebabnya
Buddha Antik melirik tiada hentinya sekitar tempat itu,
rupanya ia telah menyiapkan orang disitu
Agaknya Buddha Antik sudah mendengar pula suara
langkah kaki yang lirih tadi, sorot mata tajam segera
memancar keluar dari kelopak matanya, mendadak ia
membentak keras, dengan jurus Kim-kong-hu-mo atau
Malaikat sakti tundukkan iblis, dia punahkan serangan Gak In
Ling yang sedang menggunakan jurus ci-te-cian-li atau tanah
merah seribu li, kemudian sepasang kakinya menjejak tanah
dan meloncat kearah mana berasalnya suara tadi.
Gak In Ling sama sekali tidak melakukan pengejaran, sanbil
menarik kembali serangannya dia berpaling kearah hutan dan
berseru.

45
"Kedatangan kalian semuanya, toh bertujuan pada diriku,
mengapa setelah sampai disini tidak berani unjukkan diri ?"
Dalam pada itu Buddha Antik telah menghentikan pula
gerakan tubuhnya sewaktu menyaksikan Gak In Ling tidak
melakukan pengejaran, tindakan pemuda itu jauh diluar
dugaannya, hal ini membuat padri tua itu merasa bukan saja
ilmu silatnya jauh lebih lihay daripada dirinya, kecerdikan
pemuda itupun tidak berada dibawahnya karena itulah
keinginannya untuk melenyapkan pemuda tersebut dari muka
bumi bertambah semakin tebal.
Perkataan dari Gak In Ling begitu diutarakan keluar, dari
dalam hutan segera bermunculan belasan orang manusia
berkerudung merah yang dengan cepat mengepung sianak
muda itu rapat-rapat.
Dandanan dari manusia-manusia berkerudung merah itu
tidak jauh berbeda dengan dandanan dari Pembantai manusia
bertangan seribu yang pernah muncul dalam gedung keluarga
Gak. satu hal membuat Gak In Ling tak habis mengerti yakni
ia tak habis tahu persengketaan serta permusuhan apakah
yang terikat antara dia dengan mereka, sehingga orang-orang
itu ada maksud menghabisi jiwanya.
Dengan pandangan yang tajam pemuda itu menyapu
sekejap sekeliling tempat itu kemudian menegur.
"Aku dengan saudara sekalian tidak pernah saling kenal
dan tidak pernah saling bertemu, ada urusan apa kalian
datang mencari diriku ?"
"Melenyapkan engkau untuk menutup bacot anjingmu"
jawab seorang manusia berkerudung merah dihadapannya
sambil tertawa dingin.
"Melenyapkan aku untuk menutup mulutku?" ulang pemuda
she Gak dengan keheranan, walaupun dalam hati amat
mendongkol namun hawa gusarnya dipaksa tetap bertahan
didalam dada.

46
Manusia berkerudung merah itu tertawa seram, katanya.
"Hah... . hah ... hah akhirnya toh pada malam ini engkau
bakal mati, toa-ya tak ada halangannnya untuk
memberitahukan kepadamu, peristiwa yang terjadi digedung
sebelah depan sana tadi sebenarnya bertujuan untuk
mamancing dua harimau saling bertempur, siapa tahu rencana
kami telah terlihat olehmu."
"Lalu siapakah kalian?" dengan pikiran yang semakin
bingung pemuda itu bertanya.
"Tibet....."
Belum sempat orang itu menyelesaikan kata katanya,
Buddha Antik yang berada dalam hutan telah memperingatkan
dengan suara dingin. "Sahabat, terlalu banyak yang engkau
katakan "
Manusia berkerudung merah itu kaget dan segera
menghentikan kata-katanya, sesaat kemudian ia berkata lagi
dengan ketus.
"Tentang persoalan yang lain, lebih baik kau tanyakan saja
setelah berjumpa dengan raja akhirat nanti "
Pada dasarnya memang Gak In Ling tiada bermaksud untuk
mencampuri urusan dunia persilatan, maka ia tidak bertanya
lebih jauh, sambil tertawa seram ujarnya.
"Haah.... haah.... haah... apakah kalian punya keyakiaan
bisa membinasakan aku orang she Gak ditangan kalian semua
?"
"Hee hee..... hee..... kalau tidak percaya, apa salahnya
untuk mencoba sendiri?"
Sambil tertawa dingin manusia berkerudung merah itu
segera menerjang kedepan, dengan jurus Ban-li-nui-hong atau
pelangi terbang selaksa li, orang itu membentuk gerakan
setengah busur di angkasa kemudian laksana kilat membacok

47
batok kepala pemuda musuhnya, gerakan dan jurus
serangannya aneh serta jarang ditemui dalam persilatan.
Sekilas memandang, Gak In Ling segera mengetahui bahwa
jurus serangan yang dipergunakan orang itu bukanlah berasal
dari daratan Tionggoan, hatinya jadi tertegun.
Dalam sekejap mata serangan dahsyat itu telah berada
didepan mata, Gak In Ling amat gusar dan segera hardiknya.
"Bangsat!! Rupanya engkau sudah bosan hidup "
Dengan jurus Mo-ya-cian-li atau gurun liar seribu li, laksana
kilat dia sambut datangnya ancaman itu.
"Blaaam " bayangan merah menyambar lewat, perawakan
tubuh orang itu yang tinggi besar segera mencelat sejauh satu
tombak lebih termakan oleh gulungan angin puyuh, ketika
mencapai tanah buru-buru dia gunakan gerakan ikan lei-hi
meletik dan loncat bangun dari tanah.
Sekali lagi Gak In Ling dibikin terperanjat oleh ketangguhan
musuhnya, walaupun dalam serangan barusan ia hanya
menggunakan tenaga sebesar delapan bagian, namun orang
itu bisa bertahan diri sehingga tak sampai terluka, hal ini
menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini
amat sempurna.
Demikian pula keadaan dari manusia-manusia berkerudung
merah itu, ketika mereka saksikan rekannya itu terhantam
sampai terpental sejauh itu oleh serangan Gak In Ling, rasa
kaget dan tercekat dengan cepat menyelimuti hati mereka
semua
Diiringi bentakan keras orang-orang itu segera
menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, kemudian
selangkah demi selangkah maju mendekati sianak muda itu.
Gak In Ling sendiri lama kelamaan jadi mendongkol juga
setelah dirinya didesak lawan, dengan nada menyeramkan ia
berseru.

48
"Manusia tiada maksud mencelakai harimau, rupanya sang
harimau ada maksud mencelakai orang hmm, kalianjangan
salahkan diriku kalau aku bertindak kejam "
Hawa murni yang amat sempurna segera di himpun
kedalam telapak tangannya yang putih bersih perlahan-lahan
berubah jadi semu merah dan akhirnya jadi merah membara.
Manusia berkerudung merah yang kena di hantam sampai
mencelat tadi dendam sekali terhadap musuhnya, melihat
pemuda itu sudah bersiap sedia, ia segera membentak keras.
"Kawan-kawan, ayo serbu Mari kita cincang bajingan ini."
Belasan sosok bayangan merah segera menerjang maju
kedepan, deruan angin pukulan dengan hebatnya menghajar
tubuh anak muda itu.
"Hmm, bajingan yang tak tahu diri, rupanya kalian
semuanya sudah bosan hidup " terlak Gak In Ling gusar.
Sepasang telapaknya segera diayunkan ke muka silih
berganti, cahaya merah yang amat menyilaukan mata segera
meluncur keluar keudara dan menyelimuti daerah seluas
beberapa puluh tombak disekeliling tempat itu.
"Aah telapak maut ?" tiba-tiba Buddha Antik menjerit kaget.
Pada waktu Buddha Antik menjerit kaget, saat itu pula
belasan orang berkerudung merah sedang kehilangan jejak
dari Gak In Ling, tanpa sadar mereka angkat kepala keatas.
Kontan saja hati mereka amat terkejut dan sukma serasa
melayang tinggalkan raga setelah menyaksikan cahaya merah
yang amat menyilaukan mata menyelimuti diatas batok kepala
mereka pada jarak-yang hanya setengah depa. "Aaah, telapak
maut ?" jerit orang-orang itu dengan amat terkejut.
"Telapak maut ?"
---ooo0dw0ooo---

49
Kepanikan timbul diantara para jago berkerudung merah,
mereka berusaha untuk melarikan diri dari ancaman maut
yang sudah berada didepan mata, tapi sayang sekali usaha
mereka ini di lakukan sedikit terlambat.
Jeritan ngeri yang mengerikan dan menyayatkan hati
bergema membumbung tinggi keangkasa, memecahkan
kesunyian yang mencengkam seluruh hutan belantara
ditengah malam buta itu dan mendirikan bulu roma siapa pun
yang mendengarnya.
Kutungan lengan dan kaki berserakan di mana-mana, darah
segar berhamburan menodai daerah seluas beberapa tombak
disekitar tempat itu, mayat bergelimpangan dimana-mana dan
keadaan nampak ngeri sekali.
Dari belasan orang manusia berkerudung merah yang
melancarkan setangan gabungan, tak se-orang manusia pun
yang berhasil meloloskan diri dari ancaman bahaya maut itu.
Gak In Ling sendiri dengan senyuman yang sadis
tersungging diujung bibir perlahan-lahan melayang turun
kembali keatas permukaan tanah, begitu tenang wajahnya
membuat orang tak bisa menduga apa yang sedang
dipikirkannya.
Buddha Antik dengan pikiran termangu-mangu
menyaksikan mayat dari anak buahnya bergelimpangan diatas
tanah, dalam hati merasa bersyukur karena sewaktu bertarung
melawan dirinya pemuda itu tidak sampai mengeluarkan ilmu
telapak mautnya, kalau tidak, mungkin dia pada saat ini sudah
menggeletak diatas tanah sebagai mayat.
Dengan pandangan mata yang tajam Buddha Antik
menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. sementara
tubuhnya perlahan-lahan melangkah mundur dengan
ketakutan-Tiba-tiba satu ingatan berkelebat didalam
benaknya, ia berpikir.

50
"Apa salahnya kalau kupancing bajingan cilik ini ketempat
itu, agar bisa kupinjam kekuatannya untuk melenyapkan
bangsat ini dan muka bumi?"
Setelah mempunyai rencana tersebut, dengan cepat
tubuhnya meloncat mundur sejauh beberapa puluh tombak
dari tempat semula.
Gak In Ling sendiri walaupun di luaran dia nampak tenang,
padahal batinya sedang bergolak keras, wataknya yang ramah
membuat ia merasa tidak sepantasnya untuk membinasakan
semua orang berkerudung merah itu, karena pikirannya tidak
tenang maka untuk sementara waktu Budha Antik sudah
terlupakan olehnya.
Sementara ituBuddha Antik telah mengundurkan diri sejauh
dua puluh tombak lebih, dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Dari tempat ini menuju kesitu jaraknya hanya dua puluh li
lebih sedikit, sekalipun gerakan tubuh Gak in Ling lebih
cepatpun, dalam jarak dua puluh li belum tentu ia bisa
melampaui jarak antara diriku dengan dia sejauh dua puluh
tombak ini "
Berpikir sampai disini, senyuman licik yang menyeramkan
terlintas diatas wajahnya, ia putar badan dan sengaja
mendepakkan kakinya keatas tanah, kemudian dengan
cepatnya dia melayang menuju kearah timur.
"Ploookk " suasa benturan nyaring menyadarkan-lamunan
sianak muda itu, dengan cepat Gak In Ling angkat kepala,
setelah dilihatnya Buddha Antik telah berada kurang lebih dua
puluh tombak jauhnya, ia segera membentak nyaring.
"Bangsat Engkau hendak lari kemana ?"
Dengan cepat pemuda itu enjotkan badan dan mengejar
dari arah belakang dengan hebatnya.
Sementara itu bulan telah condong kearah barat, waktu
menunjukkan sekitar kentongan keempat.

51
Dengan kecepatan gerak dari Gak In Ling tidak selang
beberapa saat kemudian ia telah mengejar keluar dari hutan
belantara itu, dari kejauhan dia lihat Buddha Antik sedang lari
terbirit-birit disebelah depan-
Sambil mengejar pemuda itu membentak dengan gusar.
"Buddha Antik, kendatipun engkau kabur kelangit barat,
aku orang she Gak bersumpah untuk mengejar dirimu sampai
dapat."
Hawa murni disalurkan makin hebat, kecepatan gerakanpun
makin meningkat, tampaklah sesosok bayangan hitam
bagaikan sambaran kilat yang membelah angkasa mengejar
padri tua itu.
setanakan nasi kemudian, kedua orang itu sudah berada
sejauh lima li dari tempat semula, jarak diantara merekapun
dari dua puluh lima tombak menyusut menjadi lima enam
belas tombak belaka.
Dengan sekuat tenaga Buddha Antik kabur menuju
kesebuah bukit kecil disebelah dalam, sepanjang jalan
terdapat banyak tempat yang bisa digunakan olehnya untuk
menyembunyikan diri atau kabur dari pengejaran lawan, akan
tetapi tempat-tempat itu dilewatkan dengan begitu saja dari
sini bisa ditarik kesimpulan bahwa ia memang mempunyai
rencana-rencana tertentu.
Sayang sekali pada waktu itu Gak In Ling sedang diliputi
oleh kegusaran yang berkobar-kobar, sehingga semua tanda
yang mencurigakan itu tidak sampai diperhatikan olehnya.
Dalam waktu singkat dua tiga li telah dilewati kembali, di
sebuah puncak bukit tiba-tiba muncul sebuah kuil kuno yang
megah dan kokoh Buddha Antik kabur menuju kearah kuil itu.
Jarak diantara mereka berdua kini sudah tinggal kurang
dari sepuluh tombak. Gak In Ling tertawa seram, serunya.
"Buddha Antik, akan kulihat engkau akan kabur kemana ?"

52
Dari suaranya yang terpancar keluar dari mulut sianak
muda itu, Buddha Antik mengetahui bahwa jarak antara dia
dengan Gak In Ling sudah tinggal kurang dari sepuluh
tombak. saking ngeri dan takutnya keringat dingin mengucur
ke luar membasahi tubuhnya, dia tarik napas panjang-panjang
dan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk
kabur menuju kedalam kuil.
Kuil kuno yang berada dihadapannya kian lama kian
bertambah dekat, sambil tetap melakukan pengejaran Gak In
Ling memperhatikan sekejap bangunan kuil yang berada
dihadapannya, ia lihat kuil tersebut masih kokoh dan sama
sekali tidak nampak terbengkalai, hanya pintu kuil tadi sudah
lenyap dari tempat semula. Satu ingatan berkelebat dalam
benaknya, pikir pemuda itu.
"Jangan-jangan didalam kuil ini Buddha Antik telah
menyiapkan jebakan bagiku " Sementara otaknya masih
berputar, jarak lima enam tombak diantara mereka berdua
telah berhasil ditarik lebih pendek lagi sehingga dua tombak
belaka.
Gak In Ling sangat gelisah, ia membentak keras dan
menggunakan jurus Jan-hong-im-siang atau Naik angin pulang
kembali, dia babat punggung padri tua itu keras-keras.
Buddha Antik sebagai seorang jago kawakan yang sudah
sering menghadapi musuh tangguh, sedari tadi telah menduga
bahwa Gak In Ling bakal melancarkan serangan semacam itu
ketika mendengar deruan angin tajam menyapu datang dari
arah belakang, buru-buru ia enjotkan badan nya sekuat
tenaga dan melayang kedepan-
Ketika angin pukulan yang dilancarkan si-anak muda itu
menyerang datang, bukan saja pukulan itu tidak sampai
melukai tubuhnya, bahkan malah menambah kecepatan gerak
padri tua itu untuk menerjang masuk kedalam ruang kuil,
menunggu pemuda itu berhasil mengejar sampai di depan kuil

53
tersebut ia sudah menerobos masuk keruang tengah. Gak In
Ling mendengus dingin, serunya.
"Sekalipun engkau sudah siapkan selaksa prajurit di tempat
ini, aku orang she Gak tak jeri "
Hawa murninya disalurkan kedalam sepasang telapak.
kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk kedalam
ruang kuil itu.
Setelah masuk lewat pintu, didalam terbentang sebuah
halaman yang sangat luas, tetapi karena tak pernah dirawat
dan disapu maka rumput ilalang dan daun yang berguguran
memenuhi seluruh permukaan tanah membuat suasana
nampak mengenaskan-
Tepat didepan halaman luas itu merupakan sebuah ruang
tengah yang megah, Gak In Ling memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, ia lihat dikedua belah sisi ruang tengah
itu merupakan sederetan kamar tamu yang pintu dan
jendelanya tertutup rapat, sarang laba-laba menyelimuti
sekeliling tempat itu, hal ini membuktikan bahwa Buddha Antik
tak mungkin bersembunyi di-tempat itu.
Kecuali ruang tengah yang megah, tiada jalan lain menuju
keruang dalam. Tanpa ragu-ragu lagi Gak In Ling meloncat
masuk kedepan ruang tengah dan dengan sekuat tenaga
mendorong pintu itu.
Kraak Pintu terbuka lebar, ternyata-pintu tidak terkunci dari
dalam.
Dengan langkah lebar Gak In Ling menuju keruang tengah,
ketika sorot matinya menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
tiba-tiba ia tertegun dan berpikir didalam hati. "Jangan-jangan
kuil ini ada penghuninya."
Ruangan itu bersih dan bebas dari debu, pada sisi kedua
belah dinding tembok teraturlah dua deret lilin merah yang

54
amat besar dan masih baru, rupanya lilin-lilin itu baru diatur
belum lama berselang.
Diatas meja sembahyang tepat ditengah ruangan
bersemayamlah sebuah patung Ji-lay-hud yang tingginya dua
tombak^ sekeliling patung tadi berderet pula delapan buah
patung malaikat bermuka hijau, bertaring dan menyeramkan
sekali tampangnya.
Tempat hlo didepan meja sembahyangan telah
dilenyapkan, sedang dikedua belah meja disisinya tertancap
pula dua buah lilin raksasa berwarna merah yang besarnya
bagaikan lengan-
Makin memandang Gak In Ling merasa semakin curiga, ia
segera memeriksa sekeliling ruang itu, ia lihat setiap sudut
pintu yang terdapat di situ berada dalam keadaan terkunci
dari luar, kecuali itu tiada jalan keluar lainnya, hal ini semakin
mencurigakan hatinya.
"Aaah.. ...jangan-jangan Buddha Antik memang tidak
masuk kedalam kuil ini." pikirnya di dalam hati.
Dengan pandangan tajam dia awasi langit-langit ruangan
tersebut, ia lihat pada dinding di-atas patung raksasaJi-lay-hud
terdapat sebuah lubang goa yang luasnya lima depa, satu
ingatan segera berkelebat dalam benaknya dan pemuda itu
dan bergumam. "Mungkinkah dari tempat itu ia bisa masuk
keruang dalam kuil ini ?"
Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, kaki kanan segera
menjejak tanah dan tubuhnya segera meloncat naik kearah
lubang goa tersebut.
Baru saja Gak In Ling melayang naik kearah lubang goa
tadi, tiba-tiba dari luar kuil berkumandang datang suara dari
empat orang dara muda, suaranya jelas dan nyaring dan
berasal dari pintu masuk kuil itu.

55
Gak In Ling segera menyusup masuk kedalam gua itu,
tempat itu bersih dan kering tapi tiada pintu lain yang
menghubungkan ruang tengah dengan ruang belakang, hal ini
semakin membingungkan hatinya.
suara langkah berkumandang makin dekat, kali ini suara
tersebut berasal dari halaman tengah.
Gak In Ling makin gelisah, pikirnya.
"Ditinjau dari suara yang berkumandang tadi, jelas yang
datang adalah kaum wanita, sebelum mendapat izin aku telah
menerobos masuk keruang sembahyang orang yang telah
disiapkan, andaikata sampai diketahui oleh mereka aku tentu
akan kikuk dengan sendirinya. tapi akupun tak dapat keluar
pada saat ini, apa dayaku sekarang."
Mendadak satu ingatan berkelebat lagi dalam benak
pemuda she Gak itu, pikirnya lebih jauh.
"Bukankah Buddha Antik juga sudah masuk kedalam
ruangan ini, aku tak bisa keluar berarti diapun tak dapat
keluar... tempat ini letaknya sangat tinggi, dari sini justeru aku
bisa mengawasi semua gerak-geriknya." berpikir sampai disini,
ia segera menarik pintu dan mengintip keluar lewat celahcelah
yang terbuka.
Kraaak Pintu masuk ruang tengah dibuka orang, disusul
masuklah dua orang perempuan berusia setengah baya. Gak
In Ling tertegun, pikirnya.
"Oooh rupanya yang muncul ditempat ini adalah jago-jago
persilatan-"
Rupanya pada punggung kedua orang perempuan itu
masing-masing tersoren sebilah pedang panjang.
Setelah masuk kedalam ruangan, dengan cekatan sekali
dua orang perempuan setengah baya itu memasang api pada
lilin raksasa yang tersedia dalam waktu singkat semua lilin

56
sudah dipasang dan diruangan itupunjadi terang benderang
bermandikan cahaya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, dua orang perempuan
setengah baya itu mengundurkan diri kembali dari ruangan
dan menanti didepan pintu masuk dengan sikap yang sangat
hormat.
Gak In Ling seketika mengerutkan dahinya, ia berpikir.
"Waah jangan-jangan mereka sedang menantikan
kedatangan seseorang."
Beberapa saat kemudian dari luar pintu muncul kembali
dua orang nenek tua berusia tujuh-puluh tahunan yang
rambutnya telah beruban semua dan berwajah serius.
Kedua orang nenek tua itu mengenakan baju berwarna biru
laut, pada masing-masing bagian dadanya terukirlah seekor
burung hong berwarna putih yang amat besar.
Setelah masuk kedalam ruangan, dua orang nenek tua tadi
berjalan menuju kedua belah sisi meja sembahyangan,
mereka berdiri disitu dengan sikap yang jangat hormat. Gak In
Ling semakin keheranan, pikirnya lebih jauh.
"Jangan-jangan ditempat ini akan kedatangan seseorang
yang kedudukannya jauh lebih tinggi dan penting dari semua
orang itu?"
Belum habis pemuda itu berpikir, dari luar pintu muncul
kembali delapan orang kakek tua berusia enam puluh
tahunan, mereka masuk kedalam ruangan dan masing-masing
berdiri dibawah kedua orang nenek tadi.
Kini dalam ruangan telah hadir belasan orang banyaknya,
tetapi suasana masih tetap hening, sunyi dan tak kedengaran
sedikit suara-pun, suasana diliputi kemisteriusan-
Dengan cepat segenap perhatian Gak In Ling tertarik oleh
kemisteriusan serta keanehan yang menyelimuti tempat itu,

57
hampir saja ia melupakan diri Buddha Antik. Tiba-tiba dari
halaman tengah berkumandang datang suara seruan yang
amat nyaring. "Pangcu tiba"
Belasan orang yang ada dalam ruangan segera bangkit
berdiri dan bersikap dengan hormat.
Bayangan putih berkelebat lewat dari pintu luar, seorang
gadis berbaju putih bergaun putih dengan sulaman burung
hong merah diatas dadanya masuk kedalam ruangan diikuti
empat orang dayang cantik yang bersulamkan burung hong
putih diatas dadanya.
Gak In Ling berseru tertahan setelah menyaksikan
kemunculan dara cantik itu, pikirnya didalam hati.
"Aaaah sungguh tak nyana dikolong langit terdapat gadis
yang begini cantik jelita, jangan-jangan dia adalah salah
seorang dari dua gadis aneh dari kolong langit yang
dimaksudkan Buddha Antik ?"
Menyukai yang indah adalah watak setiap manusia,
meskipun Gak In Ling merasa amat kagum atas kecantikan
wajah gadis itu, akan tetapi kekagumannya ini sama sekali
tidak didasari pikiran yang sesat, bahkan ia sama sekali tidak
berharap bisa berjumpa dengan dirinya, karena dia tidak ingin
melibatkan dirinya dalam urusan dunia persilatan-
Gadis itu mempunyai potongan wajah bulat telur, alisnya
panjang dan melengkung keatas, sepasang biji matanya jeli
dan bening, senyuman menghiasi bibirnya yang mungil hingga
nampak sebaris giginya yang berwarna putih, begitu cantik
dan menarik gadis itu sehingga boleh dikatakan bagaikan
bidadari yang baru turun dari kahyangan-
Perlahan-lahan gadis cantik baju putih itu masuk kedalam
ruangan, biji matanya yaag jeli menyapu sekejap
kepermukaan tanah kemudian secara tiba-tiba ia mengangkat
kepala dan memandang sekejap kearah tempat
persembunyiannya Gak In Ling, dengusan dingin segera

58
menggema memecahkan kesunyian, namun ia tetap
melanjutkan langkahnya menuju kemeja pemujaan-
Dua orang diantara dayang cantik maju ke-depan
memasang lilin raksasa yang ada diatas meja pemujaan,
sedang dua dayang lainnya mengambil kursi dan permadani
dari belakang meja tersebut
Setelah ambil tempat duduk. gadis cantik baju putih itu
berkata dengan suara dingin. "Gusur kemari Telapak-harimauputih
Tam Hong "
Nenek tua yang ada disebelah kanan memberi hormat, lalu
dengan suaranya yang melengking dan tajam ia berseru.
"Bawa masuk Telapak-harimau-putih Tam Hong kedalam
ruangan "
Dari luar pintu kuil muncul seorang pria baju hitam,
dikedua belah sisinya mengikuti dua orang pria baju hijau
yang membawa pisau belati.
Setelah masuk kedalam ruangan, pria baju hitam itu
dengan pandangan ketakutan melirik sekejap kesekeliling
tempat itu, kemudian jatuhkan diri berlutut dihadapan gadis
cantik baju putih itu sambil ujarnya dengan nada gemetar.
"Tecu Telapak-harimau-putih Tam Hong memberi hormat
kepada pangcu "
"Hmm, Tam Hong, apa yang hendak kau katakan lagi?"
tegur gadis baju putih itu sambil mendengus.
"Tecu mengaku salah, harap pangcu suka memberi
kesempatan kepada tecu untuk bertobat dan jadi manusia
baru..."
"Hmm, engkau sebagai anggaota perkumpulan Thian-hongpang,
tak dapat menegakkan keadilan dan kebenaran bagi
umat persilatan, babkan berani melanggar pantangan untuk
berbuat zinah, jika aku ampuni jiwamu, lalu bagaimanakah
tanggung jawabku terhadap semua anggaota perkumpulan ?

59
Bagaimana pula tanggung jawabku terhadap umat persilatan ?
coba katakan "
Mendengar ucapan itu Telapak-harimau-putih Tam Hong
jadi ketakutan setengah mati sehingga seluruh badannya
gemetar keras. "Pangcu " rengeknya.
"Hmm, peraturan perkumpulan Thian-hong-pang tak bisa
dirubah lantaran engkau seorang." tukas gadis baju putih
dengan ketus, setelah berhenti sebentar bentaknya. "Tongcu
bagian hukuman, dimana kau ?"
Nenek tua yang ada disebelah kanan segera tampil
kedepan dan memberi hormat.
"Hamba siap menantikan perintah " sahutnya.
"Bila ada anggaota berani berbuat zinah, apa hukumannya
?" seru gadis baju putih dengan wajah serius.
"Bunuh diri didepan patung pemujaan "
Setelah memberikan jawaban tersebut, dengan gerakan
yang terlatih nenek tua itu berpaling kearah dua orang pria
yang memegang pisau belati didepan pintu, lalu berseru.
"Siapkan pisau hukuman "
Dua orang pria itu segera mengiakan dan maju kedepan,
dua bilah pisau belati tadi ditancapkan didepan Telapakharimau-
putih Tam Hong kemudian setelah memberi hormat
kepada ketuanya buru-buru mengundurkan diri dari ruangan-
Dengan pandangan ngeri dan ketakutan Tam Hong si
Telapak-harimau-putih memandang pisau belati yang berada
dihadapannya, kemudian berpaling kearah gadis baju putih
dengan perasaan mohon balas kasihan, namun ia hanya bisa
memandang dan tak berani bicara lagi.
Menyaksikan tingkah laku orang itu, gadis baju putih
segera menegur dengan suara ketus. "Tam Hong, apa yang
kau nantikan lagi?"

60
Dengan putus asa Telapak-harimau-putih menghela napas
panjang, ia cabut pisau belati di hadapannya dengan tangan
gemetar, kemudian gumamnya lirih.
"Aiii sekali salah bertindak sepanjang masa merasa
menyesal. Tam Hong mohon pamit dari pangcu "
Setelah memberi hormat pada gadis baju putih itu, pisau
belati dalam genggamannya segera ditusuk kedalam dadanya
sendiri.
craaatt Percikan darah segar berhamburan diatas lantai,
tubuh Tam Hong yang berlutut diatas tanah perlahan-lahan
membungkuk dan akhirnya terkapar diatas tanah dalam
keadaan tak bernyawa.
Semua jago yang berada dalam ruangan itu tetap bersikap
tenang bahkan air muka mereka sama sekali tak berubah,
seakan-akan mereka tidak ada yang menggubris atau tertarik
oleh kematian dari Telapak-harimau-putih Tam Hong.
Lain halnya dengan Gak In Ling yang bersembunyi diatas
patung pemujaan tersebut, dengan hati kaget, pikirnya.
"Tidak kunyana gadis secantik ini ternyata memiliki hati
yang begitu kejam dan sama sekali tak kenal prikemanusiaan-
"
Sementara itu gadis baju putih tadi telah menghela napas
sedih, katanya.
"Gotong keluar jenasah Tam Hong dan kebumikan secara
baik-baik, dari kelompok Thian-hong-pang kita kembali
kehilangan seorang anggota."
Tongcu bagian hukuman menerima perintah, ia segera
memerintahkan dua orang pria yang membawa pisau belati
tadi untuk menggotong pergi jenasah dari Telapak-harimauputih
Tam Hong dari dalam ruanganTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
61
Menanti mereka telah berlalu nenek tua yang ada disebelah
kiri baru maju kodepan dan berkata.
"Lapor pangcu, menurut penyelidikan dari murid bagian
pemeriksa, dewasa ini sudah ada tujuh orang petugas kita
yang menemui ajalnya di-tangan anggaota kelompok Yau-tilengcu,
harap pangcu suka mengambil keputusan untuk
melakukan pembalasan-"
Gadis baju putih mendengus dingin. "IHmm, Yau-ti-lengcu
keterlaluan sekali, besok engkau utus orang untuk memberi
khabar kepadanya bahwa sepuluh hari kemudian pada malam
bulan purnama aku hendak menuntut keadilan darinya, suruh
dia datang menemui aku seorang diri"
"seorang diri? Apakah pangcu juga akan pergi seorang
diri?"
Gadis baju putih mengangguk. "Mungkin kehidupanku
dengan dirinya dikolong langit menyebabkan dunia persilatan
jadi tak aman dan selalu kacau, seandainya kami berdua
bersama-sama mati, mungkin dunia persilatan akan menjadi
tenang dan tidak akan terjadi pertikaian-pertikaian lagi."
"Pandangan hamba justru merupakan kebalikan dari
pendapat pangcu." ujar nenek yang ada disebelah kanan-
"Dunia persilatan bisa menjadi aman tenteram seperti saat ini,
kesemuanya tidak lain adalah berkat perlindungan dan
kebijaksanaan dari pangcu, banyak kejadian yang bisa kita
jadikan bukti, aku rasa pangcu sendiripun telah mengetahui
semuanya."
Tiba-tiba nenek yang ada disebelah kiri mengerling sekejap
kearah nenek sebelah kanan, kemudian alihkan pembicaraan
ke masalah lain, katanya.
"Persoalan ini menyangkut keutuhan serta keamanan dunia
persilatan, tentang masalah itu bisa kita bicarakan lagi
dikemudian hari secara seksama dan lebih terperinci persoalan
yang memusingkan kepala saat ini hingga mengakibatkan

62
ketidak tenangan dunia persilatan justeru menyangkut diri
seorang pemuda yang bernama Gak In Ling, bagaimanapun
juga kita harus mencari akal untuk melenyapkan orang ini dari
mula bumi."
"Sekarang orang itu berada dimana ?" tanya gadis baju
putih dengan wajah tertegun setelah mendengar perkataan
itu, dari nada ucapannya jelas diapun memandang serius
persoalan ini.
Gak ln Ling yang bersembunyi diatas patung pemujaan
merasa terkejut, pikirnya.
"Apa sangkut pautnya antara aku orang she Gak dengan
kalian? IHmrm...... kalau sampai menjengkelkan hatiku,
jangan salahkan kalau perkumpulan Thian- hong pang pun
akan kubasmi juga . "
Sementara itu nenek tua yang ada disebelah kiri telah
berkata kembali.
"Malam ini baru saja ia membunuh cin-hway Ngo-gi dalam
gedung keluarga Gak. menurut pikiran hamba dia belum pergi
terlalu jauh, sampai malam nanti kemungkinan besar masih
berada disekitar kota cin hway, bagaimana kalau sekarang
juga kita pergi mencari dirinya dan melenyapkan orang ini
lebih dahulu ?"
"Begitupun boleh juga "jawab gadis baju putih sambil
mengangguk.
"Kalau begitu silahkan pangcu pulang dulu kemarkas besar,
biarlah hamba serta tongcu bagian hukuman yang melayani
dirinya."
"Hmm, kalau begitu kalian berdua harus hati-hati "
Melihat ketuanya hendak berlalu dari situ, nenek yang ada
disebelah kanan segera berseru.
"Siapkan kereta untuk pangcu, kita pulang kemarkas "

63
Tiba-tiba gadis baju putih itu membentak dengan nada
dingin. "Tunggu sebentar "
"Pangcu, masih ada urusan ana lagi ?" tanya nenek tua itu
dengan wajah tertegun.
Gadis baju putih itu tidak menjawab, perlahan-lahan ia
berjalan menuju keruang tengah, kemudian sambil
menengadah menatap tempat persembunyiannya sianak muda
ia menegur sambil tertawa seram.
"Jago lihay dari manakah yang ada disitu ? Apa salahnya
kalau turun kebawah dan bertemu dengan kami ?"
Gak In Ling tertegun, ketika ia menengok kebawah maka
terlihatlah semua jago yang berada dalam ruangan telah
membentuk posisi setengah lingkaran busur, dan tepat sekali
menyumbat jalan keluar lewat pintu ruangan, hatinya
tercekat.
Gak In Ling sadar bahwa tempat persembunyiannya sudah
ketahuan orang, tapi ia tak tahu bagaimana caranya gadis
baju putih itu dapat mengetahui persembunyiannya, sebab
sejak munculnya gadis itu dalam ruangan, pemuda Gak
merasa tak pernah menimbulkan sedikit Suarapun.
Perlahan-lahan Gak In Ling membuka pintu dan melongok
keluar, kebetulan sekali epasang mata gadis baju putih itu
sedang menatap keatas tatkala sepasang masa bertemu atu
sama lainnya gadis itu merasa jantungnya berdebar keras,
meskipun raut wajahnya ama sekali tidak menunjukkan
perubahan apapun, namun dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Hmm, betapa tampannya pemuda ini."
---ooo0dw0ooo---
Para jago anggaota perkumpulan Thian- hong pang yang
berada dalam ruangan itupun seketika merasa pandangan
matanya jadi silau, dan hampir bersamaan waktunya mereka
berseru didalam hati.

64
"Sungguh tak nyana dikolong langit terdapat pemuda begini
tampan wajahnya."
Dengan sikap yang angkuh Gak In Ling melayang turun
keatas tanah, setelah memberi hormat kepada gadis baju
putih itu ujarnya hambar.
"Secara tidak sengaja aku telah sampai di-tempat ini karena
sedang mengejar seseorang, lagipula aku tak tahu kalau
perkumpulan anda hendak mengadakan upacara ditempat ini,
jika kedatanganku telah mengganggu ketenangan kalian,
harap pangcu suka memberi maaf yang sebesar-besarnya."
Pemuda ini tidak ingin dirinya terlibat dalam masalah dunia
persilatan, maka ucapan tersebut diutarakan dengan sikap
yang amat hormat.
Siapa tahu gadis baju putih itu segera mendengus dingin,
bukannya menjawab, ia malah sebaliknya bertanya.
"Engkau mengenakan pakaian baju hitam, berusia enamtujuh
belas tahunan, aku rasa mungkin engkau adalah Gak In
Ling yang bikin ketidak tenangan dalam dunia persilatan
belakangan ini, bukankah begitu ?"
Gak In Ling adalah seorang pemuda yang berwatak tinggi
hati, melihat kekasaran dara tersebut kontan ia naik pitam,
tapi hawa amarahnya masih berusaha ditekan dalam hati,
sambil tertawa tawa dia menyahut. "Sedikit pun tidak salah,
aku adalah Gak In Ling"
Para jago dari perkumpulan Thian-hong-pang jadi gempar
setelah mengetahui bahwasanya pemuda baju hitam yang
berada dihadapaa mereka bukan lain adalah Gak In Ling yang
hendak mereka cari dan bunuh, semangat semua orang
berkobar dan tanpa terasa maju selangkah kedepan, kepalan
siap dilancarkan melancarkan serangan-
Menyaksikan keadaan tersebut, untuk kedua kalinya Gak In
Ling berusaha untuk menekan hawa amarah yang membakar

65
dalam dadanya, sorot matanya berkilat dan sambil mendengus
dingin ia berseru.
"Hmm, selamanya aku orang she Gak tidak pernah
mengikat permusuhan atau perselisihan apa pun dengan
kalian orang-orang dari Thian-hong-pang, apa sebabnya kalian
bersikap demikian bermusuhan terhadap diriku ?" Gadis baju
putih itu tertawa dingin.
"Tiang kang Sam- kiat apakah mati ditanganmu ?" tegurnya
ketus.
Mengungkap tentang tiga jagoan dari sungai Tiang- kang
tersebut, napsu membunuh terlintas dalam mata sianak muda
itu, ia maju selangkah kedepan dan balik menegur. "Oooh,
apakah Tiang- kang Sam- kiat itu adalah anggaota
perkumpulanmu ?"
Suaranya begitu dingin dan menyeramkan bagaikan
hembusan angin dingin dari liang kuburan, membuat siapa
pun yang mendengar seketika merasakan bulu kuduknya pada
bangun berdiri.
Gadis baju putih merasakan jantungnya berdebar keras,
buru-buru ia alihkan sorot matanya dari atas wajah pemuda
itu kearah lain, perasaan aneh seperti ini baru dialami olehnya
pertama kali ini, dia sendiri merasa heran, apa sebabnya dia
tak berani menatap wajah lawan terlalu lama ?
Beberapa saat kemudian gadis baju putih itu tertawa dingin
dan menjawab.
"Meskipun tiga jagoan dari Sungai Tiang-kang bukan
anggaota perkumpulan kami, akan tetapi aku tidak
mengijinkan ada orang yang berani mengganggu ketenangan
serta kedamaian umat persilatan yang berdiam diwilayah
kekuasaanku "
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak In Ling
perlahan-lahan pudar kembali, ingin sekali pemuda ini

66
memberi penjelasan atas sebab sebabnya dia sampai
membunuh orang, tetapi kembali dirasakan bahwa tindakan
semacam itu tidak la h terlalu penting.
Sesudah sangsi beberapa waktu, akhirnya ia menatap
tajam wajah gadis baju putih itu dan berkata.
"Peristiwa itu berlangsung karena sebab-sebab tertentu,
mungkin pada saat ini pangcu masih belum dapat memahami
alasanku sehingga membunuh manusia, tapi tidak lama
kemudian engkau akan mengetahui dengan sendirinya."
"Berapa lama yang kau maksudkan dengan tidak lama
kemudian itu ?" seru sang dara tanpa terasa.
"Tidak sampai setahun setengah " sambil menjawab Gak In
Ling maju kedepan.
"Setahun setengah ?" jengek tongcu bagian hukuman
sambil tertawa sinis. "Setahun setengah yang engkau
utarakan mungkin tak akan dilewati untuk selamanya, kenapa
tidak engkau katakan suatu batas waktu yang tertentu,
apakah..."
"Aku toh sudah mengatakan, hanya satu setengah tahun
belaka " tukas sang pemuda dengan tenang, habis berkata dia
lanjutkan kembali langkahnya menuju keluar kuil.
Untuk beberapa saat para jago yang ada dalam ruangan
tak dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari sianak
muda itu, dengan pandangan tak habis mengerti mereka
berpaling kearah gadis baju putih itu, seakan-akan pang cu
mereka pasti mengetahui akan hal ini.
Dari balik biji mata gadis baju putih yang jeli segera
memancar keluar serentetan cahaya yang aneh, ia
membentak nyaring. "Gak In Ling Berhenti "
Mendengar bentakan ini, Gak In Ling segera berhenti dan
menegur. "Pangcu, ada urusan apa lagi ?"

67
"Gak In Ling apakah engkau masih ingin pergi dari sini?"
nada ucapannya penuh mengandung napsu membunuh.
Gak In Ling tetap bersabar diri kendatipun hawa amarah
telah bergolak dengan kencangnya didalam dada, ia berbuat
demikian bukanlah disebabkan karena ia jeri terhadap
musuhnya, tapi tidak ingin menanam bibit bencana lagi
dengan orang lain-
Mendengar perkataan musuh, dia segera membalikkan
tubuhnya dan menjawab dengan nada seram.
"Tentu saja harus pergi, mana engkau mampu untuk
menahan diriku sehingga aku tak bisa pergi dari sini ?"
Nenek tua yang ada disisi ketuanya segera menggerakkan
bibirnya seperti mau bicara, tapi akhirnya dia batalkan niatnya
itu, sorot matanya dialihkan kearah sang dara baju putih dan
seakan akan ia sedang bertanya apa yang hendak dilakukan
oleh ketuanya. Dara baju putih itu berpikir sebentar, kemudian
buka suara dengan nada dingin.
"Gak In Ling, asal engkau dapat menahan lima jurus
seranganku, maka urusan yang terjadipada malam ini akan
kusudahi sampai di sini saja" habis berkata dengan langkah
yang ringan dia maju kedepan mendekati sianak muda itu.
Gak In Ling kontan mengerutkan keningnya, dengan suara
dingin ia berseru.
"Andaikata pangcu mampu menahan diri sebanyak lima
jurus dihadapanku tanpa kalah aku orang she Gak pun
bersedia bunuh diri didalam kuil bobrok ini "
Suaranya amat sombong dan beberapa kali lipat lebih
angkuh daripada gadis baju putih.
Anak murid perkumpulan Thian-hong-pang heboh
mendengar sesumbar sianak muda itu, mereka tahu sampai
dimanakah kelihayan yang dimiliki ketua mereka, dengan

68
perasaan tak senang hati dengusan dingin menggema
memecahkan kesunyian-
Tongcu bagian hukuman dengan cepat loncat maju
ketengah gelanggang, setelah memberi hormat kepada dara
baju putih itu, ujarnya.
"Untuk menghadapi manusia takbur macam dia, apa
perlunya pangcu mesti buang tenaga sendiri ? Biarlah tugas ini
serahkan saja kepada hamba untuk menyelesaikannya, pasti
akan kuberi pelajaran yang setimpal kepada dirinya."
Tanpa menanti jawaban dari dara baju putih tadi, ia segera
putar badan dan berkata kepada sianak muda itu dengan nada
menghina.
"Gak In Ling, asal engkau mampu bertahan sebanyak lima
jurus dari serangan aku Thiat-binpopo nenek-bermuka-besi
Lau In Hong, maka persoalan yang terjadi pada malam ini
akan kusudahi sampai disini saja "
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In
Ling setelah mendengar nama itu, tanpa sadar ia bertanya.
"Oooh jadi engkau adalah Thiat-bin-popo yang pernah
menantang berduel tiga bandit besar dunia persilatan
digunung Kun-san tempo hari."
Nenek bermuka besi Lau In Hong tertawa dingin. "Hee hee
hee ada apa ? Kau jeri ?" ejeknya.
"Haahaa haa siapa bilang akujeri ? Aku hanya merasa
sayang untuk membunuh manusia macam dirimu "
Perkataannya datar dan tenang sekali, membuat siapapun
merasa bahwa pemuda itu bukan lagi beromong besar.
Nenek-berwajah-besi Lau in Hong segera merasa gengsinya
tersinggung oleh ucapan itu, terutama sekali berada
dihadapan para anggaota perkumpulan lainnya, dengan muka

69
penuh kegusaran sehingga rambut putihnya pada bangkit
berdiri-teriaknya.
"Bangsat Engkau harus diberi pelajaran yang setimpal,
roboh kau" dengan jurus To-Iang tau-sah atau menangkapombak-
mendulang-pasir, ia terjang tubuh sianak muda itu.
Tampaklah tubuh Nenek-berwajah-besi Lau In Hong
dengan gerakan tubuh bagaikan sambaran petir menyusup
maju kemuka, angin pukulan yang menderu-deru bagaikan
gulungan ombak samudra dengan dahsyat dan tajamnya
menerjang ketubuh musuh.
Arah yang dituju adalah seluruh jalan darah kematian
ditubuh pemuda itu, rupanya nenek tua tersebut ada maksud
membinasakan pemuda musuhnya hanya didalam satu jurus
saja.
Tatkala menyaksikan datangnya ancaman yang begitu lihay
dari musuhnya, mula-mula Gak In Ling merasa kaget, diikuti
hawa amarahnya berkobar didalam dada, ia mendengus
dingin, dengan gerakan Llok-te-heng-tan atau menjalankansampan-
diatas-daratan, kaki kanannya menutul permukaan
tanah lalu meluncur kesamping kiri, sementara telapak
kanannya dengan disertai angin pukulan yang kuat membacok
kedepan dan menyambut datangnya ancaman dari Nenekberwajah
besi dengan keras lawan keras.
"Blaaam " benturan keras menimbulkan ledakan yang
menggetarkan diangkasa, angin pukulan yang dilancarkan Lau
In Hong dengan manis berhasil dipunahkan oleh sianak muda
itu, hal tersebut mengakibatkan sang nenek jadi amat
terperanjat.
Buru-buru ia berganti langkah dan putar badan seperti
kilat, dalam waktu singkat ia lancarkan kembali tiga buah
serangan berantai dengan gerakan-gerakan yang
mendebarkan hati.

70
Dara baju putih yang mengikuti jalannya pertarungan ini
dari sisi kalangan, diam-diam merasa terperajat, pikirnya.
"Sungguh tak nyana ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling
berhasil mencapai puncak yang tak terhingga, mungkin pada
malam ini Lau-tong cu akan menderita kekalahan ditangan
orang ini"
Berpikir sampai disini, tanpa terasa muncul lah perasaan
tak tenang dalam hati kecilnya.
Kiranya sekalipun Nenek-berwajah-besi Lau In Hong
menggunakan gerakan yang sangat cepat melancarkan tiga
buah serangan balasan, akan tetapi sayang sekali semua
serangannya mencapai tempat kosong, sedangkan pemuda
she Gak sama sekali tidak melancarkan serangan balasan-
Setelah ketiga jurus serangan tadi lewat, jurus keempatpun
dengan cepat dilewatkan pula oleh Nenek-berwajah- besi, bila
jurus kelima lewat pula berarti pertarungan ini akan berakhir,
tetapi menang kalah diantara kedua orang itu masih belum
juga kelihatan-
Dengan perasaan penuh ketegangan semua jago dari
perkumpulan Thian-hong-pang alihkan perhatiannya ke
tengah lapangan, mereka semua merasa kuatir untuk
keberhasilan Nenek-berwajah-besi itu untuk menyelesaikan
pertarungan tersebut. Pada saat itulah, tiba-tiba Gak In Ling
membentak nyaring. "Roboh kamu "
Baru saja jurus keempat yang dilancarkan Nenek-berwajahbesi
Lau in Hong mencapai pada akhirnya, tiba-tiba Gak In
Ling loncat ketengah udara, sepasang telapak diayun
berbareng dan serentetan cahaya merah darah menyelubungi
seluruh tubuh nenek tua itu. "Aaah Telapak maut "jerit dara
baju putih dengan hati terkesiap.
Rupanya Nenek berwajah besi Lau in Hong juga telah
merasakan bahwa maut telah mengancam didepan mata,

71
menyaksikan gumpalan cahaya merah yang sedang meluncur
kearahnya, ia menjerit tertahan, serunya. "Aduh Mati aku "
Sepasang matanya segera dipejamkan rapat-rapat, tapi
satu keinginan untuk tetap hidup sempat berkelebat dalam
benaknya, dengan mengempos segala kekuatan yang
dimilikinya ia kirim satu pukulan yang maha dahsyat kearah
depan-
Reaksi yang muncul disaat bahaya ini boleh dikata
menggelikan sekali, karena nenek tua itu sama sekali tidak
melihat dimanakah musuhnya berada pada waktu itu.
Tampaknya serangan maut Gak In Ling sudah hampir
mengenai sasarannya, sedang jiwa Nenek-berwajah-besi Lau
In Hong pun berada diujung tanduk^ tiba-tiba pemuda itupun
tertawa nyaring dan melayang mundur kebelakang, dimana
kebetulan sekali ia melayang turun dibawah kaki patung Ji-layhud
yang bersila, dari tindakannya itu bisa diketahui bahwa
sianak muda itu sama sekali tidak berniat untuk mencabut
nyawa nenek tersebut.
Diam-diam dara baju putih itu menghembuskan napas lega,
dengan sorot mata berterima kasih ia alihkan pandangannya
kearah Gak In Ling yang berada dibawah kaki patung
pemujaan tersebut.
Mendadak. pemuda itu mendengus berat, bayangan hitam
berkelebat lewat dan Gak In Ling roboh terjungkal dari atas
patung arca, darah kental mengucur keluar dari mulutnya....
Dara baju putih serta nenek tua yang berada disampingnya
segera melompat maju kedepan ketika menyaksikan kejadian
yang tak disangka itu, perasaan tak tenang terlintas diatas
wajah mereka.
Dalam pada itu para anggaota perkumpulan Thian-hongpang
yang berada disekitar ruangan telah bersorak-sorak
dengan gegap-gempita. "Horeee Tongcu menang horeee
Tongcu menang..."

72
Nenek-bermuka-besi Lau in Hong tertegun, ia membuka
mata dan berpaling kesekeliling tempat itu, tetapi setelah ia
mengetahui apa yang telah terjadi, saking kagetnya tak
sepatah katapun yang sanggup diutarakan keluar.
Dia adalah orang yang mengalami kejadian itu, tentu saja
keadaan yang sebenarnya dialah yang paling paham, tanpa
terasa nenek tua itu berpaling kearah ketuanya, sebab hanya
dara baju putih itu yang mampu menolong dirinya untuk
memecahkan teka-teki tersebut.
Tapi, ketika sorot matanya terbentur dengan wajah
ketuanya yang diliputi pula oleh perasaan tercengang, ia
makin melongo lagi.
Dalam pada itu dengan susah-payah Gak In Ling telah
merangkak bangun dari atas tanah, mukanya yang tampan
kini telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, namun dari
balik sorot matanya sama sekali tidak terpancar rasa benci
atau dendam.
Dengan pandangan yang hambar ia menyapu sekejap
sekeliling ruangan itu, kemudian menyeka noda darah dari
ujung bibirnya, setelah itu kepada Nenek-berwajah-besi Lau In
Hong, katanya.
"Engkau menang, silahkan kalian berlalu dari sini "
Dari kerumunan para jago tiba-tiba muncul seorang pria
berusia pertengahan, dengan suara dingin ia menegur.
"Hay, Gak In Ling Apa yang engkau katakan sebelum
pertarungan ini berlangsung ?"
"Hmm, slapa suruh engkau banyak mulut ?" bentak Nenekberwajah-
besi Lau In Hong dengan gusar, kemudian sambil
berpaling kearah Gak ln Ling ujarnya kembali.
"Gak In Ling, nama baik adalah jiwa kedua dari setiap
manusia, apakah engkau tidak merasa terlalu rugi dengan

73
tindakanmu seperti ini?" suaranya lirih mengandung keibaan.
Gak In Ling tertawa sedih dan menggeleng.
"Bagi Tongcu mungkin apa yang engkau katakan memang
benar, tetapi bagi aku orang she-Gak " ia geleng kepala dan
tutup mulut, sesaat kemudian ia baru menambahkan. "Kalian
boleh pergi dari sini."
Dara baju putih itu tiba-tiba maju kedepan dan
menghampiri sianak muda itu, entah sejak kapan dalam
tangannya telah bertambah dengan sebutir pil berwarna
merah, sambil angsurkan obat itu kedepan, katanya.
"Telanlah obat. ini Maka lukamu akan sembuh dengan
sendirinya "
Meskipun nada ucapannya mengandung nada memerintah,
tapi terpancar pula perasaan kuatir dan perhatiannya.
Dengan pandangan hambar Gak In Ling menyapu sekejap
kearahnya, ia lihat keketusan serta keangkuhan yang semula
menyelimuti wajah dara cantik itu kini telah lenyap tak
berbekas, sebagai gantinya penyesalan dan keibaan terlintas
diatas wajahnya, apa gerangan yang membuat ia jadi murung
?
Dengan cepat Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah
lain, jawabnya dengan dingin. "Gak In Ling tidak bersedia
menerima budi kebaikan ini, kalau memang pangcu masih ada
urusan ditempat ini baiklah, aku orang she Gak akan
berangkat lebih dahulur Habis berkata ia lewat disisi dara
cantik baju putih itu dan berjalan keluar dari ruang kuil.
Dengan perasaan tersinggung air muka dara baju putih itu
berubah hebat, ia putar badan dan membentak.
"Gak In Ling, dalam persilatan belum pernah ada orang
yang berani menampik pemberianku jika engkau tidak takut
mati, silahkan berlalu dari ruangan ini "

74
Melihat ketuanya sudah naik pitam, para anak murid
perkumpulan Thian-hong-pang pun segera menghimpun
tenaga bersiap-siap dan menghadang jalan pergi sianak muda
itu. Gak In Ling menghentikan langkahnya, sambil putar badan
dan berseru.
"Aku orang she Gak toh tidak pernah menghalangi dirimu
untuk turun tangan-. . kalau ingin bertarung silahkan "
Selesai berkata ia melirik sekejap kearah patung Ji lay-hud
itu dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh,
kemudian putar badan dan berlalu dari ruangan itu dengan
langkah lebar.
Para jago yang menghalangi jalan pergi pemuda itu tanpa
sadar mundur kesamping ketika Gak In Ling lewat dihadapan
mereka, tak seorang pun yang berani turun tangan
menghadang jalan perginya .
Dara baju putih itu mengerutkan dahinya, tiba-tiba ia maju
kedepan siap menyasul pemuda itu, namun Nenek-berwajahbesi
Lau In Hong yang berada disisinya telah berkata dengan
sedih.
"Pangcu, bunuhlah dahulu hamba "
---ooo0dw0ooo--
Jilid 3
MELIHAT nenek tua itu berkata dengan air mata
mengembeng dalam kelepak matanya dara cantik baju putih
itu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan
lemas:
"Hal ini tak dapat disalahkan dirimu, dengan jurus "Hiat-yuseng-
hong" atau hujan darah angin amis itu kendatipun hanya
satu jurus.. Aiii Mari kita pergi saja dari sini " Sementara itu

75
bayangan punggung Gak in Ling telah lenyap dari pandangan
mata.
Bagi anak murid perkumpulan Thian-hong-pang, kecuali
beberapa orang yang mengetahui duduk perkara yang
sebenarnya, sebagian masih bingung dan tak habis mengerti
apa yang sebenarnya telah terjadi, namun mereka tak heran
bertanya, melihat ketuanya sudah berlalu mereka pun ikut
berlalu pula dari sana.
Setelah keluar dari kuil, dara cantik baju putih itu menyapu
sekejap sekeliling tempat itu, melihat suasana sepi-senyap tak
nampak sesosok bayangan manusiapun dia menghela napas
panjang, setelah masuk kedalam sebuah kereta yang indah
berangkatlah rombongan itu meninggalkan kuil.
Fajar menyingsing dari ufuk sebelah timur, kicauan burung
berkumandang memecahkan kesunyian dipagi hari itu, malam
telah lewat dan sinar matahari pun memancarkan sinar
keemas-emasannya ke seluruh jagad.
Lilin raksasa yang berada dalam kuil telah terbakar sampai
bagian yang terakhir, lama kelamaan padam dan sirap dari
kegelapan-....... ruang kuilpun pulih kembali dalam kesunyian-
Pada saat itulah dari atas atap ruangan itu melayang turun
dua sosok bayangan manusia, mereka adalah dua orang kakek
bersulamkan burung hong warna biru pada dadanya, setelah
mencapai permukaan dengan tajam mereka menyapu
sekeliling isi ruangan kuil kemudian baru berlalu dari sana.
Inilah peraturan dari perkumpulan Thian-hong-pang
sebelum lilin tersulut sampai padam orang-orang mereka tidak
akan meninggalkan tempat pertemuan itu.
Tidak lama setelah kedua orang kakek itu lenyap dari
pandangan dari dalam ruang kuil tiba-tiba muncul kembali
seorang manusia aneh berjubah padri dan berkerudung
merah, dengan cepat orang itupun menyapu sekejap sekeliling

76
tempat itu, lalu melayang keluar dari ruangan dan berangkat
kearah kanan bangunan kuil itu.
Baru saja bayangan tubuh manusia aneh berkerudung
merah itu lenyap di balik tembok pekarangan, dari tembok
sebelah kiri melayang kembali seorang gadis baju putih
bersulamkan burung hong warna merah pada dadanya yang
berwajah amat cantik.
Ia memandang sekejap kearah mana manusia aneh
berkerudung merah tadi melenyapkan diri, kemudian
mendengus dingin dan meloncat masuk kedalam ruang kuil
dengan gerakan amat cepat.
Setelah menyapu sekejap seluruh ruangan, sinar matanya
yang jeli mendadak ditujukan ke-arah patung arca Ji-lay-hud,
gumamnya.
"Apakah dia tidak kembali lagi kesini ?" setelah berhenti
sebentar, ia bergumam kembali.
"Hmm, kalau tahu dia takkan kembali lagi kesini, tidak
seharusnya kulepaskan dirinya dengan begitu saja "
Tiba-tiba sambil mendengus dingin ia lancarkan satu
pukulan kearah depan-
Blaaam Dengan telak angin pukulan itu bersarang dalam
perut patung Ji-lay-hud yang gendut sehingga mengakibatkan
munculnya sebuah lubang yang besar, dibalik patung ternyata
merupakan sebuah ruang yang kosong melompong.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, napsu
membunuh melintas dalam pandangannya, kembali dara itu
bergumam:
"Jangan-jangan orang yang baru saja kabur itulah biangkeladinya
aduh celaka...."

77
Dengan cepat dia enjotkan badan dan mengejar kearah
mana bayangan tubuh manusia aneh berkerudung merah tadi
melenyapkan diri.
Dalam pada itu setelah Gak In Ling keluar dari kuil bobrok
ia merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergolak
keras, pemuda itu sadar bahwa luka dalam yang dideritanya
pada saat ini pasti merupakan hasil karya dari seseorang yang
bersembunyi didalam patung pemujaan tersebut.
Dengan hati mendongkol bercampur dendam segera
gumamnya. "Buddha Antik. Buddha Antik tidak seharusnya
kulepaskan dirimu dengan begitu saja."
Dengan langkah yang gontai ia berjalan menuju kedalam
hutan sebelah kanan ruang kuil itu.
Sebenarnya bisa saja bagi pemuda itu untuk membongkar
rahasia yang sebenarnya terjadi ketika ia masih berada dalam
ruang kuil itu, tetapi ia tak ingin meminjam kekuatan orang
lain untuk menyelesaikan persoalan pribadinya, lagipula dia
pun tahu bahwa Nenek-bermuka-besi Lau In Hong adalah
seorang jagoan dari kalangan lurus, setelah pendekar wanita
itu berusia lanjut, ia tidak ingin merusak nama baiknya di
hadapan orang banyak, maka secara sukarela ia berlalu dari
kuil tadi.
Setelah masuk kedalam hutan, Gak In Ling mencari sebuah
pohon besar dan duduk bersila disana untuk mengatur
pernapasan serta berusaha untuk menyembuhkan luka yang
dideritanya.
Ketika burung berkicau menandakan fajar telah
menyingsing, Gak In Ling sudah berada dalam keadaan
tenang serta lupa terhadap segala-galanya, tindakan seperti
ini merupakan tindakan yang sangat gegabah, bagi Gak In
Ling tentu saja dia mengetahui akan resikonya, tapi keadaan
serta waktu tidak mengijinkan dirinya untuk memikirkan
persoalan itu lebih jauh.

78
Tiba-tiba dari jarak dua puluh tombak dibelakang tubuh
Gak In Ling yang sedang bersemadhi, mendadak muncul
seorang manusia aneh berkerudung merah, dengan sorut
mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
tatkala menemukan sang pemuda yang sedang bersemadhi
dibawah pohon, napsu membunuh yang menggidikkan hati
seketika menyelimuti seluruh wajahnya.
Sambil tertawa dingin, manusia aneh berkerudung merah
itu bergumam seorang diri.
"Gak In Ling... Gak In Ling siapa suruh nasibmu sejelek ini..
rupanya engkau memang ditakdirkan untuk mati ditanganku "
Sambil berkata perlahan-lahan dia melepaskan kain
kerudung merah yang menutupi wajahnya, siapakah dia ?
Ternyata bukan lain adalah Buddha Antik, padri keji yang
bermuka saleh.
Dengan cepat Buddha Antik menyimpan kain kerudung
merahnya kedalam saku, kemudian selangkah demi selangkah
mendekati Gak In Ling sambil melangkah maju hawa
murninya dihimpun kedalam telapak dan siap melancarkan
sebuah pukulan yang mematikan-
Keselamatan Gak In Ling pun sedetik demi sedetik ikut
lenyap mengikuti semakin dekatnya padri tua itu, kini Buddha
Antik telah berada pada jarak satu tombak dari hadapan
tubuhnya, andaikata serangan itu dilepaskan niscaya pemuda
she Gak itu takkan lolos dari kematian-
Akan tetapi ia tidak segera melancarkan serangan mautnya,
sebab dalam pemikirannya asal telapak itu diayun ke bawah
maka musuhnya ini akan menemui ajalnya, maka ia memberi
waktu yang cukup bagi pemuda itu untuk hidup beberapa
menit lagi.
Senyuman yang menyeringai seram menghiasi raut
wajahnya yang saleh, penampilan yang sangat tidak sesuai
dengan raut wajahnya ini membuat siapapun yang kebetulan

79
melihat tentu akan meninggaikan satu tanda tanya yang
besar.
Kian lama kian mendekat pada saat itu wajah Gak Ia Ling
yang pucat-pias sudah mulai bsrsemu merah, hal ini
menunjukkan bahwa luka dalamnya sudah mulai sembuh
kembali.
Tentu saja pemuda itu mimpipun tak pernah mengira kalau
Malaikat Elmaut semakin lama semakin mendekati pula
dirinya^
Kini Buddha Antik sudah berada kurang lebih lima depa
dihadapan sianak muda itu, hawa murninya telah dihimpun
semua kedalam telapak sambil menyeringai penuh kekejian,
pikirnya.
"Bangsat cilik, tidak sepantasnya engkau datangkan banyak
kesulitan bagi aku Buddha Antik dan tidak seharusnya engkau
memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna hee
hee...sekarang, janganlah salahkan kalau terpaksa aku harus
bertindak keji terhadap dirimu "
Sambil berpikir, sepasang telapaknya perlahan-lahan
didorong kearah dada sianak muda itu.
Nampaknya jago muda itu sebentar lagi akan menemui
ajalnya ditangan padri keji yang berwajah saleh ini, pada saat
yang kritis dan sangat berbahaya itulah mendadak bayangan
putih berkelebat lewat. Tiba tiba disisi tubuh Gak In Ling
melayang turun seorang gadis cantik baju putih yang punya
sulaman burung hong merah di atas dadanya, begitu enteng
dan cepatnya gerakan orang itu sehingga sama sekali tidak
menimbulkan sedikit suarapun. Menyaksikan kehadiran gadis
cantik itu, Buddha Antik terkesia,^ pikirnya: "Aduh,
celaka........ kembali ia menggagalkan usahaku untuk
melenyapkan bangsat ini "
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya,
serangan yang semula ditujukan kearah Gak In Ling itu

80
dengan cepat dialihkan kearah dada gadis baju putih itu,
kemudian sambil berpura-pura kaget ia berseru:
"Omitohud Rupanya pangcu dari perkumpulan Thian-hongpang.
oh, hampir saja aku salah membunuh orang."
Licik sekali orang ini dan pandai benar ia menguasai
gelagat, sekalipun dalam hati ia amat terkejut namun
wajahnya masih tetap tenang-tenang saja seolah-olah tidak
pernah terjadi sesuatu apapun.
Dengan pandangan tajam ketua dari perkumpulan Thianhong-
pang memandang sekejap kearah padri tua itu,
kemudian sambil memberi hormat katanya:
"Oooh, rupanya taysu, apakah taysu sengaja berada disini
untuk melindungi keselamatannya ?"
"Entah siapakah orang ini ?" jawab Buddha Antik dengan
suara yang lirih. "Kebetulan saja aku lewat ditempat ini,
karena aku takut ia diganggu atau dianiaya oleh binatang
buas, maka sengaja aku berdiri disini untuk melindungi
keselamatannya."
"Oooh, betapa saleh dan welas kasihnya padri agung ini "
puji gadis itu didalam hati.
Haruslah diketahui bahwa ketua dari perkumpulan Thianhong-
pang ini bukanlah seorang jago yang gampang ditipu,
tetapi karena Buddha Antik sudah tersohor karena
kesalehannya dikolong langit, maka dia pun tak menduga
kalau padri tua itu sebenarnya adalah seorang manusia yang
licik sekali.
Kembali Thian-hong pangcu melirik sekejap kearah Gak In
Ling, lalu berkata kembali:
"orang ini bukan lain adalah Gak In Ling yang bikin meluruh
dunia persilatan jadi tidak tenang."

81
Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, sambil
berpura-pura tak paham sengaja ia bertanya.
"Watak setiap manusia sebenarnya adalah saleh, aku pikir
asal engkau suka menasehati dirinya maka ia tentu akan
bersedia untuk merubah watak-watak jeleknya itu " seraya
berkata ia menatap wajah gadis itu dengan tajam.
"Aku rasa hal ini tak mungkin bisa dilakukan-" sahut sang
dara sambil menggeleng. Betapa girangnya Buddha Antik
mendengar jawaban itu, tiba-tiba ujarnya kembali.
"ooh.... ya, aku masih ada sedikit urusan yang harus segera
diselesaikan dikota cin-hway, tolong li sicu suka berjaga
sebentar disini, sekalian aku harap agar li sicu suka
menasehati dirinya agar suka bertobat dari dosanya serta
banyak melakukan kebajikan-"
Habis berkata ia melirik sekejap kearah Gak In Ling dan
berpikir didalam hati.
"Gak In Ling, sekarang engkau harus berjumpa dengan
pangcu dari perkumpulan Thian-hong-pang yang paling benci
terhadap segala kejahatan, h mm.. sekalipun aku tidak turun
tangan, engkaupun jangan harap bisa lolos dari tangannya
dalam keadaan hidup." Berpikir sampai disini buru-buru ia
putar badan dan kabur dari sana.
Memandang bayangan punggung Buddha Antik yang
lenyap dari pandangan, ketua dari perkumpulan Thian-hongpang
ini bergumam seorang diri.
"Meskipun padri saleh itu mempunyai hati yang bajik
bagaikan Pousat, sayang sekali orang yang dituju olehnya
bukanlah seseorang yang bisa dirubah watak-watak jeleknya."
Dengan sorot mata penuh napsu membunuh ia berjalan
maju kedepan dan mendekati sianak muda itu.
Raut wajah Gak In Ling yang tampan berkerut kencang
penuh penderitaan, mungkin gumam dari Thian-hong pangcu

82
telah menusuk perasaan halusnya sehingga membuat dia
merasa sakit hati.
Tiba-tiba Thian-hong pangcu alihkan sinar matanya kearah
wajah sianak muda itu, hatinya bergetar keras dan tanpa
terasa naps u membunuh yang telah berkobar dalam hatinya
lenyap tidak berbekas, dengan suara dingin ia berkata.
"Gak In Ling, jika engkau mempunyai keberanian maka
sembuhkan lebih dahulu luka dalam yang engkau derita itu,
kemudian baru langsungkan pertarungan melawan diriku."
Gak In Ling tarik napas panjang, ia paksakan diri untuk
menahan emosi yang berkobar dalam dadanya, kemudian
membuyarkan hawa murni yang berkumpul dipusar dan
membuka matanya.
"Aku orang she Gak mengucapkan banyak terima kasih atas
budi kebaikan nona yang tidak membinasakan diriku,"
sahutnya, "kalau ingin ber duel untuk menentukan siapa
menang siapa kalah seka rang jugakita boleh langsungkan
pertarungan tersebut." sambil berkata ia loncat bangun,
namun air mukanya masih pucat-pias bagaikan mayat, jelas
luka dalam yang dideritanya sama sekali belum sembuh.
"Hm, luka dalam yang kau derita toh belum sembuh, lebih
baik sembuhkan dulu baru kita bertarung."
"Haahaa haa " Gak In Ling tertawa seram. "Pangcu
menyembuhkan luka dalamku atau tidak itu toh urusan
pribadiku, apakah engkau tidak merasa bahwa urusan yang
kau campuri sudah terlalu banyak ?"
Ucapannya sombong dan jumawa sekali, seakan-akan
pemuda itu hendak melampiaskan semua kekesalannya yang
menumpuk dalam dadanya selama beberapa hari belakangan
ini.
Gadis cantik baju putih merupakan ketua perkumpulan
Thian-hong-pang yang disegani dan dihormati oleh setiap

83
umat persilatan yang ada di-kolong langit, belum pernah ada
orang yang berani bersikap sombong dan jumawa seperti ini.
Mendengar ucapan tersebut tentu saja ia jadi naik pitam,
dengan mata melotot penuh kegusaran bentaknya nyaring.
"Hmm, engkau anggap aku jeri terhadapmu" sambil
tersenyum telapaknya disiapkan dan segera diayun kedepan.
Pada saat itulah dari atas pohon besar dimana Gak In Ling
bersandar tadi berkumandang suara yang amat gemuruh,
disusul suara seseorang yang kasar dan keras bergema
memecahkan kesunyiannya. "Hey Hey Kalian jangan
bergebrak lebih dulu "
Seorang pria kekar yang berbadan setengah telanjang
dengan mencekal sebuah toya besi yang besar telah berdiri
ditengah kalangan, pada tubuhnya yang setengah telanjang
itu terlihatlah sembilan buah tato yang melukiskan sembilan
ekor naga berwarna merah.
Baik Gak ln Ling maupun gadis baju putih itu sama-sama
merasa terperanjat, pikir mereka hampir berbareng.
"Dengan kepandaian silat yang kumiliki, kenapa tak
kuketahui kehadiran orang ini ?"
Berpikir sampai disini mereka segera alihkan kembali sorot
matanya kearah pria kekar itu.
Tampak olehnya orang itu berusia dua puluh lima-enam
tahunan, alisnya tebal matanya besar, hidungnya besar
mulutnya lebar, cambang yang kaku memenuhi separuh
bagian wajahnya, jika ditinjau dari suara langkahnya ketika
melayang turun keatas tanah, jelas menunjukkan bahwa ilmu
meringankan tubuh yang dimilikinya tidak terlalu lihay.
Setelah mencapai diatas tanah, pria kekar itu menyapu
sekejap kearah Gak In Ling, kemudian teriaknya dengan
keras.

84
"Kamu benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri,
menolong anjing malah digigit"
"Hmm, andaikata nona itu tidak datang tepat pada
waktunya, mungkin engkau telah modar ditangan kepala
gundul itu," setelah menelan ludah ia meneruskan.
"Huh Untung pada waktu itu aku tidak menolong dirimu,
kalau tidak maka keadaanku pasti akan seperti nona ini, bukan
mendapat pujian malahan dicaci- maki."
Thian-hong pangcu segera merasakan hatinya agak
bergerak setelah mendengar perkataan itu, dengan hati curiga
pikirnya.
"Jangan-jangan ketika aku tiba disini Budha Antik memang
sedang bersiap-sedia untuk membinasakan dirinya, tapi hal ini
tak mungkin terjadi. Bukankah Buddha Antik dikenal sebagai
padri yang saleh dalam dunia persilatan? Masa dia..."
Berpikir sampai disini dia segera angkat kepala memandang
sekejap kearah pria kekar itu, kemudian berpikir lebih jauh.
"Potongan orang ini seperti orang kasar yang jujur,
sepantasnya kalau perkataannya dapat dipercaya, akan
tetapi...."
Untuk beberapa saat lamanya, gadis yang terkenal karena
kecerdasan serta ketelitiannya inijadi bingung dan tak tahu
apa yang musti dilakukan-Sementara itu Gak In Ling telah
menegur dengan suara dingin.
"Siapa yang suruh engkau menolong diriku." Pria bertato
sembilan naga itu melototkan matanya bulat-bulat, sahutnya
dengan jengkel.
"Kalau engkau tidak membutuhkan bantuan ku, kenapa
tidak kau katakan sedari tadi ? Pada waktu itu hampir saja aku
meloncat turun dari atas pohon."

85
Gak In Ling adalah seorang pemuda yang cerdik, setelah
mendengar ucapan pria kekar itu diapun segera mengetahui
bahwa dia adalah seorang kasar yang masih polos dan
bicaranya spontan, hawa gusar yang semula menyelimuti
dadanya seketika lenyap tak berbekas.
"Untung kau tidak sampai menolong diriku" ujarnya
kemudian dengan suara hambar.
"Kenapa?" tanya pria bertato sembilan naga sambil
mengerdipkan matanya tanda kebingungan- "Apakah engkau
bukan orang baik-baik ?"
orang ini memang rada tolol, masa dikolong langit benarbenar
terdapat orang jahat yang mengaku dirinya jahat ?
"Siapa tahu aku memang jahat" sahut Gak In Ling sambil
tertawa hambar.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Thian-hong
pangcu, ia merasa seolah-olah dirinya telah berhasil
memahami sesuatu, ia segera menengadah dan
memperhatikan pria polos itu.
"Siapa engkau ? Ada urusan apa datang kemari ?"
Rupanya pria kekar itu mempunyai kesan yang sangat baik
terhadap ketua dari perkumpulan Thian-hong-pang ini,
mendengar pertanyaan tersebut tanpa berpikir panjang lagi
segera ia menjawab.
"Suhuku menyebutku sebagai Kiu-bun-liong Tato-sembilan
naga, adapun maksud kedatangan, ku pada malam ini adalah
untuk mencari sebatang pohon buah ci-ci-ko yaug berdaun
tujuh, agar ilmu Kun-goan-kang yang sedang aku yakini bisa
mencapai kesempurnaan-"
"Apa ? Buah ci-ci ko yang berdaun tujuh?" seru Thian-hong
pangcu dengan terperanjat. Biji matanya yang jeli tanpa
terasa menyapu sekejap kearah Gak In Ling, "menurut

86
anggapannya diatas wajah sianak muda itu pasti akan
menampilkan rasa kaget yang tak terhingga sebab buah ciciko
berdaun tujuh adalah obat paling mujarab dikolong langit
untuk menambah kesempurnaan tenaga dalam serta
mengobati luka dalam yang parah.
Tetapi gadis itu segera merasa kecewa, karena diatas
wajah Gak In Ling sama sekali tidak menunjukkan sikap
apapun, seakan-akan persoalan itu sama sekali tak ada
hubungannya dengan dia.
setelah termenung dan berpikir sebentar, maka ia bertanya
kembali. "Buah ciciko berdaun tujuh itu sekarang berada
dimana ?"
Pria tato sembilan naga itu menggerakkan bibirnya seperti
mau menjawab, tiba-tiba ia batalkan niatnya dan balik
membentak dengan gusar. "Apakah engkau hendak ikut
mencuri buah tersebut ?"
"Benda berharga dikolong langit, siapa melihat dia ikut
mendapat bagian, dari mana engkau bisa mengatakan kalau
aku mencuri ?" sahut Thian hong pangcu setelah ia melirik
sekejap kearah Gak In Ling.
Pria tato sembilan naga benar-benar seorang pria yang
polos, mendengar ucapan itu hatinya semakin gelisah, sambil
siapkan toyanya membentak lagi dengan gusar. "cepat
katakan Beranikah engkau mencuri buah mustika itu ?"
Kalau dilihat dari tampangnya, andaikata Thian-hong
pangcu mengatakan berani maka dia akan segera turun
tangan-
Kebetulan sekali pada saat itulah angin kencang berhembus
lewat membawa suara bentakan seseorang dengan nada yang
amat gusar.

87
"Buddha Antik Kalau engkau berani maju selangkah lagi
kedepan, jangan salahkan kalau pinto akan bertindak kurang
ajar "
Diatas wajah Gak In Ling yang tampan dan tenang tiba-tiba
terlintas hawa napsu membunuh yang amat tebal, setelah
mendengar suara bentakan itu, dia enjotkan badan segera
meluncur kearah mana beraSalnya suara bentakan tadi.
Selama ini Thian-hong pangcu selalu memperhatikan gerakgerik
Gak In Ling, melihat pemuda itu berlalu dari situ, dengan
nyaring ia membentak.
"Gak In Ling, engkau hendak pergi kemana ?" laksana kilat
dia gerakkan tubuhnya dan menyusul dari belakang.
Pria tato naga sembilan melongo, sambil memandang
kearah mana lenyapnya dua sosok bayangan manusia itu
gumamnya seorang diri.
"cepat amat lari mereka berdua... wah, sama dengan
terbang saja. celaka, arah mereka pergi justeru ketempat
buah itu..."
Buru-buru dia siapkan toyanya kemudian berlarian pula
mengajar dari belakang kedua orang itu..
Setelah menembusi hutan yang lebar dihadapan Gak ln
Ling muncullah sebuah bukit terjal yang penuh dengan batu
cadas yang berserakan, suara bentakan tidak lain berasal dari
balik bukit terjal tersebut.
Dalam pada itu sang surya telah muncul di angkasa,
berjuta juta rentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata
menerangi seluruh jagad.
Dengan gerakan tubuh yang cepat laksana gerakan kilat
Gak In Ling berloncatan diantara batu-batu yang berserakan
dan lari naik keatas bukit, kurang lebih dua puluh tombak
dibelakangnya mengikuti seorang dara cantik baju putih.

88
Semakin mendekati puncak bukit itu, suara bentakan serta
makian semakin jelas berkumandang masuk kedalam
pendengaran sianak muda itu, rupanya sudah ada orang yang
turun tangan bertarung.
Tidak selang beberapa saat kemudian Gak In Ling telah
mencapai puncak bukit tersebut, ketika ia melongok kebawah
hatinya tertegun, rupanya ia berdiri dipinggir jurang dan
dibawah jurang terbentang sebuah lembah yang amat luas,
suara bentakan tadi berasal dari dalam lembah tersebut.
Gak In Ling melongok kebawah dan menyapu sekejap
sekeliling tempat itu, dia lihat pada saat itu Buddha Antik
sedang menerjang kearah dinding bukit dimana ia berdiri
sekarang, sedangkan dibelakangnya membuntuti enam orang
jagoan yang terdiri dari hwesio, tosu dan manusia biasa.
Satu ingatan berkelebat dalam benak anak muda itu, ia
menyapu kembali kearah dinding bukit tepat dibawahnya,
terlihatlah kurang lebih dua puluh tombak dibawah tebing atau
tepatnya ditengah celah-celah batu yang tertutup oleh lalang
tumbuh sebatang tumbuhan yang berwarna merah darah,
mengertilah pemuda itu apa yang sedang terjadi.
Pada saat ituBudha Antik sudah sangat dekat dengan
dinding bukit, rupanya ia sedang berusaha untuk merampas
tumbuhan berwarna merah darah itu.
Gak In Ling teramat gusar, napsu membunuh menyelimuti
wajahnya, ia membentak keras. "Buddha Antik, serahkan jiwa
anjingmu "
Dengan jurus "Hiat-yu-seng-hong" atau hujan darah angin
amis ia menerjang kebawah bagaikan seekor burung elang
yang sedang menerkam mangsanya, serentetan cahaya merah
darah dengan cepat menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dari bentakan yang keras Buddha Antik sudah tahu
siapakah yang datang, saking kagetnya sukma terasa
melayang tinggalkan raganya, ia tidak memperdulikan buah

89
ciciko yang sudah hampir terjatuh ke tangannya lagi, sambil
berjumpalitan diudara sepasang kakinya segera menjejak
dinding bukit, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya
ia melayang sejauh dua puluh tombak lebih dari tempat
semula dan tepat melayang turun dibelakang lima orang
pengejarnya, setelah mencapai tanah tanpa berpaling lagi ia
melarikan diri terbirit-birit kearah lembah sebelah kanan-
Sebenarnya serangan telapak maut yang di-lancarkan Gak
In Ling dikala Buddha Antik sedang tidak bersiap-siaga itu
mampu menghancurkan tubuh padri licik tadi menjadi
berkeping-keping, tapi sayang luka dalam yang diderita
pemuda itu belum sembuh, ketika jurus hujan darah angin
amis tadi digunakan sampai separuh jalan itu ia sudah
merasakan tenaga dalamnya tak mampu disalurkan kembali,
dalam keadaan begini terpaksa sambil menggertak gigi karena
mendongkol ia saksikan Buddha Antik kabur dari tempat itu.
Dengan kaburnya Buddha Antik dari tempat kejadian, maka
sekarang Gak In Ling lah yang mencapai sisi buah mustika
ciciko itu, tanpa pikir panjang lagi buah tadi segera dicabut
olehnya dan melayang keatas tanah.
Thian-hong pangcu dengan cepat menyusul datang, ia
segera menghadang didepan tubuh anak muda itu.
Lima orang yang berada dalam lembah, mimpipun tak
pernah menyangka kalau buah mustika ciciko berdaun tujuh
yang dijaganya setengah harian lebih bukan terjatuh ketangan
Buddha Antik sebaliknya kena dipetik oleh seorang pemuda
yang sama sekali tak dikenalnya, sambil membentak penuh
kegusaran dengan cepat mereka mengepung Gak In Ling
serta Thian- hong pangcu di tengah kalangan-
Gak In Ling sama sekali tidak menggubris kelima orang
yang mengepung dirinya itu, disapunya sekejap buah ciciko
yang berada dalam genggamannya, dia lihat tumbuhan
tersebut berakar panjang yang tegak dan berwarna hijau,
pada tangkainya tumbuh tujuh lembar daun merah yang

90
berbentuk bulat pipih, pada ujung setiap daun berwarna
merah tadi tumbuh sebutir buah merah yang berbau harum
serta besarnya bagaikan sebutir mutiara, butiran kecil itulah
yang mungkin dinamakan buah ciciko.
Setelah memandang sekejap buah tadi, pemuda she Gak
baru memandang kearah lima orang jago tadi, ujarnya dengan
nada hambar.
"Kalau kutinjau dari usia kalian berlima, aku rasa kalian
pastilah merupakan jago jago yang punya nama besar dalam
dunia persilatan " Thian-hong pangcu berkata pula setelah
menyapu kelima orang itu.
"ln Hok Liau Wan Sungguh tak nyata kalian sebagai
seorang ketua dari suatu perguruan besar ternyata masih
belum dapat menghilangkan rasa tamak dalam hati kalian,
hanya disebabkan sebatang tumbuhan saja kalian bersedia
melakukan pertarungan. hmm sekarang setelah bertemu
dengan aku, apa yang hendak kalian kata kan lagi ?"
Air muka In Hok Totiang dan Liau Wan Taysu berubah
hebat, mereka jadi gelagapan dan tak mampu mengucapkan
sepatah katapun, sedangkan tiga orang yang lainpun mukanya
berubah hebat, keadaan mereka bagaikan tikus yang bertemu
dengan kucing.
Melihat sikap beberapa orang itu, Gak In Ling keheranan-
Pikirnya didalam hati.
"Gadis ini masih berusia sangat muda, tapi setiap patah
kata serta tingkah lakunya cukup menggetarkan hati setiap
jago yang ada dalam dunia persilatan- Sungguh luar biasa
sekali, hal ini sangat tidak masuk diakaL"
Sementara itu Thian-hong pangcu telah mendengus
kembali. "Hmm, apa yang hendak kalian katakan lagi?"
serunya.

91
In Hok Totiang ragu-ragu sebentar, kemudian sambil
keraskan kepala dia maju kedepan dan menjawab.
"Adapun maksud kedatangan kami semua ke tempat ini,
semula adalah ingin menyelidiki lembah Toan-hun-kok. tapi
siapa sangka baru saja tiba ditempat ini kami telah
menemukan buah ciciko yang mujarab itu."
"Hmm oleh karena itu kalian berhasrat untuk
mendapatkannya, bukankah begitu ?" dengus Thian-hong
pangcu.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia tertawa dingin dan
berkata kembali.
"Apakah kalian yakin dengan kekuatan yang kamu miliki
akan berhasil menyelidiki rahasia dari lembah tersebut ?"
"omitohud " seru Liau Wan Taysu dengan alis berkerut.
"Banyak sekali anak murid yang kuutus datang kemari lenyap
tak berbekas, karena itu meskipun kami berlima menyadari
bahwa kepandaian silat yang kami miliki masih bukan
tandingan lawan, namun masa depan kami sendiri maka
terpaksa kami harus mencobanya sekalipun harus menempuh
bahaya."
sementara mereka masih berbicara, Gak In Ling telah
memetik ketujuh butir ciciko itu dan diletakkan dalam
genggamannya, kemudian berkata.
Tindakan Gak In Ling yang sama sekali di luar dugaan ini
mencengangkan hati para jago, mereka mengira sianak muda
itu adalah anak murid dari perkumpulan Thian-hong-pang,
tanpa terasa jago-jago lihay itu merasa amat berterima kasih
sekali terhadap gadis tersebut.
"Pangcu, tolong bagikan ketujuh buah ciciko ini kepada
mereka semua." sambil berkata ia angsurkan buah ciciko tadi
kedepanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
92
Tapi mereka tak pernah menduga bahwa rasa kejut yang
dialami Thian-hong pangcu jauh lebih hebat daripada mereka
sendiri, dengan sorot mata yang curiga bercampur tak percaya
ia menatap wajah pemuda itu, lama-lama sekali ia baru
berkata dengan nada dingin.
"Gak In Ling, kebutuhanmu mungkin jauh lebih besar
daripada mereka, benarkah engkau rela memberikan buah
ciciko ini kepada mereka ?"
Hawa gusar memancar keluar dari balik mata Gak In Ling
yang aneh, tetapi ia menahan diri kembali sebab dia tak ingin
menanam bibit permusuhan dengan orang-orang itu.
Dengan pandangan dingin disapunya sekejap Thian-hong
pangcu, kemudian membentak keras.
"sambutlah buah ini " tangan diayun, enam biji buah ciciko
segera memencar kedepan bagaikan enam buah kilatan
cahaya dan masing-masing meluncur kearah enam orang yang
berbeda.
Pada saat yang bersamaan keenam orang dalam kalangan
bersama-sama menerima sebutir buah ciciko yang disambit
kearah mereka, tapi tak seorangpun yang melakukan
pemeriksaan, dengan dua belas buah mata yang aneh mereka
menatap wajah sianak muda itu, karena tindakan dari
lawannya ini telah membuat hati orang-orang itu tercengang
dan tidak habis mengerti.
Thian-hong pangcu sendiri dengan pandangan yang tidak
tenang serta permintaan maaf memandang kearah sianak
muda itu, menanti ia berhasil melihat bahwa ditangan Gak In
Ling masih tersisa satu butir buah ciciko, rasa tidak tenang
tadi baru pulih kembali seperti sedia kala, inikah yang
dinamakan cinta.
In Hok Totiang maju selangkah kedepan, setelah memberi
hormat ujarnya.

93
"Siauw sicu berjiwa besar dan berdada lapang, pinto
merasa amat kagum sekali, bolehkah aku tahu siapa namamu
?" sambil berkata ia memandang ke arah pemuda itu dengan
sorot mata kagum bercampur menghormat.
Keempat orang lainnyapun mempunyai pandangan yang
sama, mereka ingin sekali mengetahui siapakah gerangan
pemuda yang berjiwa besar dan bersedia membagikan buah
mustika yang berhasil didapatkannya itu.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Thian hong-pangcu,
pikirnya, "oh, rupanya inilah kesempatan yang paling baik dari
Gak In Ling untuk mencari simpati dari para jago, hampir saja
aku kena dikelabui oleh tindakannya ini." Menurut
perkiraannya apa yang dipikirkan tentu tak akan salah lagi.
Siapa tahu Gak In Ling cuma tertawa hambar belaka
setelah mendengar perkataan itu.
katanya.
"Aku bukanlah seseorang yang patut saudara sekalian ingat
terlalu, lebih baik namaku tak usah kalian ketahui " setelah
berhenti sebentar, lanjutnya. "Buah ciciko setelah dipetik dari
tangkainya tak dapat disimpan terlalu lama, aku harap kalian
segera menelan buah tersebut " habis berkata perlahan-lahan
ia berlalu dari tempat itu
"omitohud.." seru Lian Wan Taysu sambil merangkap
tangannya memuji keagungan Buddha, "Aku rasa sudah
sepantasnya kalau sicu menelan lebih dahulu buah ciciko itu "
"Siapa yang makan buah ciciko dia akan mendapat
tambahan tenaga dalam dan menambah usia, sebaliknya kalau
aku yang menelan buah itu maka perbuatanku ini hanya
membuang dengan percuma sebuah buah langka dalam
kolong langit" jawab Gak In Ling hambar, berpalingpun tidak.
"Tapi buah tersebut dapat menyembuhkan pelbagai
penyakit dan luka dalam, kenapa sicu mengatakan hanya

94
membuang percuma sebuah benda langka dalam kolong langit
?" . Gak In Ling tertawa tawa.
"Keputusanku sudah bulat, terima kasih atas perhatian dari
taysu dan engkaupun tak usah memaksa diriku lagi."
Selama ini Thian-hong-pangcu hanya mendengarkan setiap
patah kata dari Gak In Ling dengan cermat dan seksama,
walaupun setiap patah katanya tak dapat ditangkap artinya
oleh lima orang jago yang hadir dalam kalangan, tetapi bagi
pendengaran gadis cantik baju putih ini seakan-akan sebuah
batu cadas yang menindih diatas dadanya, membuat pikiran
dan perasaannya bergolak keras.
Tak tahan lagi ia segera menyela.
"Apakah engkau tidak merasa bahwa keputusan yang telah
kau ambil itu terlalu merugikan dirimu ?" Gak In Ling, tertawa
dingin-
"Hee hee hee. ... keputusan yang ku ambil mungkin saja
justru merupakan apa yang pangcu butuhkan, bukankah
kehidupanku dalam kolong langit hanya akan memusingkan
kepala pangcu saja ?"
Airmuka Thian-hong pangcu berubah hebat serunya tanpa
sadar.
"Darimana engkau tahu kalau itulah yang kubutuhkan?"
suaranya keras dan penuh emosi.
Tiba-tiba dari atas puncak tebing moloncat datang sesosok
bayangan manusia, dia bukan lain adalah pria tato sembilan
naga, berhubung ilmu meringankan tubuhnya agak cetek
maka ketika mencapai permukaan tanah ia maju kedepan
dengan sempoyongan.
Namun pria itu sama sekali tidak menggubris keadaannya
itu, dengan sorot mata yang tajam disapunya sekejap
sekeliling tempat itu, setelah menjumpai tangkai buah ciciko

95
dengan ketujuh daunnya berada ditangan Gak In Ling, ia
segera membentak.
"Bajingan cilik, semula aku tak habis mengerti apa
sebabnya engkau lari dengan begitu cepatnya oh, rupanya
engkau hendak merampok buah ciciko ? Bagus sekali, aku
akan mengadu jiwa dengan dirimu."
Habis berkata, toya besinya segera disapu ke depan
denganjurus "ciu-hong-sau-llok-yap" atau daun berguguran
terhembus angin dingin.
Weesss Diiringi desiran angin tajam ia memutar toy
anyamembabat kearah pinggang Gak In Ling, senjata itu
belum mencapai sasaran desiran dingin telah menyengat
badan, hal ini menunjukkan betapa kuatnya tenaga yang
dimiliki pria itu.
Menengar datangnya desiran angin tajam, Gak In Ling
putar badan, sorot matanya dengan berkilat, setelah
memandang datangnya ancaman tersebut tiba-tiba laksana
kilat cengkeram ujung toyadengan jurus "Lekshu-ki-liong" atau
tenaga sakti menundukkan naga.
Gerakan yang dilakukan, secara tiba tiba ini mengejutkan
setiap para jago yang hadir dalam gelanggang, sebab
serangan toya yang dilancarkan tato sembilan naga luar biasa
sekali danpria itu sudah mengerahkan segenap kekuatan yang
dimilikinya.
Tanpa sadar Thian- hong-pangcu maju selangkah kedepantapi
sayang gerakannya itu terlambat.
Blaaam Ditengah getaran yang amat keras, Gak In Ling
terseret maju sampai tiga- empat langkah kedepan dengan
sempoyongan setelah terhajar oleh sapuan toya lawan, air
mukanya berubah jadi hijau keabu-abuan, tetapi ia masih
mencekal ujung toya pria tato sembilan naga itu kencangkencang.

96
Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.
"oh aku lupa kalau luka dalam yang sedang kuderita belum
sembuh."
Ia segera menengadah memandang sekejap kearah pria
tato sembilan naga, kemudian tanya nya dengan tenang.
"Berapa buah ciciko yang engkau butuhkan ?"
Dengan sekuat tenaga pria tato sembilan naga membetot
toya besinya, dalam perkiraannya pasti toya tersebut akan
berhasil dicabut lepas karena Gak In Ling berbadan lemah dan
masih muda belia.
Siapa tahu peristiwa yang kemudian terjadi jauh diluar
dugaannya, dia merasa toyanya bagaikan berdempetan
dengan sebuah bukit karang yang amat berat, jangan dikata
untuk mencabut keluar sekalipun untuk menggoyangkanpun
dia tak mampu. Hal ini amat mengejutkan hatinya, dengan
perasaan kaget pikirnya didalam hati.
"Mungkinkah bocah ini pandai ilmu sihir? Kalau tidak
mengapa toyaku seakan-akan tertindih dengan bukit karang
yang berat ?"
Sepasang matanya memandang kearah Gak In Ling dengan
sorot mata tertegun, ia tak tahu apa yang musti dikatakan-
Dengan hambar Gak In Ling memandang sekejap
kearahnya, lalu bertanya kembali.
"Eeii, sudah dengar belum pertanyaanku? Akutan^a
engkau butuh berapa butir buah ciciko ?"
"Sebutirpun sudah cukup,"
Gak In Ling segera ayun telapaknya kedepan dan
melemparkan buah ciciko yang tinggal sebutir itu ketangan
pria tato sembilan naga, serunya. "Nah, buah itu boleh kau
telan"

97
Meskipun pria tato sembilan naga adalah seorang kasar dan
berangasan tapi pikirannya polos sekali, sambil menerima
buah ciciko itu tanyanya. "Eli, engkau masih punya berapa
butir ?"
"Sebutirpun dia sudah tak punya" jawab In Hok Totiang
dengan cepat.
Tertegun hati pria tato sembilan naga setelah mendengar
ucapan tersebut, tiba-tiba ia berseru.
"Sungguhkah itu ? Bocah cilik, aku kembalikan buah ciciko
ini kepadamu, akupun takkan berlatih segala macam ilmu silat
lagi.... nih,terimalah kembali "
Dengan langkah lebar ia berjalan kehadapan Gak In Ling,
kemudian angsurkan buah ciciko tersebut ketangan pemuda
itu.
Dari balik mata Gak In Ling memancarlah serentetan
cahaya yang sangat aneh, sambil tertawa ia menepuk bahu
pria tato sembilan naga, kemudian katanya dengan nyaring.
"Kalau engkau tidak berlatih ilmu tersebut gurumu pasti
akan merasa menyesal dan kecewa sekali."
"Tapi, kalau kumakan buah ini bukankah engkau jadi tak
mendapat bagian ?"
"Aku toh tidak membutuhkannya." sahut Gak In Ling sambil
menggeleng.
Pria tato sembilan naga adalah seorang lelaki yang berhati
polos, mendengar perkataan itu ia mengira ucapan tersebut
adalah sungguh, maka sambil tertawa ujarnya. "Hey bocah,
engkau adalah manusia paling baik yang pernah kujumpai
selama hidup " .
Dengan tangan kanannya ia genggam bahu sianak muda,
sedang wajahnya berseri-seri penuh kegembiraanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
98
Apa yang terjadi didepan mata memancing rasa haru dihati
para jago yang hadir disana, berpuluh buah mata yang
memancarkan rasa terima kasih segera dialihkan kearah
pemuda she Gak.
Than- hong pangcu paling tergetar hatinya setelah
menyaksikan kejadian itu, pikirnya. "la memang berjiwa besar,
padahal diantara orang yang hadir ditempat ini dialah yang
paling membutuhkan benda tersebut, sayang sekali ditempat
ini tak ada delapan butir buah ciciko."
Sementara itu sambil memutar badan Gak In Ling telah
berkata kembali.
"Harap saudara sekalian suka menelan buah tersebut, aku
akan tetap berjaga disini untuk melindungi keselamatan kalian
selama kalian bersemadhi."
Dengan langkah gontai ia berjalan kearah kanan, dan disitu
ia berjaga-jaga sambil menyapu keadaan disekeliling lembah
tersebut.
Semua jago mengetahui akan sifat dari buah ciciko
tersebut, merekapun tak berani membuang waktu dengan
percuma lagi, dengan hati girang dan rasa berterima kasih
buah itu segera ditelan kedalam perut lalujatuhkan diri bersila
untuk mengatur pernapasan-
Asal manusia masih terdiri dari darah dan daging, siapakah
yang masih dapat melepaskan diri dari ketamakan serta
keserakahan mementingkan diri sendiri ?
Dengan pandangan iba Thian-hong pangcu menyapu
sekejap kearah para jago yang hadir di tempat itu, kemudian
sambil menghela napas pikirnya.
"Meraka semua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia
persilatan, tetapi tingkah laku mereka jika dibandingkan
dengan pemuda ini... oh masih terpaut jauh sekali," Berpikir
sampai disitu, ia segera berjalan mendekati pemuda itu.

99
Sorot mata yang dingin, hambar dan ketus yang semula
menyelimuti wajahnya, entah sejak kapan telah lenyap tak
berbekas, siapapun tidak tahu apa sebabnya bisa demikian-
Gadis cantik baju putih itu berhenti kurang lebih dua depa
dibelakang Gak In Ling, ujarnya dengan suara lirih.
"Gak In Ling, buah ciciko ini engkaulah yang mendapatkan,
aku tidak membutuhkannya, siIahkan engkau menerima
kembali l"
Gak In Ling putar badan, setelah memandang sekejap
wajah gadis itu sahutnya dengan ketus.
"Bilamana pangcu tidak ingin menelannya, kenapa tidak
dibuang saja ke dalam jurang sebelah sana ? Bukankah
dengan begitu tak usah merepotkan, dirimu lagi ?"
Thian-hong pangcu tertegun, lalu dengan dingin teriaknya.
"Kau kau... apa maksudmu?"
Gak In Ling menyapu sekejap wajah gadis cantik berbaju
putih itu dengan pandangan dingin tiba-tiba ia menghela
napas dan putar badan kemudian berjalan menuju kearah
mana bayangan Buddha Antik melenyapkan diri tadi, sambil
berjalan katanya.
"Kalau memang pangcu menaruh curiga bahwa pembagian
yang kulakukan ini bukan muncul dan hati-sanubariku, tentu
saja engkau berhak untuk jangan menelan buah ciciko itu, aku
orang she Gak tidak akan memaksa dirimu untuk menuruti
perkataanku." Habis berkata tubuhnya sudah berada lima
tombak jauhnya dari tempat semula.
Melihat Gak in Ling telah salah mengartikan maksud
ucapannya, Thian-hong pangcu merasa hatinya jadi kecut dan
hampir saja mengucurkan airmata, bibirnya yang kecil- mungil
dicibirkan beberapa kali namun tak sepatah kata yang
meluncur keluar, akhirnya dengan nada gegetun ia membatin
didalam hati. "Ooh .... engkau memang kejam "

100
Tiba tiba ia temukan bahwa pemuda she Gak itu sudah
berada sepuluh tombak dari mulut lembah, hatinya jadi
terperanjat dan segera teriaknya dengan suara gemetar. "Gak
In Ling, engkau akan pergi kemana ?"
Gak In Ling sama sekali tidak menghentikan langkahnya,
hanya dengan dingin ia menjawab.
"Aku hendak pergi kemana yang harus aku pergi "
"Bagaimana dengan orang-orang ini ?" tanya Thian-hong
pangcu dengan gelisah. Gak In Ling menghentikan langkahnya
dan putar badan.
"Aku percaya pangcu takkan tinggalkan mereka selagi
orang orang itu bersemadhi."
Thian-hong pangcu memandang sekejap ke-arah pemuda
itu dengan pandangan sedih, akhirnya dia telan buah ciciko
tersebut kedalam perut dan duduk bersila diatas tanah,
pikirnya.
"Kalau aku berbuat begitu, engkau pasti tak akan pergi dari
sini."
Tindakan dara cantik tersebut sama sekali diluar dugaan
Gak In Ling, ia tak habis pikir apa sebabnya gadis itu menelan
buah ciciko secara suka rela setelah sebelumnya menampik
untuk makan buah itu.
Dengan perasaan apa boleh buat Gak In Ling gelengkan
kepalanya dan berjalan kembali, terpaksa ia harus memikul
tanggung jawab untuk melakukan perlindungan terhadap
orang-orang itu.
---ooo0dw0ooo---
Waktu berlalu dengan cepatnya ditengah keheningan yang
mencekam seluruh jagad, dan waktu yang berlalu detik demi
detik, menit demi menit itu mendatangkan manfaat yang amat
besar bagi setiap jago yang sedang duduk bersemedhi di

101
tempat itu, sebab dalam waktu yang amat singkat tenaga
dalam yang mereka miliki telah mendapat kemajuan yang
amat pesat.
Dengan wajah termangu- mangu Gak In Ling menengadah
memandang awan yang bergerak di- angkasa dibawah sorot
cahaya matahari yang berwarna keemas-emasan, wajahnya
yang tampan tiba-tiba terlintas kemurungan serta kekesalan
yang tebal, siapa pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan
olehnya.
Pada saat itulah perlahan-lahan Thian-hong pangcu
membuka kembali matanya yang jeli, diantara para jago yang
hadir disana tenaga dalam yang dia miliki paling sempurna,
karena itu diapun yang sadar paling dahulu.
Diatas raut wajah yang merah dadupada saat itu terlintas
cahaya tajam yang bergemerlapan, hal itu menambah
kecantikan diatas wajahnya.
Setelah memandang sekejap kearah Gak In Ling dengan
pandangan dalam, ia loncat bangun dari atas tanah dan
berjalan menghampiri dirinya.
Gak In Ling sama sekali tidak merasakan akan kehadiran
dari gadis itu, mungkin ketika ia sedang memikirkan satu
masalah penting yang maha besar.
Akhirnya Thian-hong pangcu berhenti padajarak tiga depa
dibelakang tubuh Gak In Ling, tegurnya dengan suara lirih.
"Apa sih yang sedang kau pikirkan?" suaranya lembut dan
halus, penuh mengandung perasaan kuatir dan
memperhatikan-
"Pangcu telah sadar dari semedhi. itu berarti urusanku
ditempat ini telah selesai " sahut Gak In Ling tanpa berpaling.
Habis berkata ia merogoh kedalam saku dan ambil keluar
sebotol porselin berwarna hijau tua kemudian dengan langkah
lebar berjalan menuju kelembah bukit sebelah kananTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
102
Air muka Thian-hong pangcu berobah hebat, tiba-tiba ia
meloncat kedepan dan menghadang jalan pergi sianak muda
itu, serunya. "Engkau hendak pergi kemana?"
"Pangcu, apakah engkau tidak merasa bahwa urusanku
yang kau urusi sudah terlalu banyak ?" kata pemuda she Gak
dengan alis berkerut dan suara ketus.
"Kemanapun engkau akan pergi aku takkan turut campur,
hanya lembah itu saja tak boleh kau masuki."
"Mengapa ?" tanya Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Dengan muka merah jengah Thian-hong pangcu alihkan
sorot matanya kearah lain, lalu menjawab.
"Karena engkau akan menemui ajal ditempat itu."
"Hmm Bukankah pangcu mengharapkan aku mati ?"
"Kapan sih, aku pernah mengatakan bahwa aku berharap
agar engkau mati? coba katakan " seru Thian-hong pangcu
dengan penuh emosi.
Suaranya agak gemetar, di balik kelopak matanya yang jeli
secara lapat-lapat tampak mengembang air mata, tapi
wataknya yang keras kepala telah mencegah air mata itu tidak
sampai meleleh keluar.
Gak In Ling jadi tidak tega juga melihat keadaan gadis itu,
pikirnya.
"Perempuan ini berhati bajik dan berbudi luhur, demi
menjaga ketenangan serta ketenteraman dunia persilatan dia
akan membinasakan diri ku, tindakan ini bukanlah suatu
tindakan yang keliru, justru kesalahan terletak pada diriku
yang tak dapat menunjukkan dosa serta kesalahan dari orangorang
yang kubunuh, aii... .."
Gak In Ling sebenarnya adalah seorang pemuda berhati
panas dan berwajah dingin, ia mempunyai perasaan untuk
berbakti bagi masyarakat dan bekerja untuk kebenaran, tetapi

103
sayang sekali ia tak dapat memberi penjelasan kepada orang
lain terhadap apa yang hendak dilakukan olehnya.
Perlahan-lahan ia menengadah memandang langit dan biru,
lalu menghela napas panjang, ujarnya.
"Mungkin pangcu memang tak mempunyai perasaan seperti
itu, tapi sayang sekali keputusan dan tekadku sudah bulat,
biarlah maksud baik pangcu kuterima didalam hati."
Selesai berkata dengan langkah lebar dia lanjutkan kembali
perjalanannya menuju kesebelah kanan lembah tersebut,
Thian-hong pangcu terkesiap. Sekali lagi ia loncat kedepan
dan menghadang dihadapan sianak muda itu sambil serunya.
"Asal engkau mampu menangkan diriku, maka dengan
bebas engkau boleh lanjutkan perjalananmu menuju kedalam
lembah ini "
Tertegun hati Gak In Ling mendengar perkataan tersebut,
tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata.
"Pangcu menganggap bahwa aku orang she Gak jeri
terhadap dirimu ?"
"Tentu saja lebih baik kau tidak takut"
Gak In Ling mencabut keluar penutup dari botol porselen
berwarna hijau-tua itu kemudian ambil keluar sebutir pil
berwarna hijau dan siap ditelan kedalam perut.
Semua gerak-gerik sianak muda itu tidak lolos dari
pengawasan Thian-hong pangcu, begitu ia menjumpai bentuk
serta warna dari botol porselen itu, hatinya langsung saja
merasa terkejut, sebab bentuk dari botol tersebut
mengingatkan ia akan botol racun yang pernah didengarnya
dari berita persilatan-
Menanti Gak In Ling telah ambil keluar obat tadi, wajahnya
berubah semakin hebat, jeritnya.

104
"Gak In Ling, jangan kau telan obat itu"
Sambil menjerit tubuhnya berkelebat maju kedepan dan
menerjang kearah sianak muda itu, tangan kanan
mengeluarkan jurus "clong-hay-lau ciang" atau mencari jarum
didasar lautan, bagaikan sambaran burung elang dia
mencengkeram obat ditangan pemuda itu.
Serangan yang dilancarkan Thian-hong pangcu ini jauh
diluar dugaan Gak in Ling, ia mengira dara tersebut
melancarkan serangan menggunakan kesempatan ketika ia
sedang mengambil obat, kejadian ini membuat hatinya
tertegun.
Buru-buru obat hijau itu disingkirkan ketangan kanan, lalu
dengan gerakan "To-pau-hoan-wi" atau copot jubah ganti
posisi laksana kilat ia mengundurkan diri sejauh empat tombak
lebih dari tempat semula, dengan suatu gerakan yang manis
sekali ia berhasil menghindari sambaran kilat lawan-
Tapi ia cepat, Thian-hong pangcu lebih cepat lagi, baru saja
sepasang kaki Gak In Ling menginjak tanah, jurus serangan
"Kim-liong-tam-jiu" atau naga emas unjuk cakar dari Thianhong
pangcu kembali telah menyusul datang.
Kali ini Gak In Ling telah bikin persiapan yang matang,
dengan alis berkerut sindirnya.
"Pangcu, pandai sekali engkau gunakan waktu yang paling
tepat. Hmm, kau anggap serangan mu itu akan berhasil ?"
Sementara berbicara ia telah mengubah gerakannya jadi
jurus "cian-li lay-hong" atau pelangi muncul seribu li, sambil
putar badan ia balik menerjang kedepan-
Pikiran Thian-hong pangcu pada saat ini kacau dan bingung
sekali, ia tak tahu bagaimana mesti menjelaskan duduk
perkara yang sebenarnya dalam keadaan begini dia merasa
hanya menguasai sianak muda itu secepatnya baru bisa
menghalangi dia untuk menelan obat berwarna hijau tersebut.

105
Karena itu, kendatipun mendengar sindiran dari Gak In Ling
namun gadis itu sama sekali tak ambil perduli, dengan
sepenuh tenaga ia lancarkan kembali serangan-serangan
dahsyatnya.
Thian-hong pangcu adalah salah seorang diantara dua
gadis aneh yang menguasai seluruh dunia persilatan, dengan
usianya yang masih begitu muda ternyata dia mampu
menaklukkan segenap jago lihay yang ada didalam dunia
persilatan, hal ini menunjukkan bahwa kepandaian silat yang
dimilikinya benar-benar luar biasa sekali.
Terlihatlah tubuhnya yang langsing bergerak dan menari
kian- kemari bagaikan kupu-kupu yang bermain diantara
wanginya bunga, tapi ditengah keindahan terseliplah
perubahan-perubahan yang amat banyak dan sama sekali tak
terduga, ayunan telapak menimbulkan deruan angin pukulan
yang mendesir, begitu dahsyatnya hawa serangan tersebut
sehingga seakan-akan gulungan ombak ditengah samudra
luas.
Gak In Ling sendiri walaupun memiliki ilmu telapak maut
yang amat lihay, tetapi kepandaian tersebut tak dapat
digunakan olehnya, karena pertama luka dalam yang
dideritanya belum sembuh, dalam keadaan begini tenaga
murninya tak dapat digunakan seperti apa yang sebenarnya.
Kedua, ia tak tega membinasakan gadis cantik yang berhati
baik ini diujung telapaknya, maka setelah lewat lima puluh
jurus air muka Gak In Ling berubah semakin pucat, keringat
sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya. Ia
menengadah memandang kearah gadis cantik baju putih itu,
kemudian serunya.
"Pangcu, tidak sampai sepuluh jurus lagi, engkau akan
berhasil membinasakan aku orang she Gak "
Thian-hong pangcu sama sekali tidak menghentikan
serangannya, sambil mempergencar tekanannya ia menyahut.

106
"Gak In Ling, asal kau bersedia tak akan menelan obat itu,
aku pasti takkan menyerang dirimu lagi"
Ditengah kelembutan suaranya terkandung beberapa
bagian nada memohon, siapapun tak bisa menduga apa yang
sedang dipikirkan gadis cantik yang berhati dingin itu pada
saat tersebut.
Gak In Ling segera tergerak hatinya sesudah mendengar
ucapan itu, mendadak ia membentak keras. "Tahan "
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong, membuat semua orang merasakan
pendengarannya jadi sakit, sambil membentak dengan gesit ia
mundur tiga tombak kebelakang, menggunakan kesempatan
itulah pil berwarna hijau tadi segera dimasukkan kedalam
mulut dan ditelannya.
Thian hong pangcu merasa amat terperanjat ketika secara
tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, tanpa terasa ia
menghentikan serangannya dan berdiri tertegun, tapi otaknya
yang cerdik segera memahami akan peristiwa yang akan
terjadi didepan mata, tapi sayang hal itu sudah terlambat.
Dengan wajah yang sedih dan menampilkan rasa hati yang
tersiksa, dara ayu itu berkata.
"Mengapa kau telan obat tersebut ?"
"Agar aku memiliki kemampuan untuk berduel melawan diri
pangcu. "jawab Gak In Ling sambil tertawa hambar.
"Aku toh mempunyai obat mujarab untuk menyembuhkan
luka dalam yang kau derita itu"
"Tapi sayang aku tidak bersedia menerima budi kebaikan
dari pangcu, karena kita berdua berada dalam keadaan yang
berbeda serta posisi yang berbeda pula."

107
Mendengar ucapan itu Thian hong pangcu menundukkan
kepalanya, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya yang pucat.
"Begitu bencikah engkau terhadap diriku ?" bisiknya lirih,
suaranya kedengaran agak gemetar.
Gak In Ling tercekat hatinya, seakan-akan ia telah
memahami akan sesuatu, tapi ia tak berani memastikan dan
iapun tidak berharap apa yang terpikir olehnya itu merupakan
suatu kenyataan, sebab ia tahu bahwa kehidupannya dialam
ini sudah tidak terlalu lama lagi.
Gak ln Ling angkat bahu dan menekan perasaan hatinya,
kemudian sambil tertawa tawa jawabnya.
"Aku sama sekali tidak membenci dirimu, aku hanya
merasa bahwa perbuatan yang akan ku lakukan sejak kini
adalah perbuatan-perbuatan yang melanggar peraturan
pangcu serta menyiakan harapan para jago dunia persilatan,
jikalau pangcu tidak melenyapkan diriku dari permukaan bumi,
maka dalam waktu setengah tahun yang akan datang, dunia
persilatan tak akan mengalami ketenangan-"
Selesai berkata-kata perlahan-lahan ia duduk bersila diatas
tanah.
Bibir Thian-hong pangcu yang kecil bergetar keras, dengan
menggunakan suara yang amat lirih sehingga hampir saja dia
sendiripun tidak mendengar, gumamnya seorang diri.
"Aku tahu bahwa engkau bukanlah seorang manusia yang
gemar membunuh manusia, kau lakukan perbuatan itu karena
mempunyai sebab-sebab tertentu, tapi mengapa engkau
selalu tak mau mengatakannya kepadaku? Apakah sebelum
kita saling berjumpa muka, engkau telah membenci diriku ?"
Suara itu penuh mengandung keluhan, kesedihan dan
rintihan yang menggetarkan hati orang, dari sini pula bisa

108
ditarik kesimpulan bahwa gadis itu memang mempunyai
sesuatu terhadap pemuda she Gak ini.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang yang
kasar berkumandang memecah kesunyian-
"Waduh.... waduh enaknya Benar-benar segar sekali "
Dari nada suara itu Thian hong pangcu segera mengetahui
siapakah dia, hatinya kontan terkejut, pikirnya.
"Sungguh tak kusangka kalau tenaga dalam yang dimiliki
pria tato sembilan naga jauh diatas In Hok dan Liau Wan
sekalian lima orang, tapi siapakah orang ini ? Kenapa belum
pernah kudengar namanya disebut orang didalam dunia
persilatan ?"
Sementara gadis cantik itu masih berpikir, pria bertato
sembilan naga itu sudah berjalan mendekati Gak In Ling,
dengan sorot mata yang tajam ia memandang sekejap kearah
pemuda itu, kemudian ia angkat kepala memandang kearah
Thian-hong pangcu sambil serunya penuh kegusaran-
"Hey, nona ? Barusan ia telah berkelahi dengan bajingan
yang mana ?"
Hawa-amarah berkobar dalam dada Thian hong pangcu,
rupanya dia hendak mengumbar napsu, tapi setelah berpikir
sebentar, bathinnya,
"Buat apa aku mesti bertengkar dengan orang kasar seperti
dia ? Lebih baik tak usah dilayani saja "
Berpikir demikian, iapun balik bertanya sambil tertawa.
"Apa yang hendak kau lakukan setelah mengetahui
siapakah orang itu?"
"Akan kuhajar orang itu "
Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.

109
"Kenapa sih engkau hendak membantu dirinya ?" ia berseru
sambil menuding kearah Gak In Ling.
Pria bertato sembilan naga tertegun, kemudian dengan
sepasang mata melotot bulat serunya.
"Apakah engkau tidak bersedia membantu dirinya ?"
"Aku harus membantu orang yang berhati baik saja, kalau
orang jahat tak sudi kubantu"
"Dia toh orang baik" jawab pria tato sembilan naga sambil
tertawa. Ucapannya begitu meyakinkan dan sama sekali tidak
bersipat paksaan, seakan-akan dia telah mengetahui baik
buruknya tabiat sianak muda itu.
"Darimana engkau bisa tahu kalau dia adalah orang baik
dan bukan orang jahat ?" tanya Thian-hong pangcu lagi.
"Aku merasa bahwa dia adalah orang baik maka dia pasti
orang baik, apa yang mesti dibicarakan lagi ?"
Thian-hong pangcu tahu bahwa pembicaraan ini bila
diteruskan lebih jauh maka sampai di manapun pembicaraan
tersebut tidak akan menjadi jelas, terpaksa ia menggeleng dan
berkata. "Tapi aku merasa ...."
"Kenapa ? Apakah engkau beranggapan bahwa dia bukan
orang baik ?" tukas pria bertato sembilan naga dengan mata
melotot dan nada penuh kegusaran-
Rupanya asal Thian-hong pangcu anggukkan kepalanya,
maka ia segera akan turun tangan-
Sekilas perasaan yang sangat aneh berkelebat diatas wajah
Thian-hong pangcu, sambil memandang awan yang melayang
diang kasagumamnya. "Mungkin saja dia orang baik "
Nadanya aneh dan membuat orang tak dapat menebak
perasaan hatinya pada saat itu sebenarnya sedih atau
gembira, murung atau gusar.

110
Mungkin jago perempuan yang aneh dan menggetarkan
dunia persilatan ini telah menjumpai persoalan paling sulit
yang belum pernah dihadapinya dan tak dapat dipecahkan
oleh kekuatan ilmu serta kecerdasan otaknya.
Jalan pikiran pria bertato sembilan naga sederhana sekali,
tentu saja ia tak dapat berpikir sejauh itu, yang diharapkan
olehnya hanya mendengar orang lain mengatakan bahwa Gak
In Ling adalah orang baik, sebab hal itu sudah cukup
memuaskan hatinya. Sambil tertawa ia segera memuji.
"Wah wah wah aduh, nona, kau memang pintar dan hebat
sekali, bukan saja pandai melihat orang rupanya engkaupun
mempunyai kepandaian yang sangat lihay didalam mengenal
watak orang seperti halnya dengan diriku "
Pada waktu itu pikiran Thian- hong pangcu sedang amat
kacau, apa yang diucapkan pria bertato sembilan naga tak
sepatah katapun yang terdengar olehnya, ia cuma tertawa
tawa saja sebagai pengganti jawabansuasana
dalam kalanganpun berubah jadi hening dan sunyi
sekali ketika itulah tiba-tiba Gak In Ling membuka matanya
kembali, wajahnya yang semula pucat pias kini telah pulih
kembali jadi kemerah-merahan, rupanya luka dalam yang
sedang diderita olehnya telah sembuh kembali seperti sedia
kala.
Setelah meloncat bangun dari atas tanah, Gak In Ling
menyapu sekejap kearah kedua orang itu dengan pandangan
hambar, lalu berkata.
"Aku rasa sudah lebih dari cukup bila ada kalian berdua
yang melakukan perlindungan terhadap orang-orang gila,
aku..."
"Gak In Ling," sela Thian-hong pangcu dengan gelisah,
"obat yang engkau telan barusan, apakah... apakah..." dia
ulangi perkataan itu sampai beberapa kali namun tiada
keberanian untuk mengutarakan lebih lanjut, dari balik

111
matanya yang jeli terpancar keluar perasaan yang sedih,
murung dan tidak tenang.
Gak In Ling menghela napas panjang, sambungnya^ "obat
itu bukan lain adalah cui-sim-wan, obat penghancur hati "
"cui-sim-wan ?" jerit Thian-hong pangcu dengan badan
gemetar keras. "Gak In Ling, bukankah engkau telah
menghancurkan dirimu sendiri ?" suaranya tajam dan penuh
mengandung nada teguran-
Sementara itu pria bertato sembilan naga cuma bisa
mengawasi kedua orang itu dengan mata melotot, sebentar ia
menoleh kearah Gak In Ling sebentar lagi berpaling kearah
dara baju putih itu, rupanya dia tidak tahu apakah yang
disebut obat penghancur hati itu. Gak In Ling tertawa hambar.
"Di dalam kolong langit hanya benda itulah yang bisa
memulihkan kembali tenaga dalamku untuk sementara
waktu."
Bicara sampai disitu ia putar badan dan berangkat kedalam
lembah sebelah kanan-Dengan cekatan pria bertato sembilan
naga meloncat kesisi sianak muda itu serunya. "Hey, engkau
hendak pergi kemana ?"
"Tuh, pergi kesitu." sahut Gak In Ling sambil menuding
kearah lembah, sementara kakinya sama sekali tidak berhenti.
"Bagus, akupun hendak mengikuti dirimu " tanpa banyak
bicara pria tadi mengikuti disamping pemuda tersebut.
Melihat pria kasar itu mengikuti dirinya, dengan serentak
Gak In Ling berhenti berjalan, sambil menggeleng, katanya.
"Lembah ini disebut lembah pemutus nyawa, dan tersohor
sebagai tempat yang paling berbahaya dikolong langit, kalau
toh tiada seseorang yang hendak kau cari disana, lebih baik
jangan ikut masuk"

112
"omong kosong... omong kosong" teriakpria bertato
sembilan naga sambil menepuk dada sendiri. "Aku simanusia
bertato sembilan naga sejak kecil sampai dewasa selalu
berdiam dalam kuburan, setanpun tidak kutakuti apa yang
mesti kujerikan lagi apalagi menghadapi....... menghadapi
bahaya."
---ooo0dw0ooo---
Jilid 4
TAPI Gak ln Ling tetap gelengkan kepalanya.
"Jangan, kau jangan ikut. Sebab orang yang berada dalam
lembah itujauh lebih menakutkan dari pada setan, kalau tidak
tanyakanlah sendiri kepada..." bicara sampai disini ia segera
berpaling ke belakang, tapi dengan cepat pemuda itu berdiri
tertegun, sebab pada saat itu Thian-hong pangcu sedang
mengikuti di belakang tubuhnya persis pada jarak lima depa.
Dengan muka tercengang segera tegurnya: "Pangcu,
apakah engkau juga akan ikut menempuh bahaya ?"
Merah jengah selembar wajah Thian-hong pangcu, tiba-tiba
ia tertawa dingin, dan menjawab:
"Penghuni yang berdiam dalam lembah ini sangat
membahayakan jiwa dan keselamatan dari umat persilatan
didaratan Tionggoan, sejak dahulu aku memang ada maksud
untuk menyelidiki lembah ini. Hmm, kau tak usah berpikir
yang bukan-bukan, janganlah kau anggap kedatanganku
kemari adalah disebabkan karena dirimu."
"Oooh, kalau memang begitu aku orang she Gak-lah yang
terlalu berlagak pintar." ujar pemuda itu kemudian dengan
hambar.
"Ei, benarkah orang yang berada dalam lembah ini jauh
lebih menakutkan daripada setan?" terdengar pria bertato

113
sembilan naga telah berseru pula dengan nada cemas. "Kalau
memang begitu aku si manusia bertato sembilan naga harus
mengobrak-abrik orang itu, dan ingat urusan ini sama sekali
tak ada urusannya dengan dirimu." dalam gugupnya ternyata
pria kasar inipun meniru lagak Thian-hong pangcu.
Gak In Ling ingin cepat-cepat menemukan Buddha Antik
dan tak ingin membuang waktu dengan percuma, setelah
memandang sekejap kearah dua orang itu ujarnya dengan
hambar:
"Kalau memang begitu, mari kita kerjakan urusan masingmasing."
dengan langkah lebar ia berjalan lebih dahulu
memasuki lembah tersebut.
"Hm, kau tak boleh aku ikut, justru aku akan sengaja ikuti
terus dirimu, akan kulihat apa yang bisa kau lakukan-" pikir
pria bertato sembilan naga didalam hati. Berpikir sampai disitu
diapun dengan cepat membuntuti dibelakangnya.
Thian-hong pangcu berpaling dan memandang sekejap
kearah lima orang yang masih bersemadhi, melihat In Hong
Totiang dan Liau Wan Taysu telah mendusin, hatinya jadi lega
dan dengan cepat gadis itu memburu dibelakang Gak ln Ling.
Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang itu
memang sangat tinggi, sepanjang perjalanan walaupun tidak
menggunakan ilmu meringankan tubuh, akan tetapi kalau
dibandingkan dengan orang biasa, langkah mereka lima enam
kali lipat jauh lebih cepat.
Tidak selang beberapa saat kemudian ketiga orang itu
sudah memasuki mulut selat Toan-hun kok yang sempit,
didepan mereka muncullah cabang jalan yang satu menuju
ketenggara sedang yang lain-menuju kearah timur laut, jalan
manakah yang harus ditempuh tak seorangpun yang tahu. .
Pada jalan masuk kedua buah jalan simpangan tadi
tersebar tengkorak-tengkorak manusia yang berserakan
dimana-mana,jumlah mereka sampai ratusan dan sepintas

114
memandang suasana ditempat itu terasa seram dan
mengerikan sekali.
Tanpa sadar Thian-hong pangcu menggeserkan tubuhnya
dua langkah kesamping Gak In Ling, mungkin dalam perasaan
seorang gadis hanya mendekati kaum pria yang dicintainyalah
dirinya baru terasa aman-
Sementara itu manusia bertato sembilan naga telah
bergumam dengan suara yang kasar: "Maknya, neneknya
kenapa begitu banyak barang-barang yang menjijikkan
berserakan disini ? Benarkah mereka jauh lebih menakutkan
daripada setan ?"
Dengan cepatnya mereka bertiga telah tiba dijalan
persimpangan tersebut, Gak in Ling segera berhenti dan
bertanya:
"Kalian berdua akan memilih jalan yang mana ?"
"Kau sendiri ?" pria bertato sembilan naga balik bertanya.
"Aku memilih jalan yang ini " sahut Gak In Ling sambil
menuding ke arah jalan yang bercabang kearah Timur- laut.
"Oooh, hah hah hah kebetulan sekali, akupun hendak
melewati jalan yang ini " sambil tertawa terbahak-bahak pria
bertato sembilan naga segera berjalan lebih dahulu memasuki
jalan cabang tadi.
Gak In Liag tertegun, ketika ia berpaling kearah Thian-hong
pangcu maka tampaklah gadis baju putih itu sudah melewati
disisi tubuhnya dan berangkat menyusul dibelakang pria
bertato sembilan naga.
Jalan lembah itu berliku liku bagaikan usus kambing, tidak
selang beberapa saat kemudian bayangan punggung kedua
orang itu sudah lenyap dibalik tikungan yang pertama, mereka
berdua tak seorangpun yang berpaling kearah Gak In Ling,
mungkin dalam perkiraan mereka sianak muda itu pasti akan
menyusul dibelakangnya.

115
Gak In Ling tidak langsung berangkat kearah Timur- laut,
sambil menoleh jalan yang ada disebelah kiri, pikirnya.
Jikalau tiga orang mengambil jalan yang sama, bukankah
itu berarti telah meninggalkan sebuah jalan kehidupan bagi
Buddha Antik? Biarlah aku mengambil jalan yang kearah
tenggara saja."
Sementara itu hendak berjalan menuju kekiri, tiba-tiba satu
ingatan berkelebat kembali dalam benaknya.
"Buddha Antik adalah seorang jago bu-lim yang amat
tersohor, sekalipun ia berjumpa dengan Thian-hong pangcu,
belum tentu gadis itu akan menyusahkan dirinya, aku rasa
kalau aku orang she Gak harus berjalan seorang diri malah
kekuatanku terasa jauh lebih lemah."
Senyuman dingin tersungging diujung bibirnya, untuk
beberapa saat ia tak tahu jalan manakah yang harus ditempuh
olehnya.
Pada saat itulah dari dalam lembah tiba-tiba berkumandang
datang suara bentakan keras dari pria bertato sembilan naga.
"Maknya bangsat Kalian anggap setelah kamu semua
menyaru sebagai setan dan malaikat maka yayamu lantas
ketakutan dan lari terbirit-birit?"
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong.
Gak In Ling terkejut, dengan cepat ia putar badan dan lari
menuju kearah mana berasal-nya suara tadi.
Baru saja bayangan tubuh Gak In Ling lenyap dibalik
tikungan yang pertama, dari balik jalan persimpangan yang
menuju kearah tenggara tiba-tiba muncul dua orang manusia
aneh yang berwajah menyeramkan, sambil memandang
bayangan punggung sang pemuda yang lenyap ditikungan
mereka tertawa dingin, kemudian bagaikan hembusan puyuh
kedua orang itu menyusul dari belakangnya.

116
Dengan kecepatan yang tinggi Gak In Ling melayang
masuk kedalam lembah, sepanjang jalan ia lihat tulang putih
yang memantulkan api fosfor berserakan dimana-mana
pemandangan sekitar tempat itu mengerikan sekali bagaikan
masuk ke kerajaan setan saja.
Setelah melalui tujuh- delapan tikungan, pemuda itu mulai
bingung dan tak dapat membedakan arah lagi.
Pada tikungan kesepuluh akhirnya Gak In Ling menemukan
cahaya terang memancar masuk dari arah depan, apa yang
kemudian terlihat olehnya membuat sianak muda itu tertegun.
Ditengah gelanggang tampaklah pria bertato sembilan naga
sedang memutar senjata toyanyadan melangsungkan
pertarungan sengit melawan tiga orang manusia aneh berbaju
hitam yang mukanya corang- coreng oleh lima- enam warna,
pertarungan itu berjalan seru dan ramai sekali.
Thian-hong pangcu sendiri berada lima tombak diluar
gelanggang, sorot matanya yang jeli menyapu sekejap kearah
Gak In Ling, seakan-akan ia sudah lama sekali menantikan
kedatangannya .
Dengan pandangan yang tajam Gak In Ling menyapu
sekejap seluruh pemandangan dalam lembah itu, ia lihat luas
lembah tersebut kurang- lebih duapuluh tombak persegi, batu
cadas berserakan disana-sini, tanaman gundul dan gersang
sekali, diatas dinding tebing batu disebelah depan terdapat
sebuah mulut gua yang tidak terlalu besar, dan tempat itulah
merupakan pusat dari lembah tersebut.
Setelah menyapu sekejap suasana dalam gelanggang
pertarungan, ia segera mengetahui bahwa pria bertato
sembilan naga berhasil menguasai keadaan dan merebut
diatas angin, hal ini melegakan hatinya, tanpa banyak berpikirpemuda
ini segera melangkah kearah mulut gua.

117
Mendadak dari belakang tubuh sianak muda itu
berkumandang datang suara teguran yang amat
menyeramkan-
"Bangsat!! Engkau tak usah menuju kes ana lagi, ditempat
inilah mayatmu akan bersemayam antuk selama-lamanya "
Mendengar suara teguran tersebut, Gak In Ling merasa
terperanjat, dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan
berpaling kebelakang.
Tampaklah dua orang manusia aneh bermuka hijau bergigi
taring dan berwajah mengerikan sedang berdiri kurang lebih
satu tombak dihadapan mukanya, kehadiran orang itu sangat
mengejutkan hatinya, pemuda itu segera berpikir.
"Sejak kapan kedua orang makhluk aneh itu tiba disini ?
Kenapa aku sama sekali tidak merasakannya ?"
Berpikir sampai disitu, ia segera buka suara dan menjawab
dengan dingin. "Hmm, dengan andalkan apakah kalian berdua
berani omong besar ?"
---ooo0dw0ooo---
"Haaah....... haaah haaah " manusia aneh yang ada
disebelah kanan tertawa seram.
"Kami berdua disebut Siu-kok-siang-hun sepasang sukma
penjaga lembah, bangsat, pernah kau dengar lembah itu?
IHemm hemm..."
Thian-hong pangcu yang ikut mendengar pembicaraan itu
dari sisi kalangan, wajahnya segera berubah hebat, pikirnya.
"Kedua orang ini menyebut dirinya sebagai Siu-kok-sianghun
sepasang sukma penjaga lembah, kalau begitu semua
orang yang hendak memasuki lembah ini sepanjang jalan
telah mati dibunuh oleh mereka berdua, dus berarti
kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini pasti luar biasa
sekali."

118
Berpikir demikian tanpa sadar ia maju ke-muka dan
mendekati pemuda she Gak itu. Dalampada itu Gak In Ling
telah berkata kembali sambil tertawa dingin.
"Heh heh.... heh jadi kalau begitu tulang putih yang
berserakan dalam lembah ini adalah hasil karya dari kalian
berdua ?"
"Tentu saja "jawab manusia aneh yang berada disebelah
kiri sambil tertawa lengking. "oleh karena tulang putih yang
berserakan dijalan masuk lembah itu sudah terlalu banyak,
maka dari itu engkau sibangsat cilik baru dapat hidup sampai
ditempat ini " Gak In Ling tertawa dingin.
"Apakah itu pengecualian yang kalian berdua berikan
khusus buat aku orang she Gak?" sambil berkata diam-diam
hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak.
"Haaahh..... haahh haahh sedikitpun tidak salah, dan sudah
sepantasnya kalau engkau mengucapkan banyak terima kasih
kepada toa-ya mu berdua."
Habis berkata manusia aneh yang berada disebelah kanan
segera menerjang maju kedepan.
Pada waksu itu Thian-hong pangcu telah berada kurang
lebih dua depa disamping sianak muda itu, melihat datangnya
tubrukan hatinya tercekat, ia berpaling ke arah Gak In Ling
dan serunya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Gak In Ling, kedua orang ini mampu membinasakan
segenapjago yang datang kedalam lembah ini, hal tersebut
membuktikan bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat
tangguh, sewaktu bertarung nanti aku harap engkau suka
berhati-hati."
"Engkau tak usah kuatir, itu urusan pribadiku "jawab sang
pemuda ketus.

119
Pada saat itulah dari arah gelanggang pertarungan
berkimandang datang suara teriakan pria bertato sembilan
naga. "Enyah kau bangsat dari tempat ini"
Plookk
Dan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera menggema
memenuhi angkasa, jelas ada seseorang yang menemui
ajalnya dj ujung toya besinya.
Setelah berhasil membunuh seorang musuhnya, napsu
membunuh berkobar dalam dada pria bertato sembilan naga,
ia tertawa terbahak-bahak dan berseru keras. "Huh Tiga orang
tak mampu, apa gunanya kalian berdua ? Roboh kamu "
Mengikuti bentakan yang amat keras itu, kembali terdengar
dua kali jeritan ngeri memecahkan kesunyian, tak usah dilihat
lagi jelas kedua orang musuhnya yang tertinggal mati konyol
pula diujung toya bajanya.
Melihat rekannya pada binasa, sepasang sukma penjaga
lembah jadi amat gusar, orang yang ada disebelah kanan
segera membentak keras.
"Bangsat Lembah pencabut nyawa takkan- mengijinkan
orang lain untuk berlagak -sok, terimalah seranganku "
Dengan dahsyatnya ia menerjang kearah pria bertato
sembilan naga dengan jurus "Tui san-tiam hay" atau
mendorong gunung membendung samudra, diiringi desiran
angin tajam ia hajar musuhnya habis-habisan-
"Kembali" bentak Gak In Ling pula dengan sorot mata
berkilat.
Tubuhnya loncat maju kedepan, dengan jurus "Lek-pengngo-
gi" atau lima bukit hancur merata ia sambut datangnya
serangan orang itu dengan keras lawan keras.

120
Gerakan tubuh kedua belah pihak sama-sama cepatnya,
dalam waktu singkat empat buah telapak telah saling beradu
satu sama lainnya.
"Blaaam "
Ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh jagad
menggeletar diangkasa, pasir dan debu seketika beterbangan
diangkasa bagaikan ketimpa angin puyuh, sebuah liang
sedalam tiga depa muncul diatas permukaan tanah.
Ditengah gulungan angin kencang, tubuh Gak In Ling
terdorong mundur dua langkah ke- belakang, darah panas
dalam dadanya bergolak kencang, hal ini membuat hatinya
amat terkesiap. sebab dari bentrokan tersebut ia dapat menilai
bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini rupanya masih
jauh diatas Buddha Antik.
Sebaliknya manusia aneh itu sendiri harus mundur sejauh
empat- lima langkah sebelum berhasil berdiri tegak. lengan
kanannya terasa kaku dan linu sekali, sedangkan dadanya jadi
sesak dan hampir saja muntah darah segar.
Dengan sorot mata yang tajam dan penuh memancarkan
^asa ketakutan ia menatap wajah Gak In Ling, kemudian
tegurnya. "Siapa engkau ?"
"Gak In Ling "
"Apa ? Gak In Ling?" teriak sepasang sukma penjaga
lembah hampir berbareng, dari balik mata kedua orang itu
segera memancarkan napsu membunuh yang amat tebal,
selangkah demi selangkah mereka mendekati sianak muda itu.
Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Hmm Kenapa kalian berdua tak berani menjumpai orang
dengan wajah aslimu ?" Sambil berkata hawa murninya
dihimpun ke dalam telapak.
Manusia aneh yang berada disebelah kanan menyapu
sekejap kearah Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan

121
naga, kemudian sambil tertawa dingin jengeknya. "Jadi kalian
berdua pun akan menceburkan diri didalam air keruh ini ?"
"Haah.... haah..... haah... apa itu air keruh dan air jernih,
kalau mau bergebrak, ayoh sekarang juga kita bergebrak "
sahut pria bertato sembilan naga sambil tertawa bergelak.
Gak In Ling tidak ingin ribut terlalu lama dengan orangorang
itu, ia membutuhkan Buddha Antik yang ingin
ditemuinya secepat mungkin, sambil tertawa dingin segera
serunya. "Apakah Buddha Antik berada didalami lembah ini ?"
Manusia aneh yang berada disebelah kanan tertawa seram.
"Hmm, asal engkau mampu menangkan kami berdua,
dengan sendirinya Buddha Antik akan munculkan diri untuk
menemui dirimu."
Napsu membunuh melintas dalam wajah Gak ln Ling, tibatiba
dengan menggunakan jurus "Wong-hong-hui-si" atau
angin puyuh terbangkan serat, ia hantam kedua orang
musuhnya sambil membentak.
"Sambutlah seranganku ini " angin pukulan yang tajam
dengan cepat menerjang dada kedua orang itu.
Sejak permulaan sepasang sukma penjaga- lembah sudah
bermaksud untuk membinasakan Gak ln ling, melihat
datangnya ancaman tersebut mereka membentak keras, satu
dari kiri yang lain dari kanan dengan cepat mengerubuti
sianak muda itu, jurus serangan yang digunakan ganas dan
keji, sedang arah yang dituju semuanya merupakan jalan
darah kematian ditubuh musuhnya.
Kiranya Gak in Ling menyerang musuhnya dengan jurus
angin puyuh terbangkan serat itu bukan lain adalah hendak
memancing lawannya masuk jebakan, setelah sepasang
sukma penjaga lembah melancarkan serangan balasan, tibatiba
badannya berputar melepaskan diri dari kepungan kedua
orang itu, permainan telapaknya dengan cepat berubah,

122
laksana kilat ia lancarkan tujuh kali serangan berantai kearah
manusia aneh yang berada disebelah kanan.
Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling memang
tinggi sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata,
setelah serangannya dipusatkan pada satu orang maka daya
tekanan yang terpancar keluar tentu saja luar biasa hebatnya.
Terlihatlah bayangan telapaknya meluncur kes ana- kemari,
seluruh angkasa penuh dengan cahaya tajam yang berkilauan,
untuk beberapa saat sulit bagi orang untuk membedakan
mana yang serangan asli dan mana yang palsu, yang terasa
hanya tekanan yang mendesak ketubuhnya kian lama kian
bertambah berat membuat dada sesak.
Ilmu silat yang dimiliki sepasang sukma penjaga lembah
sendiri tidak lemah. Tapi mereka tak pernah menyangka kalau
gerakan tubuh dari Gak In Ling bisa sedemikian cepatnya,
menanti mereka menyadari akan bahaya yang mengancam,
manusia aneh yang ada disebelah kiri sudah tak sempat untuk
memberikan pertolongan lagi.
Dengan cepat manusia aneh disebelah kanan memutar
badan, baru saja ia bermaksud ayun telapaknya melancarkan
serangan balasan, siapa sangka angin pukulan yang
dipancarkan Gak In Ling telah mencapai depan dadanya tidak
sampai setengah depa.
Mati hidup hanya terpaut pada satu detik, manusia aneh itu
segera mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya
untuk menyelamatkan dirinya, sepasang kakinya menjejak
tanah keras-keras, tubuhnya laksana kilat membubung ke
angkasa dan secara nyaris ia loloskan diri dari ancaman angin
pukulan lawan-
Thian-hong pangcu yang menyaksikan kejadian itu jadi
amat terperanjat, tanpa terasa ia berteriak keras.
"Ei, bukankah engkau adalah In-tiong-hok bangau ditengah
mega Go To Peng ?"

123
Bersamaan dengan jeritan sang dara, tiba-tiba Gak In Ling
tertawa dingin, bayangan hitam nampak berkelebat lewat dan
tahu-tahujejak tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Sekonyong- konyong . . . .
Dari tengah udara berkumandang datang jeritan kaget dari
manusia aneh itu, disusul...
Blaaam
Sebuah benda berat terbating keatas tanah dengan keras,
dan Gak in Ling pun sambil mencekal sebuah topeng kulit
manusia berdiri dihadapan musuhnya.
Menanti pria bertato sembilan naga angkat kepala,
tampaklah olehnya manusia aneh yang di kenal sebagai
manusia berwajah seram tadi kini sudah berubah jadi seorang
kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah putih bersih,
ia tak tahu deagan gerakan tubuh apakah si anak muda itu
mencopot topeng lawan, teriaknya dengan hati terkejut.
"Waduuuh...... waduh., ,. eeei kakek bangkotan, apakah
engkau siluman monyet yang muncul kembali dikolong langit,
kok- aneh benar mukamu bisa herubah-ubah."
Sambil berkata ia menatap wajah orang itu dengan
pandangan tercengang bercampur kaget.
Sedangkan Thian-hong pangcu sendiri dengan pikiran
bimbang memandang kearah Gak In Ling, sedang hatinya
berpikir terus.
"Sebenarnya sampai dimanakah taraf kepandaian silat
yang-dimiliki orang ini ?"
Dengan sorot mata yang menggidikkan hati Gak In Ling
menatap kearah kakek tua itu, lalu ujarnya dengan suara yang
menyeramkanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
124
"Bangau ditengah mega, bagaimanakah kau tahu caranya
Tiang- kang sam-kiat serta chin- hway ngo-gi menemui
ajalnya ?"
Tanpa sadar Bangau-ditengah-mega Go To Peng mundur
tiga langkah kebelakang, dalam waktu singkat diatas
wajahnya secara berturut-turuf menampilkan perasaan kaget,
gusar, murung dan takut.
Gak In Ling membanting topeng kulit manusia itu keraskeras
keatas tanah, lalu sambil berpaling kearah manusia aneh
yang lain serunya pula dengan nada seram.
"Belibis ditengah mega, apakah engkau akan memaksa aku
orang she Gak untuk mencopot pula topeng kulit manusia
yang kau kenakan ?"
Mendengar ucapan tersebut manusia aneh tadi mundur
selangkah kebelakang dengan ketakutan, walaupun hatinya
merasa ngeri tapi ia tidak sudi menurut perkataan orang
dengan begitu saja, sebab bagaimanapun juga mereka berdua
adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan-
Dengan sorot mata penuh kebencian Belibis ditengahmega
menatap wajah pemuda itu, kemudian jengeknya sinis.
"Huhh Asal engkau memiliki kemampuan tersebut, silahkan
melakukan sendiri," sembari berkata hawa murninya segera
dihimpun kedalam telapak.
"Hm Kalau engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk
turun tangan sendiri. Maka kemungkinan besar sebelum saat
ajalmu tiba siksaan yang paling hebat akan kau rasakan lebih
dulu." seru Gak In Ling dengan napsu membunuh berkobarkobar^
Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati manusia
aneh itu, keseraman dan kengerian yang dipancarkan dari
tubuh sianak muda itu seketika memaksa lawannya tanpa
sadar mundur tiga langkah kebelakang.

125
Tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, semua orang
hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahutahu
Gak In Ling sudah balik kembali ketempat semula.
Sedang manusia aneh yang berada dihadapannya kedengaran
menjerit kaget.
Menanti semua orang berpaling lagi kearah-nya, maka
topeng bengis yang semula menutupi wajahnya kini sudah
lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya dihadapan mereka
berdirilah seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang
bermuka merah padam dan memelihara jenggot panjang .
Semua perubahan yang berlangsung dalam kalangan
terjadi dalam waktu yang amat singkat, dalam kalangan itu
kecuali Thian-hong pangcu siapapun tak sempat menyaksikan
gerakan tubuh macam apakah yang telah dipergunakan Gak
In Ling.
Pria bertato sembilan naga sambil mengerdipkan matanya
segera tertawa dengan wajah melongo.
"Waduuuh gerakan apakah yang telah digunakan ? Ehmm,
memang luar biasa "
Dalam pada itu Gak In Ling sudah membanting topeng kulit
manusia itu keatas tanah, lalu sambil menyapu wajah kedua
orang musuhnya ia mengejek sinis. "Belibis ditengah mega,
apa yang hendak kau katakan lagi ?"
air muka Bangau-ditengah-mega Go To Peng serta Belibisdi
tengah-mega Go To Ki berubah jadi pucat pias bagaikan
mayat, sejak mereka mengetahui bahwa pemuda yang
munculkan diri di tempat itu bukan lain adalah Gak ln Ling,
kedua orang itu telah sadar kehadirannya di sana adalah
untuk mencabut nyawa mereka berdua. Pada saat itulah
mereka telah ambil keputusan untuk berusaha menyingkirkan
musuh bebuyutan ini.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar
dugaan siapapun, dan yang paling penting ternyata ilmu silat

126
yang dimiliki pihak lawan telah mencapai kesempurnaan yang
begitu hebat.
Wajah Bangau-ditengah-mega Go TO Peng yang pucat pias
bagaikan mayat nampak berkerut kencang, tiba-tiba ia
berkata.
"Gak In Ling, aku dengan dirimu toh tak pernah kenal, apa
yang hendak kau lakukan terhadap diriku ?"
Ketika mengucapkan kata kata "kita tidak pernah saling
kenal"-sengaja kalimat tersebut di utarakan dengan suara
yaag keras, sedang sinar matanya tanpa sadar melirik kearah
Thian-hong pangcu, rupanya ia sedang mohon bantuan dari
gadis muda itu.
Manusia, siapa yang tak takut mati ? Meski pun Bangauditengah-
megago To Peng serta Belibis- ditengah- megago To
Ki adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, namun
setelah keselamatan mereka terancam, merekapun melupakan
apa artinya malu.
Gak In Ling segera tertawa dingin,jengeknya. "Hee hee hee
dua bersaudara dari keluarga Go, masa tempo dulu kalian
berani melakukan, sekarang sudah tak punya keberanian
untuk mengakuinya ?"
Nada suara pemuda ini terasa dingin mengerikan dan
penuh mengandung hawa pembunuhan. selangkah demi
selangkah ia maju mendekati kedua orang musuhnya.
Dengan penuh ketakutan Belibis- ditengah- megagoTo Ki
mundur dua langkah kebelakang jeritnya.
"Gak In Ling, apa yang harus kuakui... apa yang harus
kuakui ? coba katakanlah lebih dulu."
Suaranya agak gemetar dan kegagahan yang diperlihatkan
semula kini sudah lenyap tak berbekas, mungkin mereka telah
sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih dibawah

127
kepandaian musuhnya, maka kedua orang itu jadi putus asa
dan ketakutan-Gak In Ling menengadah lalu tertawa seram
"Haa haa haa. urusan apakah itu? Kalau tidak jelas
tanyakan sendiri setelah bertemu dengan Tiang- kang Samkiat
serta cin-hway ngo-gi..."
Gelak tertawanya keras hingga menembusi angkasa dan
penuh mengandung napsu membunuh serta kesadisan-
Thian-hong pangcu mengerutkan dahinya, dengan suara
ketus segera bentaknya. "Gak In Ling Kau tak boleh
membinasakan mereka berdua "
Mendengar perkataan itu sepasang alis Gak In Ling kontan
berkerut, tiba-tiba ia putar badan dan tertawa dingin.
"Hee hee hee bukankah sedari tadi aku sudah berkata
pangcu, diantara kita berdua selamanya tidak bisa hidup saling
berdampingan, keputusanku untuk membunuh kedua orang ini
sudah bulat, bilamana pangcu merasa tidak puas, tak ada
halangannya maju bersama mereka, aku sama sekali tak
gentar untuk menghadapi kalian secara berbareng."
Dari perkataan pihak musuhnya, Bangau- di tengah- mega
go To Peng serta Belibis-ditengah mega Go To Ki telah
mengetahui bahwa jiwa mereka berdua tak dapat tertolong
lagi, binatang yang terkurung akan menunjukkan
kenekadannya demikian pula halnya dengan kedua orang
bersaudara ini, setelah harapan hidupnya musnah mereka
berdua segera saling bertukar pandangan sekejap kemudian
tanpa mengeluarkan sedikit suarapun melancarkan tubrukan
kearah Gak in Ling.
Bangau-ditengah-mega Go To Peng meloncat ketengah
udara dan menyerang kearah bawah dengan jurus "Hui-po-nuthiau"
atau gelombang dahsyat diair terjun, sebaliknya Belibis
ditengah mega Go To Ki menerjang dari samping dengan jurus
"Peng-hun-ciu-si" atau bagi rata adil makmur, arah yang dituju
bukan lain adalah jalan kematian diatas lambung musuhnya.

128
Setelah timbul kenekadan serta niat untuk mengadu jiwa,
serangan-serangan yang dilancarkan kedua orang ini bukan
saja amat dahsyat laksana ambruknya gunung Thay-san,
bahkan tempat-tempat yang diserangpun merupakan bagian
yang vital dan berbahaya ditubuh manusia, seakan-akan
dengan jurus serangan tersebut mereka hendak
membinasakan musuhnya.
Baru saja Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, angin
pukulan yang dilancarkan kedua orang itu sudah mendekati
tubuhnya, kecepatan gerak yang dilancarkan benar-benar
mengerikan sekali.
Diatas wajah Gak In Ling sama sekali tidak terlintas rasa
kaget ataupun tercengang, hanya napsu membunuh yang
terpancar keluar dari balik matanya kini bertambah tebal.
Pada saat empat buah telapak dari dua bersaudara she Go
hampir mengenai diatas dada Gak In Ling itulah,
tiba-tiba...
Sianak muda itu membentak nyaring, sepasang telapaknya
diayun ke depan secepat kilat, cahaya merah menyelimuti
daerah sekitar beberapa tombak ditempat itu.
"Blaaaam. " dua ledakan dahsyat yang memekakkan telinga
menggelegar diudara, dua jeritan ngeri yang mendirikan bulu
roma bergema memecahkan kesunyian-.. disusul plak Plak
Dua sosok tubuh yang tinggi besar terbanting diatas tanah
pada jarak kurang lebih satu tombak dari tempat semula,
darah kental mengucur keluar dari tujuh lubang indera, pada
detik itu juga nyawa mereka berdua telah lenyap tinggalkan
raga.
Dua orang jago persilatan yang seringkali melakukan
kejahatan dan sudah terlalu banyak membunuh jago kangouw
itu akhirnya menemui ajalnya ditangan seorang pemuda yang
masih muda belia, mereka tak pernah menyangka kalau pada

129
akhirnya jiwa mereka bakal lenyap karena suatu hutang lama
yang pernah mereka lakukan pada belasan tahun berselang.
napsu membunuh yang menyelimuti diwajari Gak In Ling
perlahan-lahan lenyap kembali dengan termangu- mangu ia
memandang dua sosok mayat yang terkapar diatas tanah,
bibirnya sementara berkemak-kemik tiada hentinya namun
tiada seorangpun yang tahu apa yang sedang dia ucapkan-
Dalam pada itu pria bertato sembilan naga telah dibikin
terkejut hingga berdiri termangu- mangu, dia merasa
kepandaian silat yang dimilikinya sudah cukup ampuh, tapi tak
pernah menyangka kalau pihak lawan dengan usia yang jauh
lebih muda daripada dirinya ternyata memiliki kepandaian silat
yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.
Sekilas napsu membunuh berkelebat dalam mata Thianhong
pangcu, perlahan-lahan ia berjalan mendekati punggung
Gak In Ling, pada saat itu gadis tersebut telah merasa bahwa
sehari pemuda itu tidak mati maka sehari pula dunia persilatan
tak akan mendapat ketenangan, karena perbuatan yang
dilakukan orang ini memang benar mengerikan sekali.
Akhirnya dara cantik baju putih itu berhenti pada jarak tiga
depa- dibelakang Gak in Ling, telapaknya beberapa kali
diangkat keatas tapi setiap kali niat tersebut dibatalkan-
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Gak in Ling
menyeka keringat yang membasahi keningnya, kemudian
berkata dengan suara hambar.
"Pangcu, saat ini merupakan kesempatan yang paling baik
bagimu untuk turun tangan"
Ucapan halus, tenang dan wajar sekali, seakan akan orang
yang hendak dibunuh oleh Thian hong pangcu bukanlah
dirinya melainkan orang lain-
Thian-hong pangcu mengertak gigi, tiba-tiba ia tarik
kembali telapak tangannya dan berseru sambil tertawa dingin.

130
"Engkau tak usah kuatir, tak nanti kuhantam dirimu secara
membokong. Aku pasti akan memberi suatu kesempatan
kepadamu untuk melakukan pertarungan secara adil "
Perlahan-lahan Gak ln Ling putar badannya dan
memandang sekejap kearah dara cantik baju putih itu dengan
pandangan tenang, kemudian katanya.
"Apakah pangcu sudah mengambil keputusan untuk tidak
melepaskan diriku lagi ?"
"Kepandaian silat yang kau miliki toh tidak berada dibawah
kepandaian silatku, siapa menang siapa kalah masih sukar
untuk ditentukan, mulai dari sekarang, apakah engkau tidak
merasa terlalu pagi untuk membicarakan soal mati hidup ?"
Dalampada itu pria bertato sembilan naga telah mendusin
akan apa yang sudah terjadi, menyaksikan keanehan itu buruburu
teriaknya.
"Eei, eei bukankah tadi masih baik-baik saja, kenapa
sekarang sudah cekcok kembali ?" Gak In Ling tertawa tawar.
"Aku tahu pangcu berhati bajik dan penuh welas-asih, aku
orang she Gak merasa tak tega untuk mencelakai dirimu,
tetapi ini hari juga akan kuberitahukan kepadamu bahwa
semua orang yang kubunuh adalah manusia-manusia yang
dosanya telah bertumpuk-tumpuk."
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan- "DidaLam
lembah pemutus nyawa tulang putih berserakan di manamana,
itulah hasil karya yang mereka lakukan, apakah
manusia keji semacam ini tidak pantas untuk dibunuh ?"
"Memang mereka patut dibunuh, tetapi kau bukan
membunuh mereka karena ingin melenyapkan kaum jahat dari
maka bumi, kau melakukan pembunuhan tersebut karena
demi kepentingan pribadimu sendiri, bukankah begitu?" Gak
In Ling menghela napas panjang.

131
"Apapun alasanku sehingga membunuh mereka berdua,
sekalipun kuucapkan belum tentu kau akan percaya, lagi pula
akupUn tidak bersedia mencari simpati atau belas kasihan
orang lain terhadap diriku, oleh sebab itu lebih baik tak usah
kukatakan apakah alasanku sehingga melakukan kesemuanya
ini." Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Persoalannya bukan pada belas kasihan atau tidak, simpati
atau tidak, yang menjadi masalah pada saat ini adalah
bagaimana caramu untuk tancap kaki didalam dunia persilatan
sejak kini ?"
"Batas waktu setahun akan berlalu dengan cepatnya." kata
Gak In Ling sambil tertawa sedih. "paling banter para jago
didaratan Tionggoan akan menggali jenasahku dari liang
kubur, kenapa hal itu mesti dipikirkan lagi ?"
Selesai berkata dia lanjutkan langkahnya menuju kedalam
lembah.
Air muka Thian-hong pangcu berubah hebat setelah
mendengar perkataan itu. tanpa terasa ia berseru.
"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu itu, apakah
engkau dapat menerangkan lebih jauh" kali ini suaranya telah
berubah jadi lembut dan halus sekali.
"Lebih baik pangcu tak usah tahu." kata Gak In ling sambil
tertawa tawa.
"Tapi aku ingin memahaminya."
"Hey, akupun tidak mengerti" teriak pria bertato sembilan
naga pula dengan suara keras.
Gak In Ling menyapu wajah kedua oraig itu sekejap. lalu
berkata.
"Tempat ini tak bisa ditinggali terlalu lama, kalau memang
pangcu serta saudara ini merasa bahwa semua manusia yang
tinggal dalam lembah ini patut dibunuh, lebih baik biarkanlah

132
aku orang she Gak lanjutkan kembali perjalanan ku seorang
diri."
"Eei. hal ini mana boleh jadi, masa ada keramaian yang
begitu menarik hati engkau tidak perkenankan diriku untuk
nonton, itu namanya tidak adil." gembor pria bertato sembilan
naga tanpa berpikir.
sebaliknya Thian-hong pangcu menatap wajah sianak muda
itu dan berkata.
"Engkau toh tak pernah memberi penjelasan kepadaku,
maka sampai sekarangpun aku masih belum mengerti."
suaranya lembut dan sangat halus, bahkan mendekati
permohonan-
Mendengar ucapan itu Gak In Ling segera menghentikan
langkahnya dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya^
"Aku hanya bisa hidup selama setahun saja dikolong langit
" selesai berkata dengan langkah lebar ia berjalan menuju
kemulut gua.
Thian-hong pangcu merasakan hatinya tercekat dan
jantungnya berdebar keras, dengan cepat ia loncat kemuka
dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, ujarnya dengan
lirih.
"Gak In Ling, pernahkah engkau mendengar tentang katakata
yang berbunyi demikian-"obat mujarab menyelamatkan
manusia dari kematian?" suaranya penuh mengandung nasihat
serta anjuran sementara titik air mata tak dapat dikuasai lagi
menetes keluar membasahi pipinya.
Perkenalannya dengan Gak In Ling baru berlangsung tidak
sampai satu tari, bahkan gadis ini pernah berhasrat untuk
membunuh dirinya.
Akan tetapi setelah mengetahui bahwa sianak muda itu
hanya mampu hidup dikolong langit hanya setahun belaka, tak

133
dapat dibendung lagi air matanya jatuh berlinang membasahi
pipinya.
Hati kaum wanita... selamanya memang merupakan teka
teki yang tak bisa diraba dan diselami oleh siapapun.
Dalam hati Gak In Ling menghela napas sedih, tapi diluaran
ia berlagak pilon dan seakan-akan tak pernah terjadi suatu
apapun, ujarnya sambil tertawa.
"Dikolong langit sudah tiada obat mujarab lagi yang bisa
menyembuhkaa penyakit yang ku-derita, pangcu Kembalilah...
Lembah Toan hun kok adalah sarang naga dan gua
harimau...... tempat ini berbahaya sekali dan setiap saat jiwa
kita akan terancam oleh maut, sedang engkau adalah seorang
pemimpin persilatan yang mengatur semua rencana besar
bagi kedamaian serta keamanan umat manusia, tindakanmu
menempuh bahaya bukanlah suatu keputusan yang cerdik,
karena itu aku harap engkau suka keluar dari lembah ini."
Tiba-tiba Thian-hong pangcu angkat kepala nya yang telah
basah oleh air mata, ujarnya.
"Aku akan menyertai dirimu, agar engkau tidak berkelana
seorang diri."
"Benar, dan akupun akan turut serta pula" sambung pria
bertato sambilan naga dengan cepat.
Dalam pikiran orang ini, selamanya mungkin tak pernah
kenal akan arti sedih atau murung, kendatipun menghadapi
masalah yang bagaimana seriusnya ia tetap tenang dan
bersikap wajar.
Sementara itu Gak In Ling merasakan hatinya bergerak
setelah mendengar ucapan-ucapan tersebut, ia tarik napas
panjang dan alihkan sorot matanya kearah lain, ujarnya sambil
tertawa hambar.

134
"Pangcu, jikalau engkau hendak memikirkan bagi
kedamaian serta keselamatan seluruh umat persilatan, maka
tidak sepantasnya kalau engkau selidiki lembah ini"
"Mengapa aku harus memikirkan mereka?" jawab Thianhong
pangcu dengan cepat. Gak In ling tertegun-
"Lalu siapakah yang pangcu pikirkan?" ia bertanya
"Tentu saja memikirkan dirimu "
"Akupun memikirkan dirimu " gembor pria bertato sembilan
saga dengan keras.
Perlahan-lahan Thian-hong pangcu tundukkan kepalanya,
mungkin gadis yang berwatak keras kepala ini benar-benar
telah berubah.
Secara tiba-tiba Gak In Ling merasakan pikirannya jadi
kalut dan bingung sekali, dengan suara berat serunya.
"Kalian memikirkan seseorang yang usianya tinggal setahun
belaka, kalian terlalu goblok"
Gelak tertawanya penuh mengandung nada ejekan, tetapi
tak dapat menutupi rasa sedih dan pedihnya yang tak
terhingga.
"Tidak mungkin hanya setahun-.. tidak mungkin hanya
setahun-" seru Thian-hong pangcu sambil menengadah keataS
langit.
Perkataan itu seakan-akan diucapkan bagi Gak In Ling, tapi
seakan-akan juga sedang memperkuat kepercayaannya pada
diri sendiri.
Pada saat itulah tiba-tiba dari bukit mulut gua
berkumandang datang gelak tertawa yang sangat keras dan
memekakkan telinga.
"Haa .... haa...., haa jangan dibilang setahun, mungkin hari
inipun tak bisa dilewatkan dalam keadaan hidup,"

135
Bersamaan dengan menggemanya gelak tertawa, dari balik
gua muncullah seorang kakek tua yang gemuk. cebol
berambut putih, bermata cekung dan muka seram bagaikan
setan.
Begitu melihat kemunculan orang itu, dengan hati terkejut
Thian-hong pangcu -segera berteriak keras. "Aah Hiat-mo-ong
?"
Pada saat yang bersamaan di belakang tubuh mereka
bertiga melayang turun tujuh orang manusia aneh yang
rambutnya terurai sebahu, dengan cepatnya Gak In Ling
bertiga dikepung ditengah kalangan-
Siapapun tak menduga pada saat itu pula diatas puncak
bukit sebelah depan tiba-tiba muncul pula empat orang
dayang baju merah yang masing-masing membawa sebuah
tanda pengenal.
Suasana dalam kalangan seketika diliputi oleh ketegangan,
setiap saat suatu pertarungan sengit bakal meledak.
Suasana dalam lembah ketika itu benar-benar diliputi
ketegangan, siapapUn di antara mereka tak ada yang
mengetahui bahwa empat orang dayang baju merah telah
muncul di puncak sebelah depan-
Demikian halnya pula dengan orang-orang dari lembah
Toan-hun-kok, tak seorangpun yang mengetahui akan
kehadiran dayang-dayang tersebut sebab kemunculan Thianhong
pangcu serta Gak In Ling yang sudah cukup merepotkan
diri mereka sehingga tak sempat untuk memikirkan yang lain-
Sejak kecil Gak In Ling berdiam didalam benteng oh-liongpoo,
kecuali manusia aneh dari utara serta manusia sesat dari
selatan tiada orang lain yang menemani dirinya, sebaliknya
dua orang tokoh sakti itu karena terikat oleh sesuatu
pembatasan membuat kedua orang itu kecuali melayani
kebutuhannya tak dapat membicarakan masalah tentang
dunia persilatan dengan majikan mudanya, oleh sebab itu

136
meskipun nama besar "Hiat-mo-ong" atau Raja- iblisberdarah
ini amat tersohor serta ditakuti setiap orang, tetapi
pemuda ini sama sekali tidak mengenali dirinya.
Begitulah, sambil mengerdipkan sepasang matanya Gak In
Ling berpaling kearah Thian-hong pangcu dan bertanya.
"Pangcu, engkau kenal dengan orang ini ?" sikapnya wajar
dan sedikitpun tidak menanjukan rasa jeri adapun takut.
Perasaan hati Thian-hong pangcu yang bergolak oleh emosi
perlahan-lahan jadi reda dan tenang kembali, mendengar
pertanyaan itu dia segera mengangguk.
"Sekarang musuh tangguh sedang berada di depan mata,
maafkanlah aku tak dapat membicarakan tentang asal-usulnya
dengan dirimu " habis berkata ia segera maju kedepan dan
serunya, kembali dengan nada dingin.
"Hiat-mo-ong, engkau masih ingat dengan sumpahmu
dimasa lampau ?"
Dengan suatu gerakan yang cepat ringan dan cekatan Hiatmo-
ong melayang keluar dari guanya, tak nampak kekuatan
yang dipergunakan tapi tubuhnya bagaikan kapas saja
melayang di-angkasa, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki kakek cebol itu luar biasa
dahsyatnya.
Dengan sorot mata yang tajam Hiat-mo-ong menatap
wajah Thian-hong pangcu tanpa berkedip. lama sekali ia baru
menjawab.
"Aku tidak goblok, tidak bodoh tentu saja masih ingat
denganjelas sekali "
"Hee... .. hee hee kalau memang begitu, mengapa kau
tinggalkan Khong ciang ?"
Hiat-mo-ong menengadah dan tertawa seram.

137
"Haa.... haa. ... haa cian-jiat-ji-siu sepasang kakek CaCad
sudah banyak tahun mengundurkan diri dari dunia persilatan,
mati hidupnya tidak ketahuan, sampai sekarangpun tak tahu
dimanakah batang hidung mereka, kenapa aku tak boleh
munculkan diri dalam dunia persilatan ? Kedatanganku pada
saat inipun sudah merasa agak menyesal karena terlambat
beberapa tahun lamanya."
"Hae hee .... hee .... sekalipun dua kakek CaCad sudah tak
ada, tetapi didaratan Tionggoan pada saat ini toh masih ada
aku" sahut Thian-hong pangcu dengan sorot mata
mengandung napsu membunuh. Hiat-mo-ong tertawa
menghina.
"Sebelum aku masuk ke daratan Tionggoan memang sudah
kudengar kalau daratan Tionggoan pada saat ini telah menjadi
jajahan dari dua orang gadis aneh, akan tetapi..."
"Akan tetapi kenapa ?"
Hiat mo-ong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu
sambil tertawa jawabnya.
"Aku berani datang kemari, seharusnya kau pun bisa
memahami apa maksud dari perkataanku yang belum habis
diucapkan itu."
Napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah
Thian-hong pangcu, katanya dengan dingin.
"Kalau memang begitu cobalah sendiri, apakah aku punya
kemampuan untnk melenyapkan dirimu atau tidak..."
Tubuhnya segera menerjang maju kedepan, telapak
tangannya diangkat dan siap melancarkan serangan-
Tapi sebelum ia sempat melancarkan pukulannya, Gak In
Ling telah berseru dengan lantang.
"Huuh Engkau Hiat- mo-ong paling banter hanya seorang
jagoan kelas dua atau tiga didalam dunia persilatan, berani

138
benar adu kekuatan dengan pangcu kami, andaikata
majikanmu datang sendiri, nah mungkin saja pangcu kami
baru terpaksa harus turun tangan sendiri."
Bicara sampai disitu ia loncat kehadapan Thian-hong
pangcu, dan ujarnya dengan nada serius.
"Pangcu, ijinkanlah tecu untuk menghadapi manusia
kurcaci ini."
Tindakan yang dilakukan Gak In Ling ini secara tiba-tiba
membingungkan hati Hiat-mo-ong, dengan mata terbelalak
lebar-lebar ia memandang kearah sianak muda itu tanpa
berkedip. sedang dalam hati pikirnya dengan keheranan.
"Kalau ditinjau dari ribut-ribut yang baru saja berlangsung
diantara mereka berdua, jelas menunjukkan bahwa kedua
orang itu berada pada posisi yang saling bermusuhan, kenapa
sekarang bajingan itu menyebut dirinya sebagai anak murid
perkumpulan Thian-hong-pang ? Sungguh aneh sekali."
Bagaimanapun rasa curiga dan sangsi yang berkecamuk
didalam benak Hiat-mo-ong, ia tidak bisa tidak. harus
mempercayai karena orang kang ouw tak ada yang sudi
menurunkan derajat sendiri dihadapan orang lain, apalagi
menuruti perintah orang lain, sudah tentu manusia seperti Gak
In Ling yaag memiliki ilmu silat amat lihay, tak akan bersedia
mengaku jadi anak buah perkumpulan orang...
Pria bertato sembilan naga, adalah seorang pria kasar yang
berpikiran polos, kalau Hiat-mo-ong yang tersohor karena
kelicikan serta kepintarannya itupun untuk beberapa saat tak
dapat menebak keadaan yang sebenarnya, bisa dibayangkan
darimana pria ini dapat berpikir sejauh ini ?
Tanpa terasa ia segera bergumam seorang diri
"oh, rupanya bocah itu diurusi oleh perempuan tersebut.
Huh sungguh tak becus "

139
Tanpa terasa sepasang matanya dialihkan ke Thian-hong
pangcu.
Sementara itu dara cantik baju putih itu sedang berdiri
dengan muka tercengang dan tidak habis mengerti, hal itu
semakin membingungkan hati pria bertato sembilan naga,
pikirnya lebih jauh.
"Aneh benar kalau dilihat tampang gadis itu, rupanya dia
sendiripun tak tahu sedari kapan dia mempunyai seorang
auggauta macam pemuda itu, makinya.. sebenarnya apa yang
sudah terjadi"
Sedikitpun tidak salah, Thian-hong pangcu memang dibikin
kebingungan dan tak habis mengerti oleh tindakan Gak In Ling
yang secara tiba-tiba itu, sambil menatap wajah pemuda itu
tanpa terasa ia berseru. "Gak ln Ling..."
"Pangcu, engkau harus menjaga diri baik-baik demi
kesejahteraanmu serta keamanan didalam dunia persilatan-"
tukas pemuda she Gak dengan cepat. "Terhadap manusia
kelas dua dan tiga macam mereka buat apa mesti turun
tangan sendiri? Andaikata dalam pertarungan nanti tecu tak
untung dan menderita kalah, barulah pangcu turun tangan
sendiri."
Pada dasarnya Thian-hong pangcu adalah seorang manusia
yang cerdik, dalam menghadapi persoalan apapun biasanya ia
dapat menebak secara jitu, justru pada saat ini pikirannya
sedang kalut dan tidak tenang, ia tak dapat menangkap
maksud yang sebenarnya dari pemuda itu, pikirnya didalam
hati.
"oh, mungkin Gak In Ling ada permintaan yang hendak
diajukan kepadaku, maka menggunakan kesempatan ini
sengaja ia cari hati dihadapanku."
Berpikir sampai disini ia termenung lagi be berapa saat
lamanya, kemudian berpikir lebih jauh.

140
"Tapi hal ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin dengan
wataknya yang angkuh tidak mungkin dia adalah manusia
seperti itu, lalu apa sebabnya ia berbuat begitu ?"
Di pihak lain Hiat-mo-ong merasa hawa amarahnya
berkobar didalam dada setelah berulang kali dimaki Gak In
Ling sebagai manusia kelas dua atau kelas tiga didalam dunia
persilatan, dengan gemas dan penuh perasaan dendam ia
menghardik.
"Bocah keparat yang masih belum hilang bau teteknya,
kalau aku adalah jago kelas dua atau kelas tiga dalam dunia
kangouw, lalu kau adalah jago kelas berapa ?"
"Hee hee hee.... apakah aku telah salah berbicara ?" ejek
Gak ln Ling dengan nada seram.
"Hmm, apa engkau anggap benar ?"
"Huh Didalam lembah Toaa-hun-kok ini sudah ada puluhan
orang yang menemui ajalnya ditanganku, aku rasa semua
tingkah laku serta perbuatan mereka adalah mendapat
perintah darimu, sedang engkau sendiri bukankah sedang
menjalankan perintah dari majikanmu?"
Walaupun ucapan itu merupakan suatu dugaan belaka, tapi
nada ucapannya begitu pasti dan meyakinkan-
Hiat-mo-ong licik dan banyak akal, namun ia tak dapat
menebak apakah Gak In Ling benar-benar mengetahui latar
belakangnya atau tidak. kendatipun begitu, ia sudah
mempertingkat kewaspadaannya.
"Bajingan ini tak dapat dibiarkan hidup di kolong langit, aku
harus lenyapkan dirinya secepat mungkin " teriaknya
kemudian-
Dari sikap keragu-raguan yang diperlihatkan Hiat- mo-ong
serta lama sekali tidak menjawab. Gak In Ling mengetahui
bahwa apa yang diduganya semula sedikitpun tidak salah, ia
segera tertawa dingin dan serunya.

141
"Apakah engkau menginginkan penjelasan yang lebih
terang lagi dari diriku?"
"Penjelasan apa ?"
"Apa yang kusaksikan didalam gedung keluarga Gak. tidak
lain adalah hasil siasat licik dari majikanmu, bukankah begitu
?" jengek sang pemuda sambil tertawa dingin. Airmuka Hiatmo-
ong berubah hebat, bentaknya.
"Keparat yang tak tahu diri, ucapanmu ngawur dan
seenaknya saja. Hm Rupanya kau sudah bosan hidup "
Dengan menggunakan jurus "Mo-ciang-peng san" atau
telapak iblis meratakan bukit, ia mengirim satu pukulan
dahsyat kearah dada Gak In Ling.
Desiran angin tajam yang disertai ledakan guntur
menggeletar diang kas a, begitu hebatnya serangan itu hingga
mengejutkan hati orang.
Sejak permulaan tadi Gak In Ling sudah tahu kalau tenaga
dalam yang dimiliki Hiat- mo-ong jauh diatas kepandaian Go
To Peng, Go To Ki serta Buddha Antik, hawa murninya diamdiam
telah dihimpun kedalam telapak dan setiap saat dapat
melancarkan serangan balasan.
Begitu menyaksikan serangan dari Hiat- mo ong telah
meluncur datang, Gak In Ling tidak berani berayal, buru-buru
bentaknya keras. "Bagus sekali datangnya serangan itu "
Dengan jurus "Kua-hay-peng-mo" atau melewati samudra
melenyapkan iblis, laksana kilat tubuhnya bergeser delapan
depa kesamping, sepasang telapaknya diiringi desiran angin
yang kencang menghajar iga kiri Hiat-mo-ong, kecepatannya
menghadapi perubahan amat cepat dan ancamannya ganas
sekali, seakan-akan dia sudah tahu disitulah letak titik
kelemahan dari jurus serangan yang akau dilancarkan
musuhnya.

142
Hiat-mo-ong mimpipun tak pernah menyangka Gak In Ling
dengan usianya yang masih begitu muda ternyata memiliki
kekuatan tenaga dalam yang sama sekali diluar dugaan, sejak
dilihatnya sianak muda itu geserkan badannya ketika
menyambut datangnya serangan, ia sudah tahu bahwa
gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya.
oleh sebab itu, jurus telapak iblis meratakan bukit hanya
digunakan sampai setengah jalan lalu ditarik kembali, dari
menyerang ia mengubah posisinya jadi bertahan, dengan
sepasang telapaknya ia sambut datangnya serangan dari Gak
In Ling yang mengancam iga kirinya.
Dalam anggapan Hiat-mo-ong, kendatipun Gak In Ling
memiliki perubahan jurus yang cepat dan kepandaiannya yang
tinggi, namun dengan usianya yang masih muda tentu tenaga
dalam yang dimiliki tidak akan begitu sempurna, maka
sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk
menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan
keras.
Siapa sangka kejadian diluar dugaan, dengan sikap yang
wajar sianak muda itu ayunkan telapak tangannya^
"Blaaam" dengan cepat sepasang telapak saling membentur
satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakan keras
yang menggeletar diudara, pasir dan debu beterbangan
memenuhi angkasa keadaan benar-benar mengerikan sekali.
Dengan sempoyongan Hiat- mo-ong tergetar mundur tiga
langkah kebelakang, dadanya terasa jadi sesak dan sepasang
lengannya jadi linu dan kaku, hatinya terasa amat terkesiap.
Dengan pandangan kaget bercampur ngeri ia menyapu
sekejap kearah Gak In Ling, sementara tubuhnya berdiri
menjublek ditempat semula, ia tak mengira kalau musuhnya
begitu kuat dan hebatnya.

143
"Mungkinkah itu ?" pikir Hiat-mo ong dengan hati tercekat^
"Mungkinkah dikolong langit benar-benar terdapat kejadian
yang aneh seperti ini ?"
Dia ingin menyeka matanya dengan tangan agar apa yang
terlihat bisa lebih jelas, tapi sepasang tangannya terasa linu
dan kaku, begitu sakit sampai tak kuat diangkat lagi. Thianhong
pangcu sendiripun merasa amat terkesiap. pikirnya.
"Sebenarnya sampai dimana sih kesempurnaan tenaga
dalam yang dia miliki ? Air pasang, perahupun bertambah
tinggi, belum pernah aku lihat dia menderita kalah."
Sebaliknya pria bertato sembilan naga segera bertepuk
tangan bersorak-sorai karena kegirangan, teriaknya.
"Waduuuh bocah, kamu memang hebat, kamu memang
hebat "
Teriakan keras dari pria bertato sembilan naga segera
mengejutkan hati IHiat-mo-ong yang pada waktu itu masih
berdiri menjublek dengan mata terbelalak mulut melongo,
tampak biji matanya berputar lalu membentak keras.
"Ini hari lembah Toan-hun-kok akan menjadi tempat kubur
bagi kalian semua, serbu "
Begitu perintah diturunkan, tujuh orang manusia aneh
berambut panjang yang berdiri dibelakang Thian-hong pangcu
tanpa mengeluarkan sedikit suarapun segera menerjang maju
kedepan, dengan gencar dan hebatnya mereka serang dara
cantik bajuputih itu serta pria bertato sembilan naga.
jangan dilihat pria bertato sembilan magaadalah seorang
kasar yang berhati polos, yang sebenarnya dia adalah seorang
jago dari kalangan lurus yang amat benci terhadap segala
macam kejahatan, ketika dilihatnya ketujuh orang manusia
aneh itu menerjang ke depan, toyabajanya segera diputar lalu
sambil membentak keras ia menyongsong datangnya ancaman
tersebut.

144
Thian-hong pangcu sudah bikin persiapan, meskipun
gerakan tubuhnya sedikit lebih lambat daripada pria bertato
sembilan naga, akan tetapi serangan yang dilancarkan olehnya
telah mengenai sasarannya lebih dahulu.
Dalam waktu singkat sembilan orang jago lihay itu sudah
bertarung jadi satu, bayangan manusia berkelebat silih
berganti, angin puyuh menderu- deru mengelilingi daerah
seluas beberapa tombak. pasir dan batu beterbangan
diangkasa membuat siapapun yang berada disitu merasakan
napasnya jadi sesak.
Agaknya ketujuh orang manusia aneh berambut panjang
itu memiliki serangkaian ilmu silat yang sangat lihay, meskipun
tenaga dalam yang dimiliki Thian-hong pangcu serta pria
bertato sembilan naga jarang ditemui tandingannya dikolong
langit, tetapi setelah bertemu dengan tujuh orang musuh
tangguh, seketika itu juga mereka rasakan agak ngotot dan
tertekan hebat.
Dipihak lain rupanya sebelum melakukan penyerangan,
ketujuh orang manusia aneh itu sudah kompromi lebih dulu,
begitu melancarkan serangan enam orang diantaranya segera
mengerubuti Thian-hong pangcu seorang, sedangkan hanya
ada seorang jago yang menghadapi pria bertato sembilan
naga, hal ini membuat dara cantik baju putih itu tak mampu
menerjang keluar dari kepungan-
Dengan pandangan yang menyeramkan IHiat-mo-ong
memandang sekejap kearah Gak In Ling, kemudian katanya.
"Hmm.... tidak sampai berapa jurus lagi, pangcumu itu
akan menemui ajalnya ditempat ini."
"Huuh Hanya mengandalkan beberapa orang setan kerbau
malaikat ular semacam itu ?" Jengek Gak In ling sambil
tertawa dingin, rasa kuatirnya dengan cepat ditekan kedalam
dada.

145
Mendengar perkataan itu Hiat-mo-ong segera angkat
kepala menyapu sekejap kearah tujuh orang anak buahnya
yang sedang bertarung sengit ditengah gelanggang,
tampaklah olehnya meskipun mereka menerjang musuhnya
dengan gagah perkasa dan tidak memperdulikan keselamatan
diri sendiri, akan tetapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda
untuk merebut kemenangan, bahkan ada kalanya malahan
terdesak hebat sehingga kacau-balau tak keruan, hal ini
segera mengejutkan hatinya.
"Oooh Sungguh tak nyana Thian-hong pangcu yang tidak
lebih hanya seorang gadis muda lemah ternyata memiliki
kepandaian silat yang begitu tinggi dan hebat." ia berpikir
didalam hati, "kalau dia saja begitu lihay, apalagi perempuan
yang bernama Gadis suci dari nirwana, entah bagaimana
dahsyatnya." Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia bersuit
panjang.
Gak In Ling terperanjat ketika mendengar suara suitan
panjang itu, baru saja ia hendak buka suara, tiba-tiba dari
balik gua muncul kembali enam orang manusia aneh yang
punya dandanan persis seperti tujuh orang manusia aneh
pertama tadi.
Berhubung gua-gua itu sebagian besar tersembunyi di balik
batu cadas yang besar, maka bila tidak ada orang yang
muncul disana, siapapun tak akan menduga kalau ditempat itu
terdapat sebuah gua.
Begitu munculkan diri, tanpa berpikir panjang keenam
orang manusia aneh itu segera menerjang kearah Thian-hong
pangcu, seakan-akan sebelum kejadian Hiat-mo-ong telah
memberi petunjuk kepada mereka tujuan yang mesti diserang.
Menyaksikan peristiwa itu Gak in Ling merasa amat
terperanjat, ia tahu segenap prajurit dan panglima yang ada
didalam lembah Toan-hun-kok, sebagian besar merupakan
jago-jago lihay yang berkepandaian tinggi.

146
Jikalau satu lawan enam, pemuda itu masih yakin Thianhong
pangcu mampu untuk menghadapinya. Sekalipun tidak
berhasil merebut kemenangan, sedikit banyak tidak sampai
dikalahkan- Tapi sekarang dara cantik itu sekaligus harus
menghadapi duabelas orang musuh, ia tak bisa bayangkan
apa yang bakal terjadi.
Rupanya Hiat-mo-ong sudah melihat akan ketidaktenangan
pemuda lawannya, sambil tertawa dingin ia segera mengejek.
"Gak In Ling, hendak kulihat apa yang hendak kau lakukan
untuk mengatasi situasi seperti ini ?"
Baru saja perkataan itu diselesaikan, tiba-tiba dari atas
tebing berkumandang datang suara bentakan nyaring.
"Hm Main kerubut dan andalkan jumlah banyak apakah
kalian hendak merusak peraturan dunia persilatan ?"
Bersamaan dengan selesainya perkataan tadi, dua kali
jeritan ngeri menggema memecahkan kesunyian, dua orang
diantara enam orang manusia aneh yang hendak menerjang
kearah Thian-hong pangcu telah roboh terkapar diatas tanah,
disusul dalam lembah tersebut muncullah empat orang dayang
cilik baju merah yang membawa tanda perintah ditangannya,
diantara mereka berdirilah seorang dara berbaju merah
bergaun merah dan berkerudung kain merah.
Pria bertato sembilan naga serta Thian-hong pangcu yang
sedang bertarung masih belum merasakan apa-apa,
sebaliknya Gak In Ling serta Hiat-mo-ong diam-diam merasa
tertegun dan kaget, karena kedatangan orang-orang itu
sangat cepat dan ganas sekali sehingga sukar membuat orang
untuk mempercayainya.
Gak ln Ling berpaling memandang sekejap kearah orangorang
itu, kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya,
ia berpikir.

147
"Aaah..... kemungkinan besar gadis suci dari nirwana telah
tiba, tidak aneh kalau kelihayan nya luar biasa."
Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dingin segera
ujarnya.
"Menurut penilaianku, pada hari ini lembah Tan-hui-kok
akan mengalami kehancuran total dan mungkin sejak detik ini
akan terhapus dari dunia persilatan-"
Dalampada itu gadis berkerudung merah itu sudah ikut
terjun kedalam gelanggang pertarungan, tampaklah telapak
tangannya beterbangan klan kemari dengan kecepatan
bagaikan kilat, kelihayannya sama sekali tidak berada dibawah
kepandaian Thian-hong pangcu.
Dalam waktu singkat situasi dalam gelanggang pun
mengalami perubahan besar, setelah hati nya merasa lega
Gak In Ling pun melangkah maju kedepan, sambil mengawasi
wajah Hiat- mo-ong, serunya.
"Hiat- mo-ong, sekarang tibalah giliranmu untuk berangkat
menghadap raja akhirat."
Hiat-mo ong tidak mengucapkan sepatah katapun, sinar
matanya yaag tajam dengan cepat menyapu sekejap sekeliling
tempat itu, otaknya berputar kencang untuk mencarijalan
keluar bagi kesulitan yang dihadapinya.
Tetapi sebelum ingatan apapun berhasil ia dapatkan, Gak
In Ling telah mengangkat sepasang telapaknya sambil
membentak nyaring. "Hiat- mo-ong Apakah engkau kenal
dengan telapakku ini ?"
Hiat-mo-ong angkat kepala, tapi setelah sorot matanya
terbentur dengan telapak lawan, dengan ketakutan dia
mundur dua langkah kebelakang, serunya tertahan-"Aaah
telapak maut "
napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling,
sambil tertawa dingin ujarnya. "Engkau meracuni umat

148
persilatan didaratan Tionggoan, hutang darah harus dibayar
dengan darah, ini hari aku orang she Gak adalah utusan
pencabut nyawa yang khusus datang kemari untuk membetot
nyawa anjingmu. Nah, serahkanlah jiwamu " Selangkah demi
selangkah ia maju mendekati Hiat-mo-ong.
Tercekat hati iblis tua itu menyaksikan kegagahan serta
kesadisan yang diperlihatkan oleh Gak In Ling, tanpa sadar ia
mundur beberapa langkah.
Dipihak lain jeritan-jeritan ngeri berkumandang saling susul
menyusul, jelas ada beberapa orang yang telah menemui
ajalnya.
Mendadak Gak In Ling membentak keras, dengan jurus
hujan darah angin amis ia menerjang kearah Hiat-mo-ong,
tampaklah cahaya darah tersebar memenuhi angkasa, begitu
hebatnya serangan itu sehingga menggetarkan hati semua
orang.
Begitu menyaksikan pihak lawan mengeluarkan pukulan
mautnya, semangat tempur dari Hiat mo-ong seketika lenyap
tak berbekas, dalam keadaan begini tentu saja ia tak berani
melancarkan serangan balasan-
Tanpa memperdulikau tindakannya memalukan atau tidak.
dengan gerakan keledai malas bergulingan ia menggulingkan
tubuhnya diatas tanah dan menghindar sampai tiga- empat
tombak jauh-nya dari tempat semula, kemudian meloncat
bangun dan ditengah suitan nyaring tanpa berpikir lagi ia
kabur masuk ke dalam gua.
Begitu mendengar suara suitan tersebut, manusia manusia
aneh lainnyapun jadi gugup, mereka kabur terbirit-birit dan
lari tunggang langgang dalam sekejap mata jeritan ngeri
menggema silih berganti, ada empat orang manusia aneh
yang roboh dalam keadaan binasa, sedang sisanya cepatcepat
lari masuk kedalam gua untuk menyelamatkan diri.

149
Terhadap kesemuanya itu, seolah-olah Gak In Ling sama
sekali tidak merasakan, dengan termangu- mangu dia
memandang kearah mulut gua dimana Hiat-mo-ong
melenyapkan diri.
gugamnya seorang diri.
"Tenaga dalam yang kumiliki telah turun kejurang
kehancuran-.. Oooh, Thian Mengapa engkau bersikap begitu
tak adil terhadap keluarga Gak kami ?"
Alis matanya yang panjang mengerdip beberapa kali, air
mata tanpa terasa menetes keluar membasahi wajahnya yang
tampan-
Sekalipun dihadapan orang ia tunjukkan sikapnya yang
kukuh dan keras kepala, sekali pun dihadapan orang ia
memandang hambar tentang keselamatan jiwanya, tapi
bagaimana juga dia tetap adalah seorang manusia, bahkan
seorang pemuda yang lemah lembut. Setelah teringat bahwa
usianya sangat terbatas sedangkan pekerjaan besar yang
harus diselesaikan belum berhasil dipenuhi timbullah rasa
sedih dalam hatinya.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 5
Di KOLONG langit masih ada suratan apa lagi yang jauh
lebih menyedihkan daripada kematian dirinya sendiri ?
Pada waktu itulah, tiba-tiba ia mendengar pria bertato
sembilan naga sedang berteriak keras.
"Eeei Eeei Bukankah engkau si-perempuan berkerudung
telah membantu dirinya? Mengapa sekarang malahan
bertengkar dengan dirinya ?"
Gak In Ling merasa hatinya agak bergerak setelah
mendengar perkataan itu, buru-buru ia menyeka airmata yang

150
membasahi wajahnya, lalu putar badan dan menghampiri
Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu.
Terdengar gadis baja merah itu sedang berkata dengan
suara yang amat dingin.
"Anak murid perkumpulanmu sering kali melewati batas
wilayah dan mencelakai jiwa anak murid kami, sekarang
malah engkau menuduh diriku...... hmm, aku benar-benar tak
bisa mengerti bagaimana caranya engkau sebagai seorang
ketua mendidik serta menguasai anak buah..."
Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.
"Apakah engkau memaksa aku untuk mengambil beberapa
contoh yang bisa dijadikan sebagai bukti ?" serunya.
"Tentu saja aku harus mencari bukti yang nyata "
"Eei, eeh nanti dulu, jangan ribut dulu " sela Gak In Ling
berusaha melerai. "Kemungkinan besar diantara kalian
memang sudah terjadi suatu kesalah pahaman."
Gadis berkerudung merah itu sama sekali tidak melirik
kearah Gak In Ling barang sekejap pun, hardiknya dingin:
"Siapa engkau ? Berani benar banyak ngebacot ditempat ini
?"
Pria bertato sembilan naga amat menghormati Gak In Ling,
ketika didengarnya gadis berkerudung merah itu bicara kasar
dan kurang ajar terhadap pemuda itu, sepasang matanya
kontan melotot besar, sambil mencekal toya besinya dia siap
menerjang maju kedepan. Dengan cepat Gak In Ling menarik
tangannya, ia menjawab dengan nada hambar:
"Aku sih cuma seorang manusia tak bernama dalam dunia
persilatan, seorang gelandangan yang tak punya tempat
tinggal."
"IHmm, tapi menurut penilaianku, semestinya engkau
adalah anak murid dari perkumpulan thian- hong-pang . "

151
Thian-hong pangcu tertawa dingin.
"Dalam perkumpulan kami tidak terdapat seorang manusia
macam dia." sahutnya. Mendengar ucapan itu gadis
berkerudung merah jadi tertegun, kemudian tertawa sinis.
" Huuh Engkau sebagai anak murid perkumpulan thianhong-
pang, tapi orang lain tidak mengakui dirimu sebagai
anak buahnya, belum pernah kujumpai manusia yang tak tahu
malu seperti dirimu itu."
Ucapan ini tajam dan sinisnya bukan kepalang, siapapun
tak akan tahan mendengar sindiran seperti ini.
Pria bertato sembilan naga tak dapat menahan diri lagi,
sambil meraung keras, gembornya.
"Kau ini macam apa? Maknya. ...dianggap nya kepandaian
silat yang kau milikijauh lebih lihay dari pada dirinya ?"
"Saudara, harap tutup mulut" cegah Gak In Ling dengan
cepat, sorot matanya segera dialihkan kearah gadis baju
merah itu, kemudian menambahkan lebih jauh.
"Mungkin saja aku adalah seorang manusia yang paling tak
tahu malu dikolong langit, tapi setiap patah kata yang
kuucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya. Pangcu maupun
Lengcu sama-sama merupakan dua kekuatan besar didalam
dunia penilaian, asal kalian berdua dapat bergandengan
tangan dan bekerja sama, rasanya tidak terlalu sukar untuk
menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, sekarang aku
mempunyai seratus persen keyakinan yang bisa membuktikanbahwa
anak buah kalian berdua bukanlah mati di pihak kalian
sendiri, cuma sayang buktinya kurang cukup hingga sukar
untuk membuat kalian percaya, tapi aku tetap berharap agar
kalian berdua suka menyelidiki masalah ini secara bijaksana
dan otak dingin."
Gadis berkerudung merah itu mendengus dingin.
"Hm Siapakah namamu, cepat katakan"

152
Hawa gusar terlintas diwajah Gak In Ling, akan tetapi ia
tetap bersabar diri. "Aku bernama Gak In Ling "jawabnya.
"Oooh, jadi engkau yang bernama Gak in Ling?" seru gadis
berkerudung merah itn dengan wajah tertegun. Sorot matanya
tanpa terasa menyapu wajah pemuda itu tajam-tajam,
kembali pikirnya : "Hai... tampan juga wajahnya...."
"Lengcu, bukankah engkau sedang mencari diriku?" ujar
pemuda itu lagi dengan suara hambar.
"Hm, rupanya engkau sedikit tahu diri...." sambil berkata
gadis itu alihkan sorot matanya kearah lain-
"Lengcu, kalau engkau hendak membinasakan diriku, maka
alangkah baiknya kalau mengijinkan aku untuk menerjang
masuk kedalam lembah Toan-hua-kok ini dan mati didalam
gua."
Gadis berkerudung merah itu tertawa dingin "^ Hm,
engkau tak usah banyak bicara, dibawah panjiku manusia
semacam- engkau tidak digunakan untuk melakukan
pertarungan pertama, aku lihat lebih baik engkau bunuh diri
saja"
Diatas wajah Gak In Ling terlintas napsu membunuh yang
amat tebal, jangan dikata wataknya memang tinggi hati dan
sombong, sekalipun terbuat dari tanah liatpun mungkin akan
terbakar juga oleh hawa amarah yang berkobar.
Gak In Ling tak pernah menyangka maksud baiknya untuk
memikirkan keselamatan dunia persilatan ditukar dengan
sindiran tajam yang begitu sinis sehingga membuat ia tak bisa
menahan diri lagi.
Dengan cepat Gak In Ling putar badannya, lalu berkata
dengan nada yang seram.
"Hm, tak kusangka Lengcu nirwana adalah seorang
manusia yang bodoh dan tak bisa membedakan mana yang
baik dan mana yang jelek. tak sepantasnya kalau aku orang

153
she Gak mempercayai berita dalam dunia persilatan dengan
begitu saja."
Gadis berkerudung merah mengerutkan alisnya dan maju
tiga langkah kedepan, hardiknya dengan ketus:
"Kurang ajar.... engkau berani menghina Lengcu kami ?"
"ooh, jadi eagkau bukan lengcu itu sendiri?" seru Gak In
Ling tertegun.
"Lengcu kami bukan seorang manusia biasa, h mm Manusia
kurcaci macam engkau tidak nanti berhak untuk
menjumpainya "
Gak In Ling benar-benar sudah naik pitam, sorot matanya
membara dan ia membentak dengan keras.
"Mungkin aku orang she Gak sudah mengalah terlalu lama
terhadap dirimu. sehingga kau anggap diriku jeri
terhadapmu."
"Aku tahu selama ini engkau mengalah terus karena
engkau takut mati." sela gadis berkerudung merah itu
sebelum sang pemuda sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Haa ha... haa... meskipun aku Gak In Ling bukan seorang
enghiong hohan, tapi soal mati hidup sudah tak pernah
kupikirkan lagi didalam hatiku, kalau engkau memang
berhasrat untuk membinasakan orang she Gak ditanganmu,
ayo sekarang juga silahkan turun tangan "
"Bagus, bagus sekali seorang enghiong ho-han memang tak
boleh tunduk terhadap kaum wanita." teriak pria bertato
sembilan naga didalam hati kecilnya.
"IHm apakah engkau hendak melakukan pergulatan
bagaikan binatang yang terjebak?" Kembali perempuan
berkerudung merah itu mengejek sambil tertawa dingin.

154
Pada saat ini perasaan antipati sudah muncul dalam hati
Gak In Ling terhadap anak buah dari Yau Ti lengcu itu, ia
merasa muak dan sebal, maka dengan ketus katanya:
"Engkau tak usah sombong dan tekebur, belum tentu
engkau mampu untuk mempertahankan diri sebanyak sepuluh
jurus diujung telapakku."
"Apa ?" jerit perempuan berkerudung merah.
Perkataan ini memang tak masuk diakal dan sukar untuk
bikin gadis itu untuk mempercayainya, sekalipun thian- hong
pangcu yang berada di sisinya pun diam-diam berpikir.
"Gak In Ling, engkau terlalu congkak dan omong besar."
Dengan wajah yang mengerikan dan suara yang tenang
Gak in Ling berkata kembali:
"Aku bilang, tidak sampai sepuluh jurus aku orang she Gak
dapat memaksa dirimu untuk terkapar diatas tanah dan
menemui ajalmu dalam lembah Toan-hun-kok ini."
Perempuan berkerudung merah adalah seorang gadis yang
sombong dan tinggi hati, dihina dan diejek oleh musuhnya
dengan kata-kata yang begitu menghina apalagi berada
dihadapan thian- hong pangcu, tentu saja membuat hatinya
jadi panas sekali, dengan mata melotot dan memancarkan
sinar kebengisan ia membentak:
"Bangsat, kalau hanya bicara melulu tidak ada gunanya,
lihat seranganku ini " dengan jurus "Han yo-sui" atau bebek
kedingingan bermain diair, ia terjang tubuh sianak muda itu.
Walaupun perempuan ini bukan lengcu nirwana. Tetapi dari
tanda perintah yang dibawanya serta dikawal oleh empat
orang dayang cantik, bisa ditarik kesimpulan bahwa
kedudukannya amat tinggi, dan dengan sendirinya ilmu silat
yang dimilikinya lihay sekali.

155
Setelah serangan dilancarkan, angin pukulan menderuderu
dan desiran tajam memanjang bagaikan bianglala,
telapaknya berputar silih berganti sementara badannya
bagaikan burung walet melayang kesana- kemiri dengan
gesitnya. Begitu lincah dan enteng, badannya sehingga
menyilaukan mata.
Melihat serangan musuh, Gak In Ling merasakan hatinya
tercekat, pikirnya didalam hati.
"Dibawah panji-panji nirwana, rupanya tak ada manusia
yang lemah, tidak aneh kalau kata katanya begitu sombong
dan takabur "
Ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya hanya dalam
waktu singkat, pemuda itu tidak berani bertindak gegabah,
buru-buru dengan gerakan tukar jubah ganti posisi, dia loncat
mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Dalam anggapan perempuan berkerudung merah itu Gak In
Ling pasti tak akan berhasil lolos dari cengkeramannya, atau
paling sedikit walaupun nyaris dapat melepaskan diri dari ter
jangan kilatnya, keadaan pemuda itu tentu gelagapan dan
mengenaskan sekali.
Siapa tahu dugaannya meleset sama sekali, bukan saja Gak
In Ling dapat melepaskan diri dari terjangan kilatnya bahkan
semua gerakan dilakukan dengan enteng dan leluasa sekali,
tanpa terasa lagi ia menjerit tertahan-
Buru- buru jurus yang pertama dibuyarkan dan berganti
dengan gerakan yang lain, baru saja sepasang kaki Gak In
Ling menempel permukaan tanah, ia telah menerjang kembali
kedepan sambil secara beruntun melancarkan tujuh buah
serangan berantai.
Serangannya tajam dan ganas sekali, dimana angin
pukulan dan bayangan jarinya dituju kejalan darah kematian
di sekujur badan lawannya.

156
Dibawah serangan yang begitu gencar, Gak In Ling dengan
gerakan yang enteng dan lincah tetap menerobos lewat
diantara sambaran-sambaran lawan, meskipun tubuhnya tidak
sampai terkena tapi seakan-akan ia telah kehilangan daya
untuk membalas.
Empat oraag dayang baju merah yang menyaksikan
jalannya pertempuran itu dari sisi kalangan, sama-sama berdiri
dengan mata terbelalak dan mulut melongo, diatas wajahnya
jelas menampilkan rasa kasihan, simpatik, kaget dan tak
tenang, rupanya tanpa sadar mereka sedang menguatirkan
keselamatan pemuda tampan itu.
Pria bertato sembilan naga paling gelisah dan cemas,
diantara beberapa orang itu, terdengar ia bergumam seorang
diri.
"Ayo, bocah tambah tenaga bagus, pukul terus, hajar saja
dia sampai mampus "
Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar
membasahi seluruh tubuhnya, entah berapa banyak kekuatan
tubuhnya yang terbuang oleh teriakan-teriakannya itu.
Ketegangan dan mara bahaya mencekam seluruh kalangan
membuat suasana jadi sesak, dalam waktu singkat
pertarungan sudah berlangsung sebanyak tujuh jurus, akan
tetapi selama ini Gak In Ling tidak pernah melancarkan
serangan balasan-
Gadis berkerudung merah itn segera melancarkan serangan
yang kedelapan, sambil tertawa dingin ia berseru.
"Gak In Ling, tahukah engkau ini jurus yang keberapa ?"
"jurus kedelapan-" jawab Gak In Ling sambil menghindar
kesamping kanan dari gadis itu. "Nona, kita toh tak pernah
terikat oleh dendam sakit hati apapun juga, demi
kesejahteraan dunia persilatan, aku..."

157
"Tak usah banyak bicara lagi." bentak perempuan
berkerudung merah. "Kalau engkau tidak mati, aku takakan
berhenti menyerang"
cahaya membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In
Ling, dalam waktu yang amat singkat alisnya telah berkerut
dan ia telah mengambil suatu keputusan yang menakutkan,
baru saja perempuan itu menyelesaikan jurus yang
kedelapan, siap melancarkan jurus yang kesembilan, tiba-tiba
sia nak muda itu membentak nyaring.
"Hm, rupanya kau sudah bosan hidup, dan ingin mencari
jalan kematian bagi diri sendiri"
cahaya merah memancar keseluruh angkasa muncullah
bayangan telapak yang tak terhitung jumlahnya menyelimuti
seluruh tubuh perempuan berkerudung merah itu.
Begitu menyaksikan cahaya merah memancar keempat
penjuru, hati perempuan berkerudung merah itu tercekat oleh
rasa ngeri, dengan kagetnya dia menjerit. "Ah Telapak maut"
Laksana kilat tubuhnya melayang kesamping dengan
menggunakan gerakan yang paling diandalkan oleh Ya u Ti
lengcu yakni gerakan "Sian-cu Leng-in" atau bidadari jalan
diatas awan, ia loncat sejauh tiga tonbak dari tempat semula.
Dalam perkiraan perempuan berkerudung merah itu,
dengan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dia pasti akan
berhasil melepaskan diri dari lingkaran pengaruh cahaya
merah yang dipancarkan dari telapak maut sianak muda itu,
siapa tahu gerakan tubuh Gak In Ling jauh lebih cepat
daripada dirinya, belum sempat sepasang kaki perempuan
berkerudung merah itu menyentuh tanah, tiba-tiba dari atas
kepalanya sudah terdengar bentakan dari Gak In Ling
berkumandang datang. "Engkau akan lari ke mana ?"
cahaya merah dengan kencangnya mengikuti datang dan
tetap menekan disekitar batok kepalanya.

158
Mendengar bentakan itu perempuan berkerudung merah
tadi semakin terkesiap. dia tahu bahwa selembar jiwanya
sudah tergenggam dalam cengkeraman malaikat elmaut,
pikirannya jadi kacau dan timbullah keinginan untuk
mempertahankan hidupnya, membuat dara itu tanpa sadar
melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat kedepan-
Nampaklah sepasang, telapak Gak in Ling yang berwarna
merah darah sudah makin mendekati batok kepala perempuan
berkerudung merah itu, dan rupanya sebentar lagi dia akan
menemui ajalnya.
Di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba Thian-hong-pangcu
membentak keras. "Gak ln Ling, jangan lukai dirinya "
Segulung angin pukulan yang kencang, bagaikan angin
puyuh dengan cepat menerjang kearah dada dianak muda itu.
Sebenarnya Gak In Ling memang tiada berhasrat
mencelakai perempuan itu, maka selama delapan jurus yang
pertama ia tak pernah melancarkan serangan balasan, kini
setelah mendengar bentakan keras dari Thian-hong pangcu,
dengan cepat segenap tenaga pukulannya ditarik kembali dan
ia meloncat kearah samping.
"Blaaam" ditengah udara bergeletar ledakan keras, diikuti
Gak In Ling mendengus berat.
Pertarungan seru yang sedang berlangsungpun segera
berhenti, suasana dalam kalangan diliputi oleh kesunyian yang
menyeramkan-
Sinar mata semua orang segera ditujukan ke satu arah,
yakni ditujukan kearah Gak In Ling yang terkapar diatas
tanah, darah kental mengucur keluar dari mulutnya, wajah
yang tampan kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,
sehingga menakutkan sekali.
Dengan sorot mata yang pudar ia menyapu sekejap seluruh
orang yang hadir didalam kalangan, dibalik biji matanya yang

159
hambar dan tinggi hati sama sekali tidak nampak perasaan
benci, yang ada hanya kemurungan serta kesedihan yang
membuat orang jadi bingung.
Empat orang dayang baju merah dengan tangan yang
gemetar berdiri menjublek disisi kalangan, empat pasang mata
dialihkan ketubuh pemuda itu, mereka tak dapat menilai
apakah Gak In Ling seorang baik atau bukan, tetapi menurut
perasaan mereka majikannya telah salah melukai seseorang
yang tidak sepantasnya dilukai.
Perempuan berkerudung merah itu sendiri mundur
kebelakang dengan sorot mata memancarkan rasa
penyesalan, tangannya yang diluruskan ke bawah tampak
agak gemetar.
Pria bertato sembilan naga sendiri melototkan sepasang
matanya bulat-bulat, mulutnya terbuka lebar, perubahan yang
terjadi secara tiba-tiba ini boleh dibilang membingungkan
hatinya.
Dia dengan Gak In Ling walaupun baru bergaul selama satu
hari, tapi setiap patah kata dan tingkah laku pemuda itu telah
berkesan dalam hati kecilnya, bahkan menimbalka rasa
hormat dan sayang bagi dirinya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thian-hong pangcu
berteriak nyaring. "Oooh kau terluka ?"
Tubuhnya dengan cepat berkelebat kemuka dan menubruk
kearah Gak In Ling yang sedang merangkak bangun itu.
"Hey, kau mau apa?" bentak pria bertato sembilan naga
dengan penuh kegusaran- "Aku akan beradu jiwa dengan
kalian."
Toya besi dalam genggamannya diiringi desiran angin
tajam segera disapu ke depan dengan jurus "Heng-sau ciankim"
atau menyapu rata selaksa prajurit, dari desiran tajam

160
yang dihasilkan oleh angin pukulan itu dapat diketahui bahwa
babatannya disertai tenaga yang amat besar.
Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah
jadi sangat terperanjat melihat datangnya serangan itu, buruburu
mereka loncat mundur beberapa tombak kebalakang
den-gelagapan-
"Ee ee... engkau jangan salah paham" teriak Thian-hong
pangcu dengan suara tertahan-"Aku tidak bermaksud untuk
mencelakai jiwanya engkau jangan menaruh curiga."
Sepasang mata pria bertato sembilan naga telah berubah
jadi merah berapi, melihat serangannya gagal secara beruntun
ia lancarkan tujuh buah serangan berantai, sambil menyerang
teriaknya marah.
"Hm kalian menyebut diri sebagai dua pemimpin besar
dalam dunia persilatan, mengembar- gemborkan tujuan untuk
mewujudkan kedamaian dan kebenaran bagi umat persilatan,
tapi kalian sama sekali tak pantas dinilai dengan dirinya...
kalian sama sekali tak bisa membedakan mana yang lurus dan
mana yang bengkok, kalian hanya pandai melakukan
perbuatan menuruti emosi dan suara hati."
jangan dilihat dia hanya seorang manusia kasar, setiap
patah katanya ternyata amat menusuk perasaan orang.
Secara beruntun Thian-hong pangcu serta perempuan
berkerudung merah harus menghindarkan diri kembali dari
ancaman ketujuh buah serangan kilat itu, mereka gagal
menembusi pertahanan bayangan toya dari pria bertato
sembilan naga, hal ini bukanlah dikarenakan ilmu silat pria
kasar itu amat lihay dan melebihi mereka berdua melainkan
tindakan pria itu sendiri yang nekad membuat mereka jadi jeri.
Setiap jurus dan gerakannya dalam melancarkan
serangannya, yang diutamakan adalah bagaimana caranya
melukai lawan, pertahanan terhadap dirinya sendiri boleh

161
dibilang sama sekali terbuka, rupa-rupanya ia sudah tidak
memperdulikan keselamatan pribadi.
Pepatah-kuno mengatakan: satu orang sudah nekad, maka
selaksa orang tak mampu melawan- Kendatipun ilmu silat
yang dimiliki kedua orang perempuan itu sangat tinggi, tetapi
bila mereka tidak melukai pria bertato sembilan naga lebih
dahulu, tak mungkin pertahanan bisa dijebolkan dalam waktu
singkat.
Dengan pandangan sedih Gak In Ling menyaksikan
jalannya pertarungan ditengah gelanggang gumamnya
seorang diri.
"Heng-tay, engkau adalah satu-satunya sahabat yang
kumiliki didalam dunia persilatan, tapi beradu jiwa bagi diriku
tindakan tersebut sama sekali tak ada harganya."
Sejenak kemudian dari dalam sakunya Gak In Ling ambil
keluar botol berwarna hijau tua ketika sorot matanya yang
sayu memandang botol dalam genggamannya, tangan yang
mencekal tadi nampak mulai gemetar keras.
Dengan pandangan ngeri ia memandang botol persolen
ditangannya, lalu berseru dengan penuh kepedihan-
"Setengah tahun setengah tahun ooh... Terlalu pendek.
terlalu pendek sekali yaa, Thian Hukuman yang kau timpakan
pada keluarga Gak kami terlalu berat, apakah engkau hendak
paksa aku orang she Gak untuk menyaksikan manusiamanusia
laknat itu hidup dengan suka ria diatas jagad tanpa
berhasil kujamah dan kulenyapkan-.."
Airmata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang pucat,
dengan penuh kepedihan ia menggigit bibirnya sendiri.
Hidup, belum tentu merupakan suatu kejadian yang paling
baik, tapi hidup jauh lebih baik daripada mati, tapi ketika
suatu kehidupan sudah dirasakan tiada artinya dan tiada

162
harganya lagi, keadaan tersebut jauh lebih baik diakhiri
dengan suatu kematian.
Gak In Ling, walaupun tidak menginginkan suatu kehidupan
yang penuh penderitaan, akan tetapi dia harus tetap hidup
untuk menyelesaikan tugas penting yang menjadi bebannya,
oleh sebab itu ia tak dapat mati dengan begitu saja.
Perlahan-lahan Gak In Ling membuka penutup botol
persolen itu dan mengambil keluas sebutir pil berwarna hijau
tua, kemudian obat tadi dimasukkan ke dalam mulutnya.
Thian-hong pangcu walaupun selama ini selalu berusaha
untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan maut dari
pria bertato sembilan naga, namun pikirannya sama sekali
tertuju kearah pemuda itu.
Apa yang dilakukan Gak In Ling dapat dilihat olehnya
dengan jelas, hampir saja jantungnya copot karena kaget, tak
tertahan lagi ia berteriak nyaring.
"Gak in Ling, engkau tak boleh menelan obat itu, tak
boleh..." suaranya penuh perasaan sedih dan memohon,
sementara air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Mendengar jeritan itu, perempuan berkerudung merah tadi
pun melirik sekejap kearah Gak In Ling, setelah melihat obat
yang ditelan diapun menjerit tertahan-"Aaah Pil cui-sim-wan "
"Pil cui-sim-wan ?" Pria bertato sembilan naga pan
terperanjat, tanpa sadar jurus serangan-nyapun makin
memgendor.
Menggunakan kesempatan itulah perempuan berkerudung
merah melancarkan serangan dengan jurus "Tiam-sak-sengkim"
atau menutul batu jadi emas, ia totok jalan darah ciankeng-
hiat di atas bahu pria bertato sembilan naga itu.
Sementara itu Thian-hong pangcu telah meloncat kehadapan
Gak In Ling.

163
Rupanya takdir telah menentukan lain, menanti dara cantik
baju putih itu berhasil tiba di-hadapan sang pemuda, obat cuisim-
wan tadi telah tertelan kedalam perut sang pemuda yang
keras kepala ini.
"Oooh... mengapa kau hancurkan dirimu sendiri ?" keluh
Thian-hong pangcu.
Dengan pandangan dingin Gak In Ling menyapu sekejap
kearahnya kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya, ia
sama sekali tidak menggubris ucapan gadis itu.
Napas Gak In Ling yang memburu perlahan-lahan jadi
tenang dan teratur kembali, wajahnya yang pucat kinipun
sudah berubah jadi semu merah, dari luaran ia nampak sudah
sembuh kembali, tapi dalam kenyataan kesegaran tersebut
diperoleh seakan-akan seorang pemadat yang baru saja
menghisap candu.
Keheningan dan kesunyian mencekam seluruh kalangan,
begitu sepi sehingga setiap orang dapat mendengar detak
jantungnya sendiri, dalam keedaan begini Thian-hong pangcu
serta perempuan berkerudung merah telah melupakan
perselisihan mereka, seluruh pikiran dan perhatian mereka
telah ditumpahkan ketubuh Gak In Ling.
Suasana yang sesak kian mencekam seluruh jagad,
membuat lembah Toan-hun-kok berubah jadi sepi sesunyi
kuburan-
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepatnya akhirnya Gak
In Ling menghela napas panjang dan membuka matanya
kembali, sosot matanya memancarkan kemurungan dan
kepedihan Thian-hoag pangcu segera maju kedepan,
tegurnya. "Kau kau apakah kau dalam keadaan baik ?"
Gak In Ling loncat bangun dari atas tanah-wajahnya yang
tampan diliputi keketusan dan kehambaran, ia sapu sekejap
wajah kedua orang dara itu kemudian berkata dengan dinginTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
164
"Mungkin kalian berdua merasa kecewa bukan ?"
"Apa yang kami kecewakan?" tanya perempuan
berkerudung merah tanpa berpikir panjang.
"Kecewa karena aku tidak mati"
"Apakah engkau mengira bahwa kami mengharapkan
engkau lekas mati?" tanya Thian-hong pangcu dengan sedih.
"Semoga saja kalian tidak berharap begitu."
"Asal sejak ini hari engkau takkan memusuhi umat
persilatan didaratan Tionggoan lagi, persoalan yang sudah
lewat tak akan kuungkap kembali." ujar perempuan
berkerudung merah pula dengan suara yang lebih lembut.
"Setiap orang yang kucari dan setiap orang yang hendak
kubunuh, tak akan tertolong oleh siapapun."
"Seandainya ada orang yang berhasil menolong korbankorbanmu
itu ?"
"Kecuali kalau dia mampu membinasakan aku orang she
Gak "
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada
manusia, apakah engkau yakin bisa menangkan semua jago
dalam dunia persilatan?" ujar Thian-hong pangcu dengan
sedih.
Suaranya lembut dan halus, seakan-akan seorang isteri
yang setia sedang menasehati suaminya.
Gak In Ling menengadah memandang langit nan biru, lalu
menghela napas panjang. "Mungkin ucapanmu itu tidak
salah." sahutnya.
Mendengar jawaban itu, satu ingatan berkelebat dalam
benak Thian-hong pangcu, ujarnya lagi dengan lembut.
"Asal orang yang kau cari benar-benar telah melakukan
kejahatan lebih dahulu dan dosa-dosa mereka dapat

165
dibuktikan, kendatipun engkau tidak menjatuhi hukuman
terhadnp mereka, umat persilatan, pasti akan membantu
dirimu untuk melampiaskan dendam sakit hati ini..."
Dari perkataan itu sudah jelas sekali menunjukkan bahwa
gadis ini memperingatkan bahwa ia bersedia membantu usaha
pemuda itu.
"Aku tidak mengharapkan orang lain menemui ajalnya
karena persoalan dari aku orang she Gak. Perkataanmu itu tak
bisa kuterima." tukas Gak In Ling dengan cepat.
"Darimana engkau bisa tahu kalau orang lain akan
menemui ajalnya karena persoalanmu itu?" tanya perempuan
berkerudung merah.
"Karena orang-orang yang hendak kucari itu memiliki
kepandaian silat yang sangat tinggi, di antara mereka yang
paling lemahpun memiliki ilmu silat yang seimbang dengan
kepandaianku."
Ucapan ini dengan cepat mengejutkan hati dua orang gadis
itu, mereka pernah menyaksikan sendiri sampai dimanakah
taraf kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, seandainya
apa yang dia ucapkan tidak salah maka kendatipun segenap
kekuatan inti yang ada dalam dunia persilatan di himpun
menjadi satu belum tentu bisa membantu usaha pemuda itu.
Setelah berpikir sebentar, Thian-hong pangcu bertanya
kembali. "Bagaimana dengan mereka yang berilmu silat paling
tinggi?"
"Ilmu silat yang dimilikinya jauh diatas kepandaian yang
kumiliki, kalau dicarikan perbandingannya maka bagaikan
sinar rembulan dan cahaya kunang-kunang."
Tiba-tiba perempuan berkerudung merah itu teringat
kembali akan lengcunya yang memiliki ilmu silat amat tinggi,
dengan gelisah segera tanyanya.

166
"Siapakah mereka? Asal engkau sebutkan nama-namanya,
mungkin saja ada orang yang mampu menangkan mereka^"
Tertegun hati Gak In Ling setelah mendengar perkataan
itu, ia sadar dirinya telah terlanjur bicara, airmukanya segera
berubah hebat dan katanya dengan tawar.
"Semoga saja dalam setengah tahun kemudian kita jangan
sampai bertemu lagi, sebab bila sampai terjadi pertarungan
lagi maka belum tentu aku akan mengalah seperti apa yang
kulakukan pada saat ini."
Habis berkata ia segera berjalan menuju ke arah mulut gua
dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.
Perubahan sikap yang diperlihatkan Gak In Ling ini sangat
mencengangkan hati dua orang dara tersebut, dalam hati
kecilnya perempuan berkerudung merah segera berpikir.
"Kenapa sih tabiat orang ini begitu aneh ?Barusaja baik
tiba-tiba jadi ketus, sungguh membingungkan."
Dalam pada itu Thian-hong pangcu telah menghadang jalan
pergi sianak muda itu, tegurnya.
"Apakah engkau hendak masuk kedalam ?"
"Apakah pangcu kembali akan menghalangi jalan pergiku ?"
Dengan pandangan sedih Thian-hong pangcu menyapu
sekejap wajah pemuda itu, kemudian menjawab.
"Lembah Toan-hun-kok bisa bertahan selama puluhan
tahun dalam dunia persilatan, tanpa seorangpun mampu
membasmi mereka dari muka bumi, hal ini menunjukkan
bahwa kekuatan yang mereka miliki bukan hanya terbatas
pada Hiat-mo-ong seorang, kepergianmu seorang diri apakah
tidak merasa bahwa kekuatan yang kau miliki terlalu lemah ?"
"Aku rasa persoalan ini merupakan masalah pribadiku
sendiri, aku minta engkau tak usah mencampurinya." jawab

167
Gak In Ling ketus. Airmuka Tbian-hong pangcu berubah
hebat.
"Kau..... kau benar-benar kejam.... engkau tak dapat
menyelami perasaan orang lain-..." teriaknya.
Dengan cepat Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah
lain, kemudian menjawab.
"Jika engkau berdua dapat menyelami perasaan orang, aku
hanya berharap agar kalian dapat memikirkan keselamatan
serta keamanan bagi umat manusia yang ada dikolong langit."
Habis berkata ia berjalan lewat disisi tubuh Thian-hong
pangcu dan buru-buru masuk kedalam gua.
Thian-hong pangcu menghela napas sedih, setelah
termenung sebentar sambil menggigit bibir tiba-tiba ia
berpaling kearah perempuan berkerudung merah itu dan
berkata.
"Seorang tamu tak akan merepotkan dua orang tuan
rumah, harap engkau utusan timur suka menyampaikan
kepada lengcu kalian, bahwa mulai saat ini seluruh keamanan
dunia persilatan kuserahkan pada dia seorang untuk
mengendalikannya." selesai berkata dengan langkah cepat ia
menyusul kedalam gua di mana bayangan tubuh Gak In Ling
melenyapkan diri.
Dengan wajah kaget dan tertegun perempuan berkerudung
merah itu berdiri menjublek ditempai semula, pikirnya,
"Ucapan itu kenapa harus aku yang sampai kan ?"
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil menuding
kearah pria bertato sembilan naga pesannya kepada keempat
orang dayang itu.
"Setelah membebaskan jalan darah orang itu kalian segera
pulang kegunung dan lapor kepada lengcu, katakanlah
andaikata didalam tiga hari aku utusan timur belum kembali

168
juga, itu berarti sejak detik ini utusan timur sudah tak dapat
melayani lengcu lagi."
selesai berkata ia segera lari masuk kedalam gua itu pula.
Hati perempuan memang sukar diraba. Sementara itu,
setelah Gak In Ling masuk kedalam gua, ia merasa ruang
dalam gua tadi luas sekali, dindingnya terbuat dari batu dan
licin bagaikan cermin, jelas tempat itu bukan gua alam tapi
dibuat oleh tenaga manusia.
Setelah berbelak-belok beberapa kali dan kurang lebih
sudah mencapai tiga- empat puluh tombak dalamnya, Gak In
Ling masih belum berhasil menemukan suatu ruangan, hal ini
membuat hatinya amat terkejut.
Pada saat itulah mendadak dari dalam gua berkumandang
datang suara pembicaraan manusia, terdengar seseorang
yang bersuara serak sedang berkata.
"Menurut cahaya sang surya seharusnya harusnya sekarang
sudah mendekati tengah hari, kenapa belum nampak ada
yang mengirim nasi ? Apakah mereka hendak siksa kita
sampai mati karena kelaparan?"
"Sekalipun mereka benar-benar akan menyiksa kita sampai
mati kelaparan, apa yang dapat kau katakan ?" sambung
seorang yang lain dengan nada dingin.
"Hmm Mereka berani ?"
"Kenapa tidak berani? Meskipun dahulu engkau "Tok-seng"
Nabi bisa Kongsun To pernah menggemparkan dunia
persilatan, namun pada saat ini kau masih berada dalam
genggamannya, sekalipun bocah yang berumur tiga tahunpun
takkan jeri terhadap dirimu "
Rupanya orang yang pertama tadi dibikin gusar oleh
ucapan tersebut, terdengar ia meraung dengan gusar.

169
"Leng Inpoocu, apakah engkau ingin merasakan
kelihayanku ?"
"Hm, engkau kira aku jeri terhadap dirimu ?" jawab Leng In
poocu sambil mendengus dingin-
Tiba-tiba suara yang lain berkumandang menengahi
percekcokan itu.
"omitohud Selama banyak tahun sicu berdua bukan hanya
berkelahi satu kali saja, tapi menang kalah, selalu tak bisa
ditentukan, apa sih gunanya membuang tenaga lagi dengan
percuma?"
Rupanya si Nabi racun Kongsun To adalah seorang manusia
yang tidak pakai aturan, dengan cepat dia menyambung
kembali.
"Benar, benar, Buddha Antik, selama banyak tahun aku
belum pernah bergebrak melawan dirimu. Mari, mari kita adu
kepandaian, coba lihat siapa yang lebih unggul diantara kita."
"Aku menyadari bahwa kepandaianku masih belum mampu
menangkan diri sicu," jawab orang yang disebut Buddha
Aantik itu
"Eei...... kamu tak usah kuatir, aku akan tetap
menggunakan peraturan lama, tak akan aku gunakan jurus
racun, semuanya pakai jurus murni," seru Nabi racun lagi.
Ketika Gak In Ling mendengar bahwa didalam gua itu
terdapat juga siBuddha Antik yang paling dibenci, darah panas
seketika bergelora dalam rongga dadanya, dengan langkah
yang lebih cepat lagi dia mendekati kearah berasal nya suara
tadi.
Tiga buah tikungan kembali sudah dilewati akhirnya setelah
berjalan beberapa saat lamanya sampailah pemuda itu disuatu
tempat yang terbuka, sebuah ruang batu seluas dua puluh
tombak lebih muncul didepan mata, pada sisi kanan ruang
batu itu terdapat sebuah lorong yang entah menghubungkan

170
tempat itu dengan mana, sedang suara pembicaraan ya
bergema tadi berasal dari dalam sebuah dinding batu
berwarna putih yang ada disebelah kanan-
Gak In ling sama sekali tidak ragu-ragu, dengan langkah
yang cepat ia berjalan menuju ke samping kiri.
Tiba-tiba...
"Gak In Ling, apakah kau sudah bosan hidup dan kepingin
cari kematian buat diri sendiri ?" suara teguran seseorang
berkumandang memecahkan kesunyian-
Apa yang dipikir dan diperhatikan Gak In Ling pada saat ini
adalah menemukan persembunyiannya Buddha Antik, ketika
secara tiba-tiba namanya disebut orang hatinya jadi amat
terperanjat. Dengan cepat ia putar badan sambil silangkan
telapaknya didepan dada siap menghadapi segala
kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ketika sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya
suara tadi, terlihatlah Thian-hong pang cu serta perempuan
berkerudung merah telah berdiri berjejer kurang lebih lima
depa dihadapannya.
Gak In Ling segera tertawa dingin dan menegur.
"Kedatangan kalian berdua apakah dikarenakan aku orang
she Gak ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab Thian hong pangcu sambil
mengangguk.
"Apakah diantara kita bertiga harus diputuskan lebih dahulu
siapa yang berhak melanjutkan hidup dan siapa yang pantas
menemui ajalnya ?" seru pemuda itu lagi sambil tertawa
dingin.
"Apakah maksudmu, selain percekcokan dan perkelahian,
diantara kita sudah tiada urusan lain lagi ?" bantah ThianTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
171
hong pangcu dengan wajah yang sedih. Sambil bicara dari
pancaran matanya terlintaslah rasa murung dan kesal.
Gak In Ling bukan seorang tolol ataupun bodoh, sudah
tentu ia dapat menangkap arti dari perkataan itu, tetapi
berada dalam keadaan seperti ini ia tetap berlagak pilon
seolah-olah sama sekali tidak paham dengan maksud
perkataan itu. Dengan cepat pokok pembicaraan dialihkan
kemasalah lain, ujarnya dengan hambar.
"Kalau memang kedatangan kalian berdua bukanlah
mencari aku orang she Gak guna bertarung, aku harap kamu
berdua segera tinggalkan tempat ini, masa depan dunia
persilatan tergantung diatas bahu kalian berdua, menempuh
bahaya karena urusan yang begini sepele sama sekali tak ada
harganya bagi kalian berdua..."
Selesai berkata tanpa menantikan jawaban lagi ia segera
berjalan menuju kedinding batu sebelah kiri.
"Engkau hendak menjebolkan dinding batu itu?" seru
perempuan berkerudung merah tanpa terasa.
"Sedikitpun tidak salah "
"Tahukah engkau siapa saja yang terkurung didalam
ruangan gua batu itu ?" Gak In Ling menghentikan langkahnya
kemudian menjawab.
"Nabi racun Kongsun To, Leng In poocu dan Buddha Antik."
Ketika mengucapkan nama Buddha Antik, suaranya sengaja
diperkeras dan diperberat. "Pernahkah engkau mendengar
kata-kata yang berbunyi Nabi racun mengejutkan kolong
langit, pedang Leng In bagaikan malaikat ?" seru Thian hong
pangcu kembali. Mendengar perkataan ini Gak In Ling hatinya
terjelos, pikirnya didalam hati. "Mungkin aku akan menemui
suatu kesulitan yang besar sekali."

172
Walaupun dalam hati ia mempuyai pendapat demikian,
tetapi perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar,
dengan suara hambar ia hanya berkata.
"Ucapanmu itu memang sangat mengejutkan hati orang,
tetapi bagaimanapun juga ruangan ini harus dijebolkan"
Sekalipun Thian-hong pangcu belum terlalu lama
berkumpul dengan Gak In Ling, akan tetapi dia sudah
memahami sifat serta tabiatnya, ia mengerti apa yang telah
diucapkan oleh si anak muda itu pasti akan dilakukan olehnya,
dengan cepat dara cantik baju putih itu meloncat kehadapan
pemuda itu sambil serunya dengan suara berat.
"Gak In ling, perkataanmu selalu menggembar-gemborkan
demi kesejahteraan dan keamanan umat persilatan didaratan
Tionggoan, tapi pernahkah engkau berpikir apa akibatnya
andaikata Nabi racun Kongsun To dilepaskan dari kurungan itu
?"
Gak In Ling tertegun, ia tak pernah mempertimbangkan
akibat dari perbuatannya itu. Sudah tentu hal ini disebabkan
karena ia masih belum tahu bagaimanakah watak serta tabiat
dari Nabi racun Kongsun To itu sendiri.
Gak In Ling berdiri tertegun dan lama sekali tidak
mengucapkan sepatah kata pun, pada saat itu suasana ruang
dalam pun sunyi senyap dan tak kedengaran suara apapun,
jelas pembicaraan diantara mereka telah tercuri dengar oleh
orang-orang itu.
Gak In Ling memandang sekejap kearah dua orang gadis
itu, seakan-akan sedang berkata terhadap mereka, ia
bergumam seorang diri.
"Tetapi Buddha Antik berada didalam, bagaimana juga aku
harus masuk kedalam."

173
Menyaksikan si anak muda itu sudah tergerak hatinya oleh
perkataannya, Thian-hong pangcu melanjutkan kembali katakatanya.
"Demi masalah pribadimu serta kepuasan bagi dirimu
sendiri, engkau membuat segenap umat persilatan jadi
sengsara dan mendapat celaka, coba bayangkan tegakah
liang-simmu berbuat begitu ?Jawablah "
Perkataan ini mengandung maksud yang sangat dalam dan
mengetuk perasaan halus sianak muda itu, membuat Gak In
Ling jadi sangsi dan tak tahu apa yang harus dilakukan, tapi ia
bersumpah akan mencabut jiwa Buddha Antik, mungkinkah ia
tinggalkan tempat tersebut dengan begitu saja ?
Antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi, antara
dendam dan cinta telah menyulitkan pemuda angkuh she Gak
ini, dalam benaknya segara muncul pelbagai ingatan serta
pikiran yang saling bertentangan, ia mulai merasakan
kebingungan, kebimbangan dan kekacauan-
Pada saat itulah dari balik dinding berkumandang kembali
suara terlakan dari Nabi racun Kongsun To.
"Hei, manusia yang menamakan dirinya Gak In Ling,
andaikata engkau mampu melepaskan aku dari tempat
kurungan ini, maka aku akan menyanggupi tiga syarat yang
kau ajukan-" Jelas manusia racun itu hendak mencengkeram
kesempatan baik ini untuk melarikan diri.
"Sungguhkah perkataanmu itu ?" tanya Gak In Ling dengan
perasaan hati agak tergerak.
"Apa itu sungguh atau palsu " maki Nabi racun Kongsun To
marah-marah. "Selama hidup aku Nabi racun belum pernah
mengucapkan kata kata yang palsu ataupun membohongi
orang lain."
Gak In Ling yang dasarnya memang tidak mengenali orang
itu tentu saja tidak memahami watak serta tingkah lakunya,

174
sepasang matanya yang jeli tanpa terasa dialihkan kearah
Thian-hong pangcu dengan sorot penuh selidik.
"Walaupun selama hidup Nabi racun Kongsun To tak
pernah berbohong dan menipu orang lain, tetapi manusia ini
licik dan sangat berbahaya." ujar Thian hong pangcu dengan
sedih. "Andai kata engkau lepaskan dirinya, maka ia akan
memperlihatkan permainan setan kepadamu."
Setelah mengetahui bahwa Nabi racun Kong sun To tak
pernah berbohong, satu ingatan dengan cepat berkelebat
dalam benak Gak In Ling tegurnya kearah balik dinding.
"Syarat macam apakah yang engkau sanggupi ?"
"Asal aku mampu melakukan serta mengerjakan pasti akan
kupenuhi, tapi engkau tak boleh minta aku untuk mati "
Kongsun To manusia yang ahli dalam penggunaan racun
memang lihay sekali dalam melakukan semua pekerjaan,
sebelum terlanjur ia telah mempersiapkan jalan mundur bagi
diri sendiri.
"Baik, kita putuskan dengan janji ini," jawab Gak In Ling
sambil mengangguk, selesai berkata ia siap menghantam
dinding ruangan tersebut.
"Gak In Ling, sebelum bertindak aku harap engkau suka
mempertimbangkan lebih dahulu tentang keamanan serta
keselamatan sendiri" ajar Thian-hong pangcu lagi dengan
penuh perhatian-
Gak In Ling seketika merasakan perasaan hatinya jadi
hangat sekali, tapi ketika teringat olehnya bahwa kehidupan
selama setengah tahun dengan cepatnya akan berakhir dan
pada saat itu semua kehangatan akan musnah, ia jadi murung
dan kesal kembali, sambil tertawa hambar katanya.
"Sekarang dia sedang membutuhkan bantuan dariku,aku
percaya perbuatannya tidak akan sampai merugikan diriku "

175
"Tetapi andaikata mereka sudah kau lepas kan dari
kurungan dan pada saat itu mereka sudah tiada lagi yang
diharapkan lagi darimu, bagaimana keadaannya ?" sambung
perempuan berkerudung merah dari samping. Gak In Ling
tertawa.
"Sebelum mereka terlepas dari kurungan, akan kubicarakan
syarat-syarat tersebut lebih dahulu "jawabnya.
Dalam pada itu Nabi racun Kongsun To telah berseru
kembali dari dalam ruangan-"Ayoh, cepat Apakah engkau tak
mampu untuk menjebolkan pintu batu tersebut ?"
Gak In Ling mengerutkan dahinya, dalam hati ia segera
mengambil keputusan dan serunya.
"Harap kalian berdua suka mengundurkan diri kesamping."
Dengan mengguna kan jurus menyapu rata lima bukit,
pemuda itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas
dinding batu itu.
Blaaaam Di tengah ledakan yang amat dahsyat, pasir dan
debu beterbangan memenuhi angkasa, sebongkah batu cadas
yang keras terhajar hancur dari atas dinding ruangan, begitu
dahsyat dan kuatnya angin pukulan yang dilancarkan Gak In
Ling itu sehingga muncullah sebuah lubang sebesar tiga depa
di tempat itu.
Dengan cepat Gak In Ling loncat kemuka dan menghadang
didepan mulut gua tadi, tiba-tiba tercium bau harum disisi
tubuhnya, ketika ia berpaling tampaklah dua orang nona
sudah berdiri dikedua belah sisinya.
Tebaran bubuk dinding memusingkan kepala dan
mengaburkan pandangan semua orang, pada saat itulah dari
dalam ruangan berkumandang suara gelak tertawa Nabi racun
Kongsun To yang amat keras.
"Haaah haah haaah aku telah bebas.... aku telah bebas
basah haaah...."

176
Ditengah gelak tawa yang keras dan memekakkan telinga
itu, terbawa pula suara gemerincingnya rantai yang saling
beradu.
Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah
itu segera menengok kedalam, tiba-tiba kedua orang gadis itu
menjerit tertahan dan loncat mundur ketempat semula,
keadaan mereka bagaikan terpa gut oleh ular berbisa.
Gak In Ling tertegun, dengan cepat ia menengok kedalam,
setelah mengetahui apa yang terjadi sadarlah sianak muda itu.
DidaLam ruangan terlihatlah seorang kakek tua berambut
putih bermata cekung dan berjenggot panjang terpantek
diatas dinding, dua buah rantai yang amat besar dan kuat
menembusi tulang bahunya dan membelenggu kakek itu
didinding batu, pakaian yang dikenakan sudah compangcamping
tak karuan sehingga bagian bawahnya boleh dibilang
sama sekali tak tertutup,
Dengan pandangan yang seksama Gak In Ling memeriksa
keadaan disekeliling tempat itu, terlihat olehnya ruang batu itu
berliku-liku seperti sebuah lorong rahasia, kalau diujung lorong
tidak terdapat sebuah pintu batu mungkin tempat itu sama
sekali tak mirip seperti sebuah ruangan.
Bau busuk dan hawa lembab memancar keluar dari
ruangan tadi, begitu tak sedap baunya sampai-sampai
memuakkan sekali. Ketika ia menyaksikan bahwa ditempat itu
tiada orang lain, hatinya kaget bercampur heran, setelah
sangsi sebentar akhirnya ia melangkah masuk kedalam
ruangan itu.
Sejak dinding itu berlubang, dengan pandangan yang tajam
kakek itu menatap terus wajah Gak In Ling tanpa berkedip.
menanti pemuda itu melangkah masuk kedalam ruangan, ia
baru berkata sambil tertawa.
"Selama banyak tahun akhirnya aku berhasil juga
mendapatkan kesempatan untuk meloloskan diri."

177
sikapnya begitu girang dan bangga, seakan-akan Gak In
Ling memang sudah menolong dia. Gak In Ling maju dua
langkah kedepan, lalu menegur.
"Siapakah engkau ? Dan siapa namamu d i- antara tiga
orang yang ada disini ? Dimana pula mereka berdua ?"
"Haa haa. . .. haa aku adalah Nabi racun Kongsun To "
setelah berhenti sebentar ia melanjutkan- "Engkau takut ?"
Gak In Ling tertawa dingin.
"Hee.... hee.. hee jangan dikata badanmu masih dirantai
diatas dinding, sekalipun kau sudah bebas merdekapun aku
tak nanti akan jeri terhadap dirimu."
"Sebentar lagi aku tokh akan bebas merdeka " seru
Kengsun To dengan senyum mengejek.
"Hmm Engkau mengira bahwa aku pasti akan menolong
dirimu?^
Rupanya Nabi racun Kongsun To sudah menduga kalau Gak
In Ling pasti akan mengucapkan kata-kata tersebut, bukannya
terkejut atau heran dia malah tertawa. "Haa.... haa aku sudah
menduga kalau engkau akan bersikap begitu terhadap diriku"
Gak In Ling terperanjat, suatu firasatjelek terlintas diatas
wajahnya, serunya tanpa sadar.
"Kalau memang begitu engkau tak akan seyakin itu "
"Hee hee. ... bocah cilik aku Nabi racun Kongsun To kalau
tak mampu mengalahkan dirimu, buat apa aku cari nama dan
berkelana dalam dunia persilatan ?" seru Kongsun To sambil
tertawa dingin. Setelah berhenti sebentar, ia tertawa
terbahak-bahak lalu melanjutkan-
"Sekarang aku akan memberitahukan dirimu secara terusterang,
d isaat dinding batu itu kau jebolkan tadi, tanpa
disadari kalian telah keracunan hebat"

178
Gak In Ling merasa amat terkejut, tapi dengan cepat
sambil tertawa lantang sahutnya. "Hmm Siasat yang kau
gunakan memang luar biasa sekali "
"Siasat apa ?"
"Siasat benteng kosong" jawab Gak In Ling sambil tertawa
dingin.
Mendengar perkataan itu Nabi racun Kongsun To angkat
kepala dan tertawa tergelak.
"Haa..... haa.... bocah cilik, kalau engkau tak percaya
silahkan mengerahkan tenaga dan mencobanya sendiri.
Selama hidup belum pernah ku lakukan pekerjaan yang tidak
meyakinkan keberhasilannya, apalagi urusan ini penting
sekali."
Dalam hati kecilnya Gak In Ling memang merasa curiga,
karena sewaktu menjebolkan dinding tembok tadi ia sama
sekali tidak mencium bau yang terasa aneh olehnya,
mendengar perkataan itu ia segera menurut dan diam-diam
mengerahkan tenaga dalamnya.
Tiba-tiba air mukanya berubah hebat, napsu membunuh
menyelimuti wajahnya yang tampan, selangkah demi
selangkah ia maju ke depan, serunya.
"Kongsun To, engkau tak pernah menyangka dengan
tindakanmu ini, bukan?"
Airmuka Nabi racun Kongsun To masih tetap tenang seperti
sedia kala, sambil tertawa seram ia menjawab.
"Bukankah sudah kukatakan, selamanya aku tak pernah
melakukan tindakan yang tidak meyakinkan diriku,
tindakanmu itupun sudah berada dalam dugaanku." Gak In
Ling merasakan hatinya makin tercekat sesudah mendengar
perkataan itu.

179
"Setelah engkau mati, aku bisa menggeledah isi sakumu
sendiri.. .. Hm Bukankah racun ini bisa kupunahkan kembali ?"
"Ha haa.... kalau engkau menginginkan tak usah digeledah
lagi, aku akan mempersilahkan engkau untuk memilihnya
sendiri."
Sambil berkata dari balikjubahnya yang robek mencomot
sana merogo kemari, dalam waktu singkat sudah ada dua
puluh botol lebih obat yang beraneka macam dipaparkan
dihadapan pemuda itu, katanya.
"Diantara lima belas buah botol ini ada tiga belas botol
berisi obat racun yang amat keji, sebuah botol berisi racun
berdaya kerja lambat dan hanya satu botol saja yang berisi
obat pemunah, jikalau engkau punya keberanian untuk
mengadu nasib, aku bersedia menyerah kalah dengan begini
saja."
Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka kalau Nabi
racun Kongsun To bakal menggunakan tindakan semacam itu
untuk menghadapi dirinya, tanpa terasa ia berdiri tertegun-
"Engkau tak usah putar otak lebih jauh." kata Kougsun To
lagi sambil tertawa, "kalau di kolong langit masih ada orang
yang mampu mengenali jenis racun yang kupergunakan, apa
guna nya aku pergunakan julukan sebagai Nabi racun?"
Satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benak Gak In Ling,
baru saja dia akan buka suara Kongsun To sudah berkata lagi.
"Sedikitpun tidak salah, engkau dapat menggunakan
binatang untuk mencoba obatku ini, tapi dalam satu tiga
perempat jam dari mana engkau mampu untuk
mengumpulkan lima belas macam binatang ?"
Tindak-tanduk orang ini memang licik dan berbahaya
sekali, bahkan semua yang sedang dipikir oleh orang lain telah
berhasil ditebak semua olehnya.

180
Dalam keadaan begini boleh dibilang Gak In Ling sudah
kehabisan akal, ia segera tertawa dingin-
"Hmm Engkau cukup keji dan hebat." serunya.
"Hee..... hee.. hee sekarang engkau bersedia
membebaskan diriku, bukan ?"
Gak In Ling ingin cepat-cepat temukan Buddha Antik,
sambil menggeleng dia bertanya. "Dimanakah dua orang
lainnya ?"
"Apakah engkau juga akan melepaskan mereka berdua ?"
tanya Kongsun To dengan nada tertegun-
Sebelum Gak In Ling sampat menjawab.
Leng In poocu yang berada didalam sudah berseru dengan
suara lantang. "Ada apa ? Apakah engkau Kongsun To merasa
tidak puas ?"
"Sedikitpun tidak salah." sahut Kongsun To dengan mata
melotot, "aku memang merasa tidak puas, sebab selembar
nyawaku harus kutukar dengan tiga macam syarat." Leng In
poocu tertawa dingin.
"Hee....... hee....engkau anggap aku Leng ciau adalah
seorang manusia yang suka mencari keuntungan dari orang
lain ? Engkau bisa mengabulkan tiga macam syaratnya,
apakah aku tak bisa penuhi juga tiga buah syaratnya ? Hmm,
apa yang hendak. kau katakan lagi?"
"Haa...... haa anggaplah aku memang berpandangan
sempit." seru Kongsun To kemudian tertawa terbahak-bahak.
Gak In Ling yang selama ini membungkam segera berseru
sambil tertawa dingin.
"Tiada halangannya bagiku untuk melepaskan engkau lebih
dahulu, tapi kita harus bicarakan dulu pertukaran syaratnya."
"Nah, katakanlah"

181
Gak Ia Ling berpikir sebentar, lalu berkata "Pertama, mulai
hari ini engkau tak boleh membunuh orang lagi didaratan
Tionggoan."
"Tidak boleh membunuh semua orang pria atau tak boleh
membunuh kaum wanita ?"
"Tentu saja baik lelaki maupun perempuan tak boleh
dibunuh "
"Wah kalau begitu aku merasa keberatan," seru Nabi racun
Kongsun To sambil geleng kepalanya berulang kali. "bagiku
permintaan itu termasuk dua macam syarat."
"Engkau ingin mengingkari janji ?" tegur Gak In Ling
dengan alis berkerut.
Kongsun To tenang sekali, jawabnya. "Manusia tokh dibagi
antara laki dan perempuan, sedang laki dan perempuan
merupakan jenis yang berbeda, tentu saja harus dianggap
sebagai dua syarat."
Nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In
Ling, rupanya dia akan turun tangan untuk membunuh kakek
tua itu
Menyaksikan tingkah laku dari lawannya, Nabi racun
Kongsun To tetap tenang-tenang saja sengaja ia berkata
sambil tertawa hambar.
"Sekalipun aku dibunuh, pada akhirnya kalianpun tak akan
lolos dari kematian."
"Engkau anggap aku takut menghadapi kematian ?" seru
Gak In Ling sambil tertawa dingin-
"Haa haa aku tahu kalau engkau tak takut mati." jawab
Kongsun To sambil tertawa seram, "bahkan dua orang gadis
itupun tidak takut mati, tapi, pernahkah engkau
membayangkan dengan kematiannya berdua maka dunia
persilatan akan jadi kalut dan kacau tidak karuan?"

182
orang ini benar benar licik sekali, rupanya dia hendak
menggunakan pembicaraan yang telah didengarnya tadi
sebagai senjata untuk memaksa lawannya tunduk.
Sedikitpun tidak salah, napsu membunuh yang menyelimuti
wajah Gak In Ling perlahan-lahan lenyap tak berbekas, ia
menghela napas di dalam hati dan mengangguk. "Baiklah,
anggap saja sebagai dua syarat "
"Haa haa..... rupanya engkau bijaksana sekali hebat,
hebat... ." seru Kongsun To sambil tertawa hambar.
Gak In Ling mendengus dingin-"Hmm, mana obat
pemunahnya ?"
"Engkau toh belum lepaskan diriku, kenapa aku mesti
serahkan dulu obat pemunah itu kepadamu ?"
"Ingin kuperiksa dulu obat pemunah itu cukup atau tidak ?"
"Untuk bagian satu orang, aku rasa jauh lebih dari cukup "
"Untuk tiga orang " seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-
"Wah, keberatan. Permintaaan sudah melebihi tiga syarat
yang kita janjikan-"
napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak ln Ling
muncul kembali dibalik sorot mata nya, dengan nada yang
seram ia berseru. "Manusia she Kongsun, rupanya engkau cari
mati"
Sepasang telapak segera diulangkan didepan dada, dan
rupanya serangan yang maha dahsyat segera akan
dilancarkan-
Sebagai manusia yang licik dan banyak akal setelah
meninjau sejenak situasi yang dihadapinya pada saat itu, Nabi
racun Kongsun To menyadari apabila ia tidak menolong kedua
orang gadis itu, maka pemuda itu akan mengadu jiwa. Buruburu
serunya dengan nada gelisah.

183
"Baik, baiklah.... biar kutolong kalian bertiga, anggap saja
untuk kali ini aku telah berbuat murah hati."
Gak In Ling tertawa dingin, perlahan-lahan ia turunkan
kembali sepasang telapaknya dan berkata.
"Aku ingin memeriksa lebih dahulu obat pemunahnya itu "
"Engkau tidak percaya dengan diriku ?" seru sikakek
dengan sorot mata berkilat.
"Tentu saja tidak percaya "
Mendengar perkataan itu Nabi racun Kong sun To naik
pitam, ia mendengus dan berkata.
"Kalau tidak percaya lebih baik mati, sekalipun aku harus
mati didalam gua ini juga tidak akan kuberikan obat pemunah
tersebut padamu." habis berkata ia segera pejamkan mata
rapat-rapat
Melihat kakek itu sudah unjukkan keras kepalanya, dia tahu
kalau tidak mengalah maka suasana tak akan beres, maka
diapun berkata. "Baiklah, aku orang she Gak bersedia
mempercayai dirimu." Sambil berkata ia segera berjalan
menghampiri Nabi racun Kongsun To itu.
Ketika mengetahui bahwa Gak In Ling bersedia
mempercayai dirinya, dari balik mata Kong sua To segera
memancar wajah kegirangan, sinar kegirangan tersebut
muncul dari hati sanubarinya dan sudah puluhan tahun
lamanya tak pernah muncul, cuma sayang tidak lama
kemudian cahaya tersebut telah sirap kembali. Kakek tua itu
segera memegang rantai yang membelenggu tubuh nya dan
berkata.
"Rantai besi ini diikatkan pada dinding bata, dibalik dinding
tersembunyi alat rahasia yang amat lihay, oleh sebab itulah
meskipun sudah banyak tahun aku dikurung di tempat ini tapi
selamanya tak berani menarik. Mari, mari siap kau tarik ujung

184
yang sana dan aku akan menarik dari ujung sebelah sini,
dengan begitu rantai ini akan patah.
Gak In Ling menurut dan segera memegang ujung rantai
tersebut, serunya. "Ayo tarik "
"cukupkah tenaga dalammu ?" Gak In Ling tertawa dingin.
"cukup atau tidak. setelah engkau terlepas dari kurungan
boleh dicoba sendiri" Kongsun To agak tertegun, tiba-tiba ia
tertawa dan menjawab.
"Haa..... haa benar, ucapanmu memang benar. Sekalipun
tidak engkau ucapkan, aku pun tak akan lepaskan dirimu
dengan begitu saja."
Tidak menunggu Gak In Ling buka suara lagi, ia segera
membentak keras.
"Tariiik " sambil menggentak rantai baja itu segera dibetot
kebelakang dan
"Blaaaam"
Rantai baja sebesar ibujari itu tertarik patah jadi dua
bagian- Gak In Ling maupun Nabi racun Kongsun To samasama
mundur selangkah ke belakang, pikir pemuda itu dalam
hati dengan perasaan tercekat.
"Luar biasa sekali tenaga dalam yang dimiliki orang ini."
Rasa terkejut yang dialami Kongsun To be berapa kali lipat
lebih hebat daripada Gak In Ling, diatas wajahnya sama sekali
tidak terlintas rasa gembira atau senang karena lolos dari
kurungan, sebaliknya pikiran dan perasaannya terasa
bertambah hebat. Lama... lama sekali, kakek itu baru menatap
wajah Gak In Ling sambil berkata.
"Tenaga dalam yang engkau miliki sepuluh kali lipat lebih
dahsyat daripada apa yang kuduga semula, engkau memang
luar biasa sekali"

185
"Hmm, aku merasa bangga sekali mendengar pujianmu
itu." jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Habis berkata ia segera berjalan maju beberapa langkah
kedalam, tidak berapa jauh ia temukan sebuah ruang batu lagi
yang luasnya sepuluh tombak persegi, disana nampak dua
orang kakek tua dalam keadaan mengenaskan dirantai pula
diatas dinding batu.
Memandang bayangan punggung Gak In Ling yang lenyap
dibalik ruangan, tiba tiba Kongsun To membentak nyaring.
"Gak In Ling, benarkah engkau hendak menyelamatkan
mereka ?"
Gak In Ling segera berhenti dan putar badan, dengan
wajah berubah memberat ia tertawa dingin.
"Apakah engkau hendak menghalangi diriku" jengeknya.
"Sedikitpun tidak salah, aku memang bermaksud begitu."
jawab Kongsun To sambil tertawa dingin pula.
Leng In poocu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat
gelisah, ia segera berseru.
"Waah, kalau engkau berhasil bereskan dia badanmu tentu
akan bertambah gemuk karena tak usah menepati janji lagi."
"Leng-heng," ujar Kong sun To sambil tertawa dingin,
"sebelum engkau berhasil meloloskan diri, lebih baik
kurangilah penggunaan akal licik dihadapanku "
Melihat Kongsun To tak mau masuk perangkap. Leng In
poocu sadar bahwa satu pertarungan sengit tak dapat
dihindari lagi, dalam hati segera pikirnya.
"Meskipun Gak In Ling belum tentu mampu menangkan
Kongsun To, tetapi harapan bagiku untuk lolos masih tetap
ada." Maka sambil tertawa dingin serunya.

186
"Asal engkau pergunakan obat-obat racun yang pernah
mengangkat namamu dalam dunia persilatan, bukankah
pertarungan sengit dapat kau hindari dengan begitu saja ?"
"Hee... . hee.... Leng-heng, apakah engkau tidak menilai
orang lain terlalu tinggi ? Terhadap dirimupun aku tidak
gunakan racun, apalagi untuk menghadapi dirinya ?" Bicara
sampai disini ia berpaling dan ujarnya kembali kepada Gak In
Ling.
"Bocah, engkau boleh berlega hati Paling banter aku cuma
melukai dirimu dan tidak sampai mencabut selembar jiwamu,
karena aku masih menepati janjiku " Gak In Ling tertawa
dingin
"orang tua, kau boleh legakan hatimu. Sebelum engkau
punahkan racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang
gadis itu, akupun takkan mencabut jiwamu "
Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke arah Kongsun To
dengan sikap yang congkak dan tinggi hati.
Leng In poocu yang berada disamping kalangan diam-diam
merasa terperanjat, pikirnya. "Tekebur amat bocah ini."
Kongsun To sebagai Nabi racun yang sangat dihormati
orang tentu saja tak kuat menahan penghinaan yang terasa
tajam baginya itu, api kegusaran membakar dadanya
membuat napsu membunuh tak bisa dikendalikan lagi, dengan
mata berkilat hardiknya.
"Kurang ajar, rupanya engkau benar-benar ingin modar ?"
Gak In Ling ingin buru-buru membuat perhitungan dengan
Buddha Antik, ia tak ingin banyak membuang waktu lagi,
sambil ayun sepasang telapaknya kedepan bentaknya.
"Sambutlah seranganku ini"
Dengan jurus "Gan-liok-peng-sah" atau Belibis hinggap di
pasir datar, laksana kilat ia menotok dada Kongsun To dengan
kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

187
Pada saat Gak In Ling membetot putus rantai besi tadi,
Kengsun To sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang
dimiliki pemuda itu luar biasa sekali, oleh sebab itulah
meskipun dalam pembicaraan ia berlagak seolah-olah sama
sekali tak memandang sebelah matapun terhadap pemuda she
Gak. tapi dalam kenyataannya ia sudah mempunyai perasaan
was- was yang tinggi terhadap diri musuhnya itu.
Maka ketika dilihatnya Gak In Ling melancarkan serangan,
ia tak berani bertindak gegabah buru-buru dengan gunakan
jurus Jian-liong-ki-hong" atas menunggang naga naik burung
hong ia loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula,
tidak menunggu Gak In Ling berganti jurus, dengan
menggunakan gerakan "Liong-hui-hong wu" atau naga
terbang burung hong menari dia balik menghantam iga kiri
pemuda itu.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 6
MENGHINDARKAN diri, balas menyerang semua
dilakukan pada saat yang bersamaan dan menggunakan
kecepatan yang luar biasa sekali, bukan saja angin pukulan
terasa menderu- deru bahkan amat menyilaukan mata, hal ini
membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini
sama sekali tidak berada dibawah Gak In Ling.
Si anak muda itu sendiri juga tak menyangka kalau tenaga
dalam serta gerakan jurus yang dimiliki orang itu telah
mencapai puncak kesempurnaan, karena bertindak gegabah
dengan cepat ia terjerumus dalam posisi yang terdesak hebat.
Setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin,
semangat tempur Kongsun To berlipat ganda, jurus demi jurus
dilancarkan tiada hentinya membuat orang lain tak mampu
melancarkan serangan balasanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
188
Diatas kening Leng In poocu mulai dibasahi eleh keringat
dingin, ia bukan menguatirkan keselamatan dari Gak In Ling,
sebaliknya menguatirkan kekalahan sianak muda ini bisa
mengakibatkan dirinya akan terkurung untuk selamanya
ditempat itu atau bahkan menemui ajalnya ditangan Kongsun
To.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertempur
sebanyak puluhan jurus, dengan dilangsungkannya
pertarungan ini maka peredaran darah dalam tubuh pemuda
itu beredar semakin kencang, itu berarti kadar racun yang
mengeram dalam tubuhnya ikut menyebar semakin cepat,
ketika secara tiba-tiba pemuda itu merasakan perubahan
didalam tubuhnya, ia merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Kalau pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, mungkin
aku benar- benar akan menderita kekalahan-"
Berpikir sampai disitu, ia segera membentak keras.
"Tunggu sebentar "
Sambil berseru dia loncat keluar dari gelanggang.
Kongsun To mengira Gak In Ling sudah menyadari bahwa
dia bukan tandingannya dan minta berhenti, sebagai orang
yang berakal licik dan pada dasarnya memang tiada
bermaksud menghabisi nyawa Gak In Ling, dengan cepat ia
tarik kembali serangannya dan loncat mundur sejauh tiga
depa dari tempat semula, serunya dengan wajah mengejek.
"Engkau jeri ?" Gak In Ling tertawa dingin-
"Karena aku merasa tak mampu membinasakan dirimu,
maka aku suruh engkau berhenti bertempur "
Kong sun To berdiri tertegun setelah mendengar perkataan
itu, ujarnya dengan bimbang.
"Perkataanmu itu kau ucapkan untuk siapa?" Jelas ia
merasa tak mengerti dengan ucapan lawannya, sebab ditinjau

189
dari situasi pertarungan yang dihadapinya, Gak In Ling
terdesak dibawah angin-
"Tentu saja kuucapkan bagimu " sahut sang pemuda.
"Haahaa sekarang aku sudah paham, engkau tentu merasa
takut menderita kekalahan ditanganku sehingga malu bertemu
dengan orang- lain ?"
"Hmm, pikiran seperti itu masih terlalu pagi untuk
diungkapkan-" sambil berkata sianak muda itu segera ayunkan
telapak tangannya yang berwarna merah dan berseru sambil
tertawa dingin. "coba engkau lihatlah ini"
Kongsun To menengadah ke atas, setelah mengetahui apa
yang terlihat dengan ketakutan ia mundur selangkah ke
belakang, airmukanya berubah hebat, lama sekali baru pulih
kembali dalam ketenangan-
"Gak In Ling" katanya kemudian dengan suara
menyeramkan- "Bila kita sampai berjumpa lagi dikemudian
hari, mungkin akan kugunakan segenap kemampuan yang
kumiliki untuk merebut kemenangan dari tanganmu "
"Hmm " Gak In Ling mendengus dingin. "Bila kita berjumpa
lagi dikemudian hari, mungkin engkau tak akan punya waktu
untuk menggunakan benda-benda racunmu itu." habis berkata
ia segera berjalan menghampiri Leng In poocu, sementara
Kongsun To sendiri tercekam dalam kebimbangan dan
kebingungan-
Dua kali dentingan nyaring menggema diang kasadan dua
batang rantai bajapun putus jadi dua bagian, Leng In poocu
serta seorang kakek berjubah padri berambut panjang dan
bermuka penuh tato segera bebas dari belenggu, diantara
ketiga orang itu hanya kakek bercodet saja yang belum
menyanggupi untuk menerima syarat apapun dari Gak in Ling.
Rambut yang panjang hampir menutupi wajah mereka,
kecuali perbedaan pakaian yang dikenakan, hampir boleh

190
dibilang tiada perbedaan lain yang terdapat diantara orangorang
itu.
Dengan pandangan yang tajam Leng In poocu menatap
tajam wajah Gak In Liig kemudian berkata.
"Gak-heng, sekarang engkau boleh ajukan syarat yang kau
kehendaki."
Gak In Ling memandang sekejap kearahnya dengan
pandangan hambar, lalu menggeleng. "Aku tidak mempunyai
permintaan apa-apa terhadap dirimu "
sahutnya dengan tenang. "Apakah engkau tidak merasa
terlalu rugi?"
Sekali lagi Gak In Ling menggeleng setelah menyapu
sekejap sekeliling ruangan itu. "Aku sama sekali tidak
mempunyai jalan pikiran seperti itu." setelah berhenti
sebentar, tiba-tiba tegurnya dengan suara dingin. "Buddha
Antik berada dimana ?"
"Akulah Buddha Antik "jawab kakek berjubah padri dan
wajah penuh codet itu sambil maju selangkah kedepan.
Mendengar jawaban itu Gak In Ling melengak, ditinjau dari
sudut manapun juga ia tidak berhasil menemukan suatu
persamaan apapun antara Buddha Antik yang berada
dihadapannya saat ini dengan Budha Antik yang pernah
dijumpainya belum lama berselang. Ia jadi sangsi dan
tanyanya dengan ragu. ^
"Sebenarnya dalam dunia persilatan semua terdapat berapa
orang Buddha Antik ?"
"Buddha Antik hanya aku seorang "jawab padri bermuka
codet sambil menghela napas.
"Tidak. aku pernah berjumpa dengan Buddha Antik kedua,"
sahut Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya, "bersediakah
taysu memperlihatkan telapak tanganmu kepada aku ?"

191
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benakpadri
bercodot itu, pikirnya didalam hati.
"oraag yang dia temui mungkinkah dirinya." Ingatan
tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya, ia
segera maju kedepan dan secara sukarela memperlihatkan
lengan kanannya kepada sia nak muda itu.
"Mungkin siau-sicu pernah menyaksikan raut wajahku pada
masa yang lampau..." tanyanya dengan suara berat.
Gak In Ling menyapu sekejap lengan kanan Buddha Antik,
kemudian dengan hati kecewa menggeleng
"Terima kasih taysu." katanya.
Buddha Antik tarik kembali lengan kanannya dan berkata
lagi dengan suara berat.
"Raut wajahku sudah hampir lima belas tahun lamanya
dirusak orang, mungkin selama lima belas tahun belakangan
ini raut wajahku yang lampau telah melakukan banyak
kejahatan dan perbuatan terkutuk... aaaaiii..."
Gak In Ling tidak menggubris padri bermuka codet lagi,
dengan hati. kecewa ia berjalan kehadapan Kongsun To dan
berkata. "Berikan obat pemunah bagianku itu "
Dengan gerakan yang cepat dan cekatan Nabi racun
Kongsun To mengambil keluar sebutir pil berwarna hitam
diantara botol-botol obatnya, siapapun tak sempat dari botol
manakah dia mengambil obat tersebut, dari sini dapat dinilai
betapa licik dan berhati- hatinya orang ini.
Tanpa ragu-ragu ataupun berpikir panjang Gak In Ling
menelan obat itu kedalam perut.
Melihat sikap sang pemuda yang begitu gegabah, Kongsun
To dengan wajah tercengang segera menegur.
"Apakah engkau tak takut aku main gila dengan dirimu ?"

192
"sekalipun aku takut juga tak ada gunanya."
"Haa..... haa...., perkataanmu memang benar, dan engkau
memang pemuda yang amat cerdik." seru Kongsun To sambil
tertawa.
Pada saat itulah tiba tiba dari sisi kanan berkumandang
datang suara langkah manusia yang lirih, baru saja Gak In
Ling hendak berpaling, tiba-tiba Kongsun To berteriak keras.
"Roboh kalian semua, bangsat"
Tidak terlihat bagaimanakah ia menggerakkan tubuhnya,
dari balik ruangan berkumandang dua kali dengusan berat.
Menanti Gak In Ling putar badan, maka terlihatlah dalam
ruangan itu sudah bertambah dengan dua sosok mayat,
disisinya tampak nasi dan sayur berserakan diatas tanah,
rupanya kedua orang itu adalah petugas pengantar makanan
dari lembah itu. Leng In poocu tertawa dingin.
"Kongsun-heng, cepat amat gerakan tubuhmu." ejeknya.
"IHee hee... terima kasih, terima kasih, sayang aku telah
menumpahkan santapan enak kalian berdua." seru Kongsun
To pula sambil tertawa dingin.
Gak In Ling segan mendengarkan cekcok dan ribut diantara
manusia-manusia aneh itu, setelah menyapu sekejap kearah
dua sosok mayat yang terkapar dilantai tanah, satu ingatan
berkelebat dalam benaknya, kepada Nabi racun itu segera
serunya. "Bagaimana dengan syarat-syarat yang lain-"
"Hm jangan terburu napsu, aku tokh belum lolos dari
kurungan," sambung kakek licik itu dengan cepat.
"Hm Engkau jangan lupa, bahwa pada saat ini engkau
masih berada didaratan Tionggoan." setelah berhenti sejenak.
dengan nada memerintah serunya kembali.
"Sekarang engkau harus memunahkan lebih dahulu racun
yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu."

193
"Gak-heng" seru Leng In poocu sambil tertawa. "aku lihat
engkau sangat menguatirkan sekali keselamatan mereka,
hubungan persahabatan semacam ini sungguh jarang kutemui
dikolong langit."
Walaupun Gak In Ling dapat menangkap maksud dari
ucapan Leng In poocu namun ia tidak membantah ataupun
mengakui, hanya ujarnya sambil tertawa hambar.
"Setiap umat persilatan di kolong langit wajib menguatirkan
keselamatan mereka, demikian pula dengan diriku."
Dari salah seorang korbannya yang terkapar mati diatas
tanah, Kongsun To melepaskan jubah panjang yang dikenakan
dan segera dipakai di badan, setelah itu ujarnya.
"Baiklah, mari sekarang juga kita berlalu dari sini " tanpa
menanti yang lain lagi ia berjalan lebih dahulu menuju keluar.
Leng In poocu segera menyusul dibelakangnya, sedangkan
Buddha Antik berada dipaling belakang.
Setelah berjalan beberapa langkah dan tidak melihat Gak In
Ling mengikuti di belakang mereka, Buddha Antik segera
menghentikan langkahnya dan berpaling.
"Sicu, engkau tidak ikut keluar ?" tegurnya
"Tidak- aku ingin berhenti sebentar lagi di sini." sahut sang
pemuda setelah melirik sekejap kearah gua bagian dalam.
Buddha Antik gelengkan kepalanya dan menarik napas
panjang.
"Lembah Toan-hun-kok adalah sarang naga gua harimau,
dengan tenaga gabungan Kongsun To, Leng In poocu serta
aku, akhirnya kami masih tertawan juga oleh mereka, apalagi
sicu hanya seorang diri. Siau-sicu, aku harap engkau suka
bertindak hati-hati dan jangan menempuh bahaya dengan
percuma."

194
Dengan penuh rasa terima kasih Gak In Ling tertawa
jawabnya.
"Terima kasih atas perhatian dari taysu, harap taysu suka
menasehati kedua orang nona itu cepat-cepat tinggalkan
tempat ini, ingatkan mereka bahwa kepentingan umat
persilatan jauh lebih penting dari urusan ditempat ini "
"Kalau engkau tidak pergi, masa mereka bersedia pergi dari
sini?"
Gak In Ling tartawa tawa "Mungkin mereka berharap. agar
aku bisa cepat-cepat mati."
"Aaaah Masa begitu ?" Gak In Ling tidak mengomentari
ucapan itu lagi, ia putar badan dan menambahkan-
"Setelah bertemu dengan mereka, taysu akam mengerti
dengan sendirinya, sekarang pikiranku sedang kalut dan kacau
tak karuan, harap taysu segera tinggalkan tempat ini"
Buddha Antik mengiakan dengan nada berat, ia dapat ikut
merasakan bahwa pemuda pemurung ini seolah-olah
mempunyai rahasia hati yang tak dapat diberitahukan kepada
orang lain akhirnya ia hanya bisa berpesan dengan nada
berat.
"Siau-sicu, sebelum melakukan sesuatu tindakan terlebih
dahulu pikirlah tiga kali." kemudian tanpa banyak bicara lagi
diapun keluar dari ruangan itu.
Baru saja Buddha Antik menarik napas kebebasan, tiba-tiba
bayangan manusia berkelebat di hadapan matanya dan
serentetan suara yang merdu telah menyusup masuk kedalam
telinganya. "Dimanakah Gak In Ling ?"
Suaranya begitu cemas, gelisah dan tidak tenang, dia
bukan lain adalah Thian-hong pangcu.
Melihat dara cantik yang berada di hadapannya, Buddha
Antik segera membathin dalam hatinya.

195
"omitohud Gadis ini benar-benar mempunyai kecantikan
yang luar biasa sekali "
Ia segera balik bertanya. "Kalian sudah menelan obat
pemunah?"
thian- hong pangcu mengangguk. "Sudah, dimana Gak In
Ling ?" tanyanya gelisah.
"Masih berada dalam ruangan "
"Kenapa tidak keluar ? Apa yang sedang dilakukan didalam
sana ?" tanya perempuan
berkerudung merah dengan cepat.
Melihat sikap serta tingkah laku dua orang gadis itu,
Buddha Antik kembali berpikir didalam hati.
"Jika kutinjau dari sikap mereka yang gelisah dan tidak
tenang, sedikitpun tidak nampak kalau mereka mengharapkan
pemuda itu cepat mati, tapi apa sebabnya pemuda itu berkata
demikian?" berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Tempat ini tidak dapat didiami terlalu lama dia suruh aku
menyampaikan kepada kalian berdua, katanya demi masa
depan dan kesejahteraan umat persilatan lebih baik kalian
berdua segera tinggalkan tempat ini"
Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan firasat jelek
dalam hati kedua orang gadis itu, dengan perasaan tidak
senang thian- hong pangcu segera bertanya.
"Tapi ia tidak akan menerjang masuk kelambung lembah
Toan-hun-kok seorang diri, bukan?"
"Aaaiii semoga saja ia dapat merubah rencananya semula."
sahut Buddha Antik sambil menghela napas panjang.
Mendengar jawaban tersebut, kedua orang gadis tersebut
berseru tertahan, tiba-tiba Thian-hong pangcu berseru sambil
menahan isak tangis.

196
"oh, Gak In Ling, Gak In Ling kau... kau tidak seharusnya
pergi menempuh bahaya, kami.... belum pernah kami
membenci dirimu...." sambil berseru ia segera menerjang
masuk kedalam ruangan, diikuti gadis berkerudung merah itu
pun menyusul dari belakangnya.
Jeritan yang melengking dan menyayatkan hati itu segera
menyayatkan hati Buddha Antik. Nabi racun Kongsun To serta
Leng In poocu, dengan cepat mereka memburu kembali
kedalam ruangan-
Ketika ketiga orang itu masuk kembali kedalam ruang batu
yang mengurung mereka selama hampir lima belas tahun
lamanya itu, yang ditemui hanyalah dua orang gadis yang
berdiri menjublek dalam ruangan, mata mereka terbelalak dan
sukma serasa telah melayang tinggalkan raganya.
Kedua orang itu bukan lain adalah gadis berkerudung
merah serta Thian-hong pangcu, dari sikap mereka jelas
terlihat bahwa kedua orang itu merasa sedih sekali.
Dengan pandangan yang tajam Leng Inpoo cu menyapu
sekejap sekeliling tempat itu, ketika sorot matanya
membentur pada pintu batu disebelah dalam ia segera
berseru.
"Gak In Ling seorang diri telah menerobos masuk lembah
Toan-hun-kok dan kini sudah berada dilambung bukit, tak ada
gunanya kita berdiam terlalu lama ditempat ini "
"Benar "jawab Kongsun To sambil mendengus. "Terlalu
lama berada disini, kemungkinan besar kita akan terkurung
selama lima belas tahun lagi di dalam gua yang gelap ini."
Selamanya dia tidak akur dengan Leng In poocu, maka
dalam pembicaraannya kata-katanya selalu mengandung nada
sindiran yang tajam.

197
Leng In poocu bukan manusia sembarangan tentu saja ia
tak sudi menerima kata-kata tersebut dengan begitu saja,
serunya.
"Kong-heng, apakah engkau tidak merasa bahwa
nyalimupun kecil sekali Tetapi tiap orang mempunyai
pandangan yaag berbeda, aku tak berani menahan dirimu
terlalu lama, jika Kongsun- heng ingin berlalu dari sini, nah
silahkan"
Nabi racun Kongsun To jadi naik pitam, sorot matanya
berubah jadi merah berapi, katanya kembali dengan dingin.
"Leng heng, engkau jangan melulu menuduh orang lain
saja yang bernyali kecil, kalau mulut sudah terlanjur busuk.
macam dirimu itulah keadaannya."
Buddha Antik yang berada disamping lapangan segera
menyadari bahwa percekcokan itu bila dilanjutkan maka suatu
pertarungan sengit tidak bisa dihindarkan lagi, mengingat diri
mereka masih berada dalam sarang naga gua harimau, bila
pertarungan benar-benar telah terjadi, itu berarti sama halnya
dengan menggali liang kabur buat diri sendiri. oleh sebab itu
buru-buru ia menasehati.
"Kalaupun kalian berdua mempunyai pendapat yang saling
berbeda, aku percaya bahwa pendapat itu tak akan lebih
memalukan daripada peristiwa terkurungnya kita ditempat ini
sejak lima belas tahun berselang, entah bagaimanakah
pendapat kalian atas ucapanku itu ?"
Baik Kongsun To maupun Leng In poocu sama-sama
merasakan hatinya terperanjat setelah mendengar perkataan
itu, mereka saling bertukar pandangan sekejap lalu menjawab.
"Perkataan taysu tepat sekali "
Buddha Antik tersenyum, sambil berpaling kearah Thianhong
pangcu ujarnya dengan suara berat.

198
"Pangcu, menurut pendapatku lebih baik kita tinggalkan
saja tempat ini "
"Dari jalan yang manakah Gak In Ling masuk kedalam
lambung lembah Toan-hun-kok ?" bukannya menjawab Thianhong
pangcu malah balik bertanya, suaranya penuh kepedihan
dan entah sedari kapan airmata telah membasahi pipinya.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, dengan
wajah serius segera ujarnya.
"Gak sicu berulang kali menyatakan kepadaku, bahwa
pangcu adalah seorang pemimpin umat persilatan didaratan
Tionggoan, ia menganjurkan agar pangcu sagera tinggalkan
tempat ini, perhatian yang dia berikan terhadap diri pangcu
tidak berada dibawah perhatian pangcu atas dirinya, jikalau
pangcu bersikeras untuk memasuki lambung lembah,
bukankah itu berarti bahwa engkau menyia-nykkan maksud
baik Gak sicu ?"
Senyum getir terlintas diatas wajah Thian-hong pangcu,
sambil gelengkan, kepala ia menjawab.
"Ia bukan menguatirkan diriku, bukan menaruh perhatian
kepadaku, tapi umat persilatan yang ada dikolong langit..."
"Hm tak kusangka bocah keparat itu masih mempunyai
parasaan suci seperti itu " pikir Kongsun To didalam hati.
Sebaliknya Leng In poocu berpikir lain-
"Hm, rupanya bocah she Gak itu adalah seorang pendekar
yang berjiwa besar.."
cuma pikiran semacam itu hanya sebentar saja berkelebat
dalam benak mereka untuk kemudian lenyap tak berbekas,
sebab mereka masing-masing mempunyai cara berpikir
sendiri-sendiri.
"Apakah pangcu bersikeras akan memasuki lembah ini ?"
tanya Buddha Antik kembali.

199
"sedikitpun tidak salah, dimanakah pintunya ?"
"Aku sendiripun tak tahu ia lewat pintu yang mana" jawab
padri bermuka codet itu sambil menggeleng, sambil menuding
kearah dua sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, dia
melanjutkan-
"Mungkin sewaktu kedua orang ini masuk kedalam ruangan
tadi, pintu masuknya telah terlihat olehnya."
"Kalau ada pintu, kita pasti akan berhasil untuk
menemukannya." sela perempuan berkerudung merah secara
tiba-tiba. "Silahkan kalian bertiga segera tinggalkan tempat ini
"
Selesai berkata ia segera maju kedepan dan rupanya
sedang mencari letak pintu masuk rahasia itu.
"Li sicu berdua, bagaimanakah pendapat kalian tentang
tenaga dalam yang kumiliki ?" tanya Buddha Antik secara tibatiba.
Thian-hong pangcu tertegun mendengar pertanyaan itu,
setelah sangsi sejenak jawabnya. "Boleh dibilang jago paling
lihay dalam dunia persilatan " Bhuddha Antik mengangguk.
ujarnya kembali.
"Tetapi dengan tenaga gabungan kami bertiga, akhirnya
tokh kami terkurung juga selama lima belas tahun dalam gua
ini. Ilmusilat yang dimiliki majikan tempat ini luar biasa sekali
dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, oleh karena itu
menurut dugaanku seandainya majikan tempat ini tidak
berhasrat membunuh Gak In Ling keadaan mungkin
mendingan, kalau ia bermaksud membinasakan dirinya,
mungkin pada saat ini Gak sicu telah mendingin."
Meskipun tujuan dari ucapan itu hanya menakut-nakuti dua
orang gadis tersebut, namun dalam kenyataan begitulah
adanya.

200
Tapi sayang, bukan saja ucapan itu tidak mendatangkan
hasil apapun, sebaliknya malah makin mempertebal niat kedua
orang gadis itu untuk menemukan Gak In Ling.
"sekalipun dia sudah mati, kami harus menemukan
jenazahnya." ujar Thian-hong pangcu
Selesai berkata ia berjalan menuju kearah yang berlawanan
dari perempuan berkerudung merah itu, dan diatas dinding
batu ia berusaha menemukan pintu rahasia tersebut.
Buddha Antik yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk
menghalangi niat kedua orang gadis tersebut masuk kedaiam
lembah Toan-hun-kokpun mengalami kegagalan totai, setelah
berdiri tertegun beberapa saat lamanya akhirnya ia cuma bisa
menghela napas sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Leng In poocu memandang sekejap kearah dua orang gadis
itu tiba-tiba ia berkata.
"Jikalau kailan mencari dengan cara begitu maka sampai
hari geiappun belum tentu jalan masuk itu berhasil ditemukan,
menurut pendapat ku lebih baik kailan masuk lewat mulut gua
yang pernah kita lalui lima belas tahun yang lampau, sebab
kemungkinan berhasiljauh lebih besar."
Dalam pada itu Thian-hong pangcu berdua memang
sedang putus asa karena tidak berhasil menemukan suatu
tanda yang menunjukkan disana ada pintu rahasia,
mendengar ucapan tersebut mereka segera hentikan
pekerjaannya dan bertanya. "Berapa jauh letaknya dari tempat
ini ?"
"Kita harus melewati bukit ini lebih dahulu, menurut
perhitungan dari kekuatan langkah kita mungkin tidak sampai
setengah jam kita bisa mencapai tempat itu." Buddha Antik
yang ikut mendengar perkataan itujadi tertegun, pikirnya.
"Pada lima belas tahun yang lalu terang-terangan kami
masuk lewat dari tempat ini, masa dibelakang gunung

201
sanapun ada tempat masuk ?" Sebaliknya Kongsun To sambil
tertawa dingin pikirnya.
"Aku orang she Kongsun tak pernah berpikir bahwa siasat
mengelabui langit menyebrangi sungai ini bisa digunakan
untuk menghadapi dua orang gadis cilik ini, dia memang licik"
Pada waktu itu Thian-hong pangcu berdua sedang bingung
dan pikirannya kalut, mereka tak berpikir lebih jauh, setelah
gagal menemukan jalan masuk maka harapannyapun
digantungkan pada petunjuk dari Leng in poocu.
"Kalau begitu mari kita berangkat" serunya kemudian. Leng
In poocu tertawa.
"Menolong orang bagaikan menolong api, mari kita
berangkat sekarang juga " habis berkata ia berjalan lebih
dahulu tinggalkan ruangan ini disusul dua orang gadis itu dan
paling depan adalah Kengsun To.
Sedangkan Buddha Antik sendiri setelah berpikir sebentar
tiba-tiba ia menyadari akan sesuatu, sambil mengangguk ia
menghela napas panjang.
"Omitohud Mungkin perbuatan itu merupakan tindakan
bajik pertama yang pernah dilakukan Leng sicu selama
hidupnya...." iapun melangkah keluar dari ruangan itu dan
menyusul rekan-rekan lainnya.
0odwo0
Sekarang marilah kita kembali kepada Gak In ling, setelah
Buddha Antik tinggalkan ruangan tersebut, ia segera masuk
kelorong batu.
Gak In Ling adalah seorang pemuda cerdas. la bukannya
tidak tahu kalau lembah Toan-hun kok sarang naga gua
harimau, bila ia masuk kedalam seorang diri maka itu berarti
menghantar kematian bagi diri sendiri.

202
Tetapi Buddha Antik adalah satu-satunya titik terang yang
berhasil ia temukan sejak munculnya dalam dunia persilatan,
lagipula dalam kehidupan yang terbatas, ia tak mau
melepaskan titik terang yang berhasil diperolehnya itu dengan
begitu saja, sebab untuk mencari titik terang ke dua bukanlah
suatu pekerjaan yang gampang.
Maka tanpa berpikir panjang lalu dia mengambil keputusan
untuk memasuki lembah Toan-hun kok yang merupakan
sarang naga gua harimau itu untuk menemukan Buddha Antik,
titik terang yang berhasil ia temukan untuk memecahkan
rahasia yang memusingkan kepalanya itu.
Ketika Gak in Ling baru saja melangkah masuk kedalam
lorong batu itu sejauh empat lima depa, tiba-tiba dari arah
belakang berkumandang suara ledakan yang amat keras
bagaikan ambruknya bukit karang.
Tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkahnya, dalam
waktu singkat itulah sebuah pintu besar yang terbuat dari batu
cadas telah menyumbat jalan mundur pada lorong rahasia itu.
Menyaksikan kesemuanya itu, Gak In Ling tertawa dingin.
"Sekalipun kalian menyumbat semuanya jalan mundurku
juga tak apa, sebab sebelum lembah Toan-hun-kok berhasil
kumusnahkan tak nanti aku orang she Gak tinggalkan tempat
ini.
Dengan wajah yang teguh dan serius, ia me lanjutkan
perjalanannya masuk kedalam gua.
Baru saja pemuda itu maju beberapa langkah kedepan,
tiba-tiba disisi telinganya berkumandang datang suara teguran
seseorang yang terasa amat dikenal olehnya.
"Gak In Ling, sudahkah engkau pertimbangkan akibat serta
resiko yang bakal kau terima ?"
Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan itu, pikirnya.

203
"Suara orang itu amat kukenal, seakan-akan aku pernah
mendengarnya disuatu tempat tapi siapakah dia ?"
Untuk beberapa lamanya ia tak dapat menduga siapakah
orang itu.
Dengan penuh perhatian Gak In Ling mengamat-amati asal
suara yang muncul secara tiba-tiba itu, ia menemukan dinding
lorong itu licin dan rata sekali, disana sini terdapat lubanglubang
kecil seperti sarang lebah, jelas suara tersebut berasal
dari pancaran lewat lubang-lubang kecil tersebut.
"Suaramu amat kukenal," seru Gak In Ling kemudian, "aku
ingin tahu engkau sahabatku atau musuhku ?"
"DidaLam dunia yang kejam dan brutal ini siapa yang kuat
akan menindas yang lemah, tiada kawan atau lawan dalam
keadaan seperti ini, lebih baik engkau tak usah berpikir yang
bukan-bukan." jawab orang itu ketus. Gak In Ling kembali
tertawa dingin-
"Hee... hee..... itu tokh menurut pandanganmu, sayang
pendapatku berbeda sekali, bagiku dikolong langit ini kalau
bukan sahabat dia tentulah lawan"
"Haa..... haa...... baiklah, kalau engkau bersikeras dengan
pandanganmu itu, biarlah aku turuti kemauan mu itu,
kemungkinan besar aku adalah musuhmu"
Habis berkata orang itu menghela napas panjang, suaranya
lama sekali mengalun dalam ruangan tersebut.
Dari pembicaraan orang itu, Gak In Ling tahu bahwa
banyak bicara tak ada gunanya, maka sambil tertawa seram
serunya kembali.
"Dimanakah aku bisa bertemu dengan dirimu sehingga kita
bisa langsungkan pertarungan yang menentukan mati hidup
kita berdua ?"

204
"DidaLam lima li kabut dan awan, aku akan bertemu
dengan dirimu "jawab orang itu hambar. Setelah berhenti
sebentar ujarnya kembali.
"Sewaktu engkau melewati altar pesan terakhir, aku harap
engkau bisa tinggalkan beberapa pesan terakhir ditempat itu,
walaupun belum tentu bisa kulakukan pesan terakhirmu itu,
tetapi di dalam lingkaran yang memungkinkan aku pasti akan
berusaha untuk memenuhi keinginanmu itu" selesai berkata ia
menghela napas lagi dengan suara berat, suara itu kian lama
kian lirih dan akhirnya lenyap dari pendengaran-
Tercekat hati Gak In Ling mendengar perkataan itu, dari
ucapan orang tadi ia tahu bahwa orang tersebut sama sekali
tidak bermaksud menakut-nakuti dirinya, itu berarti
perjalanannya lebih banyak bahaya daripada rejeki.
Dari balik mata Gak In Ling tiba-tiba memancar keluar
cahaya yang menggidikan hati, pikirnya dengan gemas.
"Hmm Sekalipan aku orang she Gak ada pesan terakhir,
juga tak akan kuutarakan sehingga kalian manusia-manusia
laknat mengetahuinya."
Dengan dada yang dibusungkan dan langkah yang tegap. ia
lanjutkan perjalanan menuju kedalam
Lorong batu yang gelap dan lembab penuh mengandung
suasana yang mengerikan, untung perasaan danpikiran Gak In
Ling pada saat ini sedang dibakar oleh kemarahan, dia hanya
tahu membalas dendam dan tidak memperdulikan hal lainnya
lagi, kalau tidak. kendatipun nyalinya besar, sedikit banyak
bulu kuduknya akan bangun berdiri.
Lorong batu yang sempit seakan-akan tiada akhirnya,
dengan kedepan tubuh Gak In Ling, sekalipun sudah
melakukan perjalanan selama sepertanak nasi masih belum
menemukan sedikit cahayapun, seperti juga ketika datang
untuk pertama kalinya di tempat itu, ia sama sekail tak bisa

205
menduga harus berjalan berapa lama lagi baru tiba ditempat
tujuan ?
Tapi ada satu hal yang aneh, selama Gak In Ling
melakukan perjalanannya kecuali suara manusia yang
didengarnya tadi, ia tidak menemukan apa-apa lagi,
diantaranya pada tikungan-tikungan yang sempit dan terjal di
mana merupakan tempat yang strategis untuk memasang
jebakan, diapun tidak menemukan gangguan apapun.
Mungkin hal ini disebabkan karena mereka tak memandang
sebelah matapun terhadap Gak In Ling, mungkin juga karena
mereka yakin bisa merebut kemenangan maka mereka tak ada
perlunya untuk memasang jebakan disana.
Pokoknya, kesunyian serta keheningan seperti ini sama
sekali tidak menguntungkan bagi Gak In Ling.
Kembali sianak muda itu membelok pada tiga buah
tikungan, tiba-tiba pandangan matanya jadi silau, ia telah
sampai didalam sebuah ruang kecil yang empat dindingnya
bertaburkan ratna-mutu manikam yang beraneka warna,
suasana jadi terang-benderang dan amat menyilaukan mata.
Gak ln Ling tertawa dingin, pikirnya. "Hm, akhirnya sampai
juga ditempai tujuan..."
Sementara ia berpikir, sorot matanya telah terbentur
dengan sebuah meja batu yang kecil serta sebuah kursi batu
kecil ditengah ruangan, di-atas meja terteralah kertas dan alat
menulis, kecuali itu tiada apapun yang terlihat.
Gak In Ling segera mendekati meja batu itu, pada
permukaan meja yang licin terukirlah beberapa huruf yang
besar yang berwarna merah darah. "Tinggalkan pesan terakhir
ditempat ini"
Tulisan tersebut seketika memancing rasa gusar dalam
dada Gak In Ling, kakinya dengan cepat melancarkan sebuah
tendangan kearab meja batu itu.

206
"Braaak " ditengah benturan yang sangat keras, meja batu
itu seketika hancur berantakan, kertas dan alat tulispun
tersebar diatas tanah.
Pada saat itulah, suara yang pernah didengar tadi kini
muncul kembali dari balik dinding.
"Aaii... engkau terlalu tekebur dan sombong..."
Tertegun hati Gak in Ling setelah mendengar ucapan itu,
segera pikirnya didalam hati. "oh...... rupanya semua gerakgerikku
selalu berada daLam pengawasan orang ini."
napsu membunuh seketika bangkit, sambil menatap tajam
kearah mana berasalnya suara itu bentaknya keras.
"Sebenarnya jarak dari sini menuju ketempat pertemuan
diantara kita berdua masih seberapa jauh ? IHmm Main gila
dari balik dinding dan menakut-nakuti orang dengan omong
besar, engkau anggap perbuatanmu itu bisa membikin aku
orang she Gak jadi ketakutan?"
"Selama ini engkau belum pernah mempertimbangkan
tindakanmu itu d engan pikiran serta hati yang tenang, apa
salahnya kalau engkau pertimbangkan kembali tindakanmu
ini?" ujar suara itu kembali. Gak In Ling tertawa dingin-
"Sebelum aku masuk kemari, jika tidak ku pertimbangkan
lebih dahulu, tidak nanti akan ku lakukan tindakan seperti ini "
"Apakah engkau tidak merasa perlu untuk
mempertimbangkan sekali lagi ?"
"omong kosong "
"Baiklah kalau begitu Lima puluh tombak disebelah depan
sana merupakan Ngo-li-in-wu lima li kabut dan awan- Nah,
kita berjumpa lagi disana." habis berkata terdengarlah suara
"Krek" diikuti gemerincingnya ramai dan muncullah sebuah
pintu rahasia diatas dinding ruangan itu.

207
Gak In Ling tarik napas panjang, selangkah demi selangkah
dia berjalan masuk kedalam pintu rahasia tersebut.
Walaupun airmukanya tetap tenang dan sama sekali tidak
memperlihatkan perubaban apapun, tetapi hati kecilnya
merasa amat tegang, sebab pada saat ini musuh berada
dalam gelap sedangkan dia terang, setiap saat mara bahaya
bakal mengancam keselamatan jiwanya.
Baru saja GakIn Ling melangkah masuk ke dalam ruangan
itu, pintu batu dibelakang tubuh nya secara otomatis telah
menutup kembali.
Angin dingin berhembus lewat dari arah depan, kabut yang
tipis mulai menyeiimut seluruh lorong, udara ditekelihng
tempat itu lembab dan basah sekali.
"Mungkin tempat inilah yang dimaksudkan lima li kabut dan
awan-" pikir sianak muda itu di dalam hati.
Ia percepat langkah kakinya dan menerjang maju kedepan.
Semakin kedalam ia berjalan, kabut yang menyelimuti
sekitar tempat itu bertambah tebal, dari terang suasana jadi
gelap. cahaya yang memancar masukpun terasa semakin
lemah.
Gak In Ling mengerahkan segenap daya penglihatannya
untuk mengamati suasana disekeliling tempat itu, tetapi
pemandangan yang mampu tercapai olehnya hanya dalam
lingkungan dua-tiga depa belaka, lebih dari itu yang terlihat
hanyalah kabut putih.
Pada saat itu Gak In Ling telah masuk ke dalam sebuah
lapangan, kabut yang menyelimuti tempat itu jauh lebih tebal
dari tempat manapun, ketajaman matanya hanya mampu
menangkap benda-benda yang berada pada jarak satu tombak
belaka.

208
Perlahan-lahan Gak in Ling menghentikan langkahnya,
dengan waspada dan sangat hati-hati dia awasi sekeliling
tempat itu.
Mendadak dari arah belakang muncul suara yang amat lirih,
begitu lirih suaranya seakan-akan seuntai daun yang rontok
dari tangkainya.
Ketajaman pendengaran yang dimiliki Gak In Ling luar
biasa sekali, apalagi setelah ia berada didalam sarang naga
gua harimau, kewaspadaannya dipertingkat hingga mencapai
tingkatnya, tentu saja suara yang lirih itu tak lolos dan
pengawasannya.
Begitu suara lirih itu tertangkap oleh pendengarannya,
laksana kilat Gak In Ling putar badannya, tapi apa yang
dilihatnya seketika mencekatkan hati sianak muda itu, air
mukanya berubah hebat.
Kurang lebih lima depa dihadapan Gak In Ling berdirilah
seorang kakek berjubah kuning yang usianya antara lima
puluh tahunan, cukup di tinjau dari sorot matanya yaag tajam
dapat diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang jauh
berada diatas kepandaian Hiat-mo-ong.
cuma bukan kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang itu
yang mengejutkan hatinya...
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang dan berusaha
menekan pikiran serta perasaannya yang bergolak keras, ia
maju kedepan dan memberi hormat, katanya. "Keponakan
menghunjuk hormat untuk ong supek."
"Hmm, bukankah engkau sudah katakan tadi, kalau bukan
sahabat tentu lawan, aku bukan sahabatmu, dengan
sendirinya merupakan musuh mu, sebutan supek tak berani
kuterima lagi." kata kakek jubah kuning dengan dingin.

209
Rupanya orang ini bukan lain adalah manusia yang berada
dalam lorong rahasia serta berulang kali memberi nasehat
kepada sianak muda itu.
Merah jengah selembar wajah Gak In Ling setelah
mendengar perkataan itu, ujarnya dengan lirih.
"Tadi keponakan masih belum tahu kalau orang itu adalah
supek."
"Hm. Sekalipun sudah tahu juga sama saja keadaannya,
karena bagaimanapun juga dalam kenyataan bukan
sahabatmu "
"Tetapi. ... engkau juga bukan musuhku, bukan?" seru Gak
In Ling tanpa terasa dengan hati terkejut.
Kakek jubah kuning itu segera tertawa dingin.
"Bukan ?justru akulah musuhmu" jengeknya sinis.
Tanpa sadar Gak In Ling mundur selangkah kebelakang
dengan hati terkesiap. sambil menatap kakek jubah kuning itu
dengan wajah hijau membesi, serunya kembali.
"Lalu di manakah ibuku dan enciku ?"
"Hee... hee... hee... mereka telah menjadi tawanan didalam
lembah Toan-hun-kok ini" jawab kakek berjubah kuning
kembali sambil tertawa dingin.
"Apa ?" ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah
bumi ditengah hari bolong, begitu menggetarkan hati Gak In
ling sehingga membuat pikirannya jadi kabur dan tak sadar,
dia merasa otaknya kosong melompong, wajahnya yang
semula merah padam kini berubah jadi pucat pias bagaikan
mayat, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.
Dalam hati kecil kakek berjubah kuning itu secara lapatlapat
timbul perasaan simpatik dan kasihan, tetapi ia tetap
membungkam dalam seribu bahasa.

210
Kesunyian yang mengerikan mencekam seluruh ruangan
itu, begitu sepinya sampai kedua belah pihak dapat
mendengar detak jantungnya masing-masing. Airmuka Gak In
Ling yang pucat pias bagaikan mayat mulai berubah jadi semu
merah kembali, dari semu merah berubah jadi merah padam,
dari balik sorot matanya yang dingin terpancarlah napsu
membunuh serta rasa dendam yang amat tebal.
Dengan langkah yang berat ia maju kedepan menghampiri
kakek jubah kuning itu, kemudian dengan suara yang
mengerikan ia berkata.
"Keponakan berharap bisa mengetahui sebab-sebab
kematian dari ayahku. Aku minta engkau suka mengatakannya
kepadaku."
Sikap yang keren serius dan mengerikan itu menggetarkan
hati kakek berjubah kuning, tanpa terasa dia mundur dua
langkah kebelakang, jawabnya dengan ketus. "Darimana aku
bisa tahu ?"
Gak in Ling tertawa dingin.
"Kalau memang begitu dari mana engkau bisa tahu untuk
menggabungkan diri dengan pihak Toan-hun-kok ?"
"Darimana engkau bisa tahu kalau aku mengabdi kepada
mereka?" seru kakek berjubah kuning dengan airmuka
berubah hebat.
"Karena tenaga dalam yang engkau miliki masih belum
berhak untuk memimpin segenap kekuatan yang ada didalam
lembah ini."
Rupanya ucapan yang pedas dari Gak In Ling ini telah
menyinggung perasaan halus kakek berjubah kuning itu, dari
balik matanya yang melotot bulat segera memancarkan keluar
serentetan cahaya yang amat tajam, dia tatap muka pemuda
itu dengan tajam kemudian membentak nyaring.

211
"Itukah sifatmu terhadap seorang angkatan yang lebih tua
daripada dirimu ?"
Sejak Gak In Ling mengetahui kalau ibu serta encinya telah
ditawan didalam lembah Toan hun-kok, terhadap supeknya
yang semula telah menyanggupi untuk menjaga serta
merawat ibu dan encinya ini telah membenci hingga merasuk
ketulang sumsum, dalam keadaan begini tentu saja ia tak
pernah mengingat tentang hubungan antara angkatan tua
dengan angkatan yang lebih muda lagi. Mendengar perkataan
tersebut, ia segera menengadah dan tertawa keras, sambil
mengertak gigi serunya.
"Angkatan tua ? Haa^.. haaa haa.... menjual sahabat
mencari pahala, mengingkari janji yang telah diucapkan
sendiri, angkatan tua semacam ini buat apa mesti dihormati ?
Hm, mengenalpun aku sudah muak dan malu sekali "
Entah dikarenakan ketukan liang-sim nya atau terpengaruh
oleh ucapan Gak In ling yang keras dan tajam, tanpa sadar
kakek jubah kuning itu berseru.
"orang yang membinasakan ayahmu, memaksa dirimu
bukan cuma aku seorang.... kau jangan menuduh aku yang
bukan-bukan-"
Rupanya dia hendak mencuci bersih semua dosa serta
kesalahan yang ditimpakan kepadanya.
Mendengar perkataan itu sekali lagi Gak In Ling merasakan
hatinya amat terperanjat, ia segera maju selangkah kedepan
dan membentak dengan nada dingin. "Tua bangka sialan,
engkau telah apakan ibu serta enciku ? Ayo jawab "
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong, membuat orang merasakan hatinya
bergetar keras.

212
Tercekat hati kakek berjubah kuning itu setelah mendengar
bentakan tersebut, ia segera tersadar kembali dari
lamunannya, dengan perasaan kaget pikirnya.
"Ini hari aku kenapa sih ? Kenapa perasaan dan pikiranku
bisa goyah dan selalu merasa tak tenang ? Untung apa yang
barusan kukatakan tidak terlalu banyak, kalau tidak akibat
yang harus kutanggung benar-benar mengerikan sekali."
Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia segera tertawa
dingin dan berkata.
"Hee..... hee...... hee kalau aku tidak mengatakannya
keluar, apakah engkau punya keberanian untuk menantang
aku seorang tua untuk bertarung ?"
Gak In Ling maju dua langkah kedepan, serunya dengan
nada yang menggidikkan hati.
"Bukan saja aku akan turun tangan untuk bertempur
dengan dirimu, bahkan, akan ku binasakan pula engkau tua
bangka berhati binatang yang terkutuk sehingga mayatmu
terkapar diatas tanah dalam keadaan yang sangat mengerikan
"
Sambil berkata dari balik matanya yang tajam terpancarlah
napsu membunuh yang menggidikkan hati.
Setelah berulang kali dicaci maki oleh Gak In Ling dengan
kata-kata yang pedas dan tidak sedap didengar, rasa iba dan
menyesal yang semula sudah menyelimuti hati kakek jubah
kuning itu, tanpa sadar telah lenyap tak berbekas bagaikan
asap yang hilang diang kas a, pikirnya didalam hati.
"Kalau membabat rumput tidak sampai ke- akar- akarnya,
angin musim semi berhembus lewat rumput itu akan tumbuh
kembali, demi keamanan serta keselamatan diriku sendiri, aku
harus mulai sekarang mengadakan persiapan-persiapan lebih
dahulu."

213
Teringat akan ancaman jiwa yang mungkin akan
menyelesaikan hidupnya, rencana untuk melenyapkan Gak in
Ling dari muka bumipun semakin mencekam seluruh pikiran
dan perasaannya.
Ia segera tertawa dingin dan berkata.
"Hee hee hee kalau engkau memang begitu tak tahu diri,
janganlah kau salahkan kalau aku tak akan teringat akan
hubungan kita di masa lalu lagi. Mari, mari.., silahkan kau
segera turun tangan."
Sambil berkata diam-diam hawa murni yang dimilikinya
segera dihimpun kedalam sepasang telapak tangan dan
bersiap siaga menantikan datangnya serangan dari sianak
muda itu.
Diam-diam Gak In Lingpun menilai keadaan yang sedang
dihadapinya ketika itu, dia tahu kalau pada saat ini kakek baju
kuning itu tidak berhasil dikuasai maka sulitlah baginya untuk
menyelidiki jejak dari ibu serta encinya.
oleh karena itu setelah mendengar perkataan tersebut
tanpa ragu-ragu lagi, dengan cepat ia enjotkan badannya
meloncat kedepan, menggunakan jurus serangan "Lui-tiamsiang-
ciau" atau guntur dan kilat menggeletar bersama,
laksana petir yang menyambar membelah angkasa ia
mengirim sebuah sodokan dahsyat kearak dada serta lambung
kakek baju kuning itu, hardiknya.
"Hm, kalau begitu rasakanlah seranganku " Kepandaian
silat yang dimiliki kakek jubah kuning itujauh berada diatas
kepandaian silat dari ayah ibu Gak In Ling sendiri, tentu saja
terhadap datangnya serangan dari sianak muda ini ia tidak
pandang sebelah mata.
Tetapi apa yang terjadi kemudian ternyata benar-benar
berada diluar dugaannya semula, tatkala dilihatnya serangan
yang dilancarkan Gak In Ling cepat bagaikan petir yang

214
menyambar diudara, kakek baju kuning itu tertegun
bercampur kaget, pikirnya dengan perasaan terkesiap.
"Sungguh aneh, mengapa gerakan tubuhnya bisa begitu
cepat dan dahsyat sehingga mengejutkan hati." sambil
berpikir dengan cepat badannya menyusut mundur sejauh
lima depa kebelakang, dengan suatu gerakan yang manis ia
menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.
Kemudian secepat kilat melancarkan serangan balasan-
Gak In Ling sendiripun mengetahui dengan jelas sampai
dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki kakek baju
kuning itu, akan tetapi ia tak menyangka dengan usia
lawannya yang sudah begitu lanjut ternyata dalam beberapa
tahun yang amat singkat berhasil mendapatkan kemajuan
yang begitu mengejutkan hati, sehingga membuat sebuah
serangannya yang semula diduga akan mendatangkan hasil
ternyata mengenai sasaran kosong. Tanpa sadar gerakan
tubuhnya jadi agak terlambat.
Tatkala kakek baju kuilog itu mengundurkan diri
kebelakang tadi, secara diam-diam hawa murninya telah
dihimpun semua kedalam sepasang telapaknya dan setiap saat
siap dilancarkan kedepan, dengan melambatnya gerakan
tubuh dari Gak In Ling itu justru secara kebetulan telah
memberikan peluang yang amat bagus baginya untuk
melepaskan serangan mautnya.
Terdengar kakek baju kuning itu membentak. "Bocah
keparat Sambutlah pula sebuah seranganku ini "
Dengan menggunakan gerakan "Hong-kian-Cian-in" atau
angin berhembus buyarkan awan, sekuat tenaga ia lancarkan
sebuah pukulan dahsyat kearah sianak muda itu.
Gulungan angin pukulan yang menderu- deru bagaikan
berhembusnya angin puyuh menyelimuti daerah seluas lima
tombak disekeliling tempat itu, jelas kakek baju kuning itu ada

215
maksud membinasakan lawannya didalam sebuah
serangannya.
Meskipun Gak In Ling sendiri belum lama terjunkan diri
kedalam dunia persilatan dan pengalamannya dalam
menghadapi serangan lawan masih cetek. akan tetapi
kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika serangan
pertamanya tadi gagal mengenai lawannya, ia telah menyadari
kalau gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya, dalam waktu
yang amat singkat itulah suatu cara untuk mengatasi krisis
tersebut berhasil ia dapatkan-
Baru saja angin pukulan kakek baju kuning yang amat
dahsyat itu hampir mengenai tubuh-nya, mendadak Gak In
Ling tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat merendah
kebawah, dengan gerakan "To-coan-seng-gi" atau bulan
berputar lintang bergeser, badannya melayang kearah kanan
dan dengan tepat sekali berhasil menghindarkan diri dari
datangnya ancaman angin pukulan yang datang dari arah
depan-
Diantara bergeletarnya telapak kanan, secepat kilat ia
lancarkan sebuah serangan kembali dengan jurus "Keng-toliat-
an" atau ombak dahsyat retakkan pantai, dan dengan
cepat menerobos kearah iga kanan kakek baju kuning itu.
Tindakan tersebut kembali mengejutkan hati kakek baju
kuning itu sehingga tanpa sadar ia berseru tertahan, ia tak
menduga kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak In
Ling jauh lebih lihay daripada dugaannya semula.
Berpikir sampai disini timbullah perasaan ingin menang
sendiri dalam hati kakek tua baju kuning itu, terhadap
datangnya ancaman dari sisi tubuhnya itu bukan saja ia tidak
menghindar, sebaliknya malah menyongsong datangnya
serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Bagus sekali datangnya seranganmu itu " bentaknya keras.

216
Bersamaan dengan bentakan itu serangan pertama
dibuyarkan diganti dengan gerakan lain, tubuhnya berputar
keSamping kiri. Dengan jurus "Lek-peng-ngo gi" atau
membumi rata lima bukit, dengan suatu kekuatan yang
luarbiasa bagaikan guntur yang membelah bumi disambutnya
pukulan dari Gak In Ling itu dengan kekerasan-
Menyaksikan tindakan lawannya ini, napsu membunuh yang
amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Gak In
Ling, ia mendengus dingin dan angin pukulannya secara diamdiam
ditambah pula dengan beberapa bagian hawa murninya.
Sementara itu kakek tua baju kuning itu jadi amat girang
menyaksikan pemuda itu menyambut datangnya ancaman itu
tanpa menghindar, pikirnya didalam hati.
"IHm, bangsat cilik yang tak tahu diri, cahaya kunangkunang
berani diadu dengan cahaya rembulan, rupanya
engkau memang sudah bosan hidup dan ingin mencari jalan
kematian buat diri sendiri."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya,
mendadak ia merasakan datangnya daya tekanan tak
berwujud yang amat berat dan menembusi pertahanan angin
pukulan daya kikangnya dan langsung menerjang kearah
dada.
Bersamaan itu pula angin pukulan yang dilepaskan olehnya
seakan-akan terbentur diatas sebuah dinding baja tak
terwujud yang amat kuat, sedikitpun ia tak berdaya untuk
menembusinya .
Dalam keadaan seperti ini kakek tua baju kuning itu baru
menyadari babwa keadaannya sangat berbahaya dan gelagat
kurang baik, untuk menghindarkan diri sudah tak sempat lagi,
ia segera menjerit tertahan-"Aduh celaka "
Belum habis jeritan itu berkumandang dari mulutnya, angin
pukulan yang ia lepaskan telah saling membentur dengan

217
daya kekuatan tak terwujud yang dilancarkan oleh Gak In
Ling.
"Blaaaam..." ledakan dahsyat seakan-akan gugurnya bukit
karang tertimpa gempa segera menggoncangkan seluruh
permukaan bumi disekeliling tempat itu, suara pantulan
nyaring menggema tak hentinya sangat memekakkan telinga,
bisa dibayangkan betapa dahsyatnya benturan yang baru saja
berlangsung itu.
Ditengah kaburnya suasana karena pasir dan debu
beterbangan memenuhi seluruh udara, tubuh kakek tua baju
kuning itu secara berturut-turut mundur empat- lima langkah
kebelakang dengan sempoyongan, sepasang lengannya jadi
linu dan kaku sehingga dengan lemas terkulai ke bawah, hawa
panas menekan dadanya membuat darah bergolak dengan
kerasnya dan hawa murni terasa tersumbat, dengan sorot
mata yang berkunang-kunang, ia berpaling kearah Gak In
Ling.
Sianak muda itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula,
air mukanya merah berdarah diliputi napsu membunuh yang
menakutkan sekali, pada saat itu dengan pandangan yang
bengis dan menyeringai seram sedang menatap kearahnya
tanpa berkedip.
Buru-buru kakek tua baju kuning itu alihkan sorot matanya
kearah lain- Dalam hati kecilnya ia sudah mengaku kalah
danjeri terhadap lawannya, akan tetapi berhubung gerakgeriknya
selalu diawasi oleh orang lain, kakek tua itu tak
berani menceritakan keadaan yang sebenarnya.
Terdengar Gak In Ling tertawa dingin dengan nada yang
menyeramkan, kemudian berkata.
"Ong Pek Siu Jika engkau adalah seorang manusia yang
bisa melihat gelagat, maka sekarang juga sudah tidak
sepantasnya bagimu untuk mencari penyakit buat diri sendiri "

218
Nada suara pemuda ini dingin, seram dan penuh
kewibawaan, membuat orang yang mendengar jadi bergidik
dan ngeri.
Rupanya orang yang bernama Ong Pek Siu ini bakan lain
adalah sang Loo-ji dari Tay san sam- gi tiga setia kawan dari
gunung Taysan yang nama besarnya sudah menggetarkan
seluruh dataran Tionggoan sejak belasan tahun berselang.
Pertarungan baru berlangsung beberapa gebrakan saja,
kendatipun Ong Pek Siu sudah menyadari bahwa ia bukan
tandingan dari Gak In Ling namun sebagai seorang jago yang
punya nama besar dalam dunia persilatan tentu saja ia tak
sudi untuk mengaku kalah dan takluk dengan begitu saja.
setelah tarik napas panjang dan tenteramkan perasaan
hatinya yang goncang ia berkata.
"Gak In Ling, engkau jangan terburu napsu, sekarang
dirimu masih berada di sarang naga gua harimau, kalau
didalam dua-tiga jurus gebrakan engkau masih belum dapat
mengalahkan aku, maka selembar jiwamu untuk selamanya
akan terbenam dalam lembah ini " Gak in Ling tertawa dingin.
"Hee hee.... hee seandainya didalam satu gebrakan saja
aku telah berhasil menguasai dirimu ?" ia mengejek.
Mendengar perkataan tersebut mula-mula Ong Pek Siu
nampak tertegun, kemudian sambil menengadah keatas ia
tertawa terbahak-bahak.
"Haa haa haa tentu saja aku akan menyerahkan diri
kepadamu dan terserah engkau hendak berbuat apa atas
diriku, akan tetapi, percayakah engkau bahwa kemampuanmu
telah berhasil mencapai hingga tarap sedemikian tingginya ?"
Dalam hati kecilnya Gak In Ling sangat menguatirkan
keselamatan ibunya, ia tidak ingin terlalu lama bersilat lidah di
sana sehingga membuang waktu dengan percuma, sambil
mendengus dingin perlahan-lahan telapak kanannya diangkat

219
keatas sambil bentaknya. "Ong Pek Siu, kenalkah engkau
dengan telapak tanganku ini ?"
Ong Pek Siu segera alihkan sinar matanya kearah mana
yang ditujukan kepadanya, tetapi begitu melihat apa yang
ditunjuk sianak muda itu kepada iya, dengan wajah pucat pias
bagaikan mayat karena ketakutan secara beruntun ia mundur
beberapa langkah kebelakang, serunya dengan suara
tergagap.
"Te.. telapak maut ? Kau....... kau telah berhasil
meyakinkan ilmu telapak maut ?"
Gak In Ling mendengus dingin, selangkah demi selangkah
perlahan-lahan ia maju kedepan mendekati tubuh Ong Pek
Siu.
Mengikuti semakin mendekatnya langkah Gak In Ling
kearahnya, setindak demi setindak Ong Pek Siu pun
mengundurkan diri kebelakang.
Semula dia telah menghimpun segenap tenaga dalamnya
untuk bersiap sedia menghadapi serangan dari Gak In Ling
sambil mengulur waktu dan menunggu datangnya bala
bantuan-
Tetapi sekarang setelah ia menyaksikan "Telapak maut"
hatinya jadi bergidik dan pecah nyali, ia tahu dibawah
serangan dahsyat dari telapak maut tak mungkin ia dapat
meloloskan diri dalam keadaan hidup,.... atau dengan
perkataan lain kesempatan jiwanya telah berada didalam
cengkeraman lawan-
Kini yang terlintas didalam benaknya hanyalah bagaimana
caranya untuk meloloskan diri dari tangan elmaut, ia sedang
berusaha untuk menyelamatkan diri sebelum malaikat elmaut
sempat datang untuk menjemput sukmanya pulang ke-aLam
baka.

220
Waktu berlalu dalam keheningan dan kesepian yang
mencengkam disekeliling tempat itu, dari balik kabut putih
yang tebal sering kali terdengar dengusan napas Ong Pek Siu
yang berat serta memperdengarkan rintihan karena ngeri dan
takutnya itu.
Tiba-tiba Ong Pek Siu yang sedang mundur kebelakang
segera menghentikan tubuhnya, air mukanya seketika
berubah hebat dan keringat dingin mengucur keluar
membasahi seluruh tubuhnya, tak usah berpaling lagi ia telah
mengetahui bahwa dirinya telah mengundurkan diri sehingga
tiba ditepi jurang yang amat terjal.
Sedikitpun tidak salah dibelakang tubuhnya terbentang
sebuah tebing yang curam dengan jurang yang menganga
dibelakangnya, kabut putih yang amat tebal menyelimuti
daerah sekeliling tempat itu membuat orang sulit untuk
melihat jelas jurang tersebut, serta menentukan berapa
dalamkah jurang itu.
Selangkah demi selangkah Gak In Ling maju mendekat,
sekarang Ong Pek Siu tak dapat mundur lagi kebelakang,
perasaan hatinya mengikuti langkah kaki lawannya yang
semakin mendekat terasa bergidik dan berdebar dengan
kerasnya.
Pada saat tubuh Gak In Ling sudah berada kurang lebih
tiga depa dihadapan Ong Pek Siu itulah tiba-tiba sekilas
bayangan terlintas dalam benak kakek tua baju kuning itu,
dengan cepat ia membentak keras.
"Gak In Ling, kalau engkau ada maksud untuk
membinasakan ibumu didalam lembah pemutus sukma ini,
silahkan engkau maju mendekat satu langkah lagi kedepan "
Ancaman ini ternyata mendatangkan hasil yang amat
manjur, mendengar ucapan tersebut tanpa sadar Gak In Ling
menghentikan langkah kakinya.

221
Ong Pek Siu tarik napas panjang-panjang, keringat dingin
telah membasahi telapak tangannya, sambil berusaha keras
untuk menenangkan hatinya ia mengejek. "Hm Kenapa?
Kenapa engkau tidak lanjutkan seranganmu itu ?"
napsu membunuh yang semula menyelimuti seluruh wajah
Gak In Ling, perlahan-lahan makin berkurang, sambil tertawa
dingin serunya. "Hee hee hee engkau hendak menakut-nakuti
aku ?"
Setelah hatinya berhasil ditenangkan, Ong Pek Siu tertawa
terbahak-bahak.
"Haa haa haa menakut-nakuti dirimu ? Kalau engkau
menganggap ucapanku itu hanya gertak sambal belaka dan
sengaja hanya untuk menakut-nakuti dirimu, kenapa tidak kau
lanjukan seranganmu itu ?"
Dalam suara gelak tertawanya terdengar agak gemetar,
sayang sekali pada waktu itu benak Gak In Ling sedang
dipenuhi oleh persoalan lain, sehingga titik kelemahan itu
sama sekali tak diperhatikan olehnya.
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya
kembali Gak In Ling tertawa dingin sambil ujarnya.
"Sebelum engkau berhasil memaksa ibuku sehingga
menemui ajalnya, setiap saat aku orang she Gak mampu
untuk membinasakan dirimu" seketika itu juga Suatu ingatan
kecil tiba-tiba berkelebat didalam benak Ong Pek Siu, sengaja
ia melirik sekejap kearah belakang tubuhnya, lalu sambil
tertawa dingin pula, ejeknya.
"Hee hee menurut anggapanmu, di-tempat ini hanya terdiri
engkau dan aku dua orang belaka ?"
"Hm Setelah aku berani memasuki lembah pemutus sukma
ini seorang diri, itu menandakan pula bahwa dalam hati
kecilku sudah sama sekali tak pandang sebelah matapun
terhadap kalian"

222
"IHaa haa engkau pandang sebelah mata terhadap kami
atau tidak- itu urusanmu sendiri, yang menjadi persoalan
sekarang adalah setelah kematianku maka ibumu pun segera
akan ikut menghembuskan napasnya yang terakhir, selisih
waktu diantara kami berdua tak akan berbeda dalam
seperempat jam belaka."
Sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya terkesiap
sehingga darah dalam tubuhnya terasa tersirap. apa yang
diucapkan oleh Ong Pek Siu barusan boleh dibilang dapat
diterima dengan akal sehat, dan kemungkinan besar untuk
terjadi peristiwa semacam ini pun ada, hal ini membuat orang
lain jadi sulit untuk membedakan apakah ucapan itu
merupakan suatu siasat licik dari lahirnya ataukah merupakan
kenyataan-
Keadaan Gak In Ling pada saat ini benar-benar terdesak
sekali, waktu baginya untuk putar otak sempit sekali dan
untuk sesaat sulit baginya untuk menemukan jalan yang
paling baik untuk mengatasi kesulitannya itu, hatinya jadi
amat cemas bercampur gelisah sehingga keadaannya
bagaikan semut yang berada diatas kuali panas.
Perlahan-lahan Ong Pek Siu mulai menggeserkan kakinya
kedepan, ujarnya dengan suara lantang.
"Gak In Ling, sekarang hanya ada dua jalan yang dapat kau
pilih menurut seleramu sendiri "
"Dua jalan yang bagaimana ?" tanya Gak In Ling tanpa
terasa, dalam kesulitannya
untuk memperoleh jalan pemecahan yang paling baik untuk
mengatasi persoalan itu, ia ajukan pertanyaan tanpa disadari.
Ong Pek Siu tertawa bangga.
"Haa haa haa sebenarnya gampang sekali jalan yang
kuberikan kepadamu itu, cuma sayang aku takut engkau tak
akan menerimanya." Airmuka Gak In Ling berubah hebat,
tegur nya dengan nada ketus.

223
"Hm, rupanya engkau sengaja sedang mengulur waktu ?"
Ong Pek Siu tertawa ringan-
"Aku tak perlu mengulur waktu karena aku tahu bahwa
engkau adalah seorang anak yang berbakti, tak mungkin
engkau lakukan perbuatan secara gegabah." Menyaksikan
kesemuanya itu dalam hati kecilnya Gak In Ling segera
berpikir.
"Sungguh tak kusangka akhirnya aku Gak In Ling pun
terjatuh kedalam cengkeramannya, apakah keturunan
keluarga Gak harus berakhir sampai disini saja."
Berpikir sampai disini, rasa sedih dan murung dengan cepat
menyelimuti seluruh wajah dan sorot matanya memancarkan
napsu membunuh yang semua menyelimuti seluruh wajahnya.
Terdengar ia menghela napas panjang dengan suara yang
amat berat, kemudian berkata. "Kalau begitu cepatlah katakan
kepadaku"
"Jalan pertama menerjang masuk kedalam lembah pemutus
sukma ini dengan jalan kekerasan, cuma sebagai imbalan dari
perbuatannya itu mungkin selembar jiwa ibumu akan ikut
melayang tinggalkan raganya."
"Bagaimana dengan jalan yang kedua ?" tanya Gak In Ling
dengan suara amat gelisah.
Sekilas cahaya keji berkelebat diatas wajah Ong Pek Siu,
sambil menyeringai seram jawabnya.
"Jalan yang kedua, bersama ibumu dikurung dalam sebuah
gua yang lembab dan gelap."
Beberapa patah kata ini bagaikan beribu-ribu batang anak
panah yang bersama-sama menembusi ulu hati Gak In Ling,
mendatangkan siksaan bathin yang tak terkirakan hagi sianak
muda itu, dengan cepat ia menyeka wajahnya yang merah
padam dan bermandikan keringat, sementara sang badan
gemetar keras menahan emosi Lama lama sekali, akhirnya

224
dengan suara gemetar Gak In Ling berseru keras. "Engkau...
kau hatimu benar-benar kejam "
"Haa. ... haa haa aku bisa berbuat seperti ini karena demi
engkau." jawab ong Pe Siu dengan nada yang menyeramkan,
senyum licik tersungging di ujung bibirnya.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 7
"KARENA aku kenapa karena aku?"
"Sedikitpun tidak salah, karena engkau. Karena dari antara
keluarga Gak hanya engkaulah satu-satunya orang yang masih
tetap hidup diaLam yang bebas."
Dari balik sorot mata Gak In Ling yang sayu secara lapatlapat
mulai diliputi oleh cahaya airmata yang amat tipis,
dengan suara berat dia segera bertanya. "Gua itu berada di
mana ?"
"Itu.. .. didepan sana, kurang lebih lima tombak dari
tempat ini." jawab Ong Pek Siu sambil memandang sekejap
kearah depan- "Apakah engkau hendak pergi kesitu?"
Dengan perasaan hati yang amat berat Gak In Ling
menganggap sekarang ia sudah kehilangan semangatnya
untuk melakukan pertempuran-
Melihat keadaan musuhnya, Ong Pek Siu segera tertawa
dan berkata kembali.
"Setelah engkau pergi kesana. mungkin peria yanan kami
terhadap kalian akan jauh lebih baik karena mulai sekarang
sudah tiada orang lain dari keluarga Gak yang hidup diaLam
bebas lagi, tetapi engkau jangan bermaksud untuk melarikan
diri dari tempat ini karena disekeliling gua batu itu telah
dipasang alat rahasia yang dapat menghabisi jiwa kalian-
Memandang pada hubungan persahabatanku dengan

225
mendiang bapakmu, mau tak mau harus kuberi peringatan
lebih dahulu kepadamu..."
Selesai berkata ia putar badan dan berjalan menuju
kearahh samping sebelah kanan, serunya kembali. "Mari
ikutilah aku"
Gak In Ling dengan mulut membungkam dalam seribu
bahasa mengikuti dibelakang tubuhnya keadaanpemuda
tersebut pada saat ini bagaikan sudah kehilangan semangat
dan pikiran, benaknya kosong melompong tak ada yang bisa
dipikirkan sementara pandangan matanya jadi kabur dan
berkunang-kunang.
Kurang lebih setelah berjalan sejauh lima tombak dari
tempat semula, tiba-tiba Ong Pek Siu berhenti didepan sebuah
batu putih yang menonjol keluar dari atas permukaan tanah,
sambil berpaling memandang kearah Gak In Ling ujarnya lagi.
"Tuh. guanya berada didepan sana."
Sambil berkata ia menuding kearah sebuah batu putih lagi
yang berada diarah sebelah kanan setelah itu tanyanya.
"Mampukah- engkau meloncat kedepan sana?"
Dengan kaku Gak In Ling anggukkan kepalanya, ia
enjotkan badan dan siap meloncat kedepan-
Tiba-tiba oag Pek Siu berkata kembali.
"Tunggu sebentar, alat rahasia dan alat jebakan yang
berada disekeliling tempat itu belum kumatikan-"
Sambil berkata ia memutar batu putih yang menonjol
keluar dari atas tanah itu kearah sebelah kanan, dari balik
kabut putih yang amat tebal segera berkUmandanglah suara
gemerincing yang amat nyaring.
Setelah suara gemerincing tadi sirap dari udara, Ong Pek
Siu baru berkata dengan wajah serius.

226
"Sekarang engkau boleh meloncat kedepan- ingat, jangan
sampai melampaui enam tombak. kalau tidak aku tak berani
menjamin akan keselamatan jiwamu "
Gak ln Ling berusaha mengerahkan kemampuannya untuk
memandang kearah depan, namun yang terlihat hanyalah
kabut pUtih yang amat tebal belaka, ia menghela napas
panjang dan berkata.
"Aaaiii sungguh tak kunyana begitu banyak sahabatsahabat
karib yang mempunyai hubungan persahabatan
dengan ayahku dimasa yang lampau, sebenarnya tidak lebih
hanya manusia-manusia laknat yang tak kenal budi dan tak
setia kawan-"
"Ha.... haa...... haa itulah yang dinamakan watak manusia
ditolong langit dingin bagaikan es, hubungan persaudaraan
tipis bagaikan kertas."
Seberkas cahaya gusar memancar keluar dari balik mata
Gak In Ling, ditatap wajah lawannya tanpa berkedip kemudian
serunya keras.
"Benar, manusia memang berwatak dingin bagaikan salju,
tipis bagaikan kertas."
Bicara sampai disitu, tubuhnya dengan cepat melompat
masuk kebalik kabut putih yang amat tebal itu.
Dengan perasaan terperanjat Ong Pek Siu mundur dua
langkah kebelakang, pada saat itulah dalam hati kecilnya
timbul perasaan iba bercampur menyesal.
Mendadak dari arah belakang berkumandang suara teguran
seseorang dengan suara dingin. "Ong Pek Siu, kemana
perginya Gak in Ling ?"
Mendengar pertanyaan itu dengan cepat Ong Pek Siu putar
badan, lalu sambil tertawa jawab nya.

227
"Toako, rupanya Gak In Ling sudah turun ke bawah."
sambil berkata ia tuding kearah belakang tubuhnya.
orang yang baru saja datang adalah seorang kakek tua
berusia lima puluh tahunan yang mempunyai warna pakaian
serta dandanan yang persis seperti Ong Pek Siu, mukanya
kurus dengan alis tebal mata kecil, jeng got pendek dan wajah
yang amat dingin. Terdengar kakek tua baju kuning itu
tertawa dingin dan berkata "Hee hee, hee, sebentar lagi kokcu
akan tiba disini."
"Urusan ditempat ini telah kuselesaikan secara sempurna,
ada urusan apa dia orang tua datang kemari ?" tanya Ong Pek
Siu dengan air muka berubah hebat.
"IHm Selamanya dia orang tua tak pernah bergerak secara
sembarangan, apa maksud kedatangannya semestinya engkau
harus tahu "
Perasaan tidak tenang mulai melintas diatas wajah Ong Pek
Siu, denganjantung berdebar keras serunya kembali. "Apakah
dia orang tua merasa tidak lega hati ?"
"Dia orang tua sudah mengetahui kalau Gak In Ling
berhasil kau tipu untuk meloncat masuk kedalam jurang
pemutus sukma, tetapi sayang sekali kedatangannya masih
tetap terlambat satu langkah."
"Bukankah dia ada maksud untuk mencabut selembar
jiwanya ?" seru Ong Pek Siu lagi dengan hati gelisah. Tiba-tiba
kakek tua itu tertawa dingin.
"He .... he apakah beliau pernah mengatakan demikian
kepadamu?" serunya.
Ong Pek Siu jadi amat terperanjat, sekarang rupanya ia
sudah tahu tujuan serta maksud kedatangan sang kokcu
ketempat itu, dengan penuh ketakutan dan perasaan ngeri ia
berseru.

228
"Kalau bukan sahabat tentulah musuh, Gak In Ling..."
Kembali kakek tua itu tertawa dingin.
"He he he.... . ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling jauh lebih
lihay dan ampuh beberapa kali lipat dari dirimu sendiri,
keuntungan yang dia berikan terhadap lembah pemutus
sukmapun jauh lebih besar daripada keuntungan yang kau
berikan terhadap lembah.... ucapan ini tentu dapat kau
pahami bukan ?"
Sekarang Ong Pek Siu benar-benar sudah menyadari akan
serius serta gawatnya masalah yang sedang ia hadapi, demi
keselamatan selembar jiwa nya kakek tua itu sudah tidak
memikirkan tentang gengsi atau nama baik lagi, dengan nada
merengek pintanya.
"oh, toako bagaimanapun juga diantara kita pernah terjalin
hubungan persaudaraan yang sangat akrab, usahakanlah
untuk menyelamatkan selembar jiwaku oh, toako, tolonglah
aku... selamatkan diriku dari ancaman bahaya."
Air muka kakek tua itu tetap kaku dan dingin, sedikitpun
tidak tergerak hatinya oleh rengekan saudaranya ini, dengan
suara ketus kembali ia berkata.
"Maafkanlah daku Dalam lembah ini hanya membicarakan
soal pahala dan sama sekali tidak kenal apa artinya
persaudaraan atau persahabatan, karena itu maafkanlah aku
tak mungkin iku bisa membantu atau menolong untuk
selamatkan jiwamu."
Sepasang biji mata Ong Pek Siu berputar tidak hentinya
memandang sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia putar badan dan
berlarian menuju ke lorong batu sebelah depan-
Pada saat itulah tiba-tiba dari arah belakang berkumandang
datang suara bentakan yang amat dingin dan menyeramkan-
"Berhenti "

229
Bersamaan dengan berkumandangnya suara bentakan yang
amat nyaring dan mengerikan itu, karang lebih lima depa
dihadapan Ong Pek Siu tiba-tiba meloncat keluar seorang
manusia berkerudung kain merah yang menatap wajah kakek
itu dengan sepasang sorot matanya yang dingin, sadis dan
menyeramkan, keadaan orang itu seakan-akan sedang
berhadapan dengan seorang musuh besarnya yang sudah
mengikat dendam sakit hati sedalam lautan dengan dirinya.
Terkesiap hati Ong Pek Siu menyaksikan kemunculan
manusia berkerudung merah itu, keringat dingin mengucur
keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah jalan pergi dihadapannya terhadang oleh seorang
jago lihay, kakek tua she ong itu tidak berani melanjutkan
perjalanannya menuju ke depan, buru-buru ia menghentikan
badannya dan melompat kearah samping sebelah kiri.
Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya kembali
terdengar seseorang membentak dengan suara yang dingin
menyeramkan. "Berhenti"
Kurang lebih lima depa dihadapannya, kembali muncul
seorang manusia berkerudung merah yang menghadang jalan
perginya.
Setelah menyaksikan kesemuanya itu, Ong Pek Siu baru
menyadari bahwa dia telah terjebak dalam suatu
pengepungan yang sangat rapat, kendatipun begitu sepasang
matanya masih berputar dan menyapu sekeliling tempat itu
tiada hentinya seakan-akan ia sedang berusaha untuk mencari
kesempatan hidup ditengah lingkungan yang sudah tidak
mungkin terjadi itu.
Akan tetapi di mana sorot matanya berputar disanalah ia
temukan sorot mata dingin menyeramkan yang sedang
menatap ke arahnya, kecuali itu sudah tiada jalan lain lagi
untuk meloloskan diri, bahkan untuk menerjunkan diri
kedalam jurang yang dalampun sudah tak mungkin lagi,

230
karena diantara berdiri pula seorang manusia berkerudung
merah yang menghadang jalan perginya .
Bersamaan dengan putusnya harapan untuk meloloskan diri
dari mara bahaya, selintas pikiran yang mengerikan dengan
cepat menyelimuti seluruh benak Ong Pek Siu, dia merasa
seakan-akan kematian sudah berada diambang pintu,
wajahnya yang sudah memucat kini kian menghijau
sementara keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya
membasahi seluruh badan-
Ia tarik napas panjang-panjang, dengan suara yang
mendekati suatu rengekan serunya kepada orang-orang
berkerudung merah yang berada disekeliling tempat itu.
"Saudara-saudara sekalian, aku orang she ong percaya
bahwa dihari-hari biasa tak pernah aku berbuat sesuatu
kesalahan yang menyinggung perasaan kalian semua, kenapa
sekarang kalian mendesak dan memaksa diriku terus menerus
sehingga menyudutkan aku orang she ong kedalam lembah
kematian ?"
Suara tertawa dingin yang ketus dan menyeramkan
berkumandang dari sekeliling tempat itu, terhadap ucapan dari
Ong Pek Siu itu bukan saja orang-orang itu sama sekali tidak
memperlihatkan rasa iba atau kasihan, sebaliknya mereka
menunjukkan rasa girang, seakan-akan mereka merasa
gembira karena ada orang sedang tertimpa oleh bencana.
Menyaksikan kesemuanya itu sadarlah Ong Pek Siu
bahwasanya semua penghuni didalam lembah pemutus sukma
adalah manusia-manusia durjana yang kejam dan tidak
mengenal prikemanusiaan, berbicara terhadap mereka boleh
dibilang sama sekali tak ada gunanya.
Timbullah ingatan didalam benak kakek tua itu untuk
melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah
penghabisan, ia mengambil keputusan untuk melakukan
perlawanan daripada mendahului dibunuh dengan begitu saja.

231
Sinar mata yang amat tajam memancar keluar cari balik
matanya, dengan suara berat ia segera berseru.
"Saudara-saudara sekalian, seandainya kalian masih juga
mendesak diriku terus menerus, jangan salahkan kalau aku
melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah
penghabisan" ucapan tersebut diutarakan keluar dengan suara
yang berat dan tegas, seolah-olah dia sedang memperlihatkan
kenekadannya itu kepada semua orang.
Suara tertawa dingin secara susul-menyusul berkumandang
kembali dari sekeliling tempat itu para manusia berkerudung
merah yang berada di sekitar sana mulai menghimpun
segenap kekuatan tubuhnya keatas telapak, dengan tenang
ditunggu nya Ong Pek Siu untuk melancarkan serangan-
Melihat kesemuanya itu Ong Pek Siu pun menyadari,
apabila ia tidak melakukan perlawanan niscaya jiwanya akan
musnah secara konyol, dalam hati segera pikirnya.
"Bisa bunuh seorang berarti ada teman seorang, daripada
duduk terpekur sambil menantikan datangnya elmaut jauh
lebih baik melakukan perlawanan sedapat mungkin, siapa tahu
kalau dengan caraku ini justru selembar jiwaku berhasil
diselamatkan dari bahaya kematian-
Ingatan tersebut bagaikan kilat cepatnya berkelebat lewat
dalam benak kakek tua itu, sepasang telapaknya segera
diangkat dan siap melancarkan serangan-
Pada saat itulah sebelum serangan pertama sempat
dilepaskan tiba-tiba dari sisi telinganya berkumandang datang
suara teguran seseorang dengan nada yang tajam sehingga
terasa amat memekakkan telinga. "ong-heng, sungguh gagah
sekali lagakmu itu."
Walaupun nada suaranya amat mendatar dan biasa sekali,
namun entah apa sebabnya suara itu mendatangkan suatu
pengaruh yang sangat aneh sekali, membuat orang yang
mendengarkan jadi terkesiap bercampur ngeri.

232
Sekujur badan Ong Pek Siu gemetar keras setelah
mendengar teguran itu, keringat sebesar kacang kedelai
mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tenaga dalam
yang sudah dihimpun kedalam sepasang telapaknya tanpa
disadari telah buyar dan lenyap dengan begitu saja, sepasang
matanya dengan sorot penuh kengerian dan keseraman
celingukan memandang kesana-kemari mencari berasalnya
suara itu, keadaan kakek tua itu tak ubahnya bagaikan
seorang hukuman yang sedang menantikan pelaksanaan
hukuman mati atas dirinya, sedikitpun tiada bertenaga untuk
melakukan perlawanan.
Kurang lebih lima tombak dari tempat itu terdirilah seorang
kakek tua berjubah putih, bermuka merah bercahaya dan
berjenggot panjang semua, pada waktu itu kakek tersebut
sambil tersenyum sedang memandang kearah Ong Pek Siu,
sepintas lalu, mukanya nampak begitu ramah dan penuh
perasaan welas-kasih.
Ketika sorot mata Ong Pek Siu saling membentur dengan
sorot mata kakek tua itu, mendadak badannya gemetar keras
bagaikan kena aliran listrik, dengan suara gemetar serunya
lirih. "Kokcu "
Kakek tua itu tertawa dan mengangguk.
"Hmm, kalau kutinjau dari gerak-gerik ong heng, rupanya
engkau sudah bersiap sedia untuk melepaskan diri dari ikatan
lembah ini serta pergi dari sini. Aku jadi heran, sebenarnya
dalam hal apakah kami telah bersikap kurang baik sehingga
mendatangkan perasaan tak puas bagi diri ong-heng ?"
"Tecu tidak berani..." buru-buru Ong Pek Siu menjawab.
"oh, kalau begitu akulah yang sudah banyak menaruh
curiga terhadap dirimu. Tetapi, kenapa mereka telah
mengepung diri ong-heng sedemikian ketatnya ?"
Nada suara kakek tua itu kian lama kian bertambah berat
dan mantap. membuat orang merasakan dadanya sesak dan

233
sukar untuk bernapas. Tercekat hati Ong Pek Siu, tanpa
disadari ia berseru.
"Karena tecu telah melakukan kesalahan-.."
"oh, jadi karena sudah melakukan kesalahan maka engkau
hendak melarikan diri ?" tanya kakek itu sambil tertawa^
Ong Pek Siu membungkam dalam seribu bahasa setelah
mendengar ucapan tersebut, perlahan-lahan ia tundukkan
kepalanya.
Serentetan cahaya tajam yang sangat menggidikkan hati
memancar keluar dari balik mata kakek berbajuputih itu, ia
menatap tajam wajah Ong Pek Siu beberapa saat lamanya
kemudian sambil tertawa seram serunya.
"ong-heng, masih ingatkah engkau dengan pantangan
ketiga dari lembah kita ini?"
Ong Pek Siu menengadah keatas dengan perasaan kaget,
wajahnya berubah hebat dan ngeri bercampur seram melintas
dimukanya, ia segera membantah.
"Tecu membohongi Gak In Ling serta melenyapkan dirinya
dari permukaan bumi adalah demi keselamatan lembah kita
dikemudian hari."
"Karena apa ?"
"Karena Gak In Ling sangat membenci lembah pemutus
sukma kita hingga merasuk ketulang sumsumnya, oleh karena
itu tecu beranggapan bahwa dia tak akan bersedia untuk
tunduk kepada lembah kita serta berbakti kepada kita,
maka..."
"Maka engkau lantas turun tangan keji dan menyingkirkan
pemuda itu dari sini ?" sambung kakek baju putih itu dengan
nada suara yang jauh lebih lunak.
"Benar" dengan perasaan hati agak lega Ong Pek Siu
menganggukkan kepalanya.

234
"Apakah engkau tidak mempunyai perasaan pribadi untuk
melindungi ataupun menyelamatkan jiwanya dari mara bahaya
?"
"Tidak" jawab Ong Pek Siu dengan tegas "aku sama sekali
tidak mempunyai pikiran untuk melindungi ataupun
menyelamatkan jiwanya dari bahaya maut "
"Lalu menurut anggapanmu pada saat ini Gak In Ling
berada dalam keadaan mati atau dalam keadaan hidup ?"
"Jurang tingginya mencapai seratus tombak lebih, setelah
terjatuh kedalam jurang sedalam ini tentu saja ia telah
menemui ajalnya."
"Oooh.... ya? Kalau begitu aku ingin bertanya lagi, pada
saat ini air didalam jurang tersebut sedang pasang atau surut
?"
"Pasang" jawab Ong Pek Siu tanpa berpikir panjang.
Tapi begitu ucapannya tersebut terlontar keluar dari
mulutnya, tiba-tiba satu ingatan, berkelebat dalam benaknya,
perasaan hatinya jadi terkesiap dan diam-diam ia berseru
didalam hati kecilnya.
"Aduuuh habislah sudah riwayatku, aku tidak teringat kalau
air sungai didalam jurang itu sedang pasang."
Sementara itu Air muka kakek berjenggot panjang telah
berubah jadi hijau membesi, dengan keren ia bertanya
kembali.
"Aku dengar Gak In Ling mempunyai ilmu berenang yang
sangat baik sekali, entah benarkah perkataan itu ?"
Sambil berkata dengan sepasang matanya yang tajam
bagaikan sebilah pisau belati ia menatap wajah Ong Pek Siu
tanpa berkedip. dari keadaannya itu seakan-akan ia hendak
menembusi isi perutnya serta mengawasi perasaan hati orang.

235
Air muka Ong Pek Siu yang semula sudah berubah jadi
tenang kembali, kini berubah kembali jadi pucat pias bagaikan
mayat.
"Perkataan itu sedikitpun tidak salah." jawabnya. "Dan tecu
telah mengetahui dosa-dosa yang telah kulakukan-" Kakek
berjenggot panjang itu segera tertawa dingin.
"He..... he. he.... . karena itu, kalau ada orang mengatakan
bahwa engkau ada maksud untuk melepaskan Gak ln Ling dari
mara bahaya, tuduhan ini tidak bakal salah, bukan?" Ong Pek
Siu gelengkan kepalanya.
"Tecu telah menghianati ibu serta cicinya, sekalipun aku
ada maksud untuk menebus dosa untuk berbuat kebaikan
terhadap dirinya, belum tentu Gak In Ling bersedia untuk
menerima jasa baikku itu, apalagi..."
"Apalagi engkau setia terhadap lembah pemutus sukma
bukan?" sambung kakek berjenggot panjang dengan cepat.
Ong Pek Siu mengangguk tanda membenarkan.
"Tecu memang sungguh-sungguh setia terhadap lembah
pemutus sukma " ia menjawab.
Air muka kakek berjenggot panjang yang mudah berubahubah
itu tiba-tiba tersungging oleh satu senyuman yang
dingin, ia berkata.
"Sejak dahulu kala sampai sekarang aku mempunyai
sebuah pantangan yang tidak dicantumkan didalam tulisan,
apakah ong-heng tahu apa pantanganku itu ?"
Ong Pek Siu tak dapat menebak maksud hati ucapan
tersebut, terpaksa dengan perasaan bingung dia gelengkan
kepalanya.
"Maafkanlah kebodohan tecu, aku sama sekali tidak
memahami apakah arti yang sebenarnya dari perkataan kokcu
itu?"

236
"Engkau tak usah berlaku sungkan-sungkan, aku akan
segera memberitahukan pantanganku itu kepadamu "
Tiba-tiba ia menatap wajah lawannya dengan cahaya mata
berkilat, lalu dengan suara dalam sambungnya lebih jauh.
"Selama hidup aku melakukan perbuatan, lebih baik
membunuh mati sembilan puluh sembilan orang baik secara
penasaran daripada melepaskan seorang manusia jahat."
suaranya dingin menyeramkan membuat siapapun yang
mendengar merasakan bulu romanya pada bangun berdiri.
Air muka Ong Pek Siu berubah hebat, lama sekali ia berdiri
gelagapan namun tak sepatah katapun yang sanggup
diutarakan keluar.
Sambil melotot bulat kearah Ong Pek Siu, terdengar kakek
berjenggot panjang itu berseru kembali.
"ong heng, menurut anggapanmu benar atau tidak
pantanganku itu?"
orang ini benar-benar sadis dan sama sekali tidak kenal
akan perikemanusiaan, hendak membunuh orangpun ia masih
sempat untuk mengatakan kepada korbannya kalau
pembunuhan tersebut dilakukan atas dasar kebenaran.
Rupanya Ong Pek Siu sendiripun telah menyadari bahwa
tiada harapan lagi baginya untuk melanjutkan hidup, golakan
hatinya malah jauh berkurang malah ia kini semakin tenang
daripada keadaan semula, yang dipikirkan olehnya pada saat
ini adalah mencari jalan keluar untuk meringankan
penderitaannya sebelum malaikat Elmaut merenggut selembar
jiwanya.
Sesudah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
Ong Pek Siu pun berkata.
"Sebelum tecu melaksanakan hukuman karena melanggar
pantangan dari peraturan lembah ini, terlebih dahulu tecu
akan mengajukan suatu permintaan, apakah kokcu bersedia

237
untuk menyanggupi permintaan terakhir dari tecu ini?" Kakek
berjenggot panjang itu tertawa dan mengangguk.
"Memandang pada keberanianmu untuk menghadapi
hukuman, tentu saja aku bersedia untuk menyanggupi
keinginanmu itu Nah, katakanlah apakah keinginanmu itu ?"
suaranya amat tenang sekali..
Ong Pek Siu tidak langsung menjawab, dalam hati kembali
ia berpikir.
"Sebelum aku orang she ong menemui ajal. akan kulihat
lebih dahulu sampai dimanakah kelicikanmu itu." berpikir
sampai disini ia segera berkata.
"Semua orang didalam dunia persilatan mengetahui bahwa
"cian-bin-jin" manusia muka seribu mempunyai kepandaian
silat yang sangat tinggi dan tiada bandingannya dikolong
langit, akan tetapi belum pernah ada orang yang menyaksikan
raut wajah aslinya, permintaan tecu sebelum menemui ajal
adalah ingin sekali menyaksikan raut wajah kokcu yang
sebenarnya... apakah kokcu bersedia memenuhi keinginan
tecu ini ?"
Sekilas cahaya tajam memancar keluar dari balik mata
kakek berjenggot panjang atau manusia muka seribu itu,
tetapi dalam sekejap mata kilatan cahaya tajam tersebut
sudah lenyap kembali dari pandangan- ia sengaja tertawa
nyaring dan menjawab.
"Haa .... haa haa.... tidak sulit kalau kau ingin menyaksikan
raut wajah asliku. Nah, sekarang lihatlah "
Sambil berkata segera tangannya menyeka diatas raut
wajahnya, dari wajah seorang kakek berjenggot panjang
dalam waktu singkat ia telah berubah jadi seorang pria
setengah baya yang berwajah pucat pias bagaikan mayat.
Semua orang yang hadir di tempat itu merasakan hatinya
tergetar keras sesudah menyaksikan raut wajah tersebut, jelas

238
orang-orang itu kendatipun sudah amat lama bergaul dengan
orang ini akan tetapi selamanya belum pernah menyaksikan
raut wajah aslinya.
Ong Pek Siu segera tertawa dan berkata.
"Terima kasih atas kesediaan kokcu untuk memenuhi
harapan tecu, sehingga tecu dapat cucimata serta membuka
mataku, cuma..."
"cuma kenapa?" tukas manusia muka seribu.
Kembali Ong Pek Siu tertawa dan berkata "cuma kokcu
mempunyai julukan sebagi manusia muka seribu, karena itu
tecu percaya bahwa raut wajah yang tecu sedang dihadapi
sekarang bukanlah raut wajah aslimu."
Keberanian Ong Pek Siu untuk mendesak kokcunya agar
memperlihatkan raut wajah aslinya ini amat mengejutkan hati
setiap orang yang hadir ditempat itu, karena dihari-hari biasa
siapa pun tak berani mengucapkan sepatah katapun yang
bernada tidak percaya dihadapan kokcunya.
napsu membunuh dengan cepat melintas di wajah manusia
muka seribu, tapi sesaat kemudian orang itu berhasil
menguasai kegusarannya yang menyelimuti hatinya dan
mengangguk.
"He he.... he rupanya dihari-hari biasa aku telah
memandang rendah ketajaman mata ong-heng" ia berseru
sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Kokcu terlalu memuji." seru Ong Pek Siu. Rupanya kakek
tua ini sudah menyadari bahwa jiwanya tak mungkin bisa
diselamatkan lagi karena itu bantahan-bantahannya
diutarakan dengan tenang dan sama sekali tidak diliputi
perasaan cemas atau kuatir.
Manusia muka seribu atau Toan-hun Kokcu itu sekali lagi
menyeka raut wajahnya, kemudian sambil menengadah

239
katanya. "ong-heng, sekarang engkau tentu merasa puas
bukan ?"
Dari seorang pria setengah baya yang bermuka pucat pias
bagaikan mayat kini ia telah berubah jadi seorang kakek tua
yang berwajah penuh keriput serta nampak kedesa-desaan.
Dalam hati kecilnya Ong Pek Siu menghela napas panjang,
pikirnya.
"Aaaiii manusia hidup dikolong langit memang banyak
terdapat keanehan, siapa yang akan menduga diatas wajah
orang ini bisa memakai topeng kulit manusia yang sedemikian
banyaknya ?" berpikir sampai disini ia segera gelengkan
kepalanya.
"Kokcu, aku percaya wajahmu yang sekarang ini masih
tetap merupakan raut wajah yang bukan sebenarnya "
Manusia muka seribu segera tertawa dingin tiada hentinya.
"He hee hee ong-heng, apakah engkau hendak menguliti
seluruh raut wajahku ?" serunya.
Dari balik sorot matanya memancar keluar serentetan
napsu membunuh yang mengerikan sekali.
Ong Pek Siu segera berpikir didalam hatinya.
"Rupanya kalau sekarang juga aku tidak melakukan bunuh
diri, mungkin sudah tiada kesempatan lagi bagiku untuk
melakukannya ?" Berpikir sampai disini, sengaja ia tertawa
dingin sambil mengejek.
"Bukankah engkau mempunyai julukan sebagai manusia
muka seribu, sekalipun topeng kulit manusia yang kau
kenakan tiada berjumlah seribu lembar, paling banyak sepuluh
lembar, sudah lama aku melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, akan tetapi belum pernah aku mengalami peristiwa
penipuan seperti ini"

240
Nada suaranya sangat tidak sungkan, bahkan kasar dan
keras sekali kedengarannya, jelas dia ada maksud untuk
menggusarkan hati manusia muka seribu itu.
Mendengar ucapan tersebut mula-mula manusia muka
seribu merasa amat gusar sekali, tiba-tiba satu ingatan
berkelebat lewat dalam benaknya, diam-diam ia tertawa dingin
dan berpikir.
"Hmm, berada dihadapanku engkau berani
memperhitungkan sie-poa mu dengan seenak hati, engkau
sudah salah mencari orang."
Meskipun dalam hatinya dia telah mengetahui siasat dari
Ong Pek Siu itu, namun diluaran ia tetap berlagak pilon,
sambil berpura-pura gusar serunya.
"Ong Pek Siu, engkau anggap dirimu pantas untuk
menyaksikan raut wajahku yang sebenarnya?"
Belum habis ia berkata tiba-tiba tangan kanannya diangkat
keatas dengan kecepatan yang luar biasa sekali sehingga
sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Blaaam ... " ditengah benturan keras yang amat
memekakkan telinga, Ong Pek Siu menjerit melengking karena
kesakitan, tubuhnya yang tinggi besar mencelat keudara
kemudian roboh terkapar diatas tanah. Telapak kanannya
tepat sekali menempel diatas ubun-ubunnya jelas dia ada
maksud untuk menghajar ubun-ubun sendiri untuk melakukan
bunuh diri.
Gerakan dari manusia muka seribu ini sangat
menggetarkan hati semua orang yang berada diruangan
tersebut, dalam hati kecil mereka timbullah perasaan bergidik
yang mendirikan bulu roma ditubuh mereka, peristiwa ini
menjadi contoh yang menakutkan bagi orang-orang itu.
Dengan sorot mata yang dingin menyeramkan, manusia
muka seribu memandang sekejap sekeliling tempat itu,

241
kemudian sambil menyeringai seram katanya dengan suara
lantang.
"Ong Pek Siu, engkau anggap pantangan serta peraturan
yang sudah kususun selama ini akan hancur dan musnah
karena perbuatanmu ? Huh Benar-benar manusia tolol yang
tak tahu diri " Setelah tertawa dengan bangga ia berpaling
kearah dua orang mmusia berkerudung merah yang berada
disisinya dan memerintahkan-
"Gusur dia menuju keruang siksa, dan serahkan kepada
ketua ruang siksa"
Dua orang manusia berkerudung merah itu mengiakan dan
segera menggotong tubuh Ong Pek Siu dia dibawa menuju
kedalam gua, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah
lenyap dibalik kabut putih yang amat tebal itu.
Manusia muka seribu itu menengadah dan memandang
sekejap kearah Lo-toa dari Tay-san sam- gi, kemudian
ujarnya.
"Oei Beng Gi menurut anggapanmu mungkinkah Gak In
Ling bakal menemui ajalnya didasar jurang ?"
Pemimpin dari Tay-san sam-gi itu segera maju kedepan
dan menjawab ketakutan.
"Perduli apa dia sudah mati atau masih hidup, tecu rasa
sudah sepantasnya kalau kita selidiki jejaknya . "
"Hmm, perkataanmu memang tepat sekali "sahut manusia
muka seribu sambil mengangga "akan tetapi, bagaimana kalau
seandainya kita temukan bahwa dia belum mati tapi masih
hidup dalam keadaan segar-bugar ? Apa yang harus kita
lakukan ?" oei Beng oi berpikir sebentar, setelah itu jawabnya.
"Tecu rasa sudah sepantasnya kalau kita beri suatu
peringatan kepadanya, agar lain kaii dia tak berani menyatroni
serta menghalangi perkembangan lembah kita "

242
"Hm, pendapat oei-heng memang amat bagus serta
mengagumkan sekali, akan tetapi dengan cara apakah kita
harus memberi peringatan kepadanya sehingga ia menjadi
jera dan tak berani menyatroni serta menghalangi
perkembangan lembah kita ?"
Dalam hati kecilnya diam-diam oei Beng merasa amat
gelisah sekali, bukannya ia tidak berhasil mendapatkan cara
yang baik untuk mengatasi kesulitan tersebut, adalah karena
dia tak dapat berbuat demikian-
Tetapi kecuali itu dia tidak berhasil mendapatkan cara lain
yang lebih baik untuk memberi jawaban kepada kokcu-nya ini
serta menghalangi kekejian serta kesadisan hati manusia
muka seribu.
Sementara ia masih termenung untuk mencari jalan keluar,
manusia muka seribu dengan nada dingin telah berkata
kembali.
"oei-heng, setelah engkau mengetahui bahwa kita harus
memberi peringatan kepada Gak In Ling, tentunya engkau
juga mengetahui bagaimana caranya untuk memberi
peringatan kepadanya ? Nah, apa salahnya kalau engkau
beritahukan cara tersebut kepadaku?" sambil berkata
sepasang biji matanya yang dingin menyeramkan menatap
terus diatas wajah Oei Beng Gi tanpa berkedip. rupanya dari
raut wajah orang itu dia berusaha untuk mencari hal-hal yang
mencurigakan hatinya.
Oei Beng Gi merasakan jantungnya berdebar keras karena
merasa panik bercampur gelisah, ia berusaha keras untuk
menenteramkan perasaan hatinya lalu berkata.
"Menurut pendapat tecu, alangkah baiknya kalau kokcu
menulis sepucuk surat dan mengutus orang untuk
menyampaikan kepada Gak ln Ling, beritahu kepadanya kalau
pada saat ini ibu serta encinya berada ditanganku, kalau ia
berani datang menyatroni lembah kita lagi maka ibu serta

243
encinya akan kita jatuhi hukuman mati, entah bagaimanakah
pendapat dari kokcu ?..."
Manusia muka seribu segera gelengkan kepalanya berulang
kali.
"Bagus sih bagus, tetapi aku merasa cara itu terlalu sepele
dan lagi pula terlalu membuang waktu "
Terjelos hati Oei Beng Gi mendengar perkataan itu, diamdiam
dalam hati kecilnya dia berdoa.
"Oh, Thian Yang Maha Kuasa dan Maha Besar, lindungilah
keselamatan jiwanya "
Meskipun pikirannya memikirkan persoalan lain, di luaran ia
sama sekali tak berani berayal, buru-buru tanyanya.
"Menurut pendapat Kokcu, apa yang harus kita lakukan?"
"Bunub saja Gak In Hong dan perlihatkan mayatnya kepada
Gak In Ling" perintah manusia muka seriba dengan ketus,
"kalau ia berani mencari gara-gara lagi dengan lembah kita
maka cicinya adalah contoh yang paling bagus untuknya."
Begitu mendengar ucapan tersebut tanpa terasa dengan
sekujur badan gemetar keras Oei Beng Gi mundur tiga
langkah kebelakang dengan sempoyongan, perasaan tersebut
merupakan reaksi dari nalurinya yang tak dapat dicegah
dengan cara apapun.
Manusia muka seribu segera menatap wajahnya dengan
pandangan tajam, lalu dengan nada yang menyeramkan ia
menegur.
"oei-heng, apakah engkau merasakan tubuh mu kurang
sehat ?"
Oei Beng Gi gelalap. buru-buru jawabnya.
"oh, tidak tidak tecu hanya takut terhadap Gak In Ling..."

244
"Takut dirinya ? Apa yang kau takuti terhadap dirinya?"
tanya manusia muka seribu keheranan, nada suaranya diliputi
oleh perasaan curiga yang tebal.
"Seandainya dia tahu kalau ibunya telah..."
"Sejak ia berpisah dengan ibu serta encinya, hingga
sekarang masih belum diketahui bagaimanakah nasib kedua
orang itu, apalagi soal mati hidupnya...... oei-heng, engkau
terlalu banyak curiga "
Oei Beng Gi pura-pura menunjukkan senyuman jengahnya
sambil berkata.
"Aaah, tecu benar-benar sangat bodoh, sehingga ketahuan
kokcu jadi geli dan mentertawa kau diriku...."
Diluaran ia berkata demikian, dalam hati diam-diam ia
berdoa.
"Saudara angkatku, maafkanlah daku karena tidak berdaya
untuk melindungi keselamatan dari keponakan perempuanku,
tetapi selama hayat masih dikandung badan aku tidak nanti
mau melepaskan manusia-manusia laknat itu dengan begitu
saja."
Dalam pada itu manusia muka seribu telah bertanya
kembali. "oei-heng, bagaimanakah pendapatmu mengenai
rencanaku ini ?"
"Rencana ini memang bagus dan tegas sekali, tecu bersedia
untuk melakukan perjalanan berangkat kesitu "
Setelah ucapan ini diutarakan keluar, rasa curiga manusia
muka seribu tarhadap dirinya sama sekali lenyap tak berbekas,
ia menggeleng sambil berkata.
"Kecerdasan oei-heng luar biasa sekali dan engkaupun
banyak mempunyai akal, dalam lembah ini tak dapat
kekurangan seorang manusia semacam dirimu, pekerjaan

245
yang melelahkan serta harus menggunakan banyak tenaga
semacam ini biarlah dilakukan oleh orang lain saja "
"Terima kasih atas perhatian serta kasih-sayang dari kokcu,
kalau memang begitu serahkan saja tugas yang sangat berat
ini kepada tecu, akan segera tecu laksanakan sebentar lagi"
Manusia muka seribu segera menepuk bahu Oei Beng Gi
dan berkata.
"Bagaimanapun juga antara engkau dengan dirinya masih
terikat oleh hubungan antara empek dan keponakan, jika
engkau yang turun tangan rasanya kurang begitu tepat,
biarlah tugas ini dilaksanakan olah orang lain saja Aku masih
ada persoalan penting lainnya yang hendak mengajak dirimu
untuk berunding, tunggulah aku dalam ruang dalam, setelah
urusan disini dapat di selesaikan aku akan segera menyusul
dirimu " selesai berkata ia segera mendorong tubuh Oei Beng
Gi kearah depan-Buru-buru kakek tua baju kuning itu memberi
hormat sambil berkata.
"Kokcu, terima kasih atas perhatian serta kasih sayangmu"
habis berkata ia putar badan dan berjalan menuju kearah
dalam gua.
Tatkala ia putar badan itulah dua titik air-mata tak dapat
dibendung lagi mengucur keluar membasahi kelopak matanya,
bibirnya gemetar keras dan perlahan-lahan darah kental
mengalir keluar menodai muka dan tubuhnya.
Kabut putih yang amat tebal menyelimuti daerah
disekeliling tempat itu, meskipun pandangan matanya tak
dapat menembusi pemandangan sejauh lima tombak. akan
tetapi dibalik kabut putih yang tebal itu seakan-akan dia
menyaksikan adik angkatnya sedang berdiri dihadapannya
sambil memandang kearahnya dengan pandangan kegusaran,
seakan-akan ia mendengar adik angkatnya sedang berkata
dengan nada dingin.

246
"Apakah engkau telah melupakan hubungan persaudaraan
diantara kita ? Apakah kau lupa bahwa kita adalah saudara
angkat ?"
Oei Beng Gi menggosok sepasang matanya keras-keras, ia
merasa apa yang terlihat dihadapannya hanyalah kabut putih
yang amat tebal, sama sekali tidak nampak sesuatu apapun,
dengan perasaan hati yang amat tertekan ia gelengkan
kepalanya berulang kali.
"Tidak- tidak akan kulupakan-... selamanya tidak akan
kulupakan akan ikatan tali persaudaraan yang pernah terjalin
diantara kita." gumamnya seorang diri. Setelah menyeka
darah kental yang menodai ujung bibirnya, ia bergumam lebih
jauh.
"Dendam kita dalamnya melebihi samudra luas, rasa benci
kita menumpuk bagaikan sebuah bukit, sam-te Aku harap
sukmamu dialam baka suka mengampuni ji-te, dia telah
mendapatkan pembalasan yang setimpal sesuai dengan apa
yang pernah dilakukannya selama ini, memandang diatas tali
persaudaraan yang pernah terjalin diantara kita, maafkanlan
dirinya dan ampunilah semua kesalahannya."
Kabut tebal berwarna putih masih menyelimuti seluruh
tempat. Tetapi diatas puncak tebing yang tinggi keadaan jauh
lebih tenang dan kabut yang menyelimuti sekeliling tempat
itupunjauh lebih tipis.
Disaat manusia muka seribu telah memberikan perintahnya
kepada Oei Beng Gi jalaan masuk ke dalam gua itu, dari balik
lubang gua yang lain menyelinap keluar sesosok tubuh gadis
lain yang dengan cepatnya bergerak menuju keruang penjara
dimana Gak In Hong disekap.
---ooo0dw0ooo---
Dalam pada itu sejak Gak In Ling mengetahui bahwasanya
ibu serta encinya dikurung di dalam gua batu itu, hatinya jadi
merasa amat kecewa dan putus asa, tapi dendam yang

247
semula membakar, didalam hati kecilayapun seketika padam
dan lenyap tak berbekas.
Terbayang kembali didalam benaknya pemandangan
padadua belas tahun yang lampau, di mana ayahnya
meninggal pada usia muda, ibunya hidup sebatang kara dalam
keadaan yang sangat menderita, suasana pada saat itu benarbenar
menyedihkan sekali.
Setiap kali pemandangan tersebut terbayang kembali dalam
benaknya ia merasa hatinya jadi sedih sekali, karena itulah
setelah mendengar kabar berita yang membuat hati jadi sakit
bagaikan disayat, ia jadi amat gelisah sekali dan ingin cepat
terbang kesisi ibunya dan mati hidup bersama-sama dirinya..
Karena terpengaruh oleh perasaan dan emosinya itulah
membuat sianak muda itu jadi lupa kalau pada saat itu ia
sedang berada dalam suatu tempat yang sangat berbahaya,
dia lupa kalau ada orang sedang mengincar selembar jiwanya
setiap saat.
(Mengenai kisah Gak In Ling secara bagaimana berpisah
dengan ibunya dan kenapa selama dua belas tahun lamanya
berdiam dibenteng oh-liang-poo yang berada digunung
Taysan, akan di kisahkan pada bagian lain-)
Begitulah Gak In Ling segera menjejakkan kakinya dengan
sepenuh tenaga, menurut perkiraannya loncatan tersebut pasti
akan berhasil melampaui jarak sejauh lima tombak lebih lima
depa, tak mungkin enjotan badannya akan melampaui jarak
sejauh enam tombak yang dikatakan merupakan tempat
berbahaya ataupun kurang dari lima tombak.
Tetapi apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali
berada diluar dugaannya, pada saat tubuhnya sudah
melayang diudara itulah ia tidak berhasil melihat daratan
dihadapannya, sementara badannya sedang melayang, diatas
udara yang kosong yang dibawahnya merupakan sebuah
jurang yang tidak nampak dasarnya.

248
Tercekat hati Gak In Ling menyaksikan keadaan tersebut,
buru-buru ia tarik napas panjang panjang, kaki kanannya
dengan cepat menjejak di atas kaki kirinya dan
melambungkan kembali tubuhnya yang sedang meluncur
kearah bawah itu sejauh lima depa lebih, ia berusaha untuk
meluncur maju lebih kearah depan lagi dengan harapan
berhasil menemukan tepi daratan-
Menurut jalan pemikirannya padasaat itu, sekalipun
kesalahan terletak pada dirinya karena salah mengincar
tempat dan jarak yang dilampaui baru mencapai empat
tombak. Sekarang setelah meluncur satu tombak lebih kearah
depan bukan kah berarti jaraknya telah melampaui lima
tombak ?
Perasaan hati Gak In Ling mulai diliputi ketegangan, otak
yang semula penuh diliputi oleh pelbagai pikiran, seka rang
jauh lebih jernih dan terang. Tiba-tiba satu ingatan berkelebat
dalam benak Gak In Ling pikirnya.
"Mungkinkah permukaan kedua belah tebing tidak sama
tingginya ?Jika benar demikian keadaannya mungkin aku telah
melompat terlalu tinggi sehingga tak dapat menyaksikan
pemandangan dibagian bawah, apa salahnya kalau tubuhku
meluncur turun kebawah beberapa tombak lagi ?"
Berpikir sampai disitu, gerakan tubuhnya yang sedang
meluncur kearah depan segera tertahan dan tubuhnya mulai
meluncur turun kebawah.
Satu tombak.... dua tombak tiga tombak... enam tombak....
yang terlihat dibawah tubuhnya hanyalah kabut pUtih yang
tebal, sementara gerakan tubuhnya yang meluncur kebawah
kian lama kian^bertambah cepat.
Mendadak satu ingatan yang menakutkan terlintas dalam
benak Gak In Ling, tetapi sayang kejernihan otaknya itu
didapatkan pada saat yang sudah terlambat, dengan perasaan

249
putus asa Gak In Ling segera menghela napas panjang,
gumamnya.
"Habislah sudah riwayatku, rupanya aku telah tertipu oleh
Ong Pek Siu manusia laknat berhati binatang itu. Nampaknya
dendam berdarah dari keluarga Gak untuk selamanya akan
ikut terkubur bersama hancurnya tubuhku dimakan oleh batu
cadas."
Teringat bahwa dendam sakit hatinya untuk selamanya tak
mungkin dapat dibalas kembali, Gak Ih Ling merasa kecewa
dan putus asa sekali hawa murni dalam tubuhnya segera
buyar dan tubuhnya yang meluncur kebawahpun bergerak
semakin cepat lagi.
Pusaran angin akibat tekanan tenaga yang sangat besar itu
menggulung ujung baju Gak In Ling yang berwarna hitam dan
mengibarkan nya sehingga menimbulkan suara yang amat
nyaring.
Begitu nyaring suara itu membuat suasana ditengah
keheningan yang mencekam diseluruh jagad terasa jauh lebih
menyeramkan-
Benak Gak In Ling pada saat ini kosong melompong tiada
pikiran yang lain, pada detik-detik yang amat singkat itu dia
merasa seakan-akan telah melepaskan banyak beban yang
berada diatas bahunya. Ia merasa seakan-akan bebas
merdeka dan tidak memikirkan persoalan apapun-
Dendam berdarah, sakit hati serta semua perasaan hatinya
seakan-akan ikut lenyap bersama makin cepatnya sang badan
meluncur kebawah, kemudian lenyap tak berbekas mengikuti
hancurnya mencium permukaan tanah.
Pada ujung bibir Gak In ling tersungging satu senyuman
yang hambar, begitu memilukan hati senyumannya itu seakanakan
ia sedang mentertawakan diri sendiri, membuat orang
jadi tak paham dengan perasaan hatinya pada waktu itu.

250
Bulu matanya yang panjang telah menutupi sepasang biji
matanya yang jeli dan bening, titik airmata jatuh berlinang
membasahi pipinya.
Ia sama sekali tidak takut mati, tetapi ia menjumpai
kesulitan yang memaksa ia tak boleh mati, akan tetapi pada
saat dan keadaan seperti ini ia tak dapat menuruti kehendak
hatinya, hanya Malaikat Elmautlah yang akan menentukan
segala-galanya.
Tiba-tiba ia mendengar suara air berkumandang datang
dari arah sebelah bawah, si anak muda itujadi kegirangan
setengah mati, harapan untuk melanjutkan hidupnya segera
muncul kembali dalam hati kecilnya.
Belum lama suara air itu berkumandang masuk kedalam
telinganya, dan sebelum Gak In Ling sempat memikirkan cara
untuk menanggulangi keadaan itu.... pluuuung Tubuhnya
sudah tercebur kedalam air.
Berhubung daya luncurnya teramat besar, maka sesudah
tercebur kedalam air badannya segera tenggelam kedasar
sungai.
Pada masa kecilnya Gak In Ling seringkali bermain air.
Karena itu terhadap air ia sudah merasa tak asing lagi,
menurut penilaiannya paling sedikit pada saat itu ia telah
berada pada kedalaman empat lima tombak dari atas
permukaan-
Perasaan pertama yang terasa olehnya air sungai yang
dingin sekali hingga merasuk ketulang sumsum, kemudian
adalah arus air sungai yang besar sehingga membuat
tubuhnya tidak mampu untuk menguasai diri dan terseret oleh
arus.
Untung tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling sempurna
sekali, meskipun air sungai dingin sekali namun ia sama sekali
tidak kedinginan ataupun menderita.

251
Ketika Gak In Ling munculkan diri diatas permukaaan untuk
pertama kalinya, ia saksikan kabut putih tebal yang
menyelimuti disana telah lenyap tak berbekas, sang surya
memancarkan sinarnya dengan terang dari balik tebing curam,
pada saat itu matahari telah menjelang tiba.
Gak In Ling berusaha keras untuk berenang diatas
permukaan air, dengan pandangan tajam ia memandang
sekeliling tempat itu, yang terlihat hanyalah tebing-tebing
yang curam dan tinggi menjulang ke angkasa, begitu licin dan
tegaknya tebing dikedua belah sisi sungai tadi membuat tak
mampu untuk mendarat dan menuju ketepian. Menyaksikan
kesemuanya itu, Gak In Ling segera berpikir didalam hati
kecilnya.
"Sungai yang mengalir ini dari gunung biasanya akan
berakhir disamudra, tempat ini merupakan tebing-tebing
curam yang jauh terpencil dari keramaian, sekalipun aku naik
keatas paling sedikit harus melakukan perjalanan jauh
sebelum mencapai tempat yang dihuni manusia, apa salahnya
kalau kuikuti saja arus sungai yang amat deras ini untuk
bergerak kedepan."
Setelah mengambil keputusan, maka iapun memutarkan
badannya terseret oleh arus sungai yang amat deras itu dan
bergerak mengikuti aliran sungai tersebut.
Sang surya telah lenyap dari angkasa dan malampun
menjelang tiba, sekeliling sungai itu masih merupakan tebingtebing
yang curam dan tegak-lurus, terpaksa sianak muda itu
membiarkan badannya terseret oleh arus dan bergerak
kedepan ditengah kegelapan seorang diri.
Entah berapa lama sudah lewat, ketika fajar telah
menyingsing kembali diufuk sebelah timur, akhirnya Gak In
Ling berhasil juga keluar dari mulut selat yang bertebing
curam disekelilingnya itu, sekarang ia telah tiba disuatu
daratan rendah yang bertanah datar.

252
Dengan cepat Gak in ling berenang menuju ketepian dan
berhasil mendarat diatas sebuah batu cadas yang besar.
Dengan susah payah Gak In Ling merangkak naik
kedaratan, ia merasakan keempat anggota badannya kaku
dan linu, perutnya lapar dan dahaga sekali, ia tarik napas
panjang-panjang, napsu membunuh memancar keluar dari
balik matanya, lalu gumamnya seorang diri.
"Kalian tidak berhasil membinasakan aku Gak In Ling, mulai
saat ini mungkin dunia persilatan tak akan mendapatkan suatu
hari yang tenang lagi... aku mengobrak-abrik mereka sehingga
semua jahanam itu musnah dari muka bumi." habis berkata
dengan sempoyongan ia berjalan dan meninggalkan tempat
itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang yang
amat merdu sedang berkata.
"Kenapa sih kalian selalu mengurusi diriku, sehingga
membuat orang tak dapat melakukan pekerjaan apapun juga,
tempat ini tokh sepi dan terpencil sekali letaknya, mana
mungkin ada orang mengintip diriku ? Apa salahnya kalau aku
akan mandi didalam sungai ini...ah h, perduli amat pokoknya
aku akan mandi disini" Mendengar ucapan tersebut, tanpa
terasa Gak In Ling berpikir didalam hatinya.
"Merdu sekali suara orang ini, wajahnya pasti cantik-jelita
bagaikan bidadari dari kahyangan-"
Sementara pemuda itu masih berpikir, suara lain yang berat
dan kasar telah berkumandang pula memecahkan kesunyian-
"Leng-cu, engkau adalah seorang yang sangat terhormat
sekali, mana boleh tingkah lakumu sebebas dan sesuka hati
seperti itu, kalau mau mandi mari kita naik burung hong dan
tak lama akan tiba digunung Tiang-pek-san, bukankah jauh
lebih enak mandi ditelaga nirwana daripada mandi di-sungai
yang kotor itu ?"

253
Terkejut hati Gak In Ling mendengar perkataan orang ini,
pikirnya didalam hati.
"jangan- jangan orang itu adalah Yau-ti Gick li gadis suci
dari nirwana yang amat tersohor namanya diseluruh dunia
persilatan itu ?"
"Su-put-siang (empat tidak mirip) " omel suara yang amat
merdu tadi lagi dengan nada keras, "kenapa sih engkau suka
mengurusi orang lain? Ini hari, tak perduli apapun yang terjadi
dan sekalipun aku takkan menjadi leng-cu lagi, aku tetap akan
mandi disungai itu."
Nada suaranya polos dan bersifat kekanak-kanakan,
membuat siapapun tak akan percaya kalau dia adalah gadis
suci dari nirwana yang nama benarnya telah menggemparkan
seluruh dunia persilatan.
orang yang bernama "Empat tidak mirip" itu agaknya takut
sekali kalau melihat Leng-cu- mereka marah, buru-buru ia
berseru.
"Baik, baik biarlah pinni periksa dulu apakah disekeliling
tempat ini ada orang atau tidak- setelah itu engkau baru
mandi "
"Harus cepat" seru Leng-cu itu.
Mendengar pembicaraan tersebut sampai di situ, satu
ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling,
pikirnya.
"Kalau aku tidak munculkan diri pada saat ini juga,
seandainya sampai ketahuan mereka nanti, walaupun ada
alasan aku bakal terbungkam dan tak mampu untuk
membantah barang sekejappun. "
Sebenarnya sianak muda itu tiada bermaksud untuk
bertemu dengan Leng-cu itu, tetapi sebagai seorang pria sejati
yang jujur, ia merasa bagaimanapun juga pada saat ini dia
harus munculkan diri.

254
Maka Gak In Ling pun mendehem dan berjalan keluar dari
balik batu cadas itu, baru saja beberapa langkah ia berjalan
mendadak pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu urat
nadi pad apergelangan kirinya sudah dicekal orang kencangkencang.
Dengan kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, ternyata
ia tak mampu untuk melihat jelas pria atau wanitakah orang
yang mencekal urat nadinya itu, dari sini dapatlah ditarik
kesimpulan bahwasanya tenaga dalam yang dimiliki orang ini
benar-benar luar biasa sekali.
"Keparat cilik, sudah berapa lama engkau menyembunyikan
diri ditempat itu ?" bentak seseorang dengan suara yang
dingin menyeramkan-
Air muka Gak In Ling berubah hebat, ia segera alihkan
sorot matanya memandang kearah orang yang mencekal urat
nadi pada pergelangan tangannya itu, tampaklah orang itu
berusia lima puluh tahunan, alisnya tebal dengan mata yang
jeli, rambutnya digulung menjadi satu dengan sebuah jubah
pendeta melekat ditubuhnya, tasbeh dipegang dalam
genggaman dan sulit bagi orang untuk membedakan apakah
dia seorang pria ataukah wanita, seorang hwesio ataukah
nikou.
Gak In Ling tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan
orang lain, mendapat pertanyaan itu ia segera menjawab
dengan suara tawar. "Aku baru saja berenang disungai dan
naik kedaratan."
"Hei apakah engkau datang kemari untuk mandi ?" tiba-tiba
terdengar serentetan suara yang amat merdu berkumandang
datang. "Dingin kah air sungai itu ?"
Tanpa sadar Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah
mana berasalnya suara tadi, begitu melihat orang tersebut ia
nak muda itu segera berdiri tertegun, pikirnya didalam hati
dengan perasaan tercengang.

255
"Sungguh tak kusangka dikolong langit ternyata terdapat
seorang gadis yang berwajah begini cantiknya."
Ternyata orang yang barusan berbicara tepat berdiri kurang
lebih dua tombak dihadapan pemuda she Gak itu, dia adalah
seorang gadis cantik baju putih yang berusia dua puluh
tahunan, tubuhnya ramping dengan rambut hitam yang terurai
panjang, panca indranya amat sempurna bagaikan lukisan,
benar-benar gadis yang amat cantik bagaikan bidadari yang
baru turun dari kahyangan-
Ketika gadis itu menyaksikan Gak In Ling menatap
kearahnya tanpa berkedip tanpa menjawab pertanyaannya,
dengan nada cemberut kembali serunya.
"Hei, kenapa sih kau ini, Ayo jawab " Meskipun suaranya
merdu merayu dan sedap didengar, namun setara lapat-lapat
terselip nada memerintah yang sukar untuk dibantah.
Buru-buru Gak In Ling tarik kembali sorot matanya dan
menjawab. "Aku bukan datang kemari untuk mandi "
"Lalu ada urusan apa engkau datang kemari ?"
"Kemarin tengah hari aku terjatuh kedalan sungai dan
tubuhku terbawa arus hingga tiba di sini"
Mendengar jawaban tersebut, dari balik mata sang gadis
yang jeli tiba-tiba memancar keluar cahaya yang sangat
tajam.
"Kemarin siang ?" serunya cepat
"Jadi engkau baru saja datang dari lembah pemutus sukma
?"
"Dari mana dia bisa tahu ?" pikir Gak In Ling dengan
perasaan amat terperanjat.
Rupanya gadis cantik itu dapat meraba apa yang sedang
dipikirkan oleh sianak muda itu, segera ujarnya kembali.

256
"Dari sana datang kemari, kebetulan sekali membutuhkan
waktu selama satu hari satu malam lamanya."
Diam-diam Gak In Ling merasa amat kagum sekali atas
kecerdikan gadis cantik itu, dia mengangguk dan menjawab.
"Dugaan Leng-cu memang tepat dan sedikit pun tidak
salah, rasanya akupun tak usah banyak bicara lagi "
Perlahan-lahan gadis cantik berbaju putih itu maju
kedepan, dengan pandangan tajam ditatap nya wajah Gak In
Ling, tiba-tiba nada suaranya berubah jadi dingin dan kaku, ia
berkata.
"Engkau memakai baju warna hitam, pernah menelan pil
penghancur hati cui-sim wan, seandainya dugaanku tidak
salah, semestinya engkau adalah Gak In Ling yang sudah
membuat dunia persilatan jadi tak aman, bukankah begitu ?"
Sekali lagi Gak In ling mengangguk.
"Setelah Leng-cu mengetahui bahwa aku orang she Gak
pernah menelan obat cui sim-wan, tentunya engkau juga
mengetahui bukan ? Masih berapa lama aku dapat hidup
dikolong langit ?"
"Tidak akan melampaui waktu selama setengah tahun
"jawab gadis cantik baju putih itu sambil tertawa tawa. Gak In
Ling tertawa dan mengangguk.
"Leng-cu hebat dan cerdas sekali, persoalan apapun
engkau ketahui dengan begitu jelas, seandainya dugaanku
tidak keliru, maka engkau tentulah gadis suci dari Nirwana
yang dihormati oleh setiap umat persilatan bagaikan bidadari
itu, bukankah demikian?"
"Kalau benar ada apa ?"
"Selamanya gadis suci dari Nirwana menyelesaikan semua
persoalan secara adil dan bijaksana, semua umat persilatan
pada mengetahui akan kebesaran jiwamu itu, andaikata berita
tersebut tidak salah maka aku berharap agar Leng-cu suka

257
melepaskan aku pergi sehingga aku mempunyai kesempatan
lagi untuk melakukan penyelidikan di dalam lembah pemutus
sukma tersebut."
Tatkala mengetahui bahwa Gak In Ling hendak melakukan
penyelidikan kembali ke lembah pemutus sukma, tiba-tiba
perasaan hati gadis suci dari Nirwana itu menjadi berat,
ditatapnya wajah sianak muda itu tajam-tajam kemudian
dengan suara hambar ujarnya.
"Aku dengar orang berkata bahwa engkau adalah seorang
pemuda yang angkuh dan tinggi hati, kenapa kali ini engkau
malah mengajukan permohonan kepadaku?"
Meskipun beberapa kata itu diucapkan dengan begitu
ringan dan biasa akan tetapi bagi pendengaran Gak In Ling
terasa tajam sekali hingga menyayat hati kecilnya, perkataan
itu dianggap sebagai suatu sindiran yang sangat tajam bagi
dirinya. Ia segera tertawa sinis dan menjawab.
"Ilmu silatku tidak mampu untuk menandingi anak buah
Leng-cu, karena itu mau tak mau terpaksa aku harus berbuat
demikian-"
"Hm Apakah engkau tidak merasa perbuatanmu itu
memalukan sekali."
Perlahan-lahan Gak In Ling mengangkat kepalanya
memandang mega putih yang sedang bergerak diangkasa, lalu
tertawa tawa.
"Aku tidak lebih hanya seorang manusia yang terbuang dari
dunia persilatan, apa yang mesti kupikirkan lagi ? Kenapa aku
harus menjaga nama baik atau martabat ?"
Sekalipun jawaban itu diutarakan sambil diiringi senyuman,
akan tetapi tak dapat menutupi kemurungan serta kepedihan
yang terpancar dibalik wajahnya yang tampan-
Meskipun gadis suci dari Nirwana setiap hari sibuk
menyelesaikan pelbagai urusan dan persengketaan dalam

258
dunia persilatan, tetapi disekelilingnya selalu diiringi
pembantu-pembantunya yang amat setia terhadap dirinya dan
selalu memenuhi segala kebutuhannya dengan seksama, lagi
pula sedari kecil ia dibesarkan dalam lingkungan yang serba
agung dan mulia, karena itu, bagi dirinya sama sekali tak
mengenal apa arti kesedihan serta kemurungan bagi seorang
manusia, apa yang dialami selama ini boleh dibilang sama
sekali bertolak belakang dengan kehidupan manusia pada
umumnya.
Sambil membelalakkan sepasang matanya bulat-bulat, lama
sekali ia menatap wajah Gak In Ling dengan sikap tertegun,
tiba-tiba serunya dengan merdu.
"Seandainya aku tidak bersedia untuk melepaskan dirimu ?
Apa yang hendak kau lakukan?"
Serentetan cahaya tajam memancar keluar dari balik mata
Gak In Ling, tetapi tidak lama kemudian telah lenyap tak
berbekas, dan dangan hambar ia menyapu sekejap wajah suci
dari Nirwana, kemudian sambil tertawa jawabnya.
"Antara aku dan Leng-cu tokh tak pernah terikat oleh
dendam ataupun sakit hati, kenapa Leng cu tidak bersedia
untuk melepaskan diriku?"
Manusia aneh yang selama ini mencekal urat nadi pada
pergelangan tangan sianak muda itu, tiba-tiba mendengus
gusar dan berteriak.
"Hm Engkau berani bersikap kasar terhadap Leng-cu kami
?" sambil membentak hawa murninya disalurkan semakin
deras sehingga cekalan pada pergelangan tangan sianak muda
itupun bertambah kencang lagi.
Gak In Ling seketika itu juga merasakan pergelangan
tangan kirinya jadi sakit bagaikan di iris-iris, tetapi dengan
wataknya yang ketus dan angkuh sekalipun merasa kesakitan
namun dahinya sama sekali tak berkedip.

259
Ditatapnya wajah musuh itu dengan pandangan dingin, lalu
ujarnya dengan nada mengejek.
"Kehebatan ilmu silatmu benar-benar sangat
mengagumkan hatiku, engkau memang betul-betul jempolan."
Sementara pembicaraan berlangsung, keringat sebesar
kacang kedelai perlahan-lahan menetes keluar membasahi
jidatnya.
Menyaksikan kesemuanya itu satu ingatan tiba-tiba
berkelebat dalam benak gadis suci dari Nirwana, tanpa sadar
ia berseru. "su Put Siang, lepaskan dirinya "
---ooo0dw0ooo---
Jilid 8
"LENG-CU, orang ini " Su Put Siang si empat tidak mirip
berdiri melongo dengan perasaan cak habis mengerti, ia tidak
paham apa sebabnya sang Leng-cu memerintahkan dirinya
untuk melepaskan orang itu.
"Lepaskan dirinya " kembali gadis suci dari Nirwana
mengulangi kembali kata-katanya.
Terpaksa Empat tidak mirip melepaskan cekalannya,
dengan pandangan termangu- mangu ditatapnya wajah gadis
itu tanpa berkedip. sementara matanya terbelalak dan
mulutnya melongo, seakan-akan ia sedang menjumpai suatu
kejadian yang sangat aneh.
Setelah terlepas dari cekalan lawannya, Gak In Ling segera
melemaskan otot-otot lengannya, kemudian dengan suara
dingin ia menegur. "Leng-cu, apakah engkau tidak menyesal
?"
"Hee hee hee... . Gak In Ling," seru gadis suci dari Nirwana
sambil tertawa dingin. "Apakah engkau mengira dengan
mengandalkan serangkaian permainan telapak mautmu yang

260
tidak komplit itu maka dikolong langit lantas tiada tandingan
lagi ?"
Ditengah keketusan nada suara itu terselip pula nada
menghina dan pandang rendah lawannya.
Gak In Ling sama sekali tidak gusar, mungkin hal ini
disebabkan karena masih ada urusan yang lebih penting lagi
yang harus diselesaikan olehnya dengan cepat, membuat ia
tak mau menggubris semua penghinaan pada saat ini.
"Tidak "jawabnya tawa. "Aku sama sekali tidak mempunyai
perasaan seperti itu, dan lagi akupun tahu bahwa kepandaian
silatku masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan Lengcu"
selesai berkata ia siap berlalu dari sana.
"Engkau hendak pergi kemana ?" tiba-tiba gadis suci dari
Nirwana menegur.
"Lembah pemutus sukma "
"He hee.. . engkau anggap dengan mengandalkan
kepandaian silatmu itu, seluruh lembah tersebut dapat kau
ratakan dengan tanah ?" ejek gadis suci dari Nirwana sambil
tertawa dingin-
"Mungkin." jawab Gak In Ling, dengan sedih ia memandang
sekejap keujung langit, "atau mungkin juga disanalah
merupakan tempat peristirahatanku yang terakhir "
Tanpa berpaling ia segera berlalu dari situ. Tiba-tiba gadis
suci dari Nirwana merasakan hatinya bergetar keras, dengan
cepat ia menghadang jalan pergi sianak muda itu.
"Seandainya aku tidak mengijinkan dirimu untuk tinggalkan
lembah ini ?" serunya.
"Aku rasa Leng-cu bukanlah seorang manusia yang plintplant
serta menjilat ludah yang telah dilontarkan sendiri bukan
?"
"Siapa tahu kalau kali ini merupakan pengecualian ?"

261
Hawa amarah dengan cepat berkobar menyelimuti seluruh
wajahnya, setelah harus bersabar dan bersabar terus lama
kelamaan Gak In Ling tak kuat juga untuk menahan dirinya, ia
segera mengambil keputusan untuk mengadu jiwa dengan
lawannya. Ditatapnya gadis itu dengan marah, lalu tegurnya
ketus.
"Boleh saja kalau engkau hendak menahan diriku, tapi
engkaupun harus memperlihatkan dahulu sampai dimanakah
kepandaian silat yang kau miliki ? Mampukah engkau untuk
membinasakan diriku disini ?"
"Huh Apa sulitnya untuk membinasakan dirimu?" teriak Su
Put Siang dengan kasar. "Keparat cilik, bersiap-siaplah untuk
menghadapi seranganku " Sambil berkata ia bersiap sedia
untuk melancarkan serangan-
Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang datang dua buah
bentakan yang amat keras. "Tunggu sebentar " suara ini
berasal dari gadis suci dari Nirwana.
"Gak In Ling" bentakan kedua bernada berat dan berasal
dari sisi kanan lembah tersebut. Mendengar bentakan itu Gak
In Ling berpaling kearah mana berasalnya suara itu,
kemudian berseru tertahan dan tubuhnya secara beruntun
mundur tiga- empat langkah kebelakang dengan
sempoyongan-"Aaaah "
Kiranya dari balik batu cadas yang berserakan disamping
kanan lembah itu muncullah empat orang manusia
berkerudung merah, tanpa dipikir lebih jauh lagi dapat
diketahui bahwa mereka berasal dari lembah pemutus sukma.
Gak In Ling kaget bukan lantaran jeri terhadap mereka,
melainkan mayat gadis yang berada dalam bopongan salah
seorang manusia berkerudung merah yang berada disebelah
kanan yang membuat dirinya tercekat.

262
"Gak In Ling " terdengar orang itu berseru "Terimalah
kembali tubuh cicimu "
Air muka Gak In Ling berubah hebat, sepasang matanya
yang tajam berubah jadi merah membara, napsu membunuhperlahan-
lahan menyelimuti seluruh wajahnya.
Dendam sedalam lautan, benci setinggi bukit, bagaikan
tanggul sungai Huanghoo yang jebol dengan cepatnya
menerjang dan menghantam hati sanubarinya, membuat
pemuda itu hanya teringat akan bunuh... akan darah.....
Sepasang matanya yang memancarkan cahaya seram dan
menggidihkan hati itu meratap tajam wajah keempat orang
itu, selangkah demi selangkah didekatinya musuh-musuh yang
berkerudung merah itu dengan garang, keadaannya pada saat
itu tak ubahnya bagaikan binatang liar yang siap menerkam
serta mencabik-cabik tubuh korbannya.
Dari balik pandangan mata Gak In Ling yang kaku terselip
cahaya yang menggidikkan, dengan termangu- mangu ia
menatap wajah ke empat orang manusia berkerudung merah
yang sedang mendekati kearahnya itu, ditinjau dari keadaan
bisa ditarik kesimpulan bahwa perasaan hatinya pada saat itu
sedang kalut sekali.
Dalam kenyataan memang demikian keadaannya, sebab
dari dandanan serta potongan badan orang-orang itu, ia
sudah tahu kalau mereka berasal dari lembah pemutus sukma,
ditempat itulah ibu serta encinya disekap.
Gadis suci dari Nirwana dengan cepat melemparkan sebuah
kerlingan mata kearah Su-put-siang kemudian secara diamdiam
mengundurkan diri kearah samping, gadis yang memiliki
kecerdasan luar biasa ini telah menduga bakal terjadinya
suatu peristiwa yang luar biasa ditempat itu.
Tampaklah sepasang bijimatanya yang jeli memancarkan
sinar mata yang sukar diartikan menatap tajam wajah Gak In
Ling, la tidak memperlihatkan sikap prihatinnya karena bakal

263
terjadi bencana, pun tidak menunjukkan gembira karena akan
berlangsungnya suatu kejadian besar ditempat itu.
Dalam sekejap mata keempat orang manusia berkerudung
merah itu sudah berada kurang lebih lima depa dihadapan Gak
In Ling, empat orang, delapan buah sorot mata yang
menggidikkan bersama-sama ditujukan keatas wajah Gak In
Ling, seakan-akan mereka hendak mencari suatu gejala yang
aneh diantara wajahnya yang tampan dan kaku itu.
Gak In Ling sendiri sama sekali tidak merasakan sesuatu
atas tingkah laku dari lawannya, karena pada saat itu seluruh
perhatiannya sedang ditujukan kearah mayat gadis muda yang
berada dalam bopongan manusia berkerudung merah yang
berada disebelah kanan itu.
Tampaklah raut wajah gadis itu ditutup oleh secarik kain
berwarna hijau, tangan kirinya menekan diatas bibirnya dan
noda darah yang telah membeku menutupi celah-celah jari
diatas tangannya, rambut yang hitam terurai dalam keadaan
yang kalut, keadaannya nampak mengerikan sekali.
Empat manusia berkerudung merah itu menghentikan
tubuh mereka kurang lebih tiga depa di hadapan Gak In Ling,
sikap mereka sedikitpun tidak memperlihatkan rasa gentar
ataupun takut, jelas mereka sama sekali tak pandang sebelah
matapun terhadap sianak muda itu.
Su-put-siang yang menyaksikan hal itu segera mendengus
dingin, tentu saja perbuatannya ini bukan disebabkan karena
ia gusar terhadap sikap orang-orang itu terhadap Gak In Ling,
sebaliknya ia mendongkol sekali karena keempat orang
manusia berkerudung merah itu sama sekali tidak menggubris
Leng-cu-nya.
Mendengar dengusan tersebut, keempat orang manusia
berkerudung merah itu bersama-sama alihkan sinar matanya,
dengan cepat mereka berdiri tertegun dan ingatan yang sama
terlintas dalam benak mereka.

264
"Aaah sungguh cantik jelita wajah gadis ini, mungkinkah
dia adalah bidadari yang baru turun dari kahyangan ?"
Gemar akan segala yang indah adalah watak setiap
manusia pada umumnya, sorot mata mereka berempat
dengan cepat terhisap oleh kecantikan wajah dara baju putih
itu, dan tanpa sadar hampir bersamaan waktunya mereka
menegur secara berbareng. "Siapakah engkau ?"
Gadis suci dari Nirwana mendengus dingin, ia mencibirkan
bibirnya yang kecil mungil dan menjawab.
"Kalian tak usah menduga siapakah aku, lebih baik cepatcopatlah
menyelesaikan pekerjaan kalian, sebab bila kalian
sudah tahu siapa aku, mungkin pekerjaan kalian akan
terbengkalai sebab kalian akan segera kehilangan daya
kekuatan untuk melaksanakan tugas tersebut"
Walaupun nada suaranya merdu dan enak didengar, tetapi
mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali bagi yang
mendengar.
Keempat orang manusia berkerudung merah itu adalah
jago-jago yang diandaikan oleh pihak lembah pemutus sukma
untuk melaksanakan tugas baik kepandaian silat yang mereka
miliki maupun pengalaman dalam dunia persilatan boleh
dibilang termasuk jagoan kelas satu dikolong langit, akan
tetapi setelah mendengar perkataan itu, seolah-olah
terpengaruh oleh sesuatu kekuatan yang tak terwujud
ternyata tak seorangpun yang berani membantah.
Buru-buru mereka alihkan kembali sorot matanya kearah
wajah Gak In Ling, kemudian terdengarlah suara orang yang
membopong mayat gadis itu berseru sambil tertawa dingin.
"Gak In Ling, tahukah engkau kami datang kemari untuk
mencari siapa ?"
Sepasang mata Gak In Ling masih menatap diatas tubuh
mayat gadis itu tanpa berkedip. jawabnya dengan kaku.

265
"Semoga saja engkau bukan datang kemari untuk mencari
diriku "
orang yang berada disebelah kiri dengan suaranya yang
serak segera tertawa mengejek, serunya sinis.
"Hee hee hee apakah engkau sudah menyadari bahwa
kepandaian silatmu masih bukan tandingan kami ?"
Mendengar ejekan tersebut, dengan cepat Gak In Ling
menengadah keatas, dari balik sepasang matanya tiba-tiba
memancar keluar sinar mata yang mengerikan seka perlahanlahan
ia sapu wajah keempat orang manusia berkerudung
merah.
Tatkala sorot mata mereka saling beradu satu sama
lainnya, tanpa sadar keempat orang manusia berkerudung
merah itu bersama-sama mundur dua langkah kebelakang.
"Huh Dengan andaikan kekuatan kalian ?" seru Gak In Ling
dengan nada seram. "Sepuluh orang seperti kalianpun masih
bukan tandinganku."
Empat orang dayang cantik baju putih yang berada
dibelakang gadis suci dari Nirwana tanpa terasa bersamasama
alihkan sinar matanya kearah Leng-cu mereka sesudah
mendengar ucapan sang pemuda yang amat sombong itu,
rupanya mereka hendak melihat reaksi dari Leng-cu mereka
untuk membuktikan ucapan pemuda itu.
Su-put-siang adalah seorang manusia yang amat
berangasan, ia segera mendengus dingin dan bergumam.
"Hmm bocah ingusan yang tidak tahu diri..."
Sebaliknya gadis suci dari Nirwana memperlihatkan
serentetan cahaya mata yang sangat aneh katanya dengan
suara mendalam.

266
"Dia bukanlah seorang manusia yang tekebur,
kemungkinan besar apa yang diucapkan olehnya sedikitpun
tidak salah "
"Leng-cu, engkau tokh baru saja bertemu dengan dia,
darima na engkau tahu kalau ucapan-nya bukan tekebur ?"
bantah Su-put-siang tidak puas.
Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, lalu balik
bertanya dengan nada dingin. "Jadi engkau tidak percaya ?"
Mimpipun Su-put-siang tidak menyangka kalau Leng-cu-nya
yang cantik jelita dan dihari biasa itu selalu nampak lincah, ini
hari bisa berubah jadi berangasan. Mendengar perkataan itu ia
jadi amat terperanjat sekali, sambil memberi hormat buruburu
jawabnya. "Budak tua tidak berani"
Sementara dalam hati kecilnya diam-diam ia berpikir.
"Kemurungan dan kesedihan yang diderita oleh bocah cilik
itu rupanya merupakan penyakit menular yang amat jahat,
sehingga Leng cu ikut ketularan-"
Dalam pada itu lelaki berkerudung merah yang berada
disebelah kanan telah menyadari akan sikap mereka berempat
yang memalukan, dari jengah ia menjadi gusar dan segera
berteriak keras,
"Bangsat, kau tak usah tekebur lebih dulu, kalau memang
punya kepandaian ayolah silahkan untuk turun tangan "
Gak In Ling segera maju selangkah kedepan, hardiknya
ketus. "Jadi kau ingin mencoba ?"
Nada suaranya amat dingin bagaikan angin dingin yang
menghembus keluar dan kutub utara membuat bulu kuduk
semua orang pada bangun berdiri.
Sekali lagi keempat orang manusia berkerudung merah itu
melompat mundur dua langkah kebelakang terpengaruh oleh
kesadisan serta kekuatan sikap pemuda Gak In Ling, sekalipun

267
mereka tidak bersedia untuk melakukan hal itu, tetapi dalam
hati kecilnya secara otomatis memperlihatkan reaksinya dan
gerakan selanjutnyapun tidak dapat dibendung lagi.
Dari balik mata manusia berkerudung merah yang berada
disebelah kanan tiba-tiba memancar cahaya yang sadis sekali,
tangan kirinya membopong mayat gadis tersebut sedangkan
tangan kanannya laksana kilat menyingkap kain kerudung
hijau yang menutupi wajah mayat itu, bentaknya kembali
dengan nada dingin.
"Keparat cilik, coba kau lihat dulu siapakah dia, setelah itu
barulah bicara secara tekebur "
Selembar wajah yang cantik dan putih bersih mengikuti
terbukanya kain kerudung hijau itu segera tertera dengan
amatjelasnya dihadapan Gak In Ling.
Diam-diam sianak muda itu merasakan hati nya bergidik
sekali sehiagga tak dapat dikuasai lagi ia mundur tiga langkah
ke belakang, wajahnya yang tampan dan memancarkan
cahaya kemerah-merahan itu seketika berubah jadi pucat pias
bagaikan mayat, dia merasakan bagaikan ada beribu-ribu
batang anak panah beracun yang secara tiba-tiba menusuk
serta menembusi uluhati dan jantungnya.
Ternyata raut wajah dari mayat itu persis seperti raut
mukanya, atau dengan perkataan lain kemungkinan besar dia
adalah saudara Gak ln Ling sendiri.
Menyaksikan reaksi dari Gak In Ling, perasaan tidak tenang
yang semula menyelimuti perasaan keempat manusia
berkerudung merah itu segera pulih kembali dalam
ketenangan, hawa amarah dan sikap angkuhpun muncul
kembali dalam hati kecil mereka.
Tampak manusia berkerudung merah yang membopong
mayat gadis itu menatap wajah Gak In Ling beberapa saat
lamanya, kemudian sambil tertawa seram tanyanya dengan

268
nada mengejek. "He... he... Gak In Ling, kenalkah kau dengan
gadis ini ?"
Sejak menyaksikan raut wajah dari mayat gadis itu, Gak In
Ling telah merasakan seolah-olah sukmanya melayang
meninggalkan raganya, mendapat pertanyaan itu dengan kaku
ia menggeleng. "Aku tidak kenal "
"Tidak kenal? Aku lihat raut wajahmu telah berubah sangat
hebat sekali.... apakah kau merasakan sesuatu yang tidak
beres dengan mayat gadis ini ?"
"Benar, karena dia terlalu mirip dengan wajahku" kembali
Gak In Ling menjawab dengan kaku.
Manusia berkerudung merah yang berada di samping kiri
segera tertawa dingin dan mengejek.
"He.... he.. . he.,.. aku dengar katanya kau mempunyai
seorang enci, benarkah itu ?"
Air muka Gak In Ling berubah semakin hebat, suatu firasat
jelek terlintas didalam benak dan menyelimuti seluruh pikiran
dan perasaannya, ia tarik napas panjang-panjang, dengan
perasaan hati yang sedih diam-diam pemuda itu berdoa.
"oh, Thian.... kini keluarga Gak kami hanya tinggal tiga
orang. Gak In Ling mohon kepadamu ya, Thian, ampunilah
mereka dan lepaskanlah, mereka dari segala penderitaan-"
Gak ln Ling meskipun tidak mengutarakan semua isi
hatinya, tetapi ditinjau dari permohonannya yang mendekati
setengah merengek, dan muncul dari mulut seorang pemuda
yang angkuh dan tinggi hati, bisa ditarik kesimpulan betapa
murung dan ngerinya sianak muda itu dalam menghadapi
kenyataan dihadapan matanya.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak gadis suci
dari Nirwana, gadis yang cerdik melebihi orang lain ini rupanya
telah dapat menduga apa yang sedang terjadi dihadapannya
pada saat ini.

269
Sementara itu Gak In Ling telah menarik napas panjang,
dengan suara berat jawabnya.
"Ssdikitpun tidak salah, aku memang mempunyai seorang
enci dan sekarang bersama ibuku disekap dalam lembak
pemutus sukma."
"Nah, kalau begitu ketahuilah kami datang dari lembah
pemutus sukma." sambung manusia berkerudung merah yang
lainnya sambil tertawa dingin.
Sorot mata yang seram dan menggidikkan hati terpancar
keluar dari balik mata Gak In Ling, dengan perasaan cemas
buru-buru ia berseru.
"Aku percaya bahwa kalian tak akan turun tangan sekeji ini
terhadap mereka, bukankah begitu ? Perbuatan semacam ini
bukanlah perbuatan gagah dari seorang enghiong seorang pria
sejati, kalian tokh manusia-manusia yang punya nama dalam
dunia persilatan, tidak mungkin-.."
"Selamanya tindakan yang diambil lembah pemutus sukma
adalah tindakan keji serta bertujuan untuk mencapai apa yang
diharapkan, sekalipun perbuatan yang kami lakukan
melanggar dari kebiasaan seorang enghiong." tukas manusia
berkerudung merah disamping kanan sambil tertawa dingin.
"Gak In Ling, kau tidak seharusnya memasuki lembah kami
serta mengacau ketenteraman lembah, ini..., ketahuilah, siapa
berani membuat keonaran di lembah kami maka dia menerima
pembalasan yang setimpal dengan perbuatannya itu."
Suaranya seram dan mengerikan, seakan-akan mereka
hendak menyiksa Gak In Ling dengan kata-kata itu sehingga ia
lebih menderita.
Air muka Gak In Ling yang pucat mulai berubah jadi merah,
mengikuti berlalunya kesunyian yang mencekam disekitar
tempat itu, wajahnya kian lama kian bertambah merah, dan

270
akhirnya wajah pemuda itu berubah jadi marah padam
bagaikan darah.
Sorot matanya yang semula nampak lemah dan mohon
belas kasihan, kini telah lanyap tidak berbekas, sebagai
gantinya terpancarlah keluar dari balik matanya api dendam
yang tiada taranya serta napsu membunuh yang berkobarkobar.
Gadis suci dari Nirwana yang berada disamping kalangan,
mengawasi gerak-gerik Gak In Ling dengan seksama, tatkala
dilihatnya sianak muda itu terpengaruh oleh emosi hatinya,
dalam hati segera ia berpikir.
"Engkau begitu terpengaruh oleh emosi, perbuatanmu
dapat menghancurkan serta memusnahkan diri sendiri.
Kenapa sih kau brgitu tidak kenal bagaimana cara untuk
menyayangi diri sendiri ?"
Gadis itu tak tahu apa sebabnya ia harus memikirkan
tentang persoalan itu, dan dia sendiripun tak tahu kenapa
dirinya begitu menaruh perhatian terhadap pemuda itu.
Dalam pada itu Gak In Ling meskipun sembilan puluh lima
persen telah menduga siapakah mayat gadis itu, akan tetapi ia
masih tetap mengharapkan suatu kekeliruan, dengan kepala
tertunduk segera ujarnya. "Aku percaya bahwa dia bukanlah
enciku"
Keempat orang manusia berkerudung merah itu segera
tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu,
gelak tertawa keempat orang itu sangat keras hingga
menggetarkan seluruh lembah itu.
Pantulan-suara tertawa mereka seakan-akan martil yang
beratnya mencapai ribuan kati, satu demi satu menghantam
dada Gak In Ling membuat perasaan hatinya hancur dan
remuk- redam,

271
Tak kuasa lagi Gak In Ling menutupi sepasang telinganya
dengan telapak tangan, kemudian bentaknya dengan keras.
"Berhenti Apa yang perlu kalian tertawakan?"
Suaranya amat keras bagaikan guntur yang membelah
bumi membuat hati orang bergetar keras.
Keempat orang itu segera menghentikan gelak tertawanya,
sambil menuding kearah mayat gadis itu teriak mereka
dengan suara lantang. "Orang ini bukan lain adalah encimu "
Satu-satunya harapan yang tersembunyi di balik hatinya
kini pudar dan lenyap bersamaan dengan meluncurnya katakata
tersebut, tiga orang keluarga Gak yang masih tersisa
dikolong langit kini telah berkurang seorang lagi.
Dendam sakit hati sedalam lautan, rasa benci setinggi
langit dan kobaran api marah yang tiada taranya menyelimuti
seluruh badan Gak In Ling, membuat peredaran darah dalam
nadinya bergerak semakin cepat, ia merasakan seluruh
darahnya mendidih.
Dengan cepat Gak In Ling menengadah ke- atas, dengan
sepasang matanya yang merah berapi-api menatap kearah
empat orang manusia berkerudung merah itu dengan penuh
kebencian, hal ini membuat musuh-musuhnya mundur empatlima
langkah kebelakang dengan ketakutan-
Dalam beberapa menit yang amat singkat Gak In Ling telah
berubah, ia tidak mirip sebagai seorang manusia lagi. Tapi
lebih menyerupai malaikat bengis yang baru turun dari langit.
Perlahan-lahan Gak In Ling melangkahkan kakinya yang
berat berjalan mendekati kearah ke empat orang itu, dengan
suara yang menyeramkan ia berteriak.
"Seorang dari keluarga Gak mati, maka aku Gak In Ling
akan menebusnya dengan seratus lembar jiwa orang
persilatan^ kalian-.. kalian adalah rombongan yang pertama "

272
Gadis suci dari Nirwaisa yang menyaksikan hal itu kembali
berpikir didalam hatinya.
"Rangsangan serta tekanan bathin yang diterimanya pada
saat ini mungkin akan menutupi ke sadaran serta perasaan
baik dalam hati kecilnya, apa yang harus kulakukan pada saat
ini ?"
Mengikuti jalannya pikiran tersebut, tanpa terasa selangkah
demi selangkah ia berjalan mendekati sianak muda itu
Sementara itu empat orang manusia berkerudung merah
itu mundur terus kebelakang mengikuti semakin majunya Gak
In Ling mendekati kearahnya, tak seorangpun diantara
mereka yang memperlihatkan gerakan hendak melakukan
perlawanan. Tiba-tiba Gak In Ling membentak dengan suara
keras. "Lepaskan dia "
uaranya keras bagaikan halilintar, di tengah keseraman
terselip pula wibawa yang besar.
Manusia berkerudung merah yang membopong mayat
gadis itu tak dapat mengusahakan diri dan segera bongkokkan
badan serta meletakkan mayat tersebut diatas tanah.
Gak In Ling menyapu sekejap mayat cicinya, perlahanlahan
ia membengkok dan membelai rambutnya yang
panjang, air matajatuh berlinang membasahi pipinya.
Dengan tangan yang gemetar keras ia mencekal telapak
tangan enciaya Gak In Hong yang menempel diatas bibirnya,
belum sempat ia menarik turun telapak tangan itu, tiba-tiba
terdengar salah seorang diantara manusia berkerudung merah
itu berseru dengan nada lantang.
"Gak In Ling, inilah peringatan yang diberikan Iembah
pemutus sukma kami terhadap dirimu, jikalau engkau punya
nyali untuk menyatroni lembah kami lagi, maka ibumu akan
tiba gilirannya untuk dibunuh nah, tugasku telah selesai dan
kamipun harus segera tinggalkan tempat ini "

273
Keempat orang itu bersuit nyaring, dengan gerakan tubuh
yang cepat mereka berkelebat menuju kearah jalan semula.
Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan tersebut,
tangannya yang menggenggam telapak encinya gemetar
semakin keras, air mata jatuh berlinang semakin deras, demi
keselamatan ibunya ia memang tidak mempunyai keberanian
untuk menyatroni lembah pemutus sukma lagi.
Perlahan-lahan ia menarik telapak tangan encinya dan
menurunkan dari atas bibirnya,
tiba-tiba...
Diantara pandangan matanya yang kabur, ia menemukan
beberapa huruf darah yang rupanya diukir diatas telapaknya
dengan menggunakan pisau, rupanya tulisan itu sengaja
ditinggaikan oleh Gak In Hong sesaat sebelum menemui
ajalnya.
Dengan cepat Gak In Ling menyeka air mata yang
membasahi pipinya, kemudian memeriksa tulisan itu dengan
seksama, terbacalah tulisan darah diatas telapak tangan
encinya itu berbunyi demikian-
"ibu mati dibenteng Hui-in-cai. Enci mati dilembah Toanhun-
kok."
Walaupun hanya beberapa patah tulisan yang amat
singkat, akan tetapi seluruh harapan Gak In Ling telah ikut
musnah dengan terbacanya beberapa tulisan kecil itu.
Pada waktu itulah tiba-tiba terdengar dua kali bentakan
gusar berkumandang datang dari kejauhan-
"Kalian berempat jangan harap bisa tinggalkan tempat ini
dalam keadaan hidup"
Sementara itu keempat manusia berkerudung merah itu
sudah berada sepuluh tombak lebih dan tempat semula,
mendengar bentakan itu mereka segera menghentikan

274
langkah kakinya dan alihkan sorot matanya kearah mana
berasalnya suara itu, dan dengan cepatnya pula mereka
berdiri tertegun ditempat itu.
Terdengar manusia berkerudung yang berada disebelah
kanan mendengus dingin lalu berkata.
"Hmm, aku kira siapa yang telah datang, tak tahunya
adalah kalian, manusia sesat dari selatan serta manusia aneh
dari utara, apakah kalian yakin bahwa dengan kekuatan kalian
berdua mampu untuk menahan kepergian kami berempat?"
nada suaranya amat sombong dan sama sekali tidak
memandang sebelah matapun terhadap lawannya.
Gadis suci dari Nirwana sendiri segera alihkan sorot
matanya sesudah mendengar orang yang baru datang bukan
lain adalah manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari
utara yang selama ini menggetarkan sungai telaga.
Tampaklah kurang lebih lima tombak dihadapan empat
manusia berkerudung merah itu berdirilah dua orang manusia
aneh yang berdandan sangat aneh sekali dengan sorot mata
yang tajam serta wajah memancarkan hawa gusar yang amat
tebal.
Manusia berambut putih yang berada disebelah kiri adalah
manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu, sedangkan manusia
bercambang dan bermata besar yang ada disebelah kanan
adalah manusia aneh dari utara Lui Beng Wan-
Diantara kedua orang itu, manusia aneh dari utara Lui Beng
Wan memiliki watak yang berangasan sekali, mendengar
perkataan itu ia segera tertawa seram sambil berkata.
"Haa..... haa...... haa kami tidak mampu untuk menahan
kalian beberapa orang? Benar-benar suatu lelucon yang sama
sekali tidak menggeIikan "
Terkesiap hati manusia berkerudung merah yang ada
disebelah kiri, pikirnya didalam hati.

275
"Ah jangan- jangan mereka telah melepaskan diri dari pihak
banteng IHui-in-cay "
Meskipun dalam hati berpikir demikian, di luaran ia tak mau
kalah dengan begitu saja, sambil tertawa dingin segera
serunya kembali.
"Hm, jangan lupa kalian adalah termasuk golongan mana ?
Kalau bicara mengenai tingkat kedudukan mungkin kami
berempat masih jauh berada diatas kedudukan kalian berdua."
Diatas raut wajah manusia sesat dari selatan oei Hoa Yo
yang penuh berkeriput seketika muncullah delapan buah jalur
yang sukar ditemukan dengan pandangan mata biasa, tak
usah diragukan lagi ucapan dari manusia berkerudung merah
itu telah mendatangkan pelbagai perubahan dalam hati
kecilnya.
Manusia aneh dari utara Lui Beng Wan sama sekali tidak
mau menggubris ucapan dari lawannya, dengan penuh
kegusaran kembali ia berseru lantang.
"Mari mari..... jangan menggonggong terus disitu
menyerupai anjing gila, kalau aku tak mampu untuk
membinasakan kalian keempat ekor anjing dalam lima puluh
gebrakan, aku akan mengorok leherku sendiri dihadapan
kalian-.." sambil berkata dengan langkah lebar ia segera
berjalan mendekati lawannya.
Berbicara tentang kepandaian silat, walaupun keempat
orang manusia berkerudung merah itu termasuk jago-jago
lihay kelas satu dalam dunia persilatan, tetapi kalau dikatakan
mereka berani menandingi kemampuan dari manusia sesat
dari selatan serta manusia aneh dari utara dua orang tokoh
sakti dalam dunia persilatan ini, boleh dibilang diantara
mereka masih terpaut selisih yang amat besar.
Ditinjau dari perkataan manusia aneh dari utara Lui Beng
Wan baru-baru ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa napsu
membunuh yang berkobar didalam hati kecil jago tua itu

276
sudah tak dapat dihindarkan lagi, takut mati adalah ciri khas
setiap manusia, tanpa sadar dengan perasaan bergidik
keempat orang manusia berkerudung merah itu mulai
menggerakkan tubuhnya mundur ke belakang.
"Kalian jangan lupa," teriak manusia berkerudung merah
yang berada disebelah kanan dengan gusar, "benteng Hui-incay
letaknya berada dibawah kedudukan lembah Toan-bunkok,
jika..."
Agaknya pada waktu itu manusia sesat dari selatan oei Hoa
Yu telah mengambil keputusan terakhir, sebelum orang itu
sempat menyelesaikan kata-katanya dia telah menukas lebih
dahulu.
"Sebelum kami berdua datang kemari telah kami
pertimbangkan resiko serta akibat-akibatnya, sekalipun kami
berdua selamanya melakukan pekerjaan dengan
mempertimbangkan baik buruknya lebih dahulu, akan
tindakan kami pada saat ini merupakan pengecualian-.. kami
ingin bertanya kepadamu, sebenarnya dendam sakit hati
apakah yang sudah terikat antara keluarga Gak dengan
lembah pemutus sukma kalian ? Kenapa kalian celakai ibu Gak
In Ling lebih dahulu kemudian encinya. Asal kalian masih
mempunyai perabaan perikemanusiaan, tidak nanti akan
melakukan perbuatan terkutuk semacam ini, hmh Terhadap
manusia keji yang tak kenal prikemanusiaan seperti kalian ini,
kenapa kami harus berlaku sungkan dan melepaskan kalian
pergi dalam keadaan hidup ?"
Makin berbicara dia semakin gusar, sepasang matanya
dengan memancarkan napsu membunuh yang amat tebal
dengan penuh kebencian menyapu keempat orang itu, setelah
berhenti sebentar ujarnya kembali dengan nada suara yang
menyeramkan.
"Ini hari kalian tak usah banyak bicara lagi, sejak kini
manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara telah

277
bebas merdeka tanpa terikat oleh siapapun, kalau kalian
merasa punya kepandaian keluarkanlah semuanya "
Gadis suci dari Nirwana yang selama ini membungkam
terus hatinya merasa tergetar keras sesudah mendengar
ucapan itu, diam-diam pikirnya didalam hati.
"oh, apa yang telah terjadi ? Tempo dulu apakah gerakgerik
manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara
itu berada dibawah perintah orang? Dikolong langit dewasa ini
siapakah yang mampu untuk menundukkan serta memerintah
kedua orang gembong iblis tersebut? Ataukah mungkin
ketenangan yang menyelimuti dunia persilatan selama ini
hanya diluaran saja yang damai? Padahal yang sebenarnya
sudah terjadi pergolakan yang amat besar?"
Pelbagai masalah yang mencurigakan hati ini dengan cepat
memenuhi benak gadis aneh yang berotak cerdas ini.
Sementara itu keempat orang manusia berkerudung merah
itu sama sekali tidak menyangka kalau persoalan itu bakal
berlangsung hingga mencapai keadaan yang sama sekali tak
terduga seperti ini, untuk beberapa saat lamanya mereka
kehilangan daya upaya untuk mengatasi persoalan yang
sedang dihadapinya kini.
Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara
selangkah demi selangkah maju ke arah depan, Malaikat
Elmautpun semakin lama semakin mendekati keempat orang
itu, mereka walaupun telah menghimpun segenap kekuatan
yang dimilikinya untuk melakukan perlawanan yang terakhir,
tetapi perasaan percaya pada diri sendiri telah lenyap dari
dalam hati mereka, dibalik sorot matanya terpancarlah
perasaan kuatir, tidak tenang dan ngeri.
Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang
datang suara seruan seseorang dengan nada yang
menyeramkan.

278
"Hutang ada pemiliknya, siapa yang berhutang dia harus
membayarnya, kalian berdua tidak usah mencampuri urusan
ini"
Dari nada suara orang ini dengan cepat manusia sesat dari
selatan serta manusia aneh dari utara telah mengetahui
siapakah orang tersebut dengan perasaan tercekat mereka
segera menghentikan langkahnya, empat buah sorot mata
yang memancarkan perasaan simpatik danpenuh kuatir
hampir bersamaan waktunya sama-sama dialihkan keatas
wajah Gak In Ling.
Mereka berdua telah merasakan bahwa pemuda yang
pemurung ini telah berubah, berubah jadi semakin murung
dan semakin sadis, pada saat itu wajahnya yang semula
memerah kini sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,
kelopak matanya masih basah oleh air mata, namun sorot
matanya penuh mengandung perasaan dendam, pembunuhan
terhadap keluarganya telah membuat pemuda itu mengalami
tekanan bath in yang amat hebat, membuat perangai serta
wataknya, sama sekali berubah.
"Majikan muda," terdengar manusia aneh dari selatan Lui
Beng Wan buka suara serta menegur, "yang sudah lewat
biarkanlah lewat, kau adalah satu-satunya anggauta keluarga
Gak yang masih hidup, dahulu budak sekalian tak berani
memberitahukan jejak musuh yang sebenarnya kepadamu
karena kuatir mendatangkan bencana yang lebih besar bagi
dirimu, tapi sekarang keadaan telah berbeda, urusanmu
merupakan urusanku juga, mungkin keadaanpun akan segera
mengalami perubahan yang sangat besar"
Gak In Ling mengerdipkan matanya lalu menggeleng
dengan sikap yang sangat hambar, jawabnya.
"Persoalan itu adalah urusan dikemudian hari, aku rasa
kalian berdua harus mempertimbangkannya lebih dahulu
secara baik-baik." ia berhenti sebentar kemudian tambahnya.

279
"Dan sekarang, aku harap kalian berdua suka
mengundurkan diri untuk sementara waktu."
Suaranya amat tenang dan datar, akan tetapi mengandung
suatu kekuatan yang membuat orang merasa sungkan untuk
membangkang.
Tanpa sadar manusia dari sesat dari selatan serta manusia
aneh dari utara bersama-sama mengundurkan diri kesisi
kanan, dengan pandangan tertegun mereka memanda kearah
sianak muda itu tanpa berkedip.
Gadis suci dari Nirwana sendiripun menunjukkan sikap yang
aneh sekali, pikirnya didalam hati.
"Didalam sedihnya orang ini masih ingat menguasai dirinya
sehingga bersikap demikian tenang, benar-benar suatu
keajaiban yang tak pernah kuduga sebelumnya."
Pada saat Gak In Ling buka suara tadi, ke empat orang
manusia berkerudung merah itu telah memutar tubuhnya,
sekarang mereka telah melupakan bahwa dihadapannya masih
terdapat manusia sesat dan manusia aneh dua orang musuh
tangguh, karena semua perhatian mereka telah di tujukan
kepada pemuda dihadapannya.
Dengan pandangan yang menyeramkan Gak In Ling
menyapu sekejap kearah empat orang itu kemudian ujarnya
dengan nada seram.
"Pihak benteng Hwi-in-cay telah membinasakan ibuku, aku
Gak In Ling akan menyapu benteng-tersebut rata menjadi
tanah dan mencuci dengan darah segar mereka, lembah
pemutus sukma telah membunuh enciku, aku orang she Gak
akan membasmi semua orang yang berada didalam lembah
itu, dan kalian berempat adalah orang pertama yang harus
lenyap lebih dahulu dari muka bumi "
Setelah mengetahui bahwa disekeliling mereka terkepung
oleh musuh tangguh, dalam putus asanya timbullah niat

280
didalam hati mereka berempat untuk melakukan perlawanan
sampai titik terakhir.
Salah seorang diantara manusia berkerudung merah itu
segera berseru dengan gusar.
"Keparat cilik, engkau tak usah tekebur lebih dahulu. Kalau
punya kepandaian perlihatkan dahulu dihadapan kami "
"He... he.... he..rupanya engkau ingin mencoba lebih
dahulu." ejek Gak In Ling sambil tertawa seram.
Perlahan-lahan hawa murninya dihimpun kedalam sepasang
telapaknya dan siap melancarkan serangan dahsyat.
"Tunggu sebentar " tiba-tiba gadis suci dari Nirwana
membentak dengan suara dingin. "Sebelum duduknya
persoalan ini dapat dibikin jelas, aku tidak memperkenankan
kalian untuk bertempur lebih dahulu."
"Apakah nona merasa punya kemampuan untuk
mencampuri urusan ini ?" tegur manusia sesat dari selatan oei
IHoa Yu dengan nada dingin. Melihat ada orang berani
pandang enteng Leng-cu nya, Empat tidak mirip jadi naik
pitam segera bentaknya keras. "Hmm Sebelum bicara,
periksalah dahulu disekeliling tempat ini"
Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara
segera alihkan sorot matanya ke arah sekeliling tempat itu,
kemudian dengan nada terperanjat mereka berseru.
"Aaaah...... Leng-cu dari Nirwana berada disini ?"
Diujung puncak bukit disekeliling tempat itu berkibarlah
delapan buah panji besar berwarna kuning pada badan tengah
pada panji tadi bersulamkan sebuah huruf "Leng" yang
berwarna emas dan memancarkan cahaya yang sangat
menyilaukan mata, entah tulisan itu terbuat dari bahan apa.
Kedelapan panji besar berwarna kuning itu bukan lain
adalah lambang atau ciri khas dari gadis suci dari nirwana
setiap kali ia munculkan diri disuatu tempat.

281
Sementara itu Su-put-siang merasa girang sekali ketika
menyaksikan manusia sesat dari selatan dan manusia aneh
dari utara yang nama besarnya amat menggetarkan sungai
telaga itu dibikin terkesiap oleh delapan lembar panji kuning
dari Leng-cu-nya ini, dengan suara dingin, ia segera berseru.
"Kalian benar-benar punya mata tak berbiji, Leng-cu kami
sudah beberapa waktu lamanya berada disini "
Manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara
segera berpikir dalam hatinya.
"jangan-jangan gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari
ini bukan lain adalah gadis suci dari Nirwana yang mirip
dengan naga sakti yang nampak kepala tak nampak ekornya
itu ? Kalau memang demikian keadaannya, mungkin tindaktanduk
majikan kecil yang begitu gegabah dan kasar itu akan
menimbulkan-.."
Belum habis kedua orang jago sakti dari dunia persilatan itu
berpikir, tiba-tiba terdengarlah dua kalijeritan ngeri yang
menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian
yang mencekam seluruh lembah tersebut.
Begitu mengerikan jeritan kesakitan itu sehingga
mendirikan bulu roma semua orang yang berada ditempai itu,
tanpa sadar beberapa orang jago itu segera alihkan sinar
matanya kearah Gak ln Ling.
Jeritan kaget kembali berkumandang memecahkan
kesunyian, semua orang berdiri terbelalak dengan mulut
melongo sesudah mengetahui apa yang telah terjadi,
sementara gadis suci dari Nirwana buru-buru alihkan sorot
matanya kearah lain-
Diantara empat orang manusia berkerudung merah yang
hadir ditempat itu, kini telah berkurang dua orang, sementara
dalam genggaman Gak In Ling telah bertambah dengan dua
buah jantung manusia yang berlumuran darah segar.

282
Peristiwa berdarah ini benar-benar mengerikan sekali,
membuat dua orang manusia berkerudung merah lainnya
segera mundur empat-lima tombak jauhnya kebelakang
dengan perasaan terkesiap.
Dengan wajah yang sadis Gak In Ling membuang jantung
yang berhasil dicopot keluar dari rongga dadanya itu keatas
tanah, kemudian bentaknya dengan keras. "Bajingan keparat,
kalian hendak lari kemana ?"
Tubuhnya bagaikan seekor burung rajawali melayang
ketengah udara dan menubruk kearah salah seorang manusia
berkerudung merah yang berada disebelah kanan,
serangannya amat cepat sekali sehingga sukar dilukiskan
dengan kata-kata.
Menyaksikan datangnya ter jangan tersebut, orang itu jadi
ketakutan setengah mati, meskipun ia tak sempat melihat
jelas warna telapak dari Gak In Ling, akan tetapi orang itu
dapat menduga bahwa sianak muda itu pasti telah
menggunakan telapak mautnya untuk menghadapi dirinya.
Dalam keadaan cemas bercampur gelisah, ia tidak
memperdulikan tindakannya memalukan atau tidak- segera
teriaknya dengan keras.
"Leng-cu, tolonglah aku." belum habis ucapan itu
diutarakan keluar, jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian di tempat itu,
dengan keadaan yang mengerikan manusia berkerudung
merah itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tidak
bernyawa lagi.
Setelah melihat serangannya mengenai sasaran Gak In Ling
segera enjotkan badan dan menerjang pula kearah manusia
berkerudung merah yang terakhir.
"Tahan " bentak gadis suci dari Nirwana dengan suara
keras. Akan tetapi bentakannya itu tetap masih terlambat satu
tindak.

283
Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma segera
berkumandang memecahkan kesunyian, manusia berkerudung
merah yang terakhir itupun jatuh terkapar diatas tanah tanpa
bernyawa lagi.
Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu yang
amat singkat sekali dan boleh dibilang dalam sekejap mata.
Terhadap bentakan gadis suci dari Nirwana Gak In Ling
sama sekali tidak menggubris atau mendengarnya, setelah
mencopot keluar jantung dari keempat orang musuhnya,
perlahan-lahan ia mendekati mayat encinya.
Setelah berjongkok disisi jenasah itu, ia letakkan keempat
buah jantung manusia yang berlumuran darah itu disisi tubuh
itu, kemudian gumamnya seorang diri dengan nada yang amat
lirih.
"cici, sudah lihatkah engkau akan semua perbuatan yang
kulakukan barusan ? Aku sudah mulai membalas dendam
untuk kematianmu yang malang ini... tapi, sampai kapankah
dendam sakit hati dari ayah dan ibu bisa kutuntut balas?
Musuh besar dari keluarga kita begitu banyak jumlahnya,
sedangkan usiaku hanya tinggal setengah tahun lagi, oh cici,
beritahukanlah kepada adikmu yang malang ini, apa yang
harus kulakukan-"
Makin lama ucapan itu semakin lirih sehingga akhirnya
begitu lemah dan sama sekali tidak terdengar lagi, semua
orang hanya menyaksikan mulutnya kemak-kemik tetapi tak
tahu apa yang sedang diucapkan olehnya.
Air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar tiada
hentinya membasahi kelopak matanya pipinya, dan bajunya...
Manusia sesat dari selatan serta manusia aneh dari utara
hanya dapat berdiri menjublek ditempat semula tanpa mampu
berbuat sesuatu apapun, perasaan mereka ikut tertindih
sehingga terasa berat sekali, mereka iba dan kasihan,
terhadap pemuda malang yang hidup sebatang kara dengan

284
dibebani dendam kesumat yang tiada taranya itu, untuk
beberapa saat kedua orang jago tua itu tak tahu mesti berkata
apa untuk menghibur hatinya.
Mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang
datang.
"Gak In Ling, berani benar engkau membunuh orang
dihadapan Pun Leng-cu ? Hmm, rupanya engkau sama sekali
tidak memandang sebelah mata pun terhadap diriku "
Walaupun nada suaranya mengandung kegusaran, akan
tetapi terselip pula perasaan itu dan kasihan terhadap pemuda
itu.
Gak In Ling sama sekali tidak menengok juga tidak
menjawab, seakan-akan dia sama sekali tidak mendengar
bentakan dari gadis cantik baju putih itu, mulutnya masih
tetap berkemak-kemik menggumam seorang diri.
Melihat perkataannya sama sekali tidak digubris, kali ini
gadis suci dari Nirwana benar-benar dibikin amat gusar sekali,
sebagai seorang ketua dari sebuah perkumpulan besar, ia
selalu disanjung dan dihormati oleh setiap orang, belum
pernah ucapannya dianggap angin oleh orang lain, apalagi
orang itu adalah seorang pemuda.
Sepasang matanya melotot besar dan memancarkan
cahaya yang menakutkan sekali, kembali bentaknya dengan
keras.
"Gak In Ling, sudah dengarkah engkau akan perkataanku?"
Dengan perasaan tidak tenang manusia sesat dari selatan
oei Hoa Yu menyapu sekejap kearah gadis suci dari Nirwana,
kemudian serunya dengan nada agak tergagap.
"Leng-cu, sekarang pikiran maupun perasaannya sedang
dipengaruhi oleh emosi, aku mohon sudilah kiranya kau suka
mengampuni dirinya satu kali ini"

285
Sementara itu Gak In Ling masih tetap tidak menjawab,
keadaannya sama sekali tidak berbeda dengan keadaan
semula.
Keadaan ini dengan cepat membuat gadis suci dari Nirwana
tak mampu untuk menguasai diri lagi, telapak tangannya
segera diayun kedepan
"Blaam"
ditengah benturan keras, empat buah jantung manusia
yang diletakkan Gak In Ling disisi tubuh jenasah kakaknya itu
segera terpukul telak sehingga mencelat sejauh lima tombak
lebih dari tempat semula.
Gak In Ling merasa amat terperanjat dan dengan cepat
bangkit berdiri dari atas tanah, ketika ia berpaling maka
tampaklah gadis suci dari Nirwana sedang memandang ke
arahnya denganpenuh kegusaran- Hal ini membuktikan kalau
serangan itu dilancarkan oleh gadis tersebut.
Gak In Ling menyeka air mata yang membasahi wajahnya,
lalu dengan kaku ia bertanya. "Kaukah yang melakukan hal ini
?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab gadis suci dari Nirwana
dengan penuh kegusaran- "Kau mau apa ?"
napsu membunuh melintas diatas wajah Gak In Ling,
bentaknya nyaring. "Dengan berdasarkan apakah engkau
melancarkan serangan kepadaku ? Ayo jawab ?"
"Melenyapkan bencana demi umat manusia dalam
persilatan"
Gak In Ling segera ayunkan telapak tangannya ke depan,
dengan menggunakan jurus "Hiat-yu Weng-hong" atau hujan
darah angin amis dia mengirim sebuah pukulan dahsyat ke
arah gadis tersebut.

286
Menyaksikan datangnya serangan yang amat dahsyat itu,
gadis suci dari Nirwana merasa amat terkesiap. buru-buru ia
enjotkan badannya dan laksana kilat meloncat mundur sejauh
empat tombak lebih dari tempat semula, gerakan tubuhnya
lincah, enteng dan cepat sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Pada saat ini pikiran Gak In Ling masih kalut dan tak sadar,
meskipun tenaga dalamnya telah dihimpun dan kendatipun
serangan tersebut dilancarkan dengan menggunakan ilmu
telapak maut. Akan tetapi daya kekuatannya amat terbatas,
oleh karena itu sekalipun serangan tersebut dilancarkan secara
tiba-tiba, akan tetapi sama sekali tidak berhasil melukai tubuh
gadis suci dari Nirwana.
Ketika menyaksikan serangannya tidak berhasil mengenai
sasarannya, Gak In Ling nampak agak tertegun, buru-buru ia
merubah gerakan siap melancarkan serangan berikutnya.
Akan tetapi sebelum ia sempat melancarkan serangan
balasan, terdengarlah gadis cantik baju putih itu telah
membentak keras. "Kau sambutlah pula sebuah pukulan
dahsyatku ini "
Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu,
segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan
hembusan angin puyuh menghajar keatas dada sianak muda
itu.
Gak In Ling yang sedang dilanda kesedihan boleh dibilang
kesadarannya pada saat ini sama sekali tidak beres ketika ia
merasa datangnya angin pukulan yang maha dahsyat itu,
untuk menghindar sudah tak sempat lagi.
Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad,
terdengar gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada
cemas.
"Aaah Kau...." Buru-buru ia buyarkan serangannya dan
berusaha untuk menarik kembali tenaga pukulannya tetapi...

287
mungkinkah serangan yang telah dilepaskan dapat ditarik
kembali ?
"Blaaaaam..." terdengar benturan yang amat keras
bergema diseluruh angkasa, tubuh Gak In Ling terpental
sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh
terjengkang diatas tanah.
Gadis suci dari Nirwana tertegun, dengan cepat tubuhnya
berkelebat menghampiri Gak in Ling yang sementara itu sudah
terkapar diatas tanah tanpa bisa berkutik.
"Leng-cu " terdengar manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu
berseru dengan nada cemas, "ampunilah selembar jiwanya,
dia adalah satu-satunya anggauta keluarga Gak yang masih
hidup,"
Suaranya keras tapi kedengaran agak gemetar.
Gadis suci dari Nirwana putar badan, dengan wajah tidak
tenang ia berkata.
"Apakah kalian dapat menjamin bahwa sejak kini dia tak
akan membunuh manusia lagi ?"
Tiba-tiba manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu bertekuk
lutut dan jatuhkan diri diatas tanah serunya.
"Aku oei Hoa Yu berani bersumpah dihadapan Thian,
bahwa orang yang dibunuh Gak kongcu selama ini semuanya
adalah manusia laknat yang pantas dimusnahkan dari muka
bumi"
"Hm Aku tidak menanyakan yang lain, aku tanya bertanya
kepada kalian apakah kamu berdua berani menjamin bahwa
sejak ini hari ia tak akan membunuh manusia lagi ?"
Mendengar ucapan itu manusia aneh dari utara Lui Beng
Wan segera jatuhkan diri berlutut pula diatas tanah, sambil
menghela napas panjang dia berkata. "Leng-cu, lepaskanlah
dirinya..."

288
Gadis suci dari Nirwana dibikin bingung oleh sikap serta
perbuatan kedua orang jago libay itu, karena tak dapat
mengambil keputusan, tanpa sadar dia alihkan sorot matanya
kearah Su-put-siang.
Empat tidak mirip anggukkan kepalanya dan berkata
dengan nada berat.
"Leng-cu, lepaskanlah dirinya. Mungkin dosa serta
kesalahan yang ia lakukan masih belum cukup untuk dijatuhi
dengan hukuman mati " Gadis suci dari Nirwana segera
mengangguk.
"Baiklah, kalian boleh bangkit berdiri " serunya. Habis
berkata ia putar badan dan segera berlalu.
Buru-buru manusia sesat dari selatan serta manusia aneh
dari utara mengucapkan banyak-banyak terima kasih,
kemudian berkelebat menuju kesisi tubuh Gak In Ling dan
memayangnya bangun.
Sambil menatap wajah sang pemuda yang pucat bagaikan
mayat, manusia sesat dari selatan oei Beng Ya bertanya.
"Majikan muda, bagaimana perasaanmu pada saat ini?"
Gak In Ling gelengkan kepalanya, bukan menjawab malah dia
balik bertanya. "Bersediakah kalian untuk melakukan suatu
perkerjaan bagi diriku?"
"Urusan apa ? Katakanlah " sahut kedua orang jago itu
hampir berbareng. Gak In Ling menghela napas panjang.
"Aaii carilah suatu tempat yang baik dan kuburlah jenasah
kakakku ini."
Sambil berkata dengan susah payah ia meronta dari
cekalan kedua orang itu, dan berdiri sendiri dengan
sempoyongan-
Buru-buru manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu
memegang tubuhnya, dengan nada lirih nasehatnya.

289
"Majikan muda, janganlah terlalu menuruti emosi, cepatlah
atur pernapasan dan sembuhkan dahulu luka dalammu,
sebentar lagi aku serta si makhluk tua itu akan menemani
engkau untuk menguburkan jenasah kakakmu "
"Tidak Aku tidak akan ikut dengan kalian-" sahut Gak In
Ling sambil memandang awan putih yang bergerak diangkasa
"Lalu kau akan pergi kemana ?" tanya manusia aneh dari
utara dengan nada gelisah. Gak In Ling tertawa tawa.
"Mungkin aku akan pergi ketempat lain yang tak dapat
didatangi oleh orang lain-"
"Pergi ketempat yang tak dapat didatangi oleh orang lain ?"
gumam manusia sesat dari selatan dengan wajah tertegun.
Gadis suci dari Nirwanapun diam-diam terkesiap melihat
keadaan dari sianak muda itu, pikirnya.
" jangan- jangan pukulanku yang begitu ringan telah
melukai isi perutnya..."
Berpikir sampai disini sepasang matanya yang jeli tanpa
merasa telah menyapu sekejap ke arah Gak In Ling, kebetulan
sekali sepasang mata sang pemuda yang sayu itu sedang
memandang kearahnya, dua pasang saling bertemu,
membuatjantung gadis itu berdebar keras, buru-buru dia
alihkan pandang matanya kearah lain-
Setelah memandang sekejap kearah gadis itu dengan susah
payah Gak In Ling berkata.
"Leng-cu, kau seorang pemimpin dari suatu perkumpulan
besar dan bisa bertindak secara adil dan bijaksana, ku
berharap sejak kini kau bersedia mencurahkan perhatianmu
terhadap lembah pemutus sukma, basmilah manusia laknat
yang berdiam disana dan selamatkanlah umat persilatan dari
bencana."

290
"Apakah engkau anjurkan diriku berbuat demikian karena
disanalah musuh-musuhmu berdiam." sela gadis suci dari
Nirwana.
Hawa segar berkelebat lewat dari balik mata Gak In Ling,
serunya dengan suara dingin.
"Aku orang she Gak tidak akan serendah dan sehina seperti
apa yang Leng-cu lukiskan itu, aku tak nanti akan mohon pada
orang lain untuk membalaskan dendam bagiku atas kematian
ayah dan ibuku "
Bicara sampai disini ia segera putar badan dan berlalu dari
lembah tersebut.
Manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu dengan cepat
menghadang jalan pergi sianak muda itu sambil serunya
dengan nada gemetar.
"Majikan muda, engkau sudah menderita luka dalam yang
sangat parah, engkau akan pergi kemana ?"
Dengan tangannya yang dingin bagaikan es, Gak In Ling
mencekal tangan manusia sesat dari selatan, kemudian
ujarnya.
"Empek oei, lepaskanlah aku pergi, aku dilahirkan tanpa
waktu yang ditentukan lebih dahulu, akupun tak ingin mati
ditunggui orang lain di sampingku, kalian sudah melayani aku
hampir dua belas tahun lamanya, selamanya kalian selalu
dapat memahami perasaanku, kali ini ijinkanlah aku pergi
seorang diri "
"Apakah kau sudah melupakan dendam sakit hatimu ?"
tanya oei Hoa Yu dengan air mata bercucuran.
"Tak akan kulupakan untak selamanya. Dendam sakit hati
itu tak akan kulupakan untuk selamanya" jawab Gak In Ling
sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

291
Dalam pada itu manusia aneh dari utara LuiBang Wan telah
menyusul datang, ia segera berseru.
"Kalau memang begitu, maka tidak sepantasnya kalau
engkau mencari mati sebelum tugasmu kau selesaikan"
"Aku sendiri tidak rela mati dengan begini saja." gumam
Gak In Ling dengan lirih, "tetapi luka yang kuderita cukup
parah, dan dalam hati aku sudah mempunyai perhitungan
sendiri, aku mohon kepada kalian agar sukalah membiarkan
aku mencari tempat yang tenang seorang diri"
Habis berkata ia putar badan melanjutkan kembali
langkahnya menuju kearah depan-Tiba-tiba gadis suci dari
Nirwana berseru dengan nada dingin.
"Jikalau dugaanku tidak keliru, maka kau tak akan berjalan
sejauh lima ratus tombak dari tempat ini "
Gak In Ling tidak berpaling, juga tak menghentikan langkah
kakinya, ia masih melanjutkan perjalanannya menuju kearah
depan-
Menyaksikan hal itu gadis suci dari Nirwana segera
membentak nyaring. "Gak in Ling, engkau dengar tidak
parkataan ku itu ?"
Gak In Ling tetap tidak menggubris, dengan mulut
membungkam ia teruskan perjalanannya munuju kedepan.
Tertegun hati gadis suci dari Nirwana menyaksikan
tindakan sianak mada itu, tiba-tiba ia menjejakkan sepasang
kakinya melayang kedepan dan menghadang jalan pergi Gak
In Ling sambil bentaknya. "Sudah kau dengar tidak
perkataanku?" Gak In Ling segera tertawa dingin.
"IHee...... hee hee... . mati hidupku, apa sangkut pautnya
dengan dirimu?" ia mengejek.
"Aku hanya bermaksud hanya memberi peringatan
kepadamu "

292
Gak In Ling menghindarkan diri kesamping dari hadangan
gadis itu, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.
"Aku orang she Gak hanya seerang manusia tak bernama
dalam dunia persilatan, setelah kau melukai diriku, buat apa
sekarang masih berpura-pura berlagak sok baik hati ? Hmm,
apakah perbuatanmu itu tidak mirip kucing sedang menangisi
tikus ?" Gadis suci dari Nirwana jadi amat gelisah sekali, buruburu
ia berseru.
"Hawa murnimu telah tersumbat oleh kesedihan dan
kemurungan yang kelewat batas, sekalipun aku tidak melukai
dirimu, engkaupun tidak akan hidup sampai hari ini."
Satu ingatan dengan cepat berkelebat lewat dalam benak
Gak In Ling, pikirnya dalam hati.
"Tidak aneh kalau serangan gencarku tadi tidak berhasil
melukai dirinya. Aaaiii mati ya sudah, urusanpun bisa beres
sampai disini saja, perduli amat apa yang bakal kualami "
Sementara ingatan tersebut masih melintas diatas
wajahnya, ia telah berada belasan tombak jauhnya dari
tempat semula.
Diatas wajah gadis suci dari Nirwana yang cantik jelita tibatiba
terlintas kemurungan dan kekesalan yang tebal, kembali
ia berteriak dengan keras. "Hey, sudah kau dengar tidak
semua perkataanku itu ?"
"Hmm, aku sudah tiada harapan untuk hidup lebih lama
lagi, kenapa aku mesti mendengarkan penjelasan dari Lengcu?"
Beberapa saat kemudian tubuhnya sudah membelok dibalik
batu cadas dan lenyap.
Gadis suci dari Nirwana tidak habis mengerti apa sebabnya
ia begitu menguatirkan keselamatan sianak muda itu, kini
setelah berulang kali dipandang remeh oleh Gak In Ling

293
hatinya jadi amat sedih sekali, hingga tanpa terasa ia
mengucurkan air mata.
"Leng-cu, karena persoalan apakah engkau merasa sedih ?"
tiba-tiba serentetan suara teguran yang lirih berkumandang
disisi telinganya.
Mendengar suara itu seakan-akan telah bertemu dengan
orang yang dikasihi dengan cepat gadis suci dari Nirwana
berseru.
"Enci Peng" ia segera jatuhkan diri kedalam pelukan
perempuan itu.
orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang
perempuan berusia tiga puluh tahunan yang berpakaian amat
sederhana dengan rambut disanggul jadi satu, kecantikan
wajahnya sangat menawan hati, meskipun usianya sudah
mencapai tigapuluh tahunan akan tetapi tetap masih
mempesonakan.
Su-put-siang serta empat orang dayang baju hijau yang
berada disekeliling situ dengan cepat naju memberi hormat
sambil sapanya. "Menghunjuk hormat untuk Kun-su"
Manusia sesat dari selatan oei Hoa Yu segera merasakan
hatinya agak tergerak, pikirnya.
"jangan- jangan orang ini adalah juru pikir yang sangat
diandalkan oleh gadis suci dari Nirwana yang amat tersohor
kecerdasannya itu ? Mungkinkah dia "Sin- gwa- liong- bun"
ahli pikir dari pintu naga Ki Giok Peng ?" Sementara itu
perempuan tadi sudah berkata.
"Kalian tak usah banyak adat, siapakah yang kalian baru
saja jumpai ?"
"Gak In Ling "jawab Su-put-siang dengan cepat.
Air muka perempuan itu seketika berubah hebat setelah
mendengar nama pemuda itu, serunya.

294
"Leng-cu, lupakanlah dia, mari kita pulang."
Terkesiap hati, gadis suci dari Nirwana, tanpa sadar ia
berseru.
"Enci Peng, kau telah apakan orang itu?"
Melihat sikap Leng-cu yang gugup, perempuan itu segera
berpikir dalam hati kecilnya. "Ah, dugaanku ternyata tidak
salah. Tidak seharusnya aku datang demikian lambatnya."
Berpikir sampai disini ia lalu menjawab.
"Aku sama sekali tidak berjumpa dengan dirinya, Leng-cu
Apakah engkau telah melukai dirinya?"
Dengan wajah amat sedih gadis suci dari Nirwana
mengangguk.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 9
"TIDAK sepantasnya kalau kau buat dia jadi gusar dan
mendongkol sekali..." bisiknya.
"Semestinya engkau harus mengobati luka yang diderita
olehnya." sambung perempuan itu.
"Tapi dia sama sekali tidak memperdulikan diriku ?"
"Aaaa biar." pikir perempuan itu lagi, "Kalau dia tidak
sanggup dan demikian tinggi hatinya sehingga melampaui
dirimu, tak nanti hatimu akan tertarik olehnya, aku harus
mencari akal yang bagus untuk membuat dia jadi lupa dengan
pemuda itu, sebab jika cinta yang bersemi di balik
kesalahpahaman ini dibiarkan berlarut-larut, maka akibatnya
akan sukar dilukiskan dengan kata-kata..." berpikir sampai
disini, sambil tertawa dia lantas berkata.

295
"Kalau dia memang tak mau menerima tawaran yaa
sudahlah, kenapa mesti dipikirkan terus ? Mari kita pulang saja
"
Gadis suci dari Nirwana memandang sekejap sekeliling
tempat itu, tiba-tiba ia berseru.
"Tidak Hal ini merupakan salah paham, aku harus
menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya "
"Tapi Leng-cu. orang itu sudah pergi jauh."
"Tenaga dalamnya telah punah." seru gadis suci dari
Nirwana dengan hati gelisah, "pada saat ini dia tak kan pergi
terlalu jauh, mari kita susul dirinya^.."
Habis berkata ia segera berangkat lebih dahulu mengejar
kearah mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri
tadi.
Diam-diam perempuan itu menghela napas panjang,
pikirnya.
"Aaaiii sekarang aku baru merasa betapa pentingnya selain
waktu yang amat singkat, tapi sekarang keadaan sudah
terlambat." Ia segera ulapkan kepada kelima orang lainnya
sambil berseru
"cepat kalian menyebarkan diri kesekeliling tempat ini dan
coba periksa jejaknya, semoga saja ia belum jauh
meninggalkan lembah ini."
Keempat dayang itu sekalian segera mengiakan dan
dengan cepat menyebarkan diri untuk mencari jejak sianak
muda itu
Sepeninggalnya beberapa orang itu, perempuan cantik itu
berjalan menghampiri manusia sesat dari selatan dan manusia
aneh dari utara.

296
"Mungkin kalian berdua adalah manusia sesat dari selatan
dan manusia aneh dari utara yang menyebut diri sebagai
pelayan dari Gak In Ling bukan ?"
"Tempo dulu hanya sebutan saja, tapi sekarang hal itu
memang merupakan kenyataan " jawab manusia sesat dari
selatan oei Hoa Yu.
"Kalau memang demikian adanya, mengapa kalian berdua
tidak mengiringi disamping majikanmu itu ?"
"Selamanya persoalan yang telah diputuskan oleh majikan
kami tak dapat digugat lagi." jawab manusia aneh dari utara
sambil menghela nanas panjang, "dalam keadaan begini, yaa,
apa boleh buat. Terpaksa kami hanya dapat melindungi
keselamatan jiwanya secara diam-diam saja."
"Kalau memang begitu, tahukah kaliaa ke mana perginya
sianak muda itu ? Apakah kalian bersedia memberitahukan
kepadaku ?"
"Tuan muda dibelakang batu cadas didepan sebelah sana."
sahut manusia sesat dari selatan, sambil berkata ia segera
menuding kearah batu besar di- mana Gak In Ling
melenyapkan diri tadi.
"Menurut dugaanku kalau tidak salah, mungkin sejak kini
kalian akan kehilangan jejaknya." kata perempuan itu.
Tertegun hati manusia sesat dari selatan daa manusia aneh
dari utara sesudah mendengar perkataan itu,jelas mereka
percaya penuh bahwa apa yang diucapkan oleh perempuan
aneh yang amat cerdik ini merupakan suatu kenyataan-
Sementara itu manusia sesat dari selatan setelak berpaling
kearah rekannya, manusia aneh dari utara, sambil menuding
mayat Gak In Hong yang menggeletak diatas tanah serunya
dengan gelisah.
"cepat bopong tubuhnya, mari kita pergi mencari jejaknya."

297
Selesai berkata kedua orang itu siap meninggalkan tempat
tersebut.
Perempuan peramal sakti Ki Giok Peng gelengkan
kepalanya berulang kali, gumamnya.
"Aaaiii...... sungguh tak disangka hanya dikarenakan Gak In
Ling seorang, seluruh dunia persilatan telah terjadi
kegaduhan."
Nada suaranya amat berat, membuat siapapun yang
mendengar akan merasakan betapa risaunya perasaan hati
orang ini.
Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian, dari siang
sampai senja semestinya merupakan suatu jangka waktu yang
amat panjang sekali hampir setiap jengkal tanah disekitar
lembah itu sudah diperiksa dengan seksama, akan tetapi jejak
Gak In Ling ternyata sama sekali lenyap tak berbekas.
Dengan perasaan kecewa gadis suci dari Nirwana berjalan
balik kehadapan perempuan peramal sakti Ki Giok Peng,
serunya dengan hati amat gelisah. "sebenarnya kemana dia
telah pergi ?Jejaknya sama sekali lenyap tak berbekas."
"Leng-cu, mari kita pulang saja." bujuk Ki Giok Peng sambil
memberi hormat, "Seandainya dia sudah mati, sekarang
mungkin mayatnya sudah menjadi dingin dan kaku,
seandainya dia belum mati suatu ketika dikemudian hari kita
akan berjumpa kembali, sekarang mungkin dia sudah tak
berada didalam lembah ini lagi."
Gadis suci dari Nirwana termenung dan berpikir beberapa
saat lamanya, kemudian dengan perasaan apa boleh buat ia
berkata. "Baiklah, mari kita berangkat "
Sejak peristiwa itulah senyuman riang gembira yang semula
menghiasi wajahnya yang cantik telah lenyap tak berbekas
dan tak pernah muncul kembali diujung bibirnya.

298
Sang surya telah tenggelam dibalik bukit dan rembulanpun
muncul dihias angkasa, suasana dalam lembah yang terpencil
itu tercekam kembali dalam keheningan serta kesunyian yang
memilukan-
Diatas tanah berbaringlah empat sosok mayat yang
dadanya terbelah dan noda darah berceceran diatas tanah,
ditengah kesunyian dan kegelapan pemandangan seperti itu
nampak mengerikan sekali.
Dari belakang batu cadas yang amat besar perlahan-lahan
muncul seorang pemuda baju hitam yang bibirnya penuh
berlepotan darah, dibawah sorot cahaya rembulan yang
keperak-perakan tampaklah wajah yang pucat-pias bagaikan
mayat, sepintas lalu keadaannya mirip sekali dengan sukma
yang gentayangan-
Dia bukan lain adalah Gak In Ling yang menderita luka
parah, selama ini rupanya ia menyembunyikan diri di dalam
sebuah liang gua yang dalam dibawah batu cadas tersebut,
oleh karena itulah tak seorang manusiapun yang berhasil
menemukan jejaknya.
Dengan susah payah GakIn Ling berjalan menuju ketepi
sungai, angin malam berhembus lewat mengibarkan baju
hitamnya yang tipis membuat sekujur badannya merinding
dan bersin tiada hentinya.
Pemuda tampan yang dihari-hari biasa memiliki tenaga
dalam yang amat sempurna, pada saat ini ternyata tak
mampu menahan hawa dingin dimalam hari yang cerah
tersebut.
Bibirnya ternyata kering dan hatinya panas bagaikan
dibakar, meskipun pemuda itu sadar bila kehausan itu
dihilangkan dengan meneguk air itu berarti akan mempercepat
saat ajalnya, akan tetapi pada saat ini ia tak mau memikirkan
soal itu, dengan susah payah ia berjalan ketepi sungai.

299
Jarak sejauh lima puluh tombak dirasakan olehnya seakanakan
begitu jauh dan tidak sampai-sampai, baru saja duapuluh
tombak ditempuh, badannya sudah lelah tak bertenaga,
akhirnya ia roboh terjengkang dan jatuh terduduk diatas
tanah.
Sementara ia masih duduk tepekur sambil memandang
kejauhan yang diliputi kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba dari
sisi tubuhnya berkumandang suara teguran yang seram dan
bercampur nada bangga.
"omitohud Gak sicU, selamat berjumpa kembali "
Dari suara teguran itu Gak In Ling segera mengetahui
siapakah orang itu, hatinya kontan tercekat dan sekujur
badannya tanpa terasa gemetar keras, diam-diam ia menghela
napas, panjang dan berpikir.
"Meskipun aku Gak In Ling bakal menemui ajalku, sungguh
tak kusangka akhirnya aku harus menemui ajal di tangan
Buddha antik, apakah hal ini sudah merupakan suratan
takdir?"
Berpikir sampai disini, dengan suara ketus ia segera
berseru. "Buddha antik, sungguh tepat sekali saat
kedatanganmu."
Belum habis Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya,
mendadak dia merasakan pandangan matanya menjadi kabur
dan tahu-tahu dihadapan matanya telah melayang datang
Buddha antik beserta tiga orang manusia berbaju merah
darah.
Dengan pandangan yang sangat tajam Buddha antik
mengamati wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya,
kemudian dengan suara dingin ia berkata.
"Seandainya aku tidak mengetahui keadaan sicu yang
sesungguhnya pada saat ini, tidak nanti aku akan berani

300
datang kemari secara gegabah dengan membawa tiga orang
teman ?"
"He he he...... kalau begitu aku merasa amat berbangga
menerima kunjunganmu ini." ejek Gak In Ling sambil tertawa
dingin.
Buddha antik menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haa haa.. .. haa Gak In Ling, saat kematianmu sudah
berada diambang pintu, kenapa engkau tidak kelihatan panik?
Melihat ketenangan hatimu itu, bukan saja aku Buddha antik
jadi amat kagum oleh kehebatan tenaga dalammu, aku pun
amat mengagumi akan keberanian serta kejantananmu itu "
Gak In Ling tertawa dingin.
"Kau tak usah banyak ngebacot pentang mulut anjingmu
itu, aku sudah tahu bahwa engkau adalah Budda antik
gadungan " serunya.
Sepasang alis mata Buddha antik gadungan berkernyit,
tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya yang sangat
tajam, perlahan ujarnya. "Apakah kau ingin mengetahui
siapakah aku yang sebenarnya ?" Dengan sikap yang sangat
dingin Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.
"Untuk mengetahui siapakah dirimu pada saat ini, aku rasa
sudah amat terlambat, lebih baik aku tak usah mengetahui
asal-usulmu lagi" sahutnya cepat.
Tiba-tiba salah seorang manusia berkerudung merah yang
berdiri dibela kang Buddha antik menyela dengan nada dingin.
"Pada saat ini waktu menunjukkan hampir mendekati
kentongan kedua tengah malam, aku rasa sudah tidak
sepantasnya kalau kita membicarakan soal masalah tetekbengek
lagi, bukankah begitu ?"
Air muka Buddha antik berubah hebat, dengan hati
terkesiap buru-buru dia memotong pembicaraannya dan
mengangguk.

301
"Perkataan saudara sedikitpun tidak salah, hai, Gak In Ling,
aku lihat dendam sakit hatimu yang sedalam lautan itu
terpaksa baru akan kau tuntut balas pada penitisanmu yang
akaa datang. sekarang, terimalah kematian untukmu "
Dengan napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti
seluruh wajahnya, dia ayunkan telapak tangan kanannya
kedepan dan langsung membabat kearah tubuh sianak muda
itu.
Dalam hati diam-diam Gak In Ling menghela napas
panjang, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan menunggu
Malaikat Elmaut datang menjemput sukmanya untuk pulang
kealam baka.
Pada saat yang amat kritis dan jiwanya terancam antara
mati dan hidup itulah mendadak dari atas permukaan sungai
berkumandang datang suara gelak tertawa panjang yang
amat keras dan menjulang tinggi keangkasa, begitu keras
gelak tertawa tersebut hingga serasa memekakkan telinga
setiap orang yang hadir ditempat itu, meskipun suaranya tidak
begitu tinggi akan tetapi cukup mendatangkan perasaan
bergidik bagi siapa pun juga.
Air muka Buddha antik serta tiga orang manusia berbaju
merah darah itu berubah sangat hebat, telapak tangannya
yang sudah diangkat ketengah udara serta siap melancarkan
serangan itu-pun tanpa sadar diturunkan kembali kebawah,
mereka segera putar badan menghadap kearah sungai dan
alihkan seluruh perhatiannya kearah mana berasalnya suara
tertawa tadi.
Begitu bertemu dengan apa yang terlihat, keempat orang
itu dengan hati terperanjat segera mundur beberapa langkah
kebelakang.
Dibawah cahaya rembulan yang memancarkan sinar
keperak-perakan, tampaklah diatas permukaan air sungai
berdiri berjajar dua orang kakek tua berambut putih bagaikan

302
salju dan berjenggot sepanjang dada, kakek tua yang berada
di sebelah kiri memakai jubah panjang berwarna putih,
wajahnya amat cerah, alis matanya panjang dan berwajah
saleh serta penuh perasaan welas-kasih.
Sebaliknya orang berada disebelah kanan berdandan aneh
sekali, pakaiannya yang dikenakan adalah jubah panjang
berwarna merah darah, dua ekor sulaman naga hijau yang
amat besar dan memancarkan cahaya tajam tertera pada
jubah lebarnya itu dan kedua ekor kepala naga tadi bertemu
diatas dada, diantara kibaran jenggotnya yang berwarna ke
perak-perakan, sulaman tersebut nampak begitu hidup dan
amat menyolok.
Hanya saja raut wajah orang ini berbeda jauh dengan
warna jubah yang dikenakan olehnya, dia memiliki wajah yang
pucat pias bagaikan kertas, sepasang matanya merah berapiapi,
suatu perbedaan yang menyolok sekali dengan raut
wajahnya yang pucat dan seperti orang mati itu.
Dari gerak-gerik dua orang kakek tua yang berdiri diantara
gulungan ombak itu, dengan cepat Buddha antik menyadari
bahwa mereka telah bertemu dengan musuh yang amat
tangguh, kepada tiga orang manusia berkerudung merah yang
berada dibelakang tubuhnya mereka saling bertukar
pandangan sekejap. kemudian ujarnya dengan suara lantang.
"Entah siapakah dua orang cianpwe yang berada diatas
permukaan sungai itu ? Ada maksud serta tujuan apakah
kalian munculkan diri ditempat ini?"
Menggunakan kesempatan dikala Buddha antik sedang
bercakap-cakap dengan dua orang kakek tua itu, tiga orang
manusia berkerudung merah lainnya perlahan-lahan berjalan
kedepan menghampiri tubuh Gak In Ling yang menggeletak
diatas tanah itu.

303
Kakek berjubah merah yang berdiri disebelah kanan itu
tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Buddha antik,
sebaliknya sambil tertawa dingin ia berkata.
"Hm aku perintahkan kalian untuk menghentikan langkah
kaki kalian semua ditempat itu, kalau kalian berani
membangkang dan bergerak setengah langkah lagi kedepan,
akaa kusuruh kalian menemui ajal ditempat ditengah
genangan darah "
Ancaman tersebut diutarakan dengan nada yang dingin dan
seram membuat orang jadi terkesiap.
Jarak diantara kakek tua itu dengan para jago berkerudung
merah paling sedikit masih ada selisih empa tpuluh tombak
jauhnya, kalau dibilang kakek tua baju merah itu mampu
untuk merintangi perbuatan tiga manusia berkerudung merah
dalam serangannya terhadap Gak In Ling, kejadian ini boleh
dibilang merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak
masuk diakaL
Tetapi entah dari mana datangnya suatu kekuatan yang tak
berwujud, ternyata ketiga orang manusia berkerudung merah
itu benar-benar tidak berani melanjutkan langkahnya untuk
mendekati Gak In Ling.
Buddha antik segera memutar sepasang biji matanya,
dengan suara lantang ia berseru.
"cianpwe berdua, kalian adalah jago-jago lihay yang sama
sekali tidak terikat oleh segala peraturan didalam dunia
persilatan, lain halnya dengan boanpwe sekalian yang hidup
dalam sungai telaga, mau tak mau terpaksa kami harus
menuruti peraturan dan perintah yang telah diberikan kepada
kami untuk dilaksanakan, untuk itu aku berharap agar cianpwe
berdua bisa menjadi maklum adanya serta memahami
kesulitan yang sedang kami hadapi."
Kakek baju merah itu segera tertawa dingin.

304
"He he..... he.... hwesio gadungan, kalau engkau merasa
bahwa perbuatanmu ada alasanNya, nah, sekarang juga
katakanlah, tapi sebelum itu aku akan memperingatkan kalian
lebih dahulu, kalau engkau terus menipu atau membohongi
aku dengan sepatah kata pun, aku akan membacokmu hidup,
hidup "
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada suara yang dingin
menyeramkan membuat bulu kuduk oraag pada bangkit
berdiri.
Tercekat hati Buddha antik mendengar ancaman tersebut,
dengan ujung matanya dia melirik sekejap kearah Gak In Ling,
kemudian sambil keraskan kepala jawabnya.
"Perkumpulan kami merupakan salah satu perkumpulan
besar dalam dunia persilatan, tanpa alasan dan sebab
musabab orang ini telah membinasakan empat orang anak
murid dari perkumpulan kami, perbuatannya keji, telengas dan
sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan sehingga
membuat orang yang menyaksikan jadi ngeri dan bergidik,
karena perbuatannya yang terkutuk itulah terpaksa aku
datang kemari untuk membuat perhitungan dengan dirinya."
"Apakah jantung dari keempat sosok mayat itu dicomot
keluar olehnya " sela kakek baju putih dengan suara keras,
nada ucapannya menunjukkan bahwa dia merasa amat tidak
puas.
Buddha antik licik dan banyak akal, mendengar perkataan
itu dalam hati kecilnya merasa amat kegirangan, dengan suara
lantang ia segera menjawab.
"Sedikitpun tidak salah, perbuatan itu memang dia yang
melakukan, kalau tidak percaya cianpwe boleh tanyakan
sendiri kepadanya, aku percaya berada dihadapan kalian dua
orang tua pastilah dia takkan berani bicara bohong"
orang ini benar-benar amat beracun hatinya daa berbahaya
sekali membuat hati orang bergidik, mula-mula dia mengatur

305
cerita bohong dengan maksud merusak nama lawannya,
kemudian dengan menggunakan bukti yang ada untuk
meyakinkan ucapannya. Dari sini dapatlah dinilai sampai
dimana busuknya hati Buddha antik. Terdengar kakek baju
merah itu mendengus dingin lalu menegur. "Eeei, bocah cilik,
apakah engkau ada perkataan lain yang hendak kau ucapkan
?"
Gak In Ling menggerakkan biji matanya yang telah tak
bertenaga, lalu menjawab dengan dingin.
"orang itu memang mati ditanganku "
"Aku sedang bertanya kepadamu apa alasan sehingga kau
melakukan pembunuhan itu? Apakah kau sudah mendengar
atau tidak?" seru manusia baju putih dengan suara keras,
nada suara nya menunjukkan kalau dia mulai gusar.
Perlahan-lahan Gak la Ling pejamkan matanya kembali,
dengan dingin dan ketus ia menjawab.
"Dikolong langit banyak terdapat manusia-manusia yang
membuat pahala dengan mengikuti nama baik majikannya,
aku sebatang kara dan tiada kekuatan apa-apa, banyak bicara
sekalipun tiada gunanya, kalian berdua sebagai tokoh-tokoh
sakti yang sudah mengasingkan diri dari persoalan
keduniawian, aku lihat lebih baik jangan mencampuri urusan
tetek bengek seperti ini lagi "
Mendengar perkataan itu kakek baju merah jadi gusar
sekali, segera bentaknya.
"Bocah cilik, kau berani menasehati diriku, h m Rupanya
kau benar-benar sudah bosan hidup dan ingin mencari
mampus ?"
Sambil berkata ia gerakkan badannya siap menerjang maju
kedepan, tapi dengan cepat tubuhnya telah ditarik oleh kakek
baju putih, terdengar ia berkata.

306
"Dikolong langit memang banyak terdapat orang-orang
yang mencari pahala dengan membonceng nama besar
majikannya. Makhluk tua, bukankah kau juga termasuk salah
seorang diantaranya?"
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak kakek
baju merah itu, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha masuk diakal, masuk diakaL lHei, bocah cilik,
setelah aku turun tangan mencampuri urusan ini, sudah tentu
aku tak boleh memiliki perasaan berat sebelah. Nah,
katakanlah apa yang hendak kau katakan-"
Buddha antik yang mendengar perkataan itu diam-diam
merasa amat gelisah sekali, pengalamannya yang luas dengan
cepat menyatakan bahwa kakek tua yang berada
disampingnya pada saat ini rupa-rupanya jauh lebih bersimpati
terhadap Gak In Ling daripada dirinya.
la segera tundukkan kepalanya, sambil berpura-pura
membenahi pakaiannya yang kusut, diam-diam ia mengirim
kisikan kepada ketiga orang rekannya dengan ilmu
menyampaikan suara.
"Gunakan kesempatan yaag sangat baik ini untuk turun
tangan, jangan membiarkan bangsat cilik itu mendapat
kesempatan untuk bicara, kalau tidak maka diantara kita
berempat akan terancam bahaya dan mungkin kita takkan
tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"
Agaknya ketiga orang manusia berkerudung merah itupun
mempunyai jalan pikiran yang sama pada saat Buddha antik
menengadah kembali, tiba-tiba terdengar tiga kali bentakan
keras berkumandang memecahkan kesunyian, terlihatlah tiga
sosok bayangan merah secara terpisah bersama-sama
menerjang kearah Gak In Ling.
Ketiga orang manusia berkerudung merah itu rata-rata
merupakan jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan,
setelah turun tangan bersama secara tiba-tiba dapat

307
dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh beberapa orang
itu, dalam waktu singkat mereka sudah berada di hadapan
lawannya.
Selisih jarak antara Gak In Ling dengan beberapa orang itu
tinggal beberapa depa saja, menurut keadaan yang
sebenarnya sulit bagi sianak muda itu untuk melepaskan diri
dari mara bahaya, siapa tahu apa yang kemudian terjadi
ternyata sama sekali berada di luar dugaan-
Pada saat ketiga orang itu ayunkan telapak tangannya
untuk membinasakan Gak In Ling itulah mendadak terdengar
bentakan nyaring yang bernada amat menyeramkan
berkumandang memecahkan kesunyian-"Roboh kalian semua"
Bersamaan dengan menggalanya suara bentakan, kakek
baju merah itu ayunkan tangannya kedepan dan terlihatlah
lima titik cahaya merah yang amat menyilaukan mata
meluncur kearah depan-
Jerit kesakitan yang amat menyayatkan hati berkumandang
memecahkan kesunyian, tiga orang manusia berkerudung
merah itu menggeliat dan segera roboh terkapar diatas tanah.
Sekali ayunkan telapaknya orang itu mampu orang dari
jarak sejauh empat puluh tombak, jangan dikata korban yang
dibunuh adalah seorang jago persilatan yang sangat lihay.
sekalipun seorang yang tidak mengerti ilmu silatpun belum
tentu ada berapa orang jago lihay yang mampu untuk
membereskan jiwanya.
Dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki
orang tua itu benar-benar sangat lihay sehingga sangat sukar
dilukiskan dengan kata-kata.
Gak In Ling yang menyaksikan kelihayan kakek baju merah
itupun diam-diam bergumam seorang diri.
"Ujung jarinya berwarna merah, tetapi dalam telapak maut
yang kupelajari sama sekali tak terdapat jurus ilmu jari."

308
Setelah didalam satu jurus kakek baju merah itu berhasil
membinasakan tiga orang, dengan penuh kegembiraan orang
itu tertawa terbahak-bahak. "Haa..,,. haa..... haa...... mantap.
mantap."
Sebaliknya kakek baju putih yang berada di samping kirinya
dengan suara hambar berkata.
"Kesempatan untuk membunuh orang sudah lewat."
Kakek baja merah itu nampak tertegun, kemudian
membantah.
"Pembunuhan ini mana boleh masuk hitungan ? Kita toh
sudah berjanji bahwa perhitungan ini hanya berlaku selama
berada dalam dunia persilatan saja "
"Bukankah kita telah berjanji, setelah membuka pantangan
membunuh tidak diperkenankan pula setengah jalan? Tetapi
dalam sekejap mata harus diteruskan sampai selesai. Disini
hanya terdapat beberapa orang saja, setelah pantangan
membunuh kau langgar dan pembunuhan tersebut tak kau
kerjakan hingga selesai, bukankah itu berarti bahwa kau telah
kehilangan kesempatan membunuh lagi ?"
Kakek baju merah itu berpikir sebentar, kemudian dengan
perasaan menyesal ia berkata.
"Aaah, benar juga perkataanmu. Sayang sekali, kalau tahu
begitu aku takkan melakukan pembunuhan "
Satelah berhenti sebentar, tiba-tiba serunya
"oa ya disini masih ada dua orang lagi, kalau sekarang juga
kulanjutkan seranganku, bukankah itu berarti aku sudah
mengacaukan pembunuhan di tengah jalan?"
Sejak menyaksikan anak buahnya menemui ajal dalam
keadaan yang tidak jelas duduk perkaranya, Buddha antik
sudah merasa terkesiap sehingga untuk beberapa saat
lamanya tak mampu melakukan sesuatu apapun, kini

309
kesadarannya telah pulih kembali, ia tak berani berdiam
disana lebih lama lagi, sepasang kakinya menjejak tanah
sekuat tenaga dan tubuhnya cepat-cepat kabur menuju
kearah lembah. .
Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba
terdengar kakek baju merah itu tertawa dingin dan berseru.
"Hm Kau akan lari kemana ?"
Buddha antik merasakan urat nadi pada pergelangan
tangan kanannya mengencang dan seluruh tenaga dalam yang
dimilikinya seketika musnah tak berbekas, rupanya ia sudah
terjatuh ke tangan kakek baju merah itu.
Gak In Ling perlahan-lahan menengadah dan menyapu
sekejap kearah Buddha antik, kemudian sambil tertawa dingin
ejeknya.
"Buddha antik, sayang sekail aku orang she Gak tidak dapat
turun tangan sendiri untuk membinasakan dirimu, akan tetapi
aku dapat menyaksikan engkau berangkat selangkah lebih
duluan, hal ini merupakan suatu kejadian yang patut
digembirakan olehku "
Buddha antik sendiri rupanya sudah menyadari bahwa
jiwanya bakal melayang ditangan kakek baju merah itu, mend
engar perkataan tersebut, dengan nada dingin ia menjawab.
"Selisih jarak antara lima puluh langkah dengan seratus
langkah hanya terpaut kecil sekali, luka dalam yang kau
deritapun tak ada orang yang mampu untuk mengobatinya,
setelah aku mati kaupun akan menyusul diriku serta menemui
aku masuk liang kubur. sekalipun aku mati duluan, kematian
inipun tidak terasa sepi "
Kakek tua baju merah itu tertawa seram, tiba-tiba selanya.
"He...he he..,.. hwesio gadungan, apakah perkataanmu telah
selesai kau ucapkan ?" Wajahnya menyeringai seram, ruparupanya
ia sudah siap sedia untuk turun tangan-Tiba-tiba
kakek tua baju putih itu buka suara dan berkata.

310
"Tunggu sebentar, hwesio gadungan seandainya aku
sanggup menyembuhkan luka yang diderita oleh bocah itu,
kau akan mempertaruhkan apa?" sambil berkata ujung
matanya diam-diam melirik sekejap kearah kakek tua baju
merah itu.
Rupanya kakek baju merah itu seorang yang paling suka
bertaruh, mendengar tentang soal pertaruhan sekilas rasa
girang dengan cepat menghiasi wajahnya. Dengan pikiran
yang cermat Buddha antik berpikir sebentar, kemudian
jawabnya.
"Andaikata cianpwe benar-benar dapat menyembuhkan
penyakit yang diderita orang ini, aka pun bersedia mati
ditangan orang ini "
Buddha antik gadungan ini benar-benar seorang manusia
yang licik dan berbahaya, ternyata dia bermaksud untuk
mengulur waktu.
Kakek tua baju putih itu pura-pura tidak mengerti dan sinar
matanya segera menyapu sekejap kearah kakek tua baju
merah itu sambil bertanya. "Tua bangka, apakah kau setuju ?"
"Seandainya kau benar-benar ada maksud untuk bertaruh
dengan orang ini, aku sih masih dapat menyabarkan diri dan
untuk sementara waktu tak akan membinasakan dirinya lebih
dahulu"
"Baik, kalau begitu kita putuskan demikian saja," jawab
kakek baju putih itu sambil mengangguk.
Habis berkata ia berjongkok dan memeriksa nadi Gak In
Ling.
Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian yang
mencekam seluruh jagad. Lama... lama sekali, akhirnya kakek
baju putih itu bangkit berdiri dan gelengkan kepalanya
berulang kali, serunya.

311
"Habis sudah kali ini aku benar-benar kalah, penyakit yang
diderita orang ini rupanya memang sudah tak dapat ditolong
oleh seluruh manusia dikolong langit ini "
Mendengar jawaban itu terjelaslah hati Buddha antik,
diapun berpikir didalam hati kecilnya.
"Habis sudah riwayatku, kalau ia tak dapat disembuhkan,
bukankah itu berarti bahwa akupun akan kehilangan
kesempatan untuk melarikan diri. Rupanya nasibku memang
akan habis disini."
Tiba-tiba terdengar kakek tua baju merak itu buka suara
dan berkata.
"Hem, dikolong langit masa ada penyakit yang tak dapat
disembuhkan ? Tua bangka, kau, jangan mengigau seenaknya
sendiri"
"Ha ha...., ha. .... akhirnya kau terjebak pula oleh siasatku
"pikir kakek tua baju putih itu dalam hati kecilnya sambil
tertawa geli. Setelah termenung sebentar, iapun segera
berkata. "Jadi kaupun ingin bertaruh ?"
"Bertaruh ya bertaruh."jawab kakek tua baju merah itu
tanpa berpikir panjang lagi "cara kita masih juga seperti
dahulu, kalau aku yang menang bertaruh maka kau ijinkan
aka untuk melakukan satu kali pembunuhan, secara puas,
bagaimana ?"
"Baik." sahut rekannya mengangguk. Kakek baju merah itu
segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan
Buddha antik "IHei, hwesio gadungan aku anjurkan kepadamu
lebih baik janganlah mencoba-coba untuk mengambil suatu
tindakan yang bodoh. Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku
membacok badan mu hidup-hidup"
Selesai berkata ia segera berjalan kehadapan Gak In Ling,
berjongkok di sisi tubuhnya dan mulai memeriksa denyutan
nadinya. .

312
Sepasang alisnya matanya berkernyit, wajah kakek tua baju
merah itu berubah jadi amat serius, lama lama sekali ia baru
bangkit berdiri dan putar otak dengan kepala tertunduk.
mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Menyaksikan keadaan rekannya itu, kakek tua baju putih itu
segera tertawa terbahak-bahak
"Haa... haa...... hai tua bangka, Kau sudah tertipu Hawa
murninya tersumbat karena hatinya mengalami kesedihan
yang keliwat batas, kemudian badabnya termakan pula oleh
sebuah pukulan, coba bayangkan penyakit semacam ini mana
mungkin bisa disembuhkan Lebih baik kau menyerah saja "
"Tua bangka, kau benar-benar licik " teriak kakek tua baju
merah itu dengan suara gemas.
Mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia tertawa
terbahak-bahak sambil berseru. "Ha ha ha tua bangka, kali iniengkaulah
yang akan menderita kalah "
"Siapa yang bilang ?" seru kakek baju putih tertegun-
"Masa kau mampu untuk menyembuhkan penyakitnya ?"
Kakek tua baju merah itu tidak menjawab, sambil ulapkan
tangannya kearah Buddha antik ia berseru.
"hwesio gadungan, sekarang enyahlah kau dari sini, Kami
akan jalankan pertarungan ini hingga sampai pada akhirnya,
bila bocah ini telah sembuh dengan sendirinya akan bisa
datang mencari dirimu untuk membikin perhitungan"
Mendengar dirinya bebas Buddha antik jadi berlega hati
dan keberaniannya pun jadi pulih kembali seperti sedia kala, ia
segera menjawab. "Bolehkah aku mengetahui nama besar
cianpwe berdua "
Pada waktu itu kakek baja merah tersebut sedang gembira,
tanpa berpikir ia menjawab. "Yang seorang bernama Ki-san
(suka kebajikan) dan yang lain bernama Ki-oh (suka
kebejadan) "

313
Air muka Buddha antik gadungan seketika berubah hebat
setelah mendengar disebutnya nama itu, secara beruntung ia
mundur empat langkah kebelakang, serunya.
"oooh,.... kiranya Lan In Lojin serta ciang liong-sian dua
orang loelanpwe, boanpwe mohon diri lebih dahulu."
Selesai berkata ia putar badan dan sekuat tenaga melarikan
diri terbirit-birit dari tempat itu, keadaannya mirip sekali
dengan anjing buduk yang kena digebuk.
Sepeninggalnya Buddha antik kakek tua baju putih alihkan
sorot matanya daa melirik sekejap kearah Gak In Ling,
kemudian kepada kakek baju merah tegurnya. "Dengan cara
apakah engkau akan menyembuhkan penyakit yang diderita
ini?"
"Itu, obat mujarabnya berada ditengah sungai" jawab
kakek baju merah sambil tertawa. Satu ingatan berkelebat
didalam benak kakek baju putih itu, pikirnya didalam hati.
"Gembong iblis ini benar-benar seorang pecandu judi,
untuk menangkan pertaruhannya, ternyata dia bersedia
menghadiahkan buah naga air yang sudah diincarnya selama
belasan tahun, tak aneh kalau dia merasa begitu yakin kalau
jiwa bocah ini dapat diselamatkan olehnya." berpikir sampai
disini, sambil tertawa dia lantas berkata. "Apakah engkau akan
menghadiahkan buah naga air tersebut kepadanya ?"
"Yang sebenarnya maksud serta tujuan kedatanganku
kemari meskipun alasannya karena buah naga air, tetapi
maksudku yang sebenarnya adalah untuk membunuh
beberapa orang guna untuk memantabkan hatiku "
Terkesiap juga hati Gak In Ling mendengar ucapan itu,
pikirnya didalam hati.
"Perangai orang ini amat keji dan sadis, kekejaman hatinya
benar-benar mengejutkan hati orang, sungguh tak kunyana
dikolong langit masih terdapat gembong iblis yang membunuh

314
orang sebagai bahan kesenangan- Betul-betul mengerikan-"
Sementara itu kakek baju putih sudah berkata lagi.
"Jadi kau sudah menduga pasti ada orang yang akan
datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika
tersebut ?"
"Paling sedikit hwesio gadungan itu adalah rombongan
yang pertama, tentu saja dibelakang mereka masih terdapat
banyak orang lagi yang akan datang kemari untuk ikut
memperebutkan buah mustika itu dan dengan sendirinya
tujuanku pun akan tercapai." Mendadak ia membungkam
sebentar, kemudian ia bertanya.
"Tua bangka, sebenarnya apa sih tujuanmu menarik aku
untuk bersama-sama berdiri diatas permukaan air ?"
"Sekarang baru teringat akan kejadian itu, aku lihat
pertanyaanmu itu kau ajukan terlalu lambat"
Kakek baju merah itu jadi amat gusar, teriaknya keras.
"Hm Tindakanmu ini bukankah kurang mencerminkan
tindak-tanduk seorang lelaki sejati?"
"Kalau kau tidak datang, akupun tidak bisa berbuat apaapa,
setelah engkau datang sendiri ke mari, toh bukan aku
yang memaksa dirimu untuk menghendaki kehendakku,
kenapa menyalahkanku? "
Kakek baju merah ita berpikir sebentar lalu sambil
menghela napas panjang katanya. "Aaaiii sudah, sudahlah,
anggap saja aku yang lagi sial, dan kembali terjebak oleh
siasat setanmu." setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih
jauh. "Kembalilah ketepi daratan dan jagalah bocah itu, aku
akan pergi mengambil buah itu."
"Hati-hati dengan makhluk ganas tersebut " seru kakek
baju putih memperingatkanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
315
"Engkau maksudkan aku tak mampu untuk menyembuhkan
penyakitnya ?"
kakek jubah putih itu rupanya telah memahami
bagaimanakah watak dari orang itu, ia segera gelengkan
kepalanya dan menjawab.
"Buah naga air tak boleh dibiarkan terlalu lama
meninggalkan batangnya, kalau engkau ada maksud untuk
membinasakan hwesio gadungan tadi maka daya khasiat buah
tersebut tak boleh dihilangkan dengan sia-sia, sebab kalau
tidak maka dalam pertaruhan ini kau akan menderita kalah."
Dengan kepala tertunduk kakeh baju merah itu berpikir
sebentar, dia tahu jika pertarungan ini dimenangkan oleh
pihak lawan, maka niscaya dia akan dikurung kembali dalam
lembah Lan- in kok selama lima tahun, pada waktu itu kecuali
setiap hari harus menemani kakek baju putih itu, perbuatan
apapun tak dapat dilakukan, keadaannya pada saat itu pasti
akan tersiksa sekali, maka sambil tertawa katanya. "Kalau
memang begitu aku harap engkau suka membantu diriku "
Tidak menantikan jawaban dari kakek baju putih lagi, dia
enjotkan badan dan terjun kedalam air, dalam beberapa kali
kelebatan saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan-
Setelah kakek baju merah itu terjun ke dalam air, kakek
baju putih itu segera alihkan sorot matanya kearah Gak In
Ling sambil bertanya. "Bocah, apakah kau bernama Gak In
Ling?" Sianak muda itu mengangguk.
"Benar, darimana cianpwe bisa mengetahui akan namaku
?"
"Asal usulmu telah kuketahui semua, karena tempo dulu
ayahmu pernah datang berkunjung ke lembah Lan-in-kok."
Satu ingatan berkelebat dalam benak pemuda itu, dengan
nada kaget tanyanya. "Jadi cianpwe benar-benar adalah Lan la
Lojin ?"

316
"Sedikitpun tidak salah "
"Tapi orang itu..." kata Gak In Ling dengan ragu-ragu.
"Maksudmu kenapa kakek tua baju merah bisa berada
bersama-sama ku ?" tanya Lan in Lojin-
"Benar " pemuda itu mengangguk. Lan in Lojin menghela
napas panjang.
"Aaaiiijiwa manusia sebenarnya bajik, meskipun tingkah
laku orang itu amat kejam daa tak kenal prikemanusiaan akan
tetapi semua kekejamannya itu diciptakan oleh pengaruh
keadaan berbicara mengenai asal-usulnya ia adalah seorang
manusia yang patut dikasihani."
"Jadi maksudmu kesenangannya membunuh manusia
adalah suatu perbuatan yang pantas ?" tanya Gak In Ling
terperanjat.
"Akan kuceritakan asal-usulnya kepadamu, mungkin setelah
kau mengetahui kejadian yaag menimpa dirinya maka engkau
tak akan mempunyai kesan buruk terhadap dirinya lagi."
Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.
"Sejak kecil dia mengalami nasib yang sangat buruk.
ayahnya mati karena dibunuh dan dicelakai oleh komplotan
sahabat serta familinya sendiri, karena mengincar harta
kekayaan yang dimiliki orang tuanya, bukan saja sang ayah
dibunuh bahkan ibunya yang telah menjandapun diusir
sehingga setiap hari harus mengemis dijalan untuk
menyambung hidupnya, setiap hari ia dicaci- maki dihina
ditertawakan membuat dia yang pada waktu itu berusia tiga
belas tahun mempunyai kesan yang amat buruk terhadap
orang lain, tidak dapat dihindarkan lagi tertanam suatu watak
yang bengis dalam hatinya. Suatu malam ketika ia berusia
empat belas tahun, pada waktu itu sedang hujan badai yang
amat deras, ibunya yang paling dia kasihi ternyata diperkosa
orang dan kemudian dibunuh, rasa dendam, benci yang
bertumpuk-tumpuk membuat wataknya berubah makin kejam.

317
Untuk membalaskan dendam bagi kematian orang tuanya
ia telah berkelana hampir tiga puluh tahun lamanya, tetapi
selalu gagal untuk mempelajari serangkaian ilmu silat yang
agak genah, tiga kali menuntut balas hampir saja jiwanya ikut
melayang, dalam putus asanya tiba-tiba ia mengembara
keluar perbatasan dan sejak itulah dalam dunia persilatan
telah kehilangan orang tersebut."
Lan In Lojin menghela napas panjang, dengan wajah serius
sambungnya lebih jauh.
"Siapa tahu, setelah ia lenyap hampir lima puluh tahun
lamanya, dalam dunia persilatan telah terjadi suatu
gelombang besar yang amat mengejutkan setiap orang, dalam
semalaman saja laki perempuan sampir dua ratus orang
banyaknya yang berdiam didesa kelahirannya telah ditemukan
mati dalam keadaan mengenaskan diseluruh jalan besar, tak
seorangpun yang lolos dalam pembunuhan masal itu, mereka
yang dahulu pernah menganiaya serta menghina dirinyapun
mati secara konyol, kabar berita itu dengan cepatnya tersiar
dalam dunia persilatan, semua orang menyebut dirinya cingliong-
oh-mo iblis bengis naga hijau, semua partai
menghimpuni kekuatan untuk membinasakan dirinya, akan
tetapi ilmu silat yang dimiliki orang itu amat tinggi, setiap kali
terjadi pengeroyokan semua orang yang ikut dalam
pergerakan tersebut tak seorangpun yang pernah kembali lagi
dalam keadaan hidup.
Sejak itulah di- mana ia munculkan diri, bagaikan terserang
wabah penyakit yang menular, orang-orang pada
menghindarkan diri dan mengungsi, sedang diapun menjadi
lambang dari segala kebejadan dan kejahatan yang ada
dikolong langit.."
"Bagaimana selanjutnya ?" tanya Gak In Ling sambil
mengerdipkan sepasang matanya.
"Akhirnya dia ditaklukkan orang "

318
"Dan orang itu pastilah locianpwe." Lan In Lojin
mengangguk.
"Benar kami telah bertempur selama tiga hari tiga malam
lamanya diatas gunung Kun-san "
"Dan akhirnya locianpwe berhasil menangkan penarungan
tersebut ? Bukan begitu ?"
"Tidak Dalam ilmu silat aka tak berhasil memenangkan
dirinya." jawab Lan In Lojin sambil gelengkan kepalanya.
"Lalu secara bagaimana engkau berhasil menaklukkan
dirinya ?"
"Kami bertaruh"
Mendengar sampai disini, Gak In Ling pun memahami
duduk persoalannya, rupanya kecerdasan Lan Io Lojin jauh
lebih tinggi daripada dirinya, tentu saja kesempatan untuk
menangkan pertaruhan jauh lebih banyak daripada lawannya.
Lan In Lojin memandang sekejap kearah permukaan
sungai, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
"Sejak itulah ia telah merubah namanya sendiri sebagai
ciang-liong-sian, ia telah berjanji dengan diriku, setiap kali
kalah bertaruh maka dia harus dikurung selama lima tahun
didalam lembah Lan- in- kok, dan setiap kali menang bertaruh
maka ia diperbolehkan melakukan pembunuhan satu kali."
Pada saat itulah tiba-tiba dari permukaan sungai
berkumandang datang suara deburan ombak yang menerjang
tepi pantai, mendengar suara tersebut dengan wajah berubah
jadi amat tegang Lan In Lojin segera bangkit berdiri dan
menuju ketepi pantai.
Tampaklah ciang-liong-sian sambil membawa sebiji buah
berwarna putih mulus yang besarnya bagaikan telur ayam
sedang bergerak menuju ke- atas daratan, dibelakang
tubuhnya mengikuti seekor makluk aneh sebesar gayung air

319
yang menyerupai naga, juga menyerupai ular dengan sebuah
tanduk diatas kepalanya.
Menyaksikan peristiwa itu Lan In Lojin setera membentak
keras, dengan cepat tubuhnya meloncat setinggi belasan
tombak keangkasa lalu menerjang kearah sungai, dari tengah
udara dengan ilmu lek peng-ngo-gi atau membumi rata lima
bukit dia hajar makhluk aneh tersebut.
Tiada desiran angin yang berhembus lewat dari telapaknya,
namun muncullah segulung tenaga tekanan tak berwujud
yang dengan cepat menghantam makhluk aneh itu sehingga
tercebur kembali kedalam air sungai.
Dalam pada itu ching-liong-sian sudah berada diatas
daratan, sambil lari menuju kearah Gak In Ling serunya
dengan cemas.
"cepatlah kau telan buah ini, kalau tidak maka khasiatnya
akan lenyap seketika "
"Terhadap kekejaman yang dilakukan orang ini Gak In Ling
sudah mempunyai kesan yang lebih baik, sambil menatap
tajam wajah ciang-liong-sian diapun berkata. "Aku orang she
Gak takkan membicarakan tentang budi kebaikanmu ini lagi "
Sambil berseru dia menerima buah berwarna putih itu dan
segera dimasukkan kedalam mulut.
ciang-lloag-sian agaknya dibikin tertegun oleh perkataan
tersebut, sesudah termangu-mangu sejenak ia berseru dengan
nada keheranan-"Sebenarnya apa maksud dari perkataanmu
itu?" Gak In Ling mengedipkan sepasang matanya kemudian
menjawab. "Karena selama hidup aku sudah tak dapat
membalas budi kebaikanmu lagi."
ciang-liong-sian tertawa terbahak-bahak. dengan sepasang
matanya yang amat tajam ia menatap wajah Gak In Ling
beberapa saat lamanya, seakan-akan sedang menikmati
sesuatu yang indah serunya kembali.

320
"Hei, bocah muda, kau benar-benar tampan sekali. Setelah
kau telan buah naga air bukan saja tenaga dalammu telah
memperoleh kemajuan yang amat pesat, mungkin wajah
mupun akan bertambah tampan, benar-benar berharga sekali,
benar-benar tak kecewa pekerjaanku "
"Mungkin aku hanya menyia-nyiakan harapan dari
locianpwe " sambung Gak In Ling sambil tertawa sedih.
Habis berkata perlahan-lahan ia pejamkan matanya
kembali.
Dari arah sungai terdengarlah Lan In Lrjin sedang
membentak dengan suara yang amat keras. "Binatang Kau
akan lari kemana ?"
ciang-liong-sian segera berpaling, tampaklah ombak
disungai menggulung setinggi bukit, keadaan benar-benar
mengerikan sekali, sementara Lan In Lojin sambil berdiri kekar
di tepi daratan melancarkan pukulan-pukulan dahsyat kearah
sungai, posisinya nampak terjepit dan mengerikan-
Setelah berdiam selama banyak tahun dengan Lan In Lojin,
kesan ciang-Hong-sian terhadap sahabatnya ini boleh dibilang
sudah mendalam sekali, walaupun dia tahu bahwa sahabatnya
mempunyai keyakinan untuk menangkan pertarungan ini akan
tetapi ia tetap merasa tak lega hati, sambi mengempos
tenaganya, ia bersiap sedia untuk memberi bantuan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari tepi pantai berkelebat lewat
serentetan cahaya putih dan kemudian lenyap didalam sungai,
bersamaan itu pula gulungan ombak yang amat dahsyat diatas
permukaan air pun menjadi tenang kembali.
Baik Lan In Lojin maupun ciang-liong-sian jadi tertegun
menyaksikan peristiwa itu, tiba-tiba dari tempat kejauhan
berkumandang datang suara seruan seseorang yang amat
nyaring, "Kalian pergilah dari sini "

321
"Tolong tanya siapakah namamu ?" seru Lan In Lojin
dengan suara lantang. "Gadis suci dari Nirwana, burung hong
aneh dari luar lautan " Air muka Lan In Lojin segera berubah
jadi muram, pikirnya.
"Dunia persilatan yang sudah tenang, rupanya takkan
menjadi tenang untuk selamanya." Sementara itu ciang-liongsian
telah berkata sambil tertawa.
"Aku lihat kau tak dapat melakukan perbuatan yang
memikirkan tentang keselamatan umat manusia lagi,
bagaimana tua bangka ? Bila beberapa orang perempuan yang
berkepandaian silat tinggi itu mulai memperebutkan dunia
persilatan maka kekacauan yang bakal terjadi akan sepuluh
kali lipat lebih hebat daripada kekacauan yang kuciptakan
beberapa tahun berselang haa haa haa bagaimana ? Aku lihat
kali ini kau sudah tak dapat kembali kelembah Lan- in- kok
lagi."
Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang
itu sudah berjalan kearah daratan-
Lan In Lojin tampak berpikir sebentar, kemudian bertanya.
"Aku mempunyai suatu akal yaog sangat bagus, cuma aku
tak tahu apakah engkau si tua bangka menyetujuinya atau
tidak."
Khasiat dari buah naga air itu benar-benar luar biasa dan
mustajab sekali, dalam waktu yang amat singkat Gak In Ling
telah berhasil menyembuhkan luka dalam yang diderita
olehnya dan segera bangkit berdiri, wajahnya pada saat ini
merah bercahaya dan ketampanannya jauh lebih
mengesankan daripada keadaannya tempo hari. Dengan alis
berkerut ciang-liong-sian segera berseru.
"Tua bangka, kalau ada perkataan cepat-cepat utarakan
keluar, janganlah kau putar-putar jadi membingungkan "

322
"Baik engkau maupun aku adalah sama-sama orang yang
telah berusia seratus tahun, apakah kita masih harus
memperebutkan nama dan kekuasaan dengan orang-orang
muda itu ?"
napsu membunuh tiba-tiba memancar keluar dari balik
mata ciang-liong-sian, ia tertawa terbahak-bahak.
"Haa... haa haa tua bangka, aku sudah mengetahui maksud
hatimu."
Lan In Lojin melirik kearah samping kanan kemudian
bisiknya lirih. "Apakah engkau menyetujuinya ?"
"Kalau dahulu mungkin tidak setuju, tapi sekarang aku
dapat menyetujuinya." Habis berkata ia melirik sekejap kearah
Gak In Ling.
Setelah mendapat persetujuan dari rekannya, Lan In Lojin
segera berpaling kearah Gak In Ling dan berkata dengan
wajah serius.
"Gak In Ling, tahukah engkau bahwa dikolong langit
beberapa saat kemudian bakal terjadi badai hujan deras yang
amat hebat?"
"jangan- jangan ia maksudkan diriku ?" pikir Gak In Ling
dengan perasaan hati agar tergerak.
Berpikir sampai disitu, dia menjawab. "Boanpwe telah
mengetahuinya."
"Apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan situasi
yang amat gawat ini ?" Kembali Gak In Ling merasakan
hatinya agak bergerak. pikirnya didalam hati.
"Urusan pribadikupun tidak sempat untuk diselesaikan,
mana aku punya waktu untuk mengurusi persoalan seperti itu
?" Maka ia segera menjawab.
"Mungkin boanpwe tak dapat melakukan sesuatu apapun
untuk menanggulangi situasi yang amat gawat tersebut."

323
"Tetapi aku telah mengetahuinya bahwa hanya kau seorang
yang mampu untuk mengatasi situasi yang gawat ini dan
hanya kaulah yang mampu untuk menyelamatkan umat
persilatan dari bencana badai yang amat luar biasa ini."
"cianpwe, aku harap kau sudilah kiranya memaafkan aku
orang she Gak, sebab didalam kenyataan aku Gak In Ling
mempunyai kesulitanku sendiri, dan bukannya aku tak
bersedia untuk menyumbangkan tenagaku..."
"Aku mengetahui bahwa engkau sudah pernah menelan pil
cui-sim-wan yang akan mempersingkat hidupmu, tetapi
pengaruh racun itu bukanlah suatu racun yang tak dapat
diobati."
Mendengar jawaban tersebut, keputus-asaan yang selama
ini mencekam hatinya tiba-tiba punah tak berbekas, dan
harapan untuk hiduppun muncul kembali didalam hatinya,
dengan suara tertahan ia berseru.
"Siapakah yang mempuyai obat mujarab untuk
menyembuhkan diriku dari pengaruh racun tersebut ?"
"Gadis suci dari Nirwana "
Begitu mengetahui nama gadis itu, dengan cepat Gak In
Ling gelengkan kepalanya sambil berseru. "Aku tidak ingin
hidup terus"
Dari perubahan air muka Gak In Ling, dengan cepat ciangliong-
sian mengetahui bahwa pemuda itu pastilah menaruh
kesan yang jelek terhadap gadis itu, dengan cepat serunya.
"Hm, agaknya kau memang mempunyai sikap seorang
jantan yang tak sudi tunduk pada kaum wanita."
Merah padam selembar wajah Gak In ling karena jengah,
buru-buru dia alihkan pokok para bicaraan kesoal lain dan
bertanya.
"cianpwee, sebenarnya apa tujuan serta maksudmu ?"

324
"Gak In Ling," sahut Lan Ie Lojin dengan wajah serius,
"benarkah engkau tak tersedia memikirkan keselamatan dari
umat manusia dikolong langit ?" Air muka Gak In Ling berubah
hebat, buru buru ia berseru.
"Boanpwe tidak lebih hanya seorang angkatan muda yang
belum lama terjun kedalam dunia persilatan, kenapa sih
cianpwe mesti harus mencari aku seorang manusia yang sama
sekali tidak berguna ini ?"
"Karena hanya engkau seoranglah yang pantas memikul
tanggung jawab yang amat berat ini?"
"Boanpwe sama sekali tidak mengerti akan maksud dari
perkataan cianpwe itu."
"Karena beberapa orang pemimpin persilatan yang
berkuasa pada saat ini semuanya adalah kaum wanita."
"Lalu apa sangkut pautnya hal ini dengan diriku ?"
"Dikemudian hari engkau tentu akan mengetahui dengan
sendirinya, seandainya engkau mempunyai kebajikan dan
keinginan untuk menyelesaikan tugas mulia tersebut, maka
sepantasnya kalau engkau laksanakan semua perbuatan
seperti apa yang kukatakan kepadamu."
Perlahan-lahan Gak in Ling menengadah ke atas,
sebenarnya dia memiliki suatu watak yang suka berbuat
kebajikan untuk umat manusia, tetapi waktu yang tersedia
amat terbatas sekali, dan dia lagi tidak ingin bertemu kembali
dengan gadis suci dari Nirwana, oleh sebab itulah ia tidak
dapat mengabulkan permintaan itu.
Menyaksikan kesemuanya itu dengan perasaan kecewa Lan
In Lojin menghela napas panjang katanya.
"Aaaiii. .. mungkin juga engkau memang benar-benar
mempunyai kesulitan yang amat terpaksa, baiklah. Mungkin
kejadian itu memang sudah merupakan suratan takdir yang
tak dapat diselamatkan oleh kekuatan umat manusia, mari kita

325
pergi dari sini " Habis berkata ia segera putar badan dan
berjalan menuju kemulut lembah tersebut.
Tiba-tiba Gak In Ling berseru keras. "Locianpwe, boanpwe
menyanggupi permintaanmu itu "
Suaranya agak gemetar, jelas beberapa patah kata itu
diutarakan keluar setelah menghimpun segenap tenaga yang
dimilikinya.
ciang-liong-sian dengan cepat putar badan dan berkata
sambil tertawa keras.
"Haa haa sejak ini hari, sembilan jurus telapak maut akan
muncul kembali dalam dunia persilatan, seringkali diwaktu
senggang aku selalu membayangkan sampai kapankah
manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai jagoan
dalam dunia persilatan bakal roboh bergelimpangan termakan
oleh pukulan telapak mautku, dan kapan kegemaranku untuk
membunuh orang bisa terpenuhi, ternyata sekarang
kesempatannya telah tiba Haa ha. ha...... tua bangka...Engkau
tentu tidak akan pernah membayangkan bukan, kalau aku
selalu menantikan saat seperti ini ?"
Seolah-olah hanya membunuh manusialah yang akan
menggirangkan hatinya, teringat kalau sebentar lagi ia boleh
melampiaskan kegemarannya uatuk membunuh manusia,
kakek tua baju merah itu jadi kegirangan setengah mati.
Sebaliknya Gak In Ling yang mendengar perkataan itu jadi
terperanjat, segera serunya. "Telapak maut ? Semuanya terdiri
dari sembilan jurus banyaknya? Aneh sekali"
"Kenapa ? Apakah kau merasa terkejut bercampur heran ?"
tegur ciang-liong-sian-Sebelum pemuda itu sempat menjawab,
Lan In Lojin telah berkata lebih dahulu.
"Mari kita berbicara sambil melakukan perjalanan Sekarang
sudah tiba waktunya bagi kita untuk berangkat "

326
Sesudah berhenti sebentar, kepada ciang-liong-sian ia
berkata.
"sepanjang jalan kau tidak diperkenankan untuk turun
tangan membunuh orang lain"
"Tapi aku toh menangkan taruhan itu, kemenangan
tersebut sama sekali belum kunikmati barang satu kalipun"
bantah ciang-liong-sian dengan dahi berkerut.
"Tadi bukankah kau sudah membunuh orang ?" ciang-liongsian
jadi amat gelisah, buru-buru katanya.
"Aah, mana mungkin Aku tak pernah membunuh seorang
manusiapun ditempat ini"
Lan In Lojin segera melompat dua puluh tombak jauhnya
kesebelah kanan, dari balik semak belukar dia mengangkat
sesosok mayat dan berseru.
"Kalau memang begitu, aku ingin bertanya siapakah yang
telah membunuh orang ini ?"
"oh, sungguh tak kusangka kau berhasil mengetahui
rahasiaku itu." seru ciang-liong-sian dengan nada amat
kecewa.
"Ketika kau tertawa terbahak-bahak tadi. Dari balik biji
matamu telah memancarkan napsu membunuh, pada saat
itulah aku sudah tahu kalau kau telah melakukan pembunuhan
"
Dengan perasaan apa boleh buat ciang-liong-sian
gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Aaaii kau memang luar biasa sekali. Nah, cepatlah ambil
keluar lilinmu itu, aku akan segera melakukan pembunuhan
terhadap orang-orang yang mengincar buah naga air
disekeliling tempat ini"
Lan In Lojin gelengkan kepalanya dengan perasaan sedih,
dari sakunya dia segera mengambil keluar sebatang lilin yang

327
pendek sekali dan panjangnya cuma satu sentimeter,
kemudian memasang api dan menyulut lilin tersebut.
Bersamaan dengan bersinarnya lilin tadi, ciang-liong-sian
bersuit panjang dengan nada yang mengerikan sekali,
badannya berkelebat kedepan dan seketika lenyap dari
pandangan-
Lan In Lojin menghela napas panjang berat sementara Gak
In Ling tidak habis mengerti perbuatan apakah yang sedang
dilakukan oleh mereka berdua.
Lilin yang panjangnya satu senti meter itu dalam waktu
tingkat sudah habis terbakar, cahaya apinya semakin lama
semakin lemah dan akhirnya hampir padam.
Sebelum cahaya api lilin itu padam keseluruhannya, tibatiba
bayangan manusia berkelebat lewat dan ciangliong-sian
muncul kembali ketempat semula. Lan In Lojin segera
menghela napas panjang dan gelengkan kepalanya berulang
kali.
"Engkau memang keterlaluan sekali, sehingga waktu
sedetikpun tidak kau buang dengan begitu saja."
"Haa haa haa.. .. lima belas orang.... lima belas orang"
"Semuanya kau bunuh mati ?"
"Belum pernah aku biarkan korbanku roboh dalam keadaan
hidup, tentu saja mati semua " Gak In Ling jadi amat
terperanjat, pikirnya.
"Dalam waktu yang demikian singkatnya, ia berhasil
membinasakan lima belas orang jago, ia memang benar-benar
hebat sekali. Kalau seseorang tidak memiliki dasar ilmu silat
yang baik, tak mungkin mereka berani datang kemari untuk
ikut memperebutkan buah mustika tersebut, sebaliknya
dengan dasar ilmu silat yang tinggi ternyata berhasil dibunuh
oleh orang ini tanpa menimbulkan kegaduhan atau suara

328
barang sedikitpun juga, dari sini bisa dibuktikan betapa
lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang ini...."
Kemudian ia berpikir lebih jauh: "Apakah orang-orang itu
betul-betul datang kemari ikut memperebutkan buah naga air
? Benarkah buah naga air itu adalah sebiji buah yang langka
dan amat berharga sekali ?"
Sementara itu Lan In Lojin telah berkata. "Mari kita pergi "
"Pergi kegunung Tiang Pek San atau telaga Yau-ti ?" tanya
Gak In Ling dengan perasaan tidak tenang. Lan In Lojin
mengangguk.
"Benar, ayo berangkat " habis berkata ia segera berangkat
lebih dahulu meninggalkan tempat itu.
Gak In Ling segera menyusul di belakangnya, sedang
ciang-liong-sian berada paling belakang.
Dengan gerakan tubuh yang sangat cepat ke tiga orang itu
berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka
telah lenyap di-dalam kegelapan-
Lama sekali sesudah kepergian ketiga orang itu, dari
tengah lembah muncul kembali beberapa puluh sosok
bayangan manusia, mereka menyapu sekejap kearah mayat
yang bergelimpangan diatas tanah, kemudian dengan keringat
dingin membasahi seluruh tubuh-merekapun berlalu pula
menuju kemulut lembah.
Salju yang tebal menyelimuti hampir seluruh puncak
gunung Tiang-pek-san, tinggi permukaan diatas bukit itu
kurang lebih ada beberapa ribu meter dari permukaan air laut,
tiga sosok bayangan manusia dua orang kakek tua dan
seorang pemuda tampan sedang berjalan diatas salju yang
putih dengan kecepatan bagaikan terbang, dalam waktu
singkat mereka telah berada kurang lebih empat-lima puluh
tombak jauhnya dari tempat semula.

329
Tiba-tiba ketiga orang itu menghentikan gerakan tubuhnya
didepan sebuah hutan pohon song yang teratur rapi sekali,
terdengar kakek tua baju merah itu berkata. "Disinilah
tempatnya, tak mungkin bakal salah lagi."
"Bagaimasa caranya kita memberitahukan kedatangan kita
kepada orang-orang itu ?" tanya sang kakek baju putih
dengan cepat.
"Kita terjang masuk saja kedalam dengan kekerasan-"
"Menurut pendapat boanpwe," sambung sang pemuda
yang bukan lain adalah Gak In Ling. "Kemungkinan besar kita
sudah berada dibawah pengawasan mereka " Lan In Lojin
segera tertawa.
"Kita tokh bukan datang untuk mencari balas, apa yang
perlu dirisaukan lagi ? Ayo berangkat, kita masuk kedalam
hutan "
Selesai berkata ia segera bergerak lebih dahulu menuju
kedalam hutan pohon siong tersebut.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 10
SEBELUM jauh mereka melangkah masuk kedalam hutan
itu, mendadak dari sekeliling tempat itu berkumandanglah
suara bentakan-bentakan yang amat nyaring disusul
munculnya beberapa orang gadis muda yang dengan cepatnya
mengepung ketiga orang itu di dalam kalangan, setiap orang
memancarkan sikap bermusuhan dan dilihat dari gerak-gerik
gadis-gadis itu, rupanya setiap saat suatu pertempuran sengit
bakal berlangsung.

330
Dengan pandangan tajam Gak In Ling menyapu sekejap
kearah sekeliling tempat itu, kemudian sambil menghela napas
panjang, pikirnya.
"Gadis-gadis muda yang berkumpul ditempat ini rata-rata
masih muda belia dan berwajah cantik jelita, sekalipun tidak
termasuk paling cantik dikolong langit akan tetapi termasuk
manusia manusia pilihan, entah gadis suci dari Nirwana
berhasil mengumpulkan gadis-gadis ini dari tempat mana
saja?"
Sementara itu Lan In Lojin telah tertawa terbahak-bahak
sambil berkata lantang.
"Nona-nona sekalian jangan salah paham, kedatangan kami
bertiga ketempat ini bukan lain adalah untuk menyambangi
Leng-cu kalian "
Mendengar perkataan tersebut, sorot mata para gadis itu
bersama-sama dialihkan kearah seorang gadis muda baju
hijau yang berusia paling tua diantara rombongan iru, rupanya
mereka sedang menantikan keputusannya.
Perlahan-lahan gadis muda baju hijau itu maju kedepan,
kemudian dengan suara dingin katanya.
"Untuk menyambangi Leng-cu kami harus melewati jalan
yang bagaimana, apakah kalian bertiga sama sekali tidak
tahu?"
Mendengar perkataan itu Gak In Ling berdiri tertegun,
pikirnya didalam hati.
"Masa untuk menyambangi Leng-cu mereka terdapat
sebuah jalan khusus yang ditujukan kepada orang-orang luar
yang sengaja datang kemari untuk bertemu dengan ketuanya
?" Tampaklah Lan In Lojin sambil tertawa telah berkata.
"Kami bertiga baru pertama kali ini datang berkunjung
kemari, oleh karena itu tidak mengetahui jalan manakah yang
harus ditempuh, harap nona suka memberi petunjuk."

331
"Mana tanda pengenalnya ?" tanya gadis baju hijau itu
dengan sikap yang amat teliti. sekali lagi keiiga orang itu
berdiri tertegun.
"Tanda pengenal ? Tanda pengenal apa ?" seru mereka
hampir berbareng.
Air muka para gadis yang berada disana segera berubah
bebat, terdengar gadis baju hijau itu berseru.
"Kalau kalian bertiga memang tidak memiliki tanda
pengenal, untuk menjumpai Leng-cu kami tentu saja boleh,
tetapi terpaksa pelayanan nya jauh berbeda."
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, badannya
dengan suatu gerakkan yang aneh dan cepat bagaikan
sambaran kilat berkelebat kedepan mencengkeram urat nadi
pada pargelangan kanan Lan In Lojin dengan jurus "Sinlekshu-
ciau" atau tenaga sakti menundukkan naga.
Lan In Lojin sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu
segera melancarkan serangannya setelah mengatakan akan
menyerang, sehingga membuat ia sama sekali tak ada
kesempatan untuk berbicara, kejadian ini dengan cepatnya
membangkitkan hawa gusar dalam hatinya.
Terdengar ia tertawa terbahak-bahak, sambil tetap berdiri
tenang ditempat semula, serunya.
"Haa haa haa. .. nona, kau terlalu pandang rendah akan
diriku."
Gelak tertawanya amat keras dan nyaring sehingga
membubung tinggi keangkasa, membuat telinga jadi sakit
seperti ditusuk jarum.
Dikala Lan In Lojin masih tertawa terbahak-bahak itulah,
gadis baju hijau itu sudah mencengkeram pergelangan
tangannya, biji mata yang jeli berkilat dan tiba-tiba ia
mengirim sebuah totokan keatas jalan darah cian-cing-hiat
diatas bahu kakek tua itu.

332
Pada saat itulah dari arah lima tombak di sebelah belakang,
berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring.
"Lan-ji, jangan bertindak gegabah cepat mundur
kebelakang "suara orang ini nyaring dan tajam, hal tersebut
menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya amat
sempurna.
Sungguh cepat reaksi dari gadis baju hijau itu, ketika
mendengar peringatan tersebut tanpa berpikir panjang lagi ia
segera buyarkan serangan daa meloncat mundur sejauh
delapan depa dari tempat semula, kemudian dengan cepat
berpaling kearah mana berasal nya suara tadi.
Kurang lebih lima tombak didalam hutan dari belakang
sebuah pohon yang besar muncullah seorang nenek tua
berambut putih, berwajah penuh keriput, bertongkat emas
dan menyoren sebuah seruling perak diatas punggungnya.
Melihat kemunculan nenek tua itu. para gadis yang berada
disana bersama-sama memberi hormat dengan sikap yang
sangat hormat.
Sebaliknya Lan In Lojin serta ciang-liong-sian segera
menunjukkan sikap yang amat kaget sekali, air muka mereka
berdua berubah hebat, dengan nada tercengang serunya
dengan keras.
"Aaah Engkau adalah Kim-ciang-sin-ti tongkat emas
seruling sakti Leng Siang Ji " Perasaan hati Gak In Ling pun
agak tergugah, pikirnya.
"Kalau ditinjau dari perubahan wajah kedua orang ini, jelas
tenaga dalam yang dimiliki orang itu paling sedikit tidak
berada dibawah mereka berdua, benarkah dibawah komando
gadis suci dari Nirwana, ia telah berhasil mengumpulkan
segenap jago lihay yang berada dikolong langit untuk samasama
tunduk dibawah perintahnya ?"

333
Dalam pada itu nenek tua itu sendiripun agak tertegun
ketika mengetahui siapakah dua orang yang sedang
dihadapinya, sambil tertawa ia segera mengangguk dan
berkata.
"Sungguh tak kusangka dua orang jago lihay yang sudah
lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, kini munculkan
diri kembali di-dalam dunia persilatan, sungguh luar biasa
sekali."
"Akan tetapi kalau dibandingkan dengan dirimu, mungkin
kemunculan kami masih terlambat satu tindak^ bukan ?" kata
ciang-liong-sian sambil tertawa bergelak. Tongkat emas
seruling sakti Leng Siang Ji tertawa.
"Bukan saja lebih lambat satu tindak daripada diriku,
mungkin sudah ada tiga orang lain-nya yang berjalan lebih
dahulu di depan kalian "
Satu ingatan berkelebat dalam benak Lan In Lojin, dengan
nada terperanjat serunya. "Maksudmu ketiga orang itupun
sudah datang kemari ?"
"Sedikitpun tidak salah, kemunculanku di-tempat ini pun
atas undangan dari mereka bertiga."
Ciang-liong-sian dengan cepat menarik kembali senyuman
diatas bibirnya, dengan keheranan ia berkata.
"Gadis suci dari Nirwana tokh masih berusia amat muda
sekali, sungguh tak kusangka ternyata ia sanggup
mengundang kalian semua untuk membantu dirinya, apa sih
keistimewaannya sehingga kalian semua bersedia untuk
melaksanakan perintahnya?"
Air muka tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji berubah
jadi serius, katanya dengan sungguh-sungguh.
"Meskipun usia Leng-cu masih amat muda, akan tetapi
kecerdasannya jauh diatas orang biasa, kalau ingin
kuceritakan maka kisahnya tidak ada habis-habisnya, asal

334
kalian berdua bersedia untuk tinggal selama tiga hari dengan
Leng-cu, maka aku tanggung kamu tak akan rela untuk
meninggalkan gunung Tiang-pek-san dengan begitu saja."
Lan In Lojin sangat mengenal watak tongkat emas seruling
sakti Leng Siang Ji, meskipun dia mengetahui bahwa nenek
tua ini terkenal akan sifatnya yang aneh, ditambah pula ilmu
silatnya amat lihay sehingga para jago baik dari kalangan lurus
maupun dari kalangan sesat hampir semuanya jeri dan segan
terhadap dirinya, akan tetapi selama hidup belum pernah
berbicara bohong.
Maka mendengar perkataan itu, tanpa dia sadari lagi
berseru. "Benarkah sudah terjadi peristiwa semacam itu ?"
"Sejak kapan sih aku pernah membohongi orang lain ?"
seru Leng Siang Ji nenek tua bersenjata tongkat dan seruling
itu dengan dahi berkerut kencang.
Untung Lan In Lojinlah yang mengucapkan kata-kata itu.
Seandainya orang lain yang berkata demikian niscaya dia telah
turun tangan untuk memberi pelajaran kepadanya. Rupanya
Lan In Lojin mengetahui bahwa ia telah salah bicara, buruburu
katanya.
"Aah, aku telah salah berbicara, harapkan kaa
memakluminya dan jangan sampai dipikirkan didalam hati."
Setelah orang berkata demikian, tentu saja Tongkat emas
seruling sakti Leng Siang Ji tidak berkata apa-apa lagi, dengan
air muka yang jauh lebih lunak ia bertanya.
"Bolehkah aku mengetahui dengan maksud serta tujuan
apakah kalian bertiga datang keatas gunung Tai-pek-san ?"
"Kami ada urusan hendak berjumpa dengan Leng-cu kalian
" sahut Lan In Lojin sambil tanpa sadar melirik sekejap kearah
Gak In Ling yang berada disampingnya.
Dari dalam hati kecil Gak In Ling segera timbul suatu
perasaan aneh yang sukar dilukiskan dangau kata-kata,

335
menghadap orang yang tidak ingin dijumpainya lagi, bagi
dirinya pekerjaan tersebut boleh dibilang merupakan suatu
perbuatan yang amat menekan bathin.
Pemuda itu mulai menyesal, menyesal karena menerima
tawaran itu, dia merasa tidak sepantasnya untuk menyanggupi
permintaan dari Lan In Lojin untuk datang menemui gadis suci
dari Nirwana yang sudah tak ingin ditemuinya lagi.
Terdengar tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji
berkata dengan suara dingin.
"Dibalik hutan merupakan suatu daerah yang amat
berbahaya sekali, setiap jengkal tanah mengandung hawa
pembunuhan yang amat tebal, jika kalian bertiga ingin
bertemu dengan Leng-cu kami, tidak sepantasnya kalau
berjalan melewati tempat ini, memandang wajah kalian
berdua sebagai sahabat lamaku, terimalah sebuah tanda
pengenal ini sebagai pas jalan kalian untuk masuk kedalam
markas,"
Habis berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar
sebuah tanda pengenal Pek-Giokhu dan diserahkan ketangan
Lan In Lojin, kemudian sambil menuding jalan yang berada
disebelah kanan katanya.
"Kalian boleh mengikuti jalan yang ada di balik batu cadas
putih itu untuk masuk kedalam, disana pasti akan muncul
seseorang untuk memberi petunjuk jalan kepada kalian,"
Tidak sampai ketiga orang itu untuk berbicara. Nenek tua
itu segera memberi tanda kepada beberapa orang gadis itu,
dan di dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah
lenyap dibalik hutan-
"Huh Tempat ini benar benar misterius sekali." gumam
ciang-liong-sian seorang diri. Agaknya Lan In Lojin tidak ingin
berdiam disitu terlalu lama, ia segera berseru. "Mari kita
berangkat"

336
Habis berkata ia berangkat lebih dahulu menuju kearah
mana yang ditunjukkan nenek tua tadi, sedangkan ciangliong-
sian serta Gak In Ling mengintil dibelakangnya.
Ketika mereka tiba dibelakang batu cadas putih, seseorang
segera munculkan diri untuk menghadang jalan pergi ketiga
orang itu, untung mereka membawa tanda pengenal sehingga
sepanjang perjalanan walaupun harus melewati hampir tiga
puluh buah pos penjagaan baik besar maupun keeil, akan
tetapi semuanya dapat dilewati dengan lancar tanpa
mengalami kesulitan barang sedikit-pun juga.
Ketika waktu menunjukkan hampir mendekati tengah hari,
sampailah mereka didalam sebuah lembah yang
berpemandangan sangat indah sekali.
Gak In Ling segera pentang matanya memandang kearah
depan, tampaklah lembah itu luar biasa sekali, rumput yang
hijau tumbuh dengan suburnya, pemandangan disana justeru
merupakan kebalikan dari salju putih yang menyelimuti
wilayah pegunungan Tiangpek-san yang lain-
Di tengah hijaunya rumput bunga bwee yang berwarna
merah tumbuh dimana-mana, sebuah bangunan rumah yang
megah dan mentereng muncul dari balik pohon bwee yang
lebat, sehingga membuat pemandangan disana benar-benar
kelihatan indah. Dalam hati Gak In Ling berpikir.
"Tempat ini benar-benar sangat indah bagaikan berada di-
Nirwana, seandainya aku bisa hidup mengasingkan diri
ditempat ini dan selamanya tidak mencari urusan keduniawian
lagi, hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang
sangat mengesankan-"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu
berkumandang datang disusul berkumandangnya suara
pembicaraan seseorang.
"Bilamana kedatangan siau-moay agak terlambat, aku
harap kalian bertiga suka memaafkan "

337
Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah orang itu,
hatinya tertegun dan segera berpikir.
"Kenapa siperempuan naga peramal sakti sendiri yang
menyambut kedatangan kami ?" Sementara itu Lan In Lojin
telah berkata.
"Tidak berani tidak berani terus-terang saja kami katakan,
adapun maksud serta tujuan kedatangan kami berdua adalah
untuk menemani Gak In Ling."
"Leng-cu kami sejak pertama kali dulu sudah mengetahui
kalau Gak In Ling telah menelan pil cui-sim-cu," tukas
perempuan naga peramal sakti Ki Gick Peng sambil tertawa,
"dan apa tujuan dari kedatangan kalian bertigapun telah
diketahui pula olehnya, dengan demikian malahan sungguh
kebetulan sekali, sebab Leng-cu kami masih terdapat
beberapa buah persoalan yang hendak diruncingkan secara
langsung dengan Gak In Ling sendiri, apakah kalian berdua..."
"Haa haa haa buat kami kemana sajapun bolehlah, kau tak
usah terlalu menguatirkan kami berdua." sambung ciangliong-
sian dengan cepat. Perempuan naga peramal sakti
tertawa.
"Leng-cu telah memerintahkan diriku untuk menyampaikan
permintaan maaInya berhubung tak dapat menyambut sendiri
kedatangan kalian bertiga." katanya.
Bicara sampai disana ia segera memberi tanda kepada dua
orang dayang cilik yang berada dibelakangnya, kemudian
kepada dua orang kakek tua tadi katanya. "Silahkan kalian
berdua duduk beristirahat dalam ruang tamu "
Setelah kedua orang kakek itu berlalu mengikuti kedua
orang dayang tadi, perempuan naga peramal saktipun
berpaling kearah Gak In Ling sambil ujarnya. "Saudara Gak,
silahkan mengikuti aku"

338
Habis berkata ia segera putar badan berjalan menuju
kesebuah bangunan gedung berwarna putih.
Dengan perasaan kaku Gak In Ling mengikuti
dibelakangnya, dalam waktu yang amat singkat itulah
perasaan hatinya amat kacau, karena ia tak dapat menduga
bagaimanakah sikap gadis suci dari Nirwana terhadap dirinya
setelah saling berjumpa nanti ?
Tiba-tiba perempuan naga peramal sakti memperlambat
langkah kakinya sehingga jalan bersanding dengan sianak
muda itu, sambil berpaling ia bertanya.
"Saudara Gak. apakah kedatanganmu kali ini adalah diluar
kehendakmu sendiri ?"
"Benar" jawab Gak In Ling setelah berpikir sebentar,
senyum tawa tersungging dibibirnya.
"Tahukah engkau bila seseorang berada dalam keadaan
uring-uringan, apa yang dapat dilakukan olehnya ?"
"Mungkin pendirian serta sikapnya terlalu menuruti pada
emosi serta perasaan sendiri."
Perempuan naga peramal sakti tertawa lega, kembali ia
bertanya.
"Menurut tanggapanmu patutkah kita mengalah kepada
orang semacam ini?"
"Sudah sepantasnya kalau kita mengalah"
"Saudara Gak. kau cerdik sekali " puji perempuan naga
peramal sakti Ki Giok Peng sambil tertawa.
Merah padam selembar wajah Gak In Ling mendengar
ucapan itu, dengan nada kikuk serunya.
"Nona, kau terlalu memuji "
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah
tiba dibawah bangunan loteng itu, Gak In Ling segera

339
menengadah keatas dan tampaklah pintu gerbang yang
berwarna merah terpentang lebar-lebar. Disisi kiri- kanan piatu
gerbang masing-masing berdiri dua orang gadis berbaju hijau,
sikap mereka keren dan serius sekali.
Dengan dipimpin oleh perempuan naga peramal sakti yang
berjalan didepan, mereka melewati sebuah penutup kain dan
masuk kedalam ruang tengah yang amat luas.
Dengan hati tercekat Gak In Ling menyapu sekejap
sekeliling ruangan itu, ia saksikan perlengkapan dalam
ruangan itu indah sekali seperti istana kaisar, dibelakang
sebuah meja duduklah seorang gadis muda baju putih yang
berwajah amat cantik, orang itu bukan lain adalah gadis suci
dari Nirwana.
Disamping kiri gadis suci dari Nirwana duduklah Su-putsiang,
sedangkan kursi disebelah kanannya masih kosong,
dibawah meja tadi berdirilah dayang-dayang cantik berbaju
putih, wajah mereka semua amat keren dan serius seakanakan
sedang menghadapi suatu pengadilan.
Ketika menyaksikan Gak In Ling berjalan masuk kedalam
ruangan, mula-mula gadis dari Nirwana menunjukkan wajah
kegirangan, tapi hanya sebentar saja rasa girang itu sudah
lenyap tak berbekas, sorot mata yang dingin dengan cepat
dialihkan kearah lain dan pura-pura tidak melihat.
Perempuan naga peramal sakti Ki Giok Pengjadi tertegun
menyaksikan hal itu, pikirnya dalam hati dengan perasaan
tercengang. "Aaii... Leng-cu, kenapa sih ?"
Dan dengan cepat ia berseru deagan suara lantang. "Lengcu,
saudara Gak telah tiba."
"cici, silahkan kembali dan duduk kemari." kata gadis suci
dari Nirwana dengan suara sabar.
Perempuan naga peramal sakti jadi amat gelisah, kembali
ia berseru. "Leng-cu..."

340
"Silahkan duduk "
Diam-diam perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng
menghela napas panjang, pikirnya. "Aah, kalau dilihat dari
keadaannya, urusan pada hari ini bakal celaka...""
Berpikir sampai disini, terpaksa ia berjalan balik kekursi
yang kosong itu dan duduk kembali disana.
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dengan suara
berat katanya.
"Gak In Ling menghunjuk hormat untuk Leng-cu " sambil
berkata ia membungkuk badan dan memberi hormat.
Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana tertawa dingin dan
berkata.
"Aku orang tak berani menerima penghormatan besar dari
engkau Gak In Ling "
Membalas hormatpun ternyata tidak dilakukan-
Berhadapan dengan orang yang begitu banyak, bukan saja
gadis suci dari Nirwana tidak mempersilahkan tamunya untuk
mengambil tempat duduk. malahan sikapnya begitu ketus dan
dingin, jangan dibilang Gak In Ling adalah seorang pemuda
yang berwatak tinggi hati, sekalipun seorang manusia yang
berhati sabarpun tak akan tahan menghadapi pelayanan
semacam ini.
Air muka Gak In Ling seketika berubah hebat, akan tetapi
ia masih tetap menyabarkan diri dan menekan perasaan
amarahnya didalam hati, sambil menghela napas panjang
katanya. "Mungkin aku memang tidak pantas untuk
menyambangi diri Leng-cu."
Sekujur hati gadis suci dari Nirwana gemetar keras, tetapi
ia tak dapat membendung hawa gusar yang berkobar dalam
hatinya, sambil tertawa dingin segera jawabnya.
"Hmm Mungkin memang begitulah keadaannya "

341
Tiba-tiba air muka Gak In Ling berubah semakin hebat,
dengan cepat dia menengadah ke- atas dan berkata dengan
hambar. "Mungkin tidak seharusnya aku berkunjung kemari..."
Suaranya datar dan hambar sekali, bahkan kedengaran
nyata bahwa ia menunjukkan perasaan yang amat menyesal.
Jantung gadis suci dari Nirwana berdetak keras, tubuhnya
agak gemetar, ia sendiripun tak tahu mengapa dia
mengucapkan kata-kata semacam itu terhadap pemuda
tersebut, tetapi kata-kata itu sudah terlanjur meluncur keluar
dan tidak mungkin bisa ditarik kembali.
Sepasang biji mata yang jeli, perlahan-lahan dialihkan
kewajah Gak In Ling, kemudian dengan suara yang jauh lebih
lunak dia bertanya. "sebenarnya apa maksudmu datang
kemari?" Dalam hati kecilnya Gak In Ling tertawa dingin,
pikirnya.
"Secara terang-terangan kau telah mengetahui maksud
serta tujuan dari kedatanganku Gak In Ling, kenapa sih mesti
banyak bertanya lagi" berpikir sampai disini ia menjadi
mendongkol sekali, dengan suara hambar jawabnya.
"Aku pikir lebih baik tak usah kuutarakan lagi " sambil
berkata tiba-tiba ia menggeser kakinya dan siap berlalu dari
tempat itu.
Gadis suci dari Nirwana merasa amat terperanjat, Air
mukanya berubah hebat.
"Hm Sekalipun tidak kau ucapkan, akupun sudah tahu apa
maksud serta tujuan dari kedatanganmu kemari." katanya.
Perlahan-lahan Gak In Ling menarik kembali sinar matanya
dan menyapu sekejap kearah gadis itu, kembali ia berkata
dengan nada hambar.
"Leng-cu adalah seorang manusia yang amat cerdas dan
pintar sekali dikolong langit, tentu saja maksud serta tujuan
dari kedatanganku orang she Gak ketempat ini takkan lolos

342
dari pandangan matamu, hal ini hanya bisa menyalahkan aku
orang she Gak yang benar-benar tak tahu diri, serta
melakukan perbuatan yang tak dapat dilakukan tapi secara
nekad dilakukannya juga . "
Perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng yang
menyaksikan gelagat semakin klan semakin tidak beres, buruburu
bangkit berdiri dan berkata dengan hati cemas.
"Saudara Gak. Leng-cu kami sama sekali tiada bermaksud
lain, harap kau jangan salah paham."
Gak In Ling tertawa sinis. "Aku orang she Gak hanyalah
seorang manusia yang tak jelas asal-usulnya serta berkeliaran
dalam dunia persilatan tanpa tujuan, jangan kata tak berani
menaruh kesalah paha man terhadap Leng-cu, sekalipun
benar-benar telah terjadi kesalah pahaman, apa yang dapat
kulakukan lagi ?" nada suaranya amat berat, seakan-akan
memperlihatkan betapa dan risaunya perasaan hati sianak
muda pada saat itu.
Dengan mata kepala sendiri gadis suci dari Nirwana dapat
menyaksikan kematian dari enci Gak In Ling, maka dari itu
mendengar beberapa patah kata yang amat menyedihkan
tadi, tanpa disadari timbullah perasaan menyesal dalam hati
kecilnya, rasa sesal tersebut susah dilukiskan dengan katakata
terutama sekali setelah meresapi menderita serta
sengsaranya hidup pemuda itu.
Dengan cepat gadis suci dari Nirwana bangkit berdiri,
kemudian tegurnya dengan suara lantang.
"Gak In Ling, sebenarnya apa maksudmu mengutarakan
kata-kata semacam itu ?"
"Apakah Leng-cu takut kalau sampai aku menaruh
perasaan salah paham terhadap dirimu?" ejek si pemuda
sambil tertawa tawa.
"Siapa yang takut"

343
Jawaban ini hanya merupakan suatu jawaban secara
spontan saja, sebenarnya sama sekali tidak mengandung
suatu maksud tertentu.
"Kalau memang begitu bagus sekali." sahut sang pemuda
hambar.
Sesudah menanti sebentar, ia menambahkan "kalau
memang begitu aku ingin mohon diri terlebih dahulu...."
Habis memberi hormat kepada gadis suci dari Nirwana, ia
putar badan dan siap berlalu dari sana.
"Saudara Gak " seru perempuan naga peramal sakti Ki Giok
Peng dengan hati cemas. "Apakah perjalananmu menuju
kegunung Tiang-pek-san yang begini jauhnya ini hanya
merupakan suatu perjalanan yang sia-sia belaka ?"
Gak In Ling sama sekali tidak berpaling, mendengar
perkataan itu dia menghentikan langkahnya dan berseru
dengan nada kebingungan. "Aku.... semestinya tidak pantas
datang kemari "
"Apakah pihak Tiang-pek-san telah menghina dirimu ?"
teriak gadis suci dari Nirwana dengan jengkel.
Dengan cepat Gak In Ling memutar badannya, hawa gusar
seakan-akan hendak meledak dari dalam benaknya, akan
tetapi ketika ia menyaksikan genangan air mata yang
mengembang dalam kelopak mata gadis suci dari Nirwana,
kata-kata pedas yang telah menempel diujung bibirnya itu
tanpa terasa telah tertelan kembali kedalam perut.
Sebenarnya gadis itu memang berwajah amat cantik, kini
berada dalam keadaan sedih dan murung, wajahnya kelihatan
jauh bertambah menarik serta mempesonakan hati. Dengan
sedih Gak In Ling menghela napas panjang, serunya.
"Aku tidak seharusnya menimbulkan kemarahan dari Lengcu,
anggap saja apa yang telah aku ucapkan barusan sebagai
suatu impian yang jelek bagi diri Leng-cu, mungkin sejak ini

344
hari kau tidak akan bertemu lagi dengan orang yang
menimbulkan kemarahanmu itu."
Selesai berkata ia melanjutkan perjalanannya dan dengan
langkah lebar ia menuju kepintu luar.
Gadis suci dari Nirwana tak dapat menahan pergolakan
dalam hati kecilnya lagi, dengan suara gemetar serunya.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan bagimu" habis
berkata buru-buru dia berjalan masuk kedalam ruang
belakang.
Hati seorang gadis, mungkin untuk selamanya tak dapat
diduga oleh orang lain-
Dengan sedih perempuan naga peramal sakti menghela
napas panjang pula, diam-diam gumamnya seorang diri.
"Semoga Thian suka membantu umatNya, agar Gak In Ling
yang keras hati dapat merubah perasaan hatinya..."
Mengikuti guman tersebut, titik air mata jatuh berlinang
membasahi wajahnya.
Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, tentu saja
Gak In Ling tak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu, ia
segera meloncat ke luar, dari ruang tengah dan laksana kilat
melenyapkan dirinya ditengah pepohonan bunga bwee. Dari
belakang tubuhnya terdengar suara perempuan naga peramal
sakti berteriak keras.
"Gak In Ling, kau tidak sepantasnya mengambil keputusan
tanpa berpikir panjang.... batalkanlah niatmu untuk pergi."
Akan tetapi Gak In Ling sama sekali tidak menggubris,
dengan gerakan yeng lebih cepat ia berlalu dari tempat itu.
Tidak lama setelah Gak In Ling lenyapkan diri dibalik
pepohonan bunga b wee, gadis suci Nirwana muncul dari
ruang belakang sambil membawa sebuah kotak putih yang
terbuat dari batu pualam, sorot matanya yang jeli dengan

345
cepat menyapu sekejap dalam ruangan itu, tiba-tiba wajahnya
berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, serunya dengan
gemetar. "Kemana perginya orang itu?"
Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarapun, siapapun diantara mereka tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun, karena kepergian dari Gak In
Ling sedemikian cepatnya sehingga tak mungkin dapat
dicegah kembali, kendatipun perempuan naga peramal sakti
telah menduga sampai kesitu, akan tetapi ia tidak bisa ilmu
silat, apa yang harus dilakukan olehnya?
Dengan perasaan hati yang kaku gadis suci dari Nirwana
meletakkan kotak pualam itu di atas meja, lalu dengan putus
asa tanyanya.
"cici, apakah dia telah pergi ?"
Dengan perasaan yang halus perempuan naga peramal
sakti mencekal sepasang tangan gadis suci dari Nirwana yang
gemetar keras, ujarnya dengan suara lirih. "Leng-cu,
percayakah engkau dengan rencana serta siasatku ?"
Keadaan gadis suci dari Nirwana pada saat ini seakan-akan
telah kehilangan pendirian serta kesadarannya, dengan kaku
dia mengangguk.
Walaupun perempuan naga peramal sakti sendiri tidak
mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan rencananya,
akan tetapi untuk menghibur hati Leng-cunya yang masih
muda- belia itu, dia pun tak berani menunjukkan perasaan
sangsi. Maka dengan nada yang seakan-akan yakin akan
berhasil ia berkata.
"Kepergiannya pasti tak akan terlalu jauh, mari kita segera
bergerak dan mungkin akan berhasil menyusul dirinya."
Bicara sampai disini ia berhenti sebentar kemudian dengan
suara setengah berbisik ujarnya kembali kepada gadis suci
dari Nirwana.

346
"Lain kali kalau engkau berjumpa lagi dengan dirinya, harap
Leng- cu jangan bersikap begitu kasar terhadap dirinya,
ketahuilah dibawah tekanan keadaan yang mengenaskan serta
menyedihkan, dia telah kehilangan rasa percayanya pada diri
sendiri, engkau harus bersikap agar dia tahu bahwa
sebenarnya kau dengan bersungguh hati dan setulus hati
sedang memperhatikan serta menguatirkan keselamatan
jiwanya, hanya sikap yang hangat itulah yang akan
mencairkan perasaan hatinya yang dingin serta telah
membeku itu" Dengan air mata bercucuran gadis suci dari
Nirwana mengangguk.
"Aku dapat berbuat demikian, pasti akan ku lakukan seperti
apa yang kau katakan." jawabnya lirih.
Kali ini suaranya kedengaran begitu lembut, dan manja.
Diam-diam perempuan naga peramal sakti menghela napas
panjang dan dalam hati kecilnya ia berpikir.
"Aaiii....... sejak jaman dahulu kala sampai sekarang cinta
akan mendatangkan banyak kesengsaraan dan kesedihan,
cinta memang benar-benar menakutkan " berpikir sampai
disini ia segera berkata.
"Persoalan ini tak dapat ditunda-tunda lagi Leng-cu Kau
harus segera berangkat"
"Baik, aku akan segera menyusul dirinya "jawab gadis suci
dari Nirwana sambil mengangguk.
Dengan langkah yang cepat ia loncat turun dari mimbar
dan berlalu dari ruangan itu.
"Leng-cu, aku ikut" teriak Su-put-siang dengan hati gelisah.
"Tidak- kau tak usah ikut" suara itu terpancar datang dari
tempat kejauhan-
Su-put-siang tahu bahwa ilmu silat yang di milikinya masih
selisih jauh kalau dibandingkan dengan Leng-cu nya, setelah

347
menyadari bahwa dia telah ketinggalan jauh, terpaksa orang
itu menghentikan gerakan tubuhnya.
---ooo0dw0ooo---
Mari sekarang kita ikuti diri Gak In Ling.
Setelah meninggalkan ruanjan tengah, ia tidak pergi
mencari Lan In Lojin serta ciang- liong sian, sebaliknya
dengan gerakan yang amat cepat dia bergerak menuju
kemulut lembah.
Dengan gerakan ilmu meringankan tubuhnya yang
sempurna, tidak selang beberapa saat kemudian tubuhnya
sudah keluar dari jalan lembah tersebut.
Setelah berhasil menemukan jalan keluar, Gak In Ling
langsung berlarian menuju kebawah gunung Tai-pek-san,
berhubung sewaktu datang tadi semua penjaga dalam pos-pos
penjagaan telah mengenal dirinya, maka ketika pemuda itu
bergerak keluar tak seorangpun yang menghalangi jaLan
perginya .
Sepanjang perjalanan Gak In Ling berlarian terus tiada
hentinya, dalam waktu singkat ia sudah menempuh jarak
sejauh empat puluh li lebih, karena perasaan hatinya tidak
tenang, tentu saja arah tujuannya sama sekali tidak
diperhatikan olehnya, menanti ia menyadari akan hal tersebut
tubuhnya telah berada diatas sebuah puncak gunung yang
menjulang tinggi keangkasa.
Terpaksa Gak in Ling menghentikan langkah kakinya dan
menentukan arah kembali, pikirnya di dalam hati.
"hiiii kenapa sih aku ini ? Kenapa untuk menentukan arah
timur- barat saja tidak mampu ?"

348
Setelah berdiri termangu- mangu beberapa saat lamanya,
dia pun mentukan arah yang sebenarnya dan bergerak
menuju kearah timur.
Pada saat itulah tiba tiba dari tengah udara berkumandang
datang suara pekikan burung hong yang amat keras dan
memekakkan telinga, jika ditinjau dari jarak suara tadi,
kurang-lebih burung hong itu berada pada ketinggian sepuluh
tombak diatas angkasa.
Gak In Ling amat terperanjat, dengan cepat dia
menghentikan langkah kakinya dan menengadah keatas,
dimana sorot matanya memandang dan hatinya merasa amat
terperanjat sekali.
Tampak kurang lebih delapan tombak diatas kepalanya
terbanglah seekor burung hong yang amat besar bagaikan
kereta kuda yang memiliki bulu beraneka warna.
Paruhnya tajam dan berwarna emas, mata nya merah
berapi-api, sekilas memandang burung itu kelihatan
mengerikan sekali, namun binatang tersebut sama tiada
maksud untuk melakukan sergapan-
Gak In Ling pun merasa lega, perlahan-lahan dia mulai
menuruni puncak bukit itu.
Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang
suara bentakan yaag merdu dan amat nyaring.
"Hei, berhenti " meskipun suaranya tidak begitu keras, akan
tetapi mengandung daya kekuatan yang cukup menggetarkan
hati manusia.
Mendengar bentakan itu Gak In Ling tertegun dan tanpa
terasa ia menghentikan langkah kakinya, tetapi hanya
sebentar saja ia berhenti kemudian meneruskan kembali
perjalanannya menuruni bukit tersebut.
Siapa sangka baru saja sianak muda itu melanjutkan
kembali langkahnya sejauh dua tindak. mendadak dari tengah

349
udara berkelebat lewat sesosok bayangan merah dan tahutahu
kurang lebih lima depa di hadapan Gak In Ling telah
bertambah dengan seorang gadis muda yang amat cantik dan
berbaju warna merah.
Gak In Ling merasa amat terperanjat, segera pikirnya
didalam hati.
"Gerakan tubuh perempuan ini benar-benar cepat sukar
dilukiskan dengan kata-kata, sehingga dengan ketajaman
matakupun tak mampu melihat jelaS gerakan tubuhnya,
mungkin tenaga dalam yang dimiliki orang ini tidak dibawah
aku, kenapa sih semua jagoan yang kutemui pastilah seorang
gadis muda yang berwajah cantik? Bahkan kepandaian mereka
rata-rata berada diatas kepandaianku ? Aaai semoga saja dia
datang bukan untuk memusuhi diriku."
Berpikir sampai disini, tanpa terasa lagi sorot matanya yang
tajam dengan cepat menyapu sekejap keatas wajah gadis itu.
Gadis muda baju merah itu berusia antara delapansembilan
belas tahun, matanya jeli dengan alis yang melentik,
hidung mancung dengan bibir kecil- mungil, wajahnya bulat
telur dan kecantikan wajahnya sama sekali tidak berada di
bawah kecantikan gadis suci dari Nirwana, hanya dari balik
matanya secara lapat-lapat memancarkan hawa napsu
membunuh yang sangat tebal membuat orang merasa tak
berani untuk mendekatinya.
Dengan pandangan dingin gadis muda baju merah itu
memandang sekejap kearah Gak Ia Ling kemudian dengan
suara dingin katanya.
"Bukankah engkau baru saja datang dari tempat tinggal
gadis suci dari Nirwana ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab sang pemuda sambil alihkan
sorot matanya kearah lainTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
350
Napsu membunuh yang amat tebal melintas lewat diatas
wajah gadis cantik baju merah itu, kembali ia bertanya.
"Apakah engkau adalah anak buah dibawah perintah gadis
suci dari Nirwana?"
"Aku dengan nona tokh tidak saling mengenal satu sama
lainnya, buat apa nona menanyai diriku dengan begitu jelas ?"
Dara muda baju merah itu tertawa dingin.
"Buat apa ? Aku akan menyaksikan apakah kau
sepantasnya diberi kematian atau lebih pantas dibiarkan
hidup"
Gak In Ling adalah seorang psmuda angkuh yang tinggi
hati, tentu saja ia tak tahan mendengar perkataan semacam
itu, mendengar perkataan tersebut tak tahan lagi ia tertawa
dingin dan mengejek.
"Maksud nona, apakah engkau telah menguasai soal mati
hidupku ? Dan eng kaukah yang akan menentukan kematian
atau kehidupan bagiku ?"
"Tentu saja" jawab dara baju merah itu tanpa pikir panjang
lagi.
Perkataan itu diucapkan amat lancar dan leluasa, seakanakan
mati hidup Gak in Ling memang benar-benar sudah
berada dibawah cengkeramannya.
Mendengar ucapan itu Gak In Ling jadi naik pitam, sambil
tertawa dingin ia segera berseru.
"Kalau memang begitu silahkan engkau mencoba-coba."
"Jadi kau benar-benar tak mau berbicara?" ejek dara muda
baju merah itu sambil tertawa dingin.
"Tentu saja tak mau bicara ?" jawab Gak In Ling ketus.

351
Dari balik sorot mata dara muda baju merah itu segera
terpancarlah napsu membunuh yang sangat tebal, ia tertawa
dingin dan mengejek.
"He he... he... jikalau nonamu ingin membinasakan dirimu,
maka perbuatan ini dapat kulakukan dengan gampang sekali
bagaikan-.."
Belum habis ia berkata, tiba-tiba gadis itu putar badan dan
membentak kearah sebuah batu cadas yang menonjol keluar
kurang lebih dua puluh tombak dihadapannya.
"Kawanan tikus dari manakah yang bersembunyi ditempat
itu, ayoh cepat menggelinding ke luar dari tempat itu "
Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu jadi amat
terperanjat .sekali, pikirnya didalam hati.
"Jarak dari tempat ini sampai kearah batu cadas itu amat
jauh sekali, dan lagi orang itu sama sekali tidak menimbulkan
sedikit suarapun, ternyata ia berhasil menemukan jejaknya
dengan jitu, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa tenaga
dalam yang dimilikinya benar-benar telah mencapai puncak
kesempurnaan yang luar biasa "
Dikala Gak In Ling masih termenung dan memikirkan
persoalan itu, mendadak dari balik batu berkumandang datang
suara gelak tertawa yang amat keras, disusul seseorang
menjawab.
"Ha ha ha bocah perempuan, sedari kapan sih engkau telah
mengetahui tempat persembunyianku ?"
Dari belakang batu cadas itu muncullah seorang manusia
aneh yang berwajah jelek sekali.
Begitu menyaksikan raut wajah orang itu, Gak In Ling
merasa amat terperanjat, serunya tanpa sadar. "Hiat-mo-ong "

352
Sedikitpun tidak salah, orang yang baru saja munculkan diri
itu bukan lain adalah IHiat-mo-ong raja iblis darah yang
datang dari lembah pemutus sukma.
Dengan pandangan yang amat dingin Hiat-mo-ong
menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian dengan
langkah lebar berjalan maju ke depan, sikapnya amat tenang
dan terbuka, jelas ia sama sekali tak pandang sebelah mata
pun terhadap muda-mudi yang berada dihadapannyaitu.
"Ei, tua- bangka Benar-benar tidak lucu lagakmu itu" maki
dara muda baju merah sambil tertawa.
Meskipun ia sedang memaki orang, akan tetapi nada suara
yang meluncur keluar dari mulutnya kedengaran- begitu
lunak. halus dansedapdi dengar.
Air muka Hiat-mo-ong seketika itu juga berubah hebat, dia
menghentikan gerakan tubuhnya kurang lebih dua tombak
dihadapan dara muda baju merah itu, kemudian dengan gusar
bentak-nya.
"Bocah perempuan, tahukah kau apa yang akan kulakukan
untuk menghukum dirimu?"
"Hanya mengandalkan kekuatan kau seorang?"
"Haa ha....... haa " Hiat-mo-ong tertawa terbahak-bahak
"hanya andalkan aku seorang pun sudah lebih dari cukup,
masih membutuhkan berapa orang lagi ?"
Berbicara sampat disini dengan pandangan yang tajam dia
melirik sekejap kearah Gak In Ling, jelas dalam hati kecilnya
dia mengira hanya Gak In Linglah satu-satunya musuh
tangguh yang patut dia kuatirkan kelihayannya. Dara muda
baju merah itu tertawa manis, kembali dia bertanya.
"Tahukah kau siapa aku ?"
"Aaah, benar " seru Hiat-mo-ong dengan lagak tengiknya.
"Sebelum aku menjatuhkan hukuman mati atas dirimu,

353
memang sudah sepantasnya kalau kau melaporkan dahulu
siapakah namamu, sebab terhadap gadis cantik-jelita
semacam kau untuk selama hidup aku tak akan dapat
melupakannya kembali."
Tiba-tiba dari balik sorot mata dara muda baju merah itu
terpancarlah serentetan cahaya tajam yang sangat kuat,
membuat Gak In Ling menyaksikan kejadian itu jadi amat
terkesiap. segera pikirnya didalam hati.
"jangan-jangan tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini
telah mencapai pada puncak kesempurnaan yang bisa
digunakan dan ditarik menurut kehendak hatinya seneiri,
tetapi hal ini mana mungkin dapat terjadi ?"
Terdengar suara tertawa dara muda baju merah itu
kedengaran semakin manis, sama sekali ia baru berkata
kembali.
"Angkatlah kepalamu dan lihatlah keangkasa, mungkin kau
segera akan mengetahui siapakah aku "
Mendengar perkataan itu dengan cepat IHiat mo-ong
menengadah keangkasa dan terlihatlah olehnya seekor burung
hong yang amat besar sedang terbang menggilingi tempat itu,
wajahnya yang semula sombong dan tinggi hati mendadak
terlintas rasa ngeri dan ketakutan yang bukan kepalang,
dengan suara tertahan ia berseru. "Kau.... cay-hong-sian-cu ?"
"Haa haa.... haa apakah tidak mirip?" tanya dara baju
merah itu sambil tertawa bergelak.
Dalam benak Hiat mo-ong pada waktu yang amat singkat
inilah segera teringat kembali akan beberapa patah kata yang
ditinggalkan seorang iblis perempuan pada delapan puluh
tahun berselang, perempuan iblis yang suka membunuh orang
tanpa berkedip itu pernah berkata demikian-
"Seratus tahun kemudian, didalam dunia persilatan bakal
muncul kembali seorang malaikat elmaut perempuan yang

354
memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi daripada diriku
sendiri, aku harap kalian semua suka menantikan akan
kehadiran orang itu."
Sejak ucapan tersebut tersiar kedalam dunia persilatan,
maka orang itupun lenyap dari keramaian dunia. Bila dihitung
kembali -sampai sekarang, bukankah tepat sudah hampir
seratus tahun lamanya ?
Perlahan-lahan Hiat-mo-ong mundur tiga langkah
kebelakang dengan sempoyongan. Serunyad engan perasaan
tidak tenang .
"Kau kau datang untuk memenuhi janji yang-pernah tersiar
dalam dunia persilatan tempo dulu ?"
Dara muda baju merah itu tertawa.
"Aaah Sungguh tak kusangka engkau masih teringat akan
pesan terakhir dari guruku, memandang diatas hal ini aku
akan memberikan suatu kematian yang utuh bagimu "
Perkataan tersebut diutarakan masih dengan nada yang
merdu nyaring dan mempesonakan hati setiap orang yang
mendengar, siapapun tak akan percaya bahwa perkataan itu
ibaratnya perintah kematian yaag telah dijatuhkan oleh
malaikat elmaut.
Mendengar perkataan itu rasa ngeri dan seram yang
semula telah menghiasi wajah Hiat-moong kini kian bertambah
tebal, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya,
dan harapan untuk hidup dikolong langitpun muncul kembali
dalam hatinya. Hiat-mo-ong segera tertawa dingin dan
berseru.
"Apakah nona mengira aku akan menyerah dan mudah
dibunuh dengan demikian saja ?"
Menggunakan kesempatan ketika mengucapkan kata-kata
tersebut, secara diam-diam hawa murni yang dimilikinya
segera dihimpun kedalam sepasang telapaknya dan siap

355
melancarkan serangan maut bilamana kesempatan baik telah
tiba, cay-hong-sian-cu Dewi burung hong indah bukanlah
seorang gadis yang bodoh dan bisa disergap orang dengan
begitu gampang, menyaksikan tingkah laku dari musuhnya itu
dalam hati ia tertawa dingin, namun diluaran wajahnya masih
tetap tenang dan senyuman manis yang menggiurkan itupun
masih tersungging dibibirnya, ia berkata.
"Aku memang ingin sekali mengunjungi lembah pemutus
sukma, nonamu ingin sekali melihat apakah disana..."
Belum habis dewi burung hong indah menyelesaikan katakatanya,
mendadak terdengar Hiat-mo-ong membentak.
"Sambutlah seranganku ini"
Bersamaan dengan bergemanya suara bentakan itu, angin
pukulan yang maha dahsyat tahu-tahu sudah berada setengah
depa diatas dada dewi burung hong indah.
Rupanya Hiat-mo-ong sudah mengambil keputusan untuk
melakukan perlawanan yang gigih sebelum ajal menjelang
tiba, didalam serangan yang dilancarkan keluar itu ia sudah
menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa
dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan tersebut apalagi jika
mengena pada sasarannya,
Angin pukuian menderu- deru bagaikan hembusan angin
puyuh, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa,
begitu dahsyatnya membuat Gak In Ling yang berada disisi
kalanganpun merasakan hatinya amat terperanjat.
Tiba-tiba satu ingatan aneh berkelebat lewat didalam benak
dewi burung hong indah, rasa kaget terlintas diatas wajahnya
dan wajahnya menunjukkan perubahan seakan-akan ia tak
tahu apa yang harus, dilakukan olehnya pada waktu itu,
sepasang biji matanya yang jeli secara diam-diam melirik
sekejap kearah Gak In Ling.
Pemuda she Gak itu sama sekali tak menduga kalau gadis
muda itu sengaja sedang berpura-pura untuk menilai perasaan

356
hatinya, dia mengira dewi burung hong indah betul-betul
sedang terancam oleh mara bahaya, meskipun terhadap gadis
cantik ini dia tidak menaruh kesan yang baik, akan tetapi
sebagai seorang pria sejati yang memiliki jiwa satria, ia tak
ingin membiarkan orang lain terancam oleh bahaya sementara
ia sendiri hanya berpeluk tangan belaka, tanpa disadari lagi
tubuhnya segera maju satu langkah kedepan siap memberikan
pertolongannya.
Tanpa alasan dewi burung hong indah merasakan hati
kecilnya agak tergerak. suatu perasaan yang sangat aneh
muncul dalam tubuhnya sesudah menyaksikan tingkah dari
pemuda tersebut.
Dalam pada itu telapak tangan Hiat-mo-ong adah berada
tiga cun diatas dada dewi burung hong indah, angin pukulan
yang sangat tajam berhembus lewat menerbangkan batu,
pasir dan rerumputan disekeliling tempat itu, tapi aneh
sekali.... ternyata ujung baju yang dikenakan gadis muda baja
merah itu sama sekali tidak berkibar barang sedikitpun jua.
Semua perubahan itu terjadi dalam waktu yang amat
singkat, mati hidup pun terletak peda detik penentuan yang
terakhir itu...
Pada saat itulah mendadak dewi burung hong indah
tertawa merdu, serunya. "Engkau masih terpaut sangat
jauh..."
Sambil berkata tubuhnya bergerak dengan suatu gerakan
yang amat manis dan tahu-tahu ia sudah terlepas dari
lingkaran bayangan telapak dari Hiat-mo-ong.
Meskipun Gak In Ling berada disisi kalangan dan bertindak
sebagai penonton, akan tetapi kecuali menyaksikan
berkelebatnya bayangan merah, ia tidak berhasil menyaksikan
sesuatu apapun jua, hal ini membuat hatinya merasa amat
terperanjat sekali. pikirnya. "Gerakan tubuh apakah yang telah
dipergunakan olehnya ? Kenapa begitu cepatnya ?"

357
Tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling setingkat lebih
tinggi daripada tenaga dalam yang dimiliki Hiat-mo-ong,
sebagai seorang penonton yang menyaksikan jalannya
pertarungan dari sisi kalanganpun ia tak berhasil melihat jelas
gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan oleh dewi
burung hong indah, apalagi Hiat-mo-ong sendiri sudah tentu
tak usah dikatakan lagi.
Ketika Hiat-mo-ong menyaksikan serangannya sudah
hampir mengenai pada sasarannya, dalam hati merasa amat
girang, siapa tahu mendadak pandangan matanya menjadi
kabur dan tahu2 serangannya telah mengena disasaran yang
kosong
"Blaam "
Ditengah ledakan yang amat dahsyat, tanah di mana dewi
burung hong indah semula berdiri telah terhantam keras
sehingga muncul sebuah liang besar sedalam tiga depa, pasir
dan debu beterbangan memenuhi angkasa, bisa dibayangkan
betapa dahsyatnya angin pukulan yang dilepaskan itu.
Hiat-mo-ong memiliki pengalaman yang amat luas dalam
menghadapi serangan musuh, ketika menyaksikan
serangannya tidak mengenai sasaran malahan ia kehilangan
jejak musuhnya, dalam hati segera ia menyadari bahwa
gelagat titiak menguntungkan bagi dirinya.
Dalam keadaan begini ia tak berani bertindak gegabah lagi,
dengan cepat tubuhnya dihentikan lalu miring kesamping,
denganjurus "To-ta-kim-clong" atau memukul keras genta
emas, dia kirim satu pukulan kearah belakang, serangan
tersebut cepat dan sangat diluar dugaan-
Akan tetapi sayang sekali dewi burung hong indah jauh
lebih cepat lagi daripadanya, kembali serangan yang
dilancarkan Hiat-mo-ong ini mengenai pada sasaran yang
kosong, paling mengenaskan lagi ternyata tak mampu melihat

358
jelas gerakan tubuh dari musuhnya dan iapun tak tahu saat ini
dewi burung hong indah berada dimana.
Dalam waktu yang amat singkat, Hiat-mo-ong segera
menyadari bahwa tenaga dalamnya masih selisih jauh kalau
dibandingkan dengan dewi burung hong indah, keringat dingin
mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajahnya yang
pucat pias bagaikan mayat.
Pada saat itulah dari belakang punggung Hiat-mo-ong
berkumandang datang suara teguran seseorang dengan suara
yang amat merdu.
"Hey, asal ini hari engkau sanggup melihat jelas gerakan
badan dari nonamu, maka akan aku ampuni selembar
jiwamu..."
Ucapan yang disertai dengan gelak tertawa merdu itu
muncul dari belakang tubuhnya, nada suaranya masih tetap
tenang seperti biasa, membuat orang tak dapat meresapi
apakah pada waktu itu sedang gusar atau tidak.
"Sebenarnya pada waktu itu Hiat-mo-ong sudah putus asa
dan mengira jiwanya pasti akan melayang ditangan
musuhnya, setelah mendengar perkataan itu, timbul kembali
harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, diam-diam ia
berpikir.
"Meskipun tenaga dalam yang aku miliki masih selisih jauh
kalau dibandingkan dengan dirimu, tetapi kalau untuk melihat
badanmu saja tak sanggup, aku benar-benar tidak percaya."
Berpikir sampai disini dengan cepat dia putar badannya
memandang kearah belakang, siapa tahu yang terlihat hanya
tempat kosong, sementara bayangan tubuh gadis tersebut
sudah lenyap dari pandangan-
Dengan cepat ia berputar pula kesamping, kebelakang
putar-balik, hampir semua gerakan berputar telah
dipergunakan olehnya dengan harapan bisa melihat jelas

359
tubuh gadis itu, akan tetapi semua usahanya itu gagal total
dan sama sekali tidak ada gunanya.
Kali ini Gak In Ling dapat melihat lebih jelas lagi, tampaklah
tubuh dewi burung hong indah berdiri kurang lebih setengah
depa dibelakang tubuh Hiat-mo-ong, tubuhnya begitu enteng
dan ringan seakan-akan sesuatu benda yang lebih enteng
daripada kapas yang diikat bersama dengan tubuh lawannya,
kendatipun ia berputar dengan cara apapun juga gadis itu
selalu ikut berputar dan seakan-akan sedikit pun tak
mengeluarkan tenaga. Tanpa sadar Gak In Ling gelengkan
kepalanya berulang kali, pikirnya d idalam hati.
"Ilmu silat yang dimilikinya entah sudah berhasil mencapai
tarap yang bagaimana tingginya? Aaaiii..... kelihatannya nasib
diriku Gak In Lingpun tak akan jauh berbeda dengan Hiat-moong."
Demi keselamatan jiwanya mau tak mau Hiat-mo-ong harus
berputar terus-menerus dengan harapan berhasil melihat
tubuh musuhnya, tidak sampai sepertanak nasi kemudian
seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, tubuhnya
terasa lelah sekali, dan napasnya tersengal-sengal.
Tiba-tiba dewi burung hong indah yang berada di belakang
tubuhnya tertawa ringan dan berkata.
"Setelah berputar tiga kali lingkaran lagi dan bila engkau
masih tetap belum bisa melihat tubuh nonamu, terpaksa
engkau harus menyerahkan nyawamu."
Bulu kuduk disekujur tubuh Hiat-mo-ong pada bangun
berdiri setelah mendengar perkataan itu, dia segera
mengerahkan kemampuannya untuk berputar sebanyak dua
kali lingkaran, tiba-tiba ia berputar pada arah yang
berlawanan, bersamaan dengan perputaran itu sepasang
tangannya diayun kebelakang melancarkan sebuah pukulan
dengan jurus Lui-tian-ciau-hoo atau guntur dan halilintar
bersatu-padu.

360
Walaupun rencana ini sangat ganas dan keji akan tetapi
sayang sekali kepandaiannya masih bukan tandingan orang,
bukan saja ia gagal untuk melihat jelas tubuh dewi burung
hong indah, bahkan serangan terakhir yang dilancarkan pun
sama sekali tidak mengenai pada sasarannya.
Melihat serangannya gagal mengenai sasaran nya, sadarlah
Hiat-mo-ong bahwa kesempatan terakhir bagi dirinya untuk
melanjutkan hidup sudah lewat, sepasang kakinya dengan
sekuat tenaga menjejak keatas tanah dan tubuhnya segera
melompat ke depan secepat kilat.
Tetapi sayang sekali semuanya telah terlambat baru saja
sepasang kakinya meninggalkan permukaan tanah, mendadak
ruas ketujuh pada tulang punggungnya jadi kaku dan seluruh
tenaga dalam yang dimilikinya punah tak berbekas.
"Blaaaam... " di tengah benturan yang amat keras,
tubuhnya sudah terkapar diatas tanah.
Selesai membereskan Hiat-mo-ong, perlahan-lahan dewi
burung hong indah berjalan kehadapan Gak In Ling dan
berhenti kurang lebih lima depa dihadapannya, dengan suara
dingin ia menegur.
"Gak In Ling, bagaimana pendapatmu tentang ilmu silat
yang kau miliki jika dibandingkan dengan kepandaiannya ?"
"Eh, dari mana kau bisa tahu akan namaku?" seru Gak In
Ling dengan perasaan tertegun-
"Tentu saja aku sudah pernah berjumpa dengan dirimu,
maka kuketahui namamu, apa sih yang kau herankan ?" seru
dewi burung hong indah dengan nada dingin.
Selama pembicaraan berlangsung dengan si-anak muda itu,
nada suaranya selalu dingin dan menyeramkan-
Gak In Ling berpikir sebentar, lalu berkata. "Aku belum
pernah berjumpa dengan dirimu "

361
"Ha..pada waktu itu kau sedang mengalami mara bahaya,
untuk menyelamatkan jiwa sendiri pun tidak mampu,
sekalipun nonamu berdiri di samping tubuhmu belum tentu
kau dapat melihat aku, apalagi..."
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam besuk Gak In Ling,
dengan cepat ia berseru.
"oooh jadi kau adalah si burung hong dari luar lautan ?"
"Hemm..... engkau memang cerdik."
Sekarang Gak In Ling baru teringat akan beberapa patah
kata dari Lan In Lojin, pada saat itu ia tak dapat
mempercayainya kalau beberapa orang gadis mampu untuk
mengacaukan dunia persilatan sehingga terjadi badai besar di
seluruh kolong langit, meskipun ia pernah bertemu dengan
Thian-hong-pang-cu juga pernah bertemu dengan gadis suci
dari Nirwana, dan mengetahui pula kalau ilmu silat yang
dimiliki perempuan-perempuan itu sanggup digunakan untuk
mengacaukan seluruh dunia persilatan, tetapi mereka semua
mempunyai hati baik untuk menolong semua manusia serta
mencegah terjadinya kejahatan dalam dunia persilatan, tak
mungkin gadis-gadis tersebut dapat melakukan perbuatan
semacam itu, tapi sekarang setelah berjumpa dengan dewi
burung hong indah yaitu dara muda baju merah itu, ia baru
percaya kemungkinan terjadi badai dalam dunia persilatan
amat besar sekali.
Perlahan-lahan Gak In Ling menengadah ke atas,
ditatapnya wajah dewi burung hong indah dengan bersungguh
hati, lalu ujarnya.
"Ilmu silat yang nona miliki sangat tinggi dan luar biasa
sekali, dikolong langit sukar sekali untuk mencari tandingan,
dan dengan andalkan kemampuan yang nona miliki boleh
dibilang seluruh jagad yang demikian luasnya ini sudah
menjadi milik nona serta berada dibawah kekuasaan nona,
tapi kenapa sih kau harus berkunjung ke-daratan Tionggoan

362
untuk mencari perbagai persoalan yang akan merepotkan
nona sendiri?"
Dibalik sepasang biji mata dewi burung hong indah yang
jeli terlintas perasaan girang yang luar biasa, tapi perasaan
tersebut sukar ditemukan olah orang biasa. Terdengar ia
tertawa dingin dan berseru. "Huh Apa sih yang kau ketahui ?"
"Mungkin aku sama sekali tidak mengetahui tentang
persoalan apapun, akan tetapi beberapa patah kataku ini
kuucapkan dari hati sanubariku yang jujur."
"Kau amat jujur dan polos, sayang sekali pengetahuan
serta pengalamanmu masih terlalu sedikit, sehingga terhadap
berita yang tersiar dalam dunia persilatanpun sama sekali tak
tahu." ujar dewi burung hong merah sambil tertawa.
Inilah tertawa yang pertama kalinya diperlihatkan gadis itu
terhadap Gak In Ling, seandainya pada saat ini Gak In Ling
dapat berbicara dengan perasaan hati yang tenang dan tanpa
dipengaruhi oleh emosi, maka ia akan melihat bahwa
senyuman yang ditujukan kepadanya jauh berbeda sekali
dengan senyuman yang ditujukan kepada Hiat-mo-ong tadi,
hanya sayang sekali Gak In Ling sama sekali tidak
memperhatikan akan hal itu. Terdengar sianak muda itu
menghela napas dengan nada berat.
"Aaaii jadi kedatangan nona adalah untuk mewujudkan
berita yang tersiar didalam dunia persilatan itu ?"
"sedikitpun tidak salah"
"Lalu apa yang hendak nona lakukan?"
"Aku akan menunggu seseorang sehingga ia pun tiba
didaratan Tionggoan, setelah itu nonamu baru akan turun
tangan- "jawab dewi burung hong indah dengan wajah
menyeramkan. Gak In Ling amat terperanjat, serunya tanpa
sadar.
"Menunggu seseorang? Siapa?"

363
"Hm. buat apa sih kau bertanya begitu banyak ?" tegur
sang dara dengan nada dingin. Setelah berhenti sebentar ia
melanjutkan-
"Dia datang dari wilayah Tibet, dan selama berada di
daratan Tionggoan markas besarnya berada di lembah
pemutus sukma."
Lembah pemutus sukma, begitu nama tersebut melintas
dalam benaknya dengan cepat pula Gak In Ling dapat
menduga manusia macam apakah orang yang dimaksudkan
itu, dan lebih menakutkan lagi ternyata dia datang bersamasama
dewi burung hong indah.
Berbagai persoalan yang merisaukan hatinya seketika
menyumbat seluruh benak Gak In Ling, dia tak tahu apa
sebabnya hatinya begitu menguatirkan bagi keselamatan
dunia persilatan, dia hanya merasa munculnya satu tenaga
dorongan yang membuat dia harus menyediakan tenaganya
untuk berbakti bagi umat persilatan. Kembali Gak In Ling
menghela napas panjang, lalu berkata lagi.
"Nona, apakah kau pernah mendengar pepatah yang
mengatakan diluar langit masih ada langit ?"
"Diatas manusia masih ada manusia bukan?" sambung dewi
burung hong indah dengan cepat, sesudah berhenti sebentar
dengan nada dingin dan sinis ia menambahkan-
"Lalu siapakah yang kau maksudkan sebagai manusia
diatas manusia masih ada manusia itu ? Kau Gak In Ling ?"
Sepasang alis mata Gak In Ling kontan berkernyit sesudah
mendengar perkataan itu, akan tetapi ia masih tetap
menyabarkan diri dan berkata dengan suara hambar.
"Tentu saja itu bukanlah diriku, cuma..."
"Gak In Ling, apakah kau menganggap bahwa dirimu
pantas untuk memberi nasehat kepadaku ?" tukas dewi
burung hong indah dengan suara ketus.

364
"Bukan aku yang sedang memberi nasehat kepada mu,
tetapi kebenaran serta keadilan bagi seluruh dunia
persilatanlah yang sedang memperingatkan dirimu."
"Siapa yang mengatakan ucapan seperti itu?" seru dewi
burung hong indah sambil tertawa dingin, sepasang alis
matanya berkernyit.
-oo0dw0oo-
Jilid 11
GAK IN LING tertawa dingin
"Aku Gak In Ling "jawabnya tegas.
Dewi burung hong indah adalah seorang gadis yang
angkuh dan tinggi hati, mendengar ucapan tersebut hawa
amarahnya segera berkobar di dalam dada, napsu membunuh
yang mengerikan pun tersorot keluar dari balik matanya,
dengan nada dingin ia bertanya. "Apakah kau yakin sanggup
menghadapi aku di dalam beberapa jurus ?"
"Ha. haa haa. belum pernah aku berpikir sampai kesitu."
sahut Gak In Ling sambil tertawa terbahak-bahak. "tetapi aku
sebagai salah seorang masyarakat dunia persilatan didaratan
Tionggoan ini merasa berkewajiban untuk membela keadilan
serta kebenaran, sekalipun harus mengorbankan selembar
jiwaku, pengorbanan ini juga sangat berguna sekali."
Tiba-tiba dewi burung hong indah tertawa merdu sekali.
"coba lihatlah dahulu orang itu " serunya sambil menuding
mayat Hiat-mo-ong yang terkapar diatas tanah, setelah itu ia
melanjutkan-
"Jikalau engkau masih tetap keras kepala dan tak tahu diri,
maka kemungkinan besar kematian yang akan kau alami jauh
lebih mengerikan daripada dirinya."

365
Mendengar perkataan itu Gak In Ling segera alihkan sorot
matanya kearah tubuh Hiat mo-ong yang menggeletak diatas
tanah, sekujur badannya kontan merinding dan bulu kuduknya
pada bangun berdiri, terlihatlah pada saat itu Hiat-mo-ong
sedang berkelejat tiada hentinya di atas tanah, seluruh
anggauta badannya gemetar keras dan berubah jadi hitampekat,
sepasang matanya melotot keluar seakan-akan mau
meloncat keluar dari dalam kelopok matanya, ditambah pula
raut wajahnya yang memang jelek, keadaan nya pada saat itu
boleh dibilang jauh lebih mengerikan daripada iblis bengis
yang muncul dari neraka tingkat ke delapan belas.
Mulutnya yang besar megap-megap seakan-akan sedang
berusaha menjerit sekeras-kerasnya, akan tetapi tak
kedengaran sedikit suarapun yang berkumandang keluar, dari
sini dapat dilihat betapa besarnya siksaan yang sedang
diderita olehnya pada saat ini.
Gak In Ling alihkan kembali sinar matanya kearah dewi
burung hong indah, ia lihat gadis itu masih tetap berdiri
tenang ditempat semula seolah-olah sama sekali tak pernah
terjadi sesuatu apapun, hal ini membuat hatinyajadi amat
gusar sekali, pikirnya.
"Dikolong langit ternyata terdapat manusia yang kejam dan
berhati telengas seperti dia... benar-benar luar biasa."
Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia maju ke depan,
telapaknya diayun ke depan mengirim satu pukulan dengan
jurus Tiem-sak-seng-kim atau menutul batu berubah emas.
"Blaaam." di tengah benturan yang sangat keras serangan
tersebut telah bersarang diatas dada Hiat-mo-ong membuat
gembong iblis tua itu menemui ajalnya seketika itu juga.
Demikianlah seorang gembong iblis yang sudah banyak
melakukan kejahatan harus merasakan dahulu suatu siksaan
badan serta penderitaan yang luar biasa sebelum akhirnya
harus binasa, mungkin inilah ganjaran bagi orang yang gemar

366
melakukan kejahatan serta berhati bengis tak kenal
prikemanusiaan-
Setelah berhasil membinasakan Hiat-mo-ong untuk
beberapa saat lamanya Gak In Ling berdiri termangu-mangu
ditempat itu.
Pada wakta itulah dewi burung hong indah berseru sambil
tertawa merdu.
"Gak In Ling, apakah kau anggap sebelum tindakanmu itu
aku tak menduga sampai kesana?"
Gak In Ling segera putar badannya kebelakang, ketika
sorot matanya saling membentur dengan sepasang mata dewi
burung hong indah, pemuda itu segera merasakan hatinya
tercekat, karena dibalik sorot matanya yang indah penuh
mengandung cahaya dingin yang tajam dan mengerikan.
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, sesudah berhasil
menenangkan hatinya dengan wataknya yang angkuh dan
tinggi hati, tentu saja ia tak mau tunduk dengan begitu saja.
Ia tertawa tawa lalu berkata.
"Nona memiliki kecerdasan yang luar biasa tentu saja
semua perbuatanku tak dapat mengelabui engkau." suaranya
mendatar dan tenang sekali.
Melihat ketenangan lawannya, dewi burung hong indah
berpikir juga dalam hatinya.
"orang ini terang-terangan mengetahui bahwa dia bukan
tandinganku, akan tetapi sikap dan air mukanya sama sekali
tidak memperlihatkan rasa jeri ataupun takut, keadaan seperti
ini belum pernah kuduga sebelumnya."
Berpikir sampai disini, ia lantas tertawa dingin dan berkata
dengan suara merdu.

367
"Hemm, sikapmu benar-benar tenang sekali. Tahukah
engkau apa sebabnya nonamu walaupun sudah menduga
akan tetapi sama sekali tidak menghalangi perbuatanmu itu?"
Dari sorot mata tajam yang memancar keluar dari balik
mata dewi burung hong indah, Gak In Ling sudah dapat
menyelami perasaan hatinya, dengan nada dingin ia segera
menjawab.
"Apa salahnya kalau aku yang mewakili dirimu untuk
menanggung dosa karena sudah membinasakan Hiat-mo-ong
dari muka bumi?"
Sekali lagi dewi burung hong indah tertegun sesudah
mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia berkata.
"Gak In Ling, kau adalah satu satunya orang yang dapat
menebak isi hatiku, kecerdasanmu ternyata sama sekali tidak
berada dibawah kepandaian nonamu "
Mendadak dari balik sorot matanya yang indah terpancar
keluar napsu membunuh yang amat tebal sekali, namun hanya
didalam beberapa kejapan saja napsu membunuh yang amal
tebal itu sudah lenyap tak berbekas.
"cuma," ujar Gak In Ling kembali dengan nada dingin,
"meskipun aku telah mengetahui bahwa kepandaian silatku
masih bukan tandinganmu, akan tetapi aku tidak akan
menyerah dan mudah dibunuh dengan begitu saja, aku lihat
terpaksa nona harus mengerahkan sedikit tenaga untuk turun
tangan sendiri."
Dewi burung hong indah segera tertawa terkikik dengan
nada yang amat sinis.
"Harus menggunakan tenaga untuk turun tangan ? Haa
haa...,. haa .... kalau menghadapi manusia seperti engkau aku
harus mengerahkan tenaga, apa gunanya aku berambisi untuk
merajai kolong langit ? Mari, mari kalau kau mampu

368
menangkan kaki dari nonamu ini... maka sejak hari ini nonamu
tak akan mencari gara-gara dengan dirimu lagi"
Perkataan ini boleh dibilang mendekati tekebur dan omong
besar, dia ingin melayani Gak In Ling yang berkepandaian
tinggi dengan sepasang kakinya belaka, hal ini benar-benar
suatu ucapan yang amat besar, sampai dimana kepandaian
yang dia miliki ? Dan lagi siapa yang mau percaya dengan
ucapannya itu? Karena Gak In Ling memiliki pukulan telapak
maut yaag dianggap sebagai kepandaian ampuh di kolong
langit.
Hawa amarah yang tak terkendalikan menghiasi seluruh
wajah Gak In Ling, meskipun tindakan seperti itu merupakan
suatu kesempatan yang paling baik baginya untuk meloloskan
diri dari mara bahaya, akan tetapi ia merasa berat hati untuk
menerima tawaran yang mendekati suatu penghinaan itu Dia
merasa gengsinya diinjak-injak dan dipandang rendah sekali.
Dengan suara dingin Gak In Ling segera berkata.
"Aku lebih rela mati disepasang telapak tangan nona
walaupun didalam dua-tiga gebrakan saja, daripada mencari
untung di bawah sepasang kaki nona itu."
Kembali serentetan cahaya yang sangat aneh melintas
diwajah dewi burung hong indah, pikirnya didalam hatL
"orang ini sudah berada ditepi lembah kematian, akan
tetapi ia tak bersedia mencari keuntungan dengan cara yang
tak benar, dari sini dapat dilihat bahwa jiwanya memang besar
dan jujur,jarang sekali dikolong langit terdapat manusia
semacam ini, mungkin didalam persilatan memang bukan
keseluruhannya merupakan manusia-manusia licik yang
berbahaya."
Berpikir rampai disini, tiba-tiba kaki kirinya menjejak
permukaan tanah, sedangkan kaki kanannya laksana kilat
menyapu kearah pinggang Gak Ing Ling, serunya.

369
"Tindakan ini merupakan kerelaan nonamu sendiri,
sekalipun akhirnya aku sampai mati, tak akan kusesali kembali
kematianku itu."
Kakinya menyambar ke depan dengan dahsyatnya, jurus
serangan yang dipergunakan ternyata adalah gerakan Hengsau-
cian-kim atau menyapu rontok ribuan prajurit.
Sepasang alis berkerut, tubuhnya berputar cepat
kesamping sejauh tiga depa, setelah menghindarkan diri dari
datangnya ancaman tersebut belum sempat ia buka suara
tiba-tiba ia dengar dewi burung hong indah telah berteriak
keras. "Lihatlah jurus seranganku ini "
Air muka Gak In Ling yang semula telah mengendor segera
berubah jadi tegang kembali sesudah mendengar seruan itu,
ketika ia menengadah keatas maka terlihatlah tubuh dewi
burung hong indah sudah melayang ditengah udara, sepasang
ujung kakinya yang runcing telah berada lima cun diatas
tenggorokannya.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini benar-benar
dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat, Gak In Ling
sama sekali tak sempat menyaksikan bagaimanakah caranya
gadis itu membuyarkan serangan untuk berganti jurus, ia
hanya merasa bahwa tubuhnya tahu-tahu sudah berada
diudara.
Saking terkesiapnya keringat dingin dengan cepat
mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Gak In Ling,
untung tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna,
meskipun menghadapi mara bahaya namun gerakan tubuhnya
sama sekali tidak kacau, tanpa berpikir panjang lagi dengan
sekuat tenaga ia menjejakkan sepasang kakiaya keatas tanah,
dengan gerakan pindah badan berganti tempat laksana kilat
dia melayang mundur kebelakang sejauh satu tombak lebih.
Dibawah sorot cahaya sang surya tampaklah pada ujung
sepatu dewi burung hong sudah terdapat ujung senjata kaitan

370
pendek yang memancarkan cahaya berkilat, seandainya
tendangan tersebut bersarang telak niscaya tenggorokannya
sudah terhajar sampai muncul lubang besar.
Ada satu hal yang membuat Gak In Ling heran dan tak
habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya dewi burung hong
indah dengan kepandaian silatnya yang amat tinggi dan
mampu membunuh orang tanpa berwujud, kenapa telah
memasang senjata kaitan yang tajam pada ujung sepatunya?
Tentu saja kaitan pada ujung sepatunya ada kegunaannya,
dan untuk mengetahui kegunaan tersebut pada lain bagian
akan diceritakan tersendiri.
Setelah meloncat mundur beberapa tombak kebelakang,
dengan cepat Gak In Ling berpikir didalam hati kecilnya.
"Tubuhnya masih berada diudara, mungkin ia tak sempat
untuk mengejar diriku lagi." Baru saja dia akan buka suara,
tiba-tiba dari tengah udara berkumandang kembali
Suara bentakan nyaring dari dewi burung hong indah,
tampaklah ujung bajunya menari ditengah udara, dan tiba-tiba
sepasang kakinya yang bersepatu merah bagaikan sepasang
sayap yang mengebas keras dan tubuhnya sekali lagi
meloncat setinggi lima depa keudara.
Kemudian sepasang lengannya dikebaskan bagaikan orang
mendayung perahu, badannya laksana sambaran kilat kembali
menerjang kearah Gak In Ling.
Semua gerakan itu walaupun panjang dilukiskan dalam
kata-kata, namun dalam kenyataan nya berlangsung dalam
sekejap mata, mungkin Gak In Ling sendiripun baru saja
berdiri tegak ditanah.
Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka bakal
menjumpai kejadian yang sama sekali tidak terduga seperti
ini, baru saja sorot matanya dialihkan ketengah udara,
terlihatlah berpuluh-puluh buah cahaya merah telah

371
menerjang datang dari delapan penjuru bagaikan turunnya
hujan badai yang amat deras.
Ilmu siiat yang dimiliki dewi burung hong indah merupakan
suatu aliran tersendiri, didalamnya tercakup pula suatu
keanehan, kelincahan, kesadisan serta kehebatan.
Meskipun Gak In Ling memiliki kepandaian silat yang amat
tinggi, namun berada dalam keadaan serta posisi yang amat
terdesak seperti ini, kendatipun ia berkepandaian lihay namun
tidak mampu juga baginya untuk meloloskan diri.
Demi keselamatan jiwanya Gak In Ling tak sempat untuk
berpikir lebihjauh, bentaknya. "Terimalah seranganku ini"
Dengan gerakan Pat-hong-hong-yu atau hujan badai
didelapan penjuru, ia lancarkan dua sapuan tajam kesekeliling
tempat itu.
Dasar tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling amat
sempurna, ditambah pula ia telah makan buah naga air, tanpa
disadari kesempurnaan tenaga dalamnya telah bertambah
maju satu tingkat, meskipun dalam serangannya itu dia hanya
menggunakan tenaga sebesar tujuh bagian, akan tetapi
deruan angin pukulan yang terpancar keluar benar-benar
menggetarkan hati setiap orang.
Terdengar dewi burung hong indah yang berada ditengah
udara tertawa merdu, lalu berseru.
"Haa haa haa akhirnya engkau turun tangan juga."
bayangan kakinya mendadak lenyap tak berbekas, gerakannya
begitu cepat sehingga semua gerakannya hampir boleh
dibilang dilakukan hampir bersamaan waktunya.
Dalam hati Gak In Ling merasa amat menyesal setelah
melepaskan serangannya tadi, setelah berhasil mendesak
mundur dewi burung hong indah, ia tidak mendesak lebih jauh
dengan melancarkan serangan lain sambil menarik diri
tubuhnya meloncat mundur lima depa kebelakang.

372
Siapa tahu, baru saja badannya mundur ke belakang dewi
burung hong indah segera melancarkan serangan kembali, kali
ini serangannya jauh lebih dahsyat daripada serangan semula,
terdengarlah deruan angin serangan mendesing amat
memekakkan telinga.
Meskipun dalam keadaan seperti itu Gak In Ling tidak ingin
turun tangan lagi, akan tetapi situasi yang sedang dihadapinya
tidak mengijinkan dirinya untuk berbuat demikian, keinginan
untuk mempertahankan hidup membuat dia mau tak mau
harus melawan dengan sepenuh tenaga.
Suatu pertarungan sengit yang mendebarkan h atipun
segera berlangsung ditempat itu.
Di pihak lain bayangan merah beterbangan bagaikan
sekuntum bunga berwarna merah yang terhembus angin
puyuh, bergerak kesana kemari tiada hentinya sementara titiktitik
ujung kaki menerobos masuk kebalik angin pukulan
melepaskan ancaman yang membahayakan jiwanya.
Untuk beberapa saat lamanya suasana tetap berlangsung
dalam keadaan seimbang dan seru.
Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam waktu singkat lima
puluhan gebrakan sudah lewat tanpa terasa, walaupun
sepintas lalu nampaknya menang kalah masih belum dapat
ditentukan, tetapi bila dilihat dengan seksama maka
tampaklah walaupun angin pukulan yang dilancarkan Gak In
Ling amat dahsyat dan amat memekakkan tenaga, tapi ia
selalu gagal untuk membelit ujung pakaian dari dewi burung
hong indah, atau dengan perkataan lain angin pukulan dari
sianak muda itu tak mampu menyuwil tubuh gadis itu apalagi
menyarangkan pukulan dengan telak.
Sebaliknya ujung kaki dewi burung hong indah seringkali
muncul pada suatu posisi yang sama sekali tak terduga oleh
Gak In Ling, membuat ia tak mampu menduga lebih dahulu
kearah manakah tendangan itu akan tiba, dengan sendirinya

373
tanpa disadari situasi dalam pertarungan itu sepenuhnya
beraba dibawah cengkeraman dara baju merah itu.
Tidak selang beberapa saat kemudian, kembali tiga puluhgebrakan
sudah lewat, saat itu sang surya telah condong
kesebelah barat. Keringat sebesar kacang kedelai telah
membasahi seluruh jidat anak muda itu, nampak jelas kalau
pemuda itu sudah kepayahan-
Dewi burung hong indah sendiri sejak permulaan hingga
detik itu selalu menggerakkan kakinya untuk melancarkan
tendangan-tendangan kilat, semua gerakan dilakukan dengan
luwes dan leluasa sedikitpun tidak nampak kepayahan-
Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit itu,
mendadak napsu membunuh memancar keluar dari balik mata
Gak In Ling, dengan nada dingin ia segera membentak keras.
"Nona, aku harap kau suka menghentikan seranganmu
sampai disini saja, janganlah memaksa aku Gak In Ling untuk
menempuh jalan yang nekad " sambil berkata secara beruntun
dia lepaskan kembali dua jurus pukulan-
Dewi burung hong indah yang berada diudara dengan gesit
dan manis sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan
tersebut, kemudian diapun balas melancarkan dua buah
serangan yang memaksa Gak In Ling terpaksa mundur tiga
langkah kebelakang, katanya dengan suara merdu.
"Gak In Ling, rupanya kau masih mempunyai ilmu
simpanan yang belum sempat kau keluarkan, kenapa tidak
sekalian kau keluarkan pula. Ayo cepatlah dan tak usah
sungkan-sungkan"
"Asalkan nona melayani seranganku dengan sepasang
telapak. maka akupun akan melakukan perlawanan dengan
segenap tenaga pula. "jawab Gak in Ling dengan nada dingin.
Sambil tetap melancarkan serangannya, dewi burung hong
indah tertawa merdu, ia berseru.

374
"Untuk melayani sepasang kaki nonamupun kau tak mampu
untuk menghadapinya, apalagi kalau aku mempergunakan
sepasang telapakku ?" Gak In Ling tertawa dingin-
"Akan tetapi aku merasa kalau menangpun kemenangan
tersebut didapatkan dengan tidak cemerlang." serunya.
"Hee.. hehee kalau merasa tidak punya ilmu simpanan,
yaa, sudahlah, apa sih gunanya menghantam muka sendiri
sampai bengkak dan mengaku sebagai gemuk ?" ejek dewi
burung hong indah sambil tertawa mengejek.
Beberapa patah kata itu dengan cepat mengobarkan hawa
amarah dalam hati Gak In Ling meskipun ia berhati bajik dan
tak ingin mencari keuntungan, tapi suka menang sendiri
adalah sifatnya yang paling khas dari seorang pemuda, Gak In
Ling yang masih muda belia tentu saja tidak dapat terhindar
dari sifat itu.
Pada saat ucapan dewi burung hong indah baru saja selesai
diutarakan keluar, tiba-tiba dengan sepasang alis mata
berkernyit Gak In Ling membentak keras.
"Kalau memang begitu, akan kuperlihatkan keampuhanku "
habis berkata ia segera melakukan gerakan, ditengah gerakan
merah yang menyelimuti seluruh angkasa muncullah berpuluh
puluh buah telapak merah yang dalam waktu singkat
mengurung seluruh tubuh gadis muda baju merah itu.
Serangan yang dilancarkan Gak In Ling dalam keadaan
gusar.ini benar-benar mengerikan sekali, begitu ia turun
tangan ia segera mengeluarkan jurus Hiat-yu-seng-hong atau
hujan darah angin amis, serta Hiat-liu-biau-kan atau darah
mengalir menggenangi tiang.
Telapak maut adalah serangkaian ilmu sakti dalam kolong
langit, meskipun dewi burung hong indah pernah mendengar
nama kepandaian tersebut akan tetapi belum pernah
menjumpainya, menyaksikan datangnya ancaman tersebut
hatinya jadi amat terperanjat.

375
Tanpa sadar ia berteriak kaget. "Aaah telapak maut "
Walaupun penggunaan telapak maut oleh Gak In Ling
secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan hatinya, akan tetapi
dewi burung hong indah sebagai seorang jago kawakan yang
banyak pengalaman dan memiliki ilmu silat yang tinggi sama
sekali tidak dibikin gugup olehnya.
Biji matanya yang indah menyapu sekejap kesekeliling
tempat itu. Tiba-tiba satu senyuman tersungging diujung
bibirnya, dalam hati ia segera berpikir. "Rupanya telapak
mautnya itu belum berhasil dilatih hingga sempurna..."
Ingatan tersebut dalam sekejap mata telah berkelebat
lewat, setelah mengetahui bahwa telapak maut yang dimiliki
Gak In Ling belum mencapai kesempurnaan, timbullah kembali
perasaan ingin menang dalam hatinya.
Telapak tangannya segera diayun kebelakang untuk
menggerakkan badannya, bukan mundur malah dia menerkam
maju kedepan dan menggunakan gerakan yang cepat
bagaikan sambaran kilat menerjang kearah sianak muda itu,
sepasang kakinya melancarkan serangan berbareng dengan
memakai jurus Lian-pian-peng-hua atau kaki dan kancing
maju bersama, arah yang dituju adalah dada pemuda itu.
Semua perubahan berlangsung dengan begitu cepatnya,
sehingga membuat orang sama sekali tak ada waktu untuk
berdiri ragu.
Ketika gadis itu menjerit kaget tadi, tanpa disadari Gak In
Ling sudah merasa kasihan dan suatu kekuatan yang tak
berwujud telah mengerem kekuatan serangannya, kendatipun
pemuda she Gak itu berada dalam keadaan gusar akan tetapi
sebagian tenaga kekuatannya telah ditarik kembali.
Ia telah melupakan bahwa pertaruhan yang sedang
berlangsung adalah suatu pertarungan yang menentukan
antara hidup dan mati, diapun lupa kalau gadis yang sedang
dihadapinya pada saat ini adalah seorang iblis perempuan

376
yang membunuh orang tanpa berkedip. ia semakin tak habis
mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba ia menarik kembali
serangannya.
"Blaaam " ditengah benturan keras berkumandanglah suara
dengusan berat, tubuh Gak In Ling yang tinggi kekar tahutahu
sudah kena ditendang oleh dewi burung hong indah
sehingga terpental sejauh dua tombak dari tempat semula dan
roboh terkapar diatas permukaan salju.
Bunga-bunga salju segera beterbangan keempat penjuru
ketika tertimpa oleh terjangan tubuhnya.
Dengan susah payah Gak In Ling menggeserkan badannya
dan berusaha untuk bangkit berdiri, mendadak dadanya terasa
tertekan oleh segulung kekuatan besar membuat badannya
dipaksa untuk berbaring kembali diatas tanah.
Gak In Ling mengedipkan matanya yang berkunangkunang,
tampaklah tepat dihadapan tubuhnya berdirilah dewi
burung hong indah dengan wajah yang dingin kaku, sepasang
kakinya menginjak tepat diatas dada sianak muda itu.
Dewi burung hong indah sendiripun memandang Gak In
Ling dengan pandangan dingin, tiba-tiba satu ingatan
berkelebat dalam benak Gak In Ling. Mungkin air muka Gak In
Ling yang pucat pias serta darah kental yang berlumuran
diujung bibirnya telah membuat sebuah bekas luka yang lain
dihati kecilnya.
Akan tetapi sekalipun perasaan hatinya terjadi pergolakan
keras, akan tetapi wajahnya yang dingin kaku tetap seperti
semula, sedikitpun tak mengalami perubahan barang
sedikitpun juga, terdengar ia berkata dengan nada dingin.
"Gak In Ling, sudahkah kau pikirkan hukuman apa yang
akan nonamu jatuhkan terhadap dirimu ?"
Gak In Ling tidak menjawab secara langsung, hanya
dengan nada yang hambar ia berkata.

377
"Terlalu banyak persoalan yang harus kupikirkan, aku tidak
pernah memikirkan persoalan itu "
"Apakah kau masih tidak puas dengan jalannya
pertarungan ini?" Seakan-akan sedang mengejek Gak In Ling
gelengkan kepala.
"Sekalipun dua jurus seranganku itu tidak kutarik kembali,
akupun tak dapat menghindarkan diri dari kejadian semacam
ini." sahutnya.
Sekali lagi dewi burung hong indah merasakan hatinya
tergerak. ujarnya dengan suara lantang.
"Kau memang jujur sekali, sekarang coba katakanlah
bagaimana pendapatmu tentang diriku."
"Aku hanya menguatirkan keselamatan umat persilatan
yang ada dikolong langit, karena dalam dunia persilatan mulai
detik ini telah bertambah lagi dengan seorang iblis perempuan
yang brutal, sadis dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan
barang sedikitpun juga."
Airmuka dewi burung hong indah seketika itu juga berubah
hebat, napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil tertawa dingin ia berseru. "Kau maksudkan
iblis tersebut adalah aku?"
"Sedikitpun tidak salah "
"Hee hee.... hee. ..." dewi burung hong indah tertawa
dengan seramnya, "tahukah engkau pada saat ini keselamatan
jiwamu berada ditangan siapa ?" Perlahan-lahan Gak In Ling
memejamkan matanya, lalu menjawab.
"Asal nona mengerahkan sedikit tenaga lagi pada kaki
kananmu Utu, maka aku akan segera tinggalkan bumi ini
untuk selama-lamanya "
Dewi burung hong indah sama sekali tidak menyangka
kalau Gak In Ling memandang harnbar soal mati hidupnya, ia

378
menjadi mendongkol sekali sehingga bentaknya. "Kau anggap
nonamu tidak berani untuk melakukan hal seperti itu ?"
"Aku tahu dikolong langit tiada perbuatan yang tak berani
engkau lakukan-"
Perlahan-lahan dewi burung hocg indah menarik kembali
injakan kakinya pada dada sianak itu, seakan-akan sedang
berbicara terhadap diri sendiri ia berguman.
"Dikolong langit tiada orang yang berani menantang aku
dengan cara seperti ini, tapi mengapa aku tak dapat
membinasakan dirinya ? Ah benar, dikolong langit memang
tiada perbuatan yang tak berani kulakukan, tetapi kenapa aku
tidak mampu untuk turun tangan ? Kenapa ? Kenapa hal ini
bisa terjadi ?"
Kian lama suara bisikan itu kian bertambah lirih sehingga
akhirnya Gak In Ling tak dapat mendengar apa yang sedang
diucapkan oleh gadis baju merah itu.
Perlahan-lahan sianak muda itu membuka kembali
matanya, dengan susah payah ia merangkak bangun lalu
berdiri dengan langkah yang gontai.
"Kau ingin melarikan diri?" ejek dewi burung hong indah
sambil tertawa dingin.
"sekarang sudah tiada kemungkinan semacam itu lagi bagi
diriku "
"Lalu mau apa kau bangkit dari atas tanah" Gak In Ling
tertawa dingin-
"Hee hee hee selama aku orang she Gak masih bisa
bernapas, aku tak sudi untuk tunduk dihadapan orang lain,
andaikata nona bersedia untuk turun tangan, sekaranglah
waktunya bagimu untuk turun tangan "

379
Tiba-tiba sekilas cahaya yang aneh memancar keluar dari
balik mata dewi burung hong indah yang jeli, sambil tertawa
seram ujarnya.
"Aku akan suruh engkau secara perlahan-lahan mendekati
kelubang kematian agar semua orang yang berada dikolong
langit tahu, beginilah akibatnya jika seseorang berani
menentang aku si dewi burung hong indah."
Belum habis gelak tertawanya berkumandang datang,
sepasang kakinya telah menjejak tanah dan bayangan merah
berkelebat lewat, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dua puluh
tombak tingginya ditengah udara.
Ketika berada ditengah udara sepasang lengannya kembali
mendayung kebelakang, mengikuti bergemanya suara suitan
panjang, badannya meluncur lima enam tombak lagi diudara.
Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan
burung hong, tidak selang beberapa saat kemudian dewi
burung hong indah sudah melompat naik keatas punggung
burung hong yang beraneka warna bulunya.
Dengan termangu-mangu Gak In Ling menyaksikan burung
hong itu terbang membumbung tinggi keangkasa, tiba-tiba
teriaknya keras. "Apakah kau mengira aku pasti akan mati?"
Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara gelak
tertawa dewi burung hong indah yang nyaring.
"Haahaa haa setelah aku dewi burung hong indah berani
mengatakannya keluar, tentu saja itu berarti bahwa aku sudah
melakukan sesuatu diatas badanmu, apakah kau kuatir tak
jadi mati ? cuma, engkau harus ingat bahwa rasanya sangat
luar biasa dan tak sedap dibadan- haa...... haa haa...."
cepat amat gerak terbang burung hong itu, dalam sekejap
mata bayangan itu sudah lenyap diujung langit.
Dengan mata kepala sendiri Gak In Ling pernah
menyaksikan bagaimana perempuan itu menghukum mati

380
Hiat-mo-ong dengan cara hanya memberikan sebuah totokan
pada punggungnya, akan tetapi akibatnya ternyata luar biasa
sekali dan cukup menyiksa orang itu sehingga sekarat.
Tentu saja sianak muda itupun mengetahui, setelah dara
itu berani mengucapkan kata-kata semacam itu, hal itu berarti
pula bahwa ancamannya bukanlah gertak sambal belaka.
Dengan termangu-mangu Gak Ia Ling memandang kearah
mana bayangan tubuh dari dewi burung hong indah
melenyapkan diri.
"Benar-benar seorang perempuan yang berbisa yang amat
berbahaya sekali "
Angin dingin berhembus lewat mengibarkan ujung pakaian
Gak In Ling yang berwarna hitam, sepintas memandang ke
empat kejauhan yang terlihat hanyalah permukaan tanah yang
putih berlapiskan salju, pemandangan seperti itu benar-benar
mengenaskan sekali.
Gak In Ling segera menggerakkan kakinya dengan maksud
untuk mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk
mengatur pernapasan-
Beberapa langkah ia baru berjalan, tiba-tiba dari sekeliling
tubuhnya berkumandang datang suara bentakan yaog amat
keras. "Gak in Ling, berhenti"
Terjelos perasaan Gak in Ling, tanpa terasa dia
menghentikan langkah kakinya dan memandang sekeliling
tempat itu.
Kurang lebih dua tombak disekeliling tempat itu berdirilah
delapan orang pria kekar berkerudung kain merah, dari
dandanan mereka tidak sulit untuk mengenali rombongan
orang-orang itu sebagai para jago dari lembah pemutus
sukma. Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang,
pikirnya.

381
"Aaaaiii...., baru saja meninggaikan sarang naga, sekarang
telah terjebak kembali dalam gua harimau. Nampaknya sulit
bagi aku orang she Gak untuk meninggalkan gunung Tay-peksan
pada hari ini dalam keadaan selamat tanpa cidera." Ia
segera tertawa dingin dan berseru.
"Sungguh kebetulan sekali saat kedatangan kalian semua "
Pria berkerudung merah yang berada dipaling depan segera
berseru.
"Jangan-jangan kau masih mempunyai tenaga simpanan
yang luar biasa."
Nada suaranya angkuh dan tekebur sekali.
Gak In Ling segera tertawa dingin.
"Hee hee hee...,. seandainya pada saat ini aku masih
mempunyai tenaga simpanan, aku percaya kaliaa semua
takkan berani datang kemari." serunya.
"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, cuma sayang seribu
kali sayang pada saat ini keadaanmu ibaratnya kambing yang
akan disembelih, bicara omong- kosong apa gunanya ?"
Seorang pria berkerudung merah yang berada dibelakang
punggung Gak in Ling segera berseru.
"cun-heng, saat ini bukan waktunya untuk bersilat lidah,
jika masalah besar sampai terbengkalai bukan saja engkau tak
dapat bertanggung jawab mungkin setiap orang yang hadir
ditempat inipun sukar antuk melepaskan diri dari
pertanggungan jawab." Nada ucapannya kasar dan sama
sekali tak sungkan-sungkan.
"Perkataan ini sedikitpun tidak salah." sambung pria
berkerudung merah yang lain-"mari kita cepat membawa
pulang mayat dari keparat cilik ini pulang dan segera memberi
laporan-"

382
Diikuti usul-usul lainnya saling berkumandang memecahkan
kesunyian, akan tetapi pada garis besarnya menyetujui sikap
tersebut.
Walaupun pria she cung itu merasa sangat tidak puas, akan
tetapi perasaan tersebut tak berani diutarakan keluar, ia
segera mendengus dingin.
"Hm Meskipun kokeu memerintahkan kita untuk membawa
pulang mayatnya, tetapi hal itu dimaksudkan apabila keadaan
terlalu mendesak atau terpaksa, sekarang kita sudah
kehilangan seorang pemimpin yang mati dibunuh perempuan
itu, sudah sepantasnya kalau kekosongan jabatan itu cepatcepat
diisi kembali, oleh karena itu menurut pendapat siaute
lebih baik kita bawa pulang keparat ini dalam keadaan hidup,
hidup, kalau kalian takut terjadi kerepotan, biarlah aku yang
mempertanggungjawabkan seorang diri."
"Ah, siapa yang bilang kalau cara ini tak baik ? cunghenglah
yang terlalu banyak curiga" kata orang yang berada
dlbelakang punggung Gak in Ling itu.
Selesai berkata mendadak ia ayunkan ujung jarinya ke
udara dan didalam waktu singkat jalan darah pay-sim-hiat
serta jalan tidur dari Gak In Ling telah tertotok olehnya,
kemudian membopong tubuh pemuda itu dalam rangkulannya.
Pria berkerudung merah yang lain segera membopong
jenasah dari Hiat-mo-ong dan berangkatlah mereka menuju
kearah sebelah timur. Tiba-tiba pria she cung itu berseru.
"Saudara-saudara sekalian, apakah kita harus berlaku
secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling ?"
"Siapa yang kita takuti lagi?" seru tujuh orang lainnya
dengan nada keheranan.
"Apakah kalian sudah melupakan apa yang barusan telah
terjadi ?" kata pria she cung itu sambil melirik sekejap
ketengah udara.

383
Mula-mula ketujuh orang temannya sama-sama berdiri
tertegun dan serentak melirik sekejap kearah tengah udara,
tiba-tiba salah seorang diantaranya tertawa terbahak-bahak
dan berkata.
"Haa haa haa. cung-heng, engkau jadl orang terlalu tak
bernyali, rupanya kau terlalu jerih untuk menghadapi kematian
"
Sejak merasa gusar dan mendongkol tadi hingga sekarang
pria she cung itu belum ada kesempatan untuk melampiaskan
kemendongkolannya itu, mendengar ucapan itu iapun segera
melimpahkan semua kemarahannya kepada orang itu, serunya
dengan gusar.
"orang she Lau, engkau mengatakan siapa yang takut mati
?"
"Kenapa ?" jawab pria she Lau itu dengan marah pula.
"Apakah kau ingin turun tangan melawan aku ?"
"Hm Kau anggap aku jeri terhadap dirimu ?" sambil berkata
selangkah demi selangkah pria she cung itu berjalan maju
kedepan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara teguran yang
amat merdu berkumandang datang.
"Eeei, rupanya kalian belum pergi ?"
Keadaan dari delapan orang pria berkerudung merah itu
sudah ibarat burung yang tersambar panah, mendengar
teguran yang amat merdu itu saking terperanjatnya sampai
untuk beberapa saat lamanya mereka tak mampu
mengucapkan sepatah katapun, enam belas buah sorot mata
bersama-sama dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi.
Padahal dalam kenyataan berpaling pada saat ini hanyalah
suatu perbuatan yang tak ada gunanya, sebab gadis itu tahutahu
sudah berjalan diantara sekeliling delapan orang itu.

384
Begitu mengetahui siapakah orang yang sedang
dihadapinya, dengan perasaan terperanjat ke delapan orang
pria berkerudung merah itu menjerit sekeras-kerasnya.
"Ah Dewi burung hong indah?" Sedikitpun tidak salah,
orang itu bukan lain adalah dewi burung hong indah yang
telah kembali setelah berlalu tadi, siapapun tak dapat
menduga apa sebabnya gadis ini kembali lagi ? Dan apa pula
yang hendak dilakukan olehnya
Dengan biji matanya yang jeli dewi burung hong indah
melirik sekejap kearah Gak in Ling yang berada dalam
bopongan seorang pria berkerudung merah itu, lalu katanya.
"Lepaskan dia dari boponganmu dan baringkan diatas tanah
Awas, perlahan sedikit "
Suaranya begitu merdu, manis didengar dan
mempesonakan, sedikitpun tidak mengandung rasa gusar,
sikapnya jauh berbeda kalau dibandingkan dengan sikapnya
yang kasar dan keras terhadap Gak In Ling tadi.
Akan tetapi, kendatipun perkataan tersebut diutarakan
dengan lembut dan merdu, justru dibalik kemanisan suaranya
itulah terselip suatu kewibawaan serta kekerenan yang
membuat orang sama sekali tak berani menentang terhadap
perintahnya, membuat orang tanpa sadar tunduk dan
menuruti perkataannya.
Pria berkerudung merah itu benar-benar menuruti
perkataannya dan membaringkan tubuh Gak In Ling diatas
tanah, sikapnya seakan-akan sedang yang kehilangan sukma.
Dewi burung hong indah melirik sekejap ke arah Gak In
Ling yang berbaring diatas tanah, kemudian menengadah dan
menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ujarnya sambil
tertawa.
"Kalian sama-sama mengenakan kain kerudung merah
diatas wajah, kalau dugaanku tidak keliru maka kedudukan
kalian didalam lembah pemutus sukma pasti tak begitu

385
penting bukan ? sekarang pemimpin kalian sudah mati,
sedang kalianpun tidak akan berhasil mendapatkan Gak In
Ling, sekalipun pulang akhirnya tokh kematian yang bakal
kalian temukan, menurut pendapat nonamu lebih baik kalian
berdelapan sama-sama menemui pemimpin kalian saja "
Ucapannya merdu, dan amat mempesonakan- Tetapi bagi
pendengaran kedelapan orang manusia berkerudung merah
itu, ucapan itu tidak ubahnya merupakan suatu perintah
menuju ke maut, air muka beberapa orang itu seketika
berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.
Dewi burung hong indah memandang sekejap kearah
orang-orang itu, lalu sambil tertawa ujarnya lagi.
"Tempo hari kalian semua adalah jago-jago lihay yang
pemberani dan bernyali besar, kenapa sekarang menjadi
lemah tak bertenaga dan menunjukkan perasaan tidak tenang,
ada apa sih ?"
Pria she cung itu mengempos tenaga memberanikan diri,
serunya dengan cepat.
"Kami sekalian boleh dibilang sama sekali tidak terikat oleh
dendam sakit hati ataupun perselisihan apapun dengan diri
nona, kenapa nona terlalu mendesak diri kami bahkan
menjatuhkan hukuman mati pula terhadap kami, dengan
alasan apa nona berbuat demikian ?"
Suaranya walaupun nyaring namun menunjukkan perasaan
mohon balas kasihan-Dewi burung hong indah tertawa merdu,
godanya
"Aduh kalian tokh laki-laki kekar yang pemberani, masa
takut sama seorang perempuan lemah seperti aku ?"
Bagaikan balon yang kehabisan udara lalu kempes, pria she
Lau itu berseru dengan suara yang masam.
"Kami sekalian telah menyadari bahwa kepandaian silat
yang kami miliki masih bukan tandingan dari nona."

386
"Ah, masa kalian tidak akan melakukan perlawanan dan
mudah dibunuh dengan begitu saja" kata dewi burung hong
indah.
Pria she cung itu mundur dua langkah ke belakang, dengan
ketakutan katanya lirih. "Apakah nona sudah bertekad untuk
menjatuhkan hukuman mati terhadap kami sekalian "
"Dengarlah," kata dewi burung hong indah setelah berpikir
sebentar, "sekarang juga kalian semua boleh berdiri pada
posisi delapan penjuru, usahakanlah untuk mempergunakan
seganap kemampuan yang kalian miliki untuk mencari jalan
hidup sendiri-sendiri, jikalau diantara kalian ada yang berhasil
melampaui jarak sejauh dua tombak dari tempat ini, maka
dialah yang akan kuberi ampun selembar jiwanya dan akan
kubiarkan berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"
Begitu ucapan tersebut diucapkan keluar, di atas keputusasaan
yang dengan jelas tertera diwajah kedelapan orang
manusia itu segera terlintas rasa girang yang bukan kepalang,
jelas mereka masing-masing telah menganggap dirinya
sebagai orang yang paling beruntung.
Dalam kenyataan memang demikianlah adanya, meskipun
ilmu silat yang dimiliki dewi burung hong indah tinggi dan
sukar dilukiskan dengan kata-kata, tetapi kalau dikatakan
dalam jarak lingkaran dua tombak dia akan membinasakan
delapan orang tokoh lihay dalam persilatan secara berbareng,
pekerjaan ini boleh dibilang amat sulit sekali dan siapapun tak
akan percaya kalau hal ini bakal berhasil.
Karena mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki kedelapan orang tokoh lihay tersebut, jarak dua
tombak hanya diperlukan dalam dua tiga kali lompatan saja
sudah dapat dilampaui, dan waktu dua tiga kali lompatan itupun
relatip singkat sekali.
Tanpa sadar kedelapan orang itu bersama-sama mundur
kearah belakang, tiba-tiba terdengar salah seorang diantara

387
pria baju merah itu berseru. "Apakah nona maksudkan dengan
menganndalkan kekuatanmu seorang ?"
"Sedikitpun tidak salah "jawab dewi burung hong indah
sambil tertawa merdu tiada hentinya. "Disini tokh tiada orang
lain kecuali aku." sesudah berhenti sebentar, ia menyambung
lebih jauh.
"Bukan saja aku akan menggunakan kekuatanku seorang,
lagipula tak akan kupergunakan senjata rahasia, tentang soal
itu kalian boleh berlega hati dan tak usah kuatir."
Rasa girang yang melintas diatas wajah delapan orang pria
itu bertambah tebal lagi, jelas mereka mengira kalau dewi
burung hong indah memang ada maksud untuk melepaskan
mereka pergi dalam keadaan hidup tanpa cidera.
Tetapi mereka telah melupakan sesuatu, lupa bahwa
pertarungan tersebut merupakan suatu pertaruhan bagi nama
baik dara tersebut.
Dewi burung hong indah memandang sekejap kearah
delapan orang pria yang mundur terus kebelakang itu,
serunya kembali.
"Untuk adilnya maka nonamu akan memberi komando,
setelah aku memberi tanda nanti kalian boleh segera lari
secepat-cepatnya, kalau di antara kalian ada yang berani
bergerak lebih dahulu, jangan sesalkan kalau aku berlaku
kejam"
Sesudah ancaman tersebut diutarakan keluar delapan
orang pria itu benar-benar tidak berani mundur lagi secara
sembarangan-
"Aku akan menghitung sampai angka ketiga setelah
kusebutkan angka ketiga maka kalian boleh segera melarikan
diri." ujar dewi buruag hong indah sambil tertawa.
Setelah berhenti sebentar ia melanjutkanTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
388
"Satu..."
"Dua..."
Kedelapan orang pria baju merah itu segera mengerahkan
segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam sepasang
kaki, yang dipikirkan mereka pada saat ini hanyalah lari
secepat-cepatnya, siapa dapat berlari dengan cepat dialah
yang akan la los dari ancaman bahaya maut itu.
Dewi burung hong indah sendiri tetap tersenyum dengan
penuh kelincahan, sedikitpun tak tampak tanda-tanda kalau
dia sedang menyalurkan hawa murninya untuk bersiap-sedia.
Ketegangan dan keseriusan menyelimuti seluruh angkasa
disekeliling tempat itu, delapan orang pria baju merah itu
seakan-akan dapat mendengar detak jantungnya sendiri,
kengerian kematian menyelimuti seluruh angkasa. Mendadak
dewi burung hong indah berseru keras. "Tiga "
Begitu angka ketiga diutarakan keluar, delapan orang pria
baju merah itu bagaikan kesurupan setan, bagai sambaran
kilat cepatnya segera melarikan diri menuju kearah delapan
penjuru yang saling berlawanan.
Dis inilah letaknya kunci yang paling penting untuk
menentukan mati hidup mereka, tentu saja semua orang telah
mempergunakan segenap kekuatan tubuh yang dimiliki untuk
berusaha meloloskan diri dari tempat itu, pada dasarnya
tenaga dalam yang mereka miliki memang tidak lemah,
setelah berlarian dengan sepenuh tenaga bisa dibayangkan
betapa cepatnya gerakan tubuh mereka.
Tampaklah delapan orang pria itu bagaikan delapan buah
jalur bayangan merah, bagaikan bayangan guntur yang
membelah bumi disiang hari bolong segera melarikan diri
menuju kearah delapan penjuru yang saling berbeda.
Air muka dewi burung hong indah sedikitpun tidak
menunjukkan perasaan gugup dan gelisah, napsu membunuh

389
yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, tiba-tiba ia
membentak nyaring. "Roboh kalian semua "
Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu, ia
putar badan pada poros yang sama sekali tidak berubah, jari
tangannya melentik dan meluncurlah delapan buah desiran
angin tajam yang secara terpisah mengancam tubuh
kedelapan orang itu.
Tiba-tiba...
Delapan kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati
berkumandang memecahkan kesunyian yang menyelimuti
sekeliling tempat itu, begitu seram suaranya membuat bulu
kuduk orang pada bangun berdiri.
Mengikuti bergemanya delapan kali jeritan ngeri tersebut,
hampir pada saat yang bersamaan kedelapan buah bayangan
merah itu bersama-sama roboh terkapar diatas tanah, karena
begitu cepatnya gerakan mereka untuk menerjang kedepan
membuat tubuh yang sudah tak bernyawa itu tak mampu
mempertahankan gerakannya lagi, diatas tanah seketika, itu
juga muncullah delapan buah jalur panjang yang sangat
dalam sekali. Dari sini dapat ditarik kesimpulan betapa
besarnya tenaga terjangan tersebut.
Salju putih yang terdorong dengan cepat mengubur
sebagian dari tubuh mereka, akan tetapi oraug-orang itu
sudah tidak menunjukkan reaksi apa-apa lagi, jelas orang
orang itu sudah putus nyawa.
Dengan pandangan yang sangat hambar dewi burung hong
indah menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian
sambil bergumam seorang diri katanya^
"Aaaah masih untung kedelapan orang itu belum sampai
melewati jarak sejauh dua tombak. kalau tidak. aku bisa
berabe, mana aku mampu untuk menghidupkan mereka lagi?"
Sambil berkata perlahan-lahan dia berjalan menuju kearah
Gak In Ling.

390
Dari atas tubuh Gak In Ling memancar keluar hawa panas
yang sangat tinggi membuat lapisan salju yang berada
disekeliling tubuhnya jadi melumer, hal ini membuat sekujur
badannya jadi basah kuyup oleh air, untung pada waktu
itujalan darah tidurnya masih tertotok. kalau tidak pasti ia
takkan kuat menahan diri.
Setelah memandang tubuh sianak muda itu beberapa saat
lamanya, dewi burung hong indah mendadak bergumam
kembali. "Kenapa aku kembali, tahukah engkau ?"
Sambil berkata ia segera berjongkok dan memeluk tubuh
Gak In Ling dari atas permukaan salju.
Air muka dewi burung hong indah pada saat ini luar biasa
sekali, seakan-akan ia memperlihatkan rasa sayang dan sedih,
tetapi seakan-akan juga menunjukkan perasaan mendongkol
bercampur gusar, sebentar di balik biji matanya yang jeli
tampaklah murung sekali, seolah-olah ada sesuatu persoalan
yang telah merisaukan hatinya.
Ia membopong tubuh Gak In Ling menuju kehadapan
sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian ayunkan
telapaknya menyapu bersih lapisan salju yang berada diatas
batu cadas tersebut, kemudian membaringkan tubuh Gak In
Ling disana.
Dalam pada itu sang surya telah tenggelam disebelah
barat, separuh cahayanya yang berwarna kemerah-merahan
menongol sedikit dari balik bukit, menunjukkan seakan-akan ia
merasa berat hati untuk meninggalkan dunia yang penuh
kemaksiatan serta kejahatan ini.
Dengan termangu-mangu dewi burung hong indah
menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. angin dingin
berhembus lewat menggoyangkan ujung pakaiannya yang
berwarna merah, dibawah sorot cahaya sang surya yang
hampir tenggelam dengan dihiasi salju nan putih, gadis itu
nampak begitu cantik, begitu mempesonakan hati orang,

391
sayang Gak Ia Ling pada saat itu berada dalam keadaan tak
sadar sehingga tak dapat menikmati keindahan tersebut.
Lama sekali dewi burung hong indah termenung dan
berpikir keras, akhirnya ia bergumam dan menghibur diri
sendiri.
"Ah, perduli amat Sejak kini dia menjadi sahabat atau
lawanku, yang penting toh aku tak jeri terhadap dirinya, apa
salahnya kalau kutolong dirinya sampai sadar ?"
Berpikir sampai disini sepasang telapaknya segera bekerja
cepat menotok bebas jalan darah Pay-sim-hiat diatas tubuh
sianak muda itu, baru saja telapak tangannya akan
membebaskan jalan darah tidurnya, tiba-tiba satu ingatan
kembali berkelebat dalam benaknya, taapa terasa ia berpikir
lebih jauh.
"Seandainya kubebaskan jalan darah tidurnya, setelah
sadar kembali mungkin dia tak akan bersedia menerima
pengobatanku, aku lihat lebih baik jalan darah tidurnya jangan
dibebaskan lebih dahulu."
Sifat gadis ini memang keras kepala dan tegas, perduli
melakukan pekerjaan apapun juga selalu dilaksanakan apa
yang telah diucapkan olehnya, dan semua perbuatan itu
dilakukan dengan tanpa ragu-ragu. Setelah selesai mengambil
keputusan dengan cepatnya pula dia turun tangan untuk
menyembuhkan luka dari Gak In Ling.
Tampaklah dia melompat naik keatas permukaan batu itu
lalu duduk bersila disamping tubuh Gak In Ling, telapak
tangannya yang putih bersih ditempelkan diatas jalan darah
Leng-tay-hiat diatas badan pemuda itu, perlahan-lahan hawa
murninya disalurkan kedalam tubuh lawan untuk
menyembuhkan luka dalamnya.
Sang surya telah lenyap dibalik bukit, senjapun menjelang
tiba, pemandangan diatas bukit Tiang-pekssan yang dingin

392
dan tertutup lapisan salju kelihatan bertambah indah di
tempat itu.
Seorang gadis cantik baju merah menemani seorang
pemuda tampan baju hitam duduk bersanding diatas sebuah
batu cadas yang amat besar, keadaan mereka bagaikan
sepasang Kim-tong-giok li bocah dewa-dewi dan kahyangan-
Kesunyian telah menyelimuti seluruh jagad, waktu sedetik
demi sedetik berlalu dengan cepatnya, sang rembulan muncul
diawan mendatangkan pemandangan yang semakin indah.
Perlahan-lahan dewi burung hong indah meloncat, turun
dari atas batu cadas itu, setelah menyeka keringat yang
membasahi jidatnya dia menengadah dan berkata.
"Akhirnya apa yang kuusahakan selama ini telah berhasil
juga mencapai pada tujuan-Aai... waktu telah mendekati
kentongan ketiga, mereka pasti telah datang ketempat
tinggalku untuk mencari aku. Apa yang harus kulakukan
sekarang ?"
Ia menengadah dan berpekik nyaring untuk memanggil
datang burung hongnya itu, kemudian perlahan-lahan naik
keatas punggung burung tersebut.
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa
terasa ia bergumam kembali.
"Apa salahnya kalau kubawa serta dirinya untuk pergi
kesana pula?" sesudah berhenti sebentar, ia berpikir lebih
jauh.
"Ah tidak boleh jadi, seandainya ilmu silat yang dimilikinya
tiba-tiba menjadi amat tinggi, bukankah itu berarti telah
menambah seorang musuh tangguh bagi diriku ?"
Berpikir sampai dlsini, tanpa terasa sepasang-biji matanya
yang jeli berpaling kearah Gak In Ling.

393
Angin malam yang amat dingin berhembus lewat
menggoncangkan ujung baju sianak muda itu dan
menimbulkan suara desingan yang tajam, ditengah kegelapan
malam yang mencekam seluruh jagad, membuat suasana
terasa bertambah sedih. Kembali dewi burung hoag indah
bergumam seorang diri. "Tempat ini pasti dingin sekali."
Sesudah berhenti sebentar, seakan-akan mentertawakan
diri sendiri ia berpikir lebih jauh.
"Kenapa sih aku pada hari ini? Kenapa selalu memikirkan
keselamatan orang lain?" Walaupun diluaran ia berkata
demikian, akan tetapi sepasang kakinya telah bergerak
meloncat turun dari atas punggung burung hong-nya dan
berjalan kembali kearah batu cadas dimana Gak In Ling
sedang berbaring.
Dewi burung hong indah segera membopong tubuh Gak In
Ling dan kembali bergumam.
"Biarlah kubawa dirinya menuju kesana, tempat itu jauh
lebih hangat daripada tempat ini, bagaimanapun juga
pokoknya aku tak akan membawa dirinya keatas bukit itu,
semuanya biarlah tergantung pada nasib."
Setelah meloncat naik keatas punggung burung hong, dia
memberi komando dan burung hong itupun segera
mementaogkan sayapnya untuk terbang keangkasa, dalam
sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik
kegelapan malam...
-oo0dw0oo-
Tempat itu merupakan sebuah bukit yang terjal dengan
batu cadas berserakan dimana- mana dan pohon yang tumbuh
dipermukaan tanah.
Sang surya telah muncul diufuk sebelah timur dan cahaya
keemasan memancar ke seluruh penjuru, diangkasa

394
terbanglah seekor burung rajawali yang amat besar, berputar
kesana- kemari mengitari puncak tersebut.
Dari dalam sebuah gua yang berdinding batu perlahanlahan
berjalan keluar seorang pemuda berbaju hitam, ia
menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian wajahnya
nampak tertegun dan segera bergumam seorang diri.
"Aku telah berada dimana ?Jangan-jangan tempat ini
adalah lembah pemutus sukma" Pemuda itu bukan lain adalah
Gak In Ling.
Setelah memandang lagi sekeliling tempat itu dengan
seksama, kembali Gak In Ling dengan gelengkan kepalanya ia
berkata.
"Tidak tidak benar, tempat ini pastilah bukan lembah
pemutus sukma. tapi.... sebenar nya aku telah berada dimana
?"
Pada saat itulah tiba-tiba dari tengah udara berkumandang
-datang suara teriakan-teriakan yang amat keras. "Tolong,.
tolong tayhiap..Tolonglah aku"
Mendengar teriakan tersebut Gak In Ling segera
menengadah keatas, ketika sorot matanya membentur dengan
apa yang terlihat olehnya, hatinya kontan saja jadi tertegun.
Kurang lebih lima puluh tombak diatas kepalanya, pada
sebuah dinding tebing yang curam dan licin bagaikan cermin
tergantunglah sebuah keranjang, dalam keranjang tersebut
duduklah seorang pria setengah baya yang memakai pakaian
ringkas.
Dengan ketajaman matanya yang melebihi orang, Gak In
Ling memperhatikan orang itu dengan lebih seksama lagi,
terlihatlah olehnya orang itu bermata tikus beralis tipis, hidung
betet bibir tebal dan potongannya memuakkan sekali,
membuat kesan orang yang melihat wajahnya adalah buruk
sekali.

395
Tetapi setelah memperhatikan pula keadaannya yang
berada didalam bahaya hal ini membuat orang mau tak mau
harus berusaha untuk menyelamatkan jiwanya.
Gak In Ling memperhatikan kearah tengah udara, ia
saksikan beberapa ekor burung elang sedang beterbangan
mengitari diatas batok kepala orang itu, dari keadaan burung
elang itu tampaklah bahwa setiap saat mereka hendak
menyerang mangsanya serta menghabiskan daging tubuhnya.
Menyaksikan kesemuanya itu, tanpa terasa Gak In Ling
segera didalam hatinya.
"Dari keadaan serta dandanan orang itu, jelas dia memiliki
serangkaian ilmu silat, tetapi... kenapa ia sama sekali tidak
bergerak ?" berpikir demikian, diapun segera berpikir keras.
"Aku lihat engkau memiliki serangkaian ilmu silat yang
cukup tangguh,jarak dan situ sampai puncak bukitpun paling
tidak hanya dua puluh tombak belaka, apa salahnya kalau
engkau mendekati naik keatas "
"Tali yang terikat disebelah atas sudah rusak dan menipis,
jika aku bergerak sembarangan miscaya tali itu akan putus,
kalau tayhiap tidak percaya silahkan periksalah keadaan
disebelah bawah sana."
Mendengar perkataan itu Gak In Ling segera menengok ke
bawah, bulu kuduknya kontan pada berdiri semua...
Pada dasar jurang yang dalamnya mencapai ratusan
tombak. tampaklah keranjang bambu berserakan dimanamana,
tulang manusia pun bertumpuk-tumpuk dan paling
sedikit mencapai ratusan buah banyaknya, ditinjau dari
bambu-bambu yang berceceran diatas tanah dapat dibuktikan
bahwa orang-orang itu kebanyakan terjatuh dari atas tebing.
"Siapakah orang yang telah melakukan kesemuanya ini ?"
pikir Gak In Ling didalam hati kecilnya. "Perbuatan orang itu

396
benar-benar amat keji dan brutal sekali" Berpikir sampai disini,
dia lantas menengadah dan berseru.
"Baiklah, harap engkau suka menunggu sebentar lagi, aku
akan segera naik keatas bukit untuk menolong jiwamu."
"Tayhiap. harap cepat-cepat kau tolong diriku" kembali
orang itu berteriak dengan perasaan tak tenang, "kalau tidak
maka aku pasti akan diterkam oleh burung-burung elang
tersebut."
"Apakah engkau tak mampu untuk mengusir burungburung
elang lebih dahulu sehingga tidak mengusik dirimu ?"
Dengan muka masam, orang itu berteriak.
"Mana aku berani bergerak ? Asal sedikit bergerak saja
niscaya tubuhku akan terjatuh ke- dalam jurang dan hancur
lebur, tayhiap Aku mohon kepadamu harap sedikit lebih cepat,
bila kau dapat menyelamatkan selembar jiwaku maka didalam
penirisan yang akan datang aku bersedia menjadi kerbau atau
kuda."
Dengan dahi berkerut Gak In Ling berpikir didalam hati
kecilnya.
"orang ini benar-benar tidak berjiwa seorang kesatria,
seandainya aku tidak memandang pada kedudukan sebagai
sesama umat persilatan, segan aku untuk mengurusi dirimu "
Berpikir sampai disini, iapun segera berteriak. "Aku tidak
membutuhkan kesemuanya itu, kau..."
Rupanya orang itu takut sekali kalau Gak In Ling berlalu
dari sana tanpa menggubris dirinya lagi, dengan suara keras
kembali sambungnya lebih jauh.
"Kalau begitu tayhiap menginginkan apa ? Uang emas ?
Perak ? Katakan saja berapa jumlah yang kau inginkan, hamba
pasti akan memberikan kepadamu sejumlah yang engkau
minta,aku pasti tak akan mengingkari janji "

397
Mendengar perkataan itu Gak In Ling jadi naik pitam,
dengan suara dingin segera ujarnya.
"sebenarnya engkau menginginkan hidup atau tidak ?"
"Ingin Ingin Ingin "jawab orang itu dengan amat cemas
bercampur gelisah. "Tayhiap katakan saja apa yang kau
inginkan, hamba pasti..."
"Kalau ingin hidup tutuplah mulut anjing- mu itu " bentak
Gak In Ling dengan suara keras.
Menyaksikan Gak In Ling yang menjadi naik pitam, orang
itu benar-benar tidak berani bersuara lagi, namun dalam hati
kecilnya dengan perasaan mendongkol pikirnya.
"Hmm Keparat cilik, anak jadah kalau aku sudah ditolong
naik keatas tebing nanti, pada saat itulah kau akan tahu
sampai dimanakah kelihayan dari aku harimau mata tiga"
Gak In Ling berhasil menemukan sebuah jalan gunung kecil
disisi gua tersebut dengan cepat ia meloncat turun kebawah
dan bergerak menuju kedasar jurang tadi.
Dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini,
tidak sulit baginya untuk menuruni tebing yang curam itu,
tidak selang beberapa saat kemudian Gak Ia Ling telah berada
didasar jurang tadi.
Yang dipikirkan Gak In Ling pada saat ini adalah
menyelamatkan jiwa orang yang tergantung dalam keranjang
itu, setibanya didasarjurang ia segera mencari jalan kecil
lainnya dan mendaki keatas puncak tebing sebelah depan,
tangan dan kakinya segera berkerja cepat untuk mendaki
terus keatas puncak tebing tadi.
Tebing itu merupakan suatu bukit yang berdiri sendiri,
tingginya meskipun hanya dua ratus tombak akan tetapi
berhubung dinding tebingnya licin bagaikan cermin, maka
tatkala sianak muda Itu berhasil mencapai puncak tebing tadi,
dua jam telah dilewatkan tanpa terasa.

398
Setelah berada diatas puncak tebing itu, pemandangan
seketika berubah, hutan pohon song yang lebat tersebar
dimana-maaa, begitu lebatnya pepohonan disana hingga
membuat pemandangan nampak indah sekali.
Gak In Ling nampak tertegun, segera pikirnya didalam hati.
"Sungguh tak kusangka diatas tebing yang berdiri tersendiri
ini terdapat pemandangan yang demikian indahnya."
Sambil berpikir diapun berjalan menuju ke-sisi sebelah
kanan-
Setelah berjalan maju beberapa langkah ke-depan, dengan
suara lantang ia segera berteriak.
"Hey, engkau berada dimana ?"
Suaranya menggema, diangkasa dan mendengung tiada
hentinya, akan tetapi tiada jawaban yang kedengaran-
Gak In Ling tercengang bercampur heran, ia segera ulangi
kembali teriakannya itu sampai beberapa kali, namun suasana
tetap sunyi-sepi dan tak terdengar sedikit suara pun-
Pada saat itulah, tiba-tiba dari dalam hutan berkumandang
datang suara orang berbatuk, diikuti bergemanya suara
langkah kaki manusia, seorang penebang kayu yang sudah
tua, berkepala botak dan berjenggot warna keperak-perakkan
perlahan lahan muncul dari balik hutan
-oo0dw0oo-
Jilid 12
DENGAN pandangan yang amat tajam Gak In Ling
memperhatikan orang itu, ia saksikan raut wajah orang itu
sudah penuh berkeriput sepasang matanya sayu tak bersinar,
punggungnya bongkok dan gerak-geriknya kelihatan payah
sekali.

399
Ketika berada kurang-lebih dua depa dihadapan Gak In
Ling, dengan suara kasar penebang kayu itu berteriak.
"Hey, engkoh cilik, engkau sedang berteriak-teriak
memanggil siapa ?"
"Lo-tiang, sejak kapan kau naik kemari ?" tanya Gak In Ling
dengan keheranan-
"Naik ?" penebang kayu itu nampak tertegun, kemudian
balik bertanya dengan heran "Dan kau sendiri, bagaimana
caranya naik kemari ?"
"Tentu saja merangkak naik keatas "
"Merangkak naik keatas ? Ah, tidak mungkin, apakah kau
dapat terbang ?" Gak In Ling segera tertawa.
"Manusia mana bisa terbang ? Apakah ditempai ini masih
ada jalan tembus lainnya ?"
"Tidak ada jalan lain.... tidak ada jalan lain." jawab kakek
tua itu sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau memang begitu secara bagaimaaa lo tiang bisa naik
ketempat ini ?"
"Selama hidup aku tak pernah turun kebawah, kenapa
mesti naik kemari lagi ?"
"Selama hidup ?"
"Benar, aku sudah berdiam disini hampir seratus tahun
lamanya."
Gak In Ling ingin cepat-cepat menolong orang dan tidak
ingin berbicara lebih jauh, maka dia pun segera bertanya.
"Apakah lo-tiang mengetahui kalau diantara tebing curam
itu tergantung seseorang disana ?"

400
"Mereka yang mencari kesulitan buat diri sendiri, harus
salahkan siapa hal ini ?" seru penebang kayu tua itu dengan
wajah sama sekali tidak nampak keheranan-
"Mencari kesulitan buat diri sendiri ?" Penebang kayu tua
itu mengangguk.
"Mereka mengatakan akan datang kemari untuk mencari
sejilid kitab ilmu silat, akhirnya perbuatan mereka telah
menggusarkan seorang dewa yang berdiam diatas puncak
bukit ini, maka orang itupun digantung di tengah angkasa
untuk mangsa burung elang."
Gak In Ling mengetahui kalau orang yang dimaksudkan
sebagai dewa oleh penebang kayu tua itu pastilah seorang
tokoh persilatan yang memiliki ilmu silat amat tinggi, tanpa
terasa ia bertanya.
"Kitab pusaka apa sih yang sedang mereka cari ?"
Sambil berkata ia menengadah dan memandang kearah
samping kiri.
Diantara biji mata penebang kayu tua yang layu mendadak
memancar keluar serentetan cahaya mata yang amat tajam
sesudah mendengar pertanyaan itu, tetapi hanya sebentar
saja telah lenyap tak berbekas, ia segera gelengkan kepalanya
"Aku sudah tidak teringat lagi." Tiba-tiba ia berseru lagi
sesudah berhenti sebentar. "Aaah, benar-benar biarlah aku
berpikir sebentar."
Ia termenung beberapa waktu lamanya, kemudian sambil
angkat kepala ujarnya.
"Agaknya bernama Ci Hiat ciang-pit-keng kitab ilmu silat
telapak maut."
"Apa ? Kitab pusaka telapak maut ?" dengan perasaan hati
bergetar keras.

401
"Ada apa? Apakah engkoh cilik datang kemari juga
disebabkan oleh karena kitab pusaka tersebut ?" nada suara
penebang kayu tua amat berat dan dalam sekali. Gak In Ling
segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"oh, tidak ? Belum pernah aku dengar orang berkata kalau
ditempat ini terdapat kitab pusaka macam itu..."
Pada waktu itulah tiba-tiba berkumandang datang suara
teguran seseorang dengan nada yang amat nyaring.
"Kami dua saudara justru datang kemari dengan maksud
mencari kitab pusaka telapak maut. Hey, tua bangka, apakah
engkau tahu letak tempat penyimpanan kitab pusaka
tersebut?"
Mendengar ucapan itu dengan cepat Gak In Ling alihkan
sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah
lima tombak dihadapannya di bawah pohon song yang amat
besar berdirilah dua orang kakek tua.
Orang yang berada disebelah kiri mempunyai alis mata
yang terputus-putus dengan hidung pesek, diatas jidat kirinya
terdapat bekas codet sepanjang dua cun lebih, kumis tikusnya
pendek-pendek seperti landak. wajahnya memuakkan-
Sedangkan orang yang ada disebelah kiri meskipun
memiliki raut wajah yang jauh lebih bersih dan terang, tetapi
wajahnya memancarkan sifat sesat yang membuat orang jadi
muak dan segan untuk berhubungan dengan dirinya.
Usia mereka berdua berada diantara lima puluh tahunan,
jalan darah Tay-yang-hiat diatas keningnya menonjol amat
besar, jelas kedua orang itu merupakan jago-jago persilatan
yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.
Penebang kayu tua itu menyapu sekejap ke-arah dua orang
kakek tersebut, kemudian sambil mengangguk ujarnya.

402
"Hmm, aku seorang tua memang tahu letak tempat
penyimpanan kitab pusaka tersebut, hanya aku takut kalian
berdua tak berani mengambilnya, karena..."
Sebelum penebang kayu tua itu sempat menyelesaikan
kata-katanya, kakek tua yang berada di sebelah kanan itu
sudah melompat maju ke depan sambil berteriak keras.
"Dikolong langit tak ada pekerjaan yang tidak berani
dilakukan oleh kami berdua, kakek tua Kau cukup memberi
putunjuk saja -kepada kami dimanakah letak tempat itu, dan
tak usah banyak cerewet lagi " nada suaranya kasar dan sama
sekali tidak pakai aturan-
Gak In Ling merasa amat tidak senang menyaksikan
perbuatan dari orang itu, ia segera tertawa dingin dan
berkata.
"Kalian dua bersaudara kalau memang ada urusan mohon
bantuan orang lain, tidaklah sepantasnya kalau mengucapkan
kata-kata yang sama sekali tidak pakai aturan seperti ini,
apakah orang lain sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk
tidak memberitahukan rahasia tersebut kepada kalian berdua
?"
Dalam pada itu kakek bercodet yang berada disebelah kiri
telah majupula ke depan, mendengar perkataan itu sepasang
matanya kontan melotot, sorot mata yang amat tajam
memancar keluar dari balik matanya membuat wajah orang itu
kelihatan mengerikan sekali.
Sambil melotot kearah Gak In Ling, hardiknya dengan suara
lantang.
"Keparat cilik, rupanya kau sudah bosan hidup dikolong
langit ? Berani betul mengucapkan kata-kata yang tidak
senonoh di hadapan kami berdua ?"
Gak In Ling adalah seorang pemuda tinggi hati yang
angkuh dan keras kepala, tentu saja hatinya jadi panas ketika

403
mendengar perkataan seperti itu, sepasang alis matanya
langsung berkernyit sambil tertawa dingin ejeknya.
"Hee hee he apakah kalian akan membunuh kami berdua
dengan mengandalkan kekuatan kalian berdua ?"
Kakek bercodet menganggap ilmu silat yang dimilikinya
sudah mencapai tingkat yang paling tinggi, tentu saja ia tak
pandang sebelah matapun terhadap diri pemuda itu,
mendengar ucapan tadi dia pun naik pitam dan membentak
dengan penuh kegusaran-
"Bangsat Engkau berani menghina aku, lihat seranganku
ini... akan kubacok badanmu sampai terbelah "
Sambil berkata ia segera maju selangkah ke depan, dengan
jurus Kay-thian-pit-tee atau membuka langit membacok bumi,
telapaknya langsung diayun ke depan membacok dada sianak
muda itu.
Tenaga dalam yang dimiliki kakek tua itu benar-benar luar
biasa sekali, bersamaan dengan dilancarkannya serangan
tersebut angin pukulan yang sangat dahsyat bagaikan
gulungan angin puyuh menyapu ke depan menggugurkan
daun dan ranting, dari sini dapatlah diketahui bahwa
kepandaian silatnya amat dahsyat.
Sungguh aneh sekali, walaupun kakek bercodet itu memiliki
kepandaian silat yang amat tinggi, akan tetapi diatas wajah
penebang kayu tua itu sama sekali tidak terlintas rasa kaget
dan ketakutan, dengan mulut membungkam dia hanya
mundur dua langkah kebelakang dan berpeluk tangan-
Ketika Gak In Ling menyaksikan tenaga pukulan yang
dilancarkan orang itu demikian kejam dan telengasnya, hawa
amarahnya langsung berkobar didalam dadanya, ia segera
membentak.
"Saudara, hatimu benar-benar kejam bagaikan ular
berbisa."

404
Dengan gerakan Hek-tok-tiong-yang atau menyebrangi
samudra berganda ia melayang kebelakang tubuh kakek tua
itu, sementara telapak tangannya dengan gerakan Heng-saucian-
kim atau menyapu rata seribu prajurit menyodok iga
kakek tadi.
Menghindarkan diri melancarkan serangan balasan semua
dilakukan hampir di saat yang bersamaan, kecepatan gerak
tubuhnya benar-benar mengejutkan hati.
Agaknya kakek bercodet itu sama sekali tidak mengira
kalau seorang pemuda yang begitu lemah-lembut ternyata
memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali lihaynya, tetapi
sebagai seorang jago kawakan yang mempunyai pengalaman
amat luas, setelah menyaksikan serangannya tidak mengenai
pada sasaran, segera sadarlah dia bahwa musuh yang sedang
dihadapinya adalah lawan yang amat tangguh, sebelum
serangan Gak In Ling berhasil mengenai tubuhnya, dengan
gerakan yang amat cepat ia sudah berkelit kesamping,
kemudian melancarkan sebuah serangan balasan dengan jurus
Ki-kek-cian-li atau menampik tamu seribu li.
Walaupun serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan
tergesa-gesa namun ketepatan waktunya serta kejituan
bagian yang diserang benar-benar mengagumkan sekali,
secara persis ia telah menerima datangnya serangan angin
pukulan dari Gak In Ling.
"Blaaaaam " ditengah getaran yang amat keras ranting dan
pohon-pohon siong sama-sama bergetar keras kemudian
rontok keatas tanah, tubuh kakek bercodet itu mencelat
sejauh lima depa dari tempat semula, darah panas dalam
rongga dadanya bergelora amat keras.
Dalam kagetnya kakek bercodet itu segera menengadah ke
atas, hampir saja jantungnya copot dari dalam rongga
dadanya, dengan terperanjat pikirnya didalam hati.

405
"Tidak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi, anak itu
berusia begitu muda. mana mungkin bisa memiliki ilmu silat
yang demikian hebat dan mengerikan ?"
Akan tetapi kenyataan sudah tertera didepan mata, Gak In
Ling sama sekali tidak bergetar mundur barang
selangkahpunjua, sikapnya masih tetap tenang seperti
sediakala.
Kakek yang lainpun merasa amat terperanjat sekali, tanpa
sadar ia berjalan mendekati Gak In Ling, jelas kedua orang itu
ada maksud untuk bekerja sama dalam menghadapi sianak
muda itu.
Dari balik sorot mata yang sayu dari penebang kayu tua
itupun memancar keluar serentetan cahaya yang aneh, begitu
tajam pandangan matanya itu seakan-akan sebilah pisau
belati yang amat tajam, sorot mata itu ditujukan kepada Gak
In Ling dan nampak jelas betapa terperanjatnya dan
tercengangnya perasaan hati orang itu. Gak In Ling tertawa
dingin, kembali ujarnya.
"Huh Hanya mengandaikan sedikit kepandaian yang kalian
berdua miliki sudah berani mengatakan kalau dikolong langit
tiada perbuatan yang tak berani kalian lakukan, benar-benar
manusia tak tahu diri"
Nada suaranya penuh mengandung perasaan memandang
remeh musuhnya.
Kakek bercodet itu saling berpandangan sekejap dengan
saudaranya yang berada dibelakang tubuh Gak In Ling,
rupanya mereka telah bersiap sedia untuk turun tangan.
Sekonyong-konyong, ketika itulah dari bawah tebing curam
sebelah depan berkumandang datang suara jeritan ngeri yang
amat menyayat hati, suara jeritan itu kian lama kian menjauh
dan akhirnya suasana disekeliling tempat itu berubah jadi
sunyi kembali.

406
Gak In Ling mengetahui suara jeritan itu pastilah berasal
dari orang yang berada diatas keranjang tersebut, air
mukanya seketika berubah jadi pucat serius. Dengan
pandangan menyeramkan disapunya sekejap kedua orang itu,
kemudian katanya.
"Kalau kalian berdua tahu diri, aku harap sekarang juga
silahkan enyah dari tempat ini, aku orang she Gak sama sekali
tiada bermaksud untuk memperebutkan kitab pusaka itu, dan
lagi kami pun tiada dendam sakit hati ataupun perselisihan
apapun, aku tidak ingin mencelakai jiwa kalian berdua." Kakek
bercodet itu segera mendengus dingin.
"Hm Apakah kau anggap mampu untuk memenangkan
kami berdua ?" ejeknya. Gak In Ling segera tertawa dingin.
"Hee hee. hee kalau kalian berdua telah menyaksikan
sepasang telapak tanganku ini, maka kamu berdua akan
mengetahui jawaban ku" katanya sambil berkata perlahanlahan
dia angkat sepasang telapak tangannya kedepan dada
dan diperlihatkan kearah dua orang kakek itu.
Ketika menyaksikan telapak tangan Gak In Ling berwarna
merah darah, air muka kakek bercodet itu seketika berubah
hebat, dengan hati amat terkesiap buru-buru ia mundur
beberapa langkah kebelakang, serunya dengan nada setengah
menjerit. "Aaah Telapak maut ?"
Kakek yang berada dibelakang tubuh Gak In Ling jadi amat
terperanjat setelah mendengar teriakan dari saudaranya, dia
pun ikut berteriak keras. "Apa ? Telapak maut?"
Sambil berseru secara beruntun tubuhnya mundur pula
beberapa langkah kebelakang, hampir semua gerak-geriknya
persis seperti saudaranya.
Sekali lagi dari balik mata penebang kayu tua itu
memancarkan cahaya kilat yang amat tajam, seakan-akan
semua perbuatan dan semua kejadian yang diperlihatkan Gak

407
In Ling sama sekali diluar dugaannya membuat ia merasa sulit
untuk mempercayainya.
Dengan pandangan dingin sekali lagi Gak In Ling menyapu
sekejap kearah kakek bercodet itu serunya.
"Aku harap kalian berdua berlalu dari sini "
Setelah menyaksikan telapak maut, kedua orang kakek tua
yang semula datang dengan penuh semangat itu, bagaikan
balon yang kehabisan udara jadi kempes dan sama sekali tak
bersemangat lagi, hasrat untuk mencari kitab pusaka itu pun
lenyap seketika itu juga. Kakek bercodet menarik napas
panjang-panjang, kemudian ujarnya.
"Baik..... baik...... baik ini hari kami dua bersaudara
mengaku kalah, tapi pemberian yang kau perlihatkan pada
saat ini, suatu ketika pasti akan kami tuntut balas"
Habis berkata ia menyapu sekejap kearah kakek tua yang
berada dibelakang tubuh Gak In Ling dan serunya.
"Mari kita pergi " habis berkata ia siap berlalu dari sana.
Tiba-tiba penebang kayu tua itu menyela sambil tertawa.
"Apakah kalian berdua akan pergi dengan begitu saja ?"
Pada saat itu kakek bercodet itu sedang merasa
mendongkol dan gusar sekali, mendengar teguran tersebut ia
segera berhenti dan melampiaskan seluruh
kemendongkolannya kepada orang tua itu bentaknya.
"Ada apa ? Kakek tua, apakah kau hendak menahan kami
berdua ditempat ini ?"
"Apakah kalian berdua merasa bahwa hal ini tak mungkin
terjadi ?" penebang kayu itu balik bertanya sambil tertawa.
Dua orang kakek itu semakin gusar sekali, mereka tertawa
seram dan berteriak.

408
"Haa haa haa harimau kalau sedang sial, anjingpun berani
mengusik Keparat tua, rupanya kau sudah bosan hidup
dikolong langit"
Sembari berkata sorot matanya tanpa terasa menyapu
sekejap kearah Gak In Ling, jelas dalam hati kecilnya kedua
orang itu merasa jeri sekali terhadap sianak muda.
"Haa haa haa " penebang kayu itu tertawa bergelak, "kalian
dua orang bersaudara tidak lebih hanyalah sepasang setan
bengis dari gunung Long-san, sejak kapan telah berubah jadi
harimau ? Tak tahu malu "
Air muka kedua oraag itu seketika itu juga berubah hebat,
mereka adalah jago-jago persilatan yang berpengalaman luas,
dari ucapan penebang kayu itu yang mengetahui asal-usulnya,
dapat diduga kalau orang tersebut bukanlah penebang kayu
biasa.
Kakek beralis buntung segera berseru. "Darimana engkau
bisa tahu tentang asal-usul dari kami berdua ?"
Nada suaranya jauh lebih lunak dari keadaan pertama kali
tadi. Penebang kayu itu tertawa dingin.
"Hee hee hee dua manusia bengis dari gunung Long-san,
apakah kalian berdua mengira aku benar-benar seorang
penebang kayu ?"
Sambil berkata dari balik matanya secara tiba-tiba
terpancar keluar dua rentetan cahaya tajam yang mengerikan,
dan langsung menatap wajah sepasang manusia bengis dari
gunung Long-san tanpa berkedip.
Ketika Long-san-ji-oh berpandangan mata dengan orang
itu, tanpa sadar tubuh mereka kembali mundur satu langkah
kebelakang. Dengan perasaan tak tenang kakek bercodet itu
segera berkata.
"Mungkin kau bukan penebang kayu biasa, hari ini kami
dua bersaudara sudah terlalu lama mengganggu

409
ketenanganmu, dan sekarang ijinkan-lah kami untuk mohon
diri." selesai berkata ia segera memberi hormat kepada orang
itu. Penebang kayu tersebut tertawa.
"Belum pernah ada orang yang menuruni bukit can-thianhong
ini dalam keadaan hidup, setelah berani mendatangi
tempat ini, Gui Ji Hay Engkau serta adikmu Gui Ji Kang tentu
saja tidak terkecuali pula, aku ingin sekali mengantar
keberangkatan kalian itu " Air maka Gui Ji Hay atau kakek
bercodet itu kontan berubah sangat hebat, serunya.
"Kami dua saudara tak berani merepotkan kau orang tua,
biarlah sekarang juga kami mohon diri."
Selesai berkata ia mengerling sekejap kearah Gui Ji Kang,
kemudian dengan gerakan tubuh yang amat cepat ia
berkelebat menuju kearah mana ia munculkan diri tadi.
Menyaksikan perbuatan orang-orang itu, penebang kayu itu
segera tertawa panjang dengan suara yang menyeramkan-
"Haa haa haa belum pernah tebing cah-thian-bong
mengijinkan manusia luar untuk menuruni tempat ini dalam
keadaan hidup,"
Selesai berkata telapaknya segera diayunkan kedepan,
tidak nampak gerakan apakah yang di-gunakan, tahu-tahu
sepasang manusia bengis dari gunung Loog-san telah roboh
terjungkal kurang lebih lima tombak jauhnya dari tempat
semula, daa kebetulan sekali tempat itu bukan lain adalah di
tempat dimaua mereka munculkan dirinya tadi^
Gak In Ling merasa terperanjat sekali, karena dia tahu
sepasang manusia bengis dari gunung Long-san bukanlah
manusia sembarangan, tetapi didalam satu gebrakan tangan
yang sangat sederhana itu berhasil merobohkan kedua orang
itu pada jarak lima tombak jauhnya, dari sini dapat dibuktikan
kalau tenaga dalam yang dimiliki orang itu benar-benar
mengejutkan hati.

410
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat lewat dalam benak Gak In
Ling, membuat sianak muda itu sadar kembali. Segera pikirnya
dengan perasaan gemas.
"Rupanya dewi burung hong indah yang telah mengantar
aku datang kemari, rupanya dia sudah tahu kalau diatas
puncak cah-thian-hong hidup seorang tokoh persilatan yang
sangat lihay sekali, karena itu dia hendak meminjam tangan
orang ini untuk melenyapkan diriku dari muka bumi ah, aku
benar-benar bodoh sekali, kenapa tidak sedari tadi kuingat
akan persoalan ini ? Kalau bukan dia yang membawa aku
datang kemari lalu siapa lagi ?"
Sebagai seorang pemuda yang berhati polos, setelah
merasa tidak puas dengan perbuatan gadis itu, perasaan
tersebut pun dengan cepat tertera jelas diatas wajahnya. Tibatiba
terdengar penebang kayu itu menegur.
"Hey, orang muda, wajahmu memperlihatkan perasaan
gusar, apakah kau menganggap aku tidak sepantasnya untuk
mencelakai jiwa kedua orang ini ?"
Gak In Ling mengetahui bahwa kakek tua itu sudah salah
mengerti tentang perasaan hatinya, akan- tetapi ia tidak
memberikan penjelasan lebih jauh, segera katanya.
"Walaupun kedua orang itu mempunyai tujuan dan maksud
yang tidak benar, akan tetapi mereka tokh tidak berhasil
mendapatkan kitab pusaka seperti yang mereka katakan,
karena itu aku percaya bahwa lo-tiang tak akan mencelakai
jiwa mereka berdua"
Gak In Ling adalah seorang pemuda yang polos dan jujur,
walaupun berulang kali sepasang manusia bengis dari gunung
Long-san memperolok-olok dan menghina dirinya, akan tetapi
ia tidak ingin mencelakai jiwa kedua orang itu. Penebang kayu
itu tertawa dan mengangguk
"Aku sudah tujuh atau delapan puluh tahun lamanya tak
pernah membunuh manusia, tentu saja aku tak mungkin akan

411
melanggar pantangan membunuh yang telah kupegang teguh
selama ini, akan tetapi hati mereka tidak jujur dan lagi
serakah, manusia semacam ini sudah tidak sepantasnya kalau
dilepaskan dengan begitu saja tanpa diberi ganjaran yang
setimpal."
Tidak menanti Gak In Ling buka suara, ia sudah maju
kedepan, setelah mengempit sepasang tubuh manusia bengis
dari gunung Long-san segera bergerak menuju keluar hutan-
Gak In Ling sangsi sebentar, kemudian tanyanya.
"Lo-tiang, apa yang hendak kau lakukan? Engkau akan
pergi kemana ?"
"Aku akan pergi ketempat mana engkau hendak menolong
orang itu." jawab penebang kayu itu tanpa berpaling ataupun
menghentikan langkahnya.
Maka dengar jawaban tersebut, sekujur tubuh Gak In Ling
gemetar keras, jelas ia telah kaget karena tujuan
kedatangannya ketempat itu sudah terlupakan sama sekali.
Menyaksikan penebang kayu itu sudah berada sepuluh
tombak jauhnya dari tempat semula, buru-buru Gik In Ling
berteriak keras.
"Lo-tiang, harap tunggu sebentar, aku ikut." dia segera
enjotkan badannya dan menyusul dari belakang.
Kakek penebang kayu yang berjalan di depan walaupun
sepintas lalu kelihatan bahwa perjalanan dilakukan dengan
amat lambat, akan tetapi dalam kenyataan cepatnya luar
biasa, sekalipun Gak In Ling sudah mengerahkan segenap
kemampuan yang dimilikinya, namun ia masih tetap tak
berhasil untuk menyusul dirinya.
Luas puncak can-thian-hong tersebut tidaklah begitu besar,
tempat itu hanya selisih jarak sejauh enam puluh tombak dari
tebingnya yang curam tersebut, dalam kejar-mengejar itu

412
tidak selang beberapa saat mereka telah tiba di tempat
tujuan-
Jarak antara Gak In Ling dengan penebang kayu itu terpaut
sepuluh tombak lebih, oleh karena itu menanti ia tiba pula di
tempat puncak tebing batu karang tersebut, penebang kayu
itu sudah berada disana beberapa saat lamanya.
Gak In Ling menyapu sekejap kesekeliling tempat itu,
terlihatlah belasan buah keranjang besar ditempat itu,
sementara tubuh manusia bengis dari gunung Long-san telah
dimasukkan kedalam dua buah keranjang bambu.
Melihat kesemuanya itu Gak In Ling segera mengetahui
apakah tujuan dari penebang kayu itu, dengan hatinya yang
bajik tentu saja pemuda itu tidak ingin membiarkan perbuatan
itu tidak sampai terulang kembali, sambil mendengus dingin
segera ujarnya.
"Hmm Rupanya orang-orang itu mati ditanganmu semua,
apakah kau tidak merasa perbuatanmu terlalu kejam dan tidak
mengenal perikemanusiaan ?" Air muka penebang kayu itu
berubah hebat dengus gusar ia segera menegur. "Hm, kau
berani menasehati aku ?"
"Menghormati kaum tua dan cendikiawan merupakan tugas
dan kewajiban setiap angkatan muda, tetapi dengan usiamu
yang telah lanjut ternyata segala tingkah dan laku serta
perbuatanmu tidak sebuahpun yang patut dihargai, kau suruh
aku bagaimana mungkin bisa menghormati dirimu ?"
Penebang kayu ini merupakan seorang tokoh persilatan
yang mempunyai asal-usul besar, tempo dulu ia pernah
malang-melintang dalam dunia persilatan tanpa menemui
tandingan, belum pernah ada seorang manusiapun yang
berani bicara kasar terhadap dirinya, sungguh tidak dinyana
setelah mengasingkan diri banyak tahun, seorang pemuda
yang lemah-lembut ternyata berani menilai serta mencemooh

413
perbuatannya, dapat dibayangkan betapa gusarnya kakek tua
itu.
Dengan perasaan amat mendongkol ia tertawa terbahakbahak
lalu serunya lantang
"Haa haa.... haa .... bagus, bagus keparat cilik Kau
memang punya semangat serta keberanian, cuma sayang kau
belum mempertimbangkan situasi serta keadaanmu pada saat
ini."
Meskipun tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling amat
sempurna, tak urung perasaan hatinya bergolak juga setelah
mendengar perkataan yang sangat tajam itu, ia tarik napas
panjang-panjang untuk menekan perasaan kaget dalam
hatinya, kemudian dengan nada dingin ia berseru.
"Sejak kusaksikan caramu turun tangan untuk menghadapi
sepasang manusia bengis cari gunung Long-san, aku telah
mengetahui bahwa jiwakupun terancam mara bahaya. Tetapi
berdiri di-atas garis kebenaran, bagaimanapun juga aku harus
menyelesaikan dahulu perkataan yang akan kuucapkan
keluar."
Mendengar ucapan itu satu ingatan berkelebat dalam benak
penebang kayu itu, serunya.
"Engkau tokh memiliki ilmu telapak maut, kenapa kau
mengatakan bahwa kepandaian silatmu masih bukan
tandinganku ?" Gak In Ling tertawa.
"Meskipun aku memiliki ilmu telapak maut akan tetapi
jurus-jurus pukulanku tidak lengkap dan setengah-setengah
belaka, untuk melawan seorang perempuan saja tak mampu,
bagaimana mungkin aku bisa menangkan kepandaian
silatmu."
"Engkau tokh belum pernah turun tangan melawan diriku,
darimana pula kau bisa tahu kalau kepandaian silatmu belum

414
mampu untuk menandingi kepandaian silatku ?" Gak In Ling
tertawa dingin
"orang lain datang kemari untuk mencari kitab pusaka
telapak maut, akan tetapi tak seorang pun yang berhasil
mendapatkan kitab tersebut, kalau dibilang mereka tak
mampu menandingi kepandaianmu, masa untuk mencaripun
tidak mampu ? oleh karena itu menurut dugaanku, kitab
pusaka telapak maut hanya merupakan suatu umpan untuk
memancing perhatian orang belaka, sementara orang yang
benar-benar memiliki kepandaian sakti itu adalah kau sendiri,
bukankah begitu ?"
Mendengar perkataan itu diam-diam penebang kayu itu
anggukkan kepalanya berulang kali, pikirnya.
"Daya pikir bocah ini benar-benar amat cermat dan teliti,
kalau dia memang sudah tahu kalau berita tersebut hanya
merupakan umpan untuk memancing perhatian belaka,
kenapa dia sendiripun datang kemari ? Bukankah hal ini aneh
sekali ?" Berpikir sampai disini, ia segera bertanya.
"Bocah muda, meskipun kau cerdik dan mengetahui kalau
tempat ini adalah pintu gerbang menuju kemaut, tetapi kau
telah menerjang masuk pula tempat berbahaya ini, bisakah
aku mengetahui apa alasanmu datang kemari ?" Gak In Ling
tertawa dingin-
"Hm, aku bisa muncul disekitar puncak cah-thian-hong ini
lantaran sudah terkena tipu muslihat seseorang, dan maksud
kedatanganku ke atas puncak inipun bertujuan menolong
orang."
Dengan pandangan mata yang sangat tajam penebang
kayu tua itu menatap wajah Gak In Ling taupa berkedip.
kemudian tegurnya.
"Benarkah kedatanganmu kemari bukan lantaran untuk
mencari kitab pusaka telapak maut?"

415
"Hee hee. hee sekalipun sekarang juga aku berhasil
mendapatkan kitab pusaka tersebut, juga sama sekali tak ada
waktu untuk mempelajarinya, buat apa aku harus mencari
kitab yang sama sekali tak ada gunanya ?" seru Gak In Ling
sambil tertawa dingin tiada henti-nya.
"Engkau tak ada waktu untuk mempelajarinya ? Kenapa ?"
tanya penebang kayu itu dengan perasaan tidak mengerti.
"Itu urusan pribadiku seudiri, dan aku tak ingin
memberitahukan kepadamu" Dalam hati kecilnya penebang
kayu itu berpiklr.
"Tubuhnya sudah mengidap suatu penyakit akibat
keracunan, usianya paling banter hanya bertahan sampai
setengah tahun lagi, hm, ia memang tidak bohong, karena
waktu selama setengah tahun memang sama sekali tak ada
gunanya bagi dia." Berpikir sampai disini diapun bertanya.
"Engkau mengatakan bahwa dirimu bisa datang kemari
karena terkena tipu-muslihat seseorang, siapakah orang itu ?"
"Seorang perempuan muda "jawab Gak In Ling dengan
airmuka berubah jadi merah-padam.
Penebang kayu itu mempunyai ketajaman mata yang luar
biasa, dari perubahan sikap sianak muda itu, dia segera dapat
menebak keadaan yang sebenarnya, maka sambil tertawa
ujarnya.
"Ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada dirimu, bolehkah
aku mengetahui sampai dimanakah taraf kelihayan
kepandaian silatnya itu ?"
Sekali lagi air muka Gak In Ling berubah jadi semu merah
karena jengah, ia tertawa getir.
"Untuk melawan sepasang kakinya saja aku tak mampu,
coba bayangkan saja sampai dimana keampuhan dari ilmu
silatnya itu." Penebang kayu itu jadi sangat terperanjat.

416
Tanpa sadar ia berseru cepat.
"Aaah sungguhkah telah terjadi peristiwa semacam itu?
Siapakah namanya dan berapa kah umurnya?"
"Usianya kurang-lebih sebaya dengan usiaku, nama aslinya
aku tidak tahu, akan tetapi aku tahu bahwa dia disebut orang
sebagai Dewi burung hong indah."
Begitu didengarnya nama perempuan itu, air muka
penebang kayu itu berubah sangat hebat.
"Dewi burung hoag indah? Aaah, benar. hanya dialah yang
mengetahui kalau aku berdiam ditempat ini, ia mengantar kau
datang kemari sama sekali tidak bermaksud jahat, saudara
cilik, engkau tak boleh menaruh pandangan salah paham
terhadap dirinya." Tiba-tiba nada ucapannya berubah jadi
sungkan sekali
Terhadap tingkah laku serta perbuatan dari dewi burung
hong indah, boleh dibilang Gak In Ling sudah mempunyai
kesan yang jelek. tentu saja ia tak mau mempercayai kakek
tua itu, sambil tertawa dingin ejeknya.
"Haa haa .... haa. ... tiada maksud jelek? Huh, dia hanya
akan meminjam tanganmu untuk melenyapkan aku dari muka
bumi apakah perbuatan semacam ini merupakan suatu
maksud yang tidak jelek ?"
Penebang kayu itu menghela napas panjang.
"Aaai meminjam tanganku untuk melenyapkan engkau ?
Kau keliru besar Selamanya perbuatan dari mereka guru dan
murid selalu tersendiri dan semua urusan dapat dibereskan
dengan kekuatan mereka sendiri, belum pernah mereka minta
bantuan orang, apalagi suruh aku ikut mencampuri urusan ini,
saudara cilik Engkau terlalu banyak curiga." Gak In Ling
merasa tidak puas, kembali tegurnya.
"Ia telah melakukan sesuatu perbuatan dialas tubuhku,
apakah hal inipun tidak benar"

417
Penebang kayu itupun tertegun, tiba-tiba seakan- akan
sudah memahami akan sesuatu, ia tertawa.
"Kemungkinan besar ia memang sedang membohongi
dirimu, kalau ia telah melakukan sesuatu diatas badanmu,
masa engkau tak akan merasakan sesuatu gejala yang tidak
beres ?"
"Setelah ia berlalu aku telah berjumpa kembali dengan
serombongan musuh-musuh yang amat tangguh dan hampir
saja aku terluka ditangan mereka, perbuatannya terhadap
tubuhku mungkin saja tanpa sengaja telah bebas dengan
sendirinya setelah jalan darahku ditotok oleh musuh-musuh
besarku itu." Tiba-tiba penebang kayu itu tertawa terbahakbahak.
"Haa haa.. haa menotok jalan darah dapat membebaskan
totokan jalan darah ? Dikolong langit masih belum terdapat
kepandaian silat semacam ini," serunya, "lagi pula aku ingin
bertanya kepadamu, kalau memang kau telah ditotok jalan
darahmu oleh musuh-musuh besarmu, lalu secara bagaimana
sekarang bisa hidup kembali ditempat ini?"
"Tentu saja dialah yang telah mengantarkan aku datang
kemari "
"Dan itu berarti pula bahwa musuh-musuh besarmu itu
telah dibunuh mati semua oleh dirinya bukan ?" sambung
penebang sambil tertawa tergelak.
Sampai disitu Gak In Ling tak dapat membantah lagi,
kenyataan yang terbentang dihadapannya memang begitu,
seandainya orang-orang dari lembah pemutus sukma tidak
mati dibunuh semua. mereka tak mungkin akan bersedia
untuk melepaskan dirinya, tetapi kalau dikatakan dewi burung
hong indah telah membinasakan orang-orang itu lantaran
hendak menyelamatkan jiwanya lalu apa sebabnya ia sampai
berbuat demikian ? Tentu saja ia tidak tahu kalau dewi burung

418
hong indah telah menyembuhkan pula luka dalam yang
diderita olehnya.
Segera putar otak berpikir pulang pergi namun tidak
berhasil menemukan jawaban yang tepat, tanpa terasa Gak In
Ling berpikir
"Bagaimanapun juga ia tak mungkin menaruh maksud baik
terhadap diriku, buat apa aku harus memikirkan tentang
dirinya ?" Dalam pada itu penebang kayu itu sudah bertanya
kembali. "Saudara cilik, apakah kau telah berhasil menemukan
jawaban yang tepat ?"
"Tiada persoalan lain yang dapat kupikirkan lagi," jawab
Gak In Ling dengan tawar, "pokoknya dia tak mungkin
menaruh maksud baik terhadap diriku " Satelah berhenti
sebentar, katanya lagi.
"Sekarang hukuman apa yang akan kau jatuhkan terhadap
diriku ?" Penebang kayu itu menggeleng.
"Aku tidak mungkin dapat berbuat demikian terhadap
dirimu, seandainya saudara cilik merasa tidak keberatan maka
bagaimana kalau kau berdiam selama beberapa bulan disini ?
Aku bersedia untuk mewariskan ilmu telapak maut yang
kumiliki itu kepadamu." Mendengar perkataan itu Gak In Ling
nampak tertegun, lalu bertanya.
"Kenapa begitu ?"
"Aaai dikemudian hari kau akan mengetahui dengan
sendirinya, kalau suruh aku mengatakannya sekarang maka
tak ada habisnya "
Nada suara itu begitu memilukan hati membuat orang lain
yang mendengar itu merasa iba.
Perasaan hati Gak In Ling berubah jadi lunak. dengan suara
halus katanya.

419
"Kakek tua, masa hidupku dialam ini sangat terbatas, waktu
bagiku jauh lebih berharga dari emas, aku tak bisa berdiam
lebih lama lagi di tempat ini, jika engkau dapat mengampuni
kesalahanku yang telah mengganggu ketenanganmu, biarlah
aku mohon diri saja."
Selesai berkata ia menjura dalam-dalam ke arah kakek tua
itu. Kakek penebang kayu itu mengangguk.
"Hm, rupanya kau memang benar-benar berhati mulia,
semoga saja sejak kini engkau dapat bersikap lebih baik
terhadap dewi burung hong indah, dan semoga juga engkau
bisa merubah pandanganmu yang terlalu sempit terhadap
dirinya." selesai berkata dari dalam sakunya dia ambil keluar
sejilid kitab serta sebutir pil warna merah sebesar buah
kelengkeng, sambungnya lebih jauh.
"Kitab ini merupakan catatan ilmu telapak maut, tapi tidak
lengkap dan hanya terdiri dari sembilan jurus belaka,
disamping itu masih tercantum pula sejenis ilmu silat yang
maha aneh, bilamana engkau menginginkan bisa mempelajari,
ilmu tersebut secara keseluruhan dan komplit maka kau harus
pergi mencari seseorang yang lain sebab hanya orang itu saja
yang memiliki kepandaian tersebut secara komplit.
Pada waktu itu mungkin dikolong langit sudah tiada orang
lagi yang mampu menakluki dirimu, pil warna merah ini
makanlah jika penyakitmu sedang kambuh, kendatipun tak
dapat menyembuhkan penyakit yang sedang kau derita akan
tetapi bisa memperpanjang masa hidupmu tiga sampai lima
bulan lebih panjang, dalam waktu yang cukup singkat itu
engkau bisa berusaha keras untuk menemukan obat pemunah
racun tersebut. Nah, ucapanku hanya sampai disini saja,
terimalah pemberianku ini "
Gak In Ling benar-benar tidak habis mengerti, apa
sebabnya kakek penebang kayu tersebut bersedia
menyerahkan kitab pusaka yang jauh lebih berharga dari

420
jiwanya itu kepadanya, maka dengan hati sangsi bercampur
ragu tanyanya. "Kakek..."
"Kau tak usah menampik," tukas kakek penebang kayu
dengan cepat, "ingatlah aku bukanlah seorang laki-laki yang
berjiwa besar dan rela memberikan barang miliknya dengan
begitu saja, aku berbuat demikian tentu saja karena aku
mempunyai tujuan tertentu, kalau kau bersedia menerima
pemberianku ini berarti engkau telah mengasHani diriku, kalau
engkau tidak bersedia untuk menerimanya sudah tentu
akupun takkan memaksa lebih jauh."
Ucapannya begitu tulus dan bersungguh-sungguh, nadanya
penuh permintaan belas-kasihan.
Tanpa sadar Gak In Ling menerima pemberian kitab pusaka
serta obat tersebut, ia bertanya.
"Bolehkah aku mengetahui siapakah nama kakek ?"
Kakek penebang kayu itu menggeleng.
"Segala sesuatu akan kau ketahui sendiri di kemudian hari,
pokoknya aku bukanlah orang jahat seperti apa yang kau
bayangkan didalam benakmu itu."
Berbicara sampai disini tiba-tiba ia lancarkan satu pukulan
mendorong keranjang bambu yang berisi dua manusia bengis
dari bukit Long-san kebawah tebing jurang, dan sambungnya
dengan senyum.
"Demi keselamatanmu dikemudian hari, mau tak mau
terpaksa aku harus berbuat begini "
Selesai berkata ia enjotkan badan berkelebat kedalam
hutan, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap
dari pandangan-
Memandang bayangan punggung kakek penebang kayu
yang lenyap dari pandangan, pelbagai masalah yang
mencurigakan berkelebat memenuhi benak Gak In Ling,

421
pertanyaan itu muncul dari kakek penebang kayu yang
misterius itu, dan ia gagal untuk menemukan jawaban.
Air yang deras mengalir ditengah sungai yang berliku-liku
antara batu tebing yang curam dan terjal.
Ketika itu sang surya telah tenggelam dibalik bukit, sisa
cahaya yang merah meninggalkan berkas sinar yang amat
indah ditengah udara, membuat pemandangan disekitar
perbukitan tersebut kelihatan bertambah indah dan menawan
hati.
Burung beterbangan melewati dahan pohon kembali
kesarangnya, binatang kecil bergerombol kembali kegUa
masing-masing, sebab waktu itu adalah saat mereka untuk
beristirahat.
Pada waktu itulah diatas tebing karang yang berhadapan
dengan sungai, muncul seorang pemuda baju hitam yang
sedang bergerak mengikuti jalur sungai mendaki keatas bukit,
terlihatlah tiap jangkauan langkahnya mencapai empat-lima
puluh tombak jauhnya, begitu cepat gerakan tubuhnya
seakan-akan kilat yang menyambar diangkasa.
Sisa sinar matahari menyinari wajahnya yang tampan,
secara lapat-lapat dapat ditemui bahwa dibaiik biji matanya
yang hitam terselip perasaan benci, murung dan kesaL
Angin berhembus lewat menggoncangkan ujung bajunya
yang berwarna hitam, ditengah bukit karang yang sepi, ia
nampak begitu menyendiri dan kecil.
Hari kian lama kian bertambah gelap. akhirnya pemuda
baju hitam itu berhenti diatas sebuah puncak bukit yang
penuh dengan rumput hijau, sorot matanya ditujukan kearah
tebing tinggi yang terbentang di hadapannya, seakan-akan dia
sedang mencarijalan untuk menaiki tebing itu.
Mendadak kurang-lebih duapuluh tombak di belakang
tubuh pemuda baju hitam itu, berkumandang datang suara

422
teguran yang dingin dan menyeramkan-"orang muda, apakah
kau tersesat ?"
Pemuda baju hitam itu tercekat hatinya, tetapi ia tak segera
putar badan, dengan ketenangan yang luar biasa ia tertawa
ringan lalu menjawab.
"Apakah kau juga menemui kesulitan seperti apa yang
sedang kualami ?" sambil berkata perlahan-lahan ia putar
badan.
Diatas sebuah batu cadas kurang lebih dua puluh tombak
dihadapannya, berdirilah seorang kakek tua baju hijau,
usianya diantara enam puluh tahunan, paras mukanya
berwarna hitam pekat, sepasang matanya cekung kedalam,
hidungnya seperti elang dengan mulut yang lebar, membuat
siapapun yang memandang segera mendapat kesan bahwa
kakek tua itu berwatak licik dan berbahaya.
"Tidak." terdengar kakek baju hijau itu berkata sambil
tertawa dingin. "Aku sudah banyak tahun berdiam diatas bukit
ini, tidak mungkin aku bakal tersesat lagi, barusan aku lihat
gerakan tubuhmu sangat enteng dan cepat, jelas merupakan
seorang jago dari dunia persilatan, dan aku merasa heran ada
urusan apakah kau datang kemari ?"
"Bukankah kau sendiri pun berada disini?" seru pemuda
baju hitam itu balik bertannya dengan suara dingin. "Mau apa
engkau berada di sini ?" Airmuka kakek baju hijau itu berubah
jadi serius.
"Bukankah sejak tadi telah kukatakan, sudah banyak tahun
aku berdiam disini, kalau aku tidak berada disini lalu harus
berada dimana ?" serunya.
"Hm Aku dengar diatas bukit ini terdapat sebuah benteng
yang disebut benteng Hui-in-cay, apakah kau adalah anggauta
dari benteng tersebut?"

423
Mula-mula kakek tua baju hijau itu agak tertegun setelah
mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba sambil tertawa
bergelak sahutnya.
"Haa haa.... haa sedikitpun tidak salah, diatas bukit
memang terdapat sebuah benteng Hui-in-cay yang ditempati
orang, aku bernama Teng san-tiau rajawali penunggu bukit Bu
Jin apa maksudmu datang kemari ?"
Air muka sang pemuda baju hitam yang tampan tiba-tiba
berubah jadi dingin menyeramkan, katanya. "Aku adalah Gak
In Ling "
Air muka kakek tua baju hijau itu berubah hebat setelah
mendengar sebutan itu, sorot matanya tanpa sadar
berkeliaran memandang sekejap ke sekeliling tempat, lalu
serunya tanpa sadar.
"Jadi kau adalah Gak In Ling ?"
Tiba-tiba ia merasa bahwa sikapnya sudah terlalu
menurunkan derajat sendiri, buru-buru ia tarik napas panjang
serta menenteramkan hatinya seraya tertawa katanya
kembali.
"Apakah kau datang kemari untuk menjenguk ibumu ?"
"ooh dia masih hidup ?" Gak In Ling tertawa seram.
Mendengar jawaban itu Rajawali penunggu bukit Bu Jin
merasakan hatinya bergetar keras, dari nada suara Gak In
Ling dapat diraba olehnya bahwa persoalan yang bakal terjadi
pada saat ini tak akan bisa dibereskan secara baik-baik, biji
matanya yang licik sekali lagi menyapu sekejap kesekeliling
tempat itu, pikirnya dengan cepat.
"Menurut khabar berita yang tersiar didalam dunia
persilatan mengatakan bahwa tenaga dalam serta kepandaian
silat yang dimiliki bangsat ini tiada tandingannya dikolong
langit, apabila keadaan tidak terlalu memaksa aku tak usah

424
bergebrak dengan dirinya, apa salahnya kalau aku coba untuk
membohongi dirinya ?"
Berpikir sampai disini, ia segera tertawa dan menunjukkan
wajah setenang-tenangnya, lalu menjawab.
"Tentu saja ia berada dalam keadaan sehat walafiat seperti
dulu kala cay-cu, kami tokh saudara angkat dari ayahmu, aku
rasa sikap hormatnya terhadap ibumu tentu bisa dibayangkan
oleh siapapun juga, kenapa sih engkau mengucapkan katakata
seperti itu?"
Berbicara sampai disini wajahnya pura-pura menunjukkan
sikap marah, lagak orang ini untuk bermain sandiwara benarbenar
sangat mengagumkan sekali.
Seandainya sesaat sebelum menemui ajalnya Gak In Hong
kakak perempuan dari Gak In Ling tidak meninggalkan pesan
terakhir diatas telapak tangannya, pada saat ini sianak muda
itu niscaya sudah terpikat oleh perkataannya yang manis
didengar itu. Gak In Ling segera tertawa.
"Hee hee...... hee benar, dia dengan ayahku memang
merupakan saudara angkat, cuma sayang, manusia dikolong
langit sering kali lain di mulut lain dihati, tak seorang pun yang
dapat di-percaya, lalu apa gunanya untuk saling angkat
saudara "
"Engkau berani bersikap kurang ajar terhadap supekmu."
teriak Rajawali penunggu bukit Bu Jin pura-pura gusar.
Wajah Gak In Ling berubah semakin dingin tiba-tiba dari
balik matanya memancar keluar sinar yang menggidlkan hati,
ujarnya menyeramkan-
"Lo-ji, kau tak usah berpura-pura berlagakpilon lagi,
kedatangan dari aku orang she Gak ke tempat ini sekarang
adalah untuk mencuci bersih benteng Hui-in-cay dengan darah
segar.... dan kau, adalah korbanku yang pertama."

425
Seraya berkata selangkah demi selangkah ia maju kedepan
menghampiri tubuh Rajawali penunggu bukit Bu Jin.
Hawa menyeramkan yang memancar keluar dari tubuh Gak
In Ling, memaksa Rajawali penunggu bukit Bu Jin secara
beruntun mundur tiga langkah ke belakang dalam keadaan
begini hanya ada satu pikiran yang berkelebat di dalam
benaknya, ia berpikir.
"Kalau aku tidak suruh mereka unjukkan diri pada saat ini,
mungkin sebentar lagi keadaan akan tidak sempat lagi."
Berpikir sampai disini, ia segera bersuit panjang.
Gak In Ling sama sekali tidak menggunakan kesempatan
itu untuk melancarkan serangan ke-arahnya, dia hanya
menunggu dengan tenang, senyuman mengerikan tersungging
diujung bibirnya, napsu membunuh yang menyelimuti wajah
yang tampanpun nampak semakin menebal.
Bersamaan dengan berkumandangnya suara suitan
tersebut, tiba-tiba dari empat penjuru sekeliling tempat itu
berkumandang datang suara bentakan yang bergema saling
susul-menyusul, dari batik batu cadas yang besar
berlompatanlah belasan orang pria kekar baju hijau, wajah
mereka rata-rata bengis dan bersemangat tinggi, dalam waktu
singkat Gak In Ling sudah terkepung ditengah kalangan-
Dari sikap mereka sombong dan tinggi hati, dapat dilihat
bahwa orang-orang itu sama sekali tidak memandang sebelah
mata pun terhadap pemuda yang kelihatannya lemah dan tak
bertenaga itu.
Rajawali penunggu bukit Bu Jin sendiri setelah menyakslkan
kemunculan dari belasan orang pria kekar baju hijau itu,
perasaan tegang yang semula menyelimuti wajahnya kini telah
mengendor kembali, pikirnya.
"Sekalipun kau Gak In Ling memiliki tiga kepala enam
lengan, jangan harap bisa meloloskan diri dari gabungan
sepuluh orang malaikat kim-kong dari benteng Hui-in-cay kami

426
diantara seratus nol delapan jago lainnya. Hm, tunggu saja
kelihayanku "
Berpikir sampai disini rasa percayanya pada diri sendiri
makin bertambah tebal, ia segera tertawa seram dan berseru.
"Haa haa haa....:.. bocah cilik she Gak. coba berpalinglah
kesekeliling tubuhmu. Hm, ditengah amukan ombak sungai
pada hari ini kemungkinan besar akan bertambah lagi dengan
sesosok sukma gentayangan-" Nada suaranya begitu bangga
dan gembira.
"Tidak. bukan hanya sesosok sukma gentayangan,
semestinya ada sebelas orang." jawab Gak lu Ling sambil
tertawa seram pula.
Nada suaranya begitu tenang dan datar, tetapi membawa
hawa bergidik yang bikin bulu roma pada bangun berdiri.
Belasan orang itu sama-sama tercekat hatinya setelah
mendengar perkataan itu, dalam hati kecil masing-masing
mendadak muncul suatu perasaan sesak yaag aneh dan belum
pernah dirasakan sebelumnya.
Tiba-tiba dari arah belakang tubuh Gak In Ling
berkumandang datang suara bentakan yang disertai nada
gusar. "Bocah keparat, roboh kau ketanah "
Mengikuti suara bentakan tersebut, dari belakang tubuh
Gak In Ling muncullah segulung angin pukulan yang maha
dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit karang, cukup
ditinjau dari datangnya angin pukulan itu bisa diduga sampai
di manakah dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.
Gak In Ling sama sekali tidak bergerak dari tempat semula,
terhadap datangnya ancaman ia sama sekali tidak berkelit,
hanya napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya yang
bertambah tebal, terdengar ia tertawa seram dan berseru. .
"Dialah korbanku yang pertama "

427
Sementara bicara sampai disitu, angin pukulan yang
menyerang datang sudah mencapai jarak hanya setengah cun
dibelakang tubuhnya.
Belasan orang lainnya yang menyaksikan kejadian itu tanpa
sadar telah berpikir dalam hati nya.
"oh ..... rupanya kita sudah menilai terlalu tinggi tentang
keparat cilik itu, kiranya dia masih belum mampu untuk
membedakan mana hembusan angin dan mana angin
serangan-"
Pada saat itulah Gak In Ling menyingkir kesamping, lalu
membentak keras. "Roboh kamu "
Gerakan tubuhnya begitu cepat, membuat orang sukar
untuk mempercayainya, baru saja ucapannya selesai
diutarakan keluar, segulung angin pukulan yang mengerikan
telah dilancarkan kearah belakang tubuh.
"Blaaaam." terjadilah bentrokan keras yang menggetarkan
diseluruh angkasa, disusul jeritan ngeri yang menyayat hati
bergema memecahkan kesunyian, sesosok tubuh yang tinggi
besar mencelat sejauh tujuh tombak lebih dari tempat semula
dan roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa
lagi, darah kental mengalir keluar dari ketujuh lubang
inderanya.
Semua perubahan berlangsung dengan cepatnya dan
didalam waktu yang amat singkat, ketika belasan orang itu
merasakan pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu satu
diantara mereka telah roboh binasa.
Selesai membinasakan pria baju hijau itu diujung
telapaknya, Gak In Ling segera putar badan dan memandang
kearah Rajawali penunggu bukit BuJin dengan pandangan
dingin, serunya.
"Sekarang tiba giliranmu"

428
Dalam keadaan begini Rajawali penunggu bukit BuJin
sudah tak dapat membendung perasaan hatinya yang kalut
lagi, mend engar perkataan tersebut dengan penuh ketakutan
dia mundur tiga langkah kebelakang, serunya tanpa sadar.
"Gak In Ling, aku tokh tiada hubungan dendam ataupun
sakit hati dengan dirimu ?"
Gak In Ling yang sudah diliputi oleh rasa dendam, pada
saat itu seluruh benaknya hanya diliputi oleh napsu
membunuh yang sangat tebal dalam pemikirannya dengan
membinasakan seluruh anggauta dari benteng Hui-in-cay
sajalah sukma ibunya yang berada dialam baka baru bisa di
bikin tenang.
"Kematian ibuku secara mengenaskan dibenteng Hui-in-cay
merupakan hadiah dari perbuatan kalian iblis- iblis keji yang
dijangkiti penyakit gila, hutang darah harus bayar dengan
darah apakah kau akan berusaha untuk memungkirinya" seru
Gak In Ling dengan nada yang sadis.
Rupanya Rajawali penunggu bukit BuJin sudah mengetahui
bahwa situasi pada hari ini tidak bisa diselesaikan secara
damai, suatu pertempuran sengit pasti takkan dapat
dihindarkan lagi. diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam
sepasang telapaknya bersiap-siaga menghadapi segala
kemungkinan yang tidak diinginkan, sementara mulutnya
sengaja berkata.
"Apa sangkut-pautnya peristiwa ini dengan diriku ?" Gak In
Ling tertawa dingin-
"Hee... hee..... hee. .... berhubung kalian semua berdiam
didalam benteng Hui-in-cay, dan dosa-dosa kalian sudah tak
dapat diampuni lagi"
Sebelum sempat Gak In Ling menyelesaikan ucapannya,
tiba-tiba terdengar Rajawali penunggu bukit BuJin membentak
dengan suara dingin. "Kita serbu bersama "

429
Selesai berkata ia melancarkan serangan lebih dahulu
kearah tubuh pemuda she Gak itu.
Rajawali penunggu bukit Bujin menempati urutan yang
depan diantara seratas nol delapan orang kim-kong yang ada
dibenteng Hui-in-cay, tenaga dalam yang dimiliki boleh
dibilang cukup sempurna, ketika serangan tersebut
dilancarkan keluar, angin pukulan menderu- deru bagaikan
hembusan angin puyuh, begitu hebatnya serangan tadi hingga
batu cadas berhamburan diatas tanah.
Sembilan orang pria baju hijau lainnya merupakan jagojago
yang berkedudukan setaraf dengan Rajawali penunggu
bukit BuJin, walaupun ilmu silatnya tidak selihay Rajawali
penunggu bukit, dan tenaga dalamnya tidak sempurna jago
tua itu, namun selisih diantara mereka pun tidak terlalu
banyak.
Mereka semua telah menyadari sampai di-manakah taraf
tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling, demi keselamatan diri
sendiri mau tak mau beberapa orang itu terpaksa harus
bekerja keras menghadapi musuh yang amat tangguh itu.
Karenanya ketika menyaksikan Rajawali penunggu bukit
BuJin telah melancarkan serangan, mereka segera bersamasama
menerjang pula ke-depan sambil melancarkan pukulanpukulan
dahsyat.
Sepuluh gulung angin pukulan yang maha kuat dan dahsyat
bersatu padu membentuk suatu daya tekanan yang sangat
mengerikan, semua tenaga tekanan itu bersama-sama
menekan kearah tubuh Gak In Ling yang berada ditengah
kepungan, meskipun arah yang dituju masing-masing pihak
berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi boleh
dibilang setali tiga uang, sebab tempat-tempat yang diancam
merupakan jalan darah kematian disekujur badan pemuda itu.
Gak In Ling sendiri walaupun mempunyai tenaga dalam
yang mengerikan, dan ia sama sekali tidak memandang

430
sebelah mata pun terhadap ke sepuluh orang itu, tetapi
manusia bukanlah mahluk yang terdiri dari tiga kepala enam
lengan, kalau ingin menghadapi sepuluh serangan yang
datang dari arah yang berbeda pada saat yang bersamaan,
bagaimanapun juga bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.
Gak In Ling mendengus dingin, sepasang kakinya menjejak
tanah dengan sekuat tenaga, tubuhnya melayang setinggi lima
tombak ketengah udara, sepasang telapak diayun berbareng,
segulung angin pukulan yang sangat kuat segera menekan ke
atas tubuh Rajawali penunggu bukit BuJin.
Mereka semua merupakan jago jago kawakan yang sudah
berpengalaman didalam menghadapi pertempuran besar,
sejak melancarkan serangan untuk pertama kalinya tadi
mereka telah menduga bahwa Gak In Ling bakal
menggunakan gerakan tersebut untuk mengatasi kesulitannya,
tetapi Rajawali penunggu bukit buJin mimpipun tidak pernah
menyangka kalau Gak In Ling yang berada diudara bisa
melancarkan serangan gencarnya kearah dia, menyaksikan
datangnya ancaman tersebut hatinya jadi amat terkesiap dan
buru-buru ia melayang mundur kebelakang.
Sembilan orang lainnya, sesuai dengan rencana semula
masing-masing buyarkan serangan dengan berganti jurus,
sekali lagi mereka enjotkan badannya menyerang kearah Gak
In Ling yang masih berada ditengah udara.
Tatkala menyaksikan sembilan orang pria baju hijau samasama
menyerang datang, dan hanya Rajawali penunggu bukit
BuJin yang mengundurkan diri sejauh satu tombak lebih dari
gelanggang pertarungan, satu ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benak Gak In Ling, ia segera tarik napas
panjang, tubuhnya tiba-tiba meluncur, kebawah dengan cepat
dan hampir boleh dikata bersamaan dengan berkelebatnya
ingatan tersebut menanti kesembilan orang itu sudah
menyerang tiba, maka serangan mereka segera mengena
pada sasaran yang kosong.

431
"Blaaaaam " angin pukulan beberapa orang ita saling
membentur satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara
ledakan dahsyat yang menggeletar diangkasa, sembilan sosok
bayangan manusia itu seakan-akan terkena ledakan keras,
tubuhnya mencelat kearah bagian yang saling berlawanan.
Dikala angin pukuian dari sembilan orang itu saling
membentur satu sama lainnya Gak In Ling telah mencapai
permukaan tanah dan menyerang kearah Rajawali penunggu
bukit Bu Jin.
Sambil meluncur ke depan hardiknya dengan keras. "Kau
akan lari kemana ?"
Semula Rajawali penunggu bukit BuJin mengira dengan
mundurnya dia dari kalangan, maka dirinya pasti akan terlepas
dari lingkungan pengaruh tenaga pukulan dari Gak In Ling,
sementara hatinya, masih berbangga karena berhasil
meloloskan diri, siapa tahu malaikat Elmaut telah mengincar
dari atas kepalanya.
Mendengar bentakan tersebut Rajawali penunggu bukit
BuJin segera angkat kepalanya, lalu berteriak keras. "Ah
telapak maut"
Diikuti jeritan ngeri yang menyayat hati segera menggema
memecahkan kesunyian membuat siapapun yang mendengar
ikut merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada
bangun berdiri.
Dalam pada itu kesembilan orang pria baju hijau lainnya
baru saja melayang turun keatas tanah, ketika mendengar
jeritan ngeri itu mereka bersama-sama angkat kepala dan
alihkan pandangannya, tampaklah tubuh Rajawali penunggu
bukit BuJin telah menggeletak kurang lebih enam tombak
jauhnya dari tempat semula dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Semua perubahan tersebut berlangsung sangat cepat dan
sama sekali diluar dugaan siapapun juga, kesembilan pria
kekar itu saking kaget dan terkesiapnya hingga untuk

432
beberapa saat lamanya tak mampu mengeluarkan sepatah
katapun.
Tanpa memandang barang sekejappun kearah mayat
Rajawali penunggu bukit BuJin yang menggeletak diatas
tanah, Gak In Ling segera putar badan dan berjalan menuju
kearah sembilan orang pria tersebut, dengan nada
menyeramkan katanya.
"Jikalau kalian adalah manusia-manusia yang bisa tahu
gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, lebih
baik cepatlah bunuh diri "
Begitu seram dan sadis perkataannya itu, membuat
airmuka kesembilan orang pria kekar itu berubah hebat.
Sementara itu diatas sebuah bukit yang tinggi tiba-tiba
muncul seekor burung hong berbulu warna-warni sedang
meluncur kearah beberapa orang itu dengan kecepatan
penuh, namun pada saat itu mereka sedang dicekam
ketakutan dan jiwa mereka berada diambang kematian,
sedangkan Gak In Ling sendiripun tak menyangka kalau pada
saat itu bakal muncul jago kangouw lainnya, maka siapapun
tidak menaruh perhatian terhadap kehadiran burung hong itu.
Setelah airmuka kesembilan orang pria kekar itu berubah
hebat, masing-masing pihak saling bertukar pandangan
sekejap. tiba-tiba salah satu dientaranya berteriak keras.
"Saudara-saudara sekalian, ayo maju bersama " bersamaan
dengan selesainya bentakan itu, dengan cepat mereka
menubruk Gak In Ling.
-oo0dw0oo-
Jilid 13
DELAPAN orang lainnya juga mempunyai jalan pikiran
yang sama, mereka menyadari dalam keadaan serta situasi

433
seperti ini hanya bekerja samalah mendatangkan harapan bagi
mereka berpisah berarti jalan kematian untuk mereka, maka
begitu pria tadi menyelesaikan kata-katanya, delapan orang
pria lainnya bersama-sama ikut menyerang kedepan.
Kali ini mereka telah mendapat pelajaran yang
menguntungkan, tidak seperti semula menyerang tanpa
tujuan tertentu, kali ini setiap serangan yang dilepaskan
semuanya ditujukan kearah yang tepat dan benar.
Gak In Ling sama sekali tidak pandang sebelah matapun
terhadap orang-orang itu, dengan kaki berdiri bagaikan
patung secara terpisah dilayaninya serangan-serangan yang
mengancam datang itu dengan gerakan keras lawan keras.
Semula, kesembilan orang pria itu sudah mengetahui
sampai dimanakah kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling,
siapapun tidak berani menyambut datangnya ancaman dengaa
keras lawan keras, karena itu asalkan telapak tangan Gak In
Ling digerakkan kearah seseorang, maka orang itu cepatcepat
menghindarkan diri ataupun berkelit kesamping.
Walaupun kesembilan orang pria itu tidak berani
menyambut datangnya serangan dari Gak In Ling, akan tetapi
mereka pun tidak melepaskannya dengan begitu saja,
tampaklah delapan sosok bayangan manusia bagaikan putaran
roda kereta sedang berputar tiada hentinya mengitari
sekeliling tubuh Gak In Ling, angin pukulan menderu- deru
bagaikan hembusan angin puyuh, keadaan benar-benar
mengerikan sekali.
Pada saat itulah dibelakang sebuah batu cadas kuranglebih
tiga tombak dibelakang pertempuran, perlahan-lahan
menongollah kepala seseorang kakek tua berambut putih.
Orang ini beralis putih bermata sipit tetapi memancarkan
cahaya yang sangat tajam, ujung bibirnya agak tergantung
kebawah dan pada saat itu nampaknya sedang diliputi hawa
gusar yang tak terkirakan, sepasang matanya yang

434
menyeramkan menatap wajah sianak muda itu tanpa
berkedip.
Pada waktu itu burung hong warna-warni yang terbang
diangkasapun sudah melayang diatas kepala para jago, cuma
berhubung burung itu terbang sangat tinggi maka sampaisampai
kakek tua yang mengintip dari tempat kegelapanpun
tidak menyadari.
Dalam pada itu pertarungan antara Gak In Ling serta ke
sembilan orang pria baju hijau itu sudah berlangsung
mendekati dua puluh jurus lebih, waktu berlarut lenyap
ditengah ketegangan, sang surya telah tenggelam dan
rembulanpun telah mulai muncul diatas awang-awang.
Tiba-tiba Gak In Ling bersuit panjang, tubuhnya berputar
kencang kemudian secara tiba-tiba meluncur ketengah udara,
sepasang telapak menyapu ketengah udara kosong dan
mendadak menyerang dengan jurus Hiat-yu-seng- hong atau
hujan darah angin amis.
Bayangan merah yang berlapis-lapis dan memancarkan
cahaya berkilauan membentang wilayah seluas tiga puluh
tombak lebih disekitar tempat itu, daya kekuatannya begitu
dahsyat sehingga nampak mengerikan sekali.
Ssmbilan orang pria kekar baju hijau yang sedang
bertempur sengit, tiba-tiba kehilangan jejak Gak In Ling, baru
saja mereka berdiri tertegun tiba-tiba dari atas kepala mereka
berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat
nyaring, hal ini membuat mereka tanpa sadar sama-sama
angkat kepala memandang keangkasa. "Aaah telapak maut"
mendadak sembilan orang itu berteriak dengan nada yang
ketakutan-"Telapak maut "
Diikuti berkumandangnya sembilan kali jeritan ngeri yang
mendirikan bulu roma, membuat orang yang mendengar jadi
bergidik dan merasakan dirinya seakan-akan berada dineraka.

435
Gak In Ling melayang turun keatas permukaan dengan
tenangnya, ketika sinar matanya menyapu sekeliling tempat
itu, tampaklah sembilan sosok mayat tadi sudah berserakan
dari kalangan sejauh dua tombak dari tempat semula, kulit
dan otot wajah para korban berkerut kencang, darah segar
mengalir keluar dari tujuh lubang inderanya, rasa ngeri dan
takut sesaat menemui ajalnya masih tertera nyata diatas
wajah mereka.
Gak In Ling tarik napas dalam-dalam, diikuti suara helaan
napas yang berat dan panjang seakan-akan ia menyesal
karena sudah melakukan pembunuhan tersebut.
Dia sebenarnya berhati bajik dan mulia, ia tidak senang
membunuh manusia, tetapi keadaan yang telah memaksa
dirinya mau tak mau harus melakukan pembunuhan tersebut.
Pembunuhan itu bukan dilakukan karena dapat
mengangkat namanya serta mempertinggi gengsinya,
membunuh orang juga bukan untuk melatih ilmu silatnya
hingga mencapai tingkat yang sempurna, melainkan dendam
kesumat sedalam lautan itulah yang membuat ia tak mampu
untuk menguasai perasaan hatinya.
Perlahan-lahan Gak In Ling menengadah ke atas,
memandang rembulan yang berada diangkasa lalu bergumam
seorang diri.
"Ibu sudah kau lihatkah kesemuanya itu ? Anak Leng akan
balaskan dendam bagi kematianmu, akan kucuci benteng Huiin-
eay dengan darah manusia, akan kubasmi mereka hingga
sama sekali lenyap dari muka bumi."
Tiba-tiba seekor burung hong warna-warni yang besar
terlintas masuk dalam lingkaran penglihatan pemuda she Gak
itu, ketika menjumpai burung tersebut Gak In Ling nampak
terperanjat lalu berseru. "Dewi burung hong indah?"
Pada saat itulah kurang lebih dari jarak tiga depa
dibelakang tubuh Gak In Ling berkumandang suara jeritan

436
kesakitan, jeritan itu mengejutkan hati sianak muda, dengan
kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya ternyata pihak
lawan bisa mendekati tubuhnya hingga jarak tiga depa tanpa
disadari olehnya, kejadian ini benar-benar memalukan sekali.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu telah menarik
kembali pikiran Gak In Ling kedalam kenyataan, tampak
sepasang alis matanya berkernyit dan tubuhnya segera
berpaling kebelakang
Dibawah sorot cahaya rembulan yang redup terlihatlah
sesosok bayangan abu-abu dengan gerakan yang cepat
bagaikan kilat sedang melarikan diri kearah dinding tebing
sebelah depan-
"Bangsat, kau akan lari ke mana ?" bentak Gak In Ling
dengan suara nyaring, sambil berseru ia segera enjotkan
badannya siap melakukan pengejaran-
Belum sempat sianak muda itu menggerakkan tubuhnya,
mendadak terdengar suara yang manis dan merdu
berkumandang datang. "Eei, Gak In Ling, kenapa kaupun
datang kemari ?"
Dari suara teguran itu si pemuda segera mengetahui siapa
yang telah datang, hatinya terjelos dan diam-diam pikirnya.
"Habislah sudah, ternyata benar-benar dia "
Sementara ingatan itu masih berkelebat dalam benaknya,
perlahan-lahan dia putar badan, ketika sorot matanya
dialihkan kearah mana berasalnya suara itu maka tampaklah
dewi burung hong indah dengan pakaiannya yang berwarna
merah- menyala berdiri diatas sebuah batu kurang-lebih satu
tombak dihadapannya.
Dengan memaksakan diri Gak In Ling menarik napas
panjang, setelah menenteramkan hatinya dia berkata.
"Nona, kau dan aku benar-benar punya jodoh, sungguh tak
nyana kita bisa berjumpa lagi disini."

437
Dewi burung hong indah maju dua langkah kedepan,
kemudian menjawab.
"Sungguh cepat kau sudah tiba disini, sungguh tindakanmu
itu jauh diluar dugaanku."
Gak In Ling tertawa dingin-
"Hee hee hee aku belum mati, mungkin kejadian ini-jauh
diiuar dugaan nona bukan?"
Dewi burung hong indah mengerutkan dahinya, kemudian
sambil tertawa dingin ia berkata.
"Hee.... hee..... hee apabila sekarang aku hendak
membinasakan dirimu, maka pekerjaan ini akan kuselesaikan
dengan sangat mudah sama sekali tidak membuang tenaga
barang sedikitpun juga."
Nada ucapannya begitu leluasa, seakan- akan perkataan
tersebut diutarakan keluar tanpa disertai rasa pandang remeh
musuhnya. Gak In Ling tertawa lalu mengangguk. "Sekarang
juga nona boleh turun tangan" katanya.
"Engkau takkan melancarkan serangan balasan ?"
"Hem, aku tidak sejinak seperti apa yang nona bayangkan "
seru sipemuda sambil tertawa dingin.
Mendengar perkataan itu, dewi burung hong indah tertawa
terbahak-bahak.
"Haa.... haa haa kali ini apakah kau masih tetap akan
gunakan sepasang telapakmu untuk menghadapi sepasang
kakiku ?"
Merah-padam selembar wajah Gak In Ling setelah
mendengar perkataan itu, sedikitpun tidak salah, kejadian itu
merupakan suatu penghinaan, serta rasa malu yang luar
biasa, dengan kedudukannya sebagai seorang lelaki jantan
dengan badan yang berotot ternyata tak mampu menangkan

438
sepasang kaki dari seorang gadis lemah, rasa malu ini
membuat orang sukar untuk menahan diri.
Dengan gusar Gak In Ling segera mendengus, lain berkata.
"Kali ini jikalau aku menderita kalah lagi ditangan nona,
sekalipun nona tidak membinasakan diriku, aku bisa
melakukan penyelesaiannya sendiri terhadap jiwaku. Nah,
silahkan nona turun tangan"
Sambil berkata diam-diam ia himpun tenaga dalamnya ke
dalam sepasang telapak tangan-
Dewi burung hong indah sendiri diam-diam merasa
tercekat, segera pikirnya didalam hati.
"orang ini keras kepala, dingin dan angkuh, kali ini jikalau
ia benar-benar kalah, sudah dapat dipastikan dia tentu akan
bunuh diri ditempat ini, aku harus menghadapinya secara
berhati-hati."
Meskipun didalam hati ia berpikir demikian, diluaran sambil
tertawa ia menjawab. "Ini hari sudah pasti kau bakal mampus
disini "
"Hee hee hee semoga saja apa yang nona duga sedikitpun
tidak salah " sahut Gak In Ling sambil tertawa dingin.
"Hm Tentu saja tidak "
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari balik matanya
memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, sambil
membentak keras tubuhnya menerjang kearah belakang Gak
In Ling sambil berseru.
"Kawanan tikus, berani bertingkah disini ?" Gak In Ling
yang sudah pernah menyaksikan kehebatan dari tenaga dalam
yang dimiliki dewi burung hong indah, menyaksikan datang
menerjang, dikiranya perempuan itu sedang menerjang
kearahnya, buru-buru badannya menyingkir dua depa

439
kesamping sambil balas melancarkan pula sebuah pukulan
kearah lawannya.
"Bagus sekali datangnya serabgan itu " Segulung angin
pukulan yang maha dahsyat langsung menerjang kearah dada
dewi burung hong indah.
Kiranya dewi burung hong indah menerjang ke muka
disebabkan ia telah menemukan sesuatu.
Mimpipun gadis itu tak pernah mengira kalau Gak In Ling
bisa menaruh ke salah-pahaman terhadap dirinya dan secara
tiba-tiba melancarkan serangan kearahnya.
Jikalau bicara tentang kepandaian silat yang dimiliki dewi
burung hong indah, seandainya pula saat ini ia berganti jurus
untuk menyambut datangnya serangan dari Gak In Ling itu,
maka ada kesulitan lain yang bakal dihadapinya, tetapi kalau
ia sampai berganti jurus niscaya Gak In Ling bakal menderita
luka terkena serangan gelap yang dilancarkan oleh jago lihay
dari benteng Hui-in-cay.
Kejadian yang berlangsung amat cepat dan didalam waktu
amat singkat membuat dewi bu-img hong indah tiada
kesempatan unsuk mempertimbangkan persoalan itu lebih
jauh, diam-diam mengertak gigi dan menghimpun segenap
kekuatan tubuh yang dimilikinya kearah bagian kanan badan
guna menerima datangnya serangan tersebut dengan keras
lawan keras, sementara serangan yang dia lancarkan masih
tetap tidak dikendorkan.
Dalam waktu singkat angin pukulan yang dilancarkan Gak
In Ling telah bersarang diatas tubuh dewi burung hong indah.
"Blaaam " ditengah benturan keras yang menggeletar
diseluruh angkasa, berkumandanglah suara dengusan berat
dari dewi burung hong indah, bersamaan itu pula dari arah
lima tombak jauhnya dari kalangan bergema pula jeritan ngeri
yang menyayatkan hati.

440
Bayangan merah mencelat keudara, tubuh dewi burung
hong indah tahu-tahu sudah mencelat sejauh dua tombak
lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diatas tanah,
darah segar perlahan-lahan mengalir keluar dari ujang
bibirnya yang kecil, wajahnya yang semula bersemu merah
seketika berubah jadi pucat-pias.
Menyaksikan kejadian tersebut Gak In Ling merasa amat
terperanjat, dari jeritan ngeri yang berkumandang
memecahkan kesunyian serta jarum jarum lembut berwarna
biru yang berceceran diatas tanah, ia segera memahami apa
yang telah terjadi.
Tetapi ia tidak habis mengerti, mengapa dewi burung hong
indah bersedia menolong jiwanya ?
Terus-terang saja ia tak habis mengerti kenapa bisa begitu,
tetapi kenyataan sudah terbentang didepan mata, ia telah
melukai seseorang yang telah melepaskan budi kepadanya.
Dengan perasaan tak tenang Gak In Ling berjalan
menghampiri dewi burung hoog indah yang baru saja duduk
diatas tanah, kemudian bisiknya dengan suara lirih.
"Parahkah luka yang nona derita ?" nada suaranya penuh
perasaan menyesal dan minta maaf.
Dengan pandangan yang sangat dingin dewi burung hong
indah menengadah keatas dan menyapu sekejap kearah
wajah Gak In Ling, lalu menjawab. "Gak In Ling, sekali ini
engkau telah berhasil menangkan diriku "
Dengan ujung bajunya Gak In Ling menyeka keringat yang
membasahi jidatnya, kemudian menggeleng.
"Tidak- perbuatanku hanya menggunakan kesempatan
dikala orang tidak siap. aku menyadari bahwa tindakanku ini
merupakan suatu perbuatan yang tidak terpuji." jawabnya.
"Tapi initokh kesempatan paling baik yang berhasil kau
dapatkan-" sindir dewi burung hong indah. "hem, kau pandai

441
sekali menggunakan kesempatan baik, sejak kini kalau kau
sering kali bisa mempergunakan kesempatan baik yang kau
peroleh sebaik-baiknya, aku percaya tidak lama kemudian kau
bakal merupakan seorang jago yang tiada tandingannya
dikolong langit. haa.. .. haa haa "
Mengikuti gelak tertawanya yang sinis, darah segar
bagaikan pancuran air mengalir keluar lewat ujung bibirnya
yang kecil dan membasahi seluruh tubuhnya.
Dengan perasaan malu bercampur menyesal Gak In Ling
tundukkan kepalanya rendah-rendah, sahutnya dengan
lembut.
"Nona, sekarang engkau boleh menyindir aku dengan
sepuas hatimu, tetapi engkaupun harus baik-baik menjaga
kehehatan badanmu sendiri, janganlah membiarkan luka
dalam yang kau derita berubah semakin parah." nada
ucapannya begitu sungguh-sungguh dan serius.
Dewi burung hong indah merasakan hatinya jadi hangat
dan gembira, tetapi perasaan hatinya itu tidak sampai
diutarakan keluar, sambil tertawa dingin ia berkata.
"Gak In Ling, sudahkah kau pikirkan perbuatan apakah
yang bakal kulakukan untuk pertama kalinya setelah luka
dalam yang kuderita ini telah sembuh ?"
"Aku tahu" jawab Gak Ia Ling sambil tertawa tawa.
"Hee hee hee kalau sudah tahu, tidak sapantasnya kalau
engkau lepaskan diriku"
Gak In Ling menengadah keatas dan menghela napas
panjang-panjang.
"Aaai kalau bicara tentang ilmu silat, sesungguhnya aku
orang she Gak bukanlah tandingan dari nona, sekarang aku
telah menggunakan kesempatan yang ada untuk melukai
nona, jikalau engkau tidak berbuat demikian karena ingin
menolong aku, mungkin aku orang she Gak dapat

442
membinasakan dirimu, tetapi engkau telah selamatkan
jiwaku." Dewi burung hong indah tertawa dingin.
"Hm, jadi kalau begitu, pilihan antara hidup dan mati
engkau telah memilih yang terakhir ?" serunya.
Dengan sedih Gak In Ling mengangguk.
"Benar, aku orang she Gak telah berhutang budi kepadamu
"
Mendengar jawaban tersebut diam-diam dewi burung hong
indah merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.
"orang ini begitu jelas dan nyata memandang antara budi
dan dendam, sungguh tak kusangka kalau dikolong langit bisa
terdapat manusia semacam ini, kenapa aku justeru telah
bertemu dengan manusia seperti ini ?"
Berpikir sampai disitu, nada suaranya tiba-tiba berubah jadi
lembut, tanyanya dengan suara lembut.
"Apakah engkau tidak memikirkan lagi bagi nasib kawankawanmu
dalam dunia persilatan?"
Napsu membunuh yang tebal melintas diatas wajah Gak In
Ling sesudah mendengar perkataan itu, tapi hanya didalam
sekejap mata saja telah lenyap tidak berbekas. Ia tundukkan
kepalanya termenung sebentar lalu berkata lagi.
"Meskipun aku mempunyai hasrat untuk melenyapkan bibit
bencana bagi umat persilatan, tetapi sayang sekali tenaga
yang kumiliki masih belum cukup bagiku untuk melakukannya,
hasil dari perjuanganku yang tidak seimbang itu hanya akan
semakin memperlihatkan rasa maluku, karenanya aku tidak
ingin berbuat demikian." Setelah berhenti sebentar ujarnya
kembali.
"Apalagi aku percaya bahwa nona bukanlah seorang
manusia yang gemar membunuh orang tanpa sebab-sebab
tertentu." Dewi burung hong indah segera tertawa dingin.

443
"Hee hee...,. hee darimana kam bisa tahu kalau nonamu
tak dapat berbuat demikian?"
"Sebab setiap manusia tentu mempunyai perasaan
prikemanusiaan " sahut Gak In Ling dengan serius.
"Tetapi nonamu tidak mengenal apa artinya
perikemanusiaan-"
Karena terpengaruh oleh emosi, denyutan nadinya berdetak
semakin kencang, darah segar yang menyembur keluar dari
ujung bibirnyapun semakin jelas hingga keadaannya
mengerikan sekali.
Air muka Gak In Ling berubah hebat, dengan perasaan
tidak tenang ia berkata.
"Nona, kesemuanya itu adalah persoalan di kemudian hari,
lebih baik tak usah dibicarakan dahulu, yang penting bagi
nona adalah menyembuhkan dahulu luka dalam yang kau
derita."
"Hee hee hee Gak In Ling, kau terlalu memandang rendah
tenaga dalam yang ku miliki." seru dewi burung hong indah
sambil tertawa dingin. Gak In Ling jadi amat terperanjat.
"Kenapa ?" teriaknya. "Nona, lukamu..."
"Nadiku telah pecah, tiada orang yang bisa menyelamatkan
jiwaku lagi...."
Walaupun Gak In Ling serta dewi burung hong indah baru
berjumpa muka sebanyak dua kali, tetapi dari wataknya yang
keras hati dan bersikap blak-blakan itu membuat pemuda
tersebut mengetahui bahwa dia tak mungkin sedang
membohongi dirinya, karena itu pemuda she Gak tersebut
segera berdiri tertegun sesudah mendengar perkataan itu.
Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada
hentinya membasahi wajah Gak In Ling yang tampan, setetes

444
demi setetes mengucur terus dari balik sorot matanya
terpancar rasa menyesal dan minta maaf.
Dengan pandangan dingin dewi burung hong indah
menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian bertanya.
"Gak In Ling, panaskah hawa udara disini"
Dengan sedih Gak In Ling menyapu sekejap kearah gadis
itu. "Nona, aku hirap engkau tak usah menyindir diriku lagi."
"Engkau pantas ?"
"Mungkin tidak pantas. "jawab Gak In Ling dengan tawar,
wajahnya sama sekali tidak menunjukkan hawa kegusaran-
"Apakah nona tidak memiliki obat mujarab yang bisa
digunakan untuk menyembuhkan luka dalammu itu ?"
"Menurut perkiraan nonamu justru engkaulah yang
semestinya memiliki obat semacam itu." sahut dewi burung
hong indah sambil tertawa dingin.
"Aku ?" tiba-tiba satu ingatan berkelebat lewat didalam
benak Gak In Ling, buru-buru ia ambil keluar obat berwarna
merah yang diberikan kakek penebang kayu kepadanya ketika
berada di puncak bukit can-thian-hong tersebut, sambil
mengangsurkan kedepan ia bertanya. "Nona, coba lihatlah
apakah obat ini dapat menyembuhkan lukamu ?"
Terkesiap hati dewi burung hong indah setelah melihat
obat tersebut, serunya tanpa sadar.
"Aaah Pil Kiu-coan-hui-hun-wan.... kau dapatkan obat ini
dari mana ?"
"Apakah obat itu dapat menyembuhkan luka dalam yang
nona derita ?"
"Engkau merasa tidak keberatan ?" bukannya menjawab
dewi burung hong indah malah bertanya.
Gak In Ling tertawa lirih.

445
"Mungkin aku bukanlah seorang manusia siau-jin seperti
apa yang nona duga semula, kalau nona tidak percaya
silahkan menelan obat ini" sembari berkata dia segera
angsurkan obat itu kedepan.
Dewi burung hong indah menerima obat tersebut dan
diperiksanya beberapa saat, kemudian dengan wajah berubah
hebat pikirnya didalam hati.
"Kenapa ia pandang begitu hambar obat mujarab yang
demikian berharga ini, jangan-jangan-.."
Tiba-tiba wajahnya bersemu merah, ia segera menengadah
dan bertanya. "Apakah kau suruh aku merawat lukaku tempat
ini ?"
Tertegun hati Gak In Ling mendengar perkataan tersebut,
dengan perasaan tidak mengerti ia balik bertanya.
"Kalau tidak. maka engkau akan merawat lukamu dimana
?"
"Apakah kau mengira pihak benteng Hui-in cay bakal
melepaskan dirimu dengan begitu saja ?"
Seakan-akan telah menyadari dengan sesuatu dengan nada
serius Gak In Ling segera menjawab
"Ah Sedikitpun tidak salah, tempat ini memang tidak pantas
untuk digunakan sebagai tempat untuk merawat luka dalam,
kalau nona beranggapan bahwa obat tersebut benar-benar
mampu untuk menyembuhkan luka dalam yang kau derita,
apa salahnya kalau cari tempat yang aman dengan
menunggang burung hong-mu itu ?"
Rasa sedih muncul didalam hati dewi burung hong indah,
tanya dengan suara lirih. "Bagaimana dengan engkau sendiri
?"
"Aku akan pergi ke benteng Hui-in-cay "
Sekali lagi dewi burung hong indah terkesiap. pikirnya.

446
"Dia berada disana, kalau dia pergi kesitu bukankah berarti
hanya akan mengantar jiwa belaka ?"
Walaupun dalam hati ia berpikir demikian, tetapi perkataan
itu tidak langsung diutarakan ke luar, bahkan sengaja tertawa
dingin dan berseru. "Hem engkau sama sekali tiada sungguhsungguh
untuk mengobati lukaku "
"Nona, apa maksudmu berkata demikian ?" seru Gak In
Ling dengan alis mata bekernyit. Dewi burung hong indah
tertawa dingin.
"Ditengah hutan belantara yang jauh dari keramaian dunia
banyak binatang buas yang berkeliaran, kalau engkau suruh
aku mengobati luka ku seorang diri bukankah itu berarti
bahwa kau berharap agar aku mati diterkam binatang buas?"
Gak In Ling merasa perkataan itu benar juga, dikala
seseorang sedang mengobati lukanya, bila tiada orang yang
berjaga disampingnya maka hembusan anginpun bisa
membahayakan jiwanya, namun pemuda itupun tidak berbasil
menemukan sesuatu cara yang dirasakan pantas olehnya.
Dengan kebingungan Gak In Ling menengadah keatas, lalu
bertanya. "Lalu apa yang harus kulakukan ?"
"Kurang-lebih lima puluh li dari sini terdapat sebuah gua
batu yang bersih, kalau kau bersungguh-sungguh hati
mengharapkan agar luka dalam yang kuderita bisa sembuh,
bawalah aku ke tempat itu."
Setelah berhenti sebentar ia menambahkan-
"cuma setelah kau berhasil menyembuhkan luka dalam
yang kuderita, maka akibatnya sudah kuberitahukan
kepadamu." Gak In Ling tertawa tawa.
"Itu tokh urusan dikemudian hari, sekarang mari kita
berangkat" serunya.

447
Perlahan-lahan dewi burung hong indah bangkit berdiri dari
atas tanah kemudian serunya dengan manja.
"Boponglah aku" sambil berkata ia rentangkan tangannya
menunggu dibopong.
Diatas paras mukanya yang cantik sama sekali tidak
terlintas rasa jengah atau tidak senang, semuanya
berlangsung begitu bebas dan leluasa, seakan-akan seorang
nona cilik yang polos dan belum mempunyai pikiran lain,
mungkin pada saat itulah dia benar-benar telah menunjukkan
sikap serta tingkah laku kegadisannya.
Gak In Ling nampak ragu-ragu sejenak. tiba-tiba dia
menghela napas panjang lalu berjalan kehadapan dewi burung
hong indah dan berjongkok didepan tubuh sigadis.
Pada saat itulah paras dewi burung hong indah berubah
jadi merah jengah, ia segera menjatuhkan diri diatas
punggung Gak In Ling dan bertanya dengan lirih. "Apakah kau
bersedia membopong diriku ?" Suaranya lirih dan membawa
kemurungan yang tebal.
Sepasang tangan Gak In Ling menjangkau kebelakang,
dengan telapaknya dia menahan paha gadis tersebut
kemudian bangkit berdiri. Terasalah pada punggungnya
tertempel sebuah badan yang lunak halus dan hangat
membuat jantungnya terasa berdebar keras, inilah reaksi dari
seorang pria yang normal, meskipun Gak In Ling tidak
mempunyai maksud yang jahat, tetapi dia tak mampu untuk
menguasai perasaan hatinya.
Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dan menekan
golakan perasaan yang terjadi dalam dadanya, lalu bertanya.
"Kita menuju kearah mana ?"
"Ke sebelah selatan "
Gak In Ling tidak bertanya lagi, ia segera menggerakkan
tubuhnya dan lari kearah selatan, dari gerakan tubuhnya yang

448
begitu cepat dapat di ketahui bahwa pemuda itu hendak
menekan pergolakan hatinya yang aneh dari gerakan
tubuhnya yang cepat itu.
Kendatipun jalan gunung sangat susah dilewati, tetapi tidak
menyulitkan Gak In Ling yang memiliki ilmusilat yang sangat
lihay, perjalanan sejauh lima puluh li dilewatkan dalam waktu
sepertanak nasi.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba terdengar dewi burung hong
indah berseru dengan suara lantang.
"Disebelah kiri ada sebuah dinding tebing, diatasnya
tumbuh sebatang pohon siong yang kecil, sudah kau temukan
belum ? Goa batu itu terletak dibawah pohon siong tersebut."
Mendengar perkataan tersebut Gak In Ling segera angkat
kepala memandang kearah sebelah kiri, sedikitpun tidak salah,
kurang lebih dua puluh tombak dari atas permukaan tanah
tumbuh sebatang pohon siong yang kecil, pohon itu tumbuh
diatas dinding tebing, dan dibawah pepohonan tadi tampaklah
sebuah mulut gua seluas beberapa tombak.
Gak In Ling tidak berpikir panjang lagi, dia segera meloncat
masuk ke dalam gua tersebut, ketika sorot matanya berputar
memeriksa keadaan disekeliling tempat itu tampaklah dinding
gua amat bersih dan kering, luasnya kurang- lebih dua tombak
persegi.
Setelah berada didalam gua, Gak In Ling membaringkan
tubuh dewi burung hong indah ke atas tanah, bisiknya dengan
lirih.
"Nona, sekarang kau boleh minum obat tersebut untuk
menyembuhkan luka dalammu " Habis berkata ia segera
melangkah keluar dari gua itu.
Melihat tindakan sang pemuda, tiba-tiba dewi burung hong
indah berteriak keras. "Hei kau akan pergi kemana ?"

449
Suaranya murung dan mengandung perasaan tidak tenang,
titik air mata mengembang pada kelopak matanya membuat
orang yang melihat terasa beriba hati.
"Aku akan melindungi keselamatan nona dari luar gua, aku
tak akan pergi terlalu jauh." sahut sang pemuda lirih, ia
lanjutkan langkahnya dan menuju kemulut gua.
Dalam hati diam-diam dewi burung hong indah menghela
napas panjang, perlahan-lahan ia angkat tangannya dan
menelan obat tersebut kemudian memejamkan sepasang
matanya, dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dia adalah seorang nona yang berhati keras, tapi sekarang
gadis tersebut telah melelehkan airmata, siapa yang akan
percaya kalau hatinya sedang risau dan takut karena jiwanya
tidak ada yang melindungi ?
Gak In Ling yang duduk diiuar gua bersandar pada dinding
tebing, sepasang matanya yang jeli memandang bintangbintang
yang bertaburan diangkasa, siapa pun tidak tahu apa
yang sedang dipikirkannya pada saat ini.
Malam semakin kelam, ditengah kesunyian yang mencekam
seluruh jagad, hanya pekikan monyet dan auman harimau dari
tempat kejauhan yang kadang kala terdengar, waktu berlalu
dengan lambatnya ditengah kesepian dan kegelapan-
Tiba-tiba dewi burung hong indah munculkan diri dari balik
gua, sambil memandang kearah sianak muda itu tegurnya.
"Engkau belum tidur?" suaranya halus, lembut dan penuh
bersifat kewanitaan-
Terperanjat hati Gak In Ling mendengar teguran itu, dia
loncat berdiri dari atas tanah dan menatap lawannya tajam,
kemudian baru berkata. "Sudah sembuhkah nona ?"
Dengan sepasang mata yang jeli dan tajam dewi burung
hong indah menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip. lalu
mengangguk. "Benar, kau takut ?"

450
"Hal itu sudah merupakan suatu kejadian yang telah
kuduga sejak semula, nona. Apakah sekarang juga kita akan
berduel untuk menentukan siapa hidup siapa mati ?" kata Gak
In Ling sambil tertawa tawa. Dewi burung hong indah tertawa
merdu.
"Aku akan cuci tangan lebih dahulu, kalau engkau hendak
melarikan diri maka inilah kesempatan yang paling baik
bagimu."
Tidak menunggu jawaban dari Gak In Ling, gadis itu segera
enjotkan badannya dan lenyap di dalam kegelapan-
Memandang kearah bayangan punggung dewi burung hong
indah yang pergi menjauh. Gak In Ling menghela napas
panjang, ia duduk kembali sambil bersandar diatas dinding
gua, ia tak ingin memperlihatkan kelemahan-kelemahan di
hadapannya, disamping itu tak mungkin pula baginya untuk
meloloskan diri dari cengkeramannya, maka ia tiada rencana
untuk meninggalkan tempat itu.
Gak In Ling berusaha keras untuk menghilangkan pelbagai
pikiran yang rumit dari dalam benaknya, membuat pikirannya
kosong dan bebas dari gangguan, ditengah kepenatan yang
dialami selama beberapa hari belakangan ini, tanpa sadar
pemuda itu terlelap tidur dengan nyenyaknya.
Rembulan sudah berada ditengah awang-awang, tengah
malam menjelang tiba dewi burung hong indah tiba-tiba
muncul kembali di depan mulut gua, entah dimanakah dia
berhasil mencuci bersih noda darah yang mengotori wajah
serta tubuhnya, pada waktu itu dibawah sorot cahaya
rembulan tampaklah wajahnya yang jauh lebih cantik dan
menawan hati.
Dengan mulut membungkam ditatapnya wajah Gak In Ling
beberapa saat, kemudian dia bergumam seorang diri.
"Ia tertidur dengan begitu nyenyaknya, apakah dia sama
sekali tidak takut mati ? Aaaii kenapa dibalik biji matanya

451
selalu terpancar sifat murung yang tebal ? Apakah banyak
kesulitan yang sedang dihadapi olehnya ?"
Serentetan kecurigaan yang muncul dalam benaknya tidak
berhasil ditemukan jawabannya, karena Gak In Ling selalu
menganggap dirinya sebagai musuh, belum pernah
mengutarakan kata-kata yang bernada sahabat.
Lama sekali ia menatap wajah Gak In Ling mendadak gadis
itu menggerakkan tubuhnya dan jatuhkan diri duduk
disamping pemuda itu, tindak-tanduknya begitu manja dan
lembut.
Entah karena dia benar-benar lelah ataukah didalam
hatinya tiada persoalan yang merisaukan, tidak selang
beberapa saat kemudian gadis itupun terlelap tidur dengan
pulasnya.
Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung
bajunya, ditengah pegunungan yang sunyi dan jauh dari
keramaian dunia, ternyata mereka berdua berani tidur dialam
terbuka dengan bebasnya.
Tiba-tiba dewi burung hong indah menggerakkan tubuhnya
dan membalik kesamping, tubuhnya segera terjatuh kedalam
rangkulan Gak In Ling, diikuti tangannya yang kiri bergerak
pula kesamping dan kebetulan merangkul tubuh sang
pemuda.
Gerakan ini mengejutkan hati Gak In Ling, pemuda itu
segera tersadar kembali dari tidurnya, ketika mengetahui apa
yang terjadi ia nampak tertegun dan tidak tahu apa yang
mesti dilakukan untuk mengatasi keadaan seperti ini. Angin
gunung masih tetap berhembus lewat berhembus bertiup,
Dengan teaang Gak In Ling memandang ke arahnya,
menyaksikan paras mukanya yang mempesonakan, dengan
senyuman yang begitu indah serta memikat hati, bibirnya
yang kecil dan memerah oh, betapa nyenyaknya tidur gadis
itu.

452
Makin memandang hatinya makin tertarik, Akhirnya Gak In
Ling perdengarkan helaan napas penuh rasa sayang, pikirnya.
"Kalau hatinya bajik dan berbudi halus serta lembut, dia
adalah seorang gadis yang amat cantik-jelita dan menawan
hati. Benarkah dikolong langit betul-betul tak ada persoalan
yang seratus persen sempurna ?"
Maka Gak In Lingpun teringat kembali akan perkataan yang
sering diucapkan olehnya demi keselamatan serta keamanan
seluruh dunia persiIatan, membuat anak muda itu mau tak
mau harus berpikir pula untuk melenyapkan bibit bencana
bagi umat persilatan-
Ia tundukkan kepalanya memandang sekejap kearah dewi
burung hong indah, kemudian pikirnya.
"Sekarang adalah kesempatan yang paling baik bagiku
untuk turun tangan, kalau kesempatan ini kulewatkan dengan
begitu saja, mungkin dikemudian hari sudah tiada orang lagi
yang mampu menaklukkan dirinya..."
Berpikir sampai disini, tanpa terasa telapak tangannya
perlahan-lahan diangkat keatas.
Pada saat itulah dewi burung hong indah, yang berada
dalam rangkulannya tiba-tiba mengguling kearah lain, disusul
gadis itu mengigau dengan suara yang lirih.
"oh ternyata semuanya adalah palsu, tapi aku sama sekali
tidak membenci dirimu...." Tangannya bergerak dan merosot
turun dari atas bahu Gak In Ling, tidurnya masih begitu
nyenyak dan lelapnya.
Tanpa terasa Gak In Ling menurunkan kembali tangannya,
dari lirihannya yang begitu lembut dan halus ia merasa bahwa
gadis itu tidak mirip seorang iblis wanita yaag membunuh
orang tanpa berkedip. ia merasa gadis tersebut adalah
seorang nona yang manis dan lembut.

453
Gak In Ling alihkan sorot matanya memandang pula bulu
matanya yang halus, ia merasa gadis tersebut nampak begitu
lemah-lembut sehingga membutuhkan perlindungan dari
orang lain-
Akhirnya Gak In Ling menghela napas panjang, gumamnya.
"Aku tidak boleh berbuat demikian aku adalah seorang lakilaki
sejati, mencelakai seorang gadis yang lemah di kala orang
tidak siap bukanlah tindakan yang harus dilakukan oleh aku
orang she Gak "
Sekarang rupanya dia telah melupakan seluruh ambisinya,
karena gadis yang berada dihadapan mukanya pada saat ini
bukanlah iblis perempuan pembunuh orang tidak berkedip
seperti apa yang semula ia bayangkan.
Dengan sangat hati-hati Gak In Ling menggerakkan tubuh
dewi burung hong indah dari rangkulannya, kemudian
perlahan-lahan bangkit berdiri, sambil memandang wajahnya
yang manis dan menawan hati ia bergumam.
"Semoga Thian memberikan welas kasihnya kepada umat
manusia serta merubah jalan pikirannya yang tidak benar itu,
agar ia dapat pulih kembali jadi seorang gadis lembut yang
sungguh-sungguh murni."
Dalam pada itu Bulan telah condong ke arah barat, ditinjau
dari cuaca pada saat itu kira-kira telah menunjukkan
kentongan keempat, Gak In Ling tarik napas panjang-panjang,
sekali lagi ia memandang sekejap keatas wajah dewi burung
hoag indah yang cantik jelita, kemudian sambil keraskan- hati
ia putar badan menuruni tebing tersebut, dalam beberapa
loncatan kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap dari
pandangan.
Dimulut gua tinggal dewi burung hong indah seorang yang
masih tertidur nyenyak, ditengah udara bergeraklah seekor
burung hong besar seakan-akan sedang melindungi
keselamatan jiwa majikannya.

454
Pada saat itulah dewi burung hong indah membalik
tubuhnya, satu senyuman manis tersungging diujung bibirnya,
terdengar ia bergumam. "In Ling, aku akan mengikuti dirimu,
kita tak usah takut padanya lagi."
Diikuti satu senyuman manis kembali tersungging diurung
bibirnya, siapapun tak tahu mimpi apa yang sedang dialami
olehnya, tetapi ada satu yang pasti yaitu dia sedang
menguatirkan keselamatan diri Gak In Ling. cuma sayang
pada saat ini sianak muda tersebut telah meninggalkan sisi
tubuhnya.
-oo0dw0oo-
Sekarang marilah kita ikuti kembali jejak Gak In Ling.
Sepeninggalnya dari gua tersebut ia segera berlarian
mengikuti jalan yang dilaluinya semula dan laksana kilat
menerjang kearah benteng Hui-in-cay, gerakan tubuhnya
begitu cepat hingga seakan-akan hembusan segulung angin.
Setelah melampaui dua buah puncak tebing yang tinggi,
tebing batu dimana terletak benteng Hui-in-cay sudah
terbentang didepan mata, Gak In Ling merasakan hatinya
bergetar keras, rasa tegang mulai menyelimuti seluruh
wajahnya namun ia sama sekali tidak menghentikan gerakan
tubuhnya.
Tiba-tiba dari arah belakang berkumandang datang suara
bentakan keras dan lantang. "Gak in Ling, berhenti"
Suara orang itu nyaring, kuat dan menggetarkan hati siapa
pun, Gak in Ling terperanjat dan tanpa terasa segera
menghentikan langkah kakinya.
Ciang liong-sian dengan jubahnya yang berwarna merah
berdiri angker kurang lebih duapuluh tombak dihadapannya,
dua ekor siluman naga hijau yang sedang mementangkan
mulutnya di bawah cahaya sinar rembulan nampak

455
memancarkan cahaya kehijau-hijauan yang amat menyilaukan
mata.
Air muka ciang- liong-sian nampak begitu serius dan keren,
bahkan secara lapat-lapat nampak diliputi oleh hawa gusar
yang sangat tebal.
Gak In Ling tidak tahu apa sebabnya ia bisa berjumpa
dengan jago tua di tempat ini, semakin tidak tahu mengapa ia
menunjukkan sikap yang begitu gusar, sambil maju memberi
hormat segera sapanya.
"cianpwe, ada urusan apa kau datang kemari ?"
"Yang datang kemari bukan hanya aku seorang, masih ada
yang lebih banyak lagi di belakang sana."
Gak In Ling semakin tertegun mendengar jawaban itu,
kembali ia bertanya dengan keheranan
"Bolehkah aku tahu karena persoalan apa cianpwe datang
kemari ?"
"Karena kau "
"Karena aku?" Gak In Ling semakin tertegun dan
kebingungan tak habis mengerti terlintas diatas wajahnya.
"Darimana cianpwe bisa tahu kalau aku berada disini ?"
Ketika ciang-liong-sian melihat rasa kaget dan tercengang
yang terpancar diatas wajah Gak In Ling, kemudian disatukan
dengan jalan pikiran yang semula sudah menyelimuti
benaknya, ia segera salah mengartikan ucapan dari sianak
muda itu. Sambil tertawa dingin segera serunya.
"Gak In Ling, kalau kau tidak ingin mengetahui rahasianya
diketahui orang janganlah berbuat hal tersebut, dibawah
tanda perintah Nirwana seluruh anak muridnya telah tersebar
luas di seluruh jagad untuk memburu jejakmu, kau anggap
perbuatan yang telah kau lakukan itu tidak diketahui orang
lain ?"

456
Air muka Gak In Ling berubah hebat sesudah mendengar
ucapan tersebut, pikirnya.
"Perbuatan salah apakah yang telah kulakukan terhadap
pihak gadis suci dari Nirwana ? Kalau dikatakan setiap kali aku
membunuh manusia telah dianggapnya sebagai menyalahi
pihak mereka. Hm, sikap mereka itu benar-benar terlalu
kelewat batas."
Makin dipikir ia merasa semakin gusar, air mukanya
berubah hebat dan rupanya ia hendak mengumbar hawa
napsunya, tapi sejenak kemudian ia telah menyabarkan diri
dan bertanya dengan suara berat. "Perbuatan apa yang telah
kulakukan ?"
"Hm Tanyalah pada dirimu sendiri... . bukankah perbuatan
yang kau lakukan hanya kau sendiri yang tahu jelas ?" sahut
ciang- liong-sian dengan marah. Air muka Gak In Ling kembali
berubah hebat, katanya dengan dingin.
"cianpwe, aku Gak In Ling menghormati dirimu, tapi setiap
persoalan pasti ada batas-batasnya, kalau cianpwe memaksa
terus-menerus sedangkan aku sama sekali tidak tahu-menahu
apa yang kau maksudkan, bagaimana urusan bisa dibikin
beres ? Sebenarnya apa maksudmu ?"
Dengan sorot mata berkilat ciang- liong-sian menatap
tajam wajah pemuda itu, lalu bertanya.
"Setelah kau tinggalkan hutan bunga bwe di Nirwana,
kemana saja engkau pergi?"
Merah-padam selembar wajah Gak In Ling setelah
mendengar ucapan tersebut, lama sekali ia baru menjawab.
"Persoalan itu merupakan urusan pribadiku."
Ketika dilihatnya air muka Gak In Ling berubah jadi merah
padam karena jengah, ciang- liong-sian semakin percaya
bahwa apa yang diduganya sama sekali tidak meleset,

457
jenggotnya bergoncang keras tanpa terhembus angin, tibatiba
ia menengadah keatas dan tertawa keras.
"Haa..,.. haa..... haa.,... Gak In Ling terlalu sederhana jalan
pikiranmu itu, urusan pribadi mu? Apakah mati-hidup anak
murid dibawah perintah Nirwana juga terhitung soal pribadimu
?"
Semakin lama Gak In Ling semakin kebingungan, akhirnya
ia tak dapat menahan diri dan berseru.
"Apa sangkut pautnya antara aku dengan anak murid
dibawah perintah gadis suci dari Nirwana ?"
Sorot mata bengis memancar keluar dari mata ciang- liongsian,
serunya dengan lantang.
"Apa kau sudah lupa ? Engkau telah memperkosa tiga
orang gadis kemudian membunuh mereka setelah kau nodai
apakah kau sudah melupakan perbuatanmu itu? Terimalah
seranganku ini"
Sambil berkata secara tiba-tiba dia lancarkan sebuah
pukulan yang maha dahsyat kearah dada pemuda itu.
Terperanjat hati Gak In Ling setelah mendengar tuduhan
itu, serunya tergagap. "Memperkosa dan membunuh ?"
Tenaga dalam yang dimiliki ciang-liong-si-an amat
sempurna, serangan yaag dilancarkan dalam keadaan gusar
itu tentu saja telah disertai dengan tenaga dalam sebesar
sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya
ancaman tersebut.
Karena terperanjat setelah mendengar tuduhan itu, untuk
beberapa saat lamanya Gak In Ling berdiri tertegun serta
mengabaikan datangnya ancaman dari ciang- liong-sian,
menanti ia menyadari akan mara-bahaya yang sedang
mengancam datang, untuk menghindarkan diri sudah tak
sempat lagi.

458
"cepat menghindar " terdengar ciang-liong sian membentak
keras.
Tetapi terlambat. "Blaam " Ditengah benturan yang amat
keras terdengar Gak In Ling mendengus berat.
Untuk beberapa saat lamanya suasana pulih kembali dalam
kesunyian serta keheningan.
Tiga tombak dari sisi kalangan berbaringlah tubuh Gak In
Ling dengan mulut berlepotan darah, perlahan-lahan ia
meronta bangun, darah segar masih mengucur keluar tiada
hentinya membasahi seluruh wajah dan pakaiannya, sorot
mata yang sayu serta air mukanya yang pucat-pias bagaikan
mayat membuat wajah pemuda itu nampak menyeramkan-
Dengan kaku ciang- liong-sian menatap wajah Gak In Ling,
dari kebimbangan serta keraguan yang terpancar dari pemuda
itu, membuat jago tua itu menyadari bahwa serangan tersebut
di lancarkan terlalu tergesa-gesa.
Dengan pandangan yang sangat dingin Gak In Ling
menyapu sekejap wajah ciang- liong-sian kemudian berkata.
"Tenaga serangan yang dipergunakan cianpwe barusan
terlalu kecil. tidak semestinya engkau gunakan tenaga sekecil
itu "
Perlahan-lahan ciang- liong-sian maju kedepan, dengan
perasaan tidak tenang ia bertanya.
"Setelah kau tinggalkan hutan bunga bwee, kau lalu pergi
kemana ?"
"Apakah cianpwe tidak percaya dengan jalan pikiranmu
sendiri?" sahut Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Ciang-liong-sian sama sekali tidak marah, dia hanya
menghela napas berat sambil berkata
"Aaaaii kalau aku percaya dengan jalan pikiranku sendiri,
tidak mungkin aku bisa datang kemari lebih duluan untuk

459
mencari engkau, tetapi aku memang terbaru napsu, sebelum
duduk perkara dibikin beres, aku telah turun tangan lebih
dahulu kepadamu "
"Kalau memang begitu aku orang she Gak harus
mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu kepada
cianpwe " kata Gak In Ling dengan suara hambar.
Dengan perasaan menyesal ciang-liong-sian gelengkan
kepalanya.
"Tidak perlu, asal kau bersedia memberitahukan kepadaku
ke mana saja kau telah pergi, itu sudah lebih dari cukup"
Gak In Ling dengan perasaan berat mengangguk,
jawabnya.
"Setelah kutinggalkan hutan bunga Bwee di Nirwana, aku
telah menderita kekalahan yang sangat memalukan dibawah
sepasang kaki dari dewi burung hong indah."
"Burung hong sakti dari luar samudra?" seru ciang-liongsian
dengan nada terperanjat.
"Sedikitpun tidak salah "jawab Gak In Ling sambil tertawa.
"Dia memang burung hong sakti dari luar samudera.
Kemudian aku dikirim kesekitar bukit cah-thian-hong hingga
hampir-hampir saja menemui ajal diatas puncak bukit
tersebut. Selama beberapa hari ini aku berjalan melewati
daerah pegunungan hingga tiba disini dan berjumpa kembali
dengan dewi burung hong untuk kedua kali." Maka diapun
segera menceritakan seluruh pengalaman yang dialaminya
selama ini.
Mendengar penuturan tersebut air muka ciang- liong-sian
beberapa kali nampak berubah hebat, akhirnya tak tahan lagi
ia berseru. "Jadi kau telah berjumpa dengan kakak
seperguruanku ?"

460
Satu ingatan dengan cepat berkelebat lewat dalam benak
Gak In Ling, dia lantas berkata.
"Aku hanya sempat bertemu dengan seorang penebang
kayu tua yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, entah orang
itu adalah kakak seperguruanmu atau bukan."
Dari dalam sakunya dia ambil keluar kitab pusaka ilmu
telapak maut dan diangsurkan kedepan, ujarnya lebih jauh.
"Ia tidak bersedia mengungkapkan asal-usulnya. Nih,
lihatlah, benda ini ia hadiahkan kepadaku "
Setelah melihat kitab catatan tersebut, air muka ciangliong-
sian berubah hebat, serunya dengan cepat.
"Sedikitpun tidak salah, orang yang engkau jumpai itu
adalah kakak seperguruanku." Setelah berhenti sebentar, tibatiba
ia menghela napas dan menyambung lebih jauh.
"Kakak seperguruanku berwatak tinggi hati dan suka
menyendiri, tindakannya tidak lurus pun tidak sesat, kalau
dilihat kesediaannya untuk menghadiahkan kitab catatan ilmu
telapak mautnya kepadamu, aku rasa mungkin inilah yang
dinamakan takdir"
"Hm, engkau mengatakan orang lain lurus tidak- sesatpun
tidak. apakah perbuatanmu sendiri juga tidak begitu ?" batin
Gak In Ling didalam hati. Meskipun ia berpikir begitu tentu
saja ucapan tersebut tidak sampai diutarakan keluar.
Sekali lagi ciang- liong-sian menatap wajah Gak In Ling,
kemudian dengan wajah serius berkata.
"Mula pertama aku sendiripun ada hasrat untuk
mewariskan ilmu telapak maut yang kumiliki kepadamu, tapi
sekarang sudah tiada waktu lagi. Kalau tokh ia bersedia
menghadiahkan kitab pusaka bagian atasnya kepadamu,
sudah tentu akupun bersedia pula menghadiahkan kitab
pusaka bagian bawahnya kepadamu. Sepanjang seratus tahun
belakangan ini ilmu telapak maut merupakan maut kepandaian

461
yang maha ampuh, tetapi berhubung kitab pusakanya terdiri
dari dua bagian dan selama ini bagian atas tak pernah
disatukan dengan bagian bawahnya maka belum pernah ada
orang yang berhasil melatih ilmu tadi hingga mencapai puncak
kesempurnaan- Nampaknya seratus tahun kemudian ilmu
telapak maut bakal tersohor dan menggetarkan dunia
persilatan kembali dari tanganmu Gak In Ling."
Berbicara sampai disitu dia merogoh kedalam sakunya dan
ambil keluar sejilid kitab persis apa yang dimiliki Gak In Ling
dan diangsurkan ketangan sianak muda itu, katanya. "Gak In
Ling, terimalah pemberian kitabku ini" Gak In Ling mundur
satu langkah kebelakang dan menggeleng.
"cianpwe, jangan lupa kalau waktu hidup bagi aku Gak In
Ling dikolong langit sudah tidak panjang lagi " katanya, nada
perkataan itu kedengaran begitu kesal dan menyedihkanciang-
liong-sian menengadah dan menghela napas panjang.
"Aaai. selamanya aku paling tidak perCaya terhadap takdir."
katanya. "Tetapi sekarang aku telah mempercayainya. Gak In
Ling, semua persoalan yang bakal terjadi dikolong langit telah
digariskan oleh takdir,janganlah ragu-ragu untuk
menerimanya."
Sambil berkata ia maju kedepan dan menyusupkan kitab
pusaka tadi kedalam genggaman si anak muda itu, katanya.
"Peristiwa dinodainya anak murid dari gadis suci dari
Nirwana benar-benar telah terjadi, gadis-gadis tersebut
setelah diperkosa telah dibunuh secara sadis dan orang yang
melakukan perbuatan terkutuk itu memiliki bayangan
punggung persis seperti potongan badanmu, sekarang gadis
suci dari Nirwana telah memerintahkan segenap jago lihaynya
untuk memburu jejakmu serta menangkap engkau, dalam
beberapa waktu singkat persoalan ini tak mungkin dapat
diselesaikan dengan sepatah-dua patah belaka, karena itu
gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk melarikan
diri untuk mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk

462
menyembunyikan diri dari pengejaran mereka, gunakan
peluang ini untuk melatih ilmu telapak mautmu hingga
berhasil. orang yang telah memfitnah dirimu pasti tak akan
tahu kalau engkau telah menyembunyikan diri, jika ia sudah
tertangkap oleh gadis suci dari Nirwana maka urusanmupun
pada saat itu akan menjadi beres dengan sendirinya."
Mendengar perkataan itu dengan gemas dan penuh kebencian
Gak In Ling berseru.
"Gadis suci dari Nirwana benar-benar seorang perempuan
yang menjemukan, siapa salah siapa benar belum diselidiki
hingga jelas, namun ia selalu memaksa dan mendesak aku
orang she Gak terus menerus. Hm, suatu ketika..."
"Waktu tempo hari kau tinggalkan hutan bunga Bwee, ia
telah menyusul dirimu hingga tiba dibawah kaki bukit Tiang
pek-san, tetapi ia gagal berjumpa dengan dirimu, karena
itulah dia lantas mengira kau telah menggunakan kesempatan
itu untuk membalas dendam terhadap dirinya." ujar ciangliong-
sian dengan cemas. Tidak menunggu Gak In Ling buka
suara, kembali dia berkata lebih lanjut.
"Kalau dihitung waktunya, sebentar lagi mereka pasti sudah
akan datang kemari, aku merasa tidak leluasa untuk berdiam
terlalu lama disini, cepatlah kau menyingkirkan diri " Habis
berkata ia segera enjotkan badan dan berlalu lebih dahulu dari
tempat itu.
Memandang kearah bayangan punggung ciang liong-sian
yang lenyap dibalik kegelapan, Gak Ia Ling bergumam seorang
diri.
"Engkau telah lupa bahwa aku Gak In Ling telah menderita
luka dalam yang sangat parah."
Sorot matanya perlahan-lahan menyapu sekejap kesamping
kiri dan kanan, kemudian dia menggerakkan tubuhnya siap
berlalu dari situ.

463
Mendadak dari arah depan berkumandang datang suara
teguran seorang perempuan yang bernada dingin dan ketus.
"Gak In Ling, kau hendak melarikan diri ke mana?"
Gak In Ling menengadah keatas, dia lihat tongkat emas
seruling perak Leng Siang Ji telah menghadang jalan perginya,
diatas kerutan wajahnya yang tua dan ketus penuh diliputi
hawa nafsu membunuh yang tebal.
Menyaksikan kehadiran jago tua itu, diam-diam Gak In Ling
berpikir didalam hati kecilnya.
"oh, diapun sudah dikirim kemari, nampaknya nasibku pada
hari ini jauh lebih banyak jeleknya daripada untungnya."
Sesudah termenung sebentar, ia menjawab dengan dingin.
"Kenapa aku harus melarikan diri ?"
"Hm, benar engkau tak usah melarikan diri sebab tak
mungkin bagimu untuk meloloskan diri dari sini "sahut tongkat
emas seruling perak Leng Siang Ji sambil mendengus dingin.
Gak In Ling mengerutkan sepasang alis matanya, kemudian
membantah.
"Bukannya aku tak mampu meloloskan diri, aku merasa
tiada alasan untuk melarikan diri."
Tiba-tiba dari arah dua puluh tombak dibelakang tubuhnya
berkumandanglah suara seruan merdu yang bernada dingin.
"Gak In Ling, kau pandai sekali berlagak pilon " menyusul
suara itu berkelebatlah enam sosok bayangan manusia.
Dari suara teguran tersebut, Gak In Ling segera
mengetahui siapakah yang telah datang, dia alihkan sorot
matanya menyapu sektjap kearah gadis suci dari Nirwana, Suput-
siang serta keempat orang dayangnya yang baru saja
melayang turun keatas tanah, lalu dengan nada ketus
katanya. "Leng-cu, kembali kita berjumpa muka lagi"

464
Gadis suci dari Nirwana alihkan sorot matanya kearah
pemuda itu, ketika menyaksikan air muka Gak In Ling yang
pucat bagaikan mayat, bibirnya yang kecil menggetar seperti
mau mengucapkan sesuatu, kakinya melangkah setindak ke
depan, semuanya itu merupakan semacam reaksi yang leluasa
dan bukan suatu kesengajaan-
Tetapi hanya satu tindak ia maju kedepan untuk kemudian
berhenti kembali, sekuat tenaga ia menahan pergolakan
batinnya yang kalut, sinar matanya dialihkan kearah lain dan
kemudian ujarnya dengan ketus.
"Mulai detik ini, kita sudah tiada kesempatan lagi untuk
berjumpa muka dilain waktu"
Gak In Ling tertawa dingin, sambil menyeka noda darah
yang melekat diujung bibirnya ia mengejek.
"Apakah Leng-cu yakin bisa melakukan hal tersebut"
"Tentu saja "jawab gadis suci dari Nirwana sambil
mengangguk. nada suaranya dingin dan ketus.
"Hee hee hee sekarang kau baru dapatkan kesempatan itu
" ejek Gak In Ling sambil tertawa dingin.
Sepasang alis mata gadis suci dari Nirwana kontan
berkernyit, dengan penuh kegusaran teriaknya.
"Dahulu juga ada kesempatan, tetapi pada waktu itu
nonamu merasa tak tega dan ingin mengampuni selembar
jiwamu, sungguh tak nyana kau bajingan tengik, bangsat
cabul yang tak tahu diri, betul-betul terkutuk. bukannya
berterima kasih karena sudah diampuni, malahan datangkan
bencana pada anak murid kami."
Makian "bajingan tengik" atau "bangsat cabul" itu seketika
mengobarkan hawa amarah dalam dada Gak In Ling, tak bisa
ditahan lagi ia membentak dengan penuh kegusaranTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
465
"Engkau tak becus menghadapi persoalan, sungguh
memalukan sebagai seorang pimpinan masyarakat. Aku jadi
menguatirkan keselamatan dari sesama umat persilatan, lebihlebih
merasa sayang bagi keadilan serta kebenaran dalam
dunia kangouw, karena orang yang mengepalai mereka
ternyata adalah seorang pemimpin tolol dan goblok hingga
tidak ketolongan lagi "
Gadis suci dari Nirwana sama sekali tidak gusar, sambil
tertawa dingin ia hanya berkata.
"Gak In Ling, kau benar-benar tenang dan pandai
membawa diri."
"Hee hee hee tiada persoalan yang bisa membuat hatiku
jadi gugup atau gelisah," sahut si pemuda ketus.
"Engkau sudah melupakan tiga lembar jiwa dibawah kaki
bukit Tiang-pek-san ?"
"Aku tidak pernah membunuh orang dibawah kaki bukit
Tiang-pek-san "
"Engkau ingin menyangkal?" bentak gadis iuci dari Nirwana
dengan penuh kegusaran
"Tetap perkataan semula, aku tak pernah melakukannya."
teriak pula Gak In Ling dengan marah.
"Hm Gak In Ling, kenyataan sudah tertera didepan mata,
kau masih ingin menyangkal ?"
"Leng-cu, buat apa banyak bicara dengan bajingan cabul
itu ?" timbrung Su-put-siang dari samping. "Lebih baik cepatcepat
kita jagal saja bukankah beres ?" Gak In Ling tertawa
dingin-
"Hee hee. ... hee akupun ingin sekali menjajal kemampuan
dari para jago lihay dibawah perintah Yau-ti leng-cu, siapa
yang akan memberi petunjuk kepadaku?"

466
"Gak In Ling, kemari, ayo maju. Aku akan melayani dirimu
untuk bergebrak beberapa jurus." seru tongkat emas seruling
perak Leng Siang Ji sambil melangkah maju kedepan
Gak In Ling telah menyadari bahwa persoalan yang terjadi
pada saat ini akhirnya tokh harus diselesaikan lewat
kekerasan, maka secara memaksakan diri hawa murninya
segera dihimpun keseluruh badan, sisa hawa murninya
sebesar dua bagian dikerahkan kedalam telapak, kemudian
serunya dengan nada menyeramkan. "Ayolah cepat turun
tangan "
Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji berpaling dan
memandang sekejap kearah gadis suci dari Nirwana, ketika
dilihatnya air muka Leng cu-nya berubah tak menentu ia jadi
takut kalau pemimpinnya ini secara tiba-tiba merubah
rencananya ditengah jalan dan melepaskan Gak In Ling, maka
sambil berpaling telapak tangannya segera didorong kedepan
melancarkan serangan denganjurus Tui-san-tiam-hay atau
mendorong bukit membendung samudra, bentaknya.
"Sambutlah seranganku ini "
Pada saat itu Gak In Ling menderita luka dalam yang
sangat parah, ia tahu berusaha menghindarkan diri hanyalah
membuang tenaga dengan percuma, tokh akhirnya tetap akan
menderita kalah, dan kalau tubuhnya sudah tidak berkutik
maka ia bakal dijagal secara keji, karena itu dia mengambil
keputusan untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
Ingatan tersebut berkelebat dalam benak Gak In Ling
dengan cepatnya, melihat serangan sudah tiba dia segera
membentak keras. "Bagus sekali datangnya seranganmu itu"
Sepasang telapaknya bekerja bersama, dengan
mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya ia sambut
datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

467
"Blaaam" ditengah bergeletarnya suara yang memekakkan
telinga, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa,
pusaran angin tajam berdesing keras.
Sepasang biji mata gadis suci dari Nirwana yang jeli
menatap tajam wajah Gak In Ling tanpa berkedip. tampak
olehnya pemuda itu mundur sempoyongan kebelakang sejauh
enam-tujuh langkah dari tempat semula, tubuhnya pada saat
ini sudah berada ditepi jurang.kalau dia mundur selangkah lagi
niscaya badannya sudah tercebur ke dalam sungai.
Darah bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya
dari ujung bibirnya yang tersungging senyuman sinis, begitu
keras kepala dan pedih pancaran sinar wajahnya membuat
orang merasa iba.
-oo0dw0oo-
Jilid 14
AIR muka gadis suci dari Nirwana berubah hebat, tanpa
sadar dia maju dua langkah ke depan, bibirnya bergetar
berulang kali, seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi tak
sepatah katapun yang sempat meluncur keluar, karena itu
siapa-pun tidak tahu apa yang hendak diucapkan olehnya.
Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji sendiri, setelah
berhasil menghajar mundur Gak In Ling wajahnya tetap
dingin, sambil tertawa dia berkata. "Gak In Ling, coba
tengoklah kearah belakang "
"Hee hee hee tak usah dilihat lagi, kalau mau pamerkan
kehebatanmu lebih baik hajar dulu diriku sampai tercebur
kedalam sungai."
Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji tidak
menyangka kalau Gak In Ling masih bersikap demikian tenang
walaupun kematian sudah berada diambang pintu, tak tahan
lagi ia berkata.

468
"Gak In Ling, kau memang mempunyai kelebHan yang
tidak dimiliki orang lain, tetapi aku tak dapat mengampuni
dirimu "
"Ha haa haa kau anggap aku sedang mengharapkan
pengampunan dari kalian?"
Air muka tongkat emas seruling perak berubah jadi dingin
bagaikan es, serunya. "Baik, baik akan kubuktikan apakah
benar engkau sama sekali tidak takut mati ?"
Seraya berkata sepasang telapaknya perlahan-lahan
diangkat keatas dan didorong kearah dada Gak In Ling.
Pada saat ini apabila telapak tersebut bersarang diatas
dada sianak muda itu, niscaya dia bakal tercebur kedalam
sungai. Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada
dingin.
"Tunggu sebentar, dibawah kekuasaanku selamanya tak
kubunuh orang yang masih belum puas, Gak In Llog Apakah
engkau ingin mengetahui siapakah saksinya ?" Gak In Ling
tertawa dingin.
"Hee hee hee. ... aku tak pernah membunuh orang, kenapa
mesti takut berhadapan dengan saksi ?" serunya.
"Hm Mungkin kau masih belum tahu kalau saksinya adalah
dia."
"Siapa ?"
Gadis suci dari Nirawana berpaling kebelakang dan berseru.
"Heng-tay, silahkan unjukkan diri "
"Aku telah datang" bentakan keras berkumandang dari
kejauhan, disusul munculnya secara tiba-tiba seorang lelaki
kekar bagaikan raksasa di tengah gelanggang.
Begitu melihat orang yang muncul, Gak In Ling merasa
terperanjat, serunya dengan cepat.

469
"oooh, rupanya saudara..."
Siapakah orang itu ? Ternyata dia bukan Iain adalah
manusia bertato sembilan naga.
Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia
kasar yang polos danjujur, ketika menjumpai Gak In Ling
berdiri disitu, dengan sepasang mata melotot besar dia segera
putar toya baja sambil meraung keras.
"Tempo hari aku manusia bertato sembilan saga salah
menganggapmu sebagai malaikat, sebagai dewa yang agung,
sungguh tak nyana sebenarnya engkau adalah seorang
bajingan tengik... seorang manusia cabul yang terkutuk mari
mari coba rasakanlah sebuah gebukan toya bajaku ini"
Sambil berkata dia ayunkan toya bajanya dan siap
dHantamkan kearah tubuh pemuda itu. Gak In Ling tertawa
tawa, katanya.
"Tunggu sebentar, apakah heng-tay melihat jelas apakah
perbuatan itu akukah yang melakukannya ?"
Dengan penuh kegusaran manusia bertato sembilan naga
melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sahutnya.
"Sekalipun engkau sudah hangus jadi abu aku akan
mengenali dirimu setelah melihat potongan badanmu, kau
masih ingin menyangkal lebih jauh?"
Gak In Ling tertawa sedih, jawabnya. "Selama ini aku selalu
menganggapmu sebagai satu-satunya sahabat karibku, oleh
karena itu belum pernah kita saling beradu kekuatan, rupanya
ini hari aku harus mencoba keampuhan ilmu silat dari heng tay
"
Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia
yang berwatak berangasan, mendengar ucapan itu dia segera
ayunkan toya bajanya sambil meraung keras. "Apakah kau
anggap aku takut kepadamu ? Sambutlah seranganku ini"

470
Sambil membentak keras dengan jurus "Lek gang.ngo-ti"
atau membumi- ratakan lima bukit, telapaknya langsung
disodok kearah dada GakIn Ling.
Angin pukulan menderu bagaikan tajamnya golok. d