Anda di halaman 1dari 16

PERCOBAAN I

DISOLUSI

A. Tujuan
1. Mengetahui prosedur uji disolusi.
2. Mengetahui cara perhitungan dan membuat kurva hasil uji disolusi.

B. Dasar Teori
Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana suatu zat padat masuk ke
dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Dalam sistem biologik pelarutan
obat dalam media aqueous merupakan suatu bagian penting sebelum kondisi
absorpsi sistemik. Laju pelarutan obat-obat dengan kelarutan dalam air sangat
kecil dari bentuk sediaan padat yang utuh atau terdisintegrasi dalam saluran
cerna sering mengendalikan laju absorpsi sistemik obat (Syukri, 2004).
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi
padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).
Laju disolusi dikemukakan dalam hubungan kuantitatif oleh Noyes dan
Whitney pada tahun 1897 dengan persamaan sebagai berikut:


atau


Dimana M adalah massa padatan yang terlarut pada waktu t, dM/dt adalah
kecepatan massa disolusi (massa/waktu), D adalah koefisien difusi padatan
dalam larutan, S adalah luas permukaan partikel padatan, h adalah ketebalan
lapisan difusi, C
s
adalah kelarutan jenuh padatan, dan C adalah konsentrasi
padatan dalam larutan pada waktu t. Jumlah dC/dt adalah laju disolusi, dan V
adalah volume larutan (Sinko, 1993).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan
dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan
secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai
partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran
lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah
medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut
dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut
disolusi (Ansel, 1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya.
Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami
disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami
pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan
disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari
bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).
Uji disolusi digunakan untuk menentukan kesesuaian antara persyaratan
disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi untuk sediaan tablet
dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah.
Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila
dinyatakan dalam masing-masing monografi, uji disolusi atau uji waktu
hancur tidak secara khusus dinyatakan untuk sediaan bersalut enterik, maka
digunakan cara pengujian untuk sediaan lepas lambat, kecuali dinyatakan lain
pada masing-masing monografi (Ditjen POM, 1995).
Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan
disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi untuk sediaan tablet
dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah.
Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila
dinyatakan dalam masing-masing monografi. Dari jenis alat penggunaannya
dari salah satu sesuai dengan yang tertera dalam masing-masing monografi
yaitu:
a. Tipe keranjang
Alat terdiri dari sebuah wadah bertutup yang terbuat dari kaca atau
bahan transparan lain yang inert, suatu motor, suatu batang logam yang
digerakkan oleh motor dan keranjang berbentuk silinder. Wadah tercelup
sebagian di dalam suatu tangas air yang sesuai berukuran sedemikian
sehingga dapat mempertahankan suhu dalam wadah pada 37 0,5C
selama pengujian berlangsung dan menjaga agar gerakan air dalam tangas
air halus dan tetap.
b. Tipe dayung
Bedanya pada alat ini digunakan dayung yang terdiri dari dari daun
dan batang sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian
sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu
vertikal wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan yang berarti.
Daun melewati diameter batang sehingga dasar daun dan batang rata.
Dayung memenuhi spesifikasi. Jarak 25 mm 2 mm antara daun dan
bagian dalam dasar wadah dipertahankan selama pengujian berlangsung.
Daun dan batang logam yang merupakan satu kesatuan dapat disalut
dengan suatu penyalut inert yang sesuai. Sediaan dibiarkan tenggelam ke
dasar wadah sebelum dayung mulai berputar. Sepotong kecil bahan yang
tidak bereaksi seperti gulungan kawat berbentuk spiral dapat digunakan
untuk mencegah mengapungnya sediaan.
(Faradiba, 2011)







C. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Alat uji disolusi (Apparatus 2)
b. Batang pengaduk
c. Botol vial 10 mL
d. Filter holder
e. Gelas kimia 250 mL
f. Kaca arloji
g. Kertas saring
h. Kuvet
i. Labu ukur 10 mL, 500 mL
j. pH meter
k. Pipet ukur 5 mL
l. Propipet
m. Selang kecil 15 cm
n. Sendok tanduk
o. Spektrofotometer UV-Vis
p. Spoid 10cc
q. Stopwatch
r. Termometer
s. Timbangan analitik
2. Bahan
a. Aquadest
b. Tablet Asam Mefenamat 500 mg
c. NaH
2
PO
4
0.2 M
d. NaOH 0,2 N

D. Prosedur Kerja
1. Dibuat medium disolusi dapar fosfat pH 7.2 konsentrasi 0.2 M dengan
cara mencampurkan NaOH 0,2 N 225 mL dan NaH
2
PO
4
0.2 M 147,5
mL ditambahkan air bebas CO
2
sampai 900 mL.
2. Dibuat kurva kalibrasi dari sebagian medium disolusi menggunakan
spektrofotometer.
3. Dimasukkan aquadest ke dalam chamber disolusi dan dipanaskan
hingga 38
0
C.
4. Diletakkan labu disolusi pada lubang di atas chamber disolusi kemudian
dimasikkan medium disolusi hingga volume yang disyaratkan.
5. Dipasang apparatus pada alat disolusi dan dipastikan jarak dasar labu ke
apparatus seragam.
6. Diperiksa suhu media disolusi menggunakan thermometer agar sesuai
dengan suhu yang disyaratkan.
7. Ditutup labu disolusi dan dipasang spoid 10cc yang telah dihubungkan
dengan filter holder dan selang kecil berukuran 15cm.
8. Dimasukkan tablet uji ke dalam labu disolusi melalui lubang yang
tersedia.
9. Dioperasikan alat uji disolusi dan dipastikan kecepatan apparatus sesuai
dengan kecepatan yang disyaratkan.
10. Diambil 5-10 mL sampel uji menggunakan spoid dan dimasukkan ke
dalam vial, dipastikan volume dan waktu pengambilan sampel seragam.
11. Dimasukkan 5-10 mL media disolusi dengan suhu yang sama ke dalam
labu disolusi untuk mengganti volume media disolusi yang telah
diambil sebagai sampel uji.
12. Ditentukan konsentrasi sampel uji menggunakan spektrofotometer
kemudian dibuat kurva disolusi berdasarkan data yang didapatkan





E. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
a. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Konsentrasi (g/mL)
Absorbansi
5
0,201
10
0,381
15
0,556
20
0,732
25
0,886

b. Tabel uji disolusi tablet asam mefenamat





c. Tabel konsentrasi uji tablet asam mefenamat
Waktu
(menit)
5 10 15 30 45 60
Konsentrasi 80,82 259,5 381,36 473,4 489,3 525,3

d. Tabel faktor koreksi
Waktu 5 10 15 30 45 60
Faktor
koreksi
80,82 260,38 385,15 473,4 502,59 525,51

e. Tabel % terdisolusi
Waktu 5 10 15 30 45 60
%
terdisolusi
14,7 47,3 70,03 87,5 91,38 95,54



Waktu
(menit)
10 20 30 40 50 60
Absorbansi 0,3130 0,3325 0,4724 0,5779 0,6054 0,6375

2. Perhitungan
a. Pengenceran larutan stok
1) Pada konsentrasi 5 ppm




2) Pada konsentrasi 10 ppm




3) Pada konsentrasi 15 ppm




4) Pada konsentrasi 20 ppm




5) Pada konsentrasi 25 ppm




b. Perhitungan konsentrasi sampel
1) Pada waktu 10 menit


x 10
ppm

2) Pada waktu 20 menit


= 8,65 x 30
= 259,5 ppm
3) Untuk waktu 30 menit


= 12,712 x 30
= 381,36 ppm
4) Untuk waktu 40 menit


= 15,78 x 30
= 473,4 ppm
5) Untuk waktu 50 menit


= 16,31 x 30
= 489,3 ppm
6) Untuk waktu 60 menit


= 17,51 x 30
= 525,3 ppm

c. Perhitungan faktor koreksi
Konsentrasi total


=


= 550 ppm
1)

=









2) Faktor koreksi x
2

)
=



= 260,38 ppm
% terdisolusi =



= 47,3%
3) Faktor koreksi x
3



)
=


)
= 385,15 ppm
% terdisolusi =



= 70,03 %
4) Faktor koreksi x
4

)
=



= 481,43 ppm
% terdisolusi =



= 87,5 %
5) Faktor koreksi x
5

)
=



= 502,59 ppm
% terdisolusi =



= 91,38%
6) Faktor koreksi x
6



= ppm
% terdisolusi =



= 95,54%

3. Kurva
a. Kurva Kalibrasi












b. Kurva disolusi



























F. Pembahasan
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Senyawa-senyawa yang relative tidak dapat dilarutkan mungkin
memperlihatkan absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu sehingga
menghasilkan respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan
dari senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebih banyak
turunan yang larut, seperti garam dan ester. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan pelarutan suatu zat yaitu temperatur, viskositas, pH pelarut,
pengadukan, ukuran partikel, polimorfisa, dan sifat permukaan zat.
Secara umum mekanisme disolusi suatu sediaan dalam bentuk tablet
yaitu tablet yang ditelan akan masuk ke dalam lambung dan di dalam lambung
akan dipecah, mengalami disintegrasi menjadi granul-granul yang kecil yang
terdiri dari zat-zat aktif dan zat-zat tambahan yang lain. Granul selanjutnya
dipecah menjadi serbuk dan zat-zat aktifnya akan larut dalam cairan lambung
atau usus, tergantung di mana tablet tersebut harus bekerja.
Pada saat suatu sediaan obat masuk ke dalam tubuh, selanjutnya terjadi
proses absorbs ke dalam sirkulasi darah dan akan di distribusikan keseluruh
cairan dan jaringan tubuh. Apabila zat aktif pada sediaan obat tersebut
memiliki pelarut yang cepat, berarti efek yang ditimbulkan juga akan semakin
cepat, begitu juga sebaliknya.
Percobaan ini mengenai uji laju disolusi terhadap tablet asam
mefenamat. Tujuan dilakukannya uji disolusi obat yaitu untuk mengetahui
seberapa cepat kelarutan suatu tablet ketika kontak dengan cairan tubuh,
sehingga dapat diketahui seberapa cepat keefektifan obat yang diberikan
tersebut. Pada percobaan ini ingin ditentukan kecepatan disolusi suatu zat. Zat
yang akan diukur kecepatan atau laju disolusinya adalah tablet asam
mefenamat yang melarut didalam media disolusi. Asam mefenamat memiliki
pemerian serbuk hablur, putih atau hampir putih; melebur pada suhu lebih
k .
larutan alkali hidroksida; agak sukar larut dalam kloroform; sukar larut dalam
etanol dan dalam metanol dan praktis tidak larut dalam air.
Untuk menguji disolusi tablet maka diperlukan medium yang sesuai.
Medium yang digunakan dalam disolusi merupakan pelarut dengan
karakteristik tertentu dan merupakan suatu medium pembanding bagaimana
suatu zat aktif bekerja dalam tubuh. Dapar fosfat dengan pH 7,2 merupakan
medium pelarut yang digunakan untuk memperkirakan nasib suatu obat di
dalam usus. Dapar fosfat pH 7,2 sebagai medium disolusi ditunjukan untuk
mengasumsikan kerja asam mefenamat di usus agar sama seperti suasana pH
didalam usus dan memahami profil disolusi obat. Di dalam tubuh, fosfat
merupakan anion buffer pada cairan intrasel dan ekstrasel yang berfungsi
sebagai pengatur keseimbangan asam dan basa dalam cairan tubuh.
Sebelum melakukan uji disolusi, terlebih dahulu dilakukan pembuatan
kurva kalibrasi sampel asam mefenamat. Kurva kalibrasi bertujuan untuk
mengetahui linieritas Hubungan antara konsentrasi larutan standar dengan
absorbansinya, sehingga dapat mengetahui data yang dihasilkan sesuai atau
tidak. Agar memperoleh hasil akurat dalam penentuan absorbansi asam
mefenamat pada sampel. Di dalam pembuatan kurva kalibrasi, digunakan hasil
pengukuran absorbansi dari masingmasing larutan standar yang telah dibuat
dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum,
yaitu 285 nm.
Setelah diketahui hasilnya, dibuat kurva baku yang berisi perbandingan
antara konsentrasi dengan absorbansi. Kemudian dibuat persamaan garisnya
dengan menggunakan metode regresi linier, dan didapat persamaannya adalah
sebagai berikut: y = 0,0349 + 0,03442x. Dengan nilai R
2
adalah 0,999.
Dalam percobaan ini, alat yang digunakan merupakan alat uji disolusi
tipe dayung (apparatus 2). Digunakan apparatus tipe 2 karena sampel yang
digunakan merupakan sediaan tablet. Selain itu dengan menggunakan
apparatus tipe 2 memperkecil kemungkinan suatu tablet untuk mengapung
selama proses uji. Alat disolusi diatur kecepatan putarannya sebesar 50 rpm
karena ini diumpamakan sebagai kecepatan gerak peristaltic lambung. Adapun
suhu yang digunakan, dipertahankan 37 C, dengan maksud agar sesuai dengan
suhu fisiologis suhu tubuh manusia. Hal ini sebagai pembanding jika obat
tersebut berada dalam tubuh manusia.
Percobaan ini mula-mula diisi labu disolusi dengan dapar pospat pH 7,2
hingga volumenya, diatur suhunya 37 + 0,5C menggunakan termometer dan
kemudian tablet asam mefenamat dimasukkan dalam labu pelarutan. Diambil 5
ml pada menit ke 10, 20, 30, 40, 50, dan 60, kemudian dimasukkan ke dalam
vial. Setiap pengambilan, volume dapar fosfat dalam labu disolusi dicukupkan
900 ml, dan setiap pengambilan, medium disolusi harus digantikan dengan
memasukkan medium disolusi yang baru dengan volume dan suhu yang sama.
Tujuannya untuk mengembalikan jumlah pelarut seperti semula karena pelarut
dianalogikan sebagai cairan tubuh. Diambil 5 mL dikarenakan sampel memiliki
konsentrasi yang encer. Pengambilan dilakukan dengan menggunakan spoid 10
cc yang telah dihubungkan dengan filter holder dan selang kecil berukuran 15
cm. Filter holder disini berfungsi sebagai alat dalam membantu dalam proses
penyaringan, sehingga molekul-molekul asam mefenamat yang tidak larut
tidak ikut terambil, sedangkan digunakan selang kecil adalah untuk
memudahkan dalam pengambilan sampel. Kemudian masing-masing larutan
sampel diukur serapannya dengan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang
gelombang 285 nm. Kemudian ditentukan kadar tablet yang terdisolusi.
Berdasarkan pengamatan diperoleh bahwa absorbansi yang dihasilkan
tepat karena seiring peningkatan waktu, absorbansinya pun akan mengalami
peningkatan. Sehngga akan akan mempengaruhi % terdisolusi dari asam
mefenamat. Dari hasil perhitungan, diperoleh % terdisolusi dari tablet asam
mefenamat, yaitu: pada t = 10 menit adalah 14,7%; pada t = 20 menit adalah
47,3%; pada t = 30 menit adalah 70,03 %; pada t = 40 menit adalah 87,5%;
pada t = 50 menit adalah 91,38%; pada t = 60 menit adalah 95,54%.


G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
1. Persentase tablet asam mefenamat yang terdisolusi pada menit ke 10 adalah
14,7%.
2. Persentase tablet asam mefenamat yang terdisolusi pada menit ke 20 adalah
47,3%.
3. Persentase tablet asam mefenamat yang terdisolusi pada menit ke 30 adalah
70,03 %.
4. Persentase tablet asam mefenamat yang terdisolusi pada menit ke 40 adalah
87,5%.
5. Persentase tablet asam mefenamat yang terdisolusi pada menit ke 50 adalah
91,38%.
6. Persentase tablet asam mefenamat yang terdisolusi pada menit ke 60 adalah
95,54%.













DAFTAR PUSTAKA

Ansel, C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. UI Press:
Jakarta.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia: Jakarta
Faradiba. 2011. Perbandingan kecepatan disolusi dari tablet Loratadin dan tablet
Piroksikam. Jurnal Farmasi. Volume 1 Nomor 1.
Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik. UI Press: Jakarta.
Sinko, P. J. Martins Physical Pharmacy and Pharmaceutical Science Fifth Edition.
Lippincott Williams and Wilkins: Philadelphia.
Syukri, Yandi dan Uji Sumawati. 2004. Desintegrasi dan Disolusi Tablet
Furosemida Dari Berbagai Produk Generik dan Produk Paten yang
Beredar. Jurnal Farmasi. Volume 1 Nomor 1.