Anda di halaman 1dari 32

1

PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK MOZART TERHADAP PENURUNAN


INTENSITAS NYERI KLIEN
POST APPENDICTOMY DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH
ABSTRAK
Appendicitis merupakan penyakit infeksi akut yang salah satu tindakan pengobatan alternatifnya
adalah operasi. Di Indonesia sebanyak 27% dari seluruh jumlah penduduk di Indonesia. Sebagian
besar kasus Appendicitis harus menjalani appendectomy . Angka kejadian Appendictomy di
Rumah sakit Raden Mattaher Jambi meningkat dari jumlah 98 kasus pada tahun 2009 menjadi
115 penderita di tahun 2010. Hasil dari tindakan operasi apabila anastesi telah hilang adalah
nyeri. Nyeri yang dipersepsikan setiap individu berbedabeda sehingga dapat menggagu
kenyamanan pasien. Untuk mengatasi masalah nyeri pasien, maka salah satu intervensi
keperawatan yang dapat diimplementasikan melalui terapi music klasik Mozart. Penelitian Pre
eksperimental dengan design One Group Pre And Post Test Design ini bertujuan untuk melihat
sejauhmana pengaruh music klasik mozart terhadap nyeri klien post appendectomy di ruang
rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Kudus. Jumlah populasi sebanyak 115 orang dan sampel
sebesar 10 responden dengan tekhnik sampling purposive sampling. Tekhnik pengumpulan data
dengan observasi berdasarkan skala intensitas nyeri wajah dan wawancara kepada klien. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi music mozart terhadap nyeri post
appendectomy dengan p value= 0,000. Maka dari itu disarankan agar perawat dapat
mengaplikasikan terapi music mozart pada pasien dengan nyeri post appendiktomi agar pasien
merasa nyaman dan terhindar dari rasa nyeri.
Kata Kunci : music, klasik,mozart, nyeri post operasi




2

BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang Masalah
Angka kejadian apendisitis cukup tinggi di dunia. Di Amerika Serikat saja terdapat 70.000
kasus kejadian apendisitis setiap tahunnya. Kejadian apendisitis di Amerika Serikat memiliki
insiden 1-2 kasus per 10.000 anak per tahunnya antara kelahiran sampai anak tersebut
berumur 4 tahun. Kejadian Apendisitis meningkat menjadi 25 kasus per 10.000 anak per
tahunnya antara umur 10 dan umur 17 tahun di Amerika Serikat. Apabila dirata-ratakan, maka
didapatkan kejadian apendisitis 1,1 kasus per 1000 orang per tahun nya di Amerika Serikat
Insiden Appendicitis dari tahun ke tahun mengalami peningkatan terutama di negara- negara
berkembang, termasuk Indonesia. Dilaporkan bahwa sekitar 20% dari seluruh jumlah
penduduk di Indonesia mengalami appendicitis dan mengalami peningkatan pada tahun 2009
menjadi 30%. Insiden serupa terjadi di provinsi Kudus dimana peningkatan terjadi dari jumlah
287 di tahun 2009 menjadi 290 di tahun 2010. Angka kejadian Appendicitis berbanding lurus
dengan kejadian appendectomy. Berdasarkan data yang didapat dari Rekam Medik Rumah
Sakit Umum Daerah Kudus, ditemukan jumlah kasus appendectomy tahun 98 kasus
meningkat menjadi 115 kasus pada tahun 2010. Keluhan yang sering timbul ketika anastesi
hilang dan pasien sulit untuk melakukan mobilisasi. Menyikapi hal tersebut, maka peran
perawat adalah untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien dan meningkatkan kenyamanan
pasien. Mengingat efek nyeri yang dapat mengganggu aktifitas dan membuat proses
penyembuhan luka lebih lama, maka penatalaksanaan nyeri efektif tidak hanya mengurangi
ketidaknyamanan fisik tetapi juga meningkatkan mobilisasi lebih awal dan membantu klien
kembali bekerja lebih dini, mengurangi kunjungan klinik, memperpendek masa hospitalisasi
dan mengurangi biaya peralatan kesehatan (Potter dan Perry, 2005). Berdasarkan alasan
tersebut maka perlu adanya penelitian untuk mengetahui sejauh mana music klasik mozart
dapat mempengaruhi nyeri yang dirasakan oleh pasien post appendiktomi.


3

B. Rumusan Masalah
Upaya-upaya untuk menanggulangi nyeri pada pasien post op appendictomi dilakukan berbagai
cara nonfarmakologi antara lain distraksi, hypnosis-diri, mengurangi persepsi nyeri dengan cara
berpikir positif, kompres panas atau dingin. Pengendalian nyeri non farmakologi lebih murah,
simple efektif, dan tanpa efek yang merugikan. Berdasarkan uraian di atas maka dapat di ambil
rumusan masalah yaitu, Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Intensitas
Nyeri Klien Post Appendictomy Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kudus
Provinsi Jawa Tengah.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian dalam rumusan masalah diatas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian;
Apakah Ada Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Klien
Post Appendictomy Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kudus Provinsi Jawa
Tengah
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri
Klien Post Appendictomy Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kudus Provinsi
Jawa Tengah
2. Tujuan Khusus
Diharapkan peneliti mampu :
a. Mendeskripsikan tingkat nyeri pada pasien post op appendictomi.
b. Menganalisis Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Intensitas
Nyeri Klien Post Appendictomy Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kudus
Provinsi Jawa Tengah h.
E. Manfaat Penelitiaan
1. Bagi Peneliti
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengalaman di dalam
melakukan penelitian dan pengetahuan tentang pengaruh tehnik music mozart
terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post op appendictomi di RSUD
Kudus.

4

2. Bagi Institusi
a. Dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk penelitian selanjutnya.
b. Sebagai bentuk program pengabdian ke masyarakat dalam bentuk penelitian.

3. Bagi Organisasi Profesi
a. Dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk penelitian selanjutnya dan
berguna bagi pengembangan ilmu keperawatan di masa depan.
b. Mengembangkan profesi keperawatan yang lebih dekat ke masyarakat.

4. Bagi Masyarakat
a. Menjadi salah satu cara untuk masyarakat dalam mengurangi nyeri post op
appendictomi.
b. Dapat menjadi sumber pengetahuan di bidang kesehatan khususnya tentang tehnik
penurunan intensitas nyeri .












5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Nyeri
1. Definisi nyeri
Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun
berat. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang
dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri,
2007). Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya
kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya
kerusakan. Menurut Engel (1970) menyatakan nyeri sebagai suatu dasar sensasi
ketidaknyamanan yang berhubungan dengan tubuh dimanifestasikan sebagai
penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman atau fantasi
luka. Nyeri adalah apa yang dikatakan oleh orang yang mengalami nyeri dan bila
yang mengalaminya mengatakan bahwa rasa itu ada. Definisi ini tidak berarti
bahwa anak harus mengatakan bila sakit. Nyeri dapat diekspresikan melalui
menangis, pengutaraan, atau isyarat perilaku (Mc Caffrey & Beebe, 1989 dikutip
dari Betz & Sowden, 2002).

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri
Nyeri merupakan hal yang kompleks, banyak faktor yang mempengaruhi
pengalaman seseorang terhadap nyeri. Seorang perawat harus mempertimbangkan
faktor-faktor tersebut dalam menghadapi klien yang mengalami nyeri. Hal ini
sangat penting dalam pengkajian nyeri yang akurat dan memilih terapi nyeri yang
baik.
a. Usia
Menurut Potter & Perry (1993) usia adalah variabel penting yang mempengaruhi
nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkembangan yang
ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak
dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan memahami nyeri
dan beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat menyebabkan nyeri. Anak-
6

anak yang belum mempunyai kosa kata banyak, mempunyai kesulitan
mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada keluarga atau
perawat.
Pada orang dewasa, kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami
kerusakan fungsi ( Tamsuri, 2007).
Seorang perawat harus menggunakan teknik komunikasi yang sederhana dan tepat
dalam membantu anak dalam memahami dan mendeskripsikan nyeri. Perawat
dapat menunjukkan serangkaian gambar yang melukiskan deskripsi wajah yang
berbeda, seperti tersenyum, mengerutkn dahi, atau menangis. Anak dapat
menunjuk gambar yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan mereka.
b. Jenis Kelamin
Gill ( 1990 ) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak mempunyai perbedaan
secara signifikan mengenai respon mereka terhadap nyeri. Masih diragukan
bahwa jenis kelamin merupakan factor yang berdiri sendiri dalam ekspresi nyeri.
c. Budaya
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri.
Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh
kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri (Calvillo
& Flaskerud, 1991)
d. Ansietas
Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan nyeri,
mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tidak
memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri juga
tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praoperatif menurunkan
nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang relevan atau berhubungan dengan
nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri. Ansietas yang tidak
berhubungan dengan nyeri dapat mendistraksi pasien dan secara aktual dapat
menurunkan persepsi nyeri. Secara umum, cara yang efektif untuk menghilangkan
nyeri adalah dengan mengarahkan pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Smeltzer
& Bare, 2002).

7

e. Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Seringkali individu yang lebih berpengalaman dengan nyeri yang dialaminya,
makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan
diakibatkan. Individu ini mungkin akan lebih sedikit mentoleransi nyeri,
akibatnya ia ingin nyerinya segera reda sebelum nyeri tersebut menjadi lebih
parah. Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu tersebut mengetahui ketakutan
dapat meningkatkan nyeri dan pengobatan yang tidak adekuat.
Cara seseorang berespon terhadap nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri
selama rentang kehidupannya. Bagi beberapa orang, nyeri masa lalu dapat
menetap dan tidak terselesaikan, seperti pada nyeri berkepanjangan atau kronis
dan persisten. Efek yang tidak diinginkan yang diakibatkan dari pengalaman
sebelumnya menunjukkan pentingnya perawat untuk waspada terhadap
pengalaman masa lalu pasien dengan nyeri. Jika nyerinya teratasi dengan tepat
dan adekuat, individu mungkin lebih sedikit ketakutan terhadap nyeri dimasa
mendatang dan mampu mentoleransi nyeri dengan baik (Smeltzer & Bare, 2002).
f. Efek plasebo
Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau tindakan
lain karena sesuatu harapan bahwa pengobatan tersebut benar benar bekerja.
Menerima pengobatan atau tindakan saja sudah merupakan efek positif. Harapan
positif pasien tentang pengobatan dapat meningkatkankeefektifan medikasi atau
intervensi lainnya. Seringkali makin banyak petunjukyang diterima pasien tentang
keefektifan intervensi, makin efektif intervensitersebut nantinya. Individu yang
diberitahu bahwa suatu medikasi diperkirakandapat meredakan nyeri hampir pasti
akan mengalami peredaan nyeri dibandingdengan pasien yang diberitahu bahwa
medikasi yang didapatnya tidak mempunyaiefek apapun. Hubungan pasien
perawat yang positif dapat juga menjadi peran yang amat penting dalam
meningkatkan efek plasebo (Smeltzer & Bare, 2002).
g. Keluarga dan support social
Faktor lain yang juga mempengaruhi respon terhadap nyeri adalah kehadiran dari
orang terdekat. Orang-orang yang sedang dalam keadaan nyeri sering bergantung
pada keluarga untuk mensupport, membantu atau melindungi. Ketidakhadiran
8

keluarga atau teman terdekat mungkin akan membuat nyeri semakin bertambah.
Kehadiran orangtua merupakan hal khusus yang penting untuk anak-anak dalam
menghadapi nyeri (Potter & Perry, 1993).
h. Pola koping
Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sakit adalah
hal yang sangat tak tertahankan. Secara terus-menerus klien kehilangan kontrol
dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termasuk nyeri. Klien sering
menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri baik fisik maupun psikologis.
Penting untuk mengerti sumber koping individu selama nyeri. Sumber-sumber
koping ini seperti berkomunikasi dengan keluarga, latihan dan bernyanyi dapat
digunakan sebagai rencana untuk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien.
Sumber koping lebih dari sekitar metode teknik. Seorang klien mungkin
tergantung pada support emosional dari anak-anak, keluarga atau teman.
Meskipun nyeri masih ada tetapi dapat meminimalkan kesendirian. Kepercayaan
pada agama dapat memberi kenyamanan untuk berdoa, memberikan banyak
kekuatan untuk mengatasi ketidaknyamanan yang datang (Potter & Perry, 1993).

3. Klasifikasi Nyeri
Nyeri dikelompokkan sebagai nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut biasanya
datang tiba-tiba, umumnya berkaitan dengan cidera spesifik, jika kerusakan tidak
lama terjadi dan tidak ada penyakit sistemik, nyeri akut biasanya menurun sejalan
dengan penyembuhan. Nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung
beberapa detik hingga enam bulan (Brunner & Suddarth, 1996). Berger (1992)
menyatakan bahwa nyeri akut merupakan mekanisme pertahanan yang
berlangsung kurang dari enam bulan. Secara fisiologis terjadi perubahan denyut
jantung, frekuensi nafas, tekanan darah, aliran darah perifer, tegangan otot,
keringat pada telapak tangan, dan perubahan ukuran pupil.




9

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang satu
periode waktu. Nyeri kronis dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dan
sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon
terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronis sering
didefenisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih
.(Brunner & Suddarth, 1996 dikutip dari Smeltzer 2001).

4. Fisiologi Nyeri
Menurut Torrance & Serginson (1997), ada tiga jenis sel saraf dalam proses
penghantaran nyeri yaitu sel syaraf aferen atau neuron sensori, serabut konektor
atau interneuron dan sel saraf eferen atau neuron motorik. Sel-sel syaraf ini
mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan
ke sum-sum tulang belakang dan otak. Reseptor-reseptor ini sangat khusus dan
memulai impuls yang merespon perubahan fisik dan kimia tubuh. Reseptor-
reseptor yang berespon terhadap stimulus nyeri disebut nosiseptor
Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor melepaskan zat-zat kimia,
yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin, leukotrien, substansi p, dan
enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan
menyampaikan impuls ke otak (Torrance & Serginson, 1997). Menurut Smeltzer
& Bare (2002) kornu dorsalis dari medula spinalis dapat dianggap sebagai tempat
memproses sensori. Serabut perifer berakhir disini dan serabut traktus sensori
asenden berawal disini. Juga terdapat interkoneksi antara sistem neural desenden
dan traktus sensori asenden. Traktus asenden berakhir pada otak bagian bawah
dan bagian tengah dan impuls-impuls dipancarkan ke
korteks serebri.
Agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada sistem asenden harus
diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor nyeri yang terletak
dalam kulit dan organ internal. Terdapat interkoneksi neuron dalam kornu dorsalis
yang ketika diaktifkan, menghambat atau memutuskan taransmisi informasi yang
menyakitkan atau yang menstimulasi nyeri dalam jaras asenden. Seringkali area
ini disebut gerbang. Kecendrungan alamiah gerbang adalah membiarkan semua
10

input yang menyakitkan dari perifer untuk mengaktifkan jaras asenden dan
mengaktifkan nyeri. Namun demikian, jika kecendrungan ini berlalu tanpa
perlawanan, akibatnya sistem yang ada akan menutup gerbang. Stimulasi dari
neuron inhibitor sistem asenden menutup gerbang untuk input nyeri dan
mencegah transmisi sensasi nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).

5. Nyeri Post Operasi
Toxonomi Comitte of The International Assocation mendefinisikan nyeri post
operasi sebagai sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosi yang
berhubungan dengan kerusakan jaringan potensial atau nyata atau
menggambarkan terminologi suatu kerusakan (Alexander, 1987). Nyeri post
operasi akan meningkatkan stres post operasi dan memiliki pengaruh negatif pada
penyembuhan nyeri. kontrol nyeri sangat penting sesudah pembedahan, nyeri
yang dibebaskan dapat mengurangi kecemasan, bernafas lebih mudah dan dalam,
dapat mentoleransi mobilisasi yang cepat. Pengkajian nyeri dan
kesesuaian analgesik harus digunakan untuk memastikan bahwa nyeri pasien post
operasi dapat dibebaskan (Weist et all, 1983; Torrance & Serginson, 1997).
Menurut Potter dan Perry (1993); Torrance dan Sergison (1997) secara umum
respon pasien terhadap nyeri terbagi atas: (1) respon perilaku, dan (2) respon yang
dimanifestasikan oleh otot dan kelenjar otonom. Respon perilaku terdiri dari (1)
secara vokal: merintih, menangis, menjerit, bicara terengah-engah dan
menggerutu, (2) ekspresi wajah: meringis, merapatkan gigi, mengerutkan dahi,
menutup rapat atau membuka lebar mata atau mulut,
menggigit bibir dan rahang tertutup rapat, (3) geraakan tubuh: kegelisahan,
immobilisasi, ketegangan otot, peningkatan pergerakan tangan dan jari,
melindungi bagian tubuh, (4) interaksi sosial: menghindari percakapan, hanya
berfokus pada untuk aktivitas penurunan nyeri, menghindari kontak sosial,
berkurangnya perhatian.



11

6. Karakteristik Nyeri
Karakteristik nyeri dapat di lihat atau di ukur berdasarkan lokasi, durasi,
irama/periode, dan kualitas ( Judhe 2012 ). Karakteristik nyeri juga dapat dinilai
dengan metode PQRST , berikut keterangan lengkapnya :
P : Provocate
Tenaga kesehatan harus mengkaji tentang penyebab terjadinya
nyeri pada penderita, dalam hal ini perlu di pertimbangkan bagian-bagian tubuh yang
mengalami cidera termasuk menghubungkan antara nyeri yang diderita dengan factor
psikologisnya.
Q : Quality
Kualitas nyeri merupakan sesuatu yang subyektif yang
diungkapkan oleh klien, seringkali klien mendeskripsikan nyeri dengan kalimat nyeri seperti di
tusuk bahkan seperti di gencet.
R : Region
Untuk mengkaji lokasi, tenaga kesehatan meminta penderita untuk
menunjukkan semua bagian yang dirasa tidak nyaman.
S : Severe
Tingkat keparahan merupakan hal yang paling subyektif yang
dirasakan oleh penderita, karena akan diminta bagaimana kualitas nyeri, biasanya digambarkan
menggunakan skala yang sifatnya kuantitas.
T : Time
Tenaga kesehatan mengkaji tentang durasi dan rangkaian nyeri.
Perlu ditanyakan kapan mulai muncul adanya nyeri, berapa lama di rasakan, dan seberapa sering
kambuh lagi.

12


7. Skala Nyeri
a. Face Pain Rating Scale
Menurut Wong dan Baker (1998) pengukuran skala nyeri
menggunakan Face Pain Rating Scale yaitu terdiri dari 6 wajah kartun mulai dari
wajah yang tersenyum untuk tidak ada nyeri hingga wajah yang menangis untuk
nyeri berat.








b. Word Grapic Rating Scale
Menggunakan deskripsi kata untuk menggambarkan intensitas nyeri, biasanya
dipakai untuk anak 4-17 tahun (Testler & Other, 1993; Van Cleve & Savendra,
1993 dikutip dari Wong & Whaleys, 1996)






c. Skala intensitas nyeri numeric

13


B. Apendicytis
1.Pengertian
Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu (apendiks). Usus buntu
merupakan penonjolan kecil yang berbentuk seperti jariyang terdapat di
ususbesar, tepatnya di daerah perbatasan dengan usus halus. Usus buntu
mungkin memilikibeberapa fungsi pertahanan tubuh, tapi bukan merupakan
organ yang penting. Apendisitissering terjadi pada usia antara 10-30 tahun
2. Etiologi
Penyebab apendisitis belum sepenuhnya dimengerti. Pada kebanyakan kasus,
peradangandan infeksi usus buntu mungkin didahului oleh adanya
penyumbatan di dalam ususbuntu. Bila peradangan berlanjut tanpa
pengobatan, usus buntu bisa pecah.Usus buntu yang pecah bisa menyebabkan :
masuknya kuman usus ke dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang
bias berakibat fatal.
terbentuknya abses
pada wanita, indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan
menyebabkanpenyumbatan pada saluran yang bisa menyebabkan kemandulan
masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia), yang bisa berakibat
fatal.
3. Manifestasi Klinik
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari mual,
muntahdan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara
mendadak dimulaidi perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual
dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke
perut kanan bagianbawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita
merasakan nyeri tumpul dan jikapenekanan ini dilepaskan, nyeri bisa
bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8? Celsius. Pada bayi dan
anak-anak, nyerinyabersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orangtua
dan wanita hamil, nyerinyatidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya
14

tidak terlalu terasa. Bila usus buntupecah, nyeri dan demam bisa menjadi
berat. Infeksi yang bertambah buruk bias menyebabkan syok.
4.Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks
mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun
elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran
limfe yang mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus
dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut
apendisitis supuratif akut.
Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding appendiks
yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila
dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut appendikssitis
perforasi.
Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak
ke arah appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis.
Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang,
dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang
masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua
mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.
5.Penatalaksanaan
Pembedahan segera dilakukan, untuk mencegah terjadinya ruptur (peca),
terbentuknya absesatau peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis).
Pada hampir 15% pembedahan usus buntu, usus buntunya ditemukan normal.
Tetapipenundaan pembedahan sampai ditemukan penyebab nyeri
perutnya, dapat berakibatfatal. Usus buntu yang terinfeksi bisa pecah dalam
15

waktu kurang dari 24 jam setelahgejalanya timbul. Bahkan meskipun
apendisitis bukan penyebabnya, usus buntu tetapdiangkat. Lalu dokter bedah
akan memeriksa perut dan mencoba menentukan penyebabnyeri yang
sebenarnya. Pembedahan yang segera dilakukan bisa mengurangi angka
kematian pada apendisitis. Penderita dapat pulang dari rumah sakit dalam
waktu 2-3 hari dan penyembuhan biasanyacepat dan sempurna. Usus buntu
yang pecah, prognosisnya lebih serius. 50 tahun yang lalu, kasus yang
ruptursering berakhir fatal. Dengan pemberian antibiotik, angka kematian
mendekati nol.
C. Terapi Musik
1. Pengertian
Terapi musik terdiri dari 2 kata, yaitu kata terapi dan musik. Terapi
(therapi) adalah penanganan penyakit (Brooker, 2001). Terapi juga diartikan
sebagai pengobatan (Laksman, 2000). Sedangkan musik adalah suara atau
nada yang mengandung irama.

Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen musik oleh
seseorang terapis untuk meeningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan
kesehatan mental, fisik, emosional dan spiritual. Dalam kedokteran, terapi
musik disebut sebagai terapi pelengkap (Complementary Medicine), Potter
juga mendefinisikan terapi musik sebagai teknik yang digunakan untuk
penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau irama tertentu.
Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan dengan
keinginan, seperti musik klasik, instrumentalia, dan slow musik (Potter, 2005
dikutip dari Erfandi, 2009).

Menurut Willougnby (1996), musik adalah bunyi atau nada yang
menyenangkan untuk didengar. Musik dapat keras, ribut, dan lembut yang
membuat orang senang mendengarnya. Orang cenderung untuk mengatakan
indah terhadap musik yang disukainya. Musik ialah bunyi yang diterima oleh
16

individu dan berbeda bergantung kepada sejarah, lokasi, budaya dan selera
seseorang.
2. Manfaat Musik
Menurut Spawnthe Anthony (2003), musik mempunyai manfaat sebagai
berikut: (1) efek mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa
dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang, (2)
refresing, pada saat pikiran seeorang lagi kacau atau jenuh, dengan
mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan
menyegarkan pikiran kembali, (3) motivasi, hal yang hanya bisa dilahirkan
dengan feeling tertentu. Apabila ada motivasi, semangatpun akan muncul,
(4) terapi, berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat
musik untuk kesehatan, baik untuk kesehatan fisik maupun mental, beberapa
penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain: kanker, stroke,
dimensia, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi premature
3. Karakteristik Terapeutik Musik
Menurut Robbert (2002) dan Greer (2003), musik mempengaruhi persepsi
dengan cara: (1) distraksi, yaitu pengalihan pikiran dari nyeri, musik dapat
mengalihkan konsentrasi klien pada hal-hal yang menyenangkan, (2)
relaksasi, musik menyebabkan pernafasan menjadi lebih rileks dan
menurunkan denyut jantung, karena orang yang mengalami nyeri denyut
jantung meningkat, (3) menciptakan rasa nyaman, pasien yang berada pada
ruang perawatan dapat merasa cemas dengan lingkungan yang asing baginya
dan akan merasa lebih nyaman jika mereka mendengar musik yang
mempunyai arti bagi mereka.
Terapi musik adalah penggunaan musik untuk relaksasi, mempercepat
penyembuhan, meningkatkan fungsi mental dan menciptakan rasa sejahtera.
Musik dapat mempengaruhi fungsi-fungsi fisiologis, seperti respirasi, denyut
jantung dan tekanan darah (Greer, 2003). Musik juga dapat menurunkan kadar
hormon kortisol yang meningkat pada saat stres. Musik juga merangsang
pelepasan hormon endorfin, hormon tubuh yang memberikan perasaan senang
yang berperan dalam penurunan nyeri (Berger, 1992).
17

Menurut Greer (2003), keunggulan terapi musik yaitu: (1) lebih murah
daripada analgesia, (2) prosedur non-invasif, tidak melukai pasien, (3) tidak
ada efek samping, (4) penerapannya luas, bisa diterapkan pada pasien yang
tidak bisa diterapkan terapi secara fisik untuk menurunkan nyeri. Menurut
Potter (2005 dikutip dari Erfandi, 2009), musik dapat digunakan untuk
penyembuhan, musik yang dipilih pada umumnya musik lembut dan teratur
seperti instrumentalia/ musik klasik mozart.

4. Terapi Musik Klasik Mozart
Musik klasik mozart adalah musik klasik yang muncul 250 tahun yang lalu.
Diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Selain kemampuannya untuk
menyembuhkan berbagai penyakit, memberikan efek positif pada ibu hamil
dan janin, disamping itu beberapa penelitian oleh Alfred dan Campbell sudah
membuktikan bahwa musik klasik mozart bisa mengurangi nyeri pasien.
Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada musik
klasik mozart mampu merangsang dan memberdayakan kreatifitas dan
motivatif diotak. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak
dapat digunakan
(Andreana, 2006).

5. Proses Penurunan Nyeri Dengan Terapi Musik Klasik Mozart
Terapi musik klasik mozart dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori Gate
Control, bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme
pertahanan disepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa
impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat
saat sebuah pertahanan ditutup. Salah satu cara menutup mekanisme
pertahanan ini adalah dengan merangsang sekresi endorfin yang akan
menghambat pelepasan substansi P. Musik klasik mozart sendiri juga dapat
merangsang peningkatan hormon endorfin yang merupakan substansi sejenis
morfin yang disuplai oleh tubuh. Sehingga pada saat neuron nyeri perifer
mengirimkan sinyal ke sinaps, terjadi sinapsis antara neuron perifer dan
18

neuron yang menuju otak tempat seharusnya substansi p akan menghantarkan
impuls. Pada saat tersebut, endorfin akan memblokir lepasnya substansi P dari
neuron sensorik, sehinnga transmisi impuls nyeri di medula spinalis menjadi
terhambat, sehingga sensasi nyeri menjadi berkurang.



























19

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki
atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu
(Notoatmodjo, 2005).
Sutrisno Hadi mendefinisikan variable sebagai gejala yang bervariasi misalnya jenis
kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi : laki-laki dan perempuan, berat badan :
karena berat badan ada yang 40 kg dan sebagainya (Arikunto, 2006).
1. Variable bebas (Independent Variable)
Variabel independent (bebas) disebut juga variabel sebab, adalah variabel yang
nilainya mempengaruhi variabel lain (Notoatmodjo, 2005).
Variabel independent (bebas) pada penelitian ini adalah teknik terapi music Mozart.
2. Variabel terikat (Dependent Variable)
Varibel dependent (terikat) disebut variabel akibat atau tergantung, adalah variabel
yang nilainya dipengaruhi oleh variabel bebas (Notoatmodjo, 2005)
Variabel dependent (terikat) pada penelitian ini adalah penurunan intensitas nyeri
B. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Sedangkan hipotesis di dalam
suatu penelitian adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau dalil sementara,
yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. (Notoatmodjo, 2005:72)
Berdasarkan pada kerangka teori, maka hipotesis penelitiannya adalah
20

Ha : Ada Pengaruh Terapi Musik Mozart terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien Post
Appendyctomi di Ruang Perawatan RSUD Kudus..
Ho : Tidak ada Pengaruh Terapi Musik Mozart terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien
Post Appendyctomi di Ruang Perawatan RSUD Kudus...
C. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan kerangka teori yang ada, maka kerangka konsep dapat digambarkan
sebagai berikut :
Variabel bebas (Independent) Variabel terikat (dependent)


Bagan 3.1 Kerangka konsep
D. Rancangan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasi Ekperimental, desain
ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk
mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperiment
(Sugiyono 2010)
Sedangkan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain
penelitian Nonequivalent control group pre test - post test. Desain ini bertujuan
mengidentifikasi hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan dua kelompok subyek.
Kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi
setelah intervensi (Notoatmodjo 2005)
Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.2 Desain Penelitian
Penurunan Intensitas Nyeri Pasien
Post Appendyctomi di RSU Kudus
Terapi Musik Klasik Mozart




21





Keterangan.
O
1
: nilai Pretest (sebelum diberi perlakuan)
X : treatment yang diberikan
O
2
: nilai Posttest (setelah diberi perlakuan)
O
3
: nilai Pretest (Sebelum diberi perlakuan)
O
4
: yang tidak diberi perlakuan
2. Metode Pengumpulan Data
Berdasarkan sumber data, maka data dalam penelitian ini dapat digolongkan
menjadi:
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan
mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek
sebagai sumber informasi yang dicari (Azwar, 2012).
Data primer pada penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara langsung
terhadap responden di RSUD Kudus dengan menggunakan kuesioner sebagai alat
pengumpulan data.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung yang
biasanya berupa data dokumentasi dan arsip.
Adapun langkah pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Peneliti meminta surat keterangan melakukan penelitian kepada Institusi
Pendidikan, yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah
Kudus.
22

2. Selanjutnya meminta ijin pada pengelola RSUD Kabupaten Kudus
3. Peneliti meminta ijin melakukan wawancara terhadap responden.
4. Mencatat jumlah Pasien Post Appendyctomi di RSUD Kudus
5. Kemudian mengambil responden sesuai kriteria inklusi
6. Memberikan penjelasan kepada responden mengenai maksud dan tujuan
penelitian.
7. Membagikan kuesioner sebelum diberikan perlakuan untuk diisi.
8. Mengumpulkan kuesioner yang telah dikerjakan oleh responden.
9. Menilai kuesioner yang telah terkumpul (hasil pre-test)
10. Memberikan pelatihan pada responden tentang terapi music mozart
11. Responden melakukan terapi music mozart dengan mandiri selama 7 hari
12. Membagikan kuesioner setelah diberikan perlakuan
13. Mengumpulkan kuesioner yang telah dikerjakan oleh responden
14. Menilai kuesioner yang terkumpul (hasil post-test)
15. Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data
dengan bantuan program komputer.
3. Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh subyek atau obyek yang memiliki kuantitas dan karateristik
tertentu yang akan diteliti (Alimul, 2007). Populasi dapat dibedakan menjadi dua
kategori, yaitu populasi target dan populasi terjangkau (accessible population). Populasi
target adalah populasi yang memenuhi sampling kriteria dan menjadi sasaran akhir
penelitian, sedangkan populasi terjangkau adalah populasi yang memenuhi kriteria
dalam penelitian dan biasanya dapat dijangkau oleh peneliti dari kelompoknya
(Nursalam, 2011).
23

Populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 62 Pasien post op appendictomi., Data
tersebut sesuai catatan di RSUD Kabupaten Kudus bulan November Desember tahun
2013.
4. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006).
Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah Pasien post appendyctomi di RSUD
Kabupaten Kudus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi tersebut dibawah ini.
a. Kriteria Inklusi
1. Pasien post appendyctomi di RSUD Kudus
2. Pasien post appendyctomi yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
b. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah kriteria dimana subjek tidak dapat mewakili sampel
karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian karena ada hambatan
(Alimul, 2007).
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah
1. Pasien post appendyctomi yang mengundurkan diri saat berjalannya terapi/
ditengah jalannya penelitian.
2. Pasien post appendyctomi yang mengalami perburukan kondisi sehingga
diperlukan perawatan selanjutnya.
Untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10,000, dapat menggunakan rumus
yang lebih sederhana lagi seperti berikut :



24

keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar Sampel
d = Tingkat Kesalahan
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah :







Dibulatkan
Dibulatkan menjadi 38
Jadi sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 38 responden.

Dalam penelitian ini sampel yang memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pembagian kelompok
tersebut adalah 19 responden yang mendapat intervensi dan 19 responden yang tidak
mendapatkan intervensi.

5. Definisi Operasional Variabel Penelitian dan Skala Pengukur
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan
berdasarkan karakter yang diamati. Memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi
atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Alimul, 2007).

x




n
=
62
1+62 (0,1)
n =
62
1+62 (0,01)
21+
102
(0,0
1)
n =
62
1,62
n = 38,2
25



Tabel 3.1
Definisi Operasional dan Skala Ukur Variabel
No Variabel Definisi
Operasional
Alat Ukur Kategori/ Skor Skala
1 2 3 4 5 6
1. Terapi
musik
mozart
Individu
mampu
menurunkan
rasa nyeri

Buku kerja / pedo
man wawan cara
1 dilakukan terapi
2. tidak dilakukan
terapi

Nominal
2. Penurunan
Intensitas
nyeri
Proses
gerakan,
termasuk
situasi yang
mendorong
yang timbul
dalam diri
individu,
tingkah laku
yang
ditimbulkan
oleh situasi
tersebut dan
tujuan atau
akhir daripada
gerakan atau
perbuatannya.
Diukur
menggunakan
kuesioner yang
terdiri atas 28
pertanyaan
dengan model
yaitu motivasi
intrinsic dan
motivasi
ekstrinsik
dengan pilihan
jawaban dan
skornya :
1.Tidak
sesuai
skor 1-2
2. cukup
sesuai
skor 3-5
3. sesuai
skor 6-7

1.) Tidak memiliki
motivas,
perempuan rata
rata 3,00 dan
laki-laki rata-
rata 3,10.
2.) Peraturan
eksternal ,
perempuan rata
rata 3,59 dan
laki-laki rata-
rata 3,72.
3.) introyeksi,
perempuan rata
rata 4,04 dan
laki-laki rata-
rata 3,70
4.) Identifikasi,
perempuan rata
rata 3,24 dan
laki-laki rata-
rata 3,15
5.) untuk
mengetahui,
perempuan rata
rata 3,73 dan
laki-laki rata-
rata 3,47.
Rasio
26

6.) Menuju prestasi
perempuan rata-
rata 3,40 dan
laki laki rata-rata
3,30
7.) Pengalaman
stimulasi
permepuan 3,49
dan laki-laki
2,99

6. Instrumen Penelitian dan Cara Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data, sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2002). Pada penelitian ini,
instrumen yang digunakanadalah Pedoman Strategi / teknik terapi musik mozart / buku
kerja dan kuesioner.
a. Pedoman strategi/teknik dilakukan untuk panduan pelaksanaan terapi musik mozart
b. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis berupa angket atau kuesioner dengan
beberapa pertanyaan.
Kuesioner Untuk mengukur motivasi hidup terdiri dari 28 pertanyaan, pedoman
penelitian diadobsi dari Global Motivation Scale (Rups 28), yang disusun oleh
Frdric Guay , Genevive

A. Mageau et Robert J. Vallerand Society for Personality and Social Psychology ,
29:8 2003
Tabel 3.2
model Jawaban sesuai panduan Global Motivation Scale



1 2 3 4 5 6 7
Tidak sesuai

Cukup
sesuai

sesuai

27





Tabel 3.3
Kunci skor RUPS-28
Nomor butir Indikator
4 , 11 , 18 , 25 : Motivasi intrinsik - untuk mengetahui
6 , 13 , 20 , 27 : Motivasi Intrinsik - menuju prestasi
1 , 8 , 15 , 22 : Motivasi intrinsik - Pengalaman Stimulasi
3 , 10 , 17 , 24 : Motivasi ekstrinsik identifikasi
5 , 12 , 19 , 26 : Motivasi ekstrinsik introyeksi
2 , 9 , 16 , 23 : Motivasi ekstrinsik - Peraturan eksternal
7 , 14 , 21 , 28 : tidak memiliki motivasi

Tabel 3.4
Kategori penilaian
Motivation
subscales
Females Males
SD
(Standar
penyimpangan
)
M
(rata-rata)
SD
(Standar
penyimpang
an)
M
(rata-rata)
tidak memiliki
motivasi
6.89 3.00 6.98 3.10
Peraturan eksternal
*
10.82 3.59 11.56 3.72
introyeksi 12.46 4.04 12.29 3.70
identifikasi 13.13 3.24 12.90 3.15
untuk mengetahui *

13.05 3.73 12.42 3.47
menuju prestasi *

14.88 3.40 14.17 3.30
28

Pengalaman
Stimulasi
14.57 3.49 14.76 2.99
*P < 0,5

7. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data
a. Teknik Pengolahan Data
1) Editing Data
Memeriksa atau editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh dari responden. Editing dilakukan pada tahap pengumpulan
data atau setelah data terkumpul (Alimul,2007).
2) Coding
mengklasifikasi jawaban yang ada dan mengelompokkan menurut macamnya
secara manual.
3) Entry Data
Kegiatan memasukan data yang telah terkumpul kedalam master table atau
data base computer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana.
4) Tabulasi (Tabulating)
Data yang ada disusun dalam bentuk tabel atau grafik distribusi frekuensi dan
diolah dengan menggunakan program komputer.
b. Teknik Analisa Data
Analisa hasil penelitian ini akan menganalisis pengaruh terapi berpikir positif
terhadap perilaku membuang dahak pada pasien tuberkulosis. Analisa nyata yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat.
1) Analisis Univariat
29

Analisa univariat yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil
penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi
frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2005). Analisa
univariat pada penelitian adalah logoterapi.
Rumus analisa univariat :

Keterangan:
f : Frekuensi yang dihasilkan
N : Jumlah seluruh sample
2) Analisa Bivariat
Merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui interaksi dua
variabel, baik berupa komparatif, asosiatif, maupun korelatif. (Saryono, 2010).
Analisa bivariat yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh terapi musik Mozart di RSUD Kabupaten Kudus
penelitian ini menggunakan uji t test paired karena dalam penelitian ini
membandingkan antara kelompok sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menggunakan Uji-t
Berpasangan. Dalam hal ini untuk Uji Komparasi antar dua nilai pengamatan
berpasangan, (paired) misalnya sebelum dan sesudah (Pretest & postest) di
gunakan pada :
a. satu sampel (setiap elemen ada 2 pengamatan)
b. Data kuantitatif (nominal rasio)
30

c. berasal dari populasi yang berdistribusi normal (di populasi terdapat
distribusi deference = d yang berdistribusi normal dengan mean md = 0
dan variance sd
2
= 1). (Purnomo, 2006)
Adapun rumus uji t test yaitu:
y
2
y
x
2
x
N
S

N
S
Y - X
t


Keterangan:
X
= rata-rata kelompok sebelum diberi perlakuan
Y = rata-rata kelompok setelah diberi perlakuan
2
x
S = Standard deviasi sebelum diberi perlakuan
2
y
S = standar deviasi setelah diberi perlakuan
X
N = jumlah subjek sebelum diberi perlakuan
y
N = jumlah subjek setelah diberi perlakuan
Aturan pengambilan keputusan :
(1) H
o
diterima jika t

hitung lebih kecil atau sama dengan t

tabel berarti
ada pengaruh terapi musik mozart terhadap penurunan intensitas nyeri
Klien post appendyctomi di RSUD Kabupaten Kudus Tahun 2013
(2) H
o
ditolak jika t

hitung lebih besar atau sama dengan t

tabel berarti
tidak ada pengaruh terapi musik mozart terhadap penurunan intensitas
nyeri Klien post appendyctomi di RSUD Kudus Tahun 2013

E. Etika Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti menekankan masalah etika meliputi :
1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden
penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuan informed consent adalah agar
31

subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetaui dampaknya. Jika subjek
bersedia maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan, jika responden tidak
bersedia maka peneliti harus menghormati hak pasien (Hidayat, 2008).
2. Anonymity (tanpa nama)
Masalah etika penelitian merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam
penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau tidak mencantumkan
nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar
pengumpulan data (Hidayat, 2008).
3. Confidentiality (kerahasiaan).
Masalah etika penelitian ini dengan maksud memberikan jaminan kerahasiaan hasil
penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang
akan dilapokan pada hasil riset (Hidayat, 2008).
















32

DAFTAR PUSTAKA

Judha, 2012. Teori Pengukuran Nyeri. Yogyakarta : Nuha Medika
Potter, P.A, Perry, A.G.Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,Proses, dan Praktik.Edisi
4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata.Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.2005
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/110/jtptunimus-gdl-agustinnur-5451-2-babii.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20095/4/Chapter%20II.pdf
ANALISIS JURNAL bedah www.scribd.com
http://books.google.co.id/books?ide

Anda mungkin juga menyukai