Anda di halaman 1dari 10

1

RENCANA PEMBANGUNAN PLTA UPPER CISOKAN PUMP STORAGE:


TANTANGAN LINGKUNGAN HIDUP DAN TINDAK LANJUTNYA

Tona Indora, Arief Heryana
tona.indora@pln.co.id; arief.heryana@pln.co.id

Abstrak
Berdasarkan RUPTL 2012-2021, disebutkan bahwa PLN akan memprioritaskan
pengembangan panas bumi dan tenaga air. Kedua jenis energi ini dapat masuk ke sistem
tenaga listrik kapan saja mereka siap, walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan
demand dan adanya rencana pembangkit yang lain. Pada RUPTL 2012-2021 juga
disebutkan bahwa apabila ada potensi, PLN lebih mengutamakan pembangkit yang
menggunakan energi hidro, seperti pumped storage, PLTA peaking dengan reservoir.
Potensi energi hidro sebagai energi terbarukan di Indonesia cukup tinggi. Salah satu
PLTA yang akan dibangun oleh PLN adalah PLTA Upper Cisokan Pump Storage (PLTA
UCPS) dengan daya sebesar 1040 MW (4 x 260 MW). PLTA UCPS tersebut akan
menggunakan Bendungan Atas dan Bendungan Bawah. Lahan yang terkena area
pembangunan adalah seluas 350 Ha, yang terdiri atas tanah milik Masyarakat dan lahan
kehutanan.
Pembangunan PLTA UCPS akan menggunakan dana pinjaman pemerintah yang berasal
dari Bank Dunia (World Bank). Bank Dunia sangat memberikan perhatian terhadap
dampak yang akan timbul dari proyek-proyek yang menggunakan dana mereka. Maksud
dari langkah Bank Dunia ini adalah agar masyarakat ataupun lingkungan hidup tidak
mendapatkan dampak negatif akibat pembangunan tersebut.
Makalah ini akan membahas secara umum tentang persyaratan-persyaratan lingkungan
hidup terkait dengan rencana pra-konstruksi pembangunan PLTA UCPS, baik dari
Pemerintah Indonesia maupun dari Bank Dunia, seperti AMDAL, Land Acquisition and
Resettlement Plan (LARAP) dan Enviromental Management Plan (EMP). Pada akhir
makalah ini akan disampaikan rencana tindak lanjut dari persyaratan-persyaratan
tersebut.

Kata Kunci-PLTA, Upper Cisokan Pump Storage, AMDAL, LARAP, EMP

I. PENDAHULUAN
Kebutuhan energi listrik di Indonesia dari tahun ketahun akan terus meningkat seiring
dengan meningkatnya populasi penduduk dan kemajuan ekonomi. Berdasarkan Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Tahun 2012-2021, dengan proyeksi pertumbuhan
penduduk rata-rata sebesar 1,6 1,7% dan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar
6,9%, maka proyeksi kebutuhan energi listrik pada tahun 2021 adalah sebesar 358,3 TWh
(lihat Tabel 1)
[1]
.
Kebutuhan energi listrik tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan energi primer,
khususnya yang berasal dari fosil. Sementara itu energi primer yang berasal dari non-
fosil belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ketidak selarasan antara kebutuhan dan
ketersediaan energi tersebut dapat menimbulkan ancaman krisis energi. Oleh karena itu
pemerintah tidak akan mengizinkan lagi pembangunan pembangkit listrik yang akan
menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dalam operasionalnya.
Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, untuk menghemat
penggunaan BBM di Tanah Air, pembangkit listrik yang akan dibangun tersebut harus
2

menggunakan potensi yang ada di daerah pembangunannya
[2]
. Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, mempunyai empat cara untuk mengatasi persoalan
energy di Indonesia. Salah satu caranya adalah mendorong secara masif pengembangan
energi baru dan terbarukan. Diantaranya adalah panas bumi (30.000 MW), hidropower
(75.000 MW) dan tenaga surya (50.000 MW)
[3]
.
Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS) pada tahun
1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro Power Inventory
Study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan Study for Hydro Power
Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun 2011, potensi tenaga air setelah
menjalani screening lebih lanjut adalah 26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah
beroperasi (4.338 MW), proyek yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956
MW) dan potensi baru (16.027 MW)
[1]
.
Berdasarkan RUPTL Tahun 2012-2021
[1]
, maka PLN akan memprioritaskan
pengembangan panas bumi dan tenaga air. Hal ini dikarenakan kedua jenis energi ini
dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap, walaupun dengan tetap
memperhatikan kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain. Pada
RUPTL 2012-2021 tersebut juga disebutkan bahwa apabila ada potensi, PLN lebih
mengutamakan pembangkit yang menggunakan energi hidro, seperti pumped storage,
PLTA peaking dengan reservoir.

Tabel 1. Perkiraan Kebutuhan Enegri Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi
[1]





3

II. PLTA UCPS
Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Cisokan Pump Storage (PLTA UCPS), dibangun
dengan tujuan utama untuk dapat meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali
dan memikul beban puncak. PLTA ini memanfaatkan potensi tenaga air Sungai Cisokan
dan aliran sungai lain di sekitarnya yang terletak pada Sub dan Daerah Aliran Sungai
(DAS) Cisokan daerah hulu serta berada di daerah geografi Kabupaten Bandung Barat
dan Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
PLTA UCPS didesain menggunakan sistem pumped storage yang merupakan sistem
PLTA yang pertama dan terbesar di Indonesia. Dengan sistem pumped storage ini maka
PLTA UCPS akan menggunakan dua buah genangan waduk (reservoir).
Waduk hulu (upper reservoir) yang mempunyai elevasi muka air tertinggi sekitar 796,5
mdpl, dibuat dengan membendung Sungai Cirumanis (anak Sungai Cisokan) dan akan
menjadi genangan seluas 80 Ha. Sedangkan waduk hilir (lower reservoir) dibuat
dengan cara membendung Sungai Cisokan dan akan menjadi genangan seluas 260 Ha.
Elevasi muka air yang tertinggi pada waduk hulu ini adalah sekitar 499,5 mdpl.
Pada saat beban puncak maka air dialirkan dari waduk hulu ke waduk hilir sehingga
menghasilkan listrik sebesar 1.040 MW. Sedangkan pada saat beban dasar, maka air
akan dipompakan dari waduk hilir ke waduk hulu. Keuntungan yang akan didapat dari
PLTA ini adalah pendapatan saat membangkitkan energi listrik (saat tarif listrik tinggi
karena berada pada Waktu Beban Puncak) dikurangi dengan biaya untuk memompakan
air dari waduk hilir ke hulu (saat tarif listrik rendah karena berada pada Luar Waktu Beban
Puncak) dan dikurangi dengan biaya operasional lainnya.


Gambar 1. Waduk Hulu dan Waduk Hilir PLTA UCPS
4

Salah satu kelebihan PLTA UCPS adalah memerlukan total lahan yang dibebaskan lebih
kecil dibandingkan dengan PLTA Saguling ataupun PLTA Cirata (lihat Tabel 2.).

Tabel 2. Perbandingan PLTA dan Luas Lahan


PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan VI (PLN UIP VI) diberi tugas untuk melalukan
pengendalian kontruksi pembangunan PLTA UCPS ini.


III. TANTANGAN LINGKUNGAN HIDUP
Pembangunan PLTA UCPS berada di area yang mempunyai potensi dampak besar dan
dampak penting terhadap lingkungan hidup, baik terhadap perubahan Geologi-Fisika,
Biologi maupun Sosial-Ekonomi-Budaya. Karena dana untuk pembangunan PLTA UCPS
ini berasal dari dana bantuan Bank Dunia, maka perhatian tentang lingkungan hidup
diberikan selain oleh Pemerintah Indonesia juga oleh Bank Dunia. Bank Dunia sangat
memberikan perhatian pada proyek yang menggunakan dana mereka terhadap dampak
lingkungan yang timbul. Bank Dunia memiliki kebijakan untuk mendukung proyek yang
akan mengakibatkan degradasi lingkungan yang signifikan.
Mengingat sangat luasnya permasalahan lingkungan hidup terhadap pembangunan PLTA
UCPS, maka pada tulisan ini akan dipaparkan secara umum tantangan yang ada
terhadap persyaratan-persyaratan lingkungan hidup dalam tahap pra-konstruksi
pembangunan PLTA UCPS tersebut, yaitu:
3.1. AMDAL
[4]

Untuk pembangunan PLTA UCPS telah dilakukan study Amdal Pembangunan PLTA
Cisokan Hulu (Pump Storage) pada tahun 2007, yang kemudian dilengkapi dengan
study untuk Pembangunan SUTET 500 kV (2008) dan Pembangunan Jalan Hantar,
Quarry dan Fly Ash (2011). Tantangan yang terdapat dalam dokumen Amdal pada
tahap pra-konstruksi sebagaimana terlihat pada Tabel 3. di bawah ini:





No. PLTA
Kapasitas
Pembangkitan
[MW]
Luas Lahan
[Ha]
Kapasitas
Penampungan Air
[juta m3]
1 Saguling 700 5.600 614
2 Cirata 1.000 6.300 704
3 UCPS 1.040 340 79
5

Tabel 3. Dampak Besar dan Penting Pada Tahap Pra-Konstruksi
[4]



3.2. Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP)
[5]

Maksud dari penyusunan LARAP untuk rencana pembangunan PLTA Upper
Cisokan Pumped Storage adalah untuk mempersiapkan laporan yang terkait dengan
penggantian lahan dan rencana pemukiman kembali penduduk yang lahannya
digunakan oleh PT PLN (Persero) dalam perencanaan proyek, dan sebagai materi
yang akan diajukan kepada calon penyandang dana. Adapun tujuan dari
penyusunan LARAP adalah sebagai berikut:
a. Mengurangi dampak negatif pembebasan lahan sehingga tingkat kehidupan
Warga Terkena Proyek (WTP) tidak akan menurun.
b. Memberi kesempatan kepada WTP untuk berpartisipasi dalam proses
pembangunan.
c. Mendapatkan data akurat tentang WTP dan data lainnya sesuai dengan
pedoman yang berlaku di Indonesia dan pedoman dari pihak calon penyandang
dana (Bank Dunia), sebagai pertimbangan untuk pelaksanaan LARAP.
d. Melakukan sosialisasi LARAP kepada masyarakat berkaitan dengan pengalihan
asset, penyamaan persepsi dan perolehan masukan dari WTP.
e. Menyusun arahan/usulan umum tentang rencana pemukiman kembali bagi WTP
yang dipindahkan.
f. Menyediakan mekanisme penyampaian keluhan dan prosedur pemantauan serta
evaluasi pelaksanaan LARAP.
g. Menyusun kebijakan dalam memenuhi kepentingan Peraturan Pemerintah
Indonesia maupun Bank Dunia.


No. Sumber Kegiatan
1. Pembebasan Lahan 1. Keresahan sosial pemilik lahan yang terkena proyek karena persyaratan
administrasi hak atas tanah pada proses pembebasan lahan serta
munculnya para spekulan tanah.
2. Keresahan sosial pemilik lahan terhadap nilai ganti rugi yang tidak
sesuai dengan harapan masyarakat.
3. Keresahan sosial penggarap lahan (landless) karena tidak memiliki
lahan untuk tinggal ataupun untuk mencari nafkah.
4. Pengurangan pemilikan lahan yang berakibat pada berkurangnya
pendapatan.
2. Pemindahan Penduduk 1. Keresahan sosial penduduk di rencana daerah genangan karena
khawatir terhadap pemukiman kembali dan kehidupan di tempat yang
baru.
2. Keresahan sosial penduduk di daerah rencana pemukiman kembali
(penduduk penerima).
Dampak Besar dan Penting
6

Dari hasil studi LARAP tersebut terdapat beberapa hal penting yang perlu ditindak
lanjuti, antara lain sebagai berikut:
3.2.1. Respon Masyarakat Terhadap Rencana Pemukiman Kembali
3.2.2. Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah (P2T)
3.2.3. Penunjukan Lembaga Penilai Independen Berlisensi BPN
3.2.4. Pembentukan Tim Perumus Kebijakan Pemukiman Kembali (TPKP) dan Tim
Pelaksana Pemukiman Kembali (TPP)
3.2.5. Pembentukan Gugus Tugas Advokasi dan Penanganan Keluhan
3.2.6. Pembentukan Pemantau Independen (IMA)
3.2.7. Penyampaian Laporan dari Institusi Terkait

3.3. Environmental Management Plan (EMP)
[6]

PLTA UCPS memiliki skema rencana pengelolaan lingkungan yang komprehensif
yang tertuang dalam Environmental Management Plan (EMP). Rencana
Pengelolaan Lingkungan (EMP) merupakan dokumen yang memuat upaya PLN
untuk mengontrol dan meminimalkan dampak-dampak lingkungan dan sosial
berkenaan dengan aktivitas pembangunan dan operasional PLTA UCPS.
Implementasi EMP akan memastikan PLN, kontraktor, konsultan dan perusahaan di
bawah koordinasinya agar mengerjakan kegiatan konstruksi dan operasi PLTA
UCPS dengan selayaknya untuk melindungi dan menjaga lingkungan alami dan
sosial.
Aspek lingkungan dan sosial yang teridientifikasi dalam studi EMP yang harus
diselesaikan dalam tahap pra-konstruksi adalah:
1. Perijinan
2. Pembebasan Lahan
3. Pemukiman Kembali
Ketiga hal tersebut di atas akan dikaji lebih dalam pada dokumen tersendiri yaitu
studi LARAP.
Selain itu, terdapat beberapa hal yang harus disiapkan sebelum pekerjaan pra-
konstruksi dimulai, yaitu:
1. Rencana pengelolaan pembangunan dan base camp pekerja
2. Rencana pengelolaan pembersihan reservoir
3. Rencana pengelolaan masyarakat dan sosial
4. Rencana pengelolaan peninggalan budaya fisik
5. Rencana Pengelolaan Keragaman biota
6. Rencana Pengelolaan Lingkungan Pembangunan Access Road
7. Rencana Pengelolaan Lingkungan Transmisi (pembangunan dan operasi).
7

8. Rencana Pengelolaan Lingkungan Quarry
9. Rencana Operasional Pengelolaan Lingkungan
i. Rencana Hubungan Sosial dan Masyarakat
ii. Rencana Pengelolaan Keragaman Biota
iii. Rencana Pengelolaan Bendungan dan Reservoir
iv. Rencana Pengelolaan DAS


IV. RENCANA TINDAK LANJUT
4.1. AMDAL
Berdasarkan Tabel 3.1. di atas, maka PLN diamanatkan oleh Rencana Pengelolaan
Lingkungan Hidup Pembangunan PLTA UCPS untuk melakukan hal-hal seperti yang
tercantum pada Tabel 4.

Tabel 4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
PLTA UCPS Tahap Pra-Kontruksi
[4]



4.2. LARAP
4.2.1. Respon Masyarakat Terhadap Rencana Pemukiman Kembali
Dari 583 kepala keluarga yang berpotensi harus pindah, 471 kepala keluarga ingin
pindah sendiri dan 98 kepala keluarga (KK) ingin dipindahkan oleh pemerintah.
Langkah-langkah yang perlu diambil adalah sebagai berikut:
A. Tempat Pemukiman yang Dikelola oleh Pemerintah
1. PLN mengajukan izin ke Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur
dan Propinsi Jawa Barat untuk menggunakan Kampung Munjul, Pasir
Taritih dan Nagrak Hamlets sebagai lokasi pemukiman kembali.
2. Setelah izin pemerintah diberikan, PLN melakukan studi kelayakan dan
daya dukung lingkungan kedua lokasi pemukiman kembali tersebut.
3. Kunjungan lokasi dan konsultasi tentang persepsi WTP terhadap lokasi.
No. Sumber Kegiatan
1. Pembebasan
Lahan
1. Pemrakarsa, melalui Tim Pembebasan Tanah mengadakan sosialisasi bekerjasama
dengan instansi terkait dan mengikutsertakan para tokoh masyarakat, dan semua
stakeholders.
2. Pemrakarsa mengadakan musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena proyek,
untuk membicarakan masalah penetapan besarnya uang ganti rugi dan memberikan
penyuluhan mengenai pemanfaatan uang ganti rugi dan kompensasi untuk keperluan
yang bermanfaat.
3. Sistem pembebasan lahan dan besarnya ganti rugi harus berpedoman pada peraturan
perundangan yang berlaku.
4. Khusus untuk landless akan dilakukan penanganan mengacu padaProsedur Pelaksanaan
dari Bank Dunia OP 4.12 tentang involuntary resettlement.
2. Pemindahan
Penduduk
1. Pemrakarsa mengadakan musyawarah dengan masyarakat yang akan dipindahkan
maupun masyarakat penerima untuk membicarakan soal rencana pemindahan
penduduk.
2. Pemrakarasa memberikan pelatihan kepada masyarakat yang akan dipindahkan terutama
yang berkaitan dengan usaha baru yang bisa dikembangkan di lokasi pemukiman yang
baru.
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
8

4. Keputusan lokasi relokasi berdasarkan hasil studi.
5. Mendiskusikan dengan WTP mengenai desain awal rencana pemindahan
dan upaya perbaikan ekonomi sesuai karakteristik lokal.
6. Desain dan konstruksi fisik pemukiman baru termasuk fasilitas lain yang
diminta oleh WTP jika di dalam komunitas terdapat 30 KK.
7. Relokasi WTP ke lokasi pemukiman baru.
8. Pemukiman dan perlakuan untuk pemukiman baru, yang meliputi aspek
sosial-psikologis dan pembangunan ekonomi.
B. Pemukiman Kembali Atas Kemauan Sendiri
1. Pemerintah harus memberikan informasi kepada WTP mengenai rencana
pengembangan lokasi yang diinginkan oleh WTP (di wilayah sekitar
proyek).
2. Membimbing dan memberikan bantuan kepada WTP yang ingin pindah
atas keinginan sendiri melalui pembangunan ekonomi skala kecil.
3. Setiap kelompok WTP (minimal 30 kepala keluarga) yang ingin pindah
akan mendapatkan fasilitas jalan, drainase dan fasilitas umum lainnya
yang akan didanai oleh PLN. Untuk merealisasikan janji ini, PLN akan
membangun unit pemukiman kembali yang dikoordinasikan dengan Tim
Pelaksana Pemukiman Kembali.
4. Pemantauan pengembangan ekonomi.
4.2.2. Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah (P2T)
PLN akan menyerahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk
membentuk dan menetapkan Panitia Pengadaan Tanah (P2T) di Provinsi Jawa
Barat dan di tingkat Kabupaten Bandung Barat serta Kabupaten Cianjur. Selain
P2T, akan dibetuk Tim Gabungan Pemerintah Daerah dan PLN yang tugasnya
mendaftar warga tanpa keterangan sesuai dengan pedoman Bank Dunia OP 4.12.
Tim gabungan akan melakukan inventarisasi investasi personal milik WTP tanpa
surat keterangan resmi yang mungkin memiliki asset dalam bentuk struktur fisik
atau tanaman pertanian.
4.2.3. Penunjukan Lembaga Penilai Independen Berlisensi BPN
Lembaga ini akan menentukan keberhakan dengan mengikuti kriteria LARAP,
WTP tanpa surat keterangan resmi yang mungkin memiliki investasi personal
asset dalam bentuk struktur fisik atau tanaman pertanian dan menilai asset
tersebut. Lembaga ini juga akan menilai keberhakan bantuan untuk mereka.

4.2.4. Pembentukan Tim Perumus Kebijakan Pemukiman Kembali (TPKP) dan Tim
Pelaksana Pemukiman Kembali (TPP).
9

TPKP akan meninjau rencana pemukiman kembali yang dibuat oleh konsultan
LARAP yang akan dijadikan kebijakan oleh Pemda terkait. TPP akan
mengkoordinasikan semua aktifitas pelaksanaan pemukiman kembali, termasuk
bantuan dan perbaikan kehidupan/pendapatan sosial ekonomi WTP setelah
proyek dilaksanakan.
4.2.5. Pembentukan Gugus Tugas Advokasi dan Penanganan Keluhan (Grievance Task
Force)
Gugus tugas ini terdiri dari PLN dan para ahli yang direkrut. Tugasnya adalah
mendampingi warga atau WTP selama proyek, dan mengakomodasi serta
memfasilitasi penanganan pengaduan selama proyek.
4.2.6. Pembentukan Pemantau Independen (Independent Monitoring Agency)
Lembaga ini berfungsi sebagai Pemantau Independen sekaligus pelaksana
evaluasi atas dampak pelaksanaan proyek secara keseluruhan.

4.3. EMP
EMP merupakan dokumen hidup. Dengan demikian maka EMP harus dilakukan
pengkinian informasi terhadap rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan
yang dianggap tidak sesuai lagi dengan rencana semula. Selain itu perlu juga
dilakukan penyusunan rencana yang lebih implementatif jika rencana pengelolaan
yang tercantum pada EMP masih berbentuk pedoman yang bersifat secara umum.
Secara garis besar Rencana Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (Biodiversity
Management Plan/BMP) telah disusun dan menjadi salah satu sub-plan di bawah
EMP. Rencana pengelolaan keanekaragaman hayati ini membutuhkan pekerjaan
lebih lanjut untuk diselesaikan dan diimplementasikan sebelum kegiatan konstruksi
dimulai.
BMP harus memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana melindungi dan
memulihkan habitat di lokasi proyek, serta melindungi dan mengelola spesies yang
terancam punah. Diharapkan penerapan BMP melalui pendekatan yang adaptif. Hal
ini mengharuskan adanya pemantauan implementasi secara berkala, dan rencana
yang fleksibel untuk memungkinkan adanya perubahan pendekatan (tergantung pada
pelaksanaan dan permasalahan di lapangan).

V. KESIMPULAN
Dari uraian di atas terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitan pembangunan suatu PLTA yang
menggunakan dana bantuan Bank Dunia merupakan kegiatan yang kompleks
dan melibatkan banyak pihak.
10

2. Hasil studi LARAP merupakan rincian dari upaya pengelolaan aspek social yang
dalam dokumen AMDAL dikaji tidak terlalu mendalam.
3. Dokumen EMP merupakan panduan bagi PLN, Konsultan Supervisi dan
kontraktor dalam melaksanakan kegiatan konstruksi dan operasi PLTA UCPS.
Beberapa bagian dokumen EMP harus disusun kembali untuk memperoleh
rencana yang lebih implementatif.

VI. REFERENSI
[1] Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) Tahun 2012 2021.
[2] Plasadana-Content Slution Agency, edisi 12 Mei 2012, Pembangkit Berbahan Bakar
Minyak, Sampai Di sini., http://plasadana.com/content.php?id=1386 (diakses pada
tanggal 24 September 2013).
[3] Kompas.com, edisi 21 Oktober 2013, Empat Cara Atasi Krisis Energi ala Jero Wacik.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/10/21/1256087/Empat.Cara.Atasi.Krisis
.Energi.ala.Jero.Wacik?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kekowp
(diakses pada tanggal 24 September 2013).
[4] PT PLN (Persero) Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan jawa, Bali dan Nusa
Tenggara-Proyek Pembangkit dan Jaringan Jawa Barat, Rencana Pengelolaan
Lingkungan PLTA Cisokan Hulu (Pumped Storage). 2007.
[5] PT PLN (Persero) dan LPPM Unpad, Laporan Akhir LARAP Upper Cisokan Pump
Storage. 18 Maret 2011.
[6] PT PLN (Persero), Final Environmental Management Plan Upper Cisokan Pumped
Storage Hidro Power Scheme. 2011