Anda di halaman 1dari 15

Buku ajar UI

Respons Seksual Normal


Respons seksual normal adalah respons yang terjadi pada fisik yang umumnya didahului
oleh hal psikologis seperti membayangkan atau bersinggungan secara langsung dengan lawan
jenis (hal fisik). Secara fisiologis respons seksual adalah sebagai berikut:
1. Fase perangsangan. Terjadi ereksi pada pria, sedangkan pada wanita terjadi lubrikasi.
2. Fase plateau. Saat perangsangan terjadi secara maksimum dan bertahan untuk waktu
tertentu.
3. Fase orgasme. Saat terjadi puncak dari hubungan seks.
4. Fase resolusi. Kondisi saat genitalia atau tubuh secara umum kembali seperti keadaan
semula.

Disamping perubahan-perubahan di atas, terjadi pula perangsangan pada genitalia dan pada
bagian tubuh lainnya; perubahan pada testis dan vulva, flushing, naiknya tekanan darah, irama
nafas dan jantung menjadi cepat, ereksi puting payudara. Semua ini akan kembali menjadi
normal pada fase resolusi.
Helen Singer Kaplan kurang setuju dengan pendapat di atas dan mengatakan bahwa
sebelum perangsangan, terdapat fase gairah atau nafsu (desire) yang juga penting. Virginia
Sadock mengatakan bahwa terdapat 4 fase respons seksual: nafsu (gairah), perangsangan,
orgasme dan resolusi. Fase-fase ini lebih sering digunakan dalam praktek sehari-hari. Respons
seksual ini bersifat psikosomatik, sehingga sulit untuk menentukan prioritas kepentingannya,
yaitu secara relatif dari faktor-faktor psikis dan atau organik.
Disfungsi psikoseksual adalah suatu kondisi saat respons psikoseksual normal hilang,
dihambat atau berlebihan sehingga mengganggu proses senggama yang sedang berlangsung.
Menurut ICD 10, ketidakmampuan seseorang untuk berpartisipasi dalam hubungan seks seperti
yang dikehendakinya. Hal ini berarti dari awal, selama hingga selesai interaksi seksual.
Umumnya gangguan dalam fungsi yang terjadi terkait dengan salah satu, beberapa atau semua
respons seksual normal yang fisiologis. Terdapat dua gangguan yang tak berhubungan langsung
dengan respons ini, yaitu vaginismus dan dispareunia.


Disfungsi Psikoseksual
Disfungsi psikoseksual bisa didapati pada laki-laki maupun perempuan atau pada suami
atau istri. Bisa pula terdapat pada keduanya, yaitu semula salah satu mengalami disfungsi,
kemudian pasangannya pun lama kelamaan juga mengalaminya. Disfungsi seksual dapat pula
timbul pada kegiatan sendiri misalnya masturbasi, homoseksual maupun heteroseksual.
Disfungsi dapat bersifat primer maupun sekunder. Disfungsi primer berarti dari semula sudah
ada disfungsi, sedangkan disfungsi sekunder berarti timbul sesudah suatu waktu berfungsi baik,
namun kemudian mengalami penurunan atau hilang fungsinya. Keadaan ini dapat berbentuk
tunggal, ganda atau total. Disfungsi ini dapat bersifat situasional (pada saat atau terhadap orang
tertentu saja) atau menetap.
Hal yang harus dikaji adalah penyebab dari disfungsi tersebut; apakah organik atau
psikologis atau gabungan keduanya. Tanda yang dapat dijadikan patokan untuk membedakan
antara organik dan psikologis secara cepat adalah terjadinya ereksi pagi hari atau nocturnal
penile tumescence (NPT). Apabila tetap terjadi, maka gangguan fungsi alat seks bukanlah
disebabkan oleh penyebab organik. Bila bersifat situasional, maka gangguan bersifat psikologis.
Misalnya pada saat masturbasi berfungsi baik tetapi pada saat koitus terjadi disfungsi. Dapat juga
dilakukan uji suntikan intrapenal dengan prostaglandin E. Bila terjadi ereksi, berarti gangguan
bukan bersifat organik.
Pada pria, dua gangguan yang sering terjadi adalah disfungsi ereksi dan gangguan
ejakulasi. Pada perempuan, pada umumnya adalah disfungsi pada fase perangsangan dan
orgasme. Terdapat dua gangguan yang tak terkait dengan respons seksual, yaitu vaginismus dan
dispareunia.

Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk memperoleh ereksi dan/atau
mempertahankan ereksi hingga koitus selesai. Gangguan ini sebelumnya disebut impotensi.
Fungsi ereksi pada pria merupakan proses rumit dan tergantung pada sentum seks di otak,
persarafan, peredaran darah, dan neurotransmitter-neurotransmitter tertentu. Oleh karena itu,
banyak proses organik yang dapat berperan sebagai penyebab timbulnya disfungsi ereksi.
Penyakit sistemik maupun lokal, seperti diabetes mellitus, hipertensi, penggunaan obat-obat
tertentu (antihipertensi, antipsikotik, antidepresan, preparat hormon dan lain-lain) dapat
menimbulkan disfungsi ereksi. Proses menua juga merupakan salah satu penyebab disfungsi
ereksi.
Pada bidang psikologis, dikenal penyebab-penyebab yang bersifat segera: ansietas waktu
berperforma, tekanan oleh pasangan untuk berperforma, yang bersifat relasional seperti problem
perkawinan, dan penyebab yang mendalam seperti konflik masa Oedipal yang tidak terselesaikan
dengan baik.
Pemeriksaan dilakukan melalui wawancara medik, psikiatrik, dan seksual. Wawancara
seksual khususnya mengkaji fungsi serta kondisi seksual sehari-hari. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan mengingat adanya kemungkinan penyebab organik. Pemeriksaan sebaiknya
dilengkapi pula dengan pemeriksaan genitalia eksterna. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan
laboratorium yang meliputi pemeriksaan rutin, dilengkapi dengan pemeriksaan gula darah,
kolesterol lengkap, fungsi hati, hormon testoteron serta prolaktin. Terdapat pemeriksan khusus
yang dilakukan oleh ahli urologi untuk mendeteksi kelainan organik, seperti pengukuran tekanan
darah penis dengan Doppler dan arteriografi penis. Bilamana perlu dapat dilakukan pemeriksaan
NPT.
Diagnosis ditegakkan apabila terdapat keluhan kesulitan memperoleh ereksi atau
mempertahankan ereksi sewatu senggama hingga selesai. Keluhan ini tentunya bersifat subjektif.

Ejakulasi Dini
Pada laki-laki ejakulasi umumnya terjadi bersamaan dengan orgasme. Ejakulasi terjadi
sesudah penis yang ereksi mengalami perangsangan cukup pada saat koitus. Cairan semen yang
terkumpul menyemprot keluar pada waktu ejakulasi.
Sebenarnya gangguan orgasme pada laki-laki yang identik dengan gangguan orgasme pada
wanita adalah ejaculation retardata atau ejakulasi yang datangnya terlambat atau tidak terjadi.
Ejakulasi dan orgasme pada lelaki harusnya terjadi bersamaan, tetapi terdapat kondisi saat
ejakulasi terjadi tanpa orgasme. Ejakulasi terjadi secara meleleh dan tidak menyemprot. Juga
terdapat ejakulasi yang terbalik, artinya ejakulasi terjadi ke dalam kandung kemih, sehingga
keluar melalui urine. Didapatkannya sperma dalam urin membedakan kedua gangguan ejakulasi
di atas. Dapat juga dibedakan dengan memakai kondom sewaktu tidur untuk menampung semen
yang mungkin keluar. Hal ini dinamakan retrograde ejaculation. Insidens kelompok ini lebih
jarang ketimbang ejakulasi dini. Penyebab kelompok inipun lebih banyak bersifat organik,
misalnya oleh karena penggunaan obat-obatan seperti thioridazine atau karena Parkinsons
disease dan lain-lain.
Ejakulasi dini adalah ejakulasi yang terjadi sebelum ejakulasi itu diharapkan terjadi oleh
yang bersangkutan. Cepatnya terjadi ejakulasi tergantu juga dari pasangan senggama lelaki itu.
Terdapat perempuan yang sulit atau tidak dapat memperoleh orgasme, sedangkan sang lelaki
normal. Kondisi ini menyebabkan ejakulasi terjadi sebelum atau tanpa timbulnya orgasme bagi
sang perempuan. Perlu dipertimbangkan juga faktor umur, faktor pasangan, dan seringnya
melakukan senggama.
Penyebab organik jarang dijumpai. Kebanyakan penyebab ejakulasi dini adalah faktor
psikis. Penyebab lain bersifat negative cultural conditioning yaitu akibat sang lelaki yang terlalu
tergesa-gesa dan pengalaman pertama seks yang tergesa-gesa pula, misalnya melakukan koitus
dengan wanita tuna susila atau koitus yang dilakukan dengan curi-curi kesempatan yang disertai
rasa takut. Seringkali ejakulasi dini dikaitkan dengan ansietas (cemas) dan rasa bersalah.
Penyebab yang bersifat psikis misalnya rasa bersalah di bidang seks, perfeksionisme,
pengharapan yang tidak realistic dalam seks, hipersensitif dalam relasi intrapersonal dan konflik
orangtua-anak.
Penelitian mutakhir mendapatkan adanya predisposisi biologik pada pria-pria dengan
ejakulasi dini. Secara konstituional, mereka mempunyai keterangsangan berlebih dari sususan
saraf simpatik sehingga lebih cepat berejakulasi. Mereka yang seumur hidupnya menderita ini
terdapat masa laten saraf bulbokavernosa yang lebih pendek.
Diagnosis dapat ditegakkan apabila terdapat keluhan terjadinya ejakulasi sebelum hal itu
dikehendaki. Si lelaki akan merasa frustasi dan kecewa. Terapi dapat berupa obat-obatan berupa
antidepresan atau antipsikotik ringan. Terapi seks berupa latihan-latihan dengan teknik pencet
(squeeze technique). Umumnya hasil terapi dengan terapi seks baik.

Gangguan Orgasme pada Perempuan
Gangguan orgasme pada perempuan adalah ketidakmampuan atau keterlambatan
memperoleh orgasme sesudah perangsangan yang cukup. Ini harus ditetapkan dulu intensitas,
lama, dan sasarannya.
Umumnya gangguan orgasme ini harus ditegakkan dengan berhati-hati. Dalam masyarakat
dikenal ada perempuan yang mudah mencapai orgasme, ada pula yang sukar mencapainya, ada
juga yang tidak pernah mencapainya. Terdapat pembagian lain yaitu orgasme vaginal (melalui
perangsangan vagina) dan orgasme klitoral (melalui perangsangan klitoris). Freud menganggap
orgasme yang normal pada perempuan adalah yang vaginal, sedangkan yang klitoral adalah
tanda imaturitas. Orgasme pada kebanyakan perempuan bersifat klitoral dan ini biasanya disertai
rasa tabu. Kebanyakan perempuan, khususnya di Indonesia, kurang peduli dan kurang informasi
mengenai hal ini. Hal ini menyulitkan diagnosis. Pada waktu koitus pada umumnya terjadi
perangsangan vaginal dan perangsangan klitoral melalui persinggungan penis dengan klitoris
serta perangsangan klitoris pada waktu perangsangan manual.
Perempuan pada umumnya belajar untuk memperoleh orgasme dan semakin bertambah
umur maka kemampuan memperoleh orgasme akan semakin meningkat. Ini dihubungkan dengan
berkurangnya inhibisi karena sudah lebih berpengalaman. Penyebab gangguan ini dapat bersifat
organik maupun psikis. Terapi untuk kasus-kasus ini adalah dengan terapi seks, atau perbaikan
teknik koitus.


Sinopsis Kaplan
Gangguan Orgasme Wanita
Gangguan orgasmik wanita adalah inhibisi orgasme wanita yang rekuren dan persisten, dan
dimanifestasikan oleh keterlambatan orgasme yang rekuren atau tidak adanya orgasme setelah
fase perangsangan seksual yang normal yang dianggap klinisi adekuat dalam fokus, intensitas,
dan durasinya. Gangguan ini adalah ketidakmampuan wanita untuk mencapai orgasme melalui
masturbasi atau koitus. Wanita yang dapat mencapai orgasme dengan salah satu metoda tersebut
tidak dikategorikan sebagai anorgasmik, walaupun suatu tingkat inhibisi seksual dapat
dikendalikan.
Kriteria diagnostik untuk gangguan orgasmik wanita, menurut DSM-V:
1. Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase
rangsangan seksual yang normal. Wanita menunjukkan berbagai variasi dalam jenis atau
intensitas stimulasi yang memicu orgasme. Diagnosis gangguan orgasmic wanita harus
didasarkan pada pertimbangan klinisi bahwa kapasitas orgasmic wanita adalah kurang dari
apa yang diperkirakan menurut usia, pengalaman seksual, dan keadekuatan stimulasi
seksual yang diterimanya.
2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
3. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Aksis I lainnya (kecuali
disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum

Penelitian pada fisiologi respons seksual wanita menunjukkan bahwa orgasme yang
disebabkan stimulasi klitoris dan orgasme yang disebabkan oleh stimulasi vagina adalah identik
secara fisiologis. Teori Freud mengatakan bahwa wanita harus melepaskan kepekaan klitoris
menjadi kepekaan vaginal untuk mencapai maturitas seksual, sekarang dianggap menyesatkan.
Akan tetapi, beberapa wanita mengatakan bahwa mereka mendapatkan kepuasan khusus dari
orgasme yang didapatkan melalui koitus. Banyak wanita mencapai orgasme selama koitus
melalui kombinasi stimulasi klitoris manual dan stimulasi penis pada vagina.
Gangguan orgasmic wanita seumur hidup (lifelong female orgasmic disorder) ditemukan
jika wanita tidak pernah mengalami orgasme oleh tiap jenis stimulasi. Gangguan orgasmic
didapat jika wanita sebelumnya pernah mencapai sekurangnya satu kali orgasme, terlepas dari
situasi atau cara stimulasi, apakah melalui masturbasi atau selama tidur sambil bermimpi. Kinsey
menemukan bahwa proporsi wanita menikah yang berusia lebih dari 35 tahun yang tidak pernah
mencapai orgasme dengan cara apa pun hanya 5 persen. Insidensi orgasme meningkat dengan
bertambahnya usia. Menurut Kinsey, orgasme pertama terjadi selama remaja pada kira-kira 50
persen wanita; sisanya mengalami orgasme pada usia yang lebih tua. Gangguan orgasmik wanita
seumur hidup lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak menikah dibandingkan dengan
wanita yang menikah. Meningkatnya potensi orgasmik pada wanita yang berusia di atas 35 tahun
telah dijelaskan karena lebih kecilnya inhibisi psikologis atau lebih besarnya pengalaman seksual
atau keduanya.
Gangguan orgasmic wanita didapat adalah suatu keluhan yang sering ditemukan pada
populasi klinis. Kasus wanita nonorgasmik kira-kira empat kali lebih banyak dalam
dibandingkan dengan semua gangguan seksual lainnya. Dalam penelitian lain, 46 persen wanita
mengeluh kesulitan dalam mencapai orgasme. Prevalensi sesungguhnya dari masalah
mempertahankan perangsangan adalah tidak diketahui, tetapi hambatan perangsangan dan
masalah orgasme sering kali terjadi bersama-sama. Prevalensi keseluruhan gangguan orgasmic
wanita dari semua penyebab diperkirakan adalah 30 persen.
Sejumlah faktor psikologis adalah berhubungan dengan gangguan orgasmik wanita. Faktor
tersebut adalah ketakutan menjadi hamil, penolakan oleh pasangan seksual, atau kerusakan pada
vagina; permusuhan terhadap laki-laki; dan perasaan bersalah terhadap impuls seksual. Untuk
beberapa wanita, orgasme disamakan dengan kehilangan kendali atau perilaku agresif, destruktif,
atau kasar; ketakutan mereka terhadap impulsnya dapat diekspresikan melalui inhibisi
perangsangan atau orgasme. Harapan kultural dan pembatasan sosial pada wanita juga relevan.
Wanita nonorgasmik mungkin bebas gejala lainnya atau mungkin mengalami frustasi dalam
berbagai cara, termasuk keluhan pelvis tertentu sebagai nyeri abdomen, gatal, dan sekret vagina,
dan juga meningkatnya ketegangan, mudah tersinggung dan kelelahan.

Gangguan Orgasme Laki-laki
Gangguan orgasmic laki-laki adalah suatu kondisi dimana laki-laki sangat sukar mencapai
ejakulasi selama koitus, bahkan bisa tidak mencapai ejakulasi sama sekali. Seorang laki-laki
menderita gangguan orgasmik seumur hidup apabila ia tidak pernah mampu mengalami ejakulasi
selama koitus.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa orgasme dan ejakulasi harus dibedakan. Beberapa
laki-laki mengalami ejakulasi tetapi mengeluh adanya penurunan atau tidak adanya rasa
kenikmatan subjektif selama pengalaman orgasmic (anhedonia orgasmik).
Insidensi gangguan orgasmik laki-laki jauh lebih rendah dibandingkan insidensi ejakulasi
dini atau impotensi. Masters dan Johnson melaporkan suatu insidensi gangguan orgasmik laki-
laki hanya 3,8 persen dalam satu kelompok 447 kasus disfungsi seksual. Prevalensi umum yang
telah dilaporkan adalah sebanyak 5 persen.
Kriteria diagnostik untuk gangguan orgasmik laki-laki menurut DSM-V:
1. Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase
rangsangan seksual yang normal selama aktivitas seksual yang dianggap klinisi, dengan
mempertimbangkan usia pasien, sebagai adekuat dalam fokus, intensitas, dan lamanya
2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
3. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Aksis I lainnya (kecuali
disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum

Gangguan orgasmik laki-laki seumur hidup menunjukkan adanya psikopatologi yang
parah. Laki-laki sering kali berasal dari latar belakang yang kaku; mungkin ia memandang seks
sebagai dosa dan genital adalah hal yang kotor; dan mungkin ia secara sadar atau tidak disadari
memiliki harapan dan rasa bersalah terhadap incest.
Dalam suatu hubungan yang berkelanjutan, gangguan orgasme laki-laki didapat sering kali
mencerminkan kesulitan interpersonal. Gangguan orgasme mungkin merupakan cara laki-laki
untuk menghadapi perubahan nyata atau khayalan dalam hubungan. Perubahan tersebut mungkin
berupa rencana untuk mengandung, di mana laki-laki adalah ambivalen, kehilangan daya tarik
seksual terhadap pasangan, atau dibutuhkan oleh pasangan untuk komitmen yang lebih besar
sebagai yang diekspresikan oleh kinerja seksual. Pada beberapa laki-laki, ketidakmampuan untuk
berejakulasi mencerminkan permusuhan yang tidak diekspresikan kepada wanita. Masalah
tersebut lebih sering ditemukan di antara laki-laki dengan gangguan obsesif-kompulsif
dibandingkan yang lainnya.

Ejakulasi Dini
Ejakulasi dini laki-laki, secara menetap atau rekuren, adalah mencapai orgasme dan
ejakulasi sebelum keinginannya. Tidak terdapat kerangka waktu yang pasti untuk mendefinisikan
disfungsi. Diagnosis ditegakkan apabila laki-laki secara teratur berejakulasi sebelum atau segera
setelah memasuki vagina. Klinisi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
durasi fase perangsangan, seperti usia, kebaruan pasangan seksual, dan frekuensi serta durasi
koitus. Masters dan Johnson memandang gangguan dalam hal pasangan dan memandang laki-
laki sebagai penderita ejakulasi dini apabila ia tidak dapat mengendalikan ejakulasi untuk jangka
waktu yang cukup lama selama hubungan intravaginal untuk memuaskan pasangannya
sekurangnya pada setengah episode koitusnya. Definisi tersebut beranggapan bahwa pasangan
wanita mampu memberi respons pada orgasmik. Seperti disfungsi lainnya, ejakulasi dini tidak
disebabkan oleh faktor organik saja dan bukan gejala sindrom psikiatrik klinis lainnya.
Ejakulasi dini lebih sering ditemukan di antara laki-laki dengan pendidikan yang mencapai
tingkat perguruan tinggi dibandingkan laki-laki yang berpendidikan lebih rendah. Gangguan
diperkirakan berhubungan dengan permasalahan mereka terhadap kepuasan pasangan, namun
sebenarnya penyebab gangguan ini belum ditentukan. Kira-kira 35 sampai 40 persen laki-laki
yang diobati karena memiliki gangguan seksual memiliki ejakulasi dini sebagai keluhan
utamanya. Kesulitan dalam mengendalikan ejakulasi mungkin berhubungan dengan kecemasan
terhadap tindakan seksual atau dengan ketakutan yang tidak disadari terhadap vagina. Hal ini
mungkin juga diakibatkan oleh kebiasaan kultural yang negatif. Laki-laki yang memiliki riwayat
kontak pertama seksual pertama dengan wanita prostitusi dapat menjadi terbiasa mencapai
orgasme dalam waktu yang cepat. Hal ini dikarenakan wanita prostitusi meminta tindakan
seksual yang dilakukan secepat-cepatnya atau dalam situasi yang dirasakan memalukan jika
ketahuan (seperti di kursi belakang mobil atau di dalam rumah orang tua). Dalam hubungan yang
berkelanjutan, pasangan memiliki pengaruh besar dalam ejakulasi dini. Latar belakang
perkembangan dan psikodinamika yang ditemukan pada ejakulasi dini dan pada impotensi
adalah serupa.
Kriteria diagnostik untuk ejakulasi dini menurut DSM-V:
1. Ejakulasi yang persisten atau rekuren pada stimulasi seksual yang minimal sebelum, pada,
atau segera setelah penetrasi dan sebelum pasien menginginkannya. Klinisi harus
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi lama fase rangsangan, seperti usia,
kebaruan pasangan atau situasi seksual, dan frekuensi aktivitas seksual terakhir
2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
3. Ejakulasi prematur bukan semata-mata karena efek langsung dari suatu zat (misalnya:
putus dari opioid)

Terapi
Sebelum tahun 1970 pengobatan tersering untuk disfungsi seksual adalah psikoterapi
individual. Teori psikodinamika klasik menyatakan bahwa ketidakberdayaan seksual memiliki
akarnya pada konflik perkembangan di awal, dan gangguan seksual diobati sebagai bagian
gangguan emosional pervasif. Pengobatan dipusatkan pada penggalian konflik, motivasi, fantasi
dan berbagai kesulitan interpersonal yang tidak disadari. Satu anggapan terapi adalah bahwa
dengan menghilangkan konflik akan memungkinkan impuls seksual menjadi dapat diterima
secara struktural pada ego pasien dan dengan demikian pasien menemukan cara pemuasan yang
sesuai. Sayangnya, gejala disfungsi seksual sering kali menjadi otonom secara sekunder dan
terus ada. Teknik perilaku tambahan sering kali diperlukan untuk menyembuhkan masalah
seksual.

Terapi Seks Berdua
Dalam terapi seks berdua, kedua pasangan dianggap terlibat dalam hubungan yang
menyakitkan secara seksual. Dengan demikian, keduanya harus berperan serta dalam program
terapi.
Masalah seksual sering kali mencerminkan disharmoni dalam bidang lain atau
kesalahpahaman dalam perkawinan. Secara keseluruhan, hubungan marital adalah yang diobati,
dengan penekanan pada fungsi seksual sebagai bagian dari hubungan tersebut. Inti dari program
adalah session mengelilingi meja di mana tim terapi laki-laki dan wanita memperjelas,
mendiskusikan, dan mengatasi masalah yang dihadapi pasangan. Sesi empat jalur (four-way
session) memerlukan peran serta aktif dari pihak pasien. Tujuan dari terapi adalah untuk
menegakkan kembali komunikasi di dalam unit perkawinan. Seks ditekankan sebagai fungsi
alami yang menyuburkan iklim rumah tangga dan pada akhirnya peningkatan komunikasi
didorong.
Terapi yang dilakukan adalah terapi jangka pendek dan berorientasi perilaku. Ahli terapi
berusaha untuk menrefleksikan situasi yang dilihatnya, bukannya menginterpretasikan dinamika
dasar antar pasangan yang ditanganinya. Suatu gambaran yang tidak terdistorsi dari hubungan,
yang dipresentasikan oleh ahli terapi, sering kali memperbaiki pandangan sempit yang dimiliki
oleh masing-masing pasangan dalam suatu perkawinan. Perspektif baru pada pandangan tiap
pasangan diharapkan dapat memutuskan lingkaran permasalahan yang dimiliki pasangan dalam
berhubungan, dan dapat meningkatkan komunikasi yang efektif.
Latihan spesifik diintruksikan bagi pasangan untuk membantu mereka mengatasi masalah
tertentu. Ketidakmampuan seksual sering kali berupa tidak adanya informasi, salah informasi,
dan ketakutan akan kinerjanya. Dengan demikian, pasangan secara spefisik dilarang untuk
melakukan permainan seksual selain daripada yang diinstruksikan oleh ahli terapi. Awal latihan
biasanya berpusat pada peningkatan kesadaran sensoris terhadap sentuhan, pandangan, suara,
dan bau. Awalnya, pasangan dilarang melakukan hubungan seksual dan pasangan belajar untuk
memberikan dan menerima kenikmatan seksual tanpa tekanan kinerja. Pada saat yang
bersamaan, mereka belajar bagaimana berkomunikasi secara nonverbal dengan cara yang sama-
sama memuaskan dan belajar bahwa foreplay seksual sama pentingnya dengan hubungan seksual
dan orgasme itu sendiri.
Selama latihan, perhatian dipusatkan pada sensasi, pasangan mendapatkan banyak
dorongan untuk menurunkan kecemasannya. Mereka didorong berfantasi untuk mengalihkan
perhatian mereka dari permasalahan obsesif tentang kinerja mereka (spectatoring). Kebutuhan
dari kedua pasangan disfungsional dan pasangan nondisfungsional akan dipertimbangkan. Jika
keduanya mengalami perangsangan seksual dengan latihan tersebut, yang lainnya didorong
untuk mendapatkan orgasmenya melalui cara manual atau oral. Komunikasi terbuka antar
pasangan sangat dianjurkan. Ekspresi kebutuhan masing-masing juga sangat dianjurkan.
Resistensi, seperti pernyataan lelah atau tidak cukup waktu untuk menyelesaikan latihan, sering
ditemukan dan harus dihadapi bersama. Akhirnya stimulasi genital ditambahkan pada stimulasi
tubuh umum. Pasangan diinstruksikan untuk mencoba berbagai posisi hubungan seksual secara
berurutan, tanpa perlu menyelesaikan tindakan, dan menggunakan berbagai teknik stimulasi
sebelum mereka diinstruksikan untuk melanjutkan hubungan seksual.
Sesi psikoterapi mengikuti masing-masing periode membicarakan latihan baru, masalah
dan kepuasan, baik pada bidang seksual dan bidang lain dalam kehidupan pasangan. Instruksi
spesifik dan perkenalan latihan baru yang mengikuti kemajuan pasangan individual dinilai pada
masing-masing sesi. Secara bertahap, pasangan mencapai kepercayaan dan belajar untuk
berkomunikasi, baik secara verbal maupun seksual.
Pada kasus ejakulasi prematur, ada suatu latihan yang dikenal sebagai teknik penekanan
(squeeze technique). Teknik ini digunakan untuk meningkatkan ambang eksitabilitas penis.
Dalam latihan ini, laki-laki atau wanita menstimulasi penis yang terereksi sampai dirasakan
sensasi terawal akan mengalami ejakulasi. Pada saat itu, wanita dengan kuat menekan sulkus
korona dari glans penis, sampai ereksi menurun dan ejakulasi jadi terhambat. Program latihan ini
dapat meningkatkan ambang sensai untuk ejakulasi yang tidak dapat dihindari dan
memungkinkan laki-laki menjadi sadar akan sensasi seksual dan yakin terhadap kinerja
seksualnya. Variasi dari latihan ini adalah teknik berhenti-mulai (stop-start technique) yang
dikembangkan oleh James H. Semans, di mana wanita menghentikan semua stimulasi penis saat
laki-laki pertama kali merasa akan berejakulasi.
Gangguan orgasmik laki-laki ditangani dengan ejakulasi ekstravaginal dan secara bertahap
memasuki vagina setelah stimulasi sampai mendekati ejakulasi.

Hipnoterapi
Ahli hipnoterapi memusatkan pada gejala yang membuat seseorang cemas. Keberhasilan
penggunaan hipnosis memungkinkan pasien dapat mengontrol gejala yang menurunkan harga
dirinya. Kerja sama dengan pasien pertama kali didapatkan melewati sesi serial non-hipnotik
dengan ahli terapi. Pada sesi-sesi tersebut, pasien dan dokter melakukan diskusi yang
memungkinkan berkembangnya hubungan antar pasien dan dokter. Pasien harus merasa nyaman,
secara fisik dan psikologis, dengan dokter yang akan melakukan hipnotis. Selain itu, dokter juga
harus melakukan penegakkan tujuan terapi yang diinginkan oleh kedua pihak. Selama waktu itu,
ahli terapi menilai kemampuan pasien untuk mengalami trance. Sesi non-hipnotik juga
memungkinkan klinisi mengambil riwayat psikiatrik dan melakukan pemeriksaan status mental
sebelum dimulainya hipnoterapi. Pusat dari terapi adalah menghilangkan gejala dan perubahan
sikap. Pasien diinstruksikan untuk mengembangkan cara alternatif untuk menghadapi situasi
yang menyebabkan kecemasan.
Pasien juga diajarkan teknik relaksasi yang dapat digunakan oleh dirinya sendiri sebelum
melakukan hubungan seksual. Dengan metode yang menghilangkan kecemasan tersebut, respons
fisiologis terhadap stimulasi seksual dapat menyebabkan rangsang yang menyenangkan dan
pelepasan. Halangan psikologis terhadap lubrikasi vagina, ereksi dan orgasme dapat dihilangkan,
dan fungsi seksual normal terjadi. Hipnosis dapat ditambahkan pada dasar program psikoterapi
individual untuk mempercepat efek intervensi psikoterapetik.

Terapi Perilaku
Pendekatan perilaku awalnya dirancang untuk pengobatan fobia. Dalam kasus disfungsi
seksual, ahli terapi melihat pasien memiliki ketakutan terhadap interaksi seksual. Dengan
menggunakan teknik tradisional, ahli terapi menentukan hierarki situasi yang menimbulkan
kecemasan bagi pasien, dimulai dari situasi yang paling tidak mengancam sampai yang paling
mengancam. Kecemasan ringan dapat dialami saat pasien memikirkan berciuman, dan
kecemasan yang besar dapat dirasakan saat membayangkan penetrasi penis. Ahli terapi perilaku
memungkinkan pasien untuk mengatas kecemasannya melalui program standar desensitisasi
sistemik. Pasien pertama kali menghadapi situasi yang kurang menimbulkan kecemasan dalam
khayalannya dan selanjutnya maju langkah demi langkah sampai situasi yang paling
menimbulkan kecemasan.
Latihan ketegasan (assertiveness training) membantu dalam mengajari pasien untuk
mengekspresikan kebutuhan seksualnya secara terbuka dan tanpa rasa takut. Latihan ketegasan
diberikan bersama-sama dengan terapi seks; pasien didodorong untuk membuat permintaan
seksual dan menolak melakukan permintaan yang dirasakannya tidak beralasan.

Terapi Kelompok
Terapi kelompok telah digunakan untuk memeriksa masalah intrapsikis dan interpersonal
pada pasien dengan gangguan seksual. Terapi kelompok memberikan sistem pendukung yang
kuat bagi pasien yang merasa malu, cemas, atau bersalah terhadap masalah seksual tertentu. Ini
merupakan tempat pertemuan yang berguna untuk mengatasi mitos seksual, memperbaiki
pandangan yang salah, dan memberikan informasi yang akurat tentang anatomi, fisiologi, dan
berbagai perilaku seksual.
Kelompok untuk pengobatan gangguan seksual dapat disusun dalam beberapa cara.
Anggota-anggota yang ikut dalam terapi kelompok mungkin memiliki masalah yang sama,
seperti ejakulasi prematur; semua anggota mungkin memiliki jenis kelamin yang sama dengan
masalah seksual yang berbeda-beda; atau kelompok dapat terdiri dari laki-laki dan wanita yang
mengalami berbagai masalah seksual. Terapi kelompok mungkin merupakan pelengkap bagi
bentuk terapi lainnya atau merupakan cara pengobatan yang utama. Kelompok yang disusun
untuk mengobati disfungsi tertentu biasanya mendekati secara perilaku.
Kelompok yang terdiri dari pasangan menikah yang memiliki disfungsi seksual juga
efektif. Kelompok memberi kesempatan untuk menggali informasi yang akurat, memberikan
pengesahan pandangan yang disukai individu, dan meningkatkan harga diri dan penerimaan diri.
Teknik seperti permainan simulasi (role playing) dan psikodrama dapat digunakan dalam
pengobatan. Kelompok tersebut tidak dianjurkan untuk pasangan yang salah satu anggota
pasangannya tidak dapat bekerja sama, jika pasien menderita gangguan depresif berat atau
psikosis, jika pasien memiliki kejijikan yang kuat terhadap material audiovisual seksual yang
ditampilkan, atau jika pasien memiliki ketakutan yang kuat akan kelompok.

Terapi Seks Berorientasi Analitik
Satu cara pengobatan yang paling efektif adalah pemakaian terapi seks digabungkan
dengan psikoterapi berorientasi psikodinamika atau psikoanalitik. Terapi seks dilakukan selama
periode waktu yang lebih lama dari biasanya, dan jadwal pengobatan yang lebih luas
memungkinkan untuk mempelajari kembali kepuasan seksual.
Tema dan dinamika yang timbul pada pasien dalam terapi seks berorientasi analitik sama
dengan yang ditemukan pada terapi psikoanalitik, seperti mimpi yang relevan, ketakutan akan
hukuman, perasaan agresif, kesulitan mempercayai pasangan, ketakutan akan keintiman,
perasaan oedipal, dan ketakutan akan mutilasi genital.
Pendekatan kombinasi terapi seks berorientasi analitik digunakan oleh dokter psikiatrik
umum, yang secara cermat mempertimbangkan waktu yang tepat untuk terapi seks dan
kemampuan pasien untuk menoleransi pendekatan terarah yang dipusatkan pada kesulitan
seksual mereka.

Terapi Biologis
Methohexital sodium (Brevital) intravena digunakan dalam terapi desensitisasi. Obat
antiansietas juga digunakan pada pasien yang mengalami ketegangan, walaupun obat-obatan
dapat mempengaruhi respons seksual. Terkadang efek samping obat tertentu, seperti thioridazine
(Mellaril) dan obat trisiklik digunakan untuk memperpanjang respons seksual pada keadaan
tertentu, seperti ejakulasi dini. Pemakaian trisiklik juga telah dianjurkan dalam pengobatan
pasien yang memiliki fobia terhadap seks. Pendekatan farmakologis juga dapat digunakan untuk
mengobati gangguan mental dasar yang mungkin berperan dalam disfungsi seksual. Sebagai
contoh, pasien yang fungsi seksualnya terganggu karena ia mengalami depresi.
Laporan kasus menyatakan bahwa cyproheptadine (Periactin) dapat membalikkan
gangguan orgasmik wanita dan gangguan orgasmik laki-laki akibat zat pada orang yang
menggunakan fluoxetine. Clomipramine (Anafranil) telah dilaporkan menginduksi orgasme
spontan, tetapi menghambat orgasme pada wanita.

Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa
Disfungsi orgasme adalah tidak dapat mencapai orgasme atau sangat lambat, termasuk
anorgasmi psikogenik.

Ejakulasi Dini
Ejakulasi dini (prekoks atau premature) adalah pencapaian orgasme dan ejakulasi
terlampau lekas atau sebelum dikehendaki oleh laki-laki, sehingga laki-laki dan pasangannya
tidak menikmati hubungan seksual. Pengobatan ejakulasi dini dapat dilakukan dengan beberapa
cara: menghambat komponen psikologis, mengurangi komponen taktil penis, dan mengubah
nilai-ambang kepekaan.
Menghambat komponen psikologis dapat dilakukan dengan memikirkan atau berfantasi
tentang hal-hal nonsexual, misalnya pekerjaan, tugas khusus, olahraga, dan sebagainya. Kisney
menganjurkan untuk melakukan kontraksi sphincter ani sekeras-kerasnya dan berkonsentrasi
pada sphincter ani agar tetap kencang. Ada yang mencubit lengannya, pipi atau lidahnya.
Kendala terhadap cara ini adalah laki-laki tidak dapat berkonsentrasi penuh secara psikologis dan
badaniah dalam hubunghan seks akibat ia merasa tidak senang, begitu juga istrinya.
Mengurangi komponen taktil penis dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah atau
kerasnya gosokan penis pada vagina dengan membatasi frekuensi gerakan atau jarak masuknya
penis ke dalam vagina, atau dengan mengurangi kepekaan reseptor pada glans penis (dengan
pemakaian kondom atau pengolesan anestetikum lokal pada glans penis).
Mengubah nilai-ambang kepekaan dilakukan sebagai berikut: suami atau istri merangsang
penis yang sudah ereksi hingga sampai pada perasaan akan terjadi orgasme dan ejakulasi.
Sebelum hal ini terjadi, rangsangan mendadak dihentikan. Gairah seksual dan mungkin juga
ereksi berkurang sesudah beberapa menit. Rangsangan kemudian dimulai lagi dan segera
dihentikan pula bila timbul perasaan akan terjadi orgasme, seperti sebelumnya. Latihan ini
dilakukan selama 20-30 menit sebanyak 2-3 kali sehari dan sesudah beberapa hari biasanya
koitus sudah lebih lama. Teknik ini rupanya melatih nilai-ambang kepekaan agar lebih tahan
rangsangan.