Anda di halaman 1dari 9

BORANG PORTOFOLIO

INFORMASI PRESENTAN
Nama presentan dr. Yudhistira Lian Putra
Nama wahana RSUD Argamakmur
Nama pendamping dr. Chadija Adnan

INFORMASI PRESENTASI
Tanggal presentasi
Tempat presentasi Ruang Aula RSUD Argamakmur

TOPIK : Appendicitis Akuta
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia

TUJUAN PRESENTASI
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Deskripsi : Laki-laki, 61 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada daerah perut bawah karena
tidak bisa buang air kecil sejak 3 jam yang lalu. Sebelumnya, pasien sering membutuhkan waktu
yang lama untuk buang air kecil, kadang kencing terputus ditengah-tengah, lalu lanjut lagi, harus
mengedan untuk kencing, kencing menetes dan setelah kecing terasa masih ada yang sisa atau
tidak tuntas. Saat buang air kecil juga terkadang terasa nyeri, namun setelah selesai buang air
kecil, nyeri menghilang. Pada pemeriksaan fisis ditemukan perabaan kantong kemih yang penuh
pada daerah suprapubik. Pada pemeriksaan rectal toucher teraba pembesaran pada prostat kira-kira
30gram. Pasien dipasangkan kateter dengan tujuan untuk mengeluarkan urine sebagai tindakan
pertama.
Tujuan : Menentukan penanganan yang tepat untuk pembesaran prostat jinak.

BAHAN BAHASAN
Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit

CARA MEMBAHAS
Diskusi Diskusi + Presentasi E-mail Pos



DATA PASIEN
Nama pasien Tn. M
Nama klinik Ruang Rawat Raflesia
Nomor rekam medik 003589
Tanggal masuk pasien 13 Juli 2013

BAHAN DISKUSI
Gambaran Klinis
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada daerah perut bawah karena tidak bisa buang air kecil
sejak 3 jam yang lalu. Sebelumnya, pasien sering membutuhkan waktu yang lama untuk buang air
kecil, kadang kencing terputus ditengah-tengah, lalu lanjut lagi, harus mengedan untuk kencing,
kencing menetes dan setelah kecing terasa masih ada yang sisa atau tidak tuntas. Saat buang air
kecil juga terkadang terasa nyeri, namun setelah selesai buang air kecil, nyeri menghilang.

Riwayat Kesehatan / Penyakit
Pasien mengaku sebelumnya kira-kira 2 bulan yang lalu, pernah mengalami hal yang sama dan
dipasang selang kateter di RS. Karena keluhannya menghilang, pasien tidak kontrol lagi. Riwayat
kencing berwarna merah (-), kencing nanah (-), kencing batu (-), nyeri pinggang (-)

Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit yang sama di keluarga disangkal.

Riwayat Gizi
Status gizi baik
Kualitas dan kuantitas cukup

Riwayat Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi cukup.

Riwayat Kebiasaan, Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik
Pasien tinggal dengan istri dan kedua anaknya.

Pemeriksaan Fisis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis, GCS 15 (E
5
V
4
M
6
)


Antropometri : BB = 50 kg, PB = 165 cm, Status gizi = baik
Tanda Vital : Tekanan darah : 140/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit, reguler, isi cukup
RR : 24 x/menit, reguler, gerakan dada simetris.
S : 36,8C
Kepala : Normocephali
Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut, alopecia (-)
Mata : Pupil bulat 4mm/4mm, isokor, conjungtiva anemis -/-,
sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung/tak langsung +/+,
eksoftalmus (-)
THT : Telinga normotia, liang telinga lapang, hiperemis, benda
asing (-), serumen (+), membran timpani utuh.
Hidung deviasi septum (-), konka eutrofi, mukosa
hiperemis, pernapasan cuping hidung (-)
Tenggorokan tonsil-faring tidak hiperemis
Saluran napas paten, tidak ada benda asing
Leher : Trakea lurus ditengah, KGB dan tiroid tidak teraba
Membesar, JVP = 5-2 cmH
2
O
Thoraks
Inspeksi : Kelainan dinding dada seperti parut bekas operasi (-), pelebaran
vena-vena superfisial (-), retraksi otot-otot interkostal (-)
Kelainan bentuk dada seperti pectus excavatum (-), pectus
carinatum (-), Barrel chest (-), Kifosis (-), Lordosis (-), Skoliosis (-).
Frekuensi pernapasan 24x/menit
Jenis pernapasan abdominotorakal
Tidak terdengar bunyi wheezing, stridor, dan suara serak
Palpasi : Kedua paru mengembang simetris
Ictus cordis teraba 2 jari medial dari garis midclavicularis kiri,
Vokal fremitus dalam batas normal
Nyeri tekan pada dinding dada (-), krepitasi (-)
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru.
Auskultasi : Jantung : BJ 1-2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : SN vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-,

Abdomen :


Inspeksi : datar, simetris, peristaltik usus (-), pelebaran vena (-)
Palpasi : nyeri tekan suprapubik (+) , distensi (+), hepar/lien tidak teraba membesar
Perkusi : timpani, nyeri ketok CVA (-/-)
Auskultasi : Bising usus (+) N
Genitalia externa : terpasang foley catheter
Rectal toucher
Tonus sphinter ani baik, ampula tidak prolaps, mukosa licin, prostat teraba membesar kira-kira
30gram, konsistensi kenyal, sulcus medianus tidak teraba, pole atas teraba, nodul (-).
Pada handscoen darah (-), faeces (+) sedikit.
Ekstremitas : Akral hangat, oedem , sianosis , jari tabuh (-),
Refleks fisiologis +/+ , Refleks patologis -/-

Pemeriksaan Penunjang
Darah (13 Juli 2013)
Jenis Pemeriksaan Hasil
Hemoglobin 13, 7 gr/dl
Leukosit 8.400 / l
Trombosit 204.000 / l
Hematokrit 39,2 %
Hitung Jenis :
Basofil
Eosinofil
N. Staaf
N. Segment
Limfosit
Monosit

0 %
0 %
0 %
70 %
12 %
2 %
Clotting Time 5
Bleeding Time 2
Golongan Darah A
HBsAg (-)
Ureum 45 mg/dl
Kreatinin 1,5 mg/dl
GDS 150 mg/dl
USG Urologi (14 Juli 2013)


Ginjal kanan : ukuran normal, ekokorteks tampak normal, batas sinus korteks jelas, tak tampak
pelebaran pelviocalyccal system, batu (-), kista (-)
Ginjal kiri : ukuran normal, ekokorteks tampak normal, batas sinus korteks jelas, tak tampak
pelebaran pelviocalyccal system, batu (-), kista (-)
VU : terisi cukup urin, dinding tidak tampak menebal, batu (-)
Prostat : membesar volume 45,60 cm3, echoparenkim homogeny, tidak tampak kalsifikasi /
massa.
Tak tampak echo cairan bebas minimal di cavum abdomen.
Kesan : hipertrofi prostat

Diagnosis
Pembesaran prostat / Hipertrofi prostat grade III

Tatalaksana IGD
IVFD RL 20 tpm
Pasang kateter
Inj Ceftriaxon 2 x 1 gr (skin test)
Inj Ketorolac 2 x 1 amp
Rencana open prostatectomy

Tatalaksana Ruang Rawat
IVFD RL : D5% 30 tpm
Inj Ceftriaxon 1 gr / 12 jam
Inj Ranitidin 1 amp / 12 jam
Inj Tramadol 1 amp / 12 jam

Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanasionam : dubia ad bonam


DAFTAR PUSTAKA
1. Syamsuhidayat, R dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.2004
2. Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of Modern Surgical Practice. Edisi 16.USA:
W.B Saunders companies.2002
3. Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh.USA:The Mcgraw-Hill companies.2005
4. R. Schrock MD, Theodore. Ilmu Bedah. Edisi Ketujuh. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.1995.
5. Mansjoer, A., Suprohaita., Wardani, W.I., Setiowulan, W., editor., Bedah Urologi, dalam Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 2, Cetakan Kelima. Media Aesculapius, Jakarta, 2005,
hlm. 307-313.
6. Grace, Pierce. A., Neil R. Borley., At a Glance, Edisi 3. Erlangga, Jakarta, 2007, hlm.106-107.

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN
Subjective
Pasien laki-laki usia 61 tahun datang dengan keluhan nyeri pada daerah perut bawah karena tidak bisa
buang air kecil sejak 3 jam yang lalu. Sebelumnya, pasien sering membutuhkan waktu yang lama untuk
buang air kecil, kadang kencing terputus ditengah-tengah, lalu lanjut lagi, harus mengedan untuk kencing,
kencing menetes dan setelah kecing terasa masih ada yang sisa atau tidak tuntas. Saat buang air kecil juga
terkadang terasa nyeri, namun setelah selesai buang air kecil, nyeri menghilang.

Objective
Pada pemeriksaan fisis ditemukan keadaan tampak sakit sedang, TD 140/80 mmHg, nadi 80x/menit,
frekuensi pernapasan 24 kali/menit dalam, suhu axilla 36,8C, serta ditemukan nyeri tekan pada daerah
suprapubik, distensi (+). Pada pemeriksaan rectal toucher didapatkan pembesaran prostat kira-kira
30gram. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan peningkatan pada ureum 45 mg/dl dan kreatinin 1,5
mg/dl dan hasil USG urologi menunjukkan hipertrofi prostat.

Assessment
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis pasien ini adalah BPH grade III.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien merupakan seorang pria, usia 61 tahun mengeluh
nyeri pada daerah perut bawah karena tidak bisa buang air kecil sejak 3 jam yang lalu. Sebelumnya,
pasien sering membutuhkan waktu yang lama untuk buang air kecil, harus mengedan untuk kencing,
kencing menetes dan setelah kecing terasa masih ada yang sisa atau tidak tuntas. Saat buang air kecil juga
terkadang terasa nyeri, namun setelah selesai buang air kecil, nyeri menghilang.
Gejala hyperplasia prostat menurut Boyarsky, dkk (1977) dibagi atas gejala obstruktif dan gejala
iritatif. Gejala obstruktif disebabkan karena penyempitan uretra pars prostatika karena didesak oleh


prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama
sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala-gejalanya antara lain
1
:
1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistency)
2. Pancaran miksi yang lemah (Poor stream)
3. Miksi terputus (Intermittency)
4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
5. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying)
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga factor, yaitu:
a. Volume kelenjar periuretral
b. Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
c. Kekuatan kontraksi otot detrusor
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaris yang tidak sempurna pada saat miksi
atau disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan
rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh., gejalanya ialah
1
:
1. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
2. Nokturia
3. Miksi sulit ditahan (Urgency)
4. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)

Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Eamination (DRE) sangat penting. Pemeriksaan colok
dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa
rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan pada di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada
perabaan prostat harus diperhatikan:
a. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)
b. Simetris/ asimetris
c. Adakah nodul pada prostate
d. Apakah batas atas dapat diraba
e. Sulcus medianus prostate
f. Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung
hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul. Sedangkan pada carcinoma prostat,
konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada
batu prostat akan teraba krepitasi.

Pemeriksaan radiologi yang dapat membantu diagnosis adalah IVP, Pembesaran prostat dapat dilihat


sebagai filling defect/indentasi prostat pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok
keatas berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Dapat pula mengetahui adanya kelainan pada ginjal
maupun ureter berupa hidroureter ataupun hidronefrosis serta penyulit (trabekulasi, divertikel atau
sakulasi buli buli). Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin. Selain itu juga dapat dengan
USG urologi untuk melihat ukuran prostat.

Plan
Penatalaksanaan : Terapi BPH dapat berkisar dari watchful waiting di mana tidak diperlukan teknologi
yang canggih dan dapat dilakukan oleh dokter umum, hingga terapi bedah minimal invasif yang
memerlukan teknologi canggih serta tingkat keterampilan yang tinggi. Watchful waiting dilakukan pada
penderita dengan keluhan ringan. Terapi dengan medikamentosa adalah dengan tiga macam terapi dengan
obat yang sampai saat ini dianggap rasional, yaitu dengan penghambat adrenergik a-1, penghambat enzim
5a reduktase, dan fitoterapi. Terapi pembedahan yang digunakan adalah :
Prostatektomi digolongkan dalam 2 golongan
3
:
1. Prostatektomi terbuka :
a. Prostatektomi suprapubik transvesikalis (Freyer)
b. Prostatektomi retropubik (Terence Millin)
c. Prostatektomi perinealis (Young)
2. Prostatektomi tertutup :
a. Reseksi transuretral.
b. Bedah beku
Pada pasien ini, dilakukan tindakan operasi open prostatektomi Freyer pada tanggal 15 Juli 2013. Pasien
diizinkan pulang dengan persetujuan pada tanggal 22 Juli 2013. Pasien pulang dengan diberi obat
cefadroksil 2x500mg, asam mefenamat 3x500mg dan vitamin c 2x50mg.
Edukasi
Keluarga pasien diberitahukan dengan lengkap dan jelas tentang kondisi pasien serta meminta
izin (informed consent) untuk melakukan tindakan-tindakan penyelamatan selama
kegawatdaruratan masih berlangsung.
Keluarga pasien diberitahukan dengan lengkap dan jelas, akibat yang akan terjadi bila pasien
tidak dioperasi segera dan meminta keluarganya untuk memberikan informed consent untuk
dilakukan tindakan operasi.
Konsultasi
Konsultasi dengan spesialis bedah untuk penanganan selanjutnya.
Rujukan : Pasien tidak dirujuk
Kontrol : Pasien kontrol ke puskesmas bila ada keluhan.