MODUL

ACUAN PROSES PEMBELAJARAN

MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNTUK PROGRAM D3 TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN

PENYUSUN: ABDUROHIM, S.Ag. FATAH SULAEMAN, S.T., M.T. M. FAKHRURIZA PRADANA, S.T.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI 2007

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
I. Dasar Penyusunan Modul Matakuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam a. Surat Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor :

38/DIKTI/Kep/2002 tanggal 18 Juli 2002 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Matakuliah Pengembangan Kepribadian di

Perguruan Tinggi. b. Surat Direktur Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan Nomor 2043/D2/2002 tanggal 18 September 2002 tentang Penyusunan Modul Acuan Proses Pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian.

II.

Tujuan

Dasar

Penyusunan

Modul

Matakuliah

Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam a. Sebagai bahan acuan bagi para mahasiswa agar menyadari pentingnya Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu mata kuliah ini diarahkan kepada proses penghayatan dan internalisasi sehingga mahasiswa memiliki komitmen terhadap ajaran agama serta mampu melaksanakan ajarannya secara integral dalam kehidupannya sehari-hari. b. Untuk memperlancar pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif, efisien dan menarik. c. Sebagai panduan bagi mahasiswa untuk mengembangkan substansi kajian yang lebih kontekstual, kontemporer, diminati dan mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi sumber kajian lebih lanjut melalui kegiatan mandiri atau kerjasama dengan pihak lainnya.

III. Visi dan Misi Matakuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam.

Visi Menjadikan nilai-nilai Relijius sebagai pedoman hidup yang mengantarkan mahasiswa dalam pengembangan profesi dan

berkepribadian yang baik (insan kamil).

Misi Terbinanya Mahasiswa yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan luas dan luwes serta berakhlak mulia yang menjadikan ajaran agamanya sebagai landasan berpikir dan berperilaku dalam pengembangan kepribadian dan profesinya.

IV. Materi

Pembelajaran

Matakuliah

Pengembangan

Kepribadian Pendidikan Agama Islam.

1. Konsepsi Iman Kepada Tuhan Yang Maha Esa 1.1. Cara Mengenal Tuhan Yang Maha Esa 1.2. Mencintai Tuhan Yang Maha Esa 1.3. Peringkat dan Konsekuensi Cinta.

2. Akhlak, Ihsan, Etika dan Moral 2.1. Konsep Akhlak, Ihsan, Etika dan Moral 2.2. Nilai, Norma, Sikap dan Tingkahlaku 2.3. Karakteristik Etika Islam

3. Akhlak Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 3.1. Tindakan Berfikir 3.2. Dzikir dan Do’a 3.3. Istighfar 3.4. Taubat.

4. Akhlak Terhadap Makhluk 4.1. Akhlak Terhadap Diri Sendiri 4.2. Akhlak Terhadap Orang Tua 4.3. Akhlak Antara Suami-Istri 4.4. Akhlak Terhadap Sesama Manusia 4.5. Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup

5. Prinsip-prinsip Pengetahuan Alam Dalam Kitab Suci 5.1. Ilmu dan Teknologi Tuhan 5.2. Perintah Mencari Ilmu 5.3. Sains Membuktikan Kebenaran Ayat Al Qur’an 5.4. Jasa Umat Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan.

6. Peranan Agama dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni 6.1. Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni 6.2. Integrasi Iman, IPTEKS dan Amal 6.3. Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu 6.4. Tanggungjawab Ilmuan terhadap Alam dan Lingkungan.

7. Tantangan Generasi Muda dalam Menerobos Masyarakat Industri 7.1. Pemuda sebagai Generasi Harapan Bangsa dan Agama 7.2. Tantangan Masyarakat Industrial Terhadap Teori Sosial Ekonomi Islam 7.3. Persiapan Generasi Muda Islam dalam Menghadapi Masyarakat Industri 7.4. Seni Berjama’ah sebuah Jawaban Alternatif.

8. Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat 8.1. Konsep Masyarakat Madani

8.2. Peranan Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani 8.3. Sistem Ekonomi Islam dalam Kesejahteraan Umat 8.4. Manajemen Zakat, Infak dan Wakaf.

9. Kerukunan Antar Umat Beragama 9.1. Agama Islam merupakan Rahmat bagi Semesta Alam 9.2. Konsep Persaudaraan Islam dan Persaudaraan sesama Manusia 9.3. Kebersamaan Umat Beragama dalam Kehidupan Sosial.

V.

Struktur

Substansi

Kompetensi

Matakuliah

Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam

Kompetensi MPK Pendidikan Agama Islam: a. Membimbing mahasiswa memperkuat iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Mengantarkan mahasiswa mengembangkan akhlak mulia dan peka terhadap lingkungannya c. Membimbing mahasiswa mengembangkan penalaran yang baik, berfikir kritis dan menjadikan nilai-nilai agama untuk mengenali berbagai masalah aktual dan menyelesaikannya d. Mengantarkan mahasiswa memiliki wawasan yang luas dan mengenali berbagai perubahan di masyarakat serta mampu mengambil keputusan dan sikap secara bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai agama yang diyakininya e. Mengantarkan mahasiswa mampu berkomunikasi dengan baik, bersikap mandiri dan toleran dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama f. Mengantarkan mahasiswa mampu bersikap rasional dan dinamis dalam rangka mengembangkan dan memanfaatkan IPTEKS sesuai dengan nilai-nilai agama bagi kepentingan bangsa dan umat manusia

VI. Peranan Tiap Materi Pokok Dalam Kesatuan Modul Matakuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam a. Konsepsi Iman Kepada Tuhan Yang Maha Esa (materi 1): Memberikan landasan utama dalam pelaksanaan ajaran agama secara utuh b. Akhlak, Ihsan, Etika dan Moral (materi 2): Memberikan pemahaman yang benar tentang Akhlak, Ihsan, Etika dan Moral serta aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari c. Akhlak Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (materi 3): Memberikan pemahaman bagaimana berakhlak terhadap Tuhan Yang Maha Esa d. Akhlak Terhadap Makhluk (materi 4): Memberikan pemahaman bagaimana berakhlak terhadap makhluk e. Prinsip-prinsip Pengetahuan Alam Dalam Kitab Suci (materi 5): Memberikan wawasan dan menumbuhkan kesadaran tentang prinsip-prinsip pengetahuan alam f. Peranan Agama Dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (materi 6): Memberikan wawasan tentang integrasi antara iman, IPTEKS dan amal g. Tantangan Generasi Muda dalam Menerobos Masyarakat Industri (materi 7): Memberikan wawasan yang luas untuk mengantisipasi perubahan di masyarakat h. Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat (materi 8):

Memberikan pemahaman tentang konsep masyarakat madani dalam upaya mewujudkan kesejahteraan umat i. Kerukunan Antar Umat Beragama (materi 9): Memberikan wawasan dan menumbuhkan kesadaran perlunya kebersamaan dalam pluralitas kehidupan beragama

VII. Deskripsi

Materi

Pembelajaran

Matakuliah

Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam

1. Pengantar Kuliah 1.1. Konsep General Education (MPK) 1.2. Kedudukan MPK PAI dalam Kurikulum Perguruan tinggi 1.3. Tujuan MPK PAI 1.4. Proses Pembelajaran MPK PAI

2. Konsepsi Iman Kepada Tuhan Yang Maha Esa 2.1. Cara Mengenal Tuhan Yang Maha Esa 2.2. Mencintai Tuhan Yang Maha Esa 2.3. Peringkat dan Konsekuensi Cinta.

3. Akhlak, Ihsan, Etika dan Moral 3.1. Konsep Akhlak, Ihsan, Etika dan Moral 3.2. Nilai, Norma, Sikap dan Tingkahlaku 3.3. Karakteristik Etika Islam

4. Akhlak Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 4.1. Tindakan Berfikir 4.2. Dzikir dan Do’a 4.3. Istighfar 4.4. Taubat.

5. Akhlak Terhadap Makhluk 5.1. Akhlak Terhadap Diri Sendiri 5.2. Akhlak Terhadap Orang Tua 5.3. Akhlak Antara Suami-Istri 5.4. Akhlak Terhadap Sesama Manusia 5.5. Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup

6. Prinsip-prinsip Pengetahuan Alam Dalam Kitab Suci 6.1. Ilmu dan Teknologi Tuhan 6.2. Perintah Mencari Ilmu 6.3. Sains Membuktikan Kebenaran Ayat Al Qur’an 6.4. Jasa Umat Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan.

7. Peranan Agama Dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni 7.1. Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni 7.2. Integrasi Iman, IPTEKS dan Amal 7.3. Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu 7.4. Tanggungjawab Ilmuan terhadap Alam dan Lingkungan.

8. Tantangan Generasi Muda dalam Menerobos Masyarakat Industri 8.1. Pemuda sebagai Generasi Harapan Bangsa dan Agama 8.2. Tantangan Masyarakat Industrial Terhadap Teori Sosial Ekonomi Islam 8.3. Persiapan Generasi Muda Islam dalam Menghadapi Masyarakat Industri 8.4. Seni Berjama’ah sebuah Jawaban Alternatif.

9. Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat 9.1. Konsep Masyarakat Madani 9.2. Peranan Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani 9.3. Sistem Ekonomi Islam dalam Kesejahteraan Umat 9.4. Manajemen Zakat, Infak dan Wakaf. 10. Kerukunan Antar Umat Beragama 10.1. Agama Islam merupakan Rahmat bagi Semesta Alam 10.2. Konsep Persaudaraan Islam dan Persaudaraan sesama Manusia 10.3. Kebersamaan Umat Beragama dalam Kehidupan Sosial.

VIII.

Pendekatan dan strategi pembelajaran Matakuliah Pengembangan Islam Kepribadian Pendidikan Agama

a.

Pendekatan

pembelajaran

Matakuliah

Pengembangan

Kepribadian Pendidikan Agama Islam adalah menempatkan mahasiswa sebagai subjek pendidikan, mitra dalam proses pembelajaran serta sebagai umat, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara b. Strategi pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam adalah melakukan pembahasan secara kritis, analitis, induktif, deduktif dan reflektif melalui dialog kreatif yang bersifat partisipatoris untuk meyakini kebenaran substansi dasar kajian

MATERI POKOK MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1.

KONSEPSI IMAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA

1.1. Cara Mengenal Tuhan Pertanyaan terbesar yang mengganggu para filosof dari sejak awal sejarah peradaban manusia, dan jawabannya belum dapat memuaskan bagi sebagian mereka adalah pertanyaan mendasar tentang: dari mana asal kita? Dan akan kemana kita pergi?

Dari sejak permulaan zaman batu tua (paleolithicum) manusia telah memuja patung-patung batu (totem) sebagai manifestasi dari rasa kebutuhannya akan sesuatu yang bersifat super dan berada di luar dirinya. Sejarah kemanusiaan telah mencatat perkembangan proses mencari Tuhan ini dari sejak animisme dengan penyembahan terhadap berhala. Lalu dinamisme, yaitu kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan magis, sampai kepada kepercayaan kepada agama samawi.

Terdapat berbagai cara yang dilakukan manusia untuk mengenal Tuhan. Secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, sebagai berikut: a. Cara yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang tidak beriman kepada Tuhan, dan adanya pembalasan amal. Mereka berusaha mencari jawaban tentang keberadaan Tuhan melalui panca indera dan hawa nafsunya. Akibatnya ketika Tuhan tersebut tidak dapat mereka lihat, tidak dapat didengar, tidak dapat diraba, tidak dapat dirasa, dan tidak dapat dicium, maka mereka berkesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada, atau paling tidak mereka menerima keberadaan Tuhan dengan dihantui oleh keraguan yang besar. (Q.S. 24:50). b. Cara kedua adalah cara Islam dalam mengenal Tuhan YME, yaitu dengan meneliti dan mentafakkuri alam semesta beserta segala keindahan,

kerapihan

dan

kedahsyatannya.

(Q.S.

41:53,

3:190).

Lalu

menggabungkannya dengan isyarat-isyarat yang ada dalam Al Qur’an (Q.S. 95:1-5). Apakah mungkin alam yang demikian rapih, indah, dan luar biasa ini dapat terjadi secara kebetulan, tentu merupakan sesuatu yang tidak mungkin? Sehingga ia sampai kepada sikap membenarkan tentang adanya sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur (Q.S 3:191). Maka ia menjadi seorang yang mengenal Tuhan YME dan beriman secara benar.

Mungkinkah kita dapat melihat Tuhan di dunia ini? Tuhan sangat mengetahui rasa penasaran hamba-Nya ini, sehingga Dia menceritakan di dalam Al Qur’an tentang seorang hamba yang dikasihi-Nya (Musa as) yang juga pernah bertanya demikian. Dengan halus Tuhan telah membuat hamba-Nya (Musa as) sadar atas dirinya yang begitu lemah untuk sanggup melihat Sang Maha Pencipta (Q.S. 7:143).

Dalam Dalil Logika Statistika, sebagian ilmuwan yang atheis telah membuat suatu premis bahwa alam ini semuanya tercipta secara kebetulan. Pendapat mereka berdasarkan pada teori big bang tentang asal mula alam, dan teori Stanley Miller tentang asal mula kehidupan. Untuk meruntuhkan pijakan mereka dapat diketengahkan teori propalistic dalam statistika berikut: jika dimisalkan bahwa secara berturut-turut A adalah penciptaan nebula (kabut cikal bakal galaksi). B adalah penciptaan nebula menjadi milyaran galaksi (kumpulan bermilyar bintang). C adalah berpisahnya milyaran galaksi tersebut menjadi berkelompok-kelompok. D adalah terjadinya sistem Tata Surya didalam galaksi Bima Sakti (milky way). E terpilihnya bumi sebagai planet yang cocok untuk kehidupan. F adalah terciptanya tumbuh-tumbuhan. G adalah terdiferensiasinya tumbuhan tersebut menjadi jutaan jenis yang berbeda-beda, dan seterusnya. Jika diasumsikan bahwa A,B,C,D,E,F,G, dan seterusnya adalah semuanya itu terjadi secara kebetulan. Sementara ,B,C,D,E,F,G, dan seterusnya (aksen) adalah kesemuanya itu diciptakan oleh Tuhan YME maka peluangnya dapat dihitung sebagai berikut:

P(A) = 0,5 = P( ) P(B:A) = 0,5 = P(B:A)

Maka P(B) = P(A) x P(B:A) = 0,5 x 0,5 = 0,25 P(C:B) = 0,5 = P(C:B) Maka P(C) = P(B) x P(C:B) = 0,25 x 0,25 = 0,125 P(D:C) = 0,5 = P(D:C) Maka P(D) = P(C) x P(D:C) = 0,125 x 0,125 = 0,015625

Demikian seterusnya, sehingga jika ada 100 tingkat kebetulan maka peluangnya menjadi = 0,5 x 10100. Sementara dialam semesta ini, banyaknya keteraturan yang terjadi melebihi dari sejuta tingkatan, maka peluang bahwa kejadian tersebut merupakan sebuah kebetulan adalah 0,5 x 101000000 = 0, artinya mustahil. Sehingga kesimpulannya, semua keteraturan menunjukkan adanya Tuhan YME sebagai yang menciptakan (al-Khalik) dan sekaligus senantiasa mengatur ciptaannya setiap waktu (al-Qayyum).

1.2. Mencintai Tuhan YME Keyakinan akan keberadaan Tuhan YME menuntut kita untuk menaati semua perintah dan menjauhi semau larangan-Nya. Kesemuanya itu tidak akan tercapai dengan baik, jika tanpa didasari oleh cinta yang mendalam kepada-Nya.

Dalam Islam, cinta dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu cinta yang berpahala (syar’i) dan menghasilkan iman (Q.S 3:15) dan cinta yang tidak syar’i dan menghasilkan syahwat (Q.S. 3:14).

Tanda-tanda seorang yang mencitai Tuhan YME adalah: a. Banyak mengingat-Nya (Q.S. 8:2). Seorang yang mencintai sesuatu, ia akan banyak mengingatnya. Kepada siapa cinta tertinggi seseorang diberikan, dapat dilihat melalui kepada siapa ia paling banyak mengingat. Bagi seorang yang beragama, maka cinta tertingginya harus diberikan kepada Tuhan YME. b. Terpesona (Q.S. 1:1). Cinta dapat tumbuh jika seseorang merasa terpesona akan keindahan makhluk ciptaan Tuhan YME, kagum akan ketelitian dan kesempurnaan yang ada pada setiap makhluk yang diciptakan-Nya. Tidak

seorangpun dapat meniru ciptaan-Nya sebagai yang diciptakan-Nya. Keterpesonaan tersebut akan melahirkan kekaguman kepada Sang Maha Pencipta, dan kerinduan untuk bertemu dengan Nya suatu saat nanti. c. Rela ; Ridha (Q.S. 9:62). Seorang yang mencintai sesuatu, ia akan rela menuruti kehendak sesuatu yang dicintainya, dan rela untuk meninggalkan apa yang dibenci oleh yang dicintainya. Demikianlah seseorang yang mencintai Tuhan YME tidak akan merasa berat melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Bahkan, semua itu akan dilaksanakannya dengan ringan dan hati yang senang. d. Berkorban (Q.S. 2:207). Tuntutan lainnya dari cinta adalah pengorbanan. Untuk mencari sesuap nasi maka seseorang sanggup bekerja siang dan malam memeras keringat membanting tulang selama bertahun - tahun. Ini adalah sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat fana (akan hancur), apalagi jika ingin mendapatkan sebuah kebahagiaan hakiki yang bersifat kekal abadi. e. Takut (Q.S. 21:90). Rasa takut yang muncul karena seseorang merasa khawatir ditinggalkan oleh sesuatu yang dicintainya adalah bukti cintanya kepada sesuatu tersebut. Hal yang dibenci Tuhan YME maka ia pun menjaga perbuatannya dari hal yang dibenci-Nya. Rasa takut ini akan mengalahkan rasa takut atas selain-Nya dalam jiwa orang tersebut. f. Penuh harap (Q.S. 21:90). Salah satu bukti cinta yang lain adalah harapan yang besar kepada yang dicintainya. Seseorang yang mencintai Tuhan YME akan menaruh harapan yang besar kepada-Nya, untuk menerima amal perbuatan baiknya, mengampuni segala dosa-dosanya, dan

memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya. g. Patuh dan Taat (Q.S. 4:80). Harapan yang benar bukanlah harapan seseorang yang hidup dalam maksiat kepada Tuhan YME, lalu berharap pada Tuhan YME akan mengampuninya. Sama saja seorang suami yang mencintai istrinya, tetapi ia selalu menyakiti istrinya. Jadi ia adalah seorang yang dusta cintanya. Bukti cinta yang benar adalah kepatuhan kepada keinginan orang yang dicintainya.

1.3. Peringkat dan Konsekuensi Cinta Cinta termasuk urusan akidah dalam Islam, maka Islam memberikan aturan yang harus dipatuhi dalam cinta mencintai. Seorang yang salah menempatkan prioritas cintanya akan termasuk ke dalam syirik (menyekutukan–Nya) yang merupakan dosa terbesar dan tidak terampuni.

Urutan cinta: a. Cinta tertinggi adalah cinta yang disebut cinta menghamba. Cinta ini dalam Islam hanyalah diberikan kepada Tuhan YME dan tidak boleh diarahkan kepada selain-Nya. Mengapa? Karena cinta jenis ini akan melahirkan penghambaan dan perbudakan. Kata-kata ”hidup matiku hanya untukmu” menunjukkan cinta jenis ini. Jadi, cinta jenis ini hanya ditujukan kepada Tuhan YME. b. Peringkat kedua adalah cinta kepada Nabi Muhammad saw dan Islam. Cinta yang mesra kepada Rasul saw dan Islam ini akan menghasilkan sikap mengikuti dan meneladani Rasul saw dalam segala aspek kehidupan. c. Peringkat ketiga adalah cinta kepada orang-orang beriman dan bertakwa. Cinta jenis ini akan melahirkan sikap menolong dan mengutamakan sehingga cinta kepada orang-orang yang bertakwa lebih dari cintanya kepada dirinya maupun keluarganya. d. Peringkat keempat berupa perhatian mendalam kepada sesama muslim sehingga melahirkan persaudaraan Islam. e. Peringkat kelima berbentuk rasa simpati kepada umat manusia secara umum. Cinta ini diwujudkan dalam bentuk, mengajak kepada kebenaran dan kebaikan. f. Cinta peringkat terakhir hanyalah berbentuk lintasan-lintasan dalam pikiran dan tidak sampai masuk ke dalam hati. Cinta jenis ini harus diarahkan kepada materi, yaitu semata-mata dimanfaatkan demi

kepentingan umat manusia.

Konsekuensi cinta Seseorang yang benar-benar mencintai Tuhan YME akan mencintai apa-apa dan siapa-siapa yang dicintai-Nya. Hal ini akan melahirkan loyalitas mutlak (al walaa’) dan membenci apa-apa, siapa-siapa yang dibenci oleh-Nya hal ini akan melahirkan pemutusan hubungan (al baraa’) terhadap semua yang dibenci-Nya.

2. AKHLAK, IHSAN, ETIKA, DAN MORAL

2.1. Konsep Akhlak, Ihsan, Etika, dan Moral Kata akhlak secara bahasa merupakan bentuk jamak dari kata khulukun yang berarti: budi pekerti, perangai, tabi’at, adat, tingkah laku atau sistem perilaku yang dibuat. Sedangkan secara terminologis akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terbaik dan tercela baik itu berupa perkataan maupun perbuatan manusia lahir dan batin.

Akhlak atau sistem perilaku ini terjadi melalui suatu konsep tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu harus terwujud. Konsep tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu seharusnya disusun oleh manusia didalam sistem idenya yang merupakan hasil penjabaran dari kaidah-kaidah yang bersifat normatif dan deskriptif yang bersumber pada nilai-nilai al-Qur’an dan al-Hadits.

Akhlak dapat dididik melalui sekurang-kurangnya dua pendekatan : a. Rangsangan-Jawaban (stimulus-response) sehingga terjadi refleksi dan dapat dilakukan dengan cara berikut: melalui latihan melalui tanya jawab melalui contoh (keteladanan). b. Kognitif yaitu penyampaian informasi secara teoritis yang dapat dilakukan dengan cara berikut: melalui Dakwah melalui Ceramah melalui Diskusi dan sebagainya.

Maka akhlak yang baik adalah pola perilaku yang dilandaskan dan manifestasi dari nilai-nilai Iman, Islam dan Ihsan. Ihsan berarti berbuat baik dan pelakunya disebut muhsin. Dalam al-Qur’an kata-kata ihsan dipakai antara lain untuk perbuatan seperti: berinfak, menguasai amarah,mema’afkan manusia, bersabar,

bersungguh-sungguh dan bertakwa. Jadi akhlak yang berkualitas ihsan disebut akhlakul karimah (Zakiah Daradjatdkk, 1984:255).

Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu. Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilm u atau filsafat, karenanya yang menjadi standar baik dan buruk adalah akal manusia (Rahmat Jatnika, 1992:26).

2.2. Nilai, Norma, Sikap, dan Tingkahlaku Sistem nilai merupakan ketentuan umum yang merupakan pendekatan filososi dari keyakinan,sentimen dan identitas. Karena itu ada yang bersifat ilahiyah dan normatif serta ada yang bersifat mondial (duniawi) yang dirumuskan sebagai keyakinan, sentimen maupun identitas sebagai suatu kenyataan yang berlaku pada tempat dan waktu tertentu karenanya bersifat deskriptif. Sedangkan penjabarannya dalam bentuk formula, peraturan atau ketentuan pelaksanaannya disebut norma.

Sistem nilai dan norma pengaruhnya terhadap tingkahlaku sangat tergantung kepada : a. Keyakinan yang menyeluruh terhadap sistem nilai dan norma b. Daya serap dari individu dan masyarakat dalam penggunaan sistem nilai dan norma c. Ada atau tidaknya pengaruh interdependensi dari sistem nilai dan norma yang lain d. Kondisi fisik, fisiologis dan psikologis seseorang e. Halangan karena tertidur. (Zakiah Daradjat dkk, 1984:260).

2.3. Karakteristik Etika Islam Berbeda dengan etika filsafat, etika Islam memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.

b. Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik dan buruknya perbuatan seseorang didasarkan kepada al-Qur’an dan alHadits yang sohih. c. Etika Islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima dan dijadikan pedoman oleh seluruh umat manusia kapanpun dan dimanapun mereka berada. d. Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia kejenjang akhlak yang luhur dan mulia serta meluruskan perbuatan manusia sebagai upaya memanusiakan manusia (Hamzah Ya’kub, 1996:11).

3. AKHLAK TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

3.1. Tindakan Berpikir Keutamaan berpikir : a. Mendapat pujian dari Tuhan Yang Maha Esa (Q.S:3 ayat 191) b. Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadat setahun (H.R. Ibnu Hibban) c. Dapat menambah kedekatan dan rasa takut terhadap hukuman Tuhan Yang Maha Esa (H.R. Ibnu Hatim) d. Untuk mengambil ketentuan dan atau keputusan (Imam Syafi’i) e. Merupakan pokok pangkaluntuk mendapatkan segala kebaikan, sebab itulah yang memindahkan sesuatu yang asalnya dibenci menjadi amat dicintai. f. Dapat menyebabkan berkembangnya ilmupengetahuan serta membuahkan kemakrifatan dan keuntungan

Hal-hal Yang Perlu Dipikirkan : a. Ketaatan/kepatuhan terhadap perintah dan larangan-Nya. b. Kemaksiatan yang dapat menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan hidup. c. Sipat-sipat yang menyelamatkan. d. Sipat-sipat yang merusak.

3.2. Dzikir dan Do’a Keutamaan Dzikir : a. Akan selalu diingat dan diperhatikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Q.S:2 ayat 152) b. Mendapatkan tempat yang penuh kenikmatan dan kelezatan disurga (H.R. Tabrani) c. Penyebab diampuninya segala dosa yang telah dilakukan (H.R. Muslim) d. Merupakan amalan yang paling utama (H.R. Ibnu Hibban, Thabrani dan Baihaqi)

Permulaan Dzikir adalah ketenangan dan kecintaan karena selalu merasa dekat dan diperhatikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keutamaan Do’a : a. Do’a adalah intisari ibadah (H.R. Tirmidzi). b. Do’a merupakan senjata orang yang beriman, tiangnya agama dan cahaya langit dan bumi (H.R. Hakim dan Abu Ya’la). c. Akan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Esa. d. Dapat menyelamatkan diri dari gangguan dan kejahatan makhluk. e. Memudahkan dalam mencari dan mendapatkan rizki.

Tatacara memanjatkan Do’a : a. Memulai dan mengakhiri do’a dengan pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan perasaan yang khusyu’ dan penuh kerendahan serta pengharapan. b. Memanfaatkan waktu-waktu diterimanya do’a. c. Dengan bahasa yang baik (mencurahkan segala isi hati) dan terperinci. d. Yakin akan dikabulkan, yakin bahwa apapun yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah yang terbaik untuk diri kita saat ini, sehingga tidak memaksakan kehendak kepada Tuhan.

3.3. Memohon Ampunan-Nya. Rasulullah saw dalam kehidupan kesehariannya selalu memohon ampunan dan bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Esa sebanyak 70 sampai 100 kali. Padahal beliau sudah diampuni dan dijamin masuk surga, itulah bukti sukur beliau kepada Tuhan. Maka kita sebagai manusia biasa seharusnya mentauladaninya (H.R. Bukhori dan Muslim).

3.4. Bertaubat Kata taubat memiliki pengertian yang tersusun dari tiga perkara, yaitu ilmu, keadaan dan perbuatan. Ilmu ialah mengetahui dengan sebenar-benarnya betapa besarnya bahaya dosa jika dilakukan dan dosa-dosa itu sendiri merupakan racun

yang sangat merusak jiwa, hati dan agama juga merupakan tabir antara seseorang dengan apa saja yang dianggap sebagai kekasihnya.

Syarat Taubat Menyesali atas dosa yang telah dilakukan Mohon ampun atas dosa yang telah dilakukan Berjanji untuk tidak mengulangi dosa tersebut Mengganti dengan amal kebaikan

Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, dkk akhlak terhadap Tuhan YME adalah sebagai berikut: a. Mengesakan Tuhan b. Taat dan patuh (bertakwa) kepada Tuhan c. Berdoa d. Selalu mengingat-Nya e. Berserah diri kepada-Nya

4. AKHLAK TERHADAP MAKHLUK

4.1. Akhlak Terhadap Diri Sendiri a. Memelihara harga diri b. Bersikap c. Keperwiraan d. Tidak rakus tetapi tetap ada kesungguhan e. Menjauhkan diri dari riya f. Menjauhkan diri dari ujub g. Menjauhkan diri dari takabur h. Menjauhkan diri dari kemashuran untuk mendapatkan pujian i. Menjauhkan diri dari dari bermuka dua j. Jangan kikir (ilmu, tenaga maupun harta) k. Jangan mempunyai sifat iri dengki l. Jangan lekas berputus asa m. Selalu gembira dan penuh harapan n. Gemar kepada kemajuan o. Selalu berkata jujur p. Selalu mengharapkan tuntunan Tuhan agar menjadi manusia yang baik dan bermanfaat

4.2. Akhlak Terhadap Orang Tua a. Berbakti b. Mengurus nafkah hidupnya c. Menyenangkan hatinya dengan kata-kata dan perbuatan d. Taat dan hormat e. Membantunya dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama f. Berdo’a kepada Tuhan untuk keduanya g. Memuliakan keduanya dalam pergaulan sehari-hari h. Selalu menunjukkan rasa terima kasih

4.3. Akhlak Terhadap Suami-Istri 4.3.1. Suami a. Menjadi pemimpin rumah tangga yang baik b. Menjaga perbuatan yagn baik dengan istri c. Memberi belanja yang cukup d. Menjaga kesenangnnya yang baik e. Memimpin dalam kemajuan menambah ilmu pengetahuan f. Memelihara kerukunan hidup dan ketentraman rumah tangga g. Jangan berbuat sesuatu yang menyakitkan hati istri h. Menghindarkan perdebatan dalam berbicara dan perbuatan i. Membela istrinya dalam segala sesuatu j. Sayang sama mertua dan anak-anak 4.3.2. Istri a. Berbakti kepada Tuhan dan suaminya b. Setia dan taat kepada suami c. Memelihara kehormatan rumah tangganya d. Memberikan pelayanan yang memuaskan e. Tidak menerima tamu yang tidak disukai suaminya f. Berhemat dalam belanja g. Selalu menggunakan bahasa yang lemah lembut dan sikap yang manis h. Selalu bersabar dan bertawakkal kepada Tuhan i. Mempunyai wawasan yang luas dan rajin ibadah j. Menjaga dan mendidik anak-anak dirumah dengan baik k. Selalu menyenangkan suami

4.4. Akhlak Terhadap Sesama Manusia a. Mempunyai rasa malu b. Berlaku adil c. Berkata jujur dan benar d. Selalu manis budi bahasa, ramah tamah e. Selalu ringan tangan, gemar menolong orang f. Selalu menghargai pendapat orang lain

4.5. Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup a. Memperhatikan dan merenungkan penciptaan alam (Q.S. 3:190) b. Menjaga, memelihara dan melestarikan alam c. Memanfaatkan sumber daya alam untuk kemaslahatan bersama (Q.S. 2:60) d. Tidak mengeksplorasi alam secara berlebihan yang mengakibatkan terjadinya krisis sumber daya alam.

5. PRINSIP-PRINSIP ILMU PENGETAHUAN DALAM KITAB SUCI

Ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam semesta yang tersusun dan teratur berdasarkan fakta-fakta yang membuka rahasia alam semesta dengan segala keajaiban dan keanekaragamannya dan langsung menghayati penciptanya dengan bukti yang nyata. Bahkan ilmu pengetahuan yang memberikan dasar-dasar pokok tentang adanya kesatuan hidup yang saling membutuhkan di alam semesta ini.

Agama Islam hanya memberikan isyarat-isyarat agar manusia mau menyelidiki alam ciptaan Tuhan YME dan mendorongnya supaya menggunakan akal pikirannya untuk mengungkapkan rahasia yang terkandung didalamnya. Hasil penemuan itu akan bermanfaat bagi umat manusia. Lebih dari itu semua manusia akan lebih yakin bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan. Dengan demikian keyakinan manusia bertambah teguh dan kehidupannya menjadi makmur karena alam ini dengan segala isinya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

5.1. Ilmu dan Teknologi Tuhan Dalam menurunkan ilmu-Nya kepada manusia, Tuhan menggunakan dua jalur yakni: a. Jalur Formal (ayat Qouliyah) Bentuknya berupa wahyu yang disampaikan secara berstruktur karena tidak langsung disampaikan oleh Tuhan kepada seluruh manusia tetapi melalui perantara malaikat kepada Rosul-Nya untuk kemudian disampaikan kepada seluruh umat manusia. b. Jalur Non Formal (ayat Kauniyah) Bentuknya berupa ilham yang disampaikan kepada manusia secara mandiri dengan syarat ia mau mengadakan pengamatan dan penalaran kepada ayatayat Tuhan yang terdapat di alam sehingga ia dapat menemukan tanda-tanda kekuasaanTuhan.

Kedua ilmu tersebut saling menguatkan satu sama lain. Ayat Kauniyah merupakan bukti yang mendukung kebenaran ayat Qouliyah. Sebaliknya ayat Qouliyah merupakan petunjuk untuk menemukan fakta empiris ayat Kauniyah. Akhirnya dengan mempelajari ayat Qouliyah maka pengenalan seseorang kepada Tuhan akan menjadi tepat dan akurat, dan dengan mempelajari ayat Kauniyah maka pengenalan seseorang terhadap Tuhan akan menjadi meluas dan mendalam.

Kalau kita perhatikan ayat Qouliyah, maka akan kita dapatkan bahwa ia sesungguhnya merupakan pedoman hidup bagi manusia yang sifatnya mutlak. Penyimpangan manusia terhadapnya akan menyebabkan kesesatan dan

kegoncangan dalam kehidupan di dunia ini. Sedangkan ayat Kauniyah merupakan sarana hidup bagi manusia. Sebagai sarana ia memerlukan pembaharuan setiap saat agar manusia dapat mengelola bumi dan isinya lebih efektif dan efisien. Bila manusia statis dalam sarana hidupnya, ia akan tetap primitif dan tidak akan mampu mengelola alam ini dengan baik.

Dengan berpegang kepada kedua bentuk ilmu itulah, maka manusia akan dapat menjalankan tugas dan kewajibannya di muka bumi ini sehingga akan tercapai kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Tetapi suatu hal yang memprihatinkan sebagian besar umat Islam dewasa ini bahwa mereka kurang mempelajari ayat Qouliyah dan juga ayat Kauniyah. Sebagai akibatnya maka umat Islam banyak berpaling dari petunjuk Tuhan dan memilih petunjuk selain Tuhan, disamping itu juga mereka tertinggal dari umat lain “ bangsa barat” dibidang sarana hidup (science dan teknologi). Hal ini harus segera disadari dan diikuti dengan tindakan konkret. Tetapi harus diingat bahwa dalam mengejar, ketertinggalan prinsip keseimbangan antara ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah harus sangat diperhatikan.

Satu hal yang perlu diingat bahwa umat Islam tidak mungkin untuk mengejar ketinggalan-ketinggalan dari bangsa barat sebelum terlebih dahulu kita mengambil apa-apa yang telah kita tinggalkan selama ini yaitu Aqidah Islam,

Akhlak Islam dan sebagainya. Karena yang terpenting di sini bukanlah teknologinya tetapi siapa orang yang berada di belakang teknologi tersebut.

5.2. Perintah Mencari Ilmu Al Qur’an sebagai sumber pertama dari ajaran Islam telah memerintahkan, agar setiap pemeluknya mempelajari ilmu pengetahuan. Telah kita ketahui semua, bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah ayat yang menyangkut tulis baca. Tulis baca adalah sebagai salah satu alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan (Q.S. Al Alaq: 1-5).

Ayat yang pertama dengan jelas memerintahkan, supaya belajar membaca. Kemudian setelah itu dianjurkan mencari ilmu pengetahuan yang dinyatakan dengan suatu isyarat yang disebutkan pada ayat yang kedua, yaitu ilmu hayat yang membicarakan tentang kejadian manusia. Sebelum melangkah ke dunia luar, manusia harus mempelajari kejadian dirinya lebih dahulu. Ayat ketiga dan keempat mempertegas lagi tentang perintah membaca dan menulis. Setelah tahu tulis baca, orang akan memperoleh pengetahuan sebagaimana dijelaskan pada ayat yang kelima.

Ayat yang membicarakan tentang ilmu dalam Al Qur’an tidak kurang dari 580 tempat. Hal ini menunjukkan, bahwa betapa pentingnya ilmu itu. Agama Islam benar-benar menempatkan ilmu itu pada tempat yang terhormat. Sebagai bukti nyata adalah wahyu yang pertama yang diturunkan bukan ayat yang berhubungan dengan ibadat shalat, puasa, menunaikan zakat, naik haji, dan kewajibankewajiban lainnya, tetapi justru ayat yang berhubungan dengan baca tulis sebagaimana dikemukakan di atas. Di samping itu kita lihat pula, bahwa Tuhan menjadikan ilmu itu menjadi sifat-Nya yang diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak kurang dari 162 kali.

5.3. Sains Membuktikan Kebenaran Ayat Al Qur’an Seorang guru besar/ahli bedah kenamaan Perancis, Prof. Dr. Maurice Bucaille, masuk Islam secara diam-diam. Sebelumnya, ia membaca dalam Al Qur’an,

bahwa Fir’aun itu mati karena tenggelam di laut (dengan shock yang berat) dan jasadnya oleh Tuhan diselamatkan (Q.S. Yunus: 92). Dicarinya mumi Fir’aun itu dan setelah ketemu, dilakukannya bedah mayat. Hasilnya membuat ia terheranheran, karena sel-sel syaraf Fir’aun menunjukkan bahwa kematiannya benar akibat tenggelam di laut dengan shock yang hebat. Menemukan bukti ini, ia yakin kalau Al Qur’an itu wahyu Tuhan. Prof. Dr. Maurice Bucaille mengatakan bahwa semua ayat-ayat Al Qur’an masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Ia pun lantas masuk Islam.

Lain lagi halnya yang dialami oleh Jacques Yves Costeau. Ia adalah ahli kelautan (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Mr. Costeau sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia, dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia melalui acara “Discovery”. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Apa yang disaksikannya ini benar-benar kejutan besar selama kariernya yang panjang di kelautan. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi?

Pertanyaan ini menghantui hidupnya, sampai akhirnya ia bertemu seorang profesor yang kebetulan muslim. Profesor yang muslim ini menyampaikan kepadanya bahwa fenomena ganjil tersebut sebenarnya sudah diinformasikan oleh Al Qur’an empat belas abad yang lalu, yaitu pada sura Al Furqon ayat 53: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi” serta pada surat Ar Rahman ayat 19-20. Mendengar hal ini Mr. Costeau terkejut, bagaimana mungkin Muhammad yang hidup di abad ketujuh yaitu di suatu zaman dimana pasti belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh di kedalaman samudera mengetahui akan hal ini. Ia pun akhirnya berkesimpulan, bahwa Al Qur’an itu buatan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi! Dan akhirnya ia pun memutuskan menjadi muslim.

Demikian beberapa ayat yang merupakan mukjizat ilmiah yang datang dari Tuhan Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang di langit dan bumi.

5.4. Jasa Umat Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jasa umat Islam pada ilmu pengetahuan sangat besar. Tidak hanya menjadi kebanggaan umat Islam itu sendiri, tetapi juga diakui oleh orang Eropa. Kita ketahui bahwa sesudah Islam datang, pusat pengetahuan pindah ke negeri-negeri Islam. Ilmu Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, karena baha Arab menjadi bahasa pengetahuan di Asia tengah pada saat itu. Di samping menterjemah, juga menemukan ilmu baru yang kemudian dipelajari oleh orangorang Eropa dari dunia Islam. Di bawah ini akan dikemukan beberapa contoh saja, agar mendapat gambaran, bahwa umat Islam telah mewariskan ilmu pengetahuan yang sangat berharga bagi umat manusia.

a. Teknik Irigasi Ilmu teknik irigasi tumbuh dengan pesatnya di Mesopotamia. Di sana ada aliran sungai Tigris dan Dajlah menjadi tempat praktek yang baik. Banyak buku-buku tentang itu, umpamanya: ilmu menaikkan air, kincir air, imbangan air dan jam air. Inilah jam pertama dipergunakan oleh umat manusia.

Buku mekanika tertua dikarang dalam tahun 860 M. Pengarangnya tiga orang yaitu: Muhammad, Ahmad dan Hasan. Ketiga-tiganya adalah putra Musa Ibn Sakir. Karangan mereka sekarang dikenal di Eropa dengan nama Book of Artificies. Dalam buku ini terdapat 100 model konstruksi teknik, 20 cara praktek. Di antara ilmu praktek ini, terdapat bagaimana caranya membuat bak yang memuat air dingin dan panas (teori tiga orang barsaudara ini sudah dapat membuat es dan alat pendingin rumah).

b. Geology Ada sebuah buku yang istimewa hasil buah tangan Ibnu Sina. Buku tersebut membicarakan tentang gunung-gunung, batu-batu, dan barang-barang

tambang. Buku ini sebagai pembuka jalan sejarah geology. Di dalam buku itu diterangkan tentang pengaruh yang didatangkan oleh adanya gempa bumi, angin, air, temperatur, endapan, pengeringan, dan akibat-akibat lain dari pengerasan benda. Buku ini pun tidak kurang pentingnya sebagai pengantar Ilmu Pertambangan Internasional.

c. Meteorology Meteorology ialah ilmu yang membahas tentang kepadatan atsmosfir. Dalam bidang inipun orang Islam ternama pula. Seorang yang terkemuka yang bernama Al Khazini telah mengarang berjilid-jilid buku tentang meteorology. Bukunya yang ternama adalah timbangan bijaksana (Mizan Al Hikmah). Dalam bukunya ini Al Khazini menerangkan, bahwa air dan hawa bertambah padat apabila bertambah dekat dengan bumi. Roger Bacon melanjutkan teori Al Khazini karena ia rajin mempelajari buku-buku pengetahuan Islam.

d. At Thib (Kedokteran) Pada masa Daulah Abbasiyah, ilmu kedokteran di kalangan umat Islam telah mencapai puncak tertinggi dan melahirkan dokter-dokter ternama. Banyak sekali rumah sakit besar yang didirikan dan sekolah tinggi kedokteran. Diantara dokter yang sangat terkemuka adalah: Ibnu Masiwaihi (wafat 243 H), Ibnu Sahal (wafat 255 H), Abu Bakar Ar Razy (wafat 320 H), Ali bin Abbas (wafat 354 H), Ibnu Sina (wafat 428 H), Izzaudin As Suwaidy (wafat 690 H) dan Alauddin bin Fafis (wafat 687 H).

e. Farmasi dan Kimia Perkembangan ilmu farmasi dan kimia telah dimulai sejak permulaan daulah Abbasiyah. Setelah kebangkitan Eropa, mereka mempelajari ilmu-ilmu ini dan terbukti bahwa penyusun dan peletak dasar-dasarnya adalah umat Islam. Diantara para ahlinya yang terkenal adalah: Ibnu Bahtiar (abad VII H), Rasyiduddin (wafat 639 H), dan Jubair bin Hayyan (wafat 169 H).

f. Ilmu Falak dan Nujum Ilmu falak dan perbintangan telah berkembang dengan pesat pada daulah Abbasiyah. Kalau kita perhatikan kaum muslimin memiliki andil besar terhadap perkembangan ilmu falak. Diantara para sarjananya yang termasyhur adalah: Abu Ma’syar Al Falaky (wafat 272 H), Jabir Batany (wafat 319 H), Abu Hasan(wafat 352 H), Raihan Muhammad Al Biruny (wafat 440 H), Quthbuddin Mahmud As Syirasy (wafat 710 H), Ibnu Al Banna Al Marakisy (wafat 721 H), Ibnu Syathir Al Muwaqzat (wafat 777 H), dan Syahbuddin bin Tibagha Al Qahiry (wafat 605 H).

g. Ilmu Teknik Diantara para ahli atau pengarangnya adalah: Abd. Rahman bin Daud Al Andalusy, Tibagha Al Jarkasy (hidup abad 8 H), Ridlwan bin Muhammad Al Khurasany, Abul Iz bin Ismail bin Razaz Al Jurury dan Kamaluddin Muhammad bin Isa Ad Damiry (wafat 808 H).

Umat Islam sekarang hendaknya menyadari bahwa mutiara yang terpendam itu harus diusahakan untuk ditemukan kembali. Mutiara-mutiara berharga itu sekarang berada di dunia barat selama berabad-abad. Berdasarkan kenyataan yang kita lihat saat ini, kita harus memiliki kembali sesuai dengan panggilang yang tercantum dalam kitab suci.

6.

PERANAN

AGAMA

DALAM

ILMU

PENGETAHUAN,

TEKNOLOGI DAN SENI

6.1. Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS) Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistimisasi, dan diinterpretasi yang menghasilkan kebenaran objektif, kebenaran yang telah teruji dan dapat diuji ulang secara ilmiah (International Webster’s Dictionary).

Secara etimologis, kata ilmu berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 854 kali dalam al-Qur’an. Kata in digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan Quraish Shihab:434). Setiap ilmu dibatasi pada salah satu bidang kajian. Karena itu seseorang yang memperdalam ilmu-ilmu tertentu disebut spesialis. Sedangkan dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan.

Teknologi merupakan salah satu budaya yang dihasilkan dari penerapan praktis ilmu pengetahuan. Teknologi dapat berdampak positif berupa kemajuan dan kesejasteraan bagi manusia tetapi juga dapat berakibat negatif berupa penyalahgunaan teknologi seperti nuklir yang dapat berakibat kehancuran dan kebinasaan bagi umat manusia dan alam semesta. Karena itu teknologi bersifat netral. Adapun seni termasuk bagian dari budaya manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan hasil ekspresi, kreasi jiwa manusia yang berkembang menjadi bagian dari budaya manusia itu sendiri.

Dalam pandangan Islam ada sumber ilmu itu terbagi dua, yaitu wahyu dan akal. Manusia diberi kebebasan oleh Tuhan untuk mengembangkan segala daya, upaya, potensi diri dan akalnya dengan catatan dalam pengembangannya tetap terikat dan tidak bertentangan dengan wahyu dan rambu-rambu hukum Tuhan. Atas dasar itulah ilmu terbagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu yang bersifat abadi (perennial knowledge) yang memiliki tingkat kebenaran yang absolut (mutlak) karena ia berasal dari wahyu ilahi. Dan yang kedua adlah ilmu yang bersifataquired

knowledge (perolehan) yang tingkat kebenarannya bersifat relatif (nisbi) karena ia berasal dari akal pikiran manusia sebagai makhluk yang memiliki berbagai keterbatasan. Kalau terjadi ketidaksamaan/pertentangan antara ilmu pengetahuan dan wahyu, maka ketahuilah bahwa akal dan pengetahuan kita yang lemahlah yang belum mampu mengungkapkan rahasia ilmu dari wahyu ilahi tersebut. Karenanya Islam mengajarkan ada hal-hal yang bisa dipahami oleh logika akal dan ada hal-hal gaib yang harus dipahami oleh logika iman. Hamka pernah menyatakan: Dengan Seni Hidup jadi Indah, Dengan IPTEK Hidup jadi Mudah dan Dengan Iman Hidup jadi Terarah.

6.2. Integrasi Iman, Ipteks, dan Akal. Islam merupakan ajaran agama yang sempurna yang terlihat dari keutuhan ajarannya. Ada tiga inti ajaran Islam, yaitu Arkanul Iman, Arkanul Islam dan Arkanul Ihsan. Ketiganya terintegrasi dalam sebuah sistem ajaran yang tidak dapat dipisahkan yang disebut Dinul Islam.

Telah digambarkan oleh Tuhan didalam Q.S. 14 ayat 24 dan 25 bahwa Dinul Islam itu bagaikan sebuah pohon Rindang yang berakar kokoh menghujam kedalam bumi, cabangnya menjulang tinggi kelangit, dahannya yang rindang dapat menaungi setiap yang berlalulalang dan senantiasa berbuah yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Iman diidentikkan dengan diidentikan dengan akar yang menopang tegaknya Dinul Islam, Ilmu bagaikan batang dan dahan yang selalu mengeluarkan cabang-cabang Ipteks yang baru. Sedangkan amal ibarat buah yang sangat bermanfaat. Maka apabila Ipteks dikembangkan diats nilai-nilai iman dan takwa kepada Tuhan YME, pasti akan menghasilkan amal kebaikan yang berlimpah manfaat, bukannya kerusakan dan kehancuran alam dan peradaban umat manusia.

6.3. Keutamaan Orang yang Berilmu Dalam Q.S.58 ayat 11, Tuhan telah menegaskan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi beberpa derajat dari manusia lainnya. Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin juz I hal 49

menyebutkan : Barangsiapa yang berilmu, dia dapat membimbing manusia dan memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, dia bagaikan matahari yang menerangi dirinya dan orang lain, dia bagaikan minyak kesturi yang harum dan menyebarkan semerbak keharumannya kepada setiap orang yang berpapasan dengannya.

6.4. Tanggungjawab Ilmuan terhadap Alam Lingkungannya. Tuhan telah menciptakan manusia kedunia ini dengan dua tugas utama, yaitu sebagai hamba dan wakil Tuhan dalam mengelola bumi. Esensi dari hamba adalah ketaatan, kepatuhan dan ketundukan terhadap segala perintah dan aturan-aturan hukum-Nya yang berisi kebenaran hakiki dan absolut serta keadilan yang sesungguhnya.

Adapun sebagai wakil Tuhan dimuka bumi, manusia memiliki tanggungjawab yang besar untuk menjaga kelestarian, keseimbangan alam lingkungan tempat tinggalnya. Manusia diberikan kebebasan untuk menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk kemaslahatan, kebaikan, ketentraman dan kemakmurannya. Untuk dapat melakukan semua itu manusia memerlukan keseimbangan IMTAK dan IPTEK.

7. TANTANGAN

GENERSI

MUDA

DALAM

MENEROBOS

MASYARAKAT INDUSTRI

7.1. Pemuda sebagai Generasi Harapan Bangsa dan Agama Sejarah telah mencatat, bahwa kebangkitan nasional, kemerdekaan Indonesia, revolusi, perubahan dan reformasi yang terjadi dinegeri ini maupun dibelahan bumi yang lain, semua itu dipelopori dan dimotori oleh para pemuda.

Demikian pula yang diabadikan dalam kitab suci, bagaimana potret pemuda ashabul kahfi, kisah pemuda ashabul ukhdud dan mayoritas dari assabiqunal awwalun. Mereka semua adalah orang-orang yang akan senantisa mengobarkan api semangat perjuangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan

kesejahteraan dibawah naungan dan keridhaan, dan kecintaan Tuhan.

Sifat-sifat yang menyebabkan para pemuda tersebut dicintai Tuhan, mendapatkan derajat yang tinggi dan kisah mereka diabadikan dalam kitab suci dan sejarah yang dibaca oleh jutaan umat manusia dari masa ke masa adalah: a. Mereka selalu menyeru dan memperjuangkan kebenaran (Q.S: 7 ayat 181) b. Mereka selalu mencari dan mencintai Tuhannya, karena itu Tuhan pun selalu mencintai mereka (Q.S: 5 ayat 54) c. Mereka selalu beribadah kepada Tuhan (Q.S: 9 ayat 71) d. Mereka adalah para pemuda yang selalu memenuhi janjinya kepada Tuhan (Q.S: 13 ayat 20) e. Mereka adalah para pemuda yang tidak pernah ragu untuk mengorban harta jiwa dan raganya untuk kepentingan agama dan bangsa (Q.S: 49 ayat 15).

7.2. Tantangan Masyarakat Industrial terhadap Teori Sosial Ekonomi Islam

Islam dan Sosial Activism Islam selalu menganjurkan kita untuk aktif, bukan saja aktif berpikir tapi juga berbuat. Jelas bahwa manusia itu dijadikan Tuhan sebagai khalifah-Nya dimuka bumi, ini berarti bahwa kalau Tuhan itu kreatif (al-Khalid) maka manusia juga harus kreatif dalam membangun dunianya sendiri, harus mampu membangun hubungan antara manusia dan dirinya sendiri. Dan selebihnya bahwa umat Islam sebagai umat terpilih untuk menyerukan umat manusia kepada kebenaran ajaran Tuhan dan kebaikan-kebaikan serta mencegah kemungkaran, kerusakan dan kehancuran alam dan peradaban umat manusia. Para pemuda Islam adalah agen dari segala perubahan-perubahan sosial. Maka jika kita mampu menempatkan diri sebagai agen dari perubahan-perubahan tersebut, insya Allah kiranya tugas-tugas tersebut akan terlaksana.

Didalam ayat-ayat yang paling terkenal sejak zaman Syarikat Islam yang selalu diengung-dengungkan oleh Agus Salim, Cokroaminoto dan disitir oleh Soekarno; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S:13 ayat 11). Ternyata bahwa dinamika Islam itu harus lahir dari diri mereka sendiri yang kemudian akan keluar sebagai satu materialisasi.

Dan juga dalam ayat yang lain: “andaikan penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka sesungguhnya Kami akan membukakan kepada mereka pintupintu keberkahan dari langit dan bumi”. (Q.S:7:96). Hal ini berarti bahwa pertama-tama umat dan bangsa ini harus benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, maka Allah swt akan memberikan perubahan-perubahan dalam sejarah umat manusia.

Dengan demikian kita harus menginterpretasikan kembali ajaran-ajaran Islam sesuai dengan perubahan masyarakat industrial. Jadi iman dan takwa sebagai

kualitas subjektif (rasa dan hati kita) kemudian juga harus diikuti kualitas iman dan takwa sebagai kualitas objektif. Dengan kualitas objektif bukan saja kita sanggup beriman dan bertakwa secara subjektif, tetapi juga harus mampu memformulasikan, merumuskan teori-teori sesuai dengan iman yang bukan didasarkan pada hati saja tetapi juga iman yang didasarkan pada akal. Dan karena itu tepat sekali kalau kita selalu berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ilmu yang kita miliki untuk menerjemahkan tauhid dalam kehidupan kita seharihari.(Kuntowijoyo, 1985:11).

7.3. Persiapan generasi Muda dalam menghadapi masyarakat Industri Dalam sejarah perkembangan budaya Islam, tidak sedikit konsep-konsep atau pikiran-piiran yang asalnya dari luar dunia Islam. Khalifah Umar ibnu Khatab misalnya, mengadopsi sistem penilaian dan pajak hasil bumi yang berasal dari Iran dan Syiria. Filosof-filosof Islam abad ketiga Hijriyah sampai kepada Ibnu Taimiyah mereformasi pemikiran filosof Yunani klasik seperti logika dan metafisika sehingga membawa kemajuan didunia Islam. Jadi singkatnya strategi asimilasi, imitasi dan inovasi ini sudah sejak lama dipakai untuk mengembangkan peradaban kebudayaan kaum muslim. Semua itu dilakukan dengan sangat selektif dan melalui proses penyaringan yang sangat ketat sekali.

Dapatlah disimpulkan secara ringkas bahwa imitasi, inovasi dan asimilasi ini dapat dan senantiasa harus kita jelaskan untuk menjaga dinamika perkembangan budaya Islam. Dengan demikian para generasi muda Islam tidak akan khawatir dalam menghadapi tatanan masyarakat baru yang bagaimanapun warna dan coraknya sepanjang kita tetap berpegang tyeguh pada nilai-nilai yang telah diwariskan dalam wasiat Rasul saw yaitu tetap berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Hadits yang sosih. (Sukamto, Ph.D, 1985:24).

7.4. Seni Berjamaah sebuah jawaban alternatif Kalau kita tengok pakaian jilbab, ia memiliki tiga nilai sekaligus. Pertama ia baik, kedua ia benar dan ketiga ia indah. Inilah tiga nilai dasar yang pada awalnya

menjadi satu kesatuan yang utuh dalam diri setiap manusia. Awal yang menjanjikan betapa segala ekspresi kebenaran, moralitas dan segala macam kesenian berada dalam sebuah kesatupaduan.

Karena pada awalnya kesenian menjadi bagian integral dari kehidupan. Bahwa dikesenian itu ada komposisi, ada balans dipanggung, dikanvas, blocking mesti seimbang, dan sebagainya. Itu adalah hal yang sangat jelas. Tuhan berfirman: “Kalian harus harus menghitung dengan neraca yang benar, harus berlaku seimbang, harus adil”.

Kesenian itu harus memikirkan orang banyak, bukan hanya memikirkan keuntungan material saja. Kalau ada seniman diatas panggung dia bicara beginibegitu dan seterusnya, tetapi ketika dia kembali dalam kehidupannya sehari-hari dia tidak terikat dengan segala ucapannya diatas panggung. Maka itulah fenomena dunia industri.

Didalam Islam tidaklah demikian. Dunia didalam Islam adalah dunia jamaah. Yang diatas panggung dan penonton sama saja. Bagaimana sebuah kesenian itu bisa menempatkan dirinya ditengah-tengah persoalan jamaah (persoalan bersama). Seniman muslim yang memperagakan karyanya diatas panggung baik sebagai orator, da’i, penyanyi, pelukis, ekonom, politikus, birokrat, anggota dewan, dan sebagainya, bukanlah seorang peragawan yang memperagakan kemunafikan. Ia adalah seorang anggota jamaah yang kebetulan naik keatas mimbar untuk mengajak anda mempersoalkan masalah yang ada pada jamaah kita.

Dalam dunia industri, maslah pembangunan misalnya, fenomena industri mengartikan bahwa pusatnya bukanlah petani, tetapi petani disini hanyalah instrumen dari mekanisme pertanian. Dunia jamaah menghendaki lain, titik perhatian justru bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani. Pusat pertanian adalah kesejahteraan petani.

Problema yang ditatap, permasalahan yang digarap dalam dunia jamaah adalah ketidak seimbangan, ketidakadilan, ketidakmerataan, dan ketidakpedulian dalam jamaah kita. Karenanya kita harus berbuat, bekerja, berjuang, berkorban untuk daapat menyeimbangkannya. Begitulah sifat Tuhan Yang Maha Adil yang kita harus berbahagia mewarisinya.(M.H. Ainun Najib: 1985,35).

8. MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMAT

8.1. Konsep Masyarakat Madani Makna utama dari Masyarakat Madani adalah masyarakat yang menjadikan nilainilai peradaban sebagai ciri utama. Karena itu dalam sejarah pemikiran filsafat, sejak filsafat yunani sampai masa filsafat Islam juga dikenal istilah madinah atau polis, yang berarti kota, yaitu masyarakat yang maju dan berperadaban. Masyarakat madani menjadi simbol idealisme yang diharapkan oleh masyarakat. Didalam Al Qur’an, Tuhan memberikan ilustrasi masyarakat ideal, sebagai gambaran dari Masyarakat Madani dengan firmannya dalam Al Qur’an yang artinya: (negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (QS Saba’:15).

Masyarakat madani sebagai masyarakat yang ideal itu memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Bertuhan b. Damai c. Tolong-menolong d. Toleran e. Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosil f. Berperadaban tinggi g. Berakhlak mulia

8.2. Peranan Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani Dalam kontek masyarakat Indonesia, dimana umat Islam adalah mayoritas, peranan umat Islam untuk mewujudkan masyarakat madani sangat menentukan. Kondisi masyarakat Indonesia sangat bergantung pada konstribusi yang diberikan oleh umat Islam. Peranan umat Islam itu dapat direalisasikan melalui jalur hukum, sosial-politik, ekonomi, dan yang lain. Sistem hukum, sosial-politik, ekonomi dan yang lain di Indonesia, memberikan ruang untuk menyalurkan aspirasinya secara konstruktif bagi kepentngan bangsa secara keseluruhan.

Permasalahan pokok yang masih menjadi kendala saat ini adalah kemampuan dan konsistensi umat Islam Indonesia terhadap karakter dasarnya untuk

mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui jalur-jalur yang ada. Sekalipun umat Islam secara kuantitatif mayoritas tetapi secara kualitatif masih rendah sehingga perlu pemberdayaan secara sistematis.

Sikap amar ma’ruf nahi munkar juga masih sangat lemah. Hal itu dapat dilihat dari fenomena-fenomena sosial yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti angka kriminalitas yang tinggi, korupsi yang terjadi disemua sektor, kurangnya rasa aman dan lain sebagainya. Bila umat Islam Indonesia benar-benar mencerminkan sikap hidup yang Islami, pasti bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan sejahtera.

8.3. Sistem Ekonomi Islam dalam Kesejahteraan Umat Yang dimaksud dengan sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang terjadi setelah prinsip ekonomi yang menjadi pedoman kerjanya, yang dipengaruhi atau dibatasi oleh ajaran-ajaran Islam. Sistem ekonomi Islam tersebut di atas, bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits yang dikembangkan oleh pemikiran manusia yang memenuhi syarat dan ahli dalam bidangnya. Jika Al Qur’an dan Al Hadist dipelajari dengan seksama, tampak jelas bahwa Islam mengakui motif laba (profit) dalam kegiatan ekonomi. Namun motif itu terikat atau dibatasi oleh syarat-syarat moral, sosial dan temperance (pembatasan diri).

8.4. Manajemen Zakat, Infak dan Wakaf.

8.4.1. Manajemen Zakat dan Infak Zakat merupakan dasar prinsipiil untuk menegakkan struktur sosial Islam. Zakat bukanlah derma atau sedekah biasa, ia adalah sedekah wajib. Dengan terlaksananya lembaga zakat dengan baik dan benar diharapkan kesulitan dan penderitaan fakir miskin dapat berkurang. Di samping itu dengan pengelolaan

zakat yang profesional, berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat yang ada hubungannya dengan mustahiq juga dapat dipecahkan.

Zakat ada dua macam yaitu zakat Mal dan zakat Fitrah. Zakal Mal adalah bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib diberikan kepada orang-orang tertentu setelah mencapai jumlah minimal tertentu dan setelah dimiliki selama jangka waktu tertentu pula. Sedangkan zakat Fitrah adalah zakat yang diwajibkan pada akhir puasa Ramadhan. Hukumnya wajib atas setiap orang muslim, kecil atau dewasa, laki-laki atau perempuan, budak atau merdeka (Yusuf Al Qardlawi, 162).

Zakat adalah salah satu bentuk distribusi kekayaan di kalangan umat Islam sendiri, dari golongan umat yang kaya kepada golongan umat yang miskin, agar tidak terjadi jurang pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin serta untuk menghindari penumpukan kekayaan pada golongan kaya saja.

Untuk melaksanakan lembaga zakat itu dengan baik dan sesuai dengan fungsi dan tujuannya tentu harus ada aturan-aturan yang harus dilakukan dalam pengelolaannya. Pengelolaan zakat yang berdasarkan pada prinsip-prinsip pengaturan yang baik, jelas akan lebih meningkatkan manfaatnya yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Sehubungan dengan pengelolaan zakat yang kurang optimal, pada tanggal 23 September 1999 Presiden RI, BJ Habibie mengesahkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat tersebut, menteri Agama RI menetapkan Keputusan Meneteri Agam Republik Indonesia Nomor 581 Tahun 1999.

Berhasilnya pengelolaan zakat tidak hanya tergantung pada banyaknya zakat yang terkumpul, tetapi sangat tergantung pada dampak dari pengelolaan zakat tesebut dalam masyarakat. Zakat baru dapat dikatakan berhasil dalam pengelolaanya apabila zakat tesebut benar-benar dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan

sosial dalam masyarakat. Keadaan yang demikian sangat bergantung dari manajemen yang diterapkan oleh amil zakat dan political will dari pemerintah.

8.4.2. Manajemen Wakaf Sebagai salah satu lembaga sosial Islam, wakaf erat kaitannya dengan sosial ekonomi masyarakat. Walaupun wakaf merupakan lembaga Islam yang hukumnya sunnah, namun lembaga ini dapat berkembang dengan baik di beberapa negara misalnya Mesir, Yordania, Saudi Arabia, Bangladesh dan lain-lain. Hal ini barangkali karena lembaga wakaf ini dikelola dengan manajemen yang baik sehingga manfaatnya sangat dirasakan bagi pihak-pihak yang memerlukannya.

Di Indonesia sedikit sekali tanah wakaf yang dikelola secara produktif dalam bentuk suatu usaha yang hasilnya dapat dimanfaatkan bagi pihak-pihak yang memerlukan termasuk fakir miskin. Pemanfaatan tersebut dilihat dari segi sosial khususnya untuk kepentingan keagamaan memang efektif, tetapi dampaknya kurang berpengaruh positif dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Apabila peruntukan wakaf hanya terbatas pada hal-hal di atas tanpa diimbangi dengan wakaf yang dapat dikelola secara produktif, maka wakaf sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, tidak akan dapat terealisasi secara optimal.

Agar wakaf di Indonesia dapat memberdayakan ekonomi umat, maka di Indonesia perlu dilakukan paradigma baru dalam pengelolaan wakaf. Wakaf yang selama ini hanya dikelola secara konsumtif dan tradisional, sudah saatnya kini wakaf dikelola secara produktif.

Di beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Saudi Arabia, Turki, Bangladesh, wakaf selain berupa sarana dan prasareana ibadah dan pendidikan juga berupa tanah pertanian, perkebuanan, flat, uang, saham, real estate dan lain-lain yang semuanya dikelola secara produktif. Dengan demikian hasilnya benar-benar dapat dipergunakan untuk mewujudkan kesejahteraan umat.

Wakaf uang dan wakaf produktif penting sekali untuk dikembangkan di Indonesia di saat kondisi perekonomian yang kian memburuk. Contoh sukses pelaksanaan sertifikat wakaf tunai di Bangladesh dapat dijadikan teladan bagi umat Islam di Indonesia. Kalau umat Islam mampu melaksanakannya dalam skala besar, maka akan terlihat implikasi positif dari kegiatan wakaf tunai tersebut. Wakaf tunai mempunyai peluang yang unik bagi terciptanya investasi di bidang keagamaan, pendidikan dan pelayanan sosial.

9. KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

9.1. Agama Islam merupakan Rahmat bagi Semesta Alam Kata Islam berarti Damai, Selamat, Sejahtera, Penyerahan diri, Taat, Tunduk dan Patuh kepada Tuhan. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengandung ajaran agar penganutnya mewujudkan dan menjaga perdamaian, keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia dan semua makhluk Tuhan sebagai bukti ketaatan dan ketundukannya kepada ketentuanketentuan Tuhan.

Menurut ajaran Islam manusia diserahi amanat untuk menjadi khalifah (wakil Tuhan) dalam mengelola bumi harus bisa menciptakan kemaslahatan bagi sesama makhluk Tuhan. Artinya bahwa, setiap perbuatan yang dilakukan manusia harus memberikan kebaikan dan tidak bolehmerugikan atau menyakiti pihak lain dengan cara menegakkan aturan Tuhan. Itulah wujud kasih sayang dari agama Islam sebagaimana dinyatakan dalam Q.S:21: 107 ketika menjelaskan misi Rasulullah untuk menyampaikan agama Islam bagi umat manusia, yang artinya: “Dan tiadalah kami mengutus mu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”.

9.2. Konsep Persaudaraan Islam dan Persaudaraan sesama Manusia Persaudaraan memiliki makna perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak meiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik suka maupun duka, senang maupun sedih dan seterusnya. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap untuk saling berbagi kesenangan kepada pihak lain bila salah satu pihak mendapatkan sesenangan. Persaudaraan ini berlaku antara sesama umat Islam dan juga pada sesama manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku bangsa, pangkat, harta dan strata sosial lainnya.

Konsep persaudaraan sesama manusia dilandasi ajaran, bahwa semua umat manusia adalah makhluk Tuhan. Walaupun Tuhan telah memberikan petunjuk jalan yang benar melalui agama Islam, tetapi Tuhan juga memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidupnya, disitulah kita dapati keadilan Tuhan.

9.3. Kebersamaan Umat Beragama dalam Kehidupan Sosial Seluruh manusia memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan keharmonisan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Masing-masing elemen masyarakat berkewajiban untuk melaksanakan peran sosial sesuai dengan bidang tugas dan kemampuannya. Kontribusi yang ditekankan oleh Islam adalah berbuat dan mengajak kepada kebaikan serta mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh kerakusan, ketamakan dan ulah tangan manusia-manusia yang jahil (Q.S: alQoshosh ayat 77).

Prinsip agar saling tolong menolong dengan sesama manusia memberikan makna universalisme nilai-nilai kebaikan yang diinginkan oleh setiap manusia. Nilai-nilai tersebut didalam al-Qur’an diformulasikan dalam “amar ma’ruf nahi munkar”.

DAFTAR PUSTAKA

Alibasyah, Permadi. 2003. Bahan Renungan Kalbu: Penghantar Mencapai Pencerahan Jiwa. Yayasan Mutiara Tauhid. Jakarta Anonim, 1980. Prinsip-Prinsip Pengetahun Alam dalam Al Qur’an. Bulan Bintang. Jakarta Bakry, Oemar. 1983. Tafsir Rahmat. Mutiara. Jakarta Darajat, Zakiah, dkk. 1984. Dasar-Dasar Agama Islam (Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum). Bulan Bintang. Jakarta Departemen Pendidikan Nasional.2003. Modul Acuan Proses Pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian: Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta Fuad Almusawa, Nabiel. 2005. Pendidikan Agama Islam. Syaamil Cipta Media. Bandung Hasanah, Uswatun, dkk. 2002. Modul Acuan Proses Pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian: Pendidikan Agama Islam. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta IKIP Bandung. Hand Out Perkuliahan Pendidikan Agama Islam. Bandung Kuntowijoyo, dkk. 1985. Menerobos Masyarakat Industri, Tantangan Generasi Muda Islam. Shalahuddin Press. Yogyakarta Madjid, Nurcholis. 1994. Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Paramadina. Jakarta Makmun, Ismail, dkk. 2002. Panduan Mentoring Pendidikan Agma Islam. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Banten Nata, Abduddin. 1996. Akhlak Tasawuf. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta Shihab, M Quraish. 1997. Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan. Mizan. Bandung Suryana Af, Toto, dkk. 1997. Pendidikan Agama Islam (untuk Perguruan Tinggi). Tiga Mutiara. Bandung Tim Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Pendidikan Indonesia. 2004. Islam: Doktrin dan Dinamika Umat. Balue Press. Bandung

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful