Anda di halaman 1dari 12

KEJANG DAN EPILEPSI

DISUSUN OLEH:
M. RIFKY SYAHPUTRA HAMI (1301-1206-0212)
PUTRI DWI RALIANTI (1301-1206-0211)
PRE!EPTOR:
ARIS PRIMADI" #$. S%AK
AGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNI&ERSITAS PADJADJARAN'
RUMAH SAKIT D$. HASAN SADIKIN ANDUNG
KE JANG
Kejang adalah gangguan fungsi otak involunter paroksismal yang
disebabkan oleh bangkitan aktivitas listrik dari neuron-neuron Sistem Saraf Pusat
(SSP) yang abnormal dan berlebihan, yang bermanifestasi sebagai gangguan atau
kehilangan kesadaran, aktivitas motorik abnormal, kelainan perilaku, gangguan
sensoris, atau disfungsi otonom,. Beberapa kejang ditandai oleh gerak abnormal
tanpa adanya kehilangan atau gangguan kesadaran.
EPILEPSI
pilepsi adalah keadaan kejang rekurens (berulang) yang tidak terkait
dengan demam atau serangan otak akut. Seseorang dianggap sebagai penderita
epilepsi bila ia telah lebih dari satu kali mengalami bangkitan epilepsi se!ara
spontan atau oleh gangguan yang ringan.
Klasifikasi "nternasional kejang epileptik sebagai berikut#
K()*+, P*$-.*/
o Parsial Sederhana (Kesadaran $etap) dengan gejala-gejala motorik,
sensoris, otonom, dan psikis
o Parsial Kompleks (Kesadaran $erganggu)
o Kejang Parsial dengan %eneralisasi Sekunder
K()*+, M(+0(/1$12
o Absence (Petit Mal)
o $onik Klonik (Grand Mal)
o $onik
o &tonik
o 'ioklonik
K()*+, 0*+, T.#*3 T($3/*-.4.3*-.
o Kejang (eonatal
o Spasme "nfantil
&ktivitas kejang pada kejang parsial terbatas pada area-area yang terpisah
pada korteks serebral dan sering dihubungkan dengan abnormalitas struktur dari
otak. Sedangkan aktivitas pada kejang menyeluruh melibatkan bagian-bagian otak
se!ara simultan dan dihubungkan dengan abnormalitas seluler, biokimia, atau
struktural.
KEJANG PARSIAL
K()*+, P*$-.*/ S(#($2*+*
&ktivitas motorik merupakan gejala yang paling la)im. %erakan ditandai
dengan gerakan klonik atau tonik yang tidak sinkron, !enderung melibatkan
*ajah, leher, dan tungkai. &utomatisme tidak terjadi pada kejang parsial
sederhana. &ura atau perasaan yang dialami penderita pada permulaan serangan
dapat berupa perasaan tidak enak pada dada dan nyeri kepala. +ata-rata kejang
berlangsung selama ,--.. detik.
%ambaran lektroensefalogram (%) penderita dapat menunjukkan
gelombang paku atau gelombang tajam unilateral atau bilateral, atau gambaran
paku multifokal.
K()*+, P*$-.*/ K56%/(3-
Kejang parsial kompleks dapat dimulai dengan kejang parsial sederhana,
dengan atau tanpa aura, lalu disertai dengan gangguan kesadaran, atau sebaliknya
dapat dimulai bersamaan dengan berubahnya keadaan kesadaran. &ura dapat
berupa perasaan tidak enak pada epigastrium dan perasaan ketakutan. Kesadaran
terganggu pada bayi dan anak sukar dinilai. /apat terjadi adanya tatapan kosong
singkat atau penghentian aktivitas anak yang mendadak, hal ini dapat terabaikan
oleh orang tua.
&utomatisme merupakan tanda kejang parsial kompleks yang la)im pada
bayi dan anak-anak. Semakin tua penderita, maka akan semakin besar frekuensi
automatisme. &utomatisme berkembang pas!a kehilangan kesadaran dan dapat
menetap ke dalam fase pas!a kejang, tetapi automatisme tidak diingat kembali
oleh anak. Perilaku automatisme yang diamati pada bayi termasuk menggigit
bibir, mengunyah, menelan, dan ludah berlebihan. %erakan ini dapat
menggambarkan perilaku bayi normal dan sukar membedakannya dengan
automatisme kejang parsial kompleks. Perilaku automatisme pada anak yang lebih
tua dapat berupa sikap yang setengah-setengah, tidak terkoordinasi dan tidak
beren!ana seperti memilih dan menarik pakaian atau sprei, mengusap atau
memeluk benda, dan berjalan atau berlari tanpa tujuan, berulang-ulang, dan sering
ketakutan.
Penyebaran bangkitan epileptiformis dapat mengakibatkan generalisasi
sekunder dengan konvulsi tonik-klonik. Selama penyebaran bangkitan kejang
melalui hemisfer, pemutaran kepala khusus kontralateral, postur distonik, dan
gerakan tonik atau klonik tungkai dan *ajah termasuk kedipan mata dapat
ditemukan. /urasi rata-rata kejang selama ,-. menit.
%ambaran % antar-kejang penderita menunjukkan gambaran
gelombang tajam atau paku-paku setempat, dan gambaran paku multifokus
merupakan temuan yang sering. (amun, sekitar .-0 bayi dan anak mempunyai
gambaran % antar-kejang rutin yang normal.
KEJANG MENYELURUH
K()*+, L.+,/1+, (Absence/Petit Mal)
Kejang petit mal sederhana (khas1tipikal) ditandai dengan penghentian
aktivitas motorik atau bi!ara mendadak, dengan ekspresi *ajah kosong, dan
kelopak mata berkedip-kedip. Kejang ini tidak la)im sebelum umur 2 tahun, lebih
la)im pada anak perempuan.
Kejang ini tidak pernah disertai dengan aura, jarang menetap lebih lama
dari 3- detik, dan tidak disertai dengan status pas!a kejang. $anda-tanda ini
!enderung membedakan kejang linglung dengan kejang parsial kompleks.
Penderita tidak kehilangan tonus, tetapi kepala dapat agak terkulai ke depan.
Sesudah kejang, penderita melanjutkan aktivitasnya sebelum kejang tanpa
gangguan pas!a kejang. Perilaku automatisme seringkali menyertai kejang
linglung sederhana.
%ambaran % menunjukkan gelombang paku khas 31detik dan bangkitan
gelombang menyeluruh.
Kejang linglung kompleks (tidak khas1atipikal) menggabungkan
komponen motorik yang terdiri dari gerakan mioklonik *ajah, jari, atau tungkai
dan kadang-kadang kehilangan tonus tubuh. Kejang ini menghasilkan gelombang
paku % atipikal dan bangkitan gelombang pada .-.,2 detik.
K()*+, T5+.3-K/5+.3 (Grand Mal)
Kejang ini adalah kejang yang sangat umum dan adanya pas!a kejang
parsial yang mulainya setempat (generalisasi sekunder) atau terjadi pada tempat
semula. Kejang ini dapat disertai dengan aura yang menujukkan asal tempat
bangkitan epileptiform. Penting untuk menanyakan mengenai adanya aura, karena
adanya aura dan tempat asalnya dapat menunjukkan daerah patologi. Penderita
kadang-kadang kehilangan kesadaran dan pada beberapa kasus mengeluarkan
tangis melengking dan menusuk. 'ata berputar ke belakang, seluruh otot tubuh
mengalami kontraksi tonik, dan anak dengan !epat menjadi sianosis bersamaan
dengan apneu. 4ase klonik kejang ditunjukkan oleh kontraksi klonik ritmik
berselang-seling dengan relaksasi semua kelompok otot. 4ase klonik melambat ke
arah akhir kejang, yang biasanya menetap selama beberapa menit, dan penderita
sering mendesah ketika kejang berhenti mendadak. Selama kejang, anak dapat
menggigit lidah tetapi jarang muntah. Kehilangan pengendalian sphincter,
terutama kandung ken!ing, adalah la)im selama kejang tonik-klonik.
Pas!a kejang, anak pada mulanya akan semi-koma dan lalu tertidur selama
3- menit hingga . jam. 5ika penderita diperiksa selama kejang atau segera setelah
kejang, didapatkan ataksia trunkus, refleks tendo hiperaktif, klonus dan refleks
Babinsky. 4ase pas!a kejang sering disertai dengan muntah dan nyeri kepala
bifrontal yang berat.
Kejang idiopatik adalah istilah yang dipakai bila penyebab kejang
menyeluruh tidak dapat dipastikan. Banyak faktor yang diketahui memper!epat
kejang tonik-klonik menyeluruh pada anak, termasuk demam ringan yang disertai
dengan infeksi, kelelahan berlebihan atau stres emosi, dan berbagai obat termasuk
obat psikotropik, teofilin, dan metilfenidat.
%ambaran % selama fase tonik menunjukkan peningkatan progresif
dalam aktivitas !epat bertegangan rendah yang menyeluruh, yang diikuti dengan
bangkitan paku-paku beramplitudo besar yang menyeluruh. Pada fase klonik,
aktivitas beramplitudo besar se!ara khas dihentikan oleh gelombang lambat yang
membentuk pola gelombang-paku. %ambaran % pas!a kejang menunjukkan
perlambatan yang menyebar yang perlahan membaik bersamaan penderita sadar.
&da banyak varian dari kejang tonik-klonik menyeluruh, termasuk kejang
tonik murni dan kejang klonik murni. Kejang tonik singkat hanya berlangsung
beberapa detik dan penting karena biasanya berhubungan dengan sindrom
epileptik spesifik yang mempunyai penampakan kejang yang beragam, seperti
sindrom 6enno7-%astaut.
K()*+, A75+.3
Kejang atonik biasanya dimulai pada umur .-2 tahun ditandai dengan
hilangnya tonus otot postural yang mempertahankan sikap tubuh se!ara tiba-tiba
selama ,-. detik. Kesadaran sedikit terganggu, tetapi biasanya pas!a kejang tidak
mengalami kebingungan (confusion). Kejang yang singkat dapat menyebabkan
kepala terjatuh atau gerakan mengangguk, sementara kejang yang lebih lama
dapat menyebabkan penderita terjatuh. 8al ini dapat menjadi berbahaya, oleh
karena risiko dapat terjadinya !edera kepala akibat kepala terbentur.
%ambaran % menunjukkan bangkitan singkat gelombang paku
menyeluruh yang langsung diikuti dengan gelombang lambat yang berkorelasi
dengan hilangnya tonus otot. Sama dengan kejang tonik murni, kejang atonik
biasanya berhubungan dengan sindrom epileptik yang diketahui.
K()*+, M.53/5+.3
%angguan ditandai dengan kejang berulang yang terdiri dari kontraksi otot
sebentar, sering kontraksi otot simetris dengan kehilangan tonus tubuh dan jatuh
atau menelungkup ke depan, yang mempunyai ke!enderungan menyebabkan luka
pada *ajah dan mulut. &da 2 subkelompok yang dapat dikenali yang
menggambarkan spektrum luas epilepsi mioklonik pada populasi pediatri, yaitu
mioklonus benigna pada masa bayi, epilepsi mioklonik khas masa anak a*al,
epilepsi mioklonik kompleks, epilepsi mioklonik juvenil, dan epilepsi mioklonik
progresif.
'ioklonus benigna pada masa bayi terdiri dai kelompok gerakan
mioklonik yang terbatas pada leher, badan, dan tungkai. &ktivitas mioklonik ini
dapat teran!ukan dengan spasme infantil. (amun, gambaran % normal pada
penderita mioklonus benigna. Prognosis baik, dengan perkembangan normal dan
penghentian mioklonus pada umur . tahun.
pilepsi mioklonik khas masa anak a*al dimulai sekitar umur .,2 tahun,
tetapi kisaran berkisar dari 9 bulan hingga : tahun. 4rekuensi kejang mioklonik
bervariasi; dapat beberapa kali sehari atau bebas kejang selama beberapa minggu.
Beberapa penderita menderita kejang demam atau kejang afibril tonik-klonik
menyeluruh yang mendahului mulainya epilepsi tonik-klonik. Sekitar setengah
dari penderita kadang-kadang menderita kejang tonik-klonik disamping epilepsi
mioklonik. % menunjukkan kompleks gelombang paku !epat .,2 8) dan latar
belakang irama normal pada kebanyakan kasus. Setidaknya sepertiga anak
mempunyai ri*ayat epilepsi keluarga positif, yang pada beberapa kasus
menunjukkan etiologi genetik. 8asil jangka panjang relatif baik, retardasi mental
terjadi pada sebagian ke!il dan lebih dari 2-0 penderita bebas kejang beberapa
tahun kemudian.
pilepsi mioklonik kompleks terdiri dari kelompok penyakit yang
heterogen dengan prognosis yang se!ara seragam buruk. Se!ara khas, kejang
tonik-klonik setempat atau menyeluruh dimulai pada tahun pertama mendahului
mulainya epilepsi mioklonik. Kejang-kejang menyeluruh sering disertai dengan
infeksi saluran pernafasan atas dan demam rendah serta seringkali berkembang
menjadi status epileptikus. Sekitar sepertiga dari penderita ini mempunyai bukti
adanya tanda keterlambatan perkembangan. +i*ayat epilepsi keluarga jauh
kurang menonjol pada kelompok ini dibandingkan dengan epilepsi mioklonik
khas. Beberapa anak menunjukkan kombinasi kejang mioklonik dan tonik yang
sering, dan bila gelombang paku lambat antar kejang nyata pada %, gangguan
kejang diklasifikasikan sebagai sindrom 6enno7-%astaut. Penderita dengan
epilepsi mioklonik kompleks se!ara rutin mempunyai gelombang paku lambat
antar-kejang dan refrakter terhadap antikonvulsan. Kejang tersebut menetap, dan
frekuensi retardasi mental dan masalah perilaku sekitar <20 dari semua penderita.
pilepsi mioklonik juvenil biasanya mulai antara umur ,. dan ,9 tahun,
dan merupakan sekitar ,20 dari epilepsi. Penderita mengalami jingkatan
mioklonik yang sering pada saat jaga, yang membuat sukar menyisir rambut dan
sikat gigi. Karena mioklonus !enderung mereda pada pagi hari, kebanyakan
penderita tidak men!ari pertolongan medik pada stadium ini dan beberapa
penderita mengingkari episode ini. Beberapa tahun kemudian, kejang tonik-klonik
menyeluruh di pagi hari berkembang bersama dengan mioklonusnya. %
menunjukkan tonjolan dan pola gelombang :-91detik tidak teratur, yang
diperbesar dengan rangsangan !ahaya. Pemeriksaan neurologis normal dan
sebagian besar berespons se!ara dramatis terhadap valproat, yang diperlukan
seumur hidup. Penghentian obat mendadak menyebabkan tingginya frekuensi
kejang berulang.
pilepsi mioklonik progresif jarang dan mempunyai prognosis yang
buruk. Keadaan ini meliputi penyakit 6afora, epilepsi mioklonik dengan serabut
merah !ompang-!amping ('++4), sialosis tipe ", lipofusinosisseroid, penyakit
neuropati juvenil %au!her, dan distrofi neuroksonal juvenil. Penyakit 6afora ada
pada anak berumur antara ,--,= tahun dengan kejang tonik-klonik menyeluruh.
&khirnya, jingkatan mioklonik mun!ul, yang menjadi lebih nyata dan konstan
pada perburukan penyakit. Perburukan mental merupakan tanda khas dan menjadi
nyata dalam , tahun dari mulainya kejang. Kelainan neurologis, terutama tanda
serebellum dan ekstrapiramidalis, merupakan temuan yang menonjol. %
menunjukkan bangkitan gelombang polipaku, terutama pada daerah oksipital
dengan perlambatan progresif dan latar belakang yang ka!au.
K()*+, 0*+, T.#*3 T($3/*-.4.3*-.
K()*+, N(5+*71-
(eonatus menghadapi risiko khusus terserang kejang karena penyakit
metaboli!, toksik, stru!tural, dan infeksi lebih mungkin menjadi nampak selama
*aktu ini daripada pada periode kehidupan lain kapanpun. Kejang berbeda dengan
pada de*asa karena konvulsi tonik-klonik !enderung tidak terjadi selama umur
bulan pertama. &da setidaknya 2 tipe kejang ysng dapat dikenali pada bayi baru
lahir.
Kejang setempat, terdiri dari kedutan ritmik kelompok otot, terutama
tungkai dan *ajah. Kejang ini seringkali terkait dengan lesi struktural juga dengan
infeksi dan perdarahan subaraknoid.
Konvulsi klonus, multifokus serupa dengan kejang klonus setempat tetapi
berbeda dalam hal banyak kelompok otot yang terlibat, seringkali beberapa terjadi
se!ara simultan.
Kejang tonik, ditandai dengan postur tungkai dan badan kaku, kadang-
kadang dengan deviasi mata yang tetap.
Kejang mioklonik, merupakan jingkatan-jingkatan setempat atau
menyeluruh tungkai atau badan sebentar yang !enderung melibatkan kelompok
otot distal.
Kejang yang tidak kentara, terdiri dari gerakan mengunyah, salivasi
berlebihan, dan perubahan dalam frekuensi pernapasan termasuk apneu, berkedip,
nistagmus, gerakan bersepeda atau mengayuh pedal, dan perubahan *arna.
Kejang neonatus mungkin sukar dikenali se!ara klinik, dan beberapa
perilaku bayi baru lahir yang sebelumnya dianggap konvulsi dianggap tidak
disokong oleh rekaman %. 'eskipun demikian, ada beberapa tanda klinik yang
membedakan kejang dari aktivitas non-epileptik pada neonatus. Perubahan
otonom seperti takikardi dan peningkatan tekanan darah adalah la)im pada kejang
tetapi tidak terjadi pada kejadian non-epileptik. %erakan non-epileptik tersupresi
dengan pengendalian halus, tetapi kejang tidak. 4enomena non-epileptik diperkuat
dengan rangsangan sensoris yang tidak berpengaruh pada kejang
S%*-6( I+4*+7./
Spasme infantil biasanya mulai antara umur :-= bulan dan ditandai dengan
kontraksi simetris pada leher, badan, dan tungkai. &da 3 tipe infantil# fleksor,
ekstensor, dan !ampuran.
Spasme fleksor, terjadi dalam kelompok dan terdiri dari fleksi mendadak
leher, lengan dan kaki pada tungkai.
Spasme ekstensor, menghasilkan ekstensi badandan tungkai dan setidak-
tidaknya bentuk spasme infantil biasa
Spasme infantil !ampuran, terdiri dari pada beberapa kelompok dan
ekstensi pada kelompok yang lain, adalah spasme infantil yang paling umum.
Kelompok kejang dapat menetap selama beberapa menit dengan interval
pendek antar tiap spasme. 'enangis dapat mendahului atau menyertai spasme
infantil, menimbulkan keran!uan dengan kolik pada beberapa kasus. Spasme
terjadi selama tidur atau bangun tetapi mempunyai ke!enderungan berkembang
saat penderita mengantuk atau segera setelah bangun.
% yang paling la)im dihubungkan dengan spasme infantil dihubungkan
dengan hipsaritmia, yang terdiri dari gambaran tegangan tinggi yang ka!au, se!ara
bilateral tidak sinkron, aktivitas gelombang lambat atau gambaran hipsaritmia.
K()*+, %*#* T(7*+1-
$etanus adalah kelainan neurologis, yang ditandai dengan tonus otot yang
meningkat dan spasme, yang disebabkan tetanospasmin, to7in kuat dari
Clostridium tetani.
'anifestasi klinis pada tetanus dapat terlokalisasi atau menyeluruh, di
mana yang men>yeluruh lebih umum. Pada manifestasi tetanus menyeluruh,
trismus (spasme muskulus maseter atau rahang terkun!i ?lo!kja*@) merupakan
gejala yang ada pada sekitar 2-0 kasus. (yeri kepala, gelisah, iritabilitas
merupakan gejala a*al, sering disertai oleh kekakuan, sukar mengunyah, disfagia
dan spasme otot leher. +isus sardonikus (senyuman sengit) tetanus akibat dari
spasme otot muka dan mulut yang tidak henti-henti. Bila meluas ke otot-otot
perut, punggung, pinggang dan paha, penderita dapat berpostur lengkung
(opistotonus), di mana hanya punggung kepala dan tumit yang menyentuh tanah.
Apistotonus adalah posisi seimbang akibat dari kontraksi semua otot yang
berla*anan, menampakkan kekakuan tetanus khas seperti papan. Spasme otot-otot
laring dan pernapasan dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan dan
asfiksia. Karena toksin tetanus tidak mengenai saraf sensoris atau fungsi korteks,
penderita tetap sadar dalam nyeri yang sangat. Kejang ini ditandai dengan
kontraksi otot tonik berat, mendadak, dengan tinju menggenggam, lengan fleksi
dan adduksi serta hiperekstensi kaki. $anpa pengobatan, kisaran kejang dari
beberapa detik hingga beberapa menit lamanya dengan masa berhenti di
antaranya, tetapi ketika penyakit menburuk spasme menjadi bertahan dan
melelahkan. /isuria dan retensi urin akibat spasme sphincter kandung kemih;
mengejan pada *aktu defekasi dapat terjadi. /emam, kadang-kadang setinggi
:-BC, la)im karena banyak energi metabolik dihabiskan oleh otot-otot spastik.
Pengaruh otonom yang utama adalah takikardi, aritmia, hipertensi labil,
diaforesis, dan vasokonstriksi. Keadaan ini mirip dengan keadaan kejang pada
epilepsi tonik-klonik menyeluruh (grand mal) fase tonik, di mana terdapat
kontraksi otot tonik pada tubuh, kontraksi otot dan laring, gangguan respirasi dan
adanya sianosis, kontraksi otot rahang, dan takikardi. Dang membedakan adalah
terganggunya kesadaran pada epilepsi, sedangkan pada tetanus penderita masih
sadar. /an adanya fase klonik dan ictal cry pada epilepsi, juga adanya kekakuan
otot pada tetanus.
DAFTAR PUSTAKA
&brutyn . .--2. $etanus. /alam /ennis 6. Kasper et al (ds.), Harrisons
Principles of Internal Medicine 16
th
Edition. $he '!%ra*-8ill
Companies, "n!.
&rnon, Stephen S. ,EE9. $etanus. /alam Behrman et al (ds.), Ilmu Kesehatan
Ana! ditor Bahasa "ndonesia# Prof /r. dr. &. Samik Fahab.
5akarta#%C.
/orland, F.&. (e*man. .--.. Kamus Kedoteran "orland Edisi #$.
5akarta#%C.
8aslam, +obert 8.&. ,EE9. Kejang-kejang pada 'asa &nak. /alam Behrman et al
(ds.), Ilmu Kesehatan Ana! ditor Bahasa "ndonesia# Prof /r. dr. &.
Samik Fahab. 5akarta#%C.
6o*enstein, /aniel 8. .--2. Sei)ures and pilepsy. /alam /ennis 6. Kasper et al
(ds.), Harrisons Principles of Internal Medicine 16
th
Edition. $he
'!%ra*-8ill Companies, "n!.
6umbantobing, S.'. .--9. Epilepsi %ayan&. 5akarta#Balai Penerbit 4KG".