Anda di halaman 1dari 9

Proyek gedung bertingkat memiliki karakteristik yang spesifik, khususnya dalam

pelaksanaannya. Tiap bagian pekerjaan sangat terkait dengan bagian pekerjaan yang lain,
sehingga perlu disusun urutan pelaksanaannya. Bila urutan kegiatan disusun tidak tepat, maka
akan menimbulkan berbagai masalah pelaksanaan yang dapat berdampak pada tidak
tercapainya sasaran efisiensi dan efektivitas. Urutan kegiatan pelaksanaan ini pun dapat
berubah sesuai dengan penemuan cara-cara pelaksanaan yang baru.
Pelaksanaan gedung bertingkat tidak terlepas dari pekerjaan struktur bawah.
Pekerjaan struktur bawah merupakan salah satu bagian dari pekerjaan kontruksi gedung.
Pekerjaan struktur bawah ini sangat penting karena berfungsi untuk mendukung/menopang
beban diatasnya. Untuk mencapai fungsi dari struktur bawah tersebut, maka dalam
pelaksanaannya harus dilakukan dengan benar. Adapun urutan kegiatan untuk melaksanakan
pekerjaan struktur bawah ditunjukkan pada Gambar 1.


Gambar 1. Bagan pekerjaan struktur bawah

1. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan persiapan harus derencanakan sebelum masa pelaksanaan suatu
proyek kontruksi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin lancarnya
pelaksanaan sehingga pekerjaan persiapan perlu dilakukan serta dipikirkan
hal-hal yang mempengaruhinya. Hal-hal yang mempengaruhi pekerjaan
persiapan antara lain sebagai berkut:
A. Acces Road (Jalan Masuk)
Untuk keperluan transportasi/pengangkutan raw material, fabricated
material, peralatan dan lain-lain, maka diperlukan jalan masuk yang
memadai baik dari lebarnya maupun kekuatan strukturnya.
Ditinjau dari lokasinya, jalan masuk ini dibagi menjadi dua, yaitu:
o Off Site Access
Jaringan luar yang ada di luar lokasi dimanfaatkan sebagai
jalan masuk.

o On Site Access
Di dalam lokasi sendiri,diperlukan juga jalan untuk transportasi
dalam lokasi dan pergerakan dari peralatan yang digunakan. On
site access perlu direncanakan sebaik-baiknya terutama untuk
menghindari gangguan yang ada di dalam lokasi. Perencanaan
access ini menjadi satu kesatuan dalam perencanaan site (site
plan).

B. Site Plan
Lahan pada lokasi proyek perlu direncanakan sebaik-baiknya untuk
keperluan menamung dan mengatur seluruh kegiatan yang ada di
lokasi meliputi:
o Kantor Proyek/Direksi Keet
o Gudang Material dan Peralatan
o Base Camp Staf Proyek dan Barak Pekerja
o Barak kerja/tempa
C. sad

2. Pelaksanaan Galian Basement
A. Pekerjaan Persiapan
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum proses penggalian adalah:
Kedalaman galian meliputi cek stabilitas lereng apakah dapat
digali secara open cut dengan membentuk slope (cek tinggi
kritis dan kemiringan slope). Lalu untuk lahan yang sempit
apakah diperlukan dinding penahan tanah yang sementara atau
permanen.
Pengaturan arah manuver alat berat dan dump ruck yang baik
yang dilakukan dengan memperhatikan site installation yang
ada.
Pemilihan, jumlah, dan komposisi alat gali yang digunakan
berdasarkan waktu pelaksanaan dan lokasi proyek.
Jalan kerja yang memenuhi syarat.
Pemeliharaan lingkungan sekitar proyek (debu, lumpur, bekas
material, dll).
B. Pekerjaan Galian
Galian tahap 1, penggalian dilakukan backhoe dan material
langsung di angkut ke dump truck.
Galian tahap 2, lereng hasil penggalian tahap 1 harus diproteksi
dengan menggunakan terpal dan galian tahap kedua dapat
dilaksanakan dengan metode yang sama pada tahap 1.
Penggalian dilanjutkan sampai elevasi rencana, untuk galian di
bawah permukaan air tanah dilakukan dewatering.
Hasil galian tanah dibuang ke lokasi disposal area, diusahakan
agar jarak disposal adalah jarak terdekat dan yang perlu
diperhatikan usahakan tanah galian tidak berjatuhan di jalan
dengan cara menutup dump truck dengan terpal.

3. Pelaksanaan Dewatering
Pada pembangunan gedung bertingkat kini sering dibuat basement
untuk pertambahan ruang. Pekerjaan galian untuk basement seringkali
terganggu oleh adanya air tanah sehingga perlu dilakukan pemompaan untuk
mengeringkan lahan agar pekerjaan kontruksi dapat dilakukan.
Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi situasi ini
adalah dengan pengurasan dengan pemompaan yang dilakukan dengan sumur
titik (well pint system).
Urutan Pelaksanaan Dewatering Metode Well Point System adalah sebagai
berikut:
Tentukan letak titik dan kedalaman rencana peneboran
Menyiapkan casing pipa PVC dengan cara melubangi pipa casing
pada bagian ujung yang akan terendam air dengan diameter lubang
sesuai shop drawing lalu bungkus lubang-lubang pipa dengan
kawat ayam/plastik filter.
Buat bak penampunga air sirkulasi pengeboran berupa galian tanah
yang dilapisi semen
Lakukan pengeboran tanah dengan mesin bor, jumlah lubang dan
diameter serta kedalaman galian harus sesuai dengan rencana.
Masukkan pipa PVC yang telah dilubangi kedalam lubang bor
secara bertahap.
Isi rongga antara luban bor dan casing pipa dengan koral gundu.
Buat saluran pembuangan air dari hasil dewatering,
Pasang dan operesaikan pompa submersible secara otomatis ke
dalam casing PVC dengan mengatur rangkaian pompa submersible
dengan pipa galvanis; letak manometer, stop kran, check valve
(untuk mengatur tekanan/debit); letak water level control; dan
letak panel kontrol dan intalasi listrik.

4. Pelaksanaan Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah berfungsi untuk menyokong tanah serta mencegahnya
dari bahaya kelongsoran, baik akibat beban air hujan, berat tanah itu sendiri
maupun akibat beban di atasnya. Pada saat ini, kontruksi dinding penahan
tanah sangat sering digunakan dalam pekerjaan sipil.
Terdapat berbagai metode dari pelaksanaan dinding penahan tanah ini,
diantaranya yaitu:

A. Pelaksanaan Dinding Penahan Tanah dengan Sistem Soldier Pile
a. Persiapan
Persiapkan alat bor yang terdiri dari crawler crane,
auger, dan kelly.
Persiapkan alat ukur theodolit dan waterpass.
Patok-patok untuk tanda pengukuran
Pompa submersible untuk pengecoran bentonite
Pipa tremie untuk pengecoran
Casing
Bucket untuk membersihkan lumpur dan kotoran dari
lubang bor.
Campuran bentonite, air dan semen
Besi beton dan adukan beton
b. Urutan Pelaksanaan Bentonite Pile dan Bored Pile
Bor tanah sampai kedalaman 3 m.
Pasang casing dan terus bor sampai elevasi rencana.
Bersihkan lubang dengan bucket dari kotoran dan
lumpur.
Masukkan campuran bentonite dan semen.
Cabut casing.
Tiang bentonite selesai dicor.
Setelah umur pengecoran bentonite lebih kurang 3 hari,
lalu lakukan pengeboran tanah untuk concrete pile
sampai kedalaman 3 m di sebelah pengecoran bentonite.
Pasang casing dan terus dibor sampai elevsi rencana
Bersihkan lubang dengan bucket dari kotoran.
Masukkan besi tulangan yang telah dirakit.
Pengecoran beton dengan tremie.
Cabut casing.
Concrete bored pile selesai dicor.

B. Metode Pelaksanaan Diapragm Wall
a. Persiapan
Persipkan mobilisasi alat, cleaning dan grubbing,
pengukuran, dll.
Pembuatan guide wall sebagai panduan untuk kelurusan
dan platform alat pengeboran diding diafragm.
b. Urutan Pelaksanaan Diafragm Wall
Gali galian pertama
Gali galian kedua disebelah galian kedua
Gali galian ketiga di antara galian pertama dan ketiga
sehingga galian saling menjadi satu kesatuan.
Pengeluaran bentonite galian dan pembersihan dengan
bentonite baru
Pemasangan CWS joint dan pembesian.
Pengecoran beton primary panel
Pengecoran beton primary panel selesai.
Galian pertama adjoining successive panel (sebelum
beton mengeras)
Galian kedua adjoining successive panel.
Pembongkaran CWS joint form
Pemasangan CWS form pembesian dan pengecoran,
setelah pembersihan bentonite.
Pengecoran successive panel selesai dilanjutkan galian
sisi sebelahnya.

5. Pelaksanaan Pondasi Dalam
Pondasi dalam dipakai pada bangunan di atas tanah yang lembek atau pada
bangunan dengan bentangan yang besar dan bangunan bertingkat. Yang
termasuk pondasi dalam adalah pondasi tiang pancang, pondasi bored pilem
dan sumuran.
A. Metode Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang
a. Persiapan
Penentuan alat pancang yang digunakan: peralatan
pancang yang dipakai harus mempunyai efisiensi dan
energi yang memadai.
Rencanakan set tiang final: untuk menentukan pada
kedalaman mana pemancangan tiang dapat dihentikan,
berdasarkan data tanah dan data jumlah pukulan
terakhir (final set).
Rencanakan urutan pemancangan dengan pertimbangan
kemudahan manuver alat. Lokasi stok material
ditempatkan sedekat mungkin dengan lokasi
pemancangannya.
Tentukan letak titik pancang dengan theodolit dan
tandai dengan patok.
b. Proses Pemancangan
Alat pancang ditempatkan sedemikian rupa sehingga as
hammer jatuh pada patok titik pancang yang telah
ditentukan.
Tiang diangkat pada titik angkat yang telah disediakan
pada setiap tiang.
Tiang didirikan di samping driving lead dan kepala
tiang dipasang pada helmet yang telah dilapisi kayu
sebagai pelindung dan pegangan kepala tiang.
Ujung bawah tiang didudukan secara cermat di atas
patok pancang yang telah ditentukan.
Penyetelan vertikal tiang dilakukan dengan mengatur
panjang backstay sambil diperiksa dengan waterpass
sehingga diperoleh posisi yang betul-betul vertikal.
Sebelum pemancangan dimulai, bagian bawah tiang
diklem dengan center gate pada dasar driving lead agar
posisi tiang tidak bergeser selama pemancangan,
terutama untuk tiang batang pertama.
Pemancangan dimulai dengan mengangkat dan
menjatuhkan hammer secara berkesinambungan ke atas
helmet yang terpasang di atas kepala tiang.
Pemancangan dapat dihentikan sementara untuk
penyambungan batang berikutnya bila level kepala tiang
telah mencapai level muka tanah sedangkan level tanah
keras yang diharapkan belum tercapai.
Proses penaymbungan tiang:
o Tiang diangkat dan kepala tiang dipasang pada
helmet seperti yang dilakukan pada batang
pertama.
o Ujung bawah tiang didudukan di atas kepala
tiang yang pertama sedemikian sehingga sisi-sisi
pelat sambung kedua tiang telah berhimpit dan
menempel menjadi satu.
o Penyambungan dilakukan dengan pengelasan
penuh di sekeliling pertemua kedua pelat ujung.
o Tempat sambungan las dilapisi dengan anti
karat.
Selesai penyambungan, pemancangan dapat dilanjutkan
seperti yang dilakukan pada batang pertama.
Penyambungan dapat diulangi sampai mencapai
kedalaman tanah keras yang ditentukan.
Pemancangan tiang dapat dihentikan (selesai) bila ujung
tiang telah mancapai lapisan tanah keras/final set yang
ditentukan.
Pemotongan tiang pancang pada cut off level yang
ditentukan sesuai shop drawing.
B. Metode Pelaksanaan Pondasi Bored Pile
a. Persiapan
Mobilisasi peralatan
Set up mesin bor
Persiapan keranjang

b. Proses Pelaksanaan
Proses Pengeboran
o Menggunakan mesin bor Soilmec R412
kapasitas 40,00 meter, pengeboran dimulai
dengan menggunakan auger dengan diameter
sedikit besar. Untuk kemudian memasang casing
semetara (bila diperlukan) sepanjang maksimum
4,00 meter. Casing sementara ini dibutuhkan
untuk menghindari runtuhnya tanah permukaan
di sekeliling lubang bor.
o Pengeboran dilanjutkan menggunakan auger
atau bucket tergantung pada jenis dan kedalman
tanah yang ditemukan sementara kedalaman
serta jenis tanah yang keluar dicatat secara
teratur sampai mencapai kedalaman yang
ditentukan.
o Bila dinding lubang bor runtuh, maka
dibutuhkan pengisian air dalam lubang bor
selama proses pengeboran dilaksanakan.
Proses Pembersihan Lubang
o Setelah kedalaman yang diinginkan tercapai,
lalu lakukan proses pembersihan dasar lubang
dimulai dengan menggunkan cleaning bucket.
Bahan yang dikeluarkan dan tebalnya harus
dicatat. Proses diulang bebrapa kali sampai
dasar lubang dalam keadaan relatif bersih.
Proses Pengecoran Beton
o Selesai pembersihan dasar lubang kemudian
dilaksanakan pemasangan keranjang besi beton
disusul pemasangan pipa tremie. Panjang,
jumlah, dan mutu besi beton dibuat sesuai
spesifikasi teknis.
o Bila di dalam lubang terdapat volume air yang
cukup banyak dan deras maka pengecoran
dilaksanakan melalui pipa tremie yang ditutup
pada ujung bawahnya, menggunakan plat baja
yang dinamakan plastic form sebagai pemisah
antara beton dan air.
o Pipa tremie dipasang sepanjang lubang yang
dibor dengan ujungnya bertumpu pada dasar
lubang. Beton readymix dengan slump 16 2
cm retarder 4 jam dituangkan ke dalam tremie
hingga pipa tersebut terisi penuh. Pipa lalu
ditarik sehingga end plate terlepas dan beton
mengalir. Beton dituangkan lagi ke dalam pipa
tremie dan dengan demikian pengecoran tiang
dilanjutkan hingga permukaan beton mencapai
ketinggian yang diinginkan. Selama pengecoran
berlangsung, ujung bawah pipa tremie harus
terbenam di dalam beton. Bila pipa tremie
terlampau panjang maka pipa tremie dengan
panjang masing-masing potongan antara 1-6
meter harus diangkat dan dipotong.
o Casing lalu dicabut perlahan-lahan dan
pengukuran terakhir dilakukan terhadap beton
untuk memeriksa apakah ketinggian permukaan
beton berada di atas rencana dawar poer setinggi
1 meter untuk menjamin mutu beton yang baik
ada elevasi dasar poer.

C. Metode Pelaksanaan Pondasi Franki Pile
Pipa baja dengan ujung bawah terbuka, diletakkan di
atas tanah tepat pada titik (patok) tiang. Batu korallalu
dimasukkan ke dalam pipa yang kosong itu dengan
menggunakan suatu alat yang dinamakan skip setinggi
kurang lebih 0,6-1 meter di dalam pipa. Koral
dipadatkan menjadi suatu sumbat pada ujung pipa. Palu
penumbuk (drop hammer) berbobot lebih kurang 3,2
ton.
Pemancangan pipa besi dilakukan dengan cara
menumbuk sumbat koral pada ujung pipa sehingga
mencapai kedalaman yang diinginkan. Kedalaman
pemancangan ditentukan melalui data yang diperoleh
dati penyelidikan tanah dan kalendering pada setiap
titik. Pemancangan dihentikan apabila penurunan pipa
tidak lebih dari 30 mm dalam 10 pukulan, dengan tinggi
jatuh palu setinggi 1,20 meter per pukulan.
Setelahmencapai kedalaman yang diharapkan, pipa
ditahan dengan sling dan sumbat koral yang terdapat di
dalam pipa dipukul hingga lepas dan keluar dari pipa.
Beton kering lalu diisikan sedikit demi sedikit ke dalam
pipa untuk pembuatan pembesatan (bulb) atau enlarged
base.
Volume beton yang digunakan dalam pembuatan bulb
disesuaikan dengan kekerasan tanah dan pada umumnya
adalah antara 0,14 m3 (satu skip) hingga 0,84 m3 (enam
skip). Jumlah pukulan pada satu skip (o,14 m3) beton
terakhir harus tidak kurang dari 40 kali dengan tinggi
jatuh palu minimum 4,8 meter atau hingga energi yang
sama tercapai.
Keranjang besi terdiri dari 6 besi utama diameter 22
mm yang dililit spiral diameter 8 mm jarak 20 cm untuk
seluruh panjang tiang franki. Keranjang besi tersebut
lalu dimasukkan ke dalam pipa dan merupakan
pembesian dari tiang pondasi. Keranjang besi dibuat
sepanjang tiang sendiri dengan tambahan 0,90 meter
stek untuk masuk ke dalam poer untuk penyambungan,
maka over-lapping besi utama adalah 90 cm. Pada
ujung keranjang besi dan pada sambungan dilas titik
agar lebih kuat.
Tiang franki lalu dibuat dengan mengecor beton sedikit
demi sedikit ke dalam pipa disertai dengan peamdatan
sambil pipa sedikit demi sedikit dicabut. Beton yang
digunakan dalam pengecoran adalah dengan mutu K-
225 dan faktor air semen tidak lebih dari 0,40 dan
slump berkisar antara 0-2,50 cm. Pengecoran beton
diakhiri dengan penambahan setinggi lebih kurang 30
cm 50 cm agar beton pada ketinggian yang diinginkan
terjamin baik dan keras.
Susunan campuran beton yang berdasarkan volume
untuk tiang franki adalah 1 : 2,25 : 3,25 parameter kubik
beton:
Semen = 345,00 kg
Pasir = 0,62 m3
Split 2/3 = 0,90 m3
Air = 134,00 liter
Tiang Franki yang selesai dilaksanakan harus tahan
memikul beban kerja sebesar 130 ton.