Anda di halaman 1dari 15

SYOK

Syok adalah ketidaknormalan dari system sirkulasi yang mengakibatkan tidak adekuatnya
perfusi organ dan oksigenasi jaringan. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menangani
syok adalah mengenali gejala-gejala syok, kemudia mengidentifikasi kemungkinana penyebab
kondisi syok. Pada pasien trauma, proses ini berkaitan langsung dengan mekanisme trauma.
Kebanyakan pasien syok adalah akibat hipovolemia, namun dapat juga diakibatkan oleh
kardiogenik, neurogenik, dan bahkan dapat diakibatkan oleh septic syok. Neurogenik syok
diakibatkan oleh pasien dengan cedera berat pada sistem saraf pusat atau pada medulla spinalis.
Septic syok jarang terjadi, namun perlu dipertimbangkan pada pasien yang terlambat datang ke
rumah sakit. okter yang menangani pasien hendaknya menga!ali dengan mengenali adanya
syok dan penanganan selanjutnya harus dimulai secara bersamaan dengan identifikasi
kemungkinan penyebab syok.
Fisiologi dasar jantung
"ardiac #utput didefinisikan sebagai volume darah yang dipompa jantung per menit, ini
ditentukan dengan mengalikan denyut jantung dengan stroke volume. Stroke volume sendiri
adalah jumlah darah yang dipompa pada setiap kontraksi jantung, yang secara umum ditentukan
oleh$ %&' Preload, %(' Myocardial contractility, dan %)' Afterload.
Patofisiologi kehilangan darah
*espon dini terhadap kehilangan darah adalah mekanisme kompensasi tubuh berupa
vasokonstriksi di kulit, otot, dan sirkulasi visceral untuk menjaga aliran darah yang cukup ke
ginjal, jantung, dan otak. Pelepasan katekolamin-katekolamin endogen akan meningkatkan
tekanan darah diastolic dan menurunkan tekanan nadi tetapi hanya sedikit meningkatkan perfusi
organ. +ormon-hormon lainnya yang bersifat vasoaktif juga dilepaskan dalam kondisi syok,
seperti histamine, bradikinin, b-endorphin dan sejumlah prostanoids dan sitokin lainnya.pada
syok perdarahan yang dini, mekanisme pengembalian darah vena dilakukan dengan mekanisme
kompensasi dari kontraksi volume darah dalam system vena yang tidak berperan dalam
pengaturan tekanan vena sistemik. ,etode yang paling efektif dalam mengembalikan cardiac
output dan perfusi end-organ adalah dengan menormalkan kembali venous return dengan
menambah volume cairan tubuh-darah.
Pemberian cairan elektrolit isotonik dalam jumlah yang cukup akan membantu untuk
mela!an proses syok. Pengelolaan yang dilakukan antara lain memberikan oksigenasi yang
cukup, ventilasi, dan resusitasi cairan yang tepat. *esusitasi bisa diikuti dengan terjadinya
peningkatan edema interstisial yang disebabkan oleh cidera reperfusi pada membran kapiler
interstisial. .kibatnya, jumlah volume cairan yang diperlukan untuk resusitasi lebih banyak dari
yang diperkirakan. Pengobatan a!al syok diarahkan pada pemulihan perfusi seluler serta organ,
dengan darah yang telah dioksigenasi. "ontrol perdarahan dan pengembalian volume darah
sirkulasi yang adekuat adalah tujuan utama dalam penanganan syok hemoragik.
Mengenal kondisi dan gejala Syok
,ekanisme kompensasi syok dapat mencegah penurunan tekanan darah sistolik hingga
kehilangan volume darah pasien mecapai )/0, karena itu hasil tekanan darah sistolik tidak bisa
diandalkan dalam indikator klinis syok. Perhatian khusus diarahkan pada denyut nadi, laju
pernafasan, perfusi kulit, dan tekanan nadi %perbedaan tekanan sistolik-diastolik'. 1akikardia dan
vasokonstriksi kulit adalah fase fisiologis dini yang khas terhadap kehilangan volume darah pada
kebanyakan orang de!asa. Kadang denyut jantung normal bahkan bradikardia saat pengurangan
darah akut. Nilai hematokrit atau kadar hemoglobin tidak dapat diandalkan untuk
memperkirakan jumlah krhilangan darah akut dan tidak tepat untuk diagnose syok. Kehilangan
banyak darah secara akut mungkin hanya mengakibatkan penurunan minimal pada hematokrit
atau hemoglobin.
Syok Hemoragik
Perdarahan merupakan penyebab syok paling umum pada trauma dan hampir semua
pasien dengan multiple trauma terjadi hipovolemia. Sebagai tambahan, kebanyakan pasien
dengan syok non-hemoragik memberikan respon yang singkat terhadap resusitasi cairan, namun
tidak lengkap %parsial'. #leh karena itu, bila terdapat tanda-tanda syok pada pasien trauma, maka
penanganannya dilakukan sebagaimana pasien hipovolemia. 2okus utama pada syok hemoragik
adalah mengidentifikasi dan menghentikan perdarahan dengan segera.
Perdarahan adalah kehilangan volume darah sirkulasi secara akut. 3alaupun ada variasi,
volume darah orang de!asa normal mendekati 40 dari berat badan. 5eberapa faktor dapat
mempengaruhi respone hemodinamik klasikal terhadap kehilangan volume darah sirkulasi akut.
2aktor-faktor tersebut meliputi$
6mur pasien
Parahnya cedera, difokuskan pada tipe dan lokasi anatomi cedera
*entang !aktu antara cedera dan penanganan
Pemberian cairan pra-rumah sakit
Penggunaan obat-obatan sebelumnya untuk kondisi kronis
&. Perdarahan kelas 7 8 kehilangan volume darah hingga &90
:ejala klinis dari derajat ini biasanya tidak terlihat, tidak terjadi perubahan dalam
tekanan darah, nadi, atau frekuensi pernafasan
(. Perdarahan kelas 77 8 kehilangan volume darah &90 - )/0
1anda klinis meliputi takikardia, takipnea, dan tekanan nadi yang menurun.
6mumnya dapat distabilkan dengan cairan kristalloid
). Perdarahan kelas 777 8 kehilangan volume darah )/0 - ;/0
Kehilangan darah kira-kira (///ml pada orang de!asa. Pasien hampir memiliki
semua tanda klasik perfusi organ. Pada derajat ini pasien hamper selalu membutuhkan
transfusi darah.
;. Perdarahan kelas 7< 8 kehilangan volume darah lebih dari ;/0
Pada derajat ini kehilangan darah sangat berat %mengancam ji!a'. :ejala meliputi
takikardia yang sangat jelas, penurunan tekanan darah sistolik yang signifikan dan ekanan
nadi yang sangat kecil. Produksi urin hamper tidak ada dan kesadaran menurun. Kulit
dingin dan pucat. Pasien seringkali membutuhkan transfuse dan intervensi pembedahan
segera.
Syok nonhemoragik
&. Syok Kardiogenik
isfungsi myocardial dapat disebabkan oleh trauma tumpul jantung, tamponade
jantung, emboli udara, atau yang jarang infark miocard yang berhubungan dengan cedera
pasien. 5ila mekanisme cedera pada torak merupakan deselerasi, maka harus dicurigai
adanya trauma tumpul jantung. Semua penderita trauma tumpul toraks memerlukan
pemantauan =K: terus menerus untuk mengetahui pola cedera dan ada tidaknya
disritmia. 1amponade jantung paling sering ditemukan pada trauma tembus toraks, tetapi
dapat juga diakibatkan oleh trauma tumpul toraks. 1akikardia, bunyi jantung menjauh
%muffled heart sound', pelebaran dan penonjolan vena-vena leher, dan hipotensi yang
tidak dapat diatasi dengan terapi cairan merupakan tanda tamponade jantung. 1ension
pneumotoraks bisa mirip dengan tamponade jantung, namun bedanya tidak ada bunyi
nafas dan adanya perkusi hipersonor dibagian hemitoraks yang terkena. Penanganan
terbaik tamponade jantung adalah dengan operasi %torakotomi'. Pericardiocentesis dapat
digunakan untuk tindakan sementara bila operasi tidak dapat dilakukan segera.
(. 1ension Pneumothora>
1ension pneumothora> merupakan keadaan ga!at darurat bedah yang memerlukan
diagnosa dan penanganan segera. 1ension pneumothora> terjadi kearena adanya udara
yang masuk ke rongga pleura, tetapi tidak dapat keluar kembali. 1ekanan intrapleural
meningkat mengakibatkan paru-paru kolaps dan terjadi pergeseran mediastinum ke sisi
yang normal yang diikuti dengan terganggunya aliran darah balik ke jantung dan
penurunan output jantung. .danya gangguan nafas spontan, emfisema subkutanm
menghilangnya suara nafas pada auskultasi, hipersonor pada perkusi, dan pergeseran
trakea mendukung diagnosis pneumotoraks. Perlu segera dekompresi toraks tanpa
menunggu hasil rontgen untuk konfirmasi diagnosis.
). Syok Neurogenik
.danya syok pada pasen dengan cedera kepala memerlukan pemeriksaan untuk
mencari penyebabnya selain cedera intracranial. "edera saraf tulang belakang dapat
menyebabkan hipotensi karena hilangnya tonus simpatis vaskuler. :ambaran klasik dari
syok neurogenik adalah hipotensi tanpa disertai takikardia atau vasokonstriksi kulit.
;. Syok Septic
Syok karena infeksi yang terjadi sesaat setelah trauma jarang terjadi. Namun bila
pasien terlambat sampai ke 6:, dapat terjadi syok septic. Syok septic dapat terjadi pada
pasien dengan luka tembus abdomen dan kontaminasi pada rongga peritoneal dan isi
usus. Pasien dengan sepsis yang hipotensif dan tidak febris secara klinis sulit dibedakan
dengan syok hipovolemik karena keduanya memiliki manifestasi berupa takikardia,
vasokonstriksi kulit, produksi urin menurun, penurunan tekanan sistolik, dan
mengecilnya tekanan nadi. Pasien dengan syok septic tahap a!al bisa dengan volume
sirkulasi yang normal, takikardia sedang, kulit hangat dan kemerahan, tekanan sistolik
hamper normal dan tekanan nadi yang cukup.
Cedera pada jaringan lunak
"edera jaringan lunak dan patah tulang yang berat dapat member gangguan keadaan
hemodinamik pasien yang cedera dengan dua cara. %&' darah hilang menumpuk pada tempat
cedera, terutama pada patah tulang panjang. %(' edema yang terjadi pada jaringan lunak yang
mengalami cedera. 5anyaknya cairan yang hilang tergantung beratnya cedera pada jaringan
tersebut. "edera jaringan lunak mengakibatkan aktivasi terhadap respon peradangan sistemik dan
produksi serta pelepasan banyak sitokin.
Tatalaksana syok hemoragik
&. A$ ,enjamin air!ay dengan ventilasi
(. ! berikan oksigenasi yang adekuat
). C! Kontrol perdarahan
;. "! pemeriksaan neurologic singkat untuk menentukan tingkat kesadaran, pergerakan
mata, respon pupil, fungsi motorik dan sensorik
9. #! pasien diperiksa dengan seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk mencari
cedera penyerta
?. ekompresi lambung dengan memasang N:1 karena pasien dengan trauma khususnya
pada anak-anak seringkali mengalami dilatasi lambung yang dapat menimbulkan aspirasi
isi lambung.
4. Pemasangan Kateter urin untuk melihat adanya hematuria dan evaluasi terhadapa ada
tidaknya perfusi ginjal
@. .kses vaskular untuk memasukkan cairan, seringkali darah juga diambil untuk
pemeriksaan golongan darah, crossmatch, pemeriksaan laboratorium yang sesuai,
pemeriksaan toksikologi, dan dapat juga analisa gas darah
A. Pantau produksi urin, untuk memantau alirang darah ginjal. Produksi urin normalnya /.9
ml-kg-jam pada orang de!asa, &ml-kg-jam pada anak-anak dan (ml-kg-jam pada bayi
%kurang dari & tahun'.
&/. Pantau keseimbangan asam-basa. Pasien dalam kondisi syok hipovolemik dini akan
mengalami alkalosis respiratorik karena takipnea. .lkalosis respiratorik seringkali diikuti
oleh asidosis metabolic ringan pada fase a!al syok dan tidak membutuhkan terapi.
Terapi $airan a%al
1erapi a!al cairan yang dapat diberikan adalah larutan elektrolit isotonic hangat, seperti
*inger Laktat atau normal saline, karena cairan ini mengisi volume intravaskuler dalam !aktu
yang singkat dan juga menstabilkan volume vaskuler dengan cara menggantikan kehilangan
cairan penyerta yang hilang ke dalam ruang interstisial dan intraseluler. Pada tahap a!al bolus
cairan hangat diberikan secepatnya. osis umumnya &-( liter untuk de!asa dan (/ml-kg untuk
anak-anak.
Transfusi darah
Keputusan untuk memberikan transfusi darah didasarkan pada respon pasien. 1ujuan
utama transfusi darah adalah untuk mengembalikan kapasitas angkut oksigen di dalam volume
intravaskuler. Pemberian darah sesuai crossmatch lebih baik, namun proses crossmatching
memerlukan !aktu kurang lebih & jam. arah yang ditransfusi serta cairan kristalloid yang
diberikan baiknya dihangatkan terlebih dahulu hingga )A
o
" untuk mencegah hipotermia.
1rauma yang berat dengan perdarahan masif akan meningkatkan penggunaan faktor-
faktor pembekuan darah dan menimbulkan koagulopati. 1ransfusi masif akan menghasilkan
dilusi platelet dan faktor-faktor pembekuan darah bersamaan dengan gangguan agregasi platelet
dan clotting cascade akan menyebabkan timbulnya koagulopati pada pasien trauma.
1*.6,. 1=*,.L
1rauma termal menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. ,enguasai
prinsip-prinsip dasar resusitasi a!al pada pasien trauma dan menerapkan tindakan sederhana
pada saat yang tepat dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Prinsip yang dimaksud adalah
ke!aspadaan yang tinggi akan terjadinya gangguan jalan napas pada trauma inhalasi, identifikasi
dan pengelolaan trauma mekanik, serta mempertahankan hemodinamik dalam batas normal
melalui resusitasi cairan. okter penolong juga harus !aspada dalam melaksanakan tindakan
untuk mencegah dan mengobati penyulit trauma termal, seperti misalnya rhabdomiolisis dan
gangguan irama jantung yang sering terjadi pada luka bakar. "ontrol suhu tubuh dan
menyingkirkan pasien dari lingkungan yang berbahaya juga merupakan prinsip utama
pengobatan luka termal.
Tindakan Penyelamatan segera pada luka &akar
'( Air%ay
Laring dapat melindungi subglottis dari trauma panas langsung, namun supraglottis
sangat mudah mengalami obstruksi akibat trauma panas. iperlukan ke!aspadaan
adanya obstruksi yang mengancam jalan nafas pada trauma panas karena tanda-tanda
terjadinya obstruksi a!al tidak jelas. 7ndikasi klinis adanya trauma inhalasi antara lain$
Luka bakar yang mengenai !ajah dan-atau leher
.lis maa dan bulu hidung hangus
.danya timbunan karbon dan tanda peradangan akut orofaring
Sputum yang mengandung karbon - arang
Suara serak
*i!ayat gangguan mengunyah dan-atau terkurung dalam api
Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan
Kadar karboksihemoglobin B &/0 seelah terbakar
5ila ditemukan salah satu dari keadaan di atas, sangat mungkin terjadi trauma
inhalasi yang memerlukan penanganan dan terapi definitive, termasuk pembebasan jalan
nafas. 1rauma inhalasi merupakan indikasi untuk merujuk ke pusar luka bakar. .danya
stridor, perjalanan ke tempat rujukan membutuhkan !aktu lama, atau luka bakar yang
melingkari leher yang mengakibatkan pembengkakan jaringan sekitar jalan nafas
merupakan indikasi intubasi untuk menjamin jalan nafas.
)( Menghentikan proses luka &akar
+al yang harus pertama kali dilakukan adalah menanggalkan seluruh pakaian untuk
menghentikan proses trauma bakar. 5ahan pakaian sintesis, mudah dan cepat terbakar
pada suhu tunggu akan meleleh dan meninggalakn residu panas yang akan terus
membakar pasien. 5ubuk kimia kering dibersihkan dengan cara menyapu dengan hati-
hati untuk menghindari terjadinya kontak langsung. Permukaan tubuh yang terkena
dicuci dengan air bersih dan mengalir dan selanjutnya pasien diselimuti dengan kain
hangat bersih dan kering untuk mencegah hipotermi.
*( Pem&erian $airan intra+ena
Setiap pasien luka bakar lebih dari (/0 luas permukaan tubuh memerlukan resusitasi
cairan. Kateter vena ukuran besar %minimal C&?' dipasang pada vena perifer. Sebaiknya
akses intravena dipasang pada daerah yang tidak terkena luka bakar, namun bila dalam
keadaan terpaksa dapat dipergunakan pada area yang terkena luka bakar bila lebih
mudah. <ena ekstremitas atas menjadi pilihan, karena bila dipasang pada ekstremitas
ba!ah komplikasi terjadinya flebitis pada vena saphena cukup tinggi. "airan yang
diberikan dimulai dengan *inger Laktat.
Penilaian pasien luka &akar
Anamnesa
.namnesis ri!ayat trauma sangat penting untuk penanganannya. .namnesis dari pasien
sendiri atau keluarga, hendaknya mencakup ri!ayat penyakit yang diderita serta pengobatan
yang sedang dilakukan. Penting juga untuk mengetahui ri!ayat alergi dan status imunisasi
tetanus.
,uas ,uka akar
The rule of nines merupakan cara praktis untuk menentukan luas luka bakar. 1ubuh
manusia de!asa dibagi menurut pembagian anatomis bernilai A0 atau kelipatan dari A0 dari
keseluruhan luas tubuh. 6ntuk luka bakar yang distribusinya tersebar, rumus luas permukaan
telapak tangan %termasuk jari-jari' pasien sama dengan &0 luas permukaan tubuhnya dapat
membantu memperkirakan luas luka bakar.
Kedalaman luka &akar
Kedalaman luka bakar penting untuk menilai beratnya luka bakar, merencanakan pera!atan
luka, dan memprediksi hasil dari segi fungsional maupun kosmetik.
&. ,uka &akar derajat - %misal$ sengatan matahari' ditandai dengan adanya eritema, nyeri,
dan tidak ada bulla. Luka bakar derajat 7 tidak berbahaya dan tidak memerlukan
pemberian cairan intravena
(. ,uka &akar derajat -- atau Partial thi$kness &urns ditandai dengan !arna kemerahan
atau campuran disertai pembengkakan dan bulla. Permukaan basah, berair, serta nyeri
hebar meskipun hanya tersapu aliran udara.
). ,uka &akar derajat --- atau full thi$kness &urns menyebabkan luka kehitaman dan
kaku. 3arna kulit bisa terlihat putih seperti lilin, merah, sampai kehitaman. 3arna kulit
ini tidak berubah menjadi pucat dengan penekanan, tidak merasa nyeri dan kering.
P.-MA.Y S/.0#Y
Air%ay
.danya ri!ayat terkurung api atau terdapat tanda-tanda trauma jalan nafas, memerlukan
pemeriksaan jalan nafas dan tindakan definitive. 1rauma bakar faring atas menyebabkan edema
hebat pada jalan nafas bagian atas. ,anifestasi klinis trauma inhalasi mungkin perlahan-lahan
dan belum Nampak dalam (; jam pertama.
reathing
Penanganan a!alnya didasarkan tanda dan gejala yang ada, antara lain$
1rauma bakar langsung, menyebabkan edema dan-atau obstruksi jalan nafas bagian atas
7nhalasi hasil pembakaran %partikel karbon' dan asap beracun menyebabkan
trakheobronkhitis kimia!i, edema, dan pneumonia
Keracunan karbon monoksida %"#'
iagnosis terjadinya keracunan "# ditegakkan bila seseorang berada di lingkungan yang
mengandung gas "#, seperti berada dalam ruang tertutup. Pasien dengan kadar "# D (/0
biasanya belum menunjukkan gejala. Kadar "# yang lebih tinggi menmbulkan$ %&' sakit kepala
dan mual %(/-)/0', %(' kebingungan %)/-;/0', %)' coma %;/-?/0', dan akhirnya kematian
%B?/0'. Kulit yang ber!arna merah anggur %cherry-red' jarang ditemukan.
Penanganan a!al trauma inhalasi sering memerlukan intubasi endotrakheal dan ventilasi
mekanik. Sebelum intubasi, pasien diberikan oksigen dengan pelembab. 7ntubasi dilakukan lebih
a!al pada pasien dengan kemungkinan terjadi trauma jalan nafas. .nalisa gas darah diperlukan
untuk mengetahui fungsi paru. .pabila keadaan hemodinamik pasien memungkinkan dan trauma
spinal dapat disingkirkan, menaikkan kepala dan dada (/
/
sampai )/
/
dapat mengurangi edema
leher dan dada. Luka bakar derajat 777 yang mengenai dinding dada anterior dan lateral dapat
menyebabkan terbatasnya pergerakan dinding dada dan bila hal ini terjadi perlu dilakukan
eskaratomi.
0olume sirkulasi darah
Pada (; jam pertama penderita luka bakar derajat 77 dan 777 memerlukan cairan *L (-
;ml-kg55 tiap 0 luka bakar untuk mempertahankan volume darah sirkulasi dan fungsi ginjal,
dimana E cairan diberikan dalam @jam setelah terjadinya trauma, dan E sisanya diberikan dalam
&? jam berikutnya. Luka bakar derajat 777 dan adanya komplikasi pada paru memerlukan
resusitasi cairan cepat dan dalam jumlah banyak, sehingga sebaiknya dimulai dengan ; ml-kg55
sambil dinilai respons penderita sesering mungkin. .nak-anak dengan 55 )/kg atau kurang,
selain memperhitungkan formula luka bakar, perlu ditambahkan glukosa untuk mempertahankan
produksi urin &ml-kg-jam.
S#CO1"A.Y S/.0#Y
Pemeriksaan 2isik
alam pemeriksaan fisik harus dievaluasi luas dan dalam luka bakar, periksa cedera
penyerta, dan timbang berat badan pasien untuk terapi cairan
"atatan dokumentasi
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah lengkap, crossmatch untuk golongan darah, kadar
karboksihemoglobin, gula darah, elektrolit, dan analisa gas darah. ilakukan
pemeriksaan radiografi bila curiga ada cedera penyerta.
Sirkulasi perifer pada luka bakar melingkar pada ekstremitas
6ntuk mempertahankan sirkulasi perifer, yang harus dilakukan antara lain$ %&' lepaskan
seluruh perhiasan atau aksesori, %(' nilai keadaan sirkulasi distal, %)' bila ada gangguan
sirkulasi dapat dipertimbangkan untuk dilakukan eskaratomi oleh ahli bedah, %;'
fasiotomi kadang perlu dilakukan pada pasien luka bakar dengan fraktur, crush injury,
trauma listrik, atau mengenai jaringan diba!ah fascia.
Pemasangan N:1
ilakukan bila pasien mengalami mual, muntah, perut kembung, atau luas luka bakar
melebihi (/0 permukaan tubuh.
Narkotika, analgesic, dan sedative
Pasien luka bakar berat seringkali gelisah yang disebabkan hipoksemia dan
hipovolemia, bukan karena rasa nyeri. Pemberian oksigen dan resusitasi cairan biasa
memberikan hasil yang lebih baik, namun bila diperlukan narkotika, analgesic, atau
sedative hendaknya diberikan dalam dosis kecil dan intravena
Pera!atan luka
,enutup luka denan kain bersih dapat mengurangi nyeri. 5ulla yang ada jangan
dipecahkan atau diberikan antiseptic. #bat-obat yang sebelumnya diberikan pada luka
harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum pemberian antibakteri topical. Kompres dingin
pada luka bakar dapat mengakibatkan hipotermia apalagi pada pasien dengan luka bakar
luas
.ntibiotika
Pemberian antibiotika profilaksis tidak dianjurkan pada luka bakar yang baru terjadi.
.ntibiotika ditujukan untuk terapi bila terjadi infeksi
1etanus
Status imunisasi tetanus perlu ditanyakan pada pasien untuk menentukan perlu tidaknya
pemberian anti tetanus.
,uka akar Khusus
,uka akar &ahan kimia
Luka bakar juga dapat disebabkan oleh kontak langsung dengan Fat kimia asam, basa, atau
hasil pengolahan minyak. Luka bakar Fat basa umumnya lebih seriu disbanding asam, karena
basa dapat menembus jaringan lebih dalam. Segera bersihkan Fat kimia dan ra!at luka, karena
berat-ringannya luka bakar kimia tergantung dari lamanya !aktu kontak, konsentrasi, dan
jumlah. :uyur Fat kimia dengan air mengalir sebanyak-banyaknya selama (/-)/ menit. Luka
bakar Fat basa memerlukan !aktu penyemprota air lebih lama. 5ila ada serbuk kimia dibersihkan
dengan sikat untuk menghilangkannya. Gat pena!ar kimia jangan digunakan karena reaksi Fat
kimia menimbulkan panas dan menghasilkan kerusakan jaringan yang lebih parah.
,uka akar ,istrik
Luka bakar listrik disebabkan oleh kontak langsung aliran listrik dengan badan, dan
lukanya lebih serius dari apa yang terlihat dari permukaan. Perbedaan kecepatan hilangnya panas
antara kulit dengan jaringan yang lebih dalam mengakibatkan terlihatnya permukaan kulit
tampak seakan normal, padahal jaringan otot di dalamnya mengalami nekrosis.
T.A/MA "-12-1
5erat ringannya akibat trauma dingin tergantung pada suhu, lamanya kontak, keadaan
lingkungan, jumlah baju penghangat pelingdung, dan keadaan kesehatan pasien. ,akin dingin
suhu, imobilisasi, kontak yang lama, lembab, sudah adanya kelainan pembuluh darah perifer, dan
adanya luka terbuka semuanya akan memperberat trauma. .dapun jenis-jenis trauma dingin
adalah$
&. 2rostnip
2rostnip merupakan bentuk paling ringan trauma dingin, ditandai dengan nyeri, pucat,
dan kesemutan pada daerah yang terkena. engan penghangatan keadaan ini dapat pulih
sempurna tanpa kerusakan jaringan, kecuali bila ada trauma seperti ini berulang dan
berlangsung selama bertahun-tahun yang dapat mengakibatkan jaringan lemak hilang atau
atrofi.
(. 2rostbite
2rostbite adalah pembekuaan jaringan yang diakibatkan oleh pembentukan Kristal es
intraseluler dan bendungan mikrovaskuler sehingga terjadi anoksia jaringan. Kerusakan
jaringan juga terjadi akibat reperfusion injury pada !aktu tubuh dihangatkan. Sama
seperti trauma panas, frostbite juga dibagi menjadi derajat 7, 77, 777, dan 7< tergantung
dari dalamnya kerusakan jaringan
erajat 7$ hyperemia dan edema tanpa nekrosis kulit
erajat 77$ pembentukan vesikel-bulla disertai dengan hyperemia dan edema dengan
nekrosis sebagian lapisan kulit
erajat 777$ nekrosis seluruh lapisan kulit dan jaringan subkutan, biasanya juga
disertai dengan pembentukan vesikel hemoragik
erajat 7<$ Nekrosis seluruh lapisan kulit dan gangrene otot serta tulang
5agian tubuh yang terkena frostbite mula-mula keras, dingin, ber!arna putih, dan mati
rasa yang keudian dengan pemberian terapi berangsur-angsur berubah membaik.
Pembagian derajat seperti diatas sering tidak dapat dipakai untuk menentukan prognosis.
). Non 2reeFing 7njury
Non 2reeFing 7njury disebabkan oleh kerusakan endotel mikrovaskular, stasis, dan
sumbatan vascular. Trench foot atau cold immersion foot/hand adalah merupakan contoh
non freeFing injury tangan dan kaki akibat terkena udara basah terus menerus yang
suhunya masih di atas titik beku, yaitu antara &.?
/
" sampai &/
/
". meskipun selutuh kaki
terlihat hitam, tidak terdapat kerusakan jaringan yang lebih dalam. <asospasme dan
vasodilatasi arteri yang terjadi silih berganti mengakibatkan jaringan yang dingin dan
mati rasa, berubah menjadi hiperemi dalam !aktu (;-;@ jam. +iperemi menimbulkan
rasa nyeri hebat dan adanya kerusakan jaringan ditandai dengan edema, bullae,
kemerahan, ekimosis, dan ulserasi. .kibatnya bisa timbul komplikasi lebih jauh berupa
infeksi local, selulitis, limfangitis, atau gangrene.
Penanganan Frost&ite dan 1on Free3ing -njury
Penanganan harus dilakukan segera untuk memperpendek berlangsungnya pembekuan
jaringan, meskipun demikian penghangatan jangan dilakukan bila pasien memiliki risiko untuk
terkena pembekuan ulang. 5aju yang sempit dan basah ditanggalkan dan diganti dengan selimut
hangat, diberikan minum hangat melalui mulut bila pasien bisa minum. *endam bagian tubuh
yang terkena dalam air hangat ;/
/
" yang berputar, sampai !arna kulit menjadi merah.
Penanganan luka frostbite adalah mencegah kerusakan jaringan dengan mencegah
terjadinya infeksi, mencegah pecahnya vesikel yang tidak terinfeksi, elevasi daerah luka serta
membiarkan jaringan yang luka terkena udara terbuka. 2rostbite jarang diikuti dengan
kehilangan cairan yang memerlukan resusitasi cairan intravena.
Trauma dingin hipotermi sistemik
+ipotermia adalah keadaan dimana suhu tubuh inti diba!ah )9
/
". hipotermia dibagi
menjadi hipotermia tingan %)9
/
- )(
/
"', sedang %)(
/
-)/
/
"', serta berat %diba!ah )/
/
"'. selain
penurunan suhu inti, tanda lain terjadinya hipotermi yang paling sering adalah penurunan
kesadaran. Pasien teraba dingin, tampak kelabu dan sianotik. 1anda-tanda vitsal, termasuk
denyut nadi, frekuensi nafas, dan tekanan darah nilainya bervariasi.
alam penanganan trauma dingin sistemik, tetap lakukan penilaian .5"=, termasuk
resusitasi kardiopulmoner dan pemasangan kateter vena dan infus cairan bila pasien mengalami
henti jantung. "egah hilangnya panas dengan memindahkan pasien dari lingkungan dingin dan
lepaskan baju yang basah dan dingin serta tutup dengan selimut hangat. #ksigen diberikan
melalui sungkup dengan reservoir. .mbil contoh darah untuk pemeriksaan darah lengkap,
elektrolit, gula darah, alcohol, racun-racun, kreatinin, amylase, dan kultur darah. ,enentukan
kematian pada pasien hipotermi sangat sulit. Pasien yang tampak mengalami henti jantung dan
meninggal akibat hipotermi, jangan dinyatakan meninggal sebelum dilakukan penghangatan
sebelumnya.